"Kalau LAMPU MERAH Harus BERHENTI Ya, Pa?"

Anak juga mengenal pentingnya kedisiplinan di jalan umum.

Pernah tidak, saat tiba di perempatan lampu merah si kecil tiba-tiba nyeletuk, "Kok, mobilnya berhenti, Ma?" Atau, ketika melihat rambu-rambu lalu-lintas lainnya, si kecil pun bertanya, "Apa arti huruf 'P' itu?", "Kenapa huruf 'S'-nya dicoret?", dan sebagainya.

Ternyata, anak-anak ini umumnya bertipe visual: senang mengamati semua benda baru yang ditemuinya, entah di rumah, di jalan, di mal, dan seterusnya. "Anak-anak visual merupakan pengamat ulung, peka terhadap hal-hal baru yang ditemuinya," ujar Rosmayanti, S.Psi., dari Yayasan Cikal Jakarta.

Selain itu, ketertarikan anak pada rambu-rambu lalu lintas, bisa juga dikarenakan sebelumnya ia mendapat stimulasi tentang rambu-rambu tersebut. Entah pernah diajak ke museum lalu lintas atau mendapatkan mata pelajaran khusus tentang kelalulintasan.

Di sisi lain, tak sedikit pula anak prasekolah yang cuek terhadap rambu-rambu lalu lintas. Mobilnya mau berhenti, berjalan, atau apakah ada papan bertanda belok, tak dipedulikan. Bukan berarti anak tidak tahu atau tak mau tahu, melainkan dia memiliki minat lain, atau perhatiannya tersedot pada hal lain seperti mobil bagus yang berlalu-lalang, musik, teman-temannya, dan sebagainya.

RESPONS POSITIF

Yang jelas, mau anak tertarik atau tidak, penting bagi orangtua untuk mengenalkan rambu-rambu lalu lintas kepada anak. Soalnya, rambu-rambu lalu lintas sangat akrab dan dekat dengan masyarakat perkotaan. Saat hendak pergi sekolah, setiap hari anak diantar jemput menggunakan kendaraan. Setiap hari itu pula anak akan menemukan ram-bu-rambu lalu lintas. Rambu-rambu yang sama akan ditemukannya kala berlibur atau be-pergian menggunakan kendaraan. Sayang, kalau anak tak mengenal dan mengetahui benda-benda yang biasa ditemuinya.

Lagi pula, banyak manfaat lain bisa didapat anak dengan mengenal rambu lalu lintas, dari konsep disiplin, warna, lambang, dan sebagainya. Apalagi, caranya bisa lewat bermain sehingga terasa lebih mengasyikkan. "Anak bermain mobil-mobilan seperti biasanya, cuma orangtua memberikan rambu-rambu saat bermain," kata Yanti, sapaan akrab piskolog ini.

Itulah mengapa, saat anak bertanya, berikan respons positif. Misal, anak bertanya, "Kenapa mobilnya berhenti, Yah?", jawablah, "Mobil berhenti karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Jika warnanya berubah menjadi hijau, mobil boleh berjalan lagi."

Jika penjelasan itu dirasa masih kurang, kembali jelaskan manfaat adanya rambu-rambu lalu lintas, "Lampu lalu lintas umumnya berada di persim-pangan jalan, baik pertigaan maupun perempatan. Itu berguna untuk mengatur, lajur mana yang harus berjalan dan mana yang harus berhenti. Arus kendaraan pun menjadi lancar. Bayangkan jika lampu lalu lintas itu tidak ada, kendaraan akan saling berebut untuk berjalan. Akibatnya, terjadilah kemacetan."

Bagaimana jika anak cuek bebek saat melihat rambu lalu lintas? Tak ada salahnya jika orangtua tetap menjelaskan rambu-rambu lalu lintas yang ditemui. Siapa tahu anak akan tertarik dengan bertanya lebih lanjut.

AJARKAN di RUMAH dan SEKOLAH

Mengingat banyak manfaat yang didapat, tak heran jika sejumlah "sekolah" memiliki pelajaran khusus mengenal rambu-rambu lalu lintas. "Di sekolah kami, anak usia 3 tahun sudah dikenalkan," ungkap Yanti. Awalnya, memang tak langsung mengenalkan rambu itu kepada anak, melainkan memperdalam kemampuan kognitif anak. Misal, anak 3 tahun dikenalkan dengan konsep warna terlebih dahulu sebelum dikenalkan dengan lampu lalu lintas. Begitu juga pada anak 4-6 tahun, dikenalkan dengan huruf dan lambang-lambang lainnya sebelum mengenalkan rambu dilarang parkir, dilarang berhenti, dan sebagainya.

"Kebetulan sekolah kami memiliki tempat khusus yang menunjang pengenalan berlalu lintas. Tempat itu dilengkapi dengan mobil mini plus rambu-rambunya." Tidak cuma itu. Sekolah juga biasanya mendatangkan polisi lalu lintas ke sekolah. Selain menjelaskan profesi polisi, program itu juga bertujuan mengenalkan rambu lalu lintas kepada anak. Anak bisa bertanya langsung kepada polisi tentang profesinya. Ada juga program kunjungan ke pos polisi, hingga anak bisa melihat langsung bagaimana polisi bekerja. "Beberapa sekolah yang di kotanya terdapat museum lalu lintas seperti Bandung, umumnya memiliki program khusus kunjungan ke museum, agar anak bisa lebih mengenal rambu dan aturan berlalu lintas."

Di rumah, orangtua juga bisa mengenalkannya dengan lebih konkret dan menyenangkan lewat permainan. Permainan yang dikemas dalam satu set itu berisi papan dengan alur jalan, rambu-rambu lalu lintas, pun kendaraan mini. Anak lebih bisa memahami rambu lalu lintas lewat permainan ini. Apa saja rambu lalu lintas yang bisa ditemui, plus beragam manfaatnya. Beberapa mainan lainnya adalah pasel, buku mewarnai, balok, dan sebagainya. Lakukan dialog dua arah saat mengenalkan. Misal, orangtua mengambil mobil-mobilan lalu bertemu lampu merah, "Mobilnya berhenti apa terus berjalan ya?" Dengan demikian, otak anak terus aktif berpikir.

Orangtua juga bisa mengenalkannya lewat bacaan atau cerita. Pilihlah dongeng bertemakan lalu lintas. Gali juga manfaat positif dari dongeng tersebut. Contoh, orang terhindar dari kecelakaan karena menaati rambu lalu lintas. Yang penting diingat, sesuaikan pengenalan dengan kemampuan anak. Jangan kenalkan lampu lalu lintas terlebih dahulu, jika anak belum memahami betul konsep warna, dan sebagainya.

4 Manfaat Belajar Rambu

1. Aturan dan Disiplin

Anak mengenal, rambu merupakan aturan dalam berlalu- lintas. Ketertiban akan terjadi saat pengendara mematuhi rambu lalu lintas. Sebaliknya, kesemrawutan bahkan kecelakaan mungkin saja terjadi tanpa ada rambu, atau rambu ada tapi tidak ditaati.

Jadi, dengan mengenal rambu, anak belajar tentang manfaat aturan dan kedisiplinan. Jika ini terus dipupuk, bukan tak mungkin kedisiplinan ini akan terbawa pada rutinitasnya, baik itu sekolah, belajar, bermain, dan sebagainya. Cuma, orangtua mesti menjadi teladan dalam masalah kedisiplinan ini. Saat menyetir mobil, misal, jangan main serobot atau tetap melaju meski lampu lalu lintas menyala merah. Dengan begitu, anak menjadi yakin, rambu harus ditaati.

2. Mengenal Warna

Anak mudah mengenal warna lewat lampu lalu lintas, daripada orangtua mengajarkannya satu per satu di rumah. Warna merah, kuning, dan hijau adalah warna yang biasa ditemuinya di jalan raya.

3. Mengenal Lambang, Simbol, dan Huruf

Anak juga bisa mengenali lambang, simbol, maupun huruf lewat pengenalan rambu. Huruf S dicoret berarti dilarang berhenti (stop), P dicoret berarti dilarang parkir, dan seterusnya. Ini sangat baik untuk mengasah kemampuan mengingat.

4. Keterampilan Bahasa

Anak menjadi aktif bertanya tentang rambu. Ini sangat baik untuk melatih kemampuan bicara sekaligus memperkaya kosakata yang dimiliki.

AJARKAN di RUMAH dan SEKOLAH

Mengingat banyak manfaat yang didapat, tak heran jika sejumlah "sekolah" memiliki pelajaran khusus mengenal rambu-rambu lalu lintas. "Di sekolah kami, anak usia 3 tahun sudah dikenalkan," ungkap Yanti. Awalnya, memang tak langsung mengenalkan rambu itu kepada anak, melainkan memperdalam kemampuan kognitif anak. Misal, anak 3 tahun dikenalkan dengan konsep warna terlebih dahulu sebelum dikenalkan dengan lampu lalu lintas. Begitu juga pada anak 4-6 tahun, dikenalkan dengan huruf dan lambang-lambang lainnya sebelum mengenalkan rambu dilarang parkir, dilarang berhenti, dan sebagainya.

"Kebetulan sekolah kami memiliki tempat khusus yang menunjang pengenalan berlalu lintas. Tempat itu dilengkapi dengan mobil mini plus rambu-rambunya." Tidak cuma itu. Sekolah juga biasanya mendatangkan polisi lalu lintas ke sekolah. Selain menjelaskan profesi polisi, program itu juga bertujuan mengenalkan rambu lalu lintas kepada anak. Anak bisa bertanya langsung kepada polisi tentang profesinya. Ada juga program kunjungan ke pos polisi, hingga anak bisa melihat langsung bagaimana polisi bekerja. "Beberapa sekolah yang di kotanya terdapat museum lalu lintas seperti Bandung, umumnya memiliki program khusus kunjungan ke museum, agar anak bisa lebih mengenal rambu dan aturan berlalu lintas."

Di rumah, orangtua juga bisa mengenalkannya dengan lebih konkret dan menyenangkan lewat permainan. Permainan yang dikemas dalam satu set itu berisi papan dengan alur jalan, rambu-rambu lalu lintas, pun kendaraan mini. Anak lebih bisa memahami rambu lalu lintas lewat permainan ini. Apa saja rambu lalu lintas yang bisa ditemui, plus beragam manfaatnya. Beberapa mainan lainnya adalah pasel, buku mewarnai, balok, dan sebagainya. Lakukan dialog dua arah saat mengenalkan. Misal, orangtua mengambil mobil-mobilan lalu bertemu lampu merah, "Mobilnya berhenti apa terus berjalan ya?" Dengan demikian, otak anak terus aktif berpikir.

Orangtua juga bisa mengenalkannya lewat bacaan atau cerita. Pilihlah dongeng bertemakan lalu lintas. Gali juga manfaat positif dari dongeng tersebut. Contoh, orang terhindar dari kecelakaan karena menaati rambu lalu lintas. Yang penting diingat, sesuaikan pengenalan dengan kemampuan anak. Jangan kenalkan lampu lalu lintas terlebih dahulu, jika anak belum memahami betul konsep warna, dan sebagainya.

RAMBU yang DIAJARKAN

Tentunya, orangtua tak mungkin menjelaskan semua rambu lalu lintas yang sangat banyak kepada anak. Solusinya, pilihlah rambu yang mudah dikenali dan biasa didapati. Ini dikaitkan dengan kemampuan kognitif anak. Berikut beberapa rambu yang bisa dikenalkan sebagaimana disarankan Yanti:

1. Lampu lalu lintas. Menjelaskan fungsi masing-masing lampu, baik merah, kuning, maupun hijau. Merah: berhenti; kuning: hati-hati jangan ngebut karena sebentar lagi harus berhenti; hijau: harus berjalan, kalau tidak berjalan, kendaraan di belakang akan terganggu, memberi klakson, atau bahkan menabrak.

2. Dilarang parkir. Kenalkan, ada daerah tertentu yang melarang kendaraan parkir karena akan mengganggu ketertiban lalu lintas.

3. Dilarang lewat. Bisa saja jalan itu hanya boleh dilalui satu arah.

4. Dilarang berhenti.

5. Belok/dilarang belok.

6. Rambu penyeberangan (zebra cross) yang relatif aman digunakan untuk menyeberang.
(tabloid-nakita)

0 komentar: