Kurikulum Playgroup

Sumber: ibu ibu DI

Tanya

Aku mau curhat masalah pendidikan anakku. Anakku sekarang lagi di PGS (Play Group Senior) TK Katolik di Cisalak, memang aku udah denger lama & liat langsung lulusan TK / SD disitu pasti diterima di SD / SMP Katolik Jakarta yang favorit. Tapi pertimbangan kita pertama kali masukin ke situ karena deket aja biar anakkutidak capek. Dengan berjalannya waktu dan mulai tahun ajaran 2002/2003 kemaren sistemnya balik lagi ke semester. alamak pelajaran PG udah kayak gitu, aku kasihan sama anakku. Apalagi kemaren aku dapat Buku Penghubung yang isinya Target Semester II. Aku jadi tambah bingung & sedih, anak umur segitu udah harus bisa semua.

Ini aku tulis disini juga target semester II PG di TKK Perboen...

Bahasa:
* mengenal & menulis huruf C s/d O
* mengenal & menulis huruf vokal (A, I, U, E, O)

Daya Pikir
* mengenal & menulis angka 3 s/d 10
* mengenal & menghitung jumlah benda

PR setiap Senin & Kamis

Sedangkan semester I kemaren itu udah nulis huruf sampai D, lalu angka sampai 4. PR tiap Rabu. Anakku sekolah enjoy aja, pokoknya semangat, kalau badan dia sehat pasti harus sekolah. Sekolahnya Senin - Jumat jam 8.00 - 10.30. Kemaren pertengahan Desember ambil raport semester memang tidak ditulis rangkingnya di buku raport tapi kita ortu dikasih tau, yang rangking 1 - 3 ditulis di papan. Malah ada beberapa ortu yang udah ngelesin anaknya di guru yang ex pernah ngajar di Perboen. Aku sich tidak pengaruh krn anakku masih kecil. Tapi kalau liat target semester ini & waktu kita, ortu, kadang pulang sampai rumah paling telat aku jam 19.00, itu juga tidak pernah nemenin dia bikin PR selalu eyang utinya, aku bingung moms. Tolong ya, apapun pendapat moms aku akan pertimbangkan buat bikin hati ayem. Thanks. (Im)

Jawab

Aku mau share pengalaman pribadi aja dan pengetahuanku mengenai perkembangan anak usia 0-6 th, mungkin bisa jadi bahan pertimbangan. Kalau menurut pendapat para ahli, umur 0-6th memang usia paling penting untuk meletakkan dasar² yang kuat pada seorang anak. Karena perkembangan otak mereka paling tajam pada usia segitu (50% org dewasa). Tapi jangan lupa juga bahwa dunia mereka adalah bermain. Belajarpun harus dibuat sedemikian rupa supaya menjadi suatu permainan yang menyenangkan untuk anak. Kenapa sekolah sekarang menerapkan target seperti itu, karena kalau dihitung², waktu anak di sekolah itu pendek sekali sementara kurikulum yang ditetapkan begitu padat, belum lagi jumlah anak di kelas yang begitu banyak sementara gurunya hanya satu. Bayangkan pula, berapa orang yang harus mendapat perhatian khusus. Kalau aku sendiri sekolah buat anakku yang terutama adalah di rumah. Karena menurut aku pribadi, tugas ibu yang utama adalah nomer satu anak (no excuse pekerjaan, sorry agak extrem), orangtua adalah guru yang pertama dan utama bagi mereka. Kenapa aku bilang "no excuse", karena sebenarnya "belajar" (bermain) dg anak itu tidak membutuhkan waktu berjam² seperti kita belajar, spend at least 5 minutes a day continually.

Karena kondisi otak anak yang sudah 50% orang dewasa spt aku katakan diatas, jadi mereka mampu menyerap dg cepat. Jadi tugas ortu untuk meramu target sekolah itu menjadi suatu permainan yang menyenangkan dirumah. Klo aku prinsipnya, mendingan susah sekarang karena masih kecil dan lucu daripada nanti begitu masuk SD, pelajaran sudah semakin banyak dan anak juga sudah punya mau sendiri. Sedangkan pengalamanku dg anakku, meskipun tdk ada pr dari sekolah aku biasakan dia punya tugas dari aku. Misalnya, nulis lima kata sehari, lain hari aku kasih soal matematika 5 nomer. Dan aku kasih reward yang bisa dikumpulkan dan ditukar hadiah pas week end. Sementara, aku gak terlalu sulit mengenalkan huruf krn dari pertama aku sudah pake metode Glen Doman yang mengajar bayi membaca (mungkin Ima sudah baca postinganku sebelumnya mengenai ini). Bahkan sekarang membaca kata² yang panjang pake awalan, akhiran dan sisipan juga dia sudah bisa. Sorry, ini bukan mau pamer or what. Tapi bener² memang seharusnya kita yang harus berusaha. Kalau tidak nanti masuk kelas satu belum bisa baca, bisa ketinggalan pelajaran kan. Dan menurut aku, klo kita pake metode yang tepat, tidak ada tuh sebetulnya takut anaknya bebannya terlalu berat atau apa. Karena ya itu, rasa keingintahuan mereka itu masih besar sekali. Klo menurut aku, anak yang tdk suka sekolah atau susah klo sekolah, itu krn mungkin, gurunya tdk menarik buat mereka (tdk dpt memenuhi rasa ingin tahu mereka) dan ortu tdk membiasakan bahwa belajar itu merupakan permainan yang menyenangkan, bukan karena anaknya overload. Sedikit cerita waktu ngambil raport anakku kemarin, ada ibu² yang panik dan tanya "anaknya udah bisa baca belum bu"?, ya dengan bangga aku jawab "sudah". "Aduh gimana ya anak saya belum bisa baca, dia malas, saya jadi malas ngajarinnya". Gimana anaknya mau bisa, kalau mamanya aja males. Atau ada yang lain lagi, saking paniknya anaknya di-lesin baca dan tulis. (Ir)

Soalnya aku rada cerewet untuk urusan beginian, sampai aku pernah debat sama ketua Yayasan tempat anakku sekolah, yang ngejelasin bahwa di situ anak akan bisa apa aja, tergantung pada kita maunya jadi apa. Ini target ketua yayasannya atau target muridnya. Sekolah bisa mengarahkan mau bisa bhs inggris, lancar baca tulis, sempoa, tari dll..dll.., setelah lulus TK. Ini untuk yang setelah lulus TK, bukan PG. Makanya kalau PG seperti ini aku akan bener-bener waspada, ngawasin anakku. daripada aku menyesal di kemudian hari. Kalau menurut aku
musti di urut bener-bener nih cara belajar mengajar, kesiapan mental anak, tingkat persaingan, bagaimana pengaruhnya terhadap psikologi anak, koordinasi sama semuanya yang sehari-hari ama anak (eyang, guru dll). Tapi aku takutnya karena target semester sekolah yang ketat jadi kurang perhatian terhadap pembelajaran yang lain seperti akhlak, sopan santun, pengenalan terhadap lingkungan, kemandirian, dll, yang menurut aku justru yang paling utama untuk di PG. Bukan pelajaran alam arti yang sebenernya. Disamping takut berefek jenuh bagi anak di kemudian hari. Mbak, kok sampai les segala, padahal kan masih kecil ya, lagian juga waktu sekolahnya juga udah lama ya , 5 jam 5 hari seminggu. Anakku cuma 2 jam 3x seminggu. Takutnya anak-anak itu belajar bersaing bukannya di mulai belajar sharing ya? (Al)

Dari situ aja kita udah bisa tau bahwa ini PG atau TK mesti mutunya bagus banget. Tidak hanya dari segi main-mainnya tapi juga dari segi pendidikannya. Itu pasti, kalau tidak gitu tidak mungkin bisa diterima di SD/SMP Katolik (atau swasta) favorit. Kalau menurut aku sekarang anak kan masih PG, walaupun di sekolahnya ada target yang harus dicapai untuk anak seusianya, sbg orang tua, aku akan membiarkan saja anakku belajar sesuai dengan kemampuannya. Tidak harus aku paksakan karena takutnya nanti malah anak stress. Tapi kalau si anak enjoy aja aku rasa tidak ada salahnya. Mungkin saja memang semangat belajar anak tinggi. Kalau masalah mbak tidak punya waktu buat anak untuk menemaninya belajar tentu itu adalah resiko ibu yang bekerja jadi tidak bisa dibikin apa² lagi. Tapi jangan lupa mbak masih punya waktu dihari sabtu dan minggu, bisa dimanfaatkan dengan menciptakan suasana bermain sambil belajar yang fun banget antara mbak, suami dan si kecil. Pasti akan kebayar mbak. Mbak sendirikan tidak terpengaruh dengan ortu lain yang khusus mengikut-sertakan anaknya les ini dan itu, itu udah bagus banget. Biarin segala sesuatunya mengalir seiring dg kemampuan anak bertumbuh. (Sn)

Kalau menurut aku, kurikulum sekolah tidak bisa diutak atik, yang kita bisa protes, cara guru ngajar dan menghadapi anak yang belum bisa ngikutin kurikulum itu, kalau di sekolah anakku, emang mirip gitu kurikulumnya waktu PG dulu, tapi yang penting, kalau si anak tidak mau ikut nulis, atau tidak bisa, ya tidak papa, si anaknya sendiri gimana? mau dan bisa ngikutin tidak? tapi terus terang aja, aku rencana tidak masukin anak keduaku ke sekolah anakku yg pertama karena itu, jadinya untuk PG anakku tetep di tempat english activity class nya yang sekedar bermain, biarin aja ntar belajar serius nya mulai di TK (Dn)

Kurikulum di sekolah waktu anakku PG gak begitu nyeremin. Tapi kalu aku inget² memang sejak PG anakku sudah diajar mengenal huruf besar dari kecil A-Z dan angak 0-10 juga bisa menuliskannya. Aku juga gak tahu kenapa, tapi perasaan sih caranya gak dipaksain ke anak, artinya gak pernah anakku ngeluh krn kebanyakan 'belajar' gitu, dan gak pernah ada PR. Barangkali krn anakku sekolah cukup lama, tiap hari senin-jumat 8.00 - 12.00 wkt masih PG, jadi gak perlu PR dan di sekolah waktu utk 'belajar baca tulis' nya banyak, jadi gak diburu², barangkali ya. Dan setahuku gak ada seorangpun anak di kelas anakku, bahkan sekarang (di TKA) yang udah ngeles ini itu kecuali musik, beladiri atau ngaji sih ada. Coba Mbak perhatiin gimana cara guru² tersebut mencapai target kurikulum mereka. Kalau kamu amati caranya sreg sama kamu, artinya fun dan gak menekan anak, barangkali kamu bisa lega. Tapi kalau caranya terlalu menekan anak, bikin anak unhappy, kamu perlu kasih 'solusi' sama guru²nya. (St)

Anakku sekolah di PG Katolik juga. Tapi kayaknya santai banget. Kayaknya tidak ada pelajaran menulis. Biasanya tiap minggu ada tema tersendiri, misalnya minggu ini tentang hewan. Minggu depan ttg.keluarga, minggu depan ttg. jenis² kendaraan. Jadi belajarnya ya itu doang, nama² hewan, kebiasaannya, pokoknya begitu² aja deh. Paling yang ada pelajarannya adalah agama. Itu pun sambil cerita. Di rapor tidak ada nilai apa², isinya cuma komentar guru ttg. Kemampuan anak, daya pikir, motorik, sosial, disiplin dllnya. Di bagian daya pikir, cuma diceritain kalau anak udah bisa/tidak mengingat warna, bentuk, nama hari, things like that. Di sekolah kalau tidak mewarnai, melipat, menempel, menggunting, menggambar ya begitu-begitu aja kok. Kaya' jamannya kita TK dulu, cuma sekarang 'maju' ke PG. Tetanggaku aku intip rapor anaknya yang TK-B, juga tidak ada nilai, hanya komentar², apa yang harus diperbaiki, dllnya. PR-nya juga kayaknya tidak ada, kalau ada juga tidak berat, soalnya tetanggaku tidak pernah ngeluh tuh, sejak TK-A terus ke TK-B. Tapi anak² TK-B itu udah pada bisa baca. Jadi kayaknya di sekolah anakku pengenalan huruf itu dimulai di TK-A. (Rn)

Anakku yang TKA aja baru belajar huruf, itupun belajarnya pake metode lagu. Jadi mereka belajar huruf sekaligus bunyinya melalui nyanyi, contohnya gini: Jellyfish, Jumping jeh jeh jeh jeh jeh jeh, Jeh is the sound of J. atau Orange, Octopus oh oh oh oh oh oh , Oh is the sound of O segitu aja yang aku ingat, tapi kalau anakku ingat dari A to Z. Lama-lama dia bisa juga tidak pake PR dan les-les an. Makanya aku bener-bener milih kalau urusan sekolah, aku tidak mau anakku dijejali sesuatu sebelum waktunya dan hal-hal yang tidak perlu.Seperti anakku, yang dipelajari di SD kelas satu ya, Bahasa (latihan menulis huruf cetak, huruf kecil, huruf sambung), Matematika sederhana, Art (menggambar, etc), Music Clasic (cuma nyanyi dan denger music clasic), Olahraga, Agama. Pokoknya tidak aneh-anehlah. (Dm)

Aku ngeri baca target semesterannya anak, ngebayangin aja, pastinya anak² yang seperti sulungku tidak akan mungkin diterima di situ, aku setuju sama Mbak Di menurutku, kalau memang anak menikmati sekolah regardless dia bisa menuhin target kurikulum atau tidak dan guru²nya juga tidak melupakan kebutuhan mendasar anak muridnya, yaitu sesuai nama tingkatan sekolahnya: main..main..main... kayanya tidak papa deh terus di sana... malah bagus kalau mbak bisa nularin pemikiran ke sesama orangtua untuk tidak pasang target, apalagi mengejar ranking. yang paling penting lagi menurutku mbak sendiri ngerasa ayem, tentrem & nyaman anak sekolah di sana karena biasanya orangtua kan punya 'feeling', dan jangan lupa disampaikan ke guru²nya, karena siapa tau mereka jadi lebih rileks, tidak ngoyo ngejar target kurikulum kalau tau dan yakin bahwa mereka didukung oleh orgtua muridnya. (Hn)

PG anakku juga mirip seperti sekolahnya anaknya mbak Ri juga pakai tema, tapi bulanan, misalnya bulan ini temanya pergi ke desa, dari mulai ngeliatin telur ayam diperemi induknya sampai netas, nanem sayur²an di kebun (dan dipanen lho.. utk dibawa pulang tiap murid, mandi di kali (sebenernya sih berenang, tapi dekorasi di kolam renangnya dibikin seperti di desa, masak tiwul lalu dimakan bareng², sampai naik delman keliling sekolahnya, aku bilang tidak terlalu santai kok mbak. tapi memang ternyata mereka belajar banyak, walau keliatannya tidak ada 'pelajaran'nya, sambil nyanyi, sambil rebutan sekop, antri cuci tangan, sambil ngeloyor ke sana sini memang tidak pernah diajari baca-tulis, perasaan nyanyi dan joget melulu kerjanya. Tapi ternyata jogetnya itu penuh makna, aspek verbal, musik, kelenturan tubuh, visual, interpersonal, motorik halus dll diusahakan seimbang tapi tentunya tiap anak penekanannya beda² untuk anak yang motorik halusnya udah lumayan kuat diasah aspek² lainnya, diajarin manjat, loncat. Jadi kalau penilaianku walaupun sistem pengajarannya klasikal, perhatian individualnya cukup intensif laporan perkembangan (raport), untuk tiap aspek itu dijabarin rinci dan dikasih liat "kemajuan" si anak. Jadi malu aku kalau inget waktu itu mengeluh ke gurunya karena anakku kalau yang lain lagi tekun denger cerita sibuk cerita sendiri (ngedalang) dalam bahasa planetnya, trus gurunya bilang gini "Ibu.. walaupun ini sesuatu yang sangat wajar dan manusiawi ayo kita liat si anak dari sudut pandang kemajuan dia sendiri dari belum bisa menjadi bisa, jangan pake anak lain jadi target, karena tiap anak beda bu, tiap anak istimewa!" malah gurunya yang bilang ke aku tidak papa kalau memang anakku belum siap masuk TK jangan dipaksain masuk cuma karena dari segi umur udah layak di TK (Hn)

Kalau anak-anak seperti anak kita tidak bisa diterima disitu, bukan karena mereka tidak bisa ngikutin pelajaran, tapi karena gurunya aja yang tidak sabar ngajarin anak-anak seperti anak-anak kita. Sekolah yang katanya favorit belum tentu cocok dengan anak kita. Pokoknya semua kembali ke kita, karena kita yang tau betul mana yang paling cocok dengan anak kita itu. Aku nyari sekolah anakku sampe kesana kemari, tes kesana kemari. Mulai dari sekolah yang bagus, sekolah khusus anak bermasalah, sampe sekolah yang mahal banget dan mau nerima anak-anak special ini, tapi begitu aku pelajari lagi rasanya tidak cocok buat anakku. Akhirnya aku ketemu satu sekolah yang baru buka, yang begitu ketemu sama gurunya langsung ada perasaan tenang. Terus lihat kurikulumnya juga OK, dan ternyata teman-temannya juga luar biasa, jadi kalaupun di kelas dia tidak bisa duduk diam tapi teman-teman dan gurunya tidak marah. Mudah-mudahan anakmu bisa ketemu sekolah yang cocok nantinya ya,kapan-kapan boleh ketemu sama anakku. (Dm)

Kalau boleh tahu dimana sekolahnya mbak Hn, Ri ? Yang kayak gini yang aku mau, tapi disekitar tempat tinggal ku kayaknya belum ada. Anakku di PG/TK deket kompleks Galaxy, Kalimalang. Biar kata sekolah Katolik, tidak se'serem' yang kukira. Ya itu lah, kerjaannya cuma begitu² aja. Pernah juga ada anak PG yang hiperaktif di tahun ajaran yang lalu. Sampai naik kelas ke TK-A masih suka kangen PG, dan 'kabur' dari kelas TK-nya, nyari guru PG-nya dulu. Tapi aku lihat sendiri, mereka tidak langsung 'hayo balik lagi sana ke kelasmu'... tapi dibiarin dulu kangen²an sebentar, terus dianterin lagi. Memang buat guru anak kecil aku pikir memang kita harus lihat betul² ya, apa mereka sabar atau tidak. Makanya aku tidak sekalian bayar sampai TK uang masuknya, meski lebih murah kalau paket begitu, tapi aku bayar UM playgroup aja. Mungkin, karena guru²nya juga udah 'mateng', sebab aku lihat mereka udah pada punya anak yang usianya kira² TK juga. Bukan bilang kalau guru yang. belum punya anak, atau masih muda tidak bagus. Tapi mungkin yang udah punya anak seumur begitu (atau lebih gede lagi) udah tau sendiri based on experiece sepanjang hari di rumahnya, emang anak umur segitu menanganinya perlu kesabaran ekstra. Waktu permulaan masuk sekolah, anakku yang sekelas berdelapan ditangani oleh 3 guru (yang. satunya kepsek) dan 1 suster. Biar kata kepseknya udah setengah baya, tetap aja ikut ngegendong anak² yang berontak 'takut sekolah'. Aku senengnya di situ, selain untuk sekolah, tidak ada kutipan macem², kecuali satu kali dalam satu semester bergantian ibu murid masak makanan untuk murid sekelas, itu juga sebenernya ada uang sih, dari sekolah ke kita, tapi karena pasti ala kadarnya, kita pasti nombok. Terus waktu Aksi Natal, ada pengumpulan sumbangan sukarela untuk Panti asuhan. Itu mah terserah mau sekilo gula putih juga boleh, mau sekarung beras juga silahkan. Bahkan perayan Natal sekolah juga ortu tidak dikutip apa² tuh. (Rn)

Mendidik Anak Agar Mandiri

Salah satu tugas orang tua adalah mendidik anak agar menjadi mandiri. Sikap mandiri sudah dapat dibiasakan sejak anak masih kecil: memakai pakaian sendiri, memasang tali sepatu, memakai kaos kaki dan berbagai pekerjaan kecil lainnya. Kedengarannya mudah, namun dalam prakteknya pembiasaan ini banyak hambatannya. Tidak jarang orang tua merasa tidak tega atau justru tidak sabar melihat si kecil yang berusaha menalikan sepatunya selama beberapa menit, namun belum juga memperlihatkan keberhasilan.

Atau langsung memberi segudang nasehat, lengkap dengan cara pemecahan yang harus dilakukan, ketika anak selesai menceritakan pertengkarannya dengan teman sebangku. Memang masalah yang dihadapi anak sehari-hari dapat dengan mudah diatasi dengan adanya campur tangan orang tua. Namun cara ini tentunya tidak akan membantu anak untuk menjadi mandiri. Ia akan terbiasa "lari" kepada orang tua apabila menghadapi persoalan, dengan perkataan lain ia terbiasa tergantung pada orang lain, untuk hal-hal yang kecil sekalipun.

Lalu upaya apa yang dapat dilakukan orang tua untuk membiasakan anak agar tidak cenderung menggantungkan diri pada seseorang, serta mampu mengambil keputusan? Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat Anda terapkan untuk melatih anak menjadi mandiri.

1. Beri kesempatan memilih
Anak yang terbiasa berhadapan dengan situasi atau hal-hal yang sudah ditentukan oleh orang lain, akan malas untuk melakukan pilihan sendiri. Sebaliknya bila ia terbiasa dihadapkan pada beberapa pilihan, ia akan terlatih untuk membuat keputusan sendiri bagi dirinya. Misalnya, sebelum menentukan menu di hari itu, ibu memberi beberapa alternatif masakan yang dapat dipilih anak untuk makan siangnya. Demikian pula dalam memilih pakaian yang akan dipakai untuk pergi ke pesta ulang tahun temannya, misalnya. Kebiasaan untuk membuat keputusan - keputusan sendiri dalam lingkup kecil sejak dini akan memudahkan untuk kelak menentukan serta memutuskan sendiri hal-hal dalam kehidupannya.

2. Hargailah usahanya
Hargailah sekecil apapun usaha yang diperlihatkan anak untuk mengatasi sendiri kesulitan yang ia hadapi. Orang tua biasanya tidak sabar menghadapi anak yang membutuhkan waktu lama untuk membuka sendiri kaleng permennya. Terutama bila saat itu ibu sedang sibuk di dapur, misalnya. Untuk itu sebaiknya otang tua memberi kesempatan padanya untuk mencoba dan tidak langsung turun tangan untuk membantu membukakannya. Jelaskan juga padanya bahwa untuk membuka kaleng akan lebih mudah kalau menggunakan ujung sendok, misalnya. Kesempatan yang anda berikan ini akan dirasakan anak sebagai penghargaan atas usahanya, sehingga akan mendorongnya untuk melakukan sendiri hal-hal kecil seperti itu.

3. Hindari banyak bertanya
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang tua , yang sebenarnya dimaksudkan untuk menunjukkan perhatian pada si anak, dapat diartikan sebagai sikap yang terlalu banyak mau tahu. Karena itu hindari kesan cerewet. Misalnya, anak yang baru kembali dari sekolah, akan kesal bila diserang dengan pertanyaan - pertanyaan seperti, "Belajar apa saja di sekolah?", dan "Kenapa seragamnya kotor? Pasti kamu berkelahi lagi di sekolah!" dan seterusnya. Sebaliknya, anak akan senang dan merasa diterima apabila disambut dengan kalimat pendek : "Halo anak ibu sudah pulang sekolah!" Sehingga kalaupun ada hal-hal yang ingin ia ceritakan, dengan sendirinya anak akan menceritakan pada orang tua, tanpa harus di dorong-dorong.

4. Jangan langsung menjawab pertanyaan
Meskipun salah tugas orang tua adalah memberi informasi serta pengetahuan yang benar kepada anak, namun sebaiknya orang tua tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Sebaliknya, berikan kesempatan padanya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dan tugas Andalah untuk mengkoreksinya apabila salah menjawab atau memberi penghargaan kalau ia benar. Kesempatan ini akan melatihnya untuk mencari alternatif-alternatif dari suatu pemecahan masalah. Misalnya, "Bu, kenapa sih, kita harus mandi dua kali sehari? " Biarkan anak memberi beberapa jawaban sesuai dengan apa yang ia ketahui. Dengan demikian pun anak terlatih untuk tidak begitu saja menerima jawaban orang tua, yang akan diterima mereka sebagai satu jawaban yang baku.

5. Dorong untuk melihat alternatif
Sebaiknya anak pun tahu bahwa untuk nmengatasi suatu masalah , orang tua bukanlah satu-satunya tempat untuk bertanya. Masih banyak sumber-sumber lain di luar rumah yang dapat membantu untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Untuk itu, cara yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan memberitahu sumber lain yang tepat untuk dimintakan tolong, untuk mengatasi suatu masalah tertentu. Dengan demikian anak tidak akan hanya tergantung pada orang tua, yang bukan tidak mungkin kelak justru akan menyulitkan dirinya sendiri . Misalnya, ketika si anak datang pada orang tua dan mengeluh bahwa sepedanya mengeluarkan bunyi bila dikendarai. Anda dapat memberi jawaban : "Coba,ya, nanti kita periksa ke bengkel sepeda."

6. Jangan patahkan semangatnya
Tak jarang orang tua ingin menghindarkan anak dari rasa kecewa dengan mengatakan "mustahil" terhadap apa yang sedang diupayakan anak. Sebenarnya apabila anak sudah mau memperlihatkan keinginan untuk mandiri, dorong ia untuk terus melakukanya. Jangan sekali-kali anda membuatnya kehilangan motivasi atau harapannya mengenai sesuatu yang ingin dicapainya. Jika anak minta ijin Anda, "Bu, Andi mau pulang sekolah ikut mobil antar jemput, bolehkan? " Tindakan untuk menjawab : "Wah, kalau Andi mau naik mobil antar jemput, kan Andi harus bangun pagi dan sampai di rumah lebih siang. Lebih baik tidak usah deh, ya" seperti itu tentunya akan membuat anak kehilangan motivasi untuk mandiri.

Sebaiknya ibu berkata "Andi mau naik mobil antar jemput? Wah, kedengarannya menyenangkan, ya. Coba Andi ceritakan pada ibu kenapa andi mau naik mobil antar jemput." Dengan cara ini, paling tidak anak mengetahui bahwa orang tua sebenarnya mendukung untuk bersikap mandiri. Meskipun akhirnya, dengan alasan-alasan yang Anda ajukan, keinginannya tersebut belum dapat di penuhi.

Mengapa Pelajar berkelahi?


Tawuran menjadi satu istilah yang sering terdengar. Istilah di identikkan dengan perkelahian pelajar. Bahkan bukan hanya pelajar SMP dan SMA, pelajar SD pun sudah mulai ikut-ikutan tawuran. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar pada remaja.

Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tawuran ini sering terjadi. Data di Jakarta misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat sampai tiga perkelahian di tiga tempat sekaligus.

Dampak perkelahian pelajar

Jelas bahwa perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia.

Pandangan umum terhadap penyebab perkelahian pelajar

Sering dituduhkan, pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah kejuruan, berasal dari keluarga dengan ekonomi yang lemah. Data di Jakarta tidak mendukung hal ini. Dari 275 sekolah yang sering terlibat perkelahian, 77 di antaranya adalah sekolah menengah umum. Begitu juga dari tingkat ekonominya, yang menunjukkan ada sebagian pelajar yang sering berkelahi berasal dari keluarga mampu secara ekonomi. Tuduhan lain juga sering dialamatkan ke sekolah yang dirasa kurang memberikan pendidikan agama dan moral yang baik. Begitu juga pada keluarga yang dikatakan kurang harmonis dan sering tidak berada di rumah.

Padahal penyebab perkelahian pelajar tidaklah sesederhana itu. Terutama di kota besar, masalahnya sedemikian kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang padat misalnya), serta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota.

Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat. Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, mereka bangga kalau dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya.

Tinjauan psikologi penyebab remaja terlibat perkelahian pelajar

Dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan di dalam diri individu (sering disebut kepribadian, walau tidak selalu tepat) dan kondisi eksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian pelajar. Bila dijabarkan, terdapat sedikitnya 4 faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar.

  1. Faktor internal.

    Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang / pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat. Mereka biasanya sangat membutuhkan pengakuan.

  2. Faktor keluarga.

    Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya, ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirnya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya.

  3. Faktor sekolah.

    Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. Baru setelah itu masalah pendidikan, di mana guru jelas memainkan peranan paling penting. Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentuk berbeda) dalam “mendidik” siswanya.

  4. Faktor lingkungan.

    Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota (bisa negara) yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi.

Berlatih Atasi Masalah



Sambil bermain anak belajar mengatasi problem yang menghadang. Prosesnya spontan dan bebas!

Bari senang bermain pura-pura. Dia gunakan apa saja untuk bermain. Misalnya, selimut untuk mendirikan tenda atau menunggangi sapu sebagai pengganti kuda. Bermain pura-pura memberi kesempatan pada Bari untuk berlatih memecahkan masalah.

Tanpa takut salah

Melalui bermain, secara spontan anak belajar cara-cara memecahkan masalah. Karena, ketika bermain anak bebas bereksperimen, mengimajinasikan berbagai perilaku alternatif yang dibutuhkan untuk mengatasi persoalan, tanpa takut salah atau dinilai salah oleh orang dewasa. Bermain juga mendorong Anak bebas mengimajinasikan berbagai aksi berbeda berikut konsekuensinya, lalu memilih yang dirasanya tepat melalui simulasi.

Seperti Bari yang tanpa takut salah, ketika menyiapkan alat-alat permainan. Jika gagal? Gampang saja… Bari mencoba alternatif lain hingga ia mendapatkan cara paling tepat. Jika ditanya atau dikritik, paling-paling ia berkata dengan ringan dan tanpa beban, " Bari ‘ kan sedang main!"

Kemampuan anak mengobservasi lingkungan menjadi nilai tambah si kecil untuk meningkatkan kebisaannya menyelesaikan masalah. Di samping itu, anak pun mengetahui variasi permainan dan kesempatan seluas-luasnya untuk bermain.

Mampu mengatasi masalah

Berikut ini berbagai permainan yang dapat meningkatkan kemampuan si kecil memecahkan masalah:

* Puzzle

Permainan puzzle, yang membutuhkan cara memecahkan masalah secara coba-salah, merupakan salah satu permainan yang terbukti dapat membantu anak meningkatkan kemampuan tersebut.

* Bermain peran

Bemain peran, seperti dilakukan Bari , membantu meningkatkan kreativitas anak dalam memecahkan masalah melalui berbagai cara yang bebas dilakukan dalam permainan tersebut.

* Balok atau lego

Tidak terlalu berbeda dengan puzzle , bermain balok atau lego meningkatkan kreativitas si kecil memecahkan masalah ketika ia berupaya membangun sesuatu menggunakan mainan tersebut.

* Games

Berbagai games seperti bermain kartu, domino atau monopoli merupakan permainan yang mengajarkan anak strategi memecahkan masalah ketika bermain untuk memenangkan permainan. Tentu saja si kecil butuh waktu menguasai permainan jenis ini sebelum ia benar-benar mahir berstrategi.

Tentu ada permainan-permainan lain yang dapat membantu anak meningkatkan kemampuannya memecahkan masalah. Orang tua diharapkan kreatif mengolah permainan yang menarik bagi anak, dan membebaskan si kecil bereksperimen.

Esthi Nimita Lubis(ayahbunda)

Si 1 Tahun Pintar Bicara

Menjelang ulang tahun kedua, umumnya anak semakin pandai berkata-kata. Namun ada anak yang jauh melebihi teman seusianya. Mengapa bisa begitu?

Chayene (18 bulan) terdengar sangat ceriwis. Ada saja kata-kata terlontar dari mulutnya yang membuat lingkungannya sangat terkesan. “Iya Ma, Cayin janji…janji! Cayin ati-ati ,” ujar Chayene ketika memaksa ibunya untuk memperlihatkan vas yang baru dibelinya. Melihat cara putrinya yang dengan berhati-hati memegang vas tersebut, Tasya, sang ibu, jadi ragu. Apakah Chayene benar-benar memahami arti kata-kata yang diucapkannya?

Berbagai penyebab

Percepatan kemampuan anak bicara ditentukan berbagai hal. Di antaranya kemampuan bicara orang dewasa di sekitarnya. Semakin gemar kedua orang tua mengajak anaknya berbicara, si kecil semakin pintar berkata-kata. Urutan kelahiran juga berperan penting. Umumnya anak pertama mendapat perhatian lebih besar dari kedua orang tuanya dibanding adik-adiknya. Situasi ini mempengaruhi stimulasi pada kemampuan si kecil bicara.

Jenis kelamin juga berpengaruh terhadap percepatan kemampuan anak berkata-kata. Menurut pengamatan para ahli, orang tua umumnya lebih sering mengajak anak perempuannya bicara dibanding anak laki-lakinya. Akibatnya anak perempuan punya kemampuan berkata-kata lebih baik dibanding anak laki-laki. Tentu saja di luar itu semua, faktor fisik seperti kesiapan organ tubuh dan kesehatan juga berperan penting.

Anak seusia Chayene umumnya baru memiliki perbendaharaan kata sebanyak kurang lebih sepuluh kata. Anak-anak ini juga baru mulai menggabung-gabungkan dua kata untuk membuatnya lebih bermakna. Misalnya, “anjing galak”, atau “baju tidur”. Dengan begitu jika si kecil dapat menyebutkan lebih dari kata-kata itu, dan mulai dapat membentuk satu kalimat sederhana, kita dapat menyebutnya sebagai early talker atau anak yang cepat berkata-kata.

Belum tentu benar

Namun walaupun si kecil dapat berkata-kata dengan cepat, bukan berarti keterampilan lain, seperti keterampilan di bidang sosial, emosional maupun fisiknya ikut memiliki percepatan yang sama. Terkadang anak usia ini tidak memahami apa yang dikatakannya, seperti jika ia berkata janji untuk tidak menyentuh gelas lalu kemudian menyentuhnya. Bukan berarti si kecil berbohong atas kata-katanya.

Usahakan untuk ikut berpikir setara dengan usia si kecil. Misalnya jika ia berkata ingin ke atas, itu berarti bukan ruangan di tingkat dua yang ditujunya, namun anak justru menginginkan sensasi menaiki maupun menuruni tangga. Atau jika si kecil ingin kue yang terpajang di toko kue, pada umumnya bukan karena ia ingin memakannya hingga habis, namun lebih pada mencicipi kue yang menarik perhatiannya. Karena itu, tugas Anda sebagai orang tua untuk berulang-ulang menjelaskan maksud kata-kata yang diucapkannya sendiri.

Upayakan konsisten mengenai suatu hal, misalnya jika anak berjanji tidak mengambil mainan temannya, cobalah berulang-ulang mengingatkan jika si kecil melanggar janji tersebut. Dengan cara ini anak semakin memahami maksud kata-katanya sendiri sehingga ia pun dapat dituntut lebih konsisten dengan apa yang diucapkannya.

Esthi Nimita Lubis

Mengajarkan Pendidikan Seks pada Anak

MEMBAHAS masalah seks pada anak memang tidak mudah. Namun, mengajarkan pendidikan seks pada anak harus diberikan agar anak tidak salah melangkah dalam hidupnya.

Menurut Dr Rose Mini AP, M Psi seorang psikolog pendidikan, seks bagi anak wajib diberikan orangtua sedini mungkin. "Pendidikan seks wajib diberikan orangtua pada anaknya sedini mungkin. Tepatnya dimulai saat anak masuk play group (usia 3-4 tahun), karena pada usia ini anak sudah dapat mengerti mengenai organ tubuh mereka dan dapat pula dilanjutkan dengan pengenalan organ tubuh internal," papar almamater Universitas Indonesia ketika dihubungi okezone melalui telepon genggamnya, Rabu (20/2/2008).

Menurutnya, pendidikan seks didefinisikan sebagai pendidikan mengenai anatomi organ tubuh yang dapat dilanjutkan pada reproduksi seksual. Dengan mengajarkan pendidikan seks pada anak, menghindarkan anak dari resiko negatif perilaku seksual. Karena dengan sendirinya anak akan tahu mengenai seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama, dan adat istiadat, serta kesiapan mental dan material seseorang.

"Pengenalan seks pada anak dapat dimulai dari pengenalan mengenai anatomi tubuh. Kemudian meningkat pada pendidikan mengenai cara berkembangbiak makhluk hidup, yakni pada manusia dan binatang. Nah, kalau sudah tahu, orangtua dapat memberi tahu apa saja dampak-dampak yang akan diterima bila anak begini atau begitu," ucap wanita ramah ini.

Salah satu cara menyampaikan pendidikan seksual pada anak dapat dimulai dengan mengajari mereka membersihkan alat kelaminnya sendiri.

"Ajari anak untuk membersihkan alat genitalnya dengan benar setelah buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB), agar anak dapat mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Pendidikan ini pun secara tidak langsung dapat mengajari anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan alat kelaminnya," papar wanita yang akrab disapa Rose.

Masih menurutnya, cara menyampaikan pendidikan seksual itu pun tidak boleh terlalu vulgar, karena justru akan berdampak negatif pada anak. Di sini orangtua sebaiknya melihat faktor usia. Artinya ketika akan mengajarkan anak mengenai pendidikan seks, lihat sasaran yang dituju. Karena ketika anak sudah diajarkan mengenai seks, anak akan kristis dan ingin tahu tentang segala hal.

"Kalau di luar negeri biasanya para orangtua dikasih buku panduan mengenai pendidikan seks agar mereka dapat menjawab setiap pertanyaan yang diajukan anak. Sementara di Indonesia, karena belum ada, maka sebaiknya para orangtua sigap dengan mencari informasi mengenai seks di internet, buku bacaan atau majalah," pungkasnya.
(tty)