Tampilkan postingan dengan label Menggambar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menggambar. Tampilkan semua postingan

BEBASKAN ANAK MENGGAMBAR APA SAJA

Keterampilan menggambar ternyata bisa membuat anak kreatif, asalkan ia diberi kebebasan.

Setiap anak prasekolah gemar menggambar dan mewarnai. Kegiatan ini, menurut pakar pendidikan, Drs Agus Moeliono, dari Yayasan Pendidikan Anangga Diipa, banyak manfaatnya. Tak terbatas untuk pengembangan seni, tapi juga sebagai penumbuh kreativitas, alat untuk mengungkapkan ide, perasaan, serta emosi anak. Lewat kegiatan ini pula, motorik halus anak dilatih dan akan sangat bermanfaat kala ia harus menulis di usia sekolah. "Otak kanan dan kiri serta nurani anak ikut terasah," tambah Agus.

Tapi semua manfaat itu tak bakal didapat secara maksimal jika anak menggambar dalam keadaan terpaksa dan tertekan. Orang tua yang kelewat mengarahkan harus menggambar ini-itu, misalnya, membuat kreativitas anak terkungkung. "Banyak, kan, anak yang cuma menggambar gunung dan sawah. Padahal, alam kita kaya sekali," ujar Agus memberi contoh. Ditambah lagi, "Guru juga kerap bikin anak tak percaya diri. Gunung warna kuning, disalahkan. "Padahal, di usia prasekolah, anak gemar berekspresi bebas. Ia mencoba mengungkapkan hal-hal baru. Sah-sah saja kalau ia menggambar orang dengan satu tangan yang lebih besar."

Yang kerap dilupakan orang tua atau guru, lanjut Agus, keterampilan menggambar juga bermanfaat pada bidang-bidang lainnya, seperti kedokteran dan arsitektur. "Dokter, kan, harus bisa menggambar bentuk tubuh manusia secara detail. Jelas, keahlian gambar amat diperlukan. Begitu juga arsitek." Alhasil, anak dimasukkan ke sanggar melukis agar bisa jadi pelukis handal, padahal tak mesti begitu. "Ada juga yang beranggapan, menggambar perlu bakat. Itu keliru besar. Walau tak ada bakat, usaha anak tidak akan sia-sia. Biar saja lukisannya enggak bagus atau tak pernah jadi juara lomba." Sebab, inti dari kegiatan ini adalah mengungkapkan, "Ini, lo, pikiran, ide, dan gagasanku!" Jadi, kata Agus, "Bukan untuk jadi juara gambar."

Ia juga berpendapat, lomba mewarnai yang banyak diselenggarakan di mal atau tempat lain, sangat tidak mendidik. "Secara tak langsung, kreativitas anak dibunuh karena mereka hanya mewarnai gambar yang sudah dibuat orang dewasa. Anak jadi enggan berkreasi sendiri."

TIGA JENIS GAMBAR

Kapan seorang anak bisa belajar melukis? Berikut patokannya, menurut Agus.
1. Usia 3 tahun ke atas biasanya anak sudah bisa diajarkan melukis.
2. Kala anak mampu membuat bentuk sederhana seperti lingkaran, garis, dan kotak.
3. Anak menunjukkan minat melukis, yang bisa dilihat dari kebiasaannya mencorat-coret buku atau dinding.
4. Anak mampu menilai apa yang dia suka dari perbedaan bentuk, ukuran, benda, dan suara.
5. Mampu mengikuti arah, dari kiri ke kanan, saat melihat gambar.
6. Mampu mengikuti instruksi, seperti besar, kecil, kiri, kanan, atas, atau bawah.

Sedangkan untuk cara menggambar, ada 3 gaya yang bisa diajarkan, yaitu:
a. Menggambar ekspresif
Yaitu jenis gambar yang mengungkapkan pikiran maupun perasaan anak terhadap sesuatu. Jenis gambar ini ditandai dengan pewarnaan yang sangat kaya. Objek-objeknya pun begitu nyata.
b. Menggambar detail
Menggambar objek dengan cara sedetail-detailnya, misalnya menggambar kerbau lengkap dengan hidung, tanduk, telinga, kaki, serta identitas lainnya.
c. Menggambar imajinatif
Anak belajar mengungkapkan imajinasinya dalam gambar. Adegannya hanya hasil rekaan anak saja semisal harimau yang bisa menyelam di dalam laut.

Seperti disebutkan di atas, pengarahan yang berlebihan hanya akan memasung kreativitas anak. Karena itu, agar anak tetap bisa bebas berkreasi, orang tua cukup mendorong si kecil agar bisa mengungkapkan perasaan, "Biarkan ide anak mengalir tanpa perlu digurui. Tak perlu pula menyuruhnya menyontoh gambar orang lain."

Dukungan lain yang penting adalah alat-alat gambar seperti krayon, papan tulis, kertas gambar, dan lainnya. Jangan lupa, pesan Agus, selesai menggambar, tanyakan pada anak tentang hasil karyanya. Minta ia menceritakan hasil karyanya. "Satu hal lain yang penting, beri pujian sehingga ia senantiasa bersemangat melakukannya."

Merangsang Otak Kiri, Kanan, dan Nurani

Untuk merangsang organ-organ tersebut, ada bebarapa cara yang bisa dilakukan orang tua.

1. Story telling atau bercerita

Bacakan topik tertentu pada anak lalu minta anak membayangkan suatu tempat atau benda. Bisa juga dengan mendongeng setelah itu anak disuruh menceritakan benda, makhluk, atau hal apa saja yang mereka lihat atau temukan di tempat itu. Kemudian, minta anak menggambarkan apa yang didapatnya dari cerita tersebut di atas kertas. "Misalnya, guru menceritakan keadaan luar angkasa. Tentang keadaan, suhu, pakaian, dan semua benda yang ada di sana. Setelah itu, anak ditugaskan menggambar sesuai dengan cerita yang baru saja disampaikan. Biarkan anak berimajinasi, seperti menggambar makhluk sesuai rekaannya."

2. Melihat langsung benda yang akan dilukis

Secara tak langsung, anak bisa mengamati secara detail objek yang akan digambarnya. Dengan demikian, ia mendapat gambaran benda secara nyata dan tidak akan salah saat menggambar objek tersebut. Kalau ia hendak menggambar pemandangan alam di pegunungan, contohnya, ajak ia jalan-jalan melihat pemandangan dan minta agar ia mengamati alam sekitarnya. Dari situ anak bisa melihat, bagaimana warna asli gunung, pohon-pohon, sungai, atau sawah.

3. Perlihatkan gambar/foto

Tentunya tak semua objek yang akan digambar bisa diperlihatkan wujud aslinya, entah karena objeknya benar-benar sudah tidak ada, seperti dinosaurus atau tempatnya terlalu jauh untuk ditempuh, seperti kasus tragedi Bali atau tragedi WTC. Nah, untuk mengatasi keterbatasan tersebut, tak ada salahnya jika objek tersebut dikenalkan lewat gambar/foto di buku atau surat kabar.

Untuk lebih mengasah nuraninya, tak ada salahnya gambar anak dilengkapi dengan keterangan yang ditulis sendiri olehnya jika memang ia sudah mampu melakukannya. "Tak usah berharap anak menulis indah seperti puisi. Yang penting, biarkan ia mengungkapkan perasaan hatinya. Misalnya, pada gambar tragedi Bali, anak menulis komentar, 'Ya Tuhan, tolonglah mereka supaya cepat sembuh.' Itu sudah lebih dari cukup," kata Agus.

tabloid-nakita

MENGGAMBAR TERPOLA MEMASUNG KREATIVITAS ANAK

Biarkan ide-ide si prasekolah mengalir lewat karya gambar yang dibuatnya.

Tak ada seorang anak pun yang tidak gemar menggambar. Saat disodorkan secarik kertas, ia akan dengan sigap mencoret-coret apa yang ada dalam imajinasinya di atas kertas tersebut. Lantaran itu, menggambar dianggap dapat dijadikan sebagai ajang mengasah kreativitas anak. Tak sampai di situ saja, aktivitas ini juga didaulat dapat menstimulasi daya imajinasi, mengembangkan gagasan, menyalurkan emosi, menumbuhkan minat seni, sekaligus mengoptimalkan kemampuan motorik halus si prasekolah.

Sayangnya, kata Dra. Gerda K. Wanei, M.Psi, banyak guru di sanggar gambar dan lukis maupun guru di TK yang justru disadari atau tidak menghambat anak untuk mendapat segala manfaat menggambar yang tadi disebutkan. Mengapa? Karena mereka masih saja melatih anak dengan model menggambar yang sudah terpola. Menggambar gunung harus berupa dua "gundukan" yang di tengahnya menyembul matahari dan di depannya terhampar sawah. Dari tahun ke tahun, gambar pemandangan ya seperti itu.

Bahkan untuk soal mewarnai gambar pun terpola, warna awan selalu biru, sawah indentik hijau. Demikian pula dengan latihan gradasi warna, selalu bergradasi dari nuansa tebal sampai tipis. "Semua gambar anak jadi tampak seragam. Tak ada lagi seni yang menonjol. Tak ada lagi imajinasi yang betul-betul merupakan ekspresi jiwa anak. Semuanya sudah di-setting sedemikian rupa," keluh psikolog dari FKIP Program Studi Bimbingan Konseling Unika Atma Jaya, Jakarta ini.
Sayangnya, rata-rata orang dewasa langsung menganggap hebat gambar anak-anak yang disapu dengan warna yang "sesuai" secara merata, apalagi jika disertai gradasi khas ajaran sanggar. Tak heran, Gerda mengimbau agar guru di TK maupun di sanggar menggambar mengubah konsep atau metode yang terpola tersebut. Menurutnya, didaktik menggambar sebenarnya adalah memberikan kebebasan kepada anak untuk menciptakan sesuatu sesuai pandangannya sendiri. Jadi sudah selayaknya guru memberikan kesempatan kepada anak untuk berimprovisasi. Jangan sampai anak terus-menerus menggambar sesuatu yang sudah ada sebelumnya.

Dengan bebas berekspresi, anak bebas mengungkapkan apa yang ada di benaknya. Ia jadi tak canggung-canggung menggambar gunung dengan tiga gundukan dengan warna hitam, contohnya. "Jangan pernah menyalahkan gambar dan warna yang dibuat anak karena dia sendiri pasti memiliki alasan tertentu. Warna gunung hitam karena mungkin dia melihatnya saat malam hari sehingga gunung itu gelap."

DAMPAK TERPOLA

Jika konsep menggambar ter-pola ini terus dipelihara, menurut Gerda, dikhawatirkan kelak anak-anak mengalami hal-hal seperti berikut:

1. Tidak kreatif

Pola menggambar yang kaku membuat pemikiran anak jadi terstruktur, "Awan itu harus biru, kalau rumput ya hijau!" Lama-lama ia tak mampu mengembangkan dirinya dan jadi tidak kreatif. Aktivitasnya pun jadi monoton sehingga membuatnya mudah jenuh. "Duh, bosan banget nih, masa gambar pemandangan terus sih!" Sayangnya, ia tak tahu harus melakukan apa untuk mengusir kebosanan tersebut karena tak mampu menelurkan gagasan baru. Hal ini akan merembet dalam aktivitas lainnya sehari-hari. Akhirnya, anak tumbuh menjadi sosok yang tak percaya diri.

2. Tak mampu memecahkan masalah

Jika menghadapi masalah, anak tak mampu mencari solusi pemecahannya dan langkah-langkah alternatif. Solusi yang dijalankannya sama seperti yang biasa dilakukan orang lain ketika menghadapi masalah. Ujung-ujungnya kalau anak menemui masalah, dia akan panik dan tak mampu menyelesaikan masalah tersebut.

3. Tak bisa mandiri
Di kemudian hari, anak tak mampu mandiri, selalu bergantung pada orang lain, entah itu orang tua atau saudaranya. Akibat tak punya sikap yang jelas, maka anak mudah diintervensi atau dibujuk orang lain. Misalnya, diajak mencicipi narkoba atau ikut tawuran, ia mau saja. Sederhananya, sikap dan kepribadian anak sulit untuk menjadi kuat.

BAGAIMANA SEHARUSNYA?

Lalu, supaya belajar menggambar dapat memberikan manfaat secara optimal, bagaimana konsep yang mesti diterapkan? Berikut penjelasan Gerda:

1. Menggambar di ruang terbuka
Belajar menggambar bisa dilakukan di luar ruang. Malah konsep aktivitas luar ruang ini sudah banyak diterapkan banyak sekolah. Anak diajak ke sebuah taman, umpamanya, untuk selanjutnya dibolehkan menggambarkan apa saja yang dianggapnya menarik. Dari situ anak sekaligus belajar mengidentifikasi sesuatu, bahwa pohon pisang itu ternyata berbeda dari pohon mangga, misalnya.

2. Menggambar sesuai yang dipersepsikan

Jika di luar kelas tak memungkinkan, di dalam kelas pun pelajaran menggambar tetap dapat berlangsung. Yang penting, anak dibebaskan menggambar objek dari sudut pandang atau sisi yang dilihatnya. Jadi sah-sah saja kalau ia menggambar komputer tidak dari sisi depan melainkan dari samping kiri atau kanan. Dari situ masing-masing anak dapat mengembangkan daya kreativitasnya. Hasil gambarnya pun tidak akan seragam karena persepsi mereka juga berbeda-beda. Jadi beri saja sehelai kertas gambar. Lalu biarkan anak bebas mencipta atau menggambar sesuai imajinasinya.

3. Membentuk tim
Proses belajar menggambar saat ini kebanyakan masih bersifat individual. Untuk itu, latihlah anak untuk menggambar dalam bentuk tim. Konkretnya, satu kertas gambar dapat dikerjakan tiga orang dengan satu topik tertentu. Manfaatnya, anak dapat belajar berbagi tugas, bersosialisasi, berkolaborasi, belajar melawan sifat egois, dan mau menerima pendapat atau gagasan temannya.

Beri kebebasan pada masing-masing anak untuk memilih bagian kertas mana yang mau ia coret-coret sebagai gambaran idenya; bagian tengah, kiri atau kanan. Akan lebih baik, bila ia didorong untuk tak melulu memilih salah satu bagian kertas saja, misalnya bagian tengah terus, umpamanya. Sesekali minta ia mencoba menggambar di bagian pinggir. Faedahnya, anak jadi mengenal berbagai situasi dan kondisi. Namun terlepas dari itu, karya yang dihasilkan bersama bisa menjadi kebanggaan bersama pula. Apalagi kalau proyek tim ini berhasil menjuarai suatu lomba menggambar.

4. Jangan ada intervensi

Dalam perlombaan menggambar biasanya orang tua yang ikut-ikutan mengintervensi atau nimbrung mencampuri apa yang digambar anak. Dari yang sekadar tunjuk-tunjuk mengomandoi anak sampai ada yang membantu melengkapi gambar anaknya. Hal seperti itu sama saja dengan mendikte anak agar menggambar sesuai keinginan orang tua. Kalau hal ini jadi kebiasaan, dalam artian anak selalu didikte, dipandu, bahkan dibantu saat menggambar, jangan salahkan kalau kelak ia selalu menunggu instruksi orang tuanya dalam berbuat sesuatu. Anak takut melakukan sesuatu yang tak diminta orang tua karena takut salah. Dengan kata lain ia tetap kerdil sekalipun nanti sudah menginjak usia remaja atau dewasa karena selalu bergantung pada orang tuanya.

Untuk menghindarinya, mulai saat ini biarkan ia mencurahkan apa yang menjadi imajinasinya dalam bentuk gambar saat perlombaan berlangsung. Dari situlah anak belajar bertanggung jawab mengerjakan sebuah penugasan.

5. Beri pujian jangan celaan

Setelah anak menyelesaikan gambarnya, berilah pujian. "Gambarmu bagus sekali. Tapi mataharinya kok kurang bulat. Coba deh kamu buat lebih bulat." Hindari perkataan seperti, "Aduh, gambar kepala orangnya kok peyang sih!" Intinya, guru dan orang tua mesti menerapkan nuansa edukatif dalam rangka didaktik menggambar. Kalau hasil karya anak dipuji, dia akan merasa percaya diri dan merasa bisa melakukan sesuatu serta bangga dengan apa yang dilakukannya. "Jangan lihat hasil akhir bahwa gambar itu jelek tapi lihat prosesnya. Hargai setiap usaha anak dalam menggambar."

6. Biarkan anak memilih pensil warna sendiri

Ada kalanya guru menerapkan metode dengan cara hanya memberikan warna pensil yang terbatas kepada anak-anak. Padahal dengan begitu, justru anak tak bisa mengeksplorasi imajinasinya. Dia merasa dikekang dan tak bisa menciptakan sesuatu dengan optimal. "Sebaiknya berikan semua pensil warna dan biarkan anak memilih sendiri pensil warna yang disukai sesuai getaran jiwanya."

7. Ajak anak untuk menjelaskan karya gambarnya

Usai menggambar, mintalah si prasekolah untuk menjelaskan apa saja yang digambarnya. Upaya ini merupakan cara untuk melatih kemampuan berbicara dan keberanian mengungkapkan pikiran dan gagasannya dengan lisan.

PANDUAN TETAP PERLU

MESKI setiap anak harus diberi kebebasan untuk berimajinasi tapi kata Gerda, dalam didaktik menggambar, mereka tetap harus mendapatkan panduan belajar. "Anak juga jangan dibebaskan begitu saja. Kalau ia senang menggambar kapal terbang, ya jangan dibiarkan jika setiap hari dia selalu menggambar pesawat."
Jadi dalam kurikulum mesti ada topik atau tema-tema tertentu dalam menggambar. Suatu kali anak diminta menggambar situasi taman. Kali lainnya, menggambar tentang anggota keluarganya, dan sebagainya. "Jadi anak menjalani proses belajar menggambar sesuai dengan arahan yang benar."

MENDETEKSI KEPRIBADIAN DENGAN WARNA

MENURUT Gerda, dalam kajian psikologi, hasil gambar bisa digunakan untuk mendeteksi minat dan bakat seorang anak. Begitu pun mewarnai yang juga bisa menguak kondisi psikologis atau kepribadian anak. Anak yang memilih warna yang ceria seperti kuning, merah, atau warna ngejreng lainnya bisa dikatakan sebagai anak yang ekstrover (terbuka). Sebaliknya, anak yang selalu memilih warna bernuansa gelap, seperti hitam, cokelat, atau abu-abu dikategorikan sebagai anak introver (tertutup). Dengan kata lain, mewarnai dapat menunjukkan bagaimana nuansa hati atau batin si anak. Anak yang selalu mewarnai gambar dengan warna-warna gelap merasa dirinya "gelap".
Sedangkan anak yang hatinya ceria akan memilih warna yang betul-betul hidup.
Meski begitu, introver maupun ekstrover bukan "cap" seumur hidup karena dapat berubah sesuai pengaruh lingkungan. Jika si introver selalu dirangsang untuk bergaul, beradaptasi dengan orang lain, bisa jadi ia berubah menjadi ekstrover. Sebaliknya, anak yang tadinya ekstrover bisa juga berubah menjadi introver. Katakanlah anak yang dulunya ekstrover, akibat selalu dimarahi orang tuanya tak menutup kemungkinan menjadi anak pesimis dan tertutup.(tabloid-nakita)

BEBAS MENGGAMBAR APA SAJA

Hentikan "campur tangan" Anda. Biarkan anak menggambar sesuka hatinya untuk mengembangkan kemampuan motorik dan imajinasinya.

Menggambar tentunya terkait dengan perkembangan motorik kasar dan halus seorang anak. Selain itu, menggambar dapat meningkatkan kemampuan otak kanan anak untuk visualisasi, yang pada akhirnya memiliki peranan sangat penting untuk meningkatkan semua aktivitas intelektual. Dari pemecahan masalah sampai pada penguasaan pengetahuan baru dengan lebih mudah dan efisien.

Agar seorang anak berhasil, ia membutuhkan kemampuan terbaiknya untuk menghadapi tantangan hidup. Kemampuan itu berasal dari hasil interaksi fungsi belahan otak kanan dan kiri. Seorang peneliti sains Jerre Lery mengatakan, "Otak yang normal memang diciptakan untuk tantangan. Dia hanya akan bekerja optimal bila persyaratan pemrosesan pengertian itu cukup kompleks untuk menggerakkan kedua belahan otak."

Nah, aktivitas menggambar rupanya dapat mengembangkan kemampuan otak kiri dan terutama kanan. Dengan catatan, biarkan anak menggambar bebas sebebas imajinasinya.

TAHAPAN MENGGAMBAR

Pada rentang usia prasekolah (3-6 tahun), anak masuk dalam 2 tahapan tingkat menggambar, yaitu:

1. TAHAP CORENG MENCORENG

Dimulai dari usia 2 tahun dan berakhir di usia 4 tahun. Tahap ini terbagi menjadi tahap tak beraturan, tahap corengan terkendali dan tahap corengan bernama. Pada masa ini anak belum menggambar untuk mengutarakan suatu maksud. Anak hanya ingin membuat sesuatu yang dikemukakannya melalui mencoreng. Setelah mencoreng anak akan merasa senang. Tahap ini merupakan

masa permulaan bagi anak untuk menggambar yang sesungguhnya. Di akhir tahap ini anak mulai memberi nama pada corengannya, mulailah corengan tersebut bermakna sebagai ungkapan emosi anak.

Sering kali, kita melihat hasil karya anak di tahap ini seperti benang kusut yang acak dan tidak berarti. Padahal mungkin itu sangat berarti bagi si anak. Mungkin ada cerita yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu orang dewasa, baik orangtua dan lainnya, tidak dianjurkan mengkritik hasil corengan anak. Kritik yang berlebihan atau terus-menerus akan membuat gambar anak tidak komunikatif sehingga ia tak mau lagi melakukan kegiatan mencoreng.

2. TAHAP PRABAGAN

Dimulai dari usia 4 tahun dan berakhir pada usia 7 tahun. Di tahap ini motorik anak sudah lebih berkembang. Ia bisa mengendalikan tangan dan menuangkan imajinasinya dengan lebih baik. Di tahap ini anak menggambar dengan penekanan pada bagian yang aktif dan sering melupakan beberapa bagian. Contoh, jika anak menggambar orang, maka penekanan dilakukan pada bagian kepala, tangan dan kaki. Sering kali kita melihat anak pada tahapan ini menggambar orang sebagai satu keutuhan lingkaran dengan mata, tangan dan kaki yang juga menempel pada lingkaran tersebut.

Pada tahap ini anak lebih mengutamakan hubungan gambar dengan objek daripada hubungan warna dengan objek. Kerap kali kita temukan gambar dengan warna yang tidak sesuai aslinya. Umpama, langit warna merah, jalan warna kuning, dan sebagainya. Objek gambar pun masih dari objek-objek yang ada di sekitarnya, seperti orangtua, binatang peliharaannya, dan lainnya. Maka dari itu, orangtua perlu mengenalkan berbagai hal dan objek-objek yang dapat dieksplorasi oleh anak untuk dituangkan dalam bentuk gambar.

PENDIDIK & ANAK

Bila kemampuan menggambar seorang anak tidak sesuai dengan tahapan usianya, tak perlu kita langsung berkesimpulan bahwa ia mengalami keterlambatan ataupun ketidakmampuan dalam menggambar. Asal tahu saja, banyak faktor yang memengaruhi kemampuan menggambar seorang anak, antara lain:

* Faktor Pendidik

- Kritik orangtua maupun guru terhadap hasil karya anak dapat membuat hatinya terluka, merasa gagal, dan malu melakukan aktivitas menggambarnya kembali.

- Kurangnya dorongan dari pendidik untuk anak beraktivitas, mengeksplorasi alam sekitar dan menuangkan imajinasinya ke dalam gambar.

- Metode pengajaran yang diterapkan justru menghambat kreativitas anak. Salah satunya dengan cara selalu memberikan contoh gambar dan warna yang baku untuk diikuti oleh anak. Hal ini membuat anak tak bisa mengekspresikan apa yang dipikirkannya secara bebas. Padahal tentunya tiap anak memiliki cara berekspresi yang beda.

* Faktor Anak

- Kemampuan motorik kasar dan halus yang merupakan bagian dari proses tumbuh kembang anak sesuai usianya.

- Keinginan atau minat anak terhadap menggambar. Sebenarnya, setiap anak pasti bisa menggambar karena gambar merupakan bahasa rupa. Namun, jika anak tidak difasilitasi dan diberi ruang berekspresi, bisa saja dorongan untuk menggambar itu tidak terlihat.

UPAYA ORANGTUA

Nah, agar anak mau menggambar dan dapat melalui tahapan perkembangannya dengan optimal, inilah beberapa hal yang perlu dilakukan orangtua:

- Berikan dorongan kepada anak untuk menuangkan imajinasinya menjadi gambar.

- Dampingi anak saat ia melakukan aktivitas tersebut, sehingga anak merasa mendapat dukungan. Selama mendampingi anak hindari mencampuri cara berekpresinya dengan memberi instruksi ini atau itu.

- Biarkan anak menceritakan apa yang digambarnya. Jangan mengkritiknya.

- Berikan pujian dan motivasi kepada anak akan hasil karyanya.

- Jangan selalu memberikan buku mewarnai. Sebaiknya, berikan kertas kosong untuk anak menggambar sesuai dengan "sidik jarinya".

- Sediakan bahan dan alat yang diperlukan supaya anak dapat bereksplorasi secara luas. Jangan hanya dengan pensil warna saja, tapi sediakan juga bahan lain seperti krayon, cat air, cat akrilik, spidol, kapur, dan arang sekalipun.

- Biarkan anak menggambar sesuai dengan perkembangannya. Tak perlu dikoreksi.
www.tabloid-nikita.com

MEWARNAI YANG "MEMATIKAN"

Selembar kertas kosong, jauh lebih baik daripada buku mewarnai

Hampir semua anak prasekolah, apalagi yang sudah duduk di bangku taman kanak-kanak, pasti mengenal buku atau lembar mewarnai. Bukunya pun cukup populer dan banyak tersedia di toko-toko buku dengan isi yang bervariasi. Bahkan di taman kanak-kanak, kegiatan mewarnai juga merupakan salah satu aktivitas yang termasuk dalam program pembelajaran. Bentuknya berupa lembaran sama dengan bahan ajar sederhana yang biasa disebut lembar kegiatan (LK) siswa.

HAMBAT IMAJINASI

Yang jadi persoalan, banyak orangtua bahkan pendidik lebih memilih menyodorkan buku-buku mewarnai kepada anak sebagai sarana untuk melatih kemampuan coret-mencoretnya. Padahal pada buku-buku tersebut yang disediakan hanyalah sejumlah gambar dan anak tinggal memberi warna. Hasilnya, anak menjadi terpaku pada gambar tersebut. Buntutnya, kegiatan mewarnai malah jadi pembelenggu berkembangnya kreativitas anak.

Ketahuilah, penelitian Montessori menemukan, rata-rata pada usia 4,5-5,5 tahun adalah masa peka anak-anak untuk mencorat-coret, sehingga perlu diberikan sarana untuk menyalurkannya. Caranya yang paling tepat adalah dengan memberikan kertas kosong dan biarkan anak mencoret sesuka hatinya. Coretan anak merupakan inspirasi atau imajinasi si anak. Jadi, jangan mendikte anak dengan menyodorkan lembar bergambar yang sudah siap untuk diberikan warna. Tindakan ini hanya akan menghambat berkembangnya kreativitas imajinasi anak.

RESPONS SALAH

Tak kalah penting, respons dari orangtua kala anak sedang mewarnai. Umumnya, yang terlontar adalah respons yang tidak tepat, semisal, "Jangan keluar garis, dong!" atau, "Jangan berantakan ya mewarnainya, bisa-bisa kertasnya jadi kotor." Bahkan ada pula orangtua yang sampai memegangi tangan anaknya agar mewarnainya tidak berantakan. Ini semua adalah tindakan keliru yang malah membuat anak tertekan sehingga dapat menghambat berkembangnya imajinasi anak.

Demikian pula dengan respons, "Lo... kok warnanya itu." Atau, "Jangan diberi warna itu dong, enggak pas." Padahal pemilihan warna yang menurut orangtua tidak tepat itu, hanyalah persepsi orangtua saja. Justru yang harus dilakukan orangtua adalah menanyakan alasan si anak mengapa ia melakukan itu atau memilih warna tersebut, yang mungkin menurut persepsi orangtua tidak naturalis. Umpama, anak menggambar daun dan diberi warna cokelat, padahal umumnya daun berwarna hijau. Nah, tanyakan, "Kok warnanya cokelat, kenapa?" Bisa jadi jawabannya adalah daun ini kering, jadi berwarna cokelat. Inilah imajinasi anak. Bila ini dihambat, buntutnya kelak dapat memengaruhi rasa percaya dirinya.

Bila orangtua ingin memberikan inspirasi kepada anak, sebaiknya orangtua menggambar sendiri di kertas lain, kemudian tunjukkan kepada si prasekolah, "Ini lo, Ibu menggambar pantai, bagus enggak?" Melalui cara ini, anak akan mengamati gambar ibunya dan niscaya ia dapat memperoleh inspirasi dari situ.

PERSIAPAN MENULIS

Kegiatan mewarnai memang dapat melatih keterampilan motorik halus anak sebagai salah satu sarana untuk mempersiapkan kemampuan menulis. Dengan demikian, orangtua/pendidik hendaknya mempersiapkan terlebih dahulu kemampuan anak dalam memegang alat tulis sebelum mulai memperkenalkan kegiatan ini.

Untuk itu, coba amati, apakah si kecil sudah memiliki keterampilan dasar untuk memegang alat tulis (pensil, krayon, pensil warna, dan lain-lain) ataukah belum. Jika belum, sebaiknya berikan sejumlah stimulasi untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Ada sejumlah latihan terkait yang dapat bermanfaat untuk melatih motorik halus jari-jari tangan, misalnya, memindahkan biji-bijian dari satu botol ke botol lain, membuat aneka bentuk dengan plastisin, lilin (malam), dan lain-lain. Nah, bila kemampuan memegang pensilnya sudah baik, dapat diberikan kesempatan untuk mencorat-coretkan alat tulis tersebut.

YANG HARUS DIWASPADAI

1. Ketika anak dipaksa melakukan kegiatan mewarnai (disodori buku mewarnai dan diminta untuk mengerjakannya), bukan karena kebutuhan atau keinginan anak itu sendiri, maka kegiatan itu hanya sekadar meningkatkan kemampuan (ability) dari si prasekolah dan bukan menumbuhkan minat/keinginan untuk menulis atau menggambar pada anak. Padahal tujuan utama pemberian beragam kegiatan sebagai stimulasi adalah untuk mengembangkan minatnya. Akibatnya, anak tidak berhasil menemukan konsekuensinya. Contoh, anak tidak akan memahami konsep bahwa kalau tidak bisa menggambar, nanti aku tidak bisa membuat komik, misalnya.

2. Terkadang orangtua/pendidik tidak memerhatikan tingkat kesulitan materi yang disodorkan pada anak. Idealnya memang dari yang mudah, lalu meningkat kepada yang sulit. Kalau anak langsung dihadapkan pada yang sulit, dapat menjadi hopeless atau kecewa, serta merasa dirinya tidak mampu.

3. Beri kebebasan pada anak untuk mengapresiasi sendiri hasil karyanya. Yang penting ada contoh-contoh yang secara naturalistik disampaikan kepada anak. Contoh, dengan melihat langsung atau melalui film, untuk menyampaikan bahwa daun warnanya hijau.
(tabloid-nakita)

Suka menggambar Tapi tidak suka mewarnai?

Mewarnai dan menggambar samasama merupakan hasil eksperimen dan pembelajaran anak.

Ilham, ayah dari Ibnu Syauqy (4) menceritakan, anak lelakinya itu paling enggak mau kalau diminta mewarnai gambar. "Katanya, enggak bisa rapi. Jadi, kalau mewarnai gambar robot misalnya, dia minta dipegangi tangannya oleh saya atau ibunya. Kadang-kadang malah kitanya yang disuruh mewarnai dan dia yang kasih tahu warna yang harus kita pakai. Syauqy lebih suka menggambar pakai pensil. Macammacam gambarnya seperti mobilmobilan, robot dan lainnya. Kalau sudah menggambar kelihatan asyik sekali".

Begitu pun dengan Prisilia Webert (5), putri dari Liniaty Halim. "Dia lebih senang kalau menggambar orang. Biasanya pakai pensil atau pen. Selesai menggambar dia tidak mau mewarnai gambarnya. Katanya, kalau mewarnai waktunya lama karena harus pilih-pilih warna mana yang sesuai, belum lagi harus rapi. Sementara kalau menggambar dia bisa dengan cepat melakukannya. Saya tidak pernah memaksanya untuk mewarnai gambar. Namanya juga anak-anak, saya biarkan dan beri dia kebebasan menggambar apa pun yang dia mau," tutur sang bunda.

PROSES KREATIVITAS

Ya, anak usia 3-5 tahun rata-rata memang senang menggambar dan melukis. Anak menikmati sekali menuangkan ide dan imajinasinya ke atas sehelai kertas. Aktivitas berekspresinya dimulai dari memegang krayon, merasakan kelembutan tekstur cat, meraba goresan pensil di kertas. Kesemuanya itu akan membawa anak ke dalam dunianya sendiri. Jadi, menggambar merupakan suatu proses kreativitas, bukan sekadar menghasilkan warna saja.

Sering kali terjadi kerancuan justru karena tindakan orang dewasa yang menganggap bahwa anak usia tersebut belum cukup pandai untuk menggambar. Akhirnya, diberilah buku-buku mewarnai agar si anak mewarnai gambar-gambar yang sudah tersedia dan terpola dengan bagusnya. Anak diminta mewarnai gambar yang sudah dibatasi oleh garis-garis batas yang sedemikian rapi dan sempurna.

Dampaknya pada anak, mereka merasa bahwa orang dewasa menggambarnya lebih baik dibandingkan dirinya. Selain itu, anak juga akan kehilangan daya ekspresif dan spontanitasnya karena mewarnai semacam itu dapat membatasi pengalaman kreativitas anak yang tinggi. Anak jadi kurang dapat mengekspresikan diri dan seni. Ia ragu-ragu dan takut menggambar, cenderung menyalin gambar yang ada dari buku mewarnai dan tidak menampilkan keunikannya sendiri. Bahkan penelitian yang dilakukan Dr. Irene Russell, dari Amerika Serikat menemukan bahwa pembatasan pada kegiatan mewarnai saja dapat menghilangkan kemampuan anak untuk mengekspresikan perasaan mereka melalui seni.

HINDARI POLA

Mewarnai memang merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kreativitas. Namun, orangtua tak perlu khawatir bila anak tak suka mewarnai. Bisa saja orangtua menstimulasinya dengan cara menyediakan berbagai media mewarnai yang beraneka ragam sesuai usia anak dan juga yang menarik minatnya. Seperti cat, kapur, lilin, pewarna makanan, spidol warna warni, krayon atau pensil warna. Lindungi pakaian anak dengan celemek jika takut kotor.

Daripada menyediakan pola-pola gambar yang baku dan cenderung untuk mendikte anak mengikuti pola (outline), biarkan anak mengekspresikan warna pada kertas dengan ruang kosong yang luas. Misal, kertas berukuran besar yang bisa digambari objek seukuran tubuh anak (anak berbaring di atas kertas dan orangtua menarik garis lingkar luar di sekitar tubuhnya), untuk kemudian gambar tersebut diwarnai bersama-sama orangtua. Bisa juga anak menambahkan sendiri pola gambarnya di ruang tersebut sehingga anak dapat berkreasi dan mewarnai bebas autonom. Berikan anak kesempatan menuangkan imajinasinya dan berekspresi sendiri serta mengomunikasikan dirinya dengan warna-warna yang ada.

Jangan paksakan anak untuk menciptakan warna sesuai "selera" orang dewasa/sesuai apa yang dilihat oleh "kacamata" orang dewasa. Anak usia 3-5 tahun mewarnai sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Misal, matahari diberi warna merah, tanah warna kuning, atau awannya warna pink. Itulah imajinasi seorang anak yang tak akan pernah dirasakan lagi saat dewasa. Mungkin saja ketika ditanya anak mengatakan ia mewarnai matahari seperti itu karena sinarnya sangat panas atau warna pink pada awan menandakan pelangi yang muncul, dan sebagainya. Perkembangan mewarnai pun seiring dengan usianya. Contoh, anak 3 tahun mulai mencoret dengan satu warna; anak 4 tahun sudah berwarna-warni seimbang dengan gambar; anak 5 tahun sudah menggunakan banyak warna.

Keterlibatan orangtua saat proses kreatif amat penting sehingga anak berminat untuk berkreasi maksimal. Orangtua bisa mendampingi anak atau sambil bercengkerama gembira turut menggoreskan warna dengan jari ke kertas. Anak pasti sangat menikmati proses berkreasi tersebut. Bisa jadi setelah goresan awal, ia akan terpicu menggores lagi dengan warna-warna lain sehingga terciptalah suatu karya unik milik mereka. Beri pujian atas hasil gambarnya serta diskusikan pula hasil tersebut dengan anak. Jika perlu, hasil karya yang paling disukainya ditempelkan di dinding atau diberi bingkai lalu ditaruh di kamar anak.

Lewat proses mewarnai sebetulnya anak belajar mengenai pengenalan warna-warna. Pengenalan warna ini dapat merangsang daya pengamatan, daya imajinasi, serta penyampaian motorik kasar dan halus anak dan mengasah kemampuan komunikasinya dalam bentuk visual. Anak pun jadi lebih peka terhadap pengenalan warna, lebih terarah dalam mewarnai, dan terampil memilih kombinasi warna.

SESUAI KEINGINAN

Menggambar juga merupakan salah satu cara anak untuk mengomunikasikan imajinasinya. Jadi, tak masalah jika anak hanya sukanya menggambar saja tanpa mau mewarnainya. Tetap dukung si anak menuangkan apa yang ada dalam pikiran/imajinasinya menjadi sebuah bentuk visual. Itulah proses kreatif. Orangtua hendaknya senantiasa berusaha mengerti gambar apa yang mereka maksudkan. Jangan bertanya ataupun mengkritik hasilnya supaya anak tidak kecewa.

Sebetulnya, kemampuan anak dalam menggambar berkembang seiring dengan perkembangan usianya. Di usia 3 tahun, anak menggambar bentuk orang hanya berupa lingkaran besar yang dibubuhi mata, mulut, serta kedua kaki dan tangan yang langsung menempel pada lingkaran tersebut. Saat usia 4 tahun, mulai ada keseimbangan pada gambar; bentuk orangnya kini mempunyai tungkai dan lengan. Saat usia 5 tahun gambarnya mulai ada penambahan latar belakang di sekitar objek utama, seperti gambar bunga, matahari, rumput, burung, dan sebagainya. Pada masa prasekolah ini sebetulnya belum ada keinginan anak untuk memberi detail pada gambarnya. Ia belum sadar bahwa karyanya adalah sebuah hasil seni. Ia mencoret mengenai apa yang ia inginkan, bukan apa yang dilihatnya. Apa yang mereka gambar belumlah proporsional sebagaimana gambar orang dewasa. Biarkan mereka maju seiring dengan perkembangannya.

Stimulasilah anak untuk tetap mau menggambar. Caranya dengan tidak memaksa anak untuk menggambar objek dengan realis. Untuk memicu keinginan menggambar dapat dengan mendongeng/bercerita tentang pengalaman menarik. Apa pun hasil karya si anak senantiasalah puji agar anak termotivasi, merasa bangga dan muncul rasa berprestasi atas hasil karyanya. Jika orangtua mengkritik, salah-salah malah membuat anak malas, kecewa, dan takut untuk berekspresi lagi, lantaran merasa gambarnya tidak komunikatif/dimengerti oleh orang dewasa.

BAHASA RUPA ANAK

Sering kali terjadi, anak selesai menggambar malas untuk mewarnai. Begitu pun mungkin sebaliknya, ada anak senang mewarnai saja dan tidak mau menggambar. Memang akan lebih baik jika keduanya mau dilakukan anak. Namun kembali lagi pada definisi "baik" mewarnai atau menggambarnya dalam konteks apa? Sebab, pembelajaran adalah sebuah input-proses dan output-hasil. Jadi, jangan menilai dari hasilnya saja. Apalagi nilai berdasarkan standar orang dewasa. Pertimbangkan input (usia/perkembangan rupa anak, media, kesempatan, emosi/jiwa) dan proses saat berkreasi (gembira, menjiwai, menikmati).

Anak yang suka mewarnai saja belum tentu tak bisa menggambar. Hanya saja kesempatan menggambar yang diberikan kurang atau bahkan dihambat. Misalnya hanya menyediakan buku mewarnai ketimbang memotivasi anak untuk menggambar. Apalagi bila pujian hanya muncul jika ia berhasil mewarnai dengan rapi tanpa melihat pentingnya kemampuan berimajinasi. Hal tersebut akan semakin menjauhi keinginannya untuk menggambar.

Sebetulnya, menggambar maupun mewarnai merupakan bahasa rupa anak. Samasama merupakan sebuah hasil bereksperimen, pembelajaran, dan penghayatan yang berbuah kreasi. Itulah yang terjadi saat anak menggambar maupun mewarnai dimana anak belajar melalui bermain. Baik menggambar ataupun mewarnai, keduanya dapat meningkatkan kemampuan otak kanan, yang berkaitan dengan berekspresi dan berkesenian. Sering kali kemampuan ini kurang diperoleh dari pelajaran di sekolah yang lebih cenderung menekankan pentingnya otak kiri (menghafal, mengingat).

Orangtua maupun pendidik hendaknya menyadari bahwa Tuhan telah menciptakan otak begitu sempurna dengan dua belahan (hemisfer) kiri dan kanan. Marilah, mulai menstimulasi "seluruh otak" anak baik pikiran dan perasaannya dengan merangsang kreativitasnya.(tabloid-nakita)