Jika Anak Anda Terlambat Berbicara
Sumber: ibu ibu DI

Tanya
Anak adik saya, lelaki umur 2 tahun 3 bulan sampai saat ini masih belum bisa bicara, kosa kata yang bisa diucapkan tidak lebih dari 5 kata : Mama, Ayah, Diii (nama kakak-nya), Ya dan Cu (minta susu). Mama dan ayahnya berusaha tiap hari untuk menambah perbendaharaan kata-kata namun sangat sulit bagi dia untuk menghafal maupun mengucapkannya.

Apakah diantara Ibu ada yang punya kasus serupa? Apakah ini berhubungan dengan apa yang disebut orang "autis'? (not sure yet). Menurut DSA keponakan saya, untuk umur segitu masih wajar jika susah bicara dan cuma diberi vitamin saja. Tapi kalau melihat teman-teman sebayanya kayaknya kok saya ngenes ya karena dia diam saja, tidak pernah ngoceh kayak yang lain. Please sharingnya, apakah kiranya perlu dibawa ke psikolog anak? Jika perlu, tolong referensinya. (Y)

Jawab
Jangan panik dulu, karena perkembangan setiap anak itu berbeda. Untuk kasus terlambat ngomong perlu hati-hati untuk menganalisanya. Coba cari tahu ada tidak riwayat terlambat ngomong di keluarga, kalau memang tidak ada coba perhatikan dulu:
1. kesehatan fisik anak, apakah dia sehat atau sering sakit-sakitan
2. bagaimana perilaku anak, apakah dia punya perhatian terhadap sekelilingnya atau hanya sibuk dengan diri sendiri
3. apakah dia ada alergi thd sesuatu (makanan, udara dll)

Ini perlu sekali supaya kita tidak salah menangani masalah keterlambatan bicara ini dikemudian hari. Kalau perlu jangan ragu deh pergi ke psikolog untuk berdiskusi dan observasi, jangan sampai si anak diberi label yang salah. Coba ke Lembaga Psikologi Terapan UI, disana psikolognya cukup bagus dan tidak terlalu mahal. Ini cuma berdasarkan pengalaman pribadiku saja, karena aku punya seorang anak yang dulu cuma didiagnosa terlambat ngomong, karena katanya biasalah anak laki-laki terlambat ngomong. Seandainya waktu bisa diputar kembali. Tapi sudahlah yang penting kedepannya bagaimana menjaga anak-anak kita tetap sehat dan bisa berkembang sesuai dengan kemampuannya. (DN)

Referensi ke Klinik Anakku.
1. Kelapa Gading Boulevard Blok LA 6 no. 34-35. Kelapa Gading Permai (depan mal Kelapa Gading) - Jakarta Utara (450 2355-56)
2. Jl . Raya Manggis Blok A no. 2B-C. Komplek Ruko Cinere (depan mal Cinere) - Jakarta Selatan (754 5400)
3. Komplek Green Ville Blok BG no. 14-15 - Jakarta Barat (566 9211)
4. Jl. Ahmad Yani -Bekasi. Pusat Niaga kalimalang Blok A-6 no. 1-2 (885 4001-02)

Tanya
Anak saya usianya hampir 2 tahun (tepatnya 21 bulan), tapi sampai saat ini bicaranya masih payah banget. Pernah bisa ngomong mamam, minyum, syusyu, kakak, tapi terus hilang lagi. Ngocehnya masih tidak bisa kita mengerti.saya lihat pendengarannya baik, dan tingkahnya sih sudah kayak anak gede. motorik kasarnya bagus sekali. Kita sudah coba ngajak ngomong terus, tapi kayaknya dia cuek banget. Tetap saja ngomong sesuai dengan maunya dia. apakah mungkin karena kita tinggal di lingkungan beda-beda bahasa (saya tinggal di negara berbahasa perancis, di rumah kita berbahasa indonesia, tapi TV umumnya bahasa perancis atau inggris). Bisa minta sharingnya, bagi yang pernah mengalami pengalaman serupa.

Jawab
Memasuki usia dua tahun, anak sedang memasuki tahap awal tumbuh kembang kognitif yaitu tahap pra-operasional, yaitu pemahaman berdasarkan hal2 konkret saja. Jadi dia mengerti apa yang bisa dia lihat saja. Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang bersifat bawaan, yakni dengan sendirinya anak akan mengerti akan bahasa selama organ2 fungsi bicaranya berkembang baik. Namun, tidak dapat diabaikan juga adalah faktor lingkungan dan pengalaman. Jika anak tidak diberi rangsangan secara verbal, anak tidak akan bisa belajar bahasa. Jadi, yang terpenting adalah rangsangan yang anda berikan dan hasratnya berbicara. Berikan saja perkenalan bahasa, baik indonesia, prancis, atau inggris. hal ini sangat baik untuk pembiasaan pendengarannya. Misalnya, dia sudah paham bahwa ketika mau minum, maka anda berkata minum, lalu dalam bahasa prancis, besoknya dalam bahasa inggris, sambil memberikan keterangan yang mudah dimengerti, bahwa lingkungan memang mengkondisikan harus menggunakan banyak bahasa. Jangan dipaksa atau dianggap tidak mampu berbahasa ketika anak menunjukkan sikap cuek, kemungkinan dia sedang memprosesnya sesuai atau tidak dengan memori yang dimilikinya.

KEMUNGKINAN AUTIS:
CATATAN DARI Dr Rudy Sutadi SpA, Wakil Ketua Yayasan Autisme Indonesia:
Penyandang autisme memiliki gangguan/ masalah pada bidang komunikasi, interaksi sosial, dan minat yang terbatas serta berulang-ulang. Mungkin juga terdapat masalah pada bidang sensasi (indera), dan fungsi adaptif. Hal-hal tersebut menyebabkan tingkat perkembangan/kemampuan penyandang autisme semakin lama akan semakin jauh tertinggal dari anak seusianya. Dalam talk show ini, Dr. Rudy memberi contoh sebagai berikut: Masalah pada komunikasi, misalnya anak tidak bisa bicara, terlambat bicara, bicara hanya mengeluarkan suara-suara/suku-suku kata yang tidak mempunyai arti (babling/bahasa "planit"), hanya menarik tangan orang dewasa bila menginginkan sesuatu. Pada yang mulai bisa bicara, mungkin hanya sekedar mengulangi kata-kata orang lain (membeo/echoing/ echolaly) atau pada usia 18-24 bulan tiba-tiba bicaranya menghilang (berhenti bicara).

Tanya
Mohon info seperti apa/prosesnya bagaimana untuk pemeriksaan Autisme? (apakah dengan tes-tes tertentu, ada tahap-2nya, pemeriksaan lab dll?) Apakah di dokter anak sudah cukup? Dan berdasarkan apa nantinya kesimpulan diambil? Kalaupun ada ciri-ciri yang mengarah ke penyakit Autisme dan anak mengalami salah satu gejalanya, bisa dicurigai mengidap penyakit ybs? Apakah Yayasan Autisme ((waktu itu saya pernah melihat tayangan di Metro TV yang menampilkan dokter Rudy (kalau tidak salah) sebagai wakil ketua Yayasan tsb))sudah mempunyai situs sendiri di Internet ?

Jawab
Gangguan autisme merupakan suatu jenis gangguan perkembangan pervasif pada anak. Untuk menegakkan diagnosa gangguan autisme ini tidaklah memerlukan suatu pemeriksaan yang canggih-canggih seperti MRI, brain mapping atau CT scan, kecuali ada indikasi lain yang bermakna. Oleh karena akhir-akhir ini gangguan autisme sering dikaitkan dengan keracunan logam berat dan pertumbuhan jamur yang pesat di usus, maka beberapa pemeriksaan yang berkaitan dengan hal tsb sering dilakukan (dengan catatan sesuai indikasi yang berlaku). Untuk menegakkan diagnosis gangguan autisme biasanya didasarkan dari gejala gejala klinis yang tampak dan jelas menunjukkan pola penyimpangan dari perkembangan normal anak seusianya. Kriteria yang digunakan pada saat ini adalah dari pedoman kriteria diagnosis berdasarkan DSM-IV (Diagnostic & Statistic Manual of Mental Disorder IV) atau ICD-10 (International Classification of Disease 10).

Kriteria Diagnostik gangguan autisme berdasarkan DSM IV adalah:

A. Harus ada sedikitnya gejala dari (1), (2), dan (3) dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing satu gejala dari (2) dan (3) :

(1). Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik.
Minimal harus ada 2 gejala dari gejala di bawah ini:
a. Tidak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai, kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak-gerik yang kurang tertuju.
b. Tidak bisa bermain dengan teman sebaya (sesuai dengan usia anak)
c. Tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain.
d. Kurangnya hubungan sosial dan emosional yang timbal balik.

(2) Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi, seperti ditunjukkan minimal satu dari gejala-gejala di bawah ini :
a. Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tidak berkembang (tak ada usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpa bicara)
b. Bila bisa bicara, bicaranya tidak dipakai untuk komunikasi.
c. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.
d. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang bisa meniru.

(3) Ada suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat dan kegiatan. Sedikitnya harus ada satu dari gejala di bawah ini:
a. mempertahankan satu minat atau lebih, dengan cara yang sangat khas dan berlebih-lebihan.
b. terpaku pada satu kegiatan ritualistik atau rutinitas yang tak ada gunanya.
c. ada gerakan-gerakan yang aneh yang khas dan diulang-ulang.
d. seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.

B. Gejala-gejala di atas timbul sebelum usia 3 tahun dan adanya keterlambatan / gangguan dalam bidang:
(1) interaksi sosial,
(2) bicara/berbahasa,
(3) cara bermain baik simbolik atau imajinatif

C. Tidak disebabkan oleh sindroma RCH / gangguan disintegrasi masa kanak. Dengan mempelajari gejala-gejala tsb di atas maka para orang tua dapat menduga apakah anak tsb termasuk anak dengan autisme atau bukan.

Tanya
Anak saya perempuan usia 1 tahun 8 bulan, sampai saat ini anak saya masih belum bisa ngomong seperti anak seusianya, ngomongnya masih belum terarah (semaunya saja ngomongnya). Dan kalau diajarin untuk berbicara dia cuek saja, apalagi kalau sudah asyik nonton tv di panggil saja tidak noleh. Anak saya berat badannya kira2 11 kg dan dia termaksud anak yang lincah, pro aktif dan suka bercanda,cuman satu saja sampai sekarang belum bisa ngomong. Yang ingin saya tanyakan apakah anak saya termasuk lambat berbicara atau autisme?

Jawab
Tolong anaknya dibawa saja untuk diperiksa. Tentunya saya tidak bisa memastikan apakah autis atau bukan dengan data yang terbatas. Umur 1 tahun 8 bulan belum bicara harus diperiksa dengan teliti. Jangan menunggu, tolong diperiksakan saja.

Kebetulan sama dulu juga mengalami kegelisahan seperti itu. Anak saya yang besar waktu umur 2 tahun, kosakata yang jelas masih sedikit, sebagian besar bahasa planet yang hanya dia yang tahu artinya. Jadi seringnya komunikasi kita seperti satu arah, kita tidak ngerti apa yang diucapkan dan kalau ditanya, seringnya diam saja, atau dijawab pakai isyarat, tapi sepertinya dia mengerti apa yang kita bicarakan, Padahal di rumah eyangnya, banyak orang (om-om-nya) dan semuanya cerewet, seneng ngajak ngobrol anakku, jadi tidak mungkin karena kurang stimulasi. Saya juga konsultasikan ke DSA, karena patokan saya, anak harusnya mulai lancar bicara, start 2 tahun, tapi kok anakku telaat, Tadinya saya sampai pengen ikut terapi bicara, tapi menurut DSA-ku, anakku masih wajar, dan disarankan untuk dimasukkan kelompok bermain dulu, saya sampai minta vitamin, khususnya vit. untuk perkembangan otak, karena saya takut, anakku khan suka jatuh pas belajar jalan, jadi was-was saja, Akhirnya pas anakku 2 th 4 bulan aku masukkan ke kelompok bermain, yang seminggu sekali, memang awal mulanya dia, masih penyesuaian diri dan lebih banyak diam, tapi seiring waktu, banyak kemajuan pesat dari anakku. Mungkin karena banyak teman sebaya, dll, anakku mulai banyak bicara, dan lebih kritis, pokoknya, jadi cerewet deh sekarang, apa saja dikomentarin,

Sekarang anakku sudah 2 thn 10 bulan, alhamdulillah, sudah banyak bicaranya, malah sudah bisa cerita atau ngadu, jadi pengasuhnya tidak bisa macam2, karena sudah bisa laporan sich, Mungkin dicoba dulu dimasukkan ke Kelompok bermain mbak? setahu saya kalau anak autis, tanda-tandanya bukan hanya telat bicara, banyak faktor atau ciri2 lain yang mungkin ibu lain bisa tambahin, (DS)

Anak saya dulupun demikian sewaktu umurnya 2 tahun plus namun yang perlu diperhatikan : Bila diajak bicara apakah si anak mengerti apa yang dikatakan? Atau ditest dengan cara menyuruh si anak buang sampah misalnya. Bila diajak bicara apakah mata si anak menatap pembicara??? Bila hal diatas sudah dilakukan kemungkinan besar hanya kurang interaksi internal, bukannya autis. Akhirnya pada waktu itu si anak saya sekolahkan padahal umurnya baru 2 tahunan dan PRT dirumah saya tambah menjadi 2 orang sehingga si anak banyak mendengar orang bicara dan sianakpun berintraksi dengan banyak orang. Dan alhamdullilah lambat laun terlihat perkembangannya. Semoga saja anak adik mbak demikian seperti anak saya yang pertama (sekarang umurnya sudah 5 tahun 5 bulan dan sudah cerewet). (URI)

Soal ini yang juga bikin aku cemas. Anakku, 20 bulan, sampai sekarang belum bisa bicara lho ibu. Kata yang fasih diucapkan cuma 1 kata yaitu "udah". Selain itu tidak ada yang jelas. Cuma eh, aa, uu, mba' (bukan manggil mbak lho tapi kalau' minta perhatian bapaknya), manggil akunya dengan ah ah / eh. Mau minum susu cuma tunjuk botol sambil bicara eh, eh, eh, Kadang mau minum putih saja sambil nangis karena kita tidak ngerti maksud bahasa dia. Hal yang agak melegakan hati adalah dia selalu merespons dengan baik apa yang kami sampaikan, seperti meletakkan gelas di cucian, mematikan lampu mobil, mengambil barang-barang (gelas dll). Tiap makan dia akan berinisiatif bilang "a'" kalau' dirasa mulutnya sudah kosong sementara dia belum disuap lagi. Bermain bersama dilakukan dengan gembira jadi sosialisasi kayaknya tidak masalah deh, disuruh salim dia akan langsung mengulurkan tangan meski dengan orang asing. Penjelasan ibu sekalian memang cukup menenangkan tapi aku apa perlu periksa juga ke DSA yang lain ya, soalnya kalau' dengan Dr Bambang, menurut beliau anakku tidak masalah. Cuma sering tercetus takutnya terjadi aku terlambat merespons. (A)

Anakku juga termasuk agak telat ngomongnya, umur 15 bulan ngomongnya masih pakai bahasa planet, padahal sepupu2-nya umur 12 bulan sudah bisa panggil mama papa. Kata DSA tidak masalah wong anaknya dia saja baru ngomong umur 2 thn, tapi kalau mau second opinion ke dr lain ya silakan, akhirnya dirujuk ke Prof. Taslim di Hermina Jtn. Waktu diperiksa dia bilang tidak ada masalah dan tidak autis (legaaaa rasanya), cuman dibilangin kurang banyak latihan/ diajak ngobrol, (padahal kurang gimana lagi ya cerewetnya kita), dikasih obat racikan untuk 1 bulan plus tugas untuk lebih intensif lagi ngajarin/ngajak ngomong, eh baru seminggu minum obat anakku sudah mulai panggil mama, mama, juju (susu) sudah, dan beberapa kata pendek lainnya. Berhubung aku merasa tidak urgent lagi akhirnya aku tidak balik lagi ke si Prof, padahal DSAnya bilang silakan saja diteruskan, Tapi keponakanku juga baru ngomong umur 3,5 tahun lho !! Gara2 awalnya sering ditinggal didepan TV nonton sendirian, karena ibunya sibuk ngurusin rumah, sudah di terapi wicara bolak-balik tidak ada kemajuan, akhirnya dimasukin play group baru deh mulai ngomong, Sekarang sudah 4,5 tahun dan cerewet!!(IT)

Mungkin yang harus kita lakukan bukan cuma 'cerewet' sendiri. Tapi, berusaha ngerangsang si anak untuk ngejawab omongan2 kita. Mungkin kalau 'cerewet' yang satu arah, si anak malah bingung kali yach. "Ibuku kok tidak kasih kesempatan aku buat ngomong ya???". Soalnya beberapa sodara saya yang anak2nya pada telat ngomong, kejadiannya sama seperti itu. Si ortu asyik sajacerewet sendiri, sementara si anak asyik saja ngedengerinnya dan tidak bisa nanggepin kecerewetan si ortu ini, (R)

Keponakanku sampai ultahnya yang ke-2 bicaranya sama, yang keluar cuma ah uh eh doang. Persis, kalau mendengar perkataan orang dia bisa mengerti. Seperti disuruh salam, atau diminta mengambilkan mainannya gitu dia bisa mengerti. Waktu itu seisi rumah juga cemas melihat keadaan ini sementara badannya bongsor, diusia 2 tahun sudah seperti anak usia 3-4 tahun tapi ngomongnya masih bahasa planet, kan lucu jadinya. Padahal bundanya, tantenya dan orang2 disekelilingnya adalah orang2 yang cerewet alias doyan ngomong. Lalu pola bicara kita orang2 disekelilingnya mulai sedikit diperhatikan. Kita sepakat kalau bicara sama dia, bicaranya sesedikit mungkin. Tapi dipraktekin dan minta dia bicara berulang2. Misalnya kita baca buku sama2 lalu kita bilang "Ini burung" lalu tanya apa ini? Begitu lama2 dia bisa walaupun hanya ujung katanya saja. Lalu kalau dia minta sesuatu misalnya dia minta susu, kita biarin dulu sampai dia mencoba bilang susu atau dia berusaha menunjukan bahwa yang diinginkannya itu susu. Dulu dia suka nunjuk tempat bikin susunya terus kita bilang "oh mau susu ya" "Mau apa dik?" "susu" gitu terus diulang2. Kadang secara tidak sadar lingkungan memenuhi kebutuhan anak sedemikian rupa sehingga tanpa sianak harus bicarapun lingkungan sudah mengeri dan memberikan kebutuhan dia. Si anak jadi tidak terlatih untuk mengemukakan apa.yang diinginkannya. Tapi kita harus waspada juga jangan sampai sianak jadi frustasi karena dia mencoba mengemukakan bahwa dia pengen susu tapi kita terus cuekin karena dia belum bener ngomong susu.Dengan memperbanyak anak bersosialisasi dengan anak sebayanya juga bisa merangsang anak untuk berkomunikasi. karena dengan teman sebaya mau tahu mau dia harus mencoba mengemukakan apa yang dipikirkannya. Misalnya kalau dengan orang tua dia mengatakan "mau su" kita sudah ngerti kalau dia mau susu. Tapi dengan anak lain belum tentu. Situasinya membuat sianak memang harus bicara, tapi dalam keadaan yang tidak tertekan karena situasinya bermain. Usia hampir 2 tahun 6 bulan, dia terus bisa bicara, bahkan tidak bisa berenti kalau sudah nanya. Kata neneknya, ayahnya dulu juga baru bica bicara lancar diusia 2 tahun, jadi barangkali ada kaitannya juga ya? (SK)

Iya betul ya. Ini juga berlaku baik bagi anak normal maupun yang bermasalah ya? Soalnya temenku yang terapi-in anaknya itu juga disuruh begitu sama terapistnya. Anak jangan langsung dilayani kalau misalnya cuma bilang,"Uh,uh,", sambil nunjuk botol susu-nya. Kita harus rangsang supaya dia 'berbicara' dulu baru dikasih susunya. Juga kadang kita tidak sabar nunggu anak ngomong sampai selesai. Jadi dia lagi bilang, "Mau minum. minum.", kadang ada yang nyambung :"Susu ya?". Sebaiknya sih ditungguin si anak selesai berpikir dan mengutarakan pikirannya. Sebab kadang anak lebih cepet di otak daripada di bibir. Otaknya sudah mikirin apa, yang nyampe bibir baru apa gitu. (R)

Nah kalau yang kayak gini kejadiannya sama ponakanku satu lagi. Jadi malas bicara karena kalau dia ngomong sesuatu trus agak lama kan kadang lingkungan jadi tidak sabar, ini anak mau ngomong apa sih? lalu kalau dia ngomong lingkungan jadi suka memotong omongannya. Misalnya dia bilang Bu kaka mau itu, mau itu, mau itu bu, Ibunya langsung bilang "oh mau coklat dari toko kemaren ya? Kadang lingkungan bermaksud membantu sianak menuntaskan perkataannya, tapi kadang hal itu malah jadi menghambat si anak untuk berbicara. Kita bisa saja terus tanya, mau apa? kaka mau apa ya? Ibu kok belum ngerti? sampai sianak bisa mengemukakan apa yang ada dipikirannya Kakak sekarang suka curhat sama aku (waktu dia usia 10tahun) katanya ibunya suka nuduh dia. Aku tidak ngerti kenapa dia bisa punya pikiran seperti itu setelah ditanya tanya, rupanya dia sebel karena katanya kalau dia ngomong belum selesai ibunya sudah motong pembicaraan dia. "padahal bukan itu loh tante yang mau kakak bilang sama Ibu". "Ah kakak jadi males ngomong katanya kalau orang ngomong kita tidak boleh motong omongan orang. Tapi kalau kakak ngomong kok suka dipotong". Untung cepet ketahuan kalau dia punya pikiran seperti itu. Kalau keterusan? bukan tidak mungkin akan muncul masalah yang lebih serius lagi. (SK)

Usulan ini sudah aku terapin berulang untuk si kecil. Sudah uh..uh..uh.. sambil nunjuk botol. Aku tanya "adik mau apa", uh..uh..uh.. keukeuh nunjuk botol. Aku tanya "mau apa dik", sambil nunggu dia mau ngomong apa keluarnya uh..uh..uh.. lagi sambil nunjuk botolnya. Berapa kali masih begitu akhirnya aku ambil botol susu dia sambil bilang : adik mau minum susu ? Dia tuh uh, uh, uh, lagi sambil jalan balik ke dispenser tempet biasanya susu dibuatin, nungguin di situ. Kalau' ditanya lagi adik mau apa, waduh bisa langsung ngamuk. Mungkin pikirnya Ibuku ini sudah ngerti maksud aku masih tanya-tanya saja.

Aku sih masih berusaha terus nih, pengasuhnya juga aku ingatin terus supaya tetap merangsang adik untuk mau ngomong. Kakaknya, padahal cerewet betul, ngajakin ngomong adiknya. Semoga juga cuma masalah waktu saja ya, bukan yang lain-lain. (A)

Mungkin dicoba kata per kata. Jadi misalnya ditanya mau apa, tetap masih uh-uh-uh lagi, kitanya bilang, susu? Adik mau susu? Susu yang ini? S, u, s, u, coba dik, Berkali-kali-kali seperti gitu, lama2 lengket di otaknya, itu SUSU. Sembari terus melatih, kita juga tetap memperhatikan, juga mengingat2, apa ayah/ibu/sepupu2nya dulu juga ada yang begitu? Sebab anak tetatidaku, sudah 2 tahun lebih (dulu) belum bisa ngomong juga, ternyata dirunut2, sepupu2nya dari garis bapaknya semua rata2 begitu. Rata2 lancar bicara umur 3 tahun. Ya bener saja, memang dia umur 3 tahun baru lancar bicaranya (R).

Kalau menuruntuku adik itu sudah ada usahanya untuk mengemukakan apa yang dia inginkan. Adik kalau mau susu nunjuk botol laau ngajak ketempat dispenser, itu salah satu bentuk usahanya dia. Barangkali memang masih susah buat adik untuk bicara, tapi kita teruskan saja usahanya kalau sudah diambil susu dibilang oh adik mau susu ya? Susu, gitu terus, Insya Allah kalau berulang2 dan konsisten dilakukan oleh lingkungannya akan diinget terus sama sianak. Memang sebaiknya jangan sampai sianak ngamuk, takutnya menimbulkan frustasi yang berkepanjangan. (SK)

Kalau aku punya pengalaman dari kedua saudaraku yang pertama anaknya sampai 3,5 tahun susah ngomongnya pakaui bahasa planet, naah ibunya terus saja melatih dia untuk bicara ngikutin kata ibunya, dan katanya kakeknya tuh anak (bapaknya si ibu) dulu waktu kecilnya juga lama baru bisa bicara lancar sekitar umur 4 tahunan makannya si ibu santai saja, soalnya dikaitkan dengan cerita keturunan itu, kalau yang satu lagi anaknya mengalami autis ini terlihat dengan dia sering bicara planet dengan dunianya sendiri dimana dia ngoceh saja tanpa ketahuan
ngomong apaan, akhirnya ibunya menemui ahli wicara apa ya pokonya dokter anak di warung buncit untuk terapi bicara, dan alhamdullillah kata dokternya sajaran ibunya dalam melatih anaknya bicara sudah benar, anak dilatih untuk bicara keinginannya dengan dibantu, Akhirnya si autis bisa bicara walaupun belum jelas sekarang sudah kelas satu SD,(N)

Waktu itu aku sudah curiga abis karena anakku tidak bisa ngomong, ada sih mama, papa, tapi hiperaktif nya itu lho. Jadi sudah niat, 24 bulan tidak ngomong, bawa ke dokter, dulu di Malaysia dokternya bilang bukan autis. Masalahnya dibilangnya, speech and comm. disorder, Kemudian aku cek ke 3 dokter, idem dito, bukan autis, tapi pas di Jakarta, positif dibilang autis. Tapinya, terapi yang disuruh sama dengan yang dibilang dr. di Malaysia. Aku inget daftar pertanyaan dari Dr. Hardyono di KG itu ya, bisa dicek:

(1) Suka ketawa sendiri tidak
(2) Suka pegang2 penis
(3) Suka lihat & maenin benda berputar
(4) Usia satu tahun belum bisa menunjuk sesuatu yang dia mau/maksud
(5) Suka jingjit
(6) Suka berputar-putar
(7) Suka mengamuk kalau tidak dituruti (bisa membenturkan kepala ke tembok, atau tiduran di lantai, atau tahan nafas)
(8) tidak nengok kalau dipanggil
(9) Lebih suka main sendiri
(10)Suka menyusun mobil2an berderet2
(11)Kontak mata yang jarang dengan lawan bicara

Kalau 2 tahun belum bicara, atau ada ciri2 di atas, takutnya nyesel bawa saja dicek ke dokter, Aku ingetin begini, soalnya ada temenku sekarang nyesel banget telat bawa anaknya, 5 tahun baru ketahuan asperges. (IE)

Aku mau cerita ya, ibu, tentang anakku, dari umur 12-16 bulanan, aku sudah was-was karena anakku belum juga bicara, rasa khawatir ini timbul karena aku punya 2 temen dimana anak2 kita lahir hanya selang 10 hari dan anakku yang paling tua, kedua anak temanku itu umur 12-13 thn sudah bisa bilang num susu, bis, motor, bil-mobil, mama, papa, eyang, sudah lumayan jelas, smtr dia jauhhh, banget, deh dari mereka, kalau kita tanya andung, mana, dia tidak nunjuk ke ibuku, tapi cukup melemparkan pandang kearah ibuku dengan senyum, kesannya seolah2 ia bilang itu andung, setiap ditanya matanya mana; kakinya mana, lagi2 Cuma senyum2, sambil tetap ngeluarin suara2 bayi-nya, dirumah, rasanya jugan ditanya deh, gimana ramenya kita, hampir yang ibu semua lakukin buat anak2 ibu itu juga yang kita lakuin dirumah, bacain cerita, nyanyi, sampai untuk mengenalkan warna aku pakai dengan cara, kamu pakai baju putih ya, gitu deh, waktu aku baca postingan ibu, ternyata F juga melakukan hal ini, dari waktu ke waktu kita tetap usaha terus, kalau tanya ke dsa-nya, beliau cuma bilang, tetap saja bu dilatih, belum 2 thn kan? Tapi selama itu juga banyak pemahaman dan pengertian yang diterimanya, kalau dikasih perintah yang mudah2 dia bisa lakukan, spt ambil handuk buat mandi, pakai sepatu, bisa pakai sandal sendiri, buang sampah, semacam itu deh.

Antara umur 18-24 bulan, tiba2 aku surprise, waktu pulang, dia bisa bilang 'allahu akbar' dengan jelas tapi tanpa huruf 'r', rupanya sesiangan dia diajarin oleh kakeknya, tidak lama kmdn kata 'amin' karena dia sering lihat kita2 stelah shalat berdoa, terus waktu itu juga dia lagi getol2nya niruin gaya org shalat. Terus tidak berapa lama ibu DI ngomongin soal vcd iqra, wah, aku langsung beli, hampir tiap pagi slbm aku berangkat knt (kadang juga sore, tergantung maunya ayra juga) stel vcd ini, tidak nyangka dia nyimak, kata ibuku lagi dia juga mulai ikut2an berdendang kalau kita nyanyi. Sepanjang desember kemarin (pas 2 thn) banyak banget deh, ibu yang dia sudah bisa, sekali2, aku tanya lagi, mata kamu mana? dia tunjuk matanya, aku tanya lengkap dia bisa kasih tahu lengkap anggota badannya, dia juga sudah bisa nyebut panggilan2 org2 rumah, (kecuali mama/ayah dr dulu dia memang bisa), terus aku tanyain juga iqra alif, dia bisa, juga, aku tanya secara acak, ia juga bisa, (mis;dal diatas,nanti dia nyahut 'da', ) sudah bisa nyanyi lagu favoritnya 'topi saya bundar', sudah bisa bilang mamam(makan), o, iya, aku juga udah masukkin ke tempat bermain, tapi kayaknya belum efek deh, ke dia untuk bicara, karena dia sendiri masih cuek dan masih lebih banyak sama kitanya, ketimbang teman2nya, meskipun ditempatnya bermain itu, sudah lumayan banyak juga anak yang sudah bisa bicara, lihat dia saat ini paling tidak bisa mengurangi sedikit kekhawatiranku (aku sempet kepikiran juga siapa tahu dia autis), mudah2an dari bulan ke bulan nantinya ada kemajuan, demikian juga buat anak2 ibu, o, iya, aku seneng juga baca sharingnya ibu tentang ini, siapa tahu ada input tambahan buatku spy bisa merangsangnya bicara. (R)

Iya, aku dibilanginnya juga jangan bersedih dulu kalau baru bisa ngomong SSSS doang buat susu, sudah harus dikasih reward tu kalau bilang "SSsss..." pas mau susu. Anakku dulu baru bisa ngomong umur 5 tahun lho, sampai sekarang kalau ngomong masih irrrriiit banget. (IE)

Kalau menurut pendapatku, beda anak, beda kasus, beda penanganan. Ada late talkers karna lingkungannya pendiem. Ada yang justru karna lingkungan terlalu bawel. Ada yang terbantu dengan 'dipaksa' menyelesaikan kalimat. Tapi ada yang justru jadi frustrasi banget trus takut omong (karena dia merasa tidak ada org yang mau ngertiin dia, lha dia mana tahu bahwa kita sedang nunggu dia ngucapin kata yang benerkalau buat dia kan itu kata sudah bener. Jangan kecil hati karena ngelihat suatu metode berhasil di org lain dan tidak di kita dan kalau kita mau jadiin usia sebagai indikasi normal / tidaknya tumbuh kembang anak kita, hati-hatilah, yakin dulu bahwa kita memang tahu ilmunya jadi was-was itu manusiawi sekali, tapi kalau saking waswasnya trus berdasarkan cerita org lain kita memastikan kasusnya anak kita, apalagi trus kita taruh label tertentu pada si anak dan memilih sendiri penanganannya ini yang bahaya. Yang jelas, sebagai orgtua insya Allah kita punya deh insting kalau emang kita rasa ada yang tidak beres cari, cari, cari pendapat dari yang kompeten dokter anak, psikolog, kalau bisa tim sih lebih bagus yang penting bisa diajak diskusi sampai ngelotok sampai semua pertanyaan & keraguan terjawab kalau masih ada yang dirasa tidak puas, cari lagi pendapat lain, untuk bisa tegakkan diagnosa apapun, butuh pemeriksaan dan analisa detil yang didasarkan sejarah tumbuh kembang si anak dan observasi langsung! ini yang terpenting. Karena sekali lagi, tiap anak beda, tiap anak super istimewa, (H)

Soal anak belum bisa ngomong emang bikin kita cemas ya. Aku kalau berdo'a berharap perkembangan bayiku dalam perut kelak akan selancar kakaknya, jadi kalau kakaknya ngoceh aku suka berdo'a dalam hati agar adiknya pun lancar perkembangannya, padahal kalau dipikir saat hamil pertama itu aku merasa lumayan tertekan lho, maksudku saat itu kebetulan aku lagi ada masalah rumah tangga, makanya kalau lihat dia lari2 trus ngoceh nanya ini itu aku cuman bisa bilang Subhanallah kalau inget saat hamil dia betapa "mandiri" nya aku, betapa "pendiam"nya aku, dulu saat hamil dia aku juga suka makan junk food, kalau tidak bisa keluar rumah aku punya daftar delivery service masing2 restoran junk food, hehehe, aku tahu itu tidak bagus, habis daripada tidak ada yang masuk perut, sekarang Z sudah 2 th,aku juga tunda dulu imunisasi MMRnya,meski blom sekolah skrg dia sudah bisa bilang one sampai ten,yang penting kalau ngajarin ke anak kita jugan cemas, anak mungkin ikut merasakan ketegangan kita,ikhlas dengan kondisi anak & rileks saja sambil jalan, toh tiap anak itu unik & perkembangannya tidak selalu sama, aku selalu bicara saat melakukan kegiatan bersama anakku sejak dia bayi, apapun itu,lagi ganti popok,mandiin,bahkan sabun jatuhpun kuungkapkan seolah dia ngerti sabun itu licin, kebetulan pbt-ku juga full comment kalau nonton TV,oh ya ada yang bilang TV juga merangsang anak cepat bicara, asal tepat yach tontonannya,VCD juga membantu, dulu anakku kalau nanya suka bilangm?,hm?, hm?, jadi kita jawabnya berulang2, ternyata dia niru pbt-ku kalau diajak ngobrol temennya suka bilang gitu, akhirnya aku tegur jangan 'hm",tapi "apa bunda?", atau "apa Mbak?", itu kukatakan berulang2 tiap kali dia ber hm-hm-ria, skrg sudah tidak lagi,malah suka ngeledek,"apa bunda?,hm?,hm?,hm?", kemudian dia terkekeh. (C)

Anakku yang besar (now 25 mos), termasuk yang lambat mulai bicara. Sempat juga kita khawatir dengan autis, speech delay atau penyakit lainnya. Padahal orang di rumah cerewetnya bukan main, bingung kan Akhirnya mulai umur 20 bulanan, aku coba salah satu cara yang disarankan ibu DI yang pinter-pinter ini. Aku belikan VCD lagu-lagu anak banyak sekali (beli di sojong, murmer dan kumplit) Setiap hari bangun tidur langsung setel VCD, malam pulang kantor, setel VCD sampai tertidur. Lalu dari VCD itu beberapa lagu favorit kita rekam di kaset, nah kaset itu diputar berulang- ulang, ya di jalan, ya waktu makan siang pokoknya setiap ada waktu. Hasilnya dalam waktu tidak terlalu lama, anakku bisa menyanyikan lagu lengkap Misalnya nina bobo, cicak didinding, naik-naik kepuncak gunung etc sekarang malahan lagu-lagi yang lumayan susah/panjang dia sudah bisa. Kesimpulanku sih, dia bukan belum bisa ngomong, tapi memang dia belum pengen/stimulusnya kurang tepat. Kalau kata-kata, herannya malahan baru bisa merangkai dua kata spt "mau berenang" (nah ini fasih banget), "mau mandi" yah pokoknya dua kata saja, aku belum pernah denger dia ngomong 3 kata.Kalau kosa katanya sih sudah lumayan banyak, semua benda di rumah dia tahu namanya. Lumayan, aku sudah agak lega (V)

Tanya
Ibu, kenapa ya kok banyak anak yang autis dan hiperaktif sudah berapatemen dan saudara yang anaknya autis dan hiperaktif ini akibat dari apa ya? Kata temen karena banyaknya mengkonsumsi junk food tapi masa' iya sih? Kalau ada yang tahu sharing dong, (Nt)

Kalau aku dibilanginnya karena turunan, ada yang karena rubela pas hamil, ada yang curiga karena MMR.Tapi bisa jadi juga, karena sekarang sudah banyak informasi tentang autis, jadi baru ketahuan deh anak autis. Soalnya dulu suamiku tidak dibilang autis, pdhl dari cerita mertua, curiga banget dia autis karena ciri2nya ada semua. Dokterku sendiri di tempat yang lama, tidak mau nge-cap pasiennya autis sebelum 5 tahun, sementara banyak juga kan dokter yang begitu lihat langsung yakin pasiennya autis. Aku inget dulu selalu di saranin second opinion, ya ? Biar lebih yakin, Kalau junkfood sih aku tidak tahu bisa jadi penyebab, cuma fyi, anak autis tidak boleh makan junkfood and msg, (IE)

Kalau aku sih sudah bukannya second opinion lagi, sampai fourth, five, sixth opinion. Tidak percaya ahli-ahli disini pakai ahli negeri seberang juga,, dan hasilnya sama, dengan begini aku (mudah-mudahan) tidak salah menanganinya. Jadi aku tidak sekedar "ikut-ikutan" atau "latah" therapy ini dan itu, mana jaman aku 5 thn yang lalu itu susah cari info karena belum banyak yang tahu. Seperti yang sudah aku share sebelumnya yang terpenting, cari dulu akar permasalahannya, kemudian cari ahli yang tepat dan temukan penanganan yang cocok sesuai saran ahli dan hati nurani masing-masing. (DN)


Perkembangan bicara anak pertamaku bukan main cepetnya kalau tidak mau dibilang kecepetan. Tapi anak kedua lain sama sekali, sudah 2 th sekarang tapi belum terlalu lancar bicaranya, kadang yang denger masih tidak ngerti. Padahal kalau dipikir, dulu anak pertamaku kan kalau aku ke kantor cuma ditinggal ama BSnya, sementara anak kedua sekarang lebih banyak temennya, ada kakaknya, BSnya, mbaknya kakaknya, mamiku, dll, logikanya anak kedua harusnya bisa lebih lancar berbicara. Tapi kenyataannya lain. Aku sih cuma mikir, yah anak adalah individu yang unik, selama secara keseluruhan perkembangannya baik, aku tenang-tenang saja. (SM)

Apa anak ke dua begitu ya??
Anakku memang baru 8,5 bulan. Actually dia sudah mulai ngoceh. Cuma herannya dia banyak ngoceh pas jam 4 pagi saat dia bangun karena pup. Atau jam2 Abangnya tidur. Aku perhatiin sih begitu. Mungkin kalau Abangnya sudah bangun, adiknya merasa kalah suara kali ya?? Soalnya si Abang anaknya bener2 heboh gitu. Aku sekarang rada2 cemas gitu, kasian juga lihat Arei tidak banyak omong saat ada Zaldi. Paling dia cuma senyum2 dan ketawa saja. Padahal aku sudah pancing2 supaya dia ngoceh. Tapi memang dia lebih banyak silent. Tapi memang dia tetep aktif ngikutin becandanya Abang. Sampai Embah-Abahnya bilang "ini anak idep (tidak banyak tingkah)". Tapi aku kok jadi worry ya? Jadi kalau jam 4 dia bangun, aku seneng banget, ngocehnya tidak brenti2. Ada tidak ibu yang pengalaman begini? Atau ada ide gimana supaya si adik tidak kalah suara sama Abangnya? (S)

Waktu bayi, kakanya pendidam, tidak pernah ngoceh, tp umur 1 th tahu-tahu saja dia ngomong, jelas dan nyambung. Sementara adiknya, waktu bayi malah cerewet sekali, ngoceh terus, aku kirain bakalan cepetngomong, tahunya. salah aku. (SM)

Kok yang sering aku temui tentang anak ke-2 begitu ya? Ibunya rata2 bilang, anak pertama bicaranya cepet, anak kedua lebih lambat. Apa kira2 karena terlalu ramai gitu, maka si anak lebih asyik mendengarkan daripada berlatih bicara ? (R)

Kalau kasus keponakanku karena anak pertama dominan di rumah dan seringnya sibuk dengan dirinya sendiri/main sendiri dan setiap adiknya mau ngomong sering dipotong dan ortunya secara tidak sengaja jadinya lebih sering ngobrol dan dengerin ngomongnya si kakak yang jelas daripada dengan si adik yang ngomongnya tidak jelas maksudnya, mungkin itu bikin si adik frustasi ya? Menurut DSA anakku biasanya anak ke 2 ngomongnya cepet juga karena meniru kakaknya apalagi kalau kakaknya banyak ngomong kecuali kasus tadi dan kebanyakan anak yang lambat bicaranya anak laki2 mungkin anak perempuan lebih cerewet kali ya? (Nt)

Adikku pernah cerita kalau dia ketemu seorang ibu yang lagi terapi bicara anaknya di Klinik Anakku Bekasi. Menurut ibu ini setelah konsul beberapa kali dengan psikolog ketahuan anaknya telat bicara karena terbebani oleh kondisi kakak yang nota bene jadi "benchmark" si adek. Si adek pengen sekali seperti si Abang kesekolah, punya teman,main sepeda dst, sementara jarak umur membuatnya tidak bisa dan frustasi. Solusinya selain terapi si Ibu memberikan fasiltas sama dengan si Abang spt memasukkan ke PG membelikan sepeda dst. Aku juga baru tahu kalau hal seperti itu bisa juga membuat si adek mogok bicara. Aku juga harus waspada nih, dengan perkembangan anak keduaku (masih 6 bulan) karena si kakak super aktif untuk semua kegiatan termasuk bicara.(Es)

Anakku yang ke dua (N) juga gitu, sampai sekarang sudah 16 bulan masih pakai bahasa planet, dia baru bisa bilang 'mama' dan 'udah'. Lain banget sama N (anak I) yang usia 14 bulan sudah mulai banyak mengucapkan kata2 walaupun hanya belakangnya saja. Tapi dari bayinya N memang banyak ngoceh, kebalikannya N tidak suka ngoceh, seingatku dulu pernah dibilang kalau anak bayi suka ngoceh ngomongnya lama, tapi kalau diem ngomongnya cepat. Hal ini terbukti untuk kedua anakku, tapi kalau interaksi dengan kita biasa2 saja, anaknya normal2 saja kan ibu? (YA)

Referensi Buku: Stephen Camarata John F. Kennedy Center on Development and Disabilities

Belajar mendengarkan anak

Anak umumnya hanya mau mendengar komunikasi yang menyenangkan. Karena itu, lihat situasi dan kondisi saat berkomunikasi dengan anak. Termasuk memerintah, menegur atau melarang anak. Si kecil cuek? Jangan bingung dulu sebab seperti dipaparkan Sri Razwanti Suciyati, Psi., anak usia ini sudah mulai memahami perintah. Cuma karena sifat egosentris yang dimiliki, anak biasanya hanya mau mendengarkan perintah/pembicaraan menyenangkan saja. "Kalau perintah itu tidak membuat dirinya senang, maka dia akan bereaksi negatif. Salah satunya dengan sikap cuek."

Tak heran ketika orang tua berkata, "Adek beresin mainan ya," atau "Eh Adek kenapa tadi kamu enggak cium tangan kakek?", anak langsung cuek seolah tak mendengar kata-kata orang tuanya. Lain halnya jika orang tua berkata, "Eh, Dek jajan yuk!", atau "Sekarang di teve ada Kapten Tsubatsa lo.", bisa dipastikan si prasekolah langsung memberikan respons positif. Itulah mengapa, jangan sekali-kali menganggap si prasekolah yang cuek tidak mendengar apa pun yang dikatakan padanya. Karena di balik sikap cueknya, sebenarnya anak menangkap isi pembicaraan tersebut. Sikap pura-pura tidak mendengar seperti ini bukan cuma di rumah, tapi juga di "sekolah". "Banyak anak yang di kelasnya seolah tidak memperhatikan penjelasan sang guru. Namun begitu waktu "sekolah" usai, ia bisa menceritakan panjang lebar tentang materi pelajaran kepada orang tuanya di rumah.

Sikap cuek si kecil tidak lain merupakan bentuk penolakan terhadap isi pesan. Saat orang tua menegur si kecil agar berhenti nonton teve, anak menanggapinya dengan cuek karena ia tidak mau aktivitasnya dihentikan. Demikian pula, misalnya, ketika orang tua menegur anak agar tidak main-main dengan kompor, ia sebenarnya tidak mau dilarang main-main kompor. Menurut psikolog yang akrab disapa Ade ini, sikap cuek turut dipengaruhi oleh karakter anak. Anak dengan karakter pasif dan pemalu, biasanya memang lebih cuek daripada anak yang aktif dan terbuka. Begitu juga anak yang bersikap cuek karena belum mengenal orang yang mengajaknya bicara. Itulah sebabnya, sebelum bertanya atau memberi perintah, baik orang tua maupun siapa pun, hendaknya mengenal anak dengan baik. Disamping itu, anak yang pasif perlu dipupuk kepercayaan dirinya agar tidak segan berkomunikasi dengan orang yang belum dikenalnya.

KIAT MENGATASINYA

Psikolog dari Essa Consulting Group menawarkan beberapa kiat untuk mencegah maupun mengatasi sikap cuek anak saat berkomunikasi:

Tunggu Aktivitasnya Selesai

Saat anak terlihat sibuk, tunggulah hingga aktivitasnya selesai. Sebab anak sulit mengalihkan perhatian ketika asyik dengan kegiatannya. Saat anak asyik nonton tayangan kesukaannya, tunggulah berkomunikasi hingga jeda iklan. Akan sia-sia jadinya jika orang tua bicara selagi anak sedang sibuk main/nonton. Kecuali jika pembicaraan itu memang benar-benar penting. Jika ini yang terjadi, tidak ada jalan lain, orang tua mesti memaksa anak menghentikan aktivitasnya. Atau supaya si kecil tidak terganggu aktivitasnya, orang tua boleh saja memberi peringatan beberapa puluh menit sebelumnya. "Nanti sepuluh menit lagi kamu mandi ya." Dengan cara itu, anak memiliki persiapan ketika harus menghentikan aktivitasnya.

Bicara Dekat Anak

Perhatian anak akan mudah terfokus saat orang tua berbicara langsung. Karena itu, baik ketika memberi perintah, berdialog, atau menanyakan sesuatu, usahakan berbicara tidak jauh secara fisik dari anak. Anak pun akan mudah menangkap pesan yang disampaikan orang tua. Sebaliknya, anak akan cenderung tidak memperhatikan ketika seseorang berbicara jauh secara fisik dari dirinya. Orang tua tidak bisa begitu berteriak-teriak dari dapur, sedangkan anaknya sedang asyik bermain di halaman rumah. "Anak tentu akan sulit menangkap pesan orang tua hingga bersikap cuek." Kecuali dalam situasi dan kondisi tertentu, orang tua boleh saja berkomunikasi dari kejauhan. Asal kejauhannya tidak menghambat pesan tersebut sampai kepada si kecil. Akan tetapi orang tua mesti bekerja keras agar pesan tersebut bisa ditangkap anak.

Tatap Mata

Tatapan mata menandakan orang tua bersungguh-sungguh terhadap apa yang diucapkan. Apalagi bila saat itu orang tua sedang mencoba menegur sebuah perilaku buruk si kecil. Cara berkomunikasi seperti itu menandakan orang tua tidak main-main dengan yang diucapkan. Lain halnya jika orang tua menegur namun perhatiannya entah ke mana. Kalau ini yang terjadi, jangan harap si kecil tak bersikap cuek.

Kontak Tubuh

Dalam situasi dan kondisi tertentu, kontak tubuh anak juga perlu. Jenis kontak tubuh ini disesuaikan dengan tujuan komunikasi orang tua. Jika anak terlihat tidak memperhatikan, orang tua bisa membalikkan tubuh sekaligus memegang badan si kecil agar dia memperhatikan pembicaraan. Sikap itu menunjukkan keseriusan orang tua dalam berkomunikasi. Atau saat ingin mengajarkan nilai-nilai, orang tua bisa mendekap anak seraya mengembangkan senyum terlebih dahulu. Setelah itu, barulah orang tua bisa memasukkan pesan-pesan moral kepada anak. Kontak tubuh membuat anak merasa terlindungi sekaligus dicintai.

Bicara Tegas

Sikap tegas berbeda dengan sikap galak. Galak cenderung mengobral ancaman dengan nada bicara tinggi. Sementara sikap tegas hanya menuturkan apa yang tidak boleh dilakukan dibarengi nada bicara yang datar namun jelas, tidak terlalu tinggi dan tidak juga terlalu rendah. Adapun ekspresi orang galak mirip dengan orang yang sedang marah, sedangkan wajah yang tegas cenderung tanpa ekspresi. Sikap tegas membuat anak segan dan tak tergerak untuk melanggar aturan. Berbeda dengan sikap galak yang hanya akan membuat anak takut namun tidak konsisten perilakunya. Di dekat orang tua bisa bertingkah manis, tetapi jika di depan orang lain bisa bersikap sebaliknya.

Ingat juga, jika anak sering digalaki, dia akan kebal saat dimarahi orang tua. Ade punya kasus orang tua galak yang kesulitan mendisiplinkan anak. Saking sering digalaki, anaknya cuek saja saat dimarahi. Padahal orang tua sudah berteriak-teriak marah. Barulah ketika orang tua mengeluarkan suara tertingginya, si anak menghentikan aktivitasnya dan menoleh pada orang tua.

Jika hendak menegur anak yang kelamaan main game, ibu yang tegas cukup berkata, "Adek, ayo naik tempat tidur." Sementara yang galak akan mengatakan hal yang sama dalam ucapan, "Dari tadi kamu nonton teve terus. Pokoknya, kamu enggak boleh nonton teve lagi!" Sikap tegas juga mesti dilakukan secara bertahap. Jika cara satu dirasa tidak mempan, orang tua bisa mencari jalan lain. Misalnya, jika sudah tiga kali diingatkan agar mematikan video game-nya, orang tua bisa mematikan video game tersebut lalu menyuruh anak masuk ke kamarnya untuk tidur.

Ade juga menegaskan, terlalu lembut juga tidak baik buat perkembangan anak. Sebab sikap ini umumnya sulit membuat anak taat aturan. Karena saking sayangnya, orang tua sering tidak bisa bersikap tegas kepada anak. Akibatnya, orang tua tidak tahu mana hal yang benar dan mana pula yang salah. Sangat mungkin anak akan berontak jika suatu saat dia ditegur karena melakukan kesalahan.

Minta Tolong

Jika hendak minta bantuan anak, yang pertama kali harus diucapkan adalah "minta tolong". Memang hal itu tidak serta merta mengikis sikap cuek-nya. Akan tetapi minimal orang tua telah mengajarkan anak bersikap santun. Anak pun merasa tidak dipaksa saat diperintah atau dimintai bantuan.

Kerjakan Bersama

Patut diingat, anak lebih mengingat contoh nyata ketimbang kata-kata. Bahkan meski tanpa disuruh, anak pun akan semangat menjalankan perintah asalkan ia melihat teman atau orang lain menjalani perintah yang sama. Jadi, usahakan memberi contoh terlebih dulu sebelum memberi perintah. Saat melihat mainan anak berantakan, contohnya, orang tua sebaiknya tidak berkata, "Adek ayo beresin mainan. Kalau enggak, Ibu enggak bakalan beliin mainan lagi lo." Akan lebih ampuh bila mengatakan, "Eh mainannya kita beresin sama-sama yuk. Ibu beresin mobilnya, kamu beresin motor-motorannya ya."

Dengan perintah/permintaan seperti itu, Ade menjamin, anak yang tadinya cuek bisa mendadak tergerak membantu ibunya membereskan mainan. Ingat, anak usia ini masih memerlukan bantuan orang tua untuk memupuk kemandiriannya. Kendati dengan berjalannya waktu, bantuan tersebut sedikit demi sedikit mesti dilepaskan, hingga akhirnya si anak bisa mandiri. Selain itu, cara ini pun secara tidak langsung akan mengajarkan pada anak bagaimana menjalin kerja sama. Saat mengerjakan sesuatu, anak dituntut bisa bahu-membahu dengan orang lain. Dengan demikian pekerjaan akan cepat selesai, selain sikap ego yang dimilikinya bisa diminimalkan. "Enggak lucu kan melihat orang lain sibuk bekerja sementara anak ongkang-ongkang kaki."

Berikan Teladan

Teladan sangat bermanfaat buat si kecil. Dengan contoh konkret dari sosok idola, anak mudah menyerap sebuah perilaku. Ketika orang tua hendak mengajarkan pentingnya mendengarkan, mulailah dari memberi perhatian ketika si kecil berbicara. Cara itu akan mengajarkan si kecil bahwa memperhatikan orang yang tengah berbicara padanya merupakan bagian dari sopan santun. Jika tidak memungkinkan karena sedang sibuk, orang tua setidaknya memberikan penjelasan/alasan. Contohnya, "Adek ceritanya nanti ya, Mama sedang sibuk masak nih."

Sumber : tabloid-nakita.com

Kenal Konsep Waktu



Konsep waktu bisa Anda perkenalkan sembari menerapkan disiplin. .

Danang sedang asyik main dengan teman-temannya. “Mainnya 5 menit lagi ya Nang, setelah itu mandi,” ujar Mira. “Iya, Ma,” jawab jagoan cilik berumur 5 tahun itu. Memangnya Danang sudah kenal konsep waktu?

Mulai dibiasakan

Walaupun belum terlalu memahami konsep waktu (sebuah konsep yang abstrak), namun dalam menerapkan disiplin, anak dapat diajarkan untuk menegosiasikan waktu. Si 5 tahun bisa mulai dibiasakan memakai pola waktu ketika melakukan berbagai kegiatan.

Misalnya mengatakan, “Nanti kita makan makan siang jam satu. Setelah itu istirahat dan pergi ke dokter jam empat sore.“ Tentu saja Anda dapat menggunakan alat bantu berupa jam yang besar dengan jarum panjang dan jarum pendek untuk mempermudah si kecil memahaminya.

Ketertarikan anak terhadap waktu yang cukup besar di usia ini mempermudah Anda mengenalkan konsep waktu Misalnya jika si kecil berkali-kali bertanya berapa lama lagi ayahnya sampai ke rumah; Anda dapat menjelaskannya dengan menunjukkan bahwa waktu tempuh dari kantor ke rumah kira-kira setengah jam. Itu berarti si kecil harus menunggu hingga jarum panjang bergerak dari angka 12 ke angka 6.

Atau Anda dapat menunjukkan waktu kapan ia boleh mulai nonton televisi dan kapan ia sudahi aktivitas menontonnya. Misalnya mengatakan ia dapat mulai menonton ketika jarum pendek menunjuk angka 4 dan berhenti menonton ketika jarum pendek menunjuk angka 5.

Memang si kecil tidak langsung mengerti penjelasan-penjelasan ini. Anak butuh waktu sekitar 1-2 tahun lagi untuk benar-benar memahami maknanya. Namun, dengan pembiasaan ini, si 5 tahun dapat memperkirakan dan membiasakan diri dengan penjelasan Anda mengenai waktu.

Alat negosiasi

Seiring berjalannya waktu, pemahaman si kecil terhadap konsep waktu kian baik. Waktu pun dapat digunakan sebagai alat negosiasi Anda ketika menerapkan disiplin padanya.

Misalnya ketika si kecil enggan beranjak dari depan televisi, Anda dapat menegosiasikannya dengan memperbolehkan ia tetap menonton televisi 10 menit lagi. Tentu saja Anda harus menunjukkan seperti apa 10 menit yang Anda maksud dengan menunjukkan pergeseran jarum panjang dan di mana jarum panjang berhenti yang merupakan saat si kecil harus menghentikan kegiatannya.

Walau negosiasi kadang-kadang berjalan alot dan si kecil kerap menawar waktu yang Anda tetapkan, namun cara mendisiplin seperti ini biasanya berhasil karena anak merasa keinginan terakomodasi dengan membiarkannya melakukan apa yang disenangi dalam batas waktu tertentu.

Keinginan Anda agar si 5 tahun melakukan apa yang Anda minta pun dapat terlaksana. Intinya, Anda dan si kecil sama-sama senang dengan pengaturan waktu ini.

Esthi Nimita Lubis

Ayah, Menentukan Kualitas Anak

Seorang ayah dapat menjadi model bagi anak-anak mereka, mencontoh perilaku ayah itulah yang sering dilakukan anak-anak. Namun tidak selamanya seperti itu, bisa saja sang anak meniru perilaku buruk ayahnya.

Apa pun jenis kelamin anak, ayah adalah model terdekat bagi mereka. Sikap dan perilaku ayah terhadap rumah, keluarga dan orang lain terekam dengan kuat dalam memori anak. Dibanding anak perempuan, ternyata anak laki-laki lebih senang mencontoh perilaku ayah mereka.

Seorang ayah yang bermalas-malasan, memberi catatan pada anak laki-laki untuk juga bersikap demikian. Namun, pada anak perempuan akan lahir pemahaman negatif tentang laki-laki. Dia akan berkesimpulan bahwa sifat laki-laki adalah suka bermalas-malasan!

Ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk menjadi ayah yang baik bagi anak-anak, diantaranya :

- Perlakukan ibu dari anak-anak dengan baik

Menjaga keutuhan pernikahan dan rumah tangga, mendengarkan pendapat istri dan menanggapi kebutuhannya merupakan manifestasi dari perlakuan baik terhadap ibu dari anak-anak. Anak mengamati, dan kemudian membentuk perilaku dan pola pikir tentang menghargai pasangan.
- Peka terhadap kondisi rumah

Perhatikanlah hal-hal kecil yang ada disekitar rumah. Jangan sampai istri atau anak Anda mengingatkan untuk hal-hal kecil yang sebenarnya Anda sudah mengetahuinya namun belum berbuat sesuatu terhadap hal tersebut.
- Luangkan waktu bersama anak

Cara seorang ayah menggunakan waktu luangnya memberi pemahaman pada anak tentang hal penting dalam hidup ayah. Bila ayah menggunakan waktu luangnya bersama anak, anak akan paham bahwa ia penting dalam kehidupan ayah. Bila ayah asyik bermain sendiri, anak menafsirkan bahwa ayah mementingkan dirinya sendiri.
Menjadi seorang ayah memang memerlukan proses yang panjang, diawali sejak masa kanak-kanak. Ayah yang santun, menghargai istri dan anak-anak, peduli urusan rumah, dan sadar bahwa perilakunya menjadi teladan bagi anak-anak mereka tidak terbentuk begitu saja ketika ia sudah jadi ayah.

Berikut kelanjutan dari artikel sebelumnya.

- Komunikasi dengan anak

Umumnya ayah hanya mau bicara dengan anak bila anak melakukan kesalahan. Cobalah untuk membiasakan berkomunikasi dengan anak serta dengarkan ide serta masalah yang mereka miliki.
- Jadilah guru bagi anak

Ajarkan hal baik dan buruk pada anak-anak. Dengan demikian, mereka akan membuat keputusan yang baik untuk dirinya.
- Disiplinkan anak dengan cinta

Anak butuh bimbingan dan teladan, bukan ‘cuma’ hukuman. Tunjukkan tentang dampaknya bila anak tidak disiplin, tetapi tidak dengan menghukumnya.
- Sediakan waktu untuk makan bersama

Makan malam bersama, misalnya, dapat Anda jadikan kesempatan untuk mendengarkan hal-hal yang dilakukan anak sepanjang hari.

Mulailah sedari sekarang untuk menjadi model terbaik bagi anak-anak Anda. Bagaimana? [ab]

Si 1 tahun Menyusun Balok

Saat anak menyusun balok, ia tak sekadar meletakkan satu balok di atas balok lain. Keterampilan ini menyangkut proses berpikir.

Saat anak mulai berjalan sendiri, Anda pasti merasa lega. Tampaknya si kecil tak butuh dorongan Anda, karena ia sudah mendorong diri sendiri untuk terus berjalan. Bahkan, hingga Anda kewalahan mengejarnya.

Di saat si satu tahun semakin terampil berjalan, ada keterampilan lain yang sama pentingnya dengan berjalan. Di usia ini, keterampilan motorik halus anak juga kian berkembang. Ini ditandai saat ia mulai mencoba menyusun tiga buah balok. Umumnya, keterampilan ini dicapai anak Anda di usia 15 bulan.

“Keterampilan menyusun balok bukan hanya soal meletakkan balok di atas balok. Menyusun balok menyangkut proses perencanaan. Apa yang akan dilakukan dengan balok-balok itu,” ujar Gay Girolami , seorang terapis fisik di Chicago, Amerika Serikat.

Lebih lanjut Girolami mengatakan bahwa dengan berkembangnya keterampilan ini, berarti anak siap dengan tugas-tugas menolong diri sendiri. Misalnya, menggosok gigi sendiri, makan sendiri pakai sendok dan mencoret-coret.

Mengenali keterlambatan

Menyusun balok mengandalkan keterampilan memegang benda kecil, meletakkannya di atas balok lain sambil mengusahakan keseimbangan. Keterampilan memegang benda kecil, sebenarnya dicapai anak sejak berusia 10 bulan, saat ia mulai suka menjumput remah-remah kue yang berserakan di dekatnya.

Ketidakmampuan melakukan tugas perkembangan tertentu, seperti menyusun balok, dapat menghambat berkembangnya keterampilan berikutnya. Saat anak Anda berusia 18 bulan, dan ia tidak berminat bermain susun balok, Anda perlu waspada. Mungkinkah si kecil mengalami keterlambatan? Apakah penyebabnya?

* Karena kurang dirangsang atau kurang latihan

Si satu tahun perlu dilatih dengan memberinya balok. Umumnya, anak usia ini berminat pada hal-hal yang berhubungan dengan sebab-akibat, sehingga ingin mencoba memadukan satu benda dengan benda lain.

* Ada gangguan pada mata

Pandangan yang tidak jelas pada anak membuatnya enggan melakukan kegiatan yang menggunakan benda-benda kecil. Anda perlu memeriksakannya ke dokter sebelum hal ini berlangsung lama.

* Ada gangguan pada saraf atau retardasi mental

Gangguan ini dapat diwaspadai dari kemampuan meraba. Bila Anda mendapati si kecil Anda mengalami kelainan pada keterampilan meraba, Anda perlu waspada. Segera bawa ia ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan.

Variasi latihan

Berbagai keterampilan dicapai saat anak berusia kira-kira satu tahun. Latihan-latihan fisik yang mengandalkan kekuatan otot besarnya, dilakukan tanpa kenal lelah. Keterampilan yang mengandalkan otot-otot kecil seperti menarik, mendorong, memutar, menekan, mengosongkan dan mengisi kotak, juga berkali-kali dilakukannya.

Perkembangan kognitif anak usia ini pun tampak pada minatnya terhadap benda-benda bergerak, atau benda yang dapat digerakkan. Beri kesempatan pada si satu tahun untuk melatih keterampilan motorik halus, yang sekaligus memberi rangsang pada proses berpikirnya. Misalnya, beri telepon mainan dan juga balok-balok. Dengan telepon mainan ini si kecil Anda berlatih menekan tuts, mendengar bunyi, kemudian berbicara. Dengan mainan balok, anak berkesempatan melatih proses berpikir, selain meningkatkan keterampilan motorik halusnya.

Immanuella F. Rachmani

Menyikapi Anak Enggan Sekolah

SAAT anak sudah memasuki masa sekolah, kadang Anda selaku orangtua mendapati mereka tengah berada dalam kondisi jenuh. Maka hal terpenting dalam menyikapi anak yang jenuh sekolah adalah dengan memahami penyebabnya, sehingga Anda bisa menemukan cara mengatasi yang tepat, sesuai dengan permasalahan anak.

Menurut Rudangta Arianti Sembiring Psi, psikolog yang concern di bidang psikologi anak, kondisi anak yang jenuh hingga membuatnya enggan sekolah biasanya hanya sesaat.

"Anak enggan sekolah biasanya hanya saat hendak berangkat ke sekolah. Ada saja alasan yang mendasarinya, baik karena manja ingin diantar orangtua atau karena sedang bermasalah dengan teman," kata Rudangta saat dihubungi okezone melalui telepon genggamnya, Jumat (4/4/2008).

Menurutnya, ada yang menyebabkan anak bermasalah dengan temannya. Salah satu hal yang acapkali terjadi adalah karena anak tidak bisa mengontrol sesuatu.

"Misalnya ketika anak dititipkan oleh orangtua pada guru, saat itu dia menjadi bulan-bulanan teman-temannya. Tak ayal, anak kerap menangis. Yang pada akhirnya membuat dia dimain-mainkan oleh teman-temannya," papar staf pengajar di Universitas Kristen Satya Wacana.

Tak sebatas itu saja, penyebab lain yang tak kalah penting adalah kebiasaan anak mengompol dan minum susu botol di sekolah. "Bahkan, kebiasaan anak yang selalu ingin diantar-jemput dan ditemani orangtua sering membuat anak menjadi bulan-bulanan teman," jelas psikolog lulusan Universitas Padjajaran itu.

Meski hal-hal di atas menjadi penyebab anak enggan bersekolah, dari masing-masing tingkat sekolah akan berbeda. "Pada anak di tingkat kelas satu Sekolah Dasar (SD), biasanya masih senang sekolah. Tapi kalau sudah berada di tingkat selanjutnya, anak sudah mulai jenuh karena pelajaran yang diperolehnya sudah semakin complicated. Sehingga hal itu yang memicu anak enggan berangkat sekolah," terangnya.

Pada tahap Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), lanjut Rudangta, biasanya anak sudah berani untuk bolos bersama teman-temannya.

"Karakter remaja sudah pear group, jadi daya tarik untuk memiliki alasan pergi bersama-sama untuk main dengan teman-temannya lebih besar daripada harus berangkat sekolah," tutur wanita ramah ini.

Ditambahkan olehnya, kadang anak memiliki 1000 alasan yang bisa meluluhkan hati orangtua untuk tidak sekolah. Terkait dengan psikologi perkembangan anak, pada masa sekolah, anak bisa melakukan malingering.

"Malingering sebetulnya istilah untuk anak berpura-pura sakit. Biasanya tindakan ini kerap dilakukan pada tingkat SD. Tiba-tiba anak mengaku sakit, padahal dia belum mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah) atau belum siap menghadapi ujian. Kalau sudah diberi izin, biasanya penyakit itu sembuh dengan sendirinya. Maka, waspadailah gelegat anak seperti ini," imbuhnya.

Nah, bila kebiasaan ini sudah dibiasakan pada anak mulai dari tahap pre school, maka akan berdampak tidak baik untuk pendidikannya. Karena itu, mengajari anak disiplin sangat penting diterapkan sejak dini.

Menurut dia, disiplin tidak hanya berlaku di sekolah saja. Anda juga bisa mengajarkan disiplin di rumah. Kesibukan di rumah seperti membereskan kamarnya sendiri, meletakkan alat-alat permainan dan alat sekolahnya sendiri, merupakan aktivitas yang mengajarkan tata tertib dan disiplin.

"Sebab kalau mulai pre school anak sudah tidak diajari disiplin, maka akan membuat dia merasa bisa melarikan diri dari sekolah. Tapi, terlalu sering sekolah juga tidak baik. Karena pada tahap pre school adalah masa di mana anak untuk belajar bersosialisasi," tukasnya seraya menuturkan hal ini akan berlangsung hingga ke tingkat selanjutnya. (nsa)