Hadiah untuk Guru
Tanya
Sebentar lagi kan kenaikan kelas, rencananya aku mau memberi sesuatu ke ibu gurunya anakku di play group. Mohon info, kira-kira hadiah apa yang pantas ya?
Jawab
- Karena kebetulan guru anakku berjilbab, aku beri bahan baju muslim. Atau bisa juga bahan bagus yang tidak terlalu mahal
- Aksesoris baju, bros, scarf, atau jepit rambut (kalau gurunya berambut panjang). Banyak sekarang aksesoris seperti itu yang bagus2 dan tidak mahal.
- Lilin cantik, sabun cantik, atau hiasan-hiasan rumah lainnya
- Kupon (voucher) belanja mungkin lebih baik daripada kado karena mungkin mereka menerima banyak yang sama, seperti kupon restoran, kupon salon, kupon toko buku
- Atau kumpulkan bersama orang-orang tua yang lain, sehingga bisa membelikan hadiah yang agak mahal sekalian, seperti perhiasan emas.
- Handycraft seperti pigura atau hiasan meja
- Kitchen ware seperti piring, mangkok saji, vas
- Satu set taplak meja unutk guru yang sudah berkeluarga
Manfaat Berkemah Bagi Kecerdasan Natural Anak
Memberikan izin kepada anak untuk berkemah memang tidak mudah. Terutama bagi orangtua yang tidak biasa melepaskan anak bermalam di suatu tempat yang baru dan bersama pihak lain. Kondisi seperti ini akan cenderung membuat orangtua ingin melarang anak agar tidak jadi ikut berkemah. Sebab, membiarkan anak pergi berkemah boleh jadi akan membuat perasaan orangtua menjadi terasa sangat tersiksa. Bayangan-bayangan negatif yang mungkin terjadi pada diri anak selama di perkemahan akan terasa sulit sekali untuk dihapuskan.
Menyikapi hal di atas, sebagai upaya untuk menghindarkan perasaan khawatir yang berlebihan maka orangtua seyogyanya meyakinkan terlebih dahulu bahwa anak akan mengikuti acara berkemah bersama orang-orang yang dapat dipercaya dan di lokasi yang tidak membahayakan (aman). Bila semuanya sudah jelas, janganlah orangtua lupa untuk memberikan penjelasan kepada anak tentang apa saja yang harus dilakukan apabila ia mendapatkan kendala saat berkemah. Selain itu, pesankan kepada anak dengan cara yang bijak agar ia selalu menjaga diri dengan baik.
Sejatinya, banyak nilai positif yang dapat diambil oleh anak melalui berkemah ini. Beberapa di antaranya adalah mengajarkan anak bagaimana bertahan hidup, belajar bekerja sama dengan orang lain bila ia membutuhkan bantuan, belajar bagaimana cara membuat tempat untuk beristirahat yang nyaman dan aman. Selain itu, berkemah juga baik untuk merangsang kecerdasan natural (naturalist intelligence) anak. Sebab, membiarkan anak berada di ruang terbuka dapat mendorong anak mengetahui banyak informasi dan pengetahuan tentang bentuk-bentuk alam yang ada di sekitarnya ( dr. Maya & Wido, 2006). (yer)
Sumber : perkembangananak.com
Hukuman Tepat untuk si Kecil
Kebanyakan dari kita tidak suka menghukum anak. Di lain pihak, kalau sudah letih, dan anak terus rewel atau membandel, godaan untuk menjewer, berteriak keras (lengkap dengan segala umpatan yang terlintas di kepala) atau, ya Tuhan, menempeleng, rasanya sukar ditahan. Memang, menghukum itu ada seninya.
Anda harus tahu, menghukum dengan cara yang salah, bisa berdampak besar pada Anak. Hukuman fisik tidak dapat dibenarkan sama sekali.
Mempertimbangkan akibat
Hukuman fisik membuat anak seperti orang tak berdaya, yang tak bisa berkata tidak dan wajib patuh. Jika kita pukul si kecil, misalnya, kita seperti menjatuhkan harga dirinya. Letupan emosi kita yang sesaat ini bisa berdampak panjang. Tindakan itu sangat bertolak belakang dengan tujuan kita mendidiknya, agar ia punya dasar hidup yang kuat untuk mandiri dan punya rasa percaya diri.
Disamping itu, bila anak kita pukul, ia akan kehilangan kepercayaannya kepada kita. Padahal, selama ini ia memandang kita sebagai orang yang selalu melindungi. Bayangkan, bagaimana perasaannya jika selama ini dia selalu kita libatkan dalam diskusi tentang berbagai hal, tapi ketika ia tidak menurut, tangan kita melayang ke tubuhnya.
Hukuman fisik bisa membuat si kecil terluka secara fisik, takut, marah, dan menjaga jarak dengan kita. Dengan semua perasaan itu, bukan tidak mungkin, si kecil malah jadi tukang melawan dan bertindak agresif karena tidak dapat menerima perlakuan kita.
Hukuman alternatif
Kalau anak bertingkah keterlaluan, hukuman tentu tetap perlu diberikan. Ada berbagai bentuk hukuman alternatif, sebagai berikut:
* Meninggalkan anak untuk sementara waktu.
* Tidak memperbolehkannya melakukan hal-hal yang diinginkannya.
* Meminta dia tinggal di kamar selama beberapa lama. Cara ini cocok bagi anak usia di atas tiga tahun, yang sudah bisa menerima hukuman sebagai konsekuensi perbuatannya.
* Bagi si dua tahun yang tengah memasuki usia pemberontak, ada cara tersendiri. Cara terlazim ialah dengan membiarkan dia hingga tenang, jika misalnya ia ia tak mau diam dan meronta-ronta. Setelah ia tenang, berikanpujian dan biarkan ia mendapatkan apa yang diinginkannya.
* Menggunakan kata-kata. Sampaikan dengan tegas, singkat dan padat kekecewaan Anda padanya. Jangan mengulang-ulang kata-kata Anda. Begitu keberatan Anda sampaikan dan si kecil menerima dan menunjukkan penyesalan, konflik perlu segera diakhiri agar hubungan Anda dan anak kembali manis.
Eleonora Bergita
Ajarkan Sikap Toleransi dan Pemaaf pada Anak
Sikap toleran dan pemaaf merupakan salah satu kunci sukses bagi anak untuk dapat menjalin hubungan dengan orang lain. Toleransi merupakan awal dari sikap menerima bahwa perbedaan bukanlah suatu hal yang salah. Justru, perbedaan harus dihargai dan dimengerti sebagai ‘kekayaan’. Sikap toleran juga akan mengarahkan anak kepada sikap baik, yaitu pemaaf.
Perilaku toleran dapat dicontohkan orangtua dengan saling memberi kesempatan berbicara dan menyatakan pendapat atau saling memaafkan. Jika anda tidak senang didebat dan mau menang sendiri akan menjadi contoh buruk bagi anak anda. Ucapan dan kata yang sering didengar anak akan membekas dalam ingatannya. Saat memarahi anak, usahakan jangan mengeluarkan kata-kata yang tidak baik.
Seleksilah media dengan seksama seperti bacaan serta tontonan anak agar hal-hal yang kurang baik dapat dihindari. Pilihkan bacaan atau tontonan yang memberikan contoh bagus tentang sikap toleran dan pemaaf. Setiap kali ada contoh menarik, tanyakan bagaimana pendapatnya dan ungkapkan pula pendapat anda. Seperti memuji sikap tokoh kartun yang menerima pendapat temannya. Jika hal tersebut dilakukan secara rutin, anak memperoleh kepastian dan merasa mantap tentang apa yang harus ia lakukan.
Sebaiknya anda juga harus belajar menghargai pendapat anak serta meminta maaf jika anda melakukan kesalahan. [perempuan]
Autisme karena Faktor Genetik?
Baru-baru ini tim ahli genetika yang dipimpin oleh Aravinda Chakravarti dari Johns Hopkins University School of Medicine, Baltimore, Amerika Serikat, memulai penelitian terhadap keluarga yang memiliki anak-anak autis. Tak hanya hipotesanya yang menarik, pemanfaatan teknologi digital canggih untuk menganalisis DNA anggota-anggota keluarga dari penyandang autisme membuat semua pihak tak sabar menantikan hasilnya.
Tim peneliti yang meliputi para pakar dari Johns Hopkins University dan University of Chicago ini melibatkan 465 keluarga yang juga mencakup 979 individu penyandang autisme. Tim ini memperoleh dukungan dana 3 juta dolar AS dari National Institute of Mental Health.
Teknologi digital
Autisme adalah gangguan psikiatri yang ditandai adanya masalah komunikasi dan interaksi sosial, serta perilaku yang tidak normal. Misalnya, gerakan salah satu anggota tubuh yang berulang-ulang. Diperkirakan, satu dari 500 anak menderita gangguan autisme.
Selama ini, faktor lingkungan dituding sebagai biang keladi pemicu autisme. Tapi, sejak lama para ahli mencurigai adanya faktor genetik yang menjadi biang keladi. Nah, salah satu teori genetika yang cukup berkembang selama ini adalah terdapatnya copy beberapa gen dan kromosom ekstra yang berperan memicu munculnya autisme dalam sebuah keluarga.
Dengan bantuan sebuah alat teknologi canggih digital yang dikembangkan oleh Victor Velculescu , yang juga anggota tim, diharapkan dapat mengungkap rahasia genetik di balik autisme. Dengan alat tersebut, tim akan membandingkan DNA dari anggota-anggota keluarga yang sehat dan yang menyandang autisme.
Copy DNA yang hilang dan bertambah
Setiap manusia memiliki dua copy (duplikat yang identik) dari setiap gen. Tetapi kadang-kadang ada gen yang “dihapus”, dan ada pula gen yang “ditambahkan” secara alami. Selama ini, para peneliti telah memusatkan perhatian untuk menemukan perubahan kromosom dalam gejala autisme. “Sayangnya, belum ada temuan yang secara konsisten memandu kami ke sebuah titik terang,“ jelas Chakravarti.
Apabila tim ini berhasil menemukan copy gen ekstra pada para penyadang autisme, maka mereka akan memastikan, apakah penambahan copy gen merupakan faktor yang memberi kontribusi pada munculnya gangguan tersebut atau tidak.
“Saya hendak menggarisbawahi bahwa faktor lingkungan yang berpotensi memicu autisme jumlahnya tak terhingga ( infinite ). Jadi, tentu saja sulit mengidentifikasi faktor lingkungan yang mungkin berinteraksi dengan gen untuk memicu munculnya autisme,” jelas Chakravarti. Ini memang tantangan para peneliti, karena jika kita berbicara tentang genom (semua DNA yang terkandung dalam sebuah organisme atau sel) manusia yang begitu besar, maka sifatnya sangat terbatas.
Tujuan lain dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor genetik yang bertanggung jawab atas cakupan gejala autisme yang cukup luas yang dikenal sebagai sebuah spektrum. Sebab, ada penyandang yang hanya menderita gangguan komunikasi tetapi ada juga yang ekstrem, ditandai dengan gerakan tubuh berulang-ulang. Hasil penelitian ini diharapkan juga dapat mengungkapkan penyakit-penyakit kompleks lainnya, terutama masalah di bidang psikiatri.
Andi Maerzyda A. D. Th.
Anak Malas Sekolah
Mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah adalah awal paling penting bagi anak-anak. Seperti aktivitas rutin yang dimulai dari bangun tidur, sarapan pagi, mempersiapkan buku, hingga berangkat sekolah.
Kegiatan rutin di pagi hari tersebut tidak akan menjadi beban bagi orangtua jika si anak menjalaninya dengan senang hati dan gembira. Sebaliknya, orangtua akan bingung jika tiba-tiba anak enggan bangun pagi, menolak sarapan, ataupun malas mengenakan seragam untuk sekolah.
Jika biasanya anak bersemangat bercerita tentang aktivitas di sekolah, tapi belakangan tiba-tiba sering melamun dan bermalas-malasan, seperti malas mengerjakan PR, belajar sampai-sampai malas berangkat ke sekolah, orangtua sebaiknya jangan langsung memarahi atau menghukum anak. Orangtua harus jeli dan bijak mencari penyebab anak berperilaku demikian. Sebab, jika tidak jeli, bisa saja anak akan semakin membenci sekolah dan bahkan trauma.
Seperti penelitian yang dilakukan seorang dokter anak dari Pediatric Medical Associates di Pennsylvania, Jeremy Lichtman MD yang mengungkap banyak hal penyebab anak tiba-tiba malas sekolah. Seperti alasan terlalu banyak tugas seperti pekerjaan rumah (PR) yang harus dikerjakan di rumah, lingkungan sekolah yang tidak nyaman, bahkan anak tidak percaya diri ketika berada di sekolah.
"PR memang tugas sekolah yang harus dikerjakan di rumah. Tetapi jika terlalu banyak, bisa-bisa membuat si kecil terbebani," kata Jeremy Lichtman.
Menurut Jeremy, orangtua harus aktif mengetahui tugas-tugas apa saja yang diberikan guru pada anak. Periksalah tenggang waktu penyerahan tugas yang ditentukan guru. Bantulah anak dalam mengerjakan PR, namun bukan berarti orangtua yang mengerjakannya.
"Biarkan si kecil yang mengerjakan sendiri PR-nya, tugas orangtua hanyalah membimbing dan mengoreksi apakah yang dikerjakannya sudah benar," tambah Jeremy.
Faktor lain yang perlu diwaspadai ketika anak malas berangkat ke sekolah adalah lingkungan sekolah yang tidak nyaman.
Dalam penelitian Jeremy, faktor itu biasanya disebabkan karena anak sering dijahili teman-temannya, bahkan bisa jadi dimintai uang.
"Kejadian seperti ini merupakan sesuatu yang sering didengar dan harus betul-betul diwaspadai orangtua agar anak tidak menjadi penakut atau bahkan trauma karenanya," ujar Jeremy.
Saat menghadapi hal seperti itu, Jeremy menyarankan agar orangtua segera mengambil tindakan. Tindakan itu bisa dengan menghubungi kepala sekolah dan ceritakan keluhan yang dihadapi si kecil saat sekolah. Mintalah kepala sekolah untuk menyelesaikannya dengan baik.
"Jika ternyata hal itu tidak juga bisa diatasi, jangan segan memindahkan anak ke sekolah yang bisa menjamin keamanan si kecil. Yang penting anak tidak menjadi korban," katanya lagi.
Penyebab lainnya, anak memiliki rasa rendah diri dan sulit bergaul dengan teman seusia. Hal itu membuat anak benar-benar tidak tertarik berangkat ke sekolah, karena di benaknya, sudah tertanam bahwa di sekolah dirinya tidak akan memiliki teman.
"Katakan pada anak bahwa dia sudah lebih beruntung dibandingkan dengan temantemannya yang cacat ataupun kurang mampu," tuturnya.
Penasihat dari Department of Counseling and Counseling Psychology, Auburn University Leah Davies, M Ed mengatakan, fobia sekolah atau dikenal juga Didaskaleinophobia adalah bentuk kecemasan yang tinggi terhadap sekolah yang biasanya disertai berbagai keluhan yang tidak pernah muncul atau hilang ketika berangkat sekolah sudah lewat atau pada hari libur.
"Anak yang mengalami fobia sekolah biasanya merasakan tidak aman, sensitif, dan sering kali tidak tahu bagaimana harus menghadapi emosi yang mereka rasakan," ujar Leah menulis di berbagai jurnal pendidikan di Amerika Serikat.
Dia menuturkan, fobia sekolah dapat dialami oleh setiap anak hingga usia 14-15 tahun, saat mulai bersekolah di sekolah baru atau menghadapi lingkungan baru. Atau, ketika menghadapi suatu pengalaman yang tidak menyenangkan di sekolahnya.