| Kemampuan berkonsentrasi pasti membawa keberhasilan. Kemampuan ini menghasilkan penguasaan atas situasi, meningkatkan keefisienan, dan memungkinkan Anda memecahkan masalah Anda. Milton Wright berkata, "Ukuran bagi seorang manusia adalah sejauh mana ia dapat berkonsentrasi." Sebelumnya, Emerson menulis, "Konsentrasi adalah rahasia keberhasilan dalam politik, perang, perdagangan, singkatnya dalam semua manajemen urusan manusia." Bila Anda merasa daya konsentrasi Anda lemah, cobalah beberapa saran dari Robert J. Lumsden yang dituliskan dalam bukunya 23 Langkah Menuju Sukses dan Prestasi :
Di balik tips itu semua, daya ingat dan konsentrasi akan makin menurun dengan bertambahnya umur. Ada cara-cara untuk menjaga daya ingat dengan menggunakan jembatan keledai, dsb. Penurunan daya ingat yang amat cepat dapat disebabkan kerusakan sel otak akibat trauma kepala, penyakit pembuluh darah otak (stroke karena penyempitan pembuluh darah otak), Alzheimer, dll. |
Tampilkan postingan dengan label Daya Konsentrasi - Fokus Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daya Konsentrasi - Fokus Anak. Tampilkan semua postingan
Meneningkatkan konsentrasi
Cara Hafal Anak Kelas 3 Sd
Sumber: ibu ibu DI
Sejalan dengan perkembangan fisik, pada seorang anak juga mengalami perkembangan kognisi (kemampuan berpikir). Bisa jadi anaknya masih dalam tahapan berpikir konkrit praktis dimana segala informasi/data2 yang masuk haruslah data2 yang konkrit, nyata dan bisa diterima oleh panca indranya. jadi kalau diminta untuk hafal buta berdasarkan kalimat2 dari buku, kalimat2/informasi yang bersifat abstrak (anaknya belum bisa memiliki kemampuan membayangkan), tentunya menjadi sulit). Kalau saya boleh usul, ketika belajar (belajar apa saja), tolong bantu dia dengan mempersiapkan alat peraga, jadi si anak punya bukti/data otentik tentang hal2 yang harus dikuasainya dan tentunya informasi yang diperoleh dengan banyak bantuan dari alat2 peraga, tentunya akan lebih mudah diingat oleh si anak.
Misalnya belajar tentang klorophyl (tujuannya mau menjelaskan zat hijau daun), ambil saja daun2 yang berwarna hijau dan yang tidak punya warna hijau untuk kasih tahu bahwa daun yang berwarna hijau itu punya kloropyhl sedangkan yang kuning2 (misalnya), tidak punya kloropyhl. Kalau boleh tahu belajar IPAnya tentang apa misalnya? mungkin saya bisa bantu.
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam mengajarkan anak:
1. pengalamanku mengajarkan anak memang tidak cukup dengan mengandalkan buku2 dari sekolah, biasanya saya belikan buku tambahan untuk membantu saya mengajarkan si anak, buku2 tentang hewan atau tanaman2, dll.
2. perbedaan jenis kelamin, ada sedikit pengaruh terhadap kemampuan menghafal, biasanya, anak laki2 kurang suka terhadap materi2 yang menghafal dibandingkan anak2 perempuan, mereka lebih senang matematika, ilmu bumi, dll.
3. perkembangan kognisi anak, anak2 pada tahapan awal usia sekolah, masih memerlukan bantuan untuk mencerna informasi yang masuk; dalam artian, semakin konkrit informasi itu, maka semakin mudah dimengerti. misalnya: materi belajar anak usia praskolah adalah beda dengan usia sekolah, usia prasekolah, materinya penuh dengan warna dan besar2 penyajiannya, materi dalam bentuk gambar2 yang menarik dan soalnya sedikit2, sedangkan usia sekolah, materi sudah mulai disajikan dalam bentuk kalimat atau bahasa, mulai berkurang gambar2nya dan warna2nya juga tidak sebanyak usia praskolah.
Sebetulnya, usia sekolah itu sudah mulai memasuki tahapan perkembangan kognisi yang disebut sebagai abstrak conceptual yang ditandai bahwa anak mulai bisa membayangkan sesuatu, misalnya ketika bicara tentang alam semesta, dll.
Boleh tahu usia putra/putrinya ? Usia 3-7 th itu masuk ke dalam tahapan konkrit operasional, segala2 informasi harus konrit, real dan jelas, contoh: belajar tentang warna, bentuk (bulat, segitiga, kotak, dll), disajikan dengan contoh/alat peraga dan eye catching. Mulai usia 8th ke atas itu sudah masuk ke dalam tahapan perkembangan abstrak conceptual, misalnya soal2 dalam bentuk bahasa meskipun sebetulnya kalau disederhanakan bisa saja hanya perkalian 3x4 tapi sudah diperkenalkan dengan konsep bahasa, dll.
Berdasarkan pengalaman saya membuat materi pelajaran untuk anak2 SD, sebetulnya tingkat kesulitan dari setiap tingkatan kelas itu (materi kelas 1 VS materi kelas 2, dst.) masih dalam rentang tahapan perkembangan kognisi abstrak conceptual, hanya saja, quantity materinya yang ditambah, jadi pengertiannya, materi hafalan di kelas 2 juga ada dan kalau bisa naik ke kelas 3, coba ditelusuri lagi. bagaimana dulu metode pembelajaran menghafal putra/putri di kelas 2, apakah dengan proses drilling/dengan banyak2 contoh2 atau ada alat peraga.
Yang critical itu sebetulnya adalah pada bagaimana memilih metode pembelajaran yang paling tepat untuk anak, memang nantinya jadi si ibu yang harus kreatip untuk cari2 cara buat anak belajar dengan enak. Dulu sih ada metode yang namanya jembatan keledai seperti contoh untuk belajar not:
do - sado
re - sore
mi - mie bakso
fa - tifa, dst
kalau saya lihat, kasusnya putra/putri ibu lebih kepada bagaimana menimbulkan minat untuk menghafal bukan tidak bisa menghafal. Cara menimbulkan minat bisa dengan banyak hal:
1. ajak langsung berhubungan dengan materi pembelajarannya, misalnya: ajak jalan2
2. dengan bercerita (ibu menceritakan dan akhirnya ibunya jadi lebih pintar)
3. kalau pergi jalan2 sekeluarga, sekalian kasih tahu hal2 baru yang dilihatnya jadi, sambil jalan2 juga bisa belajar sekalian, belajar informal.
4. cari materi tambahan di toko buku, dengan gambar2 yang lebih 'eye catching'
Kalau boleh usul, jangan tekankan pada angka tetapi concern dengan pada bagaimana anak mengerti/memahami materi tersebut. Angka itu kadang2 bisa mengelabui kita, tapi pemahaman anak adalah mutlak, kemanapun dia pergi kalau dia memiliki pemahaman yang benar (red: anak mengerti dengan baik) pasti akan aman untuk dirinya sendiri dan orang tuanya. Tugas kita sebagai orang tualah yang membantu anak2 untuk memiliki pemahaman yang benar, dan tugas ini kritikal bu ! [Rm]
Waduh, anak kelas 3 sudah disuruh menghafal segitu banyaknya? Tidak heran kalau anakmu jadi putus asa begitu. Anakku juga sudah kelas 3 tapi karena dia autis aku memang sengaja cari sekolah yang tidak mengikuti kurikulum diknas, jadi pelajarannya tidak 'aneh-aneh'. Tapi apa iya, anak kelas 3 sudah harus dijejali hapalan yang seabrek-abrek seperti itu ? Kalau IPA okelah, tapi PLKJ atau apalah itu gunanya buat apa?
Karena sepertinya mau tidak mau anakmu harus tetap menghafal, untuk PLKJ lebih baik waktu weekend kamu ajak keliling/wisata langsung ke tempat yang harus dihafalkan anakmu. Kalau IPA juga bantu saja dengan memberi tahu langsung /memperlihatkan seperti apa sih stek, tunas, dll, jadi dia bisa kebayang bentuknya, baru sambil menghafal bahasa latinnya. Aku yakin kalau si anak melihat wujudnya akan lebih menarik dan memudahkan dia untuk mengingatnya. Sebenarnya sih itu tugas gurunya, tapi kalau di sekolah guru tidak bisa melakukannya ya sudah, demi anak sendiri terpaksa kamu yang harus bantu mengajarkan. Mudah-mudahan membantu ya. [Dm]
Kalau keponakanku dulu (anakku belum pada sekolah) diajak cerita sama ibunya, memang kebetulan kakakku rajin jadi dia baca dulu pelajaran sekolah anaknya trus dia cerita dengan penuh gaya sambil main-main tentunya, bisa sambil menggambar (yang digambar juga sesuai dengan yang diterangkan), atau sambil bermain peran, dsb, tapi herannya begitu besoknya ditanya -tanya sianak bisa jawab. Benar-benar tidak habis pikir aku, buat apa disuruh menghafalkan isinya museum? Kasian sekali anak-anak otaknya dijejalkan hal-hal yang tidak penting-penting amat. Kalau aku ditanya isinya apa saja, aku jawab kursi, meja, dll. Tapi benar buat anak-anak sebaiknya sistem mengajarnya adalah langsung melihat atau juga praktek, aku sudah merasakan manfaatnya di anak-anakku ketimbang cuma disuruh menghayal habis-habisan tanpa pernah melihat bentuknya. [En]
Sejalan dengan perkembangan fisik, pada seorang anak juga mengalami perkembangan kognisi (kemampuan berpikir). Bisa jadi anaknya masih dalam tahapan berpikir konkrit praktis dimana segala informasi/data2 yang masuk haruslah data2 yang konkrit, nyata dan bisa diterima oleh panca indranya. jadi kalau diminta untuk hafal buta berdasarkan kalimat2 dari buku, kalimat2/informasi yang bersifat abstrak (anaknya belum bisa memiliki kemampuan membayangkan), tentunya menjadi sulit). Kalau saya boleh usul, ketika belajar (belajar apa saja), tolong bantu dia dengan mempersiapkan alat peraga, jadi si anak punya bukti/data otentik tentang hal2 yang harus dikuasainya dan tentunya informasi yang diperoleh dengan banyak bantuan dari alat2 peraga, tentunya akan lebih mudah diingat oleh si anak.
Misalnya belajar tentang klorophyl (tujuannya mau menjelaskan zat hijau daun), ambil saja daun2 yang berwarna hijau dan yang tidak punya warna hijau untuk kasih tahu bahwa daun yang berwarna hijau itu punya kloropyhl sedangkan yang kuning2 (misalnya), tidak punya kloropyhl. Kalau boleh tahu belajar IPAnya tentang apa misalnya? mungkin saya bisa bantu.
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam mengajarkan anak:
1. pengalamanku mengajarkan anak memang tidak cukup dengan mengandalkan buku2 dari sekolah, biasanya saya belikan buku tambahan untuk membantu saya mengajarkan si anak, buku2 tentang hewan atau tanaman2, dll.
2. perbedaan jenis kelamin, ada sedikit pengaruh terhadap kemampuan menghafal, biasanya, anak laki2 kurang suka terhadap materi2 yang menghafal dibandingkan anak2 perempuan, mereka lebih senang matematika, ilmu bumi, dll.
3. perkembangan kognisi anak, anak2 pada tahapan awal usia sekolah, masih memerlukan bantuan untuk mencerna informasi yang masuk; dalam artian, semakin konkrit informasi itu, maka semakin mudah dimengerti. misalnya: materi belajar anak usia praskolah adalah beda dengan usia sekolah, usia prasekolah, materinya penuh dengan warna dan besar2 penyajiannya, materi dalam bentuk gambar2 yang menarik dan soalnya sedikit2, sedangkan usia sekolah, materi sudah mulai disajikan dalam bentuk kalimat atau bahasa, mulai berkurang gambar2nya dan warna2nya juga tidak sebanyak usia praskolah.
Sebetulnya, usia sekolah itu sudah mulai memasuki tahapan perkembangan kognisi yang disebut sebagai abstrak conceptual yang ditandai bahwa anak mulai bisa membayangkan sesuatu, misalnya ketika bicara tentang alam semesta, dll.
Boleh tahu usia putra/putrinya ? Usia 3-7 th itu masuk ke dalam tahapan konkrit operasional, segala2 informasi harus konrit, real dan jelas, contoh: belajar tentang warna, bentuk (bulat, segitiga, kotak, dll), disajikan dengan contoh/alat peraga dan eye catching. Mulai usia 8th ke atas itu sudah masuk ke dalam tahapan perkembangan abstrak conceptual, misalnya soal2 dalam bentuk bahasa meskipun sebetulnya kalau disederhanakan bisa saja hanya perkalian 3x4 tapi sudah diperkenalkan dengan konsep bahasa, dll.
Berdasarkan pengalaman saya membuat materi pelajaran untuk anak2 SD, sebetulnya tingkat kesulitan dari setiap tingkatan kelas itu (materi kelas 1 VS materi kelas 2, dst.) masih dalam rentang tahapan perkembangan kognisi abstrak conceptual, hanya saja, quantity materinya yang ditambah, jadi pengertiannya, materi hafalan di kelas 2 juga ada dan kalau bisa naik ke kelas 3, coba ditelusuri lagi. bagaimana dulu metode pembelajaran menghafal putra/putri di kelas 2, apakah dengan proses drilling/dengan banyak2 contoh2 atau ada alat peraga.
Yang critical itu sebetulnya adalah pada bagaimana memilih metode pembelajaran yang paling tepat untuk anak, memang nantinya jadi si ibu yang harus kreatip untuk cari2 cara buat anak belajar dengan enak. Dulu sih ada metode yang namanya jembatan keledai seperti contoh untuk belajar not:
do - sado
re - sore
mi - mie bakso
fa - tifa, dst
kalau saya lihat, kasusnya putra/putri ibu lebih kepada bagaimana menimbulkan minat untuk menghafal bukan tidak bisa menghafal. Cara menimbulkan minat bisa dengan banyak hal:
1. ajak langsung berhubungan dengan materi pembelajarannya, misalnya: ajak jalan2
2. dengan bercerita (ibu menceritakan dan akhirnya ibunya jadi lebih pintar)
3. kalau pergi jalan2 sekeluarga, sekalian kasih tahu hal2 baru yang dilihatnya jadi, sambil jalan2 juga bisa belajar sekalian, belajar informal.
4. cari materi tambahan di toko buku, dengan gambar2 yang lebih 'eye catching'
Kalau boleh usul, jangan tekankan pada angka tetapi concern dengan pada bagaimana anak mengerti/memahami materi tersebut. Angka itu kadang2 bisa mengelabui kita, tapi pemahaman anak adalah mutlak, kemanapun dia pergi kalau dia memiliki pemahaman yang benar (red: anak mengerti dengan baik) pasti akan aman untuk dirinya sendiri dan orang tuanya. Tugas kita sebagai orang tualah yang membantu anak2 untuk memiliki pemahaman yang benar, dan tugas ini kritikal bu ! [Rm]
Waduh, anak kelas 3 sudah disuruh menghafal segitu banyaknya? Tidak heran kalau anakmu jadi putus asa begitu. Anakku juga sudah kelas 3 tapi karena dia autis aku memang sengaja cari sekolah yang tidak mengikuti kurikulum diknas, jadi pelajarannya tidak 'aneh-aneh'. Tapi apa iya, anak kelas 3 sudah harus dijejali hapalan yang seabrek-abrek seperti itu ? Kalau IPA okelah, tapi PLKJ atau apalah itu gunanya buat apa?
Karena sepertinya mau tidak mau anakmu harus tetap menghafal, untuk PLKJ lebih baik waktu weekend kamu ajak keliling/wisata langsung ke tempat yang harus dihafalkan anakmu. Kalau IPA juga bantu saja dengan memberi tahu langsung /memperlihatkan seperti apa sih stek, tunas, dll, jadi dia bisa kebayang bentuknya, baru sambil menghafal bahasa latinnya. Aku yakin kalau si anak melihat wujudnya akan lebih menarik dan memudahkan dia untuk mengingatnya. Sebenarnya sih itu tugas gurunya, tapi kalau di sekolah guru tidak bisa melakukannya ya sudah, demi anak sendiri terpaksa kamu yang harus bantu mengajarkan. Mudah-mudahan membantu ya. [Dm]
Kalau keponakanku dulu (anakku belum pada sekolah) diajak cerita sama ibunya, memang kebetulan kakakku rajin jadi dia baca dulu pelajaran sekolah anaknya trus dia cerita dengan penuh gaya sambil main-main tentunya, bisa sambil menggambar (yang digambar juga sesuai dengan yang diterangkan), atau sambil bermain peran, dsb, tapi herannya begitu besoknya ditanya -tanya sianak bisa jawab. Benar-benar tidak habis pikir aku, buat apa disuruh menghafalkan isinya museum? Kasian sekali anak-anak otaknya dijejalkan hal-hal yang tidak penting-penting amat. Kalau aku ditanya isinya apa saja, aku jawab kursi, meja, dll. Tapi benar buat anak-anak sebaiknya sistem mengajarnya adalah langsung melihat atau juga praktek, aku sudah merasakan manfaatnya di anak-anakku ketimbang cuma disuruh menghayal habis-habisan tanpa pernah melihat bentuknya. [En]
MELATIH KONSENTRASI DI KELAS
"Randi, ayo duduk, Sayang. Selesaikan gambarmu!" kata seorang guru kelas di TK B. Perintah senada dilakukannya berulang-ulang, juga pada anak-anak lain. Mengapa anak prasekolah sulit fokus pada tugasnya?
Pemandangan anak-anak TK yang tak bisa duduk diam di kelas adalah biasa. Wajarnya memang begitulah mereka mengingat sebagian besar aktivitas anak usia prasekolah melibatkan gerak fisik dan bermain. Itulah mengapa, agak sukar bagi mereka bila harus duduk diam dalam waktu lama dan berkonsentrasi. "Sepertinya setiap anak dilengkapi dengan energi yang tak ada habis-habisnya untuk terus bergerak dengan lincahnya," kata Dra. Geraldine K. Wanei M.Psi., Lektor Kepala Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unika Atma Jaya, Jakarta.
Meskipun begitu, lanjut pendidik yang akrab dipanggil Gerda, anak-anak prasekolah boleh diajarkan untuk duduk diam menerima pelajaran. Apalagi di TK B (besar), anak-anak sebaiknya memang dipersiapkan untuk menerima sistem belajar di SD (Sekolah Dasar), dimana murid-murid mulai dituntut untuk tak ada lagi ribut atau berlarian di kelas. "Tetapi tentunya pengenalan itu hanya bisa dilakukan bertahap. Enggak bisa, kan, kalau tiba-tiba anak langsung disuruh duduk diam dan tak boleh berjalan-jalan di kelas." Jadi, aturlah kegiatan anak agar dapat fokus pada tugas yang diberikan dan menyelesaikannya dengan memperhatikan prinsip berikut.
JANGAN LEBIH DARI 15 MENIT
Orang tua perlu tahu, tingkat kesabaran dan perhatian anak berkembang bersama-sama dengan perkembangan fisiknya, terutama otot-otot kecil pengendali gerakan. Konsekuensinya, anak usia 4 sampai 5 tahun umumnya lebih senang menyelesaikan tugas yang singkat, membongkar apa yang sudah dikerjakan dan memulainya lagi berulang kali.
"Nah, dengan melihat karakteristik ini, persiapkan tugas dengan rentang waktu yang sesuai." Misalnya, tak perlu orang tua atau guru memberi pelajaran menggambar atau menggunting selama satu atau dua jam terus-menerus, karena umumnya anak-anak di TK hanya akan betah duduk diam paling lama 15 menit. "Jadi, guru harus mencari kegiatan yang bisa diselesaikan dalam jangka waktu 15 menit itu."
Bila anak diberi tugas panjang yang membuat mereka harus duduk diam dalam waktu lama, maka fokus pada tugas dan konsentrasinya akan cepat hilang. Barulah setelah anak mampu duduk diam selama 15 menit dan asyik mengerjakan tugasnya, guru boleh meningkatkan waktunya secara bertahap, misalnya ditambah 5 menit, begitu seterusnya.
DILATIH SAMBIL BERMAIN
Namun Gerda mengingatkan, meski anak tampaknya semakin anteng mengerjakan tugas, bukan berarti kita lantas bisa membebaninya dengan pelajaran-pelajaran yang belum menjadi kewajibannya. Contoh, langsung mengajarkan membaca atau menulis. "Di masa TK, meskipun sudah di TK besar, kita menyebutnya masa pramembaca, pramenghitung dan pramenulis atau belum sampai pada berhitung, membaca atau menulis yang sesungguhnya. Semuanya masih dilakukan sambil bermain." Intinya, tidak bijak jika anak prasekolah dipaksa cepat belajar membaca, menulis, dan berhitung sambil dituntut berkonsentrasi lama.
"Melatih anak untuk konsentrasi pada tugasnya juga bisa dilakukan sambil bermain, kok!" tukas Gerda. Jangan kita memforsir anak untuk belajar macam-macam di usia dini hanya untuk mengejar satu target. Umpama, harus sudah menghitung sekian puluh, padahal kemampuan anak usia 5 tahun mungkin baru 1 sampai 10. "Kalau dia hanya bisa sampai segitu, ya, itu saja yang dilatih untuk dikembangkan," tandasnya.
SIKAP TUBUH BENAR
Membantu anak menumbuhkan konsentrasi belajarnya, lanjut Gerda, juga dapat dilakukan dengan mengajarinya sikap belajar yang benar. "Misalnya saja saat menulis, harus juga diperhatikan posisi duduknya supaya jangan sampai tiduran sambil kaki ke mana-mana."
Jadi, jika ingin anak bisa fokus pada tugas yang dikerjakannya, guru harus mampu menunjukkan pada murid, bagaimana sikap duduk yang baik. "Kalau duduknya asal-asalan, tidak dengan punggung tegak, pasti sebentar saja anak sudah merasa capek, kan?"
Contoh lain, memegang pensil. Menurutnya, jika ada anak di usia SD yang masih belum mampu memegang pensil dengan baik, semisal masih seperti memegang palu atau memegang sendok, bisa saja karena waktu masih di TK B si anak belum diajarkan bagaimana memegang pensil yang tepat. "Kelihatannya sepele, ya, tapi salah memegang pensil bisa membuat anak jadi terganggu konsentrasinya karena bisa saja anak mengeluh jari-jarinya jadi sakit. Tentu kalau jari-jarinya sakit, bagaimana dia menyelesaikan satu tugas yang diberikan dalam waktu tertentu?"
ALAT BANTU SIAP
Selain itu, keberhasilan anak saat memberikan perhatian pada tugasnya juga bergantung pada kesiapan alat bantu yang ada. Misal, di kelas seharusnya guru sudah mempersiapkan alat peraga yang lengkap pada saat mengajarkan atau memberi tugas. Jangan lagi asyik-asyiknya menerangkan sesuatu, tiba-tiba terhenti karena guru terlupa salah satu alat. Akibatnya, anak-anak yang tadinya sudah fokus mendengarkan, bisa saja perhatiannya jadi buyar lagi karena si guru "grogi" mencari alat bantunya.
FISIK DAN KOGNISI HARUS SEIMBANG
BILA anak-anak hanya dibiarkan bermain mengembangkan fisiknya, mereka tak akan mengembangkan kognisinya. Oleh karena itulah kita perlu menyeimbangkan kegiatan fisiknya dengan kegiatan yang membutuhkan ketekunan dan konsentrasi semisal main lego, meronce, menggambar, atau pasel. Keberhasilan dalam menggunakan permainan ini tergantung pada kesabaran, koordinasi dan ketangkasan anak.
Anak dengan usia prasekolah akhir dapat diberi pasel dengan jumlah kepingan yang lebih banyak. Minta mereka menyelesaikannya sebelum beranjak dari tempat duduk. Ketika seorang anak sedang menyusun pasel atau membangun sebuah menara dengan balok-balok, dia belajar untuk berpikir dan menyelesaikan masalah. Mainan yang mengasah konsentrasi juga menolong anak membedakan bentuk dan pola-pola serta membangun koordinasi antara mata dan tangannya, sehingga mereka nantinya siap belajar membaca.
"Jadi, meski si anak aktif punya kesempatan bermain yang melibatkan fisiknya, ia juga perlu ketekunan. Dengan begitu, wawasannya jadi luas," bilang Gerda. Bila anak hanya diarahkan bermain menggunakan fisik saja terus-menerus, ia kurang mendapat kesempatan memperoleh berbagai pengetahuan dan kurang terlatih ketekunan serta konsentrasinya. Menjadi tugas orang tua dan guru untuk mencari aktivitas yang menuntut konsentrasi dan ketekunan. Tentu saja disesuaikan dengan usia anak sambil tetap memasukkan suasana bermain.
GURU SLORDIG BUYARKAN SEMANGAT BELAJAR
BAYANGKAN bila si kecil berada di kelas yang awut-awutan, meja bergeser ke sana ke mari tak pernah dibetulkan letaknya, mainan menyebar di seluruh kelas sehingga mengganggu anak untuk bergerak, gambar-gambar di dinding kotor dan letaknya miring? Apalagi jika ditambah meja guru ternyata berantakan juga.
"Suasana kelas yang kacau bisa mengganggu anak dalam mengerjakan tugas-tugasnya," kata Gerda. Contoh, anak ingin bermain pasel, tapi kepingannya banyak yang terselip entah di mana. Atau meja kursi berdebu sehingga anak bersin-bersin. Semua ini bisa mengganggu anak dalam proses belajarnya.
Belum lagi hal ini akan menimbulkan impresi pada anak-anak bahwa kerapian tidaklah penting. Semisal, "Bu guru oke-oke aja, tuh, mejanya berantakan." Padahal ini bisa menjadi kendala bila anak ingin belajar tenang, rapi dan nyaman.(tabloid-nakita)
Pemandangan anak-anak TK yang tak bisa duduk diam di kelas adalah biasa. Wajarnya memang begitulah mereka mengingat sebagian besar aktivitas anak usia prasekolah melibatkan gerak fisik dan bermain. Itulah mengapa, agak sukar bagi mereka bila harus duduk diam dalam waktu lama dan berkonsentrasi. "Sepertinya setiap anak dilengkapi dengan energi yang tak ada habis-habisnya untuk terus bergerak dengan lincahnya," kata Dra. Geraldine K. Wanei M.Psi., Lektor Kepala Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unika Atma Jaya, Jakarta.
Meskipun begitu, lanjut pendidik yang akrab dipanggil Gerda, anak-anak prasekolah boleh diajarkan untuk duduk diam menerima pelajaran. Apalagi di TK B (besar), anak-anak sebaiknya memang dipersiapkan untuk menerima sistem belajar di SD (Sekolah Dasar), dimana murid-murid mulai dituntut untuk tak ada lagi ribut atau berlarian di kelas. "Tetapi tentunya pengenalan itu hanya bisa dilakukan bertahap. Enggak bisa, kan, kalau tiba-tiba anak langsung disuruh duduk diam dan tak boleh berjalan-jalan di kelas." Jadi, aturlah kegiatan anak agar dapat fokus pada tugas yang diberikan dan menyelesaikannya dengan memperhatikan prinsip berikut.
JANGAN LEBIH DARI 15 MENIT
Orang tua perlu tahu, tingkat kesabaran dan perhatian anak berkembang bersama-sama dengan perkembangan fisiknya, terutama otot-otot kecil pengendali gerakan. Konsekuensinya, anak usia 4 sampai 5 tahun umumnya lebih senang menyelesaikan tugas yang singkat, membongkar apa yang sudah dikerjakan dan memulainya lagi berulang kali.
"Nah, dengan melihat karakteristik ini, persiapkan tugas dengan rentang waktu yang sesuai." Misalnya, tak perlu orang tua atau guru memberi pelajaran menggambar atau menggunting selama satu atau dua jam terus-menerus, karena umumnya anak-anak di TK hanya akan betah duduk diam paling lama 15 menit. "Jadi, guru harus mencari kegiatan yang bisa diselesaikan dalam jangka waktu 15 menit itu."
Bila anak diberi tugas panjang yang membuat mereka harus duduk diam dalam waktu lama, maka fokus pada tugas dan konsentrasinya akan cepat hilang. Barulah setelah anak mampu duduk diam selama 15 menit dan asyik mengerjakan tugasnya, guru boleh meningkatkan waktunya secara bertahap, misalnya ditambah 5 menit, begitu seterusnya.
DILATIH SAMBIL BERMAIN
Namun Gerda mengingatkan, meski anak tampaknya semakin anteng mengerjakan tugas, bukan berarti kita lantas bisa membebaninya dengan pelajaran-pelajaran yang belum menjadi kewajibannya. Contoh, langsung mengajarkan membaca atau menulis. "Di masa TK, meskipun sudah di TK besar, kita menyebutnya masa pramembaca, pramenghitung dan pramenulis atau belum sampai pada berhitung, membaca atau menulis yang sesungguhnya. Semuanya masih dilakukan sambil bermain." Intinya, tidak bijak jika anak prasekolah dipaksa cepat belajar membaca, menulis, dan berhitung sambil dituntut berkonsentrasi lama.
"Melatih anak untuk konsentrasi pada tugasnya juga bisa dilakukan sambil bermain, kok!" tukas Gerda. Jangan kita memforsir anak untuk belajar macam-macam di usia dini hanya untuk mengejar satu target. Umpama, harus sudah menghitung sekian puluh, padahal kemampuan anak usia 5 tahun mungkin baru 1 sampai 10. "Kalau dia hanya bisa sampai segitu, ya, itu saja yang dilatih untuk dikembangkan," tandasnya.
SIKAP TUBUH BENAR
Membantu anak menumbuhkan konsentrasi belajarnya, lanjut Gerda, juga dapat dilakukan dengan mengajarinya sikap belajar yang benar. "Misalnya saja saat menulis, harus juga diperhatikan posisi duduknya supaya jangan sampai tiduran sambil kaki ke mana-mana."
Jadi, jika ingin anak bisa fokus pada tugas yang dikerjakannya, guru harus mampu menunjukkan pada murid, bagaimana sikap duduk yang baik. "Kalau duduknya asal-asalan, tidak dengan punggung tegak, pasti sebentar saja anak sudah merasa capek, kan?"
Contoh lain, memegang pensil. Menurutnya, jika ada anak di usia SD yang masih belum mampu memegang pensil dengan baik, semisal masih seperti memegang palu atau memegang sendok, bisa saja karena waktu masih di TK B si anak belum diajarkan bagaimana memegang pensil yang tepat. "Kelihatannya sepele, ya, tapi salah memegang pensil bisa membuat anak jadi terganggu konsentrasinya karena bisa saja anak mengeluh jari-jarinya jadi sakit. Tentu kalau jari-jarinya sakit, bagaimana dia menyelesaikan satu tugas yang diberikan dalam waktu tertentu?"
ALAT BANTU SIAP
Selain itu, keberhasilan anak saat memberikan perhatian pada tugasnya juga bergantung pada kesiapan alat bantu yang ada. Misal, di kelas seharusnya guru sudah mempersiapkan alat peraga yang lengkap pada saat mengajarkan atau memberi tugas. Jangan lagi asyik-asyiknya menerangkan sesuatu, tiba-tiba terhenti karena guru terlupa salah satu alat. Akibatnya, anak-anak yang tadinya sudah fokus mendengarkan, bisa saja perhatiannya jadi buyar lagi karena si guru "grogi" mencari alat bantunya.
FISIK DAN KOGNISI HARUS SEIMBANG
BILA anak-anak hanya dibiarkan bermain mengembangkan fisiknya, mereka tak akan mengembangkan kognisinya. Oleh karena itulah kita perlu menyeimbangkan kegiatan fisiknya dengan kegiatan yang membutuhkan ketekunan dan konsentrasi semisal main lego, meronce, menggambar, atau pasel. Keberhasilan dalam menggunakan permainan ini tergantung pada kesabaran, koordinasi dan ketangkasan anak.
Anak dengan usia prasekolah akhir dapat diberi pasel dengan jumlah kepingan yang lebih banyak. Minta mereka menyelesaikannya sebelum beranjak dari tempat duduk. Ketika seorang anak sedang menyusun pasel atau membangun sebuah menara dengan balok-balok, dia belajar untuk berpikir dan menyelesaikan masalah. Mainan yang mengasah konsentrasi juga menolong anak membedakan bentuk dan pola-pola serta membangun koordinasi antara mata dan tangannya, sehingga mereka nantinya siap belajar membaca.
"Jadi, meski si anak aktif punya kesempatan bermain yang melibatkan fisiknya, ia juga perlu ketekunan. Dengan begitu, wawasannya jadi luas," bilang Gerda. Bila anak hanya diarahkan bermain menggunakan fisik saja terus-menerus, ia kurang mendapat kesempatan memperoleh berbagai pengetahuan dan kurang terlatih ketekunan serta konsentrasinya. Menjadi tugas orang tua dan guru untuk mencari aktivitas yang menuntut konsentrasi dan ketekunan. Tentu saja disesuaikan dengan usia anak sambil tetap memasukkan suasana bermain.
GURU SLORDIG BUYARKAN SEMANGAT BELAJAR
BAYANGKAN bila si kecil berada di kelas yang awut-awutan, meja bergeser ke sana ke mari tak pernah dibetulkan letaknya, mainan menyebar di seluruh kelas sehingga mengganggu anak untuk bergerak, gambar-gambar di dinding kotor dan letaknya miring? Apalagi jika ditambah meja guru ternyata berantakan juga.
"Suasana kelas yang kacau bisa mengganggu anak dalam mengerjakan tugas-tugasnya," kata Gerda. Contoh, anak ingin bermain pasel, tapi kepingannya banyak yang terselip entah di mana. Atau meja kursi berdebu sehingga anak bersin-bersin. Semua ini bisa mengganggu anak dalam proses belajarnya.
Belum lagi hal ini akan menimbulkan impresi pada anak-anak bahwa kerapian tidaklah penting. Semisal, "Bu guru oke-oke aja, tuh, mejanya berantakan." Padahal ini bisa menjadi kendala bila anak ingin belajar tenang, rapi dan nyaman.(tabloid-nakita)
Mengintip perkembangan kognitif anak
Ingin anak cerdas? Kenali tahapan perkembangan kognitifnya!
Seperti diketahui, tiap anak memiliki tugas-tugas perkembangan. Salah satunya, perkembangan kognitif. Tentu saja, tugas-tugas perkembangan ini berbeda-beda pada tiap tahapan usia. Dalam hal perkembangan kognitif, anak usia prasekolah (3-5 tahun) berada dalam masa praoperasional. Oleh Piaget, pakar psikologi perkembangan kognitif, masa ini dimulai dari usia 2 tahun sampai 7 tahun.
Sebagai orangtua, sudah selayaknyalah kita mengetahui tahapan perkembangan kognitif ini. Tak lain agar kita dapat memberikan stimulasi secara tepat untuk mengasah kemam-puan kognitif si buah hati di usia ini, sehingga dapat berkembang optimal. Nah, seperti apa kemampuan kognitif si prasekolah, mari kita simak bersama penjelasan dari Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si., pengasuh rubrik Tanya Jawab Psikologi di tabloid ini.
TAHAPAN SIMBOLIK
Di masa praoperasional ini, kemampuan kognitif si prasekolah berada pada tahapan simbolik, yakni kemampuan menggunakan simbol. Salah satunya adalah bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Contoh, kata "kursi" bisa mewakili keterangan benda yang dapat diduduki atau benda yang mempunyai empat kaki dan ada sandarannya. Jadi, kita bisa memberikan stimulus dan masukan mengenai bahasa kepada si prasekolah, karena saat ini kekuatan menyerap segala sesuatu tentang bahasa ada pada diri anak.
Selain melalui bahasa, kemampuan simbolik pada masa ini bisa juga diwujudkan melalui gambar. Contoh, si kecil menggambar sebuah persegi empat yang tidak beraturan, lalu dia mengatakan, "Ini gambar rumah. Bagus ya", atau "Sekarang aku gambar ikan," walaupun yang tertuang dalam kertas hanyalah sebuah garis melengkung bersambung, misalnya.
Yang penting diperhatikan, masukan atau stimulus yang diberikan haruslah berbentuk konkret; bisa dilihat, dipegang, dilakukan, dan dialami secara langsung. Percuma saja mengajarkan sesuatu atau memberi tahu hal yang abstrak karena anak tidak akan bisa mencerna-nya. Contoh, saat menginformasikan perbedaan van dan sedan, ajak anak masuk ke dalam dua jenis mobil tersebut bergantian. "Kalau sedan kecil, kursinya sedikit. Kalau van lega dan banyak kursinya," umpamanya.
BERMAIN KHAYAL
Kemampuan menggunakan simbol juga terlihat pada permainan simbolik yang dilakukan anak-anak usia ini, yaitu bermain khayal. Melalui permainan ini, anak bisa menggantikan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Contoh, disket yang kita kenal untuk menyimpan data dari CPU komputer, oleh si prasekolah bisa saja dianggap UFO. Anak juga bisa memberikan atribut tertentu pada suatu objek, misalnya boneka bisa menangis seperti manusia.
Kondisi ini merupakan kemajuan yang sangat pesat dalam kemampuan berpikir anak. Malah menurut penelitian para ahli, dengan bermain simbolik, anak akan lebih cepat dan kaya perkembangan bahasanya, baik dalam hal semantik (makna kata dan kalimat) maupun kosakatanya.
Selain itu, di masa praoperasional, si prasekolah juga sudah bisa melakukan sesuatu sebagai hasil meniru atau mengamati suatu model tingkah laku. Jadi, anak sudah mampu melakukan sebuah peniruan tingkah laku yang pernah dilihatnya di waktu lampau. Karena itu pengalaman-pengalaman tersebut ia tampilkan dalam kegiatan bermain khayal, dimana anak berpura-pura menjadi tokoh tertentu dan melakukan apa yang biasanya dikerjakan oleh tokoh itu.
Pada tahap ini pula anak mampu menjalankan dua peran sekaligus yang memisahkan antara dunia "pura-pura" dengan dunia nyata. Sebagai contoh, pada saat bermain khayal seorang anak mendapat peran sebagai orang sakit yang tidak dapat berjalan. Tiba-tiba dalam situasi bermain ia berjalan-jalan. Saat temannya menegur, "Eh, kamu kan orang sakit yang tidak bisa jalan", maka si anak akan langsung menjawab bahwa dirinya bukan orang sakit.
MAMPU MENGELOMPOKKAN
Kemampuan lainnya adalah mengelompokkan, entah benda, warna, bentuk, maupun ukuran. Manfaatnya, anak terlatih untuk bisa berpikir secara logis. Jadi, baik sekali bila kita bisa menciptakan permainan yang dapat mengasah kemampuan kognitif dalam hal pengelompokan ini. Umpama, mengajak anak mengumpulkan mainan yang dimilikinya berdasarkan persamaan warna, atau mengumpulkan benda-benda yang ada di rumah berdasarkan ukuran tertentu.
Bila hal ini sering kita lakukan pada anak, maka semakin lama anak semakin mampu melakukan pengelompokan ke tingkat yang lebih tinggi, semisal mengelompokkan atas dasar dua hingga tiga dimensi.
Tentu saja, pada awalnya anak belum bisa memusatkan perhatian pada benda dua dimensi yang berbeda secara serempak. Dalam hal menyusun benda-benda berdasarkan urutan sesuai ukuran, misal, di masa praoperasional ini anak baru bisa merangkaikan dua benda, seperti tongkat A lebih pendek dari tongkat B. Tapi jika disuruh menyusun tongkat dari yang paling pendek sampai yang paling panjang, maka ia belum mampu melakukannya. Hal ini disebabkan anak baru bisa memusatkan satu hubungan pada satu saat dan belum bisa melihat keseluruhan.
Contoh lain, dalam perco-baannya, Piaget memperlihatkan pada anak-anak usia prasekolah, 20 kuncup kembang terbuat dari kertas; 18 kuncup berwarna cokelat dan sisanya berwarna putih. Saat ditanya mana yang paling banyak, apakah kuncup kembang berwarna cokelat ataukah kuncup kembang yang terbuat dari kertas, anak-anak itu menjawab yang paling banyak adalah kuncup kembang berwarna cokelat.
MENGURUTKAN SESUATU
Perkembangan kognitif lainnya dalam pengelompokan adalah menyusun menurut rangkaian atau urutan tertentu (sequence). Permainan yang menunjang hal ini contohnya bermain menyusun menara gelang.
Tahap perkembangan kognitif ini bila diasah dengan baik akan menghasilkan sistematika logika berpikir yang baik. Supaya lebih baik lagi, stimulasi yang kita berikan bisa juga dengan mengajak anak mengurutkan sesuatu sesuai yang kita contohkan. Misal, kita mengurutkan kubus, segitiga, lingkaran, silinder. Lalu, anak diminta untuk melanjutkan urutan tersebut dengan pola yang sama.
Efek yang bisa didapatkan oleh anak dengan pemberian stimulasi yang sangat sederhana ini adalah anak akan mampu dan mudah mengerti atau memahami aturan-aturan tertentu yang akan dia temui, mudah belajar membaca sebab kata-kata yang dibaca/ditulis terdiri atas susunan huruf dengan pola tertentu. Selain itu anak akan lebih mudah mencerna pelajaran yang berhubungan dengan bilangan, sebab sudah diperkenalkan dengan pengertian mana yang lebih kecil, lebih besar, dan seterusnya.
Yang perlu dipahami, untuk membuat permainan atau soal-soal seperti ini maka dituntut kreativitas. Semakin kreatif orangtua akan semakin berva-riasi cara belajar yang diterima anak. Tentu ini akan berban-ding lurus dengan manfaat yang diperoleh. Untuk sequence ini, buatlah permainan mengelompokkan benda berdasarkan urutan besar ke kecil, kecil ke besar, urutan warna, urutan bentuk, dan lainnya.
TIP-TIP PENTING
Dalam mengasah kemampuan kognitif anak usia prasekolah, ada beberapa hal yang penting diperhatikan orangtua seperti diungkap Mayke berikut ini:
* Hindari penggunaan kata-kata yang abstrak maupun yang bermakna ganda.
* Dalam mengenalkan konsep yang pertama kali, lebih baik kenalkan yang umum dulu dan sering dilihat anak sehari-hari. Contohnya, segala sesuatu yang ada di lingkungan rumah terlebih dulu.
* Selain itu, dalam menjelaskan sebuah konsep, terutama benda, mulailah dari fungsinya. Saat menjelaskan tentang "kursi", misal, kita memang harus memberikan penjelasan secara konkret (umpama, bentuknya persegi empat atau bulat, mempunyai empat kaki). Akan tetapi, penjelasan seperti itu akan lebih berarti jika terlebih dulu kita sampaikan fungsinya, "Kursi ini tempat duduk kita. Kursi yang panjang bisa juga dipakai untuk tiduran." Baru kemudian kita masuk ke bentuk konkret fisik si kursi. Stimulus mengenai fungsi sangat diperlukan anak yang belum terlalu menguasai bahasa. Bila kita memberikan penjabaran detail, kasihan si anak karena akan kesulitan menangkap dan mencernanya.
* Dalam mengenalkan konsep apa pun, selalu lakukan pengulangan.
tabloid-nakita
Seperti diketahui, tiap anak memiliki tugas-tugas perkembangan. Salah satunya, perkembangan kognitif. Tentu saja, tugas-tugas perkembangan ini berbeda-beda pada tiap tahapan usia. Dalam hal perkembangan kognitif, anak usia prasekolah (3-5 tahun) berada dalam masa praoperasional. Oleh Piaget, pakar psikologi perkembangan kognitif, masa ini dimulai dari usia 2 tahun sampai 7 tahun.
Sebagai orangtua, sudah selayaknyalah kita mengetahui tahapan perkembangan kognitif ini. Tak lain agar kita dapat memberikan stimulasi secara tepat untuk mengasah kemam-puan kognitif si buah hati di usia ini, sehingga dapat berkembang optimal. Nah, seperti apa kemampuan kognitif si prasekolah, mari kita simak bersama penjelasan dari Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si., pengasuh rubrik Tanya Jawab Psikologi di tabloid ini.
TAHAPAN SIMBOLIK
Di masa praoperasional ini, kemampuan kognitif si prasekolah berada pada tahapan simbolik, yakni kemampuan menggunakan simbol. Salah satunya adalah bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Contoh, kata "kursi" bisa mewakili keterangan benda yang dapat diduduki atau benda yang mempunyai empat kaki dan ada sandarannya. Jadi, kita bisa memberikan stimulus dan masukan mengenai bahasa kepada si prasekolah, karena saat ini kekuatan menyerap segala sesuatu tentang bahasa ada pada diri anak.
Selain melalui bahasa, kemampuan simbolik pada masa ini bisa juga diwujudkan melalui gambar. Contoh, si kecil menggambar sebuah persegi empat yang tidak beraturan, lalu dia mengatakan, "Ini gambar rumah. Bagus ya", atau "Sekarang aku gambar ikan," walaupun yang tertuang dalam kertas hanyalah sebuah garis melengkung bersambung, misalnya.
Yang penting diperhatikan, masukan atau stimulus yang diberikan haruslah berbentuk konkret; bisa dilihat, dipegang, dilakukan, dan dialami secara langsung. Percuma saja mengajarkan sesuatu atau memberi tahu hal yang abstrak karena anak tidak akan bisa mencerna-nya. Contoh, saat menginformasikan perbedaan van dan sedan, ajak anak masuk ke dalam dua jenis mobil tersebut bergantian. "Kalau sedan kecil, kursinya sedikit. Kalau van lega dan banyak kursinya," umpamanya.
BERMAIN KHAYAL
Kemampuan menggunakan simbol juga terlihat pada permainan simbolik yang dilakukan anak-anak usia ini, yaitu bermain khayal. Melalui permainan ini, anak bisa menggantikan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Contoh, disket yang kita kenal untuk menyimpan data dari CPU komputer, oleh si prasekolah bisa saja dianggap UFO. Anak juga bisa memberikan atribut tertentu pada suatu objek, misalnya boneka bisa menangis seperti manusia.
Kondisi ini merupakan kemajuan yang sangat pesat dalam kemampuan berpikir anak. Malah menurut penelitian para ahli, dengan bermain simbolik, anak akan lebih cepat dan kaya perkembangan bahasanya, baik dalam hal semantik (makna kata dan kalimat) maupun kosakatanya.
Selain itu, di masa praoperasional, si prasekolah juga sudah bisa melakukan sesuatu sebagai hasil meniru atau mengamati suatu model tingkah laku. Jadi, anak sudah mampu melakukan sebuah peniruan tingkah laku yang pernah dilihatnya di waktu lampau. Karena itu pengalaman-pengalaman tersebut ia tampilkan dalam kegiatan bermain khayal, dimana anak berpura-pura menjadi tokoh tertentu dan melakukan apa yang biasanya dikerjakan oleh tokoh itu.
Pada tahap ini pula anak mampu menjalankan dua peran sekaligus yang memisahkan antara dunia "pura-pura" dengan dunia nyata. Sebagai contoh, pada saat bermain khayal seorang anak mendapat peran sebagai orang sakit yang tidak dapat berjalan. Tiba-tiba dalam situasi bermain ia berjalan-jalan. Saat temannya menegur, "Eh, kamu kan orang sakit yang tidak bisa jalan", maka si anak akan langsung menjawab bahwa dirinya bukan orang sakit.
MAMPU MENGELOMPOKKAN
Kemampuan lainnya adalah mengelompokkan, entah benda, warna, bentuk, maupun ukuran. Manfaatnya, anak terlatih untuk bisa berpikir secara logis. Jadi, baik sekali bila kita bisa menciptakan permainan yang dapat mengasah kemampuan kognitif dalam hal pengelompokan ini. Umpama, mengajak anak mengumpulkan mainan yang dimilikinya berdasarkan persamaan warna, atau mengumpulkan benda-benda yang ada di rumah berdasarkan ukuran tertentu.
Bila hal ini sering kita lakukan pada anak, maka semakin lama anak semakin mampu melakukan pengelompokan ke tingkat yang lebih tinggi, semisal mengelompokkan atas dasar dua hingga tiga dimensi.
Tentu saja, pada awalnya anak belum bisa memusatkan perhatian pada benda dua dimensi yang berbeda secara serempak. Dalam hal menyusun benda-benda berdasarkan urutan sesuai ukuran, misal, di masa praoperasional ini anak baru bisa merangkaikan dua benda, seperti tongkat A lebih pendek dari tongkat B. Tapi jika disuruh menyusun tongkat dari yang paling pendek sampai yang paling panjang, maka ia belum mampu melakukannya. Hal ini disebabkan anak baru bisa memusatkan satu hubungan pada satu saat dan belum bisa melihat keseluruhan.
Contoh lain, dalam perco-baannya, Piaget memperlihatkan pada anak-anak usia prasekolah, 20 kuncup kembang terbuat dari kertas; 18 kuncup berwarna cokelat dan sisanya berwarna putih. Saat ditanya mana yang paling banyak, apakah kuncup kembang berwarna cokelat ataukah kuncup kembang yang terbuat dari kertas, anak-anak itu menjawab yang paling banyak adalah kuncup kembang berwarna cokelat.
MENGURUTKAN SESUATU
Perkembangan kognitif lainnya dalam pengelompokan adalah menyusun menurut rangkaian atau urutan tertentu (sequence). Permainan yang menunjang hal ini contohnya bermain menyusun menara gelang.
Tahap perkembangan kognitif ini bila diasah dengan baik akan menghasilkan sistematika logika berpikir yang baik. Supaya lebih baik lagi, stimulasi yang kita berikan bisa juga dengan mengajak anak mengurutkan sesuatu sesuai yang kita contohkan. Misal, kita mengurutkan kubus, segitiga, lingkaran, silinder. Lalu, anak diminta untuk melanjutkan urutan tersebut dengan pola yang sama.
Efek yang bisa didapatkan oleh anak dengan pemberian stimulasi yang sangat sederhana ini adalah anak akan mampu dan mudah mengerti atau memahami aturan-aturan tertentu yang akan dia temui, mudah belajar membaca sebab kata-kata yang dibaca/ditulis terdiri atas susunan huruf dengan pola tertentu. Selain itu anak akan lebih mudah mencerna pelajaran yang berhubungan dengan bilangan, sebab sudah diperkenalkan dengan pengertian mana yang lebih kecil, lebih besar, dan seterusnya.
Yang perlu dipahami, untuk membuat permainan atau soal-soal seperti ini maka dituntut kreativitas. Semakin kreatif orangtua akan semakin berva-riasi cara belajar yang diterima anak. Tentu ini akan berban-ding lurus dengan manfaat yang diperoleh. Untuk sequence ini, buatlah permainan mengelompokkan benda berdasarkan urutan besar ke kecil, kecil ke besar, urutan warna, urutan bentuk, dan lainnya.
TIP-TIP PENTING
Dalam mengasah kemampuan kognitif anak usia prasekolah, ada beberapa hal yang penting diperhatikan orangtua seperti diungkap Mayke berikut ini:
* Hindari penggunaan kata-kata yang abstrak maupun yang bermakna ganda.
* Dalam mengenalkan konsep yang pertama kali, lebih baik kenalkan yang umum dulu dan sering dilihat anak sehari-hari. Contohnya, segala sesuatu yang ada di lingkungan rumah terlebih dulu.
* Selain itu, dalam menjelaskan sebuah konsep, terutama benda, mulailah dari fungsinya. Saat menjelaskan tentang "kursi", misal, kita memang harus memberikan penjelasan secara konkret (umpama, bentuknya persegi empat atau bulat, mempunyai empat kaki). Akan tetapi, penjelasan seperti itu akan lebih berarti jika terlebih dulu kita sampaikan fungsinya, "Kursi ini tempat duduk kita. Kursi yang panjang bisa juga dipakai untuk tiduran." Baru kemudian kita masuk ke bentuk konkret fisik si kursi. Stimulus mengenai fungsi sangat diperlukan anak yang belum terlalu menguasai bahasa. Bila kita memberikan penjabaran detail, kasihan si anak karena akan kesulitan menangkap dan mencernanya.
* Dalam mengenalkan konsep apa pun, selalu lakukan pengulangan.
tabloid-nakita
Langganan:
Komentar (Atom)