Kurikulum SD International-National Plus

Sumber: ibu ibu DI

Tanya
Sekarang ini banyak ibu-ibu yang menyekolahkan anaknya di sekolah international atau nasional plus. Aku sedang mengumpulkan informasi mengenai perbedaan antara kedua sekolah ini. Sementara ini yang aku tahu sekolah nasional plus tetap ada pelajaran sejarah tentang Indonesia dan pelajaran tertentu yang biasa diberikan di sekolah nasional. Sedangkan di sekolah internasional tidak ada sama sekali, murni seperti sekolah di luar negeri. Dan kelebihan dari mereka bobot pelajarannya lebih ringan karena sedikit materinya tapi anak jadi tidak tahu tentang sejarah Indonesia. Setelah nanti dia kuliah di universitas lokal, jadi agak kesulitan mengikuti pelajaran yang berkaitan dengan MKDU (mis: Pancasila).

untuk nasional plus, misalnya di Gandhi biayanya sedikit lebih murah dibanding yang internasional. Aku ingin tau kebanyakan ibu-ibu memilih sekolah yang internasional atau nasional plus, dan bagaimana pertimbangan jangka panjangnya?

Jawab
Ibu, kebetulan adikku kepala SD national plus di Bogor. Yang paling keliatan nyata adalah fasilitas fisik:

1. bangunan sekolah relatif masih baru (artinya bersih, tidak menakutkan, cat yang colorful untuk anak-anak)

2. ratio jumlah anak dan luas ruang yang sangat memadai (di sekolah anakku tiap kelas punya reading corner berkarpet, study corner yang ada meja kursi, teachers corner, corner kosong untuk berbaris dan main-main, juga toilet room dan wastafel)

3. fasilitas sekolah yang sangat mengutamakan perkembangan motorik kasar anak (arena bermain yang sangat luas compare dengan jumlah murid dan lengkap) juga memperhatikan keamanan anak-anak (railing tangga, pagar berlapis lapis) dan bersih sekali (dapur, ruang makan, alat makan -tiap alat makan di steril dengan air mendidih sebelum digunakan-, toilet room).

4. keamanan sangat utama, mulai dari petugas security, fasilitas pendukung (stiker parkir yang ketat), sampai office boy yang selalu ada di tiap lapis gerbang supaya tidak ada yg bisa masuk ke lingkungan sekolah tanpa sepengetahuan dan seijin petugas di sekolah. Termasuk tidak ada tukang jual jajanan.

5. paling utama adalah rasio murid dan guru sangat ideal, rata-rata 1 guru untuk 5 murid untuk kelas TK.

Itu fisiknya, kalau 'contentnya' lebih banyak lagi, misalnya :
1. jelas bahasa inggris anak-anak di nat plus jauh lebih baik daripada di sekolah biasa.
2. komputer skill juga jauh melebihi anak-anak di sekolah biasa, karena tiap hari ada 30 menit pelajaran komputer (bukan belajar xl atau word tapi eduation software)
3. beberapa pelajaran yang di sekolah lain adalah ekstrakurikuler, di sekolah national plus diwajibkan misalnya olah raga berenang, piano, bahasa mandarin.
4. waktu di sekolah yang panjang membuat anak-anak yang orang tuanya bekerja, sangat menolong para orang tua. Anak-anak bermain dan belajar secara terarah di bawah bimbingan guru-guru yang memang ahli di bidangnya. Anak-anak juga lebih cepat mandiri karena waktu yang panjang di sekolah menyebabkan banyak kegiatan harus mereka lalui di sekolah (pipis, pup, minum susu, makan snack, makan siang) dan guru-guru sangat mengecorage mrk supaya melakukan semua itu sendiri. Daripada anak-anak nonton sinetron dan membuat rumah jadi kapal pecah, lebih baik dia mendengar guru mendongeng, menonton film dengan gurunya.

5. hubungan yang harmonis antara guru dan murid membuat murid menyukai bersekolah, berani bertanya sama guru dan membuat sekolah jadi "a happy place".

6. yang paling utama adalah metode mengajar. Di sekolah diterapkan metoda mengajar dua arah, jadi murid diajar aktif dan berani mengungkapkan pendapat. Pendapat yang paling konyolpun dihargai dan tidak ditertawakan (mis: murid ditanya kenapa pingguin hanya punya 1anak, ada yang menjawab: krn mamanya tidak mau repot). Lalu menerapkan sistem reward dan punishment. Kesalahan yang dibuat si anak tidak ditebus dengan berdiri di depan kelas, atau tangannya dipukul dengan penggaris ataupun menyalin 100 kali kalimat: saya tidak akan nakal lagi.

Kalau dengar cerita temanku tentang anak mereka yang malas sekolah, takut sekolah, pr bertumpuk, buku tugas banyak, beda sekali dengan sekolah national plus. Setidaknya anak-anakku tidak pernah malas sekolah, dan tidak pernah pulang bawa pr yang setumpuk (melainkan a book a day to be read at home) apalagi tas yang berat karena semua buku tugas ditinggal di sekolah. Tas isinya spare t-shirt dan celana kalau keringatan dan snack.

Memang konsekuensinya, anak-anak tersebut tidak mudah bila harus pindah ke sekolah biasa. Karena hampir semuanya berbeda. Jadi kalau mau menyekolahkan anak di national plus sepertinya harus siap menyekolahkan mereka sampai lulus. [St]

Idealnya memang per paket sejak SD sampai SMU mereka pakai sistem yang sama.

Beberapa tetangga aku menyekolahkan anak-anaknya di Gandhi. Mereka bilang kalau di hitung-hitung dengan uang pangkal perpaket biayanya justru lebih murah. Iuran bulanan kalau di sekolah nasional sering ada biaya ekstra, jatuhnya tidak beda jauh (ini kalau ukuran Gandhi, sekolah yang lain aku kurang begitu tahu). [Vv]

Aku juga pernah hitung-hitung untuk biaya memang jatuhnya kurang lebih sama. Yang jelas anak-anakku tidak perlu les inggris, komputer, renang, kumon, membaca, menulis, menggambar karena semua itu diberikan gratis di sekolah mereka.

Lalu aku juga menghemat waktu karena anak-anaku pergi ke one stop service, alias dari pagi - sore cukup di sekolah saja. Tidak perlu pulang sekolah masih harus les A, B, C. Aku juga tidak perlu invest mobil dan sopir untuk antar jemput anak-anak karena bus sekolah terpercaya.[St]

Anak-anakku juga tidak biasa tidur siang, apalagi yang SD kelas 2 sekolahnya juga full day, dari jam 8 - 15.00. Kalau ada extended enrichment (semacam ekstrakurikuler) pulangnya jam 16.00. Karena sudah kebiasaan, sekolah jadi biasa-biasa saja, tidak exshausted, malah seringkali pulang sekolah masih sempat latihan berenang di klubnya. Memang tidur malamnya jadi agak awal, sekitar jam 8 malam, tapi lebih bagus daripada sampai malam mereka masih belum tidur.

Mengenai perbandingan kurikulum, aku kurang tahu pasti isi kurikulum nasional seperti apa. Yang jelas di sekolah anakku yang katanya Nat+,
subjects yang diberikan adalah math, science, social studies (PPKN?), religion, art & music, bahasa indonesia & english, physical education.

Semua bahan pelajaran diberikan di sekolah dan sifatnya 'workshop' sehingga anakku ke sekolah tidak pernah bawa buku dan memang tidak punya buku paket yang biasanya dimiliki anak-anak SD lainnya. Setiap akhir minggu diberikan satu weekly project yang harus di- selesaikan dalam jangka waktu seminggu, selain itu tidak ada PR atau home assignment lainnya. Setiap weekly project hanya untuk satu subject. Ulangan, tes, atau ujian yang sifatnya formal tidak ada, karena assessment on each individual student dilakukan on daily basis for each particular subject.

Report pun sifatnya tidak dalam bentuk nilai 8, 9, atau 7, atau A,B,C tapi penjelasan komprehensif dan detail tentang kemajuan anak. Paling-paling kalau ada hanya penggolongan hanya dalam bentuk 'introduced', 'progressing' atau 'mastering'. Sejauh ini aku cukup puas dengan metode seperti ini dan yang jelas anakku selalu happy kalau pergi sekolah. [Id]

Aku punya temen yang ngajar di JIS menurut dia sekarang banyak orang indonesia yang sekolah disana, tapi semuanya sama dan tidak dibedakan. TK biayanya 10ribu dollar, untuk smp 12ribu dollar tapi nanti ada uang lain-lainnya lagi. [Fn]

Anak temenku juga di JIS, aku yakin mereka tidak punya passport asing, dan katanya memang sejak beberapa tahun lalu orang indonesia boleh sekolah disitu. [Dn]

Sekolah Gandhi lama yang di ps baru katanya lebih murah. Sekarang mereka buka sekolah baru di kemayoran yang lebih bagus dan harganya
beda dengan yang di ps. baru. Aku belum sempat survei kesana. Apakah environmentnya cocok untuk anakku, apa kira-kira mereka betah disana kalau sejak SD sampai dengan SMU mereka disitu. Reputasi sekolah juga penting apakah sudah benar-benar establised, jangan biayanya saja yang mahal tapi SDMnya asal-asalan. Lots of things to consider.

Kemarin aku survei preschool untuk anakku yang kedua, di daerah menteng. Aku lihat semuanya bagus, guru-gurunya native. Kebetulan sekolahnya internasional school. Sebenarnya dari dulu aku kurang suka kalau preschool bernuansa int. Aku lebih suka sekolah lokal, tapi karena penasaran aku coba survei kesana. Kelasnya kecil-kecil dan duduk belajar (even for toddlers!). silabusnya juga bernuansa belajar. Ada reading, math, writing. Aku tanya "isn't it too much for 3 years old?" Dia bilang "no, not at all, all children here can keep up very well" tapi aku jadi tidak tega menyekolahkan anak yang masih toddlers ke sekolah yang gaya belajarnya serius.

Disana tenaga gurunya ada sekitar 2 -3 orang masing-masing pegang 6 - 8 anak per kelas. Aku lihat pada saat bermain yang mendampingi adalah baby sitter bukan gurunya, padahal para BS itu tidak "speak english well" hanya bisa "good morning" semacam itu. Sepertinya tidak ada komunikasi dengan anak-anak padahal disana sistem belajarnya ESL. [Vv]

Hari Sabtu lalu aku coba datang ke acara open housenya sekolah Bina Nusantara untuk preschool dan Elementary. Sekolahnya bagus.

Gedungnya baru, tempat parkirnya di basement seperti hotel. Untuk preschool tangga-tangganya dibuat landai dan ada karpetnya jadi aman untuk anak-anak yang hobi lari-lari. Di tempat mainannya juga menggunakan lapisan yang aman untuk anak jatuh. Aku kurang tahu nama lapisannya tapi seperti sekam yang padat.. Ada yang tahu kalau mau beli lapisan seperti itu berapa dan dimana?

Kembali ke sekolah Binus, untuk Preschoolnya uang masuknya sekitar 21 juta (untuk 3 tahun) sedangkan untuk Elementary sekitar 35 juta (untuk 6 tahun). Kalau mau bayar langsung untuk 9 tahun (Preschool s/d Elementary 6) 54 juta. Bulanan untuk Preschool 1,8 juta sedangkan untuk Elementary 2,5 juta. Mereka baru tahun ke-2 untuk Preschool dan Elementarynya. Sekolah Binus ini tempatnya di jalan Arteri, sebelum kompleks simpruk pertamina kalau dari arah Pondok Indah ke Permata Hijau. [Gt]

Kemarin aku sudah dapatkan informasi tentang High Scope. Aku sedang membandingkan dengan Singapore Internasional School yang di Bona Indah. Mereka kurikulumnya juga bagus, tapi untuk biaya masih sama mahalnya dengan High Scope. Kalau masih di preschool dimasukkan ke Kinderland juga sudah bagus. [Ld]

Menumbuhkan Percaya Diri Pada Anak

Sifat percaya diri tidak hanya harus dimiliki oleh orang dewasa, tetapi anak-anak juga memerlukannya dalam perkembangannya menjadi dewasa. Sifat percaya diri sulit dikatakan secara nyata. Tetapi kemungkinan besar orang yang percaya diri akan bisa menerima dirinya sendiri, siap menerima tantangan dalam arti mau mencoba sesuatu yang baru walaupun ia sadar bahwa kemungkinan salah pasti ada. Orang yang percaya diri tidak takut menyatakan pendapatnya di depan orang banyak. Rasa percaya diri membantu kita untuk menghadapi situasi di dalam pergaulan dan untuk menangani berbagai tugas dengan lebih mudah.

Untuk anak-anak, rasa percaya diri membuat mereka mampu mengatasi tekanan dan penolakan dari teman-teman sebayanya. Anak yang percaya diri mempunyai perangkat yang lebih lengkap untuk menghadapi situasi sulit dan berani minta bantuan jika mereka memerlukannya. Mereka jarang diusik. Justru mereka sering mempunyai daya tarik yang membuat orang lain ingin bersahabat dengannya. Mereka tidak takut untuk berprestasi baik di sekolah atau untuk menujukkan bahwa mereka memang kreatif. Percaya diri bukan merupakan bawaan dari lahir, juga tidak jatuh dari langit. Anak-anak mudah sekali merasa rendah diri, merasa tidak mampu, tidak penting, karena ada banyak hal yang harus dipelajari, dan orang yang lebih tua tampak begitu pandai. Anak-anak memerlukan dorongan dan dukungan secara terus-menerus. Jika orang tua atau guru dapat berperan dengan baik, anak-anak akan memiliki rasa percaya diri. Jika Anda ingin membangun rasa percaya diri dalam diri anak Anda, tak ada istilah terlambat untuk memulai. Anda justru akan memberikan hadiah terbaik untuk anak Anda dan diri Anda sendiri.

Membangun Rasa Percaya Diri

Walaupun sering memprotes jika merasa dibatasi, anak-anak akan menerima jika mempunyai aturan pasti dalam bertindak. Jika orangtua terus mengubah rutinitas anak Anda atau tidak konsisten dalam hal disiplin, anak akan bingung dan bimbang. Misalnya, hari ini aturannya begini, tapi besok lain lagi. Lusa, anak akan bertanya-tanya, "Sekarang saya harus bagaimana. Yang seperti kemarin atau seperti kemarin dulu?"

Tunjukkan bahwa Anda percaya anak Anda punya kemampuan, dengan memberinya tugas-tugas yang bisa dilakukannya dan menimbulkan rasa ikut memiliki. Sebagai contoh, anak-anak biasanya senang menjawab telepon. Ajari dia cara menjawab telepon yang sopan dan benar. Lalu, beri dia kesempatan untuk melakukannya. Coba juga meminta bantuan anak untuk mengambilkan barang-barang yang akan dibeli di rak pasar swalayan, tentunya barang yang tak mudah pecah, misalnya susu, sabun mandi, dan sebagainya. Tahan diri untuk cepat-cepat turun tangan membantu anak melakukan sesuatu. Membantu boleh-boleh saja, tapi tidak berarti mengambil alih atau langsung ikut campur tangan tanpa dimintanya. Doronglah dia untuk tidak terlalu gampang mengatakan, "Saya tidak bisa," "Saya tak pernah akan bisa," atau "Saya memang bodoh."

Satu hal yang penting orangtua harus menjaga jangan sampai mencap anak "pemalas", "dasar pemalu", "anak bodoh", dan sebagainya. Memang sebagian anak mungkin tak akan terlalu menghiraukan kata-kata seperti itu. Tapi sebagian lain akan membangun identitas dirinya dari komentar-komentar yang negatif ini, meskipun Anda mengucapkannya secara spontan dan sungguh tidak bermaksud merendahkan dirinya.

Tanamkan sikap bahwa berbuat salah bukanlah dosa yang tak terampuni, bahwa nilai seseorang tidak selalu bisa dihitung berdasarkan kesempurnaan hasil kerjanya. Yang penting bukan betul atau salah, tapi bagaimana cara dia melakukannya. Jadikan ini sebagai pedoman untuk diri Anda juga. Hormati dan hargai anak Anda. Jangan mempermalukan dia di depan teman-teman sebayanya, atau di depan orang dewasa lainnya, atau di depan umum. Jika anak Anda berbuat salah, panggil dia ke tempat sepi, atau bicarakan hal itu di rumah. Jika Anda berbicara, gunakan nada suara seperti yang Anda harapkan akan digunakannya saat ia berbicara.

Dengarkan anak Anda dan dorong dia untuk berpikir mandiri. Belajar mempertahankan diri sendiri memerlukan kekuatan besar. Tempat terbaik untuk berlatih menjadi orang yang percaya diri adalah di rumah. Hargai ide-ide yang dinyatakannya. Katakan berulang-ulang kepada anak Anda bahwa Anda percaya dia bisa. Dan bersikaplah positif di depan orang-orang lain tentang apa yang bisa dilakukan anak Anda. Dengan cara begitu, anak akan yakin bahwa Anda benar-benar mempercayai kemampuannya.

Ciptakan peluang untuk pengalaman-pengalaman dan tantangan baru. Perluas minat dan keterampilan anak Anda. Bersedialah menerima usaha yang telah dilakukannya, entah apa pun hasilnya. Jangan hanya melihat hasil akhirnya saja. Daripada mengatakan kepada anak apa yang tak boleh dilakukan, lebih baik katakan apa yang boleh dilakukannya. Misalnya, daripada mengatakan "Kamu tak boleh masuk ke rumah orang tanpa permisi," lebih baik katakan, "Kamu boleh masuk ke rumah orang kalau sudah permisi dan dipersilakan masuk." Sebelum mengomentari perilaku anak yang negatif, pikirlah dulu dua tiga kali, sambil mengingat untuk selalu menekankan hal-hal yang positif.

Gaya Belajar Efektif


Setiap orang pasti mempunyai cara atau gaya belajar yang berbeda-beda. Banyak gaya yang bisa dipilih untuk belajar secara efektif. Nah, artikel berikut menjelaskan tujuh gaya belajar yang mungkin beberapa diantaranya bisa di terapkan pada anak didik kita :

1. Belajar dengan kata-kata.

Gaya ini bisa kita mulai dengan mengajak seorang teman yang senang bermain dengan bahasa, seperti bercerita dan membaca serta menulis. Gaya belajar ini sangat menyenangkan karena bisa membantu kita mengingat nama, tempat, tanggal, dan hal-hal lainya dengan cara mendengar kemudian menyebutkannya.

2. Belajar dengan pertanyaan.

Bagi sebagian orang, belajar makin efektif dan bermanfaat bila itu dilakukan dengan cara bermian dengan pertanyaan. Misalnya, kita memancing keinginan tahuan dengan berbagai pertanyaan. Setiap kali muncul jawaban, kejar dengan pertanyaan, hingga didapatkan hasil akhir atau kesimpulan.

3. Belajar dengan gambar.

Ada sebagian orang yang lebih suka belajar dengan membuat gambar, merancang, melihat gambar, slide, video atau film. Orang yang memiliki kegemaran ini, biasa memiliki kepekaan tertentu dalam menangkap gambar atau warna, peka dalam membuat perubahan, merangkai dan membaca kartu.

4. Belajar dengan musik.

Detak irama, nyanyian, dan mungkin memainkan salah satu instrumen musik, atau selalu mendengarkan musik. Ada banyak orang yang suka mengingat beragam informasi dengan cara mengingat notasi atau melodi musik. Ini yang disebut sebagai ritme hidup. Mereka berusaha mendapatkan informasi terbaru mengenai beragam hal dengan cara mengingat musik atau notasinya yang kemudian bisa membuatnya mencari informasi yang berkaitan dengan itu. Misalnya mendegarkan musik jazz, lalu tergeliik bagaimana lagu itu dibuat, siapa yang membuat, dimana, dan pada saat seperti apa lagu itu muncul. Informasi yang mengiringi lagu itu, bisa saja tak sebatas cerita tentang musik, tapi juga manusia, teknologi, dan situasi sosial politik pada kurun waktu tertentu.

5. Belajar dengan bergerak.

Gerak manusia, menyentuh sambil berbicara dan menggunakan tubuh untuk mengekspresikan gagasan adalah salah satu cara belajar yang menyenangkan. Mereka yang biasanya mudah memahami atau menyerap informasi dengan cara ini adalah kalangan penari, olahragawan. Jadi jika Anda termasuk kelompok yang aktif, tak salah mencoba belajar sambil tetap melakukan beragam aktivitas menyenangkan seperti menari atau berolahraga.

6. Belajar dengan bersosialisasi.

Bergabung dan membaur dengan orang lain adalah cara terbaik mendapat informasi dan belajar secara cepat. Dengan berkumpul, kita bisa menyerap berbagai informasi terbaru secara cepat dan mudah memahaminya. Dan biasanya, informasi yang didapat dengan cara ini, akan lebih lama terekam dalam ingatan.

7. Belajar dengan Kesendirian.

Ada sebagian orang yang gemar melakukan segala sesuatunya, termasuk belajar dengan menyepi. Untuk mereka yang seperti ini, biasanya suka tempat yang tenang dan ruang yang terjaga privasinya. Jika Anda termasuk yang seperti ini, maka memiliki kamar pribadi akan sangat membantu Anda bisa belajar secara mandiri.

Sumber : Depdiknas.go.id

Si 2 Tahun Dibiasakan Sopan



Dalam menggunakan kata-kata sapaan yang sopan, si kecil perlu pembiasaan. Lebih penting lagi orang tua konsisten berperilaku santun karena merupakan role model bagi anak.

Orang tua senang jika buah hatinya berperilaku sopan pada orang yang ditemuinya. Tapi, bagaimana Della bisa bangga bila Tonny, putranya yang berusia 2,5 tahun, tiba-tiba menyapa “Oom gendut… Oom gendut” pada atasan Della ketika mereka hadir dalam family gathering kantor Della.

Orang tua punya tugas pengasuhan agar putra-putrinya berperilaku baik dan sopan. Tapi, apa sih arti bersikap sopan? Sikap sopan seperti apa yang perlu dikuasai si dua tahun?

Melihat orang dewasa

Bergaul dapat mulai diajarkan seiring berkembangnya kemampuan anak berkomunikasi. Menurut Dr. Karin Grossmann , psikolog perkembangan dari Regensburg, Jerman, begitu si kecil bisa berbicara, ia bisa belajar mengucapkan kata-kata sapaan seperti “selamat siang” atau “sampai jumpa”. Namun dalam menggunakan kata-kata tersebut, diperlukan pembiasaan. Tentu sulit bagi anak untuk menyapa orang lain, bila dalam keluarga Anda tidak ada kebiasaan tersebut.

Hingga usia tiga tahun, anak akan melihat dan meniru apa yang dilakukan orang-orang dewasa di sekitarnya. Mereka adalah role model bagi si kecil. Maka jangan harap anak Anda bisa sopan kalau Anda sendiri tak tahu bagaimana bersikap sopan pada orang lain.

Sebagian orang dewasa berperilaku sangat paradoks. Pada satu sisi berharap si kecil bersikap ramah, meski ia sendiri tidak berlaku demikian. Misalnya, Anda tak perlu kesal bisa seorang anak (bukan anak Anda) tidak menyapa Anda lebih dulu. Apa salahnya bila Anda yang menyapa lebih dulu?

Beri penjelasan

Pada usia kira-kira dua tahun, anak sudah bisa menangkap penjelasan Anda. Misalnya, mengapa harus makan menggunakan sendok dan garpu. Atau, tidak boleh mencecap lidah karena bisa mengganggu kenyamanan makan orang lain.

Bila ia menyakiti orang lain, misalnya mengambil barang milik orang lain tanpa meminta, Anda perlu mulai menerangkan dari perspektif orang lain. Katakan, bila teman anak bilang ingin meminjam mainan, apakah si kecil lebih senang dibanding jika si teman langsung mengambilnya tanpa meminta?

Anda bisa memanfaatkan acara bermain sebagai bagian anak belajar sopan santun. Misalnya, ketika bermain “memberi-menerima”. Ketika meminta, ajarkan si kecil mengucapkan “Boleh minta?” dan ketika menerima mengucapkan “Terima kasih”.

Agar anak lebih cepat dapat menangkap pelajaran sopan-santun, perlihatkanlah mimik wajah yang jelas. Seperti ketika mengatakan, “Halo! Apa kabar?” ucapkan dengan mata membesar dan suara yang lantang. Mimik semacam ini perlu dipelajari anak untuk mengungkapkan sopan santun, bukan sebagai riasan belaka, namun muncul dari dalam dirinya.

Eleonora Bergita

Mengasah Perkembangan Berpikir Si Balita

Agar si kecil bisa belajar bernalar sedini mungkin, rancanglah berbagai kegiatan baginya. Perhatikan dengan cermat tahapan perkembangan kognitifnya.

Apakah Anda seperti Jenny yang selalu kesal jika Adri, putranya, membuka-buka isi tas tangannya dan mengeluarkan semua benda di dalamnya?

Tapi, tunggu dulu. Tidakkah Anda ingin tahu mengapa si kecil melakukan itu? Jangan remehkan anak, meski masih kecil, pikirannya berproses.

Upaya si kecil mengasah kemampuan kognitifnya, bisa jadi, membuat Anda kesal karena rumah jadi berantakan atau Anda cemas karena ia mengutak-utik benda berbahaya. Tapi, tak perlu buru-buru melarang si kecil. Apa yang dilakukannya itu mengasah pikirannya, menjadikannya lebih pintar.

Belajar berpikir bersama orang sekitar

Begitu lahir anak melakukan interaksi dengan lingkungannya. Ketika ia menangis, ibu menghampiri untuk melihat apakah popoknya basah, dan kemudian menggantinya. Dari interaksi ini anak mulai paham bahwa ia dapat melakukan sesuatu untuk memperoleh yang diinginkannya.

Meski periode pacu tumbuh otak ( brain growth spurt ) anak dimulai sejak berusia 3 bulan dalam rahim ibu namun, setelah lahir, aktivitas berpikir ini merupakan proses sosial. Jadi anak belajar berpikir bersama orang-orang di sekitarnya.

Kemampuan kognitif adalah proses kegiatan akal budi untuk mengetahui sesuatu. Proses berpikir anak terjadi ketika ia gembira, ketika mengenali wajah ibu atau ayahnya, atau ketika ia bisa menuangkan apa yang dilihatnya dalam dunia nyata ke dalam gambar.
Yang jelas, dengan memahami cara manusia bernalar, Anda juga dapat merancang kegiatan apa yang sesuai bagi si kecil sesuai usianya ( Lihat boks: Tahap Perkembangan Logika Balita ).

Daya nalar berkembang

Pernahkah Anda melihat si satu tahun asyik meneliti mainan yang dipegangnya? Selama berapa lama ia seperti tak bisa lepas dari benda itu. Memang, sebuah proses berpikir tengah terjadi di benaknya.

Jean Piaget , [J1] pakar psikologi perkembangan dari Swiss, mengungkap bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungannya, sebagai berikut.

• Usia 0 – 4 bulan

Bayi memiliki gerak refleks. Dengan bertambahnya usianya dan perkembangan keterampilan fisik dan emosi-sosialnya, refleks perlahan digantikan gerak yang merupakan hasil dari proses berpikir anak. Gerakan ini semakin kompleks dari hari ke hari. Si kecil tahu ia melakukan sesuatu untuk tujuan tertentu. Ketika Anda memberikan puting susu, misalnya, ia membuka mulutnya sesuai ukuran puting.

• Usia 4 – 8 bulan

Bayi mulai memahami “sebab-akibat”. Ia, misalnya, akan tertawa-tawa senang ketika Anda menggodanya.

• Usia 8 – 12 bulan

Bayi mulai suka membuang-buang mainannya karena tahu Anda akan segera mengambilkannya. Ia sedang mengeksplorasi lingkungannya untuk mengetahui bagaimana benda yang dibuangnya bisa kembali kepadanya. Jika tak membahayakan, tak perlu melarang segala tingkahnya.

• Mulai usia 12 bulan

Sejak ulang tahunnya yang pertama, ia mulai bisa mengenali sebuah benda meski benda itu tak lagi ada di hadapannya.. Ia juga mulai mengenali benda yang tidak kongkret. Pada akhir tahap sensor motorik ini, keterampilan berbahasa si kecil mulai tampak. Ia bisa melakukan komunikasi. Dengan mengajaknya bercakap dan mengeksplorasi keterampilan bahasanya, anak semakin terampil menerima, menyimpan dan mengolah informasi yang diterimanya. Keterampilan ini merupakan aspek penting dalam berlogika
Rasa ingin tahu yang besar

Mulai umur dua tahun, perkembangan keterampilan motoriknya mendorong daya nalarnya berkembang lebih pesat lagi. Rasa ingin tahu akan dunia sekelilingnya meningkat. Dan, ia berusaha keras memenuhi keingintahuannya. Rangsang apa yang bisa Anda berikan?

* Beri anak rumah imajiner, yang terbuat dari dua kursi yang ditutupi

selimut. Ia bisa berjam-jam menghabiskan waktu untuk bermain dalam ‘rumah’nya itu.

* Mintalah kakak mengajak adik bermain boneka tangan bersama. Selain melatih imajinasi, keterampilan bahasa si kecil pun berkembang. Permainan pura-pura seperti ini membantu si kecil menarik benang merah antara dirinya dengan lingkungan sosial yang lebih luas. Di kemudian hari permainan ini membantu anak berani berpikir dengan perspektif berbeda.
Lewat pengalaman sehari-hari

Dunia sekitar masih menjadi objek eksplorasi yang sangat kaya bagi anak. Apa yang bisa Anda lakukan bersamanya?

* Tumbuhan, batu, binatang, angin atau udara bisa menjadi materi belajar yang mengasyikkan baginya. Ajaklah si kecil ke kebun di depan. Tunjukkan padanya bagaimana tumbuhan bertumbuh, terus berkembang hingga akhirnya berbunga dan berbuah. Mengenal proses hidup tumbuhan merangsang daya nalar anak akan siklus kehidupan dan membuatnya menghargai kehidupannya sendiri.

* Anak juga bisa belajar dari air. Ia dapat mengambil air dengan gelas lalu menuangnya ke gelas lain. Melalui kegiatan ini ia bisa paham bahwa bentuk air akan berubah bila diletakkan di sebuah bentuk yang berbeda. Ajaklah ia berdiskusi tentang hal itu.

* Bermusik juga bisa mengasah daya nalar anak. Lihat bagaimana ia menggerakkan tangan dan kakinya mengikuti irama. Dari sini dapat kita lihat bahwa pesan yang disampaikan telinganya diolah oleh pikirannya untuk kemudian menentukan gerakan mana yang sesuai dengan musik yang sedang terdengar. Ini adalah sebuah proses bernalar yang rumit.

* Kenalkan si kecil pada konsep matematika melalui berhitung. Ia senang bila berhasil membuat kategori. Ajaklah anak membuat pola, misalnya mengelompokkan piring dengan piring, gelas dengan gelas, atau membuat pengelompokan berdasarkan warna.

* D i usia lima tahun, ia bisa menggunakan bahasa bilangan, seperti mengenal konsep angka dengan menghitung jumlah barang yang ada di depannya. Ajaklah si kecil bermain tebakan dengan menggunakan konsep bilangan yang mulai dikuasainya itu. Ajaklah ia menyusun potongan-potongan puzzle menjadi sebuah bentuk sederhana. Kegiatan yang mengasah keterampilan kognitif ini memberinya rasa percaya diri jika ia berhasil menyelesaikannya.

Melihat begitu pesatnya perkembangan berpikir si kecil, Anda patut berbangga. Kebahagiaan Anda menemani si kecil menjalani masa emas periode tumbuh kembangnya mengantar si kecil bak ulat yang menjadi kupu-kupu untuk terbang ke angkasa!

Eleonora Bergita

Pendidikan Seks Anak, Ungkapkan dengan Cara Sederhana

MEMBAHAS masalah seks pada anak memang tidak mudah. Alasan tabu harus disingkirkan jauh-jauh. Namun, mengajarkan pendidikan seks pada anak harus diberikan agar mereka tidak salah mendapatkan informasi.

Pendidikan seks tidak hanya terbatas pada pemahaman organ seksual beserta fungsinya. Pendidikan seks didefinisikan sebagai pendidikan mengenai anatomi organ tubuh yang dapat dilanjutkan pada reproduksi seksual dan peran yang harus dijalankan.

Dengan mengajarkan pendidikan seks sedini mungkin, menghindarkan anak dari risiko negatif perilaku seksual. Karena dengan sendirinya, anak akan tahu mengenai seksualitas dan akibat- akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama, dan adat istiadat, serta kesiapan mental dan material seseorang.

Ada penekanan makna yang lebih luas sebagai individu perempuan maupun laki-laki, yakni seorang perempuan bisa menghargai keperempuanannya. Sementara, seorang pria dapat menghargai kelaki-lakiannya sehingga masing-masing menghargai lawan jenisnya.

Pendidikan seks sudah bisa dimulai saat anak masih bayi, bahkan sejak dalam kandungan. Limpahan kasih sayang akan membuat bayi merasa nyaman. Tak hanya secara emosional, juga fisik, yaitu rasa nyaman dengan tubuhnya. Rasa nyaman pada tubuh ini sudah menjadi bagian dan pendidikan seksualitas.

Sedini mungkin, anak sudah mulai dikenalkan mengenai perbedaan jenis kelamin berikut anggota-anggota tubuh. "Supaya kelak anak tidak shock dan mengalami gagap sosial. Dalam artian, tidak mengerti keadaan dirinya dan orang lain," kata psikolog dari RS St Elisabeth, Semarang, Probowatie Tjondronegoro.

Berbarengan dengan hal tersebut, anak juga diajari dengan kesopanan dan norma- norma yang ada. Sebagai contoh, orangtua meminta anak menggunakan handuk saat keluar dari kamar mandi, lalu mengenakan pakaian di dalam kamar. Bisa juga langsung memakai baju di kamar mandi. Dengan memulai dari hal-hal sederhana, kelak saat beranjak dewasa, anak memahami bahwa ada hal-hal yang bersifat pribadi yang seharusnya tidak dipertontonkan di depan orang lain.

Contoh lain, orangtua dapat pula mengajari anakanak membersihkan alat kelaminnya sendiri. Mengajari anak untuk membersihkan alat genitalnya dengan benar setelah buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB) agar anak dapat mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Pendidikan ini pun secara tidak langsung dapat mengajari anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan alat kelaminnya. Masih ada contoh lagi, Probo menyebutkan, saat anak hendak pipis dan memelorotkan celananya sebelum masuk kamar mandi, orangtua bisa mencegahnya. Ajarkan anak untuk membuka celana di dalam kamar mandi kalau mau pipis.

Melalui pembelajaran pendidikan seks sedini mungkin diharapkan ada konsep diri positif. Dengan begitu anak berupaya menjaga dan menghargai diri dan lawan jenisnya. Pendidikan seks juga harus mengenalkan perbedaan lawan jenis. Anak perempuan perlu tahu apa yang terjadi pada anak laki-laki, seperti perubahan fisik, emosional, dan lain-lain. Begitu juga anak laki-laki mengetahui hal-hal yang terjadi pada anak perempuan, seperti soal menstruasi.

Cara menyampaikan pendidikan seksual itu pun tidak boleh terlalu vulgar karena justru akan berdampak negatif pada anak. Nama alat kelamin anak hendaknya disebutkan sesuai nama ilmiahnya. "Sebutkan saja bahasa latinnya vagina untuk alat kelamin perempuan dan penis untuk kelamin laki-laki. Jika anak-anak sudah mulai dikenalkan sejak kecil saat beranjak remaja, nama-nama itu tidak menjadi bahan tertawaan karena tidak tahu," saran wanita ayu ini.
(sindo//tty)