SI KECIL MASTURBASI MASAK IYA SIH!
Ketika mendapati si kecil memainkan alat kelaminnya, biasanya muncullah rasa jengah. Beragam reaksi akan ditunjukkan oleh orangtua. Ada yang langsung menghentakkan tangannya sambil memarahi, memberi nasihat panjang lebar, dan pastinya mengeluarkan ultimatum untuk tidak lagi melakukan kegiatan tersebut.
Padahal, asal tahu saja, kepanikan yang berlebihan dari orangtua bukanlah tindakan tepat. Kepanikan justru akan menimbulkan rasa ingin tahu yang lebih jauh dari si prasekolah, "Mengapa kok perbuatan yang aku lakukan bikin panik Ibu dan Ayah?" Buntutnya, si kecil pun terdorong untuk melakukan lagi demi memenuhi rasa ingin tahunya yang lebih jauh. Atau, pada kasus yang lebih ekstrem, dalam diri si kecil akan tertanam suatu prinsip bahwa alat kelaminnya adalah sesuatu yang tabu. Keadaan ini tentu saja akan memberikan pengaruh terhadap identitas seksualnya kelak.
Sebetulnya, yang dilakukan anak saat "memainkan" alat kelaminnya adalah sekadar untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Apalagi usia prasekolah merupakan masa eksplorasi sebagai upaya untuk memenuhi rasa keingintahuannya yang besar. Dalam benak si prasekolah hanya muncul pemahaman bahwa dengan melakukan kegiatan itu ada rasa enak atau nyaman yang ditimbulkan. Namun pemahaman tersebut berbeda sekali dengan pemahaman yang ada dalam benak orangtuanya, sebab orangtua atau orang dewasa yang telah memiliki pemahaman tentang perilaku seksual menganggap itu adalah masturbasi yang menghasilkan sebuah kenikmatan dan berhubungan dengan hasrat serta fantasi seksual. Sayangnya, orangtua kerap memandang anak-anak sebagai manusia dewasa mini. Akibatnya sering menyamaratakan pemahaman itu.
MENGHILANG DI USIA SEKOLAH
Tentu saja, tidak setiap anak di usia prasekolah senang memainkan alat kelaminnya. Hal ini tergantung minat pada masa eksplorasi tersebut. Bila si prasekolah memang memiliki minat yang tinggi atau memiliki rasa ingin tahu yang tinggi pada anggota tubuhnya, bisa jadi ia akan mengalami kegiatan ini pada saat meraba alat kelaminnya. Atau, bisa jadi juga kegiatan itu terjadi secara kebetulan. Misal, saat ia sedang memainkan bantal di wilayah kemaluan dan merasakan kenikmatan. Rasa yang timbul, keingintahuan yang tinggi dan proses eksplorasi terhadap bagian tubuhnya, mendorong si kecil untuk mengulangi perbuatannya.
Jadi, tak perlu khawatir jika mendapati si kecil sedang memegang atau memainkan alat kelaminnya karena perilaku ini merupakan bagian dari konsekuensi proses perkembangan yang dialaminya.
Perilaku ini bukan sebagai suatu perilaku yang bertujuan untuk menyalurkan hasrat seksual. Selain itu, patut diperhatikan pula, kegiatan mengeksplorasi anggota tubuhnya ini akan menghilang seiring dengan pertambahan usia. Umumnya saat ia memasuki usia sekolah, karena di usia sekolah, ia akan lebih banyak melakukan aktivitas fisik seperti bermain lari-larian, memanjat, dan lain-lain. Kendati demikian, bukan berarti boleh dibiarkan saja ketika si prasekolah sedang memainkan alat kelaminnya. Mengingat kecenderungan manusia untuk mengulang-ulang suatu perilaku/perbuatan yang menyenangkan, sehingga bukan tak mungkin akhirnya menjadi kebiasaan. Yang penting, bagaimana kita menyikapinya secara bijaksana sehingga dapat memenuhi rasa keingintahuannya.
ALIHKAN PERHATIANNYA
Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan orangtua saat mendapati si prasekolah sedang mengeksplorasi alat kelaminnya? Orangtua hendaknya dapat mengontrol emosi. Jangan menunjukkan rasa kaget yang berlebihan; kendalikan dan berusahalah untuk tampil wajar.
Bila orangtua marah-marah sambil berteriak itu tabu, tidak boleh dilakukan, malah bisa berdampak pada perkembangan anak selanjutnya. Bisa jadi anak akan memiliki anggapan atau pemahaman bahwa kegiatan yang dilakukan itu memang benar-benar tabu karena mengundang kemarahan orangtuanya.
Dampak yang mungkin ditimbulkan pada perkembangan anak selanjutnya adalah timbulnya antipati terhadap perilaku seksual di usia remajanya atau dewasanya kelak. Bahkan bisa juga terjadi penyimpangan dalam perilaku seksual. Atau, malah menyalurkan hasratnya tersebut pada kegiatan yang lain yang kemungkinan malah membahayakan.
Lebih baik, alihkah perhatian anak dengan mengajaknya melakukan kegiatan yang menyenangkan lainnya seperti bermain kucing-kucingan susun balok, membacakan buku cerita, dan lainnya. Diharapkan konsentrasinya tidak lagi tertuju pada kegiatan mengeksplorasi alat kelamin yang dilakukannya.
EREKSI SEJAK DI KANDUNGAN
Perkembangan seksualitas di usia prasekolah hanya terbatas pada perkembangan perilaku.
Pada rentang usia prasekolah, anak tidak mengalami perkembangan fungsi seksual, karena pada tahapan ini hormon-hormonnya belum berfungsi secara maksimal. Umumnya sebelum masa pubertas, pertumbuhan itu berlangsung sangat lambat, kemudian akan lebih cepat pada masa pubertas. Jadi, yang dapat diamati hanyalah perkembangan perilakunya atau psikoseksual. Karenanya, tak perlu kaget bila mendapati si prasekolah sedang melakukan eksplorasi atau memainkan alat kelaminnya. Itu adalah suatu hal yang wajar di rentang usia ini.
Bahkan menurut hasil penelitian dari The Kinsey Institute -sebuah lembaga yang bergerak di bidang penelitian tentang seksualitas manusia, gender dan kesehatan reproduksi di Indiana University menyatakan, semenjak dalam kandungan anak sudah mengalami ereksi. Jadi tak perlu heran, bila bayi laki-laki yang baru bangun tidur tampak tegang alat kelaminnya, walaupun fungsi susunan sarafnya belum sempurna dan kadar hormon androgennya masih sangat rendah. Sedangkan kelamin bayi perempuan biasanya tampak berlendir.
Perkembangan Psikoseksual
Mengacu pada pendapat Sigmund Freud yang dikenal dengan teori psikoanalisisnya, perkembangan psikoseksual terbagi menjadi 4 fase, yaitu:
1. Fase Oral
Berlangsung dari lahir sampai usia 2 tahun. Anak mendapatkan kenikmatan melalui mulutnya. Itu terlihat saat anak menyusu pada puting payudara ibunya maupun memasukkan segala sesuatu ke mulutnya.
2. Fase Muskuler
Berlangsung dari usia 2 sampai 3 tahun atau paling telat di usia 4 tahun. Pusat kenikmatan anak berpindah ke otot; ditandai dengan kesenangan dipeluk, memeluk, mencubit, atau ditimang-timang.
3. Fase Anal Uretral
Berlangsung dari usia 3 atau 4 sampai dengan 5 tahun. Pusat kenikmatan anak terletak pada anus/dubur dan saluran kencing. Jadi wajar bila si anak suka menahan BAB (buang air besar) atau BAK (buang air kecil).
4. Fase Genital
Berlangsung dari usia 5 sampai 7 tahun. Pusat kenikmatan dirasakan pada alat kelamin; ditandai dengan senang memegang alat kelaminnya. Seiring kemampuan berpikirnya yang meningkat, umumnya muncul rasa ingin tahunya akan anggota tubuhnya. Salah satunya adalah alat kelaminnya. Orangtua kadang terkejut melihat anak memegang alat kelaminnya, padahal ia hanya sekadar ingin tahu, "Ini apa ya..., kok bentuknya begini?"
PERSIAPKAN DIRI
Setiap anak akan sampai pada tahap keingintahuan mengenai tubuhnya sendiri, mengenai fungsi-fungsi organ tubuhnya dan juga perbedaan-perbedaan dengan milik orang lain. Untuk itu anak akan banyak bertanya. Karenanya, orangtua hendaknya mempersiapkan diri dengan menambah pengetahuan untuk menghadapi pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan anak, sehingga anak dapat memperoleh jawaban yang memuaskan dan benar. Nah, bagaimana sebaiknya orangtua bersikap?
1. Memahami rasa keingintahuan anak.
Orangtua hendaknya jangan sungkan-sungkan untuk memberikan penjelasan. Umpama, dengan membiasakan menyebut nama alat kelamin anaknya. Hindari menyebutkannya dengan istilah-istilah tertentu. Harapannya, kelak anak pun akan terbiasa dan tidak menganggap kata-kata itu sebagai sesuatu yang tabu. Bila pertanyaan seputar alat kelamin tidak terlontar dari mulut si prasekolah, maka orangtua wajib memunculkannya.
Semakin dini diperkenalkan akan semakin baik. Tak perlu khawatir anak tidak mampu menangkap karena otak anak bagaikan jendela yang terbuka dan selalu siap menerima meski tak langsung dimanfaatkan atau dipahami. Kelak saat si prasekolah beranjak besar dan telah memahami tentang seksualitas, ia tidak asing lagi dengan nama-nama alat kelamin dan tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang tabu.
2. Berikan penjelasan sesuai dengan daya tangkapnya.
Diperlukan kreativitas untuk mendapatkan jawaban yang sesuai dengan tingkat pemahaman anak. Dalam rentang usia ini, anak memiliki pemahaman sebatas hal-hal yang konkret saja. Mereka ingin mengenal tentang perbedaan bentuk, selanjutnya fungsi dari benda tersebut secara sederhana.
3. Tak perlu berbohong ataupun menghindar.
Berbohong dapat membuat anak merasa ada sesuatu yang disembunyikan yang justru dapat memacu rasa keingintahuannya. Contoh, ada burung di celananya. Bisa-bisa anak akan penasaran, kok burung bisa ada di dalam celananya.
Jangan pula menghindar karena hanya akan membuat anak makin penasaran. Bisa jadi anak malah mencari informasi dari orang lain, sementara informasi yang diberikan belum tentu benar dan tepat.
4. Tenang dan jangan malu.
Anak-anak belum membayangkan fungsi seksual dari organ tubuh manusia karena mereka belum mengerti. Bila menghadapi ulah si kecil yang paling diperlukan adalah tenang, kemudian memberikan jawaban dan penjelasan terbaik untuk keingintahuan mereka.
KONSULTASI GRATIS
Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) memberikan layanan konsultasi, informasi dan konseling seputar pertumbuhan dan perkembangan anak, pergaulan, seksualitas, pendidikan, dan lain-lain lewat telepon dan tatap muka (dengan perjanjian terlebih dahulu) di 021-3902600 dan 021-3905747 serta email di http//anak.i2.co.id
JADWAL HARIAN
Penting dibuat karena anak jadi lebih disiplin dan bertanggung jawab.
| Jangan biarkan waktu anak terbuang percuma. Manfaatkanlah secara maksimal agar apa yang diperolehnya sehari-hari bisa menjadi maksimal. Salah satunya dengan membuat jadwal harian. Jadwal yang teratur membuat anak memperoleh beragam kegiatan secara merata, sehingga pengalamannya lebih komplet. Di sisi lain, dengan ketiadaan jadwal harian yang baik, anak akan mendapat konsekuensi langsung yang bisa merugikan dirinya sendiri. Contoh, bila anak keasyikan bermain kemudian lupa makan, dia akan kelaparan sehingga mudah terganggu kesehatannya. Kalau kurang tidur, maka anak akan sering rewel, mudah marah, dan lainnya. Meskipun dampaknya terlihat sederhana, jika sering terjadi dapat menimbulkan kerugian yang cukup luas. Anak yang sering rewel misal, dia tak bisa mendapatkan manfaat interaksi sosial secara maksimal karena dalam bermain dia akan sering ngambek. Bila terlambat makan kemudian dia jajan sembarang, lebih mudah terserang penyakit. Tak demikian halnya bila kita menerapkan jadwal harian secara baik, anak justru akan memperoleh banyak manfaat. Dia jadi lebih disiplin dan bertanggung jawab. Anak pun dapat mengenal konsep waktu dan konsep urutan. 4 MANFAAT 1. Belajar Konsep Waktu Pemahaman konsep waktu didapatnya saat melakukan berbagai kegiatan di pagi, siang, sore, dan malam. Pagi, setelah bangun tidur misalnya, anak akan memahami kalau di saat itu dia harus mandi, sarapan, dan pergi ke sekolah. Selanjutnya di siang hari dia harus makan siang dan tidur siang. Begitu juga sore dan malam hari, anak akan melakukan kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan di waktu-waktu tersebut, dari bermain di taman hingga tidur malam. Supaya pemahaman anak akan konsep waktu lebih mendalam, cobalah terangkan waktu saat anak melakukan aktivitas, "Adek, sudah pagi, bangun yuk! Habis gitu kita mandi." Saat siang kita bisa bilang, "Nah, siang ini kamu waktunya tidur siang." Dengan penjelasan seperti ini, anak jadi lebih memahami konsep waktu. 2. Belajar Konsep Urutan Setelah terbiasa melakukan kegiatannya, anak mulai memahami urut-urutan aktivitas yang harus dia lakukan, "Sehabis mandi aku akan sarapan, kemudian berangkat ke sekolah." Dengan memahami urut-urutan ini, aktivitas anak akan berjalan lebih teratur. Berbeda dengan anak yang tak memiliki jadwal harian, dia akan secara serabutan melakukan aktivitasnya. Mungkin hari ini dia akan tidur siang dahulu baru bermain atau bermain dahulu hingga sore baru tidur. Tentu hal ini tidak membuat anak belajar tertib sehingga banyak aktivitas yang seharusnya bisa dimanfaatkan maksimal malah terbuang percuma. 3. Disiplin Setelah memahami jadwal yang harus dilakukannya, anak akan dituntut untuk disiplin mematuhinya, "Oke, sekarang memang waktunya tidur siang jadi aku harus mematuhi Mama." Memang, awalnya agak sulit menerapkan kedisiplinan ini namun lambat laun anak akan terbiasa. Nah, setelah kedisiplinan itu melekat pada anak, selanjutnya akan mudah bagi anak melakukan aktivitas yang sudah kita jadwalkan. Kelak di saat dewasa, dia lebih mudah mengatur jadwal kesehariannya karena sudah terbiasa sejak kecil. Dengan disiplin tinggi biasanya kesuksesan hidup akan lebih mudah diraih. 4. Bertanggung Jawab Disiplin erat kaitannya dengan tanggung jawab. Setelah anak mampu berdisiplin, otomatis rasa tanggung jawab pada dirinya pun akan muncul. Anak bertanggung jawab terhadap apa yang harus dilakukannya di saat pagi, siang, sore, dan malam. "Sekarang waktunya makan siang, aku harus makan," misal. Sikap tanggung jawab yang sudah muncul sejak kecil akan sangat bermanfaat kelak saat dewasa. Dia akan lebih mampu untuk menerima tugas dan menuntaskannya dengan baik. Kiat Mengenalkan Beberapa hal harus kita perhatikan saat mengenalkan jadwal harian kepada anak, mengingat banyak anak usia prasekolah yang masih memiliki sikap egosentris tinggi. Mereka ingin melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya, semaunya, tidak mau diatur, dan sebagainya. Nah, berikut ini 4 hal penting yang harus jadi perhatian orangtua! 1. Berikan Penjelasan Anak tak akan paham bila kita tak menjelaskan apa yang ingin kita terapkan kepadanya. Untuk itu, berikan penjelasan secara sederhana mengenai jadwal harian, "Adek lihat, ini adalah jadwal harian kamu!" sambil menunjuk papan jadwal yang bergambar aneka tokoh kartun kesayangannya. "Pagi hari kamu mandi, sarapan terus ke sekolah deh. Nah, siangnya sepulang sekolah kamu makan siang dan tidur siang..... " Dengan penjelasan seperti itu anak akan lebih memahami kalau ada kegiatan-kegiatan yang sudah terjadwal. Berbeda bila anak tak diberikan penjelasan sama sekali, dia akan lebih sulit untuk diarahkan karena memang dia tak tahu hal apa saja yang harus dilakukannya seharian. 2. Libatkan Anak Sangat baik bila kita melibatkan anak saat menyusun jadwal hariannya. Selain anak merasa lebih dihargai, pelaksanaan jadwal harian pun dapat diterapkan lebih mudah. Pasalnya, anak merasa ikut dilibatkan sehingga dia merasa lebih bertanggung jawab untuk mematuhinya. Lagi pula, jika anak mangkir kita bisa mengingatkan bahwa ia juga yang menyusun jadwal itu. "Kamu kan sudah ikut membuat jadwal ini, masak tidak mau melaksanakannya!" Dengan pengingatan seperti ini akan lebih mudah membuat anak mematuhinya. 3. Lakukan Kontrol Memang di awal agak sulit menerapkan jadwal harian pada anak. Butuh kontrol dari kita dengan selalu mengingatkan apa saja yang harus dilakukan anak saat pagi, siang, sore, dan malam. Dengan kontrol yang baik, anak akan terbantu untuk mematuhi jadwal hariannya. Setelah anak bisa mengikuti jadwal hariannya, kontrol harus dilepas secara perlahan. Biarkan anak memegang kontrol sendiri terhadap jadwal hariannya, karena dengan kontrol sendiri anak bisa mendapatkan banyak manfaat seperti kedisiplinan dan tanggung jawab. Berbeda ketika kita yang harus terus-menerus mengingatkan anak, manfaatnya tak bisa diperoleh anak secara maksimal. 4. Bersikap Fleksibel Agar jadwal harian tak terkesan membatasi aktivitas anak, sebaiknya di saat-saat tertentu kita harus fleksibel. Contoh, saat libur sekolah, hari raya, atau di saat-saat spesial yang sulit menerapkan jadwal harian. Biarkan sesekali jadwal tidur siang anak telat sedikit karena dia sedang asyik bermain dengan sepupunya yang sedang berlibur di rumah, atau biarkan anak tidak belajar karena memang sekolah sedang libur, dan lainnya. Dengan sikap fleksibel ini, anak tidak akan merasa tertekan ataupun stres. Sikap fleksibel juga diperlukan terhadap si prasekolah yang egosentrisnya masih sangat tinggi, ataupun terhadap anak yang sudah terbiasa dengan jadwal yang sama sekali tidak teratur sehingga sangat sulit menjadwalkan kegiatan hariannya. Begitu pula bila anak tumbuh di lingkungan yang "hidup" tanpa jadwal. Setiap hari, anak-anak tetangga bermain sepanjang hari sehingga sangat sulit bagi kita meminta anak untuk tidur siang. Contoh, pukul 2 siang kita mengharuskan anak tidur siang padahal anak-anak lingkungan sekitar sedang ramai, hilir mudik, asyik bermain. Nah, menghadapi kondisi-kondisi tersebut, kita tak perlu menuntut anak untuk 100% mematuhi jadwal hariannya. Bila memang hanya 50% yang bisa diikutinya, itu pun sudah merupakan keberhasilan mengingat memang sangat sulit menerapkannya secara penuh. Ingat, jadwal harian dibuat tidak untuk mengungkung anak tetapi butuh fleksibilitas sehingga kebutuhan anak tetap terpenuhi. Yang penting, kita tetap berusaha memenuhi jadwal yang sudah dibuat. CONTOH JADWAL HARIAN ANAK
tabloid-nakita | ||||||||||||||||||||||
Memilih Les sesuai karakter anak
Orangtua sekarang banyak yang mengikutkan anak prasekolahnya ke berbagai les yang bersifat nonakademis, seperti menggambar/melukis, menari, bela diri, olahraga, dan sebagainya. Selain karena ingin anaknya memiliki kelebihan yang dapat ditonjolkan dan dibanggakan, juga agar mampu bersaing di era globalisasi. Hal ini wajar saja. Apalagi, dengan ikut les dapat mengoptimalkan minat dan bakat anak, kemampuan bersosialisasi, dan lainnya. Yang penting, kursus tersebut harus sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan anak. Selain itu, orangtua harus pula memerhatikan karakter anaknya.
Karakter adalah kebiasaan dan sikap-sikap yang sering muncul sehingga menghasilkan suatu sikap dan tingkah laku tertentu yang berbeda dari anak lainnya. Jika anak mengikuti les yang sesuai dengan karakternya, maka hasilnya akan menguntungkan karena anak dapat mengembangkan sisi positif dari karakternya dan meredakan sisi negatifnya.Secara umum, ada 4 karakter dasar anak yaitu aktif, pasif, percaya diri, dan pencemas. Fabiola Priscilla, M.Psi., dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, Jakarta, menjelaskannya berikut ini!
1. AKTIF
* Ciri-Ciri:
Anak giat beraktivitas, tampak energik, dan membutuhkan ruang gerak yang luas.
* Jenis les yang dapat diikuti:
Cocoknya diikutkan les yang berkaitan dengan gerak tubuhnya yang aktif, seperti olahraga, bela diri, dan seni gerak, sehingga anak dapat menyalurkan kelebihan energi yang dimilikinya. Jika lingkungan rumah mendukung, memiliki halaman luas dan ada anggota keluarga yang suka main bola, maka anak juga bisa melakukan aktivitas main bolanya tanpa perlu masuk ke dalam klub olahraga sepak bola. Cara ini pun bisa menyalurkan minat anak tanpa mengabaikan karakteristiknya.
Selain jenis les yang disebutkan di atas, pada dasarnya anak aktif bisa mengikuti semua jenis les, baik itu olahraga, bela diri, seni, keterampilan, maupun sains. Ini karena anak selalu antusias dengan sesuatu hal dan mudah beradaptasi dengan lingkungannya.
2. PASIF
* Ciri-Ciri:
Anak terlihat lamban, kurang gesit, kurang suka kegiatan fisik, cepat mengaku lelah, dan agak lama menyesuaikan diri. Bila melakukan sesuatu yang sesuai dengan minatnya, baru terlihat antusiasmenya dan konsentrasinya pun bisa bagus.
* Jenis les yang dapat diikuti:
Biasanya, anak-anak yang pasif memiliki kemampuan observasi yang kuat dan imajinasinya juga tinggi. Jadi, bisa dipilihkan les yang memang memerlukan observasi mendetail dan kekuatan imajinasi, seperti catur, merakit robot, serta keterampilan tangan. Dengan begitu, kemampuan imajinasi, daya analisis, dan observasinya dapat berkembang optimal.Di sisi lain, anak pasif memiliki kekurangan dalam hal sosialisasi—biasanya sulit bergaul—sehingga perlu dipilihkan pula les yang dapat meminimalkan sisi kekurangan dari karakternya ini. Kegiatan berkelompok, seperti dalam klub sains, paduan suara, dan sanggar tari/teater akan membantunya bersosialisasi. Selain itu, anak pasif biasanya juga memiliki kendala dalam mengungkapkan ekspresi. Kegiatan melukis dapat membantu mengungkapkan perasaan dan pikirannya. Begitu juga kegiatan olahraga seperti sepak bola. Energi yang dipendam atau unek-uneknya bisa dikeluarkan melalui pukulan atau tendangan pada bola.
Anak berkarakter pasif juga cenderung diam, sehingga baik bila diberikan les bela diri. Baik pula jika diikutkan les menari, berenang, dan lainnya yang membuat anak aktif bergerak mengingat anak pasif cenderung kurang bergerak.
Hal lain yang penting diperhatikan orangtua, karena anak pasif umumnya sulit menyesuaikan diri dengan segera, maka les sebaiknya diberikan secara bertahap dengan pengenalan terlebih dahulu.
3. PERCAYA DIRI
* Ciri-ciri:
Anak mudah beradaptasi dengan lingkungan baru alias mudah bergaul/bersosialisasi, lancar mengungkapkan pendapatnya, dan senang pada sesuatu yang ada tantangannya.
* Jenis les yang dapat diikuti:
Semua jenis les yang menjadi minatnya. Dengan mengikuti les, anak dapat menambah keyakinan akan kemampuan dirinya, bangga dengan kemampuan yang dimilikinya, sehingga rasa percaya dirinya pun makin bertambah.
4. PENCEMAS
* Ciri-ciri:
Anak mudah merasa takut salah dan menyerah; lama menyesuaikan diri dengan lingkungan baru; selalu butuh dukungan orangtua; sensitif dan mudah berprasangka.
* Jenis les yang dapat diikuti:
Yaitu, jenis les yang bisa menenangkan seperti meditasi atau yoga; les keterampilan dan bela diri untuk mengendalikan emosinya; serta les yang berkaitan dengan pembentukan karakter seperti teater kreatif.Anak yang pencemas perlu dilatih untuk mengatasi rasa cemasnya. Dibutuhkan dukungan dari orangtua agar anak merasa nyaman dengan lingkungan di tempat lesnya, baik pengajarnya maupun teman-temannya, dan lainnya. Bila anak diberikan les berupa keterampilan tangan, maka anak akan belajar menguasai skill tertentu sehingga dengan kemampuan itu ia bisa memiliki rasa percaya diri. Jenis keterampilan ini bisa juga dilakukan di rumah tanpa harus les. Carilah kegiatan yang bisa dilakukan di rumah. Yang harus diajarkan pada anak pencemas adalah sikap fleksibel terhadap perubahan.
PALING PAS DI USIA 4 TAHUN
Menurut Fabiola, 4 tahun adalah usia minimal untuk anak mulai ikut les. Ada 2 alasan yang mendasarinya. Pertama, kesukaan atau minat anak sudah lebih jelas kelihatan. “Jika di bawah usia itu, anak masih tergantung mood. Hari ini suka balet, tapi besok kesukaannya sudah berganti jadi melukis, misalnya.” Namun, saran Fabiola, sebelum anak berusia 4 tahun, orangtua sebaiknya sudah mengamati minat/kesukaan anaknya. Alasan kedua, di usia 4 tahun, kemampuan motorik kasar dan halus anak sudah lebih baik. Begitu pun daya tahannya terhadap tugas.(tabloid-nakita)
"Kalau LAMPU MERAH Harus BERHENTI Ya, Pa?"
Pernah tidak, saat tiba di perempatan lampu merah si kecil tiba-tiba nyeletuk, "Kok, mobilnya berhenti, Ma?" Atau, ketika melihat rambu-rambu lalu-lintas lainnya, si kecil pun bertanya, "Apa arti huruf 'P' itu?", "Kenapa huruf 'S'-nya dicoret?", dan sebagainya.
Ternyata, anak-anak ini umumnya bertipe visual: senang mengamati semua benda baru yang ditemuinya, entah di rumah, di jalan, di mal, dan seterusnya. "Anak-anak visual merupakan pengamat ulung, peka terhadap hal-hal baru yang ditemuinya," ujar Rosmayanti, S.Psi., dari Yayasan Cikal Jakarta.
Selain itu, ketertarikan anak pada rambu-rambu lalu lintas, bisa juga dikarenakan sebelumnya ia mendapat stimulasi tentang rambu-rambu tersebut. Entah pernah diajak ke museum lalu lintas atau mendapatkan mata pelajaran khusus tentang kelalulintasan.
Di sisi lain, tak sedikit pula anak prasekolah yang cuek terhadap rambu-rambu lalu lintas. Mobilnya mau berhenti, berjalan, atau apakah ada papan bertanda belok, tak dipedulikan. Bukan berarti anak tidak tahu atau tak mau tahu, melainkan dia memiliki minat lain, atau perhatiannya tersedot pada hal lain seperti mobil bagus yang berlalu-lalang, musik, teman-temannya, dan sebagainya.
RESPONS POSITIF
Yang jelas, mau anak tertarik atau tidak, penting bagi orangtua untuk mengenalkan rambu-rambu lalu lintas kepada anak. Soalnya, rambu-rambu lalu lintas sangat akrab dan dekat dengan masyarakat perkotaan. Saat hendak pergi sekolah, setiap hari anak diantar jemput menggunakan kendaraan. Setiap hari itu pula anak akan menemukan ram-bu-rambu lalu lintas. Rambu-rambu yang sama akan ditemukannya kala berlibur atau be-pergian menggunakan kendaraan. Sayang, kalau anak tak mengenal dan mengetahui benda-benda yang biasa ditemuinya.
Lagi pula, banyak manfaat lain bisa didapat anak dengan mengenal rambu lalu lintas, dari konsep disiplin, warna, lambang, dan sebagainya. Apalagi, caranya bisa lewat bermain sehingga terasa lebih mengasyikkan. "Anak bermain mobil-mobilan seperti biasanya, cuma orangtua memberikan rambu-rambu saat bermain," kata Yanti, sapaan akrab piskolog ini.
Itulah mengapa, saat anak bertanya, berikan respons positif. Misal, anak bertanya, "Kenapa mobilnya berhenti, Yah?", jawablah, "Mobil berhenti karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Jika warnanya berubah menjadi hijau, mobil boleh berjalan lagi."
Jika penjelasan itu dirasa masih kurang, kembali jelaskan manfaat adanya rambu-rambu lalu lintas, "Lampu lalu lintas umumnya berada di persim-pangan jalan, baik pertigaan maupun perempatan. Itu berguna untuk mengatur, lajur mana yang harus berjalan dan mana yang harus berhenti. Arus kendaraan pun menjadi lancar. Bayangkan jika lampu lalu lintas itu tidak ada, kendaraan akan saling berebut untuk berjalan. Akibatnya, terjadilah kemacetan."
Bagaimana jika anak cuek bebek saat melihat rambu lalu lintas? Tak ada salahnya jika orangtua tetap menjelaskan rambu-rambu lalu lintas yang ditemui. Siapa tahu anak akan tertarik dengan bertanya lebih lanjut.
AJARKAN di RUMAH dan SEKOLAH
Mengingat banyak manfaat yang didapat, tak heran jika sejumlah "sekolah" memiliki pelajaran khusus mengenal rambu-rambu lalu lintas. "Di sekolah kami, anak usia 3 tahun sudah dikenalkan," ungkap Yanti. Awalnya, memang tak langsung mengenalkan rambu itu kepada anak, melainkan memperdalam kemampuan kognitif anak. Misal, anak 3 tahun dikenalkan dengan konsep warna terlebih dahulu sebelum dikenalkan dengan lampu lalu lintas. Begitu juga pada anak 4-6 tahun, dikenalkan dengan huruf dan lambang-lambang lainnya sebelum mengenalkan rambu dilarang parkir, dilarang berhenti, dan sebagainya.
"Kebetulan sekolah kami memiliki tempat khusus yang menunjang pengenalan berlalu lintas. Tempat itu dilengkapi dengan mobil mini plus rambu-rambunya." Tidak cuma itu. Sekolah juga biasanya mendatangkan polisi lalu lintas ke sekolah. Selain menjelaskan profesi polisi, program itu juga bertujuan mengenalkan rambu lalu lintas kepada anak. Anak bisa bertanya langsung kepada polisi tentang profesinya. Ada juga program kunjungan ke pos polisi, hingga anak bisa melihat langsung bagaimana polisi bekerja. "Beberapa sekolah yang di kotanya terdapat museum lalu lintas seperti Bandung, umumnya memiliki program khusus kunjungan ke museum, agar anak bisa lebih mengenal rambu dan aturan berlalu lintas."
Di rumah, orangtua juga bisa mengenalkannya dengan lebih konkret dan menyenangkan lewat permainan. Permainan yang dikemas dalam satu set itu berisi papan dengan alur jalan, rambu-rambu lalu lintas, pun kendaraan mini. Anak lebih bisa memahami rambu lalu lintas lewat permainan ini. Apa saja rambu lalu lintas yang bisa ditemui, plus beragam manfaatnya. Beberapa mainan lainnya adalah pasel, buku mewarnai, balok, dan sebagainya. Lakukan dialog dua arah saat mengenalkan. Misal, orangtua mengambil mobil-mobilan lalu bertemu lampu merah, "Mobilnya berhenti apa terus berjalan ya?" Dengan demikian, otak anak terus aktif berpikir.
Orangtua juga bisa mengenalkannya lewat bacaan atau cerita. Pilihlah dongeng bertemakan lalu lintas. Gali juga manfaat positif dari dongeng tersebut. Contoh, orang terhindar dari kecelakaan karena menaati rambu lalu lintas. Yang penting diingat, sesuaikan pengenalan dengan kemampuan anak. Jangan kenalkan lampu lalu lintas terlebih dahulu, jika anak belum memahami betul konsep warna, dan sebagainya.
4 Manfaat Belajar Rambu
1. Aturan dan Disiplin
Anak mengenal, rambu merupakan aturan dalam berlalu- lintas. Ketertiban akan terjadi saat pengendara mematuhi rambu lalu lintas. Sebaliknya, kesemrawutan bahkan kecelakaan mungkin saja terjadi tanpa ada rambu, atau rambu ada tapi tidak ditaati.
Jadi, dengan mengenal rambu, anak belajar tentang manfaat aturan dan kedisiplinan. Jika ini terus dipupuk, bukan tak mungkin kedisiplinan ini akan terbawa pada rutinitasnya, baik itu sekolah, belajar, bermain, dan sebagainya. Cuma, orangtua mesti menjadi teladan dalam masalah kedisiplinan ini. Saat menyetir mobil, misal, jangan main serobot atau tetap melaju meski lampu lalu lintas menyala merah. Dengan begitu, anak menjadi yakin, rambu harus ditaati.
2. Mengenal Warna
Anak mudah mengenal warna lewat lampu lalu lintas, daripada orangtua mengajarkannya satu per satu di rumah. Warna merah, kuning, dan hijau adalah warna yang biasa ditemuinya di jalan raya.
3. Mengenal Lambang, Simbol, dan Huruf
Anak juga bisa mengenali lambang, simbol, maupun huruf lewat pengenalan rambu. Huruf S dicoret berarti dilarang berhenti (stop), P dicoret berarti dilarang parkir, dan seterusnya. Ini sangat baik untuk mengasah kemampuan mengingat.
4. Keterampilan Bahasa
Anak menjadi aktif bertanya tentang rambu. Ini sangat baik untuk melatih kemampuan bicara sekaligus memperkaya kosakata yang dimiliki.
AJARKAN di RUMAH dan SEKOLAH
Mengingat banyak manfaat yang didapat, tak heran jika sejumlah "sekolah" memiliki pelajaran khusus mengenal rambu-rambu lalu lintas. "Di sekolah kami, anak usia 3 tahun sudah dikenalkan," ungkap Yanti. Awalnya, memang tak langsung mengenalkan rambu itu kepada anak, melainkan memperdalam kemampuan kognitif anak. Misal, anak 3 tahun dikenalkan dengan konsep warna terlebih dahulu sebelum dikenalkan dengan lampu lalu lintas. Begitu juga pada anak 4-6 tahun, dikenalkan dengan huruf dan lambang-lambang lainnya sebelum mengenalkan rambu dilarang parkir, dilarang berhenti, dan sebagainya.
"Kebetulan sekolah kami memiliki tempat khusus yang menunjang pengenalan berlalu lintas. Tempat itu dilengkapi dengan mobil mini plus rambu-rambunya." Tidak cuma itu. Sekolah juga biasanya mendatangkan polisi lalu lintas ke sekolah. Selain menjelaskan profesi polisi, program itu juga bertujuan mengenalkan rambu lalu lintas kepada anak. Anak bisa bertanya langsung kepada polisi tentang profesinya. Ada juga program kunjungan ke pos polisi, hingga anak bisa melihat langsung bagaimana polisi bekerja. "Beberapa sekolah yang di kotanya terdapat museum lalu lintas seperti Bandung, umumnya memiliki program khusus kunjungan ke museum, agar anak bisa lebih mengenal rambu dan aturan berlalu lintas."
Di rumah, orangtua juga bisa mengenalkannya dengan lebih konkret dan menyenangkan lewat permainan. Permainan yang dikemas dalam satu set itu berisi papan dengan alur jalan, rambu-rambu lalu lintas, pun kendaraan mini. Anak lebih bisa memahami rambu lalu lintas lewat permainan ini. Apa saja rambu lalu lintas yang bisa ditemui, plus beragam manfaatnya. Beberapa mainan lainnya adalah pasel, buku mewarnai, balok, dan sebagainya. Lakukan dialog dua arah saat mengenalkan. Misal, orangtua mengambil mobil-mobilan lalu bertemu lampu merah, "Mobilnya berhenti apa terus berjalan ya?" Dengan demikian, otak anak terus aktif berpikir.
Orangtua juga bisa mengenalkannya lewat bacaan atau cerita. Pilihlah dongeng bertemakan lalu lintas. Gali juga manfaat positif dari dongeng tersebut. Contoh, orang terhindar dari kecelakaan karena menaati rambu lalu lintas. Yang penting diingat, sesuaikan pengenalan dengan kemampuan anak. Jangan kenalkan lampu lalu lintas terlebih dahulu, jika anak belum memahami betul konsep warna, dan sebagainya.
RAMBU yang DIAJARKAN
Tentunya, orangtua tak mungkin menjelaskan semua rambu lalu lintas yang sangat banyak kepada anak. Solusinya, pilihlah rambu yang mudah dikenali dan biasa didapati. Ini dikaitkan dengan kemampuan kognitif anak. Berikut beberapa rambu yang bisa dikenalkan sebagaimana disarankan Yanti:
1. Lampu lalu lintas. Menjelaskan fungsi masing-masing lampu, baik merah, kuning, maupun hijau. Merah: berhenti; kuning: hati-hati jangan ngebut karena sebentar lagi harus berhenti; hijau: harus berjalan, kalau tidak berjalan, kendaraan di belakang akan terganggu, memberi klakson, atau bahkan menabrak.
2. Dilarang parkir. Kenalkan, ada daerah tertentu yang melarang kendaraan parkir karena akan mengganggu ketertiban lalu lintas.
3. Dilarang lewat. Bisa saja jalan itu hanya boleh dilalui satu arah.
4. Dilarang berhenti.
5. Belok/dilarang belok.
6. Rambu penyeberangan (zebra cross) yang relatif aman digunakan untuk menyeberang.
(tabloid-nakita)
BERMAIN TANGAN DAHULU, MENULIS KEMUDIAN
Kemampuan motorik halus terkait dengan perkembangan fleksibilitas tangan dan jari-jemari untuk melakukan aktivitas seperti makan, menulis, menggambar, memakai pakaian dan juga bermain dengan permainan yang membutuhkan koordinasi tangan. Jika semua kemampuan motorik halus anak berkembang baik, maka kemampuan menulisnya pun akan baik.
TIGA PENGARUH
Ada 3 faktor yang memengaruhi perkembangan kemampuan motorik halus, yaitu:
1. Minat anak
Anak yang memiliki minat tinggi untuk bereksplorasi akan mempunyai kesempatan lebih banyak mengembangkan kemampuan motorik halusnya.
2. Stimulasi belajar
Anak yang lebih banyak mendapatkan stimulasi atau rangsangan belajar dari lingkungan akan memiliki kesempatan lebih luas untuk mengembangkan kemampuannya.
3. Gangguan Perkembangan
Adanya gangguan perkembangan dapat memengaruhi perkembangan motorik halusnya, semisal pada anak-anak yang mengalami Cerebral Palsy, cenderung sangat kesulitan untuk mengoordinasikan gerakan tangan dan jemarinya sehingga perlu penanganan yang lebih serius dari profesional.
TAHAPAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS
Sebagai panduan untuk orangtua, berikut tahapan perkembangan kemampuan motorik halus anak prasekolah berikut cara-cara menstimulasinya:
| Usia | Kemampuan Motorik Halus yang harus dikuasai: | Stimulasi |
| 3 th | * Menarik garis vertikal, mengopi bentuk lingkaran. * Memegang alat tulis dengan menggunakan ibu jari dan jari lainnya (tidak menggenggam). * Membuka halaman pada buku. * Dapat memegang gunting dengan cukup baik. * Membuka atau menutup kotak. * Membuat menara dari 8 balok. * Menggunakan satu tangan hampir di semua aktivitas. | * Bermain tepuk tangan. * Bermain play dough seperti membuat bola dengan telapak tangannya sambil memutar-memutarkan tangan. * Bermain spon air. * Bernyanyi dengan menggerak-gerakkan tangan. * Menghubungkan titik-titik. |
| 4 th | * Menggunting dan menempel. * Membuat bentuk segi empat. * Menyelesaikan pasel 4 keping. * Membuat bentuk berlian. * Menulis huruf kapital. | * Berlatih memegang gunting dengan posisi ibu jari di atas. * Menempatkan kepingan pasel pada tempatnya (umumnya pasel sederhana bentuk geometris). * Mencocokkan gambar, menarik garis dan mengopi bentuk. * Berlatih melipat kertas origami. * Bermain finger print (menggambar/melukis dengan jari-jemari). |
| 5 th | * Mewarnai dengan rapi (tidak keluar dari gambar). * Menulis namanya sendiri. * Melipat sehelai pakaian. * Memakai pakaian. * Mencoba untuk mengancingkan baju, dan memakai sepatu walaupun masih dibantu. * Melakukan aktivitas mandi dengan bantuan. | * Belajar mewarnai bentuk sederhana. * Berlatih memakai pakaian yang berkancing dan sepatu tanpa tali. * Berlatih melipat kertas dengan bentuk yang sederhana. |
| 6 th | * Dapat menulis huruf cetak ataupun latin dengan rapi termasuk menulis angka. * Dapat membuat berbagai bentuk geometris. * Berpakaian tanpa dibantu. * Memakai sepatu bertali dengan sedikit bantuan. * Mewarnai dengan rapi. * Menggunting tanpa ada hambatan. * Dapat melakukan aktivitas di kamar mandi tanpa bantuan. * Dapat menyelesaikan pasel 12 keping. | * Latihan menulis dengan beberapa variasi huruf. * Latihan membuat bentuk geometris. * Bermain pasel dan lego dengan kesulitan yang lebih kompleks. * Membiasakan anak mandi sendiri. * Membiasakan anak berpakaian tanpa dibantu. |
DIKATAKAN TERLAMBAT BILA....
Kemampuan motorik halus anak dikatakan terlambat bila di usianya yang seharusnya ia sudah dapat mengembangkan keterampilan baru, tetapi ia tidak menunjukkan kemajuan. Terlebih jika sampai memasuki usia sekolah sekitar 6 tahun, anak belum dapat menggunakan alat tulis dengan baik dan benar. Anak-anak yang mengalami keterlambatan dalam perkembangan motorik halus mengalami kesulitan untuk mengoordinasikan gerakan tangan dan jari-jemarinya secara fleksibel.
PENYEBAB:
Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi keterlambatan perkembangan kemampuan motorik halus, berikut di antaranya:
* Kurangnya kesempatan untuk melakukan eksplorasi terhadap lingkungan sejak bayi.
* Pola asuh orangtua yang cenderung overprotektif dan kurang konsisten dalam memberikan rangsangan belajar.
* Tidak membiasakan anak untuk mengerjakan aktivitas sendiri sehingga anak terbiasa selalu dibantu untuk memenuhi kebutuhannya, semisal selalu disuapi sehingga fleksibilitas tangan dan jemarinya kurang terasah.
UPAYA MENGATASI:
* Melakukan observasi untuk mengetahui seberapa jauh si kecil tertinggal dibandingkan anak-anak lain seusianya.
* Jika diketahui keterlambatannya, sesegera mungkin latih anak untuk mengembangkan keterampilannya tersebut. Misalnya, meningkatkan frekuensi permainan yang merangsang koordinasi motorik halus seperti pasel, lego, dan lain-lain.
* Jika sampai usia 6 tahun masih terlambat, ada baiknya meminta bantuan profesional untuk melakukan evaluasi perkembangannya. Umumnya anak diarahkan untuk mengikuti remedial teaching
UPAYA PENCEGAHAN:
Beberapa hal dapat dilakukan orangtua agar anaknya tidak mengalami keterlambatan perkembangan motorik halus:
* Sejak dini, orangtua harus meningkatkan frekuensi mengenalkan anak pada permainan yang dapat merangsang fleksibilitas motorik halusnya, seperti pasel, lego, play dough, dan lainnya.
* Membiarkan anak mengeksplorasi lingkungan tetapi tetap dalam pengawasan.
* Melatih anak untuk menopang tubuhnya dengan perut (posisi tengkurap ketika bayi) sehingga akan menguatkan otot bahu dan punggung.
* Ketika anak berusia 8 bulan, ajarkan untuk memegang makanannya sendiri melalui finger food. Hal ini akan membantu anak melatih fleksibilitas jari jemarinya untuk mengambil makanan, memegang, dan memasukkannya ke mulut
* Di usia sekitar 12 bulan, anak dilatih untuk mengambil benda dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak.
* Di usia sekitar 18 bulan, anak dilatih untuk memegang alat-alat tulis seperti krayon atau spidol.
MENULIS BAGUS
* Sejak dini anak sudah dikenalkan pada kegiatan menulis dengan menggunakan alat tulis, baik krayon, spidol, cat air, dan lainnya. Hal ini akan membantu anak untuk menumbuhkan minat pada kegiatan menulis.
* Dimulai dengan aktivitas menghubungkan titik-titik atau dot-to-dot.
* Menyediakan media tulisan dengan buku halus kasar yang tersedia di toko buku.
* Berlatih sesering mungkin untuk belajar menulis, dimulai dengan menulis namanya sendiri secara berulang-ulang.
ANAK PEREMPUAN LEBIH TERAMPIL?
Konon, motorik halus anak perempuan lebih luwes ketimbang anak lelaki. Ternyata hal ini tidak benar. Setiap anak tanpa dibedakan gender memiliki keterampilan yang berbeda-beda. Pendapat tersebut muncul dikarenakan ada kecenderungan anak perempuan lebih detail dan teliti, sehingga lebih menyukai aktivitas yang sifatnya tenang dengan menggunakan kemampuan motorik halusnya. Sebaliknya anak lelaki cenderung lebih menyukai aktivitas motorik kasar. Namun demikian, kualitas perkembangan motorik halus antara keduanya tidak berbeda secara signifikan.
HATI-HATI!
1. Sebaiknya orangtua tidak memberikan kritikan ketika mendapati kualitas tulisan anak kurang rapi, karena hal ini akan menimbulkan perasaan kurang nyaman dan cemas pada anak untuk mengulang kembali kegiatan menulis.
2. Berikan dukungan yang positif setiap kali anak menunjukkan hasil karyanya karena akan memperkuat keinginan anak untuk belajar menulis lebih baik lagi.
3. Kegiatan menulis ada hubungannya dengan kemampuan membaca sehingga keduanya harus diasah secara seimbang sejak dini.
4. Waspadai gangguan yang menyertai keterlambatan perkembangan motorik halus seperti Cerebral Palsy, disleksia, disgrafia, dan lain sebagainya. Untuk itu, bantuan dari profesional seperti dokter dan psikolog dibutuhkan guna memberikan terapi penanganan yang tepat.(tabloid-nakita)
JIKA KELEWAT TERTIB
Saya termasuk orang yang tertib dalam memberlakukan kebiasaan pada anak. Setiap pulang dari bepergian atau habis main dari luar, anak harus cuci kaki, tangan, dan muka, lalu ganti baju. Makan dan minum pun harus menggunakan piring dan gelas khusus milik mereka sendiri. Saya berharap dapat menanamkan disiplin dan kebiasaan yang baik sejak anak masih kecil.
Masalahnya, tanpa saya sadari, rutinitas tersebut ternyata malah membuat anak saya jadi enggak fleksibel. Suatu pagi, pernah saya membantu si kecil melepaskan pakaiannya sebelum mandi. Karena terburu-buru, saya lupa kalau selama ini dia terbiasa melepaskan celananya duluan baru kemudian bajunya. Nah, pagi itu, terbalik, bajunya dulu yang saya lepaskan. Jadilah dia marah-marah dan minta dipakaikan bajunya kembali. Saya sudah jelaskan, enggak apa-apa buka baju dulu baru celana, tapi dia tetap protes dan malah ngamuk. Apa boleh buat, saya terpaksa memakaikan bajunya kembali dan kemudian melepaskannya sesuai "prosedur".
Soal keramas dan mandi pun kami pernah ribut. Ia terbiasa keramas dulu baru pakai sabun. Kalau ritualnya dibalik, dia takkan mau. Pokoknya, jadi merepotkan deh! Saya sama sekali enggak nyangka kalau rutinitas yang saya tanamkan itu akhirnya malah jadi bumerang buat saya.
BERBAGAI ALASAN
Masalah ini lantas saya curahkan kepada seorang psikolog anak. Namanya, Yelia Dini Puspita, M.Psi., dari Lembaga Psikologi Terapan UI. Ternyata, menurutnya, bukan anak saya saja yang punya perilaku seperti itu. Alasannya, sebagian anak usia prasekolah mulai menguasai berbagai aktivitas tertentu yang terbentuk melalui proses pembiasaan. Sikap kaku terhadap suatu kebiasaan wajar terjadi sampai usia sekitar 4 tahun. "Kebiasaan atau ritual yang kaku itu umumnya berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, seperti ritual makan, berpakaian, dan mandi. Namun juga bisa meluas pada kebiasaan bermain maupun mengatur benda-benda miliknya," kata Yelia.
"Mungkin karena saya terlalu tertib ya, Mbak, dalam menerapkan rutinitas itu?" tanya saya.
"Memang, penerapan disiplin dari orangtua yang bersifat kaku, bisa menjadi penyebabnya. Segala rutinitas harus dilakukan dengan prosedur tertentu, baik dalam waktu maupun cara pelaksanaannya. Hal tersebut membentuk kebiasaan yang kuat pada anak dan diadopsi olehnya sehingga menimbulkan tingkah laku ritual yang kaku pula. Tanpa disadari, anak sudah telanjur nyaman dengan tata cara yang berulang, bersifat rutin, dan dapat diprediksi. Perhatian khusus perlu diberikan jika selewat usia 4 tahun, anak masih sangat kaku pada tata cara tertentu dalam beraktivitas. Kalau dibiarkan, ia dapat berkembang menjadi pribadi yang tidak fleksibel dalam menghadapi berbagai hal," jawab Yelia.
"Ada sebab lainnya lagi tidak?" tanya saya kembali.
"Biasanya hal ini juga berkaitan dengan karakter anak. Anak-anak yang mengarah pada karakter perfeksionis, umumnya melakukan segala sesuatu sesuai dengan prosedur atau ritual dan tahapan yang relatif sama agar mendapatkan hasil yang ‘sempurna’ baginya, sehingga akhirnya terbentuklah tingkah laku ritual yang kaku pada anak."
"Mungkin enggak karena anak ingin cari perhatian ayah bundanya?"
"Mungkin sekali, karena anak sangat menikmati perhatian dari orangtuanya. Kalau yang ini mudah sekali terlihat karena terjadinya hanya di saat-saat tertentu saja. Misal, ketika ibu atau ayahnya ada waktu untuk menemaninya mandi, bermain, dan lainnya. Sebab lainnya berkaitan dengan pola pikir yang rigid atau kaku dan adanya tindakan yang bersifat repetitif atau berulang. Umumnya dialami oleh anak dengan gangguan perkembangan, semisal autisma. Tentu saja anak seperti ini perlu penanganan khusus untuk menanggulanginya."
POSITIF-NEGATIF
Sebenarnya, kata Yelia, perilaku tersebut wajar-wajar saja, selama tidak sampai menyusahkan. "Umumnya, semakin bertambah usia anak, maka keterampilan sosialnya juga akan bertambah, sehingga kebiasaan yang kaku ini semakin lama semakin berkurang dan akan menghilang dengan sendirinya tanpa intervensi khusus. Kecuali pada anak yang memang mengalami gangguan perkembangan."
Akan tetapi, lanjut Yelia, bukan berarti orangtua tak perlu membantu. "Kebiasaan kaku ini akan berangsur berkurang hanya bila tidak mendapatkan penguatan dari lingkungan. Jika orangtua justru memperkuat kebiasaan yang kaku tersebut, entah dengan membiarkan, selalu menuruti keinginan anak, maupun tidak memberikan penjelasan pada si anak, maka kebiasaan kaku tersebut akan tampil lebih kuat."
Kerugiannya, sikap kaku yang berlebihan tanpa disertai fleksibilitas akan menyulitkan anak dalam beradaptasi dengan hal-hal baru. Hal ini juga menghambatnya dalam berinteraksi sosial dengan orang lain. Namun, bukan berarti menanamkan kebiasaan secara teratur itu salah. Buah positifnya juga ada. Antara lain, anak dapat mengembangkan disiplin dan keteraturan dalam bertindak, serta terbiasa melakukan perencanaan. Lebih jauh lagi, anak dapat melakukan antisipasi terhadap hal-hal yang mungkin akan terjadi. Karenanya, orangtua pandai-pandailah mengatur ritme penerapan aturan dan bersikap fleksibel di saat-saat darurat.
VARIASI, DONG...
"Kalau sudah telanjur, apa yang harus dilakukan, Mbak?" tanya saya segera.
"Orangtua harus peka terhadap kebutuhan dan karakter anaknya, ini yang pertama. Peka terhadap kebutuhan, antara lain dengan mengenali alasan yang menyebabkan anak melakukan tindakan tersebut. Orangtua harus berusaha untuk memahami karakter dan pola tingkah laku anak, serta proses pembiasaan yang terjadi. Kemudian berusaha berempati dan tidak memaksanya mengubah kebiasaan. Dukungan serta sikap yang konsisten lebih diperlukan anak agar merasa lebih aman, sehingga dapat membentuk rasa percaya diri dan pada akhirnya tindakan ritual tersebut akan hilang dengan sendirinya. Kalau memang karakternya perfeksionis, maka anak perlu dipersiapkan dalam menghadapi segala aktivitasnya, terutama yang di luar kebiasaan. Beritahukan atau jelaskan terlebih dahulu apa yang akan terjadi atau dilakukan oleh si anak di luar dari kebiasaannya itu," kata Yelia.
Sebetulnya, anak-anak yang memang mudah menyesuaikan diri biasanya tak terlalu terganggu bila melakukan rutinitas di luar jalurnya. Dalam kondisi terburu-buru, tak masalah jika handuknya dipakai terbalik, atau jika dibantu dipakaikan sepatunya sebelah kiri dulu padahal biasanya kanan. "Anak seperti ini dapat dengan cepat mengatasinya. Bahkan, beberapa anak justru merasa senang dan tertarik menghadapi ‘hal baru’ tersebut," lanjut Yelia.
"Namun fleksibel bukan berarti berubah-ubah, lo. Fleksibel adalah kemampuan beradaptasi secara cepat terhadap perubahan yang terjadi," tambahnya segera. "Bagaimanapun, dalam menerapkan disiplin, orangtua harus tetap konsisten. Kalau tidak konsisten atau berubah-ubah justru dapat menimbulkan kebingungan dan membuat anak merasa tidak nyaman. Hanya saja dalam pembiasaan yang konsisten tersebut selipkan juga variasi ritual yang dapat orangtua berikan dalam momen-momen tertentu. Sesekali, ajaklah anak makan sambil piknik di halaman. Tapi kalau anak tidak mau, ya jangan dipaksa. Biarkan saja dia tetap melakukan ritualnya sambil diberikan penjelasan mengenai variasi ritual yang bisa ia lakukan. Selain itu, orangtua juga perlu introspeksi akan sikapnya selama ini apakah dalam penerapan disiplin bersifat kaku ataukah cukup fleksibel."
Sedangkan bila penyebabnya adalah si anak cari perhatian, menurut Yelia, kembali lagi orangtua perlu peka terhadap kebutuhan anak. Selain juga perlu ditelaah apakah cari perhatian tersebut mengarah pada kurangnya kebersamaan dengan anak, atau merupakan aksi protes anak terhadap penerapan disiplin yang dilakukan orangtua. Ada baiknya orangtua melakukan introspeksi, kemudian memperbaiki diri serta memberikan perhatian sesuai dengan kebutuhan anaknya.
Kini saya bisa bernapas lega. Setidaknya, saya jadi paham, mengapa buah hati saya sampai "sekaku" itu. Tentu saja saya juga harus berubah kalau tidak ingin si kecil kelak benar-benar menjadi pribadi yang kaku.