Tampilkan postingan dengan label tip - kiat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tip - kiat. Tampilkan semua postingan

Ide Kreatif Merangsang Kecerdasan Anak

Kepintaran seorang bisa dibilang sebuah anugerah yang diberikan kepada anak tersebut. Tapi ternyata faktor yang mempengaruhi kepintaran seorang anak juga ditentukan oleh lingkungannya.

Ada banyak hal yang bisa membuat anak menjadi lebih pintar, tentunya selain dengan belajar di sekolah. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membuat anak menjadi lebih pintar, seperti dikutip dari MSNNews, :

1. Bermain permainan yang berpikir
Catur, teka-teki silang dan sudoku selain menyenangkan juga mendukung strategi berpikir anak-anak, bagaimana cara menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan yang kompleks.

2. Bermain musik
Bermain musik selain menyenangkan juga bisa merangsang pertumbuhan otak kanan. Menurut sebuah studi di Universitas Toronto, diadakannya pelajaran musik bisa memberikan keuntungan dalam meningkatkan IQ anak dan performa akademisnya. Semakin lama waktu yang digunakan untuk bermain musik maka efek yang dihasilkan juga semakin besar.

3. Pemberian ASI
ASI merupakan makanan otak yang paling dasar. Peneliti secara konsisten terus menunjukkan berbagai macam keuntungan ASI yang behubungan dengan pertumbuhan bayi. Anak yang mengkonsumsi ASI eksklusif akan memiliki tingkat kepintaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang mengkonsumsi ASI hanya beberapa bulan saja.

4. Membiasakan berolahraga
Para peneliti di Universitas Illinois menunjukkan hubungan yang kuat antara kebugaran dan prestasi akademik di antara anak-anak sekolah dasar. Semakin bugar badan sang anak maka kemampuan dalam menerima pelajaran juga meningkat. Sebaiknya mendorong anak untuk terlibat dalam aktivitas fisik atau organisasi olahraga tertentu sesuai dengan minat anak.

5. Menyingkirkan makanan siap saji
Mengurangi asupan gula, lemak trans dari makanan siap saji dan menggantinya dengan makanan bergizi tinggi yang baik untuk perkembangan mental anak usia dini serta berfungsi dalam perkembangan motorik anak pada usia 1-2 tahun pertama. Contohnya anak-anak memerlukan zat besi untuk perkembangan jaringan otak yang sehat, anak yang kekurangan zat besi akan lambat dalam menerima rangsangan.

6. Mengembangkan rasa ingin tahu
Para ahli mengatakan orang tua yang menunjukkan rasa ingin tahunya pada anak akan mendorong anak untuk mencari ide-ide baru, sehingga merangsang anak untuk berpikir. Mengajari anak keterampilan baru serta pendidikan di luar rumah juga bisa mengembangkan rasa ingin tahu anak dan intelektualnya.

7. Budayakan membaca
Membaca adalah cara yang paling mudah untuk meningkatkan pembelajaran dan perkembangan kognitif anak-anak dari segala usia. Cara ini bisa dimulai dengan sering membacakan anak dongeng sebelum tidur dan sering-seringlah memberikan anak hadiah buku yang bisa menarik perhatiannya.

8. Mengajarkan kepercayaan diri
Orang tua sebaiknya meningkatkan semangat dan optimisme anak-anak. Berpartisipasi dalam tim olahraga atau kegiatan sosial akan membantu meningkatkan kepercayaan diri sang anak diantara teman-temannya.

9. Memberikan sarapan yang sehat
Para peneliti meyakinkan bahwa mengonsumsi sarapan yang sehat akan meningkatkan memori dan konsentrasi anak dalam belajar. Anak-anak yang tidak dibiasakan sarapan cenderung lebih mudah marah dan kurang konsentrasi pada waktu belajar, sementara anak yang sarapan akan tetap fokus dan bergerak selama jam sekolah.ver/det

Lima Cara Merangsang Anak Belajar



Anda ingin si kecil memiliki antusiasme yang tinggi untuk belajar dan berprestasi kelak? Beberapa cara berikut dapat Anda coba.

Lihatlah di halaman sebuah Taman Kanak-kanak. Sebagian anak tampak senang sekali dengan situasi sekolahnya. Anak-anak ini seakan memiliki otak seperti sebuah spons, menyerap apa saja yang terjadi di lingkungannya dengan antusias. Anak-anak seperti ini biasanya menunjukkan prestasi belajar yang baik nantinya.

Namun sebagian lain dari anak-anak tersebut tampak menunjukkan sikap negatif terhadap sekolah. Mereka tampak enggan melakukan berbagai kegiatan. Jika demikian, bagaimana mengharapkan anak-anak ini berprestasi kelak? Mengapa hal ini terjadi mengingat kedua kelompok anak-anak ini memiliki kemampuan yang kurang lebih sama?

Yang sering terjadi kemudian, orang tua lalu menyalahkan guru dan sekolah karena rendahnya motivasi anak-anak mereka untuk belajar. Padahal, menurut Dr. Sylvia Rimm dalam bukunya Smart Parenting , How to Raise a Happy Achieving Child , orang tua memiliki pengaruh positif yang sangat besar terhadap pendidikan anak-anaknya. Tidak hanya ketika anak masih kecil, namun juga sepanjang hidupnya.

Berikut ini Dr. Rimm menawarkan beberapa kiat yang dapat diterapkan sejak dini untuk membantu meningkatkan keinginan si kecil belajar dan berprestasi di sekolahnya kelak. Tentu saja tidak dengan cara memaksa maupun menuntut, namun lebih pada berbagai arahan dan dukungan yang membuat anak merasa nyaman berkegiatan.

1. Menciptakan rutinitas

Rutinitas membantu anak mandiri menjalani hari-harinya. Bayangkan jika sejak si kecil bangun pagi hingga malam hari ketika hendak tidur tergantung pada orang-orang dewasa di sekitarnya untuk mengarahkannya dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Anak-anak ini akan memiliki perasaan negatif terhadap dirinya, dan belajar bahwa orang lain akan selalu mengambil tanggung jawab dirinya. Dengan begitu, jangan heran, jika suatu saat Anda terganggu oleh ketergantungan anak pada Anda dalam menjalani berbagai aktivitas sehari-hari.

Karenanya, ciptakan rutinitas sejak dini dengan membiarkan si kecil melakukan sendiri kegiatan rutinnya. Buatlah jadwal rutinitas yang harus dilakukan anak. Misalnya, bangun tidur, diikuti dengan membersihkan tempat tidur, menggosok gigi lalu sarapan bersama-sama Anda. Jika si kecil belum bisa membaca jadwalnya, buatlah gambar aktivitasnya secara berurutan sehingga mudah dipahami dan diikutinya. Tentu saja penjadwalan rutinitas ini dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan dan usia anak.

2. Pembiasaan belajar

Anak usia prasekolah memang belum memiliki beban akademis yang mengharuskannya belajar pada waktu-waktu tertentu di rumah. Namun tidak ada salahnya Anda membiasakan anak duduk di meja belajar yang disediakan baginya pada saat yang sama setiap harinya, dan untuk jangka waktu yang sama pula.

Pada saat itu ajaklah si kecil melihat-lihat buku ceritanya, atau menggambar kurang lebih selama beberapa menit. Misalnya, setiap sore jam 16.00, selama beberapa menit (lebih kurang 5 menit). Cara ini membuat anak terbiasa mengerjakan pekerjaannya di atas meja yang disediakan untuknya.

Ide untuk membiasakan si kecil duduk di meja belajarnya pada saat yang sama dan jangka waktu yang sama setiap harinya didapat dari seorang ahli ilmu faal bernama Ivan Pavlov . Pavlov menemukan hukum clasical conditioning, di mana jika ada dua stimuli dihubungkan, maka stimuli kedua akan menghasilkan respons yang sama dengan stimuli pertama.

3. Meningkatkan komunikasi

Komunikasi yang baik merupakan prioritas utama dari semua kebiasaan yang dapat meningkatkan keinginan anak berprestasi. Sementara, gaya hidup di perkotaan yang sibuk membuat waktu untuk berkomunikasi dengan anak sangat terbatas. Orang tua perlu menjadwalkan waktu khusus untuk bercakap-cakap dengan anak setiap hari. Misalnya saat minum teh di sore hari, atau makan malam bersama keluarga. Yang terpenting, matikan TV atau singkirkan hal-hal yang mungkin mengganggu komunikasi Anda dengan si kecil.

Mendengar adalah salah satu bagian penting dalam komunikasi. Jika orang tua terbiasa mendengar anaknya berbicara, maka anak juga akan mendengar jika Anda berbicara. Menurut Dr. Rimm, jika orang tua memiliki kebiasaan bercakap-cakap secara teratur setiap harinya, anak akan lebih terbuka kelak ketika memasuki usia remaja. Keadaan ini diharapkan dapat mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan belajar pada anak kelak, karena keengganan anak untuk berprestasi ( underachievement ), biasanya, merupakan efek lanjutan dari komunikasi yang buruk antara orang tua dan anak.

4. Bermain dan permainan

Bermain merupakan sarana utama bagi anak untuk belajar berbagai hal. Sedangkan permainan atau games biasanya merupakan latihan yang baik untuk menghadapi kompetisi yang sesungguhnya di dunia luar. Manfaat mainan dan permainan, antara lain, meningkatkan imajinasi dan pelampiasan emosi. Misalnya, dengan permainan boneka dan bermain peran. Selain itu, sambil bermain anak bisa belajar keterampilan spesial atau konsep angka. Misalnya, dengan bermain balok kartu atau puzzle .

Cobalah bersenang-senang bersama dengan menciptakan berbagai permainan dengan anak. Seimbangkan antara permainan di dalam rumah dan di luar rumah yang menghasilkan manfaat berbeda.

5. Menjadi model bagi anak

Anak akan meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya. Mereka menjadikan Anda, orang tuanya, sebagai model yang patut diikuti. Namun, tentu saja si kecil hanya akan meniru perilaku yang terlihat olehnya. Ia tidak mungkin meniru perilaku gila kerja yang mungkin Anda miliki, misalnya, sebab ia tidak melihatnya langsung.

Karenanya, mengapa tidak menerangkan kepadanya apa yang Anda kerjakan di tempat bekerja? Daripada hanya mengeluhkan pekerjaan setiap Anda pulang bekerja, lebih baik Anda mulai menunjukkan pada si kecil bahwa Anda sangat menyukai apa pun yang Anda kerjakan. Karena, jika tidak, si kecil akan meniru perilaku Anda yang gemar mengeluhkan pekerjaan. Bukan tidak mungkin jika nantinya si kecil akan sering mengeluhkan pelajaran maupun guru-guru di sekolahnya jika Anda tidak segera mengubah sikap.

Esthi Nimita Lubis

Merangsang Kreativitas Anak dengan Menulis

Menulis dapat menyalurkan ide. Kegiatan itu juga membuat anak-anak lebih kreatif dan berpikir lebih mandiri. Sayangnya, hal tersebut jarang diperhatikan.

Di berbagai dunia, membaca karya-karya sastra diwajibkan bagi anak-anak usia sekolah dasar (SD). Setelah dibaca, mereka diwajibkan menceritakan kembali dalam bentuk tulisan. Di Indonesia, hal semacam itu belum lazim dilakukan. Budaya membaca di Indonesia belum mengakar, termasuk pada anak-anak. Apalagi meminta anak menuangkan ide kreatifnya dalam bentuk tulisan kreatif.

Padahal, aktivitas tersebut adalah pengalaman belajar yang berharga bagi anak-anak. Bila direncanakan sesuai dengan kemampuan bisa membuat anak mampu menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan seperti puisi, cerita, buku harian, stanza ataupun hymne.

Sebagai contoh, seorang anak yang baru mulai belajar membaca dapat mendiktekan kata-kata atau kalimat-kalimat lalu ditulis oleh guru. Atau, seorang anak yang menulis surat kepada temannya dan menjelaskan tentang poin-poin utama pelajaran, berarti dia sedang mengembangkan keahliannya dalam berkomunikasi dalam bentuk tulisan.

Penelitian yang dilakukan oleh seorang psikolog, Pennebeker yang diungkapkan dalam buku berjudul Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions menerangkan, menulis emosi dalam sebuah tulisan, bisa membuat anak-anak lebih mudah memahami diri sendiri juga orang lain dan lingkungan.

Bagi anak-anak yang pernah mengalami tindak kekerasan seksual ataupun tindak kekerasan dalam rumah tangga, menulis dapat membantu menghilangkan trauma yang diderita. [sindo]

Tips mengajar anak-anak/remaja

Memanfaatkan cara otak belajar

Mengetahui bagaimana otak bekerja memberi kesempatan kepada pendidik untuk membuat lingkungan belajar yang bisa memberi tingkat keberhasilan belajar yang tinggi bagi murid. Dengan memanfaatkan prinsip pembelajaran berdasarkan cara kerja otak berikut ini, bisa meningkatkan hasil murid di kelas.

1. Murid-murid punya gaya belajar yang berbeda

2. 50% adalah pelajar visual (penglihatan), mereka lebih menyukai dan mengerti gambar-gambar, grafik, dan tulisan di buku dibandingkan dengan ceramah.

3. 30% adalah pelajar kinestetik (perabaan, gerakan), mereka lebih membutuhkan aktivitas yang berdasarkan perabaan dan pergerakan.

4. 20% adalah pelajar auditori (suara/pendengaran), mereka belajar dengan baik ketika mereka berbicara tentang apa yang mereka pelajari

5. Otak bekerja lebih baik saat berada pada keadaan emosi yang positif. Murid harus merasa aman secara fisik dan emosi sebelum otaknya siap untuk belajar. Guru bisa membuat situasi lingkungan belajar yang positif dengan memberi dorongan dan pujian pada usaha –usaha yang dilakukan murid.

6. Otak belajar informasi baru melalui modul-modul kecil. Penelitian tentang otak menyatakan bahwa anak-anak usia antara 5-13 tahun belajar paling baik saat mereka diberi informasi 2-4 modul. Anak-anak usia 14 ke atas bisa belajar sampai dengan 7 modul pada saat yang sama. Guru harus merencanakan batasan ini dan mengajarkan materi dalam bentuk modul-modul kecil.

7. Otak juga bekerja menurut jadwal waktu tertentu. Anak-anak usia 5-13 tahun belajar paling baik dengan penambahan waktu 5-10 menit. Anak usia 14 tahun ke atas belajar dengan peningkatan waktu sampai dengan 10-20 menit. Kadang-kadang, guru bisa menambahkan batasan waktu ini melalui bantuan yang positif.

8. Anak-anak belajar dengan baik jika materi baru diajari lebih dulu dan materi sebelumnya diulang saat akhir pelajaran

9. Sangat baik bagi guru untuk mengajar pada unit-unit yang pendek (1-2 bagian pada satu waktu) dan kemudian memberi waktu aktivitas bagi murid. Murid memerlukan waktu untuk mempraktekkan keahlian yang mereka pelajari.

10. Murid memerlukan sedikit waktu untuk mengistirahatkan otaknya terhadap tugas tertentu. Memberi waktu bebas antara satu pelajaran ke pelajaran lain bisa meningkatkan fokus murid. Sebagai contoh, memberi murid waktu untuk berdiri dan meregangkan otot, mengobrol sekitar 2 menit, dan lain-lain. Otak akan lebih siap untuk tugas dan menyimpan informasi.

11. Membiarkan murid untuk minum air putih selama waktu belajar. Penelitian menunjukkan bahwa kekurangan cairan menyebabkan kadar garam yang lebih tinggi di dalam darah yang bisa meningkatkan tekanan dalam darah dan ketegangan. Kekurangan cairan juga menyebabkan berkurangnya perhatian. Idealnya murid harus minum 6-8 gelas air sehari supaya cukup cairan tubuh.

12. Ambil kesempatan saat energi murid sedang tinggi. Ada saat-saat level energi tinggi dan rendah selama waktu sekolah. Misalnya, kebanyakan murid energinya rendah saat pagi hari (terutama pada remaja) dan lebih tinggi setelah makan siang. Tingginya level energi berhubungan dengan naiknya level perhatian. Guru harus mengambil kesempatan saat level energi sedang tinggi untuk mengajar materi yang lebih penting di saat tersebut.

13. Menyediakan ruang pribadi yang cukup untuk murid. Lebih banyak ruang pribadi mengurangi ketegangan pelajar.

14. Sediakan waktu saat akhir pelajaran untuk berpikir dan berdiskusi tentang topik yang dipelajari. Mengerti topik tidak harus langsung saat diajarkan, tapi bisa terjadi nanti. Memanfaatkan waktu dan pengulangan sangat penting pada lingkungan belajar.

Cara Mengatasi Bila Anak Berbohong

Bila kita perhatikan anak yang berusia pra sekolah tidak mau mengakui melakukan sesuatu yang jelas-jelas kita tahu telah dilakukannya, belum tentu dia bermaksud membohongi kita.

Berikut sejumlah hal yang membuat anak melakukan kebohongan.

1. Lupa

Anak-anak usia pra sekolah memiliki daya ingat yang pendek. Oleh karena itu, si kecil tidak mencoba untuk berbohong ketika Anda bertanya, kenapa dia bertengkar. Yang dia ingat hanyalah ia tadi telah berusaha merebut mainan dari temannya.

2. Harapan

Saat anak yang berusia pra sekolah berkeras mengatakan dia tidak memecahkan vas bunga Anda yang mahal, sebetulnya bukan maksud dia untuk mengingkari kenyataan. Masalahnya, dia sedang berharap hal tersebut tidak terjadi dan oleh karena itu dia meyakinkan dirinya, hal tersebut tidak ada hubungannya dengan dirinya.

3. Imajinasi yang aktif

Di usia ini anak-anak kaya dengan fantasi. Kreativitas mereka memuncak dan mereka berpikir, apa yang ada di dalam alam pikirannya memang betul. Lagipula, menurut mereka, setiap orang berpergian ke bulan menggunakan roket raksasa.

4. Tidak ingin dicela

Anak tahu, kok, kelakuannya yang buruk akan mengecewakan Anda. Nah, untuk menghindari murka Anda, mereka lebih memilih berbohong.

5. Ingin dikagumi

Mengarang cerita membuat anak Anda merasa dirinya penting. Saat dia menceritakan pada Anda bahwa dia berenang di kolam renang untuk orang dewasa, sebetulnya dia sangat ingin dipuji dan dikagumi. Dan hal ini bukan merupakan kebohongan yang disadari.

6. Minta perhatian

Anak merasa, bila dia mengarang cerita maka cara ini merupakan jurus jitu untuk mendapatkan respon dari Anda. Dia bahkan tidak memikirkan sisi negatifnya. Kebiasaan mengarang cerita akan berlangsung bila dia mendapatkan perhatian yang diinginkannya.

7. Penting & Hebat

Bila anak mengatakan dialah yang menyelamatkan pengasuhnya saat jatuh dari ayunan, sebetulnya dia mencoba menciptakan suatu situasi yang membuat dia merasa penting.

8. Menguji peraturan

Pada jam tidur siang, si kecil yang berusia 5 tahun berkeras ingin menonton tv, padahal dia tahu, di jam tidur siang, Anda tidak memperkenankannya menonton televisi. Mulailah dia merajuk sambil mengatakan, seharian itu belum menonton televisi dan Anda tahu dia berbohong. Hal ini wajar karena mereka merasa terkungkung dengan peraturan-peraturan yang diberikan oleh orangtuanya.

YANG HARUS DI LAKUKAN

1. Bersikap kenyang

Tampaknya berlawanan dengan apa yang ingin Anda lakukan (Jelas Anda tak ingin mendukung kebohongannya) namun cara terbaik untuk mengatasi keadaan ini adalah dengan mengambil langkah sesuai dengan keadaan yang terjadi.

Tapi Anda perlu mengingatkan diri sendiri, berbohong adalah merupakan bukti bahwa anak sedang belajar apa yang benar dan yang salah. Di sisi lain anak tengah belajar mengembangkan kesadaran dan pengertian yang jelas atas perbedaan antara fakta dan fiksi. Lagipula, bila dia merasa dia tidak berbuat salah, mengapa dia harus pusing-pusing menutupinya?

2. Cari tahu penyebabnya

Bila si kecil merupakan bualan untuk sesaat, mungkin dia ingin menikmati rasa kepuasaan sebagai manusia untuk merasa penting dan dihargai. Dalam hal ini, sebaiknya Anda tidak memberikan dukungan atas kebohongan-kebohongan yang dilakukannya dengan memberikan pujian atas usaha dan prestasinya.

3. Jangan menyalahkannya

Berikan komentar yang membuat mereka mengaku, bukan menyangkal.

4. Beri simpati

Bila dia secara diam-diam memakan coklat, dan tidak mau mengakuinya (sementara itu mulutnya penuh dengan coklat), tidak berarti dia jahat. Dia hanya berusaha mendapatkan fakta bahwa tidak semua yang diinginkannya merupakan miliknya.

5. Terapkan konsekuensi yang sesuai

Bila anak berusaha menyelamatkan dirinya, maka dia harus mendapatkan konsekuensi yang sesuai. Dengan cara ini dia akan belajar, berbohong tidak berguna tetapi justru merugikan dirinya sendiri.

6. Ajari pentingnya kejujuran

Anak mungkin tahu, berbohong itu tidak baik, tetapi belum tentu dia mengerti bahwa dampak moralnya adalah bahwa seseorang yang berbohong menjadi orang yang tidak dapat dipercaya. Anda dapat menanamkan kejujuran kepadanya melalui cerita- cerita.

7. Bersikap positif, bukan menghukum

Bila Anda berharap si kecil mau mengakui kesalahannya, jangan memberikan respon atas kejujurannya dengan meluapkan kemarahan Anda kepadanya. Soalnya jika memberi respon yang ekstrem, lain waktu dia tidak akan mengakui bahwa dia melakukan kesalahan.

Bila Anda memberikan hukuman atas kebohongannya, hal itu tidak akan memberikan efek seperti yang Anda harapkan. Anak-anak yang dihukum atas kebohongan-kebohongan kecil justru akan melakukan kebohongan-kebohongan yang lebih besar. Beri pujian terhadap anak yang mau mengakui kesalahannya. Dukungan positif akan lebih efektif dibandingkan dengan hukuman.

8. Yakinkan ia tetap dicintai

Bila anak tidak sengaja memecahkan lampu kamar tidurnya, dia pasti takut mengakuinya karena khawatir ibu tidak sayang lagi kepadanya. Jelaskan dan yakinkan lagi si kecil, ibu dan ayah tetap mencintainya walaupun dia telah melakukan sesuatu yang Anda harapkan tidak dia lakukan.

9. Tentukan parameter

Jelaskan pada anak bila dia ingin mengambil kue dari piring orang lain, misalnya, dia harus minta izin dari orang tersebut dengan menggunakan kata-kata yang sopan. Dengan memberikan batasan atau aturan yang jelas, hal ini merupakan hal yang positif yang dapat Anda lakukan untuk anak. [kompas]

Agar malu tidak menghambat potensi

Si kecil perlu dirangsang agar tak malu-malu tampil dan bersosialisasi. Namun ada malu yang memang diperlukan agar ia enggak jadi malu-maluin, lo.

"Aduh, kenapa, sih, Eli, kok, enggak seperti teman-temannya. Ia selalu menolak bila diminta bernyanyi di depan kelas? Bilangnya selalu, "Enggak mau. Malu! Persis kayak Bapaknya!" ujar seorang ibu.

Ada dua hal menarik yang bisa ditarik dari kasus di atas. Pertama, bahwa perasaan malu bersifat individualis. Misalnya, Eli bisa jadi selalu malu disuruh bernyanyi di depan kelas. Namun temannya, Fafa, bisa tampil cuek bernyanyi sambil berlenggang apa adanya. Hal kedua, kata ibunya sifat Eli yang pemalu persis seperti sifat bapaknya. Jadi apakah pemalu merupakan faktor genetik?

Ternyata belum ada jawaban pasti apakah pemalu merupakan sifat yang diturunkan atau tidak. Yang jelas, malu akan berbeda pada setiap orang, seperti halnya Eli dan Fafa karena sifatnya yang individualistis. Walaupun begitu, Hj. Fitriani F. Syahrul, Psi.MSi., yakin, faktor genetik sedikit banyak berperan menjadikan seseorang bersifat pemalu atau tidak. "Kalau orang tuanya berani, katakanlah jika dulu ia seorang aktivis, maka ada kecenderungan anaknya pun akan aktif dan berani. Sebaliknya, bila orang tuanya tak mau bergaul karena sifatnya yang pemalu, anaknya juga memiliki kecenderungan seperti itu."

Fitriani sangat menggarisbawahi kata "kecenderungan" yang berarti faktor genetik tidak berperan 100 persen karena masih ada pengaruh lain, yakni faktor lingkungan. "Anak yang memiliki kecenderungan pemalu akan menjadi benar-benar pemalu tatkala orang tuanya tak pernah merangsangnya untuk berani," tandasnya.

PEMAHAMAN DIRI

Teori mengatakan, perasaan malu sebenarnya muncul sebagai gambaran bahwa anak sudah mulai mengenal kelebihan dan kekurangan dirinya. Istilah psikologisnya self-understanding atau pemahaman mengenai diri sendiri yang dimulai pada usia sekitar 1 tahun 6 bulan. "Pada tahap self-understanding anak mulai tahu kalau rambutnya keriting dan berwarna hitam. Tubuhnya gendut dan hidungnya mancung, misalnya."

Mulai usia 3-4 tahun, seiring dengan cara berpikir anak yang mulai berkembang, ia pun sadar jika orang dapat menilai dirinya dengan cara tertentu. Apalagi bila ia sudah masuk "sekolah", anak makin banyak memperoleh feedback yang berkenaan dengan dirinya, seperti, "Ah, kalau aku pakai celana panjang jins banyak yang memuji."

Bahasa sederhananya, Saat menjelang usia 3 tahun, self-understanding mulai diembel-embeli tuntutan lingkungan. Alhasil, si kecil pun mulai penuh pertimbangan kala akan melakukan sesuatu; apakah perilaku tersebut akan diteruskan atau tidak. "Salah satu wujudnya bila tidak diteruskan adalah dengan kata-kata seperti, "Ah, enggak mau. Malu!" ujar Psikolog dari Lentera Insan, Depok, ini.

TIGA KATEGORI MALU

Perasaan malu disebut Fitriani terbagi ke dalam 3 kategori, yaitu malu bersosialisasi, malu menampilkan potensi, dan malu yang memang diperlukan. Nah, kasus Eli di atas berkaitan dengan malu dalam menampilkan potensi atau malu karena ia tidak berani menampilkan diri apa adanya. Penyebabnya, bisa jadi karena pembentukan konsep diri positifnya kurang didukung lingkungan. "Bila anak selalu disalahkan atau diberi label negatif maka ia akan tumbuh menjadi anak yang memiliki konsep diri negatif. Anak jadi cenderung pasif, malu-malu, sering menarik diri dan merasa selalu tidak mampu," kata ibu dua putra ini.

Awal pembentukan konsep diri (self-esteem), yaitu self-understanding yang sudah dibicarakan tadi. Bedanya, pada tahap self-understanding, anak hanya mengerti kalau "tubuh saya gendut". Selanjutnya bahwa gendut itu jelek atau baik, akan diketahuinya dari lingkungan. Lalu muncullah konsep diri. Orang tua yang sering berkata "Kamu, kan gendut jangan pakai baju model rempel dong, jelek!" merupakan pemicu konsep diri yang negatif. "O, ternyata saya gendut dan gendut itu jelek, toh."

Ketimbang self-understanding, lanjut Fitriani, self-esteem lebih mendarah daging atau akan jauh lebih masuk ke dalam pemikiran seseorang. Dalam konsep diri, anak tahu ada suatu label tertentu yang tercap pada dirinya. Tak heran, para psikolog maupun pendidik sangat mewanti-wanti orang tua agar tak sembrono melabel anak. Si kecil yang selalu malu bicara dengan orang lain, bisa jadi karena ia sering mendengar kata-kata seperti, "Kamu kalau bicara jangan terlalu cepat gitu. Kan, yang dengar jadi enggak ngerti. Tanggapan seperti, "Ah, kamu kalau nyanyi sember" juga bisa membuat anak malu bila harus melantunkan suara.

CARA MENGATASI

Jadi bagaimana agar si kecil tak malu-malu? Menurut Fitriani rasa malu sangat berkaitan dengan kepercayaan diri. "Kalau anak pede, dia enggak akan malu-malu. Disuruh tampil, ya, dia akan berani maju." Nah, semua ini bisa dibentuk. Berikut beberapa kiatnya:

* Sosialisasi

Menurut Fitriani, sebagai langkah awal, ciptakan kondisi agar si kecil sering bertemu orang lain. Lakukan sedini mungkin karena terlambat sedikit kekhawatiran bahwa anak jadi pemalu bisa terjadi. Kalau ini terjadi berarti anak masuk kategori malu dalam bersosialisasi. Kondisi ini bisa diperparah bila anak memang memiliki kecenderungan ke arah situ. Misalnya, karena ibu juga pemalu anak tidak diberi kesempatan bertemu orang lain. "Akhirnya, ia bisa menjadi pemalu beneran. Bahkan takut bila bertemu orang."

Jadi sekali lagi, perkenalkan sosialsisasi sejak dini. Bagi orang tua yang sibuk bekerja, Direktur Yayasan Insan Kamil ini menyarankan untuk memanfaatkan hari libur untuk merangsang sosialisasi si kecil. "Saat pergi kondangan, misalnya, tak ada salahnya anak dibawa. Dengan begitu ia jadi kenal keramaian. Ingatkan juga agar pengasuh jangan mengeram anak di rumah seharian. Sekali-kali ajak anak bertandang ke tempat-tempat umum seperti taman yang letaknya tak jauh dari rumah."

Kalau anak sudah telanjur jadi pemalu, masukkan ia ke taman bermain yang bisa mengeliminir sifat tersebut. Di sekolah anak bisa belajar dari teman-temannya. "O, ternyata Rafif berani bicara dengan teman­teman yang lain, kok." Interaksi natural yang terus menerus dapat membuka mata si kecil sehingga ia tertantang untuk melakukan sosialisasi. Dengan dukungan guru di sekolah yang tidak pernah mengekang dan mencemooh lama-lama makin tumbuhlah keberanian pada diri anak.

* Selalu berkata positif walau si kecil "salah".

Hindari menyalahkan anak serta merta dari awal walau pernyataannya kurang tepat. "Kalau anak salah memberi pernyataan bukan berarti dia bodoh. Iyakan saja dulu baru setelah itu beri penjelasan yang lebih tepat" saran Fitriani. Tanggapan yang sama juga berlaku pada pernyataan si kecil yang terdengar ekstrem. "Tuhan itu nakal, ya masak memberi petir kepada kita." - "Iya, sayang. Tapi petir itu juga ada gunanya, lo. Dengan mempelajari petir, manusia jadi tahu keadaan cuaca."

* Biarkan anak mengambil keputusan.

Terapkan prinsip ini dalam keseharian. Saat anak memilih warna baju yang norak tak perlu berkata "Aduh Dek, kamu, kan hitam jadi kalau pakai merah enggak cocok." Lebih bijaksana bila kita katakan, "Kayaknya baju yang putih lebih bagus, deh!" Toh, kalau ia bersiteguh dengan warna pilihannya, hargai saja.

Pada usia 3-4 tahun, anak mulai membentuk jati diri. Kepercayaan dirinya sedang tumbuh sehingga ia merasa dapat melakukan semua sendiri. Saat itu, mulailah egonya muncul. Ia tahu apa yang bisa dilakukan dan yang tidak, hingga akhirnya ia dapat membentuk suatu konsep diri yang utuh. Bila anak merasa dapat melakukan banyak hal, konsep dirinya akan positif. Sebaliknya, kalau ia sering diserang dengan berbagai hal negatif maka anak akan susah untuk percaya diri karena konsep dirinya negatif.

MALU YANG DIPERLUKAN

Satu hal lagi yang tak boleh terlewat adalah malu yang memang diperlukan. Memang tak ada rujukan dari maksud "yang diperlukan" ini. Ada orang yang nyaman saja mengenakan rok mini. Di lain pihak ada yang merasa malu jika pahanya terlihat. Yang jelas rasa malu ini perlu ditegakkan sejak dini, yaitu saat anak mulai dapat berbicara, sekitar usia 1-1,6 tahun. "Nak, kalau duduk enggak boleh sampai kelihatan celana dalamnya. Malu," atau "Sehabis keluar dari kamar mandi, Adek harus pakai handuk. Kan, malu kalau dilihat orang."

Tentu saja, rasa malu ini tidak bisa diharapkan langsung tertanam pada diri si kecil karena butuh waktu. Jadi wajar saja, ujar Fitriani, bila perilaku anak terkadang tidak konsisten. Keluar kamar mandi terkadang bertelanjang bulat. Di kesempatan lain, ia bisa keluar dengan dililit handuk. "Namun kalau diingatkan terus maka pada usia 3-4 tahun biasanya kebiasaan yang kita inginkan sudah mulai terbentuk."

"SI TAK TAHU MALU"

Bagaimana cara mengatasi anak yang "tak tahu malu"? Setiap ada pertanyaan dari guru, ia tunjuk tangan terus. Atau kalau diminta melakukan atraksi ia mau melakukannya tanpa memberi kesempatan kepada yang lain. Menurut Fitriani, sebenarnya hal itu bukan suatu hal yang negatif, sebaliknya malah sesuatu yang positif. "Mungkin anak itu memang pintar. Bisa juga ia melakukan itu hanya untuk mencari perhatian walau enggak tahu jawabannya benar atau salah." Namun apa pun alasannya, tak malu tunjuk tangan atau melakukan atraksi merupakan hal yang positif karena menunjukkan keberanian si kecil. "Hanya saja ia perlu dikenalkan akan konsep bergiliran bahwa ada orang lain yang juga mesti diberi kesempatan. 'Tadi, kan Anca sudah. Sekarang giliran Toni, ya," contohnya.

Beberapa cara meningkatkan minat baca anak

Sumber: Ibu-ibu DI

Ibu, ini ada beberapa tips untuk meningkatkan minat baca anak:

1. Bacakan buku untuk anak setiap hari (jadikan kebiasaan).
2. Usahakan buku mudah dilihat dan dijangkau oleh anak
3. Ajak anak ke tempat yang ada di buku
4. Bacakan dengan ekspresi
5. Lakukan dengan kegiatan mendongeng.
6. Perkenalkan anak pada bacaan-bacaan yg ada di sekitar kita
7. Beri kesempatan mengarang
8. Libatkan seluruh anggota keluarga
9. Ajak anak bereksperimen
10. Mulai dengan orangtua membaca
11. Hargai buku, berikan sebagai hadiah
12. Lakukan dengan gembira [An]

Memang agak susah meningkatkan minat baca pada anak kalau orangtua tidak mulai dari diri sendiri. Tapi kebetulan ada satu cara menarik yang dipakai di sekolah untuk meningkatkan minat baca anak. Di sekolah ada yang namanya Reading Campaign. Anak-anak punya kesempatan 2-3X seminggu untuk pinjam buku dari library, biasanya sehari/dua hari setelah itu anak-anak akan ditanya isi buku yang mereka pinjam. Bentuknya bisa mereka yang diminta untuk mengulang cerita tersebut di depan kelas, ataupun menjawab pertanyaan dari guru seputar isi buku yang dibaca. Bagi yang bisa menjawab atau menceritakan dengan baik, bakal dapat "stamp" di bagian belakang buku harian anak yang memang disediakan untuk catatan buku yang sudah dibaca. Di akhir semester nanti ada pengumuman 10 anak pembaca buku terbanyak dan mereka akan dapat hadiah. Terbukti cara ini efektif sekali memancing minat baca anak-anak, semua jadi berlomba membaca utk mendapatkan sebuah "stamp".

"You may have tangible wealth untold : Cackets of jewels and coffers of gold Richer than I you can never be - I had a Mother who read to me - Strickland Gillilan – [DN]

Karena suksesnya program ini, kalau tahun yang lalu hanya diadakan sekali, tahun ini program akan secara berkesinambungan dilakukan sepanjang tahun. Dan bukan hanya buku-buku bahasa inggris yang 'disarankan' untuk dibaca, tapi juga buku-buku bahasa indonesia akan diperbanyak. DN, di kelas anakku malah ada hadiah tambahan yaitu berupa drink voucher kalau bisa mengumpulkan 20 stamps, kata anakku. Semangat sekali dia, setiap hari pulang dengan laporan : ma, today i got another another stamps, so I have .... stamps now. Padahal drink voucher itu murah sekali, tapi yang penting buat anak-anak adalah penghargaan terhadap usaha mereka. Bagus sekali, Aku juga jadi terpacu juga, tambah rajin membacakan cerita buat anak-anak tiap malam. Biar masih ada kerjaan, biar mata sudah rapat, biar anakku sudah bisa membacakan buat adiknya, aku tetap usahakan membacakan buat mereka [Stl]

Wah, di Jakarta rasanya sekolahnya bagus ya? Sekolah di Surabaya sepertinya belum terlalu menekankan pada minat baca anak. Aku sendiri kan punya toko buku dan mainan anak di rumah, tapi susah sekali kalau mau jual buku, yang laku selalu mainan. Kalau ditawari buku biasanya mamanya selalu bilang belum bisa baca, atau takut disobek, dan lain-lain. Pokoknya susah sekali kalau memasarkan buku. Paling-paling yang laku buku mewarna atau komik. Di Surabaya juga jarang ada pameran buku anak atau semacamnya. Padahal pengalamanku sendiri, buku bisa membuat anak lebih tenang, tidak rewel. Kalau aku lagi repot, biasanya anakku aku kasih buku, biar belum bisa baca tapi dia suka lihat gambarnya, dan itu sudah cukup untuk membuat dia sibuk [Crln]

TRIK SIAPKAN ANAK PANDAI MEMBACA

Tumbuhkan terlebih dahulu minat anak pada bacaan. Berikutnya, belajar membaca akan menjadi acara yang ditunggu si prasekolah.

Kini banyak sekolah dasar memberlakukan tes baca bagi anak-anak prasekolah yang mendaftar. Tes ini selalu menimbulkan pro-kontra karena dalam kenyataannya kesiapan membaca pada anak tidaklah sama. Dra. Evita E. Singgih-Salim M.Psi., mengatakan, ada anak yang sudah tertarik dan mau belajar membaca pada usia 3 tahun, tapi ada pula yang baru pada usia 6 tahun.

"Kesiapan yang berbeda-beda pada setiap anak, mengakibatkan orang tua atau guru tidak bisa memaksakan keinginan agar anak bisa membaca. Bila dipaksa, anak malah menarik diri dan malas untuk belajar," ungkap Evita di ruang kerjanya Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok.

Namun menurutnya, ada 2 tahapan besar yang bisa dimanfaatkan untuk mempersiapkan kemampuan membaca pada anak. Pertama pada saat bayi berusia 3 bulan, kedua pada saat anak berusia 2-4 tahun.

LANGKAH AWAL: RANGSANG KEMAMPUAN AUDIO-VISUALNYA

* Mengenal Bentuk Visual

Pada usia 3 bulan, persiapan membaca dapat dimulai dengan membangun kemampuan untuk membedakan dan mengingat aneka bentuk visual sebagai persiapan untuk mengenal aneka bentuk huruf. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengenalkan bayi pada aneka mainan berbentuk segitiga, segiempat, lingkaran, kubus, bola, kerucut, silinder, dan sebagainya.

* Bacakan Cerita

Untuk memupuk motivasi membaca lakukan dengan cara membacakan buku-buku cerita pada bayi. Tentunya diawali dengan buku-buku cerita yang sederhana dengan gambar-gambar yang indah dan penuh warna. Lewat kegiatan itu, anak dirangsang kepekaannya akan bunyi yang menjadi dasar bagi pengenalan bunyi huruf (fonem).

Bayi pun memahami bahwa ada kegiatan membaca yang sangat menyenangkan. Manfaat lain yang dapat diraih yakni bayi memperoleh kedekatan dan kenyamanan dari orang tua saat dibacakan cerita.

* Mengasah Kepekaan pada Bunyi

Ketika anak memasuki usia 2- 4 tahun, persiapan dapat dilakukan dengan cara mengasah kepekaannya akan bunyi. Hal ini memungkinkan anak untuk membedakan berbagai bunyi huruf atau fonem (vokal, konsonan, dan diftong). Misalnya beda bunyi "bu", "pa" dan "dong" sehingga lebih mudah baginya mengaitkan antara huruf dan bunyi. Disamping itu anak mulai menimbun kosakata dan ini sangat bermanfaat nanti saat belajar membaca.

Kata Evita, "Anak yang memiliki banyak kosakata dan paham artinya akan lebih mudah dalam belajar membaca, sebab awal dari kemampuan membaca adalah memahami makna suatu kata." Misalnya, akan lebih mudah bagi anak untuk belajar bahwa susunan huruf "m"-"a"-"c"-"a"-"n" berbunyi "macan" bila ia tahu apa itu macan.

Anak akan berusaha mencocokkan antara satu kata yang dibaca dengan artinya. Jadi, anak saat membaca tak sekadar membunyikan tapi juga mampu menangkap maknanya. Untuk memudahkan anak memahami makna kata-kata dalam bentuk tulisan, adanya gambar akan sangat membantu.

METODE MEMPERSIAPKAN MEMBACA

Setelah itu, saran Evita, ada beberapa cara yang lebih terfokus untuk mempersiapkan anak belajar membaca. Lakukan persiapan ini secara bertahap.

1. Tumbuhkan terlebih dahulu minat anak pada bacaan

Caranya, ceritakan pada anak tentang kehebatan buku. Bahwa dalam buku ada banyak hal yang dapat diketahui, dan bahwa buku mampu menjawab pertanyaan yang ia ajukan, dari asal-usul kilat sampai sejarah peniti.

Bacakan buku cerita yang menarik saat menjelang tidur. Dengan kegiatan ini anak menyadari bahwa kegiatan membaca itu menyenangkan. Bedakan antara kegiatan membaca dan mendongeng. Hendaknya pada saat membacakan buku, orang tua tidak mengubah-ubah kata yang tertulis di buku. Sambil

mendengarkan apa yang dibacakan orang tuanya, anak mulai berusaha mengenali berbagai huruf yang dirangkai menjadi kata, kata menjadi kalimat, dan seterusnya. Anak jadi tahu ada bunyi yang dihasilkan dari rangkaian bentuk di atas kertas dan ada arti dari rangkaian bunyi itu.

2. Amati kesiapan anak untuk belajar membaca

Umumnya anak yang telah siap akan kerap minta diajarkan membaca. Kesiapan ini dapat pula dilihat melalui respons anak saat ditawari belajar membaca. Bila responsnya sangat positif atau menggebu berarti anak telah siap. Namun, bila terlihat malas-malasan, itu pertanda anak belum siap.

3. Perkenalkan kegiatan membaca melalui bermain

Memperkenalkan aneka bentuk huruf, misalnya, lakukan dengan menciptakan suasana bermain yang menyenangkan. Umumnya dalam suasana bermain anak akan lebih mudah memahami materi yang disampaikan. Cara penyampaiannya dapat disesuaikan dengan minat anak. Misalnya, anak-anak yang menyukai binatang mulai dikenalkan pada kosakata dan tulisan dari jenis-jenis binatang. "c" untuk cacing, "d" untuk domba, "g" untuk gajah, dan sebagainya.

Bisa juga dengan mendongengkan cerita asal-usul huruf yang kita karang sendiri. Kemudian, sampaikan bahwa huruf itu kelak akan membentuk tulisan. Selanjutnya, tulisan itu bermanfaat sebagai alat komunikasi. Dari situ anak paham bahwa tulisan dibuat dengan maksud khusus.

Bentuk permainan lain yang tak kalah menarik adalah bermain ala detektif. Ajak anak untuk memecahkan kode-kode. Kode-kode itu berupa huruf-huruf. Lewat permainan ini, anak menjadi tertantang untuk mengenal huruf.

4. Kenalkan huruf kecil terlebih dulu

Selain itu, yang patut diperhatikan adalah bentuk huruf yang digunakan. Hindari menggunakan huruf besar semua, sebab anak terlebih dahulu mengamati kontur atau garis tulisan. Bila huruf besar semua maka kontur tulisannya akan membuat anak bingung. Beda halnya jika yang digunakan adalah huruf-huruf kecil. Jadi lebih baik untuk pertama kali kenalkan tulisan yang menggunakan huruf kecil saja.

FAKTOR PENDUKUNG

BILA anak telah merasa siap untuk belajar membaca, orang tua hendaknya menyediakan waktu dan fasilitas-fasilitas pendukungnya.

* Sediakan buku-buku menarik dan sederhana

Untuk pemula, menurut Evita sebaiknya dipilihkan buku-buku dengan kalimat-kalimat yang pendek, kata-kata yang sederhana, dan gambar-gambar yang menarik. Salah satu cara yang telah dilakukan Evita bagi putri bungsunya adalah dengan membuatkan buku tentang pribadi anak dan hal-hal yang diminati serta dikenal anak. Alhasil, putri bungsunya sudah mampu membaca saat usianya 3 tahun.

Evita mencontohkan, di halaman pertama ada gambar seorang anak perempuan. Tulisannya dibuat sederhana dengan warna-warna yang menarik. Bunyi tulisan itu, "Ada seorang anak perempuan bernama Dita dengan rambut hitam panjang bak sutera Cina." Pada halaman berikutnya, diceritakan ia memiliki 2 orang kakak. "Saat dibacakan Dita langsung bersemangat karena ia tahu itu tentang dirinya dan ia mengenal kata-kata yang tercantum," paparnya.

Anak memang lebih tertarik membaca (dan juga menulis) tentang hal-hal yang dekat dengan dirinya. Coba saja perhatikan, kata pertama yang bisa dibaca anak biasanya adalah namanya sendiri, lalu panggilan bagi kedua orang tuanya. Begitu juga saat ia mulai belajar menulis.

* Budayakan cinta buku di rumah

Yang tak kalah penting, hendaknya orang tua pun harus memiliki minat baca yang tinggi. Dengan demikian orang tua dapat menjadi model bagi anak-anaknya. "Anak yang melihat orang tuanya sering membaca, umumnya akan lebih mudah tertarik pada buku. 'Ibu membaca buku apa sih?' Ini sudah merupakan pertanda anak berminat pada buku. Selanjutnya, tugas orang tua adalah memberikan fasilitas untuk mengembangkan minat tersebut," harap Evita.

Intinya, budayakan cinta buku dan membaca di rumah untuk seluruh anggota keluarga. Dampaknya, anak jadi lebih cepat siap belajar membaca.
(tabloid-nakita)

Trik cerdik jawab pertanyaan anak

Respons positif orangtua atas pertanyaan si kecil sangat membantu proses berpikir dan tingkat pemahamannya.

"Bu, mengapa burung bisa terbang? Kok pohon berbuah sih? Apa nama kendaraan beroda tiga itu?" Duh, si prasekolah terkadang bikin mumet dengan berbagai pertanyaannya yang tak kenal waktu. Kalau sudah kehabisan akal, tak jarang orangtua berujar, "Aduh Kakak bawel amat sih!" Atau pertanyaannya yang dianggap sepele atau tak logis ditanggapi dengan jawaban asal-asalan. "Pohon berbuah? Ya...memang dari sononya begitu. Sudah, ah, Papa mau baca koran lagi!"

Tentu respons orangtua yang asal-asalan amat tidak disarankan. Paling bijak tanggapi apa pun pertanyaan anak, yang sepele sekalipun, secara positif. Respons yang baik akan membantu proses berpikir dan pemahaman si prasekolah kelak. Juga tak masalah jika ia ternyata masih belum puas dengan jawaban yang diberikan lantas bertanya lagi, lagi, dan lagi. Orangtualah yang mesti siap menghadapi "gempuran" pertanyaan itu. Misalnya dengan lebih rajin membaca buku agar wawasan dan pengetahuan kita makin bertambah.

MENUNJUKKAN MINAT

Mengapa di usia prasekolah anak sangat gemar bertanya? Ada beberapa alasan yang menyertainya, antara lain:

* Menunjukkan minat. Ragam pertanyaan anak dapat menunjukkan minatnya pada peristiwa atau pemandangan di sekitarnya. Contoh, si prasekolah bertanya, "Mengapa ayam yang tadinya satu bisa bertambah jadi tiga?" atau "Ada berapa banyak mobil yang sedang parkir itu?" Pertanyaan-pertanyaan seperti ini merupakan pertanda anak memiliki minat di bidang matematika/logika.

* Belum paham. Keingintahuan yang belum terpenuhi akan membuat anak terus bertanya sampai ia mendapatkan titik terang. Kalau orangtua merasa sudah pernah menjawab tapi anak tetap melontarkan pertanyaan yang sama, jangan-jangan ia belum memahami penjelasan yang diberikan.

* Cari perhatian. Kalau si kecil selalu mengajukan pertanyaan yang sama, padahal orangtua juga sudah berkali-kali menjelaskan, bisa jadi ia sedang caper alias cari perhatian. Segera cari penyebabnya. Mungkin lantaran si kecil merasa diabaikan karena orangtua tidak menemaninya bermain, orangtua kelewat sibuk dengan pekerjaan, atau ia merasa dibedakan dengan kakak atau adiknya. Agar terus mendapat perhatian dari ayah dan ibunya, si kecil terus menanyakan hal yang sama. Cara ini pun kerap dipakai oleh anak anak yang sebetulnya tidak kurang perhatian. Namun, ketika perhatian untuknya teralihkan, anak berusaha mendapatkannya kembali dengan berbagai cara, termasuk banyak bertanya. Oleh karena itu, lakukan kontak mata saat berkomunikasi agar anak merasa tetap diperhatikan dan dihargai.

KIAT MENJAWAB

Si kecil sebenarnya tak begitu membutuhkan jawaban panjang lebar, apalagi dengan bahasa yang kurang "membumi" karena masih terlalu abstrak di telinga anak. Agar si prasekolah bisa langsung paham jawaban Anda, berikut kiatnya:

3 Hindari penjelasan yang berbelit-belit. Yang dibutuhkan si kecil adalah jawaban dan penjelasan sederhana dengan bahasa yang sesuai kemampuan berpikirnya.

3 Jika masih ragu-ragu dengan jawaban yang akan diberikan, jangan bersikap "sok tahu". Alih-alih mendapat jawaban yang tepat, anak justru menelan informasi yang ternyata salah. Singkat kata, orangtua harus jujur atau terus terang kalau tak bisa menjawab.

3 Ajak anak untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya yang sulit. Misalnya, dengan mengajak anak membuka ensiklopedia atau mencari orang yang kira-kira bisa menjawab pertanyaannya. "Yuk kita tanya kakek, mungkin beliau tahu." Atau, "Bagaimana kalau kita besok tanyakan kepada ibu guru. Siapa tahu ibu guru bisa jawab." Kelak si kecil juga belajar bahwa jika mendapati masalah maka dia akan mencari orang yang bisa membantunya memecahkan masalah yang dihadapi atau membacanya dari berbagai buku/literatur.

3 Ajak anak belajar menganalisis hubungan sebab-akibat. Misalnya, ketika anak bertanya, "Ma, kenapa orang naik kuda? Kenapa enggak jalan kaki saja kan punya kaki." Cobalah memancing daya analisis si kecil dengan balik bertanya, "Coba menurut kamu lebih cepat mana orang sampai ke tujuannya, apakah naik kuda atau jalan kaki?" Upaya membalikkan pertanyaan juga merangsang anak untuk menemukan sendiri jawabannya. "Ayo, menurut Kakak kenapa orang naik kuda?".

3 Untuk menjawab pertanyaan "mengapa" sebaiknya orangtua jangan langsung menjawab. Biarkan dia berpikir mencari jawabannya. Maklumi jika jawabannya masih sangat sederhana karena memang kemampuan berpikirnya masih terbatas. Dalam hal ini, orangtua berperan menambahkan atau menjelaskan sesuatu lebih jelas lagi agar pengetahuan dan wawasan si kecil makin bertambah. Misalnya, "Kenapa burung bisa terbang? Karena punya sayap. Nah, burung-burung yang kamu lihat itu terbang untuk mencari makanan yang ada di pohon-pohon dan juga di tanah. Burung membuat sarangnya di pohon, lo."

SI PENDIAM

Tak semua anak usia prasekolah banyak melontarkan pertanyaan. Beberapa di antaranya lebih memilih banyak diam. Kalau ditelusuri ada beberapa hal yang melatarbelakangi perilaku seperti itu:

* Pendiam. Anak tak suka bertanya karena memang ia tipe pendiam; tak terbiasa mengemukakan isi pikirannya dan apa saja yang diinginkannya. Mungkin juga karena kedua orangtuanya pendiam dan jarang mengajaknya berkomunikasi atau berdialog. Harap diingat, anak adalah peniru ulung. Jikalau orangtua tak banyak bicara, anak pun bisa setali tiga uang.

* Kemampuan terbatas. Dengan kata lain, perkembangan si kecil mengalami keterlambatan sehingga kemampuan bicaranya juga terlambat.

* Dianggap sepele dan dimarahi. Orangtua yang tak pernah memberikan kesempatan kepada si kecil untuk banyak bertanya dapat menyebabkan anak jadi lebih memilih diam. Misalnya, setiap pertanyaan anak tak pernah dijawab. Entah karena dianggap sepele atau pertanyaannya sulit dijawab. Misalnya, "Aduh, Papa lagi sibuk nih, tanya-tanya terus sih. Sana main di luar." Atau misalnya, si anak malah disuruh tanya pada ibunya. "Tanya saja sama ibu. Ayah masih kerja enggak boleh diganggu!"

Akibatnya, anak bingung tak punya tempat bertanya. Minatnya untuk bertanya pun pupus di tengah jalan. Dia beranggapan untuk apa bertanya bila malah dimarahi. Di sekolah pun dia jadi jarang bertanya. Anak tumbuh menjadi pribadi yang pasif dan tak percaya diri. Kalau bertanya takut disalahkan atau khawatir ditertawakan. Dampak lebih jauh, kemampuan berpikir dan daya nalar si kecil jadi tak berkembang optimal. Sayang, bukan?

PERTANDA KRITIS, CERDAS, DAN KREATIF?

Konon, anak yang banyak bertanya menandakan kalau ia kritis, cerdas, dan kreatif. Memang hal itu tidak secara langsung berkaitan. Sebagai ilustrasi, anak yang kritis, cerdas, ataupun kreatif umumnya mempertanyakan sesuatu yang butuh jawaban panjang lebar. Misalnya, pertanyaan yang dimulai dengan "mengapa". Akan tetapi perlu diingat pula bahwa indikator kritis, cerdas, ataupun kreatif tak cuma dapat dinilai dari satu aspek itu saja. Ada berbagai hal lain yang patut dijadikan pertimbangan dalam mengategorikan seorang anak cerdas, kritis, atau kreatif. Yang pasti, setiap anak memiliki kecerdasan majemuk. Kecerdasan mana yang paling menonjol tentu masing-masing berbeda.

UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Anak-anak berkebutuhan khusus, misalnya autis, ADHD, down syndrome dan sebagainya juga terkadang menanyakan sesuatu. Namun, tidak mengarah pada pertanyaan yang bersifat sebab-akibat, tapi lebih pada pertanyaan "apa" atau "di mana". Selain itu, anak berkebutuhan khusus sering mengulang pertanyaan yang sebenarnya sudah pernah dijawab. Adakalanya anak-anak ini pasif atau tidak mengajukan pertanyaan apa pun. Untuk itu, orangtua dan terapis biasanya mendorong anak tersebut untuk bertanya. Misalnya, "Tumben diantar sama papa? Mama ke mana?" Kemudian, anak-anak ini juga dilatih untuk bisa menjawab tidak sekadar bertanya. Memang membutuhkan kesabaran yang lebih dalam menghadapi anak berkebutuhan khusus.tabloid-nakita