Mengajar Anak Egois dan Mau Menang Sendiri
Tanya
Aku mau sharing saja moms, kemarin kebetulan ada acara HBH di Gelanggang Samudra Ancol. Aku dan keluarga ikut serta. Asyiknya banyak tontonan dan permainan yang lain dari pada biasanya. Karena banyaknya orang mengakibatkan arena tontonan dan arena bermain jadi harus antri. Nah disini masalahnya. Saat aku menemani anak-anakku untuk antri di salah satu wahana yang hanya memperbolehkan anak-anak untuk bermain. Aku melihat seorang anak yang ditemani Ibunya. Diangkat oleh sang Ibu melewati pagar antrian sehingga dia dengan mudah dapat berlari mendapatkan giliran. Padahal didepanya banyak yang mengantri. Untung anakku tidak iri dengan cara mereka. Tapi yang lebih parah ternyata, setelah permainan selesai dan anak-anakku mencapai giliranya untuk bermain, aku lihat anak itu dapat instruksi dari sang Ibu untuk memutar dan bermain kembali tanpa diketahui oleh petugas. Jadi anak itu bermain 2 kali, sementara banyak orang masih mengantri. Benar-benar hebat kerja sama ibu dan anak itu. Dan ternyata aku kenal orangnya, dan aku tahu dia adalah orang yang berpendidikan.
Kalau sudah begitu, tidak aneh rasanya melihat korupsi di negara kita, wong masih kecil saja anak sudah diajarkan egois dan mau menang sendiri. Entah dengan cara apapun.... Sementara aku wanti-wanti ke anak-anakku untuk tidak boleh begitu ya. Itu namanya kamu dzolim sama orang [An]
Jawab
Mba, Jadi ingat waktu jaman daftar sekolah anakku, antri di depan loket buat memasukkan form pendaftaran. Tahu-tahu ada seorang bapak yang berusaha menerobos antrian, plus pakai acara ngomel-ngomel karena antrian begitu penuh dan lama. Setelah beberapa kali menyikut orang, sampailah padaku. Sambil berusaha setenang mungkin, aku bilang begini;
"Pak, tolong sabar dan antri yaa...Kalau bapaknya saja tidak bisa tertib dan disiplin, percuma anaknya disekolahkan disini..."
Hihi... itu bapak yang dandanannya perlente melotot padaku tapi sudah tidak bias bicara lagi, karena bapak-bapak dan ibu-ibu lain yang ada di depanku jadi ikut nengok dan melihat beliau ini. Duh... banyak loh ortu model begini. Dan maaf-maaf, kalau penampilannya biasa-biasa saja sih, bisa dimaklumi kali yaa. Mungkin memang kurang terdidik atau berasal dari lingkungan terbiasa yang seperti itu. Nah, kalau yang sudah dandan necis, dan kalau bicara berselipan istilah bahasa asing. Tapi kelakuan semaunya sendiri, urat malunya sudah putus kali yaa...hi..hi..[Dy]
Sepertinya tidak bisa antri itu memang sebagian dari budaya kita, suka atau tidak suka, orang Indonesia itu paling susah disuruh tertib. Aku heran, dimana sekarang budaya tepa selira yang dulu sangat diagungkan itu, wong kenyataannya berapa banyak orang yang menyerobot lampu lalu lintas, berapa banyak orang yang menyerobot di pintu tol dan lainnya, dan sebagian besar kecelakaan terjadi karena tidak tertib khan? Kemarin aku juga kebetulan main di Jatim Park (Amusement Park di daerah Batu-Malang), meskipun arena permainan itu hanya untuk anak-anak, kenyataannya orang tua ikut campur dalam serobot-menyerobot, walhasil, anakku yang aku sengaja biarkan antri, ya tergeser terus, sama si ayah petugasnya yang ditegur; "Mas, tolong antriannya ditertibkan lagi, biar sama-sama enak dan tidak ada yang terserobot-serobot", walhasil para ortu yang tidak tertib itu melirik suamiku dengan sewot..hehehe Yah...seperti yang Mbak bilang, tidak heran kalau para koruptor semakin subur, ya karena memang diajarkannya seperti ini. Bahkan, tahun lalu aku berkesempatan berangkat haji, terlihat sekali ketidakbisaan antri ini, mulai dari masuk masjid, beli makanan, antri toilet, antri bis sampai terjadi rebutan makanan sumbangan (itu loh, tahun lalu kan ada ada insiden jamaah haji tidak mendapat suplai makanan)...byuh..byuh..padahal hari gini..saat jamaah haji sudah bergeser ke usia muda, harusnya lebih berpendidikan mengingat sebagian besar jamaah haji adalah orang yang lumayan mampu dan banyak yang memiliki jabatan, kenyataannya teteub saja tuh tidak bias antri so, moms yuk kita budayakan lagi tepa selira dan tertib ini, OK lah di era kita belum dapat terlaksana, tapi paling tidak di generasi anak-anak kita, kita harus lebih baik [HK]
Wah saya juga tidak suka orang tua yang mengajarkan anaknya seperti itu. Tidak cuma ngantri bahkan dalam lomba pun ada saja orang tua yang mengajarkan anaknya tidak jujur. Hal itu saya sering temukan dan sepertinya hal itu seperti hal yang biasa saja. Pernah suatu ketika pas saya menemani anak saya lomba melukis, ada salah satu teman lombanya yang memanipulasi usia alasannya takut sama lawan usianya dan yang pasti tidak menang bahkan orangtuanya ikut menjatuhkan mental lawan-lawan anaknya wah itu sangat membuat saya marah karena sejak kecil sudah diajarkan main curang dan berbohong. Bahkan bisa merugikan peserta lain. Saya pikir peristiwa yang mbak alami mencerminkan bahwa anak itu sudah diajarkan kecurangan tanpa memikirkan apakah hal itu dapat merugikan orang lain. Takutnya jika sudah besar nanti kalau dia menghadapi masalah dia hanya memikirkan dirinya sendiri, tidak peka terhadap lingkungan. Malah sekarang ini saya selalu ingatkan anak-anak agar selalu ngantri, tidak boleh curang dan peka terhadap lingkungan. Semoga saja ya mereka selalu ingat nasehat mamanya Amin [EP]
Ada tambahan masukan dari teman yang lain:
Sebaiknya kalau kita melihat hal-hal seperti itu bersama anak kita, langsung tegur saja. Tentu dengan cara yang sebaik-baiknya. Biar anak kita tahu bahwa hal tersebut tidak baik dan kita berhak untuk menegur. Yuk Moms, kita mulai dari rumah kita dan lingkungan kita sendiri untuk
membenahi hal-hal seperti ini. Mudah-mudahan kita bisa mempengaruhi lingkungan yang lebih besar lagi nantinya. Mudah-mudahan, generasi anak-anak kita akan lebih baik [An]
Anak Disuruh Berantem atau Mengalah?
Tanya
Aku lagi agak ragu nich. Belakangan ini anakku kalau main sama temannya suka pulang ke rumah dan menangis. Pertama karena dipukul perutnya sama temannya, kemarin ini karena kepalanya kena batu, aku sendiri tidak melihat kejadiannya, intinya dia mengadu kalau dilempar batu, kayaknya sich batu kecil dan mungkin tidak sengaja kali ya, kurang jelas bagaimana. Tapi yang aku bingung, cepat atau lambat dia khan akan bergaul sendiri, jauh dari rumah, dan mungkin sekali dua kali akan bentrok dengan temannya seperti sekarang ini. Nah, aku lagi mempertimbangkan, anakku ini aku suruh melawan temannya atau aku suruh mengalah ya? aku mikirnya kalau aku bilang yang intinya dia memukul balik atau melawan temannya, nantinya malah jadi berkelahi beneran, aku takut anakku nanti jadi agresif, bandel atau sok jagoan. Tapi kalau aku suruh mengalah, nanti keterusan sampai besar tidak bisa `berantem` dan bisanya cuma pulang ke rumah menangis, khan kurang bagus juga. Enaknya bagaimana ya, kalau aku ajak bicara baik-baik, rasanya susah juga memilih bahasa yang mudah dimengerti dia. Sekarang ini sich aku cuma bilang ke dia, kalau temannya memukul, jangan menangis, kasih tahu kalau itu sakit, kalau perlu `tepak` tangannya saja, tapi pelan. Tapi aku tidak tahu apakah dia mengerti dan apakah cara itu efektif.(Mi)
Jawab
Aku mengalami sendiri hal seperti itu, kemudian anaknya aku tanya baik-baik atau aku diam-diam mengintip di sekolah tanpa sepengetahuan si anak. Hal ini lebih aman,karena kita jadi mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.(In)
Anakku dulu juga suka dipukul oleh teman cowoknya sampai dia tidak mau sekolah. Pertamanya aku suruh dia bilang ke gurunya tapi masih saja suka dipukul, kemudian aku telpon gurunya,tapi tetap tidak berhasil juga. Kemudian aku bilang ke anakku, "kalau anak itu memukul, balas saja. Kalau tidak bisa memukul, kamu dorong saja. Tapi kalau anak itu tidak nakal tidak boleh memukul atau mendorong". Dan ternyata manjur, anak itu tidak pernah mengganggu anakku lagi, malah kaget karena ada yang berani ke dia.(Ni)
Kalau anakku, aku suruh teriak 'stop' atau 'no' yang keras, biar gurunya dengar. Soalnya kadang-kadang gurunya kan tidak melihat awalnya, nanti kalau anak kita membalas, dikiranya anak kita yang memulai. Sekarang mulai aku ajar untuk galak sama anak laki-laki. Di les berenangnya kemarin, ada anak cowok bandel. Dia suka mengganggu anak-anak perempuan. Jadi tiap anak perempuan dia cipratin air. Guru renangnya juga sudah bosan mengingatkan. Ibunya ada di pinggir kolam, cuma senyam-senyum saja. So, sekarang anakku aku ajarin galak ke anak cowok yang bandel itu. Kalau satu dua kali dikasih tahu tidak bisa, galakin saja. Teriakin! Tapi jangan sesekali membalas. Soalnya kalau satu membalas, nanti jadi berkelahi! Kemudian setiap pulang sekolah, ditanyakan bagaimana ceritanya disekolah. Kalau ada apa-apa, langsung lapor ke gurunya. Tidak masalah kok sering-sering lapor ke gurunya. Kalau di sekolahnya memungkinkan untuk mengamati anakmu tanpa keliatan si anak ( di sekolah anakku ada booth khusus untuk tempat pengamatan), kamu sering-sering saja tongkrongin.(nik)
Anakku belum mulai sekolah sich, ini dipukul oleh teman mainnya. Padahal anaknya lebih kecil. Mungkin memang dasar anakku cengeng kali ya, dan memang aku belum pernah ajarkan atau terang-terangan menyuruh dia membalas atau bagaimana, selama ini memang mainnya selalu sama adiknya dan dia yang jadi jagoan. Nah sekarang, ntah bagaimana, temannya ini kok aku perhatiin mulai rada 'nakal' gitu. Aku pikir, bagaimana dia sekolah, kalau main di rumah saja sedikit- sedikit menangis. (Mi)
Memang kalau bisa anak diajarkan untuk mengemukakan ketidakpuasannya terhadap sesuatu secara verbal daripada secara physical. Di sekolah anakku hal ini sangat ditekankan. Anakky 6,5 th, dulu masih sangat physical. Kalau tidak suka adiknya langsung ditonjok atau dipukul.
Tapi di sekolahnya diajarkan `how to verbalize your feelings`. Baik itu feeling negatif maupun feeling positif. Jadi kalau dia mendapat suatu keadaan yang tidak enak dari temannya (misal: dipukul) maka yang pertama dilakukan adalah mengatakan kalau dia tidak suka dipukul (misalnya dengan berkata:"jangan pukul aku, sakit", don't punch me, that hurts, stop it, dll) dan bukan malah membalas memukul. Memang perlu waktu hingga anak-anak terlatih untuk bisa mengungkapkannya secara verbal. Anakku sekarang jauh berubah dengan dilatih seperti ini. Paling kalau dia sudah tidak tahan, dia pukul juga adiknya karena adikknya memukul dia terlebih dahulu. Kemudian dia bilang ke aku, `I already said stop it bu"!. Paling tidak dia berlatih untuk menahan dulu keinginannya untuk mengungkapkannya secara fisik, baru kalau sudah tidak mempan dia terpaksa menggunakan `physical force`. Tapi lama kelamaan mereka akan terbiasa dan tidak mudah main pukul begitu saja. Untuk positive feeling juga begitu. Kalau dia dibiasakan untuk mengungkapkan betapa senangnya dia hari ini karena dibelikan mainan baru, atau diajak ke Sea World, maka si anak juga akan terbiasa mengapresiasikan perasaan orang lain. Hal ini tentunya tergantung kita untuk rajin-rajin melatih dan menstimulasi. "Bagaimana tadi di sekolah, senang?, Senang tidak tadi menonton bioskopnya"? Let them verbalize their feelings and they would get accustomed to understand other people's feelings.(ind)
Aduuh senengnya yach kalau anak kita sudah berhasil mengungkapkan perasaannya secara verbal. Anakku (cowok) termasuk salah satu yang
sering tidak bisa berbuat apa-apa bila diperlakukan tidak adil, dan karena dia sangat sensitif mungkin hal yang bagi anak lain biasa saja, bagi dia sudah luar biasa, pelariannya dia menanggis. Aku tidak pernah meminta dia membalas memukul atau juga berlaku tidak fair ke teman atau orang lain untuk perlawanan pertama, kecuali kalau sudah diperingati teman tersebut tidak mau mengerti aku minta dia bilang ke gurunya, kalau masih juga belum selesai, dengan terpaksa dia harus bertahan atau melawan aku bolehkan. Aku selalu ingatkan untuk memberitahu atau mengekspresikan kalau dia tidak suka. Pernah di sekolah pak guru meminta anak-anak untuk duduk rapi dan bergilir dipanggil, karena heboh, anakku terlewat dan tidak dipanggil, padahal dari awal dia sudah duduk dengan rapi dan diam. Akhirnya dia menangis karena dia kesal dan merasa diperlakukan tidak adil oleh pak guru. 2 minggu pertama di sekolah (kelas 1 sd) dia menangis setiap hari. Aku berusaha terus mengajak dia mengekspresikan perasaannya, kalau untuk yang positif dia sudah bisa bahkan sangat suka menyenangkan orang lain, bilang terimakasih hadiahnya bagus sekali, kuenya enak, bahkan dia tidak tega kalau aku kecewa dengan sikapnya, dia akan buru-buru meminta maaf dan minta bundanya senyum, tapi untuk yang negatif sampai saat ini (usia 5,10) belum terlalu kelihatan hasilnya.(Ren)
Membiasakan anak-anak untuk mengungkapkan perasaannya, tidak harus (atau tidak hanya) di sekolah saja. Bisa diawali sejak di rumah. Yang namanya anak-anak, pasti suka rewel, kemudian menangis atau diam saja, tidka mau bicara, cuma huh-huh. Nah, kalau anakku lagi begitu, aku selalu bilang, bicara `donk`, use your words please. Meski pun kadang-kadang aku tahu apa yang dia mau, tapi kalau dia tidak mau bilang dan cuma merengek, aku diamkan saja. Memang sepertinya kejam ya, tapi, baiknya buat mereka, belajar bicara yang betul. Selain biar manner-nya baik dan juga mengajarkan keterbukaan dengan anak. Anakku yang besar, perempuan, kan sensitif sekali. Pernah di sekolah, lagi acara parent's party, ada orangtua murid yang memarahi anakku. (Si Ibu ini orang poland, memang agak nyentrik orangnya, anak orang dia marah-marahin). Anakku jadi menangis tidak keruan. Sampai guru-gurunya bingung, karena anakku ini selalu manis di sekolah, tidak pernah menangis seperti itu.Menurut guru-guru disitu, cara bicara si Ibu itu yang salah. Harusnya, kalau ada apa- apa, sebagai orang dewasa kita mesti bicara baik-baik kepada anak- anak. Use our words. Jelaskan, jangan asal membentak dan memukul. Kemudian kalau memang anaknya nakal (bersalah), ya boleh saja dikasih hukuman, tapi jangan sesekali main fisik. Suruh saja masuk ke kamarnya 15 menit, atau tidak boleh main lagi sementara (kasih time out), atau tidak boleh menonton tv. Dll. Pokoknya kasih hukuman yang bergunalah. Seperti misalnya anakku pernah oret-oret tembok, ya aku suruh bersihin sendiri. :) Memang tidak bersih, tapi dia jadi tahu, menggosok tembok itu bikin capek. Ya begitulah. So, always use your wodrs.(nik)
Senangnya anak bisa mengungkapkan secara verbal. Tapi walaupun anakku tidak bisa mengungkapkan secara verbal aku merasa Tuhan selalu kasih jalan untuk menjaga dia. Kejadiannya kemarin, menurut anak tetangga yang setiap hari bareng anakku, kemarin anakku ditusuk- tusuk pakai pensil sama salah seorang anak disekolah karena anakku mengambil air minum kepunyaannya. Anakku cuma diam tidak bisa melawan, tapi teman-temannya langsung menghampiri si anak dan bilang "do you know how painful it is? You may not hurt Jogi, if he took your water, you can tell the teacher or the principal" Aku terharu sekali sama anak-anak itu, mereka membela Jogi dengan cara yang bener-bener luar biasa. Aku setuju, lebih baik mereka mengemukakan ketidaksukaannya secara verbal daripada balas melakukan hal yang sama. (dum)
Kebalikan sama anakku. Anakku ini ceriwis sekali. Kalau lagi protes bisa panjang dan lama ngomelnya. Sekali waktu dia `ngomelin' tetangga sebelah rumah yang suka parkir mobil seenaknya. Dan pas anakku pulang sekolah, mau turun dari mobil, dia langsung cas-cis- cus,"Om A ini gimana sih, baru saja kemaren dibilangin, sekarang udah begini lagi. Aku jadi tidak bisa masuk rumah nih..." dan bla- bla-bla.Tapi manjur juga, besok-besoknya si tetangga parkir di carportnya:-) (Ri).
Ini nasehat, sebenarnya tidak terlalu bijaksana. Anakku aku ajar untuk melawan segala bentuk kekerasan, tapi dalam konteks membela diri. Tapi tidak boleh memulai kekerasan. Artinya kalau dia dipukul temannya, dia harus balas memukul kalau temannya tidak bisa menjelaskan mengapa dia harus dipukul. Tapi dia boleh memulai perkelahian apabila bermaksud membela temannya, apalagi kalau temannya perempuan dan anakku laki-laki, itu harus dibantu bela :-). Membela kehormatan perempuan adalah kewajiban buat anakku yang laki- laki. Kalau anakku perempuan, dia justru harus lebih berani lagi melawan teman-teman yang berusaha menindasnya. Lawan saja sekuat tenaga, pokoknya tidak boleh menangis apalagi terlihat lemah, akan semakin membuat teman-temannya gemar menindas. Jadi anak perempuan tidak boleh lemah apalagi cuma bisa pasrah. Kalau anakku laki-laki, dia tidak boleh memukul perempuan, walaupun si perempuan memukul dia. Tapi ini justru anakku malah kelihatan sangat lembut hati dan suka menangis sedih (bahkan waktu menonton the ugly duckling, bisa- bisanya dia `mewek` nahan tangis sedih waktu si ugly duckling ini pergi dari sarang bebek karena diejek). Kalau rebutan mainan sama temannya juga dia pasti mengalah dan tidak suka memaksa. Kadang aku geregetan juga melihat anakku mengalah terus,tapi aku biarkan saja. (Fer)
Anakku juga lembut hati dan berperasaan halus. Seperti kemarin,dia di sekolah menangis sampai muntah karena melihat temannya dimarahi shabis-habisan oleh susternya. Dan dia tidak suka menyaksikan acara di TV yang penuh kekerasan (tembak-tembakan, pukul-pukulan, dst). Kalau ada acara macam itu, pasti dia lari ke kamar. Sempat juga waktu menyanyi di kelas sambil memukul meja, dia juga nangis. Aku jadi bingung. Anakku itu cengeng atau berperasaan halus ya? Sebab kalau dia dipukul temannya tidak menangis (meski malamnya laporan ke aku). (Q)
Mungkin hanya sensitif saja kali, seperti anakku pagi ini aku diceritakan ibu gurunya katanya sehari menangis sampai 3 kali karena dibilang comberan sama salah satu temannya sampai anakku tanya ke ibu gurunya apa arti comberan itu.(An)
Menumbuhkan Percaya Diri Pada Anak
Untuk anak-anak, rasa percaya diri membuat mereka mampu mengatasi tekanan dan penolakan dari teman-teman sebayanya. Anak yang percaya diri mempunyai perangkat yang lebih lengkap untuk menghadapi situasi sulit dan berani minta bantuan jika mereka memerlukannya. Mereka jarang diusik. Justru mereka sering mempunyai daya tarik yang membuat orang lain ingin bersahabat dengannya. Mereka tidak takut untuk berprestasi baik di sekolah atau untuk menujukkan bahwa mereka memang kreatif. Percaya diri bukan merupakan bawaan dari lahir, juga tidak jatuh dari langit. Anak-anak mudah sekali merasa rendah diri, merasa tidak mampu, tidak penting, karena ada banyak hal yang harus dipelajari, dan orang yang lebih tua tampak begitu pandai. Anak-anak memerlukan dorongan dan dukungan secara terus-menerus. Jika orang tua atau guru dapat berperan dengan baik, anak-anak akan memiliki rasa percaya diri. Jika Anda ingin membangun rasa percaya diri dalam diri anak Anda, tak ada istilah terlambat untuk memulai. Anda justru akan memberikan hadiah terbaik untuk anak Anda dan diri Anda sendiri.
Membangun Rasa Percaya Diri
Walaupun sering memprotes jika merasa dibatasi, anak-anak akan menerima jika mempunyai aturan pasti dalam bertindak. Jika orangtua terus mengubah rutinitas anak Anda atau tidak konsisten dalam hal disiplin, anak akan bingung dan bimbang. Misalnya, hari ini aturannya begini, tapi besok lain lagi. Lusa, anak akan bertanya-tanya, "Sekarang saya harus bagaimana. Yang seperti kemarin atau seperti kemarin dulu?"
Tunjukkan bahwa Anda percaya anak Anda punya kemampuan, dengan memberinya tugas-tugas yang bisa dilakukannya dan menimbulkan rasa ikut memiliki. Sebagai contoh, anak-anak biasanya senang menjawab telepon. Ajari dia cara menjawab telepon yang sopan dan benar. Lalu, beri dia kesempatan untuk melakukannya. Coba juga meminta bantuan anak untuk mengambilkan barang-barang yang akan dibeli di rak pasar swalayan, tentunya barang yang tak mudah pecah, misalnya susu, sabun mandi, dan sebagainya. Tahan diri untuk cepat-cepat turun tangan membantu anak melakukan sesuatu. Membantu boleh-boleh saja, tapi tidak berarti mengambil alih atau langsung ikut campur tangan tanpa dimintanya. Doronglah dia untuk tidak terlalu gampang mengatakan, "Saya tidak bisa," "Saya tak pernah akan bisa," atau "Saya memang bodoh."
Satu hal yang penting orangtua harus menjaga jangan sampai mencap anak "pemalas", "dasar pemalu", "anak bodoh", dan sebagainya. Memang sebagian anak mungkin tak akan terlalu menghiraukan kata-kata seperti itu. Tapi sebagian lain akan membangun identitas dirinya dari komentar-komentar yang negatif ini, meskipun Anda mengucapkannya secara spontan dan sungguh tidak bermaksud merendahkan dirinya.
Tanamkan sikap bahwa berbuat salah bukanlah dosa yang tak terampuni, bahwa nilai seseorang tidak selalu bisa dihitung berdasarkan kesempurnaan hasil kerjanya. Yang penting bukan betul atau salah, tapi bagaimana cara dia melakukannya. Jadikan ini sebagai pedoman untuk diri Anda juga. Hormati dan hargai anak Anda. Jangan mempermalukan dia di depan teman-teman sebayanya, atau di depan orang dewasa lainnya, atau di depan umum. Jika anak Anda berbuat salah, panggil dia ke tempat sepi, atau bicarakan hal itu di rumah. Jika Anda berbicara, gunakan nada suara seperti yang Anda harapkan akan digunakannya saat ia berbicara.
Dengarkan anak Anda dan dorong dia untuk berpikir mandiri. Belajar mempertahankan diri sendiri memerlukan kekuatan besar. Tempat terbaik untuk berlatih menjadi orang yang percaya diri adalah di rumah. Hargai ide-ide yang dinyatakannya. Katakan berulang-ulang kepada anak Anda bahwa Anda percaya dia bisa. Dan bersikaplah positif di depan orang-orang lain tentang apa yang bisa dilakukan anak Anda. Dengan cara begitu, anak akan yakin bahwa Anda benar-benar mempercayai kemampuannya.
Ciptakan peluang untuk pengalaman-pengalaman dan tantangan baru. Perluas minat dan keterampilan anak Anda. Bersedialah menerima usaha yang telah dilakukannya, entah apa pun hasilnya. Jangan hanya melihat hasil akhirnya saja. Daripada mengatakan kepada anak apa yang tak boleh dilakukan, lebih baik katakan apa yang boleh dilakukannya. Misalnya, daripada mengatakan "Kamu tak boleh masuk ke rumah orang tanpa permisi," lebih baik katakan, "Kamu boleh masuk ke rumah orang kalau sudah permisi dan dipersilakan masuk." Sebelum mengomentari perilaku anak yang negatif, pikirlah dulu dua tiga kali, sambil mengingat untuk selalu menekankan hal-hal yang positif.
Ajar si kecil minta maaf
Minta maaf sebetulnya merupakan bagian dari norma yang berkaitan dengan nilai benar dan salah. Bila ditarik lebih ke belakang, minta maaf erat kaitannya dengan moral.
Permintaan maaf sebenarnya bisa digantikan dengan tingkah laku seperti mengelus atau memeluk, tapi menurut Agustina Untari, Psi., permintaan maaf secara verbal tetap dibutuhkan. "Sayangnya, pada budaya kita, minta maaf biasanya lebih banyak dilakukan dengan perilaku saja. Mungkin karena gengsi," ujar Konsultan Pusat Edukasi Prasekolah Putik, Jakarta ini.
Padahal anak perlu tahu, minta maaf bukanlah sesuatu yang memalukan, tapi justru membanggakan karena menunjukkan seseorang bisa berlapang dada mengakui suatu kesalahan. Bukankah ini bagus daripada tahu kalau salah, tapi tidak mau mengaku? Si prasekolah pun perlu tahu, minta maaf harus dilakukan oleh siapapun yang berbuat salah, termasuk jika orang tua melakukan kesalahan pada anak.
Menurut Psikolog yang akrab disapa Ina ini, modeling merupakan cara efektif untuk mengajarkan minta maaf. Ketika orang tua melakukan kesalahan jelaskan hal itu kepada anak secara verbal. Umpamanya, "Maaf, Mama tadi membentak kamu. Soalnya kamu ganggu adik terus, sih. Adik jadi rewel, deh. Mama, kan, jadi enggak bisa kerja." Tunjukkan juga apa yang harus dilakukan untuk mengurangi dampak negatif seperti, "Mama janji enggak akan melakukan lagi, deh!"
Dengan begitu sebenarnya anak sudah belajar akan tahapan konsep maaf. Tahap awal, maaf harus dilakukan setiap kali berbuat kesalahan. Tahap berikutnya, anak perlu memahami bahwa minta maaf bukan hanya sekadar kata-kata di bibir. Bila ia sudah mengucapkan "maaf" berarti ia tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama.
BELUM BEREMPATI
Hanya saja, pada prakteknya si prasekolah sering sulit bila harus meminta maaf. Salah satu penyebabnya, menurut Ina, karena mereka belum mahir berempati. Alasannya, anak-anak usia prasekolah masih berada dalam tahapan egosentrisme, dimana setiap masalah akan dilihat berdasarkan sudut pandangnya sendiri.
Bagaimana anak memandang masalah sangat mempengaruhi perkembangan moralnya. Awalnya, anak hanya dapat melihat masalah dari sudut pandangnya sendiri, sehingga pertimbangan moral yang berlaku hanya yang sesuai dengan dirinya. Tahap berikut, barulah dia bisa melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Untuk melatihnya, ajaklah dia untuk melihat bahwa ada sisi atau sudut pandang lain dalam suatu masalah.
Alhasil, jangan terlalu berang jika si prasekolah sering tak sadar bila telah melakukan kesalahan. Contohnya, ketika ia memukul teman yang merebut mainannya. Menurut si anak, merebut mainan adalah salah, tapi ia belum paham kalau memukul pun sebenarnya merupakan kesalahan. "Ini yang perlu diajarkan, sehingga mereka sadar dan mau saling minta maaf," ujar salah seorang pendiri Kelompok Tunas yang kerap menggunakan tema-tema lingkungan hidup dalam program-program pengembangan anak yang diselenggarakannya.
Jelaskan alasan sederhana setiap kali ada kejadian yang mengharuskannya minta maaf. Di usia prasekolah, anak sudah mulai dapat melihat hubungan sebab akibat yang simpel. Contohnya, "Kan, sakit kalau dipukul. Coba kalau Kakak dipukul, sakit juga, kan? Jadi Kakak harus minta maaf!"
Jika pun ia berkeras tak mau melakukannya, maka tak perlu dipaksa. Hal ini malah akan membuatnya makin segan minta maaf. Saran Ina, tunggu sampai anak tenang. "Emosi anak tak berbeda seperti halnya orang dewasa. Kalau sedang memuncak akan sulit diajak bicara. Apalagi kalau ia merasa tak bersalah, tapi disuruh minta maaf. Bicarakan setelah emosinya mereda atau ketika anak sudah bermain kembali. Toh, lebih baik minta maaf belakangan daripada tidak sama sekali. "Hei, tadi kamu bentak-bentak Mama, kan? Kamu harus minta maaf, dong, karena kamu bikin Mama jadi sedih."
Intinya, cari situasi yang membuat anak mau mendengarkan. Jangan lupa, anak prasekolah mulai mengenal perasaan malu. Hargai perasaannya itu. Bila ia malu dan protes saat dimarahi atau dinasehati di depan umum, tanggapi kata-katanya dengan serius. Lalu, hindari menegur anak di depan orang lain. Carilah tempat yang memungkinkannya untuk minta maaf tanpa kehilangan muka.
BERI OTONOMI
Jika setelah diterangkan anak tak kunjung mengajukan permohonan maaf, maka anak yang "keras kepala" seperti ini harus lebih banyak diberi otonomi dalam memilih dan menyampaikan pikiran. Asal tahu saja, "Keras kepala pada balita sebenarnya hanya merupakan suatu fase. Jadi, belum tentu ia akan keras kepala sampai dewasa. Mereka jadi keras kepala, biasanya karena punya pikiran atau alasan sendiri, yang mungkin saja terasa tidak masuk akal dan tidak dapat diterima orang tua.
Masalahnya, cara anak memandang masalah berbeda dari cara orang dewasa. Hal ini berkaitan dengan taraf perkembangan penalarannya yang masih berada pada tahap awal. "Cobalah memahami dan menghargai sudut pandangnya. Sambil tentunya membantu si prasekolah melihat situasi melalui perspektif yang lebih luas. Misalnya, dengan menunjukkan adanya sudut pandang lain dan juga konsekuensi," anjur Ina.
Caranya, tanyakan alasan mengapa ia tidak mau minta maaf. Apapun yang dikemukakannya, hargailah. Umumnya si prasekolah belum memiliki pemahaman yang cukup mendalam, sehingga alasan yang ia kemukakan sering tidak sesuai dengan standar norma yang berlaku. Contohnya, ia tidak mau minta maaf setelah merebut mainan temannya, karena menurutnya ia tidak memperoleh apa yang diinginkan. "Tadi, kan aku sudah minta pinjam, tapi enggak dikasih. Jadi aku rebut saja."
Dalam situasi dilematik yang melibatkan konflik moral seperti itu, anak perlu dibantu memahami situasinya. Ajukan penalaran sehingga ia sadar bahwa dalam posisi seperti itu ia memang mesti minta maaf. Anak perlu diberitahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang mesti dilakukan.
Untuk mengarahkannya sesuai harapan orang tua, ajak ia berdiskusi dan ajukan konsekuensi dari beberapa pilihan. "Kalau Kakak enggak mau minta maaf, nanti dia enggak mau temenan lagi. Tapi kalau Kakak minta maaf, dia mungkin mau kasih pinjam mobil-mobilannya yang baru." Karena mulai bisa melihat hubungan sebab akibat yang sederhana, ia juga mulai dapat menentukan pilihan yang sederhana. Ia sudah sadar bahwa ada pilihan yang berakibat kurang mengenakkan.
Sekali lagi Ina menekankan agar orang tua memberi kelonggaran jika saat kejadian si prasekolah tidak mau minta maaf. Berilah waktu. Jangan sampai anak melihat maaf sebagai hal negatif atau menganggapnya sebagai hukuman maupun beban. "Kalau terlalu sering dipaksa minta maaf akhirnya anak punya persepsi bahwa minta maaf itu menyebalkan."
Pemaksaan yang terus menerus, terlebih dengan ancaman, mendorong anak untuk selalu minta maaf semata-mata berdasarkan tuntutan lingkungan alias tidak tulus. "Ini, kan, jelek karena yang dimaksud maaf sebenarnya maaf yang tulus, bukan hanya lip service. Kita juga mau mengajarkan bahwa minta maaf merupakan hal positif yang tidak memalukan dan tidak merusak harga diri. Dengan minta maaf kita bahkan menjadi seorang gentleman."
INGATKAN BERKALI-KALI
Ina pun mengingatkan agar orang tua tidak heran jika anak masih saja melakukan kesalahan yang sama walau sudah mengajukan maaf. Rupanya ini berkaitan dengan memori si prasekolah yang belum berkembang. Rentang memorinya belum sepanjang rentang memori orang dewasa. Kejadian yang buat orang dewasa masih lekat dalam ingatan, baginya mungkin terasa sudah lampau, sehingga sudah tidak masuk lagi dalam memorinya.
Selain itu, tahap perkembangan penalarannya pun masih belum cukup matang. Si prasekolah belum dapat memahami sepenuhnya apa yang baik dan buruk pada masing-masing situasi, sehingga masih belum dapat secara spontan diharapkan berperilaku baik. "Memang benar kalau ada yang bilang anak perlu diomongin hingga 1000 kali, karena ia memang harus selalu diingatkan terus menerus tentang apa yang salah dan benar. Itu sudah menjadi tugas orang tua," tandas Ina.
Oleh karena itulah, bila anak sudah minta maaf, hukuman tak diperlukan lagi karena tidak akan adil buatnya. Perkara ia sudah melakukankan kesalahan sama berkali-kali, tidak mengapa. "Hukuman sebaiknya diterapkan seminim mungkin. Hukuman yang terlalu sering malah tidak efektif."
Yang perlu disadari orang tua, hukuman berbeda dari konsekuensi. Contohnya, ketika anak menjatuhkan stoples berisi kue, selain minta maaf ia pun harus membereskan ceceran kue yang ada di lantai. Itulah konsekuensi, bukan hukuman. Dengan begitu ia tahu jika melakukan kesalahan maka akan muncul konsekuensi yang harus dihadapi. Itulah pertanggungjawaban dari apa yang sudah dilakukannya, baik sengaja maupun tidak.
MENGOBRAL MAAF
Bagaimana jika si prasekolah malah mengobral kata maaf? Menurut Ina, bisa jadi hal itu merupakan peniruan dari orang tua atau salah satu anggota keluarga. Anak, kan, sering mendengar kata maaf diucapkan dalam situasi yang beragam. Misalnya, tersenggol sedikit bilang maaf. Jalan di depan seseorang juga mengatakan maaf. Apalagi, ia belum bisa menangkap poin kapan saat tepat untuk minta maaf.
Oleh sebab itu, anak perlu diberitahu cara membedakan maaf yang artinya permisi dan maaf yang artinya menyesali kesalahan. "Orang tua pun perlu mengajarkan, minta maaf harus disertai alasan karena orang yang terlalu sering minta maaf pun akan membuat risih," simpul Ina.
Namun, penjelasan mengenai perlunya alasan minta maaf ini menurutnya baru bisa dilakukan pada tahap usia selanjutnya. Pada balita, cukup bantulah membuka penalarannya agar ia mengerti bahwa orang lain pun memiliki sudut pandang sendiri yang perlu diselaminya supaya ia bisa lebih mengerti situasi.
(tabloid-nakita)
Agar malu tidak menghambat potensi
"Aduh, kenapa, sih, Eli, kok, enggak seperti teman-temannya. Ia selalu menolak bila diminta bernyanyi di depan kelas? Bilangnya selalu, "Enggak mau. Malu! Persis kayak Bapaknya!" ujar seorang ibu.
Ada dua hal menarik yang bisa ditarik dari kasus di atas. Pertama, bahwa perasaan malu bersifat individualis. Misalnya, Eli bisa jadi selalu malu disuruh bernyanyi di depan kelas. Namun temannya, Fafa, bisa tampil cuek bernyanyi sambil berlenggang apa adanya. Hal kedua, kata ibunya sifat Eli yang pemalu persis seperti sifat bapaknya. Jadi apakah pemalu merupakan faktor genetik?
Ternyata belum ada jawaban pasti apakah pemalu merupakan sifat yang diturunkan atau tidak. Yang jelas, malu akan berbeda pada setiap orang, seperti halnya Eli dan Fafa karena sifatnya yang individualistis. Walaupun begitu, Hj. Fitriani F. Syahrul, Psi.MSi., yakin, faktor genetik sedikit banyak berperan menjadikan seseorang bersifat pemalu atau tidak. "Kalau orang tuanya berani, katakanlah jika dulu ia seorang aktivis, maka ada kecenderungan anaknya pun akan aktif dan berani. Sebaliknya, bila orang tuanya tak mau bergaul karena sifatnya yang pemalu, anaknya juga memiliki kecenderungan seperti itu."
Fitriani sangat menggarisbawahi kata "kecenderungan" yang berarti faktor genetik tidak berperan 100 persen karena masih ada pengaruh lain, yakni faktor lingkungan. "Anak yang memiliki kecenderungan pemalu akan menjadi benar-benar pemalu tatkala orang tuanya tak pernah merangsangnya untuk berani," tandasnya.
PEMAHAMAN DIRI
Teori mengatakan, perasaan malu sebenarnya muncul sebagai gambaran bahwa anak sudah mulai mengenal kelebihan dan kekurangan dirinya. Istilah psikologisnya self-understanding atau pemahaman mengenai diri sendiri yang dimulai pada usia sekitar 1 tahun 6 bulan. "Pada tahap self-understanding anak mulai tahu kalau rambutnya keriting dan berwarna hitam. Tubuhnya gendut dan hidungnya mancung, misalnya."
Mulai usia 3-4 tahun, seiring dengan cara berpikir anak yang mulai berkembang, ia pun sadar jika orang dapat menilai dirinya dengan cara tertentu. Apalagi bila ia sudah masuk "sekolah", anak makin banyak memperoleh feedback yang berkenaan dengan dirinya, seperti, "Ah, kalau aku pakai celana panjang jins banyak yang memuji."
Bahasa sederhananya, Saat menjelang usia 3 tahun, self-understanding mulai diembel-embeli tuntutan lingkungan. Alhasil, si kecil pun mulai penuh pertimbangan kala akan melakukan sesuatu; apakah perilaku tersebut akan diteruskan atau tidak. "Salah satu wujudnya bila tidak diteruskan adalah dengan kata-kata seperti, "Ah, enggak mau. Malu!" ujar Psikolog dari Lentera Insan, Depok, ini.
TIGA KATEGORI MALU
Perasaan malu disebut Fitriani terbagi ke dalam 3 kategori, yaitu malu bersosialisasi, malu menampilkan potensi, dan malu yang memang diperlukan. Nah, kasus Eli di atas berkaitan dengan malu dalam menampilkan potensi atau malu karena ia tidak berani menampilkan diri apa adanya. Penyebabnya, bisa jadi karena pembentukan konsep diri positifnya kurang didukung lingkungan. "Bila anak selalu disalahkan atau diberi label negatif maka ia akan tumbuh menjadi anak yang memiliki konsep diri negatif. Anak jadi cenderung pasif, malu-malu, sering menarik diri dan merasa selalu tidak mampu," kata ibu dua putra ini.
Awal pembentukan konsep diri (self-esteem), yaitu self-understanding yang sudah dibicarakan tadi. Bedanya, pada tahap self-understanding, anak hanya mengerti kalau "tubuh saya gendut". Selanjutnya bahwa gendut itu jelek atau baik, akan diketahuinya dari lingkungan. Lalu muncullah konsep diri. Orang tua yang sering berkata "Kamu, kan gendut jangan pakai baju model rempel dong, jelek!" merupakan pemicu konsep diri yang negatif. "O, ternyata saya gendut dan gendut itu jelek, toh."
Ketimbang self-understanding, lanjut Fitriani, self-esteem lebih mendarah daging atau akan jauh lebih masuk ke dalam pemikiran seseorang. Dalam konsep diri, anak tahu ada suatu label tertentu yang tercap pada dirinya. Tak heran, para psikolog maupun pendidik sangat mewanti-wanti orang tua agar tak sembrono melabel anak. Si kecil yang selalu malu bicara dengan orang lain, bisa jadi karena ia sering mendengar kata-kata seperti, "Kamu kalau bicara jangan terlalu cepat gitu. Kan, yang dengar jadi enggak ngerti. Tanggapan seperti, "Ah, kamu kalau nyanyi sember" juga bisa membuat anak malu bila harus melantunkan suara.
CARA MENGATASI
Jadi bagaimana agar si kecil tak malu-malu? Menurut Fitriani rasa malu sangat berkaitan dengan kepercayaan diri. "Kalau anak pede, dia enggak akan malu-malu. Disuruh tampil, ya, dia akan berani maju." Nah, semua ini bisa dibentuk. Berikut beberapa kiatnya:
* Sosialisasi
Menurut Fitriani, sebagai langkah awal, ciptakan kondisi agar si kecil sering bertemu orang lain. Lakukan sedini mungkin karena terlambat sedikit kekhawatiran bahwa anak jadi pemalu bisa terjadi. Kalau ini terjadi berarti anak masuk kategori malu dalam bersosialisasi. Kondisi ini bisa diperparah bila anak memang memiliki kecenderungan ke arah situ. Misalnya, karena ibu juga pemalu anak tidak diberi kesempatan bertemu orang lain. "Akhirnya, ia bisa menjadi pemalu beneran. Bahkan takut bila bertemu orang."
Jadi sekali lagi, perkenalkan sosialsisasi sejak dini. Bagi orang tua yang sibuk bekerja, Direktur Yayasan Insan Kamil ini menyarankan untuk memanfaatkan hari libur untuk merangsang sosialisasi si kecil. "Saat pergi kondangan, misalnya, tak ada salahnya anak dibawa. Dengan begitu ia jadi kenal keramaian. Ingatkan juga agar pengasuh jangan mengeram anak di rumah seharian. Sekali-kali ajak anak bertandang ke tempat-tempat umum seperti taman yang letaknya tak jauh dari rumah."
Kalau anak sudah telanjur jadi pemalu, masukkan ia ke taman bermain yang bisa mengeliminir sifat tersebut. Di sekolah anak bisa belajar dari teman-temannya. "O, ternyata Rafif berani bicara dengan temanteman yang lain, kok." Interaksi natural yang terus menerus dapat membuka mata si kecil sehingga ia tertantang untuk melakukan sosialisasi. Dengan dukungan guru di sekolah yang tidak pernah mengekang dan mencemooh lama-lama makin tumbuhlah keberanian pada diri anak.
* Selalu berkata positif walau si kecil "salah".
Hindari menyalahkan anak serta merta dari awal walau pernyataannya kurang tepat. "Kalau anak salah memberi pernyataan bukan berarti dia bodoh. Iyakan saja dulu baru setelah itu beri penjelasan yang lebih tepat" saran Fitriani. Tanggapan yang sama juga berlaku pada pernyataan si kecil yang terdengar ekstrem. "Tuhan itu nakal, ya masak memberi petir kepada kita." - "Iya, sayang. Tapi petir itu juga ada gunanya, lo. Dengan mempelajari petir, manusia jadi tahu keadaan cuaca."
* Biarkan anak mengambil keputusan.
Terapkan prinsip ini dalam keseharian. Saat anak memilih warna baju yang norak tak perlu berkata "Aduh Dek, kamu, kan hitam jadi kalau pakai merah enggak cocok." Lebih bijaksana bila kita katakan, "Kayaknya baju yang putih lebih bagus, deh!" Toh, kalau ia bersiteguh dengan warna pilihannya, hargai saja.
Pada usia 3-4 tahun, anak mulai membentuk jati diri. Kepercayaan dirinya sedang tumbuh sehingga ia merasa dapat melakukan semua sendiri. Saat itu, mulailah egonya muncul. Ia tahu apa yang bisa dilakukan dan yang tidak, hingga akhirnya ia dapat membentuk suatu konsep diri yang utuh. Bila anak merasa dapat melakukan banyak hal, konsep dirinya akan positif. Sebaliknya, kalau ia sering diserang dengan berbagai hal negatif maka anak akan susah untuk percaya diri karena konsep dirinya negatif.
MALU YANG DIPERLUKAN
Satu hal lagi yang tak boleh terlewat adalah malu yang memang diperlukan. Memang tak ada rujukan dari maksud "yang diperlukan" ini. Ada orang yang nyaman saja mengenakan rok mini. Di lain pihak ada yang merasa malu jika pahanya terlihat. Yang jelas rasa malu ini perlu ditegakkan sejak dini, yaitu saat anak mulai dapat berbicara, sekitar usia 1-1,6 tahun. "Nak, kalau duduk enggak boleh sampai kelihatan celana dalamnya. Malu," atau "Sehabis keluar dari kamar mandi, Adek harus pakai handuk. Kan, malu kalau dilihat orang."
Tentu saja, rasa malu ini tidak bisa diharapkan langsung tertanam pada diri si kecil karena butuh waktu. Jadi wajar saja, ujar Fitriani, bila perilaku anak terkadang tidak konsisten. Keluar kamar mandi terkadang bertelanjang bulat. Di kesempatan lain, ia bisa keluar dengan dililit handuk. "Namun kalau diingatkan terus maka pada usia 3-4 tahun biasanya kebiasaan yang kita inginkan sudah mulai terbentuk."
"SI TAK TAHU MALU"
Bagaimana cara mengatasi anak yang "tak tahu malu"? Setiap ada pertanyaan dari guru, ia tunjuk tangan terus. Atau kalau diminta melakukan atraksi ia mau melakukannya tanpa memberi kesempatan kepada yang lain. Menurut Fitriani, sebenarnya hal itu bukan suatu hal yang negatif, sebaliknya malah sesuatu yang positif. "Mungkin anak itu memang pintar. Bisa juga ia melakukan itu hanya untuk mencari perhatian walau enggak tahu jawabannya benar atau salah." Namun apa pun alasannya, tak malu tunjuk tangan atau melakukan atraksi merupakan hal yang positif karena menunjukkan keberanian si kecil. "Hanya saja ia perlu dikenalkan akan konsep bergiliran bahwa ada orang lain yang juga mesti diberi kesempatan. 'Tadi, kan Anca sudah. Sekarang giliran Toni, ya," contohnya.
Membangun Karakter Lewat Media
Menurut dia, pembangunan karakter adalah metode pendidikan yang kerap kali dipakai oleh beberapa sekolah, terutama yang menanamkan ajaran agama tertentu. Metode tersebut menitikberatkan pada contoh perilaku ditunjang dengan literatur seperti buku dan VCD. Pembangunan karakter antara lain diajarkan melalui sikap peduli, sabar, rasa kasih terhadap sesama, termasuk menumbuhkan toleransi terhadap perbedaan di dalam masyarakat.
"Mungkin saja anak akan berlaku baik seperti memiliki toleransi tinggi ketika dia di sekolah karena anak terikat dengan aturan. Tapi, ketika anak di rumah, maka anak kembali ke karakter asal," ungkap Lely.
Karena itu, Lely kembali menegaskan pentingnya pendidikan toleransi yang diberikan kepada anak di rumah. Sebenarnya, cara yang dapat dipakai oleh orangtua bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana. Orangtua bisa memasukkan anak ke sekolah yang memiliki latar belakang kebudayaan atau tingkat ekonomi yang berbeda. Atau, orangtua dapat mengikutsertakan anak ke tempat les tari daerah. Karena itu, anak dapat dengan jelas melihat beragam kebudayaan dan menganggap perbedaan bukanlah suatu masalah. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan yang sering kali diajukan anak kepada orangtua terkait dengan perbedaan yang dilihat anak seharusnya dijawab dengan sejujurnya.
Misalnya, anak yang berasal dari keluarga beragama Kristen melihat seorang muslim sedang melaksanakan ibadah salat. "Orangtua harus menjawab dengan kalimat yang masuk akal. Jangan katakan yang berbeda itu pasti salah. Dengan begitu, anak dapat menyadari bahwa perbedaan itu ada dan menyikapi dengan toleransi," tutur Lely. Fenomena yang terjadi saat ini, lanjut Lely, ialah anak terbiasa membuat kelompok-kelompok pertemanan tertentu. Sementara, anggotanya diseleksi berdasarkan kriteria yang sesuai dengan dirinya. Pada kasus ini, Lely kembali mengingatkan pentingnya peran orangtua untuk menjelaskan kepada anaknya.
Terutama, anak-anak di masa depan dihadapkan dengan era globalisasi yang mengharuskan mereka berhadapan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda. Karena itu, pemahaman keragaman merupakan hal penting bagi masa depan anak-anak. Apalagi kelak jarak antarnegara dan benua sudah didekatkan oleh kemajuan teknologi. Menurut Lely, toleransi membuat seseorang lebih bisa menerima perbedaan. Pada saat seseorang bisa menerima dan memahami perbedaan, akan lebih mudah melangsungkan suatu kerja sama.Toleransi juga akan membuat anak memiliki rasa percaya diri ketika berdiri sejajar dengan orang dari bangsa mana pun.
(sindo//mbs)
MENGASAH KECERDASAN SOPAN SANTUN
Orang tua memang dituntut untuk menularkan etiket pada anak. Namun, mengajarkan etiket tak bisa dilakukan dalam satu hari. Perlu proses yang cukup panjang dan harus dilakukan secara konsisten serta berkesinambungan agar hasilnya maksimal. Terkadang, meskipun orang tua sudah "bersusah payah" mendidik si kecil agar bersikap sopan, lingkungan di luar rumah justru memberikan model yang berlawanan. Ada juga yang menyikapi perilakunya secara permisif misalnya meng- izinkan si prasekolah merebut mainan anak lain tanpa meng- upayakan cara yang santun dan beranggapan, "Biarin aja begitu, namanya juga anak-anak. Nanti juga berubah kok sikapnya kalau sudah besar." Nah, justru pemakluman seperti ini secara langsung maupun tidak mengakibatkan anak menerapkan perilaku tak sopan bahkan menganggap apa yang dilakukannya itu sah-sah saja. Alhasil, sikap tidak beretiket akan terus terbawa sampai besar. Kalau sudah begitu, akan sulit sekali untuk mengubah perilakunya.
Sebenarnya ada beberapa hal penting yang mesti diperhatikan orang tua agar anak cerdas bertatakrama, yaitu:
ORANG TUA SEBAGAI MODEL
Sekali lagi, pembentukan perilaku sopan santun sangat dipengaruhi lingkungan. Anak pasti menyontoh perilaku orang tua sehari-hari. Tak salahlah kalau ada yang menyebutkan bahwa ayah/ibu merupakan model yang tepat bagi anak. Di sisi lain, anak dianggap sebagai sosok peniru yang ulung. Lantaran itu, orang tua sebaiknya selalu menunjukkan sikap sopan santun. Dengan begitu, anak pun secara otomatis akan mengadopsi tata- krama tersebut. Asal tahu saja, pola pengajaran bertatakrama tentunya tidak semata berupa nasihat, akan tetapi juga perlu contoh.
Kemudian, orang tua juga mesti konsisten dan konsekuen menerapkan adab yang baik. Misalnya, ayah/ibu minta si prasekolah setiap makan di meja makan. Akan tetapi dia sendiri makan di ruang tengah sambil nonton teve atau sambil berdiri. Ya, tentunya takkan berefek maksimal. Mungkin saja si anak malah protes, "Kok ayah makannya sambil nonton teve, sih?"
Yang perlu diwaspadai, anak dapat berperilaku berlawanan karena menyontoh orang lain baik yang sebaya ataupun lebih dewasa. Kalau sudah begitu, jelaskan pada si kecil dengan bahasa yang mudah dipahami kenapa sikap seperti itu dilarang dan tak baik dilakukan. Yang pasti jangan sambil marah-marah karena toh anak mungkin pada dasarnya tak tahu sikap yang dilakukannya itu baik atau buruk.
MULAI DARI HAL KECIL
"Pengajaran" tatakrama sebaiknya dimulai dari kehidupan sehari-hari dan dari hal yang kecil. Anak dikenalkan mengenai aturan-aturan atau adab sopan santun. Kelak, kebiasan-kebiasan baik yang kadang luput dari perhatian ini akan terus dilakukan hingga dia besar.
Nah, berikut contoh-contoh sikap dasar yang perlu "ditularkan", yaitu:
* Mengucapkan terima kasih jika diberi sesuatu atau ketika si prasekolah dibawakan sesuatu baik oleh orang tua maupun orang lain. Sekaligus mengajarkan menghargai jerih payah orang lain.
* Mengucapkan "maaf" jika bersalah. Mengajarkan sportivitas dan berani mengakui kesalahan.
* Mengucapkan tolong ketika meminta diambilkan sesuatu, misalnya. Dengan begitu, anak belajar untuk menghargai pertolongan atau bantuan orang lain.
* Menyapa, memberi salam atau mengucapkan permisi jika bertemu orang lain. Mengajarkan pula perilaku ramah dan agar mudah bersosialisasi.
* Mengajarkan adab menerima telepon. Sekaligus mengajarkan bagaimana berbudi bahasa yang baik. Dalam skala yang lebih luas, bagaimana bersikap di tempat umum, misalnya tidak berteriak-teriak, tidak memotong pembicaraan orang.
* Mengajarkan privasi orang lain, misalnya mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar tidur orang tua. Prinsip dasar sopan santun adalah menghargai hak dan perasaan orang lain. Ini akan menjadi dasar bagi anak untuk menjadi manusia yang beretika.
* Etiket makan yang baik, tidak sambil jalan-jalan atau melakukan aktivitas lain. Sikap ketika makan di meja makan, tidak bersendawa atau makan sambil ngobrol, misalnya.
JELASKAN TUJUANNYA
Selain memberikan contoh yang baik, tentunya orang tua juga perlu menjelaskan pada si prasekolah kenapa harus menerapkan sopan santun. Misalnya, kalau anak berteriak-teriak atau lari kesana-kemari saat ayah/ibu menerima tamu tentu akan mengganggu konsentrasi dan pembicaraan. Di sisi lain, ayah/ibu pun jadi malu melihat tingkah-polah si anak. Sang tamu mungkin tak berkeberatan dengan sikap seperti itu, malah barangkali menganggap lucu. Akan tetapi, jika perilaku yang sama terus dilakukan efek jangka panjangnya cenderung negatif bagi si anak sendiri.
Barangkali si kecil juga tak tahu maksud harus mengucapkan terima kasih, maaf, salam dan sebagainya. Menjadi tugas orang tualah untuk menjelaskan alasan semua aturan atau tatakrama tersebut.
Nah, mengajak atau mengajarkan anak bersopan santun sekali lagi tidak perlu dengan cara yang keras. Namun upayakan dengan kelembutan sehingga anak betul-betul memahami maksud dan tujuan beretiket. Umumnya, anak yang baik dan bisa menghargai orang lain adalah anak yang tahu sopan santun. Sebagai sebuah proses, bagaimana pun orang tua perlu sabar hingga anak mengerti dan menerapkannya.
Kelak, anak yang dibiasakan dari kecil untuk bersikap sopan santun akan lebih mudah bersosialisasi. Dia akan mudah memahami aturan-aturan yang ada di masyarakat dan mau mematuhi aturan umum tersebut. Anak pun relatif mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, supel, selalu menghargai orang lain, penuh percaya diri, dan memiliki kehidupan sosial yang baik. Pen-dek kata, dia tumbuh menjadi sosok yang beradab.
HARUS SEJAK DINI
Mengenalkan dan mengajarkan tatakrama sebaiknya dilakukan sejak dini, setidaknya usia batita. Tentunya dikenalkan dari hal yang paling sederhana, seperti memberi salam, minta izin sebelum meminjam barang kakaknya, mengetuk pintu sebelum masuk kamar orang tua, dan sebagainya. Jangan menunggu mengenalkan adab atau etiket ketika anak sudah besar. Pun, jangan menyerahkan sepenuhnya perihal pengajaran sopan santun ini pada pihak sekolah. Toh, pembelajaran etiket atau tatakrama sebenarnya paling efektif dilakukan ayah dan ibu.(tabloid-nakita)
BELAJAR MENJADI DERMAWAN YANG RASIONAL
Pernah tidak, mendengar cerita ada anak yang kalau memberi sesuatu suka berlebihan. Misalnya saja, dengan enteng dia memberikan seraup uang logam yang ada di mobil ibunya kepada seorang pengemis di jalan. Kalau dijumlahkan, uang logam dalam genggamannya itu bisa mencapai 3 ribu sampai 5 ribu rupiah. Padahal pengemis di jalan tidak cuma satu. Masih banyak pengemis lain yang akan minta sedekah. Dari situ, wajarlah kalau lantas orangtua menilai anak kelewat dermawan.
Akan tetapi bagi anak sendiri sebenarnya bukan suatu masalah apakah terkesan berlebihan atau tidak. Si prasekolah memaknainya berbeda. Betapa senangnya bisa berbagi dengan orang lain. Betapa bahagianya melihat orang lain senang. Rasa bahagia yang diperoleh dari ketulusan menolong orang lain tiada terkira nilainya. Kepekaan sosial anak pun akan semakin terasah.
Karena itu, tak perlu buru-buru melarang anak melanjutkan kebiasaan berbaginya. Larangan hanya akan menimbulkan pertanyaan atas inkonsistensi sikap orangtua yang sebelumnya mungkin mengajarkan perlunya tolong-menolong dengan orang lain. "Lo, kok sekarang aku dilarang, apanya yang salah?"
Lebih baik, ajari anak untuk mengelola pembagian itu. Misalnya, "Coba Nak, uang yang kamu punya mau diberikan kepada siapa saja? Sebagian buat pengamen dan sebagian lagi buat pengemis ya? Nah, sebagian lagi buat sedekah di masjid ya." Dengan begitu anak juga belajar bersikap "adil" dengan merencanakan ke mana saja uang yang hendak diberikannya.
Akan tetapi sekali lagi, sah-sah saja kalau memang anak mau memberikan sesuatu kepada orang lain secara "royal". Dia semata-mata tulus ingin berbagi dengan orang lain. Orangtua tak perlu mencegah atau membatasi pemberiannya. Jika terus diberi penjelasan rasional, lambat laun anak akan dapat mengukur berapa banyak sih uang yang layak diberikan untuk pengemis, pengamen, dan sebagainya. Berapa banyak pula sumbangan yang hendaknya diberikan buat panti asuhan, sedekah di masjid, kerabat yang sakit, dan lainnya. Orangtua bisa saja menjelaskan begini, "Kalau kamu mau memberi dalam jumlah yang banyak, mengapa enggak disalurkan saja ke yayasan sosial. Barangkali manfaatnya bisa lebih banyak lagi." Jadi sedikit demi sedikit kita ajak si prasekolah berpikir lebih maju lagi.
Orangtua memang perlu memberi pemahaman tentang makna kedermawanan dengan sejelas-jelasnya pada anak. Kapan kita bisa memberi, bagaimana caranya, dan apa manfaat pemberian kita bagi orang lain. "Nak, memberi teman yang tidak membawa makanan itu sangat baik. Makanan bekal kamu dibagi dua saja, separuh untuk kamu, separuh lagi untuk temanmu." Dengan demikian, anak pun memahami konsep kedermawanan dalam proporsi yang benar. Tak hanya dengan uang, latih pula kedermawanan si prasekolah dengan memberikan pakaian layak pakai atau makanan berlebih untuk pengemis dan pemulung yang lewat di depan rumah. Dengan begitu sekaligus anak belajar bahwa makanan itu tak boleh dibuang-buang atau dihamburkan.
MENGASAH EMPATI
Ada beberapa manfaat yang bisa dipetik jika anak selalu mengasah sikap kedermawannya, yaitu:
* Mengasah empati dan jiwa sosial
Jika lingkungan mendukung, tentu akan tumbuh rasa empati si prasekolah terhadap lingkungannya. Misalnya, teman di sekolah enggak bawa bekal, maka ketika jam makan, anak mau berbagi makanan dengan sang teman tersebut. Menjadi sosok dermawan juga berarti mengasah jiwa sosial si prasekolah. Kalau hal baik ini terus dipupuk tentu akan terbawa oleh anak sampai besar.
* Belajar nilai-nilai agama
Mengasah kedermawanan sekaligus mengenalkan anak sejak dini tentang nilai-nilai dalam agama. Bahwa kita punya kewajiban untuk berbagi, bahwa ada sebagian dari rezeki kita merupakan hak orang-orang yang kurang mampu dan sebagainya. Anak belajar, mungkin uang yang dimiliki tak seberapa, tapi bagi orang lain mungkin sangatlah besar dan berharga.
* Belajar mengelola uang
Dia pun bisa memaknai arti uang. Selain belajar menjadi dermawan, si prasekolah juga belajar bagaimana mengelola dan menghargai uang, serta tahu ke mana dan bagaimana uang itu sebaiknya dimanfaatkan.
DARI MANA DATANGNYA SIKAP DERMAWAN
Jika ditilik dari kajian psikologi, memang anak usia prasekolah sudah memahami konsep berbagi dengan orang lain atau teman, entah itu berbentuk makanan, mainan atau sesuatu lainnya. Di usia sebelumnya yaitu batita, mereka baru mengenal konsep kepemilikan. Nah di usia 4-5 tahun ini, pemahaman mereka akan sifat kedermawanan sudah mulai terbentuk. Apalagi karena lingkungan pergaulan anak pun makin luas. Di TK, tentu peluang untuk berbagi atau mengasah sikap kedermawanan ini makin terbuka. Ditambah jika guru selalu mengajarkan anak-anak untuk rajin beramal, menjadi sosok yang baik dengan cara selalu memberikan bantuan kepada orang lain, dan mengasihi sesama. Bukankah pihak sekolah juga sering mempergunakan momen-momen tertentu, misalnya hari besar agama, untuk kegiatan amal. Mainan, uang, buku, baju atau seragam yang tak lagi dipakai tapi masih layak pakai disalurkan kepada anak-anak yang membutuhkan atau lembaga sosial. Jadi, peran sekolah pun sangat penting dalam mengembangkan sikap kedermawanan anak.
Kalau mau ditelusuri lebih lanjut, sebenarnya ada beberapa hal yang menjadi latar belakang kenapa si prasekolah memiliki sikap dermawan, yaitu:
* Ingin membuat senang orang lain
Secara prinsip jika ditelaah dari sisi perkembangan moral anak, sebenarnya dalam diri si prasekolah tumbuh rasa ingin membuat orang lain senang.
Misalnya dengan cara memberi sesuatu pada temannya. Baginya, bisa membuat senang orang lain itu sungguh menyenangkan hati. Ternyata jika memberi sesuatu kepada orang lain atau teman, maka kedua pihak akan merasa senang. Yang perlu diketahui juga, anak memberi sesuatu masih dengan tulus, tidak ada rasa ingin dipuji teman atau orang lain.
* Peniruan
Satu hal lain, sikap dermawan anak biasanya didapat lantaran meniru lingkungannya. Dengan kata lain, faktor lingkungan juga sangat menentukan apakah anak menjadi sosok dermawan atau tidak. Asal tahu saja, anak usia prasekolah sangat dipengaruhi stimulasi lingkungannya. Dia akan terpacu untuk menonjolkan sikap dermawannya bila ayah, ibu, kakak dan saudara lainnya juga menunjukkan sikap dermawan.
Dengan kata lain, orangtua memang sebaiknya memberikan contoh sebanyak-banyaknya bagi anak. Entah itu menjadi model sosok yang dermawan, menjadi orang yang baik hati, selalu menolong, atau mengerjakan sesuatu dengan baik dan benar. Anak prasekolah masih menjadi peniru sejati. Contoh konkretnya, ia melihat orangtua selalu menyumbang ke panti asuhan. Ketika ada pengemis, orangtua memberinya makanan atau uang. Jika ada teman yang membutuhkan bantuan selalu ditolong. Alhasil, anak pun ingin meniru. Dalam benaknya muncul pemikiran,"Aku ingin seperti ayah dan ibu yang selalu menolong orang lain, selalu berbagi dan selalu baik pada orang lain."
MULAI PEKA PADA KEINDAHAN
Bakat seni sudah bisa terdeteksi di usia ini.
| "Pelangi-pelangi alangkah indahmu, merah, kuning, hijau di langit yang biru..." Lagu ini termasuk salah satu "lagu wajib" anak TK. Syairnya yang sederhana ternyata sarat makna. Si anak dapat diajak membayangkan keindahan warna pelangi di angkasa karena pada dasarnya ia sudah mampu mengenali keindahan. Tak sekadar yang tertangkap oleh indra penglihatan saja tapi juga pendengaran dan perabaan. Ia mulai memakai rasa estetikanya ketika mewarnai gambar, membuat prakarya, atau menilai pemandangan alam. Boleh dibilang, kemampuan anak prasekolah menangkap keindahan sedang berkembang pesat, meski prosesnya sudah dimulai sejak janin. Saat melihat, mendengar, meraba, anak merasakan rasa kagum, senang, nyaman, dan terhibur. Apa yang tertangkap oleh indranya ini kemudian direkam otak kanan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, anak mengomentari pemandangan yang dilihatnya, "Wah, bagus ya, pantainya." Atau "Aku mau warna hijau untuk gunung," katanya saat pelajaran menggambar. BISA DILATIH Tiap anak pasti memiliki naluri keindahan. Ini sudah menjadi kodrat manusia. Menjadi terasah atau tidak, lingkunganlah yang memengaruhinya. Tak heran, anak yang dibesarkan di lingkungan seni umumnya menunjukkan kemampuan berkesenian pula. Namun, tak perlu khawatir jika Anda tidak termasuk "golongan" yang dekat dengan dunia seni atau memiliki darah seni. Olah rasa termasuk kemampuan yang bisa diasah, terlebih di usia prasekolah, antara lain dengan cara: * Mendengarkan musik Pilih musik-musik yang bisa merangsang naluri keindahannya. Musik klasik yang riang dan tenang adalah pilihan yang tepat. Lagu sederhana seperti "Twinkle-Twinkle Little Star" pun akan memberi stimulus yang diharapkan. * Menikmati keindahan alam Mulai usia ini anak sudah "asyik" diajak jalan-jalan. Ia sudah bisa mengingat dan mengambil manfaat. Kenalkan ia pada birunya laut, warna hijau sawah, warna putih pantai, dan warna lembayung senja. Banyak manfaat didapat dengan mengajak anak menikmati keindahan alam, selain terstimulasi, pikirannya pun kembali fresh. * Melihat gambar Kalau mengajak anak menikmati keindahan alam tidak dapat dilakukan karena berbagai alasan, orangtua bisa menyiasatinya dengan menunjukkan gambar-gambar indah. Misalnya membaca buku dunia bawah laut atau mengenal macam-macam bunga. * Nonton teve Pilih acara teve yang menayangkan program tamasya ke suatu tempat yang indah. Beri penjelasan yang merangsang imajinasinya. Contoh, "Tuh lihat Dek, air sungainya bening banget ya, sampai ikannya kelihatan." Dengan demikian anak bisa membayangkan bagaimana indahnya air sungai yang bening. * Beri media penyaluran Tak sekadar menstimulasi, orangtua juga harus menyiapkan media penyaluran rasa seni anak. Seperti menyediakan kertas dan alat gambar, kertas lipat, kalau anak tertarik ikut les alat musik tertentu sebaiknya difasilitasi. MENDETEKSI BAKAT SENI Selain munculnya naluri keindahan, di usia ini pun bakat seni anak sudah bisa terdeteksi. Ciri-cirinya: * Mudah mengerti Anak yang berbakat menyanyi atau memainkan alat musik tertentu, misalnya, lebih mudah menguasai hal-hal baru di bidang ini. Umpama, lebih cepat menghafal lagu, lebih cepat mengerti teori musik yang diajarkan, dan relatif cepat menguasai instrumen musik tertentu. * Tekun/tak mudah bosan Anak yang memiliki bakat biasanya termotivasi untuk menguasai materi-materi selanjutnya. Beda dengan anak yang hanya "hangat-hangat tahi ayam", belajar sebentar lalu bosan. * Terlihat lebih peka Anak dengan bakat seni biasanya lebih peka terhadap banyak hal. Perasaannya pun sangat halus. Contoh yang paling mudah, anak ini akan terganggu menyaksikan kegaduhan pertengkaran temannya. Sebaliknya, ia bisa sangat takjub melihat ikan warna-warni di akuarium atau merahnya warna langit senja dan mampu mengekspresikan rasa takjubnya itu. Tentu saja mengasah rasa seni tak harus diartikan sebagai upaya orangtua mengarahkan anak menjadi seorang seniman. Tetapi agar anak memiliki kepekaan dan juga kesenangan yang akan mengisi jiwanya. Hal ini sangat membantu menjaga kestabilan emosinya. MANFAAT KEINDAHAN 1. Memperhalus rasa Kepekaan terhadap keindahan dapat membawa anak pada kepekaan terhadap lingkungan. Dengan mengenal keindahan anak bisa bersikap lebih lembut, bertenggang rasa, dan peduli pada sesama. 2. Mengasah kreativitas Misalnya saat melihat gunung, pantai, dan sawah, imajinasinya terasah untuk kemudian dituangkannya menjadi karya. Bentuk paling sederhana bisa dilihat saat anak memilih warna tertentu untuk memperindah gambar yang dibuatnya. 3. Membuat fleksibel Keindahan juga melatih fleksibilitas anak. Ia belajar bahwa di luar sana banyak hal tak terduga yang bisa terjadi kapan saja. Misalnya setelah panas, turun hujan kemudian muncul pelangi. Semuanya bergantian, ada waktunya dan memiliki keindahan sendiri-sendiri. 4. Menambah semangat Saat mendengar lagu-lagu tertentu akan muncul perasaan riang. Anak jadi bergembira dan bersemangat mengerjakan kegiatannya. 5. Menyegarkan pikiran Seperti halnya orang dewasa, dengan menyaksikan keindahan, pikiran anak jadi fresh. Sejenak duduk di depan akuarium menyaksikan ikan mondar-mandir, cukuplah untuk menyegarkan pikiran setelah beraktivitas. PESAN UNTUK ORANGTUA 1. Kenalkan seni dalam bentuk paling sederhana di rumah, misalnya meletakkan suatu benda pada tempatnya dengan memperhitungkan nilai kepatutan.2. Biasakan memberi komentar yang merangsang kreativitas dan imajinasi anak saat menyaksikan keindahan. "Lihat, kupu-kupu itu cantik sekali, ya!" misalnya. 3. Jangan persempit persepsinya saat menikmati keindahan. Misalnya, "Wah, langitnya sudah merah nih, sebentar lagi pasti gelap, sudah tidak bagus lagi." Biarkan anak menikmati keindahan sesuai bayangannya sendiri. 4. Jangan batasi kreativitas anak, misalnya mengharuskan mewarnai langit dengan warna biru atau sawah dengan warna hijau. 5. Fasilitasi secara proporsional keinginan anak mengembangkan bakat seni. Di usia ini perubahan minat pasti masih sering terjadi, karenanya Anda tak perlu merasa dipermainkan oleh anak. |
JIKA KELEWAT TERTIB
Saya termasuk orang yang tertib dalam memberlakukan kebiasaan pada anak. Setiap pulang dari bepergian atau habis main dari luar, anak harus cuci kaki, tangan, dan muka, lalu ganti baju. Makan dan minum pun harus menggunakan piring dan gelas khusus milik mereka sendiri. Saya berharap dapat menanamkan disiplin dan kebiasaan yang baik sejak anak masih kecil.
Masalahnya, tanpa saya sadari, rutinitas tersebut ternyata malah membuat anak saya jadi enggak fleksibel. Suatu pagi, pernah saya membantu si kecil melepaskan pakaiannya sebelum mandi. Karena terburu-buru, saya lupa kalau selama ini dia terbiasa melepaskan celananya duluan baru kemudian bajunya. Nah, pagi itu, terbalik, bajunya dulu yang saya lepaskan. Jadilah dia marah-marah dan minta dipakaikan bajunya kembali. Saya sudah jelaskan, enggak apa-apa buka baju dulu baru celana, tapi dia tetap protes dan malah ngamuk. Apa boleh buat, saya terpaksa memakaikan bajunya kembali dan kemudian melepaskannya sesuai "prosedur".
Soal keramas dan mandi pun kami pernah ribut. Ia terbiasa keramas dulu baru pakai sabun. Kalau ritualnya dibalik, dia takkan mau. Pokoknya, jadi merepotkan deh! Saya sama sekali enggak nyangka kalau rutinitas yang saya tanamkan itu akhirnya malah jadi bumerang buat saya.
BERBAGAI ALASAN
Masalah ini lantas saya curahkan kepada seorang psikolog anak. Namanya, Yelia Dini Puspita, M.Psi., dari Lembaga Psikologi Terapan UI. Ternyata, menurutnya, bukan anak saya saja yang punya perilaku seperti itu. Alasannya, sebagian anak usia prasekolah mulai menguasai berbagai aktivitas tertentu yang terbentuk melalui proses pembiasaan. Sikap kaku terhadap suatu kebiasaan wajar terjadi sampai usia sekitar 4 tahun. "Kebiasaan atau ritual yang kaku itu umumnya berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, seperti ritual makan, berpakaian, dan mandi. Namun juga bisa meluas pada kebiasaan bermain maupun mengatur benda-benda miliknya," kata Yelia.
"Mungkin karena saya terlalu tertib ya, Mbak, dalam menerapkan rutinitas itu?" tanya saya.
"Memang, penerapan disiplin dari orangtua yang bersifat kaku, bisa menjadi penyebabnya. Segala rutinitas harus dilakukan dengan prosedur tertentu, baik dalam waktu maupun cara pelaksanaannya. Hal tersebut membentuk kebiasaan yang kuat pada anak dan diadopsi olehnya sehingga menimbulkan tingkah laku ritual yang kaku pula. Tanpa disadari, anak sudah telanjur nyaman dengan tata cara yang berulang, bersifat rutin, dan dapat diprediksi. Perhatian khusus perlu diberikan jika selewat usia 4 tahun, anak masih sangat kaku pada tata cara tertentu dalam beraktivitas. Kalau dibiarkan, ia dapat berkembang menjadi pribadi yang tidak fleksibel dalam menghadapi berbagai hal," jawab Yelia.
"Ada sebab lainnya lagi tidak?" tanya saya kembali.
"Biasanya hal ini juga berkaitan dengan karakter anak. Anak-anak yang mengarah pada karakter perfeksionis, umumnya melakukan segala sesuatu sesuai dengan prosedur atau ritual dan tahapan yang relatif sama agar mendapatkan hasil yang ‘sempurna’ baginya, sehingga akhirnya terbentuklah tingkah laku ritual yang kaku pada anak."
"Mungkin enggak karena anak ingin cari perhatian ayah bundanya?"
"Mungkin sekali, karena anak sangat menikmati perhatian dari orangtuanya. Kalau yang ini mudah sekali terlihat karena terjadinya hanya di saat-saat tertentu saja. Misal, ketika ibu atau ayahnya ada waktu untuk menemaninya mandi, bermain, dan lainnya. Sebab lainnya berkaitan dengan pola pikir yang rigid atau kaku dan adanya tindakan yang bersifat repetitif atau berulang. Umumnya dialami oleh anak dengan gangguan perkembangan, semisal autisma. Tentu saja anak seperti ini perlu penanganan khusus untuk menanggulanginya."
POSITIF-NEGATIF
Sebenarnya, kata Yelia, perilaku tersebut wajar-wajar saja, selama tidak sampai menyusahkan. "Umumnya, semakin bertambah usia anak, maka keterampilan sosialnya juga akan bertambah, sehingga kebiasaan yang kaku ini semakin lama semakin berkurang dan akan menghilang dengan sendirinya tanpa intervensi khusus. Kecuali pada anak yang memang mengalami gangguan perkembangan."
Akan tetapi, lanjut Yelia, bukan berarti orangtua tak perlu membantu. "Kebiasaan kaku ini akan berangsur berkurang hanya bila tidak mendapatkan penguatan dari lingkungan. Jika orangtua justru memperkuat kebiasaan yang kaku tersebut, entah dengan membiarkan, selalu menuruti keinginan anak, maupun tidak memberikan penjelasan pada si anak, maka kebiasaan kaku tersebut akan tampil lebih kuat."
Kerugiannya, sikap kaku yang berlebihan tanpa disertai fleksibilitas akan menyulitkan anak dalam beradaptasi dengan hal-hal baru. Hal ini juga menghambatnya dalam berinteraksi sosial dengan orang lain. Namun, bukan berarti menanamkan kebiasaan secara teratur itu salah. Buah positifnya juga ada. Antara lain, anak dapat mengembangkan disiplin dan keteraturan dalam bertindak, serta terbiasa melakukan perencanaan. Lebih jauh lagi, anak dapat melakukan antisipasi terhadap hal-hal yang mungkin akan terjadi. Karenanya, orangtua pandai-pandailah mengatur ritme penerapan aturan dan bersikap fleksibel di saat-saat darurat.
VARIASI, DONG...
"Kalau sudah telanjur, apa yang harus dilakukan, Mbak?" tanya saya segera.
"Orangtua harus peka terhadap kebutuhan dan karakter anaknya, ini yang pertama. Peka terhadap kebutuhan, antara lain dengan mengenali alasan yang menyebabkan anak melakukan tindakan tersebut. Orangtua harus berusaha untuk memahami karakter dan pola tingkah laku anak, serta proses pembiasaan yang terjadi. Kemudian berusaha berempati dan tidak memaksanya mengubah kebiasaan. Dukungan serta sikap yang konsisten lebih diperlukan anak agar merasa lebih aman, sehingga dapat membentuk rasa percaya diri dan pada akhirnya tindakan ritual tersebut akan hilang dengan sendirinya. Kalau memang karakternya perfeksionis, maka anak perlu dipersiapkan dalam menghadapi segala aktivitasnya, terutama yang di luar kebiasaan. Beritahukan atau jelaskan terlebih dahulu apa yang akan terjadi atau dilakukan oleh si anak di luar dari kebiasaannya itu," kata Yelia.
Sebetulnya, anak-anak yang memang mudah menyesuaikan diri biasanya tak terlalu terganggu bila melakukan rutinitas di luar jalurnya. Dalam kondisi terburu-buru, tak masalah jika handuknya dipakai terbalik, atau jika dibantu dipakaikan sepatunya sebelah kiri dulu padahal biasanya kanan. "Anak seperti ini dapat dengan cepat mengatasinya. Bahkan, beberapa anak justru merasa senang dan tertarik menghadapi ‘hal baru’ tersebut," lanjut Yelia.
"Namun fleksibel bukan berarti berubah-ubah, lo. Fleksibel adalah kemampuan beradaptasi secara cepat terhadap perubahan yang terjadi," tambahnya segera. "Bagaimanapun, dalam menerapkan disiplin, orangtua harus tetap konsisten. Kalau tidak konsisten atau berubah-ubah justru dapat menimbulkan kebingungan dan membuat anak merasa tidak nyaman. Hanya saja dalam pembiasaan yang konsisten tersebut selipkan juga variasi ritual yang dapat orangtua berikan dalam momen-momen tertentu. Sesekali, ajaklah anak makan sambil piknik di halaman. Tapi kalau anak tidak mau, ya jangan dipaksa. Biarkan saja dia tetap melakukan ritualnya sambil diberikan penjelasan mengenai variasi ritual yang bisa ia lakukan. Selain itu, orangtua juga perlu introspeksi akan sikapnya selama ini apakah dalam penerapan disiplin bersifat kaku ataukah cukup fleksibel."
Sedangkan bila penyebabnya adalah si anak cari perhatian, menurut Yelia, kembali lagi orangtua perlu peka terhadap kebutuhan anak. Selain juga perlu ditelaah apakah cari perhatian tersebut mengarah pada kurangnya kebersamaan dengan anak, atau merupakan aksi protes anak terhadap penerapan disiplin yang dilakukan orangtua. Ada baiknya orangtua melakukan introspeksi, kemudian memperbaiki diri serta memberikan perhatian sesuai dengan kebutuhan anaknya.
Kini saya bisa bernapas lega. Setidaknya, saya jadi paham, mengapa buah hati saya sampai "sekaku" itu. Tentu saja saya juga harus berubah kalau tidak ingin si kecil kelak benar-benar menjadi pribadi yang kaku.