Cara mengajar/memperkenalkan huruf pada anak (usia 1-3 tahun)

Sumber: Ibu-ibu DI

Tanya

Saya mau minta saran dari Ibu-ibu bagaimana caranya memperkenalkan/mengajarkan alfabet pada anak usia 3 tahun? Apakah harus dikenalkan satu-satu dari A-Z dulu baru kemudian mulai dengan dua huruf (seperti BA, BI), atau justru sebaliknya mulai dari huruf vokal dulu lalu mulai dengan BA, kemudian CA, CI, dan seterusnya? Dan berapa lama satu huruf itu diperkenalkan? Seminggu satu huruf atau lebih? Kalau bisa saya ingin belajar dari pengalaman para ibu yang lain. Terimakasih sebelumnya. [DV]

Jawab

Pengalaman dari anak pertama: Setiap kali mau tidur dibacakan cerita dari satu buku. Di belakang buku tersebut ada abjadnya. Setiap selesai baca cerita, lihat ke halaman belakang buku, sambil bernyanyi a b c d e f g dan seterusnya, sambil jarinya menunjuk ke abjadnya. Kalau untuk membaca, rangkai kata saja: bi-bi ba-ba bo-bo ta-ta, dan seterusnya. Sambil diseling-seling dengan kata-kata utuh seperti ru-mah, ti-dur, ma-kan, a-yah, i-bu. Kata-kata itu ditulis besar-besar. Mengajarnya sambil bermain kalau si anak sedang pegang mobil, dialihkan sebentar ke kertas untuk tulis mo-bil dan di bawahnya digambar mobil, jadi anaknya senang. Setiap anak berbeda karena ketika cara diatas diterapkan anak kedua tidak manjur karena lebih mengenal warna dulu, senang mewarnai dan tahu angka daripada abjad. [RR]

Pengalaman anak saya di Montessori School yang mengajarkan pengenalan huruf adalah dari bunyinya. Jadi kalau A dibacanya ah...ah...ah. Jadi kalau dinyanyikan kurang lebih begini ah...ah...ah.. ah for apple, beh....beh....beh....beh for bee, ceh....ceh....ceh....for candy, dan seterusnya. Atau lewat lagu A, B, C, D, E, F, G (yang dilagukan seperti twinkle-twinkle little star). Menurut pengalaman dengan belajar lewat pengenalan bunyi akan lebih cepat ditangkap daripada dikenalkan huruf A, B, C. Kemudian dari bukunya Peggy Kaye (Games for Learning) bisa juga diajarkan huruf-huruf lewat permainan. Kalau anak sudah cukup mengenal huruf-huruf, dicoba dengan cara kita tuliskan huruf-huruf tersebut besar-besar di kertas (satu kertas satu huruf) kemudian kita minta anak kita untuk menaruh huruf tersebut di benda yang ada di rumah kita. Kegiatan ini menyenangkan sekali sehingga anak tidak terasa sedang belajar huruf. Ada satu cara lagi dari buku Montessori mengenai Read and Write:

huruf-huruf juga bisa dipelajari dengan cara:

1. Menggunakan Sand Paper Letter. Kertasnya agak kasar, atau bisa juga digunakan kertas amplas yang agak halus kemudian dibentuk huruf-huruf. Setelah itu anak diminta untuk mengikuti huruf tersebut dengan jarinya.

2. Setelah beberapa kali, barulah anak diminta menuliskan huruf di kertas yang besar.

3. Atau dengan Finger Painting menggunakan cat air. Jadi huruf-huruf ditulis menggunakan jari di kertas.

Cara ini tidak terbatas untuk mulai huruf vokal atau konsonan terlebih dahulu. [AS]

Bila menggunakan metode Kinderland (Inggris), harus hafal Alphabet Terlebih dahulu baru kemudian kata per 3-huruf seperti: bad, cat, dog.
Cara membacanya memakai metode phonic. Ini berbeda sekali dengan cara mengeja bahasa Indonesia.

- Cara mengeja bahasa Indonesia: be-a=ba, be-u=bu, semua dieja dari depan.
- Cara mengeja bahasa Inggris: apple apple, aeh aeh aeh c-a-t dibaca keh-e-the, diejanya dari belakang eh-teh at, lanjutkan dengan keh-at jadi cat [MY]

Dari seminar tentang mengajar balita membaca, kita harus mengajarkan Balita membaca perkata, bukan per huruf atau per ejaan, seperti ba, bi, bu. Contohnya 1 kata dibuat di kertas karton dengan ukuran sedang, lalu kata ditulis cetak huruf kecil warna hitam, dan setiap hari karton itu ditunjukkan ke anak. Setiap satu hari dibacakan sekitar 5 kata minimal 3x sehari, pagi, siang sore. Anakku tidak cocok dengan cara belajar ini. Anakku lebih cocok memakai VCD lagu anak-anak. VCD ini ditonton sambil bernyanyi, a,b,c,d,e sampai z. Huruf-huruf di VCD tersebut ditunjuk. Kemudian setelah beberapa lama, huruf-huruf tersebut ditanyakan pada si anak. Setelah si anak hafal alphabet, baru kemudian diajarkan ba, bi, bu... dll. Setelah bisa ba, bi, bu, dll. kata-kata tadi digabung menjadi kalimat yang mudah misal bobo, baso, bola, mami, mama, dan lain-lain. [NSM]

Alphabet mulai diperkenalkan sejak usia sekitar 2 tahun tahun dengan memakai board book yang besar dan gambarnya menyolok. Dari metode belajar disekolah, anak saya mengalami kemajuan yang pesat. Metode mengajar membacanya memakai metode mengeja Be-a=Ba, be-i=Bi, dan seterusnya. [VT]

Bisa dicoba dengan flash card yang terdapat gambar dibalik kartunya. Dengan menggunakan flash card, diajarkan langsung kata per kata. Bisa juga diteruskan dengan melengkapi kata seperti:

GAMBAR MEJA -- ME __, kemudian si anak meneruskan dengan huruf yang hilang. Sebagai tambahan, walaupun menggunakan model kata per kata, huruf ABC. Juga harus diperkenalkan. Pengalaman dari anak pertama saya, huruf ABCD dipasang di dinding. Setiap kali masuk kamar, huruf-huruf tersebut dinyanyikan. Kemudian si anak mencocokkan gambar (misalnya dari kartun Monica) dengan kata-katanya sampai akhirnya bisa membaca. [DST]

Anak saya diperkenalkan dengan Alphabet melalui komputer. Alphabet yang dikenalkan adalah kata-kata yang sering didengar anak seperti Mama, Ayah, Meja, dan sebagainya. [NMY]

Alphabet diperkenalkan melalui bermain. Bisa juga menggunakan Alphabet bermagnit untuk ditempel di depan kulkas, atau dengan buku bacaan dan koran. Untuk waktunya bisa satu hari 1-2 huruf kemudian diulang kembali. [YA]

Perkenalan anak dengan Alphabet dimulai sejak usia kurang dari 2 tahun. Pertama dengan memasang huruf-huruf A-Z di dinding sambil diperkenalkan Ke anak. Kemudian di sekolah, anak diajarkan mengeja kata: ba bi bu, dan seterusnya. Saya juga menggunakan Dot Card (kartu Alphabet dengan tampilan depan bergambar, halaman belakang bertuliskan kata dari gambar tersebut. Misal: gambar Buku, tulisan BUKU). Gambar pada kartu tersebut diperlihatkan ke anak sambil diucapkan namanya, kemudian kartunya dibalik untuk diperlihatkan katanya sambil diucapkan kembali nama bendanya. Hari pertama 10 gambar, hari berikutnya 10 gambar yang sama, hari ketiga 10 gambar yang lama ditambah 10 gambar baru, terus sampai 50 kartu itu habis. Dengan cara tersebut, anak saya mulai hafal huruf bahkan untuk kata-kata yang sulit seperti kangguru, serbet, taplak, bingkai, sabtu, tangggal, dan sebagainya. Kemudian bisa juga dicoba untuk meminta anak membaca tulisan-tulisan besar yang ada di jalan. Kegiatan ini juga menyenangkan untuk anak. [AMH]

Alphabet diperkenalkan sejak anak mulai berdiri (usia kurang dari 1 tahun) dengan cara menempelkan poster huruf di dinding. Pada usia 1 tahun anak mulai diajak bermain 'game' di komputer. Dengan menggunakan power point, dibuatkan flash card. Si anak akan mencocokkan huruf yang ada di layer dengan huruf-huruf di keyboard. Cara lainnya dengan bermain 'pura-pura'. Misalnya si anak diajak main masak-memasak. Si anak diminta mengambil 'kol' dari huruf K. Untuk membaca diajarkan baca dari vowel (ba, bi, bu) sebelum tidur setelah selesai membacakan cerita, diperlihatkan hasil print out vowel tersebut. Disamping itu dipasang juga poster vowel tersebut. Untuk memudahkan anak untuk menghapal, membacanya memakai nada lagu 'twinkle-twinkle little star'. Setelah anaknya hafal, dibuatkan permainan seperti kata babi, ditunjuk kata ba dan bi. [RN]

Alphabet diperkenalkan sejak anak usia kurang lebih 1 tahun dengan cara menempelkan poster alphabet di sekeliling dinding di ruang keluarga. Kemudian huruf-huruf tersebut diulang-ulang setiap kali ada di ruangan itu. Pada usia 2 tahun anak sudah hafal A-Z dengan cara tersebut. Kunci dari pengenalan alphabet adalah dengan pengulangan dan kebiasaan. Kemudian dibiasakan membaca (setiap ada waktu luang), dan setelah anak sudah bisa membaca sendiri, kita ajak membaca bergantian. [NV]

Pengenalan huruf dari VCD Teletubbies. Belajar membaca dengan metode phonic lebih mudah daripada mengeja. [DM]

Alphabet diperkenalkan sejak usia 2 tahun dengan cara memasang poster alphabet di dinding kamar. Cara menggabungkan huruf menjadi kata dengan mengajak anak bercerita sebelum tidur. Contohnya: bercerita pergi berbelanja membeli s-a=sa, p-u=pu, anak ditanya belanja membeli apa? [RN]

Alphabet dan warna diajarkan sejak anak usia kurang dari 2 tahun dengan cara menempel Wall Chart Alphabet di dinding. Setiap kali, huruf-huruf itu dibaca berulang-ulang seperti A-Apple, B-Baju, dan seterusnya. Selain itu, dengan memakai karpet dari karet yang huruf-hurufnya bisa dilepas, anak diajak bermain. Misalnya, "Ini huruf P. Kita carikan rumahnya P" Kemudian si anak akan mulai mencari-cari tempatnya yang sesuai dengan huruf P, dan seterusnya. Atau bisa dengan cara lain seperti "Adik memakai t-o-p-i" Kemudian dia akan jawab `topi'. "Ayah memakai d-a-s-i". Dia jawab dasi, dan seterusnya. [RTY]

Alphabet dikenalkan sejak usia 1.5 tahun. Pertama dengan cara memutar VCD Teletubbies dan Barney tentang pengenalan huruf. Alphabet juga dipasang di dinding rumah. Sambil bermain anak diberi tebakan huruf. Setelah usia 2 tahun, diberikan puzzle untuk huruf dan angka. Caranya sambil bermain jual-jualan dan tebak-tebakan. Contohnya: "ibu mau membeli huruf "P" kemudian si anak memberikan huruf P. Atau, "benda apa yg huruf depannya "A"? Kemudian si anak menjawab `apel'. Kalau jawabannya benar, dia harus mencari huruf tersebut di karpet puzzle. Setelah hafal semua alphabet tanpa keliru pada usia 2 tahun, baru kemudian diajari membaca dengan langsung pengenalan per satu suku kata. Di dinding juga dipasang poster per kata (ba, bi, ku...) yang digunting per kata. Kemudian kata-kata tersebut dibuat main tebak-tebakan kartu. Misalnya susun kata i-bu, maka dia akan mencari huruf I dan kata BU. Setiap mau tidur dibiasakan membacakan buku. Karena sekarang sudah pintar membaca, anak diminta membaca. Atau dibuat main tebak-tebakan mengeja. Contoh: "Kita pergi ke mal, hurufnya apa saja?" Pengenalan huruf pada anak jangan dipaksa, dibuat senyaman dan semudah mungkin, dan diajarkan sambil bermain supaya anak tidak bosan. Kalau bisa ajarkan pengenalan huruf dulu sampai hafal betul baru per suku kata supaya tidak bingung. [RA]

Di rumah dipajang poster-poster alphabet. Kemudian saat sedang membaca buku, anak dipangku dan dihadapkan ke buku. Lalu kata-kata dibuku tersebut ditunjuk sambil dibacakan kata-kata. Kalau sudah bosan, anak jangan dipaksa. [AN]

Melatih Kejujuran Anak

Berbohong pada anak-anak sebenarnya bukan sesuatu yang sangat serius kecuali jika menjadi kebiasaan atau kompulsif (berulang terus menerus). Namun jika dibiarkan maka anak akan kesulitan ketika bergaul dengan teman-temannya di sekolah ataupun di lingkungan permainan, yang selanjutnya akan menimbulkan masalah lebih parah pada saat tumbuh dewasa. Mereka akan tumbuh menjadi pembohong. Oleh karena itu sejak dini orangtua harus memberikan pelajaran kejujuran pada anak.

Memberikan hukuman fisik maupun psikis (menampar, memukul, memaki) atas kebohongan yang dilakukan anak cenderung merugikan karena sang anak akan berbohong untuk menghindari hukuman. Anak menjadi tahu bahwa hukuman akan diterima bila ketahuan berbohong tapi bila tidak ketahuan maka aman. Akibatnya anak akan cenderung berusaha agar tidak ketahuan berbohong daripada tidak berbohong. Jadi hukuman bisa meningkatkan kebohongan yang dilakukan pada masa mendatang ketimbang menurunkannya.

Beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua untuk melatih kejujuran anak :

1. Selalu menerangkan dan meminta maaf jika tidak menepati janji
2. Jika kedapatan berbohong di muka anak, akuilah, dan jelaskan alasannya
3. Jangan mengatakan kebohongan untuk mendapatkan persetujuan anak
4. Jangan memberikan terlalu banyak aturan pada anak
5. Jangan terlalu sering memberikan hukuman pada anak
6. Jangan langsung marah jika anak melakukan kebohongan, tanyakan dulu mengapa

Oleh Achmanto Mendatu
http://smartpsikologi.blogspot.com/2007/08/melatih-kejujuran-anak.html

Mengenal Aturan Luar Rumah

Berkunjung ke rumah teman atau saudara dapat membawa persoalan tersendiri bagi si lima tahun, karena aturan di tempat itu bisa saja berbeda dengan di rumahnya.

“Kalau di rumah Tante Jo, aku boleh kok tidur malam,” protes si lima tahun Anda suatu kali saat Anda mengingatkannya untuk tidur. Saat itu, ia memang baru kembali setelah menginap beberapa hari di rumah tantenya. Wah…, bagaimana menghadapi protesnya kali ini?

Mengenal aturan

Sejalan dengan kebutuhan sosialisasinya yang meningkat, si lima tahun mulai dapat bermain ke rumah orang lain: temannya, teman Anda atau saudara Anda. Ia bisa saja bingung menemui aturan yang berbeda dengan aturan di rumahnya. Misalnya, jika harus membuka sepatu saat masuk ke rumah teman Anda, sementara di rumah ia terbiasa beralas kaki.

Bisa-bisa ia juga dianggap tak sopan karena, misalnya, membuka pintu lemari es di rumah tetangga, karena di rumah ia terbiasa melakukannya. Atau, ia nyelonong masuk kamar orang tua temannya. Apa yang dilakukannya itu bisa dianggap sesuatu yang tidak sopan. Namun, hal ini tidak dipahami anak.

Memang di usianya kini, anak masih mencari tahu apa yang boleh dan pantas dilakukan dan mana yang tidak. Dengan begitu, menjejalinya dengan berbagai aturan di rumah orang lain bisa membuatnya bingung. Baru di usia sekitar delapan tahun ia lebih fleksibel dalam berpikir apa yang harus dilakukan ketika berada di rumah orang lain. Thomas Van Hoose, Ph.D , asisten profesor di bagian psikiatri pada University of Texas Southwestern Medical School di Dallas, Amerika Serikat menyatakan, “Sampai sebelum usia itu, anak sulit menyesuaikan diri dengan apa yang “dapat dilakukan” di rumah dengan yang “tidak dapat dilakukan” jika berada di rumah lain.”
Bekali, ingatkan, jelaskan

Namun, bukan berarti Anda harus menunggu sampai anak berusia delapan tahun untuk mengenalkannya aturan di luar rumah yang berbeda dengan di rumah. Mudahnya ia menyesuaikan diri dalam berbagai lingkungan nantinya juga ditentukan oleh pengalamannya saat ini.

Sebelum berkunjung ke rumah saudara atau teman, sebaiknya Anda mengingatkan si kecil apa yang diharapkan darinya. Katakan secara sederhana, “Tantemu orangnya sangat rapi dan bersih. Kalau kita di rumahnya, jangan mencoret-coret dinding rumah ya….”

Anda juga dapat mengatakannya ketika sudah berada di rumah si tante saat si lima tahun berperilaku tak pantas, “Adik, mainnya di luar saja, jangan main di kamar Tante Jo.”

Atau, jika si kecil terbiasa meninggalkan piring makannya setelah kosong, sementara di rumah neneknya semua orang meninggalkan meja saat semua selesai makan, Anda dapat mengingatkannya, “Wah… senangnya kita duduk bersama dan mengobrol malam ini.” Namun, pastikan selama menunggu yang lain pergi meninggalkan meja, ajak si kecil terlibat dalam percakapan.

Setelah kembali pulang, ingatkan si kecil aturan yang berlaku di rumah. Bukan tak mungkin si lima tahun protes, karena ia tak lagi dapat menonton televisi sepuas hatinya, misalnya.

Tetap dengar keluhannya, namun jelaskan ia perlu beristirahat atau melakukan hal lain. Tekankan bahwa si kecil perlu bangun pagi. Ia selayaknya segar saat berangkat ke sekolah.

Grahita Purbasantika Nugraha

Merangsang Kreativitas Anak dengan Menulis

Menulis dapat menyalurkan ide. Kegiatan itu juga membuat anak-anak lebih kreatif dan berpikir lebih mandiri. Sayangnya, hal tersebut jarang diperhatikan.

Di berbagai dunia, membaca karya-karya sastra diwajibkan bagi anak-anak usia sekolah dasar (SD). Setelah dibaca, mereka diwajibkan menceritakan kembali dalam bentuk tulisan. Di Indonesia, hal semacam itu belum lazim dilakukan. Budaya membaca di Indonesia belum mengakar, termasuk pada anak-anak. Apalagi meminta anak menuangkan ide kreatifnya dalam bentuk tulisan kreatif.

Padahal, aktivitas tersebut adalah pengalaman belajar yang berharga bagi anak-anak. Bila direncanakan sesuai dengan kemampuan bisa membuat anak mampu menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan seperti puisi, cerita, buku harian, stanza ataupun hymne.

Sebagai contoh, seorang anak yang baru mulai belajar membaca dapat mendiktekan kata-kata atau kalimat-kalimat lalu ditulis oleh guru. Atau, seorang anak yang menulis surat kepada temannya dan menjelaskan tentang poin-poin utama pelajaran, berarti dia sedang mengembangkan keahliannya dalam berkomunikasi dalam bentuk tulisan.

Penelitian yang dilakukan oleh seorang psikolog, Pennebeker yang diungkapkan dalam buku berjudul Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions menerangkan, menulis emosi dalam sebuah tulisan, bisa membuat anak-anak lebih mudah memahami diri sendiri juga orang lain dan lingkungan.

Bagi anak-anak yang pernah mengalami tindak kekerasan seksual ataupun tindak kekerasan dalam rumah tangga, menulis dapat membantu menghilangkan trauma yang diderita. [sindo]

Si Kecil Enjoy Belajar di TK

Supaya bisa menikmati dunia barunya di Taman Kanak-kanak, anak butuh kematangan tertentu. Anda dapat membantu kesiapannya.

“Bagaimana sekolahnya? Senang?”

“Iya, Bunda. Tapi tadi di sekolah ada dua teman yang nangis. Ngapain nangis ya Bunda? Sekolah saja kok menangis…,” jawab Prita.

Hari itu hari pertama Prita masuk Taman Kanak-kanak (TK). Sang Bunda sabar menanti di rumah, karena Prita bersikeras ikut mobil antar jemput seperti kakak-kakak di sekitar rumahnya. Prita tidak ingin diantar Bunda atau pengasuhnya ke sekolah. Bagi Bundanya, hal itu sangat menguntungkan. Artinya, ia tak perlu mengambil cuti terlalu lama untuk menunggui Prita di sekolah.

Sebagian besar orang tua ingin mengalami “kemulusan” seperti yang dialami Bunda Prita. Anak melewati hari-hari pertama masuk TK dengan sukses: tanpa rengekan dan air mata minta ditunggui. Tapi, memang tak semua anak siap seperti Prita. Ada anak yang butuh waktu cukup lama untuk menyesuaikan diri dengan dunia barunya ini. Persiapan masuk TK memang dapat dan harus dilakukan. Peran orang tua sangatlah penting dalam hal ini.

Bangunan fisik, perlu dipertimbangkan

Ketika anak masuk TK, artinya ia keluar dari rumah dan masuk ke dunia baru. Agar si kecil bisa memasuki dunia barunya dengan enjoy , ia butuh persiapan psikologis. Bukan malah ia mengalami tekanan psikologis.

Gerda K. Wanei, M.Psi , paedagog dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, mengatakan bahwa bangunan fisik sekolah merupakan salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan. “Gedung sekolah yang tampak kuno dengan pagar tinggi, satpam bertubuh berwajah galak dengan kumis melintang, tidak membuat anak senang. Anak lebih senang dengan TK yang ada tamannya, gurunya muda-muda dan ceria, peralatannya bagus. Buat anak, dunia baru haruslah dapat mengikatnya,” ujar Gerda, yang juga Ketua Jurusan Program Bimbingan Konseling di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Atma Jaya.

Alzena Masykouri , M.Si dari Jurusan Psikologi Perkembangan, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, sependapat dengan Gerda. Menurut Alzena, “Sama seperti orang dewasa yang baru pertama masuk kerja, anak prasekolah pun mengalami berbagai perasaan. Misalnya, senang tapi juga cemas danmerasa tak nyaman.”

Sukes bergaul, sukses belajar?

Tidak sedikit orang tua beranggapan bahwa kemampuan anak beradaptasi di TK merupakan penanda sukses tidaknya si kecil menjalani hari-hari belajarnya di TK. Padahal, reaksi awal si kecil saat masuk TK bukanlah ramalan keberhasilannya dalam belajar.

“Kalau anak masih menangis sampai beberapa hari, itu hal biasa. Itu hanya masalah kemampuan menyesuaikan diri, bukan soal tidak matang,” tegas Alzena. Gerda pun mengatakan bahwa anak yang masih menjaga jarak ketika berada di lingkungan baru, bukan pertanda ia belum matang untuk masuk TK. “Setiap anak punya karakter masing-masing,” ujar Gerda.

Ketidakmampuan anak langsung berbaur bersama teman, dialami Reti Riseti Sudrajat (38 tahun) . Yuqzan (kini 6 tahun) anak kelima Reti. Ketika masuk TK-A di usia empat tahun Yuqzan menangis terus selama beberapa hari. “Sampai akhirnya saya menunda memasukkannya ke TK-A. Saya tunggu sampai Yuqzan berusia lima tahun. Saat itulah ia saya nilai betul-betul siap dan bisa langsung membaur dengan kegiatan di TK,” kenang Reti, yang juga seorang guru dan konselor keluarga.

Sejauh mana ketidakmampuan anak bergaul mengganggu proses belajar selanjutnya? Menurut Alzena, ketidakmampuan si kecil bergaul tidak akan mengganggu proses kegiatan selanjutnya. “Kecuali bila anak menolak semua kegiatan yang harus dilakukan dan merasa tidak enjoy dalam lingkungan itu,” ujar Alzena.

Kapan anak dianggap tidak siap?

Marcello (4 tahun), putra dari Diah Permatasari , artis berusia 33 tahun, sudah masuk kelompok bermain. Tapi ketika pertama kali masuk TK, ternyata dia sedikit rewel. “Dua hari pertama Marcello menangis. Tapi setelah itu biasa-biasa saja. Malah dalam waktu satu minggu ia sudah bisa bercerita tentang teman-temannya,” cerita Diah, yang memilih TK berbahasa Inggris untuk Marcello. Dengan demikian, apakah dapat dianggap Marcello belum matang untuk masuk TK?

“Umumnya anak butuh waktu satu minggu untuk menyesuaikan diri. Setelah itu mereka, biasanya, dapat menjalani sekolah dengan tenang, bermain dan bekerja sama dengan teman-temannya,” ujar Alzena, yang juga ibu seorang anak balita.

Anak yang masih belum mampu membaur dan hanya menjadi penonton teman-temannya, tidak bisa bekerja sama setelah lebih dari dua minggu, menjadi pertanda ia belum matang secara sosial-emosional. “Meski begitu, masih harus dilihat lagi kondisi anak, apakah ia anak tunggal, anak bungsu atau anak dari orang tua yang overprotective ,” papar Gerda. Menurut Gerda, bila ada kasus semacam ini, biasanya orang tuanya dipanggil ke sekolah. Melalui orang tualah, penyebab semua itu dapat diketahui.

Persiapan kematangan

Ketika memasuki TK, si kecil memasuki dunia baru yang di dalamnya terdapat berbagai hal: teman baru, orang dewasa lain selain orang tua dan pengasuh anak, yaitu guru, serta sejumlah kegiatan yang mungkin belum pernah dilakukan anak. Untuk menghadapi ini semua, anak butuh kesiapan fisik, kognitif dan sosial-emosional. “Jadi, meski kebanyakan TK tidak mensyaratkan kemampuan kognisi tertentu, tetapi tetap ada standar yang ditentukan. Misalnya, anak dapat membilang dari satu sampai sepuluh secara berurutan. dan ini berkembang sesuai usia,” ujar Alzena.

Alzena berperdapat, anak juga perlu matang secara sosial-emosional, mengingat di dunia barunya ini anak dituntut memiliki berbagai kemampuan sosial. Misalnya, kemampuan untuk berinteraksi dengan teman sebaya, memperhatikan guru, mendengarkan orang lain bicara, tidak memotong pembicaraan orang lain, mengekspresikan kemauannya dan bekerja sama.

Di samping itu, menurut Gerda, ada dua hal penting yang perlu dimiliki anak saat hendak masuk TK. Pertama, kemampuan self help yaitu kematangan anak untuk dapat mengkomunikasikan kebutuhannya. Misalnya, anak dapat mengatakan, ‘Bu Guru, saya mau pipis’. Jangan sampai anak terus-terusan ngompol karena tidak berani mengatakan kebutuhannya. Kedua, social help yaitu kematangan anak untuk mengerti kebutuhan orang lain. “Biasanya anak usia prasekolah masih egosentris, yang dipikirkan diri sendiri terus. Kalau barangnya diambil teman dia teriak-teriak, tantrum dan sebagainya. Kalau dia sudah mengerti kebutuhan orang lain, dia tak akan bersikap seperti ini,” jelas Gerda.

Orang tua perlu paham

Namun tak semua orang tua paham soal kematangan yang dibutuhkan oleh anak untuk masuk TK. Ada orang tua yang yakin betul bahwa kematangan kognisi merupakan satu-satunya bekal untuk memasuki prasekolah. Inilah keyakinan Reti ketika memasukkan anak sulungnya, Hani , ke sekolah. Waktu itu Reti menilai Hani cukup cerdas di usia 5 tahun. Ia pun langsung memasukkan Hani ke SD, tanpa lewat TK. “Karena emosinya belum matang, Hani jadi mudah “meledak”,” begitu cerita Reti.

Berdasarkan pengalaman itu, Reti menilai pentingnya kematangan sosial-emosional sebagai bekal si kecil masuk sekolah. “Ternyata untuk masuk TK, anak juga perlu siap secara sosial-emosional. Itu pun bisa berbeda pada setiap anak. Ada anak saya yang siap masuk TK di usia 3 tahun, ada yang sudah siap di usia 4 tahun, ada pula yang baru benar-benar siap di usia 5 tahun,” tutur ibu yang sedang menyiapkan Yusak (4 tahun), anak keenamnya, untuk masuk TK.
Persiapkan dari rumah

Melatih anak terampil berteman, melatih anak terampil menolong diri sendiri dan melatih anak mampu mengucapkan secara verbal kebutuhannya, berlangsung lama. Oleh karenanya, hal itu perlu dilatih sejak dini, agar saat si kecil memasuki TK, ia siap.

Menurut Gerda, mematangkan aspek sosial-emosional tidak sama dengan melakukan induksi atau percepatan pematangan. “Melatih anak usia tiga tahun untuk melipat pakaiannya sendiri atau mencuci piring, berarti memberikan percepatan kematangan,” ujar Gerda mencontohkan. Menurut Gerda, hal itu justru akan membuat anak lelah dan takut. Sayangnya, tanpa disadari, orang tua kerap melakukan hal ini.

Alzena menyarankan, orang tua sebaiknya membantu anak mematangkan aspek yang dibutuhkannya untuk masuk TK melalui kegiatan sederhana. Misalnya, memberi kesempatan si kecil bermain bersama teman-teman sebaya, bertanggung jawab atas barang-barang milik sendiri, belajar mendengarkan orang lain berbicara, memberi salam, atau memahami instruksi.

Sekarang ini kebanyakan orang tua menggunakan jasa kelompok bermain untuk membantu mematangkan aspek-aspek yang akan diperlukan anak untuk masuk TK, seperti halnya Diah. Marcello yang ikut kelompok bermain di usia dua tahun, mendapat banyak latihan di kelompok bermainnya. Misalnya, buang air kecil tanpa dibantu, dan bekerja sama dengan teman-teman. Diah pun merasa terbantu, karena di rumah, Marcello mampu untuk mandiri.

Namun, sebaiknya, anak dapat dipersiapkan di rumah, bersama orang tuanya. Dari pengalaman, Reti belajar bahwa anak dapat belajar dari anak lain. Anak yang kecil tertarik meniru perilaku anak yang lebih besar. “Saya merasa beruntung anak saya banyak. Jadi, anak-anak yang kecil belajar dari kakaknya bagaimana bersikap mandiri dan bagaimana saling berbagi. Apa itu arti belajar, sudah saya sosialisasikan pada anak-anak. Kemudian, bagaimana berangkat ke sekolah, setiap anak belajar dari kakaknya,” papar Reti, yang menyebut mempersiapkan anaknya masuk TK sebagai persiapan yang alami dan mengandalkan lingkungannya.

Memberi fasilitas untuk mematangkan aspek lain, juga dilakukan oleh Reti. Misalnya, membiarkan anak memanjat dan naik-turun tangga. Ruang gerak pun diciptakan sedemikian rupa agar anak-anak leluasa melakukan aktivitas fisik. Persiapan yang matang, memang, akan lebih memudahkan si kecil Anda mengawali hari-hari pertamanya di TK.

Immanuella F. Rachmani(ayahbunda)

Budayakan Meminta Maaf kepada Anak

BANYAK orang beranggapan meminta maaf adalah sebuah tanda kelemahan dan menegaskan kesalahan. Namun, sebenarnya meminta maaf adalah sebuah pertanda kebesaran jiwa yang dimiliki.

Walaupun begitu, masih banyak orangtua yang merasa dirinya tidak bersalah setelah membentak maupun memukul anak-anak mereka. Keegoisan orangtua terhadap anak-anak, sebenarnya bisa dimaklumi. Hal ini karena kebanyakan orang dewasa berpikir mereka tidak pernah salah.

Termasuk ketika memarahi, membentak, atau memukul anak-anak mereka yang sengaja atau tidak berbuat kesalahan. Anggapan banyak orangtua hingga sekarang, anak seperti benda, yang bisa diperlakukan seperti apa pun, entah itu dipukul, dibentak maupun diberlakukan dengan cara yang kasar.

Padahal anak-anak memiliki perasaan yang lembut dan sangat sensitif. Karena itu, apa pun perlakuan yang mereka terima akan membekas dan melukai mereka hingga dewasa kelak. Sebagai orangtua, sebaiknya mengenali kondisi emosinya saat akan menghadapi anak yang melakukan kesalahan.

Tenangkan diri terlebih dulu agar bisa mengelola emosi ketika berhadapan dengan anak. Jangan sampai nantinya orangtua bertindak tidak konsisten. Misal, sebelumnya anak tidak dimarahi ketika melakukan suatu tindakan yang menyimpang, tapi karena sedang emosi orangtua jadi memarahi anak.

Hasil penelitian Michelin Agashi dari Universitas Pensilvania menyebutkan, orangtua yang meminta maaf kepada anak, mampu membuat anak yang terluka secara mental merasa lebih baik. "Akan lebih baik lagi jika orangtua meminta maaf kepada anak-anaknya apabila telanjur berteriak, membentak maupun melakukan pemukulan. Dampaknya lebih besar pada rasa percaya diri anak," kata peneliti keturunan Jepang itu.

Selain meminta maaf secara terbuka, Michelin menganjurkan meminta maaf pada anak juga bisa dilakukan dengan perbuatan. Misalnya dengan memeluk atau menyapa anak dengan kasih sayang.

"Ketika orangtua meminta maaf, anak akan belajar bahwa kekerasan merupakan tindakan yang salah. Hal ini akan mengajarkan anak membedakan mana tindakan yang benar dan yang salah," ucapnya. (sindo//nsa)