Cadel tak akan hilang dengan sendirinya.
Ada beragam variasi cadel pada anak. Ada yang menyebut "r" jadi "l", "k" jadi "t", "k" jadi "d", atau "s" dengan "t" sering terbalik-balik. Tetapi tiap anak variasinya berbeda-beda. Jadi yang dimaksud dengan cadel adalah kesalahan dalam pengucapan.
Memang, semestinya pada rentang usia prasekolah, anak sudah bisa mengucapkan seluruh konsonan dengan baik. Sebab menginjak usia 3-4 tahun, otot-otot lidahnya mulai matang. Hanya saja, perkembangan setiap anak berbeda. Jadi wajar meski usianya sama, tapi masih ada anak yang cadel.
Sayangnya, cukup sulit mendeteksi, apakah kecadelan di usia 3-5 tahun akan berlanjut terus atau tidak. Karena menyangkut sistem saraf otak yang mengatur fungsi bahasa, yakni area broca yang mengatur koordinasi alat-alat vokal dan area wernicke untuk pemahaman terhadap kata-kata.
Kerusakan pada area broca disebut motor aphasiam yang membuat anak lambat bicara dan pengucapannya tak sempurna sehingga sulit dimengerti. Sedangkan kerusakan pada area wernicke disebut sensori aphasia dimana anak dapat berkata-kata tapi sulit dipahami orang lain dan dia pun sulit untuk mengerti kata-kata orang lain.
Tak hanya itu, kesulitan mendeteksi juga disebabkan pada rentang usia 3-5 tahun, kemampuan anak masih berkembang. Artinya, dia sedang dalam proses belajar berbicara. Ia tengah berada pada fase mulai menyesuaikan, mulai menambah perbendaharaan kata, meningkatkan pemahaman mengenai bahasa dan perkembangan makna kata. Termasuk juga penguasaan konsonan.
Kendati demikian, orangtua sebaiknya tidak membiarkan kecadelan anaknya, karena semakin lama akan semakin sulit diluruskan, sehingga bisa jadi si anak akan terus berada dalam kecadelannya. Apalagi, cadel tak akan hilang secara otomatis meski kadar keseringannya berkurang. Jadi, berikanlah stimulasi agar cadelnya tak berkelanjutan.
Bila cadel dibiarkan, maka di usia sekolah nanti, dapat menyebabkan anak merasa berbeda dengan teman-temannya. Buntutnya, anak menjadi malu dan merasa asing dari orang lain. Bisa-bisa ia tak mau bila disuruh berbicara di depan kelas karena takut ditertawakan teman-temannya. Akibatnya, anak jadi minder dan menarik diri. Terakhir, rasa minder itu akan memengaruhi self esteem atau harga diri si anak, yang dapat berlanjut ke konsep diri. Bila sampai terjadi seperti itu, tugas orangtualah untuk membangunkan harga diri anak agar ia tak minder. Caranya dengan menonjolkan kelebihan si anak sehingga dia tetap percaya diri.
4 PENYEBAB CADEL & CARA MENGATASINYA
1. Kurang matangnya koordinasi bibir dan lidah.
Kemampuan mengucapkan kata-kata, vokal dan konsonan secara sempurna, sangat bergantung pada kematangan sistem saraf otak, terutama bagian yang mengatur koordinasi motorik otot-otot lidah. Untuk mengucapkan konsonan tertentu, seperti R, diperlukan manipulasi yang cukup kompleks antara lidah, langit-langit, dan bibir.
Cara mengatasi:
Orangtua harus meluruskan dengan cara menuntun anak melafalkan ucapan yang benar. Tetapi ingat, orangtua tak boleh memaksakan anak harus langsung bisa, apalagi jika saat itu belum tiba waktu kematangannya untuk mampu melakukan hal tersebut. Pemaksaan hanya membuat anak jadi stres, sehingga akhirnya dia malah mogok berusaha meningkatkan kemahiran berbahasanya. Lakukan pula kerja sama dengan guru, sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih maksimal.
2. Kelainan fisiologis.
Cadel yang disebabkan kelainan fisiologis, jumlahnya sangat sedikit. Penyebabnya dibedakan menjadi 3 yakni:
* Gangguan pada bagian pendengaran.
Gangguan ini dapat berupa adanya kerusakan atau ketidaksempurnaan pada organ-organ yang terdapat di telinga, sehingga bisa memengaruhi pendengaran. Akibatnya, informasi yang diperoleh tidak lengkap sehingga berdampak pada daya tangkap dan tentunya juga memengaruhi kemampuan berbicaranya.
* Gangguan pada otak.
Ada beragam yang dapat dikategorikan sebagai gangguan pada otak. Di antaranya adalah perkembangan yang terlambat, atau karena penyakit yang diderita seperti radang selaput otak, atau kejang terus-menerus. Beragam gangguan ini dapat menyebabkan gangguan pada fungsi otak sehingga berdampak pada gangguan bicara. Salah satunya adalah cadel.
* Gangguan di wilayah mulut.
Gangguan ini disebabkan adanya kelainan pada organ-organ di mulut (langit-langit, lidah, bibir, rahang, dan lain-lain). Misal, bibir sumbing, langit-langitnya terlalu tinggi, lidah yang terlalu pendek, rahang yang terlalu lebar, terlalu sempit, atau memiliki bentuk yang tidak proporsional. Namun umumnya kelainan pada organ mulut ini sangat jarang terjadi.
Cara mengatasi:
Kelainan fisiologis dapat diatasi, tergantung berat ringan penyebabnya. Umumnya bila penyebabnya termasuk katagori berat, maksudnya penyakitnya tak dapat disembuhkan atau kelainan organnya tak dapat dikoreksi, maka bisa menjadi cadel yang menetap. Namun bila tergolong ringan, maka cadelnya tidak menetap.
3. Faktor lingkungan.
Misal, karena meniru orangtuanya. Banyak orangtua yang menanggapi cadel anaknya dengan kecadelan pula. "Jangan naik pagel (pagar, Red)." Akibatnya, malah bisa membuat anak jadi terkondisi untuk terus bicara cadel. Padahal saat anak belajar berbicara, ia bisa mengucapkan suatu kata tertentu karena meniru. Nah, kalau orangtua atau orang-orang yang berada di lingkungan terdekatnya berkata cadel, ia akan berpikir, itulah yang benar. Jadilah ia cadel sungguhan. Begitu juga jika ayah atau ibunya cadel (sungguhan). Kemungkinan, anak tak pernah mendengar dan belajar bagaimana seharusnya mengucapkan konsonan tertentu.
Cara mengatasi:
Orangtua harus menghentikan kebiasan berkata cadel dan melakukan koreksi. Amati dengan jeli. Contoh, bila hari ini bisa namun keesokan harinya tidak bisa, maka tugas orangtua segera mengoreksi dengan menyebutkan yang sebenarnya. Mintalah kepada anak untuk mengulanginya beberapa kali. Namun, jangan memaksa. Berikan penghargaan bila ia kembali mampu mengucapkannya dengan baik. Jika orangtua memang cadel, mintalah orang-orang yang berada di lingkungan terdekat untuk memberikan stimulasi kepada anak.
4. Faktor psikologis.
Contoh, untuk menarik perhatian orangtuanya karena kehadiran adik. Yang semula tidak cadel, tiba-tiba menjadi cadel karena mengikuti gaya berbicara adiknya.
Cara mengatasi:
Orangtua harus menunjukkan bahwa perhatian kepadanya tidak akan berkurang karena kehadiran adik. Selain itu, orangtua juga harus terus mengajak anak bicara dengan bahasa yang benar, jangan malah menirukan pelafalan yang tidak tepat.
MENCEGAH CADEL
Demi menghindari timbulnya cadel, rajin-rajinlah memberikan stimulasi pengucapan yang benar. Paling lambat saat anak berusia 2 tahun. Jangan gunakan bahasa dengan pengucapan yang cadel. Jangan mengganti bunyi "s" dengan "c" atau "r" dengan "l", dan lain-lain.
Jangan pula menghilangkan konsonan tertentu dalam berbicara. Ini kerap dilakukan tanpa disadari oleh orang dewasa dengan alasan memudahkan. Yang paling sering adalah konsonan "R", semisal "pergi" jadi "pegi" atau "es krim" jadi "ekim".
INISIATIF Lalu KREATIF
Untuk menjadi kreatif anak perlu bekal. Bagaimana memperoleh bekal itu?
Kita semua tentu sepakat bahwa setiap anak terlahir dengan keunikan masing-masing. Tapi apakah kita juga tahu kalau di balik keunikan tadi, semua anak pada dasarnya memiliki bibit kreatif yang sama. Coba saja amati, adakah anak balita yang tidak melakukan eksplorasi dan tidak pernah coba-coba? Adakah anak prasekolah yang tidak punya ide "gila" atau melakukan sesuatu dari hasil olah pikirnya sendiri? Jawabannya pasti semua balita suka bereksperimen dan senang dengan ide-ide "gila". Dengan kata lain, semua anak punya modal untuk menjadi individu kreatif. Tergantung bagaimana orangtua mengasuh, membimbing, dan me-rangsang kreativitasnya.
Menurut psikolog Mayke Tedjasaputra, M.Si, di usia ini anak memang sedang dalam masa inisiatif. Jadi, jangan heran kalau ada saja yang dilakukan si prasekolah yang sering kali benar-benar tak terpikirkan oleh kita. Misalnya, "Motor jadi lebih keren kalau punya roda empat." Pemikiran-pemikiran brilian seperti ini, bila dipupuk dengan baik sangat mungkin akan mengantar si prasekolah tumbuh menjadi anak kreatif. Jadi, istilah paling tepat untuk masa ini adalah usia penuh inisiatif yang kelak membuahkan kreativitas. "Kreatif memung-kinkan anak mampu mencipta-kan sesuatu yang orisinal. Sedangkan inisiatif merupakan keinginan untuk melakukan sesuatu atas kehendak sendiri," tambah Mayke.
KADAR BERBEDA-BEDA
Anak yang bakal tumbuh penuh inisiatif adalah anak yang kemandiriannya oke, kemampuan motorik halus dan kasarnya tak bermasalah, pemberani, selalu ingin tahu dengan mencoba-coba, dan senantiasa mendapat masukan dari apa yang dialami maupun yang diceritakan orang lain. Beruntunglah anak yang diberi kesempatan untuk bereksplorasi, mencoba ini dan itu oleh orangtuanya, tidak banyak dilarang, tidak melulu dilayani dan dibantu dalam segala hal. Orangtua seperti inilah yang mampu menjadikan anak kaya akan inisiatif.
Menurut psikolog dari LPT UI ini, anak yang punya inisiatif bisa dikelompokkan ke dalam kategori anak-anak cerdas. Soalnya, tanpa didukung kecerdasan, mana mungkin seorang individu punya inisiatif untuk melakukan sesuatu. Yang ada, dia hanya menunggu dan menunggu untuk "disuapi" orangtua atau orang dewasa lainnya. Bila tidak, ia akan bersikap pasif saja.
Sangat berbeda dengan anak yang punya inisiatif. Begitu melihat sesuatu dia langsung punya ide untuk melakukan ini-itu. Contohnya, begitu melihat lem, langsung terpikir, "Aku mau tempel-tempel gambar dinosaurus di pintu ah. Supaya pintu kamarku bagus." Yang perlu dipahami orangtua, inisiatif si prasekolah bisa dalam bentuk apa saja. Tidak jarang cetusan inisiatifnya membuat orangtua tercengang. Mungkin saja apa yang diperbuatnya sama sekali tidak pernah terpikirkan orangtua. Contohnya, "Yah, lihat topi baruku," katanya riang memamerkan celana pendek yang dikenakan di kepala.
CIRI-CIRI PENUH INISIATIF
Sebetulnya tidak terlalu sulit kok mengenali tanda-tanda si prasekolah penuh inisiatif. Orangtua bisa mengamatinya dari sejauh mana anak usia ini selalu bisa mencari berbagai kegiatan untuk mengisi waktu luangnya. Bisa dibilang, ia sudah mampu membuat rencana kegiatan ke depan dan keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru. Tak heran kalau anak yang memiliki inisiatif biasanya banyak bertanya guna memenuhi keingintahuannya.
Sebagai catatan, bukan berarti anak yang tidak banyak bertanya atau hanya mengamati tidak punya inisiatif, lo. Boleh jadi ia tergolong anak tipe visual. Suatu saat bisa saja orangtua akan terkaget-kaget sendiri, "Lo anakku ternyata bisa melakukan hal itu."
Karenanya, sekalipun anak tidak banyak bertanya, orangtua tetap harus rajin memberikan beragam masukan. Di antaranya dengan tidak pernah bosan melakukan dialog ataupun menjelaskan segala sesuatu kepada anak. Contohnya, "Yang seperti gambar ini namanya pesawat penumpang. Sedangkan gambar yang itu adalah pesawat jet. Biarpun ukurannya lebih kecil, tapi bisa terbang cepat." Bisa pula tambahkan, "Yuk, kita bikin pesawat-pesawatan dari kertas." Dengan begini, lama-kelamaan, anak-anak yang belum muncul inisiatifnya pun akan berubah.
Jika anak menunjukkan inisiatifnya, fasilitasi semampu kita dan tambahkan dengan pengalaman-pengalaman seru yang memancing kreativitas. Misalnya, membuat mobil dari bungkus korek api. Yang terpenting di sini, adalah cara mengajaknya. Bukan dengan nada menyuruh atau mendikte yang akhirnya membatasi kreativitas. Ketimbang menggunakan kalimat, "Kita bikin mobil-mobilan dari bungkus korek ini yuk," lebih baik, "Bungkus korek ini bagusnya kita bikin apa ya." Nah, dari hasil pemikiran inilah akan lahir kreativitas anak.
Inisiatif yang dipupuk menjadi kreativitas juga menumbuhkan rasa percaya diri dan ketangguhan yang luar biasa pada anak. Individu seperti inilah yang berpeluang besar untuk meraih kesuksesan di masa depan. Bayangkan jika anak lemah inisiatifnya, ia akan tumbuh dengan kemauan yang kurang, tak punya motivasi kuat, gampang menyerah dan lebih senang "jalan di tempat", pasif atau semaunya sendiri. Anda tak mau punya anak seperti itu, kan?
Gazali Solahuddin. Foto: Ferdi/NAKITA
"AYAH, AKU KAN LAKU-LAKI YA?"
Itulah yang kerap ditanyakan si prasekolah.
Kalau dia perempuan, pertayaannya pun akan serupa.
Jangan ditanya sebeberapa luas daya jelajah anak 3-5 tahun. Salah satu kegemarannya adalah menjelajahi tubuh sendiri. Ia akan membanding-bandingkannya dengan tubuh ayah-ibu dan kakak-adiknya. Tak hanya membanding-bandingkan, si prasekolah pun terdorong "mengutak-atik" tubuhnya karena dorongan ingin tahu siapa dirinya. Nah, kalau yang diutak-utik daerah kelamin, biasanya Anda langsung bereaksi keras, bukan?
Anak pun sangat ingin mengamati "organ privat" ayah-bundanya. Anda mungkin akan jengah ketika dia nyeletuk, "Katanya aku perempuan sama kayak bunda. Tapi kenapa aku enggak punya tetek?" Atau, "Lo, titit bunda mana?", "Ih...punya ayah kok keras. Yah, tititku kok kecil?"
Tak perlu hilang akal saat melihat perilaku atau mendengar ucapan-ucapan yang terkesan tak senonoh itu. "Oke-oke saja karena memang inilah masanya anak sangat ingin mengetahui siapa dirinya," kata Program Instructor KidzGrow, Nila Rosana, S.Psi.
Pencarian "siapakah aku?" didasari keingintahuan anak untuk mencari kepastian dan kejelasan. "Apa iya aku ini laki-laki", "Benar enggak, sih, aku ini perempuan?" yang kemudian juga mengarah pada area genitalnya. Laki-laki tertarik pada penisnya, perempuan tertarik pada vaginanya. Anak perempuan pun akan mempertanyakan bentuk kelamin laki-laki, dan anak laki-laki ingin tahu mengapa bentuk kelamin perempuan tidak memiliki "belalai".
RESPONS BIJAK
Jawablah dengan penjelasan ilmiah jika anak-anak bertanya seputar kelamin. Begitu pula jika Anda melihat ia menjelajahi dirinya sampai ke area itu. Reaksi kaget, marah, panik, dan melarang keras hanya membuat anak penasaran dan bingung. "Kenapa sih Mama-Papa marah? Memangnya ada apa sih dengan tititku" Lain waktu, kebingungan itu ingin ia tuntaskan sendiri. Ia akan melakukannya lagi untuk mencari tahu ada apa dengan kelaminku. Bahkan bila fase ingin tahu ini tidak terlewati dengan mulus, pertanyaan itu akan terus berkecamuk hingga anak memasuki masa puber.
Nah, guna meminimalkan dampak tak menguntungkan ini, orangtua hendaknya memberi penjelasan yang mudah ditangkap anak mengenai pertanyaan seputar dirinya. Pada si Buyung, contohnya, "Iya, Ayah dan kamu sama-sama laki-laki. Alat kelamin kita namanya penis. Bentuknya panjang. Kalau bangun pagi dan mau pipis, penis jadi keras. Tuh buktinya, penis kamu sekarang keras. Kamu mau pipis ya? Yuk, kita ke kamar mandi dulu."
Sedangkan pada si Upik, jelaskan pula kalau alat kelaminnya berbeda dari milik ayah ataupun adik/kakak laki-laki. Misalnya, "Kalau pipis sebaiknya jongkok atau duduk di kloset ya. Bukan berdiri karena pipismu enggak bisa memancar. Kamu dan bunda sama jenis kelaminnya, yaitu perempuan. Nama alat kelamin peremuan disebut vagina. Kalau Ayah dan Bunda melarang kamu pegang-pegang vagina itu karena kami khawatir kukumu panjang dan tanganmu kotor yang bisa menyebabkan vaginamu luka dan infeksi kena kuku dan kotoran."
Bukan tidak mungkin sebagian anak tidak puas dengan penjelasan seperti itu. Menghadapinya, hendaknya orangtua jangan berputus asa. Tetap jelaskan dan jawablah sesuai yang ditanyakannya. Jangan malas pula untuk senantiasa meng-up date diri dengan banyak membaca buku dan sumber pengetahuan lainnya.
NAIK LEVEL
Eksplorasi anak terhadap dirinya sendiri tak sekadar memerhatikan, membanding-bandingkan dan memainkan alat kelaminnya. Bagian tubuh lainnya pun tak luput dari perhatiannya. Di usia ini tak lelah-lelahnya anak mulai mengamati wajah, rambut, kaki, dada, bahkan bentuk telinganya. Semua ini dilakukan anak lantaran ingin mendapat jawaban atas pertanyaan "Siapakah aku?" Jangan heran kalau si prasekolah jadi rajin berlama-lama di depan cermin.
Ia pun akan mempertanyakan apa yang didapatnya dari bangku "sekolah" dengan apa yang dilihatnya sehari-hari. Contohnya, "Kata bu guru, laki-laki itu rambutnya pendek. Nah, Ayah kok rambutnya panjang? Padahal Ayah, kan, laki-laki?" Atau, "Bu guru bilang perempuan pake anting-anting di telinganya. Jadi, om depan rumah itu laki-laki atau perempuan sih, Ma? Kok dia pake anting-anting?" Menurut Nila, hal-hal tersebut wajar dipertanyakan anak usia prasekolah, mengingat nalarnya sudah semakin baik. Si prasekolah juga sudah tumbuh menjadi pengamat ulung dan penanya yang kritis.
Lalu mengapa pertanyaan seperti ini muncul? Tak lain karena pakem informasi yang digunakan orang dewasa saat menerangkan soal gender sering kali tidak seiring dengan kenyataan. Mestinya orangtua jangan menutup diri kalau dari dulu tidak sedikit pria yang berambut panjang, bahkan mengenakan anting-anting sesuai adat kebiasaannya. Namun, tentu saja informasi tersebut tidak bisa disalahkan karena informasi seperti itulah yang paling sederhana untuk disampaikan kepada anak.
Jadi tak perlu kelabakan ketika anak mengajukan pertanyaan seputar identitas yang mengarah pada gender. Orangtua semestinya justru bersyukur karena ini merupakan penanda bahwa anak sudah siap menerima informasi yang lebih tinggi levelnya. Anak akan berhenti sendiri, kok, begitu ia terpuaskan rasa ingin tahunya. (tabloid-nakita)
Kita semua tentu sepakat bahwa setiap anak terlahir dengan keunikan masing-masing. Tapi apakah kita juga tahu kalau di balik keunikan tadi, semua anak pada dasarnya memiliki bibit kreatif yang sama. Coba saja amati, adakah anak balita yang tidak melakukan eksplorasi dan tidak pernah coba-coba? Adakah anak prasekolah yang tidak punya ide "gila" atau melakukan sesuatu dari hasil olah pikirnya sendiri? Jawabannya pasti semua balita suka bereksperimen dan senang dengan ide-ide "gila". Dengan kata lain, semua anak punya modal untuk menjadi individu kreatif. Tergantung bagaimana orangtua mengasuh, membimbing, dan me-rangsang kreativitasnya.
Menurut psikolog Mayke Tedjasaputra, M.Si, di usia ini anak memang sedang dalam masa inisiatif. Jadi, jangan heran kalau ada saja yang dilakukan si prasekolah yang sering kali benar-benar tak terpikirkan oleh kita. Misalnya, "Motor jadi lebih keren kalau punya roda empat." Pemikiran-pemikiran brilian seperti ini, bila dipupuk dengan baik sangat mungkin akan mengantar si prasekolah tumbuh menjadi anak kreatif. Jadi, istilah paling tepat untuk masa ini adalah usia penuh inisiatif yang kelak membuahkan kreativitas. "Kreatif memung-kinkan anak mampu mencipta-kan sesuatu yang orisinal. Sedangkan inisiatif merupakan keinginan untuk melakukan sesuatu atas kehendak sendiri," tambah Mayke.
KADAR BERBEDA-BEDA
Anak yang bakal tumbuh penuh inisiatif adalah anak yang kemandiriannya oke, kemampuan motorik halus dan kasarnya tak bermasalah, pemberani, selalu ingin tahu dengan mencoba-coba, dan senantiasa mendapat masukan dari apa yang dialami maupun yang diceritakan orang lain. Beruntunglah anak yang diberi kesempatan untuk bereksplorasi, mencoba ini dan itu oleh orangtuanya, tidak banyak dilarang, tidak melulu dilayani dan dibantu dalam segala hal. Orangtua seperti inilah yang mampu menjadikan anak kaya akan inisiatif.
Menurut psikolog dari LPT UI ini, anak yang punya inisiatif bisa dikelompokkan ke dalam kategori anak-anak cerdas. Soalnya, tanpa didukung kecerdasan, mana mungkin seorang individu punya inisiatif untuk melakukan sesuatu. Yang ada, dia hanya menunggu dan menunggu untuk "disuapi" orangtua atau orang dewasa lainnya. Bila tidak, ia akan bersikap pasif saja.
Sangat berbeda dengan anak yang punya inisiatif. Begitu melihat sesuatu dia langsung punya ide untuk melakukan ini-itu. Contohnya, begitu melihat lem, langsung terpikir, "Aku mau tempel-tempel gambar dinosaurus di pintu ah. Supaya pintu kamarku bagus." Yang perlu dipahami orangtua, inisiatif si prasekolah bisa dalam bentuk apa saja. Tidak jarang cetusan inisiatifnya membuat orangtua tercengang. Mungkin saja apa yang diperbuatnya sama sekali tidak pernah terpikirkan orangtua. Contohnya, "Yah, lihat topi baruku," katanya riang memamerkan celana pendek yang dikenakan di kepala.
CIRI-CIRI PENUH INISIATIF
Sebetulnya tidak terlalu sulit kok mengenali tanda-tanda si prasekolah penuh inisiatif. Orangtua bisa mengamatinya dari sejauh mana anak usia ini selalu bisa mencari berbagai kegiatan untuk mengisi waktu luangnya. Bisa dibilang, ia sudah mampu membuat rencana kegiatan ke depan dan keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru. Tak heran kalau anak yang memiliki inisiatif biasanya banyak bertanya guna memenuhi keingintahuannya.
Sebagai catatan, bukan berarti anak yang tidak banyak bertanya atau hanya mengamati tidak punya inisiatif, lo. Boleh jadi ia tergolong anak tipe visual. Suatu saat bisa saja orangtua akan terkaget-kaget sendiri, "Lo anakku ternyata bisa melakukan hal itu."
Karenanya, sekalipun anak tidak banyak bertanya, orangtua tetap harus rajin memberikan beragam masukan. Di antaranya dengan tidak pernah bosan melakukan dialog ataupun menjelaskan segala sesuatu kepada anak. Contohnya, "Yang seperti gambar ini namanya pesawat penumpang. Sedangkan gambar yang itu adalah pesawat jet. Biarpun ukurannya lebih kecil, tapi bisa terbang cepat." Bisa pula tambahkan, "Yuk, kita bikin pesawat-pesawatan dari kertas." Dengan begini, lama-kelamaan, anak-anak yang belum muncul inisiatifnya pun akan berubah.
Jika anak menunjukkan inisiatifnya, fasilitasi semampu kita dan tambahkan dengan pengalaman-pengalaman seru yang memancing kreativitas. Misalnya, membuat mobil dari bungkus korek api. Yang terpenting di sini, adalah cara mengajaknya. Bukan dengan nada menyuruh atau mendikte yang akhirnya membatasi kreativitas. Ketimbang menggunakan kalimat, "Kita bikin mobil-mobilan dari bungkus korek ini yuk," lebih baik, "Bungkus korek ini bagusnya kita bikin apa ya." Nah, dari hasil pemikiran inilah akan lahir kreativitas anak.
Inisiatif yang dipupuk menjadi kreativitas juga menumbuhkan rasa percaya diri dan ketangguhan yang luar biasa pada anak. Individu seperti inilah yang berpeluang besar untuk meraih kesuksesan di masa depan. Bayangkan jika anak lemah inisiatifnya, ia akan tumbuh dengan kemauan yang kurang, tak punya motivasi kuat, gampang menyerah dan lebih senang "jalan di tempat", pasif atau semaunya sendiri. Anda tak mau punya anak seperti itu, kan?
Gazali Solahuddin. Foto: Ferdi/NAKITA
"AYAH, AKU KAN LAKU-LAKI YA?"
Itulah yang kerap ditanyakan si prasekolah.
Kalau dia perempuan, pertayaannya pun akan serupa.
Jangan ditanya sebeberapa luas daya jelajah anak 3-5 tahun. Salah satu kegemarannya adalah menjelajahi tubuh sendiri. Ia akan membanding-bandingkannya dengan tubuh ayah-ibu dan kakak-adiknya. Tak hanya membanding-bandingkan, si prasekolah pun terdorong "mengutak-atik" tubuhnya karena dorongan ingin tahu siapa dirinya. Nah, kalau yang diutak-utik daerah kelamin, biasanya Anda langsung bereaksi keras, bukan?
Anak pun sangat ingin mengamati "organ privat" ayah-bundanya. Anda mungkin akan jengah ketika dia nyeletuk, "Katanya aku perempuan sama kayak bunda. Tapi kenapa aku enggak punya tetek?" Atau, "Lo, titit bunda mana?", "Ih...punya ayah kok keras. Yah, tititku kok kecil?"
Tak perlu hilang akal saat melihat perilaku atau mendengar ucapan-ucapan yang terkesan tak senonoh itu. "Oke-oke saja karena memang inilah masanya anak sangat ingin mengetahui siapa dirinya," kata Program Instructor KidzGrow, Nila Rosana, S.Psi.
Pencarian "siapakah aku?" didasari keingintahuan anak untuk mencari kepastian dan kejelasan. "Apa iya aku ini laki-laki", "Benar enggak, sih, aku ini perempuan?" yang kemudian juga mengarah pada area genitalnya. Laki-laki tertarik pada penisnya, perempuan tertarik pada vaginanya. Anak perempuan pun akan mempertanyakan bentuk kelamin laki-laki, dan anak laki-laki ingin tahu mengapa bentuk kelamin perempuan tidak memiliki "belalai".
RESPONS BIJAK
Jawablah dengan penjelasan ilmiah jika anak-anak bertanya seputar kelamin. Begitu pula jika Anda melihat ia menjelajahi dirinya sampai ke area itu. Reaksi kaget, marah, panik, dan melarang keras hanya membuat anak penasaran dan bingung. "Kenapa sih Mama-Papa marah? Memangnya ada apa sih dengan tititku" Lain waktu, kebingungan itu ingin ia tuntaskan sendiri. Ia akan melakukannya lagi untuk mencari tahu ada apa dengan kelaminku. Bahkan bila fase ingin tahu ini tidak terlewati dengan mulus, pertanyaan itu akan terus berkecamuk hingga anak memasuki masa puber.
Nah, guna meminimalkan dampak tak menguntungkan ini, orangtua hendaknya memberi penjelasan yang mudah ditangkap anak mengenai pertanyaan seputar dirinya. Pada si Buyung, contohnya, "Iya, Ayah dan kamu sama-sama laki-laki. Alat kelamin kita namanya penis. Bentuknya panjang. Kalau bangun pagi dan mau pipis, penis jadi keras. Tuh buktinya, penis kamu sekarang keras. Kamu mau pipis ya? Yuk, kita ke kamar mandi dulu."
Sedangkan pada si Upik, jelaskan pula kalau alat kelaminnya berbeda dari milik ayah ataupun adik/kakak laki-laki. Misalnya, "Kalau pipis sebaiknya jongkok atau duduk di kloset ya. Bukan berdiri karena pipismu enggak bisa memancar. Kamu dan bunda sama jenis kelaminnya, yaitu perempuan. Nama alat kelamin peremuan disebut vagina. Kalau Ayah dan Bunda melarang kamu pegang-pegang vagina itu karena kami khawatir kukumu panjang dan tanganmu kotor yang bisa menyebabkan vaginamu luka dan infeksi kena kuku dan kotoran."
Bukan tidak mungkin sebagian anak tidak puas dengan penjelasan seperti itu. Menghadapinya, hendaknya orangtua jangan berputus asa. Tetap jelaskan dan jawablah sesuai yang ditanyakannya. Jangan malas pula untuk senantiasa meng-up date diri dengan banyak membaca buku dan sumber pengetahuan lainnya.
NAIK LEVEL
Eksplorasi anak terhadap dirinya sendiri tak sekadar memerhatikan, membanding-bandingkan dan memainkan alat kelaminnya. Bagian tubuh lainnya pun tak luput dari perhatiannya. Di usia ini tak lelah-lelahnya anak mulai mengamati wajah, rambut, kaki, dada, bahkan bentuk telinganya. Semua ini dilakukan anak lantaran ingin mendapat jawaban atas pertanyaan "Siapakah aku?" Jangan heran kalau si prasekolah jadi rajin berlama-lama di depan cermin.
Ia pun akan mempertanyakan apa yang didapatnya dari bangku "sekolah" dengan apa yang dilihatnya sehari-hari. Contohnya, "Kata bu guru, laki-laki itu rambutnya pendek. Nah, Ayah kok rambutnya panjang? Padahal Ayah, kan, laki-laki?" Atau, "Bu guru bilang perempuan pake anting-anting di telinganya. Jadi, om depan rumah itu laki-laki atau perempuan sih, Ma? Kok dia pake anting-anting?" Menurut Nila, hal-hal tersebut wajar dipertanyakan anak usia prasekolah, mengingat nalarnya sudah semakin baik. Si prasekolah juga sudah tumbuh menjadi pengamat ulung dan penanya yang kritis.
Lalu mengapa pertanyaan seperti ini muncul? Tak lain karena pakem informasi yang digunakan orang dewasa saat menerangkan soal gender sering kali tidak seiring dengan kenyataan. Mestinya orangtua jangan menutup diri kalau dari dulu tidak sedikit pria yang berambut panjang, bahkan mengenakan anting-anting sesuai adat kebiasaannya. Namun, tentu saja informasi tersebut tidak bisa disalahkan karena informasi seperti itulah yang paling sederhana untuk disampaikan kepada anak.
Jadi tak perlu kelabakan ketika anak mengajukan pertanyaan seputar identitas yang mengarah pada gender. Orangtua semestinya justru bersyukur karena ini merupakan penanda bahwa anak sudah siap menerima informasi yang lebih tinggi levelnya. Anak akan berhenti sendiri, kok, begitu ia terpuaskan rasa ingin tahunya. (tabloid-nakita)
Suka menggambar Tapi tidak suka mewarnai?
Mewarnai dan menggambar samasama merupakan hasil eksperimen dan pembelajaran anak.
Ilham, ayah dari Ibnu Syauqy (4) menceritakan, anak lelakinya itu paling enggak mau kalau diminta mewarnai gambar. "Katanya, enggak bisa rapi. Jadi, kalau mewarnai gambar robot misalnya, dia minta dipegangi tangannya oleh saya atau ibunya. Kadang-kadang malah kitanya yang disuruh mewarnai dan dia yang kasih tahu warna yang harus kita pakai. Syauqy lebih suka menggambar pakai pensil. Macammacam gambarnya seperti mobilmobilan, robot dan lainnya. Kalau sudah menggambar kelihatan asyik sekali".
Begitu pun dengan Prisilia Webert (5), putri dari Liniaty Halim. "Dia lebih senang kalau menggambar orang. Biasanya pakai pensil atau pen. Selesai menggambar dia tidak mau mewarnai gambarnya. Katanya, kalau mewarnai waktunya lama karena harus pilih-pilih warna mana yang sesuai, belum lagi harus rapi. Sementara kalau menggambar dia bisa dengan cepat melakukannya. Saya tidak pernah memaksanya untuk mewarnai gambar. Namanya juga anak-anak, saya biarkan dan beri dia kebebasan menggambar apa pun yang dia mau," tutur sang bunda.
PROSES KREATIVITAS
Ya, anak usia 3-5 tahun rata-rata memang senang menggambar dan melukis. Anak menikmati sekali menuangkan ide dan imajinasinya ke atas sehelai kertas. Aktivitas berekspresinya dimulai dari memegang krayon, merasakan kelembutan tekstur cat, meraba goresan pensil di kertas. Kesemuanya itu akan membawa anak ke dalam dunianya sendiri. Jadi, menggambar merupakan suatu proses kreativitas, bukan sekadar menghasilkan warna saja.
Sering kali terjadi kerancuan justru karena tindakan orang dewasa yang menganggap bahwa anak usia tersebut belum cukup pandai untuk menggambar. Akhirnya, diberilah buku-buku mewarnai agar si anak mewarnai gambar-gambar yang sudah tersedia dan terpola dengan bagusnya. Anak diminta mewarnai gambar yang sudah dibatasi oleh garis-garis batas yang sedemikian rapi dan sempurna.
Dampaknya pada anak, mereka merasa bahwa orang dewasa menggambarnya lebih baik dibandingkan dirinya. Selain itu, anak juga akan kehilangan daya ekspresif dan spontanitasnya karena mewarnai semacam itu dapat membatasi pengalaman kreativitas anak yang tinggi. Anak jadi kurang dapat mengekspresikan diri dan seni. Ia ragu-ragu dan takut menggambar, cenderung menyalin gambar yang ada dari buku mewarnai dan tidak menampilkan keunikannya sendiri. Bahkan penelitian yang dilakukan Dr. Irene Russell, dari Amerika Serikat menemukan bahwa pembatasan pada kegiatan mewarnai saja dapat menghilangkan kemampuan anak untuk mengekspresikan perasaan mereka melalui seni.
HINDARI POLA
Mewarnai memang merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kreativitas. Namun, orangtua tak perlu khawatir bila anak tak suka mewarnai. Bisa saja orangtua menstimulasinya dengan cara menyediakan berbagai media mewarnai yang beraneka ragam sesuai usia anak dan juga yang menarik minatnya. Seperti cat, kapur, lilin, pewarna makanan, spidol warna warni, krayon atau pensil warna. Lindungi pakaian anak dengan celemek jika takut kotor.
Daripada menyediakan pola-pola gambar yang baku dan cenderung untuk mendikte anak mengikuti pola (outline), biarkan anak mengekspresikan warna pada kertas dengan ruang kosong yang luas. Misal, kertas berukuran besar yang bisa digambari objek seukuran tubuh anak (anak berbaring di atas kertas dan orangtua menarik garis lingkar luar di sekitar tubuhnya), untuk kemudian gambar tersebut diwarnai bersama-sama orangtua. Bisa juga anak menambahkan sendiri pola gambarnya di ruang tersebut sehingga anak dapat berkreasi dan mewarnai bebas autonom. Berikan anak kesempatan menuangkan imajinasinya dan berekspresi sendiri serta mengomunikasikan dirinya dengan warna-warna yang ada.
Jangan paksakan anak untuk menciptakan warna sesuai "selera" orang dewasa/sesuai apa yang dilihat oleh "kacamata" orang dewasa. Anak usia 3-5 tahun mewarnai sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Misal, matahari diberi warna merah, tanah warna kuning, atau awannya warna pink. Itulah imajinasi seorang anak yang tak akan pernah dirasakan lagi saat dewasa. Mungkin saja ketika ditanya anak mengatakan ia mewarnai matahari seperti itu karena sinarnya sangat panas atau warna pink pada awan menandakan pelangi yang muncul, dan sebagainya. Perkembangan mewarnai pun seiring dengan usianya. Contoh, anak 3 tahun mulai mencoret dengan satu warna; anak 4 tahun sudah berwarna-warni seimbang dengan gambar; anak 5 tahun sudah menggunakan banyak warna.
Keterlibatan orangtua saat proses kreatif amat penting sehingga anak berminat untuk berkreasi maksimal. Orangtua bisa mendampingi anak atau sambil bercengkerama gembira turut menggoreskan warna dengan jari ke kertas. Anak pasti sangat menikmati proses berkreasi tersebut. Bisa jadi setelah goresan awal, ia akan terpicu menggores lagi dengan warna-warna lain sehingga terciptalah suatu karya unik milik mereka. Beri pujian atas hasil gambarnya serta diskusikan pula hasil tersebut dengan anak. Jika perlu, hasil karya yang paling disukainya ditempelkan di dinding atau diberi bingkai lalu ditaruh di kamar anak.
Lewat proses mewarnai sebetulnya anak belajar mengenai pengenalan warna-warna. Pengenalan warna ini dapat merangsang daya pengamatan, daya imajinasi, serta penyampaian motorik kasar dan halus anak dan mengasah kemampuan komunikasinya dalam bentuk visual. Anak pun jadi lebih peka terhadap pengenalan warna, lebih terarah dalam mewarnai, dan terampil memilih kombinasi warna.
SESUAI KEINGINAN
Menggambar juga merupakan salah satu cara anak untuk mengomunikasikan imajinasinya. Jadi, tak masalah jika anak hanya sukanya menggambar saja tanpa mau mewarnainya. Tetap dukung si anak menuangkan apa yang ada dalam pikiran/imajinasinya menjadi sebuah bentuk visual. Itulah proses kreatif. Orangtua hendaknya senantiasa berusaha mengerti gambar apa yang mereka maksudkan. Jangan bertanya ataupun mengkritik hasilnya supaya anak tidak kecewa.
Sebetulnya, kemampuan anak dalam menggambar berkembang seiring dengan perkembangan usianya. Di usia 3 tahun, anak menggambar bentuk orang hanya berupa lingkaran besar yang dibubuhi mata, mulut, serta kedua kaki dan tangan yang langsung menempel pada lingkaran tersebut. Saat usia 4 tahun, mulai ada keseimbangan pada gambar; bentuk orangnya kini mempunyai tungkai dan lengan. Saat usia 5 tahun gambarnya mulai ada penambahan latar belakang di sekitar objek utama, seperti gambar bunga, matahari, rumput, burung, dan sebagainya. Pada masa prasekolah ini sebetulnya belum ada keinginan anak untuk memberi detail pada gambarnya. Ia belum sadar bahwa karyanya adalah sebuah hasil seni. Ia mencoret mengenai apa yang ia inginkan, bukan apa yang dilihatnya. Apa yang mereka gambar belumlah proporsional sebagaimana gambar orang dewasa. Biarkan mereka maju seiring dengan perkembangannya.
Stimulasilah anak untuk tetap mau menggambar. Caranya dengan tidak memaksa anak untuk menggambar objek dengan realis. Untuk memicu keinginan menggambar dapat dengan mendongeng/bercerita tentang pengalaman menarik. Apa pun hasil karya si anak senantiasalah puji agar anak termotivasi, merasa bangga dan muncul rasa berprestasi atas hasil karyanya. Jika orangtua mengkritik, salah-salah malah membuat anak malas, kecewa, dan takut untuk berekspresi lagi, lantaran merasa gambarnya tidak komunikatif/dimengerti oleh orang dewasa.
BAHASA RUPA ANAK
Sering kali terjadi, anak selesai menggambar malas untuk mewarnai. Begitu pun mungkin sebaliknya, ada anak senang mewarnai saja dan tidak mau menggambar. Memang akan lebih baik jika keduanya mau dilakukan anak. Namun kembali lagi pada definisi "baik" mewarnai atau menggambarnya dalam konteks apa? Sebab, pembelajaran adalah sebuah input-proses dan output-hasil. Jadi, jangan menilai dari hasilnya saja. Apalagi nilai berdasarkan standar orang dewasa. Pertimbangkan input (usia/perkembangan rupa anak, media, kesempatan, emosi/jiwa) dan proses saat berkreasi (gembira, menjiwai, menikmati).
Anak yang suka mewarnai saja belum tentu tak bisa menggambar. Hanya saja kesempatan menggambar yang diberikan kurang atau bahkan dihambat. Misalnya hanya menyediakan buku mewarnai ketimbang memotivasi anak untuk menggambar. Apalagi bila pujian hanya muncul jika ia berhasil mewarnai dengan rapi tanpa melihat pentingnya kemampuan berimajinasi. Hal tersebut akan semakin menjauhi keinginannya untuk menggambar.
Sebetulnya, menggambar maupun mewarnai merupakan bahasa rupa anak. Samasama merupakan sebuah hasil bereksperimen, pembelajaran, dan penghayatan yang berbuah kreasi. Itulah yang terjadi saat anak menggambar maupun mewarnai dimana anak belajar melalui bermain. Baik menggambar ataupun mewarnai, keduanya dapat meningkatkan kemampuan otak kanan, yang berkaitan dengan berekspresi dan berkesenian. Sering kali kemampuan ini kurang diperoleh dari pelajaran di sekolah yang lebih cenderung menekankan pentingnya otak kiri (menghafal, mengingat).
Orangtua maupun pendidik hendaknya menyadari bahwa Tuhan telah menciptakan otak begitu sempurna dengan dua belahan (hemisfer) kiri dan kanan. Marilah, mulai menstimulasi "seluruh otak" anak baik pikiran dan perasaannya dengan merangsang kreativitasnya.(tabloid-nakita)
Ilham, ayah dari Ibnu Syauqy (4) menceritakan, anak lelakinya itu paling enggak mau kalau diminta mewarnai gambar. "Katanya, enggak bisa rapi. Jadi, kalau mewarnai gambar robot misalnya, dia minta dipegangi tangannya oleh saya atau ibunya. Kadang-kadang malah kitanya yang disuruh mewarnai dan dia yang kasih tahu warna yang harus kita pakai. Syauqy lebih suka menggambar pakai pensil. Macammacam gambarnya seperti mobilmobilan, robot dan lainnya. Kalau sudah menggambar kelihatan asyik sekali".
Begitu pun dengan Prisilia Webert (5), putri dari Liniaty Halim. "Dia lebih senang kalau menggambar orang. Biasanya pakai pensil atau pen. Selesai menggambar dia tidak mau mewarnai gambarnya. Katanya, kalau mewarnai waktunya lama karena harus pilih-pilih warna mana yang sesuai, belum lagi harus rapi. Sementara kalau menggambar dia bisa dengan cepat melakukannya. Saya tidak pernah memaksanya untuk mewarnai gambar. Namanya juga anak-anak, saya biarkan dan beri dia kebebasan menggambar apa pun yang dia mau," tutur sang bunda.
PROSES KREATIVITAS
Ya, anak usia 3-5 tahun rata-rata memang senang menggambar dan melukis. Anak menikmati sekali menuangkan ide dan imajinasinya ke atas sehelai kertas. Aktivitas berekspresinya dimulai dari memegang krayon, merasakan kelembutan tekstur cat, meraba goresan pensil di kertas. Kesemuanya itu akan membawa anak ke dalam dunianya sendiri. Jadi, menggambar merupakan suatu proses kreativitas, bukan sekadar menghasilkan warna saja.
Sering kali terjadi kerancuan justru karena tindakan orang dewasa yang menganggap bahwa anak usia tersebut belum cukup pandai untuk menggambar. Akhirnya, diberilah buku-buku mewarnai agar si anak mewarnai gambar-gambar yang sudah tersedia dan terpola dengan bagusnya. Anak diminta mewarnai gambar yang sudah dibatasi oleh garis-garis batas yang sedemikian rapi dan sempurna.
Dampaknya pada anak, mereka merasa bahwa orang dewasa menggambarnya lebih baik dibandingkan dirinya. Selain itu, anak juga akan kehilangan daya ekspresif dan spontanitasnya karena mewarnai semacam itu dapat membatasi pengalaman kreativitas anak yang tinggi. Anak jadi kurang dapat mengekspresikan diri dan seni. Ia ragu-ragu dan takut menggambar, cenderung menyalin gambar yang ada dari buku mewarnai dan tidak menampilkan keunikannya sendiri. Bahkan penelitian yang dilakukan Dr. Irene Russell, dari Amerika Serikat menemukan bahwa pembatasan pada kegiatan mewarnai saja dapat menghilangkan kemampuan anak untuk mengekspresikan perasaan mereka melalui seni.
HINDARI POLA
Mewarnai memang merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kreativitas. Namun, orangtua tak perlu khawatir bila anak tak suka mewarnai. Bisa saja orangtua menstimulasinya dengan cara menyediakan berbagai media mewarnai yang beraneka ragam sesuai usia anak dan juga yang menarik minatnya. Seperti cat, kapur, lilin, pewarna makanan, spidol warna warni, krayon atau pensil warna. Lindungi pakaian anak dengan celemek jika takut kotor.
Daripada menyediakan pola-pola gambar yang baku dan cenderung untuk mendikte anak mengikuti pola (outline), biarkan anak mengekspresikan warna pada kertas dengan ruang kosong yang luas. Misal, kertas berukuran besar yang bisa digambari objek seukuran tubuh anak (anak berbaring di atas kertas dan orangtua menarik garis lingkar luar di sekitar tubuhnya), untuk kemudian gambar tersebut diwarnai bersama-sama orangtua. Bisa juga anak menambahkan sendiri pola gambarnya di ruang tersebut sehingga anak dapat berkreasi dan mewarnai bebas autonom. Berikan anak kesempatan menuangkan imajinasinya dan berekspresi sendiri serta mengomunikasikan dirinya dengan warna-warna yang ada.
Jangan paksakan anak untuk menciptakan warna sesuai "selera" orang dewasa/sesuai apa yang dilihat oleh "kacamata" orang dewasa. Anak usia 3-5 tahun mewarnai sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Misal, matahari diberi warna merah, tanah warna kuning, atau awannya warna pink. Itulah imajinasi seorang anak yang tak akan pernah dirasakan lagi saat dewasa. Mungkin saja ketika ditanya anak mengatakan ia mewarnai matahari seperti itu karena sinarnya sangat panas atau warna pink pada awan menandakan pelangi yang muncul, dan sebagainya. Perkembangan mewarnai pun seiring dengan usianya. Contoh, anak 3 tahun mulai mencoret dengan satu warna; anak 4 tahun sudah berwarna-warni seimbang dengan gambar; anak 5 tahun sudah menggunakan banyak warna.
Keterlibatan orangtua saat proses kreatif amat penting sehingga anak berminat untuk berkreasi maksimal. Orangtua bisa mendampingi anak atau sambil bercengkerama gembira turut menggoreskan warna dengan jari ke kertas. Anak pasti sangat menikmati proses berkreasi tersebut. Bisa jadi setelah goresan awal, ia akan terpicu menggores lagi dengan warna-warna lain sehingga terciptalah suatu karya unik milik mereka. Beri pujian atas hasil gambarnya serta diskusikan pula hasil tersebut dengan anak. Jika perlu, hasil karya yang paling disukainya ditempelkan di dinding atau diberi bingkai lalu ditaruh di kamar anak.
Lewat proses mewarnai sebetulnya anak belajar mengenai pengenalan warna-warna. Pengenalan warna ini dapat merangsang daya pengamatan, daya imajinasi, serta penyampaian motorik kasar dan halus anak dan mengasah kemampuan komunikasinya dalam bentuk visual. Anak pun jadi lebih peka terhadap pengenalan warna, lebih terarah dalam mewarnai, dan terampil memilih kombinasi warna.
SESUAI KEINGINAN
Menggambar juga merupakan salah satu cara anak untuk mengomunikasikan imajinasinya. Jadi, tak masalah jika anak hanya sukanya menggambar saja tanpa mau mewarnainya. Tetap dukung si anak menuangkan apa yang ada dalam pikiran/imajinasinya menjadi sebuah bentuk visual. Itulah proses kreatif. Orangtua hendaknya senantiasa berusaha mengerti gambar apa yang mereka maksudkan. Jangan bertanya ataupun mengkritik hasilnya supaya anak tidak kecewa.
Sebetulnya, kemampuan anak dalam menggambar berkembang seiring dengan perkembangan usianya. Di usia 3 tahun, anak menggambar bentuk orang hanya berupa lingkaran besar yang dibubuhi mata, mulut, serta kedua kaki dan tangan yang langsung menempel pada lingkaran tersebut. Saat usia 4 tahun, mulai ada keseimbangan pada gambar; bentuk orangnya kini mempunyai tungkai dan lengan. Saat usia 5 tahun gambarnya mulai ada penambahan latar belakang di sekitar objek utama, seperti gambar bunga, matahari, rumput, burung, dan sebagainya. Pada masa prasekolah ini sebetulnya belum ada keinginan anak untuk memberi detail pada gambarnya. Ia belum sadar bahwa karyanya adalah sebuah hasil seni. Ia mencoret mengenai apa yang ia inginkan, bukan apa yang dilihatnya. Apa yang mereka gambar belumlah proporsional sebagaimana gambar orang dewasa. Biarkan mereka maju seiring dengan perkembangannya.
Stimulasilah anak untuk tetap mau menggambar. Caranya dengan tidak memaksa anak untuk menggambar objek dengan realis. Untuk memicu keinginan menggambar dapat dengan mendongeng/bercerita tentang pengalaman menarik. Apa pun hasil karya si anak senantiasalah puji agar anak termotivasi, merasa bangga dan muncul rasa berprestasi atas hasil karyanya. Jika orangtua mengkritik, salah-salah malah membuat anak malas, kecewa, dan takut untuk berekspresi lagi, lantaran merasa gambarnya tidak komunikatif/dimengerti oleh orang dewasa.
BAHASA RUPA ANAK
Sering kali terjadi, anak selesai menggambar malas untuk mewarnai. Begitu pun mungkin sebaliknya, ada anak senang mewarnai saja dan tidak mau menggambar. Memang akan lebih baik jika keduanya mau dilakukan anak. Namun kembali lagi pada definisi "baik" mewarnai atau menggambarnya dalam konteks apa? Sebab, pembelajaran adalah sebuah input-proses dan output-hasil. Jadi, jangan menilai dari hasilnya saja. Apalagi nilai berdasarkan standar orang dewasa. Pertimbangkan input (usia/perkembangan rupa anak, media, kesempatan, emosi/jiwa) dan proses saat berkreasi (gembira, menjiwai, menikmati).
Anak yang suka mewarnai saja belum tentu tak bisa menggambar. Hanya saja kesempatan menggambar yang diberikan kurang atau bahkan dihambat. Misalnya hanya menyediakan buku mewarnai ketimbang memotivasi anak untuk menggambar. Apalagi bila pujian hanya muncul jika ia berhasil mewarnai dengan rapi tanpa melihat pentingnya kemampuan berimajinasi. Hal tersebut akan semakin menjauhi keinginannya untuk menggambar.
Sebetulnya, menggambar maupun mewarnai merupakan bahasa rupa anak. Samasama merupakan sebuah hasil bereksperimen, pembelajaran, dan penghayatan yang berbuah kreasi. Itulah yang terjadi saat anak menggambar maupun mewarnai dimana anak belajar melalui bermain. Baik menggambar ataupun mewarnai, keduanya dapat meningkatkan kemampuan otak kanan, yang berkaitan dengan berekspresi dan berkesenian. Sering kali kemampuan ini kurang diperoleh dari pelajaran di sekolah yang lebih cenderung menekankan pentingnya otak kiri (menghafal, mengingat).
Orangtua maupun pendidik hendaknya menyadari bahwa Tuhan telah menciptakan otak begitu sempurna dengan dua belahan (hemisfer) kiri dan kanan. Marilah, mulai menstimulasi "seluruh otak" anak baik pikiran dan perasaannya dengan merangsang kreativitasnya.(tabloid-nakita)
Kemandirian anak
Apa saja bentuk kemandirian yang perlu dikuasai anak prasekolah? Inilah daftarnya.
USIA 3-4 TAHUN
* Sikat gigi sendiri meski belum sempurna.
Ajak anak menyiapkan sikat gigi, odol dan gelas berisi air matang untuk berkumur. Dengan arahan orangtua, biarkan anak menggosok sendiri giginya.
* Buka-pakai baju kaus dan celana berkaret.
Di akhir usia 3 tahun, anak dapat membedakan mana bagian depan dan mana bagian belakang baju kausnya sehingga tidak lagi terbolak-balik.
Ajak anak menyediakan baju dan celana yang akan dipakai. Biarkan ia membuka baju/celana dan memakainya sendiri. Tak masalah jika dia memakai baju dari bagian tangannya terlebih dulu atau dari bagian kepalanya., tergantung mana yang lebih disukai anak. Begitupun untuk celana, boleh kaki kiri atau kanan duluan, suka-suka si kecil. Biasanya anak akan memakai celana dalam posisi duduk, baru kemudian berdiri setelah kedua kakinya masuk ke dalam masing-masing lubang celana.
* Memakai sepatu berperekat.
Sediakan sepatu dengan "kan-cing" berperekat, sehingga mudah dilepas-pasang oleh si kecil. Biarkan anak memakai dan membuka sepatunya sendiri. Umumnya anak 3 tahun sudah dapat memasukkan kakinya ke dalam sepatu.
* Mandi sendiri dengan arahan.
Minta anak menyiram badannya dengan air, lalu menyabuninya. Sebaiknya gunakan sabun cair. Ingatkan bila ada bagian yang terlupa. Untuk menyabuni tubuh bagian belakang, si kecil masih butuh dibantu. Setelah itu, minta ia membilas badannya. Beri tahu jika masih ada busa sabun yang tersisa di badannya, agar ia menyiramkan air ke bagian tersebut. Usai mandi, minta anak mengeringkan badannya dengan handuk.
* Pipis di toilet.
Begitu anak bilang ingin pipis, minta ia segera ke toilet dan membuka celananya sendiri. Usai pipis, ajari anak untuk membasuh alat kelaminnya dengan menyiramkan air pakai gayung atau semprotan air. Anak sudah bisa kok memegang dan menyendok air dengan gayung kecil, juga menekan semprotan air sendiri.
* Mencuci tangan tanpa dibantu.
Setiap kali hendak makan atau setelah melakukan suatu aktivitas seperti bermain dan buang air, biasakan anak untuk mencuci tangannya dengan sabun hingga bersih. Ajak anak ke wastafel atau ke tempat keran air. Biarkan ia sendiri yang membuka keran air dan membasahi tangannya di bawah air yang mengalir, menyabuninya—sebaiknya sabun cair—, lalu membilasnya. Setelah itu, mengeringkannya dengan lap bersih yang telah tersedia.
* Sediakan peralatan makan khusus anak, baik dalam bentuk, ukuran maupun bahannya yang tak mudah pecah. Orangtua bisa membantu menaruhkan makanan sesuai porsi makan si anak, baik berupa nasi dengan lauk pauknya, mi, dan sebagainya.
* Menuang air tanpa tum-pah dan minum sendiri dari gelas tanpa gagang maupun cangkir bergagang.
Sediakan gelas/cangkir dan teko/botol kecil berisi air, letakkan di tempat yang mudah dijangkau anak. Setiap kali anak minta minum, suruh ia untuk menuangkan air minum dari teko/botol tersebut ke dalam gelas/cangkirnya. Ingat, semua peralatan tersebut terbuat dari bahan yang tak mudah pecah. Sebagai latihan menuang air, sangat baik bila orangtua juga menyediakan mainan seperangkat alat minum teh, sehingga anak bisa bermain tuang air ke dalam cangkir-cangkir kecilnya. Ingatkan untuk tidak terlalu penuh menuangnya agar tidak tumpah.
* Membereskan mainan usai bermain.
Sediakan beberapa kotak dengan warna berbeda sebagai wadah penyimpan mainan. Setiap kali usai bermain, ajak anak menyimpan kembali mainannya ke dalam kotak-kotak tersebut. Bila ada mainan yang tercecer, minta anak untuk mengambil mainan itu dan menaruh ke dalam wadahnya.
* Buka-tutup pintu, baik dengan pegangan yang diputar maupun ditekan ke bawah. Anak juga dapat memutar anak kunci.
Minta anak untuk membukakan pintu ketika terdengar suara ketukan di pintu atau menutup pintu kamar ketika ia habis keluar-masuk kamar. Hindari menggantungkan anak kunci di sisi dalam pintu untuk menghindari risiko anak terkunci sendirian di dalam ruangan/kamar.
USIA 4-5 TAHUN
Selain kemampuan-kemampuan yang sudah dikuasai di usia 3-4 tahun, maka di usia 4-5 tahun anak seharusnya dapat pula melakukan aktivitas-aktivitas berikut ini:
* Menggunakan pisau untuk memotong makanan.
Berikan pisau yang tidak terlalu tajam. Di atas piring, letakkan makanan yang mudah dipotong seperti sejuring pepaya yang sudah dikupas, ubi atau kentang rebus, dan lainnya. Tunjukkan bagaimana cara memotongnya, lalu minta anak untuk melakukannya sendiri. Bila anak mengalami kesulitan, bantu dengan cara memegang tangannya.
Bisa juga, saat ibu sedang memotong-motong sayuran yang hendak dimasak, libatkan si kecil. Atau, ajak anak bermain masak-masakan, misal memotong tahu yang dibuat dari lilin mainan.
* Buka-pakai baju berkan-cing depan.
Latih anak membuka kancing dan memasangkannya dengan menggunakan kancing agak besar. Tunjukkan bagaimana caranya, lalu minta anak untuk melakukannya sendiri. Bila anak mengalami kesulitan, bantu dengan memegang tangannya. Setelah anak terampil buka-pasang kancing besar, barulah latih dia buka-pasang kancing dari bajunya.
* Buka-tutup celana beresleting.
Contohkan bagaimana cara membuka dan menutup resleting, lalu minta anak melakukannya sendiri. Bila mengalami kesulitan barulah dibantu dengan memegang tangannya.
* Menalikan sepatu.
Tunjukkan bagaimana cara mengikat dan membuka tali sepatu. Minta anak melakukannya sambil dibantu. Sering-seringlah mengajak anak melakukan latihan ikat-buka tali sepatu.
* Mandi sendiri tanpa arahan.
Anak sudah bisa mandi sendiri dengan menggunakan gayung mandi maupun shower tanpa arahan. Begitupun membersihkan badannya dengan sabun. Meski demikian, tak ada salahnya orangtua sesekali mengontrol cara anak mandi dan menyabuni badan.
* Cebok sehabis buang air kecil/besar.
Khusus anak perempuan, ajarkan cara membasuh alat kelaminnya dari arah depan ke belakang dan bukan sebaliknya, terutama usai buang air besar. Jelaskan alasannya dengan bahasa sederhana, yakni agar kotoran dan kuman yang mungkin tertinggal di anus tidak terbawa ke vagina. Setelah itu, minta anak untuk mengeringkan alat kelaminnya dengan handuk kecil yang bersih agar tidak lembap. Saat memakai celana kembali, ingatkan anak untuk berpegangan pada dinding kamar mandi agar tidak terjatuh akibat ketidakseimbangan tubuhnya.
● Menyisir rambut.
Setiap usai mandi, minta anak untuk menyisir sendiri rambutnya. Bagi si Upik yang berambut panjang, tentu masih perlu bantuan orangtua bila rambutnya hendak diikat kuda ataupun dikepang.
KONSEP DIRI POSITIF
Melatih kemandirian anak secara terus-menerus dan simultan dalam keseharian sangatlah penting di usia ini. Jika anak diberi kesempatan, ia akan punya konsep diri yang positif. Ia merasa percaya diri dan mampu melakukan segala sesuatu dengan kemampuan dirinya sendiri. Selain itu, anak pun akan kaya dengan pengalaman.
Bila orangtua tidak memberi kesempatan pada anak dan membiarkan anak tak mandiri, maka ia pun akan terbiasa tergantung pada orang lain dan tak bisa melakukan apa-apa sendiri. Bahkan, hal ini dapat berlanjut hingga di usia sekolah, semisal anak tak mau makan kalau tidak disuapi.
Selain terkait dengan konsep diri yang positif, mengajarkan kemandirian juga berarti mengajarkan tanggung jawab pada anak dan mengembangkan pula kebiasaan-kebiasaan baik yang positif. Hal ini akan terbawa sampai ia dewasa nanti.
3 HAL PENTING
Ada 3 hal yangg harus diperhatikan orangtua dalam mengajarkan kemandirian pada anak usia prasekolah, yaitu:
1. Sabar
Kesabaran orangtua merupakan kunci dalam mengajari anak. Memang akan terasa capek menjelaskan atau menunggu anak menyelesaikan pekerjaannya. Namun bagi anak ada suatu kebanggaan bila ia bisa melakukannya. Orangtua yang tak sabaran bisa menyurutkan rasa ingin tahu anak sehingga ia pun enggan atau kehilangan minat untuk melakukannya.
2. Aktivitas Beragam
Beri kesempatan pada anak untuk melakukan suatu pekerjaan/aktivitas yang beragam dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya.
3. Tak Banyak Kritik
Jika orangtua sering mengkritik pekerjaan anak, maka anak akan menjadi takut salah, takut mencoba dan sebagainya. Akibatnya, anak bisa trauma dan tak mau mengulangi lagi pekerjaannya karena anak merasa usahanya tak dihargai. Harusnya, orangtua tetap memberikan apresiasi/pujian meskipun pekerjaan anak belum sempurna. Dengan begitu, anak akan bersemangat sehingga ia mau melakukannya kembali, mau mencoba lagi.
USIA 3-4 TAHUN
* Sikat gigi sendiri meski belum sempurna.
Ajak anak menyiapkan sikat gigi, odol dan gelas berisi air matang untuk berkumur. Dengan arahan orangtua, biarkan anak menggosok sendiri giginya.
* Buka-pakai baju kaus dan celana berkaret.
Di akhir usia 3 tahun, anak dapat membedakan mana bagian depan dan mana bagian belakang baju kausnya sehingga tidak lagi terbolak-balik.
Ajak anak menyediakan baju dan celana yang akan dipakai. Biarkan ia membuka baju/celana dan memakainya sendiri. Tak masalah jika dia memakai baju dari bagian tangannya terlebih dulu atau dari bagian kepalanya., tergantung mana yang lebih disukai anak. Begitupun untuk celana, boleh kaki kiri atau kanan duluan, suka-suka si kecil. Biasanya anak akan memakai celana dalam posisi duduk, baru kemudian berdiri setelah kedua kakinya masuk ke dalam masing-masing lubang celana.
* Memakai sepatu berperekat.
Sediakan sepatu dengan "kan-cing" berperekat, sehingga mudah dilepas-pasang oleh si kecil. Biarkan anak memakai dan membuka sepatunya sendiri. Umumnya anak 3 tahun sudah dapat memasukkan kakinya ke dalam sepatu.
* Mandi sendiri dengan arahan.
Minta anak menyiram badannya dengan air, lalu menyabuninya. Sebaiknya gunakan sabun cair. Ingatkan bila ada bagian yang terlupa. Untuk menyabuni tubuh bagian belakang, si kecil masih butuh dibantu. Setelah itu, minta ia membilas badannya. Beri tahu jika masih ada busa sabun yang tersisa di badannya, agar ia menyiramkan air ke bagian tersebut. Usai mandi, minta anak mengeringkan badannya dengan handuk.
* Pipis di toilet.
Begitu anak bilang ingin pipis, minta ia segera ke toilet dan membuka celananya sendiri. Usai pipis, ajari anak untuk membasuh alat kelaminnya dengan menyiramkan air pakai gayung atau semprotan air. Anak sudah bisa kok memegang dan menyendok air dengan gayung kecil, juga menekan semprotan air sendiri.
* Mencuci tangan tanpa dibantu.
Setiap kali hendak makan atau setelah melakukan suatu aktivitas seperti bermain dan buang air, biasakan anak untuk mencuci tangannya dengan sabun hingga bersih. Ajak anak ke wastafel atau ke tempat keran air. Biarkan ia sendiri yang membuka keran air dan membasahi tangannya di bawah air yang mengalir, menyabuninya—sebaiknya sabun cair—, lalu membilasnya. Setelah itu, mengeringkannya dengan lap bersih yang telah tersedia.
* Sediakan peralatan makan khusus anak, baik dalam bentuk, ukuran maupun bahannya yang tak mudah pecah. Orangtua bisa membantu menaruhkan makanan sesuai porsi makan si anak, baik berupa nasi dengan lauk pauknya, mi, dan sebagainya.
* Menuang air tanpa tum-pah dan minum sendiri dari gelas tanpa gagang maupun cangkir bergagang.
Sediakan gelas/cangkir dan teko/botol kecil berisi air, letakkan di tempat yang mudah dijangkau anak. Setiap kali anak minta minum, suruh ia untuk menuangkan air minum dari teko/botol tersebut ke dalam gelas/cangkirnya. Ingat, semua peralatan tersebut terbuat dari bahan yang tak mudah pecah. Sebagai latihan menuang air, sangat baik bila orangtua juga menyediakan mainan seperangkat alat minum teh, sehingga anak bisa bermain tuang air ke dalam cangkir-cangkir kecilnya. Ingatkan untuk tidak terlalu penuh menuangnya agar tidak tumpah.
* Membereskan mainan usai bermain.
Sediakan beberapa kotak dengan warna berbeda sebagai wadah penyimpan mainan. Setiap kali usai bermain, ajak anak menyimpan kembali mainannya ke dalam kotak-kotak tersebut. Bila ada mainan yang tercecer, minta anak untuk mengambil mainan itu dan menaruh ke dalam wadahnya.
* Buka-tutup pintu, baik dengan pegangan yang diputar maupun ditekan ke bawah. Anak juga dapat memutar anak kunci.
Minta anak untuk membukakan pintu ketika terdengar suara ketukan di pintu atau menutup pintu kamar ketika ia habis keluar-masuk kamar. Hindari menggantungkan anak kunci di sisi dalam pintu untuk menghindari risiko anak terkunci sendirian di dalam ruangan/kamar.
USIA 4-5 TAHUN
Selain kemampuan-kemampuan yang sudah dikuasai di usia 3-4 tahun, maka di usia 4-5 tahun anak seharusnya dapat pula melakukan aktivitas-aktivitas berikut ini:
* Menggunakan pisau untuk memotong makanan.
Berikan pisau yang tidak terlalu tajam. Di atas piring, letakkan makanan yang mudah dipotong seperti sejuring pepaya yang sudah dikupas, ubi atau kentang rebus, dan lainnya. Tunjukkan bagaimana cara memotongnya, lalu minta anak untuk melakukannya sendiri. Bila anak mengalami kesulitan, bantu dengan cara memegang tangannya.
Bisa juga, saat ibu sedang memotong-motong sayuran yang hendak dimasak, libatkan si kecil. Atau, ajak anak bermain masak-masakan, misal memotong tahu yang dibuat dari lilin mainan.
* Buka-pakai baju berkan-cing depan.
Latih anak membuka kancing dan memasangkannya dengan menggunakan kancing agak besar. Tunjukkan bagaimana caranya, lalu minta anak untuk melakukannya sendiri. Bila anak mengalami kesulitan, bantu dengan memegang tangannya. Setelah anak terampil buka-pasang kancing besar, barulah latih dia buka-pasang kancing dari bajunya.
* Buka-tutup celana beresleting.
Contohkan bagaimana cara membuka dan menutup resleting, lalu minta anak melakukannya sendiri. Bila mengalami kesulitan barulah dibantu dengan memegang tangannya.
* Menalikan sepatu.
Tunjukkan bagaimana cara mengikat dan membuka tali sepatu. Minta anak melakukannya sambil dibantu. Sering-seringlah mengajak anak melakukan latihan ikat-buka tali sepatu.
* Mandi sendiri tanpa arahan.
Anak sudah bisa mandi sendiri dengan menggunakan gayung mandi maupun shower tanpa arahan. Begitupun membersihkan badannya dengan sabun. Meski demikian, tak ada salahnya orangtua sesekali mengontrol cara anak mandi dan menyabuni badan.
* Cebok sehabis buang air kecil/besar.
Khusus anak perempuan, ajarkan cara membasuh alat kelaminnya dari arah depan ke belakang dan bukan sebaliknya, terutama usai buang air besar. Jelaskan alasannya dengan bahasa sederhana, yakni agar kotoran dan kuman yang mungkin tertinggal di anus tidak terbawa ke vagina. Setelah itu, minta anak untuk mengeringkan alat kelaminnya dengan handuk kecil yang bersih agar tidak lembap. Saat memakai celana kembali, ingatkan anak untuk berpegangan pada dinding kamar mandi agar tidak terjatuh akibat ketidakseimbangan tubuhnya.
● Menyisir rambut.
Setiap usai mandi, minta anak untuk menyisir sendiri rambutnya. Bagi si Upik yang berambut panjang, tentu masih perlu bantuan orangtua bila rambutnya hendak diikat kuda ataupun dikepang.
KONSEP DIRI POSITIF
Melatih kemandirian anak secara terus-menerus dan simultan dalam keseharian sangatlah penting di usia ini. Jika anak diberi kesempatan, ia akan punya konsep diri yang positif. Ia merasa percaya diri dan mampu melakukan segala sesuatu dengan kemampuan dirinya sendiri. Selain itu, anak pun akan kaya dengan pengalaman.
Bila orangtua tidak memberi kesempatan pada anak dan membiarkan anak tak mandiri, maka ia pun akan terbiasa tergantung pada orang lain dan tak bisa melakukan apa-apa sendiri. Bahkan, hal ini dapat berlanjut hingga di usia sekolah, semisal anak tak mau makan kalau tidak disuapi.
Selain terkait dengan konsep diri yang positif, mengajarkan kemandirian juga berarti mengajarkan tanggung jawab pada anak dan mengembangkan pula kebiasaan-kebiasaan baik yang positif. Hal ini akan terbawa sampai ia dewasa nanti.
3 HAL PENTING
Ada 3 hal yangg harus diperhatikan orangtua dalam mengajarkan kemandirian pada anak usia prasekolah, yaitu:
1. Sabar
Kesabaran orangtua merupakan kunci dalam mengajari anak. Memang akan terasa capek menjelaskan atau menunggu anak menyelesaikan pekerjaannya. Namun bagi anak ada suatu kebanggaan bila ia bisa melakukannya. Orangtua yang tak sabaran bisa menyurutkan rasa ingin tahu anak sehingga ia pun enggan atau kehilangan minat untuk melakukannya.
2. Aktivitas Beragam
Beri kesempatan pada anak untuk melakukan suatu pekerjaan/aktivitas yang beragam dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya.
3. Tak Banyak Kritik
Jika orangtua sering mengkritik pekerjaan anak, maka anak akan menjadi takut salah, takut mencoba dan sebagainya. Akibatnya, anak bisa trauma dan tak mau mengulangi lagi pekerjaannya karena anak merasa usahanya tak dihargai. Harusnya, orangtua tetap memberikan apresiasi/pujian meskipun pekerjaan anak belum sempurna. Dengan begitu, anak akan bersemangat sehingga ia mau melakukannya kembali, mau mencoba lagi.
MEMOTIVASI DISIPLIN DIRI
Kuncinya sederhana saja. Mau tahu?
Suatu sore di hari Minggu, Dhea mengajak Tedi, anak lelakinya yang berusia 4;6 tahun, makan bakso di sebuah rumah makan di sekitar kompleks perumahan. Seperti umumnya tempat makan, selalu tersedia sebuah pesawat teve. Saat menikmati bakso, tiba-tiba saja Tedi dengan suara kerasnya nyeletuk, "Mami, nonton sinetron kan bikin anak bodoh ya?" Sang bunda agak tersentak tapi lalu cepat-cepat mengangguk sambil tersenyum dan mengusap kepala anaknya. Sempat Dhea menoleh ke arah pengunjung lain yang menengok ke arah mereka, entah lantaran suara Tedi yang keras ataukah karena perkataannya.
Kali lain, kisah Dhea lagi, Tedi mendapatkan sebuah goody bag dari teman sekelasnya yang berulang tahun. Tiba di rumah, Tedi langsung memilah sendiri mana saja snack yang tak dibolehkan dikonsumsi selama ini karena mengandung MSG. Jika ada snack baru yang belum dikenalnya dan dia tak tahu ada-tidaknya kandungan MSG di dalamnya, maka lebih dahulu dia akan menanyakannya pada sang Mami, "Kalau yang ini boleh enggak, Mi?" atau dia sendiri sudah bisa mengatakan, "Aku enggak mau makanan yang seperti itu, soalnya ada MSG-nya."
Banyak lagi hal lain yang diceritakan Dhea tentang "kehebatan" anak lelaki semata wayangnya itu. Dhea sangat bangga terhadap buah hatinya. Betapa tidak? Di usia yang masih balita, sang anak sudah bisa bersikap positif. Tentu saja, hal itu berkat asuhan dan didikan yang konsisten dalam mengajarkan sikap/perilaku postif sejak dini. Seperti juga dikatakan Rosdiana S. Tarigan, M.Psi., MHPEd., dari Rumah Sakit Pluit, Jakarta, "Orangtua memang harus menanamkan sikap dan perilaku positif pada anak sedini mungkin."
Sebetulnya, lanjut Rosdiana, perilaku positif yang diharapkan orangtua itu intinya adalah disiplin. "Jadi, untuk memotivasi anak agar mau berperilaku positif adalah dengan melakukan pembiasaan-pembiasaan pada anak. Tentunya, orangtua juga memberikan contoh dan menjelaskan perilaku apa yang diharapkan dari anak dengan mengemukakan alasannya," kata Rosdiana seraya mengingatkan orangtua agar tak lupa memberikan reward atas sekecil apa pun usaha anak.
Namun perlu dipahami, cara ini tidak dapat dilakukan secara instan melainkan harus terus-menerus sampai akhirnya anak mengerti. Jadi, jangan pernah bosan untuk selalu mengingatkan si buah hati dengan nada yang tidak memaksa dan mengancam tentunya. Ketahuilah, sikap/ perilaku positif anak di usia dini akan membuat anak merasa percaya diri dengan apa yang dilakukannya. "Dia merasa dirinya nyaman dan aman karena tahu apa yang harus dilakukan. Hidup anak jadi lebih teratur dan punya disiplin diri yang baik. Hal positif ini akan terus berlanjut hingga usia dewasa nanti," tandas Rosdiana.
Dedeh Kurniasih. DIPERAGAKAN MODEL, FOTO-FOTO: FERDI/nakita
8 SIKAP/PERILAKU POSITIF
1. Memilih makanan sehat/tak jajan makanan sembarangan.
Mulailah dari diri orangtua sendiri, yaitu dengan selalu menyediakan makanan sehat di rumah, tidak memberikan contoh jajan makanan yang tak sehat semisal beli makanan gorengan, dan sebagainya. Orangtua pun selalu menjelaskan pada anak akan pentingnya makanan sehat serta bahayanya makanan tak sehat yang mengandung pengawet, pewarna dan penambah rasa. Berikan contoh-contoh dari dampaknya yang bisa anak ketahui. Penjelasan ini tentunya harus dilakukan berulang-ulang sehingga anak mengerti. Dengan begitu, ia akan terbiasa dan tak masalah jika tak diberi makanan yang tak dibolehkan.
Bagaimana jika dibuatkan jadwal tertentu? Misal, hanya pada saat weekend saja atau saat berbelanja bulanan saja, sehingga anak tetap bisa merasakan makanan tertentu tanpa harus memuasakannya sama sekali. Hal ini boleh saja tergantung pada kebijakan masing-masing orangtua. Begitu pun bila orangtua memberlakukan "larangan" secara ekstrem lantaran anaknya mengalami autisma, misal.
2. Tak asal belanja barang/ mainan.
Sebetulnya hal ini tergantung bagaimana ketaatan orangtua dalam meluluskan atau tidaknya permintaan anak. Ada tipe orangtua yang senang memberikan apa pun yang dianggapnya menarik, lucu dan baik buat anak, meski si anak tidak memintanya, Ada juga orangtua yang main gampang saja dan tak mau repot dengan menuruti apa pun yang diminta anak daripada mendengar anaknya merengek atau ngamuk lantaran tak dikabulkan. Nah, bila Ibu dan Bapak termasuk orangtua tipe ini, tak heran bila si kecil akan terdorong untuk selalu ingin membeli/belanja barang atau sesuatu sesuai keinginannya. Padahal, dampaknya buruk buat anak. Salah satunya, anak jadi cenderung egois dan manja. Orangtua pun akan terbebani dan tersusahkan oleh perilaku anaknya ini.
Jadi, orangtua perlu introspeksi diri dan segera mengubah perilakunya yang merugikan itu. Hendaknya orangtua tidak selalu meluluskan permintaan anak. Jika ia sudah punya barang yang sejenis/hampir sama dengan yang akan dibelinya, jelaskan, ia sudah memiliki banyak barang tersebut. Ajarkan pula, ia boleh membeli sesuatu yang memang dibutuhkannya. Ingatkan anak, semua yang harus dibeli tentunya menggunakan uang yang didapat dari hasil kerja keras orangtua. Anak harus bisa menghargainya dengan cara tidak menghamburkan uang melainkan berhemat. Begitu pun dengan mainan/barang yang sudah dimilikinya, anak harus bisa menghargainya dengan menjaga baik-baik dan tidak merusaknya. Bahkan ajari anak untuk membagi barang yang dimilikinya kepada anak-anak yang kurang beruntung.
Berikan pula pilihan pada anak untuk membeli sesuatu yang diinginkan atau memilih waktu bersama orangtua, misalnya berenang. Umumnya, anak usia prasekolah—bila dibandingkan anak yang usianya lebih besar—akan lebih memilih waktu bersama orangtua. Jika bukan itu pilihan anak, maka orangtua perlu introspeksi diri.
3. Menahan emosi.
Perilaku agresif anak seperti memukul, mencubit, melempar dan sebagainya bukanlah perilaku menyenangkan bagi semua orang. Jika anak bersikap agresif dan tidak diatasi, akan menghambat anak dalam berhubungan dengan orang lain. Bukankah orangtua pun akan merasa kesulitan? Karenanya, orangtua perlu memberikan contoh perilaku baik yang diharapkan, selain juga menjelaskan secara terus-menerus agar anak mengerti.
Ajari anak mengendalikan emosinya dengan cara paling efektif yaitu pemberian time-out karena bisa menenangkan emosi anak, Jadi, saat anak dalam kondisi marah, minta ia masuk ke dalam suatu ruangan. Pilihlah ruang yang nyaman semisal ruang tidurnya atau lainnya. Diamkan anak dalam ruang tersebut. Berikan waktu untuk anak mengekspresikan kekesalan dan kemarahannya. Lamanya tergantung pada tingkat usia anak, tingkat kemarahan dan juga kemampuan mengatasinya. Jika anak sampai memberantakkan kamarnya, minta dia untuk membereskan kembali. Selesai waktu time-out, beri penjelasan pada anak tentang apa yang jadi harapan dan keinginan orangtua dari sikapnya. Juga beri pujian atau ajak anak melakukan kegiatan bersama, semisal memasak bersama.
4. Gosok gigi.
Tak ingin punya anak kecil-kecil sudah rusak giginya, bukan? Maka itu anak harus diajarkan menjaga kesehatan giginya. Caranya antara lain dengan menyediakan peralatan gosok gigi dan pasta gigi khusus anak yang menarik. Beri alasan pada anak mengapa ia harus menggosok giginya setiap pagi sesudah makan dan sebelum tidur malam. Efektifnya, orangtua memberikan contoh. Siapkan peralatan gosok gigi sebelum mandi pagi dan lakukan kegiatan gosok gigi bersama sebelum tidur. Bisa juga dengan menempelkan jadwal di papan. Jika anak melakukannya maka akan mendapat stiker bintang/kupon kecil. Stiker/kupon ini bisa ditukarkan dengan reward tertentu bila mencapai jumlah tertentu. Misal, ditukarkan dengan nonton film di bioskop, buku cerita, dan sebagainya.
5. Tidak nonton sinetron dengan muatan buruk.
Jika kedua orangtua bekerja, bisa saja pengaruh ini didapat dari kebiasaan pengasuh menonton sinetron. Tentunya, harus ada aturan jelas yang ditetapkan bagi orang di rumah dan diperlukan kerja samanya. Selain itu, berikan penjelasan pada anak mengapa ia tidak dibolehkan menonton sinetron dewasa. Katakan dengan bahasa yang mudah dicerna dan dimengerti anak, semisal bahwa tontonan tersebut tidak bagus dan bisa membuatnya bodoh. Alihkan tontonan anak pada film-film yang memang khusus untuk seusianya. Orangtua bisa membelikan VCD atau berlangganan televisi kabel, umpamanya. Dengan dibiasakan seperti ini anak juga lama-lama tak masalah bila tak menonton televisi. Juga anak tak merasa suatu keharusan untuk menonton.
6. Bangun pagi sebelum berangkat sekolah.
Di usia prasekolah, kebanyakan anak sudah duduk di TK dan mereka harus bisa bangun pagi untuk bersiap berangkat sekolah. Nah, agar anak bisa bangun pagi dan berangkat sekolah tanpa ada masalah/hambatan, maka malamnya jangan biarkan anak tidur larut. Kemudian paginya, bangunkan dia dengan menyetelkan lagu-lagu anak yang menyenangkan atau apa pun yang disukai anak di pagi hari. Intinya, buatlah keramaian di pagi hari. Perhatikan pula karakter masing-masing anak. Ada anak yang butuh waktu lebih lama dari bangun pagi untuk mandi, ada juga yang cepat. Lakukan pendekatan pada masing-masing anak. Motivasi bisa dilakukan pula dengan pemberian stiker untuk kemudian ditukar dengan suatu reward. Namun, jika anak selalu malas-malasan untuk berangkat ke sekolah apalagi sampai mogok sekolah, orangtua perlu mencari penyebabnya. Mungkin ada masalah di sekolahnya.
7. Punya waktu belajar.
Anak perlu memiliki sikap positif dengan mau belajar di jam-jam tertentu. Memang, anak usia ini belum belajar dalam arti sesungguhnya dan juga belum mendapat PR dari sekolahnya. Namun dengan dibiasakan belajar di waktu-waktu tertentu akan mempermudah orangtua saat kelak anak di usia sekolah. Anak akan terbiasa melakukan kegiatan belajar di jadwal tersebut.
Cara memotivasinya dengan memberikan aktivitas atau kegiatan belajar sambil bermain di waktu khusus belajar. Orangtua harus terlibat di dalamnya, menemani, membantu dan juga mengarahkan. Sediakan pula buku-buku aktivitas, semisal buku aktivitas menggambar, mewarnai, berhitung, dan sebagainya. Lakukan secara rutin aktivitas ini. Mengingat konsentrasi anak belum terbentuk baik di usia ini, maka tingkatkan terus konsentrasinya dari waktu ke waktu agar anak mau melakukan aktivitasnya dengan baik.
8. Mau membaca.
Tak menutup kemungkinan anak usia ini ada yang sudah bisa membaca. kalaupun anak belum bisa membaca namun orangtua tetap perlu menanamkan kebiasaan membaca sejak dini. Orangtua harus memberikan contoh dengan suka membaca dan membacakan buku cerita atau dongeng sebelum tidur secara rutin sehingga ada keinginan anak untuk mau bisa membaca sendiri. Bisa juga orangtua membacakan cerita sambil bermain peran. Lama kelamaan anak akan mau membaca. Lakukan pula kegiatan belajar membaca sambil bermain yang bisa orangtua ciptakan secara kreatif.(tabloid-nakita)
Suatu sore di hari Minggu, Dhea mengajak Tedi, anak lelakinya yang berusia 4;6 tahun, makan bakso di sebuah rumah makan di sekitar kompleks perumahan. Seperti umumnya tempat makan, selalu tersedia sebuah pesawat teve. Saat menikmati bakso, tiba-tiba saja Tedi dengan suara kerasnya nyeletuk, "Mami, nonton sinetron kan bikin anak bodoh ya?" Sang bunda agak tersentak tapi lalu cepat-cepat mengangguk sambil tersenyum dan mengusap kepala anaknya. Sempat Dhea menoleh ke arah pengunjung lain yang menengok ke arah mereka, entah lantaran suara Tedi yang keras ataukah karena perkataannya.
Kali lain, kisah Dhea lagi, Tedi mendapatkan sebuah goody bag dari teman sekelasnya yang berulang tahun. Tiba di rumah, Tedi langsung memilah sendiri mana saja snack yang tak dibolehkan dikonsumsi selama ini karena mengandung MSG. Jika ada snack baru yang belum dikenalnya dan dia tak tahu ada-tidaknya kandungan MSG di dalamnya, maka lebih dahulu dia akan menanyakannya pada sang Mami, "Kalau yang ini boleh enggak, Mi?" atau dia sendiri sudah bisa mengatakan, "Aku enggak mau makanan yang seperti itu, soalnya ada MSG-nya."
Banyak lagi hal lain yang diceritakan Dhea tentang "kehebatan" anak lelaki semata wayangnya itu. Dhea sangat bangga terhadap buah hatinya. Betapa tidak? Di usia yang masih balita, sang anak sudah bisa bersikap positif. Tentu saja, hal itu berkat asuhan dan didikan yang konsisten dalam mengajarkan sikap/perilaku postif sejak dini. Seperti juga dikatakan Rosdiana S. Tarigan, M.Psi., MHPEd., dari Rumah Sakit Pluit, Jakarta, "Orangtua memang harus menanamkan sikap dan perilaku positif pada anak sedini mungkin."
Sebetulnya, lanjut Rosdiana, perilaku positif yang diharapkan orangtua itu intinya adalah disiplin. "Jadi, untuk memotivasi anak agar mau berperilaku positif adalah dengan melakukan pembiasaan-pembiasaan pada anak. Tentunya, orangtua juga memberikan contoh dan menjelaskan perilaku apa yang diharapkan dari anak dengan mengemukakan alasannya," kata Rosdiana seraya mengingatkan orangtua agar tak lupa memberikan reward atas sekecil apa pun usaha anak.
Namun perlu dipahami, cara ini tidak dapat dilakukan secara instan melainkan harus terus-menerus sampai akhirnya anak mengerti. Jadi, jangan pernah bosan untuk selalu mengingatkan si buah hati dengan nada yang tidak memaksa dan mengancam tentunya. Ketahuilah, sikap/ perilaku positif anak di usia dini akan membuat anak merasa percaya diri dengan apa yang dilakukannya. "Dia merasa dirinya nyaman dan aman karena tahu apa yang harus dilakukan. Hidup anak jadi lebih teratur dan punya disiplin diri yang baik. Hal positif ini akan terus berlanjut hingga usia dewasa nanti," tandas Rosdiana.
Dedeh Kurniasih. DIPERAGAKAN MODEL, FOTO-FOTO: FERDI/nakita
8 SIKAP/PERILAKU POSITIF
1. Memilih makanan sehat/tak jajan makanan sembarangan.
Mulailah dari diri orangtua sendiri, yaitu dengan selalu menyediakan makanan sehat di rumah, tidak memberikan contoh jajan makanan yang tak sehat semisal beli makanan gorengan, dan sebagainya. Orangtua pun selalu menjelaskan pada anak akan pentingnya makanan sehat serta bahayanya makanan tak sehat yang mengandung pengawet, pewarna dan penambah rasa. Berikan contoh-contoh dari dampaknya yang bisa anak ketahui. Penjelasan ini tentunya harus dilakukan berulang-ulang sehingga anak mengerti. Dengan begitu, ia akan terbiasa dan tak masalah jika tak diberi makanan yang tak dibolehkan.
Bagaimana jika dibuatkan jadwal tertentu? Misal, hanya pada saat weekend saja atau saat berbelanja bulanan saja, sehingga anak tetap bisa merasakan makanan tertentu tanpa harus memuasakannya sama sekali. Hal ini boleh saja tergantung pada kebijakan masing-masing orangtua. Begitu pun bila orangtua memberlakukan "larangan" secara ekstrem lantaran anaknya mengalami autisma, misal.
2. Tak asal belanja barang/ mainan.
Sebetulnya hal ini tergantung bagaimana ketaatan orangtua dalam meluluskan atau tidaknya permintaan anak. Ada tipe orangtua yang senang memberikan apa pun yang dianggapnya menarik, lucu dan baik buat anak, meski si anak tidak memintanya, Ada juga orangtua yang main gampang saja dan tak mau repot dengan menuruti apa pun yang diminta anak daripada mendengar anaknya merengek atau ngamuk lantaran tak dikabulkan. Nah, bila Ibu dan Bapak termasuk orangtua tipe ini, tak heran bila si kecil akan terdorong untuk selalu ingin membeli/belanja barang atau sesuatu sesuai keinginannya. Padahal, dampaknya buruk buat anak. Salah satunya, anak jadi cenderung egois dan manja. Orangtua pun akan terbebani dan tersusahkan oleh perilaku anaknya ini.
Jadi, orangtua perlu introspeksi diri dan segera mengubah perilakunya yang merugikan itu. Hendaknya orangtua tidak selalu meluluskan permintaan anak. Jika ia sudah punya barang yang sejenis/hampir sama dengan yang akan dibelinya, jelaskan, ia sudah memiliki banyak barang tersebut. Ajarkan pula, ia boleh membeli sesuatu yang memang dibutuhkannya. Ingatkan anak, semua yang harus dibeli tentunya menggunakan uang yang didapat dari hasil kerja keras orangtua. Anak harus bisa menghargainya dengan cara tidak menghamburkan uang melainkan berhemat. Begitu pun dengan mainan/barang yang sudah dimilikinya, anak harus bisa menghargainya dengan menjaga baik-baik dan tidak merusaknya. Bahkan ajari anak untuk membagi barang yang dimilikinya kepada anak-anak yang kurang beruntung.
Berikan pula pilihan pada anak untuk membeli sesuatu yang diinginkan atau memilih waktu bersama orangtua, misalnya berenang. Umumnya, anak usia prasekolah—bila dibandingkan anak yang usianya lebih besar—akan lebih memilih waktu bersama orangtua. Jika bukan itu pilihan anak, maka orangtua perlu introspeksi diri.
3. Menahan emosi.
Perilaku agresif anak seperti memukul, mencubit, melempar dan sebagainya bukanlah perilaku menyenangkan bagi semua orang. Jika anak bersikap agresif dan tidak diatasi, akan menghambat anak dalam berhubungan dengan orang lain. Bukankah orangtua pun akan merasa kesulitan? Karenanya, orangtua perlu memberikan contoh perilaku baik yang diharapkan, selain juga menjelaskan secara terus-menerus agar anak mengerti.
Ajari anak mengendalikan emosinya dengan cara paling efektif yaitu pemberian time-out karena bisa menenangkan emosi anak, Jadi, saat anak dalam kondisi marah, minta ia masuk ke dalam suatu ruangan. Pilihlah ruang yang nyaman semisal ruang tidurnya atau lainnya. Diamkan anak dalam ruang tersebut. Berikan waktu untuk anak mengekspresikan kekesalan dan kemarahannya. Lamanya tergantung pada tingkat usia anak, tingkat kemarahan dan juga kemampuan mengatasinya. Jika anak sampai memberantakkan kamarnya, minta dia untuk membereskan kembali. Selesai waktu time-out, beri penjelasan pada anak tentang apa yang jadi harapan dan keinginan orangtua dari sikapnya. Juga beri pujian atau ajak anak melakukan kegiatan bersama, semisal memasak bersama.
4. Gosok gigi.
Tak ingin punya anak kecil-kecil sudah rusak giginya, bukan? Maka itu anak harus diajarkan menjaga kesehatan giginya. Caranya antara lain dengan menyediakan peralatan gosok gigi dan pasta gigi khusus anak yang menarik. Beri alasan pada anak mengapa ia harus menggosok giginya setiap pagi sesudah makan dan sebelum tidur malam. Efektifnya, orangtua memberikan contoh. Siapkan peralatan gosok gigi sebelum mandi pagi dan lakukan kegiatan gosok gigi bersama sebelum tidur. Bisa juga dengan menempelkan jadwal di papan. Jika anak melakukannya maka akan mendapat stiker bintang/kupon kecil. Stiker/kupon ini bisa ditukarkan dengan reward tertentu bila mencapai jumlah tertentu. Misal, ditukarkan dengan nonton film di bioskop, buku cerita, dan sebagainya.
5. Tidak nonton sinetron dengan muatan buruk.
Jika kedua orangtua bekerja, bisa saja pengaruh ini didapat dari kebiasaan pengasuh menonton sinetron. Tentunya, harus ada aturan jelas yang ditetapkan bagi orang di rumah dan diperlukan kerja samanya. Selain itu, berikan penjelasan pada anak mengapa ia tidak dibolehkan menonton sinetron dewasa. Katakan dengan bahasa yang mudah dicerna dan dimengerti anak, semisal bahwa tontonan tersebut tidak bagus dan bisa membuatnya bodoh. Alihkan tontonan anak pada film-film yang memang khusus untuk seusianya. Orangtua bisa membelikan VCD atau berlangganan televisi kabel, umpamanya. Dengan dibiasakan seperti ini anak juga lama-lama tak masalah bila tak menonton televisi. Juga anak tak merasa suatu keharusan untuk menonton.
6. Bangun pagi sebelum berangkat sekolah.
Di usia prasekolah, kebanyakan anak sudah duduk di TK dan mereka harus bisa bangun pagi untuk bersiap berangkat sekolah. Nah, agar anak bisa bangun pagi dan berangkat sekolah tanpa ada masalah/hambatan, maka malamnya jangan biarkan anak tidur larut. Kemudian paginya, bangunkan dia dengan menyetelkan lagu-lagu anak yang menyenangkan atau apa pun yang disukai anak di pagi hari. Intinya, buatlah keramaian di pagi hari. Perhatikan pula karakter masing-masing anak. Ada anak yang butuh waktu lebih lama dari bangun pagi untuk mandi, ada juga yang cepat. Lakukan pendekatan pada masing-masing anak. Motivasi bisa dilakukan pula dengan pemberian stiker untuk kemudian ditukar dengan suatu reward. Namun, jika anak selalu malas-malasan untuk berangkat ke sekolah apalagi sampai mogok sekolah, orangtua perlu mencari penyebabnya. Mungkin ada masalah di sekolahnya.
7. Punya waktu belajar.
Anak perlu memiliki sikap positif dengan mau belajar di jam-jam tertentu. Memang, anak usia ini belum belajar dalam arti sesungguhnya dan juga belum mendapat PR dari sekolahnya. Namun dengan dibiasakan belajar di waktu-waktu tertentu akan mempermudah orangtua saat kelak anak di usia sekolah. Anak akan terbiasa melakukan kegiatan belajar di jadwal tersebut.
Cara memotivasinya dengan memberikan aktivitas atau kegiatan belajar sambil bermain di waktu khusus belajar. Orangtua harus terlibat di dalamnya, menemani, membantu dan juga mengarahkan. Sediakan pula buku-buku aktivitas, semisal buku aktivitas menggambar, mewarnai, berhitung, dan sebagainya. Lakukan secara rutin aktivitas ini. Mengingat konsentrasi anak belum terbentuk baik di usia ini, maka tingkatkan terus konsentrasinya dari waktu ke waktu agar anak mau melakukan aktivitasnya dengan baik.
8. Mau membaca.
Tak menutup kemungkinan anak usia ini ada yang sudah bisa membaca. kalaupun anak belum bisa membaca namun orangtua tetap perlu menanamkan kebiasaan membaca sejak dini. Orangtua harus memberikan contoh dengan suka membaca dan membacakan buku cerita atau dongeng sebelum tidur secara rutin sehingga ada keinginan anak untuk mau bisa membaca sendiri. Bisa juga orangtua membacakan cerita sambil bermain peran. Lama kelamaan anak akan mau membaca. Lakukan pula kegiatan belajar membaca sambil bermain yang bisa orangtua ciptakan secara kreatif.(tabloid-nakita)
Pentingnya sempoa untuk anak TK-A
Sumber: Ibu-ibu DI
Tanya
Ibu yang sudah banyak pengalaman, Di sekolah anak saya ditawarin kursus macam-macam diantaranya sempoa kira-kira seberapa perlu kursus sempoa ini buat anak TK A. Terus bagaimana pengalaman putra/putri ibu yang sudah ikut les sempoa waktu duduk di bangku TK A. Tolong advisenya biar saya tidak salah jalan [Ang]
Jawab
Kalau tidak salah ya, sempoa itu lebih cocok untuk anak-anak SD, karena pada sempoa yang diajarkan adalah cara berhitung dengan cepat. Beda dengan metoda kumon yang penekanannya pada konsep matematika (tambah;kurang;kali;bagi). Jadi untuk kelompok A, kalau ada ikut yang metode kumon saya, nanti setelah SD baru deh ikut yang sempoa [DIW]
Kasihan anaknya kalau masih TK, kalau pengalaman anak saya ikut kelas free trial Kumon dan Sempoa, sepertinya lebih mengena Kumon untuk anak TK. Karena di kumon lebih diajarkan konsep atau pengertian tambah; kurang; bagi; kali, sedangkan di Sempoa anak saya bingung
karena belum bisa menangkap konsep matematikanya atau abstraknya/artinya "penjumlahan", "penguranga" itu apa. Mungkin sempoa lebih cocok untuk anak SD uang memang sudah mengerti/beda tambah;kurang;kali;bagi. Lebih mengajarkan kecepatan berhitung. Nah kalau sudah SD, sempoa kepakai juga untuk mata pelajaran lain khususnya yang menghafal, karena otak dilatih cepat merekam "memory". [DP]
Anak kedua saya waktu TK juga ikut sempoa, tapi yang ada dia menangis minta keluar padahal dia yang minta awalnya. Terus dia minta lagi ikut kumon karena ikut-ikutan abangnya. Tadinya saya sudah malas juga nanti kalau keluar lagi bagaimana, ternyata anak kedua saya itu enjoy sekali sama kumon, munkgin karena buat yang awal kan masih gambar-gambar gitu jadi fun, sementara sempoa mungkin merepotkan bagi dia karena harus pakai alatnya. Sampai sekarang anak saya masih enjoy kumon (mudah-mudahan). Sepertinya kalau masih TK kumon lebih cocok [Dm]
Kalau anak saya ikut sempoa mulai TK-A dan sampai sekarang masih ikut tinggal 2 tingkat lagi selesai. Kalau dari segi manfaat, pasti ada manfaatnya buat anak, di sekolah terbantu sekali, tidak kesulitan dalam berhitung, meski soal matematikanya berupa kalimat, lancar saja dan malah ikut mewakili sekolah lomba computer matematika mewakili kelas 1 SD, karena dia sudah punya modal untuk kecepatan enghitung
di sempoa. Hanya permasalahannya apakah anaknya betul-betul ingin ikut sempoa atau tidak? Karena kalau memang anaknya tidak berminat, ya tidak usah dipaksa, karena akan putus ditengah jalan nantinya, pada saat tingkatan tertentu anak akan jenuh, seperti anak saya pada saat masuk tingkat 8, dia sudah mulai bosan, karena pada saat di tingkat ini sudah tidak bervariasi lagi, cuma angkanya yang ditambah jumlahnya, tapi karena dia suka ya masih bertahan sampai sekarang. Sedang untuk ekstra kurikuler di sekolah (ada juga sempoa) anak saya tidak ikut, dia ikut kelompok bermain; main congklak, main bekel, main lompat tali jadi permainan tradisional. Waktu itu saya pikir, kalau anak saya ikutnya mulai TK-A, pada saat SD nanti yang kesibukan di sekolah cukup banya, anak sudah hampir selesai kursus, jadi tidak terbeban lagi dengan kursus diluar, dan pada saat SD, dia sudah selangkah lebih maju untuk matematika, jadi buat anak saya ada manfaatnya. [Rn]
Anak saya mulai ikut sempoa sejak di TK-B, kalau untuk sempoa yang penting adalah si anak sudah mengenal angka, anaknya mau dan ada teman belajarnya. Kebetlan saya ambil yang privat (jadi 2 temannya ke rumah), susahnya waktu di TK, dia kan masih sesukanya, jadi gurunya suka kasih hadiah kalau mood-nya lagi bagus, seperti coklat atau sticker, tapi itu saja sudah membuat dia senang dan mau belajar lagi. Waktu masih buku satu saya masih suka mengikuti, bagaimana cara pakainya, menaikkan dan menurunkan, tapi sekarang udah pintar anaknya daripada ibunya, selama dia enjoy saya teruskan sampai sekarang. Manfaatnya keliatan pas dia SD, nilai matematikanya bagus (sekarang kelas 2) dan selain pakai sempoa diajarkan juga menghitung mengggunakan `bayangan' Nah, yang terakhir itu yang terpakai di SD. Jadi dia bisa menghitung lebih cepat dengan `bayangan'. Lucu kalau saya kasih soal terus dia menggerak-gerakan tangannya, dan saya suka iseng kalau udah dapat hasilnya terus dikali nol, wah bisa marah dia [Ss]
Tanya
Ibu yang sudah banyak pengalaman, Di sekolah anak saya ditawarin kursus macam-macam diantaranya sempoa kira-kira seberapa perlu kursus sempoa ini buat anak TK A. Terus bagaimana pengalaman putra/putri ibu yang sudah ikut les sempoa waktu duduk di bangku TK A. Tolong advisenya biar saya tidak salah jalan [Ang]
Jawab
Kalau tidak salah ya, sempoa itu lebih cocok untuk anak-anak SD, karena pada sempoa yang diajarkan adalah cara berhitung dengan cepat. Beda dengan metoda kumon yang penekanannya pada konsep matematika (tambah;kurang;kali;bagi). Jadi untuk kelompok A, kalau ada ikut yang metode kumon saya, nanti setelah SD baru deh ikut yang sempoa [DIW]
Kasihan anaknya kalau masih TK, kalau pengalaman anak saya ikut kelas free trial Kumon dan Sempoa, sepertinya lebih mengena Kumon untuk anak TK. Karena di kumon lebih diajarkan konsep atau pengertian tambah; kurang; bagi; kali, sedangkan di Sempoa anak saya bingung
karena belum bisa menangkap konsep matematikanya atau abstraknya/artinya "penjumlahan", "penguranga" itu apa. Mungkin sempoa lebih cocok untuk anak SD uang memang sudah mengerti/beda tambah;kurang;kali;bagi. Lebih mengajarkan kecepatan berhitung. Nah kalau sudah SD, sempoa kepakai juga untuk mata pelajaran lain khususnya yang menghafal, karena otak dilatih cepat merekam "memory". [DP]
Anak kedua saya waktu TK juga ikut sempoa, tapi yang ada dia menangis minta keluar padahal dia yang minta awalnya. Terus dia minta lagi ikut kumon karena ikut-ikutan abangnya. Tadinya saya sudah malas juga nanti kalau keluar lagi bagaimana, ternyata anak kedua saya itu enjoy sekali sama kumon, munkgin karena buat yang awal kan masih gambar-gambar gitu jadi fun, sementara sempoa mungkin merepotkan bagi dia karena harus pakai alatnya. Sampai sekarang anak saya masih enjoy kumon (mudah-mudahan). Sepertinya kalau masih TK kumon lebih cocok [Dm]
Kalau anak saya ikut sempoa mulai TK-A dan sampai sekarang masih ikut tinggal 2 tingkat lagi selesai. Kalau dari segi manfaat, pasti ada manfaatnya buat anak, di sekolah terbantu sekali, tidak kesulitan dalam berhitung, meski soal matematikanya berupa kalimat, lancar saja dan malah ikut mewakili sekolah lomba computer matematika mewakili kelas 1 SD, karena dia sudah punya modal untuk kecepatan enghitung
di sempoa. Hanya permasalahannya apakah anaknya betul-betul ingin ikut sempoa atau tidak? Karena kalau memang anaknya tidak berminat, ya tidak usah dipaksa, karena akan putus ditengah jalan nantinya, pada saat tingkatan tertentu anak akan jenuh, seperti anak saya pada saat masuk tingkat 8, dia sudah mulai bosan, karena pada saat di tingkat ini sudah tidak bervariasi lagi, cuma angkanya yang ditambah jumlahnya, tapi karena dia suka ya masih bertahan sampai sekarang. Sedang untuk ekstra kurikuler di sekolah (ada juga sempoa) anak saya tidak ikut, dia ikut kelompok bermain; main congklak, main bekel, main lompat tali jadi permainan tradisional. Waktu itu saya pikir, kalau anak saya ikutnya mulai TK-A, pada saat SD nanti yang kesibukan di sekolah cukup banya, anak sudah hampir selesai kursus, jadi tidak terbeban lagi dengan kursus diluar, dan pada saat SD, dia sudah selangkah lebih maju untuk matematika, jadi buat anak saya ada manfaatnya. [Rn]
Anak saya mulai ikut sempoa sejak di TK-B, kalau untuk sempoa yang penting adalah si anak sudah mengenal angka, anaknya mau dan ada teman belajarnya. Kebetlan saya ambil yang privat (jadi 2 temannya ke rumah), susahnya waktu di TK, dia kan masih sesukanya, jadi gurunya suka kasih hadiah kalau mood-nya lagi bagus, seperti coklat atau sticker, tapi itu saja sudah membuat dia senang dan mau belajar lagi. Waktu masih buku satu saya masih suka mengikuti, bagaimana cara pakainya, menaikkan dan menurunkan, tapi sekarang udah pintar anaknya daripada ibunya, selama dia enjoy saya teruskan sampai sekarang. Manfaatnya keliatan pas dia SD, nilai matematikanya bagus (sekarang kelas 2) dan selain pakai sempoa diajarkan juga menghitung mengggunakan `bayangan' Nah, yang terakhir itu yang terpakai di SD. Jadi dia bisa menghitung lebih cepat dengan `bayangan'. Lucu kalau saya kasih soal terus dia menggerak-gerakan tangannya, dan saya suka iseng kalau udah dapat hasilnya terus dikali nol, wah bisa marah dia [Ss]
Langganan:
Postingan (Atom)