Tampilkan postingan dengan label Taman Kanak - Kanak / Playgroups. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taman Kanak - Kanak / Playgroups. Tampilkan semua postingan

Pre-School : Tak Perlu Jika Ibu Kreatif

Setiap orang pasti ingin agar anaknya cerdas untuk memperoleh masa depan yang gemilang. Berbagai upaya dan investasi dilakukan sejak dini demi kelancaran tumbuh kembang si kecil nantinya. Pre-School pun mulai banyak diminati para orang tua karena dianggap dapat mencetak anak berprestasi.

Psikolog anak, Dr. Rose Mini AP, Mpsi atau yang populer dengan panggilan bunda Romi menyebutkan bahwa IQ anak dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu nature (genetik) dan nurture (stimulasi) seperti bermain, musik, bahasa, dan lainnya.

Menurutnya, 80% otak anak berkembang sejak masa kandungan hingga umur 3 tahun. "Bahkan umur 1-3 tahun, anak dapat menyerap 13 juta kata, asalkan si anak mendapatkan rangsangan dan stimulasi," ujar bunda Romi.

Melihat tren yang berkembang di kalangan orang tua saat ini, yaitu berlomba-lomba memasukkan anaknya ke pre-school, terkadang menjadi dilema bagi beberapa orang tua yang tidak sanggup menyekolahkan anaknya sedini mungkin.

Namun ternyata, memasukkan anak ke pre-school bukan jalan satu-satunya mencetak anak pintar. Seorang anak dapat merasakan suasana pre-school di dalam rumah, asalkan sang ibu kreatif.

"Nggak ada sekolah buat orang tua. Orang tua harus kreatif dan banyak mencari informasi tentang tumbuh kembang anak. Orang tua harus mau susah, jangan menganggap memasukkan anak ke pre-school dapat meringankan tangung jawabnya, karena bisa bahaya," tegas bunda Romi.

Menurutnya, bahaya memasukkan anak ke preschool adalah ketika orang tua menjadi lepas tangan. Selain itu bila sistem yang diterapkan di sekolah tidak sama dengan sistem di rumah, anak bisa bingung.

"Contohnya jika orang tua memasukkan anaknya ke sekolah Islami dengan disiplin yang ketat, tetapi di rumahnya tidak diterapkan, sama saja bohong," ucapnya.

"Boleh saja memasukkan anak ke pre-school sejak batita, asalkan tidak membuat anak jenuh. Usahakan mereka lebih banyak bermain, karena dengan bermain informasi akan lebih cepat masuk ke otak,"saran bunda Romi.

Sebuah penelitian membuktikan bahwa orang tua yang melatih anak dengan bermain, maka informasi yang masuk dapat mencapai 80%. Namun bila dipaksa, informasi tidak akan masuk karena seperti ada tirai yang menghalanginya masuk.

"Pada dasarnya bagi anak-anak, bermain merupakan cara belajar yang paling alami serta dapat mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak," jelas bunda Romi.

Untuk ibu yang mendidik anaknya di rumah, dapat menggunakan cara-cara kreatif yang menmstimulasi si anak. "Cari alat stimulasi yang mudah. Misalnya,menstimulasi bunyi-bunyian dari peralatan kaca, atau menggunakan jari-jari tangan untuk berkomunikasi dengan cara unik, lucu dan menarik bagi anak," tambahnya.

Jika Anda tertarik memasukkan anak ke pre-school, ini dia tipsnya memilih preschool yang tepat :
1. Pilih sekolah (pre-school) yang dapat mengoptimalkan anak.
2. Jangan paksakan anak untuk belajar, cobalah mencari berbagai permainan yang disesuaikan dengan gaya berpikirnya.
3. Cari pre-shool yang gurunya tidak keluar masuk, karena anak perlu attachement atau kedekatan untuk tumbuhkembangnya.
4. Harus yang banyak kegiatan motorik kasarnya (jalan, lari, dll).
5. Ada kegiatan outdoornya (50:50), jangan langsung akademis.
6. Jalin komunikasi dengan pihak sekolah atau guru untuk mengetahui perkembangan anak di sekolah.

Dalam kesempatan tersebut, Maudy Koesnaedi yang hadir sebagai nara sumber sekaligus moderator pun bertanya mengenai pentingnya mengajarkan bahasa asing pada anak sejak balita.

"Para ibu cenderung menginginkan anaknya bisa menguasai beberapa bahasa dengan cara memasukkan si kecil ke preschool yang proses belajarnya menggunakan beberapa bahasa, sebenarnya baguskah hal seperti itu?" tanya Maudy.

Menurut bunda Romi, memang banyak orang tua yang ngerasa anaknya keren kalau ngomong bahasa asing. 'Nggak ada yang ngelarang, tapi yang jadi masalah adalah ketika anak bingung bahasa apa yang dipakainya nanti sehari-hari," ucap bunda Romi.

Selain itu, orang tua terkadang tidak memperhatikan apakah si kecil sudah siap atau belum jika si kecil disekolahkan di tempat yang proses belajarnya menggunakan beberapa bahasa. Untuk itu, kemampuan bahasa anak pun perlu dites dan dipertimbangkan lagi.

"Amati berapa kata yang dapat ia serap tiap harinya. Pertimbangkan juga kebutuhan keluarga dan anak sebelum menggunakan bilingual, apakah sering dipakai atau tidak bahasa asing tersebut di rumah," jelas bunda Romi.

Yang terpenting adalah mengajarkan bahasa ibu dulu, baru bahasa sehari-hari. "Walaupun suami saya orang Belanda, tapi saya mengajarkan bahasa Indonesia dulu, baru setelah dia siap belajar bahasa asing, saya ajarkan," ujar Maudy yang saat ini sudah setahun menyekolahkan anaknya di pre-school Planet Kids.

Nah, para orang tua, sebelum Anda menitipkan anak pada satu sekolah, tidak ada salahnya melakukan school shopping untuk melihat sejauh mana kecocokan visi misi serta kurikulum pre-school itu dengan kepribadian si anak.

"Tapi kalau sang ibu kreatif dan punya banyak waktu untuk menstimulasi pertumbuhan anak di rumah, ngapain dimasukin preschool?" ucap bunda Romi.nu/det

Kurikulum Playgroup

Sumber: ibu ibu DI

Tanya

Aku mau curhat masalah pendidikan anakku. Anakku sekarang lagi di PGS (Play Group Senior) TK Katolik di Cisalak, memang aku udah denger lama & liat langsung lulusan TK / SD disitu pasti diterima di SD / SMP Katolik Jakarta yang favorit. Tapi pertimbangan kita pertama kali masukin ke situ karena deket aja biar anakkutidak capek. Dengan berjalannya waktu dan mulai tahun ajaran 2002/2003 kemaren sistemnya balik lagi ke semester. alamak pelajaran PG udah kayak gitu, aku kasihan sama anakku. Apalagi kemaren aku dapat Buku Penghubung yang isinya Target Semester II. Aku jadi tambah bingung & sedih, anak umur segitu udah harus bisa semua.

Ini aku tulis disini juga target semester II PG di TKK Perboen...

Bahasa:
* mengenal & menulis huruf C s/d O
* mengenal & menulis huruf vokal (A, I, U, E, O)

Daya Pikir
* mengenal & menulis angka 3 s/d 10
* mengenal & menghitung jumlah benda

PR setiap Senin & Kamis

Sedangkan semester I kemaren itu udah nulis huruf sampai D, lalu angka sampai 4. PR tiap Rabu. Anakku sekolah enjoy aja, pokoknya semangat, kalau badan dia sehat pasti harus sekolah. Sekolahnya Senin - Jumat jam 8.00 - 10.30. Kemaren pertengahan Desember ambil raport semester memang tidak ditulis rangkingnya di buku raport tapi kita ortu dikasih tau, yang rangking 1 - 3 ditulis di papan. Malah ada beberapa ortu yang udah ngelesin anaknya di guru yang ex pernah ngajar di Perboen. Aku sich tidak pengaruh krn anakku masih kecil. Tapi kalau liat target semester ini & waktu kita, ortu, kadang pulang sampai rumah paling telat aku jam 19.00, itu juga tidak pernah nemenin dia bikin PR selalu eyang utinya, aku bingung moms. Tolong ya, apapun pendapat moms aku akan pertimbangkan buat bikin hati ayem. Thanks. (Im)

Jawab

Aku mau share pengalaman pribadi aja dan pengetahuanku mengenai perkembangan anak usia 0-6 th, mungkin bisa jadi bahan pertimbangan. Kalau menurut pendapat para ahli, umur 0-6th memang usia paling penting untuk meletakkan dasar² yang kuat pada seorang anak. Karena perkembangan otak mereka paling tajam pada usia segitu (50% org dewasa). Tapi jangan lupa juga bahwa dunia mereka adalah bermain. Belajarpun harus dibuat sedemikian rupa supaya menjadi suatu permainan yang menyenangkan untuk anak. Kenapa sekolah sekarang menerapkan target seperti itu, karena kalau dihitung², waktu anak di sekolah itu pendek sekali sementara kurikulum yang ditetapkan begitu padat, belum lagi jumlah anak di kelas yang begitu banyak sementara gurunya hanya satu. Bayangkan pula, berapa orang yang harus mendapat perhatian khusus. Kalau aku sendiri sekolah buat anakku yang terutama adalah di rumah. Karena menurut aku pribadi, tugas ibu yang utama adalah nomer satu anak (no excuse pekerjaan, sorry agak extrem), orangtua adalah guru yang pertama dan utama bagi mereka. Kenapa aku bilang "no excuse", karena sebenarnya "belajar" (bermain) dg anak itu tidak membutuhkan waktu berjam² seperti kita belajar, spend at least 5 minutes a day continually.

Karena kondisi otak anak yang sudah 50% orang dewasa spt aku katakan diatas, jadi mereka mampu menyerap dg cepat. Jadi tugas ortu untuk meramu target sekolah itu menjadi suatu permainan yang menyenangkan dirumah. Klo aku prinsipnya, mendingan susah sekarang karena masih kecil dan lucu daripada nanti begitu masuk SD, pelajaran sudah semakin banyak dan anak juga sudah punya mau sendiri. Sedangkan pengalamanku dg anakku, meskipun tdk ada pr dari sekolah aku biasakan dia punya tugas dari aku. Misalnya, nulis lima kata sehari, lain hari aku kasih soal matematika 5 nomer. Dan aku kasih reward yang bisa dikumpulkan dan ditukar hadiah pas week end. Sementara, aku gak terlalu sulit mengenalkan huruf krn dari pertama aku sudah pake metode Glen Doman yang mengajar bayi membaca (mungkin Ima sudah baca postinganku sebelumnya mengenai ini). Bahkan sekarang membaca kata² yang panjang pake awalan, akhiran dan sisipan juga dia sudah bisa. Sorry, ini bukan mau pamer or what. Tapi bener² memang seharusnya kita yang harus berusaha. Kalau tidak nanti masuk kelas satu belum bisa baca, bisa ketinggalan pelajaran kan. Dan menurut aku, klo kita pake metode yang tepat, tidak ada tuh sebetulnya takut anaknya bebannya terlalu berat atau apa. Karena ya itu, rasa keingintahuan mereka itu masih besar sekali. Klo menurut aku, anak yang tdk suka sekolah atau susah klo sekolah, itu krn mungkin, gurunya tdk menarik buat mereka (tdk dpt memenuhi rasa ingin tahu mereka) dan ortu tdk membiasakan bahwa belajar itu merupakan permainan yang menyenangkan, bukan karena anaknya overload. Sedikit cerita waktu ngambil raport anakku kemarin, ada ibu² yang panik dan tanya "anaknya udah bisa baca belum bu"?, ya dengan bangga aku jawab "sudah". "Aduh gimana ya anak saya belum bisa baca, dia malas, saya jadi malas ngajarinnya". Gimana anaknya mau bisa, kalau mamanya aja males. Atau ada yang lain lagi, saking paniknya anaknya di-lesin baca dan tulis. (Ir)

Soalnya aku rada cerewet untuk urusan beginian, sampai aku pernah debat sama ketua Yayasan tempat anakku sekolah, yang ngejelasin bahwa di situ anak akan bisa apa aja, tergantung pada kita maunya jadi apa. Ini target ketua yayasannya atau target muridnya. Sekolah bisa mengarahkan mau bisa bhs inggris, lancar baca tulis, sempoa, tari dll..dll.., setelah lulus TK. Ini untuk yang setelah lulus TK, bukan PG. Makanya kalau PG seperti ini aku akan bener-bener waspada, ngawasin anakku. daripada aku menyesal di kemudian hari. Kalau menurut aku
musti di urut bener-bener nih cara belajar mengajar, kesiapan mental anak, tingkat persaingan, bagaimana pengaruhnya terhadap psikologi anak, koordinasi sama semuanya yang sehari-hari ama anak (eyang, guru dll). Tapi aku takutnya karena target semester sekolah yang ketat jadi kurang perhatian terhadap pembelajaran yang lain seperti akhlak, sopan santun, pengenalan terhadap lingkungan, kemandirian, dll, yang menurut aku justru yang paling utama untuk di PG. Bukan pelajaran alam arti yang sebenernya. Disamping takut berefek jenuh bagi anak di kemudian hari. Mbak, kok sampai les segala, padahal kan masih kecil ya, lagian juga waktu sekolahnya juga udah lama ya , 5 jam 5 hari seminggu. Anakku cuma 2 jam 3x seminggu. Takutnya anak-anak itu belajar bersaing bukannya di mulai belajar sharing ya? (Al)

Dari situ aja kita udah bisa tau bahwa ini PG atau TK mesti mutunya bagus banget. Tidak hanya dari segi main-mainnya tapi juga dari segi pendidikannya. Itu pasti, kalau tidak gitu tidak mungkin bisa diterima di SD/SMP Katolik (atau swasta) favorit. Kalau menurut aku sekarang anak kan masih PG, walaupun di sekolahnya ada target yang harus dicapai untuk anak seusianya, sbg orang tua, aku akan membiarkan saja anakku belajar sesuai dengan kemampuannya. Tidak harus aku paksakan karena takutnya nanti malah anak stress. Tapi kalau si anak enjoy aja aku rasa tidak ada salahnya. Mungkin saja memang semangat belajar anak tinggi. Kalau masalah mbak tidak punya waktu buat anak untuk menemaninya belajar tentu itu adalah resiko ibu yang bekerja jadi tidak bisa dibikin apa² lagi. Tapi jangan lupa mbak masih punya waktu dihari sabtu dan minggu, bisa dimanfaatkan dengan menciptakan suasana bermain sambil belajar yang fun banget antara mbak, suami dan si kecil. Pasti akan kebayar mbak. Mbak sendirikan tidak terpengaruh dengan ortu lain yang khusus mengikut-sertakan anaknya les ini dan itu, itu udah bagus banget. Biarin segala sesuatunya mengalir seiring dg kemampuan anak bertumbuh. (Sn)

Kalau menurut aku, kurikulum sekolah tidak bisa diutak atik, yang kita bisa protes, cara guru ngajar dan menghadapi anak yang belum bisa ngikutin kurikulum itu, kalau di sekolah anakku, emang mirip gitu kurikulumnya waktu PG dulu, tapi yang penting, kalau si anak tidak mau ikut nulis, atau tidak bisa, ya tidak papa, si anaknya sendiri gimana? mau dan bisa ngikutin tidak? tapi terus terang aja, aku rencana tidak masukin anak keduaku ke sekolah anakku yg pertama karena itu, jadinya untuk PG anakku tetep di tempat english activity class nya yang sekedar bermain, biarin aja ntar belajar serius nya mulai di TK (Dn)

Kurikulum di sekolah waktu anakku PG gak begitu nyeremin. Tapi kalu aku inget² memang sejak PG anakku sudah diajar mengenal huruf besar dari kecil A-Z dan angak 0-10 juga bisa menuliskannya. Aku juga gak tahu kenapa, tapi perasaan sih caranya gak dipaksain ke anak, artinya gak pernah anakku ngeluh krn kebanyakan 'belajar' gitu, dan gak pernah ada PR. Barangkali krn anakku sekolah cukup lama, tiap hari senin-jumat 8.00 - 12.00 wkt masih PG, jadi gak perlu PR dan di sekolah waktu utk 'belajar baca tulis' nya banyak, jadi gak diburu², barangkali ya. Dan setahuku gak ada seorangpun anak di kelas anakku, bahkan sekarang (di TKA) yang udah ngeles ini itu kecuali musik, beladiri atau ngaji sih ada. Coba Mbak perhatiin gimana cara guru² tersebut mencapai target kurikulum mereka. Kalau kamu amati caranya sreg sama kamu, artinya fun dan gak menekan anak, barangkali kamu bisa lega. Tapi kalau caranya terlalu menekan anak, bikin anak unhappy, kamu perlu kasih 'solusi' sama guru²nya. (St)

Anakku sekolah di PG Katolik juga. Tapi kayaknya santai banget. Kayaknya tidak ada pelajaran menulis. Biasanya tiap minggu ada tema tersendiri, misalnya minggu ini tentang hewan. Minggu depan ttg.keluarga, minggu depan ttg. jenis² kendaraan. Jadi belajarnya ya itu doang, nama² hewan, kebiasaannya, pokoknya begitu² aja deh. Paling yang ada pelajarannya adalah agama. Itu pun sambil cerita. Di rapor tidak ada nilai apa², isinya cuma komentar guru ttg. Kemampuan anak, daya pikir, motorik, sosial, disiplin dllnya. Di bagian daya pikir, cuma diceritain kalau anak udah bisa/tidak mengingat warna, bentuk, nama hari, things like that. Di sekolah kalau tidak mewarnai, melipat, menempel, menggunting, menggambar ya begitu-begitu aja kok. Kaya' jamannya kita TK dulu, cuma sekarang 'maju' ke PG. Tetanggaku aku intip rapor anaknya yang TK-B, juga tidak ada nilai, hanya komentar², apa yang harus diperbaiki, dllnya. PR-nya juga kayaknya tidak ada, kalau ada juga tidak berat, soalnya tetanggaku tidak pernah ngeluh tuh, sejak TK-A terus ke TK-B. Tapi anak² TK-B itu udah pada bisa baca. Jadi kayaknya di sekolah anakku pengenalan huruf itu dimulai di TK-A. (Rn)

Anakku yang TKA aja baru belajar huruf, itupun belajarnya pake metode lagu. Jadi mereka belajar huruf sekaligus bunyinya melalui nyanyi, contohnya gini: Jellyfish, Jumping jeh jeh jeh jeh jeh jeh, Jeh is the sound of J. atau Orange, Octopus oh oh oh oh oh oh , Oh is the sound of O segitu aja yang aku ingat, tapi kalau anakku ingat dari A to Z. Lama-lama dia bisa juga tidak pake PR dan les-les an. Makanya aku bener-bener milih kalau urusan sekolah, aku tidak mau anakku dijejali sesuatu sebelum waktunya dan hal-hal yang tidak perlu.Seperti anakku, yang dipelajari di SD kelas satu ya, Bahasa (latihan menulis huruf cetak, huruf kecil, huruf sambung), Matematika sederhana, Art (menggambar, etc), Music Clasic (cuma nyanyi dan denger music clasic), Olahraga, Agama. Pokoknya tidak aneh-anehlah. (Dm)

Aku ngeri baca target semesterannya anak, ngebayangin aja, pastinya anak² yang seperti sulungku tidak akan mungkin diterima di situ, aku setuju sama Mbak Di menurutku, kalau memang anak menikmati sekolah regardless dia bisa menuhin target kurikulum atau tidak dan guru²nya juga tidak melupakan kebutuhan mendasar anak muridnya, yaitu sesuai nama tingkatan sekolahnya: main..main..main... kayanya tidak papa deh terus di sana... malah bagus kalau mbak bisa nularin pemikiran ke sesama orangtua untuk tidak pasang target, apalagi mengejar ranking. yang paling penting lagi menurutku mbak sendiri ngerasa ayem, tentrem & nyaman anak sekolah di sana karena biasanya orangtua kan punya 'feeling', dan jangan lupa disampaikan ke guru²nya, karena siapa tau mereka jadi lebih rileks, tidak ngoyo ngejar target kurikulum kalau tau dan yakin bahwa mereka didukung oleh orgtua muridnya. (Hn)

PG anakku juga mirip seperti sekolahnya anaknya mbak Ri juga pakai tema, tapi bulanan, misalnya bulan ini temanya pergi ke desa, dari mulai ngeliatin telur ayam diperemi induknya sampai netas, nanem sayur²an di kebun (dan dipanen lho.. utk dibawa pulang tiap murid, mandi di kali (sebenernya sih berenang, tapi dekorasi di kolam renangnya dibikin seperti di desa, masak tiwul lalu dimakan bareng², sampai naik delman keliling sekolahnya, aku bilang tidak terlalu santai kok mbak. tapi memang ternyata mereka belajar banyak, walau keliatannya tidak ada 'pelajaran'nya, sambil nyanyi, sambil rebutan sekop, antri cuci tangan, sambil ngeloyor ke sana sini memang tidak pernah diajari baca-tulis, perasaan nyanyi dan joget melulu kerjanya. Tapi ternyata jogetnya itu penuh makna, aspek verbal, musik, kelenturan tubuh, visual, interpersonal, motorik halus dll diusahakan seimbang tapi tentunya tiap anak penekanannya beda² untuk anak yang motorik halusnya udah lumayan kuat diasah aspek² lainnya, diajarin manjat, loncat. Jadi kalau penilaianku walaupun sistem pengajarannya klasikal, perhatian individualnya cukup intensif laporan perkembangan (raport), untuk tiap aspek itu dijabarin rinci dan dikasih liat "kemajuan" si anak. Jadi malu aku kalau inget waktu itu mengeluh ke gurunya karena anakku kalau yang lain lagi tekun denger cerita sibuk cerita sendiri (ngedalang) dalam bahasa planetnya, trus gurunya bilang gini "Ibu.. walaupun ini sesuatu yang sangat wajar dan manusiawi ayo kita liat si anak dari sudut pandang kemajuan dia sendiri dari belum bisa menjadi bisa, jangan pake anak lain jadi target, karena tiap anak beda bu, tiap anak istimewa!" malah gurunya yang bilang ke aku tidak papa kalau memang anakku belum siap masuk TK jangan dipaksain masuk cuma karena dari segi umur udah layak di TK (Hn)

Kalau anak-anak seperti anak kita tidak bisa diterima disitu, bukan karena mereka tidak bisa ngikutin pelajaran, tapi karena gurunya aja yang tidak sabar ngajarin anak-anak seperti anak-anak kita. Sekolah yang katanya favorit belum tentu cocok dengan anak kita. Pokoknya semua kembali ke kita, karena kita yang tau betul mana yang paling cocok dengan anak kita itu. Aku nyari sekolah anakku sampe kesana kemari, tes kesana kemari. Mulai dari sekolah yang bagus, sekolah khusus anak bermasalah, sampe sekolah yang mahal banget dan mau nerima anak-anak special ini, tapi begitu aku pelajari lagi rasanya tidak cocok buat anakku. Akhirnya aku ketemu satu sekolah yang baru buka, yang begitu ketemu sama gurunya langsung ada perasaan tenang. Terus lihat kurikulumnya juga OK, dan ternyata teman-temannya juga luar biasa, jadi kalaupun di kelas dia tidak bisa duduk diam tapi teman-teman dan gurunya tidak marah. Mudah-mudahan anakmu bisa ketemu sekolah yang cocok nantinya ya,kapan-kapan boleh ketemu sama anakku. (Dm)

Kalau boleh tahu dimana sekolahnya mbak Hn, Ri ? Yang kayak gini yang aku mau, tapi disekitar tempat tinggal ku kayaknya belum ada. Anakku di PG/TK deket kompleks Galaxy, Kalimalang. Biar kata sekolah Katolik, tidak se'serem' yang kukira. Ya itu lah, kerjaannya cuma begitu² aja. Pernah juga ada anak PG yang hiperaktif di tahun ajaran yang lalu. Sampai naik kelas ke TK-A masih suka kangen PG, dan 'kabur' dari kelas TK-nya, nyari guru PG-nya dulu. Tapi aku lihat sendiri, mereka tidak langsung 'hayo balik lagi sana ke kelasmu'... tapi dibiarin dulu kangen²an sebentar, terus dianterin lagi. Memang buat guru anak kecil aku pikir memang kita harus lihat betul² ya, apa mereka sabar atau tidak. Makanya aku tidak sekalian bayar sampai TK uang masuknya, meski lebih murah kalau paket begitu, tapi aku bayar UM playgroup aja. Mungkin, karena guru²nya juga udah 'mateng', sebab aku lihat mereka udah pada punya anak yang usianya kira² TK juga. Bukan bilang kalau guru yang. belum punya anak, atau masih muda tidak bagus. Tapi mungkin yang udah punya anak seumur begitu (atau lebih gede lagi) udah tau sendiri based on experiece sepanjang hari di rumahnya, emang anak umur segitu menanganinya perlu kesabaran ekstra. Waktu permulaan masuk sekolah, anakku yang sekelas berdelapan ditangani oleh 3 guru (yang. satunya kepsek) dan 1 suster. Biar kata kepseknya udah setengah baya, tetap aja ikut ngegendong anak² yang berontak 'takut sekolah'. Aku senengnya di situ, selain untuk sekolah, tidak ada kutipan macem², kecuali satu kali dalam satu semester bergantian ibu murid masak makanan untuk murid sekelas, itu juga sebenernya ada uang sih, dari sekolah ke kita, tapi karena pasti ala kadarnya, kita pasti nombok. Terus waktu Aksi Natal, ada pengumpulan sumbangan sukarela untuk Panti asuhan. Itu mah terserah mau sekilo gula putih juga boleh, mau sekarung beras juga silahkan. Bahkan perayan Natal sekolah juga ortu tidak dikutip apa² tuh. (Rn)

Si Kecil Enjoy Belajar di TK

Supaya bisa menikmati dunia barunya di Taman Kanak-kanak, anak butuh kematangan tertentu. Anda dapat membantu kesiapannya.

“Bagaimana sekolahnya? Senang?”

“Iya, Bunda. Tapi tadi di sekolah ada dua teman yang nangis. Ngapain nangis ya Bunda? Sekolah saja kok menangis…,” jawab Prita.

Hari itu hari pertama Prita masuk Taman Kanak-kanak (TK). Sang Bunda sabar menanti di rumah, karena Prita bersikeras ikut mobil antar jemput seperti kakak-kakak di sekitar rumahnya. Prita tidak ingin diantar Bunda atau pengasuhnya ke sekolah. Bagi Bundanya, hal itu sangat menguntungkan. Artinya, ia tak perlu mengambil cuti terlalu lama untuk menunggui Prita di sekolah.

Sebagian besar orang tua ingin mengalami “kemulusan” seperti yang dialami Bunda Prita. Anak melewati hari-hari pertama masuk TK dengan sukses: tanpa rengekan dan air mata minta ditunggui. Tapi, memang tak semua anak siap seperti Prita. Ada anak yang butuh waktu cukup lama untuk menyesuaikan diri dengan dunia barunya ini. Persiapan masuk TK memang dapat dan harus dilakukan. Peran orang tua sangatlah penting dalam hal ini.

Bangunan fisik, perlu dipertimbangkan

Ketika anak masuk TK, artinya ia keluar dari rumah dan masuk ke dunia baru. Agar si kecil bisa memasuki dunia barunya dengan enjoy , ia butuh persiapan psikologis. Bukan malah ia mengalami tekanan psikologis.

Gerda K. Wanei, M.Psi , paedagog dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, mengatakan bahwa bangunan fisik sekolah merupakan salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan. “Gedung sekolah yang tampak kuno dengan pagar tinggi, satpam bertubuh berwajah galak dengan kumis melintang, tidak membuat anak senang. Anak lebih senang dengan TK yang ada tamannya, gurunya muda-muda dan ceria, peralatannya bagus. Buat anak, dunia baru haruslah dapat mengikatnya,” ujar Gerda, yang juga Ketua Jurusan Program Bimbingan Konseling di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Atma Jaya.

Alzena Masykouri , M.Si dari Jurusan Psikologi Perkembangan, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, sependapat dengan Gerda. Menurut Alzena, “Sama seperti orang dewasa yang baru pertama masuk kerja, anak prasekolah pun mengalami berbagai perasaan. Misalnya, senang tapi juga cemas danmerasa tak nyaman.”

Sukes bergaul, sukses belajar?

Tidak sedikit orang tua beranggapan bahwa kemampuan anak beradaptasi di TK merupakan penanda sukses tidaknya si kecil menjalani hari-hari belajarnya di TK. Padahal, reaksi awal si kecil saat masuk TK bukanlah ramalan keberhasilannya dalam belajar.

“Kalau anak masih menangis sampai beberapa hari, itu hal biasa. Itu hanya masalah kemampuan menyesuaikan diri, bukan soal tidak matang,” tegas Alzena. Gerda pun mengatakan bahwa anak yang masih menjaga jarak ketika berada di lingkungan baru, bukan pertanda ia belum matang untuk masuk TK. “Setiap anak punya karakter masing-masing,” ujar Gerda.

Ketidakmampuan anak langsung berbaur bersama teman, dialami Reti Riseti Sudrajat (38 tahun) . Yuqzan (kini 6 tahun) anak kelima Reti. Ketika masuk TK-A di usia empat tahun Yuqzan menangis terus selama beberapa hari. “Sampai akhirnya saya menunda memasukkannya ke TK-A. Saya tunggu sampai Yuqzan berusia lima tahun. Saat itulah ia saya nilai betul-betul siap dan bisa langsung membaur dengan kegiatan di TK,” kenang Reti, yang juga seorang guru dan konselor keluarga.

Sejauh mana ketidakmampuan anak bergaul mengganggu proses belajar selanjutnya? Menurut Alzena, ketidakmampuan si kecil bergaul tidak akan mengganggu proses kegiatan selanjutnya. “Kecuali bila anak menolak semua kegiatan yang harus dilakukan dan merasa tidak enjoy dalam lingkungan itu,” ujar Alzena.

Kapan anak dianggap tidak siap?

Marcello (4 tahun), putra dari Diah Permatasari , artis berusia 33 tahun, sudah masuk kelompok bermain. Tapi ketika pertama kali masuk TK, ternyata dia sedikit rewel. “Dua hari pertama Marcello menangis. Tapi setelah itu biasa-biasa saja. Malah dalam waktu satu minggu ia sudah bisa bercerita tentang teman-temannya,” cerita Diah, yang memilih TK berbahasa Inggris untuk Marcello. Dengan demikian, apakah dapat dianggap Marcello belum matang untuk masuk TK?

“Umumnya anak butuh waktu satu minggu untuk menyesuaikan diri. Setelah itu mereka, biasanya, dapat menjalani sekolah dengan tenang, bermain dan bekerja sama dengan teman-temannya,” ujar Alzena, yang juga ibu seorang anak balita.

Anak yang masih belum mampu membaur dan hanya menjadi penonton teman-temannya, tidak bisa bekerja sama setelah lebih dari dua minggu, menjadi pertanda ia belum matang secara sosial-emosional. “Meski begitu, masih harus dilihat lagi kondisi anak, apakah ia anak tunggal, anak bungsu atau anak dari orang tua yang overprotective ,” papar Gerda. Menurut Gerda, bila ada kasus semacam ini, biasanya orang tuanya dipanggil ke sekolah. Melalui orang tualah, penyebab semua itu dapat diketahui.

Persiapan kematangan

Ketika memasuki TK, si kecil memasuki dunia baru yang di dalamnya terdapat berbagai hal: teman baru, orang dewasa lain selain orang tua dan pengasuh anak, yaitu guru, serta sejumlah kegiatan yang mungkin belum pernah dilakukan anak. Untuk menghadapi ini semua, anak butuh kesiapan fisik, kognitif dan sosial-emosional. “Jadi, meski kebanyakan TK tidak mensyaratkan kemampuan kognisi tertentu, tetapi tetap ada standar yang ditentukan. Misalnya, anak dapat membilang dari satu sampai sepuluh secara berurutan. dan ini berkembang sesuai usia,” ujar Alzena.

Alzena berperdapat, anak juga perlu matang secara sosial-emosional, mengingat di dunia barunya ini anak dituntut memiliki berbagai kemampuan sosial. Misalnya, kemampuan untuk berinteraksi dengan teman sebaya, memperhatikan guru, mendengarkan orang lain bicara, tidak memotong pembicaraan orang lain, mengekspresikan kemauannya dan bekerja sama.

Di samping itu, menurut Gerda, ada dua hal penting yang perlu dimiliki anak saat hendak masuk TK. Pertama, kemampuan self help yaitu kematangan anak untuk dapat mengkomunikasikan kebutuhannya. Misalnya, anak dapat mengatakan, ‘Bu Guru, saya mau pipis’. Jangan sampai anak terus-terusan ngompol karena tidak berani mengatakan kebutuhannya. Kedua, social help yaitu kematangan anak untuk mengerti kebutuhan orang lain. “Biasanya anak usia prasekolah masih egosentris, yang dipikirkan diri sendiri terus. Kalau barangnya diambil teman dia teriak-teriak, tantrum dan sebagainya. Kalau dia sudah mengerti kebutuhan orang lain, dia tak akan bersikap seperti ini,” jelas Gerda.

Orang tua perlu paham

Namun tak semua orang tua paham soal kematangan yang dibutuhkan oleh anak untuk masuk TK. Ada orang tua yang yakin betul bahwa kematangan kognisi merupakan satu-satunya bekal untuk memasuki prasekolah. Inilah keyakinan Reti ketika memasukkan anak sulungnya, Hani , ke sekolah. Waktu itu Reti menilai Hani cukup cerdas di usia 5 tahun. Ia pun langsung memasukkan Hani ke SD, tanpa lewat TK. “Karena emosinya belum matang, Hani jadi mudah “meledak”,” begitu cerita Reti.

Berdasarkan pengalaman itu, Reti menilai pentingnya kematangan sosial-emosional sebagai bekal si kecil masuk sekolah. “Ternyata untuk masuk TK, anak juga perlu siap secara sosial-emosional. Itu pun bisa berbeda pada setiap anak. Ada anak saya yang siap masuk TK di usia 3 tahun, ada yang sudah siap di usia 4 tahun, ada pula yang baru benar-benar siap di usia 5 tahun,” tutur ibu yang sedang menyiapkan Yusak (4 tahun), anak keenamnya, untuk masuk TK.
Persiapkan dari rumah

Melatih anak terampil berteman, melatih anak terampil menolong diri sendiri dan melatih anak mampu mengucapkan secara verbal kebutuhannya, berlangsung lama. Oleh karenanya, hal itu perlu dilatih sejak dini, agar saat si kecil memasuki TK, ia siap.

Menurut Gerda, mematangkan aspek sosial-emosional tidak sama dengan melakukan induksi atau percepatan pematangan. “Melatih anak usia tiga tahun untuk melipat pakaiannya sendiri atau mencuci piring, berarti memberikan percepatan kematangan,” ujar Gerda mencontohkan. Menurut Gerda, hal itu justru akan membuat anak lelah dan takut. Sayangnya, tanpa disadari, orang tua kerap melakukan hal ini.

Alzena menyarankan, orang tua sebaiknya membantu anak mematangkan aspek yang dibutuhkannya untuk masuk TK melalui kegiatan sederhana. Misalnya, memberi kesempatan si kecil bermain bersama teman-teman sebaya, bertanggung jawab atas barang-barang milik sendiri, belajar mendengarkan orang lain berbicara, memberi salam, atau memahami instruksi.

Sekarang ini kebanyakan orang tua menggunakan jasa kelompok bermain untuk membantu mematangkan aspek-aspek yang akan diperlukan anak untuk masuk TK, seperti halnya Diah. Marcello yang ikut kelompok bermain di usia dua tahun, mendapat banyak latihan di kelompok bermainnya. Misalnya, buang air kecil tanpa dibantu, dan bekerja sama dengan teman-teman. Diah pun merasa terbantu, karena di rumah, Marcello mampu untuk mandiri.

Namun, sebaiknya, anak dapat dipersiapkan di rumah, bersama orang tuanya. Dari pengalaman, Reti belajar bahwa anak dapat belajar dari anak lain. Anak yang kecil tertarik meniru perilaku anak yang lebih besar. “Saya merasa beruntung anak saya banyak. Jadi, anak-anak yang kecil belajar dari kakaknya bagaimana bersikap mandiri dan bagaimana saling berbagi. Apa itu arti belajar, sudah saya sosialisasikan pada anak-anak. Kemudian, bagaimana berangkat ke sekolah, setiap anak belajar dari kakaknya,” papar Reti, yang menyebut mempersiapkan anaknya masuk TK sebagai persiapan yang alami dan mengandalkan lingkungannya.

Memberi fasilitas untuk mematangkan aspek lain, juga dilakukan oleh Reti. Misalnya, membiarkan anak memanjat dan naik-turun tangga. Ruang gerak pun diciptakan sedemikian rupa agar anak-anak leluasa melakukan aktivitas fisik. Persiapan yang matang, memang, akan lebih memudahkan si kecil Anda mengawali hari-hari pertamanya di TK.

Immanuella F. Rachmani(ayahbunda)

SI KECIL TAK KUNJUNG SIAP "BERSEKOLAH"

Di taman kanak-kanak, anak akan menemukan suasana baru dan teman baru. Bagaimana kalau setelah beberapa bulan bersekolah di TK anak belum merasa betah juga?

Saat tahun ajaran baru tiba sebulan yang lalu, banyak orang tua sengaja mengambil cuti sehari-dua hari. Tujuannya menemani si kecil memasuki hari pertama "bersekolah". Hal ini wajar saja karena orang tua ingin tahu bagaimana reaksi anaknya saat melihat gedung sekolahnya, guru-guru, dan teman-teman barunya. Syukur-syukur, kalau ia dapat beradaptasi dengan cepat, tapi bagaimana kalau malah dari hari ke hari nyalinya makin menciut, dan ia memilih ngumpet di balik kaki ayah/ibunya, atau bahkan menangis meraung-raung? Nah itu yang repot.

Yang perlu diketahui, menurut Linawaty Mustopoh, Psi., pada umumnya anak usia 4-5 tahun sudah siap masuk TK. Namun, jangan lupakan juga kalau perkembangan setiap anak berbeda-beda, ada yang cepat dan ada yang lambat. Untuk itulah, psikolog yang akrab disapa Lina menegaskan, bagaimanapun tipe si kecil, sudah menjadi tugas orang tua untuk mempersiapkan mentalnya sebelum masuk "sekolah".

GAMPANG-GAMPANG SUSAH

Masalahnya mempersiapkan mental anak bukan hal yang mudah. Lina yang bergabung dengan biro konsultan Sentra ini pun menjabarkan beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua sebelum mendaftarkan si kecil ke suatu TK. Dengan begitu setidaknya diharapkan mental si kecil bisa lebih tangguh menghadapi apa yang akan terjadi di sekolah.

1. Usia sudah mencukupi

Walaupun lebih muda atau tua beberapa bulan saja, tahap perkembangan seorang anak tampak berbeda dari anak-anak lainnya. Terlebih lagi yang beda usianya mencapai satu tahun atau lebih. Dikhawatirkan si kecil yang lebih muda ini tak bisa mengikuti kegiatan di TK yang memang diformat sesuai bagi perkembangan anak usia 4-5 tahun.
Kalaupun si muda usia ini yang bersikukuh ingin sekolah, itu mungkin karena ia melihat kakaknya. Tak ada salahnya keinginan itu diakomodasi. Lihat perkembangannya apakah bisa mengikuti aktivitas di TK atau tidak. Kalau ia tidak menikmati, hentikan untuk sementara. Salah satu jalan keluarnya, si kecil bisa dimasukkan ke playgroup yang sesuai dengan usianya. "Yang penting anak masuk TK bukan karena paksaan orang tua karena terkadang orang tua ingin melewati fast track dengan memasukkan anaknya ke TK padahal usianya belum mencukupi."

2. Membiasakan berpisah sementara dengan orang tua
Berpisah beberapa jam dengan orang tua juga merupakan salah satu persiapan mental bagi si kecil. Bukan apa-apa, saat di sekolah tidak mungkin ia ditemani ayah atau ibunya setiap waktu. Sebagai langkah awal, biarkan si kecil di rumah dengan hanya ditemani pengasuh/nenek/tante, atau anggota keluarga lain. Pokoknya bukan ayah atau ibu. Pembiasaan seperti ini membuatnya belajar beraktivitas tanpa harus "dipantau" terus oleh orang tua.

Memang, di hari pertama biasanya pihak TK membolehkan para orang tua menunggui putra-putrinya di sekolah. Namun tidak demikian di hari-hari berikutnya, karena keterlibatan orang tua di kelas malah bisa mengganggu konsentrasi baik guru maupun anak-anak. Oleh karena itu, yakinkan si kecil bahwa tanpa ayah dan ibu ia tetap dapat nyaman di sekolah. Katakan, "Nanti Mama enggak menemani kamu lagi, ya. Tapi kamu pasti akan tetap senang bersama ibu guru dan teman-teman," misalnya.

3. Mengenalkan lingkungan sekolah

Untuk menghapus kekhawatiran si kecil tentang wujud bagaimana TK itu, orang tua perlu mengajaknya mengunjungi TK-TK yang kira-kira diminati sebelum masa "bersekolah" tiba. Akan lebih baik lagi, lanjut Lina, jika setelah itu anak diberi kesempatan memilih sekolah yang kira-kira berkenan dan membuatnya nyaman. Idealnya, keputusan ada di tangan anak bukan orang tua.

4. Membiasakan bangun pagi

Sebelum memasuki masa rutin "bersekolah", biasakan anak untuk selalu bangun pagi. Umumnya, kalau di hari pertama ia telat datang, anak akan malu dan akhirnya panik.

TAK KUNJUNG SIAP MENTAL

Nah, bila mental si kecil tidak disiapkan jauh hari sebelumnya, ada kemungkinan kondisinya akan seperti ini:

1. Selalu ingin ditemani ayah/ibu

Si prasekolah tak mau ditinggal atau berpisah dengan orang tuanya. Kalau ini dibiarkan terus kemandiriannya takkan terasah.

Cara mengatasi:

* Katakan bahwa ayah dan ibu harus bekerja atau mengurus keperluan lainnya di rumah sehingga tak bisa menunggu sampai sekolahnya selesai. Jelaskan juga bermain dengan teman-teman baru sungguh mengasyikkan. Dorong anak dan teman-temannya untuk menikmati fasilitas bermain yang disediakan sehingga tak merasa sendirian lagi dan bisa melupakan ayah/ibunya.
* Jika anak tetap tak mau pisah dari orang tua, konsultasikan hal ini pada gurunya. Tujuannya supaya guru lebih memperhatikan dan membantu mengatasi kesulitan anak pisah dari orang tuanya. "Pasti guru terbiasa menangani anak-anak seperti ini," kata Lina.

2. Sulit bergaul

Anak yang tak memiliki kesiapan mental biasanya menghadapi kendala ketika harus berbaur dengan suasana atau lingkungan baru. Apalagi bila si anak memang berkarakter pendiam dan pemalu. Ia akan kesulitan berkenalan dengan teman-temannya sehingga memilih menyendiri. Anak pun ragu-ragu untuk bermain. Jika tak segera diatasi, dikhawatirkan dia akan tumbuh menjadi sosok yang menutup diri, tak mau bergaul, dan tidak mandiri.

Cara mengatasi:

* Di hari-hari pertama tak ada salahnya bila orang tua terlibat dalam proses pembiasaan anak dengan lingkungan sekolahnya. Jika memang anak enggan berkenalan, orang tua mesti menjadi fasilitator yang memperkenalkan sang anak dengan teman-teman barunya.

* Dilihat dari karakternya, rata-rata anak perempuan lebih mudah bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungan baru ketimbang anak laki-laki. Jadi wajar saja jika anak laki-laki membutuhkan waktu lebih lama untuk akrab dengan teman lainnya. Orang tua sebaiknya bersabar mengikuti proses adaptasi dan sosialisasi yang dijalani anak.

3. Stres

Jika tak ada persiapan masuk TK, anak bisa saja mengalami kecemasan, menangis tiada henti bahkan sampai stres. Penyebabnya, anak tidak merasa cocok dengan lingkungan sekolah tersebut.

Puncak dari stres ini mungkin akan ditunjukkan dengan aksi mogok sekolah. Kalaupun si kecil mau berangkat ke sekolah, di kelas ia akan merengek ingin pulang. Beragam alasan akan dilontarkannya, entah sakit perut, pusing, haus, selalu ingin pipis agar bisa keluar kelas, dan sebagainya (baca rubrik Jendela, "Anakku Mengalami Stres 'Sekolah'").

Cara mengatasi:

* Cari penyebab kenapa anak menjadi stres atau mogok sekolah. Apakah karena faktor dalam diri anak, teman-temannya, atau karena faktor guru dan sekolah. Anak bisa stres karena belum siap secara mental atau sekolahnya dirasa tak bisa membuatnya aman, nyaman dan menyenangkan.

* Mintalah saran kepada pihak ketiga yang berkompeten untuk menangani stres pada anak. Barangkali pindah sekolah merupakan jalan keluar yang paling tepat untuk kemudian memasukkannya ke TK dengan metode yang lebih menyenangkan dan guru yang dapat memberikan porsi perhatian lebih besar. Yang jelas, bila anak mengalami stres, orang tua jangan ikut-ikutan stres atau merasa khawatir yang berlebihan.

BISA ALAMI REGRESI

Beradaptasi dengan lingkungan baru bukanlah sesuatu yang mudah bagi si prasekolah. Akibat timbulnya kecemasan dalam proses adaptasi ini, adakalanya anak-anak mengalami kemunduran atau regresi. Jika sebelumnya ia sudah bisa buang air kecil/besar di kamar mandi, umpamanya, jangan kaget kalau tiba-tiba ia mengompol lagi atau buang air besar di celana. Semua itu akibat ketidaknyamanan di tengah suasana baru.
Untuk mengantisipasi hal ini, saran Lina, anak-anak perlu tahu letak kamar kecil di hari pertama masuk sekolahnya. Katakan kalau toilet itulah yang akan dipakai bila ia ingin BAK atau BAB. Bila ternyata kamar mandi terkesan kotor, beri tahu pihak TK untuk segera membenahinya. Bawakan juga celana dan baju ekstra kalau-kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan begitu, setidaknya anak tetap bisa beraktivitas sekaligus tidak merasa malu karena celananya basah.

MANFAAT BELAJAR DI TK

Menurut Lina, banyak faedah yang bisa didapat dengan memasukkan anak ke TK. Terutama untuk mengembangkan, melatih, dan memperkaya pengalaman si prasekolah dalam segi sosial, emosional, fisik, intelektualitas, kreativitas, kemandirian, rasa percaya diri, dan harga diri.
Di TK, si prasekolah bisa melakukan aktivitas baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya, yaitu belajar bekerja sama dan berkelompok dengan teman lain, belajar menunggu giliran bermain, serta saling memberi dan menerima dengan teman sebayanya. Tentunya semua itu dilakukan dengan cara belajar sambil bermain. Dengan kata lain, belajar di TK dapat menjadi ajang persiapan si kecil memasuki sekolah dasar.
(tabloid-nakita)

TANDA-TANDA SIAP MASUK TK

Modalnya bukan cuma mandiri dan siap ditinggal di kelas. Kenali kesiapannya dengan melihat berbagai aspek perkembangan di bawah ini.

Masuk TK berarti anak masuk ke lingkungan baru. Ia harus bisa berinteraksi dengan orang lain yang belum dikenalnya, menyesuaikan diri dengan suasana serta ruangan dan alam yang sangat berbeda dari apa yang ia ketahui sebelumnya. Tentunya si kecil tak bisa dilepas begitu saja memasuki dunia barunya tersebut, ia harus disiapkan lebih dulu. Kita sendiri yang sudah dewasa, pun, bila masuk lingkungan baru tanpa persiapan tentu akan canggung, kan?

Nah, berikut ini 4 faktor yang harus diperhatikan orang tua seperti dipaparkan Drs. Bambang Sujiono, M.Pd, kandidat Doktor Pendidikan Usia Dini (PUD) di Universitas Negeri Jakarta.

1. KESIAPAN FISIK

Aspek fisik meliputi motorik kasar dan halus. Pada motorik kasar, misal, anak sudah mampu menggerakkan seluruh anggota tubuhnya untuk melakukan gerakan-gerakan seperti berlari, memanjat, naik-turun tangga, melempar bola, bahkan melakukan dua gerakan sekaligus semisal melompat sambil melempar bola.

Aktivitas belajar di TK memang banyak mengandalkan motorik kasar. Karenanya, bila anak aktif bergerak, justru itu yang diharapkan. Nanti di TK dikembangkan aspek fisik yang lain seperti keseimbangan, kelenturan, daya tahan dan lainnya. Jadi jangan sampai anak itu, misal, kekuatan kakinya bagus tetapi keseimbangannya kurang sehingga gampang jatuh. Atau, baru main sebentar langsung capek. Semua aspek fisik yang menjadi bagian motorik anak, selanjutnya harus dikembangkan di TK.

Sedangkan motorik halus akan sejalan dengan pembelajaran yang diberikan di TK. Anak akan belajar menggunting, melipat, memasukkan bola-bola, memilih biji-bijian. Nah, itu semua pasti akan jalan bila ditunjang oleh fisik yang bagus.

2. KESIAPAN EMOSIONAL

Kesiapan emosional yang paling penting menyangkut kemandirian. Paling tidak, ketika si anak berada di kelas, dia sudah duduk sendiri, tidak tergantung pada siapa-siapa, dan mau mengikuti perintah.

Kesiapan emosional lainnya ditunjukkan dengan kesiapan anak menerima situasi yang baru. Tentu wajar saja bila pada hari-hari pertama, anak menangis menghadapi situasi yang berbeda dari rumah. Akan tetapi, anak yang lebih siap, beberapa hari kemudian sudah mampu berbaur dengan teman-temannya dan siap menerima bimbingan serta pembelajaran. Dia sudah tidak lari-lari lagi di kelas ketika diminta duduk oleh gurunya.

hanya mempersiapkan anak pada kesiapan sosialisasi saja. Artinya, kalau si anak sudah tak takut bertemu orang, menunjukkan minat untuk berkawan, berarti dia sudah siap. Ini memang harus disiapkan. Tetapi sebenarnya tak cuma ini. Anak bukan hanya tidak takut berhadapan dengan orang lain, tapi juga mau mendengarkan orang lain. Kemampuan ini penting dalam bersosialisasi dan kalau guru bicara tetapi si anak lari ke sana-ke mari, maka rangsangan emosional yang diterimanya kurang lengkap. Jadi, anak juga harus diajarkan, bagaimana menjadi pendengar sebelum masuk TK.

3. KESIAPAN KOGNITIF

Salah satunya adalah kemampuan bahasa karena di TK anak diharapkan mampu memahami intruksi yang diberikan oleh guru. Ia pun diharapkan mampu menyampaikan pendapat, perasaan, dan isi pikirannya meski belum runtut. Dengan demikian, anak juga harus memunyai perbendaharaan kosakata yang cukup untuk seusianya.

Bagaimana dengan baca-tulis? Kemampuan ini bukan menjadi syarat masuk TK. Namun, bila anak sudah mampu melakukannya, disarankan agar orang tua mencarikan sekolah yang cocok untuknya. Bila anak sudah punya kemampuan menghitung, misal, dan dia dimasukkan ke TK dimana anak-anaknya bahkan belum bisa menghitung 1 sampai 10, maka bisa-bisa potensinya malah hilang.

Untuk anak-anak seperti ini tentunya perlu penanganan khusus. Maksudnya, kita tak boleh menyamaratakan dengan teman-temannya yang lain karena potensinya berbeda. Jadi, kita harus betul-betul melihat keunikan masing-masing anak dan itu harus dijalankan secara individual.

Orang tua juga jangan berharap bahwa di TK itu anaknya nanti diajarkan baca -tulis dan matematika seperti di SD. Yang dilakukan di TK adalah mengajari anak mengenal dasar-dasarnya dan itu pun dilakukan lewat bermain. Contoh, mengenali bentuk huruf, warna dan bentuk angka.

4. KESIAPAN SOSIAL

Di TK, anak berkumpul bersama teman-teman yang baru saja dikenalnya. Dia akan berusaha menyesuaikan diri dalam lingkungan sekolah yang baru. Ia pun akan mengenal aturan-aturan baru hidup bersama dan menyimak "pelajaran" dari guru-guru sambil belajar bersama teman-temannya.

Nah, kesiapan sosial dilihat dari kemampuan anak untuk tidak takut menghadapi orang asing, berani memasuki lingkungan baru dan tak ragu diajak berkomunikasi. Contoh, ada anak yang sudah berminggu-minggu sekolah masih menangis jika ditinggal oleh ibunya. Ini berarti si anak masih takut berada di lingkungan baru. Beda dengan yang siap, biasanya mereka malah enjoy bila bertemu teman-teman baru.
AGAR ANAK LEBIH SIAP MASUK SEKOLAH

* Berikan informasi menyenangkan tentang TK sebagai pembentukan persepsi awal tentang sekolah. Misal, ia akan bertemu dengan teman-teman baru dan mainan baru. Ada juga guru-guru baru yang ramah dan baik. Di sana banyak mainan sehingga bisa bermain bersama teman-teman. Gambar-gambar di dinding kelasnya juga lucu-lucu.

* Di sisi lain, orang tua juga mesti menjelaskan konsekuensinya. Contoh, karena bermain bersama teman-teman, maka ia harus mau bergantian, juga patuh pada guru, dan tertib.

* Jelaskan pula kenapa ia "harus" masuk TK, apa tujuannya, dan apa saja yang akan didapat di TK. "Dengan sekolah di TK, Kakak akan banyak teman dan belajar banyak. Kan, Kakak katanya mau jadi anak pintar," misal.

* Agar anak bisa memahami secara konkret bagaimana nantinya kala ia duduk di TK, lakukan dengan cara bermain peran. Misal, ibu jadi guru dan anak jadi murid atau sebaliknya. Malah kalau bisa, dalam bermain peran itu, tempat dan suasana ditata sedemikian rupa seperti di TK sungguhan. Ibu memberikan permainan-permainan yang sering diajarkan di TK. Dengan cara demikian, kita telah menyiapkan mental anak untuk siap masuk TK.

Sebaiknya orang tua sudah mulai memberikan gambaran ini jauh-jauh hari sebelum sekolah sesunggguhnya dimulai. Paling tidak tiga bulan sebelum anak masuk TK sehingga mental anak untuk sekolah pun telah kuat dan siap. Bila perlu, lewatlah di depan sekolahnya atau masuk ke dalam kelasnya untuk beberapa hari sebelum sekolah dimulai. Hingga ketika tiba gilirannya masuk sekolah, tak ada kesulitan lagi. Malah anak akan senang dan bahkan bisa jadi saat masuk di hari pertama, dia sudah percaya diri dan tak perlu ditemani masuk kelas oleh orang tua atau pengasuhnya.
ANAK SAYA, KOK, ENGGAK SIAP JUGA?

Bagaimana kalau si kecil ternyata belum siap masuk TK? Misal, sudah umur 5 tahun tapi masih enggan bersosialisasi alias masih takut ketemu orang. Dalam hal kemandirian, menurut Bambang, orang tua hendaknya jangan buru-buru memvonis anak belum siap mental untuk sekolah hanya karena ia selalu menangis setiap kali masuk kelas. "Kecemasan-kecemasan seperti itu lumrah terjadi pada anak, meski banyak juga anak yang percaya dirinya tinggi."

Untuk itu, lanjutnya, orang tua harus bisa membujuk anak. Contoh, "Katanya Kakak mau jadi anak pintar, kok, enggak mau sekolah. Ada apa?" Bila ia menjawab takut, orang tua bisa melakukan bargaining dengan anak, semisal, berjanji menemaninya, "Oke, deh, sekarang Bunda ikut temani kamu di kelas." Selama beberapa hari, orang tua boleh menemani anak di kelas. Setelah itu perlahan-lahan waktu bersama anak dikurangi sampai akhirnya orang tua hanya mengantar dan menjemput.

Bambang mengingatkan, dunia anak adalah dunia bermain. Karenanya, begitu anak bertemu dengan teman sebaya yang asyik bermain, apalagi ditambah permainan yang banyak di kelas, anak-anak yang tadinya pemalu pun akan lumer dan membaur bermain. "Prinsipnya, jangan karena enggak bisa ditinggal lalu anak 'diperam' terus di rumah. Nanti malah terhambat sosialisasinya. Usianya makin tinggi tetapi kematangan emosionalnya tidak tumbuh juga. Lebih baik cemplungkan saja tetapi lakukan secara bertahap."

Tentunya orang tua jangan segan-segan untuk memberi tahu guru mengenai kondisi anak kita. Misalnya, anak sangat pemalu, guru bisa menciptakan suasana yang hangat dan akrab baginya. "Lama-lama anak akan merasa, 'Oh, sekolah itu ternyata menyenangkan.' Akhirnya, tanpa dibangunkan pun, ia akan segera sigap berangkat ke sekolah."

Juga bukan berarti bila ada kekurangan di aspek lain, orang tua jadi minder memasukkan anaknya ke TK. "Justru dengan memasukkan ke TK, orang tua dan guru akan bersama-sama menambah kekurangan itu dan mengembangkan potensi yang sudah ada. Sekali lagi, dengan cara bermain dan tanpa paksaan."
PENDIDIKAN DI TK SANGAT BERMANFAAT

Prinsip belajar di TK adalah bermain. Meski hanya bermain, tetapi banyak manfaatnya. "Anak bisa mengembangkan seluruh potensinya lewat bermain sehingga saat terjun ke sekolah formal sesungguhnya, dia bisa memahami keberadaan di lingkungannya bahwa ia punya tanggung jawab, bisa mengikuti peraturan, tata tertib, dan disiplin-disiplin yang diberikan," papar Bambang.

Di TK, anak jakan mendapatkan pelajaran-pelajaran baru semisal mengenal warna, bentuk, irama, dan lainnya lewat bermain. Lewat bermain pula, anak bukan hanya bisa mengembangkan otot-ototnya, baik otot besar maupun otot halus seperti perkembangan motorik kasar dan halus, tapi juga bisa berfantasi dan mengekspresikan diri. Anak juga belajar bersosialisasi, berbicara satu dengan lainnya lewat bermain.

Itulah sebabnya, jenjang TK tak bakal menjadi prasyarat masuk SD, tapi Bambang berpendapat, TK lebih bermanfaat. "Karena anak akan mengenal nuansa yang bakal ditemuinya di SD, seperti bahwa sekolah itu belajar aturan. Nah, di rumah, kan, tidak ada aturan seperti dalam belajar kelompok, bermain bersama, patuh pada guru dan disiplin kelas," ujar pendidik yang bersama istrinya menulis buku Seri Mengembangkan Potensi Bawaan Anak.

Anak yang sudah bersekolah di kelompok bermain umumnya akan lebih mudah menyesuaikan diri saat masuk TK. Minimal, anak tak "kaget" saat menemui lingkungan baru. Ia sudah bisa bermain dan mampu bersosialisasi dan terbiasa menerima instruksi dari orang lain selain orang tuanya.

Tak lupa ia berpesan agar orang tua melakukan survei ke sekolah yang dituju. Dengan mengetahui apa yang diprogramkan oleh sekolah dan apa yang kita siapkan, maka kita akan tahu mana sekolah yang cocok untuk anak kita.(tabloid-nakita)

Sekolah Motorik Halus & Kidsport

Sumber: ibu ibu DI

Tanya :
Mau tanya, playgroup Kidsport yang ada di Pondok Indah Golf itu apa ya bedanya sama Tumbletots ? Kalau di Tumbletots kan lebih banyak
diasah motorik kasarnya, jadi kegiatan sekolah 45 menit hanya naik tangga, papan luncur, koprol, dll. (acara nyanyinya juga cuma sedikit). Apakah Kidsport menerapkan pendekatan yang sama? Apakah memang semua preschool untuk 2 tahun itu cuma motorik kasar karena motorik halus memang baru bisa diajarkan pada umur 3 tahun ke atas ?

Jawab :
Kidsport ada 2 macam kelas, yang kelas motorik kasar, persis sama dengan Tumbletots, bedanya kalau playgroup pakai bahasa Indonesia, ada aktifitas motorik halusnya. Aku kurang jelas motorik halusnya diajarin apa, karena anak ku dulu tidak ikut kelas yang itu, tapi yang aku tahu pasti, nempel, gunting, ngelem gitu. Sepertiyna yang di Kidsport yang motorik halus ada yang mulai 1,5 th, mini kids club namanya di sekolah anakku juga mulai dari 2 th, ada motorik halus juga banyak kok sekolah yang untuk 2 th ada motorik halusnya (Di)

Di Kidsport ada playgroupnya yang seminggu 2x dengan masa belajar 90 menit, lebih banyak motorik halusnya seperti: menggunting, ngelem & ada break untuk makan snack (termasuk) dan ada jadwal kunjungan ke luar kelas (outdoor). Di kelas ini mulai belajarnya mengikuti tahun
ajaran yang umum berlaku mulai setiap Juli. Sedangkan yang masa belajarnya seminggu sekali, lebih banyak motorik kasarnya seperti: meniti titian balok, jungkir balik & loncat. Dimulai dengan 10 menit pertama si pendamping (BS or Ortu) bercerita/ sharing sesuai tema hari itu. Lanjut nyanyi bersama plus gerakan badan. Terakhirnya gerakan yang dicontohkan oleh kakaknya dan anak bebas mengikuti di setiap arena yang sudah disiapkan. (Sa)

Kebetulan anakku sekolah di kidsport Bintaro. Memang benar ada 2 jenis kelas di kidsport, pertama kelas untuk motorik kasar dan yang berikutnya kelas semacam playgroup. Anakku pertama kali ikut kelas mini club, melatih motorik kasar untuk usia 2-3 tahun (kelasnya +- 50 mnt dan seminggu sekali), kemudian pas anakku ultah 3 tahun kemaran, aku naikkan ke kelas Kids Club Mini (KCM) seminggu 2 kali (+-1,5 jam) untuk range umur 18 bulan - 2,5 tahun, disini anak-anak diajarkan menyanyi, mewarnai, mengelem, dll (aktivitas motorik halus), mengenal angka, nama hari, dll, juga ada senam (untuk motorik kasar) juga tapi tidak seheboh di kelas mini club. Di KCM ini pendamping masih boleh masuk kelas dengan si anak, tapi katanya untuk tahap berikutnya KCA & KCB, pendamping tidak boleh masuk kelas, untuk mengajarkan anak lebih mandiri. aku sich belum coba trial. Tapi konsepnya kayaknya setara seperti playgroup. Mungkin ajaran baru nanti anakku mau coba naik kelas ke kca atau kcb. Item pembayarannya antara lain:
- Bayar uang keanggotaan, ada 3 jenis keanggotaan:
a. Keanggotaan tetap (berlaku sampai anak umur 12 tahun)
b. Keanggotaan 1 tahun
c. Keanggotaan 3 bulan
- Bayar uang bulanan (tergantung jenis kelas yang diambil)
Kebetulan aku ambil keanggotaan yang tetap (tahun lalu sekitar 1 jutaan, dapat diskon karena nasabah bank niaga), jadi bayarnya hanya
sekali tidak perlu perpanjang lagi. Pertimbanganku karena:
- Keanggotaan kidsport berlaku untuk 1 keluarga, artinya kalau kakaknya sudah anggota kidsport, adiknya kalau mau ikut kelas tidak perlu bayar keanggotaan lagi, cukup bayar iuran bulanannya saja. Kebetulan Anakku sudah ada adiknya, jadi lebih hemat, adiknya tidak perlu bayar lagi uang pangkal
- Misalnya anakku yang pertama nanti sudah TK, keanggotaanya bisa diwariskan ke adiknya, jadi tidak hangus, diteruskan oleh adiknya.
- Enaknya lagi ikut trial kelas saja, biar lebih jelas gambarannya, gratis kok. Kalau kidsport di Bintaro, terus terang aku puas sama kakak-kakaknya, mereka care. Kalau mbak ambil kelas yang seperti playgroup (KCM, KCA & KCB) ada acara jalan-jalan keluarnya (kemarin ke seaworld, taman safari, berenang, dll) kalau di kidsport pengantarnya bahasa indonesia, justru ini yang aku cari, karena sebelumnya anakku ngomongnya susah sekali. Kalau pengantarnya bahasa inggris takut anakku tambah susah bisa ngomong. Dan terbukti juga sih, beberapa bulan di kidsport (pertama kali ikut motorik kasar), kemampuan berbicaranya lumayan pesat dan sekarang jadi cerewet sekali. (De)

Di Shining Star tempat anakku, mengelem, menempel sudah diajarin sejak dia masuk (2 tahun) kelas baby (1,5 - 2 th), menggunting diajarin setingkat di atasnya, kelas toddler. Jadi pas anak pagi masuk kelas, anakku ambil gambarnya (seperti motonya gitu), misalnya gambar bintang, atau bulatan, lonjong etc, terus dilem sendiri dan ditempelkan sendiri di sebelah fotonya. Motonya/gambarnya tidak berubah, jadi dia tahu kalau gambar itu adalah gambarnya dia. Kelas Toddler kemaren banyak sekali acara potong memotong gambar dan ditempelkan di kertas, juga ada latihan mewarnai/memegang pensil. Yang ini anakku belum lulus. Sejak dia minta gunting, kalau di rumah sudah aku kasih gunting yang besar (sebelumnya belum tahu kalau di sekolahan t'nyata diajarin nge-gunting juga), bukan yang kecil/ujungnya tajem. Lalu dia menggunting sendiri dengan ada aku ato mbaknya. Tidak pernah ditinggal sendiri saat dia pegang gunting. Jangan pernah kasih gunting yang tidak tajem, yang tumpul, soalnya cuma bikin anak frustasi Kalau anakku berhasil menggunting putus kertasnya, dia seneng sekali. (Se)

Namanya kidsclub mini, mulai 1,5 tahun. Untuk yang diatasnya kidclub A 2-3 th, lalu KidsClub B 3-4 th. Kalau masuknya tidak pas awal tahun ajaran tidak usah takut bayar uang field trip yang sama, karena akan disesuaikan dengan anak itu masuknya pada bulan keberapa. Kalau anakku motorik halusnya bener-benar baru pengenalan (di KCM) jadi si anak juga belum pegang gunting, baru ngelem, menyambung garis-garis (bukan titik-titik) dengan crayon. Lebih banyak story tellingnya, lalu mengenal angka dan kata contoh kayak kemaren, dikasih piring kertas, wol putih, sama cat pentel merah yang sangat cair. Kakaknya mengajak bikin mie, dan si anak disuruh nempel wol putih ke kertas piring. Setelah itu dikasih saosnya (si cat merah itu). Anakku masuk kcm itu umur 2 tahun kurang dan kebetulan saja memang sudah lancar ngomong tapi kalau di kelas malah pendiam, sementara aku lihat ada anak yang belum lancar ngomongnya tapi tetep bisa aktif, karena tetep ada motorik kasar (seminggu seklai main di adventure challenge yang bikin capek). Umur 1,5 sudah boleh kcm. Dulu anakku umur 1,5 trialnya dan dia sudah suka sekali, mungkin dia justru memang malas disuruh motorik kasar terlalu banyak, lebih suka menulis, mendengarkan cerita, tergantung anaknya. (Na)

Kalau menurut aku yang bener kemampuan motorik halus itu tidak harus diperkenalkan pada usia 3 th. Sedini mungkin kalau bisa. Corat-coret asal-asalan pakai crayon umur setahun pun sudah bisa. Atau ajarin dia buka kancing bajupun juga kemampuan motorik halus. Dan sekolah yang betul adalah sekolah yang 'mengajarkan' kedua skill tersebut secara balanced. (In)

Soal motorik halus, umumnya di playgroup sudah diajarin kok. Anakku di Montessori sudah diajarin menggunting, mengelem dan pakai baju/sepatu, bahkan sampai mencuci piring habis makan. Tergantung sekolahnya, tapi pada umumnya udah. Soalnya kemarin dia baru di tes' masuk preschool, salah satu yang diuji ya itu, menggunting, membuat lingkaran dengan krayon, naik turun tangga, mengikat tali juga. Anakku dimasukin ke Tumble Tots pas dia sudah bisa jalan, kira-kira umur 10 bulan. Setelah dia lewat 1.5 tahun dia sudah kayak cucakrawa alias cerewet sekali dan akhirnya supaya kecerewetannya tersalurkan, aku masukin ke playgroup Montessori di dekat rumah. Di situ dia mulai diajarkan bermacam keterampilan motorik. Ada laporannya tiap kuartal, jadi untuk kuartal ini yang akan diajarkan apa, nanti di akhir kuartal ada laporan perkembangannya. Kira-kira dia sudah mulai diajarkan menggunting itu pas dia 2.5 tahun. Ada yang bawa gelas berisi pasir, berisi air, terus mindahin kelereng dari meja ke kotak, menggambar mengikuti titik titik, dll, pokoknya lengkap. Selain itu diajar menyanyi dan menari juga. Sekarang lagi belajar menjahit pakai jarum besar (yang plastik dan tidak tajam) dan benang wol. Kemarin waktu dia 'test' untuk masuk preschool, juga disuruh menggambar lingkaran, ada yang disurh menggunting, bikin bentuk macem² dari lilin (malam/plasticine) itu. (Mi)