Kemampuan menulis anak

Sumber: Diskusi milis DI

"Memiliki kemampuan berbahasa lisan tidak menjamin memiliki kemampuan berbahasa tulis (menulis), karena dalam bahasa tulis, tata bahasa berperanan penting. Tidak hanya tata bahasa baku, tapi juga penguasaan kata-kata yang cukup banyak dan kaidah-kaidah menulis yang benar. Memiliki kemampuan verbal yang baik (misalnya jago presentasi, jago pidato, jago debat) juga tidak menjamin memiliki kemampuan menulis yang baik pula, demikian sebaliknya. Walaupun tidak juga tertutup kemungkinan seseorang memiliki keduanya, yaitu mampu menggerakkan massa dengan pidatonya sekaligus juga mampu menulis buku."[fy]

"Bukan nakut-nakuti, kebetulan ada anaknya temen kakakku yang punya kasus, dia baru kembali dari Inggris, ketika itu dia TK, ternyata dia tidak bisa nulis, tapi sudah mulai bisa membaca. Sampai di sini, dibawa ke psikolog, rupanya si anak hanya malas. Karena di sekolahnya dia sering menggunakan komputer, yang hanya titidakl memencet' keyboard' akan keluar hurufnya. Meski di sekolahnya diajar menulis, tapi dia tidak mau kalau disuruh menulis. Kasus lain, anak umur 5 tahunan belum bisa nulis (meski pun mencontek) padahal umur 2 tahun dia sudah tahu semua abjadi (huruf besar dan kecil). Menggambar pun tidak pandai. Ketika di bawa ke psikolog ,ternyata memang motorik halusnya kurang bagus (kurang dilatih), sekarang dia udah SD, sudah mau nulis, meski harus 'perang 'dulu sama ibunya, tapi kalau tidak salah masih tetap terapi. Ini hanya untuk waspada, tidak perlu panik. Celengan, selain mengajar menabung juga salah satu cara melatih motorik halus sejak usia satu tahun."[nn]

"Ternyata kasus 'males' memang benar ya bikin anak tidak bisa menulis. Anakku umur 3 tahun, apa sudah harus dipaksa belajar menulis? Karena setahuku, anak resmi belajar membaca dan menulis itu kelas 1 SD. Jadi sebetulnya kalau test masuk SD sudah harus bisa baca dan tulis, itu tidak layak."[qs]

"Pengalaman lain, anak temanku sampai usia 6 tahun susah sekali disuruh menulis. Tapi pas ultah ke-6, dia langsung bisa menulis sendiri tuh. Maknya, SD itu dulu mulai umur 7 tahun, jadi sesuai perkembangan si anak."[ss]

"Aku bagi resep cara mengajarkan anak membaca dengan cepat, mudah-mudahan dengan cara ini berhasil. Ini aku praktekin buat anakku atas saran seorang ibu yang punya tempat terapi. Buat potongan karton dengan ukuran 3X12 atau 3X15 cm. Nanti kartu ini digambar dan diberi keterangan. Misalnya gambar mata terus disebelah gambar ditulis "m a t a", atau "s e p a t u", dst. Kalau mau awet kartunya dilaminating agar dapat digunakan untuk adiknya nanti. Kalau kita tidak bisa gambar, gunting dari majalah yang tidak kepakai lagi. Mulanya mereka belajar dari gambar baru lihat tulisannya, nanti lama-lama kalau gambarnya kita tutup dia jadi hapal tulisannya. Setelah itu buatkan persiapkan lagi kartu yang terdiri dari suku kata, contoh : untuk "mata" berarti ada "ma" dan "ta". Aku melihat cara ini justru lebih efektif daripada mengajarkan anak-anak dengan suku kata dulu baru dengan kata. Kalau malas bikin kartunya, beli aja. Dulu aku sempat lihat di toko buku ada yang jual perpak isinya sekitar 20 atau 30.Dan masing-masing kartu ada temanya, misalnya binatang, atau tumbuhan. Kartu itu malah ada bahasa Inggrisnya segala. Untuk menulis, aku disaranin sama Prof. Mc Carthy dulu untuk nempelin kertas didinding dan biarkan mereka menulis dengan berdiri. Ini bagus buat anak-anak yang motoriknya kurang baik, sehitidak tidak cuma pergelangan tangan saja yang bergerak tapi bahunya juga bergerak. Selain itu latihan membuka/menutup keran juga baik untuk melatih motorik tangan anak-anak kita, tapi kerannya jangan yang model bertangkai yang titidakl digeser itu lho. Pakai keran yang bulat tuh, terus agak kita kencengin dikit lalu biarkan si kecil untuk membukanya. Banyak sih cara lain kalau kita kreatif, tinggal niat kita saja."[dn]

"Kalo aku dulu pengenalan huruf ke anakku waktu kecil dengan buku bergambar (buku pocket kecil), jadi ada gambar gajah, lalu tulisannya gajah, gambar ikan, dst, ada yang bahasa inggris dan bahasa indonesia, cuman kadang problemnya anakku tidak bener-bener tahu tulisannya apa, asal 'nyebut' karena lihat gambarnya, contohnya ada gambar botol, disebut mestinya botol, anakku bilangnya "cuka", gara-gara di dapur ada botol cuka, atau dengan main monopoli, jadi karena pengin main, apa boleh buat terpaksa dia belajar baca, misalnya sampai dikota mana, sambil dibaca, dan disini juga bisa untuk belajar angka dan penjumlahan, jadi kalo dadunya udah dikocok, mau tidak mau terpaksa belajar menjumlah, lalu menjalankan pointnya dengan menyebut angka satu persatu."[rm]

5 LANGKAH AGAR ANAK TAK "SERAKAH"

Tak mau satu, maunya semua! Apa yang harus dilakukan orangtua agar perilaku ini tak keterusan? Suatu sore di hari libur, Immy membuat kue kesukaan anaknya, Bian (4). Begitu selesai, satu stoples berisi kue itu langsung dibawa sang bocah ke kamarnya. "Lo, kok, Mama dan Papa enggak dibagi kuenya, Sayang?" tanya Immy. "Enggak ah. Aku mau semuanya!" Begitu pun di sekolah. Ketika itu ada kegiatan menggambar. Saat guru membagikan satu batang pensil warna untuk masing-masing anak.

Ya, si prasekolah kadang suka berlaku "serakah", tidak mau berbagi dengan teman-teman, adik, bahkan orangtuanya sendiri. Perilakunya malah terkesan egois, bahwa segala sesuatu yang diberikan kepadanya harus lebih banyak dari yang lain, kalau perlu mendapatkan semuanya. Dia akan merasa bangga karena melebihi yang lain, misalnya, "Ayo lihat nih, aku punya tiga pensil warna. Kamu cuma dapat satu!" Jadi, ada keinginan dalam dirinya untuk mendapatkan sesuatu dalam jumlah yang banyak.

Menurut Sani B. Hermawan, Psi., dalam diri si prasekolah ini, berkembang konsep pemahaman bahwa ingin punya sesuatu dalam jumlah banyak. Dengan kata lain, dia masih cenderung mengutamakan kuantitas ketimbang kualitas. Maka bila mendapatkan jumlah yang lebih banyak, dia pun merasa ada kepuasan. "Di sisi lain, pada dasarnya dalam diri anak ada kebutuhan untuk memuaskan diri dengan cara memiliki atau mendapatkan benda atau apa pun sebanyak-banyaknya," kata Direktur Lembaga Pelatihan Daya Insani, Jakarta ini. Perilaku si prasekolah selain tampak "serakah", juga mau menang sendiri, egois dan sederet label negatif lainya. Sifat individualnya masih sangat dominan sehingga apa pun yang dilakukannya masih terpusat pada dirinya sendiri. Alhasil, ketika diberikan sesuatu, dia malah ingin semuanya.

Dalam hal ini, lingkungan sangat memengaruhi perilakunya yang cenderung "serakah" itu. Misalnya, orangtua yang memberi sesuatu selalu banyak atau berlebihan demi membuat anak merasa puas, entah itu makanan, mainan atau hal lainnya. Dengan begitu, anak akan memersepsikan bahwa sesuatu yang banyak itu memang menyenangkan. Contoh, suatu saat sang ayah memberi hadiah pada si prasekolah mainan tertentu. Akan tetapi, di saat yang sama, ibunya pun memberikan mainan. Lantaran itu, si prasekolah pun tak mendapatkan pelajaran atau suatu pengalaman mengenai "apa yang ia dapatkan" tetapi yang ditangkapnya adalah "berapa banyak yang aku dapatkan". Maka tak perlu heran bila kemudian si prasekolah selalu minta sesuatu dalam jumlah banyak.

5 LANGKAH

Nah, perilaku "serakah" tentu tak boleh dibiarkan, bukan? Soalnya, bila tak diantisipasi akan mengganggu proses sosialisasinya. Bisa saja kemudian ia dijauhi temannya atau menjadi bulan-bulanan di antara teman-teman. Mumpung hal itu belum terjadi, maka sebagai upaya antisipasinya, lakukan beberapa hal berikut ini:

1. Beri penjelasan

Jelaskan pada anak bahwa bukan hanya soal jumlah atau banyaknya yang dia dapat, akan tetapi maknanya. Misalnya, ketika guru memberikan masing-masing satu pensil warna dan satu kertas gambar, berarti semuanya itu sama, tak ada yang dibedakan.

2. Ajarkan berbagi

Meski anak usia prasekolah sudah mengetahui konsep berbagi, tapi tak semuanya sudah memahami dengan baik. Jadi perlu terus diajarkan mengenai konsep berbagi ini. Umpamanya, dalam konteks yang sederhana, ketika di sekolah, ajarkan untuk mau berbagi bekal atau kue yang dibawanya dari rumah kepada temannya. Pesankan sebelum berangkat sekolah, "Sayang, Ibu bawakan kamu bekal yang cukup banyak. Nah, nanti di sekolah kamu bagi-bagi sama teman ya." Tak ketinggalan, pesan moral dari konsep berbagi ini, misalnya, "Kalau kamu suka memberi teman, kamu akan disenangi teman."

Nah, dengan seringnya belajar berbagi, lama-kelamaan dia akan terlatih pula untuk tidak menjadi "serakah" lagi. Kemudian, bila anak masih belum mau meminjamkan mainannya, cukup katakan bahwa temannya akan merasa senang bila ia mau meminjamkan mainannya. Atau temannya akan merasa sedih kalau tidak dibolehkan mencicipi makanan miliknya. Dengan begitu, si prasekolah pun belajar untuk berempati pada orang lain.

3. Konsisten

Orangtua sebaiknya bersikap konsisten untuk tidak memberi anak sesuatu secara berlebihan. Boleh jadi si prasekolah jadi uring-uringan atau terus merengek lantaran kemauannya untuk mendapatkan sesuatu dalam jumlah banyak tak terpenuhi. Sekali lagi, kita harus tetap konsisten. Kalau kita "mengalah", justru itu akan dijadikan senjata oleh anak di kemudian hari. Jadi, dalam masa pembelajaran ini, sebaiknya kita tak selalu menuruti kemauannya yang cenderung berlebihan.

4. Dukungan lingkungan

Kalaupun anak mulai mau belajar untuk tidak "serakah" lagi, akan tetapi bila lingkungannya tak mendukung, ya tentu sikap buruknya itu akan sulit diubah. Contoh dari orangtua pun sangat besar pengaruhnya. Tradisi bertukar bingkisan atau makanan dengan tetangga atau bersedekah kepada peminta-minta menjadi contoh yang lambat-laun ikut mengikis sikap serakah dalam dirinya.

Akan tetapi, boleh jadi, si prasekolah sulit untuk meninggalkan perilaku "serakah"nya itu. Soalnya, sesuatu yang dimilikinya itu seolah merupakan bagian dari dirinya. Maka, untuk menghadapi hal ini orangtua perlu usaha yang lebih giat untuk memberi pengertian dan penjelasan pada si prasekolah. Memang, jangan berharap si prasekolah langsung bisa memahami maksud kita. Begitu pun kita tak boleh memaksa anak untuk mau berbagi, karena justru hasilnya takkan maksimal. Toh, secara naluri, tiap orang termasuk anak-anak sebenarnya memiliki kemampuan untuk mau memberi, berbagi dan menolong orang lain. tinggal bagaimana kita mengasah kemampuannya itu.

5. Jangan beri label

Poin terakhir, yang tak kalah pentingnya adalah jangan sampai si prasekolah dijuluki si "serakah" atau si "pelit". Jadi sebaiknya hindari pelabelan seperti itu. Pasalnya, kata-kata ini justru akan membuatnya merasa disalahkan atau tak berharga. Perlu diketahui, pada dasarnya ia memang belum paham mengenai perilaku apa yang diharapkan, lantaran masih memandang dirinya sebagai orang yang paling penting. Ini karena dia masih bersikap egosentris. Jadi sekali lagi, jangan sampai menggunakan julukan yang menyudutkan si kecil.

Sumber : tabloid-nakita.com

Mengenal Autisme


Secara garis besar, Autisme, adalah gangguan perkembangan khususnya terjadi pada masa anak-anak, yang membuat seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Pada anak-anak biasa disebut dengan Autisme Infantil. Selain Autisme juga dikenal istilah Schizophrenia yang juga merupakan gangguan yang membuat seseorang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya sendiri seperti: berbicara, tertawa, menangis, dan marah-marah sendiri.

Tetapi ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari Autisme pada penderita Schizophrenia dan penyandang autisme infantil. Schizophrenia disebabkan oleh proses regresi karena penyakit jiwa, sedangkan pada anak-anak penyandang autisme infantil terdapat kegagalan perkembangan. Gejala autisme infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak, gejala-gejala itu sudah ada sejak lahir. Seorang Ibu yang sangat cermat memantau perkembangan anaknya bisa melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia 1 tahun. Yang sangat menonjol adalah tidak adanya atau sangat kurangnya tatap mata.

Untuk memeriksa apakah seorang anak menderita autis atau tidak, digunakan standar internasional tentang autisme. ICD-10 (International Classification of Diseases) 1993 dan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual) 1994 merumuskan kriteria diagnosis untuk Autisme Infantil yang isinya sama, yang saat ini dipakai di seluruh dunia. Kriteria tersebut adalah : Harus ada sedikitnya 6 gejala dari (1), (2), dan (3) seperti di bawah ini, dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing 1 gejala dari (2) dan (3).

  1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik.
    Minimal harus ada 2 dari gejala di bawah ini :
    • Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai : kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak gerik kurang tertuju
    • Tidak bisa bermain dengan teman sebaya
    • Tak ada empati (tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain)
    • Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik
  2. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi.
    Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini :
    • Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang. Anak tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal
    • Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi
    • Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang
    • Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat meniru
  3. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat, dan kegiatan.
    Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini :
    • Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan
    • Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya
    • Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang
    • Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda

Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang (1) interaksi sosial, (2) bicara dan berbahasa, dan (3) cara bermain yang monoton, kurang variatif. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Kanak. Namun kemungkinan kesalahan diagnosis selalu ada, terutama pada autisme ringan. Hal ini biasanya disebabkan karena adanya gangguan atau penyakit lain yang menyertai gangguan autis yang ada, seperti retardasi mental yang berat atau hiperaktivitas. Autisme memiliki kemungkinan untuk dapat disembuhkan, tergantung dari berat tidaknya gangguan yang ada. Berdasarkan kabar terakhir, di Indonesia ada 2 penyandang autis yang berhasil disembuhkan, dan kini dapat hidup dengan normal dan berprestasi. Di Amerika, di mana penyandang autisme ditangani secara lebih serius, persentase kesembuhan lebih besar.

Bila Anda membutuhkan informasi yang langsung dan detail tentang autisme, bisa menghubungi alamat di bawah ini :

Yayasan Autisma Indonesia
Jl. Buncit Raya No. 55, Jakarta Pusat
Telp. 021 - 7971945 - 7991355

Sumber : Simposium Autisme Masa Kanak (Semarang, 24-10-1998)

Si 5 Tahun Siap- Siap Masuk SD



Untuk dapat mengikuti pelajaran di SD dengan baik, anak perlu persiapan tertentu. Bagaimana Anda membantu si 5 tahun memasuki ‘dunia baru’ ini?

Suasana di TK memang berbeda dengan di SD. Di TK, Adri masih diperbolehkan tidak mengikuti pelajaran ketika ia merasa tidak bisa mengikuti pelajaran di kelas. Dan, sepulang sekolah pun ia masih bisa bermain sepuasnya. Bila sudah duduk di SD, ia tak lagi bisa leluasa melakukan hal tersebut.

Di SD, Adri harus tahan duduk di bangku hingga pelajaran berakhir. Disamping itu, hampir setiap hari ia mendapat Pekerjaan Rumah (PR) yang wajib dikerjakannya, sehingga tak ada lagi waktu untuk bermain.

Untuk siap mengikuti pelajaran di SD, si kecil memang harus melalui proses penyesuaian diri. Jika tak siap, ia akan mengalami kesulitan yang cukup berarti dalam menjalani masa belajarnya. Kematangan seperti apa yang perlu dipunyai si 5 tahun?

Belajar menunggu giliran

Persiapan masuk SD perlu dilakukan agar masa sekolah ini tidak menyiksa anak. Menurut guru sekolah SD dan psikolog sekolah di Jerman, Alexandra Emrich , salah satu yang perlu dimiliki anak adalah ia belajar sabar dalam menunggu hingga gilirannya tiba. Dalam proses belajar, anak seringkali digilir dalam menjawab pertanyaan. Anak yang belum matang akan mengalami kesulitan. Anda perlu mengajari si 5 tahun kemandirian dalam menunggu gilirannya. Anda dapat mengajarkannya, misalnya, saat Anda dan si kecil antre membayar belanjaan di pasar swalayan. Katakan padanya bahwa semua orang harus antre, dan orang yang sudah besar mesti mengikuti aturan ini.

Selain belajar menunggu, anak juga harus menunjukkan kesanggupan berprestasi. Ini bisa dipraktekkannya sehari-hari di rumah, seperti memberi makan kucing, dan menyiapkan meja untuk makan malam. Dalam menyelesaikan tugasnya ini, anak belajar bahwa ia mendapat kepuasan karena telah mengerjakan suatu tugas, walau terkadang tak menyukainya. Si 5 tahun pun perlu termotivasi bahwa setiap tugas adalah tuntutan yang penuh tantangan untuk diselesaikan.

Tak hanya itu, anak pun diharapkan sanggup mengemukakan perasaan dengan cara yang bisa diterima orang lain, tahan duduk diam untuk mengikuti pelajaran dalam jangka waktu lama dan terampil menyelesaikan tugas. Semua ini sangat diperlukan sebagai tanda kemantangan si kecil untuk belajar di SD.

Melatih agar siap

Bagaimana Anda tahu anak siap bersekolah di SD? Anda bisa mendeteksi dengan melihat keterampilannya sehari-hari. Apakah, misalnya, ia bisa mengenakan atau melepas jaket, mengenakan celana dan kaos, atau mengenakan sepatunya sendiri? Bila belum bisa melakukan itu semua, si 5 tahun akan mengalami kesulitan saat mengikuti pelajaran olahraga, misalnya. Untuk itu Anda bisa melatih anak mengenakan dan melepas baju olahraganya dengan sabar, sebelum ia betul-betul harus melakukannya sendiri di kelas

Keterampilan lain, seperti menggunting, melukis dengan tinta yang tipis, atau siap menyeberang jalan perlu pula dikuasainya. Hal ini akan memudahkan si kecil menyesuaikan diri dengan situasi belajar sehari-hari di SD. Bukankah di SD ini Anda atau pengasuhnya tak bisa lagi menemaninya di lingkungan sekolah?

Selain itu, untuk mempermudah si kecil mempersiapkan diri saat akan berangkat sekolah, Anda dapat mendukungnya dengan, misalnya, membelikan sepatu tanpa tali agar tidak menyulitkannya jika mengenakan sepatu sendiri. Bila masa awal belajarnya bisa dilalui dengan baik, si 5 tahun akan merasa percaya diri dalam menempuh pendidikannya di SD.

Eleonora Bergita

Si 5 Tahun Jago Matematika

Matematika ada dalam kehidupan sehari-hari anak: operasi penjumlahan, pengurangan, dan pengenalan bentuk geometri.

Bagi orang tua pada umumnya, balita terlalu muda untuk bermatematika. Padahal, pengenalan si kecil dengan kegiatan matematis telah berlangsung sedini mungkin.

“Matematika adalah bidang yang merupakan kumpulan dari bermacam pola. Tak ada satu pun kegiatan yang lebih disukai anak-anak kecil, selain mencari dan mengenali berbagai pola dalam dunianya,” jelas Gerhard N. Mueller , profesor didaktika matematika dari Dortmund, Jerman.

Pola yang menarik perhatian bayi dan batita, misalnya susunan batu bata yang saling berseling, juga pola rajut karpet yang memiliki pola susunan unik. Hal-hal sederhana semacam itu kerap kali tak disadari orang tua sebagai kegiatan matematis.

Untuk si lima tahun, bidang matematika mencakup kegiatan yang lebih canggih. Misalnya, pengenalan bentuk-bentuk geometri, pengenalan angka belasan dan puluhan, termasuk juga pengenalan beragam operasi matematika, seperti penjumlahan dan pengurangan.

Tentu saja, orang tua tak perlu khawatir anak-anak terlalu dini berkenalan dengan matematika. Sebab, keseharian menuntun mereka lebih akrab dan mahir dengan matematika. Sebagai contoh, si lima tahun menyadari permen jelinya berkurang dalam kemasan setiap kali ia mengambil satu dan mengunyahnya. Selajutnya, mulailah ia berhitung sisa yang ada.

Belajar menggunakan ‘rasa’

Yang juga menonjol pada si lima tahun, ia mulai melibatkan seluruh inderanya saat berhitung. Selain menjumlah dan mengurangi menggunakan bantuan jemari, si lima tahun, bahkan beberapa anak usia empat tahun, memiliki insting bahwa hasil sebuah penjumlahan salah.

“Anak usia empat sampai lima tahun biasanya sibuk memahami, apakah mungkin empat tambah dua sama dengan 10 atau 12 atau delapan? Mereka belajar merasakan kebenaran, meskipun menebak langsung hasil yang benar juga menyenangkan,” jelas ahli matematika asal Skotlandia, Augustinus de Morgan .

Sebaliknya pun demikian. Si lima tahun yang cerdik mengetahui bahwa jumlah yang Anda sebut secara asal adalah jawaban yang salah, hanya dengan merasakan, menggunakan naluri. Anda bisa jadi terkejut melihat, bagaimana si lima tahun semakin mahir dan jenius di bidang ini, melalui pengalaman-pengalaman sederhana dalam keseharian.

Yang penting dilakukan orang tua adalah membimbing anak tanpa memaksa. Bimbingan yang menstimulasi dan menggugah semangat si kecil mengenal dunia matematika perlu dilakukan orang tua. Seperti, mengenalkan berbagai bentuk geometri, membaca jam atau menghitung jumlah potongan wortel dalam sup yang dimakan.

Selain itu, tak perlu buru-buru mengoreksi jika si kecil salah menghitung atau memahami sebuah fenomena matematis. Kesalahan dalam matematika, meminjam kata Prof. Mueller, adalah hal yang indah dan ‘luar biasa’.

Jadi, tak perlu merasa harus segera mengoreksi, cukup beri sedikit petunjuk. Biarkan anak mendapatkan hasil dengan caranya sendiri.

Andi Maerzyda A. D. Th.

Pendidikan Tinggi, Bikin Panjang Umur

ADA resep sederhana ingin panjang umur, teruslah sekolah dan belajar. Sekolah bisa membuat seseorang peduli kesehatan dan pola hidup sehat.

Jika Anda punya niat melanjutkan sekolah, mungkin penelitian para ilmuwan dari Harvard School of Medicine bisa menambah meyakinkan Anda. Lho mengapa? Berdasarkan penelitian para ilmuwan menunjukkan, orang yang memiliki pendidikan lebih baik berpeluang panjang umur semakin besar.

Pada kurun waktu 1990-2000 berdasarkan penelitian diketahui bahwa orang yang tingkat pendidikannya tidak lebih dari sekolah menengah atas (SMA), tidak mengalami peningkatan rasio panjang umurnya. Berbeda jika dibandingkan orang yang pendidikannya di atas SMA, rasio pertambahan umur meningkat 1,5 tahun.

"Seorang yang berusia 25 tahun dengan tingkat pendidikan SMA, peluang hidupnya bisa sampai usia 50 atau 75 tahun. Sementara itu, orang yang tingkat pendidikannya lebih tinggi dari SMA, peluang hidupnya mencapai usia 80-81,6 tahun. Perbedaannya sangat besar," papar Ellen Meara, asisten profesor kebijakan kesehatan dari Harvard Medical School, seperti dilansir Associated Press.

Mengapa semakin tinggi pendidikan seseorang membuat peluang hidupnya semakin lama? Meara beralasan, dengan tingkat pendidikan tinggi, seseorang bisa besar kemungkinannya mendapatkan akses lebih baik mengenai informasi berbagai ancaman penyakit dan jenis pengobatannya.

"Umumnya orang yang kurang mendapat informasi kebanyakan meninggal karena mengalami berbagai penyakit yang tak diketahui. Berbeda dengan orang yang mendapatkan informasi, mereka lebih tahu bagaimana pola hidup sehat dan teknologi kesehatan yang bisa memperbaiki tingkat kehidupannya," jelas Meara.

Meara mencontohkan, orang yang memiliki pendidikan tinggi biasanya akan memiliki pola hidup sehat dan mudah meninggalkan gaya hidup tak sehat, misalnya kebiasaan merokok. "Orang yang sadar dampak negatif merokok biasanya segera berhenti dan mengubah pola hidup sehat," lanjutnya.

Kesimpulan Meara berdasarkan survei yang dilakukannya pada 1990-2000 terhadap semua populasi, ras, dan gender di Amerika Serikat (AS). Selama sepuluh tahun penelitian diketahui bahwa perbedaan antara tingkat pendidikan tinggi dan terendah ternyata semakin lebar.

Pada 1990, pria kulit putih berpendidikan tinggi peluang hidupnya lebih panjang 5,8 tahun dibandingkan pria kulit putih berpendidikan rendah.Pada 2000 perbedaan rasio peluang hidup lebih lama semakin tinggi, yaitu 7,9 tahun.

Data untuk pria dan perempuan kulit hitam memperlihatkan rasio yang sama. Hal serupa terjadi pada perempuan kulit hitam dan putih dengan pendidikan rendah. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, rasio peluang hidupnya semakin menurun, dari 0,9 tahun pada 1990 menjadi 0,2 tahun pada 2000. Sebagian besar meninggal karena penyakit paru-paru.

"Penyakit yang memberikan kontribusi besar bagi perbedaan tingkat pendidikan dan angka kematian, yakni serangan jantung, paru-paru, berbagai jenis kanker, dan penyakit kronis lainnya. Potensi risiko kematian lebih besar terdapat pada para pengonsumsi tembakau," lanjut Meara.

Selain kebiasaan buruk merokok, obesitas menjadi masalah umum yang sering dialami orang yang tingkat pendidikannya buruk. Diprediksi pada masa mendatang risiko kematian akibat obesitas akan sama besarnya dengan dampak kematian akibat merokok.

Untuk itu, Meara mengingatkan agar setiap orang mengetahui bahwa peluang hidup lebih lama itu mudah diwujudkan, yakni dengan tingkat pendidikan yang tinggi lantaran seseorang lebih banyak memperoleh informasi. Pasalnya, tingkat pendidikan tinggi dan panjang umur bukan hanya terjadi pada satu orang, itu sudah menjadi fenomena umum.
(Sindo Sore//tty)