<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325</id><updated>2012-01-14T09:16:25.183-08:00</updated><category term='Menulis'/><category term='tip - kiat'/><category term='Pendidikan Budaya'/><category term='Taman Kanak - Kanak / Playgroups'/><category term='Pengenalan Abjad dan Angka'/><category term='Ayah harus tahu ini....'/><category term='Kemampuan menganalisa'/><category term='Pendidikan Seks'/><category term='Belajar dan Bermain'/><category term='Makanan-Suplemen'/><category term='Alternatif learning'/><category term='Pernak-Pernik Sekolah'/><category term='Kemampuan Berpikir anak'/><category term='Tentang Pendidikan'/><category term='anak sholeh'/><category term='Listening Skill'/><category term='Pendidikan Etika - Sopan santun'/><category term='Komputer dan anak'/><category term='Menggambar'/><category term='Pendidikan Jasmani'/><category term='Rewards - Punishment'/><category term='Guru - Pengajar - Pembimbing'/><category term='Pengaruh Linkungan'/><category term='Pendidikan Kedisplinan - kemandirian'/><category term='Kurikulum Pelajaran'/><category term='Gangguan Pembelajaran Anak'/><category term='Matematika'/><category term='Pendidikan Financial'/><category term='Menghapal'/><category term='Bakat Anak'/><category term='Pendidikan Mental - Moral'/><category term='Peran Orang Tua'/><category term='Daya Konsentrasi - Fokus Anak'/><category term='Kebiasaan buruk'/><category term='Problem Solving'/><category term='Pendidikan Non Formal'/><category term='Pengetahuan Global'/><category term='Pendidikan Music'/><category term='Pendidikan Spiritual Anak'/><category term='character Building'/><category term='Intelegency Quations'/><category term='Pendidikan Bahasa'/><category term='ke'/><category term='Kreatifitas'/><category term='Emosional Quations Learning'/><category term='Dunia Pelajar'/><category term='Pendidikan Autis'/><category term='Membaca'/><category term='Komunikasi - Interaksi - Sosial'/><category term='Sekolah Internasional'/><title type='text'>Pendidikan Anak</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>176</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-3306158849427258295</id><published>2010-07-01T19:30:00.000-07:00</published><updated>2010-07-01T19:30:00.312-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernak-Pernik Sekolah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayah harus tahu ini....'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peran Orang Tua'/><title type='text'>Hari Pertama Sekolah : Persiapan Mental Anak</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01GihvFQtI/AAAAAAAAAMk/u__5JVDuwM8/s1600-h/back+to+school.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01GihvFQtI/AAAAAAAAAMk/u__5JVDuwM8/s200/back+to+school.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Tak terasa si buah hati sudah tumbuh besar dan tiba waktunya untuk belajar di sekolah demi masa depannya. Padahal rasanya baru kemarin ia belajar merangkak dan berbicara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku anak menyambut hari pertamanya di sekolah memang berbeda-beda. Ada yang semangat dan girang, namun ada juga yang takut, rewel, malas atau malu. Sikap tersebut sangatlah wajar, terutama karena mereka dihadapkan dengan dunia baru yang masih asing bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinilah peran Anda sebagai orang tua diperlukan. Charles E. Schaefer, Ph.D. dari Pusat Pelayanan Psikologi Farleigh Dickinson University pun memberikan beberapa tips yang akan membantu Anda menyemangati si buah hati dalam melawan rasa khawatir dan cemasnya, seperti dikutip dari &lt;em&gt;mykidsbookbee&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Beri penjelasan tentang sekolah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Beberapa anak sering merasa cemas dan takut yang berlebihan menjelang hari pertamanya di sekolah. Sebenarnya mereka hanya butuh penjelasan dan pengertian. Ceritakanlah hal-hal yang akan dia temui di sekolah. Katakan padanya bahwa belajar itu menyenangkan, guru-gurunya baik, ruangan kelasnya nyaman, dan banyak teman baru yang akan ia dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Ceritakan kegiatan seru di sekolah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sekolah baru sama artinya dengan planet asing bagi anak-anak. Mereka hanya belum mencobanya, yang harus Anda lakukan adalah menceritakan dengan spesifik betapa serunya kegiatan di sekolah. Usahakan mengatakan kalimat semenarik mungkin, jangan katakan kalimat umum seperti "Kamu akan belajar dan banyak main di sekolah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaskanlah lebih rinci seperti, "Sekolah sangat seru dan menyenangkan. Semua anak akan masuk kelas, meletakkan tasnya di tempatnya masing-masing, lalu guru akan menjelaskan pelajaran seperti membaca, berhitung, bernyanyi dan kamu juga akan bermain bersama teman-teman".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Jangan katakan waktu padanya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak belum bisa mengerti pentingnya belajar, yang mereka tahu hanyalah bermain. Ketika mulai masuk kelas, mereka pun menanyakan kapan dijemput atau kapan sekolah akan berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjawabnya, sebaiknya hindari mengatakan waktu yang harus dia tempuh untuk belajar di kelas, seperti "Ibu akan menjemputmu 3 jam lagi", atau bahkan "Kamu akan berada di sini sebentar saja". Perkataan seperti itu cukup menakutkan bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik katakan yang sebenarnya tanpa menyebutkan berapa lama waktunya di kelas, seperti "Kamu akan senang bersama teman-temanmu sampai-sampai tak terasa ibu datang untuk menjemputmu lagi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Informasikan keberadaan Anda&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saat memasuki kelas dan berpisah dengan orang tua yang mengantar adalah saat yang sulit bagi anak-anak. Mereka sering cemas dan membayangkan dirinya dalam bahaya karena ayah-ibunya tak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian anak lainnya justru mencemaskan keselamatan orangtuanya. Untuk itu orangtua perlu menjelaskan keberadaan dirinya setelah selesai mengantar anak. Beri dia informasi yang detail seperti, "Ayah akan pergi ke kantor setelah mengantarkanmu ke sekolah" atau "Ibu akan pergi ke pasar untuk belanja".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. Berikan dorongan positif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak yang ketakutan akan mengekspresikan ketakutannya dengan berbagai perilaku, seperti mengisap jempol, ngompol, merengek-rengek, cemberut, marah tanpa sebab, atau mungkin menarik diri dari lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi perilaku seperti itu, sebaiknya tahan emosi Anda. Jangan mengatakan, "Kamu tidak boleh ngompol lagi, gurumu dan teman-temanmu pasti tidak suka dengan kebiasanmu itu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ia butuhkan hanyalah dorongan positif dan kata-kata yang menenteramkan, seperti "Ibu tahu kalau kamu tidak akan mengisap jempolmu lagi, kamu kan sudah besar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sudah siap kan mengantarnya sekolah?nu/det&lt;br /&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-3306158849427258295?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/3306158849427258295/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=3306158849427258295' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3306158849427258295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3306158849427258295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2010/07/hari-pertama-sekolah-persiapan-mental.html' title='Hari Pertama Sekolah : Persiapan Mental Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01GihvFQtI/AAAAAAAAAMk/u__5JVDuwM8/s72-c/back+to+school.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-2528999039603867989</id><published>2010-02-27T19:48:00.000-08:00</published><updated>2010-02-27T19:48:00.476-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tip - kiat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kemampuan Berpikir anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ke'/><title type='text'>Ide Kreatif Merangsang Kecerdasan Anak</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S06UjYOPkxI/AAAAAAAAAPk/mxd7ozFuTMQ/s1600-h/anak+cerdas.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S06UjYOPkxI/AAAAAAAAAPk/mxd7ozFuTMQ/s200/anak+cerdas.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Kepintaran seorang bisa dibilang sebuah anugerah yang diberikan kepada anak tersebut. Tapi ternyata faktor yang mempengaruhi kepintaran seorang anak juga ditentukan oleh lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang bisa membuat anak menjadi lebih pintar, tentunya selain dengan belajar di sekolah. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membuat anak menjadi lebih pintar, seperti dikutip dari &lt;em&gt;MSNNews&lt;/em&gt;, :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bermain permainan yang berpikir&lt;br /&gt;Catur, teka-teki silang dan sudoku selain menyenangkan juga mendukung strategi berpikir anak-anak, bagaimana cara menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan yang kompleks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bermain musik&lt;br /&gt;Bermain musik selain menyenangkan juga bisa merangsang pertumbuhan otak kanan. Menurut sebuah studi di Universitas Toronto, diadakannya pelajaran musik bisa memberikan keuntungan dalam meningkatkan IQ anak dan performa akademisnya. Semakin lama waktu yang digunakan untuk bermain musik maka efek yang dihasilkan juga semakin besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pemberian ASI&lt;br /&gt;ASI merupakan makanan otak yang paling dasar. Peneliti secara konsisten terus menunjukkan berbagai macam keuntungan ASI yang behubungan dengan pertumbuhan bayi. Anak yang mengkonsumsi ASI eksklusif akan memiliki tingkat kepintaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang mengkonsumsi ASI hanya beberapa bulan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Membiasakan berolahraga&lt;br /&gt;Para peneliti di Universitas Illinois menunjukkan hubungan yang kuat antara kebugaran dan prestasi akademik di antara anak-anak sekolah dasar. Semakin bugar badan sang anak maka kemampuan dalam menerima pelajaran juga meningkat. Sebaiknya mendorong anak untuk terlibat dalam aktivitas fisik atau organisasi olahraga tertentu sesuai dengan minat anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menyingkirkan makanan siap saji&lt;br /&gt;Mengurangi asupan gula, lemak trans dari makanan siap saji dan menggantinya dengan makanan bergizi tinggi yang baik untuk perkembangan mental anak usia dini serta berfungsi dalam perkembangan motorik anak pada usia 1-2 tahun pertama. Contohnya anak-anak memerlukan zat besi untuk perkembangan jaringan otak yang sehat, anak yang kekurangan zat besi akan lambat dalam menerima rangsangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mengembangkan rasa ingin tahu&lt;br /&gt;Para ahli mengatakan orang tua yang menunjukkan rasa ingin tahunya pada anak akan mendorong anak untuk mencari ide-ide baru, sehingga merangsang anak untuk berpikir. Mengajari anak keterampilan baru serta pendidikan di luar rumah juga bisa mengembangkan rasa ingin tahu anak dan intelektualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Budayakan membaca&lt;br /&gt;Membaca adalah cara yang paling mudah untuk meningkatkan pembelajaran dan perkembangan kognitif anak-anak dari segala usia. Cara ini bisa dimulai dengan sering membacakan anak dongeng sebelum tidur dan sering-seringlah memberikan anak hadiah buku yang bisa menarik perhatiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Mengajarkan kepercayaan diri&lt;br /&gt;Orang tua sebaiknya meningkatkan semangat dan optimisme anak-anak. Berpartisipasi dalam tim olahraga atau kegiatan sosial akan membantu meningkatkan kepercayaan diri sang anak diantara teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Memberikan sarapan yang sehat&lt;br /&gt;Para peneliti meyakinkan bahwa mengonsumsi sarapan yang sehat akan meningkatkan memori dan konsentrasi anak dalam belajar. Anak-anak yang tidak dibiasakan sarapan cenderung lebih mudah marah dan kurang konsentrasi pada waktu belajar, sementara anak yang sarapan akan tetap fokus dan bergerak selama jam sekolah.ver/det&lt;br /&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-2528999039603867989?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/2528999039603867989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=2528999039603867989' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/2528999039603867989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/2528999039603867989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2010/02/ide-kreatif-merangsang-kecerdasan-anak.html' title='Ide Kreatif Merangsang Kecerdasan Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S06UjYOPkxI/AAAAAAAAAPk/mxd7ozFuTMQ/s72-c/anak+cerdas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-7767517098866039929</id><published>2010-02-17T21:49:00.000-08:00</published><updated>2010-02-17T21:49:00.261-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Non Formal'/><title type='text'>Les Anak : Cara Cermat Memilih</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01f3mcFYVI/AAAAAAAAAOc/FuQipMt5B4I/s1600-h/anak+les.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01f3mcFYVI/AAAAAAAAAOc/FuQipMt5B4I/s200/anak+les.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Ada segudang pilihan kegiatan ekstrakurikuler anak di luar sekolah. Kegiatan tambahan ini bisa untuk mengasah bakat seni atau kemampuan olahraganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jangan silau dengan banyaknya pilihan les demi untuk memuaskan keinginan orang tua. Jangan pula anak dituntut ikut beragam les tanpa melihat kemampuan dan keinginan si anak. Selain kegiatan sekolah yang memiliki rutinitas sama, anak-anak memang membutuhkan kegiatan tambahan (ekstrakurikuler)yang bisa menghilangkan kejenuhan. Ekstrakurikuler juga bisa menambah teman, menyalurkan hobi dan juga meningkatkan sosialisasi buat anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekstrakurikuler buat anak bisa didapat dari sekolah ataupun memasukkan anak-anak ke tempat kursus di luar sekolah. Ekstrakurikuler yang bisa dipilih tergantung dari hobi dan minat si anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beraneka pilihan untuk kegiatan ekstrakurikuler ini mulai dari sekolah olahraga, sekolah musik, drama, les bahasa, fotografi ataupun kegiatan tambahan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi meski ada banyak pilihan les untuk menambah keterampilan anak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti dikutip dari &lt;i&gt;eHow&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Cari tahu apa yang menjadi hobi dari si anak. Meskipun banyak keuntungan yang bisa didapat oleh anak dengan ikut kegiatan yang baru, orang tua juga harus memastikan bahwa kegiatan tersebut akan menarik untuk anak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cari beberapa pilihan ekstrakurikuler yang sesuai untuk anak. Temukan kapan waktunya, seberapa sering ekstrakurikuler tersebut, berapa biayanya, dan siapa pengajar atau pengawasnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Diskusikan hasil pilihan orang tua dengan anak. Orang tua juga ingin memastikan bahwa anak juga akan senang melakukan kegiatan tersebut, bukan karena paksaan dari orang tua saja.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berikan dua atau tiga pilihan kepada si anak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anak akan lebih berkomitmen untuk menjalani ekstrakurikuler pilihannya sendiri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang tua juga harus terlibat, dengan ikut mengantar atau menjemput sang anak saat menjalani ekstrakurikuler, dan memberikan dukungan saat anak mengikuti lomba dari ekstrakurikuler tersebut.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Sebagai orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi ada satu hal yang harus diingat bahwa anak harus menikmati segala sesuatu yang mereka jalani tanpa ada paksaan ataupun hal lain yang membuat anak-anak merasa tidak nyaman mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya jangan memberikan anak kegiatan ekstrakurikuler yang terlalu banyak, yang membuat anak tidak punya waktu untuk bermain dengan teman-temannya, menikmati waktunya sendiri, dan bisa saja mengganggu waktu belajarnya di sekolah yang bisa menurunkan prestasi belajarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, cermatlah dalam memilih kegiatan ekstrakurikuler untuk sang buah hati.ver/det&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-7767517098866039929?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/7767517098866039929/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=7767517098866039929' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/7767517098866039929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/7767517098866039929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2010/02/les-anak-cara-cermat-memilih.html' title='Les Anak : Cara Cermat Memilih'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S01f3mcFYVI/AAAAAAAAAOc/FuQipMt5B4I/s72-c/anak+les.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-5895240857592654869</id><published>2010-02-07T19:19:00.000-08:00</published><updated>2010-02-07T19:19:00.591-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Taman Kanak - Kanak / Playgroups'/><title type='text'>Pre-School : Tak Perlu Jika Ibu Kreatif</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S008n52gC9I/AAAAAAAAAMc/iTFWIn9Ybsw/s1600-h/preschool.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S008n52gC9I/AAAAAAAAAMc/iTFWIn9Ybsw/s200/preschool.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Setiap orang pasti ingin agar anaknya cerdas untuk memperoleh masa depan yang gemilang. Berbagai upaya dan investasi dilakukan sejak dini demi kelancaran tumbuh kembang si kecil nantinya. Pre-School pun mulai banyak diminati para orang tua karena dianggap dapat mencetak anak berprestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikolog anak, Dr. Rose Mini AP, Mpsi atau yang populer dengan panggilan bunda Romi menyebutkan bahwa IQ anak dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu nature (genetik) dan nurture (stimulasi) seperti bermain, musik, bahasa, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, 80% otak anak berkembang sejak masa kandungan hingga umur 3 tahun. "Bahkan umur 1-3 tahun, anak dapat menyerap 13 juta kata, asalkan si anak mendapatkan rangsangan dan stimulasi," ujar bunda Romi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat tren yang berkembang di kalangan orang tua saat ini, yaitu berlomba-lomba memasukkan anaknya ke pre-school, terkadang menjadi dilema bagi beberapa orang tua yang tidak sanggup menyekolahkan anaknya sedini mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata, memasukkan anak ke pre-school bukan jalan satu-satunya mencetak anak pintar. Seorang anak dapat merasakan suasana pre-school di dalam rumah, asalkan sang ibu kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak ada sekolah buat orang tua. Orang tua harus kreatif dan banyak mencari informasi tentang tumbuh kembang anak. Orang tua harus mau susah, jangan menganggap memasukkan anak ke pre-school dapat meringankan tangung jawabnya, karena bisa bahaya," tegas bunda Romi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, bahaya memasukkan anak ke preschool adalah ketika orang tua menjadi lepas tangan. Selain itu bila sistem yang diterapkan di sekolah tidak sama dengan sistem di rumah, anak bisa bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Contohnya jika orang tua memasukkan anaknya ke sekolah Islami dengan disiplin yang ketat, tetapi di rumahnya tidak diterapkan, sama saja bohong," ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Boleh saja memasukkan anak ke pre-school sejak batita, asalkan tidak membuat anak jenuh. Usahakan mereka lebih banyak bermain, karena dengan bermain informasi akan lebih cepat masuk ke otak,"saran bunda Romi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah penelitian membuktikan bahwa orang tua yang melatih anak dengan bermain, maka informasi yang masuk dapat mencapai 80%. Namun bila dipaksa, informasi tidak akan masuk karena seperti ada tirai yang menghalanginya masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada dasarnya bagi anak-anak, bermain merupakan cara belajar yang paling alami serta dapat mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak," jelas bunda Romi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ibu yang mendidik anaknya di rumah, dapat menggunakan cara-cara kreatif yang menmstimulasi si anak. "Cari alat stimulasi yang mudah. Misalnya,menstimulasi bunyi-bunyian dari peralatan kaca, atau menggunakan jari-jari tangan untuk berkomunikasi dengan cara unik, lucu dan menarik bagi anak," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda tertarik memasukkan anak ke pre-school, ini dia tipsnya memilih preschool yang tepat :&lt;br /&gt;1. Pilih sekolah (pre-school) yang dapat mengoptimalkan anak.&lt;br /&gt;2. Jangan paksakan anak untuk belajar, cobalah mencari berbagai permainan yang disesuaikan dengan gaya berpikirnya.&lt;br /&gt;3. Cari pre-shool yang gurunya tidak keluar masuk, karena anak perlu attachement atau kedekatan untuk tumbuhkembangnya.&lt;br /&gt;4. Harus yang banyak kegiatan motorik kasarnya (jalan, lari, dll).&lt;br /&gt;5. Ada kegiatan outdoornya (50:50), jangan langsung akademis.&lt;br /&gt;6. Jalin komunikasi dengan pihak sekolah atau guru untuk mengetahui perkembangan anak di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan tersebut, Maudy Koesnaedi yang hadir sebagai nara sumber sekaligus moderator pun bertanya mengenai pentingnya mengajarkan bahasa asing pada anak sejak balita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para ibu cenderung menginginkan anaknya bisa menguasai beberapa bahasa dengan cara memasukkan si kecil ke preschool yang proses belajarnya menggunakan beberapa bahasa, sebenarnya baguskah hal seperti itu?" tanya Maudy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut bunda Romi, memang banyak orang tua yang ngerasa anaknya keren kalau ngomong bahasa asing. 'Nggak ada yang ngelarang, tapi yang jadi masalah adalah ketika anak bingung bahasa apa yang dipakainya nanti sehari-hari," ucap bunda Romi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, orang tua terkadang tidak memperhatikan apakah si kecil sudah siap atau belum jika si kecil disekolahkan di tempat yang proses belajarnya menggunakan beberapa bahasa. Untuk itu, kemampuan bahasa anak pun perlu dites dan dipertimbangkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Amati berapa kata yang dapat ia serap tiap harinya. Pertimbangkan juga kebutuhan keluarga dan anak sebelum menggunakan bilingual, apakah sering dipakai atau tidak bahasa asing tersebut di rumah," jelas bunda Romi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terpenting adalah mengajarkan bahasa ibu dulu, baru bahasa sehari-hari. "Walaupun suami saya orang Belanda, tapi saya mengajarkan bahasa Indonesia dulu, baru setelah dia siap belajar bahasa asing, saya ajarkan," ujar Maudy yang saat ini sudah setahun menyekolahkan anaknya di pre-school Planet Kids.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, para orang tua, sebelum Anda menitipkan anak pada satu sekolah, tidak ada salahnya melakukan &lt;em&gt;school shopping&lt;/em&gt; untuk melihat sejauh mana kecocokan visi misi serta kurikulum pre-school itu dengan kepribadian si anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kalau sang ibu kreatif dan punya banyak waktu untuk menstimulasi pertumbuhan anak di rumah, ngapain dimasukin preschool?" ucap bunda Romi.nu/det&lt;br /&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-5895240857592654869?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/5895240857592654869/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=5895240857592654869' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/5895240857592654869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/5895240857592654869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2010/02/pre-school-tak-perlu-jika-ibu-kreatif.html' title='Pre-School : Tak Perlu Jika Ibu Kreatif'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S008n52gC9I/AAAAAAAAAMc/iTFWIn9Ybsw/s72-c/preschool.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-5372683947356050337</id><published>2010-01-28T06:40:00.000-08:00</published><updated>2010-01-28T06:40:00.507-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernak-Pernik Sekolah'/><title type='text'>Tips Memilih Sekolah Terbaik Buat Anak</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S0yK4q1HBYI/AAAAAAAAAJM/TGreDaRCeiU/s1600-h/school.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="148" src="http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S0yK4q1HBYI/AAAAAAAAAJM/TGreDaRCeiU/s200/school.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Banyak pilihan sekolah yang ada saat ini mulai dari sekolah milik negeri, sekolah berbasis agama, sekolah internasional atau sekolah dengan pola khusus seperti sekolah alam.Tapi Anda harus cermat untuk memilih sekolah mana yang bagus untuk si kecil, karena sekolah juga menentukan masa depan dan perilakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih sekolah TK dan SD yang baik untuk anak. Yang terpenting kata pakar dan praktisi pendidikan anak Arif Rachman, dalam sekolah tersebut terdapat sentral bermain anak untuk mengembangkan 5 hal penting, yaitu spiritual, emosional, jasmani, intelektual, dan sosialnya, yang dikemas dalam kegiatan belajar mengajarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memilih sekolah sebaiknya pilihlah sekolah yang tertib, teratur dan bersih, karena lingkungan sekitar sekolah juga mempengaruhi proses belajar mengajar anak-anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan yang tidak kondusif bisa merusak konsentrasi anak ketika sedang belajar. Serta pastikan bahwa sekolah tersebut mempunyai visi dan misi yang tidak melanggar Undang-Undang Pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain lingkungan serta visi dan misi sekolah tersebut, hal yang penting untuk diperhatikan adalah guru-guru dari sekolah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk guru TK sebaiknya telah mendapatkan pendidikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sedangkan untuk sekolah dasar sebaiknya memiliki pendidikan minimal S1 dan untuk guru kelas 1,2, dan 3 yang mengajar semua mata pelajaran sebaiknya juga mendapatkan pendidikan PAUD," ujar Arif .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Beberapa tips memilih sekolah yang baik untuk anak:&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Untuk memilih sekolah dasar bisa dilihat dari output yang dihasilkan. Seperti berapa banyak lulusan sekolah dasar tersebut yang bisa masuk ke SMP unggulan. Karena banyaknya lulusan yang bisa masuk sekolah unggulan berarti sekolah tersebut mempunyai sistem pembelajaran yang bagus. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk memilih taman kanak-kanak pilihlah TK yang mempunyai sistem belajar yang baik dalam hal belajar menulis, membaca dan sosial.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sebelum masuk taman kanak-kanak tidak ada salahnya memasukkan anak anda ke PAUD. Karena di PAUD anak Anda bisa belajar bersosialisasi dengan teman-temannya, diajarkan bernyanyi, menulis dan membaca. Dan PAUD memberikan kegiatan yang positif untuk anak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anak-anak SD sebaiknya diberikan kegiatan intra, ekstra dan co-kurikuler yang seimbang, sehingga didapatkan kemampuan intelektual dan sosial yang seimbang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sedangkan untuk TK pilihlah TK dengan metode bermain sambil belajar dibandingkan dengan program belajar secara klasik.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;"Untuk memilih sekolah TK dan SD, pilihlah sekolah yang memiliki jarak tidak terlalu jauh dengan rumah, sehingga anak masih mempunyai waktu yang cukup untuk berkumpul dengan keluarga, dan bermain dengan orang tua, untuk orang tua yang sibuk pastikan bahwa pengasuh anak kita mempunyai pendidikan yang baik," jelas Arif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak kalah penting dibutuhkan kerjasama yang baik antara guru di sekolah dengan orang tua dirumah dan juga dengan pengasuhnya. Tujuannya agar apa yang sudah diajarkan di sekolah bisa tetap dilanjutkan dirumah, sehingga anak bisa memiliki intelektual, emosional, spiritual, jasmani dan sosial yang bagus.vfb/det&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-5372683947356050337?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/5372683947356050337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=5372683947356050337' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/5372683947356050337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/5372683947356050337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2010/01/tips-memilih-sekolah-terbaik-buat-anak.html' title='Tips Memilih Sekolah Terbaik Buat Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S0yK4q1HBYI/AAAAAAAAAJM/TGreDaRCeiU/s72-c/school.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-3533876039489779528</id><published>2010-01-17T04:05:00.000-08:00</published><updated>2010-01-17T04:05:00.093-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makanan-Suplemen'/><title type='text'>Jauhkan Junk Food Dari Anak Anda!!</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S0xmME1YANI/AAAAAAAAAH4/-QyLPonPTXA/s1600-h/junk+food.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S0xmME1YANI/AAAAAAAAAH4/-QyLPonPTXA/s200/junk+food.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Tak hanya kesehatan anak yang dapat terganggu karena terlalu banyak memakan makanan cepat saji atau junk food. Prestasi anak di sekolah juga dapat menurun. Sebuah penelitian membuktikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian itu dilakukan dengan melakukan survei terhadap 5.000 siswa dan siswi sekolah dasar di Amerika Serikat. Penelitian yang dikutip dari &lt;em&gt;Telegraph&lt;/em&gt;, itu membuktikan bahwa adanya hubungan pola makan yang tidak sehat dengan menurunnya kemampuan akademik siswa dan siswi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digambarkan bahwa rata-rata anak makan di restoran cepat saji tiga kali dalam seminggu. Saat diteliti lebih jauh, kemampuan membaca dan matematika mereka rata-rata bernilai 141.5 poin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan para siswa yang makan di restoran cepat saji empat sampai lima kali, mendapat nilah lebih rendah 7 poin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling parah, anak-anak yang menyantap makanan cepat saji satu kali sehari bisa mengalami kemerosotan nilai hingga 16 poin dan yang tiga kali sehari sebanyak 19 poin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli menemukan bahwa makanan-makanan yang ada di restoran cepat saji, jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak akan menimbulkan gangguan kognitif pada anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan itulah kemudian mempengaruhi kemampuannya dalam menyerap ilmu di sekolah. Duh!aak/det&lt;br /&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-3533876039489779528?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/3533876039489779528/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=3533876039489779528' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3533876039489779528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3533876039489779528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2010/01/jauhkan-junk-food-dari-anak-anda.html' title='Jauhkan Junk Food Dari Anak Anda!!'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S0xmME1YANI/AAAAAAAAAH4/-QyLPonPTXA/s72-c/junk+food.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-7075405601505883408</id><published>2010-01-12T00:15:00.000-08:00</published><updated>2010-01-12T00:15:33.730-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengaruh Linkungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayah harus tahu ini....'/><title type='text'>Pengaruh Buruk Tayangan TV Bagi Anak-Anak</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S0wvi_EvYNI/AAAAAAAAAEE/-hJH3A6C3QQ/s1600-h/tv+anak.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S0wvi_EvYNI/AAAAAAAAAEE/-hJH3A6C3QQ/s200/tv+anak.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Siaran televisi mempunyai dampak sangat besar dalam kehidupan manusia. Sering kali apa yang ditayangkan dalam kotak ajaib itu memancing hasrat penonton untuk ikut melakukannya. Simak saja bagaimana siaran televisi mampu membentuk budaya massa di berbagai belahan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irlandia&lt;br /&gt;Gara-gara serial Sex and the City, sekarang penduduk di sana lebih menggemari minum vodka ketimbang whiskey.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brasil&lt;br /&gt;Saat ini terjadi penurunan angka kelahiran di negara pengekspor telenovela ini. Data statistik menunjukkan, angka kelahiran di negara ini turun menjadi 2,3 anak per wanita dari angka sebelumnya, 6,3. Konon, penurunan tersebut terjadi karena kebanyakan cerita telenovela menampilkan sosok keluarga kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Israel&lt;br /&gt;Serial In Treatment yang ditayangkan di HBO menyebabkan tren baru di negara ini: mengikuti sesi terapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amerika Serikat&lt;br /&gt;Penduduk AS yang sering menonton tayangan tentang operasi plastik ditengarai tertarik untuk melakukan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;China&lt;br /&gt;Media lokal di sana menyebutkan, serial Friends membuat orang-orang muda di China meniru gaya hidup para tokoh dalam serial terkenal itu. Salah satunya dengan menempati apartemen berdekatan dengan teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butan&lt;br /&gt;Pemerintah di negara yang memiliki slogan Gross National Happiness ini melarang siaran MTV dan World Wrestling Entertainment karena alasan meningkatnya tindakan kekerasan di kalangan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia&lt;br /&gt;Hasil penelitian LIPI menyebutkan, dampak tayangan pornografi di televisi menyebabkan meningkatnya kasus kehamilan tidak dikehendaki di kalangan remaja, kekerasan seksual, bahkan aborsi. Demikian juga dampak tayangan berbau kekerasan. Salah satunya adalah maraknya aksi para bocah polos yang meniru gerakan para pegulat smackdown beberapa waktu lalu.AN/kmps&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-7075405601505883408?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/7075405601505883408/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=7075405601505883408' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/7075405601505883408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/7075405601505883408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2010/01/pengaruh-buruk-tayangan-tv-bagi-anak.html' title='Pengaruh Buruk Tayangan TV Bagi Anak-Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_26lTU-Xzecw/S0wvi_EvYNI/AAAAAAAAAEE/-hJH3A6C3QQ/s72-c/tv+anak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-2666628401773840622</id><published>2009-12-29T04:06:00.000-08:00</published><updated>2009-12-29T04:06:00.353-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='character Building'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Mental - Moral'/><title type='text'>Mengajar Anak Egois dan Mau Menang Sendiri</title><content type='html'>Sumber: Ibu-ibu DI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau sharing saja moms, kemarin kebetulan ada acara HBH di Gelanggang Samudra Ancol. Aku dan keluarga ikut serta. Asyiknya banyak tontonan dan permainan yang lain dari pada biasanya. Karena banyaknya orang mengakibatkan arena tontonan dan arena bermain jadi harus antri. Nah disini masalahnya. Saat aku menemani anak-anakku untuk antri di salah satu wahana yang hanya memperbolehkan anak-anak untuk bermain. Aku melihat seorang anak yang ditemani Ibunya. Diangkat oleh sang Ibu melewati pagar antrian sehingga dia dengan mudah dapat berlari mendapatkan giliran. Padahal didepanya banyak yang mengantri. Untung anakku tidak iri dengan cara mereka. Tapi yang lebih parah ternyata, setelah permainan selesai dan anak-anakku mencapai giliranya untuk bermain, aku lihat anak itu dapat instruksi dari sang Ibu untuk memutar dan bermain kembali tanpa diketahui oleh petugas. Jadi anak itu bermain 2 kali, sementara banyak orang masih mengantri. Benar-benar hebat kerja sama ibu dan anak itu. Dan ternyata aku kenal orangnya, dan aku tahu dia adalah orang yang berpendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah begitu, tidak aneh rasanya melihat korupsi di negara kita, wong masih kecil saja anak sudah diajarkan egois dan mau menang sendiri. Entah dengan cara apapun.... Sementara aku wanti-wanti ke anak-anakku untuk tidak boleh begitu ya. Itu namanya kamu dzolim sama orang [An]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mba, Jadi ingat waktu jaman daftar sekolah anakku, antri di depan loket buat memasukkan form pendaftaran. Tahu-tahu ada seorang bapak yang berusaha menerobos antrian, plus pakai acara ngomel-ngomel karena antrian begitu penuh dan lama. Setelah beberapa kali menyikut orang, sampailah padaku. Sambil berusaha setenang mungkin, aku bilang begini;&lt;br /&gt;"Pak, tolong sabar dan antri yaa...Kalau bapaknya saja tidak bisa tertib dan disiplin, percuma anaknya disekolahkan disini..."&lt;br /&gt;Hihi... itu bapak yang dandanannya perlente melotot padaku tapi sudah tidak bias bicara lagi, karena bapak-bapak dan ibu-ibu lain yang ada di depanku jadi ikut nengok dan melihat beliau ini. Duh... banyak loh ortu model begini. Dan maaf-maaf, kalau penampilannya biasa-biasa saja sih, bisa dimaklumi kali yaa. Mungkin memang kurang terdidik atau berasal dari lingkungan terbiasa yang seperti itu. Nah, kalau yang sudah dandan necis, dan kalau bicara berselipan istilah bahasa asing. Tapi kelakuan semaunya sendiri, urat malunya sudah putus kali yaa...hi..hi..[Dy]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya tidak bisa antri itu memang sebagian dari budaya kita, suka atau tidak suka, orang Indonesia itu paling susah disuruh tertib. Aku heran, dimana sekarang budaya tepa selira yang dulu sangat diagungkan itu, wong kenyataannya berapa banyak orang yang menyerobot lampu lalu lintas, berapa banyak orang yang menyerobot di pintu tol dan lainnya, dan sebagian besar kecelakaan terjadi karena tidak tertib khan? Kemarin aku juga kebetulan main di Jatim Park (Amusement Park di daerah Batu-Malang), meskipun arena permainan itu hanya untuk anak-anak, kenyataannya orang tua ikut campur dalam serobot-menyerobot, walhasil, anakku yang aku sengaja biarkan antri, ya tergeser terus, sama si ayah petugasnya yang ditegur; "Mas, tolong antriannya ditertibkan lagi, biar sama-sama enak dan tidak ada yang terserobot-serobot", walhasil para ortu yang tidak tertib itu melirik suamiku dengan sewot..hehehe Yah...seperti yang Mbak bilang, tidak heran kalau para koruptor semakin subur, ya karena memang diajarkannya seperti ini. Bahkan, tahun lalu aku berkesempatan berangkat haji, terlihat sekali ketidakbisaan antri ini, mulai dari masuk masjid, beli makanan, antri toilet, antri bis sampai terjadi rebutan makanan sumbangan (itu loh, tahun lalu kan ada ada insiden jamaah haji tidak mendapat suplai makanan)...byuh..byuh..padahal hari gini..saat jamaah haji sudah bergeser ke usia muda, harusnya lebih berpendidikan mengingat sebagian besar jamaah haji adalah orang yang lumayan mampu dan banyak yang memiliki jabatan, kenyataannya teteub saja tuh tidak bias antri so, moms yuk kita budayakan lagi tepa selira dan tertib ini, OK lah di era kita belum dapat terlaksana, tapi paling tidak di generasi anak-anak kita, kita harus lebih baik [HK]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah saya juga tidak suka orang tua yang mengajarkan anaknya seperti itu. Tidak cuma ngantri bahkan dalam lomba pun ada saja orang tua yang mengajarkan anaknya tidak jujur. Hal itu saya sering temukan dan sepertinya hal itu seperti hal yang biasa saja. Pernah suatu ketika pas saya menemani anak saya lomba melukis, ada salah satu teman lombanya yang memanipulasi usia alasannya takut sama lawan usianya dan yang pasti tidak menang bahkan orangtuanya ikut menjatuhkan mental lawan-lawan anaknya wah itu sangat membuat saya marah karena sejak kecil sudah diajarkan main curang dan berbohong. Bahkan bisa merugikan peserta lain. Saya pikir peristiwa yang mbak alami mencerminkan bahwa anak itu sudah diajarkan kecurangan tanpa memikirkan apakah hal itu dapat merugikan orang lain. Takutnya jika sudah besar nanti kalau dia menghadapi masalah dia hanya memikirkan dirinya sendiri, tidak peka terhadap lingkungan. Malah sekarang ini saya selalu ingatkan anak-anak agar selalu ngantri, tidak boleh curang dan peka terhadap lingkungan. Semoga saja ya mereka selalu ingat nasehat mamanya Amin [EP]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tambahan masukan dari teman yang lain:&lt;br /&gt;Sebaiknya kalau kita melihat hal-hal seperti itu bersama anak kita, langsung tegur saja. Tentu dengan cara yang sebaik-baiknya. Biar anak kita tahu bahwa hal tersebut tidak baik dan kita berhak untuk menegur. Yuk Moms, kita mulai dari rumah kita dan lingkungan kita sendiri untuk&lt;br /&gt;membenahi hal-hal seperti ini. Mudah-mudahan kita bisa mempengaruhi lingkungan yang lebih besar lagi nantinya. Mudah-mudahan, generasi anak-anak kita akan lebih baik [An]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-2666628401773840622?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/2666628401773840622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=2666628401773840622' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/2666628401773840622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/2666628401773840622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/12/mengajar-anak-egois-dan-mau-menang.html' title='Mengajar Anak Egois dan Mau Menang Sendiri'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-9197100767531184939</id><published>2009-12-21T00:53:00.000-08:00</published><updated>2009-12-21T00:53:00.646-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bakat Anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Music'/><title type='text'>Bakat musik anak</title><content type='html'>Sumber: ibu ibu DI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;Apa masih kepagian kalau anak umur 4 th kurang di les kan piano?  Dimana bisa dapatkan step by step untuk mengajarkan anak sekecil itu, Apa mulai dari not balok? [dn]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;Dari dulu, aku paling anti baca not balok. Aku tidak pernah tau tentang perpianoan. Dari dulu sih, asal fun-fun saja, karena sudah ada, ya aku mainkan. Sambil matanya lihat ke angka yang 1 2 3 nya saja dan tangannya yang jalan tapi lumayan, waktu SD jadi kepilih untuk wakil main piano. Sekarang ke anakku iseng, sambil nostalgia ceritanya. aku asal saja, sambil nyanyi-nyanyi bintang kecil, naik kereta api, hujan, seperti lagu-lagu  anak, sambil bermain pianonya. cuma begitu saja gimana ya? tidak ada terpikir untuk memberi les anak main piano, ibunya saja anti baca not balok dan nantinya buat apa ya moms? minta sharingnya ya, sepertinya banyak yang minat sama piano ini, ada lebihnya ya ke perkembangan otak/kreativitas? [af]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak sepupuku mulai dari umur 3 &amp; 5 tahun, ini kakak beradik, kemaren waktu aku lebaran ke rumah sepupuku dia bilang yang lebih pintar adiknya yang dari umur 3 tahun belajar pianonya, mereka kursusnya di YMI Manggarai. kalau anakku belum ikutin, mau ke KMA yang punya Yamaha di daerah Cibubur tapi kursusnya hari sekolah kalau tidak Rabu/Kamis jam 14.00, tapi masih kasihan karena dia pulang sekolah jam 11.00 kalau kamis pulang jam 12.30 karena dilanjutkan ada ekstra kulikuler, mungkin aku mau masukkan ke Purwacaraka Studio di Depok yang kelas vokal dulu [Im]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mozart 4 tahun sudah bisa main piano. Tidak kepagian, kalau memang anaknya memang suka, dikursuskan saja. Sayang kalau bakatnya telat diasah. Musik penting sekali. Aku juga mau kursusin anakku piano, tapi lagi mikir, enaknya dimasukkin ke sekolah musik atau panggil guru privat ya? Soalnya anakku masih 3 tahun. Aku tadinya mau mengarahkan anakku main gitar. Jadi aku belikan gitar supaya dia bisa main. Tapi ternyata anakku tidak mau, gitarnya disandang terus kayak pacul. Dia maunya main piano saja. Ya sudah. Gitarnya aku lupakan. Ikutin saja dia maunya apa. Biola juga asik sekali.   Aku dulu ingin sekali bisa biola, tapi apa daya besar di tengah hutan siapa juga yang mau mengajarkan main biola. Musik tidak bisa dipaksakan. Seperti aku dipaksa main trumpet dulu dan tidak pernah bisa, karena maunya main angklung [Fe]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di yamaha minimal 3,5 tahun sepertinya, awalnya diperkenalkan bunyi-bunyian berbagai alat musik mengenal ritme ketukan lagi tangga nada sederhana – do re mi, kalau memang sudah usianya bertambah mungkin baru fokus ke salah satu alat musik yang disukai sang anak kira-kira begitu. Aku juga ada  rencana mau memasukan anakku ke kursus musik, makanya sudah survey ke beberapa tempat kursus [Su]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sharing pengalaman saja ya, anakku dulu pertama kali les piano umur 4  tahun, waktu itu aku masukin di KMA (Kursus Musik Anak) nya Yamaha, jadi ikut kelas atau group, 1 kelas kira-kira 7-8 anak, tidak les private. waktu itu sih ada yang bilang kalau les private, takut anaknya jenuh, jadi lebih baik diikutkan di kelas, dan ternyata buat anakku cocok, sampai KMA 4 lulus, dia sudah bisa baca not balok, baca lagu, setelah itu baru penjurusan, anakku pilih ke piano. Waktu umur 5 tahun, sempat juga aku arahkan untuk ke biola, ternyata anaknya lebih suka ke Piano, ya sudah, jadinya les piano. [Rn]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan anakku sekarang aku masukin ke kursus musik khusus balita, tempatnya di jalan Fatmawati. Rencananya aku mau masukkan ke playgroup Gita Niti di Jalan panglima polim. Metode pengajaran ditempat kursus khusus balita itu adalah pengenalan, jadi anak2 (sekelas 6 orang) diajak mendengerkan musik/lagu, lalu diajak "mendengarkan" ketukannya, tapi  namanya juga anak2 2-3 tahunan, caranya mengajarnya juga sambil bermain. [Ik]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepupuku yang perempuan juga kursus biola dari smp, sekarang dia sudah sma dan itu juga pilihannya sendiri, orang tuanya saja kaget kenapa pilihnya biola, padahal kakaknya yang perempuan juga pilihnya gitar, ternyata karena dia sering lihat vanessa mae main jadi dia ingin sekali seperti itu.    Menurut tanteku setiap dia menunggu sepupuku kursus, ternyata yang les itu bukannya hanya anak-anak, orang dewasa juga banyak, jadi temen sekelas  sepupuku itu ada yang sudah nenek-nenek ada yang pegawai telkom, ada mahasiswa juga. Kalau menurut aku, biola sekarang sudah banyak juga penggemarnya, jadi sepertinya pasti di sekolah musik seperti yamaha / kaiwa / modern, pasti sudah ada kelas biola. [In]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temannya anak saya juga sudah mulai belajar biola sejak umur 5 tahun, sekarang sudah dia umur 9 tahun, mainnya sudah bagus juga. Selain les  biola, sebelumnya sudah les piano lebih dulu, jadi sekarang les 2 alat musik sekaligus. Kalau tidak salah, tempat les biola untuk ana-anak yang bagus di Amadeus. Pendiri sekolah musik ini Grace Sudargo yang juga pemain biola, jadi dia tahu bagaimana cara yang menarik untuk mengajar anak-anak kecil bermain biola. Belajar main biola ini harus betul-betul tekun, karena harus memproduksi nada yang tepat, tidak seperti piano yang tinggal tekan saja. Biola juga lebih sulit daripada gitar karena fretless.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku sudah 5,5 thn jadi sudah saatnya belajar musik dengan serius, tapi kalau nanti dia tetap dengan pendiriannya, apa boleh buat, terpaksa aku harus hunting biola. Biola ukuran ½ yang buatan Cina harganya tidak terlalu mahal, sekitar ½juta, jadi masih lumayan, tidak terlalu rugi kalau anaknya bosan. [Sy]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku agak lupa persisnya, kira-kira 1-1.5 tahun, jadi KMA 1 kira- kira 3-4 bulan baru ujian , KMA 2 juga kira-kira 3-4 bulan lalu ujian dst. Disini anaknya tidak melulu teori, tapi juga pegang alat musik, pakai electone, ada nyanyinya, ada latihan jari-jari, ada PR mewarnai dan bikin not balok, jadi membuat anaknya menjadi tertarik, tidak bosan, meskipun begitu maksudnya tidak terus menerus pegang electone) pada saat ujian KMA 1 nanti, anaknya sudah bisa memainkan lagu, karena disitu kan ada juga ujian untuk memainkan lagu, hearing, dsb. Hanya saja kalau menurut aku dengan dasarnya di KMA tadi, penguasaan not balok, hearing , maksudnya basicnya menguasai sekali. Jadi jangan khawatir bahwa anaknya akan malas/bosan, karena anaknya tetap memainkan electone setiap kursusnya, hanya memang bukan piano, tapi electone. (ini menurut aku sendiri ya (aku juga tidak terlalu mengerti soal music, dan tidak bisa piano) bisa jadi anaknya dikenalkan electone dulu, karena jari-jarinya kan masih kecil, kalau piano untuk menekan beberapa kunci-kunci di piano, panjang dan jari tangannya masih tidak cukup untuk menjangkau tuts, ini hanya berdasarkan pemikiran orang awam. Satu lagi, anakku waktu itu les musik juga berdasarkan saran dari dsa karena anakku ini galak dan memang betul sekarang ini emosinya cukup stabil dan lebih teratur dan sejauh ini anakku menikmatinya sampai sekarang, belum bosen dia dengan les pianonya. [Ri]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pakai metodenya Alfred untuk murid-murid kecilku. Aku juga masih banyak belajar. sejauh ini murid-murid kecilku juga lebih mudah mencernanya dan penyampaiannya juga terstruktur. Aku pribadi memang prefer anak mulai belajar instrumen piano di umur 4-5 tahun. Kalau lebih kecil metodenya sudah lain lagi, lebih banyak mengembangkan sense of music nya dulu, belajar rhythm, singing, and listening. Dan lagipula untuk yang lebih kecil dari 4 th. biasanya jari-jarinya masih terlalu mungil untuk memencet tuts piano, makanya biasanya pakai keyboard dulu. Sorry, dari yang aku pernah  baca di bukunya ibu Latifah Khodijat (guru piano senior indonesia), pemakaian keyboard sebagai pengganti piano di awal, akan membuat jari-jari 'malas' karena touchingnya terlalu ringan, perlu banyak koreksi nantinya. Seperti anakku itu aku memang lebih banyak mengajari rhythm supaya dia punya sense of rhythm dulu. Dari beberapa seminar dan workshop yang aku ikutin, memang basicnya belajar musik ya dari rhythm, seperti tepuk tangan, menyanyi, menari, berbaris, dll. Dan belajar musik itu dasarnya harus fun. Pengenalan musik seperti ini sudah bisa dilakukan sejak 0 tahun. Di mulai dari listening, singing, lalu makin besar anak bisa mulai dibelikan alat2 perkusi sederhana seperti yang suka dipakai guru-guru TK yang bisa dipakai sambil dengerin musik. Itu sudah cukup untuk menumbuhkan sense musicnya, dan kita-kita guru instrumen musik sudah tidak usah susah-susah lagi mengajarkan cara memainkan instrumennya, karena anaknya sudah punya sense.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, hati-hati memilih sekolah musik, sekolah musik yang bagus punya program dan kurikulum yang jelas, dan berorientasi ke pendidikan musik. Gurunya juga ada yang player, ada yang pendidik. Soalnya ada kursus musik yang berorientasi ke bisnis musik, aku tidak bisa sebut nama tapi aku sudah pernah masuk ke sistemnya mereka, jadi lumayan tahu [Lt]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-9197100767531184939?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/9197100767531184939/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=9197100767531184939' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/9197100767531184939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/9197100767531184939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/12/bakat-musik-anak.html' title='Bakat musik anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-9069896177800167002</id><published>2009-12-15T23:10:00.000-08:00</published><updated>2009-12-15T23:10:00.312-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gangguan Pembelajaran Anak'/><title type='text'>Gangguan Artikulasi Pada Anak</title><content type='html'>Anak-anak yang bicaranya tak jelas atau sulit ditangkap dalam istilah psikologi/psikiatri disebut mengalami gangguan artikulasi atau fonologis. Namun gangguan ini wajar terjadi karena tergolong gangguan perkembangan. Dengan bertambah usia, diharapkan gangguan ini bisa diatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati begitu, gangguan ini ada yang ringan dan berat. Yang ringan, saat usia 3 tahun si kecil belum bisa menyebut bunyi L, R, atau S. Hingga, kata mobil disebut mobing atau lari dibilang lali. "Biasanya gangguan ini akan hilang dengan bertambah usia anak atau bila kita melatihnya dengan membiasakan menggunakan bahasa yang baik dan benar," jelas Dra. Mayke S. Tedjasaputra. Hanya saja, untuk anak yang tergolong "pemberontak" atau negativistiknya kuat, umumnya enggan dikoreksi. Sebaiknya kita tak memaksa meski tetap memberitahu yang benar dengan mengulang kata yang dia ucapkan. Misal, "Ma, yuk, kita lali-lali!", segera timpali, "Oh, maksud Adik, lari-lari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tergolong berat, anak menghilangkan huruf tertentu atau mengganti huruf dan suku kata. Misal, toko jadi toto atau stasiun jadi tatun. "Pengucapan semacam ini, kan, jadi sulit ditangkap orang lain," ujar pengajar di Fakultas Psikologi UI dan konsultan psikologi di LPT UI ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYEBAB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan fonologis bisa dikarenakan faktor usia yang mengakibatkan alat bicara atau otot-otot yang digunakan untuk berbicara (speech motor) belum lengkap atau belum berkembang sempurna; dari susunan gigi geligi, bentuk rahang, sampai lidah yang mungkin masih kaku. Beberapa kasus gangguan ini malah berkaitan dengan keterbelakangan mental. Anak yang kecerdasannya tak begitu baik, perkembangan bicaranya umumnya juga akan terganggu. Bila gangguan neurologis yang jadi penyebab, berarti ada fungsi susunan saraf yang mengalami gangguan. Sebab lain, gangguan pendengaran. Bila anak tak bisa mendengar dengan jelas, otomatis perkembangan bicaranya terganggu. Tak kalah penting, faktor lingkungan, terutama bila anak tidak/kurang dilatih berbicara secara benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERAPI BICARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila penyebabnya kurang latihan atau stimulasi, akan lebih mudah dan relatif lebih cepat penyembuhannya asal mendapat penanganan yang baik. Namun bila dikarenakan gangguan neurologis, perlu dikonsultasikan ke ahli neurologi. Sementara jika berhubungan dengan keterbelakangan mental, biasanya relatif lebih sulit karena tergantung tingkat keterbelakangan mentalnya. "Kalau masuk kategori terbelakang sedang, pengucapan kata-kata anak biasanya juga sulit ditangkap. Akan tetapi dengan pemberian terapi bicara, pengucapannya bisa agak jelas, meski ada juga beberapa yang masih sulit dicerna oleh orang yang mendengarkannya," jelas Mayke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, jika gangguannya masuk dalam taraf sulit, dianjurkan membawa anak berkonsultasi. Kriteria sulit: bila sudah mengganggu komunikasi atau kontak dengan orang lain, bahkan orang serumah pun tak mengerti apa yang dimaksudnya. Bila sudah ber"sekolah", gangguan ini bisa mempengaruhi prestasi. Misal, harus bernyanyi di depan kelas, tapi karena belum fasih membuatnya tak berani tampil. Jikapun berani, pengucapannya yang tak jelas akan memancing teman-teman mengolok-oloknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibutuhkan bantuan ahli terapi bicara untuk mengatasinya. Biasanya terapis akan menelaah kembali apakah si kecil mengalami gangguan speech motor. Gangguan speech motor ada yang bisa dilatih seperti halnya meniup lilin. Tak jarang perlu pula bantuan ahli THT untuk mengoreksi adanya gangguan pada organ-organ yang berhubungan dengan bicara yang berada di daerah mulut. Mungkin ada anak yang lidahnya tak terbentuk dengan baik, hingga terlalu pendek dan mempengaruhi kemampuan bicaranya. Cacat bawaan seperti sumbing juga bisa berpengaruh pada cara bicaranya, tapi gangguan ini bisa diatasi dengan operasi dan terapi bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAWA BERKONSULTASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang mengalami gangguan fonologis kriteria sedang hingga berat, biasanya terlambat pula perkembangan bicaranya. Misal, baru bisa bicara di usia 3 tahun, atau usia 2,5 tahun baru bisa menyebut Mama/Papa. Kemungkinan lain, meski sudah 2 tahun tapi kemampuan bicaranya masih tahap bubbling alias tanpa arti, seperti "ma...mapa...pa". Namun bahasa resetif atau penerimaannya cukup baik, hingga bila ia disuruh atau diajak bicara akan mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang seperti ini pun, saran Mayke, sebaiknya dibawa berkonsultasi karena bila dibiarkan berlanjut, kemungkinan anak akan mengalami gangguan fonologis lebih parah. Itu sebab, bila sejak usia 10 bulan atau setahun, anak mulai dapat menyebut "Mama/Papa", tapi selepas 2 dua tahun tak bertambah, kita harus curiga dan cepat minta bantuan ahli. Terlebih bila kita sudah cukup banyak memberi stimulasi atau rangsangan. Bisa dengan membawanya ke psikolog/psikiater lebih dulu untuk mengetahui apakah ia mengalami gangguan fonologis karena keterbelakangan mental, gangguan neurologis, atau sebab lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila masalahnya menyangkut gangguan yang tak bisa ditangani psikolog, sebaiknya anak dirujuk ke ahli lain, seperti neurolog atau ahli terapi bicara. Para ahli terapi bicara bisa ditemui di berbagai institusi yang melakukan terapi untuk anak autis atau anak yang mengalami gangguan perhatian. Mereka biasanya juga menangani anak yang mengalami gangguan bicara. Sedangkan lama penanganan tergantung beberapa hal. Seperti berat-ringan gangguan, upaya/kesediaan orang tua untuk mengantar anaknya terapi secara teratur maupun melatihnya di rumah, serta kerjasama dari anak. Jadi, saran Mayke, kita jangan segan-segan menanyakan pada terapis apa yang perlu dilakukan di rumah untuk menangani anak. Harusnya terapis-terapis pun cukup terbuka untuk memberi saran atau masukan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keahlian terapis juga mempengaruhi tenggang waktu yang dibutuhkan untuk menangani gangguan anak. Begitu pula penguasaan/pendalaman terhadap masing-masing bentuk gangguan, tingkat kesulitan, dan cara penanganan yang tepat untuk tiap gangguan tadi. Selain, terapis juga harus bisa membina hubungan baik dengan anak, hingga anak merasa senang mengikuti program tersebut. Sebaliknya, akan jadi kendala bila si terapis kaku dan tak bisa membujuk anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : tabloid nakita (KG Group)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-9069896177800167002?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/9069896177800167002/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=9069896177800167002' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/9069896177800167002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/9069896177800167002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/12/gangguan-artikulasi-pada-anak.html' title='Gangguan Artikulasi Pada Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-3760257864964276461</id><published>2009-12-13T18:30:00.000-08:00</published><updated>2009-12-13T18:30:00.515-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernak-Pernik Sekolah'/><title type='text'>Menyiapkan Anak Masuk Sekolah</title><content type='html'>TERNYATA menyiapkan si anak masuk sekolah bukan persoalan mudah. Tak semudah mengembalikkan telapak tangan. Ternyata menyiapkan anak masuk sekolah tak hanya berhenti pada menyiapkan biaya dan berbagai keperluan lain. Ternyata menyiapkan anak masuk sekolah tak berhenti hanya pada mengatakan "ya" pada keinginan si anak untuk sekolah. Masih ada hal lain yang mesti diperhatikan sebelum anak dibiarkan masuk sekolah. Bahkan hal lain ini menjadi hal paling penting yang tak semestinya ditinggalkan atau dianggap remeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini kami berikan beberapa poin yang bisa dijadikan pegangan untuk menyiapkan anak-anak Anda untuk masuk ke sebuah sekolah. Ke sebuah lingkungan pendidikan yang baru. Tapi poin-poin ini bukan kata akhir. Anda masih harus membuka mata dan telinga terhadap berbagai unsur atau informasi yang berguna untuk kelancaran dan kelangsungan pendidikan anak Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan anak berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda ingin anak Anda berhasil? Jangan memaksakan kehendak Anda. Anda ingin anak Anda bisa menikmati semua proses pendidikan di sekolah. Jangan menekan anak Anda untuk mengikuti keinginan Anda. Benar bahwa Anda ingin mencari sekolah favorit. Sekolah yang mahal. Tapi keinginan Anda itu tak akan berguna jika anak Anda tak suka. Apa artinya sebuah sekolah yang mahal tapi ternyata anak Anda tak enjoy? Bukankah yang menempuh pendidikan adalah anak Anda dan bukan Anda. Jadi, biarkan anak Anda memilih sekolah yang ia tahu dan rasa bisa membantunya mengaktualisasikan diri, bisa mengembangkan diri. Sikap semacam itu bisa membuatnya bisa lebih senang mengikuti proses yang ada di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengunjungi sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin berikut yang mesti Anda perhatikan adalah atmosfer sekolah. Ingat, situasi atau iklim sekolah turut berpengaruh terhadap kesuksesan belajar sang anak. Bukankah Anda tak mau memasukkan anak Anda ke sekolah yang iklimnya tak bagus? Itu berarti, sebelum Anda menjatuhkan pilihan Anda pada sebuah sekolah, Anda harus tahu lebih dulu situasi dan iklim sekolah itu. Salah satu cara yang bisa Anda lakukan adalah mengunjungi sekolah itu bagus untuk pendidikan anak Anda, Anda bisa langsung menjelaskan atau menunjukkan letak ruangan, peralatan sekolah atau juga guru-gurunya. Ini menjadi langkah awal yang baik supaya anak Anda tidak kaget, kagok dan bingung menghadapi situasi yang serbabaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membahas apa yang dirasakan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menentukan sekolah mana yang cocok, Anda pasti (atau mungkin) mengantarnya pada hari pertama sekolah. Dalam perjalanan ke sekolah itu, sebaiknya Anda mulai dengan pembicaraan ringan seputar sekolah. Seperti menguraikan tentang pengalaman baru yang akan dilaluinya. Dengan mengenali perasaannya sendiri, anak akan merasa lebih siap menghadapi atau menjalani situasi baru yang bakal segera dialaminya. Anda dapat menenangkan perasaannya dengan memberikan perhatian penuh dan mendengarkan apa yang ia ungkapkan. Anda sebaiknya juga membahas apa yang dirasakan anak. Dengarkan keluh kesahnya. Berikan jawaban sederhana yang membangun motivasi agar memiliki gambaran positif tentang sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan penguatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda kemudian dapat memberikan penguatan (encouragement), jika ternyata anak Anda takut, gugup dan bingung, bahwa semua yang dirasakannya itu sangat wajar pada tahap awal. Bahwa semua orang akan mengalami hal itu. Bahwa semua orang pasti punya kekagetan, kebingungan dan kegugupan yang sama. Lalu Anda bisa memberanikan anak Anda untuk menghadapinya dengan mengatakan bahwa Anda menyayanginya dan mendukungnya. Anda bisa juga mengatakan bahwa Anda akan berada di sisinya ketika ia membutuhkan Anda, sekalipun tidak duduk di sebelahnya di dalam kelas. Anda bisa juga mengajaknya berdoa agar ia memiliki keberanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orangtua Anda harus bersikap santai dan berpikir positif dalam menghadapi anak Anda yang akan mulai memasuki dunia sekolah yang baru. Ini menjadi hal yang penting Anda ketahui karena seringkali justru orangtua yang lebih cemas dalam menghadapi kondisi semacam itu. Jangan memperlihatkan kecemasan dan kegelisahan semacam itu akan menurunkan rasa percaya dirinya. Bukankah anak Anda bisa mengeluh, "Kalau orangtua saya bisa gelisah seperti ini, berarti ada hal yang tak beres." Sebaiknya berikan si kecil dorongan semangat. Tak ada salahnya Anda mulai dengan joke ringan yang menghibur agar anak Anda menjadi lebih terhibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latih anak mengurus kebutuhan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum sekolah, anak sebaiknya sudah mampu mengurus kebutuhan dasar untuk dirinya sendiri. Misalnya, bisa makan sendiri tanpa bantuan, atau anak bisa memberitahukan kepada Anda jika ia lapar, haus, atau ingin buang air (kecil atau besar). Jika perlu, seminggu atau sepuluh hari sebelum sekolah dimulai Anda sudah mengatur jadwal untuk anak Anda. Misalnya, atur jadwal kapan anak Anda tidur, kapan bangun dan kapan bekerja. Ingat, pendidikan dan bimbingan dari orangtua adalah elemen paling penting dalam membangun sebuah karakter yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latih anak untuk mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk sekolah sama dengan masuk dalam iklim yang baru. Bisa sangat lain daripada yang sebelumnya. Dan iklim yang baru itu sedikit banyak mempengaruhi kemampuan anak, antara lain kemampuan berbicara atau mengutarakan pendapat dan gagasan. Sebagai antisipasi atau latihan awal, Anda bisa mengajarkannya bagaimana harus mendengarkan orang lain. Latihlah anak Anda untuk mendengarkan pembicaraan orang lain serta bagaimana menanggapinya dengan baik. Setelah itu, latih kemampuan berbicaranya. Latih sesering mungkin. Sebaiknya gunakan bahasa yang baku, baik, dan benar. Penggunaan bahasa yang baik dan benar bisa membantu anak menangkap isi materi atau pembahasan.&lt;br /&gt;(Genie/Genie/tty)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-3760257864964276461?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/3760257864964276461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=3760257864964276461' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3760257864964276461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3760257864964276461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/12/menyiapkan-anak-masuk-sekolah.html' title='Menyiapkan Anak Masuk Sekolah'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-6805740826794319031</id><published>2009-12-05T05:09:00.000-08:00</published><updated>2009-12-05T05:09:00.500-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar dan Bermain'/><title type='text'>Si 1 tahun Coba-Coba Manjat</title><content type='html'>Otot lengan yang semakin kuat, membuat si kecil ingin sekali memanjat. Dilarang saja agar ia tak jatuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, anakku sekarang mulai nakal, suka manjat-manjat,” tutur seorang ibu muda pada temannya. Anaknya kini memang sedang mencoba-coba mencari sesuatu yang tinggi untuk dipanjat. Mengapa anak usia ini ingin sekali memanjat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koordinasi otak, mata, lengan dan kaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterampilan memanjat menyangkut kerja otak, yang memerintahkan mata-lengan dan kaki untuk bersama-sama bekerja menghasilkan gerakan yang disebut memanjat. Jadi, memanjat, meski tampak sepele, sebetulnya menyangkut kematangan berpikir, kematangan otot lengan dan kematangan otot tungkai dan batang tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematangan berpikir terjadi saat anak sadar akan adanya dimensi ketinggian, dan mulai berpikir bahwa benda-benda yang letaknya di atas dapat diraihnya dengan cara memanjat. Sedangkan kematangan otot lengan, adalah ketika anak mencoba menopang tubuhnya dan menjaga keseimbangan menggunakan kedua lengannya, kemudian menaikkan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaslah, keinginan anak untuk mencoba memanjat tidak ada hubungannya dengan kenakalan atau keisengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latihan sangat perlu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa ingin tahu anak mengarahkannya untuk melakukan sesuatu, termasuk memanjat. Jangan halangi rasa ingin tahu si kecil dengan melarangnya memanjat, karena Anda takut ia jatuh. Sebab, keterampilan memanjat diperlukan anak kelak. Daripada melarangnya memanjat, lebih baik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Beri fasilitas yang aman untuk dipanjat . Misalnya, kursi yang kokoh atau meja rendah yang tidak terbuat dari kaca. Bisa juga mengajak anak menaiki tangga yang tersedia di play ground .&lt;br /&gt;* Dampingi saat memanjat . Setelah memanjat, kadang-kadang anak tidak dapat turun sendiri. Bisa saja ia berteriak-teriak minta diturunkan. Bantu dan ajarkan si kecil cara turun yang tepat agar ia tidak jatuh.&lt;br /&gt;* Jangan menjerit . Saat Anda melihat anak memanjat teralis, misalnya, jangan menjerit. Tetaplah tenang, dekati si kecil dan gapai dia. Jeritan Anda dapat membuat anak kaget, dan tidak mustahil ia malah terjatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Immanuella F. Rachmani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-6805740826794319031?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/6805740826794319031/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=6805740826794319031' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6805740826794319031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6805740826794319031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/12/si-1-tahun-coba-coba-manjat.html' title='Si 1 tahun Coba-Coba Manjat'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-2704724057235176373</id><published>2009-12-01T23:35:00.000-08:00</published><updated>2009-12-01T23:35:00.334-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Pendidikan'/><title type='text'>HAK-HAK PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Mahdi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak-hak yang harus dipenuhi supaya seorang anak muslim berada pada keadaan yang cocok untuk pendidikan Islam yang benar banyak sekali, kami akan meyebutkan di antaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memilih calon ibu yang baik, hal ini mengamalkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Lihatlah agama calon istri supaya engkau tidak celaka” [Muttafaqun alaihi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hendaknya kedua orang tua berdo’a dan merendahkan diri kepada Allah agar berkenan memberi rezki anak yang shalih kepada keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan orang-orang yang berkata : “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang bertakwa” [Al-Furqon : 74]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a” [Ali-Imran : 38]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka usaha apapun tanpa pertolongan Allah dan taufiq-Nya pasti akan berakhir dengan kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa banyak seorang ayah sengat menginginkan agar anaknya menjadi baik, ia sediakan hal-hal yang menunjang untuk kebahagiaan dan pendidikan anaknya, akan tetapi usahanya berakhir dengan kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berapa banyak seorang ayah memiliki anak-anak yang shalih, sedangkan ia sendiri bukan orang yang shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memberi Nama Baik&lt;br /&gt;Salah satu hak anak yang wajib ditunaikan seorang ayah adalah memberi nama yang baik serta sesuai dengan syariat agama. Dan syariat agama Islam menganjurkan seorang muslim untuk memberi nama anak-anaknya dengan nama-nama tertentu, dan nama yang paling dicintai oleh Allah adalah : Abdullah, Abdurrahman. Dan nama yang paling benar adalah : Hammam dan Harits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Salah satu hak anak yang wajib ditunaikan orang tua adalah hendaknya anak melihat dari orang tuanya dan dari masyarakatnya akhlak yang bersih, jauh dari hal yang merubah fitrah dan menghiasi kebatilan, baik akhlak yang dibenci itu berupa kekafiran atau bid’ah atau perbuatan dosa besar. Karena sesungguhnya perbuatan yang menyelisihi fitrah itu memberi pengaruh terhadap kejiwaan seorang anak dan merubah fitrah yang telah dianugrahkan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena fitrah seorang anak adalah iman kepada Allah Sang Penciptanya dan beriman terhadap seluruh keutamaan, membenci kekafiran, kedustaan dan penipuan. Dalam hatinya terdapat cahaya fitrah yang senantiasa menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, hanya saja wahyu Allah menambahi fitrahnya dengan cahaya diatas cahaya. Dasar landasan hal ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Setiap anak dilahirkan diatas fitrahnya, ibu bapaknyalah yang menjadikan ia yahudi, nashrani atau majusi” [Muttafaqun Alaih]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Diantara hak-hak seorang anak yang wajib ditunaikan orang tuanya hendaknya seorang anak tumbuh bersih, suci, ikhlas dan menepati janji. Dan hendaknya dia dijauhkan dari orang-orang yang melakukan perbuatan syirik dan kesesatan, dan perbuatan bid’ah serta maksiat-maksiat, serta perbuatan-perbuatan yang memperturutkan hawa nafsu. Karena orang yang demikian itu terhadap seorang anak yang bersih dan suci hatinya serta baik jiwanya adalah ibarat teman duduk yang membawa racun yang mematikan dan penyakit kronis, dan itu semua merupakan penghancur keimanan dan perangainya yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa banyak manusia rusak disebabkan bergaul dengan orang-orang yang pandir. Dan berapa banyak manusia dalam kebingungan disebabkan jauh dari orang-orang yang bijaksana dan ulama. Di dalam Al-Qur’an dan hadits telah disebutkan larangan bergaul dengan orang-orang jahat. Dan juga dari perkataan-perkataan Salafush Shalih banyak kita jumpai tentang hal itu. Kalaulah sekiranya dalam masalah ini tidak ada hadits yang menjelaskannya kecuali hadits An-Nu’man.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Permisalan teman duduk yang baik dan yang buruk adalah seperti pembawa minyak kasturi dan peniup api…” [Muttafaqun Alaih]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentulah hadits ini sudah mencukupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasanya adalah bahwa bahaya perangai jelek ini sangat besar, tidaklah orang-orang menjadi rusak melainkan disebabkan berteman dengan orang-orang yang jahat. Dan tidaklah orang-orang menjadi baik melainkan disebabkan oleh nasehat orang-orang yang baik. Dan dalam suatu perumpamaan dikatakan seorang teman itu akan menarik temannya (menarik kepada kebaikan atau kejahatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau akan melihat seorang sahabat akan mengajak sahabatnya untuk nonton film, pergi ketempat-tempat minuman keras, melakukan perbuatan hina dan mengajaknya untuk menyukai gambar-gambar wanita yang terbuka auratnya serta mengajaknya untuk menyukai melihat majalah-majalah porno yang merusakkan kemuliaan akhlak dan menyebabkan penyimpangan dan kemunafikan, lalu seorang sahabat mengajak sahabatnya untuk mengikuti golongan-golongan dan pemahaman-pemahaman yang menentang dan menyimpang dari agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi seorang teman duduk yang baik memberi petunjuk kepada teman duduknya untuk menghadiri majelis-majelis ulama dan mengunjungi orang-orang yang shalih, bijaksana dan beradab. Dan dia akan mengajak temannya ke masjid serta mencintai orang-orang yang melakukan ruku’ dan sujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga hatinya itu menjadi cinta dan selalu terpaut dengan masjid hingga dia menjadi orang yang shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid adalah tempat hatinya, mushaf Al-Qur’an adalah teman yang selalu menyertainya dalam kesendiriannya, dan kitab yang berfaedah adalah teman duduknya, matanya mengucurkan air mata tatkala membaca Al-Qur’an dan dia merindukan untuk melihat Allah yang Maha Mulia dan yang Maha Memberi karunia, ia merindukan melihat Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang, ia hidup bersama manusia dengan tubuhnya sedangkan hatinya hidup bersama bidadari di kamar-kamar surga, tidaklah dia memetik buah ini dan tidaklah ia hidup dengan hatinya ini di surga yang paling tinggi melainkan disebabkan duduk dengan orang-orang yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ringkasnya adalah jika kita menjauhkan anak-anak dari teman duduk yang buruk (jahat), berarti kita telah memberikan kepada anak-anak itu salah satu dari hak-haknya yang paling besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka memerintahkannya untuk shalat di saat berumur 7 tahun, dan memukulnya lantarannya tidak mengerjakan shalat di saat berumur 10 tahun, serta memisahkan tempat tidur anak-anak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua adalah hendaknya mereka mengajari anak-anaknya untuk berenang, memanah dan menunggang kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka membiasakannya berlaku jujur, menepati janji dan berakhlak mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka mengajarinya petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam makan dengan tangan kanan disertai dengan membaca basmalah dan makan makanan yang paling dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Wahai anak muda, ucapkanlah bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang terdekat darimu” [Muttafaqun Alaih]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka mecegahnya dari menonton televisi khususnya acara-acara yang haram misalnya tarian dan campur baur antara laki-laki dan perempuan. Dan melarangnya untuk melihat drama-drama berseri, yang berisikan pembunuhan dan kejahatan yang mengajarkan pembunuhan, pencurian dan pengkhianatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka bersikap adil dalam mendidik anak untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, janganlah orang tua melampaui batas dan jangan pula terlalu lemah, janganlah berlebih-lebihan dalam memukul anak dan jangan pula membiarkannya tanpa teguran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka mengajarkan kepada anak untuk membenci orang-orang yang melakukan perbuatan bodoh, seperti seorang yang sudah mashur di masyarakat bahwa ia adalah orang yang suka berkhianat dan melakukan perbuatan nifak dan pemain-pemain sandiwara yang dinamakan oleh orang-orang dengan bintang seni disertai dengan usaha mengisi hati anak untuk cinta kepada para sahabat nabi, tabi’in, ulama dan mujahidin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka mendidik anak untuk memakan makanan yang halal dan makan dari hasil jerih payah sendiri secara bertahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka menolong anak untuk taat kepada Allah dan RasulNya, contohnya kalau seorang anak memilih perkara-perkara yang tidak menyelisihi syariat agama maka janganlah kedua orang tua melarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka memilihkan dengan baik calon isteri yang shalihah yang membantunya untuk taat kepada Allah dan RasulNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka mengarahkan anak sebelum ia menikah untuk memperoleh ilmu agama dari para ulama yang mengamalkan imunya, dan menanamkan rasa cinta untuk menghafal Al-Qur’an dan juga seluruh ilmu-ilmu syariat agama ini seperti fikih, hadits, ilmu bahasa, contohnya nahwu, shorf dan balaghah. Serta ilmu ushul fikiih, dan menanamkan rasa cinta kepada aqidah Salafush Shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka memberi semangat anak untuk belajar secara khusus ilmu dunia yang ia minati untuk melayani masyarakat sesudah memperoleh ilmu agama yang wajib ia pelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terakhir : Sesungguhnya hak-hak pendidikan terhadap anak dalam agama Islam tidak ada perbedaan diantara satu negeri dengan negeri yang lainnya atau masa yang satu dengan masa yang lainnya. Perbedaan yang ada hanyalah perbedaan masalah nama dan washilahnya (prasarananya) saja. Dan pokok-pokok yang disebutkan tadi cocok untuk manusia pada setiap zaman, tempat dan sesuai untuk seluruh manusia dipenjuru negeri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan segala puji bagi Allah,Rabb smesta alam, shalawat serta salam atas Nabi, keluarga dan para sahabat beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Majalah Al-Ashalah Edisi 10 hal. 44]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 10/Th. II/1425H/2004M, Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya, Alamat Perpustakaan Bahasa Arab Ma’had Ali-Al-Irsyad, Jl Sultan Iskandar Muda Surabaya]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-2704724057235176373?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/2704724057235176373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=2704724057235176373' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/2704724057235176373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/2704724057235176373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/12/hak-hak-pendidikan-anak-dalam-islam.html' title='HAK-HAK PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-394634810343433203</id><published>2009-11-29T04:02:00.000-08:00</published><updated>2009-11-29T04:02:00.224-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Bahasa'/><title type='text'>Menerapkan dwi bahasa pada anak</title><content type='html'>Sumber: Ibu-ibu DI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, mohon sharingnya ya, mulai kapan para ibu DI memperkenalkan bahasa asing ke 2 kepada anak-anak kita, dari beberapa curhat ibu-ibu DI aku sering membaca bahwa si anak sering berkomunikasi pada orang tuanya dengan bahasa Inggris (mungkin karena di sekolahnya mengunakan bahasa Inggris ya) Dari beberapa teori yang aku tahu, sebaiknya kalau anak ingin mengenal 2 bahasa, salah satu orang tuanya harus mengunakan bahasa (asing) keduanya misal sama ibunya bicara dalam bahasa Inggris dan sama bapaknya bahasa Indonesia, apakah hal ini efektif? Kalau anak disekolahkan di sekolah bilingual, mungkin akan lebih mudah ya, nah kalau anak kita disekolahkan di sekolah biasa (negri/swasta) yang bahasa sehari-harinya bahasa Indonesia, bagaimana? Mohon sharing juga bagaimana kalau kita ingin mengajarkan anak kita untuk ber-dwi bahasa dirumah, tapi si orang tua sendiri tidak PD dengan bahasa Inggrisnya?? (mis. Grammer-nya tidak benar dan lain-lain) [Rn]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsipnya selama anak &lt; 12 tahun, masih mudah untuk mengenalkan bahasa asing. Otaknya masih punya memori besar buat menyimpan kata-kata baru (makanya, jangan suka bicara kasar/jelek ke anak, karena dia akan mudah ingat juga!) Sekolah-sekolah di Jakarta sekarang kebanyakan sudah bilingual juga. Malah aku dengar ada yang dari preschool/playgroup sudah diajari bahasa Inggris dan Cina (waaa, aku saja ingin sekali belajar bahasa cina). Iya, katanya lebih efektif kalau si anak bicara ke orang tua masing dengan bahasa berbeda. Ibunya jangan malu-malu sambil mengajari si anak, kan belajar juga. Paling tidak menambah keberanian bicara dalam bahasa Inggris lah! (medhok ya nggak papa). Cuma kalau aku sendiri, bicara ke anak-anakku hehe, suka-sukalah kadang Inodnesia, kadang Inggris, kadang Spanyol, kadang Jawa. Alhamdulillah anak-anakku mengerti semua. Kalau mau lihat-lihat, di webnya DI rasanya ada deh bahasan soal bilingual ini. Ok, selamat belajar bahasa asing! The earlier the better, begitu kata profesorku [Qn]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai serius berbahasa Inggris sama anak-anak sejak anak pertamaku masuk sekolah (2 tahun) dan sekolahnya cuap cuap bahasa Inggris. Dirumah jadinya pakai bahasa campur-campur, apalagi sekarang harus berbahasa mandarin juga, benar-benar campur-campur deh. Memang menurut teori lebih baik cuma omong 1 bahasa sama 1 orang, bukan omong banyak bahasa sama banyak orang. Tapi karena anak-anakku sudah lebih besar (bukan bayi yang lagi belajar omong) jadinya ya tidak masalah. Aku juga tidak bicara pakai bahasa Inggris yang benar dan tepat kok, kadang seperti ini : `oh john please dont do that, dong' Kalau ada vocab yang aku tidak mengerti juga aku bablas saja, yang penting anak-anak mengerti dan tahu sebagai bukan native speaker modalnya adalah berani. Cepat sekali anak-anak itu bisanya. Anak keduaku saja yang masih suka ngawur misalnya suka kebalik menggunakan come here sama come in, paling kakaknya yang hobby membetulkan. Bukan cuma bahasa Inggris, ada baiknya bahasa daerah juga dikenalkan, digunakan sedikit-sedikit supaya anak-anak tidak buta sama sekali. Pokoknya tidak usah takut, nekad saja [stl]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal grammar santai saja. Saya setuju sama Stl, kita nekad saja. Biasanya kalau anak cepat kok menyerapnya. Anak saya ketika umur 3 tahun aku masukkan ke sekolah yang full Inggris, padahal di rumah mamanya malas pakai bahasa Inggris. Sekarang anakku sudah berumur 5 tahun, dia bisa tiba-tiba nyeletuk dalam bahasa Inggris tanpa mikir lagi. Malah, kadang-kadang dia bilang mama talk in english. I wanna say in english. Hehehe aku ya kelabakan tapi aku ladeni. Paling kalau tidak tahu, kujawab later ya, ask papa :) [Ann]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, biarpun kita suka ngawur dan nekad, tapi pengaruh dari sekolah dan film serta bacaan, gramarnya akan betul dengan sendirinya. Dan lagi kalau terbiasa berbahasa Inggris, lama-lama memang dia akan bicara Inggris otomatis saja begitu. Anak pertamaku sekarang lebih lancar mencurahkan maksudnya pakai bahasa inggris. Buat dia lebih gampang kali, kadang kalau bicara suka begini: ma, kalau aku punya .. (diam sejenak) time.. boleh main gak ? terus nanti dia koreksi, eh kalau aku punya waktu. Jadi time lebih dulu muncul di kepalanya dari pada waktu, itu otomatis. Dia jugag lebih suka bilang how do you know, dari pada 'dari mana mama tahu' misalnya? sekali lagi, yang penting vocabnya deh yang banyak soal gramar akan terus menerus membaik seiiring dengan waktu [stl]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikutan komentar sedikit ya. Kalau pengalaman aku masih baru, karena anakku masih 2 tahun. Masih kalah sama moms yang lain. Tapi, sekarang ini anakku dah mulai ceriwis ngomong. Sejak awal, kami mengenalkan benda dan pembicaraan sederhana pakai Inggris, hokkian. Nah, kata orang, sianak akan bingung, kenyataannya kok tidak. Anakku kalau lihat   bulan,"ma..ma...moon" Begitu pula dengan lihat jam,"ma..ma..clock...(terus dilanjut)...ji-ching(hokkian-nya jam)" Begitu pula untuk yang lainnya, dia bisa langsung membedakan dan sianak tetap tidak bingung. Sekali waktu aku coba tanya pakai Indonesia, dia bisa langsung menunjuk apa yang ditanyakan [Ln]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dibilang Qn, lebih cepat lebih baik, tapi mungkin tidak usah ngotot. Kalau memang anaknya suka nanti dia terus sendiri yang penting kita memfasilitasi saja. Bantu dengan tontonan cd/vcd english yang menarik, buku-buku ataupun mainan. Sekolah bilingual memang membantu anak untuk 'mau tidak mau' berbahasa English, tapi kalau di rumah juga tidak dipakai biasanya perkembangannya tidak sebaik dengan yang aktif menggunakan di rumah. Keponakanku sekolah di Tirta Marta pengantarnya bahasa tapi mereka dapat English, di rumah rajin nonton cartoon di Kablevision akhirnya berkembang juga englishnya. Aku sekarang belajar mandarin dari anakku yang kebetulan memang dapat di sekolah, menulisnya aku tidak tahu (habis susah), tapi kalau pengucapan sedikit-dikit bisalah. Tadinya aku sempat khawatir apalagi waktu anakku mau ada test mandarin, bagaimana mengajari anakku, sementara aku buta sama sekali, ya sudah aku pasrah saja, eh ternyata malah anakku dapat 90 ;-) Malahan pelajaran yang menggunakan bahasa nilainya justru jelek, karena bahasa yang digunakan baku sekali jadi anakku malah bingung. Di rumah aku sama suami sering pakai bahasa batak juga apalagi untuk membicarakan sesuatu tentang anak supaya mereka tidak mengerti. Tapi belakangan waktu kita lagi bicara anak keduaku langsung protes, padahal kita tidak menyebut namanya sama sekali. Wah.. gawat ternyata dia juga mulai mengerti bahasa batak. Aku senang-senang saja, makin banyak dia tahu makin bagus, apalagi bahasa batak kan bahasa daerah, siapa lagi yang melestarikannya kalau bukan orang batak juga. Intinya jangan ragu memperkenalkan bahasa asing/daerah kepada anak-anak karena mereka punya daya serap yang tinggi, usahakan aktif agar mereka semakin berkembang, tidak usah khawatir soal grammar-grammaran dulu sekarang nanti juga belajar di sekolah. [DN]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sharing berdasarkan pengalamanku saja ya. Kebetulan aku juga sudah mencoba berbilingual dengan anakku sejak anakku belum bisa bicara jelas, yaah..umurnya masih dibawah setahun. Cuma memang pada waktu itu untuk kata-kata yang sehari-hati dilakukan oleh anak, misalnya :&lt;br /&gt;- kalau kita minta dia duduk kita bilang : sit down, please ..&lt;br /&gt;- terus ketika mau membangunkan dia tidur : Rayval, wake up, sayang....&lt;br /&gt;- ketika lagi belajar jalan aku bilang : Ayo nak, come on walk, you can do it, Nak...&lt;br /&gt;- ketika mau makan : it's time for breakfast, ayo, come on eat...&lt;br /&gt;- kalau mau minum susu : finish your milk, ya...dan lain sebagainya&lt;br /&gt;Lama kelamaan anak tahu kok instruksi kita itu apa &amp; bisa melakukan sesuai instruksi kita. Sekarang anakku 2,5 thn &amp; aku masih konsisten berbahasa Inggris dengan anakku. Aku juga campur-campur pakai bahasa Indonesia, tidak harus sempurna bahasa Inggrisnya, bhs Inggrisku juga standardlah, tidak bagus-bagus amat. Sekarang ini anakku juga bicara Inggrisnya campur-campur sama bahasa Indonesia. Contohnya sejak kecil kalau mau tidur pasti aku bacakan buku cerita dalam bahasa Inggris juga, nanti dia akan bilang : mama reading, aku listening ya...dan menurut aku itu tidak apa-apa. Kebetulan juga anakku di Tumble Tots. O,iya aku juga membiasakan dia nonton VCD anak-anak yang berbahasa Inggris, contohnya Barney (sering kan Ibus DI punya topik Barney). Nah, dari pengalamanku, dengan nonton Barney, bisa buat belajar bahasa Inggris juga buat anak (&amp; ibunya juga). Kebetulan anakku sukaaaaa sekali sama Barney, pokoknya tiada hari tanpa barney. Atau juga bisa disetel VCD lagu anak-anak yang berbahasa Inggris. Dulu waktu pertama-tama suka bicara bahasa Inggris sama anakku, suka tidak enak sama keluarga mertuaku. Aku sempat takut mereka akan berpikiran aku sok-sokan berbahasa Inggris. Tapi aku cuek saja, dengan harapan mereka tahu bahwa beginilah salah satu cara aku mendidik anakku. Eh, lama-lama, mertuaku &amp; kakak iparku malah mengikuti aku, suka berbahasa Inggris juga sama anakku, Ok, pede-pede saja ber-bilingual sama anak &amp; kuncinya adalah konsisten [Ly]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali ada ulangan mandarin, aku kerja sampai malam, suamiku tidak bisa mandarin sama sekali, jadi pasrah saja. Eh ternyata anakku juga bisa dapat 90an, sampai kagum kami melihat hasil ulangannya, kok bisa ya hehehe ini nih orang tua suka underestimate anak :-) Aku dan suamiku berdua cuma bisa bahasa Indonesia dan Inggris, aku fasih sunda suamiku teu ngertos, suamiku fasih bahasa jowo aku ora pati luancar. Jadi kalau mau bicara rahasia gitu, terpaksa menunggu benar-benar berdua, karena jelas-jelas John dan David mengerti. Kadang jadi ingin ketawa juga, karena begitu ngomong apa tahu-tahu berhenti dan mau ganti pakai english, Anak pertamku terutama sudah paham sekali langsung perhatikan kami berdua. Sudahlah tidak jadi lanjut karena tahu percuma saja dia bakal tahu juga. Aku juga dulu rajin les inggris karena motivasi ingin mengerti orang tuaku pada bicara apa sih? [stl]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau ikutan sharing soal bahasa kedua, ketiga dan seterusnya buat anak, moga-moga belum basi. Kalau aku justru agak beda ya sama pendapat para ibu yang lain, sebelum aku kenalkan bahasa kedua dan seterusnya, maka anakku harus benar-benar menguasai dulu bahasa ibu, yaitu bahasa Indonesia dengan baik, karena dia memang anak Indonesia, dan akan besar dan tinggal di Indonesia, dimana bahasa nasionalnya pun bahasa Indonesia. Dia akan berkomunikasi tidak hanya dengan ibunya atau orang dalam rumah saja, tapi juga dengan tukang becak, pedagang toko dan sebagainya, bagaimana mau komunikasi dengan bagus kalauo dia lebih lancar bahasa lain dimana orang kebanyakan disekitarnya tidak paham. Kalau bahasa ibu sudah bagus dia kuasai dan terus aku pelihara, terutama kosa kata, baru aku kenalkan bahasa lain. Walaupun sekarang anakku bisa bahasa asing (bahasa jepang), karena disekolah pakainya itu, tapi aku tetap kalau dirumah pakai bahasa Indonesia, kalaupun dia suka lebih fasih dan lebih lancar pakai bahasa jepang kalau jawab atau cerita, tapi aku suka ingatkan dia supaya pakai bahasa Indonesia, karena beberapa temanku anaknya yang biasa pakai bahasa asing (yang sudah tidak asing lagi), justru merasa asing dengan bahasa Indonesia, dan ini cukup memprihatinkan. Masa dia (kelas dua SD), suka bingung apa arti  " pukul berapa kamu bangun?", anaknya temanku tanya sama ibunya, kenapa kalau bangun kok dipukul? Nah aku tidak ingin anakku seperti itu, asing dengan bahasa nasionalnya sendiri, jadi kalau menurutku tidak usah terburu-buru mengajari banyak bahasa, mungkin diatas 4-5 tahun baru aku sedikit-sedikit ajari bahasa lain. Toh kita tinggal di Indonesia, dan teman-teman anak kita tidak sebatas teman sekolah, tapi juga anak-anak yang kurang beruntung lainnya itu jauh lebih banyak,(aku ingin anakku bisa main dengan siapa saja, anak pembantu, tetangga yang tukang becak dan lain-lain) dan bagaimana anakku bisa peka dan berempati ke mereka kalau dia tidak bisa bicara sama mereka. Selain berharap, moga-moga anakku akan tetap bangga pakai bahasa Indonesia. Tapi memang tiap anak lain-lain kali ya, jadi memang tergantung kondisi masing-masing. Itu dulu mbak, maaf ya kalau ada yang kurang berkenan [Hrmn]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar menambahkan, Anak-anak terlahir dengan apa yang disebut LAD (languange acquisition devices) di dalam otaknya yang bisa memungkinkan anak untuk menyerap beberapa bahasa secara simultan pada saat yang bersamaan (multilingual). Berdasarkan penelitian seorang anak bisa menyerap secara simultan sampai 6 bahasa sekaligus tanpa menjadi bingung satu bahasa dengan yang lain dan golden age untuk hal tersebut adalah 3-6 th. Jadi kalau aku prinsipnya sayang kalau 'device' yang sudah ada di otak anak tersebut tidak dimanfaatkan dengan hanya meng'expose' dia terhadap satu bahasa saja. Jadi memperkenalkan anak kepada bahasa asing diusia dini sebetulnya bukan untuk gagah-gagahan dan untuk mengesampingkan bahasa ibunya tapi karena memang saat itulah 'the best time'nya. Effortnya akan lebih besar bagi kita orang tua atau sekolah kalau kita baru memperkenalkannya di tahap yang sudah lanjut. Dulu aku pernah mengajar di LIA dan kebetulan kelasku sore dan malam yang muridnya banyak pegawai, tobat deh, betul-betul perlu extra effort! Kalau diibaratkan lebih baik belajar balet pada saat masih kecil! ototnya masih lentur, coba kalau kita belajar balet pada saat sudah SMA atau mahasiswa atau sudah jadi ibu-ibu, apa tidak keseleo dan patah-patah. Kira-kira itu analoginya dengan kemampuan seseorang menyerap bahasa. Makanya kalau kita bandingkan kemampuan bhs Inggris (misalnya) generasi kita dengan bahasa Inggris generasi dibawah kita, jauh lebih baik yang sekarang, karena kita dulu dapat pelajaran bahasa inggris baru pada saat sudah di jenjang SMP, jadi tidak optimal. Kebetulan aku mengajar di PT yang bahasa pengantarnya perkuliahannya bahasa inggris, dan aku perhatikan sebagian besar mahasiswa-mahasiswaku bahasa inggrisnya jauh lebih canggih daripada generasiku dulu, bahkan untuk bahasa inggris akademisnya. Ini dikarenakan exposure terhadap bahasa asing sudah diperkenalkan pada saat mereka SD dan exposure lain seperti TV juga sudah semakin intens dan banyak, jadi jangan heran bahasa Inggrisnya canggih-canggih. Apalagi nanti generasi anak-anak kita yang sudah mulai diperkenalkan lebih awal lagi, pasti akan lebih canggih dan sempurna. Jadi biar saja anak-anak berbahasa indonesia dengan ibunya, bahasa inggris dengan ayahnya, bahasa jepang dengan neneknya, bahasa jawa dengan pembantu di rumah, dan lain-lain. Anakku yang kecil, sekarang lagi senang-senangnya belajar menghitung pakai bahasa Jawa, karena diajari pembantu di rumah, siji, loro, telu, kenapa tidak? Belajar bahasa asing bukan berarti kita harus kehilangan identitas kita sebagai bangsa indonesia [ind]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Ind, aku ingin tahu kalau mengajarkan anak kecil kita harus kasih tahu tidak, bahwa yang dia bicarakan itu bahasa Inggris, atau bahasa Indonesia. Dan apa kita langsung saja ajak komunikasi dengan bahasa Inggris, atau tiap ngomong bahasa Inggris, kita perlu kasih tahu arti kata-kata kita itu dalam bahasa Indonesia? Soalnya aku tidak pernah ajari anakku bahasa inggris, tapi, ya itu, benar kata Mbak Ind, anakku senang nonton TV, dan dia sering meniru beberapa kata-kata, sedikit, paling cuma 'no', 'thank you', 'excuse me', 'please', seperti itu. Cuma aku heran, sebenarnya dia mengerti tidak apa yang dia bicarakan [Run]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Run, Ya tidak usah, Yang penting mereka kita 'expose' sebanyak-banyaknya, langsung saja 'nyerocos' tentunya dengan bahasa-bahasa sederhana. Supaya mereka lebih cepat menangkapnya kita bisa menggunakan gesture, mimik dan ekspresi-ekspresi yang  menarik perhatian. Misalnya kita sedang membacakan cerita, pada saat tokohnya ketakutan kita juga pasang muka ketakutan, pasti mereka akan lebih cepat mengerti.Misalnya kita menyuruh mereka untuk menutup pintu, sambil tunjuk ke pintu kita bisa bilang 'could you close the door please?". Nonton TV juga sarana yang baik, misalnya ada tokohnya yang menangis, kita bisa bilang "see..she's crying, why is she crying?". Biarpun mereka pada awalnya misalnya masih menjawab dengan bahasa indonesia, tidak papa, yang penting mereka sudah mulai mengerti apa yang kita tanya dalam bahasa Inggris. Tahap penguasan bahasa dimulai dari listening, kemudian speaking, kemudian reading dan yang paling rumit writing. Jadi one step at a time! beberapa simple functional expressions yang kamu perkenalkan ke anakmu seperti "! ;thank you, excuse me" dan lain-lain sudah betul sekali, yang penting dalam konteks yang tepat. Kalau aku sangat tidak merecommend dengan sistem menterjemahkan, karena akan berakibat kurang baik terutama untuk long termnya. Setiap mau berbicara nanti mereka mikir dulu dibahasa pertamanya baru kemudian diterjemahkan ke bahasa ke-2,3, dan seterusnya. Prosesnya lebih lama dan nanti kalau sudah sampai ke penulisan bisa repot. Makanya banyak mahasiswa-mahasiswa indonesia di Luar negeri jago-jago kalau sudah bicara (speaking) tapi begitu menulis thesis belepotan. Jadi kalau boleh aku sarankan tidak usah terjemahkan segala, buat kita juga lebih repot dan seringkali membuat bingung nantinya. Selamat 'mengajarkan' si kecil! [ind]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini aku setuju sekali, aku menyayangkan orang-orang tidak mau mempelajari bahasa daerahnya, apalagi orang yang besar di daerah. Aku tidak pernah sekalipun tinggal di Medan, aku besar berpindah-pindah tempat maklum papiku pegawai negeri yang harus siap dipindahkan ke daerah manapun. Tapi beruntung aku punya mami dan papi yang selalu mengajarkan aku bahasa batak (padahal mereka juga berkomunikasi pakai bahasa indonesia), mereka bilang kamu orang batak sayang sekali kalau tidak bisa bahasa batak. Aku 'fluent' bahasa padang dan batak, malah mungkin kalau bahasa padang teman-teman yang orang padangpun 'lewat' sama aku. Di kantor aku beruntung punya teman di kantor dari berbagai daerah yang bahasanya aku bisa, jadi aku bisa tetap memakai bahasa daerah yang aku kuasai. Dulu aku sempat kursus Perancis juga di CCF tapi karena sering tugas keluar kota dan mungkin juga I'm too old, jadi keteteran :-) Jadi benar sekali dibilang bahwa sebelum umur 6tahun adalah 'golden age' untuk memperkenalkan bahasa lain selain bahasa ibu. Sabtu lalu kami pergi menemui therapistnya anakku, sudah 4 tahun tidak ketemu dia masih sangat ingat sama anakku. Aku senang saja karena anak-anakku bisa berkomunikasi sama 'uncle Mike' dengan pede. Ini saat-saat aku menikmati 'hasil' menyekolahkan anak di sekolah bilingual. Mereka bisa langsung praktek sama orang asing tidak ragu-ragu tidak malu-malu. Mike juga sempat heran dan senang sekali bisa ngobrol sama mereka berdua. Sekarang anak-anak juga dapat pelajaran mandarin di sekolah dan bahasa batak di rumah [DN]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih ya ibu-ibu semua, benar-benar membuka wawasanku untuk tidak ragu lagi mengunakan bahasa kedua pada anakku (15 bulan) so the sooner the better ya kan?? tapi jangan ngotot ya mengajarkannya sambil bermain dan lain-lain jadi anak tidak merasa terpaksa. Konsistensi juga diperlukan dalam mengajarkan anak berbahasa asing. Selain itu orang tua juga dituntut untuk ikut belajar bersama anak jadi dua-duanya bisa sama-sama pintar. Jujur saja aku juga agak ragu kalau mau bicara inggris ke anakku ketika lagi dirumah mertua takut dikira sok tapi sepertinya sudah tidak perlu lagi ya soalnya toh dia juga dapat berbahasa indonesia dengan eyangnya [Rn]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-394634810343433203?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/394634810343433203/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=394634810343433203' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/394634810343433203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/394634810343433203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/11/menerapkan-dwi-bahasa-pada-anak.html' title='Menerapkan dwi bahasa pada anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-2536957878142093117</id><published>2009-11-21T00:37:00.000-08:00</published><updated>2009-11-21T00:37:00.301-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Bahasa'/><title type='text'>Bahasa Inggris Untuk Anak</title><content type='html'>Sumber: ibu ibu DI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;Metode atau cara apa yang ibu-ibu lakukan untuk mengajar anak (dibawah 2 th) bahasa Inggris? (FI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;Aku mengajar anakku bahasa Inggris perlahan-lahan. Sederhana saja, mulai ada kalimat yang paling sederhana, misalnya: no-tidak boleh, yes you can-boleh. Atau mengenal lingkungan seperti: daun-leaf, mobil-car, papa-daddy, bunda-mom, sakit-sick, demam-fever. Kalau kalimat panjang, umumnya si kecil belum menangkap secara jelas. Paling sepatah dua patah kata yang dimengerti. Yang paling ajaib dan kurasa cukup cepat prosesnya, aku sering dimintain anakku untuk memutar VCD Children Songs. (Do)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku pakai metode sealamiah kita mengajar anak bicara bahasa Indonesia. Jadi khusus sama aku dia omong bahasa Inggris. Aku juga mix dengan metode flash card untuk menambah vocab. Setiap hari 5 vocab selama 1 minggu, minggu berikutnya 5 vocab lagi, demikian seterusnya. Terus aku juga mengarang simple conversation, terdiri dari 3-4 kalimat sederhana, misalnya: what is your name? how old are you? what are you? where do you live?. Meskipun kalau ditanya dia tidak jawab lengkap, tapi dia sudah mengerti kalau ditanya di atas jawabnya apa. Dan, kebetulan di rumahku beberapa sebulan sekali ada tamu dari Australia, jadi kalau ditanya, anakku yang pertama sudah bisa jawab, meskipun tidak lengkap. Buku bahasa Inggris simple juga banyak membantu, kita baca biasa supaya dia pendengaran dia terbiasa dengan pronouncation. Dengan begitu di dalam otaknya sudah terbentuk neuro-pathway bahasa, yang nantinya pada usia sekolah bila dia mendapat grammar tidak terlalu susah dibandingkan anak yang tidak pernah mendengar foreign language sebelumnya. (Ir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anakku keseringan aku pasangkan lagu-lagu Beatles, suatu saat aku dengar dia nyanyi-nyanyi kecil (Fe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut yang pernah aku baca, saat yang paling tepat mengajarkan anak bahasa lain selain Indonesia adalah pada saat usia 3 tahun. Karena diusia tersebut diharapkan si anak sudah fasih dengan bahasa kita (Indonesia). Dan salah satu cara yang mudah adalah dengan membagi tugas antara si ayah dan ibu. Misalnya ngomong Indonesia dengan ibu, dan ngomong Inggris dengan Ayah. Lalu juga bikin pengulangan kalimat dalam 2 bahasa. Contohnya kalau menyuruh anak melepas sepatu dalam bahasa Indonesia, setelah itu ulang kalimatnya dengan bahasa Inggris (take off your shoes please). (Ve)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak itu paling cepat banget kalau diajarin sesuatu yang baru. apalagi usia 3 - 6 tahun itu masa emas anak untuk menyesuaikan diri dengan bahasa orang di sekelilingnya, daya ingatnya lebih peka. Aku sebenarnya sedih dengar di indonesia acara barney dan acara anak lainnya yang berisi lagu lagu pake acara di dubbing segala. Sebab barney yang aslinya pake bahasa inggris itu lagunya enak dan lebih pas kalau tidak didubbing. Lagi pula banyak syair yang lucu untuk anak kalau di lagukan, sekalian mengenalkan mereka bahasa inggris. Anakku banyak belajar bahasa inggris dari acara barney, dora, bob the builder dll. (Th)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-2536957878142093117?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/2536957878142093117/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=2536957878142093117' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/2536957878142093117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/2536957878142093117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/11/bahasa-inggris-untuk-anak.html' title='Bahasa Inggris Untuk Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-1784953080934150889</id><published>2009-11-15T23:09:00.000-08:00</published><updated>2009-11-15T23:09:01.908-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Pendidikan'/><title type='text'>Pendidikan Plus</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;color:purple;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;      &lt;table bg border="0" cellpadding="3" cellspacing="2" width="100%" style="color:#ffffff;"&gt;      &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td cellspacing="2" cellpadding="2" align="left" bg valign="top" height="300" style="color:#ffffff;"&gt;  &lt;p align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt;  Pendidikan anak dewasa ini semakin menjadi perhatian utama dan prioritas para orang tua. Ada beberapa penyebab :  Kesadaran akan pentingnya “bersekolah” dan kesadaran akan arti “sekolah”, namun tidak jarang ada pula penyebab lain,  yakni ingin menyerahkan beban pendidikan / tugas pendidikan ke sekolah (dan para pendidik) – entah karena memahami  adanya “value added” di sekolah, atau karena frustrasi, sulit mengarahkan anaknya sendiri di rumah (jadi biar tidak  pusing-pusing, anaknya di sekolahkan saja)…  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;  &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt;Apapun alasan kita para orang tua dalam menyekolahkan anak, seyogyanya kita memahami prinsip bahwa :  Keluarga adalah tempat pertama dan utama pendidikan seorang anak. Keluarga = sekolah plus. Selama ini, kita mencari  sekolah plus, untuk bisa mengatasi “kekurangan” yang ada di rumah atau di dalam pola asuh kita terhadap anak. Namun,  kita sering lupa, setelah kita memasukkan anak ke sekolah “plus”, kita tidak mempelajari dan mengambil “nilai plus-nya”  untuk diterapkan di rumah. Akibatnya, di rumah tetap minus dan “plus”-nya tertinggal di sekolah.   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt;&lt;b&gt; Konsekuensi &lt;/b&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt;Ketika musim sekolah telah berjalan, timbul beberapa kesulitan dan masalah – yang tanpa sadar merupakan dampak  dari tertinggalnya nilai “plus” di sekolah.   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol type="1"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt;&lt;li&gt; Problem belajar  &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Problem motivasi  &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Problem perilaku  &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Problem emosional  &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Problem sosial  &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Problem nilai  &lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt;&lt;b&gt; Apa  yang harus dilakukan? &lt;/b&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt;Orang tua perlu mencari benang merah dan sinkronisasi beberapa hal yang utama, yang membantu anak mengembangkan  hal-hal dasar dalam kepribadiannya. Sebagaimana orang tua memilih sekolah yang sesuai dengan orientasi nilai dan  harapan mereka, begitu juga orang tua seyogyanya mengadaptasikan pola-pola pendidikan yang konstruktif dan positif  dari sekolah. Paling tidak, di antara keduanya, saling mengisi – dan bukan saling meniadakan. Untuk itu lah,  komunikasi orang tua dengan anak, dan komunikasi antara orang tua dengan pihak sekolah, menjadi hal yang sangat  penting untuk dilakukan. Kita tidak bisa bersikap “tahu beres” baik terhadap anak maupunn pihak sekolah.   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt;Karena,  ketika terjadi ketidakberesan, kita tidak bisa semata-mata menunjuk pihak sekolah sebagai “biang keladi” dari  persoalan yang dihadapi anak. Bisa saja persoalan dimulai / terjadi di sekolah, namun kita harus melihatnya  secara bijaksana, karena reaksi seorang anak terhadap sesuatu, sangat dipengaruhi oleh proses belajar yang  dilaluinya dan pola asuh yang paling mendominasi bentukan sikap dan kepribadiannya.   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt;Jadi, keluarga, adalah tempat utama pendidikan dan pengembangan seorang anak. Sekolah, pada dasarnya mengarahkan,  memberikan bimbingan dan kerangka – bagi anak untuk belajar, bertumbuh dan berkembang. Sementara keluarga, justru  menjadi center of education yang utama, pertama dan mendasar.          &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-1784953080934150889?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/1784953080934150889/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=1784953080934150889' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/1784953080934150889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/1784953080934150889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/11/pendidikan-plus.html' title='Pendidikan Plus'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-6118553576111758082</id><published>2009-11-13T05:47:00.000-08:00</published><updated>2009-11-13T05:47:00.178-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengetahuan Global'/><title type='text'>Bekali Anak Pengetahuan Global</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;DI ERA&lt;/strong&gt; globalisasi ini semua hal perlu dipersiapkan agar tidak tertinggal, termasuk membekali anak dengan pengetahuan-pengetahuan global demi masa depannya nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahui semua negara-negara yang ada di dunia ini bisa menjadikan suatu pengetahuan untuk anak. Di mana hal tersebut menjadi salah satu bekal untuk menghadapi era globalisasi. "Mengajarkan anak tentang negara-negara yang ada di dunia ini memang sesuatu yang bagus, terutama untuk ke depannya nanti," tutur psikolog dari Universitas Tarumanagara Jakarta Henny E Wirawan M Hum Psi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan, mengenalkan anak pada negara-negara lain di dunia adalah hal yang bagus. "Mengenalkan pada negara tidak usah yang jauh-jauh dulu, cukup diawali dari negara tetangga, misalnya Singapura atau yang sekitar Asia saja juga tidak masalah," ujar Henny yang juga praktik di rumahnya di kawasan Grogol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Henny melanjutkan, objek yang dijelaskan pada anak bisa dimulai dari apa yang terkenal dari negara tersebut. Misalnya objek pariwisata, budaya, atau warna bendera. Mengenalkan kepada anak pun bisa melalui berbagai media, seperti internet, televisi, atau majalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebenarnya, dikenalkan bisa lewat apa saja, tetapi yang lebih bagus adalah dikenalkan melalui internet atau buku-buku. Yang pasti dikenalkan lewat gambar lebih bagus," ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mengenalkan pada anak, Henny menyebutkan, sebaiknya sambil bermain. Karena dengan bermain ini, anak-anak akan lebih cepat menyerapnya. Adapun umur yang optimal untuk mengenalkan negara-negara dunia pada rentang umur 4-5 tahun. "Di umur itu, anak sedang senang-senangnya bermain dan ingin tahu banyak. Selain itu, pada umur tersebut, anak-anak juga bisa menyerap lebih baik apa yang dipelajarinya," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata ada manfaat kejiwaan yang didapatkan si anak dalam mempelajari dunia ini. Di antaranya, si anak jadi bisa lebih kreatif, wawasan bertambah luas, bangga karena mempunyai pengetahuan yang berbeda dibandingkan yang lain. "Anak yang berpengetahuan luas akan lebih bangga, kreatif, dan pintar. Selain itu, si anak juga mempunyai nilai tambah," kata Henny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkeliling dunia memang impian semua orang, termasuk anak-anak. Dengan tujuan mengenal berbagai macam kebudayaan maupun kebiasaan yang dikenal dari berbagai negara pastinya menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempersiapkan anak untuk menghadapi era globalisasi, itulah yang menjadi tujuan digelarnya Morinaga Chil Kid dan Chil School Platinum. Salah satu produk dari Kalbe Nutritionals menggelar acara yang bersifat edukatif bagi anak-anak yang berakhir bulan lalu itu. "Anak-anak zaman sekarang harus dipersiapkan untuk menghadapi era globalisasi. Mereka harus siap menghadapi era tersebut. Salah satunya mengenalkan mereka dengan negara-negara yang ada di seluruh dunia," ucap Manager Product Group Morinaga, Heli Octaviana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara tahunan bertajuk "The World of Platinum Generation" kali ini mengajak anak-anak berkeliling dunia mengenal budaya dan alam berbagai benua. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya mendukung secara nyata tumbuh kembang generasi platinum Indonesia sebagai aset bangsa yang bernilai. "Semua kegiatan yang berlangsung ini diselenggarakan dan dikemas untuk mengembangkan pola &lt;em&gt;multiple intelligence&lt;/em&gt; (kecerdasan majemuk) yang dimiliki anak-anak generasi platinum Indonesia.&lt;br /&gt;Di antaranya kecerdasan natural, matematis logis, olah tubuh, ruang dan bangun, bahasa dan sebagainya," ucap Heli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pengunjung yang juga menemani anaknya bermain ke arena Morinaga, Ny Reiana, mengaku senang ada acara seperti ini. "Anak saya senang bermain di sini, walaupun anak saya belum pernah keliling dunia, tapi dari adanya acara ini, saya bisa mengajak bermain sekaligus belajar mengenai apa yang khas dari negara-negara di dunia," tutur ibu dari putrinya yang berumur 4 tahun ini.&lt;/div&gt;         &lt;b&gt;(sindo//tty)&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-6118553576111758082?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/6118553576111758082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=6118553576111758082' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6118553576111758082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6118553576111758082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/11/bekali-anak-pengetahuan-global.html' title='Bekali Anak Pengetahuan Global'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-6903410708878720613</id><published>2009-11-05T05:08:00.000-08:00</published><updated>2009-11-05T05:08:00.872-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar dan Bermain'/><title type='text'>Si 1 tahun Belajar Saat di Stroller</title><content type='html'>Mengajak si satu tahun bereksplorasi di luar rumah, dengan kemampuannya berjalan yang belum sempurna, bikin repot dan mengkhawatirkan. Gunakan saja stroller! Ada kiatnya lho….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan anak usia satu tahunan untuk bereksplorasi kian meningkat. Bila ia sudah dapat berjalan, ia bisa berjalan terus karena ingin berinteraksi dengan sekitarnya. Agar tidak merambah wilayah-wilayah kotor di rumah, Anda melokalisir si kecil di satu tempat yang aman, dan memberinya mainan yang dapat membuatnya tenang. Tetapi, terlalu lama di dalam ruangan yang sama, anak bisa bosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memanfaatkan stroller&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa ingin tahunya mendorong si satu tahun dengan kuat untuk mengembara. Membawanya ke luar rumah dengan kemampuan berjalannya yang belum sempurna bisa jadi membuat Anda khawatir ia terjatuh. Belum lagi, bila ia memungut benda-benda yang ditemuinya di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaksa anak terus-terusan ada di dalam rumah saja juga tak mudah. Apa yang dapat Anda lakukan agar si kecil aman dan Anda pun mudah mengontrol saat mengajaknya jalan-jalan ke luar rumah? Anda dapat menggunakan stroller untuk jalan-jalan di taman, bertemu teman sebaya dan lainnya. Ini pun sebetulnya tidak mudah, karena si kecil bisa cepat bosan juga duduk terus di stroller -nya. Keinginannya untuk berjalan dan terus berjalan memang sulit dibendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk di stroller = pasif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski di stroller, bukan berarti anak pasif. Berbagai hal dapat dilihat dan dipelajarinya. Namun dengan tidak dapat berjalan dan berkeliaran sendiri, bisa-bisa membuat anak frustrasi. Bila anak tampak mulai frustrasi di stroller -nya, beberapa hal dapat Anda lakukan sehingga kegiatan mengamati berbagai hal di sekeliling dengan terkendali ini tetap bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Arahkan stroller ke tempat-tempat menarik . Ajak anak melihat, misalnya, kandang anjing atau kura-kura di kolam ikan milik tetangga.&lt;br /&gt;* Alihkan perhatian . Tunjuk kapal terbang yang melintas di atas, mobil dengan warna yang mencolok atau bajaj berwarna cerah dan bersuara ‘seru’.&lt;br /&gt;* Beri penghiburan . Sambil mendorong anak ke tempat-tempat yang menyenangkan, nyanyikan lagu-lagu berirama indah atau bercerita dengan kalimat menggunakan intonasi menarik.&lt;br /&gt;* Bawa mainan . Siapkan mainan agar si satu tahun tetap asyik di stroller -nya. Apalagi saat ia tampak mulai bosan karena duduk terus.&lt;br /&gt;* Beri pujian . Bila anak dapat duduk tenang selama jalan-jalan dengan stroller, beri ia pujian.&lt;br /&gt;* Tetap di dekat anak . Anak merasa aman bila orang yang dipercayainya berada di dekatnya. Jangan berada jauh dari anak, karena ia akan merasa tidak aman, kemudian mencoba keluar dari stroller -nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Immanuella F. Rachmani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-6903410708878720613?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/6903410708878720613/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=6903410708878720613' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6903410708878720613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6903410708878720613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/11/si-1-tahun-belajar-saat-di-stroller.html' title='Si 1 tahun Belajar Saat di Stroller'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-3469922695938986545</id><published>2009-11-01T22:56:00.000-08:00</published><updated>2009-11-01T22:58:45.887-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Mental - Moral'/><title type='text'>Membentuk Moral Anak</title><content type='html'>MEMBENTUK moral anak bisa dilakukan lewat story telling (dongeng). Kegiatan membaca dongeng dan berdiskusi antara orangtua dan anak ini dapat dilakukan di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak tentu saja menjadi anugerah terindah bagi setiap orangtua. Namun, ketika sang buah hati beranjak remaja atau dewasa, bisa jadi anak yang telah dibesarkan dan dididik sebaik mungkin, menjadi anak yang tidak mengerti nilai-nilai moral dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi tersebut tentu saja mengecewakan karena apa yang sejak dini ditanamkan, hilang begitu saja. Padahal, membentuk moral anak bisa dilakukan sejak dini, bahkan ketika anak memasuki tahun pertama usianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut terungkap dalam seminar pendidikan dan parenting bertajuk Education in the Changing World, di Kemang Village, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Hadir sebagai pembicara, Kepala Sekolah Pelita Harapan (SPH) Brian Cox M Ed dan Koordinator Sekolah SPH James T Riady.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dua pembicara tersebut, seminar juga dihadiri oleh Pendiri Layanan Konseling Keluarga dan Karier Roswitha Ndraha, Sport and Arts Director Universitas Pelita Harapan Karawaci Stephen Metcalfe BA, dan Rektor Universitas Pelita Harapan Jonathan Parapak. Berbagai topik seminar diangkat dengan tujuan memberikan yang terbaik bagi anak-anak Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diungkapkan James T Riady, yang membawakan makalah bertajuk Youth with a Vision. Dalam makalahnya, dia banyak menyinggung tentang perkembangan moral anak yang tidak saja didapatkan di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengetahuan yang tinggi, tidak menjamin seseorang bisa memiliki moral yang baik. Namun, ketika anak-anak memiliki moral yang baik, otomatis mereka bisa menilai mana pendidikan yang baik dan buruk," papar James. Peran orangtua dalam mempersiapkan anak-anak yang memiliki visi dan masa depan, menurut James, sangatlah penting. Lewat orangtua, anak-anak belajar segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pendidikan formal berfungsi melatih anak-anak untuk memperbaiki lingkungan sekitarnya. Sedangkan dengan pengetahuan moral, anak-anak diajak berpikir dan membangun etika dan karakter dirinya yang baik," tambah James dalam seminar yang diselenggarakan oleh Sekolah Harapan Kita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit berbeda dengan James, peserta seminar yang juga pengajar di Jakarta, William Pakpahan mengatakan, pendidikan moral untuk anak-anak bisa dilakukan di rumah, bisa dengan membahas buku-buku cerita bersama orangtua, membaca kitab suci ataupun mendongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya memang seorang pengajar, namun saya tidak yakin di sekolah-sekolah formal anak bisa mendapatkan pendidikan moral yang benar-benar bisa menjamin anak kita menjadi anak yang baik," kata pengajar yang juga ayah tiga putra ini. Karena itu, lanjutnya, ketika berkumpul dengan anak-anak saya di rumah, saya menanamkan nilai-nilai moral dengan menceritakan kisah-kisah dalam kitab suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanamkan pendidikan moral untuk anak-anaknya juga dilakukan William dengan sesering mungkin mengajak anak-anaknya yang masih belia mengunjungi panti-panti asuhan, panti jompo, hingga memberikan sumbangan untuk anak-anak jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Pernah suatu waktu anak saya bertanya, mengapa banyak anak kecil menyanyi di lampu merah. Setelah itu, untuk mengetuk hatinya dan menggugah rasa simpatinya, saya mengajak anak saya untuk melihat lebih dekat bagaimana anak-anak kecil itu mencari sesuap nasi," terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengajak anak langsung menyaksikan kejadian sehari-hari yang membuatnya trenyuh, ternyata sangat mengena di benak anak-anak William. "Sejak itu, mereka tidak pernah lagi membuang-buang nasi ketika makan," tutur William. Dari pengalaman tersebut, William berkesimpulan bahwa pendidikan moral harus bisa dipraktikkan pada anak-anak, dari rumah hingga di lingkungan sekitar, termasuk di jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap Perkembangan Moral Anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Perkembangan kuantitas menuju kualitas&lt;br /&gt;Ketika anak mulai mengenal larangan orangtua, anak cenderung menilai dosa atau kesalahan berdasarkan besar-kecilnya akibat perbuatan yang ditimbulkannya. Misalnya, anak menganggap bahwa menjatuhkan beberapa gelas secara tidak sengaja lebih besar dosanya daripada menjatuhkan satu gelas secara sengaja. Pada tahap awal perkembangan moral, anak tidak memperhitungkan unsur motivasi. Baru pada usia yang lebih besar, ia mulai memahami bahwa kualitas suatu perbuatan harus diperhitungkan dalam menilai benar-salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ketaatan mutlak menuju inisiatif pribadi&lt;br /&gt;Pada mulanya seorang anak akan menaati apa yang dikatakan orangtuanya. Inilah kesempatan terbaik orangtua untuk mengajarkan apa yang harus diajarkannya karena masa ini akan cepat berlalu. Setelah itu, anak akan lebih terikat dengan perjanjian-perjanjian. Pada tahap ini, anak akan bermain dengan peraturan yang dapat diubah sesuai perjanjian sebelumnya. Karena itu, teriakan ?'curang'' sewaktu anak bermain akan terdengar keras ketika peraturan bersama ini dilanggar. Anak juga sangat peka terhadap ketidakkonsistenan orangtua bila orangtua melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan yang diajarkannya. Bagi mereka, orangtua pun seharusnya terikat dengan peraturan yang mereka tetapkan bagi anak-anaknya. Bila perkembangan moral anak berjalan baik, pada usia remaja akhir anak telah memiliki prinsip moral yang menjadi miliknya pribadi dan yang mengarahkan tingkah lakunya. Anak tidak mudah lagi dipengaruhi lingkungannya. Sebaliknya, anak akan melakukan perbuatan berdasarkan prinsip moral yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kepentingan diri menuju kepentingan orang lain&lt;br /&gt;Tahap awal perkembangan moral anak adalah egosentris karena anak masih memusatkan perhatian pada dirinya. Tujuan suatu perbuatan adalah kesenangan pribadi dan kenikmatan. Bila perkembangan moral anak berjalan baik, barulah pada usia yang lebih dewasa, individu dapat melihat kepentingan orang lain dalam melakukan tindakan moralnya. Bukan itu saja, pengorbanan kepentingan diri dapat dilakukan demi kesejahteraan teman-teman sebayanya. Misalnya dengan membagi permen yang dimilikinya, ataupun mengajak teman-temannya untuk berbagi boneka kesayangan.� (sindo//mbs)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-3469922695938986545?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/3469922695938986545/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=3469922695938986545' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3469922695938986545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3469922695938986545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/11/membentuk-moral-anak.html' title='Membentuk Moral Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-8403918044423264974</id><published>2009-10-29T04:01:00.000-07:00</published><updated>2009-10-29T04:01:00.243-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Non Formal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Matematika'/><title type='text'>Les Kumon</title><content type='html'>Sumber: Ibu-ibu DI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau minta sharing dan infonya tentang les Kumon, anakku (7 tahun, kelas 2 SD) senang sekali pelajaran matematika, sekarang ini dia ingin sekali ikut les Kumon, cuma aku belum menyetujuinya. Kalau Moms semua ada pengalaman tolong info ke aku ya, sejauh mana kegunaan les kumon ini, apa plus minusnya? Tadi aku sudah telepon Kumon yang di cempaka putih, ternyata bayarannya juga lumayan mahal, Rp 276.000,- sebulan (pertemuan hanya 2 kali seminggu), tapi kalau memang bagus dan mumpung anaknya mau ya boleh juga [Yn]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lewat jalur pribadi, aku juga mau tahu soal ini. Kebetulan anakku masih balita dua-duanya, yang besar 4 tahun senang sekali sama hitung-hitungan yang dibantu gambar, yang kecil 3 tahun masih belajar angka (kadang bisa kadang tidak, tergantung keinginannya dia). Nah dua-duanya belum lancar baca, baru bisa mengeja sama sedikit suku kata, KUMON terima tidak yang seperti anakku gitu? Maksudnya tingkatan persyaratannya, apakah harus bisa baca? Apa termasuk pengenalan angka? Sekalian tanya kalau SEMPOA, juga pertanyaan yang sama, apakah bisa untuk anak yang baru belajar membaca dan angka seperti anakku? Apa persyaratannya. Terima kasih sekali, mbak Yn aku numpang pertanyaan ya [DH]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak, sekarang ada pekan free trial kumon dari tgl 18 sd 28 februari??? Coba saja ikut free trial ini nanti kalau memang bagus bisa dilanjutkan. Anakku baru ikut kumon 1 bulan yang lalu, sekarang dia di TK B (umurnya 5,5 tahun). Sejauh yang aku lihat, Kumon sangat membantu aku (dan suamiku) supaya anakku bisa belajar berhitung dan menulis angka (kali karena anakku masih TK kali yaa).  Tiap hari pasti ada pe-ernya mbak, lumayanlah buat orangtua bisa memantau anak dan juga kurikulum kumon. Sejauh yang aku lihat, jam lesnya fleksibel mulai dari pagi sampai jam 6 sore, setiap les pasti didampingi sama gurunya. Oh iya sebelum masuk, anak akan ditest untuk menentukan tingkatan si anak sudah sampai di mana [Vr]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah mengikutsertakan anakku (laki-laki 7tahun) les kumon (Kumon Laut Banda-Duren Sawit) dari tahun 2004, dimana si sulung ini berumur 5 tahun 5 bulan (waktu itu masih TK B) dan setelah dites penempatan masuk ke level 4A (level dasar adalah 7A), hal ini disebabkan anakku sudah bisa membaca dan menulis. Sekarang anakku itu sudah di level C dan pelajarannya adalah perkalian (sekarang dia kelas 2 SD). Kumon menerapkan metode belajar yang disiplin artinya setiap hari si anak diberikan PR atau latihan di tempat les dan masih mengalami salah atau nilainya tidak 100 (OK) maka yang bersangkutan harus diulang terus menerus dengan materi pelajaran yang sama sampai ybs mendapat nilai 100. Tujuannya bagus mendidik anak belajar pelajaran harus rutin dan setiap hari pasti diberikan PR dan diperlukan pencatatan waktu (berapa menit/jam dalam pengerjaannya). Untuk anakku yang kedua lain lagi yang ini memang susah diajarkan rutinitas, makanya sampai lulus TK B belum bisa baca apalagi nulis. Akhirnya Kumon-nya tidak aku ikutsertakan, tapi si anak maksa-maksa ingin ikutan biar sama-sama abangnya katanya ke tempat les. Akhirnya aku ikuti juga coba gratis, tapi menurut guru Kumon lebih baik ajarkan dulu anaknya membaca baik huruf atau angka di rumah (Aku sampai beli buku yang dijual di Kumon untuk memperkenalkan angka kalau tidak salah harganya waktu itu Rp 9.000), karena menurut guru Kumon juga sayang kalau anaknya belum mampu menyerap materi yang ada di Kumon (takut terbebani) apalagi uang kursus lumayan mahal (Pendaftaran Rp 250.000 + bulanan Rp 276.000). Akhirnya aku sampaikan hal ini ke anakku berdasarkan hasil analisa laporan guru Kumon, dan anakku mau terima. Terus pada bulan Juli 2005 (anakku kelas 1 SD) yang bersangkutan aku ikutsertakan tes penempatan, dan dari hasil tes masuk level 7A. Dengan berjalannya waktu dan setiap hari dipenuhi dengan rutinitas yang dihadapi pada akhirnya anakku setelah 3 bulan di kelas 1SD sekarang bisa dan lancar baca/tulis dan Kumonnya udah di level 4A dan mau naik ke level 3A di bulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal positif yang diberikan Kumon :&lt;br /&gt;1. Menanamkan kebiasaan belajar pada setiap anak sejak dini&lt;br /&gt;2. Melatih disiplin akan tugas pelajaran yang harus dilakukan&lt;br /&gt;3. Belajar dengan memulai dari yang termudah dan kontinyu&lt;br /&gt;4. Apabila anak mendapat nilai baik&amp;waktu pengerjaan yang cepat akan diberikan pujian/point unt ditukar hadiah. Kalau Sempoa aku tidak punya pengalaman [Bl]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dapat membantu ibu-ibu yang lain;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;METODE KUMON:&lt;br /&gt;Kumon itu mempunyai target agar anak dapat/ atau mampu mengerjakan matematika SMA, sehingga jika anak tersebut masih duduk di SD mungkin tidak kelihatan perubahan yang signifikan dalam kenaikan nilai. Untuk ibu yang stay at home dan bisa meluangkan waktu menemani anaknya belajar Kumon boleh dijadikan salah satu pilihan. Karena setelah anak tersebut memasuki level 4A ke atas semua worksheet harus menggunakan limit waktu, waktu mulai dan waktu selesai mengerjakan harus di catat. Kumon dapat menerima anak dari 2 1/2 th – SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMPOA:&lt;br /&gt;Sempoa itu melatih kecepatan berhitung pada anak (tambah, kurang, kali, bagi) memang sangat cocok untuk anak TK sampai kelas 3 SD. Tapi tidak semua yayasan menerima Sempoa dari TK ada beberapa yang hanya punya program basic ( khusus SD) Metodenya juga ada banya dari yang 1 tangan, 2 tangan, dsb. Pada tingkat mahir sempoa akan masuk ke sempoa bayangan sehingga tidak perlu lagi menggunakan sempoanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman pribadi:&lt;br /&gt;Ke dua anakku setelah memasuki level 4A mereka jadi sedikit stress karena dalam mengerjakan ter-uber-uber dengan waktu. Kata pembimbingnya waktu mengerjakan worksheet paling lama 15 menit, karena anakku masih TK yang mengerjakannya tidak bisa dipaksa untuk fokus. Untuk anak ku yang pertama dia bisa bertahan hanya sampai level 3A waktu berhentinya dia sudah tidak mau mengerjakan semua PR kumonnya &amp; akhirnya aku ambil cuti maksudnya supaya 3 bulan lagi anakku sudah mau ikut lagi ternyata anakku tetap tidak mau ikut. Akhirnya anakku ikut Sempoa. Untuk anakku yang ke 2 sebetulnya lebih rajin ketimbang yang pertama tapi sekitar 3 bulan yang lalu guru yang biasa megang anakku berhenti, mulailah anakku setiap pergi ke Kumon menangis terus dan tidak pernah mau les, jadi setiap kali cuma ambil PR. Dan yang alasan utama yang menyebabkan aku memberhentikan anakku yang kedua: anakku baru di level 4 sedangkan anakku sudah minta penjumlahan, di Kumon anak dari level 4A tidak boleh loncat level 4A, karena takut keburu surut semangatnya adiknya aku masukan ke Sempoa juga. Kalau boleh sharing sedikit menurut pendapat saya karena semua les tersebut masing-masing punya nilai positif &amp; negatifnya saya pribadi mengambil kesimpulan sebagai berikut:&lt;br /&gt;Jika memang ingin mengasah kemampuan si kecil 2 1/2 th - 4 th bisa ikut Kumon ( agar anak tersebut mengerti urutan bilangan, &amp; mengenal angka sampai ratusan).&lt;br /&gt;4th - 9 th bisa ikut Sempoa ( karena sudah mengenal angka tinggal diasah kemampuan berhitungnya)&lt;br /&gt;6 th - 12 th Bisa melanjutkan ke Sakamoto.&lt;br /&gt;12 th keatas baru konsentarsi di Kumon ( karena dengan skill yang sudah di dapat dari sempoa &amp; sakamoto bisa memulai Kumon dengan level&lt;br /&gt;yang lebih tinggi [Patr]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak aku share yang sempoa ya, yang kumon aku kurang mengerti. Sempoa untuk anak yang baru belajar baca/tulis, bisa. Karena dasarnya dia diajarkan "manajemen mikir" artinya sebelum kita mengitung apa dulu, dan jika diperhatikan caranya mereka lebih menekankan ke daya ingat baru ke tulis-menulis. Jadi anaknya ke-latih pelan-pelan. Yang diajari : Pengenalan pakai menyanyi dan gerakan tangan untuk sempoa, "brain gym" nah, aku tidak hafal gerakannya, panjang dan lama jadi aku harus ikut les) intinya si anak biar tidak jenuh jadi ada pemanasan ceritanya, terus latihan menulis pakai waktu istilahnya "speed writing", terus flascard gunanya untuk memory anak dan daya tangkap. Terus ada dengar hitung alias seperti soal didikte terus si anak nulis hasilnya dibuku (tapi sistemnya membuat anak berpikir dulu baru menulis, dan itu cepat). Posisi duduk, posisi tangan (kiri pegang sempoa, kanan pegang pensil), posisi buku dimeja, mendisiplinkan anak jadi biasa belajar di meja. Nah jika si anak sudah paham sekali,&lt;br /&gt;diajarkan bayangan, artinya menghitung tanpa sempoa. Anakku 4 tahun, TK A, ikut sempoa sudah 5 bulan. Dan aku tidak mau rugi kalah set, aku belajar juga (beli bukunya). Dan lumayan banyak diajari anakku, lagu-lagu, hitung-hitung. Ya intinya jika dia bertanya aku bisa menerangkan, kecuali brain gym harus tanya-tanya sama gurunya dulu. Tidak rugi, benar. Tapi emang gimana anaknya. Dulu waktu awal masuk teman sekelas anakku (yang umur 4 tahun-an) ada 6 orang yang ikut, sekarang tinggal anakku saja yang umur 4 tahun yang bertahan di tingkatnya, sisanya yang masuk kelas les itu anak kelas B. Aku sendiri tidak memaksakan terserah anaknya, jika malas ya tidak les, jika mau ya ayo, aku ikuti. Sampai saat ini dia enjoy saja. Malah dia minta diajari hitungan ribuan (padahal baru masuk puluhan, dan teknik adik/kakak), dan dia bisa mengitung ribuan. Jadi balik lagi ke anaknya [Em]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak, anakku dulu waktu TK B pernah aku ikuti free trial kumon yang 2 minggu itu, dia senang sekali, tapi ketika mau didaftar benar, dia tidak mau, capek katanya. Terus waktu di kelas 1 kemarin aku coba lagi, bersama-sama adiknya, jawabannya masih sama, capek Mah, lama keluhnya, tapi kalau adiknya malah senang, minta ikut. Sesudah diskusi sama suami, akhirnya tidak jadi diikutkan kumon, alasannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- standar kumon, mundur sekitar 3 level, maksudnya dari hasil tes, anakku yang sudah kelas 1 SD, harus belajar dari cara menulis angka lagi, yang menghubungkan pakai titik-titik itu, yaa pelajaran tingkat TK A sepertinya. Karena katanya prinsip Kumon itu membiasakan anak benar-benar mengerti dan hafal sehingga nantinya bisa cepat sekali berhitungnya, jadi satu materi diulang-ulang terus, tiap hari ada tugas yang harus dikerjakan di rumah, dicatat waktu kerjanya.&lt;br /&gt;- biaya kursusnya mahal sekali buat kami, pendaftaran kalau tidak salah Rp 250.000,-, terus bulanannya Rp 276.000,-, terus kata customer servicenya, kalau ikut kumon, minimal 1 tahun baru kelihatan perubahannya, dan kalau ikut dari SD, hasilnya baru terasa nanti waktu SMP (cmiiw)&lt;br /&gt;- kursus di Kumon anak dan orang tua harus aktif, disiplin, kalau tidak akan cepat bosen, karena mengerjakan soal yang itu-itu saja, dan banyak&lt;br /&gt;- materi Kumon hanya matematika dan sedikit bahasa inggris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kita timbang-timbang lagi, dengan biaya yang sama, lebih baik memanggil guru privat ke rumah, bisa dapat lebih banyak materi (matematika, ipa, ips, bahas inggris), tambahan lagi, Alhamdulillah anakku masih masuk 10 besar di kelasnya, jadi kita pikir, biarlah sampai kelas 4 nanti dia puas-puasin main semaunya dia dulu, tidak usah terlalu dibebani sama kursus-kursus tambahan, nanti kalau anaknya sudah mantap kemana minatnya, sudah bisa disiplin, baru kita dukung dan arahkan. Eh, maaf kalau ada yang tidak sepaham, preferensi orang kan lain-lain ya [Dy]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-8403918044423264974?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/8403918044423264974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=8403918044423264974' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/8403918044423264974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/8403918044423264974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/10/les-kumon.html' title='Les Kumon'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-6408425962488873370</id><published>2009-10-21T00:37:00.000-07:00</published><updated>2009-10-21T00:37:00.056-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='character Building'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Mental - Moral'/><title type='text'>Anak Disuruh Berantem atau Mengalah?</title><content type='html'>Sumber: ibu ibu DI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;Aku lagi agak ragu nich. Belakangan ini anakku kalau main sama temannya suka pulang ke rumah dan menangis. Pertama karena dipukul perutnya sama temannya, kemarin ini karena kepalanya kena batu, aku sendiri tidak melihat kejadiannya, intinya dia mengadu kalau dilempar batu, kayaknya sich batu kecil dan mungkin tidak sengaja kali ya, kurang jelas bagaimana. Tapi yang aku bingung, cepat atau lambat dia khan akan bergaul sendiri, jauh dari rumah, dan mungkin sekali dua kali akan bentrok dengan temannya seperti sekarang ini. Nah, aku lagi mempertimbangkan, anakku ini aku suruh melawan temannya atau aku suruh mengalah ya? aku mikirnya kalau aku bilang yang intinya dia memukul balik atau melawan temannya, nantinya malah jadi berkelahi beneran, aku takut anakku nanti jadi agresif, bandel atau sok jagoan. Tapi kalau aku suruh mengalah, nanti keterusan sampai besar tidak bisa `berantem` dan bisanya cuma pulang ke rumah menangis, khan kurang bagus juga. Enaknya bagaimana ya, kalau aku ajak bicara baik-baik, rasanya susah juga memilih bahasa yang mudah dimengerti dia. Sekarang ini sich aku cuma bilang ke dia, kalau temannya memukul, jangan menangis, kasih tahu kalau itu sakit, kalau perlu `tepak` tangannya saja, tapi pelan. Tapi aku tidak tahu apakah dia mengerti dan apakah cara itu efektif.(Mi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;Aku mengalami sendiri hal seperti itu, kemudian anaknya aku tanya baik-baik atau aku diam-diam mengintip di sekolah tanpa sepengetahuan si anak. Hal ini lebih aman,karena kita jadi mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.(In)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku dulu juga suka dipukul oleh teman cowoknya sampai dia tidak mau sekolah. Pertamanya aku suruh dia bilang ke gurunya tapi masih saja suka dipukul, kemudian aku telpon gurunya,tapi tetap tidak berhasil juga. Kemudian aku bilang ke anakku, "kalau anak itu memukul, balas saja. Kalau tidak bisa memukul, kamu dorong saja. Tapi kalau anak itu tidak nakal tidak boleh memukul atau mendorong". Dan ternyata manjur, anak itu tidak pernah mengganggu anakku lagi, malah kaget karena ada yang berani ke dia.(Ni)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anakku, aku suruh teriak 'stop' atau 'no' yang keras, biar gurunya dengar. Soalnya kadang-kadang gurunya kan tidak melihat awalnya, nanti kalau anak kita membalas, dikiranya anak kita yang memulai. Sekarang mulai aku ajar untuk galak sama anak laki-laki. Di les berenangnya kemarin, ada anak cowok bandel. Dia suka mengganggu anak-anak perempuan. Jadi tiap anak perempuan dia cipratin air. Guru renangnya juga sudah bosan mengingatkan. Ibunya ada di pinggir kolam, cuma senyam-senyum saja. So, sekarang anakku aku ajarin galak ke anak cowok yang bandel itu. Kalau satu dua kali dikasih tahu tidak bisa, galakin saja. Teriakin! Tapi jangan sesekali membalas. Soalnya kalau satu membalas, nanti jadi berkelahi! Kemudian setiap pulang sekolah, ditanyakan bagaimana ceritanya disekolah. Kalau ada apa-apa, langsung lapor ke gurunya. Tidak masalah kok sering-sering lapor ke gurunya. Kalau di sekolahnya memungkinkan untuk mengamati anakmu tanpa keliatan si anak ( di sekolah anakku ada booth khusus untuk tempat pengamatan), kamu sering-sering saja tongkrongin.(nik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku belum mulai sekolah sich, ini dipukul oleh teman mainnya. Padahal anaknya lebih kecil. Mungkin memang dasar anakku cengeng kali ya, dan memang aku belum pernah ajarkan atau terang-terangan menyuruh dia membalas atau bagaimana, selama ini memang mainnya selalu sama adiknya dan dia yang jadi jagoan. Nah sekarang, ntah bagaimana, temannya ini kok aku perhatiin mulai rada 'nakal' gitu. Aku pikir, bagaimana dia sekolah, kalau main di rumah saja sedikit- sedikit menangis. (Mi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kalau bisa anak diajarkan untuk mengemukakan ketidakpuasannya terhadap sesuatu secara verbal daripada secara physical. Di sekolah anakku hal ini sangat ditekankan. Anakky 6,5 th, dulu masih sangat physical. Kalau tidak suka adiknya langsung ditonjok atau dipukul.&lt;br /&gt;Tapi di sekolahnya diajarkan `how to verbalize your feelings`. Baik itu feeling negatif maupun feeling positif. Jadi kalau dia mendapat suatu keadaan yang tidak enak dari temannya (misal: dipukul) maka yang pertama dilakukan adalah mengatakan kalau dia tidak suka dipukul (misalnya dengan berkata:"jangan pukul aku, sakit", don't punch me, that hurts, stop it, dll) dan bukan malah membalas memukul. Memang perlu waktu hingga anak-anak terlatih untuk bisa mengungkapkannya secara verbal. Anakku sekarang jauh berubah dengan dilatih seperti ini. Paling kalau dia sudah tidak tahan, dia pukul juga adiknya karena adikknya memukul dia terlebih dahulu. Kemudian dia bilang ke aku, `I already said stop it bu"!. Paling tidak dia berlatih untuk menahan dulu keinginannya untuk mengungkapkannya secara fisik, baru kalau sudah tidak mempan dia terpaksa menggunakan `physical force`. Tapi lama kelamaan mereka akan terbiasa dan tidak mudah main pukul begitu saja. Untuk positive feeling juga begitu. Kalau dia dibiasakan untuk mengungkapkan betapa senangnya dia hari ini karena dibelikan mainan baru, atau diajak ke Sea World, maka si anak juga akan terbiasa mengapresiasikan perasaan orang lain. Hal ini tentunya tergantung kita untuk rajin-rajin melatih dan menstimulasi. "Bagaimana tadi di sekolah, senang?, Senang tidak tadi menonton bioskopnya"? Let them verbalize their feelings and they would get accustomed to understand other people's feelings.(ind)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduuh senengnya yach kalau anak kita sudah berhasil mengungkapkan perasaannya secara verbal. Anakku (cowok) termasuk salah satu yang&lt;br /&gt;sering tidak bisa berbuat apa-apa bila diperlakukan tidak adil, dan karena dia sangat sensitif mungkin hal yang bagi anak lain biasa saja, bagi dia sudah luar biasa, pelariannya dia menanggis. Aku tidak pernah meminta dia membalas memukul atau juga berlaku tidak fair ke teman atau orang lain untuk perlawanan pertama, kecuali kalau sudah diperingati teman tersebut tidak mau mengerti aku minta dia bilang ke gurunya, kalau masih juga belum selesai, dengan terpaksa dia harus bertahan atau melawan aku bolehkan. Aku selalu ingatkan untuk memberitahu atau mengekspresikan kalau dia tidak suka. Pernah di sekolah pak guru meminta anak-anak untuk duduk rapi dan bergilir dipanggil, karena heboh, anakku terlewat dan tidak dipanggil, padahal dari awal dia sudah duduk dengan rapi dan diam. Akhirnya dia menangis karena dia kesal dan merasa diperlakukan tidak adil oleh pak guru. 2 minggu pertama di sekolah (kelas 1 sd) dia menangis setiap hari. Aku berusaha terus mengajak dia mengekspresikan perasaannya, kalau untuk yang positif dia sudah bisa bahkan sangat suka menyenangkan orang lain, bilang terimakasih hadiahnya bagus sekali, kuenya enak, bahkan dia tidak tega kalau aku kecewa dengan sikapnya, dia akan buru-buru meminta maaf dan minta bundanya senyum, tapi untuk yang negatif sampai saat ini (usia 5,10) belum terlalu kelihatan hasilnya.(Ren)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membiasakan anak-anak untuk mengungkapkan perasaannya, tidak harus (atau tidak hanya) di sekolah saja. Bisa diawali sejak di rumah. Yang namanya anak-anak, pasti suka rewel, kemudian menangis atau diam saja, tidka mau bicara, cuma huh-huh. Nah, kalau anakku lagi begitu, aku selalu bilang, bicara `donk`, use your words please. Meski pun kadang-kadang aku tahu apa yang dia mau, tapi kalau dia tidak mau bilang dan cuma merengek, aku diamkan saja. Memang sepertinya kejam ya, tapi, baiknya buat mereka, belajar bicara yang betul. Selain biar manner-nya baik dan juga mengajarkan keterbukaan dengan anak. Anakku yang besar, perempuan, kan sensitif sekali. Pernah di sekolah, lagi acara parent's party, ada orangtua murid yang memarahi anakku. (Si Ibu ini orang poland, memang agak nyentrik orangnya, anak orang dia marah-marahin). Anakku jadi menangis tidak keruan. Sampai guru-gurunya bingung, karena anakku ini selalu manis di sekolah, tidak pernah menangis seperti itu.Menurut guru-guru disitu, cara bicara si Ibu itu yang salah. Harusnya, kalau ada apa- apa, sebagai orang dewasa kita mesti bicara baik-baik kepada anak- anak. Use our words. Jelaskan, jangan asal membentak dan memukul. Kemudian kalau memang anaknya nakal (bersalah), ya boleh saja dikasih hukuman, tapi jangan sesekali main fisik. Suruh saja masuk ke kamarnya 15 menit, atau tidak boleh main lagi sementara (kasih time out), atau tidak boleh menonton tv. Dll. Pokoknya kasih hukuman yang bergunalah. Seperti misalnya anakku pernah oret-oret tembok, ya aku suruh bersihin sendiri. :) Memang tidak bersih, tapi dia jadi tahu, menggosok tembok itu bikin capek. Ya begitulah. So, always use your wodrs.(nik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senangnya anak bisa mengungkapkan secara verbal. Tapi walaupun anakku tidak bisa mengungkapkan secara verbal aku merasa Tuhan selalu kasih jalan untuk menjaga dia. Kejadiannya kemarin, menurut anak tetangga yang setiap hari bareng anakku, kemarin anakku ditusuk- tusuk pakai pensil sama salah seorang anak disekolah karena anakku mengambil air minum kepunyaannya. Anakku cuma diam tidak bisa melawan, tapi teman-temannya langsung menghampiri si anak dan bilang "do you know how painful it is? You may not hurt Jogi, if he took your water, you can tell the teacher or the principal" Aku terharu sekali sama anak-anak itu, mereka membela Jogi dengan cara yang bener-bener luar biasa. Aku setuju, lebih baik mereka mengemukakan ketidaksukaannya secara verbal daripada balas melakukan hal yang sama. (dum)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebalikan sama anakku. Anakku ini ceriwis sekali. Kalau lagi protes bisa panjang dan lama ngomelnya. Sekali waktu dia `ngomelin' tetangga sebelah rumah yang suka parkir mobil seenaknya. Dan pas anakku pulang sekolah, mau turun dari mobil, dia langsung cas-cis- cus,"Om A ini gimana sih, baru saja kemaren dibilangin, sekarang udah begini lagi. Aku jadi tidak bisa masuk rumah nih..." dan bla- bla-bla.Tapi manjur juga, besok-besoknya si tetangga parkir di carportnya:-) (Ri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini nasehat, sebenarnya tidak terlalu bijaksana. Anakku aku ajar untuk melawan segala bentuk kekerasan, tapi dalam konteks membela diri. Tapi tidak boleh memulai kekerasan. Artinya kalau dia dipukul temannya, dia harus balas memukul kalau temannya tidak bisa menjelaskan mengapa dia harus dipukul. Tapi dia boleh memulai perkelahian apabila bermaksud membela temannya, apalagi kalau temannya perempuan dan anakku laki-laki, itu harus dibantu bela :-). Membela kehormatan perempuan adalah kewajiban buat anakku yang laki- laki. Kalau anakku perempuan, dia justru harus lebih berani lagi melawan teman-teman yang berusaha menindasnya. Lawan saja sekuat tenaga, pokoknya tidak boleh menangis apalagi terlihat lemah, akan semakin membuat teman-temannya gemar menindas. Jadi anak perempuan tidak boleh lemah apalagi cuma bisa pasrah. Kalau anakku laki-laki, dia tidak boleh memukul perempuan, walaupun si perempuan memukul dia. Tapi ini justru anakku malah kelihatan sangat lembut hati dan suka menangis sedih (bahkan waktu menonton the ugly duckling, bisa- bisanya dia `mewek` nahan tangis sedih waktu si ugly duckling ini pergi dari sarang bebek karena diejek). Kalau rebutan mainan sama temannya juga dia pasti mengalah dan tidak suka memaksa. Kadang aku geregetan juga melihat anakku mengalah terus,tapi aku biarkan saja. (Fer)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku juga lembut hati dan berperasaan halus. Seperti kemarin,dia di sekolah menangis sampai muntah karena melihat temannya dimarahi shabis-habisan oleh susternya. Dan dia tidak suka menyaksikan acara di TV yang penuh kekerasan (tembak-tembakan, pukul-pukulan, dst). Kalau ada acara macam itu, pasti dia lari ke kamar. Sempat juga waktu menyanyi di kelas sambil memukul meja, dia juga nangis. Aku jadi bingung. Anakku itu cengeng atau berperasaan halus ya? Sebab kalau dia dipukul temannya tidak menangis (meski malamnya laporan ke aku). (Q)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin hanya sensitif saja kali, seperti anakku pagi ini aku diceritakan ibu gurunya katanya sehari menangis sampai 3 kali karena dibilang comberan sama salah satu temannya sampai anakku tanya ke ibu gurunya apa arti comberan itu.(An)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-6408425962488873370?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/6408425962488873370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=6408425962488873370' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6408425962488873370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6408425962488873370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/10/anak-disuruh-berantem-atau-mengalah.html' title='Anak Disuruh Berantem atau Mengalah?'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-7441356008557985849</id><published>2009-10-15T23:08:00.000-07:00</published><updated>2009-10-15T23:08:00.339-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Mental - Moral'/><title type='text'>Membangun Kepercayaan diri</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;color:purple;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;      &lt;table bg border="0" cellpadding="3" cellspacing="2" width="100%" style="color:#ffffff;"&gt;      &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td cellspacing="2" cellpadding="2" align="left" bg valign="top" height="300" style="color:#ffffff;"&gt;  &lt;p align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt; Bagi sebagian kita yang punya masalah seputar rendahnya kepercayaan-diri atau merasa telah kehilangan  kepercayaan diri, mungkin Anda bisa menjadikan langkah-langkah berikut ini sebagai proses latihan:   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;ol type="1"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt; Menciptakan definisi diri positif. &lt;/b&gt;  &lt;p align="justify"&gt; Steve Chandler mengatakan, “Cara terbaik untuk mengubah sistem keyakinanmu adalah mengubah definisi dirimu.”  Bagaimana menciptkan definisi diri positif. Di antara cara yang bisa kita lakukan adalah:  &lt;/p&gt;&lt;ol type="square"&gt;&lt;li&gt; Membuat kesimpulan yang positif tentang diri sendiri / membuat opini yang positif tentang diri sendiri. Positif di sini artinya yang bisa mendorong atau yang bisa membangun, bukan yang merusak atau yang menghancurkan. &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Belajar melihat bagian-bagian positif / kelebihan / kekuatan yang kita miliki &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Membuka dialog dengan diri sendiri tentang hal-hal positif yang bisa kita lakukan, dari mulai yang paling kecil dan dari mulai yang bisa kita lakukan hari ini. &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Selain itu, yang perlu dilakukan adalah menghentikan opini diri negatif yang muncul, seperti misalnya saya tidak punya kelebihan apa-apa, hidup saya tidak berharga, saya hanya beban masyarakat, dan seterusnya. Setelah kita menghentikan, tugas kita adalah menggantinya dengan yang positif, konstruktif dan motivatif. Ini hanya syarat awal dan tidak cukup untuk membangun kepercayaan diri. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt; Memperjuangkan keinginan yang positif &lt;/b&gt;  &lt;p align="justify"&gt; Selanjutnya adalah merumuskan program / agenda perbaikan diri. Ini bisa berbentuk misalnya memiliki target baru yang hendak kita wujudkan atau merumuskan langkah-langkah positif yang hendak kita lakukan. Entah itu besar atau kecil, intinya harus ada perubahan atau peningkatan ke arah yang lebih positif. Semakin banyak hal-hal positif (target, tujuan atau keinginan) yang sanggup kita wujudkan, semakin kuatlah pede kita. Kita perlu ingat bahwa pada akhirnya kita hanya akan menjadi lebih baik dengan cara melakukan sesuatu yang baik buat kita. Titik. Tidak ada yang bisa mengganti prinsip ini. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt; Mengatasi masalah secara positif &lt;/b&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Pede juga bisa diperkuat dengan cara memberikan bukti kepada diri sendiri bahwa kita ternyata berhasil mengatasi masalah yang menimpa kita. Semakin banyak masalah yang sanggup kita selesaikan, semakin kuatlah pede. Lama kelamaan kita menjadi orang yang tidak mudah minder ketika menghadapi masalah. Karena itu ada yang mengingatkan, begitu kita sudah terbiasa menggunakan jurus pasrah atau kalah, ini nanti akan menjadi kebiasaan yang membuat kita seringkali bermasalah. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt; Memiliki dasar keputusan yang positif&lt;/b&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Kalau dibaca dari praktek hidup secara keseluruhan, memang tidak ada orang yang selalu yakin atas kemampuannya dalam menghadapi masalah atau dalam mewujudkan keinginan. Orang yang sekelas Mahatma Gandhi saja sempat goyah ketika tiba-tiba realitas berubah secara tak terduga-duga. Tapi, Gandhi punya cara yang bisa kita tiru: “Ketika saya putus asa maka saya selalu ingat bahwa sepanjang sejarah, jalan yang ditempuh dengan kebenaran dan cinta selalu menang. Ada beberapa tirani dan pembunuhan yang sepintas sepertinya menang tetapi akhirnya kalah. Pikirkan ucapan saya ini, SELALU”. Artinya, kepercayaan Gandhi tumbuh lagi setelah mengingat bahwa langkahnya sudah dilandasi oleh prinsip-prinsip yang benar. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt; Memiliki model / teladan yang positif &lt;/b&gt; &lt;p align="justify"&gt; Yang penting lagi adalah menemukan orang lain yang bisa kita contoh dari sisi kepercayaan dirinya. Ini memang menuntut kita untuk sering-sering membuka mata melihat orang lain yang lebih bagus dari kita lalu menjadikannya sebagai pelajaran. Saking pentingnya peranan orang lain ini, ada yang mengatakan bahwa kita bisa memperbaiki diri dari dua hal: a) pengalaman pribadi (life experiencing) dan b) duplicating (mencontoh dan mempelajari orang lain). Buktikan! Selamat mencoba. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-7441356008557985849?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/7441356008557985849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=7441356008557985849' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/7441356008557985849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/7441356008557985849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/10/membangun-kepercayaan-diri.html' title='Membangun Kepercayaan diri'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-392725290606034769</id><published>2009-10-12T21:24:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T21:24:00.127-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Problem Solving'/><title type='text'>“A-B-D- $  - C…!”</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Kecil Mengalami Kesulitan Belajar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan belajar berpengaruh besar pada kehidupan seseorang. Studi mengungkapkan penanganan dini dan intensif membantu meringankan masalahnya. Cermati tanda-tandanya&lt;br /&gt;pada anak Anda agar segera tertangani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap anak tumbuh dan berkembang berbeda-beda. Ada yang cepat menangkap informasi, ada yang lambat. Ketika stimulasi tak mampu membantu anak mengatasi kesulitan belajar atau learning difficulties/disabilities (LD), Anda perlu waspada! Sebab, di negara maju, ditemukan gangguan kesulitan belajar mengintai 5 – 15 persen anak dari jumlah populasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terkadang tak terdeteksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, sebut saja Sendi, tak mengira masalah yang dihadapinya berkenaan dengan disleksia (salah satu gangguan dalam LD , lihat boks : . Beberapa Gangguan dalam Kesulitan Belajar). Sampai suatu saat ia disadarkan oleh teman-teman kerjanya bahwa selalu saja yang ia ungkapkan atau ekspresikan berbeda dibanding informasi (baik tertulis maupun lisan) yang seharusnya ia tangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil Sendi memang sering ‘tidak nyambung’ dengan pelajaran yang ia peroleh dari guru. Tetapi karena tekun dan diarahkan orang tua, ia bisa mengejar pelajaran. Sampai akhirnya Sendi pun lulus kuliah dengan nilai baik, dan bekerja di sebuah lembaga nirlaba asing dengan perkembangan karir di atas rata-rata. Meski masalah demi masalah berhasil diatasinya, tanda tanya itu tetap belum terjawab, “Apa yang salah dengan diri saya?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah yang dihadapi Sendi memang terbilang tidak terlalu parah. Seperti beberapa pesohor dunia sukses macam Tom Cruise, Whoopy Goldberg, Tommy Hilfiger dan beberapa CEO dunia yang sukses. Mereka mengalami masa-masa sulit dalam beberapa tonggak kehidupan mereka. Namun beruntung mereka tak lantas putus harapan. Namun demikian, tak banyak yang seberuntung mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan studi, sekitar 5 – 15 persen anak dari jumlah populasi Amerika Serikat menyandang LD. Kurang lebih sama seperti ditemukan di negara-negara Eropa, seperti di Inggris atau Jerman. Tak ada yang tahu persis, berapa jumlah anak-anak yang menyandang kesulitan belajar di Indonesia sampai saat ini. Diperkirakan persentasenya kurang lebih sama. Bedanya, orang tua dan sekolah di negara-negara lain (terutama negara maju), memiliki kebijakan memberikan penanganan khusus untuk mengatasi masalah kesulitan belajar. Akibatnya, tak sedikit yang tak terdeteksi dini bahkan memperoleh salah penanganan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;LD = ‘korslet’ di otak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut psikolog yang aktif memberi konseling di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPT-UI), Indri Savitri, psi , umumnya penyandang LD mengalami ‘penyimpangan’, antara informasi yang diterima dan output (keluaran) berbeda, “Sepintas anak-anak LD sebagaimana manusia seutuhnya, tak beda dengan anak-anak lain. Tetapi saat menerima informasi dan kemudian mau melakukan tindakan (misalnya, menulis, mengucapkan atau melakukan gerakan) tiba-tiba terjadi ‘korslet’. Hasilnya, istilahnya ‘tidak nyambung’,” jelas konsultan perkumpulan orang tua anak-anak LD dari sejumlah sekolah di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Dwi Putro, Sp.A (K), Mmed , di Divisi Neurologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Ciptomangun Kusumo melihat gangguan kesulitan belajar sebagai sesuatu yang sangat luas. “Ada anak yang mengalami gangguan konsentrasi ( ADD/ADHD ) sehingga mengalami LD . Ada juga anak yang mengalami disleksia saja, misalnya, dan gejalanya tidak terlihat karena bersifat ringan,” ungkap staf pengajar pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya, secara medis, pemeriksaan disleksia murni misalnya, sedikit lebih sulit dan harus dilakukan secara cermat dan hati-hati. Sementara bagi anak-anak LD dengan dasar ADHD , ada semacam standar penanganan yang berdiri sendiri. Sebab, ADHD sudah merupakan sebuah gangguan yang spesifik. Itu sebabnya, seringkali ADHD dan LD bersanding erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara organ, dr. Dwi Putro mengungkapkan bahwa pada anak-anak LD didasari oleh ADHD, terdapat bagian spesifik di otak yang membutuhkan penanganan medis. Sementara pada otak anak-anak yang disleksia murni tidak terlacak adanya gangguan di bagian tertentu. “Itu sebabnya, penting melakukan pemeriksaan dini sehingga diperoleh klarifikasi, jenis kesulitan belajar yang disandang anak. Dengan penanganan tepat, deteksi dini dan ketekunan berlatih, gangguan anak-anak penyandang LD dapat diringankan,” jelas dr. Dwi Putro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Serba segera&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tak mudah mendeteksi adanya gangguan LD pada anak. Sebab, diantara para ahli juga masih terdapat perdebatan dalam hal definisi. “Yang jelas, ketika kecurigaan muncul, orang tua dapat membawa anaknya ke psikolog, psikiater atau neurolog anak,” jelas Indri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, hubungan antar ahli bersifat saling merujuk. Artinya, ketika orang tua datang ke dokter dan menjalani pemeriksaan, biasanya dokter kemudian merujuk ke psikolog dan terapis (jika diperlukan). Kemudian psikolog akan merujuk ke ahli pendidikan atau guru. Oleh masing-masing ahli, si kecil juga menjalankan sejumlah pemeriksaan dan ini kerap membuat orang tua frustrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meskipun kerap membuat orang tua frustrasi, kenyataannya memang si kecil harus menjalani serangkaian tes pemeriksaan, termasuk assesment (tes pengukuran) ketika akan bersekolah di sekolah khusus,” ujar Indri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri LD atau tanda yang harus diwaspadai orang tua dapat ditemukan pada si prasekolah (Lihat boks: Ciri-Ciri yang Harus Diwaspadai ). Namun, pada beberapa anak yang cukup ‘pandai’, LD bisa saja tak terdeteksi hingga si kecil duduk di kelas 5 atau 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan orang tua secara umum tentang LD juga menjadi salah satu kunci agar anak memperoleh penanganan dini dan tepat. Yang dialami Maria Christy Althea (6,5 tahun) dapat dijadikan pelajaran. Pada usia 3,5 tahun, Christy dinilai ibunya, Lily Indah Sujati (41 tahun), sebagai anak yang tidak dapat mengurutkan angka dari 1 sampai 10. Lily berupaya memberikan stimulasi dengan latihan. Beranjak dari TK ke SD, kesulitan Christy mengenal abjad, angka dan membaca tak kunjung membaik. Bahkan di kelas ia kemudian dicap teman-temannya sebagai “si bodoh”, karena ia selalu tertinggal jauh dibanding teman-temannya dalam mengerjakan tugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awalnya, saya menduga anak saya bodoh dan tidak mampu belajar. Tetapi mengapa tes IQ menunjukkan skor tinggi (Skala Wechsler= 132) dan cukup cerdas? Pada akhirnya seorang psikolog merujuk Christy ke Bimbingan Remedial Terpadu (BRT), dari situ barulah saya tahu ia menyandang LD ,” jelas Lily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itulah cara pandang Lily pada Christy berubah. Namun sayang Christy sudah memandang dirinya bodoh, sebagaimana cap yang dilekatkan oleh lingkungannya sehingga ia butuh terapi emosi agar rasa percaya dirinya bangkit dan konsepnya menjadi positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tak berdiri sendiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah kerumitan tersendiri ketika kita berusaha memahami gangguan kesulitan belajar. Demikian pula bagi para ahli sebagaimana diungkapkan dr. Dwi Putro di awal tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, Muhammad Fauzan (7 tahun) yang menyandang gangguan keterampilan motorik halus (yang penting untuk menunjang kegiatan menulis dan menyandang gangguan konsentrasi). Fauzan akhirnya harus menjalani terapi sensori integrasi untuk menguatkan otot-otot tangan dan jari, disamping latihan konsentrasi karena ia ternyata juga menyandang ADHD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan deteksi dini sejak usia batita, ia segera mendapat penanganan ahli, menjalani terapi dan masuk ke sekolah khusus Yayasan Pantara. Hasilnya, Fauzan mencapai kemajuan pesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak-anak yang menyadang LD , biasanya memiliki IQ sangat tinggi. Mereka cerdas di atas anak rata-rata dan berbakat. Tetapi mereka biasanya mentok dalam urusan akademik, kecuali mendapat pendekatan yang tepat seperti dilakukan oleh sekolah khusus, atau sekolah umum yang peduli dengan anak-anak LD ,” ungkap Indri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika Serikat, misalnya, ada beberapa lembaga yang berupaya mengatasi masalah kesulitan belajar, seperti The National Center for Learning Disabilities. Di Indonesia, meskipun tidak besar, ada beberapa sekolah umum yang mendirikan perkumpulan orang tua dari anak-anak LD sebagaimana yang bekerja sama dengan LPT- UI selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Indri, penyandang LD butuh bimbingan khusus dan ditempatkan di kelas dengan murid terbatas. Misalnya, 9 – 10 murid dengan 3 orang guru plus seorang psikolog seperti di sekolah Fauzan. Jangan juga terlalu mem- push , jika anak tak berhasil juga mengatasi hambatannya dalam belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ajaklah anak untuk berusaha bersama, misalnya, “Nak, tadi Bu guru bilang kamu harus banyak latihan menulis, yuk, kita lakukan sama-sama”. Kunci keberhasilan anak-anak LD adalah dukungan keluarga. Keluarga, terutama orang tua harus peka, memberikan penerimaan yang baik terhadap anak LD dan memilih ahli serta sekolah yang tepat. Ini menentukan konsep diri yang positif,” Indri menyarankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ini berarti, orang tua dan dunia pendidikan harus mendefinisikan ulang istilah “sukses” bagi anak-anak LD . Sukses tak berarti berhasil dalam urusan akademis semata. Sukses justru berawal dari keberhasilan membidik dan mengarahkan bakat unik anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Andi Maerzyda A. D. Th.(ayahbunda)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-392725290606034769?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/392725290606034769/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=392725290606034769' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/392725290606034769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/392725290606034769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/10/b-d-c.html' title='“A-B-D- $  - C…!”'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-1252790200791972677</id><published>2009-10-05T05:08:00.000-07:00</published><updated>2009-10-05T05:08:00.402-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar dan Bermain'/><title type='text'>Si 5 Tahun Belajar Berlalu-Lintas</title><content type='html'>Perkembangan fisik si 5 tahun yang semakin matang memungkinkan ia belajar dasar-dasar berlalu lintas. Apa sajakah itu dan bagaimana mengajarkannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping karena koordinasi gerak tubuhnya lebih baik, rentang perhatian semakin panjang, perkembangan fisik si 5 tahun pun semakin matang. Di masa ini anak biasanya lebih aktif bersosialisasi dan beraktivitas fisik dibanding masa sebelumnya. Bersepeda atau bermain otopet adalah salah satu kegemaran anak-anak usia ini. Manfaatkan kegiatan bermain si 5 tahun ini untuk belajar berlalu-lintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindari jalan raya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika si kecil sudah mahir mengayuh, mendorong dengan kaki dan mengendalikan laju sepeda roda tiganya atau sepeda roda dua plus dua roda kecil penopangnya, atau in-line skate -nya, dapat dipastikan perkembangan fisiknya cukup matang untuk diajarkan dasar-dasar berlalu lintas. Dasar-dasar berlalu-lintas yang dapat Anda ajarkan, antara lain: mengendalikan laju sepeda, melihat ke kiri dan kanan saat hendak menyeberang, memberi tanda saat berbelok, atau memberi jalan pada teman yang akan lewat atau melewatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun menurut Petra Schrand , psikolog dan kontributor tetap majalah Eltern di Jerman, tidak disarankan orang tua untuk membiarkan anak bermain di jalan yang dilalui kendaraan, walau hanya sesekali dilewati. Walaupun, tentu, ada pengecualian, yaitu bila Anda yakin jalan tersebut buntu dan tak dapat dilalui kendaraan. Ini karena indera pendengaran dan penglihatan anak-anak prasekolah pada dasarnya belum berkembang sempurna. Sehingga, sulit menuntut balita bersikap waspada terhadap kendaraan yang akan lewat berdasarkan deru yang terdengar dari kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, kemampuan penglihatan si 5 tahun pun masih sangat terbatas. Ini menyebabkan ia belum dapat menangkap secara visual kendaraan yang melaju ke arahnya dari kejauhan. Selain itu, karena anak berkonsentrasi penuh pada kegiatan yang sedang dilakukannya, maka berbagai kejadian yang terjadi di sekitarnya, baru disadarinya jika jaraknya sudah sangat dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu pengawasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andreas Bergmeier , penasehat bidang anak dan remaja pada Badan Keamanan Berkendara kota Bonn, Jerman, berpendapat bahwa untuk dapat berlalu-lintas dengan baik, anak harus terampil berkendara terlebih dahulu. Seperti, terampil mengayuh sepeda atau otopet, juga mendorong dan melaju dengan in-line skate atau sepatu rodanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan membiarkan anak bermain bersama teman-temannya yang juga menggunakan sepeda, otopet atau mainan beroda lainnya, pengalaman anak semakin kaya. Biarkan anak berinteraksi dengan teman-temannya di bawah pengawasan Anda. Kegiatan bermain dengan bersepeda atau kendaraan beroda tetap menyimpan risiko tinggi bagi si kecil jika tanpa pengawasan orang dewasa. Biarkan pengalaman dan keterampilan si 5 tahun bertambah. Demikian pula kesabaran dan kemampuannya mengendalikan ego.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang perlu diajarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajarkan anak cara aman berbelok, memutar haluan atau menyeberang di antara teman yang naik sepeda, mobil mainan atau lainnya. Misalnya, dengan memberi tanda hendak ke kanan atau ke kiri. Demikian pula anak mesti mengurangi kecepatan saat hendak berbelok, sehingga tidak hilang keseimbangan atau terpental. Ajarkan juga anak untuk hati-hati menyeberang di antara teman-teman beserta kendaraannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain melatih koordinasi dan kewaspadaan, si 5 tahun biasanya akan menyadari pentingnya aturan dan kepatuhan para pengendara di tempat bermain. Sejalan dengan perkembangan dan pertambahan usia anak, Anda dapat meningkatkan keterampilan dan pelajaran berlalu-lintas si kecil ini lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi Maerzyda A. D. Th. (ayahbunda)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-1252790200791972677?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/1252790200791972677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=1252790200791972677' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/1252790200791972677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/1252790200791972677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/10/si-5-tahun-belajar-berlalu-lintas.html' title='Si 5 Tahun Belajar Berlalu-Lintas'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-6146624463973952195</id><published>2009-09-29T04:00:00.000-07:00</published><updated>2009-09-29T04:00:07.195-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Non Formal'/><title type='text'>Kursus Untuk Anak</title><content type='html'>Sumber: ibu ibu DI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;Apakah anak perlu dileskan atau mengiktui kursus di waktu luangnya (di luar jam sekolah) ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;Bisa2 anak-anak kalau sudah TK bisa seabrek ya dari Senin sampai Jumat or malah Sabtu kalau diturutin ya kegiatan anak banyak banget yaa. Ada berenang, main piano/music, balet/tari or olahraga lainnya bagi anak yg cowok, trus ada lagi les bahasa inggris, kumon/sempoa.(Lu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lho apa nggak bosen ya ... waktu main itu kan waktu anak-anak kan? (Su)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bisa nggaknya kita juga tergantung kedisiplinan murid serta bakat sih (Ra)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya tidak bisa main alat musik apapun juga tidak masalah yang lebih penting mungkin suka seni apapun seni itu. Musik itu paling gampang buat dikenalin ke anak lewat lagu, bahkan tidak perlu kaset, kita nyanyi juga jadi. Ya kalau bisa alat musik emang lebih baik sih,tapi ya gak perlu dipaksa siapa tau ternyata dia 'gak kesitu' jangan lupa anak perlu main! (Nop)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umur yang efektif adalah mulai 5 tahun. Kalau udah 7 tahun, sudah agak telat (tapi better late than never). Yang terpenting, adalah bahwa si anak harus dimotivasi untuk menyukai musik dengan pengenalan, dengan cara bermain, fun, dan mendorong motivasi/minat anak terhadap musik. Banyak anak yang dilatih musik dengan salah, sehingga menimbulkan trauma atau keengganan anak untuk berlatih, karena merasa tidak fun, dan merasa dipaksakan. Kalau pun ortunya memaksakan, memang si anak bisa juga, tapi prosesnya lama bisanya, dan keahlian musiknya &amp; jumlah lagu yang bisa dimainkan tentunya terbatas (tidak optimal).Tentunya akan buang waktu, tenaga, dan uang Dan kalau anaknya udah besar dan tidak les lagi, keahliannya akan hilang (meskipun tidak total), karena mainnya akan banyak salah, bahkan banyak lupa teknik-tekniknya. (karena pasti akan jarang latihan; motivasinya kurang). Dengan adanya minat pada anak, maka dengan sendirinya anak tsb akan mau rajin latihan. Sehingga lebih efektif, hasil otimal, dan cepet naik tingkat. Soal bakat memang nomor 2, yang penting minat &amp; latihan. Tapi, kalau memang bakat musik kurang, paling-paling hanya bisa kualitasnya untuk hobby pribadi dan performancenya bagus (tapi tidak bisa excellent, pentas/professional punya quality). (Rekan salahsatu IBU, yg isterinya /- 11 th mengajar piano)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dari aku :&lt;br /&gt;1. Jelas dari minat atau keinginan si anak. Kalau bakat, belum tentu pada usia preschool/tk udah kelihatan ya....&lt;br /&gt;2. Dari kantongnya ortu juga, cukup tidak gajinya untuk ngelesin anak&lt;br /&gt;3. Jangan cuman ikut2 anak tetangga atau teman sekolah, trus kitanya memaksa anak kita untuk ikut les tsb. [malah ntar jadi berantem deh sama anaknya... :)]&lt;br /&gt;4. Waktu : apakah kita punya cukup waktu untuk memperhatikan perkembangan setiap les yg anak kita ikutin? Jgn cuman dilesin, tapi&lt;br /&gt;dicuekin, tida dilihat hasilnya. (Ni)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan ortu supaya anaknya bisa bermain piano (atau instrument yg lain) kalau anaknya tidak ada bakat atau tidak ada kemauan susah juga lho...jadi nya malah buang-buang uang gitu...pengalaman nih, dulu aku dan adikku masuk bareng, tapi dia itu paling males latihan danketinggalan jauh sama aku, sampe akhirnya kita bayar terus dia juga absen terus, akhirnya ya berhenti, soalnya dia bilang biar dipaksaain kayak apa juga minatnya dibidang music enggak ada, dia lebih suka les bahasa dll. sedangkan aku dari kecil udah suka sama seni, ikutan sanggar tari,les musik, di sekolah juga ikutan marching band dsb. (Kel)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaan sama musik perlu dilatih dan dikondisikan. Pengenalan musik bisa dimulai sejak masih dalam kandungan. Kesukaan akan jenis musik tertentu akan terbentuk karena kebiasaan dan lingkungan. Kalau tiap hari dipasangin musik jazz, kalo tiap hari pasang dangdut ya dia bisa jadi sukanya dangdut. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa musik klasik ?&lt;br /&gt;Engga juga lah, engga musti. Menurut aku sih, semua jenis musik bagus aja, even dangdut. Yang bagus sih, anak2 sebaiknya dikenalin sebanyak mungkin warna musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa harus belajar main musik ?&lt;br /&gt;Sebenernya engga juga. Musik bagian dari art yang mengembangkan otak sebelah ( kanan/kiri ya? ). Sistem pendidikan di sekolah sekarang ini menurut aku kurang banget mengasah kreatifitas, dan jadinya perkembangan otaknya jadi nggak balance. Jadi selain musik, bisa aja&lt;br /&gt;anak2 belajar nari, lukis etc. Cumaaa, seneng kan kalo bisa main musik, really bisa ngilangin bete. (Li)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam Macam Kursus untuk si Kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk anak perempuan&lt;br /&gt;- menari&lt;br /&gt;- balet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk anak laki&lt;br /&gt;- taekwondo, karate&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki/perempuan&lt;br /&gt;- musik : piano, organ, vokal&lt;br /&gt;- olah raga : berenang, tennis, sepakbola, basket, baseball, bulutangkis&lt;br /&gt;(utk yg udah SD)&lt;br /&gt;- aritmetika&lt;br /&gt;- bahasa inggris&lt;br /&gt;- bahasa pilihan contoh: mandarin&lt;br /&gt;- kumon&lt;br /&gt;- pelajaran&lt;br /&gt;- sanggar menggambar atau melukis&lt;br /&gt;- komputer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau menurutku malah anak perempuan yang harus diajari seni bela diri. Belajar bela diri dari kecil buat anak perempuan bagus sekali. Selain bekal untuk mempertahankan diri dari serangan orang lain, juga sangat bermanfaat untuk meningkatkan rasa percaya diri dan berani untuk menghadapi tantangan. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau anak laki tidak terlalu dikuatirkan, sebab mereka nantinya akan belajar dari lingkungannya. Tapi kalau anak laki2 kita terlalu kita lindungi bisa jadi malah nantinya juga jadi lembek."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-6146624463973952195?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/6146624463973952195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=6146624463973952195' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6146624463973952195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6146624463973952195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/09/kursus-untuk-anak.html' title='Kursus Untuk Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-6080326385377330936</id><published>2009-09-21T23:22:00.000-07:00</published><updated>2009-09-21T23:22:00.074-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Bahasa'/><title type='text'>Anak 4 Tahun Belum Bisa Ngomong \'R\'</title><content type='html'>Sumber: ibu ibu DI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;Anak temanku umurnya 4 tahun kalau mengucapkan 'r' jadi 'l'. Temanku khawatir ada kelainan pada lidah anaknya. Mohon sharing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;Jangan khawatir, aku baru bisa ngomong 'r' kalau tidak salah SD kelas 2 atau kelas 3. Oomku malah SD kelas 6! Tidak tahu kenapa. Tapi seingatku, caranya aku bisa ngomong 'r', sewaktu aku mandi di bathtub, di air keran yang mengalir aku ngomong 'rrrrrrrrrrrr'. Eh terus bisa! Senangnya. Sebelumnya 'r' ku sepert orang Perancis, pakai tenggorokan, bukan pakai lidah.(Yun)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa anak umur 4 tahun 'seharusnya' sudah bisa ngomong 'r' ? Aku belum pernah ketemu anak seumuran gitu yang sudah bisa omong 'r' dengan jelas. Aku bisa omong 'r' secara nyata saat SD kelas 2. Makanya, anakku 4.5 tahun, r-nya masih tidak jelas, yah tidak apa-apa. Dulu adikku juga tidak bisa ngomong 'r'. Ternyata usut punya usut gara-gara lingkungan sekitarnya juga mendukung. Di rumahku, banyak yang tidak bisa ngomong 'r'.(Dhe) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anaknya temanku baru 3 tahun sudah bisa bilang 'r' dengan jelas. Tadinya aku tenang-tenang saja waktu anakku belum bisa bilang 'r' tapi setelah tahu ada anak 3 tahu yang bisa bilang 'r' jelas, aku jadi senewen. Sudah aku tunjukin cara bilang 'r' yang benar, pakai lidah bukan tenggorokan, tapi karena anakku tidak bisa meliat getaran lidahku dengan jelas, jadi dia suka bilang 'ibu mulutnya dibuka donk biar keliatan'.(Rie)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak begitu yakin, kalau itu faktor keturunan. Kalau lingkungan, mungkin iya. Di tempat nenekku di Palembang, aku banyak menjumpai anak-anak, atau orang dewasa yang belum jelas ngomong 'r'nya. Apalagi yang suku-nya Komering. Temanku sampai sekarang juga r-nya masih cadel. Tapi dia baik-baik saja, bisa jadi penyiar radio, dan sekarang penyiar SCTV.(Yun) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau menurutku faktor keluarga bisa mempengaruhi karena kakakku juga tidak bisa ngomong "r". Ini bukan karna kebiasaan, tapi karena ujung luar lidahnya menyambung kebagian bawah lidah.(Rir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku dulu bilang 'r' agak lama, kelas 1 SD, kalau aku cepat, kira-kira umur 2 - 3 tahunan lebih sudah bisa. Anakku sampai sekarang belum bisa, sekarang tetap kita usahakan koreksi, dipancing-pancing, supaya mengeluarkan rrr-nya, jangan semua-semua jadi l. Rrr-nya paling bisa keluar kalau ngomong 'orrrange', itu juga tidak nyata, seperti r-nya orang bule. Aku tanya ke gurunya, kata gurunya sebaiknya terus dipancing dan dikoreksi, sebab jika tidak, lama-lama anak mungkin dapat 'jalan keluar sendiri, tapi "r" yang ditenggorokan.(Rie) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku yang pertama, 6 tahun, bilang "r" dengan jelas saat umur 2,8 tahun. Dari umur setahunan pun bilangnya sudah jelas. Berbeda dengan adiknya, sudah 3,3 tahun, jangankan 'r', bilang yang lainnya saja masih tidak jelas. Kalau konsonan susah lainnya, k, s, g, dan lain-lain sudah bisa, tapi tetap sja kedengerannya masih cedal. Apa karena si bungsu selalu dimanja. Jadi kesannya ngomongnya kemanja-manjaaan.(Ir)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-6080326385377330936?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/6080326385377330936/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=6080326385377330936' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6080326385377330936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6080326385377330936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/09/anak-4-tahun-belum-bisa-ngomong-r.html' title='Anak 4 Tahun Belum Bisa Ngomong \&apos;R\&apos;'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-4672582604671619146</id><published>2009-09-15T23:07:00.000-07:00</published><updated>2009-09-15T23:07:00.506-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daya Konsentrasi - Fokus Anak'/><title type='text'>Meneningkatkan konsentrasi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;color:purple;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;      &lt;table bg border="0" cellpadding="3" cellspacing="2" width="100%" style="color:#ffffff;"&gt;      &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td cellspacing="2" cellpadding="2" align="left" bg valign="top" height="300" style="color:#ffffff;"&gt;  &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt;Kemampuan berkonsentrasi pasti membawa keberhasilan. Kemampuan ini  menghasilkan penguasaan atas situasi, meningkatkan keefisienan, dan memungkinkan Anda  memecahkan masalah Anda. Milton Wright berkata, "Ukuran bagi seorang manusia adalah  sejauh mana ia dapat berkonsentrasi." Sebelumnya, Emerson menulis, "Konsentrasi  adalah rahasia keberhasilan dalam politik, perang, perdagangan, singkatnya dalam  semua manajemen urusan manusia."   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt;Bila Anda merasa daya konsentrasi Anda lemah, cobalah beberapa saran dari Robert  J. Lumsden yang dituliskan dalam bukunya 23 Langkah Menuju Sukses dan Prestasi :  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;ol type="square"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt;&lt;li&gt; Pertama, lakukan segala yang dapat Anda kerjakan untuk mencegah masuknya gangguan.  Belajar di dalam ruang duduk di mana radio atau TV dinyalakan atau orang lain tengah  berbicara, tidak akan membantu. Bekerjalah sendiri dan usahakan agar ruangan memiliki  ventilasi, penerangan, dan kehangatan yang memadai.  &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Sewaktu memulai, tolak godaan untuk bermimpi tentang masa lalu atau masa datang.  Jangan biarkan mata Anda menatap berkeliling, tetapi jaga agar tetap menatap ke  arah pekerjaan Anda. Anda akan terbantu dengan menuliskan catatan atau menggambar  sketsa yang relevan dengan subjek yang Anda hadapi.  &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Salah satu musuh dari konsentrasi adalah kebosanan. Perhatian Anda tidak  melayang ke mana-mana selama menonton film atau sewaktu membaca novel yang  mencekam. Kebosanana mungkin menyelinap masuk apabila Anda bekerja terlalu lama.  Oleh karena itu, batasi waktu belajar selama satu jam; kemudian ambil isitrahat  selama sepuluh menit dan kerjakan sesuatu yang berbeda.  &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Anda akan terbantu dengan menetapkan batas waktu. Berikan diri Anda  jumlah kerja yang pantas untuk dikerjakan dalam satu jam, satu minggu, satu bulan.  Dengan memberikan tantangan kepada diri Anda, Anda telah mendapatkan bantuan  untuk emosi Anda, dan rasa harga diri akan terus mendorong Anda.  &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Musuh terakhir dari konsentrasi adalah sikap mengalah. Jangan pernah  berpikir negatif seperti - Saya tidak akan pernah menguasainya. Otak Anda lebih  mampu dan cakap darpiada yang Anda kira. Jangan takut untuk meregangkannya.  Otak akan bangkit karena tuntutan yang lebih berat. Percayalah akan kekuatan  Anda sendiri. Hampiri pekerjaan dengan tekad.  &lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt;Di balik tips itu semua, daya ingat dan konsentrasi akan makin menurun dengan  bertambahnya umur. Ada cara-cara  untuk menjaga daya ingat dengan menggunakan jembatan keledai, dsb. Penurunan daya ingat yang amat cepat dapat disebabkan kerusakan sel otak akibat trauma  kepala, penyakit pembuluh darah otak (stroke karena penyempitan pembuluh darah otak),  Alzheimer, dll.         &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-4672582604671619146?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/4672582604671619146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=4672582604671619146' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/4672582604671619146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/4672582604671619146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/09/meneningkatkan-konsentrasi.html' title='Meneningkatkan konsentrasi'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-8975872127756251649</id><published>2009-09-10T21:23:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T21:23:00.528-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alternatif learning'/><title type='text'>Belajar Lewat Games</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Bermain dan permainan dapat menjadi ajang pembelajaran anak. Permainan apa saja yang dapat mengasah kecerdasannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menyenangkan, bermain merupakan cara anak mengenal dunia. Melalui permainan si kecil mempelajari suatu keterampilan atau sesuatu yang baru. Permainan di luar ruang yang aktif membantu meningkatkan koordinasi fisik anak. Permainan huruf mengembangkan kemampuan anak berbahasa. Permainan yang berkaitan dengan fantasi mengembangkan dunia imajiner si kecil yang diperlukan anak untuk menulis cerita saat ia bersekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa permainan (games) yang dapat mengasah berbagai aspek perkembangan si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Memory games&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan memori dapat mengasah daya ingat anak. Memiliki daya ingat yang baik mendukung kemudahan anak belajar. Anda dapat mulai mengasah daya ingat anak sedini mungkin.&lt;br /&gt;Mengingat Benda dalam Nampan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 2 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letakkan lima atau lebih benda pada nampan dan ajak anak memperhatikan benda-benda tersebut. Mintalah si kecil menutup matanya, lantas Anda sembunyikan satu benda yang ada di nampan. Minta anak membuka matanya dan tanyakan benda yang tidak ada pada nampan. Anda dapat pula melakukan permainan ini dengan menutup nampan dan memintanya menyebutkan benda-benda pada nampan yang sebelumnya telah dilihat dan diingatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2 . Creative games&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan kreatif ini mengasah kemampuan si kecil untuk mengatasi berbagai masalah yang mungkin ditemuinya, sehingga ia tahu solusi untuk memecahkan masalah saat dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyusun Balok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 2 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajak si kecil membuat rumah seperti rumahnya atau rumah yang diimpikannya menggunakan balok-balok kayu atau plastik. Biarkan imajinasinya berkembang untuk membuat bentuk apa pun.&lt;br /&gt;Melipat, Menggunting dan Menempel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 4 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunakan kertas berwarna untuk membuat benda-benda. Misalnya, katak, burung atau anjing. Kemampuan melipat, yang merupakan keterampilan motorik halus anak pun terasah karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat juga Anda mengajak si kecil menggunting kertas berwarna membentuk benda, misalnya jeruk atau mangga. Kemudian, tempelkan guntingan kertas itu pada buku atau selembar kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Socialization games&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan sosialisasi melibatkan beberapa anak sebaya. Kegiatan ini mengembangkan kemampuan si kecil bersosialisasi. Lebih baik lagi bila permainan ini menuntut kerja sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Saling Tumpuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 2 - 5 tahun)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dimainkan 5 -10 anak. Anak-anak duduk dalam satu lingkaran. Seorang anak mulai meletakkan kepalan tangan kanannya di tengah lingkaran, disusul kepalan tangan kanan anak lain yang diletakkan di atas kepalan tangan anak yang pertama, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua kepalan tangan kanan tertumpuk, anak pertama meletakkan kepalan tangan kirinya di atas tumpukan kepalan tangan kanan yang terakhir. Penumpukan kepalan tangan kiri ini disusul anak lain hingga semua kepalan tangan kiri bertumpukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, kepalan tangan paling bawah berpindah ke atas, disusul tangan berikutnya. Perpindahan tangan dari bawah ke atas semakin lama semakin cepat. Dalam permainan ini tidak ada pihak yang menang atau kalah.&lt;br /&gt;Bermain Kartu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 4 tahun)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda dapat menggunakan kartu bergambar khusus untuk anak-anak. Selain mengembangkan keterampilan sosial, karena anak dituntut berinteraksi dengan anak lain, kemampuan si kecil mengingat pun terlatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Observation games&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan observasi mengajar anak mengenali detail. Lihat baik-baik sebuah gambar dan dorong si kecil mengenal rincian gambar. Kemampuan ini dapat menjadi modal penting anak saat belajar mengenal huruf. Misalnya, ia mampu mengenal perbedaan huruf “b” dan “p”.&lt;br /&gt;Mencari Perbedaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 3 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambarlah dua gambar serupa dengan beberapa bagian berbeda. Minta si kecil melihat gambar tersebut dan cari apa atau bagian mana yang berbeda. Misalnya, gambar anak perempuan dengan pita rambut. Sedangkan gambar satunya tidak mengenakan pita.&lt;br /&gt;Mengenali Objek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 2 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buka satu halaman di buku cerita anak, dan minta anak mendeskripsikan objek di halaman yang dipilih Misalnya, gambar orang. Bantu anak dengan pertanyaan Anda. Misalnya, apa warna rambut orang tersebut, panjang-pendek rambut dan jenis kelaminnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Imaginative games&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua anak menyukai permainan imajinatif, seperti bermain pura-pura. Permainan jenis ini memperkaya imajinasi anak dan merangsangnya berpikir kreatif.&lt;br /&gt;Boneka tangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 2 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berceritalah dengan menggunakan boneka tangan. Mulai dengan cerita yang sudah dikenal anak. Setelah itu, minta anak mengulang cerita atau mengemukakan ceritanya sendiri menggunakan tokoh boneka tangan.&lt;br /&gt;Bermain peran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 3 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan yang satu ini bisa jadi sering dilakukan dan menyenangkan anak. Anda dapat terlibat dalam permainan menggunakan berbagai material sungguhan seperti kue kering untuk suguhan saat main tamu-tamuan, selimut untuk atap rumah, atau kursi untuk dinding rumah. Anda dan si kecil juga dapat bermain peran sesuai tokoh dalam film favoritnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. Physical games&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menyenangkan, latihan fisik mengembangkan koordinasi anggota tubuh anak, badan si kecil fit dan sehat, membuat tidur si kecil lebih lelap, dan nafsu makannya lebih bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   “Ayo Melompat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 2 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan-jalanlah bersama anak di taman kompleks perumahan Anda. Mintalah anak melangkah beberapa kali, kemudian buat loncatan dua kali. Anda dapat meminta anak berlari dari satu pohon menuju Anda dalam hitungan sekian, tergantung jarak pohon ke tubuh Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. Alphabet games&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui permainan alfabet anak belajar mengenal huruf dan angka. Pengenalan awal ini bisa menjadi bekal pengetahuan dan mempermudah si kecil saat ia belajar huruf dan angka di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat Buku “Huruf” .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 3 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunakan halaman berbeda untuk setiap huruf dan letakkan gambar objek yang dimulai dengan huruf termaksud. Misalnya, hurup “A” untuk gambar apel atau huruf “H” untuk gambar harimau.&lt;br /&gt;Menyambung Titik-Titik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 2,5 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat huruf dari titik-titik. Minta si kecil menyambungkan tiap titik. Tempelkan gambar objek yang di mulai dengan huruf tersebut. Kegiatan ini juga dapat meningkatkan keterampilan motorik halus anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8. Singing games&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan bernyanyi ini menyenangkan. Kegiatan yang memunculkan irama dan lagu dapat memperkaya bank data kata-kata dan frase si kecil yang dapat digunakannya sewaktu-waktu ia perlukan. Dengan begitu, tanpa terasa, melalui bernyanyi anak belajar berbagai hal.&lt;br /&gt;Menebak Kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 2, 5 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanyikan lagu anak yang dikenalnya, kemudian hilangkan satu-dua kata dalam kalimat lagu dan lantas minta si kecil menebak kata yang hilang. Semakin besar usia anak, semakin banyak kata yang dapat Anda hilangkan.&lt;br /&gt;Memperagakan Tindakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Anak usia 2,5 tahun ke atas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bernyanyilah untuk si kecil. Gunakan lagu yang dikenalnya. Pada kata kerja yang ada pada lagu, Anda tak perlu menyanyikan melainkan memperagakannya. Minta si kecil menyebutkan apa yang Anda peragakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Grahita Purbasantika Nugraha (ayahbunda)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-8975872127756251649?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/8975872127756251649/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=8975872127756251649' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/8975872127756251649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/8975872127756251649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/09/belajar-lewat-games.html' title='Belajar Lewat Games'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-3196644738970861138</id><published>2009-09-05T05:07:00.000-07:00</published><updated>2009-09-05T05:07:00.353-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar dan Bermain'/><title type='text'>Bermain, Menggali Ilmu Pengetahuan</title><content type='html'>Sambil bermain anak mengeksplorasi dunia sekeliling dengan caranya sendiri. Ketertarikan si kecil membuatnya begitu riang dan asyik bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martin kecil meraih pasir di hadapannya ketika suatu kali berlibur di pantai Anyer. “Ma, tanah ini kok berbeda dengan yang di rumah ya…. Yang di rumah e nggak bisa digenggam seperti ini,” katanya dengan nada heran. Kemudian sang mama pun menjelaskan beda tekstur pasir dan tanah di depan rumah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, dunia sekitar adalah wilayah yang sangat luas untuk dieksplorasi buah hati Anda. Ada saja hal di sekeliling anak yang menarik minatnya lebih jauh. Ketertarikan si kecil inilah yang membuatnya begitu riang bermain-main dengan dunia ilmu pengetahuan. Apa yang perlu orang tua lakukan agar si kecil makin pandai lewat kegiatan bermainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si penjelajah sejati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermain menyenangkan bagi anak. Salah satu permainan yang mengasyikkan anak adalah permainan berdasar ilmu pengetahuan atau science . Sambil bermain si kecil juga mengeksplorasi dunia dengan caranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba perhatikan, bagaimana anak sangat tertarik mengamati ulat merayap di pohon, atau bagaimana ikan berenang di akuarium. Berbagai pertanyaan bermunculan dalam benaknya, dan ingin diketahui jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Lucia French , pembantu professor di sekolah Warner, Amerika Serikat, menyatakan bahwa ilmu pengetahuan memenuhi keinginan setiap anak untuk mengerti dunia dengan cara menyelidikinya. Menurut French, anak-anak usia 3 dan 4 tahun adalah penjelajah sejati. Bila Anda amati, si kecil yang tengah duduk santai di sofa tiba-tiba memasukkan biji jeruk, dan kemudian berusaha mengeluarkannya kembali. Atau ia berdiri, dan mengukur tinggi badan temannya di balik punggung sofa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui permainan ilmu pengetahuan anak belajar mengelola pemikirannya dalam memecahkan masalah. French mengemukakan bahwa bila anak melihat atau menyentuh objek yang ia minati dengan bagian dari tangan atau matanya, maka ia siap melakukan eksplorasi berdasarkan informasi yang ia miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kegiatan bermain bisa dilakukan bersama si kecil. Misalnya, sekembalinya Anda dan si kecil dari jalan-jalan tanyakan apa yang ia lihat. Bisa pula Anda meminta anak menggambar apa yang dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar berbagai hal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anak yang gemar puzzle, Anda bisa menggunakan kegiatan menyusun keping-keping puzzle untuk mendorong si kecil belajar memecahkan masalah dan belajar tentang bentuk, ukuran dan warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pun dapat mengajak anak menanam tumbuhan di kebun atau di pot. Ajaklah anak membuat catatan bersama tentang pertumbuhan “makanan” yang dikonsumsinya, serta bagaimana tanaman itu dapat tumbuh sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermain sambil menggali pengetahuan memang mengasyikkan. Anak bahkan bisa mendapatkan pengetahuan tentang berbagai hal baru. Dengan belajar tentang konsep “besar-kecil”, ”cepat-lambat”, “berat-ringan”, anak terbantu untuk belajar matematika dan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut para ahli pendidikan dari National Science Foundation , Amerika Serikat, dalam bukunya Helping Children Learn at Home , rasa ingin tahu dan minat anak bereksplorasi dan melakukan percobaan, membuat anak-anak ini menjadi pakar matematika dan ilmu pengetahuan yang alami. Kesenangan dan rasa percaya diri dalam bermain ilmu pengetahuan membuat anak ketika dewasa menikmati belajar ilmu pengetahuan lebih mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eleonora Bergita&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-3196644738970861138?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/3196644738970861138/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=3196644738970861138' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3196644738970861138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3196644738970861138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/09/bermain-menggali-ilmu-pengetahuan.html' title='Bermain, Menggali Ilmu Pengetahuan'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-6099060309378696828</id><published>2009-09-01T22:49:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T22:49:00.786-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Bahasa'/><title type='text'>Teka-Teki Silang Bikin Anak Pintar Berbahasa</title><content type='html'>KORAN edisi minggu telah selesai dibaca habis ibu dan bapak. Sulung Anda pun sudah menamatkan membaca dongeng di halaman anak-anak. Kini saatnya koran digelar di atas meja dan sekeluarga merubung TTS. Ibu mebacakan pertanyaan, ayah menjawabnya dan si Upik yang mengisikannya ke kotak-kotak kosong. Sesekali, ia turut menjawabnya, bahkan mencoba mencari jawabannya di kamus dan ensiklopedia. Apa sih manfaat mengisi TTS bagi putri-putra kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanamkan sikap sabar serta fokus dalam dunia anak yang begitu spontan dan berwarna kadang menjadi kesulitan tersendiri bagi orangtua. Tingginya keingintahuan anak dan hasratnya mencoba banyak hal membuat mereka kadang tak bisa fokus dan sabar. Nah, ternyata, TTS alias teka-teki silang bukan hanya membuat anak meningkat memfokuskan pikiran dan bersikap sabar dan teliti dalam mengerjakan apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada dasarnya anak yang sudah bisa membaca dan menulis -sekitar usia 5 sampai 6 tahun- sudah bisa diperkenalkan dengan teka-teki silang. Tentu saja tingkat kesulitannya harus disesuaikan dengan usia serta kemampuan anak. Sehingga, anak tetap menikmati proses pengerjaannya dan tak merasa terbebani," ungkap Rosdiana Tarigan, MPsi, MHPEd, Psikolog yang berpraktik di Rumah Sakit Pluit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun melanjutkan, media yang digunakan anak dalam mengerjakan teka-teki silang juga tak jadi masalah, baik yang biasa ada di koran, majalah atau buku TTS maupun di komputer sama baiknya. Tinggal disesuaikan saja dengan minat serta kebutuhan anak. Bukan berdasarkan keinginan orangtua tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap anak berhak bermain, yang merupakan bagian penting perkembangannya. Mengisi TTS dapat menjadi pilihan bermain bagi anak, jika dilakukan dalam keadaan menyenangkan. Anak diajak memainkan imajinasinya untuk menghasilkan sebuah kata yang tepat sesuai pertanyaan melalui stimulus satu huruf baik di awal, tengah maupun akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosdiana mengungkapkan, "Mengisi TTS ini memerlukan kesabaran, fokus serta pengetahuan umum yang memadai sesuai tingkatan usia dan kemampuan anak. Saat anak mulai mencocokan urutan pertanyaan dengan letak kotak secara mendatar atau menurun sesungguhnya hal tersebut pun dapat mengasah kecekatan, dimana kegiatan ini memerlukan koordinasi mata dan tangan. Pada saat itulah anak membiasakan diri untuk fokus serta berkonsentrasi agar menuliskan jawaban pada kotak yang tepat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu dalam mengerjakan TTS anak tak selalu mulus dalam menemukan jawaban atas pertanyaan yang ada. Ada kalanya anak menemukan pertanyaan yang sangat mudah namun bukan tak mungkin dia terhadang kesulitan. Hal ini tentu dapat dijadikan keuntungan jika mereka jeli melihatnya. Karena ditengah kesulitannya menemukan jawaban yang harus diisi kedalam deretan kotak tersebut, sesungguhnya tanpa disadari anak tengah belajar mengendalikan emosi dan bersabar dalam mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Dalam hal ini adalah jawaban dari TTS yang sedang dia kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seiring waktu berjalan, perlahan anak akan mengerti bahwa tak selalu yang diinginkan bisa didapat dengan mudah bahkan terkadang harus didapatkan dengan usaha yang keras. Di sini pun anak dapat belajar memecahkan suatu permasalahan dengan cara serta usahanya sendiri," imbuh Psikolog kelahiran Surabaya, 30 September 1973 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaan kosa-kata serta general knowledge memang sangat dibutuhkan saat anak mengerjakan TTS. Agar kesabaran anak dalam memecahkan jawaban TTS tersebut tak sia-sia dengan penguasaan pengetahuan umum serta kosa-kata yang memadai maka tak ada salahnya orang tua membelikan kamus untuk anak yang tidak terlalu tebal wujudnya ataupun buku pintar serta ensiklopedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kelemahan TTS yang dimuat pada media cetak adalah pertanyannya kurang variatif serta terkesan diulang-ulang. Ini diamini Abubakar Ali, SPd, guru Bahasa Indonesia SD Global Islamic School Lazuardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk mengatasinya, kewajiban pendidik dan orang tua untuk kreatif. Misalnya dengan menetapkan kosa-kata yang akan diajarkan, masukkan dalam tema besar terlebih dahulu agar fokus dan tak melebar, "ujar Abubakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga menyarankan untuk memecah kosa-kata tersebut ke dalam pertanyaan mendatar dan menurun, susun kotak-katik sesuai dengan jumlah pertanyaan. Bahkan jika memungkinkan bentuklah bagian hitam yang di luar kotak dengan bentuk-bentuk yang lucu, seperti buah-buahan ataupun tokoh kartun agar anak tertarik mengisinya. Hal terpenting lainnya adalah berikan TTS yang sesuai dengan usia serta kemampuan anak, agar permainan ini tetap menyenangkan untuk dilakukan dan tak terkesan membebani anak di luar batas kemampuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik semua manfaat yang ada, sesungguhnya ada satu kekhawatiran yang timbul jika anak gemar mengisi TTS baik di media cetak ataupun komputer. Permainan jenis ini sesungguhnya bersifat adiktif sehingga memungkinkan anak untuk ketagihan. Jika anak berhasil memecahkan satu jawaban maka dapat dipastikan ia akan tertantang memecahkan jawaban berikutnya yang levelnya lebih sulit, begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat anak asyik dengan dunianya sendiri dengan menarik diri dari pergaulan adalah awal dari berbagai macam masalah psikologis yang kemungkinan dapat muncul di kelak kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di sinilah peran orangtua dalam mendampingi serta mengawasi anak benar-benar dibutuhkan. Rasanya akan lebih baik jika saat mengerjakan TTS ini orang tua mendampingi, ikut meramaikan suasana dan jadikan sebagai family gathering �yang dapat mempererat hubungan dengan anak sekaligus menciptakan quality time," saran Rosdiana seraya mengakhiri.&lt;br /&gt;(sindo//tty)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-6099060309378696828?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/6099060309378696828/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=6099060309378696828' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6099060309378696828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6099060309378696828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/09/teka-teki-silang-bikin-anak-pintar.html' title='Teka-Teki Silang Bikin Anak Pintar Berbahasa'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-2352470772262784100</id><published>2009-08-29T03:59:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T03:59:00.323-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kurikulum Pelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Taman Kanak - Kanak / Playgroups'/><title type='text'>Kurikulum Playgroup</title><content type='html'>Sumber: ibu ibu DI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau curhat masalah pendidikan anakku. Anakku sekarang lagi di PGS (Play Group Senior) TK Katolik di Cisalak, memang aku udah denger lama &amp; liat langsung lulusan TK / SD disitu pasti diterima di SD / SMP Katolik Jakarta yang favorit. Tapi pertimbangan kita pertama kali masukin ke situ karena deket aja biar anakkutidak capek. Dengan berjalannya waktu dan mulai tahun ajaran 2002/2003 kemaren sistemnya balik lagi ke semester. alamak pelajaran PG udah kayak gitu, aku kasihan sama anakku. Apalagi kemaren aku dapat Buku Penghubung yang isinya Target Semester II. Aku jadi tambah bingung &amp; sedih, anak umur segitu udah harus bisa semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini aku tulis disini juga target semester II PG di TKK Perboen...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa:&lt;br /&gt;* mengenal &amp; menulis huruf C s/d O&lt;br /&gt;* mengenal &amp; menulis huruf vokal (A, I, U, E, O)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya Pikir&lt;br /&gt;* mengenal &amp; menulis angka 3 s/d 10&lt;br /&gt;* mengenal &amp; menghitung jumlah benda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PR setiap Senin &amp; Kamis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan semester I kemaren itu udah nulis huruf sampai D, lalu angka sampai 4. PR tiap Rabu. Anakku sekolah enjoy aja, pokoknya semangat, kalau badan dia sehat pasti harus sekolah. Sekolahnya Senin - Jumat jam 8.00 - 10.30. Kemaren pertengahan Desember ambil raport semester memang tidak ditulis rangkingnya di buku raport tapi kita ortu dikasih tau, yang rangking 1 - 3 ditulis di papan. Malah ada beberapa ortu yang udah ngelesin anaknya di guru yang ex pernah ngajar di Perboen. Aku sich tidak pengaruh krn anakku masih kecil. Tapi kalau liat target semester ini &amp; waktu kita, ortu, kadang pulang sampai rumah paling telat aku jam 19.00, itu juga tidak pernah nemenin dia bikin PR selalu eyang utinya, aku bingung moms. Tolong ya, apapun pendapat moms aku akan pertimbangkan buat bikin hati ayem. Thanks. (Im)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau share pengalaman pribadi aja dan pengetahuanku mengenai perkembangan anak usia 0-6 th, mungkin bisa jadi bahan pertimbangan. Kalau menurut pendapat para ahli, umur 0-6th memang usia paling penting untuk meletakkan dasar² yang kuat pada seorang anak. Karena perkembangan otak mereka paling tajam pada usia segitu (50% org dewasa). Tapi jangan lupa juga bahwa dunia mereka adalah bermain. Belajarpun harus dibuat sedemikian rupa supaya menjadi suatu permainan yang menyenangkan untuk anak. Kenapa sekolah sekarang menerapkan target seperti itu, karena kalau dihitung², waktu anak di sekolah itu pendek sekali sementara kurikulum yang ditetapkan begitu padat, belum lagi jumlah anak di kelas yang begitu banyak sementara gurunya hanya satu. Bayangkan pula, berapa orang yang harus mendapat perhatian khusus. Kalau aku sendiri sekolah buat anakku yang terutama adalah di rumah. Karena menurut aku pribadi, tugas ibu yang utama adalah nomer satu anak (no excuse pekerjaan, sorry agak extrem), orangtua adalah guru yang pertama dan utama bagi mereka. Kenapa aku bilang "no excuse", karena sebenarnya "belajar" (bermain) dg anak itu tidak membutuhkan waktu berjam² seperti kita belajar, spend at least 5 minutes a day continually.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kondisi otak anak yang sudah 50% orang dewasa spt aku katakan diatas, jadi mereka mampu menyerap dg cepat. Jadi tugas ortu untuk meramu target sekolah itu menjadi suatu permainan yang menyenangkan dirumah. Klo aku prinsipnya, mendingan susah sekarang karena masih kecil dan lucu daripada nanti begitu masuk SD, pelajaran sudah semakin banyak dan anak juga sudah punya mau sendiri. Sedangkan pengalamanku dg anakku, meskipun tdk ada pr dari sekolah aku biasakan dia punya tugas dari aku. Misalnya, nulis lima kata sehari, lain hari aku kasih soal matematika 5 nomer. Dan aku kasih reward yang bisa dikumpulkan dan ditukar hadiah pas week end. Sementara, aku gak terlalu sulit mengenalkan huruf krn dari pertama aku sudah pake metode Glen Doman yang mengajar bayi membaca (mungkin Ima sudah baca postinganku sebelumnya mengenai ini). Bahkan sekarang membaca kata² yang panjang pake awalan, akhiran dan sisipan juga dia sudah bisa. Sorry, ini bukan mau pamer or what. Tapi bener² memang seharusnya kita yang harus berusaha. Kalau tidak nanti masuk kelas satu belum bisa baca, bisa ketinggalan pelajaran kan. Dan menurut aku, klo kita pake metode yang tepat, tidak ada tuh sebetulnya takut anaknya bebannya terlalu berat atau apa. Karena ya itu, rasa keingintahuan mereka itu masih besar sekali. Klo menurut aku, anak yang tdk suka sekolah atau susah klo sekolah, itu krn mungkin, gurunya tdk menarik buat mereka (tdk dpt memenuhi rasa ingin tahu mereka) dan ortu tdk membiasakan bahwa belajar itu merupakan permainan yang menyenangkan, bukan karena anaknya overload. Sedikit cerita waktu ngambil raport anakku kemarin, ada ibu² yang panik dan tanya "anaknya udah bisa baca belum bu"?, ya dengan bangga aku jawab "sudah". "Aduh gimana ya anak saya belum bisa baca, dia malas, saya jadi malas ngajarinnya". Gimana anaknya mau bisa, kalau mamanya aja males. Atau ada yang lain lagi, saking paniknya anaknya di-lesin baca dan tulis. (Ir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya aku rada cerewet untuk urusan beginian, sampai aku pernah debat sama ketua Yayasan tempat anakku sekolah, yang ngejelasin bahwa di situ anak akan bisa apa aja, tergantung pada kita maunya jadi apa. Ini target ketua yayasannya atau target muridnya. Sekolah bisa mengarahkan mau bisa bhs inggris, lancar baca tulis, sempoa, tari dll..dll.., setelah lulus TK. Ini untuk yang setelah lulus TK, bukan PG. Makanya kalau PG seperti ini aku akan bener-bener waspada, ngawasin anakku. daripada aku menyesal di kemudian hari. Kalau menurut aku&lt;br /&gt;musti di urut bener-bener nih cara belajar mengajar, kesiapan mental anak, tingkat persaingan, bagaimana pengaruhnya terhadap psikologi anak, koordinasi sama semuanya yang sehari-hari ama anak (eyang, guru dll). Tapi aku takutnya karena target semester sekolah yang ketat jadi kurang perhatian terhadap pembelajaran yang lain seperti akhlak, sopan santun, pengenalan terhadap lingkungan, kemandirian, dll, yang menurut aku justru yang paling utama untuk di PG. Bukan pelajaran alam arti yang sebenernya. Disamping takut berefek jenuh bagi anak di kemudian hari. Mbak, kok sampai les segala, padahal kan masih kecil ya, lagian juga waktu sekolahnya juga udah lama ya , 5 jam 5 hari seminggu. Anakku cuma 2 jam 3x seminggu. Takutnya anak-anak itu belajar bersaing bukannya di mulai belajar sharing ya? (Al)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ aja kita udah bisa tau bahwa ini PG atau TK mesti mutunya bagus banget. Tidak hanya dari segi main-mainnya tapi juga dari segi pendidikannya. Itu pasti, kalau tidak gitu tidak mungkin bisa diterima di SD/SMP Katolik (atau swasta) favorit. Kalau menurut aku sekarang anak kan masih PG, walaupun di sekolahnya ada target yang harus dicapai untuk anak seusianya, sbg orang tua, aku akan membiarkan saja anakku belajar sesuai dengan kemampuannya. Tidak harus aku paksakan karena takutnya nanti malah anak stress. Tapi kalau si anak enjoy aja aku rasa tidak ada salahnya. Mungkin saja memang semangat belajar anak tinggi. Kalau masalah mbak tidak punya waktu buat anak untuk menemaninya belajar tentu itu adalah resiko ibu yang bekerja jadi tidak bisa dibikin apa² lagi. Tapi jangan lupa mbak masih punya waktu dihari sabtu dan minggu, bisa dimanfaatkan dengan menciptakan suasana bermain sambil belajar yang fun banget antara mbak, suami dan si kecil. Pasti akan kebayar mbak. Mbak sendirikan tidak terpengaruh dengan ortu lain yang khusus mengikut-sertakan anaknya les ini dan itu, itu udah bagus banget. Biarin segala sesuatunya mengalir seiring dg kemampuan anak bertumbuh. (Sn)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau menurut aku, kurikulum sekolah tidak bisa diutak atik, yang kita bisa protes, cara guru ngajar dan menghadapi anak yang belum bisa ngikutin kurikulum itu, kalau di sekolah anakku, emang mirip gitu kurikulumnya waktu PG dulu, tapi yang penting, kalau si anak tidak mau ikut nulis, atau tidak bisa, ya tidak papa, si anaknya sendiri gimana? mau dan bisa ngikutin tidak? tapi terus terang aja, aku rencana tidak masukin anak keduaku ke sekolah anakku yg pertama karena itu, jadinya untuk PG anakku tetep di tempat english activity class nya yang sekedar bermain, biarin aja ntar belajar serius nya mulai di TK (Dn)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum di sekolah waktu anakku PG gak begitu nyeremin. Tapi kalu aku inget² memang sejak PG anakku sudah diajar mengenal huruf besar dari kecil A-Z dan angak 0-10 juga bisa menuliskannya. Aku juga gak tahu kenapa, tapi perasaan sih caranya gak dipaksain ke anak, artinya gak pernah anakku ngeluh krn kebanyakan 'belajar' gitu, dan gak pernah ada PR. Barangkali krn anakku sekolah cukup lama, tiap hari senin-jumat 8.00 - 12.00 wkt masih PG, jadi gak perlu PR dan di sekolah waktu utk 'belajar baca tulis' nya banyak, jadi gak diburu², barangkali ya. Dan setahuku gak ada seorangpun anak di kelas anakku, bahkan sekarang (di TKA) yang udah ngeles ini itu kecuali musik, beladiri atau ngaji sih ada. Coba Mbak perhatiin gimana cara guru² tersebut mencapai target kurikulum mereka. Kalau kamu amati caranya sreg sama kamu, artinya fun dan gak menekan anak, barangkali kamu bisa lega. Tapi kalau caranya terlalu menekan anak, bikin anak unhappy, kamu perlu kasih 'solusi' sama guru²nya. (St)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku sekolah di PG Katolik juga. Tapi kayaknya santai banget. Kayaknya tidak ada pelajaran menulis. Biasanya tiap minggu ada tema tersendiri, misalnya minggu ini tentang hewan. Minggu depan ttg.keluarga, minggu depan ttg. jenis² kendaraan. Jadi belajarnya ya itu doang, nama² hewan, kebiasaannya, pokoknya begitu² aja deh. Paling yang ada pelajarannya adalah agama. Itu pun sambil cerita. Di rapor tidak ada nilai apa², isinya cuma komentar guru ttg. Kemampuan anak, daya pikir, motorik, sosial, disiplin dllnya. Di bagian daya pikir, cuma diceritain kalau anak udah bisa/tidak mengingat warna, bentuk, nama hari, things like that. Di sekolah kalau tidak mewarnai, melipat, menempel, menggunting, menggambar ya begitu-begitu aja kok. Kaya' jamannya kita TK dulu, cuma sekarang 'maju' ke PG. Tetanggaku aku intip rapor anaknya yang TK-B, juga tidak ada nilai, hanya komentar², apa yang harus diperbaiki, dllnya. PR-nya juga kayaknya tidak ada, kalau ada juga tidak berat, soalnya tetanggaku tidak pernah ngeluh tuh, sejak TK-A terus ke TK-B. Tapi anak² TK-B itu udah pada bisa baca. Jadi kayaknya di sekolah anakku pengenalan huruf itu dimulai di TK-A. (Rn)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku yang TKA aja baru belajar huruf, itupun belajarnya pake metode lagu. Jadi mereka belajar huruf sekaligus bunyinya melalui nyanyi, contohnya gini: Jellyfish, Jumping jeh jeh jeh jeh jeh jeh, Jeh is the sound of J. atau Orange, Octopus oh oh oh oh oh oh , Oh is the sound of O segitu aja yang aku ingat, tapi kalau anakku ingat dari A to Z. Lama-lama dia bisa juga tidak pake PR dan les-les an. Makanya aku bener-bener milih kalau urusan sekolah, aku tidak mau anakku dijejali sesuatu sebelum waktunya dan hal-hal yang tidak perlu.Seperti anakku, yang dipelajari di SD kelas satu ya, Bahasa (latihan menulis huruf cetak, huruf kecil, huruf sambung), Matematika sederhana, Art (menggambar, etc), Music Clasic (cuma nyanyi dan denger music clasic), Olahraga, Agama. Pokoknya tidak aneh-anehlah. (Dm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ngeri baca target semesterannya anak, ngebayangin aja, pastinya anak² yang seperti sulungku tidak akan mungkin diterima di situ, aku setuju sama Mbak Di menurutku, kalau memang anak menikmati sekolah regardless dia bisa menuhin target kurikulum atau tidak dan guru²nya juga tidak melupakan kebutuhan mendasar anak muridnya, yaitu sesuai nama tingkatan sekolahnya: main..main..main... kayanya tidak papa deh terus di sana... malah bagus kalau mbak bisa nularin pemikiran ke sesama orangtua untuk tidak pasang target, apalagi mengejar ranking. yang paling penting lagi menurutku mbak sendiri ngerasa ayem, tentrem &amp; nyaman anak sekolah di sana karena biasanya orangtua kan punya 'feeling', dan jangan lupa disampaikan ke guru²nya, karena siapa tau mereka jadi lebih rileks, tidak ngoyo ngejar target kurikulum kalau tau dan yakin bahwa mereka didukung oleh orgtua muridnya. (Hn)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PG anakku juga mirip seperti sekolahnya anaknya mbak Ri juga pakai tema, tapi bulanan, misalnya bulan ini temanya pergi ke desa, dari mulai ngeliatin telur ayam diperemi induknya sampai netas, nanem sayur²an di kebun (dan dipanen lho.. utk dibawa pulang tiap murid, mandi di kali (sebenernya sih berenang, tapi dekorasi di kolam renangnya dibikin seperti di desa, masak tiwul lalu dimakan bareng², sampai naik delman keliling sekolahnya, aku bilang tidak terlalu santai kok mbak. tapi memang ternyata mereka belajar banyak, walau keliatannya tidak ada 'pelajaran'nya, sambil nyanyi, sambil rebutan sekop, antri cuci tangan, sambil ngeloyor ke sana sini memang tidak pernah diajari baca-tulis, perasaan nyanyi dan joget melulu kerjanya. Tapi ternyata jogetnya itu penuh makna, aspek verbal, musik, kelenturan tubuh, visual, interpersonal, motorik halus dll diusahakan seimbang tapi tentunya tiap anak penekanannya beda² untuk anak yang motorik halusnya udah lumayan kuat diasah aspek² lainnya, diajarin manjat, loncat. Jadi kalau penilaianku walaupun sistem pengajarannya klasikal, perhatian individualnya cukup intensif laporan perkembangan (raport), untuk tiap aspek itu dijabarin rinci dan dikasih liat "kemajuan" si anak. Jadi malu aku kalau inget waktu itu mengeluh ke gurunya karena anakku kalau yang lain lagi tekun denger cerita sibuk cerita sendiri (ngedalang) dalam bahasa planetnya, trus gurunya bilang gini "Ibu.. walaupun ini sesuatu yang sangat wajar dan manusiawi ayo kita liat si anak dari sudut pandang kemajuan dia sendiri dari belum bisa menjadi bisa, jangan pake anak lain jadi target, karena tiap anak beda bu, tiap anak istimewa!" malah gurunya yang bilang ke aku tidak papa kalau memang anakku belum siap masuk TK jangan dipaksain masuk cuma karena dari segi umur udah layak di TK (Hn)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anak-anak seperti anak kita tidak bisa diterima disitu, bukan karena mereka tidak bisa ngikutin pelajaran, tapi karena gurunya aja yang tidak sabar ngajarin anak-anak seperti anak-anak kita. Sekolah yang katanya favorit belum tentu cocok dengan anak kita. Pokoknya semua kembali ke kita, karena kita yang tau betul mana yang paling cocok dengan anak kita itu. Aku nyari sekolah anakku sampe kesana kemari, tes kesana kemari. Mulai dari sekolah yang bagus, sekolah khusus anak bermasalah, sampe sekolah yang mahal banget dan mau nerima anak-anak special ini, tapi begitu aku pelajari lagi rasanya tidak cocok buat anakku. Akhirnya aku ketemu satu sekolah yang baru buka, yang begitu ketemu sama gurunya langsung ada perasaan tenang. Terus lihat kurikulumnya juga OK, dan ternyata teman-temannya juga luar biasa, jadi kalaupun di kelas dia tidak bisa duduk diam tapi teman-teman dan gurunya tidak marah. Mudah-mudahan anakmu bisa ketemu sekolah yang cocok nantinya ya,kapan-kapan boleh ketemu sama anakku. (Dm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau boleh tahu dimana sekolahnya mbak Hn, Ri ? Yang kayak gini yang aku mau, tapi disekitar tempat tinggal ku kayaknya belum ada. Anakku di PG/TK deket kompleks Galaxy, Kalimalang. Biar kata sekolah Katolik, tidak se'serem' yang kukira. Ya itu lah, kerjaannya cuma begitu² aja. Pernah juga ada anak PG yang hiperaktif di tahun ajaran yang lalu. Sampai naik kelas ke TK-A masih suka kangen PG, dan 'kabur' dari kelas TK-nya, nyari guru PG-nya dulu. Tapi aku lihat sendiri, mereka tidak langsung 'hayo balik lagi sana ke kelasmu'... tapi dibiarin dulu kangen²an sebentar, terus dianterin lagi. Memang buat guru anak kecil aku pikir memang kita harus lihat betul² ya, apa mereka sabar atau tidak. Makanya aku tidak sekalian bayar sampai TK uang masuknya, meski lebih murah kalau paket begitu, tapi aku bayar UM playgroup aja. Mungkin, karena guru²nya juga udah 'mateng', sebab aku lihat mereka udah pada punya anak yang usianya kira² TK juga. Bukan bilang kalau guru yang. belum punya anak, atau masih muda tidak bagus. Tapi mungkin yang udah punya anak seumur begitu (atau lebih gede lagi) udah tau sendiri based on experiece sepanjang hari di rumahnya, emang anak umur segitu menanganinya perlu kesabaran ekstra. Waktu permulaan masuk sekolah, anakku yang sekelas berdelapan ditangani oleh 3 guru (yang. satunya kepsek) dan 1 suster. Biar kata kepseknya udah setengah baya, tetap aja ikut ngegendong anak² yang berontak 'takut sekolah'. Aku senengnya di situ, selain untuk sekolah, tidak ada kutipan macem², kecuali satu kali dalam satu semester bergantian ibu murid masak makanan untuk murid sekelas, itu juga sebenernya ada uang sih, dari sekolah ke kita, tapi karena pasti ala kadarnya, kita pasti nombok. Terus waktu Aksi Natal, ada pengumpulan sumbangan sukarela untuk Panti asuhan. Itu mah terserah mau sekilo gula putih juga boleh, mau sekarung beras juga silahkan. Bahkan perayan Natal sekolah juga ortu tidak dikutip apa² tuh. (Rn)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-2352470772262784100?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/2352470772262784100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=2352470772262784100' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/2352470772262784100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/2352470772262784100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/08/kurikulum-playgroup.html' title='Kurikulum Playgroup'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-4820074656419980523</id><published>2009-08-21T23:21:00.000-07:00</published><updated>2009-08-21T23:21:00.307-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Mental - Moral'/><title type='text'>Mendidik Anak Agar Mandiri</title><content type='html'>Salah satu tugas orang tua adalah mendidik anak agar menjadi mandiri. Sikap mandiri sudah dapat dibiasakan sejak anak masih kecil: memakai pakaian sendiri, memasang tali sepatu, memakai kaos kaki dan berbagai pekerjaan kecil lainnya. Kedengarannya mudah, namun dalam prakteknya pembiasaan ini banyak hambatannya. Tidak jarang orang tua merasa tidak tega atau justru tidak sabar melihat si kecil yang berusaha menalikan sepatunya selama beberapa menit, namun belum juga memperlihatkan keberhasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau langsung memberi segudang nasehat, lengkap dengan cara pemecahan yang harus dilakukan, ketika anak selesai menceritakan pertengkarannya dengan teman sebangku. Memang masalah yang dihadapi anak sehari-hari dapat dengan mudah diatasi dengan adanya campur tangan orang tua. Namun cara ini tentunya tidak akan membantu anak untuk menjadi mandiri. Ia akan terbiasa "lari" kepada orang tua apabila menghadapi persoalan, dengan perkataan lain ia terbiasa tergantung pada orang lain, untuk hal-hal yang kecil sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu upaya apa yang dapat dilakukan orang tua untuk membiasakan anak agar tidak cenderung menggantungkan diri pada seseorang, serta mampu mengambil keputusan? Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat Anda terapkan untuk melatih anak menjadi mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Beri kesempatan memilih&lt;br /&gt;      Anak yang terbiasa berhadapan dengan situasi atau hal-hal yang sudah ditentukan oleh orang lain, akan malas untuk melakukan pilihan sendiri. Sebaliknya bila ia terbiasa dihadapkan pada beberapa pilihan, ia akan terlatih untuk membuat keputusan sendiri bagi dirinya. Misalnya, sebelum menentukan menu di hari itu, ibu memberi beberapa alternatif masakan yang dapat dipilih anak untuk makan siangnya. Demikian pula dalam memilih pakaian yang akan dipakai untuk pergi ke pesta ulang tahun temannya, misalnya. Kebiasaan untuk membuat keputusan - keputusan sendiri dalam lingkup kecil sejak dini akan memudahkan untuk kelak menentukan serta memutuskan sendiri hal-hal dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2. Hargailah usahanya&lt;br /&gt;      Hargailah sekecil apapun usaha yang diperlihatkan anak untuk mengatasi sendiri kesulitan yang ia hadapi. Orang tua biasanya tidak sabar menghadapi anak yang membutuhkan waktu lama untuk membuka sendiri kaleng permennya. Terutama bila saat itu ibu sedang sibuk di dapur, misalnya. Untuk itu sebaiknya otang tua memberi kesempatan padanya untuk mencoba dan tidak langsung turun tangan untuk membantu membukakannya. Jelaskan juga padanya bahwa untuk membuka kaleng akan lebih mudah kalau menggunakan ujung sendok, misalnya. Kesempatan yang anda berikan ini akan dirasakan anak sebagai penghargaan atas usahanya, sehingga akan mendorongnya untuk melakukan sendiri hal-hal kecil seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   3. Hindari banyak bertanya&lt;br /&gt;      Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang tua , yang sebenarnya dimaksudkan untuk menunjukkan perhatian pada si anak, dapat diartikan sebagai sikap yang terlalu banyak mau tahu. Karena itu hindari kesan cerewet. Misalnya, anak yang baru kembali dari sekolah, akan kesal bila diserang dengan pertanyaan - pertanyaan seperti, "Belajar apa saja di sekolah?", dan "Kenapa seragamnya kotor? Pasti kamu berkelahi lagi di sekolah!" dan seterusnya. Sebaliknya, anak akan senang dan merasa diterima apabila disambut dengan kalimat pendek : "Halo anak ibu sudah pulang sekolah!" Sehingga kalaupun ada hal-hal yang ingin ia ceritakan, dengan sendirinya anak akan menceritakan pada orang tua, tanpa harus di dorong-dorong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   4. Jangan langsung menjawab pertanyaan&lt;br /&gt;      Meskipun salah tugas orang tua adalah memberi informasi serta pengetahuan yang benar kepada anak, namun sebaiknya orang tua tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Sebaliknya, berikan kesempatan padanya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dan tugas Andalah untuk mengkoreksinya apabila salah menjawab atau memberi penghargaan kalau ia benar. Kesempatan ini akan melatihnya untuk mencari alternatif-alternatif dari suatu pemecahan masalah. Misalnya, "Bu, kenapa sih, kita harus mandi dua kali sehari? " Biarkan anak memberi beberapa jawaban sesuai dengan apa yang ia ketahui. Dengan demikian pun anak terlatih untuk tidak begitu saja menerima jawaban orang tua, yang akan diterima mereka sebagai satu jawaban yang baku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   5. Dorong untuk melihat alternatif&lt;br /&gt;      Sebaiknya anak pun tahu bahwa untuk nmengatasi suatu masalah , orang tua bukanlah satu-satunya tempat untuk bertanya. Masih banyak sumber-sumber lain di luar rumah yang dapat membantu untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Untuk itu, cara yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan memberitahu sumber lain yang tepat untuk dimintakan tolong, untuk mengatasi suatu masalah tertentu. Dengan demikian anak tidak akan hanya tergantung pada orang tua, yang bukan tidak mungkin kelak justru akan menyulitkan dirinya sendiri . Misalnya, ketika si anak datang pada orang tua dan mengeluh bahwa sepedanya mengeluarkan bunyi bila dikendarai. Anda dapat memberi jawaban : "Coba,ya, nanti kita periksa ke bengkel sepeda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   6. Jangan patahkan semangatnya&lt;br /&gt;      Tak jarang orang tua ingin menghindarkan anak dari rasa kecewa dengan mengatakan "mustahil" terhadap apa yang sedang diupayakan anak. Sebenarnya apabila anak sudah mau memperlihatkan keinginan untuk mandiri, dorong ia untuk terus melakukanya. Jangan sekali-kali anda membuatnya kehilangan motivasi atau harapannya mengenai sesuatu yang ingin dicapainya. Jika anak minta ijin Anda, "Bu, Andi mau pulang sekolah ikut mobil antar jemput, bolehkan? " Tindakan untuk menjawab : "Wah, kalau Andi mau naik mobil antar jemput, kan Andi harus bangun pagi dan sampai di rumah lebih siang. Lebih baik tidak usah deh, ya" seperti itu tentunya akan membuat anak kehilangan motivasi untuk mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Sebaiknya ibu berkata "Andi mau naik mobil antar jemput? Wah, kedengarannya menyenangkan, ya. Coba Andi ceritakan pada ibu kenapa andi mau naik mobil antar jemput." Dengan cara ini, paling tidak anak mengetahui bahwa orang tua sebenarnya mendukung untuk bersikap mandiri. Meskipun akhirnya, dengan alasan-alasan yang Anda ajukan, keinginannya tersebut belum dapat di penuhi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-4820074656419980523?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/4820074656419980523/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=4820074656419980523' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/4820074656419980523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/4820074656419980523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/08/mendidik-anak-agar-mandiri.html' title='Mendidik Anak Agar Mandiri'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-6629744382296104203</id><published>2009-08-15T23:06:00.000-07:00</published><updated>2009-08-15T23:06:00.361-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Pelajar'/><title type='text'>Mengapa Pelajar berkelahi?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;color:purple;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;      &lt;table bg border="0" cellpadding="3" cellspacing="2" width="100%" style="color:#ffffff;"&gt;      &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td cellspacing="2" cellpadding="2" align="left" bg valign="top" height="300" style="color:#ffffff;"&gt;  &lt;p align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt; Tawuran menjadi satu istilah yang sering terdengar. Istilah di identikkan dengan perkelahian pelajar. Bahkan bukan hanya pelajar SMP dan SMA, pelajar SD pun sudah mulai ikut-ikutan tawuran. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar pada remaja. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt; Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tawuran ini sering terjadi. Data di Jakarta misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat sampai tiga perkelahian di tiga tempat sekaligus. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt;&lt;b&gt; Dampak perkelahian pelajar &lt;/b&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt;Jelas bahwa perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt;   &lt;b&gt; Pandangan umum terhadap penyebab perkelahian pelajar &lt;/b&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt; Sering dituduhkan, pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah kejuruan, berasal dari keluarga dengan ekonomi yang lemah. Data di Jakarta tidak mendukung hal ini. Dari 275 sekolah yang sering terlibat perkelahian, 77 di antaranya adalah sekolah menengah umum. Begitu juga dari tingkat ekonominya, yang menunjukkan ada sebagian pelajar yang sering berkelahi berasal dari keluarga mampu secara ekonomi. Tuduhan lain juga sering dialamatkan ke sekolah yang dirasa kurang memberikan pendidikan agama dan moral yang baik. Begitu juga pada keluarga yang dikatakan kurang harmonis dan sering tidak berada di rumah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt; Padahal penyebab perkelahian pelajar tidaklah sesederhana itu. Terutama di kota besar, masalahnya sedemikian kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang padat misalnya), serta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt; Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat. Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, mereka bangga kalau dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt;&lt;b&gt; Tinjauan psikologi penyebab remaja terlibat perkelahian pelajar &lt;/b&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt; Dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan di dalam diri individu (sering disebut kepribadian, walau tidak selalu tepat) dan kondisi eksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian pelajar. Bila dijabarkan, terdapat sedikitnya 4 faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol type="1"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;color:purple;"&gt;   &lt;li&gt; &lt;b&gt; Faktor internal. &lt;/b&gt;   &lt;p align="justify"&gt; Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang / pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat. Mereka biasanya sangat membutuhkan pengakuan. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;   &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;b&gt; Faktor keluarga. &lt;/b&gt;   &lt;p align="justify"&gt; Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya, ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirnya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;   &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;b&gt; Faktor sekolah. &lt;/b&gt;   &lt;p align="justify"&gt; Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. Baru setelah itu masalah pendidikan, di mana guru jelas memainkan peranan paling penting. Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentuk berbeda) dalam “mendidik” siswanya. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;   &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;b&gt; Faktor lingkungan. &lt;/b&gt;   &lt;p align="justify"&gt; Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota (bisa negara) yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-6629744382296104203?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/6629744382296104203/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=6629744382296104203' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6629744382296104203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6629744382296104203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/08/mengapa-pelajar-berkelahi.html' title='Mengapa Pelajar berkelahi?'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-2935173767374172593</id><published>2009-08-10T09:03:00.000-07:00</published><updated>2009-08-10T09:03:00.903-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Problem Solving'/><title type='text'>Berlatih Atasi Masalah</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil bermain anak belajar mengatasi problem yang menghadang. Prosesnya spontan dan bebas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bari senang bermain pura-pura. Dia gunakan apa saja untuk bermain. Misalnya, selimut untuk mendirikan tenda atau menunggangi sapu sebagai pengganti kuda. Bermain pura-pura memberi kesempatan pada Bari untuk berlatih memecahkan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanpa takut salah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui bermain, secara spontan anak belajar cara-cara memecahkan masalah. Karena, ketika bermain anak bebas bereksperimen, mengimajinasikan berbagai perilaku alternatif yang dibutuhkan untuk mengatasi persoalan, tanpa takut salah atau dinilai salah oleh orang dewasa. Bermain juga mendorong Anak bebas mengimajinasikan berbagai aksi berbeda berikut konsekuensinya, lalu memilih yang dirasanya tepat melalui simulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Bari yang tanpa takut salah, ketika menyiapkan alat-alat permainan. Jika gagal? Gampang saja… Bari mencoba alternatif lain hingga ia mendapatkan cara paling tepat. Jika ditanya atau dikritik, paling-paling ia berkata dengan ringan dan tanpa beban, " Bari ‘ kan sedang main!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan anak mengobservasi lingkungan menjadi nilai tambah si kecil untuk meningkatkan kebisaannya menyelesaikan masalah. Di samping itu, anak pun mengetahui variasi permainan dan kesempatan seluas-luasnya untuk bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mampu mengatasi masalah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini berbagai permainan yang dapat meningkatkan kemampuan si kecil memecahkan masalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Puzzle&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan puzzle, yang membutuhkan cara memecahkan masalah secara coba-salah, merupakan salah satu permainan yang terbukti dapat membantu anak meningkatkan kemampuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bermain peran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bemain peran, seperti dilakukan Bari , membantu meningkatkan kreativitas anak dalam memecahkan masalah melalui berbagai cara yang bebas dilakukan dalam permainan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Balok atau lego&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terlalu berbeda dengan puzzle , bermain balok atau lego meningkatkan kreativitas si kecil memecahkan masalah ketika ia berupaya membangun sesuatu menggunakan mainan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Games&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai games seperti bermain kartu, domino atau monopoli merupakan permainan yang mengajarkan anak strategi memecahkan masalah ketika bermain untuk memenangkan permainan. Tentu saja si kecil butuh waktu menguasai permainan jenis ini sebelum ia benar-benar mahir berstrategi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu ada permainan-permainan lain yang dapat membantu anak meningkatkan kemampuannya memecahkan masalah. Orang tua diharapkan kreatif mengolah permainan yang menarik bagi anak, dan membebaskan si kecil bereksperimen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Esthi Nimita Lubis(ayahbunda)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-2935173767374172593?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/2935173767374172593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=2935173767374172593' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/2935173767374172593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/2935173767374172593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/08/berlatih-atasi-masalah.html' title='Berlatih Atasi Masalah'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-7005852965772692848</id><published>2009-08-05T05:06:00.000-07:00</published><updated>2009-08-05T05:06:00.228-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Bahasa'/><title type='text'>Si 1 Tahun Pintar Bicara</title><content type='html'>Menjelang ulang tahun kedua, umumnya anak semakin pandai berkata-kata. Namun ada anak yang jauh melebihi teman seusianya. Mengapa bisa begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chayene (18 bulan) terdengar sangat ceriwis. Ada saja kata-kata terlontar dari mulutnya yang membuat lingkungannya sangat terkesan. “Iya Ma, Cayin janji…janji! Cayin ati-ati ,” ujar Chayene ketika memaksa ibunya untuk memperlihatkan vas yang baru dibelinya. Melihat cara putrinya yang dengan berhati-hati memegang vas tersebut, Tasya, sang ibu, jadi ragu. Apakah Chayene benar-benar memahami arti kata-kata yang diucapkannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai penyebab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percepatan kemampuan anak bicara ditentukan berbagai hal. Di antaranya kemampuan bicara orang dewasa di sekitarnya. Semakin gemar kedua orang tua mengajak anaknya berbicara, si kecil semakin pintar berkata-kata. Urutan kelahiran juga berperan penting. Umumnya anak pertama mendapat perhatian lebih besar dari kedua orang tuanya dibanding adik-adiknya. Situasi ini mempengaruhi stimulasi pada kemampuan si kecil bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis kelamin juga berpengaruh terhadap percepatan kemampuan anak berkata-kata. Menurut pengamatan para ahli, orang tua umumnya lebih sering mengajak anak perempuannya bicara dibanding anak laki-lakinya. Akibatnya anak perempuan punya kemampuan berkata-kata lebih baik dibanding anak laki-laki. Tentu saja di luar itu semua, faktor fisik seperti kesiapan organ tubuh dan kesehatan juga berperan penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak seusia Chayene umumnya baru memiliki perbendaharaan kata sebanyak kurang lebih sepuluh kata. Anak-anak ini juga baru mulai menggabung-gabungkan dua kata untuk membuatnya lebih bermakna. Misalnya, “anjing galak”, atau “baju tidur”. Dengan begitu jika si kecil dapat menyebutkan lebih dari kata-kata itu, dan mulai dapat membentuk satu kalimat sederhana, kita dapat menyebutnya sebagai early talker atau anak yang cepat berkata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum tentu benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun walaupun si kecil dapat berkata-kata dengan cepat, bukan berarti keterampilan lain, seperti keterampilan di bidang sosial, emosional maupun fisiknya ikut memiliki percepatan yang sama. Terkadang anak usia ini tidak memahami apa yang dikatakannya, seperti jika ia berkata janji untuk tidak menyentuh gelas lalu kemudian menyentuhnya. Bukan berarti si kecil berbohong atas kata-katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usahakan untuk ikut berpikir setara dengan usia si kecil. Misalnya jika ia berkata ingin ke atas, itu berarti bukan ruangan di tingkat dua yang ditujunya, namun anak justru menginginkan sensasi menaiki maupun menuruni tangga. Atau jika si kecil ingin kue yang terpajang di toko kue, pada umumnya bukan karena ia ingin memakannya hingga habis, namun lebih pada mencicipi kue yang menarik perhatiannya. Karena itu, tugas Anda sebagai orang tua untuk berulang-ulang menjelaskan maksud kata-kata yang diucapkannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upayakan konsisten mengenai suatu hal, misalnya jika anak berjanji tidak mengambil mainan temannya, cobalah berulang-ulang mengingatkan jika si kecil melanggar janji tersebut. Dengan cara ini anak semakin memahami maksud kata-katanya sendiri sehingga ia pun dapat dituntut lebih konsisten dengan apa yang diucapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esthi Nimita Lubis&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-7005852965772692848?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/7005852965772692848/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=7005852965772692848' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/7005852965772692848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/7005852965772692848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/08/si-1-tahun-pintar-bicara.html' title='Si 1 Tahun Pintar Bicara'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-6447927652983515849</id><published>2009-08-01T21:05:00.000-07:00</published><updated>2009-08-01T21:05:00.321-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Seks'/><title type='text'>Mengajarkan Pendidikan Seks pada Anak</title><content type='html'>MEMBAHAS masalah seks pada anak memang tidak mudah. Namun, mengajarkan pendidikan seks pada anak harus diberikan agar anak tidak salah melangkah dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dr Rose Mini AP, M Psi seorang psikolog pendidikan, seks bagi anak wajib diberikan orangtua sedini mungkin. "Pendidikan seks wajib diberikan orangtua pada anaknya sedini mungkin. Tepatnya dimulai saat anak masuk play group (usia 3-4 tahun), karena pada usia ini anak sudah dapat mengerti mengenai organ tubuh mereka dan dapat pula dilanjutkan dengan pengenalan organ tubuh internal," papar almamater Universitas Indonesia ketika dihubungi okezone melalui telepon genggamnya, Rabu (20/2/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, pendidikan seks didefinisikan sebagai pendidikan mengenai anatomi organ tubuh yang dapat dilanjutkan pada reproduksi seksual. Dengan mengajarkan pendidikan seks pada anak, menghindarkan anak dari resiko negatif perilaku seksual. Karena dengan sendirinya anak akan tahu mengenai seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama, dan adat istiadat, serta kesiapan mental dan material seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengenalan seks pada anak dapat dimulai dari pengenalan mengenai anatomi tubuh. Kemudian meningkat pada pendidikan mengenai cara berkembangbiak makhluk hidup, yakni pada manusia dan binatang. Nah, kalau sudah tahu, orangtua dapat memberi tahu apa saja dampak-dampak yang akan diterima bila anak begini atau begitu," ucap wanita ramah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara menyampaikan pendidikan seksual pada anak dapat dimulai dengan mengajari mereka membersihkan alat kelaminnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ajari anak untuk membersihkan alat genitalnya dengan benar setelah buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB), agar anak dapat mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Pendidikan ini pun secara tidak langsung dapat mengajari anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan alat kelaminnya," papar wanita yang akrab disapa Rose.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurutnya, cara menyampaikan pendidikan seksual itu pun tidak boleh terlalu vulgar, karena justru akan berdampak negatif pada anak. Di sini orangtua sebaiknya melihat faktor usia. Artinya ketika akan mengajarkan anak mengenai pendidikan seks, lihat sasaran yang dituju. Karena ketika anak sudah diajarkan mengenai seks, anak akan kristis dan ingin tahu tentang segala hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau di luar negeri biasanya para orangtua dikasih buku panduan mengenai pendidikan seks agar mereka dapat menjawab setiap pertanyaan yang diajukan anak. Sementara di Indonesia, karena belum ada, maka sebaiknya para orangtua sigap dengan mencari informasi mengenai seks di internet, buku bacaan atau majalah," pungkasnya.&lt;br /&gt;(tty)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-6447927652983515849?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/6447927652983515849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=6447927652983515849' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6447927652983515849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6447927652983515849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/08/mengajarkan-pendidikan-seks-pada-anak.html' title='Mengajarkan Pendidikan Seks pada Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-8184319979620218631</id><published>2009-07-29T03:16:00.000-07:00</published><updated>2009-07-29T03:16:00.702-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kurikulum Pelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekolah Internasional'/><title type='text'>Kurikulum SD International-National Plus</title><content type='html'>Sumber: ibu ibu DI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;Sekarang ini banyak ibu-ibu yang menyekolahkan anaknya di sekolah international atau nasional plus. Aku sedang mengumpulkan informasi mengenai perbedaan antara kedua sekolah ini. Sementara ini yang aku tahu sekolah nasional plus tetap ada pelajaran sejarah tentang Indonesia dan pelajaran tertentu yang biasa diberikan di sekolah nasional. Sedangkan di sekolah internasional tidak ada sama sekali, murni seperti sekolah di luar negeri. Dan kelebihan dari mereka bobot pelajarannya lebih ringan karena sedikit materinya tapi anak jadi tidak tahu tentang sejarah Indonesia. Setelah nanti dia kuliah di universitas lokal, jadi agak kesulitan mengikuti pelajaran yang berkaitan dengan MKDU (mis: Pancasila).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk nasional plus, misalnya di Gandhi biayanya sedikit lebih murah dibanding yang internasional. Aku ingin tau kebanyakan ibu-ibu memilih sekolah yang internasional atau nasional plus, dan bagaimana pertimbangan jangka panjangnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;Ibu, kebetulan adikku kepala SD national plus di Bogor.  Yang paling keliatan nyata adalah fasilitas fisik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. bangunan sekolah relatif masih baru (artinya bersih, tidak menakutkan, cat yang colorful untuk anak-anak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. ratio jumlah anak dan luas ruang yang sangat memadai (di sekolah anakku tiap kelas punya reading corner berkarpet, study corner yang ada meja kursi, teachers corner, corner kosong untuk berbaris dan main-main, juga toilet room dan wastafel)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. fasilitas sekolah yang sangat mengutamakan perkembangan motorik kasar anak (arena bermain yang sangat luas compare dengan jumlah murid dan lengkap) juga memperhatikan keamanan anak-anak (railing tangga, pagar berlapis lapis) dan bersih sekali (dapur, ruang makan, alat makan -tiap alat makan di steril dengan air mendidih sebelum digunakan-, toilet room).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. keamanan sangat utama, mulai dari petugas security, fasilitas pendukung (stiker parkir yang ketat), sampai office boy yang selalu ada di tiap lapis gerbang supaya tidak ada yg bisa masuk ke lingkungan sekolah tanpa sepengetahuan dan seijin petugas di sekolah. Termasuk tidak ada tukang jual jajanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. paling utama adalah rasio murid dan guru sangat ideal, rata-rata 1 guru untuk 5 murid untuk kelas TK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu fisiknya, kalau 'contentnya' lebih banyak lagi, misalnya :&lt;br /&gt;1. jelas bahasa inggris anak-anak di nat plus jauh lebih baik daripada di sekolah biasa.&lt;br /&gt;2. komputer skill juga jauh melebihi anak-anak di sekolah biasa, karena tiap hari ada 30 menit pelajaran komputer (bukan belajar xl atau word tapi eduation software)&lt;br /&gt;3. beberapa pelajaran yang di sekolah lain adalah ekstrakurikuler, di sekolah national plus diwajibkan misalnya olah raga berenang, piano, bahasa mandarin.&lt;br /&gt;4. waktu di sekolah yang panjang membuat anak-anak yang orang tuanya bekerja, sangat menolong para orang tua. Anak-anak bermain dan belajar secara terarah di bawah bimbingan guru-guru yang memang ahli di bidangnya. Anak-anak juga lebih cepat mandiri karena waktu yang panjang di sekolah menyebabkan banyak kegiatan harus mereka lalui di sekolah (pipis, pup, minum susu, makan snack, makan siang) dan guru-guru sangat mengecorage mrk supaya melakukan semua itu sendiri. Daripada anak-anak nonton sinetron dan membuat rumah jadi kapal pecah, lebih baik dia mendengar guru mendongeng, menonton film dengan gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. hubungan yang harmonis antara guru dan murid membuat murid menyukai bersekolah, berani bertanya sama guru dan membuat sekolah jadi "a happy place".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. yang paling utama adalah metode mengajar. Di sekolah diterapkan metoda mengajar dua arah, jadi murid diajar aktif dan berani mengungkapkan pendapat. Pendapat yang paling konyolpun dihargai dan tidak ditertawakan (mis: murid ditanya kenapa pingguin hanya punya 1anak, ada yang menjawab: krn mamanya tidak mau repot). Lalu menerapkan sistem reward dan punishment. Kesalahan yang dibuat si anak tidak ditebus dengan berdiri di depan kelas, atau tangannya dipukul dengan penggaris ataupun menyalin 100 kali kalimat: saya tidak akan nakal lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dengar cerita temanku tentang anak mereka yang malas sekolah, takut sekolah, pr bertumpuk, buku tugas banyak, beda sekali dengan sekolah national plus. Setidaknya anak-anakku tidak pernah malas sekolah, dan tidak pernah pulang bawa pr yang setumpuk (melainkan a book a day to be read at home) apalagi tas yang berat karena semua buku tugas ditinggal di sekolah. Tas isinya spare t-shirt dan celana kalau keringatan dan snack.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang konsekuensinya, anak-anak tersebut tidak mudah bila harus pindah ke sekolah biasa. Karena hampir semuanya berbeda. Jadi kalau mau menyekolahkan anak di national plus sepertinya harus siap menyekolahkan mereka sampai lulus. [St]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya memang per paket sejak SD sampai SMU mereka pakai sistem yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tetangga aku menyekolahkan anak-anaknya di Gandhi. Mereka bilang kalau di hitung-hitung dengan uang pangkal perpaket biayanya justru lebih murah. Iuran bulanan kalau di sekolah nasional sering ada biaya ekstra, jatuhnya tidak beda jauh (ini kalau ukuran Gandhi, sekolah yang lain aku kurang begitu tahu). [Vv]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga pernah hitung-hitung untuk biaya memang jatuhnya kurang lebih sama. Yang jelas anak-anakku tidak perlu les inggris, komputer, renang, kumon, membaca, menulis, menggambar karena semua itu diberikan gratis di sekolah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku juga menghemat waktu karena anak-anaku pergi ke one stop service, alias dari pagi - sore cukup di sekolah saja. Tidak perlu pulang sekolah masih harus les A, B, C. Aku juga tidak perlu invest mobil dan sopir untuk antar jemput anak-anak karena bus sekolah terpercaya.[St]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anakku juga tidak biasa tidur siang, apalagi yang SD kelas 2 sekolahnya juga full day, dari jam 8 - 15.00. Kalau ada extended enrichment (semacam ekstrakurikuler) pulangnya jam 16.00. Karena sudah kebiasaan, sekolah jadi biasa-biasa saja, tidak exshausted, malah seringkali pulang sekolah masih sempat latihan berenang di klubnya. Memang tidur malamnya jadi agak awal, sekitar jam 8 malam, tapi lebih bagus daripada sampai malam mereka masih belum tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai perbandingan kurikulum, aku kurang tahu pasti isi kurikulum nasional seperti apa. Yang jelas di sekolah anakku yang katanya Nat+,&lt;br /&gt;subjects yang diberikan adalah math, science, social studies (PPKN?), religion, art &amp; music, bahasa indonesia &amp; english, physical education.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bahan pelajaran diberikan di sekolah dan sifatnya 'workshop' sehingga anakku ke sekolah tidak pernah bawa buku dan memang tidak punya buku paket yang biasanya dimiliki anak-anak SD lainnya. Setiap akhir minggu diberikan satu weekly project yang harus di- selesaikan dalam jangka waktu seminggu, selain itu tidak ada PR atau home assignment lainnya. Setiap weekly project hanya untuk satu subject. Ulangan, tes, atau ujian yang sifatnya formal tidak ada, karena assessment on each individual student dilakukan on daily basis for each particular subject.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Report pun sifatnya tidak dalam bentuk nilai 8, 9, atau 7, atau A,B,C tapi penjelasan komprehensif dan detail tentang kemajuan anak. Paling-paling kalau ada hanya penggolongan hanya dalam bentuk 'introduced', 'progressing' atau 'mastering'. Sejauh ini aku cukup puas dengan metode seperti ini dan yang jelas anakku selalu happy kalau pergi sekolah. [Id]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku punya temen yang ngajar di JIS menurut dia sekarang banyak orang indonesia yang sekolah disana, tapi semuanya sama dan tidak dibedakan. TK biayanya 10ribu dollar, untuk smp 12ribu dollar tapi nanti ada uang lain-lainnya lagi. [Fn]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak temenku juga di JIS, aku yakin mereka tidak punya passport asing, dan katanya memang sejak beberapa tahun lalu orang indonesia boleh sekolah disitu. [Dn]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah Gandhi lama yang di ps baru katanya lebih murah. Sekarang mereka buka sekolah baru di kemayoran yang lebih bagus dan harganya&lt;br /&gt;beda dengan yang di ps. baru. Aku belum sempat survei kesana. Apakah environmentnya cocok untuk anakku, apa kira-kira mereka betah disana kalau sejak SD sampai dengan SMU mereka disitu. Reputasi sekolah juga penting apakah sudah benar-benar establised, jangan biayanya saja yang mahal tapi SDMnya asal-asalan. Lots of things to consider.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin aku survei preschool untuk anakku yang kedua, di daerah menteng. Aku lihat semuanya bagus, guru-gurunya native. Kebetulan sekolahnya internasional school. Sebenarnya dari dulu aku kurang suka kalau preschool bernuansa int. Aku lebih suka sekolah lokal, tapi karena penasaran aku coba survei kesana. Kelasnya kecil-kecil dan duduk belajar (even for toddlers!). silabusnya juga bernuansa belajar. Ada reading, math, writing. Aku tanya "isn't it too much for 3 years old?" Dia bilang "no, not at all, all children here can keep up very well" tapi aku jadi tidak tega menyekolahkan anak yang masih toddlers ke sekolah yang gaya belajarnya serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disana tenaga gurunya ada sekitar 2 -3 orang masing-masing pegang 6 - 8 anak per kelas. Aku lihat pada saat bermain yang mendampingi adalah baby sitter bukan gurunya, padahal para BS itu tidak "speak english well" hanya bisa "good morning" semacam itu. Sepertinya tidak ada komunikasi dengan anak-anak padahal disana sistem belajarnya ESL. [Vv]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Sabtu lalu aku coba datang ke acara open housenya sekolah Bina Nusantara untuk preschool dan Elementary. Sekolahnya bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedungnya baru, tempat parkirnya di basement seperti hotel. Untuk preschool tangga-tangganya dibuat landai dan ada karpetnya jadi aman untuk anak-anak yang hobi lari-lari. Di tempat mainannya juga menggunakan lapisan yang aman untuk anak jatuh. Aku kurang tahu nama lapisannya tapi seperti sekam yang padat.. Ada yang tahu kalau mau beli lapisan seperti itu berapa dan dimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke sekolah Binus, untuk Preschoolnya uang masuknya sekitar 21 juta (untuk 3 tahun) sedangkan untuk Elementary sekitar 35 juta (untuk 6 tahun). Kalau mau bayar langsung untuk 9 tahun (Preschool s/d Elementary 6) 54 juta. Bulanan untuk Preschool 1,8 juta sedangkan untuk Elementary 2,5 juta. Mereka baru tahun ke-2 untuk Preschool dan Elementarynya. Sekolah Binus ini tempatnya di jalan Arteri, sebelum kompleks simpruk pertamina kalau dari arah Pondok Indah ke Permata Hijau. [Gt]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin aku sudah dapatkan informasi tentang High Scope. Aku sedang membandingkan dengan Singapore Internasional School yang di Bona Indah. Mereka kurikulumnya juga bagus, tapi untuk biaya masih sama mahalnya dengan High Scope. Kalau masih di preschool dimasukkan ke Kinderland juga sudah bagus. [Ld]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-8184319979620218631?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/8184319979620218631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=8184319979620218631' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/8184319979620218631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/8184319979620218631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/07/kurikulum-sd-international-national.html' title='Kurikulum SD International-National Plus'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-7344867568960852348</id><published>2009-07-21T23:20:00.000-07:00</published><updated>2009-07-21T23:20:01.097-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='character Building'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Mental - Moral'/><title type='text'>Menumbuhkan Percaya Diri Pada Anak</title><content type='html'>Sifat percaya diri tidak hanya harus dimiliki oleh orang dewasa, tetapi anak-anak juga memerlukannya dalam perkembangannya menjadi dewasa. Sifat percaya diri sulit dikatakan secara nyata. Tetapi kemungkinan besar orang yang percaya diri akan bisa menerima dirinya sendiri, siap menerima tantangan dalam arti mau mencoba sesuatu yang baru walaupun ia sadar bahwa kemungkinan salah pasti ada. Orang yang percaya diri tidak takut menyatakan pendapatnya di depan orang banyak. Rasa percaya diri membantu kita untuk menghadapi situasi di dalam pergaulan dan untuk menangani berbagai tugas dengan lebih mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk anak-anak, rasa percaya diri membuat mereka mampu mengatasi tekanan dan penolakan dari teman-teman sebayanya. Anak yang percaya diri mempunyai perangkat yang lebih lengkap untuk menghadapi situasi sulit dan berani minta bantuan jika mereka memerlukannya. Mereka jarang diusik. Justru mereka sering mempunyai daya tarik yang membuat orang lain ingin bersahabat dengannya. Mereka tidak takut untuk berprestasi baik di sekolah atau untuk menujukkan bahwa mereka memang kreatif. Percaya diri bukan merupakan bawaan dari lahir, juga tidak jatuh dari langit. Anak-anak mudah sekali merasa rendah diri, merasa tidak mampu, tidak penting, karena ada banyak hal yang harus dipelajari, dan orang yang lebih tua tampak begitu pandai. Anak-anak memerlukan dorongan dan dukungan secara terus-menerus. Jika orang tua atau guru dapat berperan dengan baik, anak-anak akan memiliki rasa percaya diri. Jika Anda ingin membangun rasa percaya diri dalam diri anak Anda, tak ada istilah terlambat untuk memulai. Anda justru akan memberikan hadiah terbaik untuk anak Anda dan diri Anda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun Rasa Percaya Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sering memprotes jika merasa dibatasi, anak-anak akan menerima jika mempunyai aturan pasti dalam bertindak. Jika orangtua terus mengubah rutinitas anak Anda atau tidak konsisten dalam hal disiplin, anak akan bingung dan bimbang. Misalnya, hari ini aturannya begini, tapi besok lain lagi. Lusa, anak akan bertanya-tanya, "Sekarang saya harus bagaimana. Yang seperti kemarin atau seperti kemarin dulu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunjukkan bahwa Anda percaya anak Anda punya kemampuan, dengan memberinya tugas-tugas yang bisa dilakukannya dan menimbulkan rasa ikut memiliki. Sebagai contoh, anak-anak biasanya senang menjawab telepon. Ajari dia cara menjawab telepon yang sopan dan benar. Lalu, beri dia kesempatan untuk melakukannya. Coba juga meminta bantuan anak untuk mengambilkan barang-barang yang akan dibeli di rak pasar swalayan, tentunya barang yang tak mudah pecah, misalnya susu, sabun mandi, dan sebagainya. Tahan diri untuk cepat-cepat turun tangan membantu anak melakukan sesuatu. Membantu boleh-boleh saja, tapi tidak berarti mengambil alih atau langsung ikut campur tangan tanpa dimintanya. Doronglah dia untuk tidak terlalu gampang mengatakan, "Saya tidak bisa," "Saya tak pernah akan bisa," atau "Saya memang bodoh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang penting orangtua harus menjaga jangan sampai mencap anak "pemalas", "dasar pemalu", "anak bodoh", dan sebagainya. Memang sebagian anak mungkin tak akan terlalu menghiraukan kata-kata seperti itu. Tapi sebagian lain akan membangun identitas dirinya dari komentar-komentar yang negatif ini, meskipun Anda mengucapkannya secara spontan dan sungguh tidak bermaksud merendahkan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanamkan sikap bahwa berbuat salah bukanlah dosa yang tak terampuni, bahwa nilai seseorang tidak selalu bisa dihitung berdasarkan kesempurnaan hasil kerjanya. Yang penting bukan betul atau salah, tapi bagaimana cara dia melakukannya. Jadikan ini sebagai pedoman untuk diri Anda juga. Hormati dan hargai anak Anda. Jangan mempermalukan dia di depan teman-teman sebayanya, atau di depan orang dewasa lainnya, atau di depan umum. Jika anak Anda berbuat salah, panggil dia ke tempat sepi, atau bicarakan hal itu di rumah. Jika Anda berbicara, gunakan nada suara seperti yang Anda harapkan akan digunakannya saat ia berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarkan anak Anda dan dorong dia untuk berpikir mandiri. Belajar mempertahankan diri sendiri memerlukan kekuatan besar. Tempat terbaik untuk berlatih menjadi orang yang percaya diri adalah di rumah. Hargai ide-ide yang dinyatakannya. Katakan berulang-ulang kepada anak Anda bahwa Anda percaya dia bisa. Dan bersikaplah positif di depan orang-orang lain tentang apa yang bisa dilakukan anak Anda. Dengan cara begitu, anak akan yakin bahwa Anda benar-benar mempercayai kemampuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciptakan peluang untuk pengalaman-pengalaman dan tantangan baru. Perluas minat dan keterampilan anak Anda. Bersedialah menerima usaha yang telah dilakukannya, entah apa pun hasilnya. Jangan hanya melihat hasil akhirnya saja. Daripada mengatakan kepada anak apa yang tak boleh dilakukan, lebih baik katakan apa yang boleh dilakukannya. Misalnya, daripada mengatakan "Kamu tak boleh masuk ke rumah orang tanpa permisi," lebih baik katakan, "Kamu boleh masuk ke rumah orang kalau sudah permisi dan dipersilakan masuk." Sebelum mengomentari perilaku anak yang negatif, pikirlah dulu dua tiga kali, sambil mengingat untuk selalu menekankan hal-hal yang positif.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-7344867568960852348?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/7344867568960852348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=7344867568960852348' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/7344867568960852348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/7344867568960852348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/07/menumbuhkan-percaya-diri-pada-anak.html' title='Menumbuhkan Percaya Diri Pada Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-1286781027157712642</id><published>2009-07-15T23:05:00.000-07:00</published><updated>2009-07-15T23:05:00.429-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alternatif learning'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar dan Bermain'/><title type='text'>Gaya Belajar Efektif</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Setiap orang pasti mempunyai cara atau gaya belajar yang berbeda-beda.  Banyak gaya yang bisa dipilih untuk belajar secara efektif. Nah,  artikel berikut menjelaskan tujuh gaya belajar  yang mungkin beberapa diantaranya bisa di terapkan pada anak didik kita  :  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:100%;"&gt;  &lt;b&gt;1. Belajar dengan kata-kata. &lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Gaya ini bisa kita mulai dengan mengajak seorang teman yang senang  bermain dengan bahasa, seperti bercerita dan membaca serta menulis.  Gaya belajar ini sangat menyenangkan karena bisa membantu kita  mengingat nama, tempat, tanggal, dan  hal-hal lainya dengan cara mendengar kemudian menyebutkannya.   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:100%;"&gt;  &lt;b&gt;2. Belajar dengan pertanyaan. &lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Bagi sebagian orang, belajar makin efektif dan bermanfaat bila itu dilakukan  dengan cara bermian dengan pertanyaan. Misalnya, kita memancing keinginan tahuan  dengan berbagai pertanyaan. Setiap kali muncul jawaban, kejar dengan pertanyaan,  hingga didapatkan hasil akhir atau kesimpulan.   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:100%;"&gt;  &lt;b&gt;3. Belajar dengan gambar. &lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Ada sebagian orang yang lebih suka belajar dengan membuat gambar, merancang,  melihat gambar, slide, video atau film. Orang yang memiliki kegemaran ini,  biasa memiliki kepekaan tertentu dalam menangkap gambar atau warna, peka  dalam membuat perubahan, merangkai dan membaca kartu.   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:100%;"&gt;  &lt;b&gt;4. Belajar dengan musik. &lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Detak irama, nyanyian, dan mungkin memainkan salah satu instrumen musik, atau  selalu mendengarkan musik. Ada banyak orang yang suka mengingat beragam informasi  dengan cara mengingat notasi atau melodi musik. Ini yang disebut sebagai ritme hidup.  Mereka berusaha mendapatkan informasi terbaru mengenai beragam hal dengan cara  mengingat musik atau notasinya yang kemudian bisa membuatnya mencari informasi yang  berkaitan dengan itu. Misalnya mendegarkan musik jazz, lalu tergeliik bagaimana  lagu itu dibuat, siapa yang membuat, dimana, dan pada saat seperti apa lagu  itu muncul. Informasi yang mengiringi lagu itu, bisa saja tak sebatas cerita  tentang musik, tapi juga manusia, teknologi, dan situasi sosial politik pada  kurun waktu tertentu.   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:100%;"&gt;  &lt;b&gt;5. Belajar dengan bergerak. &lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Gerak manusia, menyentuh sambil berbicara dan menggunakan tubuh  untuk mengekspresikan gagasan adalah salah satu cara belajar yang  menyenangkan. Mereka yang biasanya mudah memahami atau menyerap  informasi dengan cara ini adalah  kalangan penari, olahragawan. Jadi jika Anda termasuk kelompok yang aktif, tak  salah mencoba belajar sambil tetap melakukan beragam aktivitas menyenangkan  seperti menari atau berolahraga.   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:100%;"&gt;  &lt;b&gt;6. Belajar dengan bersosialisasi. &lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Bergabung dan membaur dengan orang lain adalah cara terbaik mendapat informasi dan  belajar secara cepat. Dengan berkumpul, kita bisa menyerap berbagai informasi terbaru  secara cepat dan mudah memahaminya. Dan biasanya, informasi yang didapat dengan cara  ini, akan lebih lama terekam dalam ingatan.   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:100%;"&gt;  &lt;b&gt;7. Belajar dengan Kesendirian. &lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Ada sebagian orang yang gemar melakukan segala sesuatunya, termasuk belajar dengan  menyepi. Untuk mereka yang seperti ini, biasanya suka tempat yang tenang dan  ruang yang terjaga privasinya. Jika Anda termasuk yang seperti ini, maka  memiliki kamar pribadi akan sangat membantu Anda bisa belajar secara mandiri.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.depdiknas.go.id/"&gt;Depdiknas.go.id &lt;/a&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-1286781027157712642?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/1286781027157712642/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=1286781027157712642' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/1286781027157712642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/1286781027157712642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/07/gaya-belajar-efektif.html' title='Gaya Belajar Efektif'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-6205589434501025655</id><published>2009-07-10T08:19:00.000-07:00</published><updated>2009-07-10T08:19:00.620-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Mental - Moral'/><title type='text'>Si 2 Tahun Dibiasakan Sopan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam menggunakan kata-kata sapaan yang sopan, si kecil perlu pembiasaan. Lebih penting lagi orang tua konsisten berperilaku santun karena merupakan role model bagi anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Orang tua senang jika buah hatinya berperilaku sopan pada orang yang ditemuinya. Tapi, bagaimana Della bisa bangga bila Tonny, putranya yang berusia 2,5 tahun, tiba-tiba menyapa “Oom gendut… Oom gendut” pada atasan Della ketika mereka hadir dalam family gathering kantor Della.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Orang tua punya tugas pengasuhan agar putra-putrinya berperilaku baik dan sopan. Tapi, apa sih arti bersikap sopan? Sikap sopan seperti apa yang perlu dikuasai si dua tahun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Melihat orang dewasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bergaul dapat mulai diajarkan seiring berkembangnya kemampuan anak berkomunikasi. Menurut Dr. Karin Grossmann , psikolog perkembangan dari Regensburg, Jerman, begitu si kecil bisa berbicara, ia bisa belajar mengucapkan kata-kata sapaan seperti “selamat siang” atau “sampai jumpa”. Namun dalam menggunakan kata-kata tersebut, diperlukan pembiasaan. Tentu sulit bagi anak untuk menyapa orang lain, bila dalam keluarga Anda tidak ada kebiasaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hingga usia tiga tahun, anak akan melihat dan meniru apa yang dilakukan orang-orang dewasa di sekitarnya. Mereka adalah role model bagi si kecil. Maka jangan harap anak Anda bisa sopan kalau Anda sendiri tak tahu bagaimana bersikap sopan pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebagian orang dewasa berperilaku sangat paradoks. Pada satu sisi berharap si kecil bersikap ramah, meski ia sendiri tidak berlaku demikian. Misalnya, Anda tak perlu kesal bisa seorang anak (bukan anak Anda) tidak menyapa Anda lebih dulu. Apa salahnya bila Anda yang menyapa lebih dulu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Beri penjelasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada usia kira-kira dua tahun, anak sudah bisa menangkap penjelasan Anda. Misalnya, mengapa harus makan menggunakan sendok dan garpu. Atau, tidak boleh mencecap lidah karena bisa mengganggu kenyamanan makan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bila ia menyakiti orang lain, misalnya mengambil barang milik orang lain tanpa meminta, Anda perlu mulai menerangkan dari perspektif orang lain. Katakan, bila teman anak bilang ingin meminjam mainan, apakah si kecil lebih senang dibanding jika si teman langsung mengambilnya tanpa meminta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Anda bisa memanfaatkan acara bermain sebagai bagian anak belajar sopan santun. Misalnya, ketika bermain “memberi-menerima”. Ketika meminta, ajarkan si kecil mengucapkan “Boleh minta?” dan ketika menerima mengucapkan “Terima kasih”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Agar anak lebih cepat dapat menangkap pelajaran sopan-santun, perlihatkanlah mimik wajah yang jelas. Seperti ketika mengatakan, “Halo! Apa kabar?” ucapkan dengan mata membesar dan suara yang lantang. Mimik semacam ini perlu dipelajari anak untuk mengungkapkan sopan santun, bukan sebagai riasan belaka, namun muncul dari dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eleonora Bergita &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-6205589434501025655?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/6205589434501025655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=6205589434501025655' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6205589434501025655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6205589434501025655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/07/si-2-tahun-dibiasakan-sopan.html' title='Si 2 Tahun Dibiasakan Sopan'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-5229523059102511856</id><published>2009-07-05T05:05:00.000-07:00</published><updated>2009-07-05T05:05:00.374-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kemampuan Berpikir anak'/><title type='text'>Mengasah Perkembangan Berpikir Si Balita</title><content type='html'>Agar si kecil bisa belajar bernalar sedini mungkin, rancanglah berbagai kegiatan baginya. Perhatikan dengan cermat tahapan perkembangan kognitifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Anda seperti Jenny yang selalu kesal jika Adri, putranya, membuka-buka isi tas tangannya dan mengeluarkan semua benda di dalamnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tunggu dulu. Tidakkah Anda ingin tahu mengapa si kecil melakukan itu? Jangan remehkan anak, meski masih kecil, pikirannya berproses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya si kecil mengasah kemampuan kognitifnya, bisa jadi, membuat Anda kesal karena rumah jadi berantakan atau Anda cemas karena ia mengutak-utik benda berbahaya. Tapi, tak perlu buru-buru melarang si kecil. Apa yang dilakukannya itu mengasah pikirannya, menjadikannya lebih pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar berpikir bersama orang sekitar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu lahir anak melakukan interaksi dengan lingkungannya. Ketika ia menangis, ibu menghampiri untuk melihat apakah popoknya basah, dan kemudian menggantinya. Dari interaksi ini anak mulai paham bahwa ia dapat melakukan sesuatu untuk memperoleh yang diinginkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski periode pacu tumbuh otak ( brain growth spurt ) anak dimulai sejak berusia 3 bulan dalam rahim ibu namun, setelah lahir, aktivitas berpikir ini merupakan proses sosial. Jadi anak belajar berpikir bersama orang-orang di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan kognitif adalah proses kegiatan akal budi untuk mengetahui sesuatu. Proses berpikir anak terjadi ketika ia gembira, ketika mengenali wajah ibu atau ayahnya, atau ketika ia bisa menuangkan apa yang dilihatnya dalam dunia nyata ke dalam gambar.&lt;br /&gt;Yang jelas, dengan memahami cara manusia bernalar, Anda juga dapat merancang kegiatan apa yang sesuai bagi si kecil sesuai usianya ( Lihat boks: Tahap Perkembangan Logika Balita ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya nalar berkembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda melihat si satu tahun asyik meneliti mainan yang dipegangnya? Selama berapa lama ia seperti tak bisa lepas dari benda itu. Memang, sebuah proses berpikir tengah terjadi di benaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jean Piaget , [J1] pakar psikologi perkembangan dari Swiss, mengungkap bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungannya, sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Usia 0 – 4 bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi memiliki gerak refleks. Dengan bertambahnya usianya dan perkembangan keterampilan fisik dan emosi-sosialnya, refleks perlahan digantikan gerak yang merupakan hasil dari proses berpikir anak. Gerakan ini semakin kompleks dari hari ke hari. Si kecil tahu ia melakukan sesuatu untuk tujuan tertentu. Ketika Anda memberikan puting susu, misalnya, ia membuka mulutnya sesuai ukuran puting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Usia 4 – 8 bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi mulai memahami “sebab-akibat”. Ia, misalnya, akan tertawa-tawa senang ketika Anda menggodanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Usia 8 – 12 bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi mulai suka membuang-buang mainannya karena tahu Anda akan segera mengambilkannya. Ia sedang mengeksplorasi lingkungannya untuk mengetahui bagaimana benda yang dibuangnya bisa kembali kepadanya. Jika tak membahayakan, tak perlu melarang segala tingkahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Mulai usia 12 bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak ulang tahunnya yang pertama, ia mulai bisa mengenali sebuah benda meski benda itu tak lagi ada di hadapannya.. Ia juga mulai mengenali benda yang tidak kongkret. Pada akhir tahap sensor motorik ini, keterampilan berbahasa si kecil mulai tampak. Ia bisa melakukan komunikasi. Dengan mengajaknya bercakap dan mengeksplorasi keterampilan bahasanya, anak semakin terampil menerima, menyimpan dan mengolah informasi yang diterimanya. Keterampilan ini merupakan aspek penting dalam berlogika&lt;br /&gt;Rasa ingin tahu yang besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai umur dua tahun, perkembangan keterampilan motoriknya mendorong daya nalarnya berkembang lebih pesat lagi. Rasa ingin tahu akan dunia sekelilingnya meningkat. Dan, ia berusaha keras memenuhi keingintahuannya. Rangsang apa yang bisa Anda berikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Beri anak rumah imajiner, yang terbuat dari dua kursi yang ditutupi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selimut. Ia bisa berjam-jam menghabiskan waktu untuk bermain dalam ‘rumah’nya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Mintalah kakak mengajak adik bermain boneka tangan bersama. Selain melatih imajinasi, keterampilan bahasa si kecil pun berkembang. Permainan pura-pura seperti ini membantu si kecil menarik benang merah antara dirinya dengan lingkungan sosial yang lebih luas. Di kemudian hari permainan ini membantu anak berani berpikir dengan perspektif berbeda.&lt;br /&gt;Lewat pengalaman sehari-hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia sekitar masih menjadi objek eksplorasi yang sangat kaya bagi anak. Apa yang bisa Anda lakukan bersamanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Tumbuhan, batu, binatang, angin atau udara bisa menjadi materi belajar yang mengasyikkan baginya. Ajaklah si kecil ke kebun di depan. Tunjukkan padanya bagaimana tumbuhan bertumbuh, terus berkembang hingga akhirnya berbunga dan berbuah. Mengenal proses hidup tumbuhan merangsang daya nalar anak akan siklus kehidupan dan membuatnya menghargai kehidupannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Anak juga bisa belajar dari air. Ia dapat mengambil air dengan gelas lalu menuangnya ke gelas lain. Melalui kegiatan ini ia bisa paham bahwa bentuk air akan berubah bila diletakkan di sebuah bentuk yang berbeda. Ajaklah ia berdiskusi tentang hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bermusik juga bisa mengasah daya nalar anak. Lihat bagaimana ia menggerakkan tangan dan kakinya mengikuti irama. Dari sini dapat kita lihat bahwa pesan yang disampaikan telinganya diolah oleh pikirannya untuk kemudian menentukan gerakan mana yang sesuai dengan musik yang sedang terdengar. Ini adalah sebuah proses bernalar yang rumit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kenalkan si kecil pada konsep matematika melalui berhitung. Ia senang bila berhasil membuat kategori. Ajaklah anak membuat pola, misalnya mengelompokkan piring dengan piring, gelas dengan gelas, atau membuat pengelompokan berdasarkan warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* D i usia lima tahun, ia bisa menggunakan bahasa bilangan, seperti mengenal konsep angka dengan menghitung jumlah barang yang ada di depannya. Ajaklah si kecil bermain tebakan dengan menggunakan konsep bilangan yang mulai dikuasainya itu. Ajaklah ia menyusun potongan-potongan puzzle menjadi sebuah bentuk sederhana. Kegiatan yang mengasah keterampilan kognitif ini memberinya rasa percaya diri jika ia berhasil menyelesaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat begitu pesatnya perkembangan berpikir si kecil, Anda patut berbangga. Kebahagiaan Anda menemani si kecil menjalani masa emas periode tumbuh kembangnya mengantar si kecil bak ulat yang menjadi kupu-kupu untuk terbang ke angkasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eleonora Bergita&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-5229523059102511856?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/5229523059102511856/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=5229523059102511856' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/5229523059102511856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/5229523059102511856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/07/mengasah-perkembangan-berpikir-si.html' title='Mengasah Perkembangan Berpikir Si Balita'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-3101081272247205269</id><published>2009-07-01T01:09:00.000-07:00</published><updated>2009-07-01T01:09:01.281-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Seks'/><title type='text'>Pendidikan Seks Anak, Ungkapkan dengan Cara Sederhana</title><content type='html'>MEMBAHAS masalah seks pada anak memang tidak mudah. Alasan tabu harus disingkirkan jauh-jauh. Namun, mengajarkan pendidikan seks pada anak harus diberikan agar mereka tidak salah mendapatkan informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan seks tidak hanya terbatas pada pemahaman organ seksual beserta fungsinya. Pendidikan seks didefinisikan sebagai pendidikan mengenai anatomi organ tubuh yang dapat dilanjutkan pada reproduksi seksual dan peran yang harus dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengajarkan pendidikan seks sedini mungkin, menghindarkan anak dari risiko negatif perilaku seksual. Karena dengan sendirinya, anak akan tahu mengenai seksualitas dan akibat- akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama, dan adat istiadat, serta kesiapan mental dan material seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada penekanan makna yang lebih luas sebagai individu perempuan maupun laki-laki, yakni seorang perempuan bisa menghargai keperempuanannya. Sementara, seorang pria dapat menghargai kelaki-lakiannya sehingga masing-masing menghargai lawan jenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan seks sudah bisa dimulai saat anak masih bayi, bahkan sejak dalam kandungan. Limpahan kasih sayang akan membuat bayi merasa nyaman. Tak hanya secara emosional, juga fisik, yaitu rasa nyaman dengan tubuhnya. Rasa nyaman pada tubuh ini sudah menjadi bagian dan pendidikan seksualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedini mungkin, anak sudah mulai dikenalkan mengenai perbedaan jenis kelamin berikut anggota-anggota tubuh. "Supaya kelak anak tidak shock dan mengalami gagap sosial. Dalam artian, tidak mengerti keadaan dirinya dan orang lain," kata psikolog dari RS St Elisabeth, Semarang, Probowatie Tjondronegoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbarengan dengan hal tersebut, anak juga diajari dengan kesopanan dan norma- norma yang ada. Sebagai contoh, orangtua meminta anak menggunakan handuk saat keluar dari kamar mandi, lalu mengenakan pakaian di dalam kamar. Bisa juga langsung memakai baju di kamar mandi. Dengan memulai dari hal-hal sederhana, kelak saat beranjak dewasa, anak memahami bahwa ada hal-hal yang bersifat pribadi yang seharusnya tidak dipertontonkan di depan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain, orangtua dapat pula mengajari anakanak membersihkan alat kelaminnya sendiri. Mengajari anak untuk membersihkan alat genitalnya dengan benar setelah buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB) agar anak dapat mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Pendidikan ini pun secara tidak langsung dapat mengajari anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan alat kelaminnya. Masih ada contoh lagi, Probo menyebutkan, saat anak hendak pipis dan memelorotkan celananya sebelum masuk kamar mandi, orangtua bisa mencegahnya. Ajarkan anak untuk membuka celana di dalam kamar mandi kalau mau pipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui pembelajaran pendidikan seks sedini mungkin diharapkan ada konsep diri positif. Dengan begitu anak berupaya menjaga dan menghargai diri dan lawan jenisnya. Pendidikan seks juga harus mengenalkan perbedaan lawan jenis. Anak perempuan perlu tahu apa yang terjadi pada anak laki-laki, seperti perubahan fisik, emosional, dan lain-lain. Begitu juga anak laki-laki mengetahui hal-hal yang terjadi pada anak perempuan, seperti soal menstruasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara menyampaikan pendidikan seksual itu pun tidak boleh terlalu vulgar karena justru akan berdampak negatif pada anak. Nama alat kelamin anak hendaknya disebutkan sesuai nama ilmiahnya. "Sebutkan saja bahasa latinnya vagina untuk alat kelamin perempuan dan penis untuk kelamin laki-laki. Jika anak-anak sudah mulai dikenalkan sejak kecil saat beranjak remaja, nama-nama itu tidak menjadi bahan tertawaan karena tidak tahu," saran wanita ayu ini.&lt;br /&gt;(sindo//tty)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-3101081272247205269?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/3101081272247205269/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=3101081272247205269' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3101081272247205269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3101081272247205269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/07/pendidikan-seks-anak-ungkapkan-dengan.html' title='Pendidikan Seks Anak, Ungkapkan dengan Cara Sederhana'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-2155474005354488516</id><published>2009-06-29T03:15:00.000-07:00</published><updated>2009-06-29T03:15:01.364-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><title type='text'>Kemampuan menulis anak</title><content type='html'>Sumber: Diskusi milis DI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memiliki kemampuan berbahasa lisan tidak menjamin memiliki kemampuan berbahasa tulis (menulis), karena dalam bahasa tulis, tata bahasa berperanan penting. Tidak hanya tata bahasa baku, tapi juga penguasaan kata-kata yang cukup banyak dan kaidah-kaidah menulis yang benar. Memiliki kemampuan verbal yang baik (misalnya jago presentasi, jago pidato, jago debat) juga tidak menjamin memiliki kemampuan menulis yang baik pula, demikian sebaliknya. Walaupun tidak juga tertutup kemungkinan seseorang memiliki keduanya, yaitu mampu menggerakkan massa dengan pidatonya sekaligus juga mampu menulis buku."[fy]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan nakut-nakuti, kebetulan ada anaknya temen kakakku yang punya kasus, dia baru kembali dari Inggris, ketika itu dia TK, ternyata dia tidak bisa nulis, tapi sudah mulai bisa membaca. Sampai di sini, dibawa ke psikolog, rupanya si anak hanya malas. Karena di sekolahnya dia sering menggunakan komputer, yang hanya titidakl memencet' keyboard' akan keluar hurufnya. Meski di sekolahnya diajar menulis, tapi dia tidak mau kalau disuruh menulis. Kasus lain, anak umur 5 tahunan belum bisa nulis (meski pun mencontek) padahal umur 2 tahun dia sudah tahu semua abjadi (huruf besar dan kecil). Menggambar pun tidak pandai. Ketika di bawa ke psikolog ,ternyata memang motorik halusnya kurang bagus (kurang dilatih), sekarang dia udah SD, sudah mau nulis, meski harus 'perang 'dulu sama ibunya, tapi kalau tidak salah masih tetap terapi. Ini hanya untuk waspada, tidak perlu panik. Celengan, selain mengajar menabung juga salah satu cara melatih motorik halus sejak usia satu tahun."[nn]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ternyata kasus 'males' memang benar ya bikin anak tidak bisa menulis. Anakku umur 3 tahun, apa sudah harus dipaksa belajar menulis? Karena setahuku, anak resmi belajar membaca dan menulis itu kelas 1 SD. Jadi sebetulnya kalau test masuk SD sudah harus bisa baca dan tulis, itu tidak layak."[qs]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengalaman lain, anak temanku sampai usia 6 tahun susah sekali disuruh menulis. Tapi pas ultah ke-6, dia langsung bisa menulis sendiri tuh. Maknya, SD itu dulu mulai umur 7 tahun, jadi sesuai perkembangan si anak."[ss]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku bagi resep cara mengajarkan anak membaca dengan cepat, mudah-mudahan dengan cara ini berhasil. Ini aku praktekin buat anakku atas saran seorang ibu yang punya tempat terapi. Buat potongan karton dengan ukuran 3X12 atau 3X15 cm. Nanti kartu ini digambar dan diberi keterangan. Misalnya gambar mata terus disebelah gambar ditulis "m a t a", atau "s e p a t u", dst. Kalau mau awet kartunya dilaminating agar dapat digunakan untuk adiknya nanti. Kalau kita tidak bisa gambar, gunting dari majalah yang tidak kepakai lagi. Mulanya mereka belajar dari gambar baru lihat tulisannya, nanti lama-lama kalau gambarnya kita tutup dia jadi hapal tulisannya. Setelah itu buatkan persiapkan lagi kartu yang terdiri dari suku kata, contoh : untuk "mata" berarti ada "ma" dan "ta". Aku melihat cara ini justru lebih efektif daripada mengajarkan anak-anak dengan suku kata dulu baru dengan kata. Kalau malas bikin kartunya, beli aja. Dulu aku sempat lihat di toko buku ada yang jual perpak isinya sekitar 20 atau 30.Dan masing-masing kartu ada temanya, misalnya binatang, atau tumbuhan. Kartu itu malah ada bahasa Inggrisnya segala. Untuk menulis, aku disaranin sama Prof. Mc Carthy dulu untuk nempelin kertas didinding dan biarkan mereka menulis dengan berdiri. Ini bagus buat anak-anak yang motoriknya kurang baik, sehitidak tidak cuma pergelangan tangan saja yang bergerak tapi bahunya juga bergerak. Selain itu latihan membuka/menutup keran juga baik untuk melatih motorik tangan anak-anak kita, tapi kerannya jangan yang model bertangkai yang titidakl digeser itu lho. Pakai keran yang bulat tuh, terus agak kita kencengin dikit lalu biarkan si kecil untuk membukanya. Banyak sih cara lain kalau kita kreatif, tinggal niat kita saja."[dn]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalo aku dulu pengenalan huruf ke anakku waktu kecil dengan buku bergambar (buku pocket kecil), jadi ada gambar gajah, lalu tulisannya gajah, gambar ikan, dst, ada yang bahasa inggris dan bahasa indonesia, cuman kadang problemnya anakku tidak bener-bener tahu tulisannya apa, asal 'nyebut' karena lihat gambarnya, contohnya ada gambar botol, disebut mestinya botol, anakku bilangnya "cuka", gara-gara di dapur ada botol cuka, atau dengan main monopoli, jadi karena pengin main, apa boleh buat terpaksa dia belajar baca, misalnya sampai dikota mana, sambil dibaca, dan disini juga bisa untuk belajar angka dan penjumlahan, jadi kalo dadunya udah dikocok, mau tidak mau terpaksa belajar menjumlah, lalu menjalankan pointnya dengan menyebut angka satu persatu."[rm]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-2155474005354488516?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/2155474005354488516/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=2155474005354488516' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/2155474005354488516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/2155474005354488516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/06/kemampuan-menulis-anak.html' title='Kemampuan menulis anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-3137080395084776424</id><published>2009-06-21T23:19:00.000-07:00</published><updated>2009-06-21T23:19:01.225-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Mental - Moral'/><title type='text'>5 LANGKAH AGAR ANAK TAK "SERAKAH"</title><content type='html'>Tak mau satu, maunya semua! Apa yang harus dilakukan orangtua agar perilaku ini tak keterusan? Suatu sore di hari libur, Immy membuat kue kesukaan anaknya, Bian (4). Begitu selesai, satu stoples berisi kue itu langsung dibawa sang bocah ke kamarnya. "Lo, kok, Mama dan Papa enggak dibagi kuenya, Sayang?" tanya Immy. "Enggak ah. Aku mau semuanya!" Begitu pun di sekolah. Ketika itu ada kegiatan menggambar. Saat guru membagikan satu batang pensil warna untuk masing-masing anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, si prasekolah kadang suka berlaku "serakah", tidak mau berbagi dengan teman-teman, adik, bahkan orangtuanya sendiri. Perilakunya malah terkesan egois, bahwa segala sesuatu yang diberikan kepadanya harus lebih banyak dari yang lain, kalau perlu mendapatkan semuanya. Dia akan merasa bangga karena melebihi yang lain, misalnya, "Ayo lihat nih, aku punya tiga pensil warna. Kamu cuma dapat satu!" Jadi, ada keinginan dalam dirinya untuk mendapatkan sesuatu dalam jumlah yang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sani B. Hermawan, Psi., dalam diri si prasekolah ini, berkembang konsep pemahaman bahwa ingin punya sesuatu dalam jumlah banyak. Dengan kata lain, dia masih cenderung mengutamakan kuantitas ketimbang kualitas. Maka bila mendapatkan jumlah yang lebih banyak, dia pun merasa ada kepuasan. "Di sisi lain, pada dasarnya dalam diri anak ada kebutuhan untuk memuaskan diri dengan cara memiliki atau mendapatkan benda atau apa pun sebanyak-banyaknya," kata Direktur Lembaga Pelatihan Daya Insani, Jakarta ini. Perilaku si prasekolah selain tampak "serakah", juga mau menang sendiri, egois dan sederet label negatif lainya. Sifat individualnya masih sangat dominan sehingga apa pun yang dilakukannya masih terpusat pada dirinya sendiri. Alhasil, ketika diberikan sesuatu, dia malah ingin semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, lingkungan sangat memengaruhi perilakunya yang cenderung "serakah" itu. Misalnya, orangtua yang memberi sesuatu selalu banyak atau berlebihan demi membuat anak merasa puas, entah itu makanan, mainan atau hal lainnya. Dengan begitu, anak akan memersepsikan bahwa sesuatu yang banyak itu memang menyenangkan. Contoh, suatu saat sang ayah memberi hadiah pada si prasekolah mainan tertentu. Akan tetapi, di saat yang sama, ibunya pun memberikan mainan. Lantaran itu, si prasekolah pun tak mendapatkan pelajaran atau suatu pengalaman mengenai "apa yang ia dapatkan" tetapi yang ditangkapnya adalah "berapa banyak yang aku dapatkan". Maka tak perlu heran bila kemudian si prasekolah selalu minta sesuatu dalam jumlah banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 LANGKAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, perilaku "serakah" tentu tak boleh dibiarkan, bukan? Soalnya, bila tak diantisipasi akan mengganggu proses sosialisasinya. Bisa saja kemudian ia dijauhi temannya atau menjadi bulan-bulanan di antara teman-teman. Mumpung hal itu belum terjadi, maka sebagai upaya antisipasinya, lakukan beberapa hal berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Beri penjelasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Jelaskan pada anak bahwa bukan hanya soal jumlah atau banyaknya yang dia dapat, akan tetapi maknanya. Misalnya, ketika guru memberikan masing-masing satu pensil warna dan satu kertas gambar, berarti semuanya itu sama, tak ada yang dibedakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2. Ajarkan berbagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Meski anak usia prasekolah sudah mengetahui konsep berbagi, tapi tak semuanya sudah memahami dengan baik. Jadi perlu terus diajarkan mengenai konsep berbagi ini. Umpamanya, dalam konteks yang sederhana, ketika di sekolah, ajarkan untuk mau berbagi bekal atau kue yang dibawanya dari rumah kepada temannya. Pesankan sebelum berangkat sekolah, "Sayang, Ibu bawakan kamu bekal yang cukup banyak. Nah, nanti di sekolah kamu bagi-bagi sama teman ya." Tak ketinggalan, pesan moral dari konsep berbagi ini, misalnya, "Kalau kamu suka memberi teman, kamu akan disenangi teman."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Nah, dengan seringnya belajar berbagi, lama-kelamaan dia akan terlatih pula untuk tidak menjadi "serakah" lagi. Kemudian, bila anak masih belum mau meminjamkan mainannya, cukup katakan bahwa temannya akan merasa senang bila ia mau meminjamkan mainannya. Atau temannya akan merasa sedih kalau tidak dibolehkan mencicipi makanan miliknya. Dengan begitu, si prasekolah pun belajar untuk berempati pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   3. Konsisten&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Orangtua sebaiknya bersikap konsisten untuk tidak memberi anak sesuatu secara berlebihan. Boleh jadi si prasekolah jadi uring-uringan atau terus merengek lantaran kemauannya untuk mendapatkan sesuatu dalam jumlah banyak tak terpenuhi. Sekali lagi, kita harus tetap konsisten. Kalau kita "mengalah", justru itu akan dijadikan senjata oleh anak di kemudian hari. Jadi, dalam masa pembelajaran ini, sebaiknya kita tak selalu menuruti kemauannya yang cenderung berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   4. Dukungan lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kalaupun anak mulai mau belajar untuk tidak "serakah" lagi, akan tetapi bila lingkungannya tak mendukung, ya tentu sikap buruknya itu akan sulit diubah. Contoh dari orangtua pun sangat besar pengaruhnya. Tradisi bertukar bingkisan atau makanan dengan tetangga atau bersedekah kepada peminta-minta menjadi contoh yang lambat-laun ikut mengikis sikap serakah dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Akan tetapi, boleh jadi, si prasekolah sulit untuk meninggalkan perilaku "serakah"nya itu. Soalnya, sesuatu yang dimilikinya itu seolah merupakan bagian dari dirinya. Maka, untuk menghadapi hal ini orangtua perlu usaha yang lebih giat untuk memberi pengertian dan penjelasan pada si prasekolah. Memang, jangan berharap si prasekolah langsung bisa memahami maksud kita. Begitu pun kita tak boleh memaksa anak untuk mau berbagi, karena justru hasilnya takkan maksimal. Toh, secara naluri, tiap orang termasuk anak-anak sebenarnya memiliki kemampuan untuk mau memberi, berbagi dan menolong orang lain. tinggal bagaimana kita mengasah kemampuannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   5. Jangan beri label&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Poin terakhir, yang tak kalah pentingnya adalah jangan sampai si prasekolah dijuluki si "serakah" atau si "pelit". Jadi sebaiknya hindari pelabelan seperti itu. Pasalnya, kata-kata ini justru akan membuatnya merasa disalahkan atau tak berharga. Perlu diketahui, pada dasarnya ia memang belum paham mengenai perilaku apa yang diharapkan, lantaran masih memandang dirinya sebagai orang yang paling penting. Ini karena dia masih bersikap egosentris. Jadi sekali lagi, jangan sampai menggunakan julukan yang menyudutkan si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Sumber : tabloid-nakita.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-3137080395084776424?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/3137080395084776424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=3137080395084776424' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3137080395084776424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3137080395084776424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/06/5-langkah-agar-anak-tak-serakah.html' title='5 LANGKAH AGAR ANAK TAK &quot;SERAKAH&quot;'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-8563164125582085573</id><published>2009-06-15T23:01:00.000-07:00</published><updated>2009-06-15T23:01:00.404-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Autis'/><title type='text'>Mengenal Autisme</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:brown;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:brown;"&gt;Secara garis besar, Autisme, adalah gangguan perkembangan khususnya  terjadi pada masa anak-anak, yang membuat seseorang tidak mampu  mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunianya  sendiri. Pada anak-anak biasa disebut dengan &lt;i&gt;Autisme Infantil&lt;/i&gt;.  Selain Autisme juga dikenal istilah &lt;i&gt;Schizophrenia&lt;/i&gt; yang juga  merupakan gangguan yang membuat seseorang menarik diri dari dunia luar  dan menciptakan dunia fantasinya sendiri seperti: berbicara, tertawa,  menangis, dan marah-marah sendiri.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:brown;"&gt;Tetapi ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari Autisme pada  penderita Schizophrenia dan penyandang autisme infantil. Schizophrenia  disebabkan oleh proses regresi karena penyakit jiwa, sedangkan pada  anak-anak penyandang autisme infantil terdapat kegagalan perkembangan.  Gejala autisme infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun.  Pada sebagian anak, gejala-gejala itu sudah ada sejak lahir. Seorang  Ibu yang sangat cermat memantau perkembangan anaknya bisa melihat  beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia 1 tahun. Yang sangat  menonjol adalah tidak adanya atau sangat kurangnya tatap mata.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:brown;"&gt;Untuk memeriksa apakah seorang anak menderita autis atau tidak,  digunakan standar internasional tentang autisme. ICD-10 (International  Classification of Diseases) 1993 dan DSM-IV (Diagnostic and Statistical  Manual) 1994 merumuskan kriteria diagnosis untuk Autisme Infantil  yang isinya sama, yang saat ini dipakai di seluruh dunia. Kriteria  tersebut adalah :  Harus ada sedikitnya 6 gejala dari (1), (2), dan (3) seperti di bawah  ini, dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing 1 gejala dari  (2) dan (3).  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;ol type="1"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:brown;"&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt; Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Minimal harus ada 2 dari gejala di bawah ini : &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai : kontak  mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak gerik kurang  tertuju &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak bisa bermain dengan teman sebaya &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tak ada empati (tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini :  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang. Anak  tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk  berkomunikasi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat  meniru &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt; Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam  perilaku, minat, dan kegiatan.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini :  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat  khas dan berlebihan &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang  tidak ada gunanya &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:brown;"&gt;Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang (1) interaksi sosial, (2) bicara dan berbahasa, dan (3) cara bermain yang monoton, kurang variatif. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Kanak. Namun kemungkinan kesalahan diagnosis selalu ada, terutama pada autisme ringan. Hal ini biasanya disebabkan karena adanya gangguan atau penyakit lain yang menyertai gangguan autis yang ada, seperti retardasi mental yang berat atau hiperaktivitas. Autisme memiliki kemungkinan untuk dapat disembuhkan, tergantung dari berat tidaknya gangguan yang ada. Berdasarkan kabar terakhir, di Indonesia ada 2 penyandang autis yang berhasil disembuhkan, dan kini dapat hidup dengan normal dan berprestasi. Di Amerika, di mana penyandang autisme ditangani secara lebih serius, persentase kesembuhan lebih besar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:brown;"&gt;Bila Anda membutuhkan informasi yang langsung dan detail tentang  autisme, bisa menghubungi alamat di bawah ini :  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:brown;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:brown;"&gt; Yayasan Autisma Indonesia&lt;br /&gt;Jl. Buncit Raya No. 55, Jakarta Pusat&lt;br /&gt;Telp. 021 - 7971945 - 7991355 &lt;/span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:brown;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:blue;"&gt;Sumber : Simposium Autisme Masa Kanak (Semarang,  24-10-1998)&lt;/span&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-8563164125582085573?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/8563164125582085573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=8563164125582085573' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/8563164125582085573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/8563164125582085573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/06/mengenal-autisme.html' title='Mengenal Autisme'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-166562615353192332</id><published>2009-06-10T08:18:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T08:18:00.721-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernak-Pernik Sekolah'/><title type='text'>Si 5 Tahun Siap- Siap Masuk SD</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dapat mengikuti pelajaran di SD dengan baik, anak perlu persiapan tertentu. Bagaimana Anda membantu si 5 tahun memasuki ‘dunia baru’ ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana di TK memang berbeda dengan di SD. Di TK, Adri masih diperbolehkan tidak mengikuti pelajaran ketika ia merasa tidak bisa mengikuti pelajaran di kelas. Dan, sepulang sekolah pun ia masih bisa bermain sepuasnya. Bila sudah duduk di SD, ia tak lagi bisa leluasa melakukan hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di SD, Adri harus tahan duduk di bangku hingga pelajaran berakhir. Disamping itu, hampir setiap hari ia mendapat Pekerjaan Rumah (PR) yang wajib dikerjakannya, sehingga tak ada lagi waktu untuk bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk siap mengikuti pelajaran di SD, si kecil memang harus melalui proses penyesuaian diri. Jika tak siap, ia akan mengalami kesulitan yang cukup berarti dalam menjalani masa belajarnya. Kematangan seperti apa yang perlu dipunyai si 5 tahun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Belajar menunggu giliran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan masuk SD perlu dilakukan agar masa sekolah ini tidak menyiksa anak. Menurut guru sekolah SD dan psikolog sekolah di Jerman, Alexandra Emrich , salah satu yang perlu dimiliki anak adalah ia belajar sabar dalam menunggu hingga gilirannya tiba. Dalam proses belajar, anak seringkali digilir dalam menjawab pertanyaan. Anak yang belum matang akan mengalami kesulitan. Anda perlu mengajari si 5 tahun kemandirian dalam menunggu gilirannya. Anda dapat mengajarkannya, misalnya, saat Anda dan si kecil antre membayar belanjaan di pasar swalayan. Katakan padanya bahwa semua orang harus antre, dan orang yang sudah besar mesti mengikuti aturan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain belajar menunggu, anak juga harus menunjukkan kesanggupan berprestasi. Ini bisa dipraktekkannya sehari-hari di rumah, seperti memberi makan kucing, dan menyiapkan meja untuk makan malam. Dalam menyelesaikan tugasnya ini, anak belajar bahwa ia mendapat kepuasan karena telah mengerjakan suatu tugas, walau terkadang tak menyukainya. Si 5 tahun pun perlu termotivasi bahwa setiap tugas adalah tuntutan yang penuh tantangan untuk diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, anak pun diharapkan sanggup mengemukakan perasaan dengan cara yang bisa diterima orang lain, tahan duduk diam untuk mengikuti pelajaran dalam jangka waktu lama dan terampil menyelesaikan tugas. Semua ini sangat diperlukan sebagai tanda kemantangan si kecil untuk belajar di SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Melatih agar siap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Anda tahu anak siap bersekolah di SD? Anda bisa mendeteksi dengan melihat keterampilannya sehari-hari. Apakah, misalnya, ia bisa mengenakan atau melepas jaket, mengenakan celana dan kaos, atau mengenakan sepatunya sendiri? Bila belum bisa melakukan itu semua, si 5 tahun akan mengalami kesulitan saat mengikuti pelajaran olahraga, misalnya. Untuk itu Anda bisa melatih anak mengenakan dan melepas baju olahraganya dengan sabar, sebelum ia betul-betul harus melakukannya sendiri di kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterampilan lain, seperti menggunting, melukis dengan tinta yang tipis, atau siap menyeberang jalan perlu pula dikuasainya. Hal ini akan memudahkan si kecil menyesuaikan diri dengan situasi belajar sehari-hari di SD. Bukankah di SD ini Anda atau pengasuhnya tak bisa lagi menemaninya di lingkungan sekolah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, untuk mempermudah si kecil mempersiapkan diri saat akan berangkat sekolah, Anda dapat mendukungnya dengan, misalnya, membelikan sepatu tanpa tali agar tidak menyulitkannya jika mengenakan sepatu sendiri. Bila masa awal belajarnya bisa dilalui dengan baik, si 5 tahun akan merasa percaya diri dalam menempuh pendidikannya di SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eleonora Bergita&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-166562615353192332?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/166562615353192332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=166562615353192332' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/166562615353192332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/166562615353192332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/06/si-5-tahun-siap-siap-masuk-sd.html' title='Si 5 Tahun Siap- Siap Masuk SD'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-4984899241324618125</id><published>2009-06-05T05:04:00.000-07:00</published><updated>2009-06-05T05:04:00.521-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Matematika'/><title type='text'>Si 5 Tahun Jago Matematika</title><content type='html'>Matematika ada dalam kehidupan sehari-hari anak: operasi penjumlahan, pengurangan, dan pengenalan bentuk geometri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang tua pada umumnya, balita terlalu muda untuk bermatematika. Padahal, pengenalan si kecil dengan kegiatan matematis telah berlangsung sedini mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Matematika adalah bidang yang merupakan kumpulan dari bermacam pola. Tak ada satu pun kegiatan yang lebih disukai anak-anak kecil, selain mencari dan mengenali berbagai pola dalam dunianya,” jelas Gerhard N. Mueller , profesor didaktika matematika dari Dortmund, Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola yang menarik perhatian bayi dan batita, misalnya susunan batu bata yang saling berseling, juga pola rajut karpet yang memiliki pola susunan unik. Hal-hal sederhana semacam itu kerap kali tak disadari orang tua sebagai kegiatan matematis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk si lima tahun, bidang matematika mencakup kegiatan yang lebih canggih. Misalnya, pengenalan bentuk-bentuk geometri, pengenalan angka belasan dan puluhan, termasuk juga pengenalan beragam operasi matematika, seperti penjumlahan dan pengurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, orang tua tak perlu khawatir anak-anak terlalu dini berkenalan dengan matematika. Sebab, keseharian menuntun mereka lebih akrab dan mahir dengan matematika. Sebagai contoh, si lima tahun menyadari permen jelinya berkurang dalam kemasan setiap kali ia mengambil satu dan mengunyahnya. Selajutnya, mulailah ia berhitung sisa yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar menggunakan ‘rasa’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang juga menonjol pada si lima tahun, ia mulai melibatkan seluruh inderanya saat berhitung. Selain menjumlah dan mengurangi menggunakan bantuan jemari, si lima tahun, bahkan beberapa anak usia empat tahun, memiliki insting bahwa hasil sebuah penjumlahan salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak usia empat sampai lima tahun biasanya sibuk memahami, apakah mungkin empat tambah dua sama dengan 10 atau 12 atau delapan? Mereka belajar merasakan kebenaran, meskipun menebak langsung hasil yang benar juga menyenangkan,” jelas ahli matematika asal Skotlandia, Augustinus de Morgan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya pun demikian. Si lima tahun yang cerdik mengetahui bahwa jumlah yang Anda sebut secara asal adalah jawaban yang salah, hanya dengan merasakan, menggunakan naluri. Anda bisa jadi terkejut melihat, bagaimana si lima tahun semakin mahir dan jenius di bidang ini, melalui pengalaman-pengalaman sederhana dalam keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang penting dilakukan orang tua adalah membimbing anak tanpa memaksa. Bimbingan yang menstimulasi dan menggugah semangat si kecil mengenal dunia matematika perlu dilakukan orang tua. Seperti, mengenalkan berbagai bentuk geometri, membaca jam atau menghitung jumlah potongan wortel dalam sup yang dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, tak perlu buru-buru mengoreksi jika si kecil salah menghitung atau memahami sebuah fenomena matematis. Kesalahan dalam matematika, meminjam kata Prof. Mueller, adalah hal yang indah dan ‘luar biasa’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tak perlu merasa harus segera mengoreksi, cukup beri sedikit petunjuk. Biarkan anak mendapatkan hasil dengan caranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi Maerzyda A. D. Th.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-4984899241324618125?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/4984899241324618125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=4984899241324618125' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/4984899241324618125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/4984899241324618125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/06/si-5-tahun-jago-matematika.html' title='Si 5 Tahun Jago Matematika'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-3896398822837234412</id><published>2009-06-01T01:00:00.000-07:00</published><updated>2009-06-01T01:00:01.047-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Pendidikan'/><title type='text'>Pendidikan Tinggi, Bikin Panjang Umur</title><content type='html'>ADA resep sederhana ingin panjang umur, teruslah sekolah dan belajar. Sekolah bisa membuat seseorang peduli kesehatan dan pola hidup sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda punya niat melanjutkan sekolah, mungkin penelitian para ilmuwan dari Harvard School of Medicine bisa menambah meyakinkan Anda. Lho mengapa? Berdasarkan penelitian para ilmuwan menunjukkan, orang yang memiliki pendidikan lebih baik berpeluang panjang umur semakin besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kurun waktu 1990-2000 berdasarkan penelitian diketahui bahwa orang yang tingkat pendidikannya tidak lebih dari sekolah menengah atas (SMA), tidak mengalami peningkatan rasio panjang umurnya. Berbeda jika dibandingkan orang yang pendidikannya di atas SMA, rasio pertambahan umur meningkat 1,5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seorang yang berusia 25 tahun dengan tingkat pendidikan SMA, peluang hidupnya bisa sampai usia 50 atau 75 tahun. Sementara itu, orang yang tingkat pendidikannya lebih tinggi dari SMA, peluang hidupnya mencapai usia 80-81,6 tahun. Perbedaannya sangat besar," papar Ellen Meara, asisten profesor kebijakan kesehatan dari Harvard Medical School, seperti dilansir Associated Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa semakin tinggi pendidikan seseorang membuat peluang hidupnya semakin lama? Meara beralasan, dengan tingkat pendidikan tinggi, seseorang bisa besar kemungkinannya mendapatkan akses lebih baik mengenai informasi berbagai ancaman penyakit dan jenis pengobatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Umumnya orang yang kurang mendapat informasi kebanyakan meninggal karena mengalami berbagai penyakit yang tak diketahui. Berbeda dengan orang yang mendapatkan informasi, mereka lebih tahu bagaimana pola hidup sehat dan teknologi kesehatan yang bisa memperbaiki tingkat kehidupannya," jelas Meara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meara mencontohkan, orang yang memiliki pendidikan tinggi biasanya akan memiliki pola hidup sehat dan mudah meninggalkan gaya hidup tak sehat, misalnya kebiasaan merokok. "Orang yang sadar dampak negatif merokok biasanya segera berhenti dan mengubah pola hidup sehat," lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan Meara berdasarkan survei yang dilakukannya pada 1990-2000 terhadap semua populasi, ras, dan gender di Amerika Serikat (AS). Selama sepuluh tahun penelitian diketahui bahwa perbedaan antara tingkat pendidikan tinggi dan terendah ternyata semakin lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1990, pria kulit putih berpendidikan tinggi peluang hidupnya lebih panjang 5,8 tahun dibandingkan pria kulit putih berpendidikan rendah.Pada 2000 perbedaan rasio peluang hidup lebih lama semakin tinggi, yaitu 7,9 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data untuk pria dan perempuan kulit hitam memperlihatkan rasio yang sama. Hal serupa terjadi pada perempuan kulit hitam dan putih dengan pendidikan rendah. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, rasio peluang hidupnya semakin menurun, dari 0,9 tahun pada 1990 menjadi 0,2 tahun pada 2000. Sebagian besar meninggal karena penyakit paru-paru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penyakit yang memberikan kontribusi besar bagi perbedaan tingkat pendidikan dan angka kematian, yakni serangan jantung, paru-paru, berbagai jenis kanker, dan penyakit kronis lainnya. Potensi risiko kematian lebih besar terdapat pada para pengonsumsi tembakau," lanjut Meara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kebiasaan buruk merokok, obesitas menjadi masalah umum yang sering dialami orang yang tingkat pendidikannya buruk. Diprediksi pada masa mendatang risiko kematian akibat obesitas akan sama besarnya dengan dampak kematian akibat merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, Meara mengingatkan agar setiap orang mengetahui bahwa peluang hidup lebih lama itu mudah diwujudkan, yakni dengan tingkat pendidikan yang tinggi lantaran seseorang lebih banyak memperoleh informasi. Pasalnya, tingkat pendidikan tinggi dan panjang umur bukan hanya terjadi pada satu orang, itu sudah menjadi fenomena umum.&lt;br /&gt;(Sindo Sore//tty)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-3896398822837234412?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/3896398822837234412/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=3896398822837234412' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3896398822837234412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3896398822837234412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/06/pendidikan-tinggi-bikin-panjang-umur.html' title='Pendidikan Tinggi, Bikin Panjang Umur'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-6896651294215617640</id><published>2009-05-29T01:17:00.000-07:00</published><updated>2009-05-29T01:17:00.573-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernak-Pernik Sekolah'/><title type='text'>Kakak adik satu sekolah, (+) or (-)?</title><content type='html'>Sumber: ibu ibu DI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;Apakah sebaiknya kakak beradik sekolah di sekolah yang sama? Pemikirannya begini, dari sisi positif kan seharusnya si adik bisa lebih tenang, krn ada kakaknya yg bisa bantu ngawasin, tapi ada juga pendapat temenku, bisa malah negatif krn si adik bisa merasa tertekan apalagi kalau si kakak anak yg berprestasi, jadi si adik akan selalu dibanding²kan dgn si kakak oleh guru² atau teman² lainnya. "Kok kamu gak seperti kakakmu sih dst....". Pengalamanku sendiri dgn adikku selalu satu sekolah sejak TK, kecuali SMA dan kuliah, dan kalau sekarang aku tanya adikku, dia bilang dulu kadang sebel juga, krn sering merasa jadi "bayang²" aku. Kaget juga jadinya, abis gak pernah berasa gitu sih. Gimana ya moms, boleh sharing dong pengalaman pribadi jaman kecil dulu atau gimana nerapinnya ke anak² sekarang? (Ma)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;Aku dulu juga satu sekolah sama adikku, walaupun cuma 2 tahun. Menurutku nggak ada masalah sih. Malah bisa hemat ongkos, krn langsung di drop di satu tempat. Trus buku juga bisa dilungsurin ke adiknya, tapi ini hanya berlaku utk yg udah SD. Tapi rasanya jaman dulu, aku &amp; sepupuku yg beda kota-pun bisa saling pinjam buku ya, krn relatif buku paketnya sama. Kalau sekarang ini, satu sekolah aja belum tentu sama, jadi nggak tahu deh apakah keuntungan yg terakhir ini masih bisa diperoleh. Di Bintaro udah mulai banyak sekolah yg bisa buat Kakak-Adik sekaligus dgn catatan jarak umur antara kakak-adik itu nggak jauh. Kayak di Al-Azhar yg bisa dari Play Group sampai SMP; Aulia &amp; An-Nissa. Sebenarnya Pembangunan Jaya kalau bisa satu lokasi mulai dr PG-SMA asyik banget tuh. Sayang aja lokasinya berpencar di 3 tempat. Trus ada lagi RICCI, tapi aku kurang tahu sampai tingkat apa. Tapi sepertinya ngumpul satu tempat. Ada juga Tunas Indonesia walaupun baru sampai SD. Kalau di daerah BSD lumayan banyak malahan, malah sampai Stella Maris juga ada di sana. (Lu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan kakakku dari TK sampai kuliah sama, sampai kakak protes "aduh kamu tuh dari TK ngikut terus" bener² protes. Kalau TK-SMA sih banyak suka dukanya krn anak² ibuku yang 11 org sekolah dalam satu atap yang sama, sampai semua guru² hapal, biasalah ada yang membandingkan, ortu sih sudah memberikan pengarahan bagaimana harus bersikap kalau dibandingkan satu dgn yang lain, jadi kami baik² saja. Aku menggarisbawahi bahwa peran ortu sangat besar dalam memberikan bimbingan bersikap. (De)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sharing pengalamanku dengan adikku, umur kami bedanya 1 1/2 thn. Karena sama-sama cewe dan perbedaan umur yang gak terlalu jauh, kami akrab banget seperti anak kembar (karena postur badan juga gak beda jauh). Pernah satu sekolah dari SMP sampe SMA. Kayaknya OK aja. Walaupun aku boleh dibilang lebih berprestasi dari adikku, apalagi adikku cenderung agak bandel. Biasanya waktu pengambilan rapor mamaku dicurhati guru-guru krn kelakuannya. Adikku juga gak pernah complain merasa tertekan dan kami berdua gak pernah punya masalah yang serius. Kalau di sekolah kami main dengan teman kelas kami sendiri tapi kalau papasan di sekolahan juga gak merasa canggung untuk bertegur sapa. Pulangnya juga barengan kecuali kalau masing-masing ada kegiatan lain seusai sekolah. Mungkin yang harus diperhatikan adalah hubungan putra putri, perbedaan umur, dan perbedaan jenis kelamin. (El)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari TK sampai SMP aku selalu satu sekolah dengan 2 kakakku. enak juga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segi positifnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.. Selain kalo ada masalah dengan temen di sekolah bisa ngadu ke kakak (ceritanya kakakku khan kakak kelas) jadi pasti yang mo macem-macem liat-liat dulu.&lt;br /&gt;b.. Dapet lungsuran buku kalo sama, irit pengeluaran ortu..&lt;br /&gt;c.. Asyiknya ikutan antar jemput bareng...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segi negatifnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.. Pasti selalu dibeda²in sama guru soal tingkah laku kita atau kerjaan lainnya. (Vi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sih sebenernya nggak pernah bener-bener satu sekolah sama adek²ku soalnya beda umurnya 5 tahun dan 8 tahun. Tapi yang berasa banget pas adekku yang cowok (beda 5 tahun) masuk SMA yang sama ama aku. Pada awalnya gak ada yang tau kalo dia adekku tapi mungkin karena mukanya mirip², akhirnya ketauan deh. Sejak itu guru² seneng banget ngebanding² in dia sama aku. Sebenernya dia lebih pinter dari aku, tapi mungkin karena dia cowok, lebih males dan lebih bandel. Mungkin karena pas masa puber juga, udah gitu ditambahin dengan omongan guru yang sering ngebandingin kita. Akibatnya dia jadi kebeban untuk harus lebih baik dari aku. Kalau nggak berhasil lebih baik dari aku, he become so stressed out dan mulai bolos sekolah. Bahkan sampe detik² terakhir menjelang ebtanas dia masih seperti itu. Alhamdulillah setelah sekeluarga memberi support dan pengertian, dia amazingly lulus SMA rangking 10 besar dan sekarang dapet beasiswa ke Belanda. Lain dengan adek saya yang paling kecil, dia paling bolot, males lagi (cewek). Tapi anaknya cuek, dibanding² in ama kakak²nya juga nyantai aja. Jadi kalo menurut aku, tergantung kepribadian anaknya, kira² bisa kuat ato nggak dibanding² in. Tapi kalo misalnya seimbang, ya nggak masalah. (Ta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sih sekarang malah kepengen anakku, kalau bisa, satu sekolah. Menurutku banyakan positifnya, selain dari segi ongkos. Rasa kakak-adikpun terbentuk lebih akrab kayaknya. Si kakak bisa juga membimbing adiknya (kebetulan anakku yang besar selalu tergerak untuk jadi "kakak". Mungkin buat anak lain jadi beban, anak khan beda - beda). Khusus untuk anakku, si kakak kepengen banget satu sekolah dengan adiknya. Dan kayanya, adiknya lebih sreg juga kalau bisa bersama. (kebetulan si kakak mau SD si adik mau Pre-school). Sayangnya di Bintaro sekolah yang bisa satu lingkungan itu jarang banget ya. Kalau ada masukkan mengenai hal ini aku juga tertarik banget. (Dh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sama kakakku dari tk sampe sma satu sekolah, kalau dua adikku yang lain beda sejak smp. Enaknya bisa dapet lungsuran buku, diktat, sama kebiasaan guru², terus kakak kelas juga nggak berani galak², soalnya ada kakakku. Tapi nggak enaknya nih, bener² deh soal dibandingin ini, aku sama om ku yang bedanya puluhan tahun pun masih suka disebut² sama guru SD ku. Apalagi sama kakakku yang bedanya cuma 2 taun. Kayaknya, mesti dibekelin wejangan kalo mau satu sekolah. Biar identitas keduanya nggak keganggu, abis aku ngerasa dulu sempet berasa krisis identitas dibanding²in terus sama kakakku, padahal aku sama dia beda "jurusan", hampir di segala hal. (In)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tiga bersaudara cewe semua dan kita hanya selisih umur 1 thn. Kebetulan waktu SD kita satu sekolah. Adikku yg paling kecil waktu kecilnya sangat pendiam, nyaris nggak punya teman dan nggak selincah/ segesit 2 kakaknya, bisa kebayang deh, waktu itu kita bertiga sempet jadi perhatian para guru², krn kita lumayan juga disekolah, dapat ranking, termasuk adikku itu, cuma krn dia serba lambat dan pendiam, kalau ditanya guru, dia malah diam, responnya kurang, guru pastilah ngebandingin dgn kakaknya, yg sedihnya, selalu adikku yg kecil yg kena dan denger omongan itu, itu juga yg mungkin bikin dia makin pendiam dan si kecil ini ngungkapin semuanya pas kita² udah pada kuliah/lewat masa² sekolah, dia bilang dia sedih banget dan sebel kalau dibandingin gitu. Waktu smp sampai kuliah aku udah nggak bareng mereka lagi, tapi 2 adikku itu sampai sma bareng, yg melegakan buat sikecil, pas dia SMA, krn beda jurusan ama kakaknya, dia bilang dia seneng sekali nggak beban dan temannya jadi banyak. Ini semua mungkin juga krn pas smp-nya dia kan bareng kakaknya (adikku satu-nya lagi) tapi mereka selalu beda waktu kelasnya, kalau kakaknya masuk pagi, dia masuk siang. Harus diliat keadaannya juga ya, maksudku dulu meskipun guru sering cerita tentang kita pas bagi raport, ibuku dan kitanya juga nggak terlalu mempermasalahkan hal² ini, krn adikku jg nggak bermasalah dgn nilai²nya. (Rh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah berdiskusi dgn suamiku, Insya Allah anak²ku akan sekolah di sekolah yang sama, krn pertimbangan ongkos, kurikulum yg serupa (mudah²an jadi bisa share buku), lingkungan yg akrab dan kemudahan² lainnya, setidaknya sampai SMP, nanti waktu SMA Insya Allah mereka kita pisahkan, supaya bisa berkembang punya identitas sendiri gak dibayangi image saudara kandungnya masing-masing. Insya Allah juga kita ortunya diberikan kemampuan untuk bisa kasih arahan supaya masing-masing anak punya self confidence yg kuat sehingga bisa jadi pribadi yang mandiri. (Ma)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-6896651294215617640?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/6896651294215617640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=6896651294215617640' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6896651294215617640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6896651294215617640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/05/kakak-adik-satu-sekolah-or.html' title='Kakak adik satu sekolah, (+) or (-)?'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-7121889478501187672</id><published>2009-05-21T23:18:00.000-07:00</published><updated>2009-05-21T23:18:00.345-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Bahasa'/><title type='text'>Burukkah bahasa gaul ?</title><content type='html'>Pengaruh Media&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ditelusuri, bahasa gaul di kalangan anak sekolah dasar muncul karena pengaruh lingkungan. Umumnya mereka menyerap dari percakapan orang-orang dewasa di sekitarnya. Atau meniru dari media massa, semisal dari adegan percakapan di televisi maupun mengikuti tren bahasa gaul di media cetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, bahasa gaul akan selalu muncul dan berkembang sesuai zaman masing-masing. Beberapa tahun lalu, istilah "memble aje" atau "Biarin, yang penting kece" sempat ngetren. Istilah-istilah tersebut lantas tenggelam dengan sendirinya, tergantikan oleh istilah lain. Di antaranya, "so what gitu loh", "jayus", dan "Kesian deh lo!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sebelum-sebelumnya, istilah-istilah tersebut awalnya merupakan penggalan-penggalan bahasa yang khusus hanya digunakan dalam kelompok tertentu hingga hanya bisa dimengerti anggota kelompok tersebut. Namun lama-kelamaan istilah-istilah ini tersosialisasi dan kemudian jadi umum digunakan oleh lingkungan yang dekat dengan kelompok tersebut, yakni anak-anak usia sekolah dan remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa anak usia SD? Tak lain karena dorongan untuk meniru lingkungan amat kuat dalam diri anak usia sekolah dasar. Ini merupakan tanda bahwa mereka tengah berusaha untuk beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Tak heran kalau ada temannya yang menggunakan bahasa gaul sebagai bahasa sehari-hari biasanya ia juga akan menggunakan bahasa yang sama saat berkomunikasi dengan teman-temannya. Tujuannya apa lagi kalau bukan ingin diterima dalam lingkup pergaulan tersebut hingga sama sekali tak ingin beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, anak pun lazimnya akan termotivasi melakukan sesuatu bila melihat orang lain mendapat imbalan positif saat melakukan hal tersebut. Dalam hal ini anak melihat temannya yang di sekolah kerap menggunakan bahasa gaul tersebut disukai teman-teman lain. Makanya si anak akan cenderung meniru apa yang dilakukan si teman. Dengan kata lain, biasanya anak akan menyontoh perilaku sosok yang signifikan baginya, yakni kakak, orangtua ataupun bintang idola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mereka menggunakan bahasa gaul, anak pun akan segera mengadaptasi perilaku tersebut Dengan begitu perlu dipahami bahwa menyerap bahasa gaul yang tengah menjadi tren merupakan bagian dari konformitas terhadap lingkungan. Pahami pula jika hal ini merupakan salah satu tahapan perkembangan kepribadian anak usia sekolah. Yang dimaksud konformitas adalah meleburkan diri pada lingkungan agar mendapat pengakuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai catatan, di usia sekolah dasar anak mulai memasuki diffusion alias pencarian identitas. Nah, salah satu bentuk identitas yang dicari anak adalah pengakuan lingkungan dengan ikut-ikutan bicara menggunakan penggalan bahasa yang sedang populer. Di benak anak, "Wah, kalau enggak ngomong kayak gitu, aku pasti dianggap enggak gaul'."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan sosial anak usia SD, konformitas memang amat diperlukan karena akan meningkatkan self esteem (harga diri) anak. Jadi, biarkan saja anak ikut tren yang memang diperlukan bagi perkembangan sosialnya. Yang harus diajarkan pada anak adalah soal penempatan, dalam arti kapan dan kepada siapa bahasa tersebut boleh digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : tabloid-nakita.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-7121889478501187672?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/7121889478501187672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=7121889478501187672' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/7121889478501187672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/7121889478501187672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/05/burukkah-bahasa-gaul.html' title='Burukkah bahasa gaul ?'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-6412267407368982501</id><published>2009-05-15T23:00:00.000-07:00</published><updated>2009-05-15T23:00:00.392-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komputer dan anak'/><title type='text'>"Peran Komputer Bagi Pendidikan Anak"</title><content type='html'>&lt;p&gt;  &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;            &lt;table bg border="0" cellpadding="3" cellspacing="2" width="100%" style="color:#ffffff;"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td cellspacing="2" cellpadding="2" align="left" bg valign="top" height="300" style="color:#ffffff;"&gt;     &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Pada awalnya komputer dititikberatkan pada proses pengolahan data,  tetapi karena teknologi yang sangat pesat, saat ini teknologi komputer  sudah menjadi sarana informasi dan pendidikan khususnya teknologi  internet. Dalam hal pendidikan, komputer dapat dipergunakan sebagai  alat bantu (media) dalam proses belajar mengajar baik untuk guru  maupun siswa yang mempunyai fungsi sebagai &lt;b&gt;&lt;i&gt;Media tutorial, alat  peraga dan juga alat uji&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dimana tiap fungsi tersebut masing-masing  mempunyai kelebihan dan kekurangan.   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Sebagai media tutorial, komputer memiliki keunggulan dalam hal interaksi,  menumbuhkan minat belajar mandiri  serta dapat disesuaikan dengan  kebutuhan siswa / anak. Tetapi interaksi komputer dengan manusia  belum dapat menggantikan interaksi manusia dengan manusia, selain itu  mempunyai kelemahan lain yaitu kemauan belajar mandiri yang masih rendah.  Komputer sebagai alat uji memiliki keunggulan dalam keobyektifan,  ketepatan dan kecepatan dalam penghitungan tetapi masih belum dapat  menilai soal-soal essai, pendapat dan hal yang terkait dengan moral  dan etika. Yang terakhir, sebagai media alat peraga, komputer mempunyai  kelebihan dapat memperagakan percobaan tanpa adanya resiko, tetapi membutuhkan  waktu dalam pengembangannya.   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Sebelum memperkenalkan komputer kepada anak, orangtua maupun guru seharusnya dapat memahami perkembangan pemahaman anak, dimana pada usia 0 -2 tahun anak mendapatkan pemahamannya dari penginderaannya. Kemudian usia 2 - 7 tahun anak mulai belajar menggunakan bahasa, angka dan simbol-simbol tertentu. Pada usia 7 - 12 tahun anak mulai dapat berpikir logis, terutama yang berhubungan dengan obyek yang tampak langsung olehnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Yang saat ini perlu menjadi perhatian bagi orangtua maupun guru adalah bagaimana cara memperkenalkan komputer kepada anak. Hal yang perlu dicoba adalah dengan program-program aplikasi (software) yang bersifat "Edutainment" yaitu perpaduan antara education (pendidikan) dan entertainment (hiburan). Selain itu program (software) aplikasi "Edutainment" tersebut mempunyai kemampuan menumbuhkembangkan kreatifitas dan imajinasi anak serta melatih saraf motorik anak. Contohnya program permainan kombinasi benda, menyusun benda atau gambar (Puzzle) serta program berhitung dan software-software lain yang didukung perangkat multimedia. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Selain program aplikasi (software), dunia internet semakin berarti bagi anak-anak. Internet memungkinkan anak mengambil dan mengolah ilmu pengetahuan ataupun informasi dari situs-situs yang dikunjunginya tanpa adanya batasan jarak dan waktu. Di samping itu masih ada manfaat lain yang didapat dari internet, misalnya surat menyurat (E-mail), berbincang (chatting), mengambil dan menyimpan informasi (download). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Untuk perkembangan pendidikan selanjutnya teknologi "Teleconference" (Konferensi interaktif secara on line dari jarak jauh) dirasakan sudah pantas di coba dan dikembangkan, karena dapat menghemat waktu, tenaga pengajar, kapasitas ruang belajar serta tidak mengenal letak geografis. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;         &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;         &lt;/span&gt;    &lt;/p&gt;              &lt;img src="http://www.e-smartschool.com/images/back_kanan_bwhx.gif" width="18" height="19" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-6412267407368982501?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/6412267407368982501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=6412267407368982501' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6412267407368982501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6412267407368982501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/05/peran-komputer-bagi-pendidikan-anak.html' title='&quot;Peran Komputer Bagi Pendidikan Anak&quot;'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-8183522430978928374</id><published>2009-05-10T05:06:00.000-07:00</published><updated>2009-05-10T05:06:00.348-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tip - kiat'/><title type='text'>Lima  Cara Merangsang Anak Belajar</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda ingin si kecil memiliki antusiasme yang tinggi untuk belajar dan berprestasi kelak? Beberapa cara berikut dapat Anda coba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah di halaman sebuah Taman Kanak-kanak. Sebagian anak tampak senang sekali dengan situasi sekolahnya. Anak-anak ini seakan memiliki otak seperti sebuah spons, menyerap apa saja yang terjadi di lingkungannya dengan antusias. Anak-anak seperti ini biasanya menunjukkan prestasi belajar yang baik nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebagian lain dari anak-anak tersebut tampak menunjukkan sikap negatif terhadap sekolah. Mereka tampak enggan melakukan berbagai kegiatan. Jika demikian, bagaimana mengharapkan anak-anak ini berprestasi kelak? Mengapa hal ini terjadi mengingat kedua kelompok anak-anak ini memiliki kemampuan yang kurang lebih sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sering terjadi kemudian, orang tua lalu menyalahkan guru dan sekolah karena rendahnya motivasi anak-anak mereka untuk belajar. Padahal, menurut Dr. Sylvia Rimm dalam bukunya Smart Parenting , How to Raise a Happy Achieving Child , orang tua memiliki pengaruh positif yang sangat besar terhadap pendidikan anak-anaknya. Tidak hanya ketika anak masih kecil, namun juga sepanjang hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini Dr. Rimm menawarkan beberapa kiat yang dapat diterapkan sejak dini untuk membantu meningkatkan keinginan si kecil belajar dan berprestasi di sekolahnya kelak. Tentu saja tidak dengan cara memaksa maupun menuntut, namun lebih pada berbagai arahan dan dukungan yang membuat anak merasa nyaman berkegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Menciptakan rutinitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rutinitas membantu anak mandiri menjalani hari-harinya. Bayangkan jika sejak si kecil bangun pagi hingga malam hari ketika hendak tidur tergantung pada orang-orang dewasa di sekitarnya untuk mengarahkannya dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Anak-anak ini akan memiliki perasaan negatif terhadap dirinya, dan belajar bahwa orang lain akan selalu mengambil tanggung jawab dirinya. Dengan begitu, jangan heran, jika suatu saat Anda terganggu oleh ketergantungan anak pada Anda dalam menjalani berbagai aktivitas sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, ciptakan rutinitas sejak dini dengan membiarkan si kecil melakukan sendiri kegiatan rutinnya. Buatlah jadwal rutinitas yang harus dilakukan anak. Misalnya, bangun tidur, diikuti dengan membersihkan tempat tidur, menggosok gigi lalu sarapan bersama-sama Anda. Jika si kecil belum bisa membaca jadwalnya, buatlah gambar aktivitasnya secara berurutan sehingga mudah dipahami dan diikutinya. Tentu saja penjadwalan rutinitas ini dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan dan usia anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Pembiasaan belajar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak usia prasekolah memang belum memiliki beban akademis yang mengharuskannya belajar pada waktu-waktu tertentu di rumah. Namun tidak ada salahnya Anda membiasakan anak duduk di meja belajar yang disediakan baginya pada saat yang sama setiap harinya, dan untuk jangka waktu yang sama pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu ajaklah si kecil melihat-lihat buku ceritanya, atau menggambar kurang lebih selama beberapa menit. Misalnya, setiap sore jam 16.00, selama beberapa menit (lebih kurang 5 menit). Cara ini membuat anak terbiasa mengerjakan pekerjaannya di atas meja yang disediakan untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide untuk membiasakan si kecil duduk di meja belajarnya pada saat yang sama dan jangka waktu yang sama setiap harinya didapat dari seorang ahli ilmu faal bernama Ivan Pavlov . Pavlov menemukan hukum clasical conditioning, di mana jika ada dua stimuli dihubungkan, maka stimuli kedua akan menghasilkan respons yang sama dengan stimuli pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Meningkatkan komunikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi yang baik merupakan prioritas utama dari semua kebiasaan yang dapat meningkatkan keinginan anak berprestasi. Sementara, gaya hidup di perkotaan yang sibuk membuat waktu untuk berkomunikasi dengan anak sangat terbatas. Orang tua perlu menjadwalkan waktu khusus untuk bercakap-cakap dengan anak setiap hari. Misalnya saat minum teh di sore hari, atau makan malam bersama keluarga. Yang terpenting, matikan TV atau singkirkan hal-hal yang mungkin mengganggu komunikasi Anda dengan si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar adalah salah satu bagian penting dalam komunikasi. Jika orang tua terbiasa mendengar anaknya berbicara, maka anak juga akan mendengar jika Anda berbicara. Menurut Dr. Rimm, jika orang tua memiliki kebiasaan bercakap-cakap secara teratur setiap harinya, anak akan lebih terbuka kelak ketika memasuki usia remaja. Keadaan ini diharapkan dapat mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan belajar pada anak kelak, karena keengganan anak untuk berprestasi ( underachievement ), biasanya, merupakan efek lanjutan dari komunikasi yang buruk antara orang tua dan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Bermain dan permainan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermain merupakan sarana utama bagi anak untuk belajar berbagai hal. Sedangkan permainan atau games biasanya merupakan latihan yang baik untuk menghadapi kompetisi yang sesungguhnya di dunia luar. Manfaat mainan dan permainan, antara lain, meningkatkan imajinasi dan pelampiasan emosi. Misalnya, dengan permainan boneka dan bermain peran. Selain itu, sambil bermain anak bisa belajar keterampilan spesial atau konsep angka. Misalnya, dengan bermain balok kartu atau puzzle .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah bersenang-senang bersama dengan menciptakan berbagai permainan dengan anak. Seimbangkan antara permainan di dalam rumah dan di luar rumah yang menghasilkan manfaat berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Menjadi model bagi anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak akan meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya. Mereka menjadikan Anda, orang tuanya, sebagai model yang patut diikuti. Namun, tentu saja si kecil hanya akan meniru perilaku yang terlihat olehnya. Ia tidak mungkin meniru perilaku gila kerja yang mungkin Anda miliki, misalnya, sebab ia tidak melihatnya langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, mengapa tidak menerangkan kepadanya apa yang Anda kerjakan di tempat bekerja? Daripada hanya mengeluhkan pekerjaan setiap Anda pulang bekerja, lebih baik Anda mulai menunjukkan pada si kecil bahwa Anda sangat menyukai apa pun yang Anda kerjakan. Karena, jika tidak, si kecil akan meniru perilaku Anda yang gemar mengeluhkan pekerjaan. Bukan tidak mungkin jika nantinya si kecil akan sering mengeluhkan pelajaran maupun guru-guru di sekolahnya jika Anda tidak segera mengubah sikap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Esthi Nimita Lubis&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-8183522430978928374?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/8183522430978928374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=8183522430978928374' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/8183522430978928374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/8183522430978928374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/05/lima-cara-merangsang-anak-belajar.html' title='Lima  Cara Merangsang Anak Belajar'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-1663905741810358720</id><published>2009-05-05T05:03:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T05:03:00.787-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Membaca'/><title type='text'>10 Cara Agar Anak Cinta Buku</title><content type='html'>Walaupun si balita belum dapat membaca, Anda dapat mengajarnya ‘membaca’ dan mencintai buku. Berikut ini cara-cara mudah yang dapat Anda terapkan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan membaca dan mencintai buku penting ditanamkan pada anak-anak sejak usia dini. Karena, kegiatan membaca bersama anak merupakan kegiatan yang sangat penting bagi pembentukan dasar diri si kecil, juga untuk keseluruhan proses belajar anak, kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun anak Anda masih berusia balita, dan membaca sebaiknya baru diajarkan ketika anak masuk usia sekolah, namun Anda dapat mulai mengajak anak mencintai buku melalui berbagai cara, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Memberi buku-buku cerita yang menarik&lt;br /&gt;Pilihlah buku yang terbuat dari kertas karton tebal tahan air bagi bayi maupun anak batita. Buku yang terbuat dari karton tebal tidak mudah rusak jika dibuka-buka maupun dimainkan. Selain itu, carilah buku-buku dengan gambar dan warna yang menarik. Buku dengan banyak gambar dan sedikit tulisan akan lebih menarik bagi si batita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Membuat perpustakaan mini&lt;br /&gt;Buatlah perpustakaan mini yang sederhana, dan ciptakan suasana yang nyaman. Misalnya, menyediakan lahan khusus dengan karpet atau berbagai bantalan di dekat rak tempat si kecil menyimpan buku-bukunya. Upayakan agar rak mudah dijangkau oleh tangan mungil anak, serta tidak membahayakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Membacakan cerita secara berkala&lt;br /&gt;Sediakan waktu secara berkala untuk membacakan cerita yang menarik bagi anak. Misalnya, sebelum tidur. Carilah cerita yang menyenangkan dan bacakan dengan cara menarik. Jika mungkin, buatlah alat peraga sederhana untuk menunjang cerita. Misalnya, boneka tangan yang dijadikan sebagai tokoh cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bermain tebak-tebakan cerita&lt;br /&gt;Ketika membacakan sebuah cerita pada anak, berhentilah pada satu titik tertentu ketika cerita mengarah ke satu arah, lalu tanyakan apa yang terjadi dengan tokoh utama menurut anak. Biasakan si kecil mengarang kelanjutan ceritanya sendiri dengan tebakan-tebakannya. Dengan cara ini ia terbiasa mengarang sebuah cerita sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Membacakan apa saja&lt;br /&gt;Jangan hanya berhenti pada buku cerita. Bacakan apa saja yang dapat Anda baca dengan suara keras. Misalnya, Anda dapat membaca secara keras resep makanan yang Anda buat, atau amplop surat yang Anda terima. Baca bagian-bagian yang mudah dimengerti. Misalnya, nama dan alamat pengirim surat . Selain itu, tunjuk tulisan apa saja yang terpampang di jalan dan bacakan dengan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Menciptakan suatu tokoh&lt;br /&gt;Carilah serial cerita yang sangat disukai anak, yang menggambarkan suatu tokoh yang mengajarkan atau mengamalkan kebaikan. Buatlah tokoh tersebut sebagai tokoh panutan yang dikenal seluruh keluarga, sehingga akan sering disebut-sebut dalam berbagai kegiatan sehari-hari. Dengan cara itu, secara tidak langsung, sang tokoh pun mengajarkan berbagai nilai pada anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Meminta anak ‘membaca’ cerita&lt;br /&gt;Sekali-sekali mintalah anak memilih buku cerita yang disukainya, lalu biarkan ia ‘membacakan’ isinya untuk Anda. Biarlah anak bercerita sesuai apa yang ingin diceritakannya. Jangan melontarkan kritik. Misalnya, mengatakan bahwa isi buku tersebut sangat berbeda dengan apa yang diceritakannya. Kritik Anda dapat mematikan semangatnya untuk merangkai sebuah cerita versinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Membuat buku cerita bersama&lt;br /&gt;Biasakan untuk menanyakan cerita dibalik setiap gambar yang dibuatnya, lalu menuliskan cerita tersebut di bawah gambarnya. Jadikan satu lembaran-lembaran gambar beserta ceritanya tersebut, lalu dijilid. Jika anak terbiasa membuat cerita-cerita terhadap gambar-gambar yang dibuatnya, ajaklah ia membuat buku ceritanya sendiri. Minta si kecil membuat gambar semacam gambar kartun berseri. Anda dapat menuliskan apa yang diceritakan mengenai gambar yang dibuatnya tersebut sehingga jadilah sebuah cerita bergambar sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; * Mengajak bermain huruf dan angka&lt;br /&gt;Berbagai mainan dapat merangsang si kecil untuk mengenal huruf dan angka. Ajaklah ia memainkannya. Misalnya, minta dia untuk mencari dua kartu dengan angka atau huruf yang sama bentuknya. Atau, pasanglah kertas bertuliskan nama-nama benda pada benda yang ada di sekitarnya. Permainan-permainan sederhana ini merupakan upaya awal anak untuk dapat belajar membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Memperlihatkan asyiknya membaca&lt;br /&gt;Biarkan si kecil melihat betapa asyiknya Anda membaca berbagai buku. Tunjukkan pada anak bahwa membaca sangat menyenangkan. Dengan membaca kita mengetahui berbagai hal di berbagai tempat, tanpa perlu pergi ke tempat tersebut. Perlihatkan berbagai buku yang menggambarkan beragam hal, seperti negeri-negeri seberang dan segala keunikannya, atau berbagai flora dan fauna. Ceritakan pada anak intisari dari buku-buku yang Anda baca, sesuai pemahaman anak balita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esthi Nimita Lubis (ayahbunda)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-1663905741810358720?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/1663905741810358720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=1663905741810358720' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/1663905741810358720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/1663905741810358720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/05/10-cara-agar-anak-cinta-buku.html' title='10 Cara Agar Anak Cinta Buku'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-5706488673855753454</id><published>2009-05-01T00:50:00.000-07:00</published><updated>2009-05-01T00:50:00.346-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Non Formal'/><title type='text'>Perlukah si Kecil Les?</title><content type='html'>JASA tutor atau guru les privat sering digunakan untuk membantu buah hati tercinta menguasai mata pelajaran sulit. Karena itu, tak heran bila saat ini dapat dilihat banyaknya lembaga bimbingan belajar yang tumbuh di kota-kota besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasa guru les ini diperlukan bila peran orangtua sebagai pendamping belajar sudah tidak lagi optimal. Didukung dengan banyaknya kondisi ibu dan ayah yang merupakan pasangan karier yang kerap pulang larut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Psikolog Seto Mulyadi yang akrab disapa Kak Seto, anak perlu belajar dengan menggunakan jasa guru les dengan syarat penekanannya berdasarkan for the best for child yaitu untuk kepentingan anak, bukan orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena merupakan langkah terbaik bagi anak, maka harus ada persetujuan dengan anak. Misalnya bila anak lemah di mata pelajaran matematika, maka anak perlu didampingi oleh tutor atau guru les untuk mengajari lebih gamblang mengenai pelajaran yang tidak bisa dikuasai," jelas pria yang memiliki kedekatan dengan dunia anak ketika dihubungi okezone melalui telepon genggamnya, Minggu (23/3/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, untuk mengetahui kapan waktu yang tepat mencari guru privat untuk anak, ada beberapa indikasi yang dapat Anda nilai. Yaitu nilai ujian di bawah standar, pekerjaan rumah yang tidak diselesaikan dengan baik, antipati terhadap mata pelajaran tertentu atau sekolah pada umumnya, dan kepercayaan diri yang berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pria yang terkenal dengan boneka Si Komo itu, sebelum Anda mengambil langkah lebih lanjut dengan menghubungi guru les atau bimbingan belajar, sebaiknya tilik lebih jauh penyebabnya apakah karena anak memang lemah secara akademis atau hanya kurang motivasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kak Seto, bila Anda telah memutuskan untuk menggunakan jasa guru les, temui dulu guru di sekolah. "Berdialoglah dengan guru les untuk mengetahui apa yang perlu diperbaiki dari cara belajar anak. Selain itu, tanyakan pula apa yang mereka butuhkan," terang Psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu saja, lanjut Kak Seto, menanyakan program yang disesuaikan dengan kemampuan anak, penting diketahui sebelum mereka mulai membimbing buah hati tercinta. Agar dapat meningkatkan prestasi akademis di sekolahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, pada masa anak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), merupakan momen yang tepat untuk memberi mereka les privat. Karena itu, ketika mengajari anak dalam tahap SD harus edutainment yaitu belajar yang dibarengi dengan saat untuk bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Les ini bukan pengertian konvensional tapi sesuai dengan suasana bermain dan belajar pada anak. Sementara untuk waktu belajar efektif bagi masing-masing anak ada yang siang atau sore hari. Tergantung pada keunikan masing-masing individu. Terpenting, anak ikut berpartisipasi pada kegiatan tersebut," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, lanjut pria yang dikenal sebagai sahabat dan pendidik anak-anak itu anak, orangtua tidak lantas melempar tanggung jawab. Sebab orangtua tetap memiliki tanggung jawab untuk menemani mereka saat belajar dan membuat pekerjaan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hal terpenting yang harus dimengerti orangtua ketika memberi anak les privat adalah fasilitator tetap berada di tangan orangtua. Selain itu, terus monitori kegiatan belajar tersebut. Jangan hanya bertanya mengenai kondisi yang sudah dilalui," imbuhnya mengakhiri pembicaraan.� (mbs)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-5706488673855753454?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/5706488673855753454/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=5706488673855753454' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/5706488673855753454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/5706488673855753454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/05/perlukah-si-kecil-les.html' title='Perlukah si Kecil Les?'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-6955175174955277965</id><published>2009-04-29T01:14:00.000-07:00</published><updated>2009-04-29T01:14:00.112-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi - Interaksi - Sosial'/><title type='text'></title><content type='html'>Jika Anak Anda Terlambat Berbicara&lt;br /&gt;Sumber: ibu ibu DI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;Anak adik saya, lelaki umur 2 tahun 3 bulan sampai saat ini masih belum bisa bicara, kosa kata yang bisa diucapkan tidak lebih dari 5 kata : Mama, Ayah, Diii (nama kakak-nya), Ya dan Cu (minta susu). Mama dan ayahnya berusaha tiap hari untuk menambah perbendaharaan kata-kata namun sangat sulit bagi dia untuk menghafal maupun mengucapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah diantara Ibu ada yang punya kasus serupa? Apakah ini berhubungan dengan apa yang disebut orang "autis'? (not sure yet). Menurut DSA keponakan saya, untuk umur segitu masih wajar jika susah bicara dan cuma diberi vitamin saja. Tapi kalau melihat teman-teman sebayanya kayaknya kok saya ngenes ya karena dia diam saja, tidak pernah ngoceh kayak yang lain. Please sharingnya, apakah kiranya perlu dibawa ke psikolog anak? Jika perlu, tolong referensinya. (Y)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;Jangan panik dulu, karena perkembangan setiap anak itu berbeda. Untuk kasus terlambat ngomong perlu hati-hati untuk menganalisanya. Coba cari tahu ada tidak riwayat terlambat ngomong di keluarga, kalau memang tidak ada coba perhatikan dulu:&lt;br /&gt;1. kesehatan fisik anak, apakah dia sehat atau sering sakit-sakitan&lt;br /&gt;2. bagaimana perilaku anak, apakah dia punya perhatian terhadap sekelilingnya atau hanya sibuk dengan diri sendiri&lt;br /&gt;3. apakah dia ada alergi thd sesuatu (makanan, udara dll)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini perlu sekali supaya kita tidak salah menangani masalah keterlambatan bicara ini dikemudian hari. Kalau perlu jangan ragu deh pergi ke psikolog untuk berdiskusi dan observasi, jangan sampai si anak diberi label yang salah. Coba ke Lembaga Psikologi Terapan UI, disana psikolognya cukup bagus dan tidak terlalu mahal. Ini cuma berdasarkan pengalaman pribadiku saja, karena aku punya seorang anak yang dulu cuma didiagnosa terlambat ngomong, karena katanya biasalah anak laki-laki terlambat ngomong. Seandainya waktu bisa diputar kembali. Tapi sudahlah yang penting kedepannya bagaimana menjaga anak-anak kita tetap sehat dan bisa berkembang sesuai dengan kemampuannya. (DN)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi ke Klinik Anakku.&lt;br /&gt;1. Kelapa Gading Boulevard Blok LA 6 no. 34-35. Kelapa Gading Permai (depan mal Kelapa Gading) - Jakarta Utara (450 2355-56)&lt;br /&gt;2. Jl . Raya Manggis Blok A no. 2B-C. Komplek Ruko Cinere (depan mal Cinere) - Jakarta Selatan (754 5400)&lt;br /&gt;3. Komplek Green Ville Blok BG no. 14-15 - Jakarta Barat (566 9211)&lt;br /&gt;4. Jl. Ahmad Yani -Bekasi. Pusat Niaga kalimalang Blok A-6 no. 1-2 (885 4001-02)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;Anak saya usianya hampir 2 tahun (tepatnya 21 bulan), tapi sampai saat ini bicaranya masih payah banget. Pernah bisa ngomong mamam, minyum, syusyu, kakak, tapi terus hilang lagi. Ngocehnya masih tidak bisa kita mengerti.saya lihat pendengarannya baik, dan tingkahnya sih sudah kayak anak gede. motorik kasarnya bagus sekali. Kita sudah coba ngajak ngomong terus, tapi kayaknya dia cuek banget. Tetap saja ngomong sesuai dengan maunya dia. apakah mungkin karena kita tinggal di lingkungan beda-beda bahasa (saya tinggal di negara berbahasa perancis, di rumah kita berbahasa indonesia, tapi TV umumnya bahasa perancis atau inggris). Bisa minta sharingnya, bagi yang pernah mengalami pengalaman serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;Memasuki usia dua tahun, anak sedang memasuki tahap awal tumbuh kembang kognitif yaitu tahap pra-operasional, yaitu pemahaman berdasarkan hal2 konkret saja. Jadi dia mengerti apa yang bisa dia lihat saja. Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang bersifat bawaan, yakni dengan sendirinya anak akan mengerti akan bahasa selama organ2 fungsi bicaranya berkembang baik. Namun, tidak dapat diabaikan juga adalah faktor lingkungan dan pengalaman. Jika anak tidak diberi rangsangan secara verbal, anak tidak akan bisa belajar bahasa. Jadi, yang terpenting adalah rangsangan yang anda berikan dan hasratnya berbicara. Berikan saja perkenalan bahasa, baik indonesia, prancis, atau inggris. hal ini sangat baik untuk pembiasaan pendengarannya. Misalnya, dia sudah paham bahwa ketika mau minum, maka anda berkata minum, lalu dalam bahasa prancis, besoknya dalam bahasa inggris, sambil memberikan keterangan yang mudah dimengerti, bahwa lingkungan memang mengkondisikan harus menggunakan banyak bahasa. Jangan dipaksa atau dianggap tidak mampu berbahasa ketika anak menunjukkan sikap cuek, kemungkinan dia sedang memprosesnya sesuai atau tidak dengan memori yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEMUNGKINAN AUTIS:&lt;br /&gt;CATATAN DARI Dr Rudy Sutadi SpA, Wakil Ketua Yayasan Autisme Indonesia:&lt;br /&gt;Penyandang autisme memiliki gangguan/ masalah pada bidang komunikasi, interaksi sosial, dan minat yang terbatas serta berulang-ulang. Mungkin juga terdapat masalah pada bidang sensasi (indera), dan fungsi adaptif. Hal-hal tersebut menyebabkan tingkat perkembangan/kemampuan penyandang autisme semakin lama akan semakin jauh tertinggal dari anak seusianya. Dalam talk show ini, Dr. Rudy memberi contoh sebagai berikut: Masalah pada komunikasi, misalnya anak tidak bisa bicara, terlambat bicara, bicara hanya mengeluarkan suara-suara/suku-suku kata yang tidak mempunyai arti (babling/bahasa "planit"), hanya menarik tangan orang dewasa bila menginginkan sesuatu. Pada yang mulai bisa bicara, mungkin hanya sekedar mengulangi kata-kata orang lain (membeo/echoing/ echolaly) atau pada usia 18-24 bulan tiba-tiba bicaranya menghilang (berhenti bicara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;Mohon info seperti apa/prosesnya bagaimana untuk pemeriksaan Autisme? (apakah dengan tes-tes tertentu, ada tahap-2nya, pemeriksaan lab dll?) Apakah di dokter anak sudah cukup? Dan berdasarkan apa nantinya  kesimpulan diambil? Kalaupun ada ciri-ciri yang mengarah ke penyakit Autisme dan anak mengalami salah satu gejalanya, bisa dicurigai mengidap penyakit ybs? Apakah Yayasan Autisme ((waktu itu saya pernah melihat tayangan di Metro TV yang menampilkan dokter Rudy (kalau tidak salah) sebagai wakil ketua Yayasan tsb))sudah mempunyai situs sendiri di Internet ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;Gangguan autisme merupakan suatu jenis gangguan perkembangan pervasif pada anak. Untuk menegakkan diagnosa gangguan autisme ini tidaklah memerlukan suatu pemeriksaan yang canggih-canggih seperti MRI, brain mapping atau CT scan, kecuali ada indikasi lain yang bermakna. Oleh karena akhir-akhir ini gangguan autisme sering dikaitkan dengan keracunan logam berat dan pertumbuhan jamur yang pesat di usus, maka beberapa pemeriksaan yang berkaitan dengan hal tsb sering dilakukan (dengan catatan sesuai indikasi yang berlaku). Untuk menegakkan diagnosis gangguan autisme biasanya didasarkan dari gejala gejala klinis yang tampak dan jelas menunjukkan pola penyimpangan dari perkembangan normal anak seusianya. Kriteria yang digunakan pada saat ini adalah dari pedoman kriteria diagnosis berdasarkan DSM-IV (Diagnostic &amp; Statistic Manual of Mental Disorder IV) atau ICD-10 (International Classification of Disease 10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Diagnostik gangguan autisme berdasarkan DSM IV adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Harus ada sedikitnya gejala dari (1), (2), dan (3) dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing satu gejala dari (2) dan (3) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1). Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik.&lt;br /&gt;Minimal harus ada 2 gejala dari gejala di bawah ini:&lt;br /&gt;a. Tidak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai, kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak-gerik yang kurang tertuju.&lt;br /&gt;b. Tidak bisa bermain dengan teman sebaya (sesuai dengan usia anak)&lt;br /&gt;c. Tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain.&lt;br /&gt;d. Kurangnya hubungan sosial dan emosional yang timbal balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi, seperti ditunjukkan minimal satu dari gejala-gejala di bawah ini :&lt;br /&gt;a. Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tidak berkembang (tak ada usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpa bicara)&lt;br /&gt;b. Bila bisa bicara, bicaranya tidak dipakai untuk komunikasi.&lt;br /&gt;c. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.&lt;br /&gt;d. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang bisa meniru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Ada suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat dan kegiatan. Sedikitnya harus ada satu dari gejala di bawah ini:&lt;br /&gt;a. mempertahankan satu minat atau lebih, dengan cara yang sangat khas dan berlebih-lebihan.&lt;br /&gt;b. terpaku pada satu kegiatan ritualistik atau rutinitas yang tak ada gunanya.&lt;br /&gt;c. ada gerakan-gerakan yang aneh yang khas dan diulang-ulang.&lt;br /&gt;d. seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Gejala-gejala di atas timbul sebelum usia 3 tahun dan adanya keterlambatan / gangguan dalam bidang:&lt;br /&gt;(1) interaksi sosial,&lt;br /&gt;(2) bicara/berbahasa,&lt;br /&gt;(3) cara bermain baik simbolik atau imajinatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tidak disebabkan oleh sindroma RCH / gangguan disintegrasi masa kanak. Dengan mempelajari gejala-gejala tsb di atas maka para orang tua dapat menduga apakah anak tsb termasuk anak dengan autisme atau bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;Anak saya perempuan usia 1 tahun 8 bulan, sampai saat ini anak saya masih belum bisa ngomong seperti anak seusianya, ngomongnya masih belum terarah (semaunya saja ngomongnya). Dan kalau diajarin untuk berbicara dia cuek saja, apalagi kalau sudah asyik nonton tv di panggil saja tidak noleh. Anak saya berat badannya kira2 11 kg dan dia termaksud anak yang lincah, pro aktif dan suka bercanda,cuman satu saja sampai sekarang belum bisa ngomong. Yang ingin saya tanyakan apakah anak saya termasuk lambat berbicara atau autisme?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;Tolong anaknya dibawa saja untuk diperiksa. Tentunya saya tidak bisa memastikan apakah autis atau bukan dengan data yang terbatas. Umur 1 tahun 8 bulan belum bicara harus diperiksa dengan teliti. Jangan menunggu, tolong diperiksakan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan sama dulu juga mengalami kegelisahan seperti itu. Anak saya yang besar waktu umur 2 tahun, kosakata yang jelas masih sedikit, sebagian besar bahasa planet yang hanya dia yang tahu artinya. Jadi seringnya komunikasi kita seperti satu arah, kita tidak ngerti apa yang diucapkan dan kalau ditanya, seringnya diam saja, atau dijawab pakai isyarat, tapi sepertinya dia mengerti apa yang kita bicarakan, Padahal di rumah eyangnya, banyak orang (om-om-nya) dan semuanya cerewet, seneng ngajak ngobrol anakku, jadi tidak mungkin karena kurang stimulasi. Saya juga konsultasikan ke DSA, karena patokan saya, anak harusnya mulai lancar bicara, start 2 tahun, tapi kok anakku telaat, Tadinya saya sampai pengen ikut terapi bicara, tapi menurut DSA-ku, anakku masih wajar, dan disarankan untuk dimasukkan kelompok bermain dulu, saya sampai minta vitamin, khususnya vit. untuk perkembangan otak, karena saya takut, anakku khan suka jatuh pas belajar jalan, jadi was-was saja, Akhirnya pas anakku 2 th 4 bulan aku masukkan ke kelompok bermain, yang seminggu sekali, memang awal mulanya dia, masih penyesuaian diri dan lebih banyak diam, tapi seiring waktu, banyak kemajuan pesat dari anakku. Mungkin karena banyak teman sebaya, dll, anakku mulai banyak bicara, dan lebih kritis, pokoknya, jadi cerewet deh sekarang, apa saja dikomentarin,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang anakku sudah 2 thn 10 bulan, alhamdulillah, sudah banyak bicaranya, malah sudah bisa cerita atau ngadu, jadi pengasuhnya tidak bisa macam2, karena sudah bisa laporan sich, Mungkin dicoba dulu dimasukkan ke Kelompok bermain mbak? setahu saya kalau anak autis, tanda-tandanya bukan hanya telat bicara, banyak faktor atau ciri2 lain yang mungkin ibu lain bisa tambahin, (DS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak saya dulupun demikian sewaktu umurnya 2 tahun plus namun yang perlu diperhatikan : Bila diajak bicara apakah si anak mengerti apa yang dikatakan? Atau ditest dengan cara menyuruh si anak buang sampah misalnya. Bila diajak bicara apakah mata si anak menatap pembicara??? Bila hal diatas sudah dilakukan kemungkinan besar hanya kurang interaksi internal, bukannya autis. Akhirnya pada waktu itu si anak saya sekolahkan padahal umurnya baru 2 tahunan dan PRT dirumah saya tambah menjadi 2 orang sehingga si anak banyak mendengar orang bicara dan sianakpun berintraksi dengan banyak orang. Dan alhamdullilah lambat laun terlihat perkembangannya. Semoga saja anak adik mbak demikian seperti  anak saya yang pertama (sekarang umurnya sudah 5 tahun 5 bulan dan sudah cerewet). (URI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal ini yang juga bikin aku cemas. Anakku, 20 bulan, sampai sekarang belum bisa bicara lho ibu. Kata yang fasih diucapkan cuma 1 kata yaitu "udah". Selain itu tidak ada yang jelas. Cuma eh, aa, uu, mba' (bukan manggil mbak lho tapi kalau' minta perhatian bapaknya), manggil akunya dengan ah ah / eh. Mau minum susu cuma tunjuk botol sambil bicara eh, eh, eh, Kadang mau minum putih saja sambil nangis karena kita tidak ngerti maksud bahasa dia. Hal yang agak melegakan hati adalah dia selalu merespons dengan baik apa yang kami sampaikan, seperti meletakkan gelas di cucian, mematikan lampu mobil, mengambil barang-barang (gelas dll). Tiap makan dia akan berinisiatif bilang "a'" kalau' dirasa mulutnya sudah kosong sementara dia belum disuap lagi. Bermain bersama dilakukan dengan gembira jadi sosialisasi kayaknya tidak masalah deh, disuruh salim dia akan langsung mengulurkan tangan meski dengan orang asing. Penjelasan ibu sekalian memang cukup menenangkan tapi aku apa perlu periksa juga ke DSA yang lain ya, soalnya kalau' dengan Dr Bambang, menurut beliau anakku tidak masalah. Cuma sering tercetus takutnya terjadi aku terlambat merespons. (A)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku juga termasuk agak telat ngomongnya, umur 15 bulan ngomongnya masih pakai bahasa planet, padahal sepupu2-nya umur 12 bulan sudah bisa panggil mama papa. Kata DSA tidak masalah wong anaknya dia saja baru ngomong umur 2 thn, tapi kalau mau second opinion ke dr lain ya silakan, akhirnya dirujuk ke Prof. Taslim di Hermina Jtn. Waktu diperiksa dia bilang tidak ada masalah dan tidak autis (legaaaa rasanya), cuman dibilangin kurang banyak latihan/ diajak ngobrol, (padahal kurang gimana lagi ya cerewetnya kita), dikasih obat racikan untuk 1 bulan plus tugas untuk lebih intensif lagi ngajarin/ngajak ngomong, eh baru seminggu minum obat anakku sudah mulai panggil mama, mama, juju (susu) sudah, dan beberapa kata pendek lainnya. Berhubung aku merasa tidak urgent lagi akhirnya aku tidak balik lagi ke si Prof, padahal DSAnya bilang silakan saja diteruskan, Tapi keponakanku juga baru ngomong umur 3,5 tahun lho !! Gara2 awalnya sering ditinggal didepan TV nonton sendirian, karena ibunya sibuk ngurusin rumah, sudah di terapi wicara bolak-balik tidak ada kemajuan, akhirnya dimasukin play group baru deh mulai ngomong, Sekarang sudah 4,5 tahun dan cerewet!!(IT)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin yang harus kita lakukan bukan cuma 'cerewet' sendiri. Tapi, berusaha ngerangsang si anak untuk ngejawab omongan2 kita. Mungkin kalau 'cerewet' yang satu arah, si anak malah bingung kali yach. "Ibuku kok tidak kasih kesempatan aku buat ngomong ya???". Soalnya beberapa sodara saya yang anak2nya pada telat ngomong, kejadiannya sama seperti itu. Si ortu asyik sajacerewet sendiri, sementara si anak asyik saja ngedengerinnya dan tidak bisa nanggepin kecerewetan si ortu ini, (R)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keponakanku sampai ultahnya yang ke-2 bicaranya sama, yang keluar cuma ah uh eh doang. Persis, kalau mendengar perkataan orang dia bisa mengerti. Seperti disuruh salam, atau diminta mengambilkan mainannya gitu dia bisa mengerti. Waktu itu seisi rumah juga cemas melihat keadaan ini sementara badannya bongsor, diusia 2 tahun sudah seperti anak usia 3-4 tahun tapi ngomongnya masih bahasa planet, kan lucu jadinya. Padahal bundanya, tantenya dan orang2 disekelilingnya adalah orang2 yang cerewet alias doyan ngomong. Lalu pola bicara kita orang2 disekelilingnya mulai sedikit diperhatikan. Kita sepakat kalau bicara sama dia, bicaranya sesedikit mungkin. Tapi dipraktekin dan minta dia bicara berulang2. Misalnya kita baca buku sama2 lalu kita bilang "Ini burung" lalu tanya apa ini? Begitu lama2 dia bisa walaupun hanya ujung katanya saja. Lalu kalau dia minta sesuatu misalnya dia minta susu, kita biarin dulu sampai dia mencoba bilang susu atau dia berusaha menunjukan bahwa yang diinginkannya itu susu. Dulu dia suka nunjuk tempat bikin susunya terus kita bilang "oh mau susu ya" "Mau apa dik?" "susu" gitu terus diulang2. Kadang secara tidak sadar lingkungan memenuhi kebutuhan anak sedemikian rupa sehingga tanpa sianak harus bicarapun lingkungan sudah mengeri dan memberikan kebutuhan dia. Si anak jadi tidak terlatih untuk mengemukakan apa.yang diinginkannya. Tapi kita harus waspada juga jangan sampai sianak jadi frustasi karena dia mencoba mengemukakan bahwa dia pengen susu tapi kita terus cuekin karena dia belum bener ngomong susu.Dengan memperbanyak anak bersosialisasi dengan anak sebayanya juga bisa merangsang anak untuk berkomunikasi. karena dengan teman sebaya mau tahu mau dia harus mencoba mengemukakan apa yang dipikirkannya. Misalnya kalau dengan orang tua dia mengatakan "mau su" kita sudah ngerti kalau dia mau susu. Tapi dengan anak lain belum tentu. Situasinya membuat sianak memang harus bicara, tapi dalam keadaan yang tidak tertekan karena situasinya bermain. Usia hampir 2 tahun 6 bulan, dia terus bisa bicara, bahkan tidak bisa berenti kalau sudah nanya. Kata neneknya, ayahnya dulu juga baru bica bicara lancar diusia 2 tahun, jadi barangkali ada kaitannya juga ya? (SK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya betul ya. Ini juga berlaku baik bagi anak normal maupun yang bermasalah ya? Soalnya temenku yang terapi-in anaknya itu juga disuruh begitu sama terapistnya. Anak jangan langsung dilayani kalau misalnya cuma bilang,"Uh,uh,", sambil nunjuk botol susu-nya. Kita harus rangsang supaya dia 'berbicara' dulu baru dikasih susunya. Juga kadang kita tidak sabar nunggu anak ngomong sampai selesai. Jadi dia lagi bilang, "Mau minum. minum.", kadang ada yang nyambung :"Susu ya?". Sebaiknya sih ditungguin si anak selesai berpikir dan mengutarakan pikirannya. Sebab kadang anak lebih cepet di otak daripada di bibir. Otaknya sudah mikirin apa, yang nyampe bibir baru apa gitu. (R)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kalau yang kayak gini kejadiannya sama ponakanku satu lagi. Jadi malas bicara karena kalau dia ngomong sesuatu trus agak lama kan kadang lingkungan jadi tidak sabar, ini anak mau ngomong apa sih? lalu kalau dia ngomong lingkungan jadi suka memotong omongannya. Misalnya dia bilang Bu kaka mau itu, mau itu, mau itu bu, Ibunya langsung bilang "oh mau coklat dari toko kemaren ya? Kadang lingkungan bermaksud membantu sianak menuntaskan perkataannya, tapi kadang hal itu malah jadi menghambat si anak untuk berbicara. Kita bisa saja terus tanya, mau apa? kaka mau apa ya? Ibu kok belum ngerti? sampai sianak bisa mengemukakan apa yang ada dipikirannya Kakak sekarang suka curhat sama aku (waktu dia usia 10tahun) katanya ibunya suka nuduh dia. Aku tidak ngerti kenapa dia bisa punya pikiran seperti itu setelah ditanya tanya, rupanya dia sebel karena katanya kalau dia ngomong belum selesai ibunya sudah motong pembicaraan dia. "padahal bukan itu loh tante yang mau kakak bilang sama Ibu". "Ah kakak jadi males ngomong katanya kalau orang ngomong kita tidak boleh motong omongan orang. Tapi kalau kakak ngomong kok suka dipotong". Untung cepet ketahuan kalau dia punya pikiran seperti itu. Kalau keterusan? bukan tidak mungkin akan muncul masalah yang lebih serius lagi. (SK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usulan ini sudah aku terapin berulang untuk si kecil. Sudah uh..uh..uh.. sambil nunjuk botol. Aku tanya "adik mau apa", uh..uh..uh.. keukeuh nunjuk botol. Aku tanya "mau apa dik", sambil nunggu dia mau ngomong apa keluarnya uh..uh..uh.. lagi sambil nunjuk botolnya. Berapa kali masih begitu akhirnya aku ambil botol susu dia sambil bilang : adik mau minum susu ? Dia tuh uh, uh, uh, lagi sambil jalan balik ke dispenser tempet biasanya susu dibuatin, nungguin di situ. Kalau' ditanya lagi adik mau apa, waduh bisa langsung ngamuk. Mungkin pikirnya Ibuku ini sudah ngerti maksud aku masih tanya-tanya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sih masih berusaha terus nih, pengasuhnya juga aku ingatin terus supaya tetap merangsang adik untuk mau ngomong. Kakaknya, padahal cerewet betul, ngajakin ngomong adiknya. Semoga juga cuma masalah waktu saja ya,  bukan yang lain-lain. (A)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dicoba kata per kata. Jadi misalnya ditanya mau apa, tetap masih uh-uh-uh lagi, kitanya bilang, susu? Adik mau susu? Susu yang ini? S, u, s, u, coba dik, Berkali-kali-kali seperti gitu, lama2 lengket di otaknya, itu SUSU. Sembari terus melatih, kita juga tetap memperhatikan, juga mengingat2, apa ayah/ibu/sepupu2nya dulu juga ada yang begitu? Sebab anak tetatidaku, sudah 2 tahun lebih (dulu) belum bisa ngomong juga, ternyata dirunut2, sepupu2nya dari garis bapaknya semua rata2 begitu. Rata2 lancar bicara umur 3 tahun. Ya bener saja, memang dia umur 3 tahun baru lancar bicaranya (R).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau menuruntuku adik itu sudah ada usahanya untuk mengemukakan apa yang dia inginkan. Adik kalau mau susu nunjuk botol laau ngajak ketempat dispenser, itu salah satu bentuk usahanya dia. Barangkali memang masih susah buat adik untuk bicara, tapi kita teruskan saja usahanya kalau sudah diambil susu dibilang oh adik mau susu ya? Susu, gitu terus, Insya Allah kalau berulang2 dan konsisten dilakukan oleh lingkungannya akan diinget terus sama sianak. Memang sebaiknya jangan sampai sianak ngamuk, takutnya menimbulkan frustasi yang berkepanjangan. (SK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku punya pengalaman dari kedua saudaraku yang pertama anaknya sampai 3,5 tahun susah ngomongnya pakaui bahasa planet, naah ibunya terus saja melatih dia untuk bicara ngikutin kata ibunya, dan katanya kakeknya tuh anak (bapaknya si ibu) dulu waktu kecilnya juga lama baru bisa bicara lancar sekitar umur 4 tahunan makannya si ibu santai saja, soalnya dikaitkan dengan cerita keturunan itu, kalau yang satu lagi anaknya mengalami autis ini terlihat dengan dia sering bicara planet dengan dunianya sendiri dimana dia ngoceh saja tanpa ketahuan&lt;br /&gt;ngomong apaan, akhirnya ibunya menemui ahli wicara apa ya pokonya dokter anak di warung buncit untuk terapi bicara, dan alhamdullillah kata dokternya sajaran ibunya dalam melatih anaknya bicara sudah benar, anak dilatih untuk bicara keinginannya dengan dibantu, Akhirnya si autis bisa bicara walaupun belum jelas sekarang sudah kelas satu SD,(N)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu aku sudah curiga abis karena anakku tidak bisa ngomong, ada sih mama, papa, tapi hiperaktif nya itu lho. Jadi sudah niat, 24 bulan tidak ngomong, bawa ke dokter, dulu di Malaysia dokternya bilang bukan autis. Masalahnya dibilangnya, speech and comm. disorder, Kemudian aku cek ke 3 dokter, idem dito, bukan autis, tapi pas di Jakarta, positif dibilang autis. Tapinya, terapi yang disuruh sama dengan yang dibilang dr. di Malaysia. Aku inget daftar pertanyaan dari Dr. Hardyono di KG itu ya, bisa dicek:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Suka ketawa sendiri tidak&lt;br /&gt;(2) Suka pegang2 penis&lt;br /&gt;(3) Suka lihat &amp; maenin benda berputar&lt;br /&gt;(4) Usia satu tahun belum bisa menunjuk sesuatu yang dia mau/maksud&lt;br /&gt;(5) Suka jingjit&lt;br /&gt;(6) Suka berputar-putar&lt;br /&gt;(7) Suka mengamuk kalau tidak dituruti (bisa membenturkan kepala ke tembok, atau tiduran di lantai, atau tahan nafas)&lt;br /&gt;(8) tidak nengok kalau dipanggil&lt;br /&gt;(9) Lebih suka main sendiri&lt;br /&gt;(10)Suka menyusun mobil2an berderet2&lt;br /&gt;(11)Kontak mata yang jarang dengan lawan bicara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau 2 tahun belum bicara, atau ada ciri2 di atas, takutnya nyesel bawa saja dicek ke dokter, Aku ingetin begini, soalnya ada temenku sekarang nyesel banget telat bawa anaknya, 5 tahun baru ketahuan asperges. (IE)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau cerita ya, ibu, tentang anakku, dari umur 12-16 bulanan, aku sudah was-was karena anakku belum juga bicara, rasa khawatir ini timbul karena aku punya 2 temen dimana anak2 kita lahir hanya selang 10 hari dan anakku yang paling tua, kedua anak temanku itu umur 12-13 thn sudah bisa bilang num susu, bis, motor, bil-mobil, mama, papa, eyang, sudah lumayan jelas, smtr dia jauhhh, banget, deh dari mereka, kalau kita tanya andung, mana, dia tidak nunjuk ke ibuku, tapi cukup melemparkan pandang kearah ibuku dengan senyum, kesannya seolah2 ia bilang itu andung, setiap ditanya matanya mana; kakinya mana, lagi2 Cuma senyum2, sambil tetap ngeluarin suara2 bayi-nya, dirumah, rasanya jugan ditanya deh, gimana ramenya kita, hampir yang ibu semua lakukin buat anak2 ibu itu juga yang kita lakuin dirumah, bacain cerita, nyanyi, sampai untuk mengenalkan warna aku pakai dengan cara, kamu pakai baju putih ya, gitu deh, waktu aku baca postingan ibu, ternyata F juga melakukan hal ini, dari waktu ke waktu kita tetap usaha terus, kalau tanya ke dsa-nya, beliau cuma bilang, tetap saja bu dilatih, belum 2 thn kan? Tapi selama itu juga banyak pemahaman dan pengertian yang diterimanya, kalau dikasih perintah yang mudah2 dia bisa lakukan, spt ambil handuk buat mandi, pakai sepatu, bisa pakai sandal sendiri, buang sampah, semacam itu deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara umur 18-24 bulan, tiba2 aku surprise, waktu pulang, dia bisa bilang 'allahu akbar' dengan jelas tapi tanpa huruf 'r', rupanya sesiangan dia diajarin oleh kakeknya, tidak lama kmdn kata 'amin' karena dia sering lihat kita2 stelah shalat berdoa, terus waktu itu juga dia lagi getol2nya niruin gaya org shalat. Terus tidak berapa lama ibu DI ngomongin soal vcd iqra, wah, aku langsung beli, hampir tiap pagi slbm aku berangkat knt (kadang juga sore, tergantung maunya ayra juga) stel vcd ini, tidak nyangka dia nyimak, kata ibuku lagi dia juga mulai ikut2an berdendang kalau kita nyanyi. Sepanjang desember kemarin (pas 2 thn) banyak banget deh, ibu yang dia sudah bisa, sekali2, aku tanya lagi, mata kamu mana? dia tunjuk matanya, aku tanya lengkap dia bisa kasih tahu lengkap anggota badannya, dia juga sudah bisa nyebut panggilan2 org2 rumah, (kecuali mama/ayah dr dulu dia memang bisa), terus aku tanyain juga iqra alif, dia bisa, juga, aku tanya secara acak, ia juga bisa, (mis;dal diatas,nanti dia nyahut 'da', ) sudah bisa nyanyi lagu favoritnya 'topi saya bundar', sudah bisa bilang mamam(makan), o, iya, aku juga udah masukkin ke tempat bermain, tapi kayaknya belum efek deh, ke dia untuk bicara, karena dia sendiri masih cuek dan masih lebih banyak sama kitanya, ketimbang teman2nya, meskipun ditempatnya bermain itu, sudah lumayan banyak juga anak yang sudah bisa bicara, lihat dia saat ini paling tidak bisa mengurangi sedikit kekhawatiranku (aku sempet kepikiran juga siapa tahu dia autis), mudah2an dari bulan ke bulan nantinya ada kemajuan, demikian juga buat anak2 ibu, o, iya, aku seneng juga baca sharingnya ibu tentang ini, siapa tahu ada input tambahan buatku spy bisa merangsangnya bicara. (R)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, aku dibilanginnya juga jangan bersedih dulu kalau baru bisa ngomong SSSS doang buat susu, sudah harus dikasih reward tu kalau bilang "SSsss..." pas mau susu. Anakku dulu baru bisa ngomong umur 5 tahun lho, sampai sekarang kalau ngomong masih irrrriiit banget. (IE)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau menurut pendapatku, beda anak, beda kasus, beda penanganan. Ada late talkers karna lingkungannya pendiem. Ada yang justru karna lingkungan terlalu bawel. Ada yang terbantu dengan 'dipaksa' menyelesaikan kalimat. Tapi ada yang justru jadi frustrasi banget trus takut omong (karena dia merasa tidak ada org yang mau ngertiin dia, lha dia mana tahu bahwa kita sedang nunggu dia ngucapin kata yang benerkalau buat dia kan itu kata sudah bener. Jangan kecil hati karena ngelihat suatu metode berhasil di org lain dan tidak di kita dan kalau kita mau jadiin usia sebagai indikasi normal / tidaknya tumbuh kembang anak kita, hati-hatilah, yakin dulu bahwa kita memang tahu ilmunya jadi was-was itu manusiawi sekali, tapi kalau saking waswasnya trus berdasarkan cerita org lain kita memastikan kasusnya anak kita, apalagi trus kita taruh label tertentu pada si anak dan memilih sendiri penanganannya ini yang bahaya. Yang jelas, sebagai orgtua insya Allah kita punya deh insting kalau emang kita rasa ada yang tidak beres cari, cari, cari pendapat dari yang kompeten dokter anak, psikolog, kalau bisa tim sih lebih bagus yang penting bisa diajak diskusi sampai ngelotok sampai semua pertanyaan &amp; keraguan terjawab kalau masih ada yang dirasa tidak puas, cari lagi pendapat lain, untuk bisa tegakkan diagnosa apapun, butuh pemeriksaan dan analisa detil yang didasarkan sejarah tumbuh kembang si anak dan observasi langsung! ini yang terpenting. Karena sekali lagi, tiap anak beda, tiap anak super istimewa, (H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal anak belum bisa ngomong emang bikin kita cemas ya. Aku kalau berdo'a berharap perkembangan bayiku dalam perut kelak akan selancar kakaknya, jadi kalau kakaknya ngoceh aku suka berdo'a dalam hati agar adiknya pun lancar perkembangannya, padahal kalau dipikir saat hamil pertama itu aku merasa lumayan tertekan lho, maksudku saat itu kebetulan aku lagi ada masalah rumah tangga, makanya kalau lihat dia lari2 trus ngoceh nanya ini itu aku cuman bisa bilang Subhanallah kalau inget saat hamil dia betapa "mandiri" nya aku, betapa "pendiam"nya aku, dulu saat hamil dia aku juga suka makan junk food, kalau tidak bisa keluar rumah aku punya daftar delivery service masing2 restoran junk food, hehehe, aku tahu itu tidak bagus, habis daripada tidak ada yang masuk perut, sekarang Z sudah 2 th,aku juga tunda dulu imunisasi MMRnya,meski blom sekolah skrg dia sudah bisa bilang one sampai ten,yang penting kalau ngajarin ke anak kita jugan cemas, anak mungkin ikut merasakan ketegangan kita,ikhlas dengan kondisi anak &amp; rileks saja sambil jalan, toh tiap anak itu unik &amp; perkembangannya tidak selalu sama, aku selalu bicara saat melakukan kegiatan bersama anakku sejak dia bayi, apapun itu,lagi ganti popok,mandiin,bahkan sabun jatuhpun kuungkapkan seolah dia ngerti sabun itu licin, kebetulan pbt-ku juga full comment kalau nonton TV,oh ya ada yang bilang TV juga merangsang anak cepat bicara, asal tepat yach tontonannya,VCD juga membantu, dulu anakku kalau nanya suka bilangm?,hm?, hm?, jadi kita jawabnya berulang2, ternyata dia niru pbt-ku kalau diajak ngobrol temennya suka bilang gitu, akhirnya aku tegur jangan 'hm",tapi "apa bunda?", atau "apa Mbak?", itu kukatakan berulang2 tiap kali dia ber hm-hm-ria, skrg sudah tidak lagi,malah suka ngeledek,"apa bunda?,hm?,hm?,hm?", kemudian dia terkekeh. (C)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku yang besar (now 25 mos), termasuk yang lambat mulai bicara. Sempat juga kita khawatir dengan autis, speech delay atau penyakit lainnya. Padahal orang di rumah cerewetnya bukan main, bingung kan Akhirnya mulai umur 20 bulanan, aku coba salah satu cara yang disarankan ibu DI yang pinter-pinter ini. Aku belikan VCD lagu-lagu anak banyak sekali (beli di sojong, murmer dan kumplit) Setiap hari bangun tidur langsung setel VCD, malam pulang kantor, setel VCD sampai tertidur. Lalu dari VCD itu beberapa lagu favorit kita rekam di kaset, nah kaset itu diputar berulang- ulang, ya di jalan, ya waktu makan siang pokoknya setiap ada waktu. Hasilnya dalam waktu tidak terlalu lama, anakku bisa menyanyikan lagu lengkap Misalnya nina bobo, cicak didinding, naik-naik kepuncak gunung etc sekarang malahan lagu-lagi yang lumayan susah/panjang dia sudah bisa. Kesimpulanku sih, dia bukan belum bisa ngomong, tapi memang dia belum pengen/stimulusnya kurang tepat. Kalau kata-kata, herannya malahan baru bisa merangkai dua kata spt "mau berenang" (nah ini fasih banget), "mau mandi" yah pokoknya dua kata saja, aku belum pernah denger dia ngomong 3 kata.Kalau kosa katanya sih sudah lumayan banyak, semua benda di rumah dia tahu namanya. Lumayan, aku sudah agak lega (V)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;Ibu, kenapa ya kok banyak anak yang autis dan hiperaktif sudah berapatemen dan saudara yang anaknya autis dan hiperaktif ini akibat dari apa ya? Kata temen karena banyaknya mengkonsumsi junk food tapi masa' iya sih? Kalau ada yang tahu sharing dong, (Nt)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku dibilanginnya karena turunan, ada yang karena rubela pas hamil, ada yang curiga karena MMR.Tapi bisa jadi juga, karena sekarang sudah banyak informasi tentang autis, jadi baru ketahuan deh anak autis. Soalnya dulu suamiku tidak dibilang autis, pdhl dari cerita mertua, curiga banget dia autis karena ciri2nya ada semua. Dokterku sendiri di tempat yang lama, tidak mau nge-cap pasiennya autis sebelum 5 tahun, sementara banyak juga kan dokter yang begitu lihat langsung yakin pasiennya autis. Aku inget dulu selalu di saranin second opinion, ya ? Biar lebih yakin, Kalau junkfood sih aku tidak tahu bisa jadi penyebab, cuma fyi, anak autis tidak boleh makan junkfood and msg, (IE)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku sih sudah bukannya second opinion lagi, sampai fourth, five, sixth opinion. Tidak percaya ahli-ahli disini pakai ahli negeri seberang juga,, dan hasilnya sama, dengan begini aku (mudah-mudahan) tidak salah menanganinya. Jadi aku tidak sekedar "ikut-ikutan" atau "latah" therapy ini dan itu, mana jaman aku 5 thn yang lalu itu susah cari info karena belum banyak yang tahu. Seperti yang sudah aku share sebelumnya yang terpenting, cari dulu akar permasalahannya, kemudian cari ahli yang tepat dan temukan penanganan yang cocok sesuai saran ahli dan hati nurani masing-masing. (DN)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan bicara anak pertamaku bukan main cepetnya kalau tidak mau dibilang kecepetan. Tapi anak kedua lain sama sekali, sudah 2 th sekarang tapi belum terlalu lancar bicaranya, kadang yang denger masih tidak ngerti. Padahal kalau dipikir, dulu anak pertamaku kan kalau aku ke kantor cuma ditinggal ama BSnya, sementara anak kedua sekarang lebih banyak temennya, ada kakaknya, BSnya, mbaknya kakaknya, mamiku, dll, logikanya anak kedua harusnya bisa lebih lancar berbicara. Tapi kenyataannya lain. Aku sih cuma mikir, yah anak adalah individu yang unik, selama secara keseluruhan perkembangannya baik, aku tenang-tenang saja. (SM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa anak ke dua begitu ya??&lt;br /&gt;Anakku memang baru 8,5 bulan. Actually dia sudah mulai ngoceh. Cuma herannya dia banyak ngoceh pas jam 4 pagi saat dia bangun karena pup. Atau jam2 Abangnya tidur. Aku perhatiin sih begitu. Mungkin kalau Abangnya sudah bangun, adiknya merasa kalah suara kali ya?? Soalnya si Abang anaknya bener2 heboh gitu. Aku sekarang rada2 cemas gitu, kasian juga lihat Arei tidak banyak omong saat ada Zaldi. Paling dia cuma senyum2 dan ketawa saja. Padahal aku sudah pancing2 supaya dia ngoceh. Tapi memang dia lebih banyak silent. Tapi memang dia tetep aktif ngikutin becandanya Abang. Sampai Embah-Abahnya bilang "ini anak idep (tidak banyak tingkah)". Tapi aku kok jadi worry ya? Jadi kalau jam 4 dia bangun, aku seneng banget, ngocehnya tidak brenti2. Ada tidak ibu yang pengalaman begini? Atau ada ide gimana supaya si adik tidak kalah suara sama Abangnya? (S)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu bayi, kakanya pendidam, tidak pernah ngoceh, tp umur 1 th tahu-tahu saja dia ngomong, jelas dan nyambung. Sementara adiknya, waktu bayi malah cerewet sekali, ngoceh terus, aku kirain bakalan cepetngomong, tahunya. salah aku. (SM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok yang sering aku temui tentang anak ke-2 begitu ya? Ibunya rata2 bilang, anak pertama bicaranya cepet, anak kedua lebih lambat. Apa kira2 karena terlalu ramai gitu, maka si anak lebih asyik mendengarkan daripada berlatih bicara ? (R)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kasus keponakanku karena anak pertama dominan di rumah dan seringnya sibuk dengan dirinya sendiri/main sendiri dan setiap adiknya mau ngomong sering dipotong dan ortunya secara tidak sengaja jadinya lebih sering ngobrol dan dengerin ngomongnya si kakak yang jelas daripada dengan si adik yang ngomongnya tidak jelas maksudnya, mungkin itu bikin si adik frustasi ya? Menurut DSA anakku biasanya anak ke 2 ngomongnya cepet juga karena meniru kakaknya apalagi kalau kakaknya banyak ngomong kecuali kasus tadi dan kebanyakan anak yang lambat bicaranya anak laki2 mungkin anak perempuan lebih cerewet kali ya? (Nt)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adikku pernah cerita kalau dia ketemu seorang ibu yang lagi terapi bicara anaknya di Klinik Anakku Bekasi. Menurut ibu ini setelah konsul beberapa kali dengan psikolog ketahuan anaknya telat bicara karena terbebani oleh kondisi kakak yang nota bene jadi "benchmark" si adek. Si adek pengen sekali seperti si Abang kesekolah, punya teman,main sepeda dst, sementara jarak umur membuatnya tidak bisa dan frustasi. Solusinya selain terapi si Ibu memberikan fasiltas sama dengan si Abang spt memasukkan ke PG membelikan sepeda dst. Aku juga baru tahu kalau hal seperti itu bisa juga membuat si adek mogok bicara. Aku juga harus waspada nih, dengan perkembangan anak keduaku (masih 6 bulan) karena si kakak super aktif untuk semua kegiatan termasuk bicara.(Es)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku yang ke dua (N) juga gitu, sampai sekarang sudah 16 bulan masih pakai bahasa planet, dia baru bisa bilang 'mama' dan 'udah'. Lain banget sama N (anak I) yang usia 14 bulan sudah mulai banyak mengucapkan kata2 walaupun hanya belakangnya saja. Tapi dari bayinya N memang banyak ngoceh, kebalikannya N tidak suka ngoceh, seingatku dulu pernah dibilang kalau anak bayi suka ngoceh ngomongnya lama, tapi kalau diem ngomongnya cepat. Hal ini terbukti untuk kedua anakku, tapi kalau interaksi dengan kita biasa2 saja, anaknya normal2 saja kan ibu? (YA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi Buku: Stephen Camarata John F. Kennedy Center on Development and Disabilities&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-6955175174955277965?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/6955175174955277965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=6955175174955277965' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6955175174955277965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6955175174955277965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/04/jika-anak-anda-terlambat-berbicara.html' title=''/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-1777142068122065340</id><published>2009-04-21T23:17:00.000-07:00</published><updated>2009-04-21T23:17:00.950-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peran Orang Tua'/><title type='text'>Belajar mendengarkan anak</title><content type='html'>Anak umumnya hanya mau mendengar komunikasi yang menyenangkan. Karena itu, lihat situasi dan kondisi saat berkomunikasi dengan anak. Termasuk memerintah, menegur atau melarang anak. Si kecil cuek? Jangan bingung dulu sebab seperti dipaparkan Sri Razwanti Suciyati, Psi., anak usia ini sudah mulai memahami perintah. Cuma karena sifat egosentris yang dimiliki, anak biasanya hanya mau mendengarkan perintah/pembicaraan menyenangkan saja. "Kalau perintah itu tidak membuat dirinya senang, maka dia akan bereaksi negatif. Salah satunya dengan sikap cuek."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran ketika orang tua berkata, "Adek beresin mainan ya," atau "Eh Adek kenapa tadi kamu enggak cium tangan kakek?", anak langsung cuek seolah tak mendengar kata-kata orang tuanya. Lain halnya jika orang tua berkata, "Eh, Dek jajan yuk!", atau "Sekarang di teve ada Kapten Tsubatsa lo.", bisa dipastikan si prasekolah langsung memberikan respons positif. Itulah mengapa, jangan sekali-kali menganggap si prasekolah yang cuek tidak mendengar apa pun yang dikatakan padanya. Karena di balik sikap cueknya, sebenarnya anak menangkap isi pembicaraan tersebut. Sikap pura-pura tidak mendengar seperti ini bukan cuma di rumah, tapi juga di "sekolah". "Banyak anak yang di kelasnya seolah tidak memperhatikan penjelasan sang guru. Namun begitu waktu "sekolah" usai, ia bisa menceritakan panjang lebar tentang materi pelajaran kepada orang tuanya di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap cuek si kecil tidak lain merupakan bentuk penolakan terhadap isi pesan. Saat orang tua menegur si kecil agar berhenti nonton teve, anak menanggapinya dengan cuek karena ia tidak mau aktivitasnya dihentikan. Demikian pula, misalnya, ketika orang tua menegur anak agar tidak main-main dengan kompor, ia sebenarnya tidak mau dilarang main-main kompor. Menurut psikolog yang akrab disapa Ade ini, sikap cuek turut dipengaruhi oleh karakter anak. Anak dengan karakter pasif dan pemalu, biasanya memang lebih cuek daripada anak yang aktif dan terbuka. Begitu juga anak yang bersikap cuek karena belum mengenal orang yang mengajaknya bicara. Itulah sebabnya, sebelum bertanya atau memberi perintah, baik orang tua maupun siapa pun, hendaknya mengenal anak dengan baik. Disamping itu, anak yang pasif perlu dipupuk kepercayaan dirinya agar tidak segan berkomunikasi dengan orang yang belum dikenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KIAT MENGATASINYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikolog dari Essa Consulting Group menawarkan beberapa kiat untuk mencegah maupun mengatasi sikap cuek anak saat berkomunikasi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu Aktivitasnya Selesai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat anak terlihat sibuk, tunggulah hingga aktivitasnya selesai. Sebab anak sulit mengalihkan perhatian ketika asyik dengan kegiatannya. Saat anak asyik nonton tayangan kesukaannya, tunggulah berkomunikasi hingga jeda iklan. Akan sia-sia jadinya jika orang tua bicara selagi anak sedang sibuk main/nonton. Kecuali jika pembicaraan itu memang benar-benar penting. Jika ini yang terjadi, tidak ada jalan lain, orang tua mesti memaksa anak menghentikan aktivitasnya. Atau supaya si kecil tidak terganggu aktivitasnya, orang tua boleh saja memberi peringatan beberapa puluh menit sebelumnya. "Nanti sepuluh menit lagi kamu mandi ya." Dengan cara itu, anak memiliki persiapan ketika harus menghentikan aktivitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara Dekat Anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian anak akan mudah terfokus saat orang tua berbicara langsung. Karena itu, baik ketika memberi perintah, berdialog, atau menanyakan sesuatu, usahakan berbicara tidak jauh secara fisik dari anak. Anak pun akan mudah menangkap pesan yang disampaikan orang tua. Sebaliknya, anak akan cenderung tidak memperhatikan ketika seseorang berbicara jauh secara fisik dari dirinya. Orang tua tidak bisa begitu berteriak-teriak dari dapur, sedangkan anaknya sedang asyik bermain di halaman rumah. "Anak tentu akan sulit menangkap pesan orang tua hingga bersikap cuek." Kecuali dalam situasi dan kondisi tertentu, orang tua boleh saja berkomunikasi dari kejauhan. Asal kejauhannya tidak menghambat pesan tersebut sampai kepada si kecil. Akan tetapi orang tua mesti bekerja keras agar pesan tersebut bisa ditangkap anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatap Mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatapan mata menandakan orang tua bersungguh-sungguh terhadap apa yang diucapkan. Apalagi bila saat itu orang tua sedang mencoba menegur sebuah perilaku buruk si kecil. Cara berkomunikasi seperti itu menandakan orang tua tidak main-main dengan yang diucapkan. Lain halnya jika orang tua menegur namun perhatiannya entah ke mana. Kalau ini yang terjadi, jangan harap si kecil tak bersikap cuek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontak Tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi dan kondisi tertentu, kontak tubuh anak juga perlu. Jenis kontak tubuh ini disesuaikan dengan tujuan komunikasi orang tua. Jika anak terlihat tidak memperhatikan, orang tua bisa membalikkan tubuh sekaligus memegang badan si kecil agar dia memperhatikan pembicaraan. Sikap itu menunjukkan keseriusan orang tua dalam berkomunikasi. Atau saat ingin mengajarkan nilai-nilai, orang tua bisa mendekap anak seraya mengembangkan senyum terlebih dahulu. Setelah itu, barulah orang tua bisa memasukkan pesan-pesan moral kepada anak. Kontak tubuh membuat anak merasa terlindungi sekaligus dicintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara Tegas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap tegas berbeda dengan sikap galak. Galak cenderung mengobral ancaman dengan nada bicara tinggi. Sementara sikap tegas hanya menuturkan apa yang tidak boleh dilakukan dibarengi nada bicara yang datar namun jelas, tidak terlalu tinggi dan tidak juga terlalu rendah. Adapun ekspresi orang galak mirip dengan orang yang sedang marah, sedangkan wajah yang tegas cenderung tanpa ekspresi. Sikap tegas membuat anak segan dan tak tergerak untuk melanggar aturan. Berbeda dengan sikap galak yang hanya akan membuat anak takut namun tidak konsisten perilakunya. Di dekat orang tua bisa bertingkah manis, tetapi jika di depan orang lain bisa bersikap sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat juga, jika anak sering digalaki, dia akan kebal saat dimarahi orang tua. Ade punya kasus orang tua galak yang kesulitan mendisiplinkan anak. Saking sering digalaki, anaknya cuek saja saat dimarahi. Padahal orang tua sudah berteriak-teriak marah. Barulah ketika orang tua mengeluarkan suara tertingginya, si anak menghentikan aktivitasnya dan menoleh pada orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hendak menegur anak yang kelamaan main game, ibu yang tegas cukup berkata, "Adek, ayo naik tempat tidur." Sementara yang galak akan mengatakan hal yang sama dalam ucapan, "Dari tadi kamu nonton teve terus. Pokoknya, kamu enggak boleh nonton teve lagi!" Sikap tegas juga mesti dilakukan secara bertahap. Jika cara satu dirasa tidak mempan, orang tua bisa mencari jalan lain. Misalnya, jika sudah tiga kali diingatkan agar mematikan video game-nya, orang tua bisa mematikan video game tersebut lalu menyuruh anak masuk ke kamarnya untuk tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ade juga menegaskan, terlalu lembut juga tidak baik buat perkembangan anak. Sebab sikap ini umumnya sulit membuat anak taat aturan. Karena saking sayangnya, orang tua sering tidak bisa bersikap tegas kepada anak. Akibatnya, orang tua tidak tahu mana hal yang benar dan mana pula yang salah. Sangat mungkin anak akan berontak jika suatu saat dia ditegur karena melakukan kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minta Tolong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hendak minta bantuan anak, yang pertama kali harus diucapkan adalah "minta tolong". Memang hal itu tidak serta merta mengikis sikap cuek-nya. Akan tetapi minimal orang tua telah mengajarkan anak bersikap santun. Anak pun merasa tidak dipaksa saat diperintah atau dimintai bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerjakan Bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut diingat, anak lebih mengingat contoh nyata ketimbang kata-kata. Bahkan meski tanpa disuruh, anak pun akan semangat menjalankan perintah asalkan ia melihat teman atau orang lain menjalani perintah yang sama. Jadi, usahakan memberi contoh terlebih dulu sebelum memberi perintah. Saat melihat mainan anak berantakan, contohnya, orang tua sebaiknya tidak berkata, "Adek ayo beresin mainan. Kalau enggak, Ibu enggak bakalan beliin mainan lagi lo." Akan lebih ampuh bila mengatakan, "Eh mainannya kita beresin sama-sama yuk. Ibu beresin mobilnya, kamu beresin motor-motorannya ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perintah/permintaan seperti itu, Ade menjamin, anak yang tadinya cuek bisa mendadak tergerak membantu ibunya membereskan mainan. Ingat, anak usia ini masih memerlukan bantuan orang tua untuk memupuk kemandiriannya. Kendati dengan berjalannya waktu, bantuan tersebut sedikit demi sedikit mesti dilepaskan, hingga akhirnya si anak bisa mandiri. Selain itu, cara ini pun secara tidak langsung akan mengajarkan pada anak bagaimana menjalin kerja sama. Saat mengerjakan sesuatu, anak dituntut bisa bahu-membahu dengan orang lain. Dengan demikian pekerjaan akan cepat selesai, selain sikap ego yang dimilikinya bisa diminimalkan. "Enggak lucu kan melihat orang lain sibuk bekerja sementara anak ongkang-ongkang kaki."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikan Teladan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teladan sangat bermanfaat buat si kecil. Dengan contoh konkret dari sosok idola, anak mudah menyerap sebuah perilaku. Ketika orang tua hendak mengajarkan pentingnya mendengarkan, mulailah dari memberi perhatian ketika si kecil berbicara. Cara itu akan mengajarkan si kecil bahwa memperhatikan orang yang tengah berbicara padanya merupakan bagian dari sopan santun. Jika tidak memungkinkan karena sedang sibuk, orang tua setidaknya memberikan penjelasan/alasan. Contohnya, "Adek ceritanya nanti ya, Mama sedang sibuk masak nih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : tabloid-nakita.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-1777142068122065340?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/1777142068122065340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=1777142068122065340' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/1777142068122065340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/1777142068122065340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/04/belajar-mendengarkan-anak.html' title='Belajar mendengarkan anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-6100786524915530811</id><published>2009-04-16T05:13:00.000-07:00</published><updated>2009-04-16T05:13:00.338-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kemampuan Berpikir anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar dan Bermain'/><title type='text'>Kenal Konsep Waktu</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep waktu bisa Anda perkenalkan sembari menerapkan disiplin. .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danang sedang asyik main dengan teman-temannya. “Mainnya 5 menit lagi ya Nang, setelah itu mandi,” ujar Mira. “Iya, Ma,” jawab jagoan cilik berumur 5 tahun itu. Memangnya Danang sudah kenal konsep waktu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mulai dibiasakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun belum terlalu memahami konsep waktu (sebuah konsep yang abstrak), namun dalam menerapkan disiplin, anak dapat diajarkan untuk menegosiasikan waktu. Si 5 tahun bisa mulai dibiasakan memakai pola waktu ketika melakukan berbagai kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya mengatakan, “Nanti kita makan makan siang jam satu. Setelah itu istirahat dan pergi ke dokter jam empat sore.“ Tentu saja Anda dapat menggunakan alat bantu berupa jam yang besar dengan jarum panjang dan jarum pendek untuk mempermudah si kecil memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketertarikan anak terhadap waktu yang cukup besar di usia ini mempermudah Anda mengenalkan konsep waktu Misalnya jika si kecil berkali-kali bertanya berapa lama lagi ayahnya sampai ke rumah; Anda dapat menjelaskannya dengan menunjukkan bahwa waktu tempuh dari kantor ke rumah kira-kira setengah jam. Itu berarti si kecil harus menunggu hingga jarum panjang bergerak dari angka 12 ke angka 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau Anda dapat menunjukkan waktu kapan ia boleh mulai nonton televisi dan kapan ia sudahi aktivitas menontonnya. Misalnya mengatakan ia dapat mulai menonton ketika jarum pendek menunjuk angka 4 dan berhenti menonton ketika jarum pendek menunjuk angka 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang si kecil tidak langsung mengerti penjelasan-penjelasan ini. Anak butuh waktu sekitar 1-2 tahun lagi untuk benar-benar memahami maknanya. Namun, dengan pembiasaan ini, si 5 tahun dapat memperkirakan dan membiasakan diri dengan penjelasan Anda mengenai waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alat negosiasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring berjalannya waktu, pemahaman si kecil terhadap konsep waktu kian baik. Waktu pun dapat digunakan sebagai alat negosiasi Anda ketika menerapkan disiplin padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya ketika si kecil enggan beranjak dari depan televisi, Anda dapat menegosiasikannya dengan memperbolehkan ia tetap menonton televisi 10 menit lagi. Tentu saja Anda harus menunjukkan seperti apa 10 menit yang Anda maksud dengan menunjukkan pergeseran jarum panjang dan di mana jarum panjang berhenti yang merupakan saat si kecil harus menghentikan kegiatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau negosiasi kadang-kadang berjalan alot dan si kecil kerap menawar waktu yang Anda tetapkan, namun cara mendisiplin seperti ini biasanya berhasil karena anak merasa keinginan terakomodasi dengan membiarkannya melakukan apa yang disenangi dalam batas waktu tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan Anda agar si 5 tahun melakukan apa yang Anda minta pun dapat terlaksana. Intinya, Anda dan si kecil sama-sama senang dengan pengaturan waktu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Esthi Nimita Lubis&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-6100786524915530811?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/6100786524915530811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=6100786524915530811' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6100786524915530811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6100786524915530811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/04/kenal-konsep-waktu.html' title='Kenal Konsep Waktu'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-3162458094711801983</id><published>2009-04-10T20:18:00.000-07:00</published><updated>2009-04-10T20:18:00.302-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayah harus tahu ini....'/><title type='text'>Ayah, Menentukan Kualitas Anak</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;       &lt;div&gt;Seorang ayah dapat menjadi model bagi anak-anak mereka, mencontoh perilaku ayah itulah yang sering dilakukan anak-anak. Namun tidak selamanya seperti itu, bisa saja sang anak meniru perilaku buruk ayahnya. &lt;/div&gt; &lt;p&gt;Apa pun jenis kelamin anak, ayah adalah model terdekat bagi mereka. Sikap dan perilaku ayah terhadap rumah, keluarga dan orang lain terekam dengan kuat dalam memori anak. Dibanding anak perempuan, ternyata anak laki-laki lebih senang mencontoh perilaku ayah mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seorang ayah yang bermalas-malasan, memberi catatan pada anak laki-laki untuk juga bersikap demikian. Namun, pada anak perempuan akan lahir pemahaman negatif tentang laki-laki. Dia akan berkesimpulan bahwa sifat laki-laki adalah suka bermalas-malasan!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk menjadi ayah yang baik bagi anak-anak, diantaranya :&lt;/p&gt; &lt;table border="0"&gt; &lt;tbody&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;-&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;strong&gt;Perlakukan ibu dari anak-anak dengan baik&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Menjaga keutuhan pernikahan dan rumah tangga, mendengarkan pendapat istri dan menanggapi kebutuhannya merupakan manifestasi dari perlakuan baik terhadap ibu dari  anak-anak. Anak mengamati, dan kemudian membentuk perilaku dan pola pikir tentang menghargai pasangan.&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;-&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;&lt;strong&gt;Peka terhadap kondisi rumah&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;Perhatikanlah hal-hal kecil yang ada disekitar rumah. Jangan sampai istri atau anak Anda mengingatkan untuk hal-hal kecil yang sebenarnya Anda sudah mengetahuinya namun belum berbuat sesuatu terhadap hal tersebut.&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;-&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;&lt;strong&gt;Luangkan waktu bersama anak&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;Cara seorang ayah menggunakan waktu luangnya memberi pemahaman pada anak tentang hal penting dalam hidup ayah. Bila ayah menggunakan waktu luangnya bersama anak, anak akan paham bahwa ia penting dalam kehidupan ayah. Bila ayah asyik bermain sendiri, anak menafsirkan bahwa ayah mementingkan dirinya sendiri.&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;div&gt;Menjadi seorang ayah memang memerlukan proses yang panjang, diawali sejak masa kanak-kanak. Ayah yang santun, menghargai istri dan anak-anak, peduli urusan rumah,  dan sadar bahwa perilakunya menjadi teladan bagi anak-anak mereka tidak terbentuk begitu saja ketika ia sudah jadi ayah. &lt;/div&gt; &lt;p&gt;Berikut kelanjutan dari artikel sebelumnya.&lt;/p&gt; &lt;table border="0"&gt; &lt;tbody&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;-&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;strong&gt;Komunikasi dengan anak&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Umumnya ayah hanya mau bicara dengan anak bila anak melakukan kesalahan. Cobalah untuk membiasakan berkomunikasi dengan anak serta dengarkan ide serta masalah yang mereka miliki.&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;-&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;&lt;strong&gt;Jadilah guru bagi anak&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;Ajarkan hal baik dan buruk pada anak-anak. Dengan demikian, mereka akan membuat keputusan yang baik untuk dirinya.&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;-&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;&lt;strong&gt;Disiplinkan anak dengan cinta&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;Anak butuh bimbingan dan teladan, bukan ‘cuma’ hukuman. Tunjukkan tentang dampaknya bila anak tidak disiplin, tetapi tidak dengan menghukumnya.&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;-&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;&lt;strong&gt;Sediakan waktu untuk makan bersama&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign="top"&gt;Makan malam bersama, misalnya, dapat Anda jadikan kesempatan untuk mendengarkan hal-hal yang dilakukan anak sepanjang hari.&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;p&gt;Mulailah sedari sekarang untuk menjadi model terbaik bagi anak-anak Anda. Bagaimana? [&lt;em&gt;&lt;strong&gt;ab&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;]&lt;/p&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-3162458094711801983?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/3162458094711801983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=3162458094711801983' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3162458094711801983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3162458094711801983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/04/ayah-menentukan-kualitas-anak.html' title='Ayah, Menentukan Kualitas Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-6997384888131164880</id><published>2009-04-05T05:02:00.000-07:00</published><updated>2009-04-05T05:02:00.387-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kreatifitas'/><title type='text'>Si 1 tahun Menyusun Balok</title><content type='html'>Saat anak menyusun balok, ia tak sekadar meletakkan satu balok di atas balok lain. Keterampilan ini menyangkut proses berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat anak mulai berjalan sendiri, Anda pasti merasa lega. Tampaknya si kecil tak butuh dorongan Anda, karena ia sudah mendorong diri sendiri untuk terus berjalan. Bahkan, hingga Anda kewalahan mengejarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat si satu tahun semakin terampil berjalan, ada keterampilan lain yang sama pentingnya dengan berjalan. Di usia ini, keterampilan motorik halus anak juga kian berkembang. Ini ditandai saat ia mulai mencoba menyusun tiga buah balok. Umumnya, keterampilan ini dicapai anak Anda di usia 15 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keterampilan menyusun balok bukan hanya soal meletakkan balok di atas balok. Menyusun balok menyangkut proses perencanaan. Apa yang akan dilakukan dengan balok-balok itu,” ujar Gay Girolami , seorang terapis fisik di Chicago, Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Girolami mengatakan bahwa dengan berkembangnya keterampilan ini, berarti anak siap dengan tugas-tugas menolong diri sendiri. Misalnya, menggosok gigi sendiri, makan sendiri pakai sendok dan mencoret-coret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenali keterlambatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyusun balok mengandalkan keterampilan memegang benda kecil, meletakkannya di atas balok lain sambil mengusahakan keseimbangan. Keterampilan memegang benda kecil, sebenarnya dicapai anak sejak berusia 10 bulan, saat ia mulai suka menjumput remah-remah kue yang berserakan di dekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakmampuan melakukan tugas perkembangan tertentu, seperti menyusun balok, dapat menghambat berkembangnya keterampilan berikutnya. Saat anak Anda berusia 18 bulan, dan ia tidak berminat bermain susun balok, Anda perlu waspada. Mungkinkah si kecil mengalami keterlambatan? Apakah penyebabnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Karena kurang dirangsang atau kurang latihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Si satu tahun perlu dilatih dengan memberinya balok. Umumnya, anak usia ini berminat pada hal-hal yang berhubungan dengan sebab-akibat, sehingga ingin mencoba memadukan satu benda dengan benda lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Ada gangguan pada mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pandangan yang tidak jelas pada anak membuatnya enggan melakukan kegiatan yang menggunakan benda-benda kecil. Anda perlu memeriksakannya ke dokter sebelum hal ini berlangsung lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Ada gangguan pada saraf atau retardasi mental&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Gangguan ini dapat diwaspadai dari kemampuan meraba. Bila Anda mendapati si kecil Anda mengalami kelainan pada keterampilan meraba, Anda perlu waspada. Segera bawa ia ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variasi latihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai keterampilan dicapai saat anak berusia kira-kira satu tahun. Latihan-latihan fisik yang mengandalkan kekuatan otot besarnya, dilakukan tanpa kenal lelah. Keterampilan yang mengandalkan otot-otot kecil seperti menarik, mendorong, memutar, menekan, mengosongkan dan mengisi kotak, juga berkali-kali dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan kognitif anak usia ini pun tampak pada minatnya terhadap benda-benda bergerak, atau benda yang dapat digerakkan. Beri kesempatan pada si satu tahun untuk melatih keterampilan motorik halus, yang sekaligus memberi rangsang pada proses berpikirnya. Misalnya, beri telepon mainan dan juga balok-balok. Dengan telepon mainan ini si kecil Anda berlatih menekan tuts, mendengar bunyi, kemudian berbicara. Dengan mainan balok, anak berkesempatan melatih proses berpikir, selain meningkatkan keterampilan motorik halusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Immanuella F. Rachmani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-6997384888131164880?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/6997384888131164880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=6997384888131164880' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6997384888131164880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/6997384888131164880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/04/si-1-tahun-menyusun-balok.html' title='Si 1 tahun Menyusun Balok'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-2281498350724101359</id><published>2009-04-01T00:10:00.000-07:00</published><updated>2009-04-01T00:10:01.086-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernak-Pernik Sekolah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebiasaan buruk'/><title type='text'>Menyikapi Anak Enggan Sekolah</title><content type='html'>&lt;strong&gt;SAAT  &lt;/strong&gt;anak sudah memasuki masa sekolah, kadang Anda selaku orangtua mendapati mereka tengah berada dalam kondisi jenuh. Maka hal terpenting dalam menyikapi anak yang jenuh sekolah adalah dengan memahami penyebabnya, sehingga Anda bisa menemukan cara mengatasi yang tepat, sesuai dengan permasalahan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Rudangta Arianti  Sembiring Psi, psikolog yang &lt;em&gt;concern&lt;/em&gt; di bidang psikologi anak, kondisi  anak yang jenuh hingga membuatnya enggan sekolah biasanya hanya  sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak enggan sekolah biasanya hanya saat hendak berangkat ke sekolah. Ada saja alasan yang mendasarinya, baik karena manja ingin diantar orangtua atau karena sedang bermasalah dengan teman," kata Rudangta saat dihubungi &lt;strong&gt;okezone  &lt;/strong&gt;melalui telepon genggamnya, Jumat  (4/4/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, ada yang menyebabkan anak bermasalah dengan temannya. Salah satu hal yang acapkali terjadi adalah karena anak tidak bisa mengontrol sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Misalnya ketika anak dititipkan oleh orangtua pada guru, saat itu dia menjadi bulan-bulanan teman-temannya. Tak ayal, anak kerap menangis. Yang pada akhirnya membuat dia dimain-mainkan oleh teman-temannya," papar staf pengajar di Universitas Kristen Satya Wacana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sebatas itu saja, penyebab lain yang tak kalah penting adalah kebiasaan anak mengompol dan minum susu botol di sekolah. "Bahkan, kebiasaan anak yang selalu ingin diantar-jemput dan ditemani orangtua sering membuat anak menjadi bulan-bulanan teman," jelas psikolog lulusan Universitas Padjajaran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski hal-hal di atas menjadi penyebab anak enggan bersekolah, dari masing-masing tingkat sekolah akan berbeda. "Pada anak di tingkat kelas satu Sekolah Dasar (SD), biasanya masih senang sekolah. Tapi kalau sudah berada di tingkat selanjutnya, anak sudah mulai jenuh karena pelajaran yang diperolehnya sudah semakin &lt;em&gt;complicated&lt;/em&gt;. Sehingga hal itu yang memicu  anak enggan berangkat sekolah," terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), lanjut Rudangta, biasanya anak sudah berani untuk bolos bersama teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karakter remaja sudah  &lt;em&gt;pear group&lt;/em&gt;,&lt;em&gt; &lt;/em&gt;jadi daya tarik untuk memiliki alasan pergi bersama-sama untuk main dengan teman-temannya lebih besar daripada harus berangkat sekolah," tutur wanita ramah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambahkan olehnya, kadang anak memiliki 1000 alasan yang bisa meluluhkan hati orangtua untuk tidak sekolah. Terkait dengan psikologi perkembangan anak, pada masa sekolah, anak bisa melakukan &lt;em&gt;malingering&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Malingering&lt;/em&gt; sebetulnya istilah untuk anak berpura-pura sakit. Biasanya tindakan ini kerap dilakukan pada tingkat SD. Tiba-tiba anak mengaku sakit, padahal dia belum mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah) atau belum siap menghadapi ujian. Kalau sudah diberi izin, biasanya penyakit itu sembuh dengan sendirinya. Maka, waspadailah gelegat anak seperti ini," imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bila kebiasaan ini  sudah dibiasakan pada anak mulai dari tahap &lt;em&gt;pre school&lt;/em&gt;, maka akan berdampak tidak baik untuk pendidikannya. Karena itu, mengajari anak disiplin sangat penting diterapkan sejak dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, disiplin tidak hanya berlaku di sekolah saja. Anda juga bisa mengajarkan disiplin di rumah. Kesibukan di rumah seperti membereskan kamarnya sendiri, meletakkan alat-alat permainan dan alat sekolahnya sendiri, merupakan aktivitas yang mengajarkan tata tertib dan disiplin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab kalau mulai &lt;em&gt;pre school &lt;/em&gt;anak sudah tidak diajari disiplin, maka akan membuat dia merasa bisa melarikan diri dari sekolah. Tapi, terlalu sering sekolah juga tidak baik. Karena pada tahap &lt;em&gt;pre&lt;/em&gt; &lt;em&gt;school &lt;/em&gt;adalah masa di mana anak untuk belajar bersosialisasi," tukasnya seraya menuturkan hal ini akan berlangsung hingga ke tingkat selanjutnya. &lt;b&gt;(nsa)&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-2281498350724101359?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/2281498350724101359/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=2281498350724101359' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/2281498350724101359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/2281498350724101359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/04/menyikapi-anak-enggan-sekolah.html' title='Menyikapi Anak Enggan Sekolah'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-4023493028491391533</id><published>2009-03-29T01:10:00.000-07:00</published><updated>2009-03-29T01:10:00.462-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Guru - Pengajar - Pembimbing'/><title type='text'>Hadiah untuk Guru</title><content type='html'>Sumber: ibu ibu DI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;Sebentar lagi kan kenaikan kelas, rencananya aku mau memberi sesuatu ke ibu gurunya anakku di play group. Mohon info, kira-kira hadiah apa yang pantas ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;- Karena kebetulan guru anakku berjilbab, aku beri bahan baju muslim. Atau bisa juga bahan bagus yang tidak terlalu mahal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Aksesoris baju, bros, scarf, atau jepit rambut (kalau gurunya berambut panjang). Banyak sekarang aksesoris seperti itu yang bagus2 dan tidak mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Lilin cantik, sabun cantik, atau hiasan-hiasan rumah lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kupon (voucher) belanja mungkin lebih baik daripada kado karena mungkin mereka menerima banyak yang sama, seperti kupon restoran, kupon salon, kupon toko buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Atau kumpulkan bersama orang-orang tua yang lain, sehingga bisa membelikan hadiah yang agak mahal sekalian, seperti perhiasan emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Handycraft seperti pigura atau hiasan meja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kitchen ware seperti piring, mangkok saji, vas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Satu set taplak meja unutk guru yang sudah berkeluarga&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-4023493028491391533?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/4023493028491391533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=4023493028491391533' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/4023493028491391533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/4023493028491391533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/03/hadiah-untuk-guru.html' title='Hadiah untuk Guru'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-4814433873857890361</id><published>2009-03-21T23:16:00.000-07:00</published><updated>2009-03-21T23:16:00.447-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alternatif learning'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar dan Bermain'/><title type='text'>Manfaat Berkemah Bagi Kecerdasan Natural Anak</title><content type='html'>Banyak orangtua menjadi bingung ketika anak meminta izin untuk ikut berkemah bersama teman-temannya. Biasanya orangtua akan merasa serba salah bila harus memutuskan hal yang satu ini. Jika diizinkan, mereka takut kalau-kalau nanti terjadi sesuatu yang tidah diharapkan. Tetapi jika dilarang, anak biasanya akan marah dan merasa kecewa. Anak akan beranggapan bahwa orangtua tidak pengertian dan tidak mau memberikan kesempatan kepadanya untuk bisa bersenang-senang bersama teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan izin kepada anak untuk berkemah memang tidak mudah. Terutama bagi orangtua yang tidak biasa melepaskan anak bermalam di suatu tempat yang baru dan bersama pihak lain. Kondisi seperti ini akan cenderung membuat orangtua ingin melarang anak agar tidak jadi ikut berkemah. Sebab, membiarkan anak pergi berkemah boleh jadi akan membuat perasaan orangtua menjadi terasa sangat tersiksa. Bayangan-bayangan negatif yang mungkin terjadi pada diri anak selama di perkemahan akan terasa sulit sekali untuk dihapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi hal di atas, sebagai upaya untuk menghindarkan perasaan khawatir yang berlebihan maka orangtua seyogyanya meyakinkan terlebih dahulu bahwa anak akan mengikuti acara berkemah bersama orang-orang yang dapat dipercaya dan di lokasi yang tidak membahayakan (aman). Bila semuanya sudah jelas, janganlah orangtua lupa untuk memberikan penjelasan kepada anak tentang apa saja yang harus dilakukan apabila ia mendapatkan kendala saat berkemah. Selain itu, pesankan kepada anak dengan cara yang bijak agar ia selalu menjaga diri dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, banyak nilai positif yang dapat diambil oleh anak melalui berkemah ini. Beberapa di antaranya adalah mengajarkan anak bagaimana bertahan hidup, belajar bekerja sama dengan orang lain bila ia membutuhkan bantuan, belajar bagaimana cara membuat tempat untuk beristirahat yang nyaman dan aman. Selain itu, berkemah juga baik untuk merangsang kecerdasan natural (naturalist intelligence) anak. Sebab, membiarkan anak berada di ruang terbuka dapat mendorong anak mengetahui banyak informasi dan pengetahuan tentang bentuk-bentuk alam yang ada di sekitarnya ( dr. Maya &amp; Wido, 2006). (yer)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : perkembangananak.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-4814433873857890361?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/4814433873857890361/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=4814433873857890361' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/4814433873857890361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/4814433873857890361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/03/manfaat-berkemah-bagi-kecerdasan.html' title='Manfaat Berkemah Bagi Kecerdasan Natural Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-3947811567420195091</id><published>2009-03-16T05:12:00.000-07:00</published><updated>2009-03-16T05:12:00.600-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rewards - Punishment'/><title type='text'>Hukuman Tepat untuk si Kecil</title><content type='html'>Menghukum anak adalah hal yang tidak menyenangkan, tapi kadang tak terhindari. Tapi, ada cara tepat untuk melakukannya. Yang jelas, memukul itu sangat salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan dari kita tidak suka menghukum anak. Di lain pihak, kalau sudah letih, dan anak terus rewel atau membandel, godaan untuk menjewer, berteriak keras (lengkap dengan segala umpatan yang terlintas di kepala) atau, ya Tuhan, menempeleng, rasanya sukar ditahan. Memang, menghukum itu ada seninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda harus tahu, menghukum dengan cara yang salah, bisa berdampak besar pada Anak. Hukuman fisik tidak dapat dibenarkan sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempertimbangkan akibat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukuman fisik membuat anak seperti orang tak berdaya, yang tak bisa berkata tidak dan wajib patuh. Jika kita pukul si kecil, misalnya, kita seperti menjatuhkan harga dirinya. Letupan emosi kita yang sesaat ini bisa berdampak panjang. Tindakan itu sangat bertolak belakang dengan tujuan kita mendidiknya, agar ia punya dasar hidup yang kuat untuk mandiri dan punya rasa percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, bila anak kita pukul, ia akan kehilangan kepercayaannya kepada kita. Padahal, selama ini ia memandang kita sebagai orang yang selalu melindungi. Bayangkan, bagaimana perasaannya jika selama ini dia selalu kita libatkan dalam diskusi tentang berbagai hal, tapi ketika ia tidak menurut, tangan kita melayang ke tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukuman fisik bisa membuat si kecil terluka secara fisik, takut, marah, dan menjaga jarak dengan kita. Dengan semua perasaan itu, bukan tidak mungkin, si kecil malah jadi tukang melawan dan bertindak agresif karena tidak dapat menerima perlakuan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukuman alternatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anak bertingkah keterlaluan, hukuman tentu tetap perlu diberikan. Ada berbagai bentuk hukuman alternatif, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Meninggalkan anak untuk sementara waktu.&lt;br /&gt;* Tidak memperbolehkannya melakukan hal-hal yang diinginkannya.&lt;br /&gt;* Meminta dia tinggal di kamar selama beberapa lama. Cara ini cocok bagi anak usia di atas tiga tahun, yang sudah bisa menerima hukuman sebagai konsekuensi perbuatannya.&lt;br /&gt;* Bagi si dua tahun yang tengah memasuki usia pemberontak, ada cara tersendiri. Cara terlazim ialah dengan membiarkan dia hingga tenang, jika misalnya ia ia tak mau diam dan meronta-ronta. Setelah ia tenang, berikanpujian dan biarkan ia mendapatkan apa yang diinginkannya.&lt;br /&gt;* Menggunakan kata-kata. Sampaikan dengan tegas, singkat dan padat kekecewaan Anda padanya. Jangan mengulang-ulang kata-kata Anda. Begitu keberatan Anda sampaikan dan si kecil menerima dan menunjukkan penyesalan, konflik perlu segera diakhiri agar hubungan Anda dan anak kembali manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eleonora Bergita&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-3947811567420195091?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/3947811567420195091/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=3947811567420195091' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3947811567420195091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3947811567420195091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/03/hukuman-tepat-untuk-si-kecil.html' title='Hukuman Tepat untuk si Kecil'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-3452426471615996397</id><published>2009-03-10T20:13:00.000-07:00</published><updated>2009-03-10T20:13:00.305-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Mental - Moral'/><title type='text'>Ajarkan Sikap Toleransi dan Pemaaf pada Anak</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;       &lt;p&gt;Sikap toleran dan pemaaf merupakan salah satu kunci sukses bagi anak untuk dapat menjalin hubungan dengan orang lain. Toleransi merupakan awal dari sikap menerima bahwa perbedaan bukanlah suatu hal yang salah. Justru, perbedaan harus dihargai dan dimengerti sebagai ‘kekayaan’. Sikap toleran juga akan mengarahkan anak kepada sikap baik, yaitu pemaaf.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perilaku toleran dapat dicontohkan orangtua dengan saling memberi kesempatan berbicara dan menyatakan pendapat atau saling memaafkan. Jika anda tidak senang didebat dan mau menang sendiri akan menjadi contoh buruk bagi anak anda. Ucapan dan kata yang sering didengar anak akan membekas dalam ingatannya. Saat memarahi anak, usahakan jangan mengeluarkan kata-kata yang tidak baik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seleksilah media dengan seksama seperti bacaan serta tontonan anak agar hal-hal yang kurang baik dapat dihindari. Pilihkan bacaan atau tontonan yang memberikan contoh bagus tentang sikap toleran dan pemaaf. Setiap kali ada contoh menarik, tanyakan bagaimana pendapatnya dan ungkapkan pula pendapat anda. Seperti memuji sikap tokoh kartun yang menerima pendapat temannya. Jika hal tersebut dilakukan secara rutin, anak memperoleh kepastian dan merasa mantap tentang apa yang harus ia lakukan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebaiknya anda juga harus belajar menghargai pendapat anak serta meminta maaf jika anda melakukan kesalahan. [&lt;em&gt;perempuan&lt;/em&gt;]&lt;/p&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-3452426471615996397?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/3452426471615996397/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=3452426471615996397' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3452426471615996397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/3452426471615996397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/03/ajarkan-sikap-toleransi-dan-pemaaf-pada.html' title='Ajarkan Sikap Toleransi dan Pemaaf pada Anak'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-186198465670404</id><published>2009-03-05T04:59:00.000-08:00</published><updated>2009-03-05T04:59:01.174-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Autis'/><title type='text'>Autisme karena Faktor Genetik?</title><content type='html'>Faktor genetik dicurigai memberi kontribusi terhadap munculnya autisme. Tim peneliti dari Amerika Serikat berusaha membuktikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini tim ahli genetika yang dipimpin oleh Aravinda Chakravarti dari Johns Hopkins University School of Medicine, Baltimore, Amerika Serikat, memulai penelitian terhadap keluarga yang memiliki anak-anak autis. Tak hanya hipotesanya yang menarik, pemanfaatan teknologi digital canggih untuk menganalisis DNA anggota-anggota keluarga dari penyandang autisme membuat semua pihak tak sabar menantikan hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim peneliti yang meliputi para pakar dari Johns Hopkins University dan University of Chicago ini melibatkan 465 keluarga yang juga mencakup 979 individu penyandang autisme. Tim ini memperoleh dukungan dana 3 juta dolar AS dari National Institute of Mental Health.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi digital&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Autisme adalah gangguan psikiatri yang ditandai adanya masalah komunikasi dan interaksi sosial, serta perilaku yang tidak normal. Misalnya, gerakan salah satu anggota tubuh yang berulang-ulang. Diperkirakan, satu dari 500 anak menderita gangguan autisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, faktor lingkungan dituding sebagai biang keladi pemicu autisme. Tapi, sejak lama para ahli mencurigai adanya faktor genetik yang menjadi biang keladi. Nah, salah satu teori genetika yang cukup berkembang selama ini adalah terdapatnya copy beberapa gen dan kromosom ekstra yang berperan memicu munculnya autisme dalam sebuah keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bantuan sebuah alat teknologi canggih digital yang dikembangkan oleh Victor Velculescu , yang juga anggota tim, diharapkan dapat mengungkap rahasia genetik di balik autisme. Dengan alat tersebut, tim akan membandingkan DNA dari anggota-anggota keluarga yang sehat dan yang menyandang autisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copy DNA yang hilang dan bertambah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia memiliki dua copy (duplikat yang identik) dari setiap gen. Tetapi kadang-kadang ada gen yang “dihapus”, dan ada pula gen yang “ditambahkan” secara alami. Selama ini, para peneliti telah memusatkan perhatian untuk menemukan perubahan kromosom dalam gejala autisme. “Sayangnya, belum ada temuan yang secara konsisten memandu kami ke sebuah titik terang,“ jelas Chakravarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila tim ini berhasil menemukan copy gen ekstra pada para penyadang autisme, maka mereka akan memastikan, apakah penambahan copy gen merupakan faktor yang memberi kontribusi pada munculnya gangguan tersebut atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya hendak menggarisbawahi bahwa faktor lingkungan yang berpotensi memicu autisme jumlahnya tak terhingga ( infinite ). Jadi, tentu saja sulit mengidentifikasi faktor lingkungan yang mungkin berinteraksi dengan gen untuk memicu munculnya autisme,” jelas Chakravarti. Ini memang tantangan para peneliti, karena jika kita berbicara tentang genom (semua DNA yang terkandung dalam sebuah organisme atau sel) manusia yang begitu besar, maka sifatnya sangat terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan lain dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor genetik yang bertanggung jawab atas cakupan gejala autisme yang cukup luas yang dikenal sebagai sebuah spektrum. Sebab, ada penyandang yang hanya menderita gangguan komunikasi tetapi ada juga yang ekstrem, ditandai dengan gerakan tubuh berulang-ulang. Hasil penelitian ini diharapkan juga dapat mengungkapkan penyakit-penyakit kompleks lainnya, terutama masalah di bidang psikiatri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi Maerzyda A. D. Th.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-186198465670404?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/186198465670404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=186198465670404' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/186198465670404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/186198465670404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/03/autisme-karena-faktor-genetik.html' title='Autisme karena Faktor Genetik?'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-1945664140238669781</id><published>2009-03-01T22:54:00.000-08:00</published><updated>2009-03-01T22:54:00.543-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pernak-Pernik Sekolah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Problem Solving'/><title type='text'>Anak Malas Sekolah</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;WASPADAI&lt;/strong&gt; jika anak yang biasa rajin ke sekolah, tiba-tiba enggan berangkat. Menyelidiki apa yang terjadi, merupakan langkah terbaik yang harus dilakukan orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah adalah awal paling penting bagi anak-anak. Seperti aktivitas rutin yang dimulai dari bangun tidur, sarapan pagi, mempersiapkan buku, hingga berangkat sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan rutin di pagi hari tersebut tidak akan menjadi beban bagi orangtua jika si anak menjalaninya dengan senang hati dan gembira. Sebaliknya, orangtua akan bingung jika tiba-tiba anak enggan bangun pagi, menolak sarapan, ataupun malas mengenakan seragam untuk sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika biasanya anak bersemangat bercerita tentang aktivitas di sekolah, tapi belakangan tiba-tiba sering melamun dan bermalas-malasan, seperti malas mengerjakan PR, belajar sampai-sampai malas berangkat ke sekolah, orangtua sebaiknya jangan langsung memarahi atau menghukum anak. Orangtua harus jeli dan bijak mencari penyebab anak berperilaku demikian. Sebab, jika tidak jeli, bisa saja anak akan semakin membenci sekolah dan bahkan trauma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti penelitian yang dilakukan seorang dokter anak dari Pediatric Medical Associates di Pennsylvania, Jeremy Lichtman MD yang mengungkap banyak hal penyebab anak tiba-tiba malas sekolah. Seperti alasan terlalu banyak tugas seperti pekerjaan rumah (PR) yang harus dikerjakan di rumah, lingkungan sekolah yang tidak nyaman, bahkan anak tidak percaya diri ketika berada di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"PR memang tugas sekolah yang harus dikerjakan di rumah. Tetapi jika terlalu banyak, bisa-bisa membuat si kecil terbebani," kata Jeremy Lichtman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Jeremy, orangtua harus aktif mengetahui tugas-tugas apa saja yang diberikan guru pada anak. Periksalah tenggang waktu penyerahan tugas yang ditentukan guru. Bantulah anak dalam mengerjakan PR, namun bukan berarti orangtua yang mengerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biarkan si kecil yang mengerjakan sendiri PR-nya, tugas orangtua hanyalah membimbing dan mengoreksi apakah yang dikerjakannya sudah benar," tambah Jeremy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Faktor lain yang perlu diwaspadai ketika anak malas berangkat ke sekolah adalah lingkungan sekolah yang tidak nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian Jeremy, faktor itu biasanya disebabkan karena anak sering dijahili teman-temannya, bahkan bisa jadi dimintai uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kejadian seperti ini merupakan sesuatu yang sering didengar dan harus betul-betul diwaspadai orangtua agar anak tidak menjadi penakut atau bahkan trauma karenanya," ujar Jeremy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menghadapi hal seperti itu, Jeremy menyarankan agar orangtua segera mengambil tindakan. Tindakan itu bisa dengan menghubungi kepala sekolah dan ceritakan keluhan yang dihadapi si kecil saat sekolah. Mintalah kepala sekolah untuk menyelesaikannya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika ternyata hal itu tidak juga bisa diatasi, jangan segan memindahkan anak ke sekolah yang bisa menjamin keamanan si kecil. Yang penting anak tidak menjadi korban," katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab lainnya, anak memiliki rasa rendah diri dan sulit bergaul dengan teman seusia. Hal itu membuat anak benar-benar tidak tertarik berangkat ke sekolah, karena di benaknya, sudah tertanam bahwa di sekolah dirinya tidak akan memiliki teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakan pada anak bahwa dia sudah lebih beruntung dibandingkan dengan temantemannya yang cacat ataupun kurang mampu," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasihat dari Department of Counseling and Counseling Psychology, Auburn University Leah Davies, M Ed mengatakan, fobia sekolah atau dikenal juga Didaskaleinophobia adalah bentuk kecemasan yang tinggi terhadap sekolah yang biasanya disertai berbagai keluhan yang tidak pernah muncul atau hilang ketika berangkat sekolah sudah lewat atau pada hari libur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak yang mengalami fobia sekolah biasanya merasakan tidak aman, sensitif, dan sering kali tidak tahu bagaimana harus menghadapi emosi yang mereka rasakan," ujar Leah menulis di berbagai jurnal pendidikan di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menuturkan, fobia sekolah dapat dialami oleh setiap anak hingga usia 14-15 tahun, saat mulai bersekolah di sekolah baru atau menghadapi lingkungan baru. Atau, ketika menghadapi suatu pengalaman yang tidak menyenangkan di sekolahnya.&lt;/div&gt;     &lt;b&gt;(sindo//tty)&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8025918935464985325-1945664140238669781?l=pembelajaran-anak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/feeds/1945664140238669781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8025918935464985325&amp;postID=1945664140238669781' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/1945664140238669781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025918935464985325/posts/default/1945664140238669781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pembelajaran-anak.blogspot.com/2009/03/anak-malas-sekolah.html' title='Anak Malas Sekolah'/><author><name>Dyah Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00296308191076837958</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025918935464985325.post-8079823547492816475</id><published>2009-02-28T01:09:00.000-08:00</published><updated>2009-02-28T01:09:00.646-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengenalan Abjad dan Angka'/><title type='text'>Cara mengajar/memperkenalkan huruf pada anak (usia 1-3 tahun)</title><content type='html'>Sumber: Ibu-ibu DI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mau minta saran dari Ibu-ibu bagaimana caranya memperkenalkan/mengajarkan alfabet pada anak usia 3 tahun? Apakah harus dikenalkan satu-satu dari A-Z dulu baru kemudian mulai dengan dua huruf (seperti BA, BI), atau justru sebaliknya mulai dari huruf vokal dulu lalu mulai dengan BA, kemudian CA, CI, dan seterusnya? Dan berapa lama satu huruf itu diperkenalkan? Seminggu satu huruf atau lebih? Kalau bisa saya ingin belajar dari pengalaman para ibu yang lain. Terimakasih sebelumnya. [DV]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman dari anak pertama: Setiap kali mau tidur dibacakan cerita dari satu buku. Di belakang buku tersebut ada abjadnya. Setiap selesai baca cerita, lihat ke halaman belakang buku, sambil bernyanyi a b c d e f g dan seterusnya, sambil jarinya menunjuk ke abjadnya. Kalau untuk membaca, rangkai kata saja: bi-bi ba-ba bo-bo ta-ta, dan seterusnya. Sambil diseling-seling dengan kata-kata utuh seperti ru-mah, ti-dur, ma-kan, a-yah, i-bu. Kata-kata itu ditulis besar-besar. Mengajarnya sambil bermain kalau si anak sedang pegang mobil, dialihkan sebentar ke kertas untuk tulis mo-bil dan di bawahnya digambar mobil, jadi anaknya senang. Setiap anak berbeda karena ketika cara diatas diterapkan anak kedua tidak manjur karena lebih mengenal warna dulu, senang mewarnai dan tahu angka daripada abjad. [RR]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman anak saya di Montessori School yang mengajarkan pengenalan huruf adalah dari bunyinya. Jadi kalau A dibacanya ah...ah...ah. Jadi kalau dinyanyikan kurang lebih begini ah...ah...ah.. ah for apple, beh....beh....beh....beh for bee, ceh....ceh....ceh....for candy, dan seterusnya. Atau lewat lagu A, B, C, D, E, F, G (yang dilagukan seperti twinkle-twinkle little star). Menurut pengalaman dengan belajar lewat pengenalan bunyi akan lebih cepat ditangkap daripada dikenalkan huruf A, B, C. Kemudian dari bukunya Peggy Kaye (Games for Learning) bisa juga diajarkan huruf-huruf lewat permainan. Kalau anak sudah cukup mengenal huruf-huruf, dicoba dengan cara kita tuliskan huruf-huruf tersebut besar-besar di kertas (satu kertas satu huruf) kemudian kita minta anak kita untuk menaruh huruf tersebut di benda yang ada di rumah kita. Kegiatan ini menyenangkan sekali sehingga anak tidak terasa sedang belajar huruf. Ada satu cara lagi dari buku Montessori mengenai Read and Write:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;huruf-huruf juga bisa dipelajari dengan cara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menggunakan Sand Paper Letter. Kertasnya agak kasar, atau bisa juga digunakan kertas amplas yang agak halus kemudian dibentuk huruf-huruf. Setelah itu anak diminta untuk mengikuti huruf tersebut dengan jarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Setelah beberapa kali, barulah anak diminta menuliskan huruf di kertas yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Atau dengan Finger Painting menggunakan cat air. Jadi huruf-huruf ditulis menggunakan jari di kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara ini tidak terbatas untuk mulai huruf vokal atau konsonan terlebih dahulu. [AS]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila menggunakan metode Kinderland (Inggris), harus hafal Alphabet Terlebih dahulu baru kemudian kata per 3-huruf seperti: bad, cat, dog.&lt;br /&gt;Cara membacanya memakai metode phonic. Ini berbeda sekali dengan cara mengeja bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Cara mengeja bahasa Indonesia: be-a=ba, be-u=bu, semua dieja dari depan.&lt;br /&gt;- Cara mengeja bahasa Inggris: apple apple, aeh aeh aeh c-a-t dibaca keh-e-the, diejanya dari belakang eh-teh at, lanjutkan dengan keh-at jadi cat [MY]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari seminar tentang mengajar balita membaca, kita harus mengajarkan Balita membaca perkata, bukan per huruf atau per ejaan, seperti ba, bi, bu. Contohnya 1 kata dibuat di kertas karton dengan ukuran sedang, lalu kata ditulis cetak huruf kecil warna hitam, dan setiap hari karton itu ditunjukkan ke anak. Setiap satu hari dibacakan sekitar 5 kata minimal 3x sehari, pagi, siang sore. Anakku tidak cocok dengan cara belajar ini. Anakku lebih cocok memakai VCD lagu anak-anak. VCD ini ditonton sambil bernyanyi, a,b,c,d,e sampai z. Huruf-huruf di VCD tersebut ditunjuk. Kemudian setelah beberapa lama, huruf-huruf tersebut ditanyakan pada si anak. Setelah si anak hafal alphabet, baru kemudian diajarkan ba, bi, bu... dll. Setelah bisa ba, bi, bu, dll. kata-kata tadi digabung menjadi kalimat yang mudah misal bobo, baso, bola, mami, mama, dan lain-lain. [NSM]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alphabet mulai diperkenalkan sejak usia sekitar 2 tahun tahun dengan memakai board book yang besar dan gambarnya menyolok. Dari metode belajar disekolah, anak saya mengalami kemajuan yang pesat. Metode mengajar membacanya memakai metode mengeja Be-a=Ba, be-i=Bi, dan seterusnya. [VT]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dicoba dengan flash card yang terdapat gambar dibalik kartunya. Dengan menggunakan flash card, diajarkan langsung kata per kata. Bisa juga diteruskan dengan melengkapi kata seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GAMBAR MEJA -- ME __, kemudian si anak meneruskan dengan huruf yang hilang. Sebagai tambahan, walaupun menggunakan model kata per kata, huruf ABC. Juga harus diperkenalkan. Pengalaman dari anak pertama saya, huruf ABCD dipasang di dinding. Setiap kali masuk kamar, huruf-huruf tersebut dinyanyikan. Kemudian si anak mencocokkan gambar (misalnya dari kartun Monica) dengan kata-katanya sampai akhirnya bisa membaca. [DST]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak saya diperkenalkan dengan Alphabet melalui komputer. Alphabet yang dikenalkan adalah kata-kata yang sering didengar anak seperti Mama, Ayah, Meja, dan sebagainya. [NMY]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alphabet diperkenalkan melalui bermain. Bisa juga menggunakan Alphabet bermagnit untuk ditempel di depan kulkas, atau dengan buku bacaan dan koran. Untuk waktunya bisa satu hari 1-2 huruf kemudian diulang kembali. [YA]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalan anak dengan Alphabet dimulai sejak usia kurang dari 2 tahun. Pertama dengan memasang huruf-huruf A-Z di dinding sambil diperkenalkan Ke anak. Kemudian di sekolah, anak diajarkan mengeja kata: ba bi bu, dan seterusnya. Saya juga menggunakan Dot Card (kartu Alphabet dengan tampilan depan bergambar, halaman belakang bertuliskan kata dari gambar tersebut. Misal: gambar Buku, tulisan BUKU). Gambar pada kartu tersebut diperlihatkan ke anak sambil diucapkan namanya, kemudian kartunya dibalik untuk diperlihatkan katanya sambil diucapkan kembali nama bendanya. Hari pertama 10 gambar, hari berikutnya 10 gambar yang sama, hari ketiga 10 gambar yang lama ditambah 10 gambar baru, terus sampai 50 kartu itu habis. Dengan cara tersebut, anak saya mulai hafal huruf bahkan untuk kata-kata yang sulit seperti kangguru, serbet, taplak, bingkai, sabtu, tangggal, dan sebagainya. Kemudian bisa juga dicoba untuk meminta anak membaca tulisan-tulisan besar yang ada di jalan. Kegiatan ini juga menyenangkan untuk anak. [AMH]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alphabet diperkenalkan sejak anak mulai berdiri (usia kurang dari 1 tahun) dengan cara menempelkan poster huruf di dinding. Pada usia 1 tahun anak mulai diajak bermain 'game' di komputer. Dengan menggunakan power point, dibuatkan flash card. Si anak akan mencocokkan huruf yang ada di layer dengan huruf-huruf di keyboard. Cara lainnya dengan bermain 'pura-pura'. Misalnya si anak diajak main masak-memasak. Si anak diminta mengambil 'kol' dari huruf K. Untuk membaca diajarkan baca dari vowel (ba, bi, bu) sebelum tidur setelah selesai membacakan cerita, diperlihatkan hasil print out vowel tersebut. Disamping itu dipasang juga poster vowel tersebut. Untuk memudahkan anak untuk menghapal, membacanya memakai nada lagu 'twinkle-twinkle little star'. Setelah anaknya hafal, dibuatkan permainan seperti kata babi, ditunjuk kata ba dan bi. [RN]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alphabet diperkenalkan sejak anak usia kurang lebih 1 tahun dengan cara menempelkan poster alphabet di sekeliling dinding di ruang  keluarga. Kemudian huruf-huruf tersebut diulang-ulang setiap kali ada di ruangan itu. Pada usia 2 tahun anak sudah hafal A-Z dengan cara tersebut. Kunci dari pengenalan alphabet adalah dengan pengulangan dan kebiasaan. Kemudian dibiasakan membaca (setiap ada waktu luang), dan setelah anak sudah bisa membaca sendiri, kita ajak membaca bergantian. [NV]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengenalan huruf dari VCD Teletubbies. Belajar membaca dengan metode phonic lebih mudah daripada mengeja. [DM]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alphabet diperkenalkan sejak usia 2 tahun dengan cara memasang poster alphabet di dinding kamar. Cara menggabungkan huruf menjadi kata dengan mengajak anak bercerita sebelum tidur. Contohnya: bercerita pergi berbelanja membeli s-a=sa, p-u=pu, anak ditanya belanja membeli apa? [RN]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alphabet dan warna diajarkan sejak anak usia kurang dari 2 tahun dengan cara menempel Wall Chart Alphabet di dinding. Setiap kali, huruf-huruf itu dibaca berulang-ulang seperti A-Apple, B-Baju, dan seterusnya. Selain itu, dengan memakai karpet dari karet yang huruf-hurufnya bisa dilepas, anak diajak bermain. Misalnya, "Ini huruf P. Kita carikan rumahnya P" Kemudian si anak akan mulai mencari-cari tempatnya yang sesuai dengan huruf P, dan seterusnya. Atau bisa dengan cara lain seperti "Adik memakai t-o-p-i" Kemudian dia akan jawab `topi'. "Ayah memakai d-a-s-i". Dia jawab dasi, dan seterusnya. [RTY]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alphabet dikenalkan sejak usia 1.5 tahun. Pertama dengan cara memutar VCD Teletubbies dan Barney tentang 
