Kursus Untuk Anak
Tanya
Apakah anak perlu dileskan atau mengiktui kursus di waktu luangnya (di luar jam sekolah) ?
Jawab
Bisa2 anak-anak kalau sudah TK bisa seabrek ya dari Senin sampai Jumat or malah Sabtu kalau diturutin ya kegiatan anak banyak banget yaa. Ada berenang, main piano/music, balet/tari or olahraga lainnya bagi anak yg cowok, trus ada lagi les bahasa inggris, kumon/sempoa.(Lu)
lho apa nggak bosen ya ... waktu main itu kan waktu anak-anak kan? (Su)
Dan bisa nggaknya kita juga tergantung kedisiplinan murid serta bakat sih (Ra)
Sebetulnya tidak bisa main alat musik apapun juga tidak masalah yang lebih penting mungkin suka seni apapun seni itu. Musik itu paling gampang buat dikenalin ke anak lewat lagu, bahkan tidak perlu kaset, kita nyanyi juga jadi. Ya kalau bisa alat musik emang lebih baik sih,tapi ya gak perlu dipaksa siapa tau ternyata dia 'gak kesitu' jangan lupa anak perlu main! (Nop)
Umur yang efektif adalah mulai 5 tahun. Kalau udah 7 tahun, sudah agak telat (tapi better late than never). Yang terpenting, adalah bahwa si anak harus dimotivasi untuk menyukai musik dengan pengenalan, dengan cara bermain, fun, dan mendorong motivasi/minat anak terhadap musik. Banyak anak yang dilatih musik dengan salah, sehingga menimbulkan trauma atau keengganan anak untuk berlatih, karena merasa tidak fun, dan merasa dipaksakan. Kalau pun ortunya memaksakan, memang si anak bisa juga, tapi prosesnya lama bisanya, dan keahlian musiknya & jumlah lagu yang bisa dimainkan tentunya terbatas (tidak optimal).Tentunya akan buang waktu, tenaga, dan uang Dan kalau anaknya udah besar dan tidak les lagi, keahliannya akan hilang (meskipun tidak total), karena mainnya akan banyak salah, bahkan banyak lupa teknik-tekniknya. (karena pasti akan jarang latihan; motivasinya kurang). Dengan adanya minat pada anak, maka dengan sendirinya anak tsb akan mau rajin latihan. Sehingga lebih efektif, hasil otimal, dan cepet naik tingkat. Soal bakat memang nomor 2, yang penting minat & latihan. Tapi, kalau memang bakat musik kurang, paling-paling hanya bisa kualitasnya untuk hobby pribadi dan performancenya bagus (tapi tidak bisa excellent, pentas/professional punya quality). (Rekan salahsatu IBU, yg isterinya /- 11 th mengajar piano)
Kalau dari aku :
1. Jelas dari minat atau keinginan si anak. Kalau bakat, belum tentu pada usia preschool/tk udah kelihatan ya....
2. Dari kantongnya ortu juga, cukup tidak gajinya untuk ngelesin anak
3. Jangan cuman ikut2 anak tetangga atau teman sekolah, trus kitanya memaksa anak kita untuk ikut les tsb. [malah ntar jadi berantem deh sama anaknya... :)]
4. Waktu : apakah kita punya cukup waktu untuk memperhatikan perkembangan setiap les yg anak kita ikutin? Jgn cuman dilesin, tapi
dicuekin, tida dilihat hasilnya. (Ni)
Keinginan ortu supaya anaknya bisa bermain piano (atau instrument yg lain) kalau anaknya tidak ada bakat atau tidak ada kemauan susah juga lho...jadi nya malah buang-buang uang gitu...pengalaman nih, dulu aku dan adikku masuk bareng, tapi dia itu paling males latihan danketinggalan jauh sama aku, sampe akhirnya kita bayar terus dia juga absen terus, akhirnya ya berhenti, soalnya dia bilang biar dipaksaain kayak apa juga minatnya dibidang music enggak ada, dia lebih suka les bahasa dll. sedangkan aku dari kecil udah suka sama seni, ikutan sanggar tari,les musik, di sekolah juga ikutan marching band dsb. (Kel)
Kecintaan sama musik perlu dilatih dan dikondisikan. Pengenalan musik bisa dimulai sejak masih dalam kandungan. Kesukaan akan jenis musik tertentu akan terbentuk karena kebiasaan dan lingkungan. Kalau tiap hari dipasangin musik jazz, kalo tiap hari pasang dangdut ya dia bisa jadi sukanya dangdut. :)
Kenapa musik klasik ?
Engga juga lah, engga musti. Menurut aku sih, semua jenis musik bagus aja, even dangdut. Yang bagus sih, anak2 sebaiknya dikenalin sebanyak mungkin warna musik.
Apa harus belajar main musik ?
Sebenernya engga juga. Musik bagian dari art yang mengembangkan otak sebelah ( kanan/kiri ya? ). Sistem pendidikan di sekolah sekarang ini menurut aku kurang banget mengasah kreatifitas, dan jadinya perkembangan otaknya jadi nggak balance. Jadi selain musik, bisa aja
anak2 belajar nari, lukis etc. Cumaaa, seneng kan kalo bisa main musik, really bisa ngilangin bete. (Li)
Macam Macam Kursus untuk si Kecil
Untuk anak perempuan
- menari
- balet
Untuk anak laki
- taekwondo, karate
Laki/perempuan
- musik : piano, organ, vokal
- olah raga : berenang, tennis, sepakbola, basket, baseball, bulutangkis
(utk yg udah SD)
- aritmetika
- bahasa inggris
- bahasa pilihan contoh: mandarin
- kumon
- pelajaran
- sanggar menggambar atau melukis
- komputer
"Kalau menurutku malah anak perempuan yang harus diajari seni bela diri. Belajar bela diri dari kecil buat anak perempuan bagus sekali. Selain bekal untuk mempertahankan diri dari serangan orang lain, juga sangat bermanfaat untuk meningkatkan rasa percaya diri dan berani untuk menghadapi tantangan. "
"Kalau anak laki tidak terlalu dikuatirkan, sebab mereka nantinya akan belajar dari lingkungannya. Tapi kalau anak laki2 kita terlalu kita lindungi bisa jadi malah nantinya juga jadi lembek."
Anak 4 Tahun Belum Bisa Ngomong \'R\'
Tanya
Anak temanku umurnya 4 tahun kalau mengucapkan 'r' jadi 'l'. Temanku khawatir ada kelainan pada lidah anaknya. Mohon sharing.
Jawab
Jangan khawatir, aku baru bisa ngomong 'r' kalau tidak salah SD kelas 2 atau kelas 3. Oomku malah SD kelas 6! Tidak tahu kenapa. Tapi seingatku, caranya aku bisa ngomong 'r', sewaktu aku mandi di bathtub, di air keran yang mengalir aku ngomong 'rrrrrrrrrrrr'. Eh terus bisa! Senangnya. Sebelumnya 'r' ku sepert orang Perancis, pakai tenggorokan, bukan pakai lidah.(Yun)
Apa anak umur 4 tahun 'seharusnya' sudah bisa ngomong 'r' ? Aku belum pernah ketemu anak seumuran gitu yang sudah bisa omong 'r' dengan jelas. Aku bisa omong 'r' secara nyata saat SD kelas 2. Makanya, anakku 4.5 tahun, r-nya masih tidak jelas, yah tidak apa-apa. Dulu adikku juga tidak bisa ngomong 'r'. Ternyata usut punya usut gara-gara lingkungan sekitarnya juga mendukung. Di rumahku, banyak yang tidak bisa ngomong 'r'.(Dhe)
Anaknya temanku baru 3 tahun sudah bisa bilang 'r' dengan jelas. Tadinya aku tenang-tenang saja waktu anakku belum bisa bilang 'r' tapi setelah tahu ada anak 3 tahu yang bisa bilang 'r' jelas, aku jadi senewen. Sudah aku tunjukin cara bilang 'r' yang benar, pakai lidah bukan tenggorokan, tapi karena anakku tidak bisa meliat getaran lidahku dengan jelas, jadi dia suka bilang 'ibu mulutnya dibuka donk biar keliatan'.(Rie)
Aku tidak begitu yakin, kalau itu faktor keturunan. Kalau lingkungan, mungkin iya. Di tempat nenekku di Palembang, aku banyak menjumpai anak-anak, atau orang dewasa yang belum jelas ngomong 'r'nya. Apalagi yang suku-nya Komering. Temanku sampai sekarang juga r-nya masih cadel. Tapi dia baik-baik saja, bisa jadi penyiar radio, dan sekarang penyiar SCTV.(Yun)
Kalau menurutku faktor keluarga bisa mempengaruhi karena kakakku juga tidak bisa ngomong "r". Ini bukan karna kebiasaan, tapi karena ujung luar lidahnya menyambung kebagian bawah lidah.(Rir)
Suamiku dulu bilang 'r' agak lama, kelas 1 SD, kalau aku cepat, kira-kira umur 2 - 3 tahunan lebih sudah bisa. Anakku sampai sekarang belum bisa, sekarang tetap kita usahakan koreksi, dipancing-pancing, supaya mengeluarkan rrr-nya, jangan semua-semua jadi l. Rrr-nya paling bisa keluar kalau ngomong 'orrrange', itu juga tidak nyata, seperti r-nya orang bule. Aku tanya ke gurunya, kata gurunya sebaiknya terus dipancing dan dikoreksi, sebab jika tidak, lama-lama anak mungkin dapat 'jalan keluar sendiri, tapi "r" yang ditenggorokan.(Rie)
Anakku yang pertama, 6 tahun, bilang "r" dengan jelas saat umur 2,8 tahun. Dari umur setahunan pun bilangnya sudah jelas. Berbeda dengan adiknya, sudah 3,3 tahun, jangankan 'r', bilang yang lainnya saja masih tidak jelas. Kalau konsonan susah lainnya, k, s, g, dan lain-lain sudah bisa, tapi tetap sja kedengerannya masih cedal. Apa karena si bungsu selalu dimanja. Jadi kesannya ngomongnya kemanja-manjaaan.(Ir)
Meneningkatkan konsentrasi
| Kemampuan berkonsentrasi pasti membawa keberhasilan. Kemampuan ini menghasilkan penguasaan atas situasi, meningkatkan keefisienan, dan memungkinkan Anda memecahkan masalah Anda. Milton Wright berkata, "Ukuran bagi seorang manusia adalah sejauh mana ia dapat berkonsentrasi." Sebelumnya, Emerson menulis, "Konsentrasi adalah rahasia keberhasilan dalam politik, perang, perdagangan, singkatnya dalam semua manajemen urusan manusia." Bila Anda merasa daya konsentrasi Anda lemah, cobalah beberapa saran dari Robert J. Lumsden yang dituliskan dalam bukunya 23 Langkah Menuju Sukses dan Prestasi :
Di balik tips itu semua, daya ingat dan konsentrasi akan makin menurun dengan bertambahnya umur. Ada cara-cara untuk menjaga daya ingat dengan menggunakan jembatan keledai, dsb. Penurunan daya ingat yang amat cepat dapat disebabkan kerusakan sel otak akibat trauma kepala, penyakit pembuluh darah otak (stroke karena penyempitan pembuluh darah otak), Alzheimer, dll. |
Belajar Lewat Games
Bermain dan permainan dapat menjadi ajang pembelajaran anak. Permainan apa saja yang dapat mengasah kecerdasannya?
Selain menyenangkan, bermain merupakan cara anak mengenal dunia. Melalui permainan si kecil mempelajari suatu keterampilan atau sesuatu yang baru. Permainan di luar ruang yang aktif membantu meningkatkan koordinasi fisik anak. Permainan huruf mengembangkan kemampuan anak berbahasa. Permainan yang berkaitan dengan fantasi mengembangkan dunia imajiner si kecil yang diperlukan anak untuk menulis cerita saat ia bersekolah.
Berikut ini beberapa permainan (games) yang dapat mengasah berbagai aspek perkembangan si kecil.
1. Memory games
Permainan memori dapat mengasah daya ingat anak. Memiliki daya ingat yang baik mendukung kemudahan anak belajar. Anda dapat mulai mengasah daya ingat anak sedini mungkin.
Mengingat Benda dalam Nampan
(Anak usia 2 tahun ke atas)
Letakkan lima atau lebih benda pada nampan dan ajak anak memperhatikan benda-benda tersebut. Mintalah si kecil menutup matanya, lantas Anda sembunyikan satu benda yang ada di nampan. Minta anak membuka matanya dan tanyakan benda yang tidak ada pada nampan. Anda dapat pula melakukan permainan ini dengan menutup nampan dan memintanya menyebutkan benda-benda pada nampan yang sebelumnya telah dilihat dan diingatnya.
2 . Creative games
Permainan kreatif ini mengasah kemampuan si kecil untuk mengatasi berbagai masalah yang mungkin ditemuinya, sehingga ia tahu solusi untuk memecahkan masalah saat dibutuhkan.
Menyusun Balok
(Anak usia 2 tahun ke atas)
Ajak si kecil membuat rumah seperti rumahnya atau rumah yang diimpikannya menggunakan balok-balok kayu atau plastik. Biarkan imajinasinya berkembang untuk membuat bentuk apa pun.
Melipat, Menggunting dan Menempel
(Anak usia 4 tahun ke atas)
Gunakan kertas berwarna untuk membuat benda-benda. Misalnya, katak, burung atau anjing. Kemampuan melipat, yang merupakan keterampilan motorik halus anak pun terasah karenanya.
Dapat juga Anda mengajak si kecil menggunting kertas berwarna membentuk benda, misalnya jeruk atau mangga. Kemudian, tempelkan guntingan kertas itu pada buku atau selembar kertas.
3. Socialization games
Permainan sosialisasi melibatkan beberapa anak sebaya. Kegiatan ini mengembangkan kemampuan si kecil bersosialisasi. Lebih baik lagi bila permainan ini menuntut kerja sama.
Tangan Saling Tumpuk
(Anak usia 2 - 5 tahun)
Dapat dimainkan 5 -10 anak. Anak-anak duduk dalam satu lingkaran. Seorang anak mulai meletakkan kepalan tangan kanannya di tengah lingkaran, disusul kepalan tangan kanan anak lain yang diletakkan di atas kepalan tangan anak yang pertama, dan seterusnya.
Setelah semua kepalan tangan kanan tertumpuk, anak pertama meletakkan kepalan tangan kirinya di atas tumpukan kepalan tangan kanan yang terakhir. Penumpukan kepalan tangan kiri ini disusul anak lain hingga semua kepalan tangan kiri bertumpukan.
Setelah itu, kepalan tangan paling bawah berpindah ke atas, disusul tangan berikutnya. Perpindahan tangan dari bawah ke atas semakin lama semakin cepat. Dalam permainan ini tidak ada pihak yang menang atau kalah.
Bermain Kartu
(Anak usia 4 tahun)
Anda dapat menggunakan kartu bergambar khusus untuk anak-anak. Selain mengembangkan keterampilan sosial, karena anak dituntut berinteraksi dengan anak lain, kemampuan si kecil mengingat pun terlatih.
4. Observation games
Permainan observasi mengajar anak mengenali detail. Lihat baik-baik sebuah gambar dan dorong si kecil mengenal rincian gambar. Kemampuan ini dapat menjadi modal penting anak saat belajar mengenal huruf. Misalnya, ia mampu mengenal perbedaan huruf “b” dan “p”.
Mencari Perbedaan
(Anak usia 3 tahun ke atas)
Gambarlah dua gambar serupa dengan beberapa bagian berbeda. Minta si kecil melihat gambar tersebut dan cari apa atau bagian mana yang berbeda. Misalnya, gambar anak perempuan dengan pita rambut. Sedangkan gambar satunya tidak mengenakan pita.
Mengenali Objek
(Anak usia 2 tahun ke atas)
Buka satu halaman di buku cerita anak, dan minta anak mendeskripsikan objek di halaman yang dipilih Misalnya, gambar orang. Bantu anak dengan pertanyaan Anda. Misalnya, apa warna rambut orang tersebut, panjang-pendek rambut dan jenis kelaminnya.
5. Imaginative games
Semua anak menyukai permainan imajinatif, seperti bermain pura-pura. Permainan jenis ini memperkaya imajinasi anak dan merangsangnya berpikir kreatif.
Boneka tangan
(Anak usia 2 tahun ke atas)
Berceritalah dengan menggunakan boneka tangan. Mulai dengan cerita yang sudah dikenal anak. Setelah itu, minta anak mengulang cerita atau mengemukakan ceritanya sendiri menggunakan tokoh boneka tangan.
Bermain peran
(Anak usia 3 tahun ke atas)
Permainan yang satu ini bisa jadi sering dilakukan dan menyenangkan anak. Anda dapat terlibat dalam permainan menggunakan berbagai material sungguhan seperti kue kering untuk suguhan saat main tamu-tamuan, selimut untuk atap rumah, atau kursi untuk dinding rumah. Anda dan si kecil juga dapat bermain peran sesuai tokoh dalam film favoritnya.
6. Physical games
Selain menyenangkan, latihan fisik mengembangkan koordinasi anggota tubuh anak, badan si kecil fit dan sehat, membuat tidur si kecil lebih lelap, dan nafsu makannya lebih bagus.
“Ayo Melompat”
(Anak usia 2 tahun ke atas)
Jalan-jalanlah bersama anak di taman kompleks perumahan Anda. Mintalah anak melangkah beberapa kali, kemudian buat loncatan dua kali. Anda dapat meminta anak berlari dari satu pohon menuju Anda dalam hitungan sekian, tergantung jarak pohon ke tubuh Anda.
7. Alphabet games
Melalui permainan alfabet anak belajar mengenal huruf dan angka. Pengenalan awal ini bisa menjadi bekal pengetahuan dan mempermudah si kecil saat ia belajar huruf dan angka di sekolah.
Membuat Buku “Huruf” .
(Anak usia 3 tahun ke atas)
Gunakan halaman berbeda untuk setiap huruf dan letakkan gambar objek yang dimulai dengan huruf termaksud. Misalnya, hurup “A” untuk gambar apel atau huruf “H” untuk gambar harimau.
Menyambung Titik-Titik
(Anak usia 2,5 tahun ke atas)
Buat huruf dari titik-titik. Minta si kecil menyambungkan tiap titik. Tempelkan gambar objek yang di mulai dengan huruf tersebut. Kegiatan ini juga dapat meningkatkan keterampilan motorik halus anak.
8. Singing games
Permainan bernyanyi ini menyenangkan. Kegiatan yang memunculkan irama dan lagu dapat memperkaya bank data kata-kata dan frase si kecil yang dapat digunakannya sewaktu-waktu ia perlukan. Dengan begitu, tanpa terasa, melalui bernyanyi anak belajar berbagai hal.
Menebak Kata
(Anak usia 2, 5 tahun ke atas)
Nyanyikan lagu anak yang dikenalnya, kemudian hilangkan satu-dua kata dalam kalimat lagu dan lantas minta si kecil menebak kata yang hilang. Semakin besar usia anak, semakin banyak kata yang dapat Anda hilangkan.
Memperagakan Tindakan
(Anak usia 2,5 tahun ke atas)
Bernyanyilah untuk si kecil. Gunakan lagu yang dikenalnya. Pada kata kerja yang ada pada lagu, Anda tak perlu menyanyikan melainkan memperagakannya. Minta si kecil menyebutkan apa yang Anda peragakan.
Grahita Purbasantika Nugraha (ayahbunda)
Bermain, Menggali Ilmu Pengetahuan
Martin kecil meraih pasir di hadapannya ketika suatu kali berlibur di pantai Anyer. “Ma, tanah ini kok berbeda dengan yang di rumah ya…. Yang di rumah e nggak bisa digenggam seperti ini,” katanya dengan nada heran. Kemudian sang mama pun menjelaskan beda tekstur pasir dan tanah di depan rumah mereka.
Memang, dunia sekitar adalah wilayah yang sangat luas untuk dieksplorasi buah hati Anda. Ada saja hal di sekeliling anak yang menarik minatnya lebih jauh. Ketertarikan si kecil inilah yang membuatnya begitu riang bermain-main dengan dunia ilmu pengetahuan. Apa yang perlu orang tua lakukan agar si kecil makin pandai lewat kegiatan bermainnya?
Si penjelajah sejati
Bermain menyenangkan bagi anak. Salah satu permainan yang mengasyikkan anak adalah permainan berdasar ilmu pengetahuan atau science . Sambil bermain si kecil juga mengeksplorasi dunia dengan caranya sendiri.
Coba perhatikan, bagaimana anak sangat tertarik mengamati ulat merayap di pohon, atau bagaimana ikan berenang di akuarium. Berbagai pertanyaan bermunculan dalam benaknya, dan ingin diketahui jawabannya.
Dr. Lucia French , pembantu professor di sekolah Warner, Amerika Serikat, menyatakan bahwa ilmu pengetahuan memenuhi keinginan setiap anak untuk mengerti dunia dengan cara menyelidikinya. Menurut French, anak-anak usia 3 dan 4 tahun adalah penjelajah sejati. Bila Anda amati, si kecil yang tengah duduk santai di sofa tiba-tiba memasukkan biji jeruk, dan kemudian berusaha mengeluarkannya kembali. Atau ia berdiri, dan mengukur tinggi badan temannya di balik punggung sofa.
Melalui permainan ilmu pengetahuan anak belajar mengelola pemikirannya dalam memecahkan masalah. French mengemukakan bahwa bila anak melihat atau menyentuh objek yang ia minati dengan bagian dari tangan atau matanya, maka ia siap melakukan eksplorasi berdasarkan informasi yang ia miliki.
Berbagai kegiatan bermain bisa dilakukan bersama si kecil. Misalnya, sekembalinya Anda dan si kecil dari jalan-jalan tanyakan apa yang ia lihat. Bisa pula Anda meminta anak menggambar apa yang dilihatnya.
Belajar berbagai hal
Bagi anak yang gemar puzzle, Anda bisa menggunakan kegiatan menyusun keping-keping puzzle untuk mendorong si kecil belajar memecahkan masalah dan belajar tentang bentuk, ukuran dan warna.
Anda pun dapat mengajak anak menanam tumbuhan di kebun atau di pot. Ajaklah anak membuat catatan bersama tentang pertumbuhan “makanan” yang dikonsumsinya, serta bagaimana tanaman itu dapat tumbuh sehat.
Bermain sambil menggali pengetahuan memang mengasyikkan. Anak bahkan bisa mendapatkan pengetahuan tentang berbagai hal baru. Dengan belajar tentang konsep “besar-kecil”, ”cepat-lambat”, “berat-ringan”, anak terbantu untuk belajar matematika dan ilmu pengetahuan.
Menurut para ahli pendidikan dari National Science Foundation , Amerika Serikat, dalam bukunya Helping Children Learn at Home , rasa ingin tahu dan minat anak bereksplorasi dan melakukan percobaan, membuat anak-anak ini menjadi pakar matematika dan ilmu pengetahuan yang alami. Kesenangan dan rasa percaya diri dalam bermain ilmu pengetahuan membuat anak ketika dewasa menikmati belajar ilmu pengetahuan lebih mendalam.
Eleonora Bergita
Teka-Teki Silang Bikin Anak Pintar Berbahasa
Menanamkan sikap sabar serta fokus dalam dunia anak yang begitu spontan dan berwarna kadang menjadi kesulitan tersendiri bagi orangtua. Tingginya keingintahuan anak dan hasratnya mencoba banyak hal membuat mereka kadang tak bisa fokus dan sabar. Nah, ternyata, TTS alias teka-teki silang bukan hanya membuat anak meningkat memfokuskan pikiran dan bersikap sabar dan teliti dalam mengerjakan apapun.
"Pada dasarnya anak yang sudah bisa membaca dan menulis -sekitar usia 5 sampai 6 tahun- sudah bisa diperkenalkan dengan teka-teki silang. Tentu saja tingkat kesulitannya harus disesuaikan dengan usia serta kemampuan anak. Sehingga, anak tetap menikmati proses pengerjaannya dan tak merasa terbebani," ungkap Rosdiana Tarigan, MPsi, MHPEd, Psikolog yang berpraktik di Rumah Sakit Pluit ini.
Ia pun melanjutkan, media yang digunakan anak dalam mengerjakan teka-teki silang juga tak jadi masalah, baik yang biasa ada di koran, majalah atau buku TTS maupun di komputer sama baiknya. Tinggal disesuaikan saja dengan minat serta kebutuhan anak. Bukan berdasarkan keinginan orangtua tentunya.
Tiap anak berhak bermain, yang merupakan bagian penting perkembangannya. Mengisi TTS dapat menjadi pilihan bermain bagi anak, jika dilakukan dalam keadaan menyenangkan. Anak diajak memainkan imajinasinya untuk menghasilkan sebuah kata yang tepat sesuai pertanyaan melalui stimulus satu huruf baik di awal, tengah maupun akhir.
Rosdiana mengungkapkan, "Mengisi TTS ini memerlukan kesabaran, fokus serta pengetahuan umum yang memadai sesuai tingkatan usia dan kemampuan anak. Saat anak mulai mencocokan urutan pertanyaan dengan letak kotak secara mendatar atau menurun sesungguhnya hal tersebut pun dapat mengasah kecekatan, dimana kegiatan ini memerlukan koordinasi mata dan tangan. Pada saat itulah anak membiasakan diri untuk fokus serta berkonsentrasi agar menuliskan jawaban pada kotak yang tepat."
Tentu dalam mengerjakan TTS anak tak selalu mulus dalam menemukan jawaban atas pertanyaan yang ada. Ada kalanya anak menemukan pertanyaan yang sangat mudah namun bukan tak mungkin dia terhadang kesulitan. Hal ini tentu dapat dijadikan keuntungan jika mereka jeli melihatnya. Karena ditengah kesulitannya menemukan jawaban yang harus diisi kedalam deretan kotak tersebut, sesungguhnya tanpa disadari anak tengah belajar mengendalikan emosi dan bersabar dalam mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Dalam hal ini adalah jawaban dari TTS yang sedang dia kerjakan.
"Seiring waktu berjalan, perlahan anak akan mengerti bahwa tak selalu yang diinginkan bisa didapat dengan mudah bahkan terkadang harus didapatkan dengan usaha yang keras. Di sini pun anak dapat belajar memecahkan suatu permasalahan dengan cara serta usahanya sendiri," imbuh Psikolog kelahiran Surabaya, 30 September 1973 ini.
Penguasaan kosa-kata serta general knowledge memang sangat dibutuhkan saat anak mengerjakan TTS. Agar kesabaran anak dalam memecahkan jawaban TTS tersebut tak sia-sia dengan penguasaan pengetahuan umum serta kosa-kata yang memadai maka tak ada salahnya orang tua membelikan kamus untuk anak yang tidak terlalu tebal wujudnya ataupun buku pintar serta ensiklopedia.
Salah satu kelemahan TTS yang dimuat pada media cetak adalah pertanyannya kurang variatif serta terkesan diulang-ulang. Ini diamini Abubakar Ali, SPd, guru Bahasa Indonesia SD Global Islamic School Lazuardi.
"Untuk mengatasinya, kewajiban pendidik dan orang tua untuk kreatif. Misalnya dengan menetapkan kosa-kata yang akan diajarkan, masukkan dalam tema besar terlebih dahulu agar fokus dan tak melebar, "ujar Abubakar.
Ia juga menyarankan untuk memecah kosa-kata tersebut ke dalam pertanyaan mendatar dan menurun, susun kotak-katik sesuai dengan jumlah pertanyaan. Bahkan jika memungkinkan bentuklah bagian hitam yang di luar kotak dengan bentuk-bentuk yang lucu, seperti buah-buahan ataupun tokoh kartun agar anak tertarik mengisinya. Hal terpenting lainnya adalah berikan TTS yang sesuai dengan usia serta kemampuan anak, agar permainan ini tetap menyenangkan untuk dilakukan dan tak terkesan membebani anak di luar batas kemampuannya.
Di balik semua manfaat yang ada, sesungguhnya ada satu kekhawatiran yang timbul jika anak gemar mengisi TTS baik di media cetak ataupun komputer. Permainan jenis ini sesungguhnya bersifat adiktif sehingga memungkinkan anak untuk ketagihan. Jika anak berhasil memecahkan satu jawaban maka dapat dipastikan ia akan tertantang memecahkan jawaban berikutnya yang levelnya lebih sulit, begitu seterusnya.
Saat anak asyik dengan dunianya sendiri dengan menarik diri dari pergaulan adalah awal dari berbagai macam masalah psikologis yang kemungkinan dapat muncul di kelak kemudian hari.
"Di sinilah peran orangtua dalam mendampingi serta mengawasi anak benar-benar dibutuhkan. Rasanya akan lebih baik jika saat mengerjakan TTS ini orang tua mendampingi, ikut meramaikan suasana dan jadikan sebagai family gathering �yang dapat mempererat hubungan dengan anak sekaligus menciptakan quality time," saran Rosdiana seraya mengakhiri.
(sindo//tty)