Agar kreatifitas anak tidak terbatas
Ingin si kecil kreatif? Jawabannya pasti ya. Memberikan ragam mainan edukatif menjadi salah satu cara. Ada juga yang mendaftarkan si kecil ikut berbagai kursus semata-mata agar minat, bakat, dan kreativitasnya berkembang optimal.
Namun sebenarnya tak sebatas itu. Kreativitas juga bisa diasah dengan memanfaatkan benda-benda di sekeliling kita, terutama di rumah. Contoh, anak bisa memanfaatkan sofa atau kursi tamu ibarat sebuah mobil atau bus. Bantal bulat bisa dijadikan setirnya. Contoh lain, kardus bekas televisi dan kulkas dipergunakan sebagai rumah-rumahan. Imajinasi anak yang begitu variatif dapat mengubah sebuah benda menjadi sesuatu yang lain.
KETERLIBATAN ORANGTUA
Proses kreatif merupakan wujud aktualisasi diri anak saat ia bereksperimen, bereksplorasi, serta menemukan berbagai alternatif dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Anak pun merasa senang dan bangga ketika wujud kreativitasnya sesuai dengan imajinasi atau harapannya. Nah, agar potensi kreatif ini berkembang optimal, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan orangtua, yaitu:
* Berikan kesempatan seluasnya
Berikan kesempatan kepada anak untuk selalu bereksplorasi. Sediakan fasilitas untuk mendukung aktivitas kreatifnya. Tak harus dengan mainan edukatif yang harganya selangit, bisa juga memanfaatkan barang-barang bekas di rumah, misalnya kardus, kaleng susu, botol minuman, dan sebagainya.
* Mendampingi saat bermain
Kedekatan dan interaksi yang hangat serta komunikasi yang baik antara orangtua dan anak sangat penting dalam mengembangkan potensi kreativitasnya. Ini berarti jangan menyuruh si kecil mengutak-atik mainannya sendirian. Sebaliknya, temani ia dengan aktif. Dukung dan dorong minat serta rasa ingin tahunya. Bimbing si kecil untuk selalu berinisiatif agar kepercayaan dirinya tumbuh. Sikap empati juga perlu saat mendampinginya berkreasi.
Jangan lupa, selalu awasi apa yang dilakukan si prasekolah agar ia tidak menggunakan benda-benda yang berbahaya saat bereksperimen, misalnya barang yang mudah terbakar, mengandung bahan kimia, tajam, dan sebagainya.
* Jangan terlalu ikut campur
Biarkan si prasekolah mengembangkan sendiri berbagai ide dalam benaknya. Jangan memaksakan ide kita, harus begini dan harus begitu. Dengan demikian, anak dapat belajar bertanggung jawab dan mandiri. Jadi, bantu si kecil saat dia memang membutuhkan saja. Dengan catatan, bukan membantu secara penuh namun sekadar mengarahkan. Misalnya, menara balok-balokan yang dibuat si kecil selalu saja rubuh. Ternyata susunan baloknya tidak seimbang lantaran balok yang ukurannya kecil ditimpa dengan balok-balok yang besar. Di sini, kita bisa memberi masukan dan contoh bahwa balok yang paling besar ukurannya sebaiknya ditaruh paling bawah, begitu seterusnya. Dengan begitu, terjadi keseimbangan dan menara yang dibangunnya pasti berdiri kokoh.
Biarkan anak menemukan gaya mengasah kreativitasnya sendiri. Dorong ia menggunakan seluruh potensi kreatifnya. Tak perlu dibatasi. Misalnya, ketika ia bermain pasir di pantai orangtua tak perlu takut kotor. Biarkan ia bereksplorasi membuat sesuatu sesuka hatinya, entah itu membuat lorong atau rumah-rumah dari pasir. Sekalipun cara yang dilakukannya sambil telungkup bahkan "jungkir balik" plus belepotan dengan pasir.
Di sisi lain, jangan paksa anak melakukan sesuatu. Lepaskan saja dia melakukan kesenangannya. Beri kebebasan untuk bereksperimen atau mengekspresikan kreativitasnya. Justru jika terlalu dibatasi atau diarahkan, si prasekolah jadi kehilangan kesempatan untuk menempa potensinya. Contohnya, ketika dia menggoreskan pensil warna hitam untuk gambar awan, orangtua jangan protes. Tak perlu memaksa warna awan mesti biru, toh kalau cuaca mendung bukankah langit dan awan tampak hitam?
Satu hal lagi, jangan menuntut hasil. Yang paling penting adalah memerhatikan proses kreatif yang dilakukan si kecil. Hargai dan terima anak apa adanya sebagai pribadi yang utuh. Ingat bahwa setiap anak adalah unik. Lihatlah proses, bukan hasil.
* Jangan emosional
Orangtua juga perlu bersabar, tidak marah atau emosional karena kadang sikap si kecil menjengkelkan bila merasa tak sanggup melakukan sesuatu. Ia bisa ngambek, mutung, bahkan mengamuk. Wajar kok anak mengungkapkan kekesalannya lantaran tak sukses membuat sesuatu.
Jika anak tampak "putus asa", berilah ia motivasi. Jelaskan bahwa anak sebenarnya memiliki potensi untuk berhasil. Kalau si kecil tetap juga tak berhasil, boleh saja orangtua menghibur kegundahan hatinya. Katakan di lain waktu pasti dia bisa menyelesaikan apa yang diinginkannya.
Sekali lagi, orangtua harus berempati. Pahami perasaan si kecil. Jangan malah meremehkannya dengan berkomentar, "Aduh, masa begitu saja enggak bisa." Justru sikap empati dapat mengembalikan kepercayaan diri anak. Nah, jika anak berhasil mewujudkan sesuatu sebagai hasil kreativitasnya, jangan sungkan-sungkan memberikan pujian. Namun perlu diingat, penghargaan atau pujian bukan saja karena anak sudah berhasil menuntaskan aktivitasnya, tapi juga hargai proses yang dilaluinya, yaitu jerih payah, kerja keras, ketekunan serta daya juang dan semangat anak.
ANEKA AKTIVITAS KREATIF
Peralatan atau benda-benda yang dapat digunakan sebagai sarana mengasah kreatif bisa apa saja. Berikut di antaranya:
* Kertas
Dengan cara dilipat atau digunting, kertas bisa dibuat topi, pesawat, bunga atau bentuk binatang dan lainnya. Untuk mempercantik hasil karya itu hias dengan kertas berwarna. Jika ingin membuat layang-layang perlu bahan penunjang seperti lidi dan benang sebagai rangka- nya. Sediakan pula lem atau gunting karena sesekali dibutuhkan. Catlah hasil karya sesuai keinginan menggunakan pensil warna atau cat air.
Si prasekolah juga bisa melakukan aktivitas menggambar. Berimajinasi menuangkan apa yang tergambar dalam benaknya. Setelah itu, poles dengan pensil warna sesuka hatinya. Lagi-lagi, bukan gambar yang dinilai, tapi proses kreatiflah yang perlu dihargai.
* Kardus/kaleng
Dengan bahan kardus atau kaleng bekas berukuran kecil, anak bisa membuat kotak pensil. Ajari anak membuat pola, lalu gunting mengikuti garis. Agar hasilnya lebih indah, hiasi kaleng atau kardus dengan gambar dan lukisan hasil karyanya. Jika kardusnya berukuran besar, si kecil dapat membuat rumah-rumahan dan sebagainya.
* Kain/kaus kaki
Kain atau kaus kaki bekas dapat digunakan untuk membuat boneka. Bagian ujung dibuat seperti wajah dengan gambar mata, hidung, dan mulut. Lalu, pergunakan untuk bermain peran seperti panggung boneka bersama teman-teman. Cara yang lebih sederhana, cukup jari-jemari yang dihias menggunakan spidol, ada mata, hidung dan mulut.
* Balok-balok
Balok-balok alat permainan dapat dibentuk sedemikian rupa misalnya membuat gedung/menara tinggi dan sebagainya.
* Stik es krim
Nah, stik es krim dapat dibentuk menjadi gambar rumah atau kotak pensil dan sebagainya.
* Tanah liat
Tanah liat dapat dibentuk menjadi apa saja, misalnya bentuk binatang, gelas, cangkir, dan lainnya. Orangtua tak perlu khawatir anak jadi kotor karena setelah selesai anak tinggal mandi agar bersih kembali.
* Pasir
Bermain pasir bisa dilakukan di rumah, juga ketika pergi ke pantai. Anak dapat membuat rumah-rumahan atau membuat terowongan. Biarkan dia berimajinasi. Jangan khawatir badannya jadi kotor.
ASAH KREATIVITAS DI SEKOLAH
Selain lingkungan keluarga, peran pihak sekolah (TK) juga sangat penting. Sekolah perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk mengekspresikan diri secara luas dan memfasilitasi potensi kreatif anak. Kreativitas akan berkembang dengan baik jika lingkungannya kondusif. Terapkan pola belajar sambil bermain dalam suasana yang menyenangkan dengan memanfaatkan apa pun yang ada di sekolah atau kelas.
Anak juga perlu dihargai sebagai pribadi yang unik. Jangan dituntut sesuai harapan guru. Justru anak mesti didorong dan mendapatkan kesempatan yang luas untuk proaktif dalam proses belajar sambil bermain tersebut. Ajak anak untuk terlibat dalam aktivitas kelas, menyalurkan gagasannya, serta berbagi pengalaman dengan teman dan gurunya.
Sekali lagi, tentunya pihak sekolah perlu memberikan suasana aman dan nyaman selama proses belajar sambil bermain tersebut. Jangan sampai membuat anak tertekan atau tegang karena itu justru dapat menghambat kemampuannya dalam bereskplorasi mengasah potensi kreatifnya. Yang jelas, agar anak kreatif tentu guru maupun orangtua mesti kreatif juga.(tabloid-nakita)
Trik cerdik jawab pertanyaan anak
"Bu, mengapa burung bisa terbang? Kok pohon berbuah sih? Apa nama kendaraan beroda tiga itu?" Duh, si prasekolah terkadang bikin mumet dengan berbagai pertanyaannya yang tak kenal waktu. Kalau sudah kehabisan akal, tak jarang orangtua berujar, "Aduh Kakak bawel amat sih!" Atau pertanyaannya yang dianggap sepele atau tak logis ditanggapi dengan jawaban asal-asalan. "Pohon berbuah? Ya...memang dari sononya begitu. Sudah, ah, Papa mau baca koran lagi!"
Tentu respons orangtua yang asal-asalan amat tidak disarankan. Paling bijak tanggapi apa pun pertanyaan anak, yang sepele sekalipun, secara positif. Respons yang baik akan membantu proses berpikir dan pemahaman si prasekolah kelak. Juga tak masalah jika ia ternyata masih belum puas dengan jawaban yang diberikan lantas bertanya lagi, lagi, dan lagi. Orangtualah yang mesti siap menghadapi "gempuran" pertanyaan itu. Misalnya dengan lebih rajin membaca buku agar wawasan dan pengetahuan kita makin bertambah.
MENUNJUKKAN MINAT
Mengapa di usia prasekolah anak sangat gemar bertanya? Ada beberapa alasan yang menyertainya, antara lain:
* Menunjukkan minat. Ragam pertanyaan anak dapat menunjukkan minatnya pada peristiwa atau pemandangan di sekitarnya. Contoh, si prasekolah bertanya, "Mengapa ayam yang tadinya satu bisa bertambah jadi tiga?" atau "Ada berapa banyak mobil yang sedang parkir itu?" Pertanyaan-pertanyaan seperti ini merupakan pertanda anak memiliki minat di bidang matematika/logika.
* Belum paham. Keingintahuan yang belum terpenuhi akan membuat anak terus bertanya sampai ia mendapatkan titik terang. Kalau orangtua merasa sudah pernah menjawab tapi anak tetap melontarkan pertanyaan yang sama, jangan-jangan ia belum memahami penjelasan yang diberikan.
* Cari perhatian. Kalau si kecil selalu mengajukan pertanyaan yang sama, padahal orangtua juga sudah berkali-kali menjelaskan, bisa jadi ia sedang caper alias cari perhatian. Segera cari penyebabnya. Mungkin lantaran si kecil merasa diabaikan karena orangtua tidak menemaninya bermain, orangtua kelewat sibuk dengan pekerjaan, atau ia merasa dibedakan dengan kakak atau adiknya. Agar terus mendapat perhatian dari ayah dan ibunya, si kecil terus menanyakan hal yang sama. Cara ini pun kerap dipakai oleh anak anak yang sebetulnya tidak kurang perhatian. Namun, ketika perhatian untuknya teralihkan, anak berusaha mendapatkannya kembali dengan berbagai cara, termasuk banyak bertanya. Oleh karena itu, lakukan kontak mata saat berkomunikasi agar anak merasa tetap diperhatikan dan dihargai.
KIAT MENJAWAB
Si kecil sebenarnya tak begitu membutuhkan jawaban panjang lebar, apalagi dengan bahasa yang kurang "membumi" karena masih terlalu abstrak di telinga anak. Agar si prasekolah bisa langsung paham jawaban Anda, berikut kiatnya:
3 Hindari penjelasan yang berbelit-belit. Yang dibutuhkan si kecil adalah jawaban dan penjelasan sederhana dengan bahasa yang sesuai kemampuan berpikirnya.
3 Jika masih ragu-ragu dengan jawaban yang akan diberikan, jangan bersikap "sok tahu". Alih-alih mendapat jawaban yang tepat, anak justru menelan informasi yang ternyata salah. Singkat kata, orangtua harus jujur atau terus terang kalau tak bisa menjawab.
3 Ajak anak untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya yang sulit. Misalnya, dengan mengajak anak membuka ensiklopedia atau mencari orang yang kira-kira bisa menjawab pertanyaannya. "Yuk kita tanya kakek, mungkin beliau tahu." Atau, "Bagaimana kalau kita besok tanyakan kepada ibu guru. Siapa tahu ibu guru bisa jawab." Kelak si kecil juga belajar bahwa jika mendapati masalah maka dia akan mencari orang yang bisa membantunya memecahkan masalah yang dihadapi atau membacanya dari berbagai buku/literatur.
3 Ajak anak belajar menganalisis hubungan sebab-akibat. Misalnya, ketika anak bertanya, "Ma, kenapa orang naik kuda? Kenapa enggak jalan kaki saja kan punya kaki." Cobalah memancing daya analisis si kecil dengan balik bertanya, "Coba menurut kamu lebih cepat mana orang sampai ke tujuannya, apakah naik kuda atau jalan kaki?" Upaya membalikkan pertanyaan juga merangsang anak untuk menemukan sendiri jawabannya. "Ayo, menurut Kakak kenapa orang naik kuda?".
3 Untuk menjawab pertanyaan "mengapa" sebaiknya orangtua jangan langsung menjawab. Biarkan dia berpikir mencari jawabannya. Maklumi jika jawabannya masih sangat sederhana karena memang kemampuan berpikirnya masih terbatas. Dalam hal ini, orangtua berperan menambahkan atau menjelaskan sesuatu lebih jelas lagi agar pengetahuan dan wawasan si kecil makin bertambah. Misalnya, "Kenapa burung bisa terbang? Karena punya sayap. Nah, burung-burung yang kamu lihat itu terbang untuk mencari makanan yang ada di pohon-pohon dan juga di tanah. Burung membuat sarangnya di pohon, lo."
SI PENDIAM
Tak semua anak usia prasekolah banyak melontarkan pertanyaan. Beberapa di antaranya lebih memilih banyak diam. Kalau ditelusuri ada beberapa hal yang melatarbelakangi perilaku seperti itu:
* Pendiam. Anak tak suka bertanya karena memang ia tipe pendiam; tak terbiasa mengemukakan isi pikirannya dan apa saja yang diinginkannya. Mungkin juga karena kedua orangtuanya pendiam dan jarang mengajaknya berkomunikasi atau berdialog. Harap diingat, anak adalah peniru ulung. Jikalau orangtua tak banyak bicara, anak pun bisa setali tiga uang.
* Kemampuan terbatas. Dengan kata lain, perkembangan si kecil mengalami keterlambatan sehingga kemampuan bicaranya juga terlambat.
* Dianggap sepele dan dimarahi. Orangtua yang tak pernah memberikan kesempatan kepada si kecil untuk banyak bertanya dapat menyebabkan anak jadi lebih memilih diam. Misalnya, setiap pertanyaan anak tak pernah dijawab. Entah karena dianggap sepele atau pertanyaannya sulit dijawab. Misalnya, "Aduh, Papa lagi sibuk nih, tanya-tanya terus sih. Sana main di luar." Atau misalnya, si anak malah disuruh tanya pada ibunya. "Tanya saja sama ibu. Ayah masih kerja enggak boleh diganggu!"
Akibatnya, anak bingung tak punya tempat bertanya. Minatnya untuk bertanya pun pupus di tengah jalan. Dia beranggapan untuk apa bertanya bila malah dimarahi. Di sekolah pun dia jadi jarang bertanya. Anak tumbuh menjadi pribadi yang pasif dan tak percaya diri. Kalau bertanya takut disalahkan atau khawatir ditertawakan. Dampak lebih jauh, kemampuan berpikir dan daya nalar si kecil jadi tak berkembang optimal. Sayang, bukan?
PERTANDA KRITIS, CERDAS, DAN KREATIF?
Konon, anak yang banyak bertanya menandakan kalau ia kritis, cerdas, dan kreatif. Memang hal itu tidak secara langsung berkaitan. Sebagai ilustrasi, anak yang kritis, cerdas, ataupun kreatif umumnya mempertanyakan sesuatu yang butuh jawaban panjang lebar. Misalnya, pertanyaan yang dimulai dengan "mengapa". Akan tetapi perlu diingat pula bahwa indikator kritis, cerdas, ataupun kreatif tak cuma dapat dinilai dari satu aspek itu saja. Ada berbagai hal lain yang patut dijadikan pertimbangan dalam mengategorikan seorang anak cerdas, kritis, atau kreatif. Yang pasti, setiap anak memiliki kecerdasan majemuk. Kecerdasan mana yang paling menonjol tentu masing-masing berbeda.
UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Anak-anak berkebutuhan khusus, misalnya autis, ADHD, down syndrome dan sebagainya juga terkadang menanyakan sesuatu. Namun, tidak mengarah pada pertanyaan yang bersifat sebab-akibat, tapi lebih pada pertanyaan "apa" atau "di mana". Selain itu, anak berkebutuhan khusus sering mengulang pertanyaan yang sebenarnya sudah pernah dijawab. Adakalanya anak-anak ini pasif atau tidak mengajukan pertanyaan apa pun. Untuk itu, orangtua dan terapis biasanya mendorong anak tersebut untuk bertanya. Misalnya, "Tumben diantar sama papa? Mama ke mana?" Kemudian, anak-anak ini juga dilatih untuk bisa menjawab tidak sekadar bertanya. Memang membutuhkan kesabaran yang lebih dalam menghadapi anak berkebutuhan khusus.tabloid-nakita
BELAJAR MENJADI DERMAWAN YANG RASIONAL
Pernah tidak, mendengar cerita ada anak yang kalau memberi sesuatu suka berlebihan. Misalnya saja, dengan enteng dia memberikan seraup uang logam yang ada di mobil ibunya kepada seorang pengemis di jalan. Kalau dijumlahkan, uang logam dalam genggamannya itu bisa mencapai 3 ribu sampai 5 ribu rupiah. Padahal pengemis di jalan tidak cuma satu. Masih banyak pengemis lain yang akan minta sedekah. Dari situ, wajarlah kalau lantas orangtua menilai anak kelewat dermawan.
Akan tetapi bagi anak sendiri sebenarnya bukan suatu masalah apakah terkesan berlebihan atau tidak. Si prasekolah memaknainya berbeda. Betapa senangnya bisa berbagi dengan orang lain. Betapa bahagianya melihat orang lain senang. Rasa bahagia yang diperoleh dari ketulusan menolong orang lain tiada terkira nilainya. Kepekaan sosial anak pun akan semakin terasah.
Karena itu, tak perlu buru-buru melarang anak melanjutkan kebiasaan berbaginya. Larangan hanya akan menimbulkan pertanyaan atas inkonsistensi sikap orangtua yang sebelumnya mungkin mengajarkan perlunya tolong-menolong dengan orang lain. "Lo, kok sekarang aku dilarang, apanya yang salah?"
Lebih baik, ajari anak untuk mengelola pembagian itu. Misalnya, "Coba Nak, uang yang kamu punya mau diberikan kepada siapa saja? Sebagian buat pengamen dan sebagian lagi buat pengemis ya? Nah, sebagian lagi buat sedekah di masjid ya." Dengan begitu anak juga belajar bersikap "adil" dengan merencanakan ke mana saja uang yang hendak diberikannya.
Akan tetapi sekali lagi, sah-sah saja kalau memang anak mau memberikan sesuatu kepada orang lain secara "royal". Dia semata-mata tulus ingin berbagi dengan orang lain. Orangtua tak perlu mencegah atau membatasi pemberiannya. Jika terus diberi penjelasan rasional, lambat laun anak akan dapat mengukur berapa banyak sih uang yang layak diberikan untuk pengemis, pengamen, dan sebagainya. Berapa banyak pula sumbangan yang hendaknya diberikan buat panti asuhan, sedekah di masjid, kerabat yang sakit, dan lainnya. Orangtua bisa saja menjelaskan begini, "Kalau kamu mau memberi dalam jumlah yang banyak, mengapa enggak disalurkan saja ke yayasan sosial. Barangkali manfaatnya bisa lebih banyak lagi." Jadi sedikit demi sedikit kita ajak si prasekolah berpikir lebih maju lagi.
Orangtua memang perlu memberi pemahaman tentang makna kedermawanan dengan sejelas-jelasnya pada anak. Kapan kita bisa memberi, bagaimana caranya, dan apa manfaat pemberian kita bagi orang lain. "Nak, memberi teman yang tidak membawa makanan itu sangat baik. Makanan bekal kamu dibagi dua saja, separuh untuk kamu, separuh lagi untuk temanmu." Dengan demikian, anak pun memahami konsep kedermawanan dalam proporsi yang benar. Tak hanya dengan uang, latih pula kedermawanan si prasekolah dengan memberikan pakaian layak pakai atau makanan berlebih untuk pengemis dan pemulung yang lewat di depan rumah. Dengan begitu sekaligus anak belajar bahwa makanan itu tak boleh dibuang-buang atau dihamburkan.
MENGASAH EMPATI
Ada beberapa manfaat yang bisa dipetik jika anak selalu mengasah sikap kedermawannya, yaitu:
* Mengasah empati dan jiwa sosial
Jika lingkungan mendukung, tentu akan tumbuh rasa empati si prasekolah terhadap lingkungannya. Misalnya, teman di sekolah enggak bawa bekal, maka ketika jam makan, anak mau berbagi makanan dengan sang teman tersebut. Menjadi sosok dermawan juga berarti mengasah jiwa sosial si prasekolah. Kalau hal baik ini terus dipupuk tentu akan terbawa oleh anak sampai besar.
* Belajar nilai-nilai agama
Mengasah kedermawanan sekaligus mengenalkan anak sejak dini tentang nilai-nilai dalam agama. Bahwa kita punya kewajiban untuk berbagi, bahwa ada sebagian dari rezeki kita merupakan hak orang-orang yang kurang mampu dan sebagainya. Anak belajar, mungkin uang yang dimiliki tak seberapa, tapi bagi orang lain mungkin sangatlah besar dan berharga.
* Belajar mengelola uang
Dia pun bisa memaknai arti uang. Selain belajar menjadi dermawan, si prasekolah juga belajar bagaimana mengelola dan menghargai uang, serta tahu ke mana dan bagaimana uang itu sebaiknya dimanfaatkan.
DARI MANA DATANGNYA SIKAP DERMAWAN
Jika ditilik dari kajian psikologi, memang anak usia prasekolah sudah memahami konsep berbagi dengan orang lain atau teman, entah itu berbentuk makanan, mainan atau sesuatu lainnya. Di usia sebelumnya yaitu batita, mereka baru mengenal konsep kepemilikan. Nah di usia 4-5 tahun ini, pemahaman mereka akan sifat kedermawanan sudah mulai terbentuk. Apalagi karena lingkungan pergaulan anak pun makin luas. Di TK, tentu peluang untuk berbagi atau mengasah sikap kedermawanan ini makin terbuka. Ditambah jika guru selalu mengajarkan anak-anak untuk rajin beramal, menjadi sosok yang baik dengan cara selalu memberikan bantuan kepada orang lain, dan mengasihi sesama. Bukankah pihak sekolah juga sering mempergunakan momen-momen tertentu, misalnya hari besar agama, untuk kegiatan amal. Mainan, uang, buku, baju atau seragam yang tak lagi dipakai tapi masih layak pakai disalurkan kepada anak-anak yang membutuhkan atau lembaga sosial. Jadi, peran sekolah pun sangat penting dalam mengembangkan sikap kedermawanan anak.
Kalau mau ditelusuri lebih lanjut, sebenarnya ada beberapa hal yang menjadi latar belakang kenapa si prasekolah memiliki sikap dermawan, yaitu:
* Ingin membuat senang orang lain
Secara prinsip jika ditelaah dari sisi perkembangan moral anak, sebenarnya dalam diri si prasekolah tumbuh rasa ingin membuat orang lain senang.
Misalnya dengan cara memberi sesuatu pada temannya. Baginya, bisa membuat senang orang lain itu sungguh menyenangkan hati. Ternyata jika memberi sesuatu kepada orang lain atau teman, maka kedua pihak akan merasa senang. Yang perlu diketahui juga, anak memberi sesuatu masih dengan tulus, tidak ada rasa ingin dipuji teman atau orang lain.
* Peniruan
Satu hal lain, sikap dermawan anak biasanya didapat lantaran meniru lingkungannya. Dengan kata lain, faktor lingkungan juga sangat menentukan apakah anak menjadi sosok dermawan atau tidak. Asal tahu saja, anak usia prasekolah sangat dipengaruhi stimulasi lingkungannya. Dia akan terpacu untuk menonjolkan sikap dermawannya bila ayah, ibu, kakak dan saudara lainnya juga menunjukkan sikap dermawan.
Dengan kata lain, orangtua memang sebaiknya memberikan contoh sebanyak-banyaknya bagi anak. Entah itu menjadi model sosok yang dermawan, menjadi orang yang baik hati, selalu menolong, atau mengerjakan sesuatu dengan baik dan benar. Anak prasekolah masih menjadi peniru sejati. Contoh konkretnya, ia melihat orangtua selalu menyumbang ke panti asuhan. Ketika ada pengemis, orangtua memberinya makanan atau uang. Jika ada teman yang membutuhkan bantuan selalu ditolong. Alhasil, anak pun ingin meniru. Dalam benaknya muncul pemikiran,"Aku ingin seperti ayah dan ibu yang selalu menolong orang lain, selalu berbagi dan selalu baik pada orang lain."
MULAI PEKA PADA KEINDAHAN
Bakat seni sudah bisa terdeteksi di usia ini.
| "Pelangi-pelangi alangkah indahmu, merah, kuning, hijau di langit yang biru..." Lagu ini termasuk salah satu "lagu wajib" anak TK. Syairnya yang sederhana ternyata sarat makna. Si anak dapat diajak membayangkan keindahan warna pelangi di angkasa karena pada dasarnya ia sudah mampu mengenali keindahan. Tak sekadar yang tertangkap oleh indra penglihatan saja tapi juga pendengaran dan perabaan. Ia mulai memakai rasa estetikanya ketika mewarnai gambar, membuat prakarya, atau menilai pemandangan alam. Boleh dibilang, kemampuan anak prasekolah menangkap keindahan sedang berkembang pesat, meski prosesnya sudah dimulai sejak janin. Saat melihat, mendengar, meraba, anak merasakan rasa kagum, senang, nyaman, dan terhibur. Apa yang tertangkap oleh indranya ini kemudian direkam otak kanan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, anak mengomentari pemandangan yang dilihatnya, "Wah, bagus ya, pantainya." Atau "Aku mau warna hijau untuk gunung," katanya saat pelajaran menggambar. BISA DILATIH Tiap anak pasti memiliki naluri keindahan. Ini sudah menjadi kodrat manusia. Menjadi terasah atau tidak, lingkunganlah yang memengaruhinya. Tak heran, anak yang dibesarkan di lingkungan seni umumnya menunjukkan kemampuan berkesenian pula. Namun, tak perlu khawatir jika Anda tidak termasuk "golongan" yang dekat dengan dunia seni atau memiliki darah seni. Olah rasa termasuk kemampuan yang bisa diasah, terlebih di usia prasekolah, antara lain dengan cara: * Mendengarkan musik Pilih musik-musik yang bisa merangsang naluri keindahannya. Musik klasik yang riang dan tenang adalah pilihan yang tepat. Lagu sederhana seperti "Twinkle-Twinkle Little Star" pun akan memberi stimulus yang diharapkan. * Menikmati keindahan alam Mulai usia ini anak sudah "asyik" diajak jalan-jalan. Ia sudah bisa mengingat dan mengambil manfaat. Kenalkan ia pada birunya laut, warna hijau sawah, warna putih pantai, dan warna lembayung senja. Banyak manfaat didapat dengan mengajak anak menikmati keindahan alam, selain terstimulasi, pikirannya pun kembali fresh. * Melihat gambar Kalau mengajak anak menikmati keindahan alam tidak dapat dilakukan karena berbagai alasan, orangtua bisa menyiasatinya dengan menunjukkan gambar-gambar indah. Misalnya membaca buku dunia bawah laut atau mengenal macam-macam bunga. * Nonton teve Pilih acara teve yang menayangkan program tamasya ke suatu tempat yang indah. Beri penjelasan yang merangsang imajinasinya. Contoh, "Tuh lihat Dek, air sungainya bening banget ya, sampai ikannya kelihatan." Dengan demikian anak bisa membayangkan bagaimana indahnya air sungai yang bening. * Beri media penyaluran Tak sekadar menstimulasi, orangtua juga harus menyiapkan media penyaluran rasa seni anak. Seperti menyediakan kertas dan alat gambar, kertas lipat, kalau anak tertarik ikut les alat musik tertentu sebaiknya difasilitasi. MENDETEKSI BAKAT SENI Selain munculnya naluri keindahan, di usia ini pun bakat seni anak sudah bisa terdeteksi. Ciri-cirinya: * Mudah mengerti Anak yang berbakat menyanyi atau memainkan alat musik tertentu, misalnya, lebih mudah menguasai hal-hal baru di bidang ini. Umpama, lebih cepat menghafal lagu, lebih cepat mengerti teori musik yang diajarkan, dan relatif cepat menguasai instrumen musik tertentu. * Tekun/tak mudah bosan Anak yang memiliki bakat biasanya termotivasi untuk menguasai materi-materi selanjutnya. Beda dengan anak yang hanya "hangat-hangat tahi ayam", belajar sebentar lalu bosan. * Terlihat lebih peka Anak dengan bakat seni biasanya lebih peka terhadap banyak hal. Perasaannya pun sangat halus. Contoh yang paling mudah, anak ini akan terganggu menyaksikan kegaduhan pertengkaran temannya. Sebaliknya, ia bisa sangat takjub melihat ikan warna-warni di akuarium atau merahnya warna langit senja dan mampu mengekspresikan rasa takjubnya itu. Tentu saja mengasah rasa seni tak harus diartikan sebagai upaya orangtua mengarahkan anak menjadi seorang seniman. Tetapi agar anak memiliki kepekaan dan juga kesenangan yang akan mengisi jiwanya. Hal ini sangat membantu menjaga kestabilan emosinya. MANFAAT KEINDAHAN 1. Memperhalus rasa Kepekaan terhadap keindahan dapat membawa anak pada kepekaan terhadap lingkungan. Dengan mengenal keindahan anak bisa bersikap lebih lembut, bertenggang rasa, dan peduli pada sesama. 2. Mengasah kreativitas Misalnya saat melihat gunung, pantai, dan sawah, imajinasinya terasah untuk kemudian dituangkannya menjadi karya. Bentuk paling sederhana bisa dilihat saat anak memilih warna tertentu untuk memperindah gambar yang dibuatnya. 3. Membuat fleksibel Keindahan juga melatih fleksibilitas anak. Ia belajar bahwa di luar sana banyak hal tak terduga yang bisa terjadi kapan saja. Misalnya setelah panas, turun hujan kemudian muncul pelangi. Semuanya bergantian, ada waktunya dan memiliki keindahan sendiri-sendiri. 4. Menambah semangat Saat mendengar lagu-lagu tertentu akan muncul perasaan riang. Anak jadi bergembira dan bersemangat mengerjakan kegiatannya. 5. Menyegarkan pikiran Seperti halnya orang dewasa, dengan menyaksikan keindahan, pikiran anak jadi fresh. Sejenak duduk di depan akuarium menyaksikan ikan mondar-mandir, cukuplah untuk menyegarkan pikiran setelah beraktivitas. PESAN UNTUK ORANGTUA 1. Kenalkan seni dalam bentuk paling sederhana di rumah, misalnya meletakkan suatu benda pada tempatnya dengan memperhitungkan nilai kepatutan.2. Biasakan memberi komentar yang merangsang kreativitas dan imajinasi anak saat menyaksikan keindahan. "Lihat, kupu-kupu itu cantik sekali, ya!" misalnya. 3. Jangan persempit persepsinya saat menikmati keindahan. Misalnya, "Wah, langitnya sudah merah nih, sebentar lagi pasti gelap, sudah tidak bagus lagi." Biarkan anak menikmati keindahan sesuai bayangannya sendiri. 4. Jangan batasi kreativitas anak, misalnya mengharuskan mewarnai langit dengan warna biru atau sawah dengan warna hijau. 5. Fasilitasi secara proporsional keinginan anak mengembangkan bakat seni. Di usia ini perubahan minat pasti masih sering terjadi, karenanya Anda tak perlu merasa dipermainkan oleh anak. |
MEMBACA RAPOR TK
Apa saja yang perlu disimak?
| Sebentar lagi, Anda akan menerima rapor si kecil. Dag dig dug deh rasanya, "Apakah anakku termasuk yang berprestasi? Biasa-biasa saja? Atau malah punya kekurangan?" Ya, meski si kecil masih duduk di bangku TK, orangtua selayaknya melihat rapor sebagai hal serius. Seiring dengan perkembangan zaman, rapor anak TK pun mengalami penyesuaian di sana-sini. Beberapa TK masih menggunakan pola konvensional, yaitu dengan memberikan nilai B untuk baik, C untuk cukup, dan K untuk kurang. Sementara untuk menilai perkembangan perilakunya, biasanya digunakan standar S untuk sering, SS untuk sangat sering, dan TP untuk tidak pernah. Sampai sekarang penilaian tersebut masih relevan digunakan. Ke sini, beberapa TK memodifikasi rapor anak didiknya dengan memberi catatan pada tiap poin penilaian. Memang tidak berarti kalau di rapor terdapat nilai K, orangtua harus serta merta "menggenjot" si anak habis-habisan sampai mengusai kemampuan yang dinilai kurang. Oleh sebab itu, pahami dulu apa arti nilai B, C, K, S, SS, TP bagi anak prasekolah. * Nilai B Diberikan bila anak sudah mampu mengerjakan tugas yang diberikan tanpa bantuan guru sama sekali. Misalnya anak sudah bisa mewarnai dengan baik, rapi, dan menyelesaikan tugas tepat waktu. Untuk kemampuan mewarnai seperti ini, anak layak mendapat nilai B yang berarti baik. * Nilai C Jika anak sudah bisa menyelesaikan tugas dengan baik tapi masih butuh bantuan guru, maka ia akan dinilai cukup. Misalnya untuk kasus yang sama, yaitu pelajaran mewarnai. Anak sudah mampu memegang pensil warna dengan baik dan tugasnya bisa dikerjakan dengan rapi, tapi dalam memilih warna, sesekali anak masih bertanya pada guru. Selain itu anak masih butuh motivasi untuk menyelesaikan tugasnya tepat waktu. * Nilai K Nilai K diberikan kalau anak masih butuh bantuan dan dukungan dari guru secara intensif. Misalnya masih perlu penjelasan berulang untuk memahami instruksi guru. Dukungan dan motivasi pun harus sering diulang supaya tugasnya selesai. Beberapa anak meski sudah mendapat perhatian ekstra, tetap saja tidak bisa menyelesaikan tugasnya sesuai harapan. * Nilai S (sering) Seorang anak berhak mendapat nilai S atau sering jika sehari-hari ia menunjukkan perilaku tertentu. Misalnya anak Anda sudah mau berbagi dengan temannya kalau diminta oleh guru. * Nilai SS (sangat sering) Anak layak mendapat nilai SS bila dalam sehari-hari ia mau melakukan perilaku yang dinilai tanpa perlu diminta guru. Misalnya, menyapa teman lebih dulu saat berpapasan dan sebagainya. Intinya, inisiatif untuk melakukan sesuatu sudah dimilikinya tanpa bantuan guru lagi. * Nilai TP (tidak pernah) Anak-anak yang tidak pernah melakukan perilaku yang dinilai akan mendapat nilai TP. Misalnya ia belum bisa berbagi sama sekali, masih "takut" dengan lingkungannya sehingga hampir tidak pernah menyapa teman apalagi guru, tidak mau maju ke depan kelas, tidak pernah menjawab pertanyaan guru, tidak pernah membereskan mainan sehabis dimainkan, dan sebagainya. ASPEK PENILAIAN Di TK, anak dituntut menguasai keterampilan sesuai dengan tugas perkembangannya. Inilah perinciannya: * Motorik kasar Penilaian meliputi kemam-puan meloncat, melempar, berlari, berdiri satu kaki, melompat engklek, memanjat, berjalan di titian, menendang bola. * Motorik halus Penilaian mencakup kemampuan menggunting, menggambar, mewarnai, menempel, menjahit, dan meronce. * Perkembangan kognitif Meliputi pengenalan konsep dasar huruf, angka, dan bentuk-bentuk geometris serta variasinya. Sebagai catatan, penguasaan kemampuan ini tidak sama dengan keharusan bisa membaca ataupun berhitung. * Perkembangan bahasa Pada poin ini, anak akan dinilai kelancaran bicaranya, penguasaan kosakata, dan kemampuan bercerita pengalaman ataupun imajinasinya. * Perkembangan emosi Perkembangan emosi meliputi apakah anak masih mudah menangis, tidak bisa mengenda-likan emosi, atau sudah bisa mengendalikan emosi. * Kemampuan sosialisasi Kemampuan sosialisasi yang dinilai adalah kepiawaian anak menjalin relasi dengan teman-temannya. Misalnya kemampuan menyapa, menolong teman, menengahi perselisihan, dan berinteraksi. HARUS BAGAIMANA? Bila ada penilaian yang dianggap kurang, biasanya guru akan memberi catatan. Haruskah catatan ini dianggap serius atau justru boleh diabaikan? Sering kali orangtua menganggap enteng dengan berujar, "Ah, masih TK ini. Biar saja ada kekurangan di sana-sini." Sikap seperti ini tentulah kurang bijak. Kalau sekarang mengatakan, "Ah, masih TK ini," bisa jadi di SD pun orangtua akan berkilah sama. Sebenarnya, catatan tersebut merupakan "imbauan" bagi orangtua untuk bekerja sama dengan guru. Misalnya kemampuan si prasekolah dalam memilih warna kurang berani, dan mewarnainya masih ragu-ragu. Diharapkan dengan adanya catatan tersebut orangtua mau melatih atau memberikan waktu lebih pada anaknya guna mengasah kemampuan yang satu ini. Demikian juga kalau yang dinilai kurang adalah perilakunya, misalnya anak tidak pernah menyapa teman. Diharapkan orangtua lebih aktif membawa anak ke ajang bersosialisasi di sekitar rumah agar dapat berinteraksi dengan lebih banyak sebaya. Bila catatan yang diberikan menurut orangtua tidak sesuai dengan keadaan anak di rumah, sebaiknya bicarakan baik-baik dengan gurunya. Tak jarang orangtua merasa kemampuan anaknya baik-baik saja. Padahal mungkin saja anak termasuk tipe jago kandang. Diskusikan dengan guru bagaimana baiknya demi langkah penanganan yang tepat. MASALAH ABSENSI Di bagian akhir penilaian, biasanya ada rekapitulasi absensi anak. Berapa hari ia sakit, berapa hari ia izin dan berapa hari tidak masuk tanpa keterangan. Kalau absensinya masih di bawah 5 hari, tak masalah. Apalagi jika anak masih duduk di bangku TK A. Di usia ini lazimnya kondisi fisik anak belum optimal. Panas, pilek, batuk, merupakan penyakit langganan yang acap kali muncul dan menyebabkannya harus absen dari sekolah. Lain halnya kalau absensi itu sampai 20 hari atau bahkan satu bulan, biasanya ada masalah lain yang mesti disiasati. Selain itu, absensi di TK juga terkait dengan latihan daya tahan tubuh anak sebagai persiapan masuk SD. Seperti diketahui, di bangku SD anak harus belajar lebih lama dengan rentang konsentrasi lebih panjang. Kalau di TK kemam-puan ini tidak diasah dan dengan mudahnya orangtua meloloskan keinginan anak untuk tidak masuk sekolah, bukan tak mungkin di jenjang pendidikan selanjutnya anak akan mengalami kesulitan. Cari tahu mengapa anak malas sekolah, apakah ia mengalami konflik dengan temannya atau dengan gurunya. Selain untuk mengasah kemampuan, sekolah pun harus menjadi ajang bergaul yang menyenangkan. Dengan demikian, orangtua dituntut bijak menyikapi apa pun isi rapor si prasekolah. Anda boleh saja kecewa tapi jangan memojokkan si kecil serta memaksakan latihan yang hanya akan menghilangkan unsur kegembiraan. Lebih baik, terima kekurangan anak agar bisa memberikan motivasi dan stimulasi yang tepat. TIP BIJAK * Jangan bandingkan kemampuan anak Anda dengan yang lain. Anak bisa down karenanya. * Berikan pujian sewajarnya tiap kali anak menunjukkan kemajuan baru. * Mengingat banyaknya aspek penilaian, jangan hanya fokus pada satu hal yang dianggap unggul. * Jangan terlalu menuntut anak melakukan ini dan itu. Apalagi jika kemampuan tersebut sebetulnya bukan merupakan tugas perkembangan di usianya. Pada prinsipnya, TK adalah tempat anak bermain. Meski demikian, ada yang "salah" dengan sistem pendidikan kebanyakan TK di sini, yaitu menuntut anak menguasai kemampuan yang tidak mesti sekarang dikuasainya. Misalnya ada beberapa TK yang memasukkan mata pelajaran membaca dan berhitung. Kalau sekadar mengenalkan dengan cara menyamarkan dalam permainan tentu tidak masalah. Tapi kalau anak sampai dituntut harus menguasai keterampilan tersebut, itu sudah tidak tepat.(tabloid-nakita) |
SAATNYA BELAJAR RENANG
Simaklah segudang alasannya.
| Mengapa usia 4 tahun diyakini sebagai masa emas untuk belajar berenang? Tidak salah lagi, karena kecepatannya beradaptasi dengan air terlihat efektif di usia ini. Dalam beberapa kali sesi belajar saja ia sudah tampak seperti Deni manusia ikan. Ya, inilah alasannya: * Secara mental, anak sudah mampu mempelajari berbagai teknik berenang dan mempraktikkannya. Kemampuan komunikasi dan berpikirnya untuk menyerap berbagai materi dan instruksi dari pelatih renang juga sudah berkembang baik. * Koordinasi otot tangan, kaki, dan bagian tubuh lainnya sudah bagus. Keterampilan bernapasnya pun oke. Si prasekolah sudah bisa mengatur napasnya kala berenang, kapan menghirup dan mengembuskan napasnya saat dibutuhkan. * Sistem neuromuskular (saraf dan otot) sudah matang. Penting diingat, semua gerakan otot dikoordinasikan oleh saraf-saraf di otak. Matangnya saraf-saraf di otak ini sangat berpengaruh pada kemampuan koordinasi dan motorik anak. PERLU INSTRUKTUR Agar bisa menguasai teknik berenang yang baik, orangtua perlu membimbingnya dengan benar. Jika merasa diri tidak mampu, datanglah ke instruktur profesional dan berpengalaman. Bisa berenang saja tidak cukup kalau mengharapkan hasil yang optimal. Sedangkan instruktur profesional memiliki materi yang diajarkan secara bertahap. Jika satu tahapan sudah dikuasai, maka akan dilanjutkan ke tahapan berikutnya. "Ibarat belajar berjalan, tahapan itu harus dilalui dengan benar, tidak bisa loncat-loncat," ujar Dr. Nani Cahyani, Sp.KO. Jika terjadi sesuatu pada anak, mereka juga sudah tahu apa yang dilakukan. Ini sangat penting, karena meski sudah diawasi dan didampingi, risiko celaka di kolam renang tetap ada. "Jika yang menanganinya tidak profesional, dikhawatirkan pertolongan lambat dilakukan. Nyawa atau kesehatan anak pun terancam." TAHAP BELAJAR Yonatan, instruktur pada Jakarta Swimming Course, menjelaskan tahapan-tahapan belejar renang berikut ini: 1. Beradaptasi dengan air. Anak harus dibiasakan bernapas dengan mulut bukan hidung saat di dalam air. Anak berdiri di pinggir kolam lalu membuat gerakan turun naik. Beberapa saat menyelam dan mengembuskan napas, lalu kembali ke permukaan untuk mengambil oksigen. Dilakukan berulang-ulang hingga anak terbiasa. 2. Latihan gerakan kaki bebas. Untuk pemula menggunakan pelampung dan kaki katak. Posisi tengkurap dan badan anak dipegangi. Anak memegang pelampung di depan kepala untuk mencegah tenggelam, sementara kaki katak membuat dorongan kuat saat berenang. Itu dilakukan terus-menerus hingga anak terampil melakukan gerakan kaki bebas. Gerakan kaki bebas yang bagus ditandai dengan kuatnya gerakan, keseimbangan dalam air, dan luncuran yang terarah. Jika gerakan ini sudah dikuasai dan teknik bernapasnya juga bagus, maka anak mulai tidak dipegangi. Sambil diawasi, anak diminta meluncur dari sudut satu ke sudut lainnya. Begitu seterusnya hingga anak benar-benar bisa. Selanjutnya anak belajar membuat gerakan tangan. 3. Belajar renang dengan gaya, yaitu gaya bebas dan gaya dada (gaya katak). Biasanya, jika gaya bebas sudah dikuasai, maka gaya-gaya lainnya bisa dipelajari dengan lebih cepat. Waktu yang dibutuhkan untuk menguasai gerakan dasar (meluncur) dan gaya-gaya lainnya sekitar 1-1,5 tahun dengan frekuensi latihan sekitar 2 kali seminggu. Penguasaan cara berenang tergantung pada kesungguhan anak, daya tangkap, kemampuan fisik, dan kemauan menjalankan instruksi. MANFAAT RENANG 1. TAMBAH BUGAR Berenang melibatkan semua otot di seluruh bagian tubuh. Semua organ vital, seperti jantung dan paru-paru ikut terlatih. Ini sangat menyehatkan dan membuat tubuh bertambah bugar. Daya tahan tubuh anak pun meningkat. Kondisi yang baik ini tentu akan menambah semangat belajar dan ia pun jadi tidak gampang sakit. Manfaat ini bisa dirasakan jika frekuensi olahraga disesuaikan dengan kemampuan anak. Artinya kalau berlebihan pun, olahraga justru membuat daya tahan tubuh anak merosot. Frekuensi berenang yang baik sekitar 1-2 kali seminggu, sedangkan khusus untuk prestasi (anak berminat menjadi atlet) frekuensi bisa ditambah secara bertahap. Kondisi anak pengidap asma akan sangat terbantu jika melakukan renang dengan teratur. Renang membuat otot dada dan paru-paru mengembang yang membuat kapasitasnya makin besar. Manfaat renang juga bisa dirasakan penderita epilepsi dan gangguan konsentrasi. Berkonsultasi ke dokter sebelum mengajak anak dengan gangguan tertentu berenang tentu amat bijak. 2. ATASI OBESITAS Berenang sangat efektif membakar lemak. Berdasarkan penelitian, sekitar 25% kalori bisa terbakar dengan berenang. Ini tentu sangat membantu anak-anak yang mengalami obesitas disamping perlunya pengaturan pola makan. Jika asupan ma-kanan tidak diatur, mungkin saja olahraga ini tidak jadi melangsingkan sebab olahraga berenang memicu rasa lapar. 3. KEPERCAYAAN DIRI Anak sangat senang jika memiliki keterampilan baru, termasuk berenang. Ini sangat baik untuk memupuk kepercayaan dirinya. PERHATIAN! 1. Awasi selalu saat anak berenang. Meskipun si kecil sudah terlihat lihai berenang dengan berbagai gaya di kolam renang, jangan ada satu detik pun yang terlewat untuk mengawasinya karena bisa saja ia tiba-tiba kram dan tenggelam. 2. Jangan sekali-kali berenang dalam keadaan perut kosong karena akan menghilangkan banyak panas tubuh. Makanlah 1-2 jam sebelum renang sehingga cadangan energi tercukupi. Berenang kala perut terlalu kenyang juga tidaklah baik karena saat itu otot lambung tengah bekerja dan dapat mengalami kram jika diajak melakukan gerakan-gerakan yang keras. 3. Sengatan matahari bisa membakar kulit. Bentengi kulit anak dengan krim anti-UV dan pelembap untuk melindungi kulit dari iritasi akibat kaporit. 4. Gunakan perlengkapan renang yang layak seperti baju renang yang pas melekat di tubuh, kacamata renang, dan kalau perlu penutup kepala. 5. Mandikan anak seusai berenang untuk membersihkan kuman dan senyawa seperti kaporit. 6. Jangan paksa anak berenang jika kondisinya tidak fit atau sedang sakit, meski sakitnya ringan. |
MAIN INTERAKTIF
| Mengembangkan keterampilan sosial dan mencerdaskan emosi boleh dibilang merupakan manfaat paling penting ketika si prasekolah bermain bersama. Dengan bersosialisasi lewat bermain, anak bukan saja mengembangkan kemampuannya berinteraksi, tapi sekaligus belajar mengerti dan memahami emosi dirinya maupun orang lain. Coba saja perhatikan, bocah yang pandai bersosialisasi. Umumnya mereka pandai mengelola emosinya ataupun mengeskpresikannya secara tepat kepada orang lain. Si prasekolah pun mampu mengenali emosi orang lain sehingga mampu berempati dan membina hubungan baik dengan orang lain. KOK, TEMAN SEBAYA? Bermain dengan teman yang lebih kecil atau bahkan dengan orang dewasa kurang memberikan kesempatan kepada anak untuk bisa mengasah kepekaan emosi dan menjalin relasi yang sehat dengan lingkungan sosialnya. Aturan-aturan bermain seperti berbagi mainan, bergantian, menunggu bergiliran paling mungkin dilakukan secara fair dengan teman sebaya. Bila bermain dengan anak yang lebih kecil, si prasekolah biasanya dituntut untuk selalu mengalah. Hal ini bisa membentuk sikap mengalah yang berlebihan yang pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri ketika bermain dengan teman sebaya. Pasalnya, bila bermain dengan teman sebaya, sikap selalu mengalah bukan merupakan bagian aturan bermain yang menekankan bergiliran, berbagi dan bergantian. Sikap selalu mengalah juga dapat mengancam rasa percaya diri anak karena ia akan memandang pribadinya sebagai pribadi rendah yang selalu terpojokkan. Sebaliknya, jika selalu bermain dengan orang dewasa, si prasekolah tak akan mengenal pula aturan main yang fair karena cenderung selalu dimenangkan dan selalu mendapat prioritas dengan mendapat giliran lebih dulu. Sikap ini tentu saja bisa memicu konflik ketika berhadapan dengan teman sebaya. Teman-temannya pasti menuntut si prasekolah tunduk pada aturan main. Dengan demikian kesempatan bermain dengan teman sebayalah yang sebetulnya lebih banyak memberi manfaat bagi si prasekolah. Ditambah dengan kemampuan bahasanya yang berkembang pesat, si prasekolah bersama teman-temannya akan mulai mengembangkan peraturan-peraturan sendiri dalam hal bermain dan berteman yang bisa diterima oleh semua pihak yang terlibat bermain. Sebagai catatan, belajar mengenai aturan main pada dasarnya memerlukan kematangan fungsi mental yang lebih tinggi yang umumnya berkembang di usia prasekolah. Bukankah bergiliran memerlukan pemahaman mengenai urutan, kesediaan untuk bergantian dan kemauan menunggu giliran. Ini penting untuk diajarkan pada anak bukan sebatas sebagai syarat penting ketika bermain bersama. Dalam lingkup sosial yang lebih luas pun akan selalu ada aturan yang mengikat setiap anggota kelompok. Selain itu bermain dengan teman sebaya memungkinkan penerimaan kelompok anak-anak seusianya. Hal ini sangat penting bagi anak untuk mulai mengembangkan self esteem atau konsep bagaimana ia menghargai dirinya sendiri. BEREBUT MAINANPerilaku ini sudah harus ditinggalkan setelah usia 3 tahun.
Selanjutnya, seiring dengan meningkatnya pemahaman anak pada aturan main, frekuensi berebut mainan akan berkurang dengan sendirinya. Dengan begitu tenggang waktu permainan akan semakin lama sementara permainan mereka terasa semakin menantang dan mengasyikkan. Tak heran bila di setiap kesempatan, si prasekolah tak sabar untuk segera bertemu dengan teman-temannya agar dapat bermain bersama lagi. ATURAN JELAS Pada usia 4 atau 5 tahun, anak-anak menyadari bahwa bermain bersama dengan teman-temannya akan lebih menyenangkan. Mereka mulai bisa berbagi mainan, mengikuti aturan main, bermain bergantian, patuh menunggu giliran yang kesemuanya merupakan upaya agar mereka dapat bermain bersama Permainan yang aturannya jelas, semisal bermain kartu domino bisa memudahkan orangtua mengenalkan konsep berbagi dan menunggu giliran kepada si prasekolah. Soalnya, urutan mainnya sudah jelas sehingga tinggal menentukan giliran. Anak-anak prasekolah yang umumnya cepat menguasai keterampilan bersosialisasi ini akan menunjukkan reaksi bila salah seorang teman mereka mendominasi permainan. Begitu pula ketika terjadi "perebutan", rekan-rekan yang lainnya pasti akan segera protes.
|
BANTU DIRI SENDIRI
Apa saja yang semestinya sudah mampu dilakukan anak usia 3-5 tahun untuk membantu dirinya sendiri?
| Menolong diri sendiri adalah kemampuan dan keinginan melakukan segala sesuatu sendiri. Disingkat bantu diri atau self help. Bantu diri di usia prasekolah mencakup aktivitas makan, mandi, berpakaian, buang air kecil dan buang air besar sendiri. Namun, kalau Anda berpikir bahwa semua kemampuan itu akan muncul dengan sendirinya, tentu saja itu tidak tepat. Tanpa dilatih sejak dini, anak-anak tidak akan tahu bagaimana harus membantu dirinya sendiri. Keterampilan mengenakan baju, contohnya, dapat mulai dilatihkan sejak usia 2 tahun. Sebagai langkah awal, kenalkan dulu aneka jenis pakaian, dari kaus oblong, T-shirt, sampai kemeja berkancing. Setelah itu lanjutkan dengan mengenalkan celana pendek dan celana panjang. Sedangkan kepada anak perempuan, selain kaus, kemeja dan celana, kenalkan juga rok dan gaun padanya. Selanjutnya, mulailah dengan mempraktikkan hal yang paling mudah terlebih dulu. Di usia 3 tahun, misalnya, diharapkan ia mulai bisa meneroboskan lengannya pada lengan kemeja. Setelah itu belajar memakai rok atau celana karet. Selanjutnya, masih dibutuhkan ketekunan dan kesabaran ekstra saat membimbing si prasekolah agar terampil manarik ritsleting dan mengancingkan bajunya. Untuk menyenangkan buah hati tercinta, lakukan latihan sambil bercerita, bermain, dan bernyanyi. Ciptakan lagu-lagu dengan syair sederhana yang memuat cara-cara sederhana membuka dan mengancingkan baju, sehingga anak dengan mudah dapat mencernanya. Kegiatan menarik ritsleting dan mengancingkan baju sekaligus akan mengasah kemampuan motorik halusnya. Awalnya sangat mungkin akan terkesan berantakan. Bila ini yang terjadi, biarkan. Tak perlu terpancing untuk memarahinya ataupun kelewat memaksakan "nilai-nilai" orangtua mengenai kerapian dan kepantasan. Biarkan saja ia bereksplorasi terlebih dahulu. Dukung anak jika berhasil dan segera betulkan jika ia keliru tanpa perlu menyalahkannya. Yang terpenting, berikan kesempatan kepada anak untuk mencoba disertai keyakinannya bahwa orangtua akan memberi perhatian penuh sekaligus menciptakan rasa aman. Jika anak merasa nyaman, ia akan menjalani proses pembelajaran ini dengan lancar. Kalau saja sejak usia batita bantu diri telah diperkenalkan secara konsisten, maka di usia prasekolah, sudah selayaknya anak mampu melakukan aktivitas bantu diri dengan baik. CIKAL BAKAL KEMANDIRIAN Hebatnya, keterampilan bantu diri merupakan cikal bakal kemandirian anak. Jika anak tumbuh menjadi pribadi mandiri berarti ia memiliki sejumlah kelebihan, di antaranya: * Tak perlu bergantung sepenuhnya pada orang lain hanya untuk melakukan kegiatan fisik maupun pengambilan keputusan. Berarti ia mampu menyelesaikan tugas sekaligus mengemban tanggung jawabnya tanpa mengandalkan bantuan orang lain. * Tak mudah panik bila menghadapi situasi baru/berbeda sebab ia terbiasa mengerjakan segala sesuatunya sendiri. * Tumbuh menjadi individu kreatif karena ia banyak menelurkan ide baru. * Tak mudah frustrasi setiap kali mengalami benturan atau menemui kesulitan karena ia senantiasa tertantang untuk mencoba memecahkan persoalannya sendiri. * Tumbuh menjadi pribadi yang disukai dalam pergaulan berkat kemandirian dan kematangan yang ditunjukkannya. Contohnya, mampu dengan cepat menyelesaikan tugas kelompok tanpa merecoki teman-teman anggota kelompoknya. * Rasa percaya dirinya berkembang optimal karena setiap kali berhasil menguasai kemampuan tertentu, maka nilai positif dalam diri anak akan bertambah. Perlu diingat, pembentukan self esteem antara lain didapat melalui penguasaan keterampilan. Yang pasti, pribadi mandiri mampu mengem-bangkan apa yang menjadi nilai positif dalam dirinya. * Keterampilan motoriknya berkembang dengan baik mengingat anak terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri. Contoh sederhanya, ia terampil menulis karena terbiasa menggunakan jari-jarinya untuk mengerjakan tugasnya secara mandiri.
TUGAS SEDERHANA * Mengenakan baju Memasuki usia 4 tahun, anak sudah mampu memakai baju sendiri. Bila mengenakan kaus, ia pun sudah dapat membedakan mana bagian depan dan mana bagian belakang, sehingga tidak lagi terbolak-balik. Bahkan, ia mulai terampil mengancingkan kemejanya. * Mengenakan sepatu Awalnya, pilihkan sepatu berperekat. Selanjutnya bimbing ia agar mampu mengenakan sepatu bertali sederhana. Proses mengikatkan tali sepatu sekaligus merupakan ajang latihan bagi kemampuan motorik halusnya. * Makan Memasuki usia 4 tahun anak mampu makan sendiri dan menggunakan peralatan makan dengan benar. Seyogyanya ia juga sudah paham mengenai disiplin waktu makan sekaligus apa saja aturan di meja makan. Contohnya, tidak boleh menghambur-hamburkan makanan, mengunyah sambil mengeluarkan bebunyian, duduk bermalas-malasan, makan di sembarang tempat atau sambil berjalan-jalan seenaknya. Selain itu, anak juga mestinya sudah mampu mengambil makanan untuk dirinya saat di meja makan. Seiring bertambahnya usia, tingkatkan keterampilannya dengan memberi pengetahuan tentang kebiasaan makan sesuai adat di keluarga besar. Misalnya saja, kebiasaan makan tanpa menggunakan alat atau langsung dengan tangan. Orangtua tak ada salahnya mengajarkan kebiasaan itu. Dengan mendapat pengetahuan dan kepercayaan untuk melakukannya, ini akan menumbuhkan rasa percaya diri anak. Hasilnya, kelak ia bakal mampu menyesuaikan diri dengan etiket makan di manapun. * Aktivitas di kamar mandi Mandi, buang air besar, buang air kecil dan membersihkan sesudahnya adalah aktivitas bantu diri di kamar mandi yang sudah dapat dilakukan anak usia prasekolah. Sebelumnya, anak sudah dapat dilatih untuk bisa mencuci muka dan tangannya. Namun dengan alasan keber-sihan, tak ada salahnya orangtua sesekali mengontrol cara mandi dan membersihkan diri anak. Khusus untuk anak perempuan, ingatkan untuk membasuh kemaluannya dari arah depan ke belakang dan bukan sebaliknya, terutama usai buang air besar. Jangan lupa, jelaskan alasannya dengan bahasa sederhana, yakni agar kotoran dan kuman yang mungkin tertinggal di anus tidak terbawa ke vagina. Tahapan berikutnya, bimbing juga anak untuk mengeringkan alat kelaminnya dengan tisu atau handuk kecil yang bersih agar tidak lembap. Jika sudah, bimbing ia untuk mengenakan kembali celananya dan merapikan penampilannya. Saat memakai celana, mintalah anak untuk berpegangan pada dinding kamar mandi agar tidak terjatuh akibat ketidakseimbangan tubuhnya. KALAU TERLAMBAT Bila keterampilan bantu diri ini belum dikuasai di usia prasekolah, sebaiknya orangtua segera mengubah sikap. Boleh jadi karena selama ini anak tidak diberi kesempatan untuk melatih dirinya. Jadi, segeralah ciptakan tugas-tugas sederhana dan bimbinglah dia saat melakukan tugasnya. Sangat mungkin proses belajar bantu diri yang baru dimulai di usia ini makan waktu lebih lama. Apalagi jika anak sudah terbiasa mendapat pelayanan penuh dari orangtua, pembantu atau pengasuh, karena motivasi anak harus dibangun lebih dulu. Namun, berbekal kemauan dan kesabaran, cara-cara membantu diri dapat diajarkan. Lakukan secara perlahan dan bertahap dari aktivitas yang paling mudah, seperti menaruh piring di tempat cucian, sampai yang kompleks seperti mandi sendiri. Jangan lupa, sertakan contoh di setiap latihan agar motivasinya tumbuh dan anak benar-benar memahaminya sebelum masuk ke langkah berikut. Kuncinya, lebih baik terlambat daripada tidak. Tanpa keterampilan bantu diri, anak akan mengalami banyak hambatan. |
KECIL-KECIL HOBI NENANGGA
Keinginan menyambangi anak tetangga yang sebaya umumnya justru berawal dari pengalaman bergaul di "sekolah". Taruhlah si anak usia ini tadinya sendirian di rumah dan hanya bergaul dengan bapak ibu dan pengasuhnya. Pengalaman di "sekolah" mengajarkan ternyata asyik lo bisa bertemu dan bermain dengan teman sebaya. Nah, karena tak ingin kehilangan suasana bermain yang mengasyikkan dan menyenangkan ini, akhirnya anak mulai lirik kiri kanan kalau-kalau ada tetangga yang kebetulan punya anak usia sebaya dengannya.
Faktor pendorong lainnya, anak usia prasekolah umumnya dianggap sudah tak merepotkan lagi sehingga orangtua jadi sering mengikutsertakannya ke berbagai acara pertemuan. Pemerkayaan pengalaman seperti ini tentu saja memberi wacana pada anak bahwa pergaulan tak hanya sebatas tembok rumah.
Akan tetapi meski senang menyambangi tetangga, sejujurnya anak usia prasekolah belum paham konsep bertetangga. Termasuk siapa yang dimaksud dengan tetangga dan bagaimana anak usia sebaya dengannya.
Faktor pendorong lainnya, anak usia prasekolah umumnya dianggap sudah tak merepotkan lagi sehingga orangtua jadi sering mengikutsertakannya ke berbagai acara pertemuan. Pemerkayaan pengalaman seperti ini tentu saja memberi wacana pada anak bahwa pergaulan tak hanya sebatas tembok rumah.
Akan tetapi meski senang menyambangi tetangga, sejujurnya anak usia prasekolah belum paham konsep bertetangga. Termasuk siapa yang dimaksud dengan tetangga dan bagaimana sopan-santun bertetangga. "Konsep" bertetangga yang ada dalam benak mereka sangatlah sederhana, yakni, "Aku ke sini karena aku senang lihat ada anak seumuranku yang rumahnya di sebelah rumahku."
Kalaupun ia kemudian jadi rajin bertandang biasanya karena ia menemukan hal-hal menyenangkan lainnya. Jadi, tak hanya pertimbangan sebaya. Melainkan sangat mungkin karena si anak tetangga tadi punya banyak mainan yang menarik dan mau meminjamkannya, atau orang-orang yang ada di sana menye-nangkan. Lebih-lebih kalau di rumah tetangga ia menemukan suasana yang "hidup" sementara sehari-hari ia kesepian di rumah sendirian hanya dengan pengasuh, sementara ibu bapaknya bekerja nyaris sepanjang hari.
BERIKAN BATASAN
Bermain ke tetangga sebetulnya memberi kontribusi positif pada berkembangnya keterampilan sosial anak. Jadi, kenapa harus dilarang? Di pemukiman yang cukup padat, umumnya tak ada kendala bagi anak untuk bermain dengan tetangganya. Namun, tak demikian halnya bila jarak antara satu rumah dengan rumah lain cukup jauh atau tertutup pagar tembok yang tinggi.
Akan tetapi, bila anak prasekolah hendak bermain ke rumah tetangga, orangtua tetap harus memerhatikan faktor keamanannya. Awalnya, begitu anak usia prasekolah melangkah ke luar pagar rumah untuk pergi ke tetangga dekat (apalagi yang agak jauh), ia wajib ditemani orang dewasa. Jadi, jangan pernah membiarkan mereka pergi ke luar rumah sendirian. Meskipun jaraknya dekat, keamanan selama di perjalanan itulah yang harus dipikirkan.
Selain itu, kalau anak memang mulai senang nenangga, sebagai orangtua kita harus memberi rambu-rambunya. Bila tahu anaknya asma dengan faktor pemicu debu atau bulu-bulu hewan, contohnya, ya jangan segan-segan untuk berulang kali mengingatkannya. Misalnya, "Kak, si Toni kan pelihara kucing. Kamu boleh main ke rumahnya tapi jangan dekat-dekat kucingnya ya." Atau, "Kalau di rumah Toni, mainnya enggak usah di karpet deh." Begitu juga anjuran untuk menasehatinya agar tidak makan penganan yang selama ini menjadi pemicu kekambuhan asmanya. Agar efektif, tak ada salahnya pihak tetangga pun diberi tahu mengenai hal ini untuk ikut mengawasi. Tentu saja cara menyampaikannya jangan sampai membuat tetangga yang didatangi si kecil justru tersinggung karena merasa "dikuliahi".
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, semisal pelecehan seksual, perlu juga dipesankan pada anak agar siapa pun tak boleh menyentuh tubuhnya atau melepas bajunya. Contohnya, "Kalau mau pipis, permisi aja ke kamar mandi. Kan kakak sudah bisa pipis dan cebok sendiri. Atau kalau enggak, minta tolong dianterin pulang." Pembekalan seperti ini sangat perlu untuk berjaga-jaga. Soalnya, sebagai orangtua kita tidak tahu persis siapa saja yang menghuni rumah tersebut dan bagaimana sifat/karakter masing-masing. Belum lagi kalau ada tamu lain yang datang.
Idealnya, setiap kali anak bermain ke luar rumah, meskipun hanya ke rumah tetangga, haruslah ditemani orang dewasa, semisal pembantu atau pengasuhnya. Bila ibu atau ayah hanya bisa menemaninya saat mengantar atau menjemput, tegaskan pada anak mengenai rambu-rambu selama berada di rumah tetangga.
ETIKA BERTETANGGA
Ketika anak mulai senang nenangga, sebetulnya inilah kesempatan pas bagi orangtua untuk mengajarkan etika bertetangga. Di antaranya waktu yang tepat untuk bertandang dan berapa lama sebaiknya di sana. Jadi, ketika anak pamit pergi bermain ke tetangga, orangtua dapat mengiyakan sembari mengingatkan tentang batasan yang sudah diberikan.
Contohnya, "Oke, mama antar. Mama kasih waktu kamu main di sana sampai jarum jam yang pendek ada di sini ya (sambil menunjuk angka tertentu). Nanti mama jemput. Kamu kan harus mandi sore. Begitu juga si Anto temanmu." Dengan begitu anak akan mengerti, kalau sudah dijemput berarti acara main ke tetangga harus disudahi. Jadi, sewaktu ibu datang menjemput, anak tak perlu lagi merengek-rengek atau menangis tak mau pulang.
Pembatasan waktu bertandang ke tetangga ini merupakan bagian dari etika bertetangga. Bila tak ada batasan, sangat mungkin anak akan main sesuka hati sampai berjam-jam. Apalagi bila bermain di rumah tetangga itu amat menyenangkan hingga ia "lupa" waktu. Padahal di usia prasekolah anak belum bisa mengatur waktu. Dalam arti, seberapa lama tenggang waktu tertentu. Pokoknya, selama ia masih merasa asyik bermain, ia pasti akan berlama-lama di sana.
Hal semacam ini mungkin saja bakal mengganggu privasi si pemilik rumah. Bukankah ketika orangtua si anak tetangga pulang dari kantor, mereka juga ingin bercengkerama dengan anaknya tanpa ada intervensi dari anak kecil lain yang bukan keluarganya? Oleh sebab itu, waktu yang tepat untuk nenangga adalah sore hari sekitar 1-2 jam. Sebaiknya hindari menyambangi tetangga di akhir pekan karena umumnya setiap keluarga ingin menghabiskan akhir pekan mereka bersama keluarga inti.
TIDAK MAU PULANG
Seperti telah dijelaskan, hidup bertetangga yang baik dapat dibina sejak dini lewat penanaman etika bertetangga. Alangkah tak bijak membiarkan anak berjam-jam main, tidur, makan, bahkan mandi pun di rumah tetangga!
Kalau anak sampai keasyikan main di rumah tetangga lantas emoh pulang, sebaiknya orangtua introspeksi: apa sih yang menyebabkan anak lebih betah di sana. Mungkin saja ibu si anak tetangga pintar masak hingga anak lebih lahap makan di rumah temannya. Seharusnya ini mendorong ibu untuk tak malu bertanya pada ibu tetangga mengenai resep masakan tersebut semata-mata untuk menyediakan masakan terbaik bagi buah hatinya.
Selain contoh seputar urusan makanan, orangtua juga perlu bersikap "penasaran" tentang apa yang membuat anak senang bertandang ke rumah tetangga. Mungkin suasananya begitu nyaman yang ditunjukkan lewat sikap hangat para penghuni rumah tetangga kepada anak kita. Atau ruangan yang lapang dan terjaga kebersihannya hingga anak bisa bebas bermain. Tentu saja tak perlu kita datang sendiri menyelidikinya. Untuk mengetahuinya, kita bisa menggalinya lewat anak. Mintalah ia menggambarkan seperti apa suasana di sana.
PERAN TUAN RUMAH
Seperti halnya anak kita yang bermain ke rumah tetangga, kita juga perlu menerapkan peraturan ketika anak tetangga bermain ke rumah kita. Namun perlu diingat, yang sebenarnya menjadi tuan rumah bagi si tamu cilik yang akan berkunjung adalah buah hati kita. Makanya akan lebih pas jika batasan tersebut disampaikan lewat anak kita. Jangan sampai kita menegurnya yang justru membuat anak merasa kita "menjahati" temannya.
Untuk menetapkan apa saja yang menjadi batasan, buat dulu kesepakatan dengan anak kita. Misalnya, ketika temannya akan datang, beri batasan di mana anak akan menerima tamunya untuk bermain. "Nanti mainnya di ruang tengah aja ya, Nak. Jadi, enggak usah masuk-masuk ke kamar Mama ya. Kalau mainnya sudah selesai, tolong beresin sama-sama." Singkatnya, kontrol bisa dilakukan lewat anak sendiri. Bila ia sepakat dengan orangtuanya tentu dia tidak akan mengajak temannya masuk kamar. Ini lebih enak ketimbang kita menegur si anak tetangga langsung yang berpotensi membuat ibunya tersinggung bila anaknya mengadu.
SI PENYENDIRI
Benarkah si penyendiri tak bisa bergaul?
Ada beberapa hal yang membuat anak tak mau bergaul dengan sebayanya. Si anak merasa rendah diri, anak lebih suka melakukan kegiatan sendiri, atau anak yang justru memiliki tingkat kecerdasan luar biasa.
Sebagai contoh, anak-anak yang tergolong sangat cerdas biasanya memang cepat bosan bila harus mengobrol dengan teman sebayanya. Pasalnya, pemikiran mereka melesat jauh lebih cepat dibandingkan dengan kemampuan serupa si teman." Yang ada dalam benaknya, "Mendingan aku ngobrol sama orang gede."
Jadi, tak ada gunanya memaksa. Toh lingkup pergaulan sosial tak hanya sebatas dengan tetangga. Anak dapat juga bergaul di sekolah atau di sanggar tempatnya menekuni hobi. Begitu pun bila anak lebih suka melakukan kegiatan sendirian. Bukan berarti ia tak bisa bergaul, lo! Hanya saja ia memang lebih suka menekuni hal-hal yang berkaitan dengan diri sendiri, seperti membaca, bermain komputer, menggambar dan sejenisnya. Anak-anak ini lazimnya masuk dalam penggolongan anak yang memiliki kecerdasan interpersonal yang tinggi.
Lain halnya bila anak ternyata sulit bergaul dengan rekan sebayanya, baik itu di sekolah ataupun di rumah. Bila demikian, tentu saja orangtua harus mengulurkan bantuan agar anak mau bergaul. Caranya? Pelajari dan pahami dulu kondisi anak. Apakah ia sulit bergaul gara-gara merasa minder dan selalu merasa kurang dibandingkan dengan teman-temannya? Jika ini yang terjadi, bangkitkan harga dirinya dengan menonjolkan apa yang menjadi kelebihannya.
Selanjutnya, orangtua harus bisa membuka pergaulan anak. Misalnya, ajak anak tetangga bertandang ke rumah kita. Lumerkan relasi pertemanan diantara mereka dengan melibatkan diri dalam permainan. Pujilah anak bila ia mampu bergaul dengan teman-temannya. Tetapkan jangka waktu yang pendek lebih dulu. Lama-kelamaan, ketika si anak sudah terbiasa, waktu bermain ini dapat diperpanjang dan anak bisa saling mengunjungi.(tabloid-nakita)
LOMPAT YUK LOMPAT
Pada usia 3-4 tahun, anak diharapkan mampu melompat di atas benda setinggi 15 cm. Selanjutnya, di usia 4-5 tahun diharapkan mampu melompat di tempat dengan 1 kaki, dan lompat ke depan 10 kali tanpa terjatuh.
Pasalnya, di usia prasekolah terjadi peningkatan perkembangan fisik yang dapat ditandai dengan adanya tingkat pengerasan otot yang bervariasi pada bagian-bagian tubuhnya. Otot-ototnya pun berkembang menjadi lebih besar, lebih kuat dan lebih berat. Karena itulah perkembangan motorik kasarnya pun semakin bertambah.
Melalui gerakan-gerakan tersebut, diharapkan anak mampu menggerakkan anggota tubuhnya dengan melakukan gerakan otot besar dan otot-otot kecil. Selain juga untuk memantapkan gerakan dasar, mengembangkan keseimbangan diri dan koordinasi untuk dapat mengurus dirinya sendiri.
Ada beragam stimulus yang dapat diberikan kepada anak untuk mengembangkan ke-mampuannya melompat. Dengan begitu, kecerdasan kinestetik-jasmaninya pun terasah. Anak bukan terlatih kemampuan motorik kasarnya, tapi juga keterampilan menjaga keseimbangan tubuh saat melayang di udara dan mendarat agar tidak jatuh terjungkal ke depan atau ke belakang. Selain juga dapat mengembangkan kecerdasan visual-spasialnya, yaitu pemahaman tentang tinggi-rendah dan perbedaan ketinggian masing-masing benda.
RAGAM STIMULUS
* Melompat di atas benda setinggi 15 cm.
- Mulailah dengan mengajak si prasekolah mengangkat kakinya tinggi-tinggi secara bergantian kiri dan kanan.
- Kemudian, ajaklah melompat sambil Anda memegang kedua tangannya.
- Setelah anak mampu meloncat berulang-ulang, cobalah lepaskan pegangan Anda dari tangannya. Biarkan ia melompat sendiri sambil menghitung dari 1 sampai 5, misal. Beri penghargaan berupa pelukan atau respons positif lainnya.
- Selanjutnya, minta anak mencoba melompat di satu bidang datar berukuran 100x100 cm. Minta ia melakukannya dengan hati-hati, jangan sampai keluar dari bidang itu. Untuk amannya, gelarkan matras di wilayah tempatnya melompat-lompat
- Berikutnya, siapkan 1 bidang datar setinggi 15 cm dengan ukuran 100x100 cm. Minta anak melompat pada bidang itu. Untuk langkah awal, peganglah kedua tangannya. Kemudian izinkan bila ia ingin berpegangan 1 tangan. Selanjutnya, minta ia melompat sendirian. Lakukan berulang-ulang. Sampaikan bahwa lompatan harus dilakukan ekstra hati-hati karena bila tergelincir dapat menyebabkan terjatuh.
- Bila sudah mahir, ajak si kecil melakukan permainan melompat dari tempat tinggi ke tempat rendah. Peralatan yang dibutuhkan adalah 2 atau 3 buah benda kokoh dengan beragam ketinggian sebagai pijakan. Namun ukurannya jangan terlalu tinggi agar aman bagi anak. Letakkan benda-benda tersebut secara berurutan dari yang paling tinggi, sedang, rendah, dengan diberi sedikit jarak antarkedua benda. Kemudian minta anak berpijak di benda yang tertinggi. Jelaskan bahwa ia boleh melompat ke pijakan yang lebih rendah setelah hitungan ke-3, "Satu... dua... tiga, lompat!" Lakukan berulang-ulang. Sensasi melayang sesaat membuat anak merasa senang.
* Melompat di tempat dengan 1 kaki.
- Ajak anak mengangkat satu kakinya, kemudian biarkan ia berpegangan pada dinding atau berpegangan pada Anda. Sambil bernyanyi, ajak ia melompat-lompat dengan satu kakinya. Kemudian, secara perlahan ajak ia bergerak ke suatu tempat. Bila anak terlihat mulai berani dan dapat menjaga keseimbangannya, cobalah untuk melepas tangannya agar tak berpegangan pada Anda.
- Bila sudah terampil, si kecil bisa diajak bermain lempar bola karet. Buatlah sebuah bola sepak ukuran kecil dari puluhan/ratusan karet gelang yang disatukan. Contohkan cara bermainnya, yaitu dengan memantul-mantulkan bola karet tersebut menggunakan punggung kaki bagian samping. Kelak bila sudah terampil, si kecil bisa melakukan permainan ini bersama teman-temannya. Siapa yang bola karetnya terjatuh, harus menunggu giliran hingga temannya tidak sanggup lagi menjaga bola karet agar tak jatuh ke tanah.
* Melompat ke depan 10 kali tanpa terjatuh.
- Gambarlah beberapa lingkaran besar di lantai. Minta anak melompat menuju lingkaran tersebut bersama teman-temannya secara bergantian. Ingatkan agar setelah melompat dan mencapai lingkaran, ia harus segera berdiri tegak. Kegiatan ini juga bermanfaat untuk melatih keseimbangan si prasekolah. Lakukan kegiatan ini sambil diiringi lagu agar tercipta suasana gembira untuk memberi semangat.
COBA-TIRU-LATIH
Umumnya, ada 3 cara yang ditempuh si prasekolah dalam mengembangkan kemampuan motorik kasarnya.
1. COBA-COBA
Anak melakukannya dengan cara coba-coba sendiri tanpa bimbingan. Akibatnya, anak melakukannya secara acak sehingga bisa jadi keterampilan yang diperolehnya di bawah kemampuan si anak. Misal, semestinya anak usia 3 tahun sudah mampu melompati benda setinggi 15 cm, tapi karena ia belajarnya dengan cara coba-coba maka bisa jadi hanya asal melompat dan tak mampu di atas ketinggian tertentu.
2. MENIRU
Anak mempelajarinya dengan cara mengamati suatu model, bisa orangtua, kakak, atau temannya. Kegiatan meniru ini lebih baik daripada coba-coba. Namun kelemahannya, bisa jadi ia pun ikut meniru kesalahan atau keterbatasan pada model itu. Jadi, bila modelnya salah, si anak pun ikut salah. Sebaliknya, bila modelnya bagus, anak ikut bagus pula keterampilan motorik kasarnya.
3. PELATIHAN
Anak belajar dengan bimbingan orangtua atau pengasuhnya. Saat si pembimbing memperlihatkan keterampilannya, anak memperhatikan, sehingga anak dapat meniru dengan tepat. Selain itu, dengan adanya pembimbing, dapat pula menggunakan alat bantu, berupa benda-benda yang ada di lingkungan sekitar ataupun alat permainan edukatif.
TUGAS ORANGTUA
* Amati lingkungan atau lokasi yang kerap dijadikan arena akrobat. Singkirkan benda-benda yang dapat membahayakan dirinya.
* Katakan pada anak bahwa perilaku akorbatik dapat membahayakan kalau dilakukan gegabah dan jelaskan cedera yang mungkin dialami.
* Alihkan keinginan anak untuk melakukan akrobat di tempat yang tidak tepat dengan mengajaknya ke tempat seperti lapangan, taman, pantai, atau area bermain yang lapang. Lebih baik lagi bila lokasi tersebut memiliki kontur naik-turun, sehingga lebih banyak menghabiskan energi. Biarkan ia melakukan gerakan yang diinginkan. Bila perlu arahkan agar kedua tangan dan kakinya bergerak bersamaan sehingga dapat menyeimbangkan otak kiri dan kanannya.
* Lakukan kesepakatan, mana gerakan yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Contoh, boleh lompat-lompat di tempat tidur, tapi tidak lompat dari jendela kamar ke bawah. Larangan harus konsisten. Jangan hari ini melarang, esok lain lagi. Konsistensi larangan akan membuat anak belajar disiplin.
GEMAR BERAKROBAT
Beri arahan agar ia tak sampai cedera.
Pernahkah Anda menyaksikan si prasekolah melompat-lompat di atas tempat tidur yang menggunakan pegas? Ya, perilaku akrobatik memang umumnya muncul mulai usia batita sampai prasekolah. Bentuknya bermacam-macam, ada yang melompat-lompat di tempat tidur, melompat dari satu ketinggian, memanjat pagar tinggi atau bergaya naik sepeda sambil melepas tangannya, dan lain-lain.
Umumnya orangtua akan langsung berteriak-teriak untuk melarang begitu melihat buah hatinya melakukan akrobat. Wajar, kok. Siapa sih orangtua yang pengin anaknya mengalami cedera? Namun orangtua juga perlu memahami, si prasekolah pastinya tak akan berani berakrobat apabila ia merasa belum terampil melakukan suatu keterampilan. Jadi, kalau ia sudah merasa terampil, maka selanjutnya akan muncul dorongan untuk melakukan yang lebih dari biasanya. Berawal dari sekadar coba-coba, akhirnya muncullah perilaku akrobatik tersebut. Ini semua merupakan bagian dari perkembangan si prasekolah.
Jadi, usah dilarang deh. Apalagi tujuan si prasekolah berakrobat hanya sekadar untuk menunjukkan bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu yang berbeda, sekaligus untuk mencari perhatian dan kesenangan. Itulah mengapa, kegiatan ini biasanya juga dilakukan di hadapan teman-temannya dengan harapan mendapat sambutan hangat dan dianggap hebat oleh teman-temannya.
Yang perlu dilakukan orangtua adalah memberikan pengarahan kepada si prasekolah bahwa tindakan akrobatik dapat menyebabkan cedera sehingga harus dilakukan secara hati-hati dan menggunakan media yang tepat. Tunjukkan contoh-contoh nyata agar si prasekolah paham, misalnya saat ia terjatuh dan kakinya sakit. Selanjutnya, bila si prasekolah hendak melakukan akrobat, orangtua jangan sampai lengah mengawasinya.
4 MANFAAT AKROBAT
1. Otot-otot si kecil akan semakin kuat karena semakin terlatih melalui aktivitas fisik yang dilakukan.
2. Keseimbangan gerak motorik kasar si prasekolah lebih cepat tercapai, karena ia selalu mencoba melakukan gerakan-gerakan akrobatik yang cenderung lebih kompleks.
3. Menumbuhkan rasa percaya diri yang kuat.
4. Memiliki keberanian untuk melakukan sesuatu yang baru, sehingga anak jadi tak mudah ragu-ragu atau pasif.
