PROBLEM SOLVING BUAT SI TUKANG BERTENGKAR


Paling pas gunakan saja logika.

Mata Rafa (4,5) langsung berbinar-binar melihat ada mainan baru di kelas. Tapi ups..., ia kalah cepat karena mainan itu kini sudah berada di tangan Vanny (4). Langsung saja, Rafa berlari ke arah Vanny dan menyerobot truk mini yang dapat dinaiki itu. Nah, kebetulan Vanny bukan tipe anak yang pasrah. Ia tidak terima mainan yang sudah berada di tangannya disambar orang. Aksi berebut pun tak dapat dihindarkan. Begitulah pemandangan yang lazim kalau anak-anak prasekolah bermain bersama.

Apakah mereka anak-anak nakal? Eits, sama sekali bukan. Bertengkar adalah hal biasa mengingat sifat egosentris yang melekat pada anak. Semuanya buatku, punyaku, giliranku, pokoknya segala sesuatu mesti terpusat pada dirinya. Jadi, tak perlu kaget kalau sampai ada anak yang nekat merebut mainan dari tangan temannya.

Bagaimana sikap kita? Tahan diri, deh, kalau enggak mau malah dibilang seperti anak kecil. Sikap yang paling bijaksana adalah bertindak sebagai fasilitator, kemudian terapkan metode problem solving untuk menyelesaikan pertengkaran tersebut. Mulai usia 4-5, anak-anak sudah mampu melakukannya, lo. Keuntungannya, kelak si prasekolah jadi terbiasa menyelesaikan permasalahan berdasarkan logika, tidak semata mengandalkan otot alias adu jotos.

BAGAIMANA LANGKAHNYA?

1. Saat terjadi pertengkaran dengan si teman, langkah pertama yang mesti dilakukan orangtua adalah melerai pertengkaran itu. Pisahkan kedua sosok yang saling bertengkar tanpa amarah. Selanjutnya, bila ada teman-teman lain yang ikut melihat peristiwa itu, mintalah salah satu di antara mereka menjadi saksi. Bila ada minta pula salah seorang lagi di antara teman-temannya itu menjadi penengah atau hakim. Kemudian, jadikan ajang itu sebagai sarana berlatih dengan menciptakan suasana bagai dalam sidang peradilan. Jadi, ajaklah anak bermain peran.

2. Langkah kedua, mintalah saksi mengemukakan peristiwa yang baru saja terjadi. Tentunya tugas orangtua adalah memancing dengan beraneka pertanyaan kepada si prasekolah agar mampu menceritakan peristiwa yang baru dialami.

3. Langkah ketiga adalah menanyakan kepada "pengunjung" dan hakim, siapa yang bersalah bila mengacu pada penuturan saksi. Mintalah hakim untuk sekaligus memutuskan pihak yang bersalah.

4. Terakhir, meminta yang bersalah untuk meminta maaf kepada temannya.

Nah, melalui kegiatan ini orangtua hendaknya bertindak sebagai penuntun, bagaimana cara menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi, mana yang benar dan yang salah. Sehingga melalui bermain peran menyerupai pengadilan itu, tentunya dengan didukung pemahaman yang sederhana, anak-anak dapat memahami tentang toleransi dan kompromi.

BILA TAK TERSELESAIKAN

Jika problem solving tadi belum dapat berjalan sebagaimana mestinya, ajukan saja contoh, "Menurut para saksi, Anto memukul duluan tapi Anto tidak mau meminta maaf. Kalau menurut teman-teman bagaimana kalau ada teman yang tidak mau meminta maaf?"

Pertanyaan yang dilontarkan ternyata berhasil memancing jawaban dari salah seorang temannya. Misal, "Tante kalau begitu Anto gak usah diajak main aja deh." Sementara itu, si Anto sendiri langsung ngambek dan meninggalkan arena. Dengan demikian konflik yang terjadi berarti belum menemukan penyelesaian.

Menghadapi situasi seperti itu, jangan paksa anak yang bertengkar untuk menyelesaikannya. Biarkan saja dulu. Namun kepada teman-temannya yang masih berada di arena sampaikan bahwa alangkah baiknya bila kita bersedia memaafkan terlebih dahulu, walau mungkin orang lain tidak meminta maaf kepada kita.

Melalui sikap seperti ini, anak-anak diajak untuk tetap menciptakan suasana yang demokratis. Meski tak menutup kemungkinan ada pula anak-anak yang tidak memahami. Paling tidak melalui cara ini, orangtua sedikitnya telah membuka wawasan si anak untuk menyelesaikan suatu permasalahan dengan cara yang tepat.

ASAH OTAK Lewat TEKA-TEKI

Tak hanya mengasah kreativitas, tapi juga kemampuan menganalisis.

"Aku buah-buahan, rasanya manis, rambutku banyak dan warnaku merah, apa hayo?" tanya Dika, bocah 4;6 tahun, kepada tiga teman mainnya. Di saat dua temannya mengernyitkan dahi, berpikir mencari jawaban tepat, tiba-tiba seorang temannya yang lain menjawab, "Buah rambutan!"

"Betul!" ucap Dika sambil menepuk bahu temannya itu.

Anak prasekolah, tepatnya mulai 4 sampai 6 tahun, memang senang bermain teka-teki. Kesenangan ini muncul karena pengaruh lingkungan ketika anak sudah bersosialisasi dengan teman-temannya, entah yang sebaya atau berumur di atasnya. "Nah, dari interaksi itu, mungkin saja anak mendengar atau mengamati teman-temannya bermain teka-teki," ujar Efriyani Djuwita, M.Si.

Bisa juga, main tebak-tebakan ini datang dari orangtua atau pengasuhnya. Saat senggang, beberapa orangtua sangat senang menggunakan permainan ini. Pengaruh lainnya bisa lewat media, entah televisi atau media cetak. Bahkan, beberapa majalah anak menyediakan kolom khusus teka-teki beserta hadiah bagi pengirim jawaban yang benar. Apalagi, tambah psikolog perkembangan anak yang akrab dipanggil Ita ini, kosakata, pengalaman, dan kemampuan kognitif anak juga sudah berkembang. "Mereka sudah bisa mencari jawaban dari potongan-potongan informasi yang di-namakan petunjuk. Jawaban itu diperoleh dari pengalamannya sehari-hari. Semakin kaya wawasan anak semakin mudah dia menjawab."

Selain itu, usia ini juga dikenal dengan usia cerewet. Anak senang bertanya dan menanyakan sesuatu. Nah, dengan permainan teka-teki, keterampilan berbahasanya seakan tersalurkan. Bahkan, beberapa anak yang cerdas sangat senang bila bisa membuat teka-teki sendiri.

TEKA-TEKI PORNO

Tentunya, anak tidak ujug-ujug bisa bermain teka-teki yang rumit, melainkan dimulai dari soal-soal sederhana. Awalnya sangat mungkin anak hanya bertanya-jawab tentang persamaan dan perbedaan dari sebuah kata atau benda. Umpama, "Apa persamaan bemo dan bajaj?", "Apa beda ikan dan kodok?", dan seterusnya. Dari situ anak belajar mengotak-atik kata-kata menjadi sebuah teka-teki.

Jadi, sesuai kemampuan kognisinya, teka-teki anak prasekolah umumnya cukup sederhana. Misal, di awal pertanyaan, anak akan menyebutkan kategori seperti, "Aku binatang.", "Aku buah-buahan....", dan sebagainya. Petunjuknya pun, biasanya cukup lengkap sehingga memudahkan mereka untuk menjawab. Beberapa teka-teki favorit, umumnya tak jauh dari dunia anak-anak, seperti tokoh jagoannya, binatang, mobil, buah-buahan, dan lainnya. Mereka senang mengenali ciri sesuatu benda, lalu mengubahnya menjadi teka-teki seru.

Yang jelas, permainan teka-teki dapat mengasah kreativitas dan memperkaya wawasan anak. Karenanya, Ita menyarankan orangtua agar menanggapi pertanyaan teka-teki anak. "Berpikirlah dan jawablah dengan serius, sehingga anak merasa dihargai. Hindari jawaban asal-asalan yang membuat anak malas dan ogah-ogahan memberikan soal teka-teki lagi," kata pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Jika anak kehabisan ide, cobalah orangtua gantian memberikan pertanyaan kepada anak. Mulailah dari hal-hal yang dekat dengan anak. Jika anak sedang gandrung dengan Spiderman, misal, cobalah membuat soal teka-teki tentang jagoannya itu. Jika anak kesulitan menjawab, cobalah untuk memberikan petunjuk lebih banyak. Atau, anak bisa berpikir untuk beberapa lama sampai menemukan jawaban tepat. Boleh jadi orangtua memberikan teka-teki di malam hari, tetapi baru dijawab keesokan harinya oleh anak sepulang sekolah. Tak masalah. Kemudian, jika anak menemukan teka-teki di majalah dan kesulitan menjawabnya, sebaiknya orangtua bersama anak memecahkan soal teka-teki itu.

Namun, orangtua tetap harus melakukan pembatasan atau pengawasan. Tak semua teka-teki positif dan menghibur. Ada beberapa teka-teki yang berkonotasi negatif, jorok, berbau pornografi, atau pelecehan terhadap seseorang dan golongan tertentu. Jadi, orangtua harus memilah, teka-teki mana yang cocok dan tidak buat anak. Selamat berteka-teki bersama si buah hati!

4 MANFAAT MAIN TEKA-TEKI

1. Mengasah Daya Ingat


Saat teka-teki diluncurkan, anak akan menyisir semua arsip yang ada di kepalanya, untuk kemudian dicocokkan dengan petunjuk yang ada. Karenanya, permainan ini sangat baik untuk menjaga daya ingat anak. Selain itu, sangat mungkin anak menemukan kosakata baru yang belum dikuasainya. Dengan begitu, wawasan anak semakin kaya, kosakatanya pun bertambah banyak.

2. Belajar Klasifikasi

Anak belajar mengklasifikasikan, mana yang termasuk kategori buah-buahan, binatang, kendaraan, dan sebagainya. Saat disebutkan buah-buahan, pikiran anak akan melayang kepada jeruk, pepaya, rambutan, dan sebagainya. Demikian juga ketika pertanyaan itu merujuk kepada binatang, maka gajah, monyet, kodok, dan lainnya, akan segera melintas dalam pikirannya. Dengan keterampilan klasifikasi ini, anak akan mudah menata ribuan kosakata yang dikuasainya.

3. Mengembangkan Kemampuan Analisis

Anak belajar menganalisis jawaban yang tepat dari berbagai petunjuk yang ada. Dia belajar menggabungkan informasi itu dan menemukan jawabannya. Kemampuan analisis ini sangat berguna, khususnya saat anak masuk usia sekolah. Banyak sekali pertanyaan yang membutuhkan analisis, utamanya soal-soal yang memakai penggunaan cerita.

4. Menghibur

Permainan teka-teki sangat menghibur. Ini jelas permainan yang menyenangkan dan bisa mengakrabkan hubungan anak dengan orangtua, maupun antarteman sebaya. Bisa dilakukan di mana saja dan kapan pun, baik dalam perjalanan, di rumah, sekolah, maupun di saat-saat santai lainnya.

BEBERAPA CONTOH TEKA-TEKI ANAK

Orangtua bisa membuat beberapa soal teka-teki yang kreatif. Mulailah dari hal-hal yang dekat dengan keseharian anak. Sangat mungkin jawaban dari teka-teki itu lebih dari satu. Berikut beberapa contohnya:

* Buah-buahan

- Aku buah-buahan. Warna kulitku hijau. Warna dagingku merah. Rasaku manis. (Jawaban: semangka)

- Aku buah-buahan. Aku memiliki banyak duri tajam. Bauku harum dan rasaku manis. (Jawaban: durian)

* Binatang

- Aku binatang berkaki empat. Aku berbadan besar dan memiliki belalai panjang. (Jawaban: gajah)

- Aku binatang berkaki empat. Leherku panjaaangng... sekali. Aku memiliki banyak bintik di tubuhku. (Jawaban: jerapah)

- Aku binatang tanpa kaki dan tangan. Badanku panjang dan lentur. Gigiku tajam dan aku memiliki racun berbahaya. (Jawaban: ular)

* Jagoan

- Aku bisa memanjat gedung seperti laba-laba. Warna bajuku merah. Aku bisa mengeluarkan jala yang mampu menjerat lawan. (Jawaban: Spiderman)

- Aku seorang jagoan yang memiliki jubah. Aku bisa terbang dan di dadaku terdapat huruf S. Siapakah aku? (Jawaban: Superman)
(tabloid-nakita)

Tes IQ di TK, seberapa perlu?

Ketika ada orangtua mempertanyakan perlunya tes IQ di TK, orangtua lainnya mungkin mengajari sang anak untuk menjawab pertanyaan dalam tes.

Suatu hari saya sempat mengantarkan si kecil Rafi yang duduk di TK A berangkat ke sekolah. Di sekolahnya, terpampang lembar kertas berisi daftar anak kelas TK B yang hendak mengikuti tes IQ di hari Sabtu. Saya jadi teringat akan surat pemberitahuan yang saya terima minggu lalu dari sekolah. Isinya mengenai tawaran tes IQ bagi anak yang duduk di TK A. Saya belum mengembalikan formulir untuk kesediaan dites. Terus terang, saya belum memahami pentingnya tes IQ bagi anak saya yang masih di TK A.

Kebetulan, saya kenal seorang psikolog anak, Yelia Dini Puspita, M.Psi. Ia bekerja di LPT UI, Salemba dan menjadi konsultan psikologi di TKIF Al Fikri, Depok. Akhirnya, untuk memenuhi keingintahuan saya sebagai orangtua, saya pun menyempatkan diri bertemu dengan Mbak Dini guna menanyakan masalah pentingnya tes IQ bagi anak TK.

Sebelum menjawab pertanyaan saya, Mbak Dini terlebih dahulu menjelaskan sekilas mengenai yang dimaksud dengan tes IQ (Intelligence Quotient). Menurutnya, inteligensi itu sendiri berarti keseluruhan kapasitas yang dimiliki seseorang untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan beradaptasi secara efektif terhadap lingkungan. Nah, tes ini lebih menekankan kemampuan (intelektual) dalam beradaptasi dengan lingkungan. Gambaran kemampuan ini diperoleh melalui kemampuan memecahkan masalah secara intelektual (problem solving), serta kemampuan berpikir abstrak (berpikir dengan menggunakan simbol-simbol dan konsep-konsep).

Jadi, spesifiknya, kemampuan yang dinilai oleh tes IQ antara lain: daya tangkap, daya ingat, minat terhadap lingkungan atau pengetahuan umum (yang menggambarkan kesigapan anak

terhadap berbagai peristiwa di sekitarnya dan stimulasi dari lingkungan), kemampuan bahasa (pemahaman konsep-konsep bahasa), kemampuan analisis dan sintesis dalam tataran konseptual maupun praktis, kemampuan memecahkan masalah secara konseptual maupun praktis, fleksibilitas berpikir, kemampuan konsentrasi, serta kemampuan dasar numerik atau hitung menghitung.

TUJUANNYA APA?

Nah, berikut ini bincang-bincang saya selengkapnya dengan Mbak Dini seputar tes IQ pada anak prasekolah.

Sebenarnya, apa tujuan TK melakukan tes IQ pada murid-muridnya?

Biasanya lebih ditujukan untuk mengevaluasi kesiapan anak masuk sekolah dasar nantinya. Juga untuk mengetahui (taraf kecerdasan yang diperoleh melalui skor IQ) si anak. Beberapa sekolah dasar ada yang menjadikan (taraf kecerdasan) tersebut sebagai suatu hal mutlak yang menentukan diterima-tidaknya si anak di sekolah itu. Kalau yang ini, biasanya tes IQ dilakukan di SD sebagai proses penerimaan siswa baru di SD tersebut.

Ada pula yang memanfaatkan tes IQ untuk penempatan kelas di SD, misal, penempatan kelas khusus atau kelas reguler. Juga ada yang memanfaatkannya sebagai dasar dari pembuatan program khusus. Contoh, anak berkebutuhan khusus tentu memerlukan program belajar khusus. Nah, sekolah dapat memanfaatkan hasil tes IQ dengan melihat pada kekuatan dan kelemahan si anak. Jika melalui tes IQ ternyata diketahui ada kelemahan dalam kemampuan bahasa, maka bisa dirancang program yang dapat mengembangkan kemampuan bahasa untuk membantu proses belajar si anak di SD.

Kalau begitu, ada manfaatnya juga ya tes IQ untuk anak TK?

Kembali pada kebutuhan dan tujuan sekolah itu sendiri. Jika tak ada tujuan khusus ataupun suatu manfaat yang didapat dari hasil tes IQ, baik manfaat bagi sekolah maupun bagi anak, sebaiknya anak tak perlu ikut.

Jika tidak ikut tes IQ, bagaimana kita dapat melihat kesiapan si anak bersekolah nantinya?

Kesiapan atau kematangan anak bersekolah tidak ditentukan oleh skor IQ saja. Tak kalah penting terutama kematangan emosinya yang dapat dilihat antara lain dari:

1. Kemandirian, terutama adalah kemampuan memilih kegiatan yang ingin dilakukan, serta rasa percaya diri dalam bertindak.

2. Tingkat ketergantungan pada orang tua; apakah anak sudah mampu berpisah dari orangtuanya untuk jangka waktu tertentu dan dapat menerima tokoh otoritas lain seperti guru? Juga, dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah baik lingkungan sosial maupun lingkungan belajar.

3. Ketepatan prestasi kerja. Maksudnya, anak dapat menyelesaikan tugas yang diberikan, mampu memusatkan perhatian pada tugas, bagaimana daya tahan dalam mengerjakan tugas, daya konsentrasi, keuletan, serta kemandirian mengatasi kesulitan dalam penyelesaian tugas.

4. Keteraturan dalam berpikir dan bertindak. Bagaimana anak dapat mengarahkan tingkah lakunya di sekolah, kemampuan mengikuti rutinitas, serta kemampuan bersosialisasi dengan teman maupun guru.

Bila tidak menggunakan tes IQ, apakah ada tes lainnya untuk mengukur kesiapan sekolah?

Ya, tes IQ memang bukan satu-satunya tes yang tersedia untuk mengukur kesiapan sekolah. Masih ada tes khusus yang mengukur kematangan sekolah anak atau mengevaluasi kesiapan anak untuk bersekolah. Aspek yang diukur dalam tes tersebut adalah:

1. Persepsi visual atau kemampuan pengamatan, antara lain mengukur kemampuan anak dalam membedakan bentuk dan mengukur ketajaman pengamatan atau kemampuan membedakan bentuk dengan latarnya. Kemampuan ini nantinya sangat diperlukan dalam proses belajar, terutama dalam membaca dan menulis.

2. Motorik halus, yaitu kemampuan anak dalam membuat bentuk-bentuk sederhana sebagai dasar dari kemampuan menulis.

3. Konsep dasar berhitung seperti kemampuan membandingkan ukuran, jumlah, dan urutan.

4. Daya ingat.

5. Kemampuan konsentrasi.

6. Pemahaman konsep-konsep dasar dan penilaian terhadap situasi, pemahaman instruksi dan bahasa.

Apakah tes tersebut lebih bagus dibandingkan tes IQ?

Bagaimanapun, setiap tes memiliki kelebihannya sendiri. Namun memang, tes IQ memiliki beberapa keunggulan, di antaranya:

- Dapat memberikan profil mengenai kekuatan dan kelemahan anak. Tentunya dalam kemampuan intelektual.

- Bisa memprediksi prestasi akademis yang dapat dicapai oleh anak.

- Hasil tes IQ juga lebih bermanfaat bagi anak yang mengalami gangguan perkembangan, karena melalui hasil tes IQ dapat diketahui batas-batas kemampuan anak dan pengaruh dari gangguan yang dialami terhadap kemampuan belajar anak, sehingga melalui hasil tersebut dapat dikembangkan program khusus yang dapat mendukung keberhasilan belajar anak.

PERSIAPAN KHUSUS?

Sebenarnya, mulai usia berapa anak dapat ikut tes IQ?

Sejak usia 2 tahun, anak sudah bisa dites IQ. Namun ingat, harus dilakukan sesuai kebutuhan. Misal, ada kebutuhan untuk mencari masalah atau gangguan pada anak menyangkut tingkat kecerdasannya untuk menentukan treatment yang sesuai.

Andaikan saya tetap ingin mengikutsertakan anak tes IQ, apa yang harus diperhatikan?

Tidak perlu persiapan khusus, kok. Yang penting, ketika menjalani tes IQ, anak harus dalam kondisi sehat dan keadaan emosi yang positif. Jadi, anak perlu istirahat cukup sebelum tes, hindari aktivitas yang melelahkan dan jangan lupa makan sesuai kebutuhannya supaya dapat berkonsentrasi selama tes.

Apa lagi yang harus menjadi perhatian orangtua kalau anaknya hendak tes IQ?

Tidak memaksa anak untuk belajar bahkan melakukan drilling sebelum tes yang sebetulnya memang tidak perlu. Ada juga yang mewanti-wanti anaknya untuk menjawab setiap pertanyaan yang diajukan, duduk dengan tenang, dan sebagainya. Padahal, itu semua tidak perlu karena justru membuat anak merasa cemas dan dapat memengaruhi hasil pemeriksaan IQ. Jadi, kalau anak mau tes IQ, santai saja deh.

Seperti apa penyelenggaraan tes IQ untuk anak prasekolah?

Tes dilakukan secara individual, satu anak dengan satu psikolog, mengingat kemampuan konsentrasi dan rentang perhatian yang masih terbatas. Cara tes seperti ini cukup efektif. Disamping itu mereka biasanya juga melakukan pendekatan khusus atau rapport di awal pengetesan. Utamanya untuk beradaptasi dengan situasi tes ataupun beradaptasi dengan tester sehingga mereka dapat mengikuti pengetesan secara optimal.

Tapi, kok di sekolah dilakukan secara massal?

Sebetulnya, pelaksanaan secara klasikal atau berkelompok untuk anak prasekolah tidak terlalu efektif, bahkan hasil yang diperoleh dapat menjadi kurang optimal.

SKOR DAPAT BERUBAH

Jika hasil skor tes anak rendah, bagaimana kita menyikapinya?

Bersikaplah bijaksana. IQ hanya salah satu faktor yang memengaruhi keberhasilan belajar anak, jadi bukan satu-satunya. Meskipun dapat memprediksi prestasi akademis, namun hasil tes IQ memiliki keterbatasan dalam memprediksi keberhasilan kerja nantinya. Pengukuran IQ yang ada saat ini juga masih belum mampu mengevaluasi konsep IQ secara multidimensi atau belum dapat mengakomodasi pengukuran multiple intelligence.

Jadi, ada baiknya orangtua memahami kekuatan dan kelemahan yang dimiliki anak melalui hasil tes IQ yang diperoleh saat ini, namun tidak menjadikannya sebagai "patokan" dan beranggapan bahwa hasil tersebut sudah harga mati yang tidak dapat berubah.

Akan lebih baik jika hasil tersebut digunakan untuk mengembangkan berbagai kemampuan anak, baik kemampuan yang belum tampil secara optimal maupun memperkuat kemampuan yang sudah optimal, misalnya dengan memperbanyak stimulasi.

Jika hasil yang diperoleh ternyata kemampuan intelektual anak berfungsi di bawah rata-rata, ada baiknya orang tua berkonsultasi dengan ahlinya atau psikolog untuk menentukan arah pendidikan serta treatment yang dapat dilakukan selanjutnya.

Jika anak saya nanti di SD misalnya dilakukan tes IQ lagi apakah hasil skornya sama?

Hasil tes IQ masih dapat berubah sesuai dengan perkembangan anak, terutama selama usia 5 tahun pertama. Bahkan setelah usia 5 tahun masih dapat terjadi perubahan yang signifikan dalam kemampuan inteligensi.

Apa yang menyebabkan hasil tersebut bisa berubah?

Karena ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi, di antaranya:

- Faktor pengukuran, yaitu faktor-faktor yang berkaitan dengan proses pengetesan, antara lain jenis item yang bisa sangat beragam seperti pengukuran wawasan, koordinasi antara mata dan tangan, persepsi visual, bahasa, numerik, problem solving, dan sebagainya. Tentunya, jenis item ini yang sesuai dengan usia atau kemampuan anak.

- Faktor lainnya adalah kesalahan dalam administrasi tes dan skoring, faktor situasional—seperti pendekatan awal yang dibina atau rapor, kelelahan, kondisi fisik anak, motivasi, rentang perhatian, toleransi terhadap frustrasi, rasa percaya diri, tingkat aspirasi, kecemasan, reaksi terhadap kegagalan—serta jarak waktu antara pengambilan tes pertama dengan tes berikutnya.

- Faktor lingkungan, yaitu faktor fisik dan emosional—seperti kondisi kesehatan fisik, adanya trauma emosional, juga kemampuan berpisah dari orangtua—serta faktor stimulasi kognitif, yaitu berbagai rangsangan dari lingkungan yang dapat memperkaya kemampuan intelektual anak).

- Faktor nutrisi juga berperan penting dalam perkembangan inteligensi seseorang.

Usai bincang-bincang tersebut, kini saya jadi lebih mengerti dan dapat mengambil keputusan atas penawaran tes IQ yang diberikan pihak sekolah.

SKOR IQ

Umumnya, tes IQ yang digunakan berdasarkan standar Wechsler. Berikut skornya dari yang tertinggi hingga terendah:

* Very superior (sangat cerdas): 128 ke atas

* Superior (cerdas): 120–127

* Bright normal (di atas rata-rata): 111–119

* Average (rata-rata): 91-110

* Dull normal (di bawah rata-rata): 80–90

* Borderline: 66–79

* Mentally defective (terbelakang mental): 65 ke bawah

(Sumber: David Wechsler, The Measurement of Adult Intelligence.3 rd ed)

YUK, BELAJAR MENULIS

Membentuk lilin plastisin, bermain pasir, dan menggunting ternyata ada hubungannya dengan kemampuan menulis.

Meski keterampilan menulis bukanlah aspek yang ditekankan di usia prasekolah, bukan berarti anak 4-5 tahun tak boleh distimulasi menulis. Yang penting, porsinya tidak melebihi porsi kemampuan praakademiknya. Anak pun harus merasa senang dan tidak terpaksa saat diajarkan menulis. Untuk itu, orangtua harus memerhatikan betul cara-cara menstimulasi keterampilan menulis yang tepat alias sesuai dengan tahapan perkembangan anak usia ini.

Ada 2 hal penting yang harus diperhatikan orangtua, sebagaimana dipaparkan Lara Fridani, S.Psi, M.Psych (Edu&Dev), dosen Pendidikan Guru PAUD, Universitas Negeri Jakarta.

I. LIHAT KESIAPAN ANAK

Untuk mengetahui si prasekolah sudah siap atau belum diajarkan menulis, orangtua perlu memerhatikan 3 hal berikut ini:

1. Aspek Fisik-Motorik.

Keterampilan menulis termasuk dalam keterampilan motorik halus yang melibatkan otot kecil khususnya tangan dan jari-jari. Di usia prasekolah, anak dapat mengontrol gerakan jari-jemarinya dengan lebih baik, sehingga mereka bisa lebih terampil dalam menggunakan material/peralatan untuk menggenggam dan memanipulasi alat.

Umumnya, di usia 3 tahun 6 bulan, motorik halus anak siap untuk dilatih memegang alat tulis (pensil atau bolpen), sehingga diharapkan pada usia 6-7 tahun ke atas, kemampuan tersebut—memegang alat tulis dengan benar— dapat dikuasai anak.

Untuk itu, sebelum anak mencapai usia prasekolah atau sebelum dilatih menulis, orangtua harus melatih keterampilan motorik halus anak dengan berbagai kegiatan seperti membentuk plastisin (lilin lunak), bermain pasir, bermain pasel, membuat bangunan dari balok dan sejenisnya, meraba bentuk huruf yang terbuat dari pasir atau permukaan kasar/halus, makan dan berpakaian secara mandiri, memakai sepatu, menggun-ting (sambil diawasi agar terjaga keamanannya), dan lain-lain.

2. Aspek Emosi

Kegiatan menulis membutuhkan kesabaran, ketekunan dan konsentrasi. Anak usia prasekolah memiliki rentang waktu konsentrasi dan atensi yang masih terbatas. Mengajak anak melakukan kegiatan menulis, katakanlah selama 5 menit, perlu usaha yang cukup besar. Kesabaran dan support orangtua mendampingi anak dalam menulis akan berpengaruh besar terhadap emosi dan konsentrasi anak pula. Orangtua diharapkan tidak banyak mengkritik produk tulisan anak, melainkan memberikan reward, misalnya berupa pujian atas usaha dan kesabaran anak. Seiring dengan kematangan dan perkembangan usianya, anak akan semakin terampil dalam menulis.

3. Aspek Kognitif

Keterampilan motorik halus, sebagaimana keterampilan aspek yang lain, sangat terkait dengan kemampuan kognitif anak. Menurut teori Piaget, perkembangan kognitif anak usia prasekolah berada pada tahap pra-operasional, dimana dalam tahap ini sebenarnya kemampuan berpikir anak masih di bawah tahap konkret. Jadi, dalam mengajari anak, minimal kita memberikan banyak contoh yang konkret, bermakna, dan familiar bagi anak. Di tahap ini anak mulai memahami bahwa benda-benda yang biasa dilihatnya, dapat diwakili oleh tulisan. Dengan memberikan stimulasi yang bermakna dan sesuai konteks, maka ini bisa menjadi daya tarik bagi anak untuk menuliskan benda-benda maupun nama orang yang dikenalnya.

II. TAHAPAN KEMAMPUAN MENULIS

Selain mengetahui kesiapan anak untuk belajar menulis, orangtua juga perlu memerhatikan tahapan perkembangan kemampuan menulis pada anak. Dengan begitu, orangtua dapat memberikan stimulus yang tepat, sesuai dengan kemampuan anak. Cara menstimulasinya adalah dengan menggunakan variasi metode dan media yang menarik agar anak senang berlatih menulis. Ada 6 tahapan kemampuan anak sebagai "penulis muda" yaitu;

1. Inexperienced Writer

Tahapan menggunakan gambar, tulisan scribble (coretan/ sketsa) ataupun bentuk lain seperti huruf, dan sebagainya. Contoh, tulisan anak yang bentuknya baru mirip huruf.

2. Prewiter

Tahapan mencontoh huruf, kata ataupun kalimat pendek. Anak juga mulai menggunakan huruf-huruf yang dikenalnya dalam menamakan suatu benda, dan menulis kata-kata yang pernah dipelajari (pernah terekam dalam memori). Contoh, tulisan satu kata.

3. Developing Writer

Anak paham bahwa kata-kata yang mereka ucapkan dapat dituliskan pula; mengerti bahwa kata-kata biasanya mewakili bunyi-bunyi tertentu. Juga mulai muncul huruf-huruf lain yang menunjukkan pemahamannya tentang hubungan bunyi maupun simbol, dan mulai menulis kata demi kata namun spasi antara kata biasanya belum muncul. Di tahap ini, anak dapat membaca tulisannya sendiri. Contoh, tulisan dua tiga kata tanpa spasi.

4. Beginning Writer

Anak dapat menulis kata demi kata, menulis dengan bimbingan orang dewasa, mulai menggunakan spasi untuk memisahkan satu kata dengan kata lain, serta mulai menunjukkan pemahaman tulisan di buku, majalah dan lainnya. Contoh, tulisan 3 kata dengan spasi.

5. Experienced Writer

Di tahap ini, tumbuh kepercayaan diri anak. Dia mulai bisa menulis mandiri, menggunakan rancangan/pola/gambaran dari lingkungan sekitarnya sehingga menjadi kata yang bermakna, memahami penggunaan spasi, dapat menuliskan ide sederhana tapi cukup komplet, dan bisa mengeja kata-kata yang cukup sulit.

6. Exceptional Writer

Anak menunjukkan antusiasme yang tinggi. Dia lebih senang untuk menulis mandiri, menulis kalimat yang panjang, sudah terlatih menggunakan spasi antarkata, dan lain-lain. Contoh, tulisan anak SD awal, dimana tekanan tulisan sudah cukup mantap, dan bisa membuat kalimat. Umumnya, kemampuan menulis anak TK (prasekolah) yang mendapat stimulasi baik, berada pada tahapan 3-4. Ketika anak usia TK sudah mencapai kemampuan seperti experience (tahap 5) ataupun exceptional writer (tahap 6), ini adalah bonus. Sebagai pendidik, orangtua tidak bisa mengharapkan semua anak usia prasekolah mencapai keterampilan seperti ini. Dengan stimulasi yang baik dan berkesinambungan, diharapkan pada usia SD, anak semakin terampil dan antusias dalam menulis mandiri.

TAK HARUS BISA MEMBACA

Menurut Lara, untuk dapat belajar menulis, anak tidak harus bisa membaca tulisan lebih dahulu. "Kita tidak boleh menuntut anak bisa membaca kata atau tulisan sebelum usia 6 tahun, karena kemampuan membaca terkait juga dengan kematangan dan perkembangan kognitif anak," ujar Lara. Sebelum masuk ke TK, anak bisa dilatih membaca gambar, sehingga di TK kete-rampilan ini akan semakin mantap. Dengan demikian akan lebih mudah bagi anak untuk membaca kata-kata yang sering didengar ataupun berada di sekitar anak.

Jika ada anak yang bisa membaca dengan baik di usia ini, tentu saja ini bonus untuk orangtua yang sudah bekerja keras melatih anak. Asalkan, jangan sampai kegiatan ini membebani anak, sehingga ada anak yang sudah pintar membaca tapi kemudian tidak mau membaca lagi. Atau sudah bisa menulis, tapi karena merasa tidak nyaman setiap kegiatan menulis, maka anak tidak suka menulis lagi.

6 HAL YANG PENTING DIPERHATIKAN

Agar si prasekolah senang dan nyaman belajar menulis, Lara memberikan tip-tip berikut ini:

1. Gunakan alat tulis yang tepat.

Awalnya, berikan pensil dengan bentuk dan ukuran yang lebih mudah dipegang dan dimanipulasi oleh anak, misalnya bentuk seperti segitiga (tidak bulat) dengan "garis tengah" agak besar dan tidak licin.

2. Tidak memaksa anak.

Lakukan dengan cara-cara yang menyenangkan dan nyaman buat anak. Pemaksaan hanya membuat anak tertekan dan merasa jenuh. Sebetulnya, bila usia anak memang sudah siap dan secara motorik halus sudah matang, dengan stimulasi yang wajar saja, keterampilan menulisnya dapat berkembang.

3. Tidak memberi target.

Misal, hari ini si kecil harus bisa menulis huruf hidup, atau dalam sehari anak harus bisa menulis satu kata, dan lainnya. Biarkan anak menulis apa yang ingin ditulisnya, orangtua hanya membimbing agar anak dapat menulis dengan baik.

4. Catat setiap perkembangan dan kemajuan anak.

Dokumentasikan setiap tulisan yang dibuat anak. Untuk itu, cantumkan tanggal, bulan, dan tahun anak menulis di kertas atau bukunya. Sehingga orangtua bisa melihat ada-tidaknya perubahan yang lebih baik, untuk kemudian orangtua mengajarkan tulisan lainnya. Di usia akhir TK B, diharapkan anak dapat menulis huruf dan angka meskipun tulisannya belum bagus tapi dapat dibaca.

5. Berlatih dengan buku latihan menulis.

Di pasaran banyak dijual buku latihan menulis untuk anak TK. Orangtua boleh saja membelikannya untuk melatih anak menulis. Yang perlu diperhatikan, jangan menuntut anak untuk melakukannya dengan sempurna. Umpama, anak harus menulis huruf "a" dengan mengikuti titik-titik berbentuk huruf "a", tapi hasilnya agak melenceng. Hal ini wajar saja mengingat keterampilan motorik halusnya yang belum sempurna.

6. Lihat usaha anak bukan hasilnya.

Orangtua/guru hendaknya melihat proses di balik hasil tulisan anak. Anak yang tulisannya sudah bagus maupun yang belum, tetap harus diberikan penghargaan yang sama. Bukankah anak yang tulisannya “jelek” pun sudah berusaha untuk bisa menghasilkan

tulisan? Nah, usahanya inilah yang patut dihargai, bukan hasilnya.Semoga para orangtua diberi kesabaran untuk bersama-sama melatih generasi penerus bangsa!(tabloid-nakita)

DI BALIK ASYIKNYA MAIN BERSAMA

Bukan sepenuhnya salah kakak jika adiknya sampai terluka akibat main bersama tanpa diawasi.

Bagi anak prasekolah, adik merupakan teman bermain sehari-hari yang ada di rumah. Mereka bisa bermain apa saja. Bermain bersama tentulah dapat mempererat hubungan antarsaudara. Namun di sisi lain, bermain bersama juga memungkinkan munculnya bahaya, terutama bagi sang adik. Ini karena saat bermain, tak jarang anak melakukan hal-hal yang dapat membahayakan. Bisa karena kegiatan bermain itu sendiri. Bisa juga akibat kesalahpahaman dalam bermain hingga mereka bertengkar dan saling serang.

Tentu saja, dalam bermain anak sama sekali tak ada niatan untuk menyakiti. Umpama, si kakak yang berusia 4 tahun ingin meniru sikap keibuan dengan menggendong-gendong adiknya yang berusia 2 tahun. Ia hanya ingin menggendong tapi kemudian ia kehilangan keseimbangan dan si adik terlepas lalu terjatuh. Contoh lain, kakak dan adik main perang-perangan, tapi karena si kakak lebih kuat dan besar maka saat melakukan gerakan memukul tanpa sengaja ia menyakiti adiknya.

Ketahuilah, kemampuan kognitif anak masih terbatas. Di usia prasekolah, anak belum mampu memahami adanya kemungkinan bahaya dari tindakan yang dilakukannya karena pemikirannya belum begitu matang. Anak juga belum tahu persis kekuatan dirinya dalam mengangkat beban, atau seberapa kuat pukulannya agar tak sampai menyakiti adik.

Karena itulah, harus ada orang dewasa yang mengawasi anak prasekolahnya kala bermain bersama sang adik, baik yang sudah batita atau masih bayi. Bila tak diawasi dan kemudian terjadi sesuatu yang tak diinginkan, maka si prasekolah tak bisa sepenuhnya disalahkan. Ingat, tindakan anak sebagian besar dilakukan tanpa disengaja, meskipun sebelumnya ia sudah diperingatkan. Kecuali jika anak memang diketahui punya kecemburuan terhadap adik, dan selalu ingin menarik perhatian orang lain di sekitarnya.

BUKAN DIMARAHI

Bila si adik sampai terluka, terjatuh dan sebagainya karena tindakan sang kakak, maka yang harus dilakukan bukanlah memarahinya. Anak lebih memerlukan penjelasan langsung pada tujuan untuk dapat memahami kesalahannya. Contoh, "Kakak lihat, kan, karena mainnya tidak hati-hati, hidung adik jadi berdarah seperti itu. Lain kali tidak boleh lagi main sambil memukul, ya?" Setelah itu, mintalah si kakak untuk minta maaf kepada adiknya.

Sebetulnya, dengan kejadian adik yang berdarah dan kesakitan, si kakak melihat akibat yang ditimbulkan dari tindakannya. Bisa saja saat itu dia merasa bersalah atau ketakutan untuk beberapa saat. Namun, belum tentu dia tak akan mengulanginya lagi. Mengapa? Tak lain karena pemahamannya belum matang. Itulah mengapa, orangtua tak cukup hanya sekali saja memberitahukan dan menjelaskan pada anak, melainkan harus berulang-ulang.

Bisa jadi, akibat tindakannya itu berakibat fatal pada si adik. Umpama, tanpa disadari si kakak menduduki adiknya hingga cedera berat. Peristiwa ini bisa membuat si kakak trauma, mungkin sampai besarnya nanti. Jika si kakak akhirnya mengalami rasa takut, misalnya jadi takut melihat darah atau takut mendengar suara keras, orangtua dapat membantu anak mengatasi rasa takutnya dengan membantunya memiliki strategi menghadapi rasa takut, dan bukan menghindari. Contoh, jika suatu saat adik terluka dan berdarah karena jatuh, orangtua dapat mengajak kakak menolong adik dan melihat orangtua membersihkan luka adik, sambil menjelaskan bahwa adik luka karena jatuh. Jangan lupa pertimbangkan usia anak dan berilah penghargaan atas setiap kemajuan mengatasi rasa takut yang berhasil dicapainya.

JIKA KAKAK MENGANCAM

Sering terjadi, acara bermain bersama tak berjalan mulus dan lancar. Tahu-tahu kakak dan adik malah saling ejek, berebut, memukul, dan tak ada yang mau mengalah. Bahkan bukan tak mungkin si kakak mengancam adiknya dengan kata-kata yang mengerikan, "Awas, ya aku tusuk pakai garpu!"

Menghadapi hal ini, orangtua hendaknya jangan panik. Sikapi dengan tenang sambil katakan, "Mama tidak suka kalau ada kata-kata tak bagus seperti itu. Tak boleh kamu mengatakan seperti itu pada adik. Lain kali Mama tidak mau mendengar itu lagi, ya!" Selain itu, orangtua juga perlu mencari tahu dari mana anak memperoleh kosakata yang tak diharapkan dan mengerikan. Galilah dari cerita si anak. Tentu tidak dilakukan saat itu, melainkan ketika anak sudah dalam kondisi tenang. Bicaralah secara baik-baik pada anak.

Ada kemungkinan anak pernah mendengar perkataan seperti itu dari lingkungan rumah atau PG/TK-nya. Bisa juga dari tontonan yang pernah dilihatnya dan kemudian ia tirukan. Itulah perlunya orangtua mendampingi anak saat menonton teve. Orangtua hendaknya juga melihat kembali ke belakang apakah kemungkinan selama ini anak kurang diperhatikan, kurang pengawasan dan sebagainya. Bila memang demikian, segeralah upayakan perbaikan dengan menyediakan cukup waktu untuk bersama anak, serta memenuhi kebutuhan anak akan kasih sayang dan perhatian dari orangtua.

Dedeh Kurniasih

Narasumber:

Dr. Weny Savitry Sembiring Pandia, Psi., M.Si.,

dari Universitas Atmajaya, Jakarta

RAMBU MAIN DENGAN ADIK

Nah, untuk menghindari dari hal-hal yang tak diinginkan dalam bermain bersama, maka yang dapat orangtua lakukan antara lain:

1. Awasi saat kakak dan adik bermain bersama. Jika tidak ada ibu atau orangtua, hendaknya pengasuh atau orang dewasa di sekitarnya yang menemani anak bermain. Dengan begitu, orangtua bisa segera mencegah begitu melihat si kakak hendak melakukan tindakan yang dapat membahayakan adiknya. Jikapun si adik sampai mengalami sesuatu semisal terjatuh, maka bisa diketahui dengan pasti bagaimana kronologis kejadiannya. Umpama, jatuhnya si adik lantaran didorong si kakak namun tak sampai membuat kepala si adik terbentur.

2. Jika tak ada orang dewasa yang dapat dimintai bantuannya untuk mengawasi mereka bermain, hendaknya tempatkan mereka di tempat yang bisa tetap dalam pengawasan orangtua.

3. Hindari ruang bermain di sekitar anak dari benda-benda yang dapat membahayakan semisal kayu, benda-benda tajam, dan lainnya.

4. Sebelum bermain, jelaskan mana tindakan yang boleh dan tidak dilakukan. Misal, anak ingin main gendong-gendongan adiknya. Boleh saja dilakukan bila di atas kasur dan diawasi orangtua. Jelaskan pula main seperti apa yang tidak membahayakan. Kalau main berantem-beranteman sebaiknya tidak memukul keras dan tidak mengenai bagian-bagian tubuh tertentu. Akan lebih baik jika bisa menghindari permainan yang bersifat kekerasan fisik.

5. Alihkan dari permainan yang mungkin bisa membahayakan. Contoh, kalau mau main berantem-beranteman sebaiknya sediakan gantungan bantalan pasir yang dapat digunakan anak untuk sasaran pukulan, dan sebagainya.

6. Orangtua memberikan contoh yang baik. Jangan sampai kala orangtua bermain bersama anak menggunakan fisik seperti pura-pura memukul, mencubit, menggigit-gigit, menggelitik, dan lain-lain. Meski sebetulnya dengan maksud sayang, tapi anak akan meniru/mencontohnya dan menganggapnya sebagai suatu hal yang wajar dan boleh dilakukannya.

7. Hindari anak dari tontonan di rumah yang memberi pengaruh negatif.

8. Ajari adik membela diri kala diperlakukan tak menyenangkan oleh si kakak. Umpama, dengan mengatakan bahwa dirinya tak mau diperlakukan seperti itu oleh si kakak. Dengan begitu, si adik tidak selalu jadi "korban" dari sang kakak. Orangtua juga perlu memasukkan unsur sosialisasi pada si kakak, "Adik tak suka lo, diperlakukan seperti itu. Apalagi nanti temanmu di sekolah. Jika kamu seperti itu, nanti temanmu juga tak mau menemanimu bermain."

9. Alihkan dan arahkan anak pada permainan yang risiko bahayanya minimal atau tak ada, seperti permainan yang ada unsur edukatifnya semisal menggambar bersama, menyusun pasel bersama, main rumah-rumahan dengan satu penjual dan pembeli, dan sebagainya.

10. Beri aturan dalam bermain. Antara lain, tidak boleh ada perkataan kasar, tidak boleh memukul/mencubit/menjambak/menendang, siapa yang salah harus minta maaf, dan lainnya.

11. Berilah reward baik berupa pujian ataupun pelukan dan ciuman ketika anak menunjukkan perilaku baik dalam bermain bersama (selama bermain tidak berkelahi, tidak ada yang menangis/disakiti, dan sebagainya).(tabloid-nakita)

Mengajari Kepekaan

Sumber: Ibu-ibu DI

Tanya

Moms, anakku yang kedua, belakangan ini menurut aku suka kurang peka sama orang sekitar, contoh: di les balet di bagi-bagi kue nastar, gurunya bilang: ayo di makan lagi kue nya terus raissa bilang: tidak mau, kuenya tidak enak bicaranya keras lantang gituh! aku lalu protes ke anakku, pas sudah di jalan pulang kita bicara berduaan, aku bilang jangan gitu, nanti bu gurunya tersinggung, lalu anakku bilang: ya memang tidak enak kok.. aku kan ngomong apa adanya... hehe..., mati gaya deh aku, lalu aku bilang sebaiknya diam-diam saja atau bilangnya pelan-pelan saja ke gurunya, tidak usah di umumkan ke teman-teman sekelas begitu...kalau ada saran lain, pengalaman serupa di tunggu sharingnya! [DRS]

Jawab

Tidak apa-apa, namanya juga anak-anak, lama-lama juga dia mengerti sendiri. Kalau aku malah senang anak-anak karena gaya blak-blakannya [MP]

Nah itu dia, aku juga sempat berpikir begitu, cuma ada ketakutan bakal
keterusan hehe...[DRS]

Sudah coba dengan penjelasan terbalik belum? Missal jadi kita kasih tahu ke anak kita bagaimana kalau kita di posisi si pemberi kue atau gurunya ya? Bagaimana perasaan kita, kalau kita jadi guru dan dia dapat komentar dari muridnya yang cantik seperti itu? Atau mamamu pintar masak, minta anakmu untuk merasakan perasaan omanya, kalau ada komentar negative begitu? Kasih tahu juga kalau kita masih bisa kasih tahu bu guru kuenya tidak enak tapi lain kali bisik-bisik ya? Kan kasihan gurunya sudah belikan atau membuat kue capek-capek. Sama dengan pedas, enak juga relative jadi tidak enak buat kita belum tentu tidak enak buat anak lain kan? Anakku malah tidak suka kalau terlalu gurih atau terlalu manis [NM]


Tenang saja mbak, namanya anak-anak. Aku punya pengalaman begitu juga, lagi bertamu ke rumah orang, orangnya sudah eyang-eyang, majang kukis macam-macam di meja tamunya, enak-enak, mahal-mahal. Anak aku ambil (bagus satu, dia malah ambil beberapa) terus dilepeh, dia bilang "ngga enak!" didepan muka orangnya lagi, untung orangnya baik. Aku tidak enak sekali, aku bilang "lain kali kalau tidak suka tidak usah ambil, sayang kan kuenya dibuang" [V]