MEWARNAI YANG "MEMATIKAN"

Selembar kertas kosong, jauh lebih baik daripada buku mewarnai

Hampir semua anak prasekolah, apalagi yang sudah duduk di bangku taman kanak-kanak, pasti mengenal buku atau lembar mewarnai. Bukunya pun cukup populer dan banyak tersedia di toko-toko buku dengan isi yang bervariasi. Bahkan di taman kanak-kanak, kegiatan mewarnai juga merupakan salah satu aktivitas yang termasuk dalam program pembelajaran. Bentuknya berupa lembaran sama dengan bahan ajar sederhana yang biasa disebut lembar kegiatan (LK) siswa.

HAMBAT IMAJINASI

Yang jadi persoalan, banyak orangtua bahkan pendidik lebih memilih menyodorkan buku-buku mewarnai kepada anak sebagai sarana untuk melatih kemampuan coret-mencoretnya. Padahal pada buku-buku tersebut yang disediakan hanyalah sejumlah gambar dan anak tinggal memberi warna. Hasilnya, anak menjadi terpaku pada gambar tersebut. Buntutnya, kegiatan mewarnai malah jadi pembelenggu berkembangnya kreativitas anak.

Ketahuilah, penelitian Montessori menemukan, rata-rata pada usia 4,5-5,5 tahun adalah masa peka anak-anak untuk mencorat-coret, sehingga perlu diberikan sarana untuk menyalurkannya. Caranya yang paling tepat adalah dengan memberikan kertas kosong dan biarkan anak mencoret sesuka hatinya. Coretan anak merupakan inspirasi atau imajinasi si anak. Jadi, jangan mendikte anak dengan menyodorkan lembar bergambar yang sudah siap untuk diberikan warna. Tindakan ini hanya akan menghambat berkembangnya kreativitas imajinasi anak.

RESPONS SALAH

Tak kalah penting, respons dari orangtua kala anak sedang mewarnai. Umumnya, yang terlontar adalah respons yang tidak tepat, semisal, "Jangan keluar garis, dong!" atau, "Jangan berantakan ya mewarnainya, bisa-bisa kertasnya jadi kotor." Bahkan ada pula orangtua yang sampai memegangi tangan anaknya agar mewarnainya tidak berantakan. Ini semua adalah tindakan keliru yang malah membuat anak tertekan sehingga dapat menghambat berkembangnya imajinasi anak.

Demikian pula dengan respons, "Lo... kok warnanya itu." Atau, "Jangan diberi warna itu dong, enggak pas." Padahal pemilihan warna yang menurut orangtua tidak tepat itu, hanyalah persepsi orangtua saja. Justru yang harus dilakukan orangtua adalah menanyakan alasan si anak mengapa ia melakukan itu atau memilih warna tersebut, yang mungkin menurut persepsi orangtua tidak naturalis. Umpama, anak menggambar daun dan diberi warna cokelat, padahal umumnya daun berwarna hijau. Nah, tanyakan, "Kok warnanya cokelat, kenapa?" Bisa jadi jawabannya adalah daun ini kering, jadi berwarna cokelat. Inilah imajinasi anak. Bila ini dihambat, buntutnya kelak dapat memengaruhi rasa percaya dirinya.

Bila orangtua ingin memberikan inspirasi kepada anak, sebaiknya orangtua menggambar sendiri di kertas lain, kemudian tunjukkan kepada si prasekolah, "Ini lo, Ibu menggambar pantai, bagus enggak?" Melalui cara ini, anak akan mengamati gambar ibunya dan niscaya ia dapat memperoleh inspirasi dari situ.

PERSIAPAN MENULIS

Kegiatan mewarnai memang dapat melatih keterampilan motorik halus anak sebagai salah satu sarana untuk mempersiapkan kemampuan menulis. Dengan demikian, orangtua/pendidik hendaknya mempersiapkan terlebih dahulu kemampuan anak dalam memegang alat tulis sebelum mulai memperkenalkan kegiatan ini.

Untuk itu, coba amati, apakah si kecil sudah memiliki keterampilan dasar untuk memegang alat tulis (pensil, krayon, pensil warna, dan lain-lain) ataukah belum. Jika belum, sebaiknya berikan sejumlah stimulasi untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Ada sejumlah latihan terkait yang dapat bermanfaat untuk melatih motorik halus jari-jari tangan, misalnya, memindahkan biji-bijian dari satu botol ke botol lain, membuat aneka bentuk dengan plastisin, lilin (malam), dan lain-lain. Nah, bila kemampuan memegang pensilnya sudah baik, dapat diberikan kesempatan untuk mencorat-coretkan alat tulis tersebut.

YANG HARUS DIWASPADAI

1. Ketika anak dipaksa melakukan kegiatan mewarnai (disodori buku mewarnai dan diminta untuk mengerjakannya), bukan karena kebutuhan atau keinginan anak itu sendiri, maka kegiatan itu hanya sekadar meningkatkan kemampuan (ability) dari si prasekolah dan bukan menumbuhkan minat/keinginan untuk menulis atau menggambar pada anak. Padahal tujuan utama pemberian beragam kegiatan sebagai stimulasi adalah untuk mengembangkan minatnya. Akibatnya, anak tidak berhasil menemukan konsekuensinya. Contoh, anak tidak akan memahami konsep bahwa kalau tidak bisa menggambar, nanti aku tidak bisa membuat komik, misalnya.

2. Terkadang orangtua/pendidik tidak memerhatikan tingkat kesulitan materi yang disodorkan pada anak. Idealnya memang dari yang mudah, lalu meningkat kepada yang sulit. Kalau anak langsung dihadapkan pada yang sulit, dapat menjadi hopeless atau kecewa, serta merasa dirinya tidak mampu.

3. Beri kebebasan pada anak untuk mengapresiasi sendiri hasil karyanya. Yang penting ada contoh-contoh yang secara naturalistik disampaikan kepada anak. Contoh, dengan melihat langsung atau melalui film, untuk menyampaikan bahwa daun warnanya hijau.
(tabloid-nakita)

CUTI "SEKOLAH"

Bagaimana membujuk anak yang sedang tidak mood "sekolah"?

Memasukkan anak ke taman kanak-kanak adalah proses awal penyesuaiannya dengan pendidikan formal. Di situ anak belajar banyak hal seperti bersosialisasi, berinteraksi, berdisiplin, belajar mengalah, berbagi, juga pengetahuan-pengetahuan yang mungkin tidak didapat anak di rumah.

Nah, bila dia terlalu sering "cuti", akibatnya tentu kehilangan banyak kesempatan belajar. Sering "cuti" pun dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan buat anak. Sedikit-sedikit ia jadi gampang memutuskan tidak mau "sekolah".

Sebaiknya, kita harus punya kebijaksanaan sendiri apakah anak harus "cuti" dari "sekolah" atau tidak. Bila memang anak tak terlalu diperlukan dalam kegiatan kita, sebaiknya dia tetap "bersekolah" supaya tidak kehilangan hal-hal penting dalam proses perkembangan pendidikannya. Misal, menjadwalkan wisata berhari-hari ke luar kota hanya sekali dalam 6 bulan. Bila kemudian harus berwisata kembali, kita pilih yang hanya memakan waktu 1-2 hari dengan mengambil weekend saja. Intinya, jangan sampai mengorbankan waktu anak bersekolah.

ALASAN TEPAT

Tidak masuk "sekolah" boleh saja, asalkan dengan alasan yang sangat penting. Misal, mengunjungi kakek/nenek yang sedang sakit, atau ada kerabat yang melangsungkan pernikahan di luar kota, dan keperluan lainnya yang memang tak bisa ditinggalkan.

Hindari alasan yang tidak penting, contohnya karena orangtua sedang tidak punya waktu mengantar anak. Alasan yang dicari-cari jelas merugikan; si kecil jadi kehilangan kesempatan untuk menerima banyak hal positif di "sekolahnya" pada hari itu. Selain juga kehilangan biaya yang sudah kita keluarkan yang mungkin jumlahnya cukup besar.

Kalau alasannya penting, jangan lupa jelaskan di mana letak pentingnya. "Nak, Tante Tuti dan Om Ari akan menikah di rumah Oma, jadi kita harus ke sana. Mama, kan, kakaknya Tante Tuti, kalau tidak ke sana nanti Oma dan Tante Tuti bisa marah besar." Kembangkan dialog sederhana kepada anak ketika dia menanyakan hal seputar kealpaannya di "sekolah" agar dia benar-benar paham kenapa dia tidak masuk "sekolah".

Sebaiknya tidak menggunakan kata "bolos" ketika meminta anak untuk tidak masuk "sekolah". Kata "bolos" bernada negatif dan identik dengan kemalasan. Jadi, gunakanlah kata yang lebih halus yang konotasinya lebih positif, seperti "tidak hadir," "cuti," atau "izin".

Bila memungkinkan, ajak anak untuk minta izin gurunya terlebih dahulu. Dengan begitu, anak melihat bahwa "cuti" tak boleh dilakukan sembarangan melainkan harus dengan seizin guru. Contoh, "Adek, besok dan lusa kita minta izin tidak masuk sekolah ke Bu guru ya. Kan kita mau ke rumah nenek, menghadiri pernikahaan Tante Tuti."

Dengan kata yang lebih halus ini, persepsinya pun jadi lebih positif. Biasanya guru pun akan berpesan, "Kamu boleh kok tidak 'sekolah', tapi jangan terlalu sering ya!" misal. Nah, perkataan tersebut menjadi peringatan bahwa ia tidak diizinkan untuk sering-sering minta cuti.

BOSAN ATAU MALAS

Sebenarnya kita bisa meyakinkan anak bahwa banyak hal menyenangkan yang bisa ia lakukan di "sekolah". Bertemu teman, bermain perosotan, ayunan, jungkat-jungkit, bernyanyi bersama, mewarnai, bermain pasel adalah beberapa di antaranya. Dengan bujukan-bujukan halus biasanya anak mau ke "sekolah".

Namun memang, bila anak sedang bad mood berat sangat sulit membujuknya. Bila demikian, sesekali boleh saja kita mengizinkan anak tidak "sekolah" karena mungkin ia sedang ingin bermain di rumah. Beritahukan hal yang sebenarnya kepada guru di "sekolah" bahwa anak kita sedang bad mood.

Akan tetapi, bukan berarti kita harus selalu meluluskan permintaan anak. Yang harus kita lakukan, selain membujuk, adalah mencari tahu penyebab mengapa anak sering tidak mau "sekolah". Apakah memang karena malas, bosan, atau ada hal tertentu di "sekolah" yang membuatnya enggan.

Bila hanya karena malas, biasanya dengan sedikit bujukan anak akan luluh tetapi bila ada satu hal di kelas akan sangat sulit membujuknya. Umpama, mungkin anak sering dijahili oleh teman-temannya. Bila demikian, kita harus meyakinkan bahwa dia harus berani menghadapi keadaan, "Kamu harus berani, tidak boleh takut, biar saja kamu dibilang gendut tapi kan kamu pintar, bisa menggambar monster."

Bila kita membangun rasa percaya dirinya dengan baik, maka rasa "pede" anak pun akan terbangun secara perlahan sehingga ia tak takut bila dijahili temannya. Bila anak kembali enggan "sekolah" karena temannya masih suka meledeknya, cobalah lakukan kerja sama dengan para guru agar anak-anak lain tidak mengejek.

Atau mungkin anak ingin ditemani ayah atau ibunya ke "sekolah". Mungkin dia melihat banyak temannya yang ditemani oleh orangtua masing-masing. Bila demikian, cobalah sesekali menemani anak ke "sekolah", izin setengah atau sehari dari kantor bisa kita lakukan. Nah, saat menemani anak cobalah buat ia gembira. Misal, dengan mengatakan kalau ia adalah anak yang baik kepada gurunya. Tidak sebaliknya malah bilang kalau anak kita penakut karena "sekolah" harus ditemani. "Indri anak berani kok. Mungkin dia ingin menunjukkan siapa mamanya. Jadi, meminta saya untuk menemaninya ke 'sekolah'," misalnya diucapkan di depan anak.

Bisa juga keengganan anak ber"sekolah" disebabkan fasilitas atau metode pengajaran yang membuat anak bosan. Ruangan yang panas, area bermain yang sempit, Mainan yang apa adanya, juga metode pembelajaran yang tidak memerhatikan tingkat perkembangan anak, sehingga membuatnya bosan. Bila demikian, cobalah cari jalan terbaik, umpama, dengan memindahkan anak ke "sekolah" yang memang cocok untuk anak, dari sarana hingga metode pembelajarannya.

"SEKOLAH" di Perjalanan

Meskipun anak tidak hadir di "sekolah", sebaiknya kita tetap memberikan pendidikan ke anak. Hal ini bisa kita lakukan di dalam perjalanan maupun di tempat tujuan bila memang ada kesempatan. Banyak hal positif yang bisa diberikan.

Pendidikan dalam Perjalanan

Banyak pengetahuan yang bisa kita berikan ke anak di dalam perjalanan. Bila kita menggunakan mobil, kita bisa menggunakan bangunan bersejarah, tanda lalu lintas, binatang, gunung, pohon, atau apa pun yang dilihat anak sebagai sarana pendidikan. "Lihat, itu adalah bangunan bersejarah, namanya Museum Gajah." Atau saat melihat gunung, "Adek itu gunung Merapi, itu lo yang pernah meletus. Kalau sedang meletus gunung itu akan mengeluarkan lahar dari puncaknya."

Bila kita menggunakan kereta api, pesawat terbang, atau kapal laut, kita juga bisa memberikan informasi pengetahuan ke anak. Umpama, kereta api itu jalannya di rel yang sangat panjang, pesawat terbang harus punya sayap biar bisa terbang tinggi, atau menjelaskan kalau sebagian besar bumi kita adalah laut saat berada di atas kapal laut. Inti dari semuanya adalah memperkaya pengetahuan anak dengan memberikan informasi yang berkaitan dengan lingkungan luarnya yang jarang ditemuinya.

Pendidikan di Tempat Tujuan

Saat berada di tempat tujuan, di rumah nenek misalnya, kita pun bisa memberikan berbagai jenis pendidikan lain ke anak. Kita bisa mengajaknya mengembangkan kemampuan bersosialisasinya lewat perkenalan dengan saudara sepupunya, mengenalkan pohon keluarga dengan mengenalkan anggota keluarga, mendidik anak untuk lebih dekat dengan alam lewat lingkungan perkampungan yang sangat asri, dan sebagainya. Selain pengetahuan dan kemampuan anak bertambah, dia pun akan lebih senang menjalani kesehariannya.

Materi "Sekolah"

Tak salah bila kita menyisipkan materi-materi "sekolah" di dalam perjalanan atau di tempat tujuan. Contoh, di "sekolah" anak sedang diajarkan menggambar, nah kita bisa membawa buku gambar, bila ada kesempatan kita bisa meminta anak untuk menggambar dan mewarnai. Nah, bila saat izin gurunya berpesan agar anak menceritakan perjalanannya sekembalinya ke "sekolah", kita bisa mengajak anak untuk mengamati apa saja yang ditemukannya dalam perjalanan, apa saja yang dilakukannya di rumah nenek, dan sebagainya. Dengan begitu, meskipun anak izin dari "sekolah", dia tetap tidak ketinggalan materi "sekolah"nya. Tentu, kita harus melakukannya sambil bermain, tak perlu dipaksakan bila anak tak mau melakukannya. (tabloid-nakita)

Kenapa ya ada yang jarang bertanya ?

Bantu anak untuk lebih berani berekspresi secara verbal.

Masa usia prasekolah (3-6 tahun) disebut sebagai questioning age alias usia banyak bertanya. Makanya jangan heran anak usia ini doyan sekali ngomong. Segala hal yang dia lihat dan dengar akan dikomentari dan ditanyakan. Hal ini terkait dengan perkembangannya dimana anak sedang dalam masa bereksplorasi dan ingin tahu banyak hal. Ditambah lagi, kematangan berbahasa verbalnya semakin baik. Kendati demikian, bukan berarti semua anak prasekolah akan bersikap seperti itu. Ada juga kok anak usia ini yang tampak kurang antusias untuk banyak bertanya. Nah, bila si kecil termasuk “golongan” ini, orangtua perlu mencermati penyebabnya.

6 PENYEBAB

1. Anak bersifat pemalu atau berkarakter tertutup.

Sifat pemalu dan karakter tertutup akan tampak lebih jelas di atas usia 3 tahunan. Anak-anak seperti ini biasanya menemui masalah dalam penyesuaian diri dengan lingkungan. Hal ini pula yang membuat anak jarang bertanya, terutama di lingkungan yang tak begitu dikenalnya dengan baik.

2. Pernah mendapat pengalaman tak menyenangkan.

Di usia-usia sebelumnya anak pernah mengalami situasi yang membuatnya tak nyaman. Contoh, ketika anak banyak bertanya, orangtua malah menyuruhnya jangan tanya-tanya atau si anak diminta diam. Tanpa sadar, Anda mungkin pernah menertawakan atau mementahkan pertanyaan anak. Akibatnya, ketika anak sebetulnya ingin bertanya, dia tak mau melakukannya lantaran khawatir mendapatkan respons yang tidak menyenangkan atau penerimaan serupa yang pernah dialaminya. Jadi, respons lingkungan yang seperti itu akhirnya “mematikan” keinginan anak untuk bertanya dan tahu banyak hal.

3. Kurang stimulasi

Orangtua membiarkan anaknya tumbuh tanpa memberinya banyak rangsang. Misal, ketika anak bermain, didiamkan saja atau dibiarkan saja sendiri nonton TV tanpa distimulasi. Fasilitas atau media stimulus yang diberikan tidak beragam dan bervariasi. Anak juga tidak distimulasi untuk diajak bicara. Begitu pun bila lingkungannya sangat terbatas, semisal hanya area rumah yang sempit saja sehingga tak ada yang menarik untuk dieksplorasinya.

4. Kurang berani.

Untuk bertanya, mengemukakan pendapat dan sebagainya diperlukan keberanian dari diri anak. Umumnya, anak-anak dengan kepercayaan diri yang baik memiliki keberanian untuk bertanya.

5. Ada hambatan kognitif

Kemungkinan anak bermasalah dengan inteligensinya. Ingat-ingat, apakah otaknya pernah mengalami cedera? Jika pernah cedera atau ada suatu kelainan, hal ini akan memengaruhi proses penyerapan informasi yang diterima anak. Dampaknya, anak akan terlihat pasif, kurang inisiatif, tidak asertif, tidak mengembangkan pemecahan masalah, ada hambatan untuk mengutarakan apa yang dirasakan, diinginkan, dan ingin diketahuinya. Jika masalahnya cukup berat, umumnya anak tergolong berkebutuhan khusus. Gangguan otak bisa diketahui sejak usia sebelum ini.

6. Kemampuan berbahasa yang terhambat.

Seharusnya di usia ini anak mampu mengungkapkan dan mengekpresikan apa yang diinginkan serta dirasakannya. Nah, pada anak yang mengalami keterbatasan perbendaharaan kosakata, tentu tak mudah baginya untuk melontarkan banyak pertanyaan.

7 SOLUSI

1. Cari penyebab masalahnya.

Orangtua hendaknya mencari tahu apa yang jadi penyebab si anak jarang sekali mau bertanya. Apakah memang ia tipe pendiam dan pemalu, atau pernah mengalami suatu pengalaman tak menyenangkan, dan sebagainya. Selanjutnya, berikan berbagai stimulus dan rangsangan untuk memunculkan keinginannya bertanya.

2. Latih secara sosial.

Latih anak berinteraksi dengan teman, saudara sepupu dan lingkungan sosial di sekitarnya. Dari sini anak belajar bersosialisasi dengan banyak orang sehingga membuatnya lebih berani, tidak malu dan punya rasa percaya diri. Libatkan pula anak dalam aktivitas yang disenanginya untuk mengembangkan kemampuan dirinya yang nantinya akan berdampak baik bagi keterampilannya secara sosial, disamping membuatnya tambah "pede".

3. Jangan melabel anak.

Pelabelan, semisal, "Ah, kamu pemalu sih, payah!" atau "Kamu memang pendiam sih, jadinya enggak pernah mau nanya!", hanya akan membuat anak semakin menarik diri dan tak berani untuk banyak bertanya, selain juga "membunuh" keingintahuannya. Itulah mengapa, orangtua—juga orang dewasa lainnya—harus menghindari pelabelan pada anak.

4. Beri support.

Contoh, "Adek, kalau Ibu Guru tanya siapa yang bisa, Adek boleh tunjuk tangan. Begitu juga kalau Adek enggak tahu dan ada yang Adek ingin tanyakan, Adek boleh bertanya. Pokoknya, Adek jangan takut salah. Enggak apa-apa, kok kalau salah juga." Jelaskan pada anak bahwa banyak tanya dan ingin tahu sesuatu bukanlah masalah. Anak juga perlu dikuatkan bahwa dia tak perlu takut atau khawatir dengan apa pun respons yang akan diterimanya dari lingkungan. Penguatan dan support semacam ini dapat membangun rasa percaya dirinya. Bila anak pernah gagal atau mendapat respons yang tidak menyenangkan, jelaskan padanya, semisal lewat cerita. "Ibu juga dulu pernah ditertawakan. Sedih juga sih. Tapi, ya Ibu enggak khawatir untuk mencoba lagi. Ibu tanya aja lagi karena Ibu memang ingin tahu jawabannya."

5. Ciptakan lingkungan kondusif beserta stimulasi.

Hendaknya lingkungan di rumah pun memberi contoh. Jangan sampai menuntut anak banyak bertanya sementara kenyataannya orangtua di rumah lebih banyak diam, tidak ekspresif atau pemalu, tidak banyak berinteraksi dengan anak secara verbal, sehingga anak pun akan mencontoh hal yang sama dari lingkungannya. Orangtua harus bisa menjadi model atau mencontohkan perilaku agar anak mau aktif bertanya. Selain itu, jika memang anak cenderung pendiam, jangan cecar anak atau memaksanya untuk banyak bertanya. Tapi, seringlah mengajaknya bicara. Tanyalah anak tentang banyak hal sehingga membuatnya tertarik dan mendorong keingintahuannya. Biasanya dengan lingkungan yang dirasa nyaman, akan timbul keberaniannya untuk banyak bertanya. Gunakan media berupa buku, mainan, film, pengalaman jalan-jalan keluar dan sebagainya. Sehingga dengan wawasan dan pengetahuan yang bertambah akan muncul ketertarikan anak terhadap segala hal.

6. Tumbuhkan keberanian.

Agar anak belajar berani, hendaknya orangtua jangan selalu membantu atau melayani si kecil. Berikan kesempatan kepada anak untuk belajar mandiri dengan mencoba melakukan hal-hal sederhana sendiri. Berikan semangat, "Ayo, kamu pasti bisa, kok." Jangan lupa, puji usaha dan keberhasilan-keberhasilan kecil yang diperolehnya. Pujian akan membuat dirinya merasa berharga dan anak pun dapat mengembangkan kemampuan bertanya.

BUKAN TIDAK ANTUSIAS

Adakalanya, anak-anak yang cenderung pendiam dan jarang bertanya sebetulnya ingin tahu banyak hal. Memang agak sulit bagi orangtua untuk mengetahuinya. Ada anak-anak yang memang tidak aktif, cenderung diam, terlihat tak antusias, dan tak banyak tanya, tetapi sebetulnya mungkin saja ia juga belajar. Anak mungkin lebih suka memerhatikan, mengamati atau mencari tahu sesuatu dengan caranya sendiri dan mencobanya sendiri tanpa banyak bertanya. Ia bisa tahu banyak hal karena cara belajarnya yang seperti itu. Orangtua biasanya baru menyadari setelah si anak bisa mengerjakan atau melakukan sesuatu sendiri tanpa pernah ia tanya-tanya sebelumnya pada siapa pun.

Sebetulnya, tak masalah dengan anak yang tak banyak tanya seperti ini. Meski anak memang pasif namun ia tidak tergolong berkebutuhan khusus. Hanya saja, orang lain akan sulit mengetahui, mengerti maupun memahami apa yang jadi keinginan maupun harapan si anak karena ia tidak mengekspresikannya. Oleh sebab itu, orangtua tetap perlu menstimulasinya. Bagaimanapun perkembangan bahasa anak perlu dilatih agar lebih terampil dalam bersosialisasi.(tabloid-nakita)

Menghapal itu menyenangkan

Kemas bentuk hafalan dengan aktivitas bermain, sehingga informasi yang disimpan bisa bertahan lama.

Bagi beberapa anak, menghafal merupakan aktivitas menyenangkan. Simak saja saat si kecil bernyanyi riang di pagi hari, atau membacakan sajak di depan kelas dengan bangganya, juga dengan antusias menyebutkan nama binatang, buah-buahan, dan benda lainnya kepada orangtua. Ya, anak-anak memang sangat menikmati hafalan. Apalagi, aktivitas menghafal juga sarat manfaat. Karena itu, tak ada salahnya orangtua mengajari anak menghafal. Tentu dengan cara yang benar dan tepat, sebagaimana dipaparkan Rezki Yuniandari, Psi., psikolog independen yang akrab dipanggil Kiki, kepada Saeful Imam dari nakita.

5 MANFAAT MENGHAFAL

1. Mengasah Daya Ingat

Otak anak terbiasa dilatih untuk menyimpan banyak informasi penting dan bermanfaat, seperti menghafalkan lagu, mengingat cerita, dan lain-lain. Semakin banyak latihan diberikan, otak semakin menyediakan ruang untuk menyimpan informasi. Suatu saat anak bisa memanggil semua arsip yang tersimpan dalam otaknya. Anak pun jadi terbiasa saat harus menghafal sesuatu. Ini jelas sangat bermanfaat saat anak beranjak dewasa. Bukankah beberapa profesi menuntut daya ingat yang tinggi? Pakar hukum, dokter, bintang film menuntut mereka bisa menghafal dengan cepat.

2. Melatih Konsentrasi

Agar bisa menghafal dengan baik dibutuhkan konsentrasi tinggi. Anak harus bisa memusatkan perhatian pada objek hafalannya. Secara tak langsung menghafal mengajari anak agar dia berkonsentrasi dengan baik.

3. Belajar Pemahaman

Agar objek hafalan bisa disimpan dalam waktu lama, anak harus bisa memahami setiap kata dalam hafalannya. Dengan kata lain, belajar menghafal melatih anak untuk memahami sesuatu. Jika dia mendapat informasi maka dia harus mencerna terlebih dahulu sebelum diterima.

4. Menumbuhkan Kepercayaan Diri

Pengucapan kembali sesuatu yang dihafalkan merupakan prestasi sendiri buat anak, sehingga menimbulkan kebanggaan buatnya. Bahkan, ia tak segan-segan menunjukkan kemampuan dan keterampilannya kepada orang lain. Semua itu bisa memupuk rasa percaya dirinya.

5. Melatih Kemampuan Berbahasa

Anak bisa melatih kemampuan berbahasanya. Dia bisa mengenal ribuan kosakata baru. Dia juga mengerti bagaimana sebuah kalimat disusun, bagaimana menggunakan bahasa yang baik dan benar. Kelak, anak terampil menggunakan bahasa yang baik.

8 CARA BENAR MENGHAFAL

1. Pastikan semua bentuk hafalan itu menyenangkan buat anak.

Lagu, cerita, puisi pendek, dan lain-lain sangat berkesan dan menyenangkan buat anak. Hafalkan dengan menyenangkan. Ingat, dunia anak adalah dunia bermain, sehingga semua aktivitasnya harus dikemas dalam bentuk permainan. Anak hanya tahu dirinya sedang bermain, bukan menghafal yang melelahkan. Kala mengajari anak menyanyi, orangtua bisa membuat gerakan atraktif atau meminta anak menari. Demikian juga ketika anak diajarkan menghafalkan puisi pendek, orangtua juga bisa mencontohkan bagaimana gaya yang tepat.

2. Usahakan hafalan itu dikonkretkan.

Jika orangtua hendak mengenalkan lagu "Balonku", pastikan anak mengetahui apa itu balon, mengenal berbagai warna, dan lain-lain. Dengan demikian, anak lebih bisa menguasai hafalan yang diberikan. Hal yang sama berlaku saat orangtua menyanyikan bait lagu, "Lihat kebunku penuh dengan bunga." Anak harus mengetahui tempat yang bernama kebun, dipenuhi dengan bunga pula. Jika memungkinkan, orangtua bisa mengajak anak melihat langsung kebun tersebut. Pengalaman itu sangat berkesan buat anak. informasi yang diterima pun bisa disimpan dalam jangka waktu panjang.

3. Cari situasi yang tepat.

Pastikan mood anak cukup bagus, sehingga anak benar-benar konsentrasi untuk melahap setiap hafalan. Waktu yang tidak tepat, bukan saja membuat anak malas, tapi juga menghindar bahkan kesal.

4. Lakukan secara bertahap, sedikit demi sedikit.

Jadilah pemandu yang baik buat anak. Minta anak mengulangi apa yang diucapkan orangtua. Jika anak sudah menguasai satu bait, lanjutkan dengan bait lainnya. Seterusnya demikian. Bagilah kalimat yang panjang menjadi kalimat sederhana yang pendek. Agar mudah diserap, pastikan hafalan itu dilakukan secara berulang-ulang. Lakukan dialog interaktif saat mengajarkannya. Untuk cerita pendek, misal, orangtua bisa membacakan dongeng yang sama dalam beberapa hari. Dalam beberapa bab, orangtua bisa bertanya sekaligus menguji daya ingat anak, apa kelanjutan cerita yang dibacakan. Umpama, "Bagaimana supaya kancil bisa lepas dari jebakan serigala jahat?" Begitu juga saat mengajari anak menyanyi, orangtua bisa membacakan satu bait lalu anak diminta melanjutkan bait selanjutnya. Dalam beberapa hari sekali, orangtua bisa mengganti cerita atau nyanyian sehingga tak membosankan.

5. Lakukan kegiatan bermain secara bersama-sama.

Jika memungkinkan, lakukan kegiatan bermain secara bersama-sama, baik dengan saudara maupun teman sebaya. Aktivitas yang dilakukan bersama anak lain biasanya sangat menyenangkan. Anak pun lebih bersemangat.

6. Pelajari gaya belajar anak.

Biasanya, teknik menghafal disesuaikan dengan gaya belajar anak. Anak berkarakter auditif, dimana senang belajar dengan mendengar, misalnya, bisa saja hafalan itu dikuasai lewat kaset, CD, atau ucapan orangtua. Tapi cara yang sama tak bisa diterapkan pada anak yang senang belajar dengan bergerak. Anak ini umumnya tak bisa diam, sehingga cara mengajarkannya harus dengan gerak. Kalau bernyanyi, ya lewat beberapa gerakan, dan sebagainya. Begitu juga pada anak yang senang belajar dengan melihat, hafalan bisa mudah diserap lewat bantuan gambar atau film.

7. Hindari pemaksaan.

Tak jarang orangtua meminta anak menguasai hafalan dalam waktu tertentu, bahkan tanpa disertai penjelasan apa isi dari hafalan tersebut. Umpama, anak diminta menghafalkan lagu tentang burung kakaktua, tanpa anak sendiri tahu seperti apa burung kakaktua tersebut. Anak juga diminta menghafalkan aturan di sekolah, tanpa disertai penjelasan apa makna aturan juga batasan yang berlaku dalam aturan itu. Ini layaknya anak menghafalkan perkalian 1-100, tanpa mengetahui bagaimana proses perkalian. Pun apa manfaat yang didapat seandainya anak menguasai perkalian? Anak hanya lancar mengucapkannya di mulut tapi semua itu tak bisa dipahaminya. Ini tidak hanya menyebabkan anak tertekan, tapi juga membuatnya kesulitan menghafal. Semua informasi yang diterima hanya bisa disimpan dalam jangka pendek, selanjutnya informasi itu menghilang dimakan waktu.

8. Beri pujian saat anak menguasainya.

Jangan lupa, berikan pujian saat anak menguasai lagu, cerita, puisi pendek, atau berbagai bentuk hafalan lainnya. Dengan demikian, anak lebih termotivasi untuk menghafal beberapa objek lainnya.(tabloid-nakita)

KREATIF DENGAN BERKREASI

Kegiatan kreatif salah satunya dapat terlihat dalam kegiatan seni.

Kreativitas dibutuhkan anak untuk kehidupan masa depannya, termasuk dalam menghadapi masalah yang memerlukan solusi. Sebetulnya, ada banyak kegiatan kreatif yang dapat dilakukan anak, baik di rumah maupun di sekolah. Kegiatan kreatif yang dimaksud yaitu kegiatan yang sifatnya melibatkan semua aspek perkembangan anak secara menyeluruh, dimana semua potensi kecerdasan majemuk anak dikembangkan dan disalurkan. Dalam kegiatan tersebut juga terkandung unsur merancang, berkreasi, dan mengeksplorasi sesuatu. Kegiatan kreatif diharapkan dapat mendorong anak mengembangkan imajinasinya, menginspirasi anak dan mendorong anak membuat sesuatu yang baru (orisinal).

Nah percaya atau tidak, anak prasekolah pada dasarnya adalah seniman alamiah karena mereka belajar sambil bermain, menyanyi, menari, dan bermain pura-pura/drama. Semua kegiatan itu memberikan kesempatan pada anak untuk menciptakan sesuatu yang relatif orisinal, mengembangkan imajinasi, menginspirasi, dan sebagainya. Pada kegiatan pembelajaran ini ada 4 komponen di dalamnya yaitu 1. Menari (menggerakkan tubuh untuk mengekspresikan gagasan, merespons musik dan mencurahkan perasaan); 2. Musik (kombinasi suara dan atau instrumen untuk mengkreasi melodi dan bunyi yang teratur); 3. Theater/performing arts/dramatic play (mengekspresikan cerita melalui aksi dan dialog); dan 4. Visual arts (mengecat, menggambar, membuat model dengan berbagai material, mencetak, membangun, dan lain-lain).

Untuk melakukan kegiatan kreatif tentunya anak harus difasilitasi dan diberikan arahan oleh orangtua/guru, sehingga kreativitasnya dapat terstimulasi secara holistik. Pada akhirnya, diharapkan kelak anak bisa menjadi generasi yang utuh, sehat jasmani rohani, memiliki keunggulan, mampu berinovasi, dan menghargai hasil karya sendiri. Anak diharapkan tidak hanya mampu mencontoh apa yang orang lain buat, tetapi bisa tampil menjadi inovator.

ANEKA KEGIATAN KREATIF

* Bercerita dan menceritakan kembali

Tak semua anak mampu bercerita dan menceritakan kembali. Padahal kegiatan ini mengandung unsur kreatif, dimana anak belajar mencipta dan berkreasi melalui bahasa, dengan menggunakan kata-katanya sendiri .

Untuk merangsang anak melakukan kegiatan ini, akan lebih efektif bila orangtua memberi contoh, yaitu dengan senang bercerita. Model dari orangtua bisa menjadi inspirasi bagi anak dalam kegiatan keseharian. Ingat, salah satu karakteristik anak usia ini adalah meniru. Bila orangtua senang bercerita, anak otomatis akan menirunya. Misal, sepulang kerja orangtua menceritakan pengalamannya, entah hubungannya dengan rekan kerja ataupun pengalamannya selama dalam perjalanan dari kantor menuju rumah, dan lainnya. Dengan begitu, anak pun akan spontan melakukan hal yang sama tanpa harus diinterogasi oleh orangtua.

Orangtua juga perlu menstimulasi anak dan bertanya padanya tentang pengalaman yang diperolehnya di sekolah. Namun demikian, orangtua diharapkan tidak hanya bertanya sepihak, apalagi jika bahasa yang digunakan cenderung monoton sehingga membuat anak bosan dan tidak tertarik untuk memberi jawaban.

* Bermain pura-pura/peran

Kegiatan drama juga sarat dengan kreativitas. Berilah kesempatan pada anak untuk berlatih bermain peran. Kegiatan ini bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, ketika ibu bersama anak bermain peran sebagai guru dan murid, anak diminta bernyanyi seolah-olah berada di panggung; bermain peran sebagai penjual dan pembeli; bermain peran sebagai dokter dan pasien; dan sebagainya. Kemaslah kegiatan bermain ini dengan tema tertentu dan semenarik mungkin karena banyak aspek perkembangan anak yang bisa dikembangkan, seperti sosialisasi, bahasa, emosi, dan sebagainya. Selain itu, kegiatan ini dapat membangun kekompakan dalam keluarga.

* Melukis/menggambar

Jika anak hanya meniru hal yang sama persis dalam membuat suatu gambar, tentu saja nilai kreativitasnya kurang terlihat. Kreativitas akan tampak ketika ada kreasi anak sendiri, atau anak memodifikasi dari contoh gambar yang ada. Contoh, anak diminta menggambar dengan tema pemandangan. Anak mungkin menggambar suatu pemandangan yang pernah dilihatnya di suatu tempat. Atau, bila anak sulit mengimajinasikan gambar tersebut, orangtua/guru bisa membawanya keluar ruangan agar anak dapat menggambar lingkungan sekitar, seperti taman bunga di depan rumah, taman bermain di sekolah, situasi di jalan dan sebagainya. Sesekali orangtua/guru juga perlu memberi kesempatan pada anak untuk menentukan pilihan gambarnya tanpa dibatasi oleh tema yang ada. Jadi, anak difasilitasi untuk mendisain gambarnya, mengkreasi, dan mengeksplornya sendiri sesuai dengan pengalaman dan minatnya.

* Kegiatan visual arts atau membuat prakarya

Kegiatan ini juga mengandung unsur kreatif seperti mencipta, berkreasi dan mengeksplorasi. Kegiatan ini meliputi aktivitas mencetak, menempel, dan menggunting. Dengan stimulasi yang tepat, kegiatan ini dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan keterampilan motorik halus anak.

* Main pasel

Kegiatan menyusun/memasangkan kepingan–kepingan agar membentuk pola/gambar tertentu, dapat merangsang peningkatan kemampuan berpikir anak. Orangtua atau guru juga dapat melakukan kegiatan bersama anak untuk membuat pasel sederhana sesuai kreasi anak. Misal, membuat gambar pada karton kemudian mengunting-guntingnya menjadi potongan-potongan pasel yang dapat dibongkar pasang.

* Main balok

Melalui kegiatan ini anak didorong untuk bisa merancang suatu bentuk tertentu semisal bangunan rumah, robot dan lainnya sesuai imajinasi anak. Di awalnya, guru atau orangtua dapat memberikan beberapa contoh bentuk yang dapat dirancang dengan menggunakan balok-balok. Jelaskan pada anak bahwa anak boleh membuatnya dalam bentuk yang berbeda. Beri kesempatan pada anak untuk mempunyai pilihan dalam membuat kreasinya.

* Mencampur warna cat

Kegiatan seni seperti ini, juga terkait erat dengan materi pembelajaran sains awal yang dapat disimulasi pada anak prasekolah. Orangtua atau guru dapat menggunakan berbagai bahan cat air atau pewarna makanan. Orangtua harus mendampingi kegiatan ini dan menjaga agar bahan-bahan tersebut tidak tertelan oleh anak. Dalam kegiatan ini anak mendapat kesempatan untuk mengeksplor warna-warna yang ada dan mencipta warna baru.

* Membentuk plastisin

Dalam kegiatan ini, motorik halus anak dapat terstimulasi dengan baik. Anak diberi kesempatan untuk membuat berbagai bentuk benda di sekitarnya dari plastisin. Guru atau orangtua dapat memberi contoh beragam bentuk benda yang menarik bagi anak sebagai stimulasi awal. Sekali lagi, orangtua atau guru tidak diharapkan menilai produk anak, tetapi lebih kepada menghargai usaha dan proses anak dalam membentuk sesuatu.

* Menari

Kegiatan menari akan sarat dengan kreativitas gerak, jika guru memberi kesempatan pada anak untuk bebas bergerak mengikuti irama. Anak dapat memodifikasi gerakan yang dicontohkan guru, sehingga tidak semuanya harus diseragamkan. Yang perlu diperhatikan, tujuan kegiatan menari pada anak prasekolah bukanlah untuk menghafalkan gerakan tarian tertentu, tetapi lebih kepada pengembangan motoriknya. Dalam hal ini, guru perlu menghargai proses dan manfaat anak dalam melakukan gerakan, bukan sekadar produk tarian tertentu yang harus dilakukan. Salah satu cara untuk merangsang kreativitas dalam menari adalah dengan meminta anak melakukan suatu gerakan sesuai ekspresi dan kreasinya, semisal melakukan gerak lambaian pohon, melakukan gerak seperti burung terbang, kelinci melompat, ikan berenang, dan sebagainya. Anak tak perlu melakukan gerakan yang seragam.

Cara yang bijak, sebelum orangtua/guru mencontohkan anak gerakan menari, beri kesempatan anak untuk bergerak sesuai irama musik dan berkreasi sesuai tanggapannya terhadap musik tertentu. Setelah itu guru atau orangtua dapat mencontohkan anak gerakan-gerakan dalam tarian tertentu. Bisa juga guru/orangtua memberikan contoh gerakan dan si anak memodifikasinya sendiri. Jadi, peran guru/orangtua lebih pada mengarahkan anak untuk melakukan kegiatan musik dan gerak, bukan sekadar agar terlihat teratur dan indah dalam pandangan orang dewasa.(tabloid-nakita)

Sempoa vs Kumon

Sumber: ibu ibu DI

Tanya
Minta pendapat boleh ya, apa bedanya kumon dan sempoa ? Soalnya saya ada penawaran kumon di rumah, sementara sempoa di sekolah. Saya mau tahu perbedaan keduanya, manfaatnya, kelebihan dan kekurangannya. Agar bisa menimbang-nimbang lebih baik perlu tidaknya buat anak saya. [Al]

Jawab
Cuma mau menambahkan saja yang saya tahu mengenai sempoa, menurut yang punya sempoa, tujuan sebenarnya untuk :
1) membantu anak mudah berkonsentrasi
2) menyeimbangkan perkembangan otak kanan dan otak kiri
3) membantu anak dalam kecepatan untuk berhitung
Sedangkan alat bantu sempoa hanya digunakan untuk tingkat pemula, kalau misalkan anaknya sudah menguasai metoda bayangan, sempoanya jarang digunakan/ditinggalkan sama sekali. Sedangkan untuk analisa dan kecepatan dalam penganalisaan nanti harus dilanjutkan lagi ke program Mega brain, begitu yang saya tahu. Sedangkan metode kumon, saya tidak tahu karena tidak pernah ikutkan anak kursus disana. [R]

Yang jelas beda; Sempoa mesti pakai alat dan kumon tidak pakai alat bantu apapun. Kalau anak pertama saya masukan Kumon, bukan juga karena saya ingin anak saya jago matematika. Sejak dia mulai sekolah, jadwal therapynya sudah saya kurangi, tapi ternyata masih ada waktu luang yang membuat dia jadi tidak terarah. Akhirnya saya pilih kira-kira apa yang cocok buat anak pertama saya dengan kemampuan hapalannya yang superduper itu.

Pilihan akhirnya jatuh ke kumon. Saya tidak punya target di kumon, yang penting untuk mengisi waktunya, jadwal jam kumon juga bebas mau datang jam berapa aja, jadi kalau pulang sekolah dia masih berenergi langsung ke kumon, tapi kalau udah capek dan mengantuk baru jam 5 atau jam 6 setelah istirahat. Ternyata anak pertama saya senang, di kumon kalau anak-anak dalam hari itu bisa mengerjakan dengan cepat akan dapat bintang. Bintang ini ada nilainya yang bisa ditukarkan dengan barang kesenangan anak kalau pointnya udah cukup.

Yang juga membuat saya senang, guru kumonnya baik dan sabar menghadapi anak saya yang sangat mudah berubah. Kalau ada masalah dia langsung telpon saya di rumah atau di kantor. Jadi komunikasi kita enak. Buat saya yang paling penting bukan cuma pelajarannya, tapi anak saya belajar bersosialisasi dengan banyak pihak. Adiknya tidak/belum saya kursuskan karena saya lihat anak kedua saya tidak begitu tertarik sama hal-hal eksak, dia itu seniman seperti bapaknya. Jago gambar, menyanyi, mengatur baju sendiri yang cocok dari atas sampai bawah bahkan sampai ke pakaian dalamnya, anak kedua saya inilah orangnya. Jadi biarkan saja anak menjalani hal-hal yang dia sukai. Tapi kalau suatu saat dia minta masuk Kumon juga, pasti saya masukkan asal dia benar-benar suka. [Dm]

Ini kata orang-orang yang mengerti (guru, ortu, dll) dan bukan kata saya :
1. Kumon baik untuk melatih konsentrasi terutama bagi anak yang sulit konsentrasi
2. Kumon intinya latihan, latihan dan latihan
3. Kumon mengutamakan hafalan, bukan analisa/pemahaman
4. Sempoa mungkin pertama akan membingungkan anak, tapi sekali anak paham dia akan suka.
5. Sempoa melatih daya analisa anak

Kata mereka, anak yang les kumon kalau ditanya 13 + 25 pasti langsung bisa jawab, tapi kalau dikasih soal cerita misalnya ibu ke rumah tante, di rumah tante, ibu membuat 13 kue lalu tante mebuat 25 kue, nah katanya anak kumon belum tentu bisa jawab. Sekali lagi ini bukan kata saya, kata orang-orang yang lumayan mengerti. Yang jelas saya belum memberikan les anak saya apapun kecuali yang dikasih dari sekolah saja. [SM]

Mbak SM, apa tidak terbalik ? Seingat saya, kalau kumon itu metoda belajarnya dengan menganalisa, sedangkan sempoa (sama dengan metoda mental aritmatika?) itu belajar menghafal. Beberapa waktu lalu aku nonton infotainment ada anak yang cepat sekali menghitung, ditanya ama yang nginterview x+y+z+ bla..bla..langsung bisa jawab dan jawabannya benar. Itu kalau tidak salah si anak itu cerdas banget dan ditambah dikursuskan sempoa oleh orang tuanya, jadi ketika ditanya kenapa bisa secepat itu, dia bilang, dia hanya membayangkan sempoanya. Sepertinya terbalik mbak, pengertian antara sempoa ama kumon, apa ingatan saya yang sudah mulai tidak jelas? [RS]

Kebetulan anak saya sudah pernah mencoba kedua-duanya. Ketika dia minta les matematik, awalnya saya bingung apa sudah perlu buat seumur dia, tapi saya pikir apa salahnya dicoba toh bukan saya yang memaksa tapi anaknya yang minta sendiri. Saya sempat bertanya di DI bedanya kumon sama sempoa, tapi kurang dapat masukkan yang memuaskan (maaf) akhirnya seperti biasa turun sendiri mencari. Kebetulan lagi ada coba gratis dua-duanya.

Kalau hasil observasi saya dari pengalaman begini:Kumon itu bagus diterapkan dari dini, karena intinya adalah konsep matematika. Jadi anak mengerti yang namanya angka 2 itu apa, yang disebut "+" itu maksudnya apa. Jadi memang lebih bisa menerima sesuatu yang khayal. Intinya anak lebih menerima nalar matematika. Selain itu juga jadi latihan motoriknya karena menulis berulang-ulang. Diajarkan menulis angka yang benar juga. Jadi cara anak menulis huruf pun ikut rapi.

Tapi kalau sempoa sepertinya lebih cocok ke anak yang sudah mengerti konsep matematik (anak SD misalnya). Soalnya lihat anak saya agak sulit mengikuti sempoa, bolak-balik tanya tambah itu apa bu, kurang itu maksudnya apa bu. Mungkin karena yang dikejar adalah kecepatan. Kalau ada yang bilang kumon naik tingkatnya lama, bolak-balik diulang-ulang terus. Tapi buktinya anak saya di TK B sudah lancer penjumlahan & pengurangan puluhan menurun. Mungkin karena konsep matematika yang diajarkan di kumon lebih bisa melekat di kepala anak saya. Jadi logika matematikanya misalnya "pinjam angka" dan sebagainya bisa dikutinya. Mungkin nanti kalau sudah SD yang sudah ada ujian pakai waktu, mungkin akan aku coba ke sempoa. [DP]

Anak saya juga minta les kumon tapi masih belum saya ikutkan. Karena belum cocok saja. Kalau Sakamoto bagus tidak? Katanya ini lebih menekankan pada logika berpikir. Bener tidak? Ada yang ikutan Sakamoto? [Ds]