Lakukan penanaman di rumah, latihannya di sekolah.
Kualitas watak saat kecil akan mewarnai watak seseorang di kemudian hari. Anak yang dibesarkan dalam suasana yang curiga-mencurigai, misal, ketika dewasa akan mengalami kesulitan untuk memercayai orang lain. Contoh lain, bila pada masa kecilnya sering dipukuli, besar kemungkinan setelah dewasa akan menjadi pendendam. Demikian pula bila sering diejek, bisa-bisa kelak akan sulit menghargai prestasi orang lain.
Itulah mengapa, kepekaan sosial penting ditanamkan semenjak kecil pada anak, agar kelak ia menjadi manusia dewasa yang peka dengan lingkungan sekitarnya. Adapun yang bertanggung jawab untuk menumbuhkan kepekaan sosial pada anak adalah orangtua. Namun bukan berarti orangtua semata penentunya, karena lingkungan juga turut memberikan andil. Sebab, tingkah laku seseorang juga ditentukan oleh pengaruh-pengaruh dari luar.
Ada beragam kepekaan sosial yang penting ditanamkam semenjak dini, yang pada intinya bertujuan mengembangkan sikap empati kepada orang lain. Di antaranya berbagi dengan orang lain, berani meminta maaf bila melakukan kesalahan, bersedia membantu orang yang membutuhkan, dan kepekaan terhadap kemampuan fisik agar tidak melakukan tindakan yang menyakiti orang lain (umpama, main tarik temannya untuk bermain padahal badannya lebih besar, otomatis tenaganya lebih besar sehingga bisa menyakiti temannya), bertanggung jawab, menghargai orang lain, dan masih banyak lagi.
PERAN SEKOLAH
Sekolah dapat menjadi ajang latihan kepekaan karena waktu anak berada di sekolah cukup lama, kurang lebih 2-3 jam. Tambahan lagi sistem belajar yang diterapkan saat ini adalah kolaborasi; anak duduk berke-lompok sehingga "memaksa"nya untuk mau berbagi dengan teman. Misal, ada sekotak pensil warna untuk kelompok itu, otomatis anak harus bersedia berbagi dengan teman dalam kelompoknya itu.
Keuntungan lainnya, jumlah teman di sekolah lebih banyak sehingga akan mendapatkan lebih banyak kemungkinan menemui beragam karakter dan peristiwa. Umpama, anak dapat belajar untuk menunda keinginan karena hanya ada 1 ayunan, sehingga harus antre dan bergantian dengan teman yang lain. Atau, berbagi makanan bila ada teman yang tidak membawa bekal, dan lain-lain. Semua kegiatan itu adalah mengasah kepekaan terhadap kebutuhan orang lain.
Sayangnya, terkadang jumlah guru yang terbatas dalam satu kelas menjadikan guru kurang mampu untuk mengamati secara saksama perkembangan setiap anak. Sehingga tak dapat mengetahui secara mendalam pelaksanaan kepekaan sosial saat anak bersosialisasi dengan teman di kelasnya.
2 MANFAAT
Dengan menanamkan kepekaan sosial sejak dini, ada 2 manfaat besar yang akan diraih si prasekolah, yaitu:
1. Menyadari akan kehadiran orang lain.
Dengan menyadari adanya kehadiran orang lain, dapat mengingatkan kepada si prasekolah agar tidak egois sehingga ia mau berbagi dengan temannya, saling tolong, saling bantu, dan lain-lain.
2. Membentuk keterampilan bersosialisasi.
Si prasekolah dapat mempelajari aturan dalam bersosialisasi sehingga kelak akan lebih berani dalam memasuki lingkungan baru. Selain juga dapat membentuk rasa percaya dirinya.
5 HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN
Agar penanaman nilai-nilai sosial dapat membuahkan hasil yang optimal, ada beberapa hal yang penting diperhatikan orangtua, yaitu:
1. Nilai-nilai yang ditanamkan harus jelas dan konsisten.
Maksudnya, bila anak diajarkan untuk berbagi, tanamkan pula bahwa berbagi itu baik tapi bukan berarti mengalah dan malah tidak mendapatkan yang menjadi haknya. Selain itu, orangtua juga harus konsisten. Umpama, ada 1 ekor ikan untuk makan malam, sedangkan anggota keluarga itu ada 5, maka ikan itu tetap harus dibagi 5 walaupun ayah belum tiba di rumah dari kantornya.
2. Orangtua menjadi contoh.
Anak meniru dari orangtuanya, jadi orangtua patut menjaga perilaku dan sikapnya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, orang dewasa kadang ingin memudahkan dan bersikap sekehendak hatinya, padahal tanpa disadari ada anak-anak di sekitarnya yang melihat.
3. Menerapkan konsekuensi.
Untuk memacu anak, tak ada salahnya memberikan penghargaan, dapat berupa pelukan atau pujian, tak harus berupa hadiah. Sebaliknya, bila melanggar dapat diberikan sanksi, semisal dengan melarang melakukan sesuatu yang disenangi si prasekolah. Tidak diizinkan menonton televisi selama 2 hari, umpamanya.
4. Menyadari adanya faktor gagal.
Orangtua hendaknya harus menyadari bahwa kemampuan anak berbeda-beda. Karenanya bila anak mengalami kegagalan, orangtua harus menerima. Jadi, jangan berharap bakal terus-menerus sukses selama proses belajar.
5. Tularkan kepada keluarga lain.
Bila setiap keluarga telah memiliki pemahaman yang sama tentang kepekaan sosial yang wajib diberikan kepada anak, niscaya akan memudahkan pada saat anak belajar. Saat bermain bersama, berarti nilai-nilai kepekaan yang ditanamkan pun sama.
BERI KESEMPATAN BERSOSIALISASI
Untuk menanamkan kepekaan sosial, orangtua tak bisa hanya sekadar melalui kegiatan membacakan dongeng atau berbicara dari hati ke hati dengan anak. Bila hanya melalui dongeng, maka cuma sekadar menambah pengetahuan atau meningkatkan kemampuan kognitif si prasekolah. Sementara dari kognitif sampai kepada perilaku, membutuhkan waktu yang panjang. Contoh, tidak mau berbagi adalah sikap yang tidak baik. Anak hanya mengetahui itu, tapi ia tidak tergerak untuk melakukannya saat bersosialisasi. Ia pun tidak memahami, bila tidak mau berbagi, bisa-bisa ada temannya yang tidak mau lagi bermain dengannya atau malah dipukul oleh temannya.
Karena itu, cara yang paling tepat adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk bersosialisasi. Melalui sosialisasi dengan teman di lingkungan rumah, si prasekolah lebih kaya akan pengalaman. Hasilnya akan berbeda bila ia hanya bersosialisasi dengan anggota keluarga di lingkungan rumah saja, karena di masa kini anggota sebuah keluarga tidaklah terlalu banyak. Umumnya hanya 2 anak dengan orangtuanya, sehingga tak banyak tantangan atau pengalaman baru yang akan diperoleh.
Cara lain yang dapat diterapkan adalah melalui kegiatan sehari-hari. Libatkan anak dalam berbagai aktivitas sehari-hari di rumah. Kemudian, berikan penjelasan yang mudah dipahami dengan bahasa sederhana, mengapa ia diminta melakukan itu. Misal, untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab, libatkan anak dalam kegiatan sehari-hari. Contoh, membersihkan kamar. Beri kepercayaan kepada anak untuk membersihkan sendiri kamarnya. Jika anak berhasil melakukan tugasnya dengan baik, berikan penghargaan. Sikap memberikan penghargaan ini akan menumbuhkan kepekaan menghargai sesama di kemudian hari.
Begitu juga ketika anak bertanya sesuatu, orangtua harus menanggapinya dengan serius agar sikap kritis dan kepekaan bisa berkembang secara wajar. Memahami alasan-alasan dan sebab dari perbuatan seseorang akan memupuk kepekaan watak sabar. Orangtua hendaknya juga jangan terlalu memanjakan anak, akibatnya ia tak akan peka dengan kebutuhan dan hak orang lain. Bisa-bisa ia menjadi egois.
ORANGTUA MENDAMPINGI
Tentunya, anak butuh pendampingan saat bersosialisasi, sehingga orangtua atau si pendamping dapat langsung menyampaikan tentang nilai-nilai kepekaan yang diperoleh pada saat itu. Pasalnya, anak lebih mudah mengingat dan memahami bila diberitahukan pada saat kejadian berlangsung. Karenanya, penting adanya kesamaan pemahaman tentang nilai-nilai kepekaan yang akan ditanamkan kepada anak antara orangtua dan pengasuh. Terutama untuk orangtua yang tidak mampu mendampingi anaknya bersosialisasi, sehingga si pengasuh tidak sekadar asal menemani anak bermain.
Lagi pula, dengan mendampingi anak bersosialisasi, maka si pendamping dapat memanfaatkan peristiwa atau kejadian saat itu sebagai referensi dalam menanamkan nilai-nilai kepekaan. Umpama, Ati jatuh karena didorong temannya. Ia merasa kesakitan. Peristiwa itu dapat dijadikan sebagai acuan untuk memberikan penjelasan bahwa asal mendorong teman dapat menyebabkan temannya kesakitan.
Mengubah KEBIASAAN Tak PERLU
Hanya dengan 5 langkah, si kecil pun siap berubah!
"Ma, kok lewat sini sih? Biasanya, kan, lewat jalan yang ada patung kudanya," protes Indra. Memang, setiap berangkat ke sekolah dia selalu menempuh jalan pintas melewati taman yang dihiasi patung kuda. Namun karena jalan tersebut sedang rusak, Mama harus melewati jalan memutar. Tak tahunya Indra protes karena dia sudah terbiasa melewati jalur yang lama. "Aku tidak mau lewat sini, aku mau lewat jalan yang ada patung kudanya," Indra bersikukuh. Terpaksa, Mama pun berbalik arah dan kembali melalui jalan sebelumnya.
Pernah enggak, diprotes anak karena ia tidak mau mengubah kebiasaan? Bukan hanya soal rute berangkat dan pulang "sekolah" yang biasa dilaluinya setiap hari, tetapi juga kebiasaan-kebiasaan lain semisal bangun telat, tidur agak malam, setiap minggu main ke rumah kakek-nenek, harus keliling kompleks dengan kendaraan sebelum kita berangkat ke kantor, dan sebagainya. Karena sudah menjadi kebiasaan, anak akan protes jika kita mengubahnya sedikit saja.
Akan tetapi, benarkah kebiasaan-kebiasaan pada anak sulit diubah? "Ah, enggak juga, kok!" jawab Anna Surti Ariani, Psi., dari Medicare Klinik Jakarta. Hanya saja, kita harus tahu cara mengubahnya. "Kita harus tahu lebih dahulu, kenapa anak berperilaku seperti itu," tambah Nina, sapaan akrab psikolog ini.
Menurutnya, anak usia prasekolah mulai susah diubah dikarenakan ia sudah bisa memilih kemauannya, bisa berinteraksi lebih baik, juga dapat mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan cara mengambek, marah, rewel, bahkan tantrum. Protes lewat pengungkapan emosi yang berlebihan inilah yang akhirnya membuat kita menganggap anak sulit sekali diubah dari kebiasaannya; berbeda sedikit saja dia langsung marah, ngambek, teriak, dan sebagainya. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Dengan "sentuhan" yang tepat, si kecil mau kok mengubah kebiasaannya itu.
5 LANGKAH Efektif
1. Beri Penjelasan
Memberikan penjelasan sangat diperlukan untuk mengubah kebiasaan anak. Hal ini harus dilakukan sebelum, sesaat, dan setelah perubahan itu dilakukan. Contoh, ketika kita ingin mengubah kebiasaan anak yang selalu minta keliling kompleks dengan kendaraan, kita harus memberinya penjelasan, "Adek, bagaimana kalau besok kamu main sepeda saja sama si Mbak, karena Mama takut terlambat ke kantor." Kemudian, waktunya tiba, kita beri penjelasan lagi, "Adek bersepedanya sama si Mbak saja ya!" Selanjutnya, setelah berangkat kerja, kita telepon si kecil dan arahkan dengan kata-kata bijak, "Wah, Adek hebat tadi, setuju tidak keliling kompleks, Mama jadi enggak terlambat nih." Penjelasan seperti ini pun bisa diberikan untuk mengubah kebiasaan anak yang lain.
2. Konsekuen
Bila kemudian anak protes karena dia harus mengubah kebiasaannya itu, kita tetap harus konsekuen. Jangan sampai, hari ini kita menolaknya bersepeda setelah magrib, tapi besoknya kita menyetujuinya atau malah mengajaknya. Jadi, kita harus konsekuen kalau memang ingin mengubah kebiasaannya itu. Atasi protesnya dengan penolakan halus, bukan dengan kata-kata kasar atau kalimat yang membuat anak merasa tersisihkan.
Begitu pun bila kita ingin mengubah kebiasaan-kebiasaan lainnya, semisal bangun tidur pagi terlalu siang. Kita harus mulai membangunkannya agak pagi, bisa dengan memindahkannya ke ruang teve dimana hanya ada matras dan lampu ruangan lebih terang sehingga secara perlahan anak akan terjaga. Lakukan secara konsekuen. Jangan malah sesekali lupa, membiarkan anak tidur hingga siang karena akan membuatnya kembali dengan kebiasaannya bangun tidur terlalu siang.
3. Berikan Penghargaan (reward)
Ketika anak mau mengubah kebiasaannya, mau pergi ke sekolah lewat jalan lain, bangun tidur lebih pagi, makan tidak diemut, dan sebagainya, jangan didiamkan begitu saja. Kita perlu memberinya penghargaan, bisa berupa pujian, belaian, atau hadiah stiker, kue kegemarannya, dan sebagainya. Pemberian reward haruslah yang wajar dan tidak berlebihan, agar ketika ingin melakukan sesuatu, anak memang berniat untuk memperbaiki perilakunya bukan karena ingin mendapatkan hadiah. Pasalnya, bila anak berlaku positif hanya karena ingin hadiah, hal ini tidak baik untuk perkembangan kepribadiannya. Setiap melakukan sesuatu dia selalu mengharapkan imbalan, misal.
4. Berikan Sanksi (Punishment)
Pemberian sanksi lebih ditujukan pada akibat yang akan diterima anak bila dia tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Bukan berupa hukuman yang memang benar-benar ingin dikenakan ke anak. Umpama, bila dia bangun tidur telat, maka akibatnya dia tidak bisa bermain sepeda ke taman, tidak bisa menikmati kue kesukaannya, dan sebagainya. Dengan adanya punishment ini diharapkan anak bisa bersemangat untuk memperbaiki kebiasaannya, "Wah, kalau bangun kesiangan aku tidak bisa bermain sepeda dengan Windi dong."
Hindari punishment yang bersifat menggurui atau merendahkan anak, semisal, "Makanya, kalau bangun pagi-pagi, biar rasa kalau enggak bisa main sepeda." Kita bisa ubah dengan kalimat yang lebih halus namun mengena di hati anak, "Adek kan kesiangan bangunnya, jadi enggak bisa main sepeda deh." Hal ini akan lebih dipahami anak karena bahasanya sederhana dan tidak menekankan amarah.(tabloid-nakita)
"Ma, kok lewat sini sih? Biasanya, kan, lewat jalan yang ada patung kudanya," protes Indra. Memang, setiap berangkat ke sekolah dia selalu menempuh jalan pintas melewati taman yang dihiasi patung kuda. Namun karena jalan tersebut sedang rusak, Mama harus melewati jalan memutar. Tak tahunya Indra protes karena dia sudah terbiasa melewati jalur yang lama. "Aku tidak mau lewat sini, aku mau lewat jalan yang ada patung kudanya," Indra bersikukuh. Terpaksa, Mama pun berbalik arah dan kembali melalui jalan sebelumnya.
Pernah enggak, diprotes anak karena ia tidak mau mengubah kebiasaan? Bukan hanya soal rute berangkat dan pulang "sekolah" yang biasa dilaluinya setiap hari, tetapi juga kebiasaan-kebiasaan lain semisal bangun telat, tidur agak malam, setiap minggu main ke rumah kakek-nenek, harus keliling kompleks dengan kendaraan sebelum kita berangkat ke kantor, dan sebagainya. Karena sudah menjadi kebiasaan, anak akan protes jika kita mengubahnya sedikit saja.
Akan tetapi, benarkah kebiasaan-kebiasaan pada anak sulit diubah? "Ah, enggak juga, kok!" jawab Anna Surti Ariani, Psi., dari Medicare Klinik Jakarta. Hanya saja, kita harus tahu cara mengubahnya. "Kita harus tahu lebih dahulu, kenapa anak berperilaku seperti itu," tambah Nina, sapaan akrab psikolog ini.
Menurutnya, anak usia prasekolah mulai susah diubah dikarenakan ia sudah bisa memilih kemauannya, bisa berinteraksi lebih baik, juga dapat mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan cara mengambek, marah, rewel, bahkan tantrum. Protes lewat pengungkapan emosi yang berlebihan inilah yang akhirnya membuat kita menganggap anak sulit sekali diubah dari kebiasaannya; berbeda sedikit saja dia langsung marah, ngambek, teriak, dan sebagainya. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Dengan "sentuhan" yang tepat, si kecil mau kok mengubah kebiasaannya itu.
5 LANGKAH Efektif
1. Beri Penjelasan
Memberikan penjelasan sangat diperlukan untuk mengubah kebiasaan anak. Hal ini harus dilakukan sebelum, sesaat, dan setelah perubahan itu dilakukan. Contoh, ketika kita ingin mengubah kebiasaan anak yang selalu minta keliling kompleks dengan kendaraan, kita harus memberinya penjelasan, "Adek, bagaimana kalau besok kamu main sepeda saja sama si Mbak, karena Mama takut terlambat ke kantor." Kemudian, waktunya tiba, kita beri penjelasan lagi, "Adek bersepedanya sama si Mbak saja ya!" Selanjutnya, setelah berangkat kerja, kita telepon si kecil dan arahkan dengan kata-kata bijak, "Wah, Adek hebat tadi, setuju tidak keliling kompleks, Mama jadi enggak terlambat nih." Penjelasan seperti ini pun bisa diberikan untuk mengubah kebiasaan anak yang lain.
2. Konsekuen
Bila kemudian anak protes karena dia harus mengubah kebiasaannya itu, kita tetap harus konsekuen. Jangan sampai, hari ini kita menolaknya bersepeda setelah magrib, tapi besoknya kita menyetujuinya atau malah mengajaknya. Jadi, kita harus konsekuen kalau memang ingin mengubah kebiasaannya itu. Atasi protesnya dengan penolakan halus, bukan dengan kata-kata kasar atau kalimat yang membuat anak merasa tersisihkan.
Begitu pun bila kita ingin mengubah kebiasaan-kebiasaan lainnya, semisal bangun tidur pagi terlalu siang. Kita harus mulai membangunkannya agak pagi, bisa dengan memindahkannya ke ruang teve dimana hanya ada matras dan lampu ruangan lebih terang sehingga secara perlahan anak akan terjaga. Lakukan secara konsekuen. Jangan malah sesekali lupa, membiarkan anak tidur hingga siang karena akan membuatnya kembali dengan kebiasaannya bangun tidur terlalu siang.
3. Berikan Penghargaan (reward)
Ketika anak mau mengubah kebiasaannya, mau pergi ke sekolah lewat jalan lain, bangun tidur lebih pagi, makan tidak diemut, dan sebagainya, jangan didiamkan begitu saja. Kita perlu memberinya penghargaan, bisa berupa pujian, belaian, atau hadiah stiker, kue kegemarannya, dan sebagainya. Pemberian reward haruslah yang wajar dan tidak berlebihan, agar ketika ingin melakukan sesuatu, anak memang berniat untuk memperbaiki perilakunya bukan karena ingin mendapatkan hadiah. Pasalnya, bila anak berlaku positif hanya karena ingin hadiah, hal ini tidak baik untuk perkembangan kepribadiannya. Setiap melakukan sesuatu dia selalu mengharapkan imbalan, misal.
4. Berikan Sanksi (Punishment)
Pemberian sanksi lebih ditujukan pada akibat yang akan diterima anak bila dia tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Bukan berupa hukuman yang memang benar-benar ingin dikenakan ke anak. Umpama, bila dia bangun tidur telat, maka akibatnya dia tidak bisa bermain sepeda ke taman, tidak bisa menikmati kue kesukaannya, dan sebagainya. Dengan adanya punishment ini diharapkan anak bisa bersemangat untuk memperbaiki kebiasaannya, "Wah, kalau bangun kesiangan aku tidak bisa bermain sepeda dengan Windi dong."
Hindari punishment yang bersifat menggurui atau merendahkan anak, semisal, "Makanya, kalau bangun pagi-pagi, biar rasa kalau enggak bisa main sepeda." Kita bisa ubah dengan kalimat yang lebih halus namun mengena di hati anak, "Adek kan kesiangan bangunnya, jadi enggak bisa main sepeda deh." Hal ini akan lebih dipahami anak karena bahasanya sederhana dan tidak menekankan amarah.(tabloid-nakita)
9 Ketrampilan sosial
Inilah bekal untuk menjalin hubungan yang seimbang dengan sebayanya.
Hubungan pertemanan yang seimbang dapat diperoleh jika anak memiliki rasa percaya diri dan bisa menghadapi berbagai masalah serta mencari solusinya. Keterampilan sosial juga membuatnya mudah diterima oleh anak lain karena mampu berperilaku sesuai harapan lingkungannya secara tepat.
Begitu pula, anak-anak yang diberi banyak kesempatan untuk bermain dan bergaul cenderung akan memiliki keterampilan sosial yang tinggi ketimbang anak yang sehari-harinya di rumah saja. Uniknya, semakin sering anak bergaul dan mempunyai pengalaman langsung dengan banyak situasi sosial, maka di usia sekolah IQ-nya akan bertambah 10-15 poin. Artinya, keterampilan sosial juga membantu perkembangan kognitif anak.
Nah, apa saja keterampilan sosial yang harus dimiliki seorang anak dan bagaimana cara menstimulasinya? Indri Savitri, M.Psi., dari Lembaga Psikologi Terapan UI memaparkannya berikut ini.
1. KENAL DIRI
Ini merupakan bagian dari kecerdasan diri/intrapersonal yang diperlukan anak untuk bisa menjalin hubungan sosial yang baik dengan orang lain. Kenal diri tak hanya sebatas mengenal identitas: siapa namanya, siapa nama orangtuanya, di mana tempat tinggalnya, apakah jenis kelaminnya—lelaki atau perempuan—dan identitas lainnya, tetapi juga mencakup apa kesukaannya, harapan dan keinginannya, maupun perilaku dirinya seperti apa dalam menghadapi lingkungan. Jadi, anak memiliki kesadaran akan dirinya sendiri (awareness).
Keterampilan kenal diri akan membantu anak untuk bisa memilih sendiri kegiatan yang ingin dilakukan, dengan teman/orang seperti apa dia akan bermain, serta bagaimana ia bisa bersikap menghadapi situasi sosial yang ditemuinya dan bisa mencari alternatif lain. Contoh, anak sudah mengenal identitas dirinya sebagai anak perempuan dan ia ingin bermain dengan teman perempuannya untuk bermain boneka. Ketika temannya tidak mau bermain, dia bisa melakukan alternatif lain dengan bermain peran bersama anak lainnya. Jadi, anak sudah tahu apa yang menjadi keinginan dirinya. Ia tidak bersikap marah pada temannya yang tidak mau main boneka dengannya.
STIMULASI:
Dapat diberikan sejak usia sebelumnya, sekitar 1 tahun. Sambil bermain orangtua pura-pura bertanya mengenai identitas anaknya, "Nama Adek siapa sih?" "Rumahnya di mana, ya?" "Nama ibunya siapa?" dan seterusnya. Seiring usia bertambah, orangtua juga memasukkan nilai-nilai mana yang boleh dan tidak, baik dan buruk pada si anak. Selain itu, bantu anak untuk menggali apa yang jadi kesukaan, keinginan dan harapannya, "Oh, Adek sukanya mobil-mobilan Batman ini ya." Kenalkan juga sikap dan perilaku seperti apa yang diharapkan dari anak, "Sayang, kalau bicara tak perlu sampai berteriak-teriak seperti itu. Adek kan, bisa bicara baik-baik." Lakukan lewat contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari. Semakin lama anak akan mengenal dirinya dengan lebih baik.
2. KENAL EMOSI
Pengenalan aneka emosi seharusnya sudah lebih baik lagi di usia prasekolah. Anak yang mengenal emosinya dengan baik akan belajar mengatur dan mengendalikan emosinya sehingga bisa bersikap dan berperilaku sesuai tuntutan lingkungan. Contoh, saat marah, si kecil bisa mengendalikan amarahnya dengan tidak memukul atau mengamuk, melainkan dengan mengungkapkannya baik-baik secara verbal. Bisa juga anak memberikan isyarat pada lingkungannya, semisal, "Jangan berisik dong, aku sedang pusing. Nanti aku bisa marah nih." Anak yang tak bisa mengendalikan emosinya dapat mengalami hambatan dalam menjalin hubungan sosial dengan orang lain. Ia bisa dijauhi teman-temannya lantaran sikapnya yang tidak disukai, selain juga bisa timbul konflik dalam berinteraksi.
STIMULASI:
Kenalkan anak pada beragam emosi yang ada dan dialaminya serta bahasa tubuh dirinya maupun orang lain. Ketika anak tampak senang, misalnya kenalkan emosi tersebut, “Wah, rupanya Adek lagi senang, ya. Apa sih yang membuat Adek senang sekali?” Atau, “Kok, wajahmu cemberut sih, lagi kesal, ya?” Bantu anak untuk mengungkapkan apa emosi yang dirasakannya. Bisa saja anak mengatakan, “Aku kesal karena robotku diambil Todi.”Ajarkan pula bagaimana anak mengungkapkan ekspresi emosinya dan harus bersikap. “Adek boleh marah sama Todi karena Todi telah mengambil robot Adek, tapi Adek tidak memukul ya. Bilang baik-baik sama Todi untuk mengembalikan robot Adek.”
3. EMPATI
Anak harus memiliki keterampilan untuk mengerti dan merasakan emosi orang lain serta mampu untuk merasakan dan membayangkan dirinya berada di posisi orang tersebut. Keterampilan sosial ini diperlukan dalam melakukan hubungan sosial untuk menumbuhkan rasa saling menghargai, menghindari dari kesalahpahaman, juga melatih kepedulian dan kepekaan sosial anak.
STIMULASI:
Caranya sama seperti dalam mengenalkan emosi pada anak. Orangtua pun perlu mencontohkan pada anak dalam kehidupan sehari-hari. Umpama, ketika anak sedang sedih, orangtua turut berempati dengan mengajaknya bicara, “Kenapa Adek bersedih seperti itu?” Mungkin anak menjawab, “Habis, kelinciku satu-satunya mati.” Orangtua menunjukkan empati dengan memahami perasaan anak. “Bunny, memang tidak ada lagi. Mama paham kamu sedih.” Contoh lain, ketika melihat si kecil kelelahan, orangtua bisa mengatakan, ”Aduh, capek sekali ya Adek tadi jalan di kebun binatang?”Di usia ini anak masih dalam tahap peniruan, sehingga semakin sering anak belajar dari contoh yang ada, keterampilan diri berempati semakin terasah. Mungkin akan tampak dari hal-hal sederhana, semisal ketika dia melihat ibunya capek sepulang kerja, mungkin dia akan bertanya, “Mama, capek, ya? Sini aku bantu pijitin.” Atau, ketika sedang bermain ada temannya yang diam saja atau menangis, si kecil akan peduli, “Kamu kenapa menangis?”
4. SIMPATI
Keterampilan untuk mengerti perasaan dan emosi orang lain ini, biasanya dipengaruhi oleh emosi iba atau belas kasihan dan ada suatu tindakan yang ingin dilakukan. Berbeda pada orang dewasa, semisal kalau ada teman yang dimarahi bos maka teman lainnya bersimpati dengan membelanya, maka pada anak ketika ada temannya diganggu oleh teman lainnya, dia menunjukkan simpatinya dengan memberitahukan hal itu kepada gurunya. Jadi, dengan memiliki simpati, anak dapat menghayati perasaan orang lain, memiliki kepekaan sosial yang tinggi, tak bersikap semena-mena pada orang lain, memunculkan sikap pemurah. Semua nilai ini amat dibutuhkan dalam menjalin hubungan sosial dengan orang lain.
STIMULASI:
Caranya dengan paparan (pengalaman secara langsung). Ketika sedang jalan-jalan dan bertemu anak jalanan di perempatan lampu merah, orangtua menjelaskan pada anaknya, “Itu lihat, Dek. Kasihan ya. Bajunya sudah jelek, dia cari uang untuk bisa makan. Coba, Adek kasih nih uang recehan lima ratus.” Atau lewat pemberitaan di media mengenai orang kelaparan dan orang yang tak beruntung lainnya.
5. BERBAGI
Keterampilan sosial ini diperlukan anak untuk memperoleh persetujuan sosial dengan membagi apa yang jadi miliknya. Anak dituntut untuk merasakan kebersamaan dengan berbagi kepunyaannya. Keterampilan sosial ini mengajarkan pada anak untuk tidak mementingkan dirinya sendiri, bisa menghargai milik dirinya maupun orang lain, juga menimbulkan sifat pemurah.
STIMULASI:
Caranya, ajarkan berbagi secara konkret dalam kehidupan sehari-hari. Contoh, ketika anak berebut kue dengan adiknya, ajarkan bagaimana anak harus berbagi dengan saudaranya. Ketika anak bermain bersama temannya dan terjadi rebutan mainan, ajari anak untuk berbagi mainan dengan cara bergiliran memainkannya.
6. NEGOSIASI
Di usia ini anak masih negativistik sehingga perlu diajarkan keterampilan bernegosiasi agar ia bisa mengungkapkan pendapat dan keinginannya dengan cara yang diterima, serta membantu anak menyelesaikan masalah yang dihadapi, dan bagaimana anak bersikap dalam menghadapi berbagai situasi sosial yang ada dan mungkin tak menyenangkan. Selain juga dapat menghindari timbulnya konflik. Biasanya sekitar usia 5 tahunan anak sudah percaya diri untuk melakukan negosiasi.
STIMULASI:
Caranya, jalinlah komunikasi yang baik dengan anak dalam kehidupan sehari-hari, serta contoh konkret yang dilakukan. Ajari anak untuk selalu mengungkapkan perasaan, keinginan, maupun pendapatnya. Orangtua hendaknya menjadi pendengar yang baik, mau mendengarkan apa yang diungkapkan anak. Misal, orangtua ingin anak merapikan mainannya tapi si anak tak juga melakukannya. Nah, tanyakan pada anak alasannya, lalu beri penjelasan, dan bantu anak membereskan mainannya secara bersama-sama. Begitu pun dalam situasi sosial di sekolah. Umpama, anak diejek oleh temannya. Nah, ajari anak untuk tidak lari menghindar dengan menangis, tetapi ungkapkan rasa tidak suka yang diterima dari perlakuan temannya dan utarakan apa yang dia harapkan dari temannya.
7. MENOLONG
Keterampilan sosial ini terkait dengan keterampilan sosial lain seperti simpati dan empati. Menolong menumbuhkan kesadaran diri pada anak untuk membantu orang lain, dapat mengembangkan sikap kepedulian sosial anak sehingga anak pun bisa diterima dalam lingkungan kelompok pertemanan maupun lingkungan sosial lain yang lebih luas.
STIMULASI:
Lakukan dengan contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya bagi anak usia ini diberikan tugas yang sesuai usianya. Contoh, orangtua mengajari anak membantu adiknya yang terjatuh untuk kembali berdiri, menolong ibu dengan membantu membereskan mainannya setiap usai bermain, dan sebagainya.
8. KERJA SAMA
Di usia ini anak sudah bermain secara berkelompok dan bersama-sama. Keterampilan bekerja sama dibutuhkan untuk anak belajar saling menghargai dan menghormati, tidak mementingkan diri sendiri, merasakan kebersamaan dengan lingkungan sosialnya.
STIMULASI:
Dapat dilakukan di rumah maupun saat anak bermain dengan teman-temannya. Anak diajarkan untuk bersikap kooperatif dalam menyelesaikan suatu tugas, semisal mewarnai gambar bersama.
9. BERSAING
Keterampilan untuk mengungguli dan mengalahkan anak lain ini, akan membantu anak untuk mengetahui kelemahan maupun kelebihan dirinya, bersikap fleksibel dalam menghadapi tantangan, kemenangan maupun kekalahan yang akan ditemui nantinya dalam kehidupan sosial.
STIMULASI:
Lakukan sambil bermain. Umpama, bermain sepeda sambil dilombakan dengan teman-temannya untuk mengukur mana yang jadi kekuatan maupun kelemahan anak. Bisa juga lewat permainan benteng dimana ada yang menang dan kalah. Ajarkan pula bagaimana anak menerima kekalahan maupun kemenangan, dengan relaks. "Adek memang kalah dalam main sepeda dengan Todi, tapi Adek hebat dalam berlari. Kalau Adek giat berlatih sepeda, Adek juga nanti bisa hebat seperti Todi."(tabloid-nakita)
Hubungan pertemanan yang seimbang dapat diperoleh jika anak memiliki rasa percaya diri dan bisa menghadapi berbagai masalah serta mencari solusinya. Keterampilan sosial juga membuatnya mudah diterima oleh anak lain karena mampu berperilaku sesuai harapan lingkungannya secara tepat.
Begitu pula, anak-anak yang diberi banyak kesempatan untuk bermain dan bergaul cenderung akan memiliki keterampilan sosial yang tinggi ketimbang anak yang sehari-harinya di rumah saja. Uniknya, semakin sering anak bergaul dan mempunyai pengalaman langsung dengan banyak situasi sosial, maka di usia sekolah IQ-nya akan bertambah 10-15 poin. Artinya, keterampilan sosial juga membantu perkembangan kognitif anak.
Nah, apa saja keterampilan sosial yang harus dimiliki seorang anak dan bagaimana cara menstimulasinya? Indri Savitri, M.Psi., dari Lembaga Psikologi Terapan UI memaparkannya berikut ini.
1. KENAL DIRI
Ini merupakan bagian dari kecerdasan diri/intrapersonal yang diperlukan anak untuk bisa menjalin hubungan sosial yang baik dengan orang lain. Kenal diri tak hanya sebatas mengenal identitas: siapa namanya, siapa nama orangtuanya, di mana tempat tinggalnya, apakah jenis kelaminnya—lelaki atau perempuan—dan identitas lainnya, tetapi juga mencakup apa kesukaannya, harapan dan keinginannya, maupun perilaku dirinya seperti apa dalam menghadapi lingkungan. Jadi, anak memiliki kesadaran akan dirinya sendiri (awareness).
Keterampilan kenal diri akan membantu anak untuk bisa memilih sendiri kegiatan yang ingin dilakukan, dengan teman/orang seperti apa dia akan bermain, serta bagaimana ia bisa bersikap menghadapi situasi sosial yang ditemuinya dan bisa mencari alternatif lain. Contoh, anak sudah mengenal identitas dirinya sebagai anak perempuan dan ia ingin bermain dengan teman perempuannya untuk bermain boneka. Ketika temannya tidak mau bermain, dia bisa melakukan alternatif lain dengan bermain peran bersama anak lainnya. Jadi, anak sudah tahu apa yang menjadi keinginan dirinya. Ia tidak bersikap marah pada temannya yang tidak mau main boneka dengannya.
STIMULASI:
Dapat diberikan sejak usia sebelumnya, sekitar 1 tahun. Sambil bermain orangtua pura-pura bertanya mengenai identitas anaknya, "Nama Adek siapa sih?" "Rumahnya di mana, ya?" "Nama ibunya siapa?" dan seterusnya. Seiring usia bertambah, orangtua juga memasukkan nilai-nilai mana yang boleh dan tidak, baik dan buruk pada si anak. Selain itu, bantu anak untuk menggali apa yang jadi kesukaan, keinginan dan harapannya, "Oh, Adek sukanya mobil-mobilan Batman ini ya." Kenalkan juga sikap dan perilaku seperti apa yang diharapkan dari anak, "Sayang, kalau bicara tak perlu sampai berteriak-teriak seperti itu. Adek kan, bisa bicara baik-baik." Lakukan lewat contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari. Semakin lama anak akan mengenal dirinya dengan lebih baik.
2. KENAL EMOSI
Pengenalan aneka emosi seharusnya sudah lebih baik lagi di usia prasekolah. Anak yang mengenal emosinya dengan baik akan belajar mengatur dan mengendalikan emosinya sehingga bisa bersikap dan berperilaku sesuai tuntutan lingkungan. Contoh, saat marah, si kecil bisa mengendalikan amarahnya dengan tidak memukul atau mengamuk, melainkan dengan mengungkapkannya baik-baik secara verbal. Bisa juga anak memberikan isyarat pada lingkungannya, semisal, "Jangan berisik dong, aku sedang pusing. Nanti aku bisa marah nih." Anak yang tak bisa mengendalikan emosinya dapat mengalami hambatan dalam menjalin hubungan sosial dengan orang lain. Ia bisa dijauhi teman-temannya lantaran sikapnya yang tidak disukai, selain juga bisa timbul konflik dalam berinteraksi.
STIMULASI:
Kenalkan anak pada beragam emosi yang ada dan dialaminya serta bahasa tubuh dirinya maupun orang lain. Ketika anak tampak senang, misalnya kenalkan emosi tersebut, “Wah, rupanya Adek lagi senang, ya. Apa sih yang membuat Adek senang sekali?” Atau, “Kok, wajahmu cemberut sih, lagi kesal, ya?” Bantu anak untuk mengungkapkan apa emosi yang dirasakannya. Bisa saja anak mengatakan, “Aku kesal karena robotku diambil Todi.”Ajarkan pula bagaimana anak mengungkapkan ekspresi emosinya dan harus bersikap. “Adek boleh marah sama Todi karena Todi telah mengambil robot Adek, tapi Adek tidak memukul ya. Bilang baik-baik sama Todi untuk mengembalikan robot Adek.”
3. EMPATI
Anak harus memiliki keterampilan untuk mengerti dan merasakan emosi orang lain serta mampu untuk merasakan dan membayangkan dirinya berada di posisi orang tersebut. Keterampilan sosial ini diperlukan dalam melakukan hubungan sosial untuk menumbuhkan rasa saling menghargai, menghindari dari kesalahpahaman, juga melatih kepedulian dan kepekaan sosial anak.
STIMULASI:
Caranya sama seperti dalam mengenalkan emosi pada anak. Orangtua pun perlu mencontohkan pada anak dalam kehidupan sehari-hari. Umpama, ketika anak sedang sedih, orangtua turut berempati dengan mengajaknya bicara, “Kenapa Adek bersedih seperti itu?” Mungkin anak menjawab, “Habis, kelinciku satu-satunya mati.” Orangtua menunjukkan empati dengan memahami perasaan anak. “Bunny, memang tidak ada lagi. Mama paham kamu sedih.” Contoh lain, ketika melihat si kecil kelelahan, orangtua bisa mengatakan, ”Aduh, capek sekali ya Adek tadi jalan di kebun binatang?”Di usia ini anak masih dalam tahap peniruan, sehingga semakin sering anak belajar dari contoh yang ada, keterampilan diri berempati semakin terasah. Mungkin akan tampak dari hal-hal sederhana, semisal ketika dia melihat ibunya capek sepulang kerja, mungkin dia akan bertanya, “Mama, capek, ya? Sini aku bantu pijitin.” Atau, ketika sedang bermain ada temannya yang diam saja atau menangis, si kecil akan peduli, “Kamu kenapa menangis?”
4. SIMPATI
Keterampilan untuk mengerti perasaan dan emosi orang lain ini, biasanya dipengaruhi oleh emosi iba atau belas kasihan dan ada suatu tindakan yang ingin dilakukan. Berbeda pada orang dewasa, semisal kalau ada teman yang dimarahi bos maka teman lainnya bersimpati dengan membelanya, maka pada anak ketika ada temannya diganggu oleh teman lainnya, dia menunjukkan simpatinya dengan memberitahukan hal itu kepada gurunya. Jadi, dengan memiliki simpati, anak dapat menghayati perasaan orang lain, memiliki kepekaan sosial yang tinggi, tak bersikap semena-mena pada orang lain, memunculkan sikap pemurah. Semua nilai ini amat dibutuhkan dalam menjalin hubungan sosial dengan orang lain.
STIMULASI:
Caranya dengan paparan (pengalaman secara langsung). Ketika sedang jalan-jalan dan bertemu anak jalanan di perempatan lampu merah, orangtua menjelaskan pada anaknya, “Itu lihat, Dek. Kasihan ya. Bajunya sudah jelek, dia cari uang untuk bisa makan. Coba, Adek kasih nih uang recehan lima ratus.” Atau lewat pemberitaan di media mengenai orang kelaparan dan orang yang tak beruntung lainnya.
5. BERBAGI
Keterampilan sosial ini diperlukan anak untuk memperoleh persetujuan sosial dengan membagi apa yang jadi miliknya. Anak dituntut untuk merasakan kebersamaan dengan berbagi kepunyaannya. Keterampilan sosial ini mengajarkan pada anak untuk tidak mementingkan dirinya sendiri, bisa menghargai milik dirinya maupun orang lain, juga menimbulkan sifat pemurah.
STIMULASI:
Caranya, ajarkan berbagi secara konkret dalam kehidupan sehari-hari. Contoh, ketika anak berebut kue dengan adiknya, ajarkan bagaimana anak harus berbagi dengan saudaranya. Ketika anak bermain bersama temannya dan terjadi rebutan mainan, ajari anak untuk berbagi mainan dengan cara bergiliran memainkannya.
6. NEGOSIASI
Di usia ini anak masih negativistik sehingga perlu diajarkan keterampilan bernegosiasi agar ia bisa mengungkapkan pendapat dan keinginannya dengan cara yang diterima, serta membantu anak menyelesaikan masalah yang dihadapi, dan bagaimana anak bersikap dalam menghadapi berbagai situasi sosial yang ada dan mungkin tak menyenangkan. Selain juga dapat menghindari timbulnya konflik. Biasanya sekitar usia 5 tahunan anak sudah percaya diri untuk melakukan negosiasi.
STIMULASI:
Caranya, jalinlah komunikasi yang baik dengan anak dalam kehidupan sehari-hari, serta contoh konkret yang dilakukan. Ajari anak untuk selalu mengungkapkan perasaan, keinginan, maupun pendapatnya. Orangtua hendaknya menjadi pendengar yang baik, mau mendengarkan apa yang diungkapkan anak. Misal, orangtua ingin anak merapikan mainannya tapi si anak tak juga melakukannya. Nah, tanyakan pada anak alasannya, lalu beri penjelasan, dan bantu anak membereskan mainannya secara bersama-sama. Begitu pun dalam situasi sosial di sekolah. Umpama, anak diejek oleh temannya. Nah, ajari anak untuk tidak lari menghindar dengan menangis, tetapi ungkapkan rasa tidak suka yang diterima dari perlakuan temannya dan utarakan apa yang dia harapkan dari temannya.
7. MENOLONG
Keterampilan sosial ini terkait dengan keterampilan sosial lain seperti simpati dan empati. Menolong menumbuhkan kesadaran diri pada anak untuk membantu orang lain, dapat mengembangkan sikap kepedulian sosial anak sehingga anak pun bisa diterima dalam lingkungan kelompok pertemanan maupun lingkungan sosial lain yang lebih luas.
STIMULASI:
Lakukan dengan contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya bagi anak usia ini diberikan tugas yang sesuai usianya. Contoh, orangtua mengajari anak membantu adiknya yang terjatuh untuk kembali berdiri, menolong ibu dengan membantu membereskan mainannya setiap usai bermain, dan sebagainya.
8. KERJA SAMA
Di usia ini anak sudah bermain secara berkelompok dan bersama-sama. Keterampilan bekerja sama dibutuhkan untuk anak belajar saling menghargai dan menghormati, tidak mementingkan diri sendiri, merasakan kebersamaan dengan lingkungan sosialnya.
STIMULASI:
Dapat dilakukan di rumah maupun saat anak bermain dengan teman-temannya. Anak diajarkan untuk bersikap kooperatif dalam menyelesaikan suatu tugas, semisal mewarnai gambar bersama.
9. BERSAING
Keterampilan untuk mengungguli dan mengalahkan anak lain ini, akan membantu anak untuk mengetahui kelemahan maupun kelebihan dirinya, bersikap fleksibel dalam menghadapi tantangan, kemenangan maupun kekalahan yang akan ditemui nantinya dalam kehidupan sosial.
STIMULASI:
Lakukan sambil bermain. Umpama, bermain sepeda sambil dilombakan dengan teman-temannya untuk mengukur mana yang jadi kekuatan maupun kelemahan anak. Bisa juga lewat permainan benteng dimana ada yang menang dan kalah. Ajarkan pula bagaimana anak menerima kekalahan maupun kemenangan, dengan relaks. "Adek memang kalah dalam main sepeda dengan Todi, tapi Adek hebat dalam berlari. Kalau Adek giat berlatih sepeda, Adek juga nanti bisa hebat seperti Todi."(tabloid-nakita)
Belajar berdoa
"Tuhan makasih, aku punya ayah dan ibu yang baik, yang mau beliin aku mainan."
Tuhan Maha Mendengar setiap hamba-Nya, tak peduli usia dan status sosialnya. Termasuk doa yang dipanjatkan seorang anak. Di usia prasekolah, anak-anak sudah dapat mengucapkan doa pendek, "Yaitu doa yang berhubungan dengan keseharian anak," kata Rahmi Dahnan, Psi. Bisa doa karena sedang merasa senang, doa bersyukur sebelum makan dan minum, doa keselamatan sebelum tidur dan berangkat sekolah, atau doa buat kebahagiaan orangtua.
NILAI EMPATI
Bila anak menanyakan tujuan berdoa, berikan penjelasan sederhana. Katakan, berdoa sebelum makan tiada lain sebagai wujud harapan dan rasa syukur kepada Tuhan atas makanan yang diberikan, "Kita berdoa sebelum makan supaya apa yang kita makan membuat tubuh sehat. Kalau enggak makan, kamu lemas dan enggak semangat bermain, bukan?" Bagaimana dengan berdoa sebelum berangkat sekolah? "Supaya Tuhan menjaga kita selama di perjalanan dan kita selalu diberi kehati-hatian." Memang, anak belum sepenuhnya memahami Tuhan, tapi lambat laun seiring dengan perkembangan kognitifnya, anak bisa memahaminya.
Tentu saja, anak bisa diajarkan berdoa untuk kesejahteraan orang lain. Dalam doa tersebut terkandung nilai-nilai empati. Saat kakek atau neneknya sakit, ajak anak menjenguk mereka dan berdoa untuk kesembuhan mereka. Dengan demikian, anak terbiasa peduli dengan apa yang dirasakan orang lain. Ini menjadi modal bagi kepekaan sosialnya. Ia bisa mendoakan temannya, bahkan anak-anak sebaya di jalanan yang nasibnya tak seberuntung dia.
Memang, beberapa agama sudah menetapkan doa tertentu untuk aktivitas tertentu. Pandulah dan bimbinglah sedikit demi sedikit. Pengulangan membuat informasi yang diterima tersimpan lama. Umumnya daya tangkap anak usia ini cukup baik, sehingga doa bisa dihafalnya dengan cepat, bak air yang diserap oleh spons. Pengenalan doa ini sangat baik untuk menumbuhkan rutinitas, "Inilah yang penting. Anak terbiasa berdoa sebelum melakukan sesuatu. Kebiasaan itu akan terus tumbuh hingga anak dewasa kelak."
Meskipun begitu, orangtua tetap harus menghargai doa-doa yang dibuat anak dengan kata-kata sendiri, sekalipun doa itu pendek dan sederhana. Seiring pertambahan usianya, dengan seringnya melihat orangtua berdoa, beberapa anak 5-6 tahun dapat merangkai doa sendiri. "Umumnya, anak usia sekolah dasar awal bisa merangkai doanya sendiri dengan lebih panjang dan bervariasi," ungkap psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati ini. Dengan menghargai doa yang dibuat anak, orangtua turut meningkatkan kepercayaan dirinya, sekaligus memberikan suntikan motivasi kepada anak untuk lebih giat berdoa.
Sarat MANFAAT
Menurut Rahmi, banyak manfaat yang didapat dengan mengajarkan doa kepada anak, di antaranya:
1. Mengasah Kecerdasan Spiritual
Kemampuan anak mengenal Tuhan dan hal abstrak lain masih terbatas, tapi bukan berarti kita tak dapat mengenalkan keagungan Tuhan kepada anak. Malah, jika sejak dini dikenalkan dengan kekuasaan Tuhan, setidaknya kita sudah menanamkan bibit spiritualitas pada anak. Selain untuk menyatakan rasa syukur, berdoa juga merupakan wujud ekspresi seorang manusia yang memiliki keterbatasan dan kelemahan. Dengan berdoa kita bersiap menerima kenyataan bahwa ada hal-hal di luar kekusaan kita dan bahwa di atas manusia ada yang Maha Kuat, Maha Besar, dan Maha Perkasa. Tuhanlah yang berkehendak terhadap segala sesuatu. Memang, makanan yang terhidang adalah hasil kerja keras kita, uang yang didapat dari bekerja selama berjam-jam. Tapi jika Tuhan berkehendak, kerja keras kita boleh jadi tak menghasilkan apa-apa. Dengan membiasakan berdoa sebelum makan, anak-anak belajar mensyukuri nikmat-Nya.
2. Menambah Kepercayaan Diri
Apa yang membuat anak lebih percaya diri selain bisa menyanyi dan menari? Berdoa juga bisa, karena anak bangga jika memiliki keterampilan baru. Terlebih, jika lingkungan merespons positif apa yang dikuasainya. Saat orang lain berdecak kagum karena anak berdoa sebelum makan, anak akan bangga dan kepercayaan dirinya semakin bertambah. Ini merupakan modal bagi keterampilan-keterampilan lainnya yang bisa dipelajari anak.
3. Penting buat Tuhan
Dengan menanamkan kebiasaan berdoa, orangtua mengajarkan, anak tidak hanya penting bagi orangtua saja, tapi juga buat Tuhan. Kelak, anak akan merasa bernilai di sisi-Nya. Ia tahu Tuhan akan menjaganya. Nantinya saat beranjak dewasa, bukan tak mungkin anak akan menemukan kedamaian dengan berdoa, utamanya saat dilanda berbagai persoalan dan problema hidup.
4. Belajar Etika
Dengan berdoa, orangtua secara tak langsung mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Saat meminta sesuatu kita harus tunduk, sungguh-sungguh, dan mengupayakannya dengan kejujuran serta kerja keras. Ini merupakan modal dasar saat anak harus mempelajari berbagai etika lainnya.
5. Menghargai Sesuatu
Dengan berdoa sebelum makan, anak diajarkan bagaimana menghargai makanan. Makanan merupakan pemberian Tuhan yang harus disyukuri, tak boleh dibuang dan disia-siakan. Begitu pula kesehatan dan nikmat lainnya.
BAGAIMANA KALAU MENOLAK?
Jangan paksa anak berdoa jika dia menolaknya, biarkan saja dan lanjutkan rutinitas berdoa Anda. Biasanya, anak merupakan peniru ulung dari orang-orang terdekatnya. Dengan banyak melihat orangtua berdoa, akan tertanam pada diri anak untuk berdoa. Anak merasa berdoa merupakan kebutuhan, bukan kewajiban yang kerap menjadi beban. Sikap memarahi justru akan membuat anak malas berdoa. Jadikan berdoa sebagai aktivitas menyenangkan, tapi juga tak melupakan kesungguhan dalam berdoa. Artinya, anak diajarkan bagaimana etika saat berdoa. Misal, si kecil tak boleh tertawa atau berlari-larian. Minta dia bersikap tenang dan khidmat. Sikap itu cermin kesungguhan anak dalam berdoa.(tabloid-nakita)
Tuhan Maha Mendengar setiap hamba-Nya, tak peduli usia dan status sosialnya. Termasuk doa yang dipanjatkan seorang anak. Di usia prasekolah, anak-anak sudah dapat mengucapkan doa pendek, "Yaitu doa yang berhubungan dengan keseharian anak," kata Rahmi Dahnan, Psi. Bisa doa karena sedang merasa senang, doa bersyukur sebelum makan dan minum, doa keselamatan sebelum tidur dan berangkat sekolah, atau doa buat kebahagiaan orangtua.
NILAI EMPATI
Bila anak menanyakan tujuan berdoa, berikan penjelasan sederhana. Katakan, berdoa sebelum makan tiada lain sebagai wujud harapan dan rasa syukur kepada Tuhan atas makanan yang diberikan, "Kita berdoa sebelum makan supaya apa yang kita makan membuat tubuh sehat. Kalau enggak makan, kamu lemas dan enggak semangat bermain, bukan?" Bagaimana dengan berdoa sebelum berangkat sekolah? "Supaya Tuhan menjaga kita selama di perjalanan dan kita selalu diberi kehati-hatian." Memang, anak belum sepenuhnya memahami Tuhan, tapi lambat laun seiring dengan perkembangan kognitifnya, anak bisa memahaminya.
Tentu saja, anak bisa diajarkan berdoa untuk kesejahteraan orang lain. Dalam doa tersebut terkandung nilai-nilai empati. Saat kakek atau neneknya sakit, ajak anak menjenguk mereka dan berdoa untuk kesembuhan mereka. Dengan demikian, anak terbiasa peduli dengan apa yang dirasakan orang lain. Ini menjadi modal bagi kepekaan sosialnya. Ia bisa mendoakan temannya, bahkan anak-anak sebaya di jalanan yang nasibnya tak seberuntung dia.
Memang, beberapa agama sudah menetapkan doa tertentu untuk aktivitas tertentu. Pandulah dan bimbinglah sedikit demi sedikit. Pengulangan membuat informasi yang diterima tersimpan lama. Umumnya daya tangkap anak usia ini cukup baik, sehingga doa bisa dihafalnya dengan cepat, bak air yang diserap oleh spons. Pengenalan doa ini sangat baik untuk menumbuhkan rutinitas, "Inilah yang penting. Anak terbiasa berdoa sebelum melakukan sesuatu. Kebiasaan itu akan terus tumbuh hingga anak dewasa kelak."
Meskipun begitu, orangtua tetap harus menghargai doa-doa yang dibuat anak dengan kata-kata sendiri, sekalipun doa itu pendek dan sederhana. Seiring pertambahan usianya, dengan seringnya melihat orangtua berdoa, beberapa anak 5-6 tahun dapat merangkai doa sendiri. "Umumnya, anak usia sekolah dasar awal bisa merangkai doanya sendiri dengan lebih panjang dan bervariasi," ungkap psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati ini. Dengan menghargai doa yang dibuat anak, orangtua turut meningkatkan kepercayaan dirinya, sekaligus memberikan suntikan motivasi kepada anak untuk lebih giat berdoa.
Sarat MANFAAT
Menurut Rahmi, banyak manfaat yang didapat dengan mengajarkan doa kepada anak, di antaranya:
1. Mengasah Kecerdasan Spiritual
Kemampuan anak mengenal Tuhan dan hal abstrak lain masih terbatas, tapi bukan berarti kita tak dapat mengenalkan keagungan Tuhan kepada anak. Malah, jika sejak dini dikenalkan dengan kekuasaan Tuhan, setidaknya kita sudah menanamkan bibit spiritualitas pada anak. Selain untuk menyatakan rasa syukur, berdoa juga merupakan wujud ekspresi seorang manusia yang memiliki keterbatasan dan kelemahan. Dengan berdoa kita bersiap menerima kenyataan bahwa ada hal-hal di luar kekusaan kita dan bahwa di atas manusia ada yang Maha Kuat, Maha Besar, dan Maha Perkasa. Tuhanlah yang berkehendak terhadap segala sesuatu. Memang, makanan yang terhidang adalah hasil kerja keras kita, uang yang didapat dari bekerja selama berjam-jam. Tapi jika Tuhan berkehendak, kerja keras kita boleh jadi tak menghasilkan apa-apa. Dengan membiasakan berdoa sebelum makan, anak-anak belajar mensyukuri nikmat-Nya.
2. Menambah Kepercayaan Diri
Apa yang membuat anak lebih percaya diri selain bisa menyanyi dan menari? Berdoa juga bisa, karena anak bangga jika memiliki keterampilan baru. Terlebih, jika lingkungan merespons positif apa yang dikuasainya. Saat orang lain berdecak kagum karena anak berdoa sebelum makan, anak akan bangga dan kepercayaan dirinya semakin bertambah. Ini merupakan modal bagi keterampilan-keterampilan lainnya yang bisa dipelajari anak.
3. Penting buat Tuhan
Dengan menanamkan kebiasaan berdoa, orangtua mengajarkan, anak tidak hanya penting bagi orangtua saja, tapi juga buat Tuhan. Kelak, anak akan merasa bernilai di sisi-Nya. Ia tahu Tuhan akan menjaganya. Nantinya saat beranjak dewasa, bukan tak mungkin anak akan menemukan kedamaian dengan berdoa, utamanya saat dilanda berbagai persoalan dan problema hidup.
4. Belajar Etika
Dengan berdoa, orangtua secara tak langsung mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Saat meminta sesuatu kita harus tunduk, sungguh-sungguh, dan mengupayakannya dengan kejujuran serta kerja keras. Ini merupakan modal dasar saat anak harus mempelajari berbagai etika lainnya.
5. Menghargai Sesuatu
Dengan berdoa sebelum makan, anak diajarkan bagaimana menghargai makanan. Makanan merupakan pemberian Tuhan yang harus disyukuri, tak boleh dibuang dan disia-siakan. Begitu pula kesehatan dan nikmat lainnya.
BAGAIMANA KALAU MENOLAK?
Jangan paksa anak berdoa jika dia menolaknya, biarkan saja dan lanjutkan rutinitas berdoa Anda. Biasanya, anak merupakan peniru ulung dari orang-orang terdekatnya. Dengan banyak melihat orangtua berdoa, akan tertanam pada diri anak untuk berdoa. Anak merasa berdoa merupakan kebutuhan, bukan kewajiban yang kerap menjadi beban. Sikap memarahi justru akan membuat anak malas berdoa. Jadikan berdoa sebagai aktivitas menyenangkan, tapi juga tak melupakan kesungguhan dalam berdoa. Artinya, anak diajarkan bagaimana etika saat berdoa. Misal, si kecil tak boleh tertawa atau berlari-larian. Minta dia bersikap tenang dan khidmat. Sikap itu cermin kesungguhan anak dalam berdoa.(tabloid-nakita)
MUDAH MEMBACA BERKAT KESADARAN FONEMIK
Sayang, metode ini jarang digunakan. Padahal lagu kanak-kanak klasik berbahasa Indonesia merupakan kesadaran fonemik (phonemic awareness) yang baik.
Kesadaran fonemik atau kesadaran bunyi adalah kemampuan mendengarkan dan melafalkan dengan benar suatu kata berdasarkan bunyinya. Setiap huruf yang membentuk kata mempunyai bunyi masing-masing, seperti huruf a [a], b [beuh], c [ceuh], dan sebagainya. Bunyi fonem ini, bagaimana penulisan dan cara bacanya, tertera dalam kamus bahasa.
Di negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris, pengajaran dengan menggunakan kesadaran bunyi sudah biasa diterapkan. Alasannya, bahasa yang mereka gunakan cukup sulit dan kompleks sehingga dibuatlah suatu cara untuk mengajari anak agar bisa belajar membaca dengan permainan bunyi, semisal lewat permainan kata yang bunyinya hampir sama seperti bed dan bad, a for apple, b for bee, dan sebagainya. Ada juga yang lewat lagu.
Sementara bahasa Indonesia termasuk bahasa yang sangat sederhana. Contohnya kalimat, "Saya tadi makan pagi." Untuk mengubah penanda waktunya, kata keterangan "tadi" harus diganti dengan penanda waktu lain yang memang jelas berbeda seperti, "Saya kemarin makan pagi." Bunyi [tadi] dan [kemarin] sangatlah berbeda sehingga kesadaran bunyi dalam bahasa Indonesia jarang ditekankan pada anak. Berbeda halnya dengan penanda waktu berupa perbedaan bunyi (dan juga tulisan) yang antara lain terdapat dalam bahasa Inggris ini, "I eat my breakfast every morning" dengan "I ate my breakfast yesterday."
Padahal, pengenalan perbedaan bunyi dalam bahasa Indonsia pun dapat mempermudah anak belajar membaca. Kemampuan membaca yang benar merupakan modal bagi anak untuk dapat memahami apa yang dibaca.
Soal cepat-tidaknya anak bisa membaca tentu tergantung pada kecepatan dan daya tangkap masing-masing. Selain juga tergantung pada seberapa sering dan lama stimulasi yang diberikan kepadanya.
CARA MENGENALKAN
Prinsipnya, phonemic awareness adalah kegiatan pramembaca pada anak namun tidak berkaitan dengan membaca itu sendiri. Jadi, anak belajarnya tanpa merasa belajar membaca dalam arti sesungguhnya. Anak akan merasa bermain karena dilakukan lewat bernyanyi, bersajak atau permainan bunyi huruf, suku kata maupun kata. Cara ini dapat membantu anak lebih mudah dalam belajar membaca.
Jadi, kesadaran bunyi ini dibangun lewat berpantun, bersajak, bernyanyi, bermain kata, dan sebagainya. Tentunya kata-kata yang digunakan sederhana dan berirama. Umpama, syair dalam lagu Cicak di Dinding. Cara-cara seperti ini akan membantu anak mengenali bunyi bahasa tersebut. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:
* Membunyikan huruf demi huruf
Anak akan mengenal bunyi-bunyi dengan mendengar. Misalnya, anak diajak membunyikan huruf demi huruf. Selain itu anak melihat misalnya kata "bicara" lalu anak diajak membunyikan masing-masing hurufnya dan kemudian menggabungkan bunyi huruf tersebut menjadi kata (bottom-up). Bisa juga caranya dipecah dari kata "bicara" menjadi huruf, sambil baca masing-masing huruf dibunyikan (top-down).
* Berpantun atau lagu
Syairnya dituliskan besar-besar per kata dan ditempelkan di dinding. Ketika dinyanyikan sambil ditunjukkan bunyi-bunyi yang dimaksud, apakah suku kata atau kata, anak akan terbiasa melihat tulisan dan bunyi bacaannya.
* Bermain tebak kata
Contoh, kartu bergambar telinga yang di bawahnya tertera tulisan "telinga" dengan huruf "t" yang ditebalkan. Ajak anak membunyikan huruf tersebut. Mungkin saja anak menyebutnya sebagai "kuping" tapi dengan mengenal bunyi huruf "t", anak akan membaca sesuai labelnya, yaitu "telinga".
* Membaca bersama anak
Kala membacakan cerita sebaiknya ditunjukkan pula kata demi katanya. Lama-lama anak dengan sendirinya akan hafal kata-kata yang sering didengarnya. Tanpa disadarinya, suatu saat ketika kita minta dia mengurutkan kata dalam kalimat tersebut dia bisa membacanya.
MEMBACA MENYENANGKAN
* Libatkan anak dalam kegiatan yang mengarahkannya dalam permainan bunyi kata.
* Ajari anak untuk memisahkan dan mencampur bunyi.
* Kombinasikan dengan latihan menghubungkan huruf dan bunyi.
* Latih anak untuk melakukannya dengan kata-kata baru.
* Upayakan suasana bermain yang menyenangkan dan informal, jangan paksa dengan cara mendikte atau menyuruh menghafalkan. Evaluasi pun tak perlu ada.
* Lakukan dalam kelompok yang dapat mendorong terjadinya interaksi.
* Dorong rasa ingin tahu anak agar mau mencoba.
PERMAINAN BUNYI LEWAT LAGU
* Matahari Terbenam
Syair lagu ini memiliki rima (bunyi yang sama pada suku kata atau fonem terakhir dalam setiap baris) yang merupakan pelajaran pengenalan bunyi.
Matahari terbenam
Hari mulai malam
Terdengar burung hantu
Suaranya merdu
Kuku… kuku… kuku… kukukuku…
Kuku… kuku… kuku… kukukuku…
* Simsim
Dari syair lagu ini anak belajar tentang bunyi suku kata terakhir yang kemudian diulang sebagai suku kata awal di baris berikutnya.
Simsim terimakasim sim
Simpak daun rambutan tan
Tanduk ular mati ti
Tikus main di loteng teng
Tengok ayam bertelor lor
Lori jalannya laju ju
Jual minyak wangi ngi
Ngitung duit seperak rak
Rakus makanan sapi pi
Pitak palanya Olen len
Lenong main di kampong pung
Pungut anak perawan wan
Wani jago gendang dang
Dang dut icik… icik…dangdut icik…icik.
(tabloid-nakita)
Kesadaran fonemik atau kesadaran bunyi adalah kemampuan mendengarkan dan melafalkan dengan benar suatu kata berdasarkan bunyinya. Setiap huruf yang membentuk kata mempunyai bunyi masing-masing, seperti huruf a [a], b [beuh], c [ceuh], dan sebagainya. Bunyi fonem ini, bagaimana penulisan dan cara bacanya, tertera dalam kamus bahasa.
Di negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris, pengajaran dengan menggunakan kesadaran bunyi sudah biasa diterapkan. Alasannya, bahasa yang mereka gunakan cukup sulit dan kompleks sehingga dibuatlah suatu cara untuk mengajari anak agar bisa belajar membaca dengan permainan bunyi, semisal lewat permainan kata yang bunyinya hampir sama seperti bed dan bad, a for apple, b for bee, dan sebagainya. Ada juga yang lewat lagu.
Sementara bahasa Indonesia termasuk bahasa yang sangat sederhana. Contohnya kalimat, "Saya tadi makan pagi." Untuk mengubah penanda waktunya, kata keterangan "tadi" harus diganti dengan penanda waktu lain yang memang jelas berbeda seperti, "Saya kemarin makan pagi." Bunyi [tadi] dan [kemarin] sangatlah berbeda sehingga kesadaran bunyi dalam bahasa Indonesia jarang ditekankan pada anak. Berbeda halnya dengan penanda waktu berupa perbedaan bunyi (dan juga tulisan) yang antara lain terdapat dalam bahasa Inggris ini, "I eat my breakfast every morning" dengan "I ate my breakfast yesterday."
Padahal, pengenalan perbedaan bunyi dalam bahasa Indonsia pun dapat mempermudah anak belajar membaca. Kemampuan membaca yang benar merupakan modal bagi anak untuk dapat memahami apa yang dibaca.
Soal cepat-tidaknya anak bisa membaca tentu tergantung pada kecepatan dan daya tangkap masing-masing. Selain juga tergantung pada seberapa sering dan lama stimulasi yang diberikan kepadanya.
CARA MENGENALKAN
Prinsipnya, phonemic awareness adalah kegiatan pramembaca pada anak namun tidak berkaitan dengan membaca itu sendiri. Jadi, anak belajarnya tanpa merasa belajar membaca dalam arti sesungguhnya. Anak akan merasa bermain karena dilakukan lewat bernyanyi, bersajak atau permainan bunyi huruf, suku kata maupun kata. Cara ini dapat membantu anak lebih mudah dalam belajar membaca.
Jadi, kesadaran bunyi ini dibangun lewat berpantun, bersajak, bernyanyi, bermain kata, dan sebagainya. Tentunya kata-kata yang digunakan sederhana dan berirama. Umpama, syair dalam lagu Cicak di Dinding. Cara-cara seperti ini akan membantu anak mengenali bunyi bahasa tersebut. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:
* Membunyikan huruf demi huruf
Anak akan mengenal bunyi-bunyi dengan mendengar. Misalnya, anak diajak membunyikan huruf demi huruf. Selain itu anak melihat misalnya kata "bicara" lalu anak diajak membunyikan masing-masing hurufnya dan kemudian menggabungkan bunyi huruf tersebut menjadi kata (bottom-up). Bisa juga caranya dipecah dari kata "bicara" menjadi huruf, sambil baca masing-masing huruf dibunyikan (top-down).
* Berpantun atau lagu
Syairnya dituliskan besar-besar per kata dan ditempelkan di dinding. Ketika dinyanyikan sambil ditunjukkan bunyi-bunyi yang dimaksud, apakah suku kata atau kata, anak akan terbiasa melihat tulisan dan bunyi bacaannya.
* Bermain tebak kata
Contoh, kartu bergambar telinga yang di bawahnya tertera tulisan "telinga" dengan huruf "t" yang ditebalkan. Ajak anak membunyikan huruf tersebut. Mungkin saja anak menyebutnya sebagai "kuping" tapi dengan mengenal bunyi huruf "t", anak akan membaca sesuai labelnya, yaitu "telinga".
* Membaca bersama anak
Kala membacakan cerita sebaiknya ditunjukkan pula kata demi katanya. Lama-lama anak dengan sendirinya akan hafal kata-kata yang sering didengarnya. Tanpa disadarinya, suatu saat ketika kita minta dia mengurutkan kata dalam kalimat tersebut dia bisa membacanya.
MEMBACA MENYENANGKAN
* Libatkan anak dalam kegiatan yang mengarahkannya dalam permainan bunyi kata.
* Ajari anak untuk memisahkan dan mencampur bunyi.
* Kombinasikan dengan latihan menghubungkan huruf dan bunyi.
* Latih anak untuk melakukannya dengan kata-kata baru.
* Upayakan suasana bermain yang menyenangkan dan informal, jangan paksa dengan cara mendikte atau menyuruh menghafalkan. Evaluasi pun tak perlu ada.
* Lakukan dalam kelompok yang dapat mendorong terjadinya interaksi.
* Dorong rasa ingin tahu anak agar mau mencoba.
PERMAINAN BUNYI LEWAT LAGU
* Matahari Terbenam
Syair lagu ini memiliki rima (bunyi yang sama pada suku kata atau fonem terakhir dalam setiap baris) yang merupakan pelajaran pengenalan bunyi.
Matahari terbenam
Hari mulai malam
Terdengar burung hantu
Suaranya merdu
Kuku… kuku… kuku… kukukuku…
Kuku… kuku… kuku… kukukuku…
* Simsim
Dari syair lagu ini anak belajar tentang bunyi suku kata terakhir yang kemudian diulang sebagai suku kata awal di baris berikutnya.
Simsim terimakasim sim
Simpak daun rambutan tan
Tanduk ular mati ti
Tikus main di loteng teng
Tengok ayam bertelor lor
Lori jalannya laju ju
Jual minyak wangi ngi
Ngitung duit seperak rak
Rakus makanan sapi pi
Pitak palanya Olen len
Lenong main di kampong pung
Pungut anak perawan wan
Wani jago gendang dang
Dang dut icik… icik…dangdut icik…icik.
(tabloid-nakita)
Sekolah Motorik Halus & Kidsport
Sumber: ibu ibu DI
Tanya :
Mau tanya, playgroup Kidsport yang ada di Pondok Indah Golf itu apa ya bedanya sama Tumbletots ? Kalau di Tumbletots kan lebih banyak
diasah motorik kasarnya, jadi kegiatan sekolah 45 menit hanya naik tangga, papan luncur, koprol, dll. (acara nyanyinya juga cuma sedikit). Apakah Kidsport menerapkan pendekatan yang sama? Apakah memang semua preschool untuk 2 tahun itu cuma motorik kasar karena motorik halus memang baru bisa diajarkan pada umur 3 tahun ke atas ?
Jawab :
Kidsport ada 2 macam kelas, yang kelas motorik kasar, persis sama dengan Tumbletots, bedanya kalau playgroup pakai bahasa Indonesia, ada aktifitas motorik halusnya. Aku kurang jelas motorik halusnya diajarin apa, karena anak ku dulu tidak ikut kelas yang itu, tapi yang aku tahu pasti, nempel, gunting, ngelem gitu. Sepertiyna yang di Kidsport yang motorik halus ada yang mulai 1,5 th, mini kids club namanya di sekolah anakku juga mulai dari 2 th, ada motorik halus juga banyak kok sekolah yang untuk 2 th ada motorik halusnya (Di)
Di Kidsport ada playgroupnya yang seminggu 2x dengan masa belajar 90 menit, lebih banyak motorik halusnya seperti: menggunting, ngelem & ada break untuk makan snack (termasuk) dan ada jadwal kunjungan ke luar kelas (outdoor). Di kelas ini mulai belajarnya mengikuti tahun
ajaran yang umum berlaku mulai setiap Juli. Sedangkan yang masa belajarnya seminggu sekali, lebih banyak motorik kasarnya seperti: meniti titian balok, jungkir balik & loncat. Dimulai dengan 10 menit pertama si pendamping (BS or Ortu) bercerita/ sharing sesuai tema hari itu. Lanjut nyanyi bersama plus gerakan badan. Terakhirnya gerakan yang dicontohkan oleh kakaknya dan anak bebas mengikuti di setiap arena yang sudah disiapkan. (Sa)
Kebetulan anakku sekolah di kidsport Bintaro. Memang benar ada 2 jenis kelas di kidsport, pertama kelas untuk motorik kasar dan yang berikutnya kelas semacam playgroup. Anakku pertama kali ikut kelas mini club, melatih motorik kasar untuk usia 2-3 tahun (kelasnya +- 50 mnt dan seminggu sekali), kemudian pas anakku ultah 3 tahun kemaran, aku naikkan ke kelas Kids Club Mini (KCM) seminggu 2 kali (+-1,5 jam) untuk range umur 18 bulan - 2,5 tahun, disini anak-anak diajarkan menyanyi, mewarnai, mengelem, dll (aktivitas motorik halus), mengenal angka, nama hari, dll, juga ada senam (untuk motorik kasar) juga tapi tidak seheboh di kelas mini club. Di KCM ini pendamping masih boleh masuk kelas dengan si anak, tapi katanya untuk tahap berikutnya KCA & KCB, pendamping tidak boleh masuk kelas, untuk mengajarkan anak lebih mandiri. aku sich belum coba trial. Tapi konsepnya kayaknya setara seperti playgroup. Mungkin ajaran baru nanti anakku mau coba naik kelas ke kca atau kcb. Item pembayarannya antara lain:
- Bayar uang keanggotaan, ada 3 jenis keanggotaan:
a. Keanggotaan tetap (berlaku sampai anak umur 12 tahun)
b. Keanggotaan 1 tahun
c. Keanggotaan 3 bulan
- Bayar uang bulanan (tergantung jenis kelas yang diambil)
Kebetulan aku ambil keanggotaan yang tetap (tahun lalu sekitar 1 jutaan, dapat diskon karena nasabah bank niaga), jadi bayarnya hanya
sekali tidak perlu perpanjang lagi. Pertimbanganku karena:
- Keanggotaan kidsport berlaku untuk 1 keluarga, artinya kalau kakaknya sudah anggota kidsport, adiknya kalau mau ikut kelas tidak perlu bayar keanggotaan lagi, cukup bayar iuran bulanannya saja. Kebetulan Anakku sudah ada adiknya, jadi lebih hemat, adiknya tidak perlu bayar lagi uang pangkal
- Misalnya anakku yang pertama nanti sudah TK, keanggotaanya bisa diwariskan ke adiknya, jadi tidak hangus, diteruskan oleh adiknya.
- Enaknya lagi ikut trial kelas saja, biar lebih jelas gambarannya, gratis kok. Kalau kidsport di Bintaro, terus terang aku puas sama kakak-kakaknya, mereka care. Kalau mbak ambil kelas yang seperti playgroup (KCM, KCA & KCB) ada acara jalan-jalan keluarnya (kemarin ke seaworld, taman safari, berenang, dll) kalau di kidsport pengantarnya bahasa indonesia, justru ini yang aku cari, karena sebelumnya anakku ngomongnya susah sekali. Kalau pengantarnya bahasa inggris takut anakku tambah susah bisa ngomong. Dan terbukti juga sih, beberapa bulan di kidsport (pertama kali ikut motorik kasar), kemampuan berbicaranya lumayan pesat dan sekarang jadi cerewet sekali. (De)
Di Shining Star tempat anakku, mengelem, menempel sudah diajarin sejak dia masuk (2 tahun) kelas baby (1,5 - 2 th), menggunting diajarin setingkat di atasnya, kelas toddler. Jadi pas anak pagi masuk kelas, anakku ambil gambarnya (seperti motonya gitu), misalnya gambar bintang, atau bulatan, lonjong etc, terus dilem sendiri dan ditempelkan sendiri di sebelah fotonya. Motonya/gambarnya tidak berubah, jadi dia tahu kalau gambar itu adalah gambarnya dia. Kelas Toddler kemaren banyak sekali acara potong memotong gambar dan ditempelkan di kertas, juga ada latihan mewarnai/memegang pensil. Yang ini anakku belum lulus. Sejak dia minta gunting, kalau di rumah sudah aku kasih gunting yang besar (sebelumnya belum tahu kalau di sekolahan t'nyata diajarin nge-gunting juga), bukan yang kecil/ujungnya tajem. Lalu dia menggunting sendiri dengan ada aku ato mbaknya. Tidak pernah ditinggal sendiri saat dia pegang gunting. Jangan pernah kasih gunting yang tidak tajem, yang tumpul, soalnya cuma bikin anak frustasi Kalau anakku berhasil menggunting putus kertasnya, dia seneng sekali. (Se)
Namanya kidsclub mini, mulai 1,5 tahun. Untuk yang diatasnya kidclub A 2-3 th, lalu KidsClub B 3-4 th. Kalau masuknya tidak pas awal tahun ajaran tidak usah takut bayar uang field trip yang sama, karena akan disesuaikan dengan anak itu masuknya pada bulan keberapa. Kalau anakku motorik halusnya bener-benar baru pengenalan (di KCM) jadi si anak juga belum pegang gunting, baru ngelem, menyambung garis-garis (bukan titik-titik) dengan crayon. Lebih banyak story tellingnya, lalu mengenal angka dan kata contoh kayak kemaren, dikasih piring kertas, wol putih, sama cat pentel merah yang sangat cair. Kakaknya mengajak bikin mie, dan si anak disuruh nempel wol putih ke kertas piring. Setelah itu dikasih saosnya (si cat merah itu). Anakku masuk kcm itu umur 2 tahun kurang dan kebetulan saja memang sudah lancar ngomong tapi kalau di kelas malah pendiam, sementara aku lihat ada anak yang belum lancar ngomongnya tapi tetep bisa aktif, karena tetep ada motorik kasar (seminggu seklai main di adventure challenge yang bikin capek). Umur 1,5 sudah boleh kcm. Dulu anakku umur 1,5 trialnya dan dia sudah suka sekali, mungkin dia justru memang malas disuruh motorik kasar terlalu banyak, lebih suka menulis, mendengarkan cerita, tergantung anaknya. (Na)
Kalau menurut aku yang bener kemampuan motorik halus itu tidak harus diperkenalkan pada usia 3 th. Sedini mungkin kalau bisa. Corat-coret asal-asalan pakai crayon umur setahun pun sudah bisa. Atau ajarin dia buka kancing bajupun juga kemampuan motorik halus. Dan sekolah yang betul adalah sekolah yang 'mengajarkan' kedua skill tersebut secara balanced. (In)
Soal motorik halus, umumnya di playgroup sudah diajarin kok. Anakku di Montessori sudah diajarin menggunting, mengelem dan pakai baju/sepatu, bahkan sampai mencuci piring habis makan. Tergantung sekolahnya, tapi pada umumnya udah. Soalnya kemarin dia baru di tes' masuk preschool, salah satu yang diuji ya itu, menggunting, membuat lingkaran dengan krayon, naik turun tangga, mengikat tali juga. Anakku dimasukin ke Tumble Tots pas dia sudah bisa jalan, kira-kira umur 10 bulan. Setelah dia lewat 1.5 tahun dia sudah kayak cucakrawa alias cerewet sekali dan akhirnya supaya kecerewetannya tersalurkan, aku masukin ke playgroup Montessori di dekat rumah. Di situ dia mulai diajarkan bermacam keterampilan motorik. Ada laporannya tiap kuartal, jadi untuk kuartal ini yang akan diajarkan apa, nanti di akhir kuartal ada laporan perkembangannya. Kira-kira dia sudah mulai diajarkan menggunting itu pas dia 2.5 tahun. Ada yang bawa gelas berisi pasir, berisi air, terus mindahin kelereng dari meja ke kotak, menggambar mengikuti titik titik, dll, pokoknya lengkap. Selain itu diajar menyanyi dan menari juga. Sekarang lagi belajar menjahit pakai jarum besar (yang plastik dan tidak tajam) dan benang wol. Kemarin waktu dia 'test' untuk masuk preschool, juga disuruh menggambar lingkaran, ada yang disurh menggunting, bikin bentuk macem² dari lilin (malam/plasticine) itu. (Mi)
Tanya :
Mau tanya, playgroup Kidsport yang ada di Pondok Indah Golf itu apa ya bedanya sama Tumbletots ? Kalau di Tumbletots kan lebih banyak
diasah motorik kasarnya, jadi kegiatan sekolah 45 menit hanya naik tangga, papan luncur, koprol, dll. (acara nyanyinya juga cuma sedikit). Apakah Kidsport menerapkan pendekatan yang sama? Apakah memang semua preschool untuk 2 tahun itu cuma motorik kasar karena motorik halus memang baru bisa diajarkan pada umur 3 tahun ke atas ?
Jawab :
Kidsport ada 2 macam kelas, yang kelas motorik kasar, persis sama dengan Tumbletots, bedanya kalau playgroup pakai bahasa Indonesia, ada aktifitas motorik halusnya. Aku kurang jelas motorik halusnya diajarin apa, karena anak ku dulu tidak ikut kelas yang itu, tapi yang aku tahu pasti, nempel, gunting, ngelem gitu. Sepertiyna yang di Kidsport yang motorik halus ada yang mulai 1,5 th, mini kids club namanya di sekolah anakku juga mulai dari 2 th, ada motorik halus juga banyak kok sekolah yang untuk 2 th ada motorik halusnya (Di)
Di Kidsport ada playgroupnya yang seminggu 2x dengan masa belajar 90 menit, lebih banyak motorik halusnya seperti: menggunting, ngelem & ada break untuk makan snack (termasuk) dan ada jadwal kunjungan ke luar kelas (outdoor). Di kelas ini mulai belajarnya mengikuti tahun
ajaran yang umum berlaku mulai setiap Juli. Sedangkan yang masa belajarnya seminggu sekali, lebih banyak motorik kasarnya seperti: meniti titian balok, jungkir balik & loncat. Dimulai dengan 10 menit pertama si pendamping (BS or Ortu) bercerita/ sharing sesuai tema hari itu. Lanjut nyanyi bersama plus gerakan badan. Terakhirnya gerakan yang dicontohkan oleh kakaknya dan anak bebas mengikuti di setiap arena yang sudah disiapkan. (Sa)
Kebetulan anakku sekolah di kidsport Bintaro. Memang benar ada 2 jenis kelas di kidsport, pertama kelas untuk motorik kasar dan yang berikutnya kelas semacam playgroup. Anakku pertama kali ikut kelas mini club, melatih motorik kasar untuk usia 2-3 tahun (kelasnya +- 50 mnt dan seminggu sekali), kemudian pas anakku ultah 3 tahun kemaran, aku naikkan ke kelas Kids Club Mini (KCM) seminggu 2 kali (+-1,5 jam) untuk range umur 18 bulan - 2,5 tahun, disini anak-anak diajarkan menyanyi, mewarnai, mengelem, dll (aktivitas motorik halus), mengenal angka, nama hari, dll, juga ada senam (untuk motorik kasar) juga tapi tidak seheboh di kelas mini club. Di KCM ini pendamping masih boleh masuk kelas dengan si anak, tapi katanya untuk tahap berikutnya KCA & KCB, pendamping tidak boleh masuk kelas, untuk mengajarkan anak lebih mandiri. aku sich belum coba trial. Tapi konsepnya kayaknya setara seperti playgroup. Mungkin ajaran baru nanti anakku mau coba naik kelas ke kca atau kcb. Item pembayarannya antara lain:
- Bayar uang keanggotaan, ada 3 jenis keanggotaan:
a. Keanggotaan tetap (berlaku sampai anak umur 12 tahun)
b. Keanggotaan 1 tahun
c. Keanggotaan 3 bulan
- Bayar uang bulanan (tergantung jenis kelas yang diambil)
Kebetulan aku ambil keanggotaan yang tetap (tahun lalu sekitar 1 jutaan, dapat diskon karena nasabah bank niaga), jadi bayarnya hanya
sekali tidak perlu perpanjang lagi. Pertimbanganku karena:
- Keanggotaan kidsport berlaku untuk 1 keluarga, artinya kalau kakaknya sudah anggota kidsport, adiknya kalau mau ikut kelas tidak perlu bayar keanggotaan lagi, cukup bayar iuran bulanannya saja. Kebetulan Anakku sudah ada adiknya, jadi lebih hemat, adiknya tidak perlu bayar lagi uang pangkal
- Misalnya anakku yang pertama nanti sudah TK, keanggotaanya bisa diwariskan ke adiknya, jadi tidak hangus, diteruskan oleh adiknya.
- Enaknya lagi ikut trial kelas saja, biar lebih jelas gambarannya, gratis kok. Kalau kidsport di Bintaro, terus terang aku puas sama kakak-kakaknya, mereka care. Kalau mbak ambil kelas yang seperti playgroup (KCM, KCA & KCB) ada acara jalan-jalan keluarnya (kemarin ke seaworld, taman safari, berenang, dll) kalau di kidsport pengantarnya bahasa indonesia, justru ini yang aku cari, karena sebelumnya anakku ngomongnya susah sekali. Kalau pengantarnya bahasa inggris takut anakku tambah susah bisa ngomong. Dan terbukti juga sih, beberapa bulan di kidsport (pertama kali ikut motorik kasar), kemampuan berbicaranya lumayan pesat dan sekarang jadi cerewet sekali. (De)
Di Shining Star tempat anakku, mengelem, menempel sudah diajarin sejak dia masuk (2 tahun) kelas baby (1,5 - 2 th), menggunting diajarin setingkat di atasnya, kelas toddler. Jadi pas anak pagi masuk kelas, anakku ambil gambarnya (seperti motonya gitu), misalnya gambar bintang, atau bulatan, lonjong etc, terus dilem sendiri dan ditempelkan sendiri di sebelah fotonya. Motonya/gambarnya tidak berubah, jadi dia tahu kalau gambar itu adalah gambarnya dia. Kelas Toddler kemaren banyak sekali acara potong memotong gambar dan ditempelkan di kertas, juga ada latihan mewarnai/memegang pensil. Yang ini anakku belum lulus. Sejak dia minta gunting, kalau di rumah sudah aku kasih gunting yang besar (sebelumnya belum tahu kalau di sekolahan t'nyata diajarin nge-gunting juga), bukan yang kecil/ujungnya tajem. Lalu dia menggunting sendiri dengan ada aku ato mbaknya. Tidak pernah ditinggal sendiri saat dia pegang gunting. Jangan pernah kasih gunting yang tidak tajem, yang tumpul, soalnya cuma bikin anak frustasi Kalau anakku berhasil menggunting putus kertasnya, dia seneng sekali. (Se)
Namanya kidsclub mini, mulai 1,5 tahun. Untuk yang diatasnya kidclub A 2-3 th, lalu KidsClub B 3-4 th. Kalau masuknya tidak pas awal tahun ajaran tidak usah takut bayar uang field trip yang sama, karena akan disesuaikan dengan anak itu masuknya pada bulan keberapa. Kalau anakku motorik halusnya bener-benar baru pengenalan (di KCM) jadi si anak juga belum pegang gunting, baru ngelem, menyambung garis-garis (bukan titik-titik) dengan crayon. Lebih banyak story tellingnya, lalu mengenal angka dan kata contoh kayak kemaren, dikasih piring kertas, wol putih, sama cat pentel merah yang sangat cair. Kakaknya mengajak bikin mie, dan si anak disuruh nempel wol putih ke kertas piring. Setelah itu dikasih saosnya (si cat merah itu). Anakku masuk kcm itu umur 2 tahun kurang dan kebetulan saja memang sudah lancar ngomong tapi kalau di kelas malah pendiam, sementara aku lihat ada anak yang belum lancar ngomongnya tapi tetep bisa aktif, karena tetep ada motorik kasar (seminggu seklai main di adventure challenge yang bikin capek). Umur 1,5 sudah boleh kcm. Dulu anakku umur 1,5 trialnya dan dia sudah suka sekali, mungkin dia justru memang malas disuruh motorik kasar terlalu banyak, lebih suka menulis, mendengarkan cerita, tergantung anaknya. (Na)
Kalau menurut aku yang bener kemampuan motorik halus itu tidak harus diperkenalkan pada usia 3 th. Sedini mungkin kalau bisa. Corat-coret asal-asalan pakai crayon umur setahun pun sudah bisa. Atau ajarin dia buka kancing bajupun juga kemampuan motorik halus. Dan sekolah yang betul adalah sekolah yang 'mengajarkan' kedua skill tersebut secara balanced. (In)
Soal motorik halus, umumnya di playgroup sudah diajarin kok. Anakku di Montessori sudah diajarin menggunting, mengelem dan pakai baju/sepatu, bahkan sampai mencuci piring habis makan. Tergantung sekolahnya, tapi pada umumnya udah. Soalnya kemarin dia baru di tes' masuk preschool, salah satu yang diuji ya itu, menggunting, membuat lingkaran dengan krayon, naik turun tangga, mengikat tali juga. Anakku dimasukin ke Tumble Tots pas dia sudah bisa jalan, kira-kira umur 10 bulan. Setelah dia lewat 1.5 tahun dia sudah kayak cucakrawa alias cerewet sekali dan akhirnya supaya kecerewetannya tersalurkan, aku masukin ke playgroup Montessori di dekat rumah. Di situ dia mulai diajarkan bermacam keterampilan motorik. Ada laporannya tiap kuartal, jadi untuk kuartal ini yang akan diajarkan apa, nanti di akhir kuartal ada laporan perkembangannya. Kira-kira dia sudah mulai diajarkan menggunting itu pas dia 2.5 tahun. Ada yang bawa gelas berisi pasir, berisi air, terus mindahin kelereng dari meja ke kotak, menggambar mengikuti titik titik, dll, pokoknya lengkap. Selain itu diajar menyanyi dan menari juga. Sekarang lagi belajar menjahit pakai jarum besar (yang plastik dan tidak tajam) dan benang wol. Kemarin waktu dia 'test' untuk masuk preschool, juga disuruh menggambar lingkaran, ada yang disurh menggunting, bikin bentuk macem² dari lilin (malam/plasticine) itu. (Mi)
Langganan:
Postingan (Atom)