Beberapa cara meningkatkan minat baca anak

Sumber: Ibu-ibu DI

Ibu, ini ada beberapa tips untuk meningkatkan minat baca anak:

1. Bacakan buku untuk anak setiap hari (jadikan kebiasaan).
2. Usahakan buku mudah dilihat dan dijangkau oleh anak
3. Ajak anak ke tempat yang ada di buku
4. Bacakan dengan ekspresi
5. Lakukan dengan kegiatan mendongeng.
6. Perkenalkan anak pada bacaan-bacaan yg ada di sekitar kita
7. Beri kesempatan mengarang
8. Libatkan seluruh anggota keluarga
9. Ajak anak bereksperimen
10. Mulai dengan orangtua membaca
11. Hargai buku, berikan sebagai hadiah
12. Lakukan dengan gembira [An]

Memang agak susah meningkatkan minat baca pada anak kalau orangtua tidak mulai dari diri sendiri. Tapi kebetulan ada satu cara menarik yang dipakai di sekolah untuk meningkatkan minat baca anak. Di sekolah ada yang namanya Reading Campaign. Anak-anak punya kesempatan 2-3X seminggu untuk pinjam buku dari library, biasanya sehari/dua hari setelah itu anak-anak akan ditanya isi buku yang mereka pinjam. Bentuknya bisa mereka yang diminta untuk mengulang cerita tersebut di depan kelas, ataupun menjawab pertanyaan dari guru seputar isi buku yang dibaca. Bagi yang bisa menjawab atau menceritakan dengan baik, bakal dapat "stamp" di bagian belakang buku harian anak yang memang disediakan untuk catatan buku yang sudah dibaca. Di akhir semester nanti ada pengumuman 10 anak pembaca buku terbanyak dan mereka akan dapat hadiah. Terbukti cara ini efektif sekali memancing minat baca anak-anak, semua jadi berlomba membaca utk mendapatkan sebuah "stamp".

"You may have tangible wealth untold : Cackets of jewels and coffers of gold Richer than I you can never be - I had a Mother who read to me - Strickland Gillilan – [DN]

Karena suksesnya program ini, kalau tahun yang lalu hanya diadakan sekali, tahun ini program akan secara berkesinambungan dilakukan sepanjang tahun. Dan bukan hanya buku-buku bahasa inggris yang 'disarankan' untuk dibaca, tapi juga buku-buku bahasa indonesia akan diperbanyak. DN, di kelas anakku malah ada hadiah tambahan yaitu berupa drink voucher kalau bisa mengumpulkan 20 stamps, kata anakku. Semangat sekali dia, setiap hari pulang dengan laporan : ma, today i got another another stamps, so I have .... stamps now. Padahal drink voucher itu murah sekali, tapi yang penting buat anak-anak adalah penghargaan terhadap usaha mereka. Bagus sekali, Aku juga jadi terpacu juga, tambah rajin membacakan cerita buat anak-anak tiap malam. Biar masih ada kerjaan, biar mata sudah rapat, biar anakku sudah bisa membacakan buat adiknya, aku tetap usahakan membacakan buat mereka [Stl]

Wah, di Jakarta rasanya sekolahnya bagus ya? Sekolah di Surabaya sepertinya belum terlalu menekankan pada minat baca anak. Aku sendiri kan punya toko buku dan mainan anak di rumah, tapi susah sekali kalau mau jual buku, yang laku selalu mainan. Kalau ditawari buku biasanya mamanya selalu bilang belum bisa baca, atau takut disobek, dan lain-lain. Pokoknya susah sekali kalau memasarkan buku. Paling-paling yang laku buku mewarna atau komik. Di Surabaya juga jarang ada pameran buku anak atau semacamnya. Padahal pengalamanku sendiri, buku bisa membuat anak lebih tenang, tidak rewel. Kalau aku lagi repot, biasanya anakku aku kasih buku, biar belum bisa baca tapi dia suka lihat gambarnya, dan itu sudah cukup untuk membuat dia sibuk [Crln]

AJARI ANAK MENGELOLA RASA BERSALAH

Pasalnya, jika tidak dikelola dengan baik, perasaan bersalah bisa menyebabkan anak tak punya percaya diri. Bahkan, anak gampang tersulut depresi.

Burhan, bukan nama sebenarnya, sedang asyik bermain layangan. Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang hingga layangannya tersangkut di kabel listrik. Bocah prasekolah ini pun berusaha melepaskannya dengan cara menarik-narik benang layangan tersebut. Apa mau dikata, tarikan Burhan alih-alih membuat layang-layang itu terlepas, justru memunculkan percikan api yang kemudian jadi penyebab korsleting hingga aliran listrik di kawasan perumahan tersebut terputus sementara.

Burhan pun panik, mukanya merah padam. Dia pun segera berlari pulang ke rumah lalu bersembunyi di kolong tempat tidur. Rasa takut yang luar biasa membuatnya tak berani keluar rumah selama berhari-hari. Padahal, baik orang tua maupun warga sekitar tidak ada yang tahu dialah yang menyebabkan matinya aliran listrik.

"Burhan memiliki rasa bersalah hingga takut keluar rumah," komentar Marcella Siddidjaja, Psi. Rasa bersalah ini timbul akibat segenap sikap dan tingkah laku yang dilakukan anak tidak sesuai dengan harapan lingkungannya. Saat lingkungan menuntut anak untuk bersikap manis dan menjaga lingkungan di luar rumah, si anak malah bermain layangan dan mengakibatkan padamnya aliran listrik. "Perbedaan harapan dan sikap itulah yang menyebabkan anak merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya."

Namun, lanjut Marcella, rasa bersalah di sini juga memiliki aspek positif. "Rasa bersalah menunjukkan tanggung jawab anak terhadap apa-apa yang dilakukannya. Anak sadar betul bahwa perilaku negatifnya membuat lingkungan tidak senang. Contohnya saat Burhan memadamkan aliran listrik rumah warga se-RW, dia pasti sangat ketakutan karena tahu akibatnya. Yang ada di benaknya, warga se-RW pasti marah kalau tahu dialah yang menjadi biang kerok padamnya listrik di rumah mereka."

Sebetulnya, tukas psikolog dari Unika Atma Jaya, Jakarta ini, rasa bersalah ini menguntungkan. Dengan begitu, anak jadi tahu bagaimana penilaian lingkungan terhadap perbuatan yang dilakukannya. Anak akan lebih paham ada perbuatan-perbuatan atau tindakan yang tidak dikehendaki lingkungan. Bila dilakukan, perbuatan atau tindakan tersebut akan membuat situasi tidak menyenangkan dan inilah yang kemudian memunculkan rasa bersalah pada dirinya. Sekaligus menjadi pelajaran berharga untuk tidak mengulangi perbuatan yang tidak menyenangkan atau bahkan berakibat fatal bagi lingkungannya.

TERGANTUNG PERSEPSI

ANAK tidak otomatis memiliki rasa bersalah. "Rasa bersalah merupakan hasil pembelajaran anak terhadap aturan-aturan yang ada di lingkungannya." Dengan kata lain, tidak ada patokan khusus sejak kapan anak wajib mulai memiliki rasa bersalah. Meski begitu, Marcella mengingatkan, di usia 1-3 tahun, saat anak mulai bisa bahkan lancar berkomunikasi maupun berinteraksi secara mandiri dengan orang lain, anak sudah mulai mengenal aturan. "Saat anak mengenal aturan itulah, rasa bersalahnya mulai muncul," tandas Marcella.

Menurutnya, perasaan bersalah juga dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Artinya, orang tua yang menerapkan pola asuh otoritatif, akan memberikan aturan sampai tahap tertentu, lalu membebaskan sambil mengawasi anak seputar aturan tadi. Anak akan tahu tindakan mana yang dikategorikan sebuah kesalahan dan mana pula yang tidak. Langkah pembelajaran berikutnya, anak jadi tahu bagaimana mengelola kesalahan yang telah dilakukannya. Pola asuh ini, tegas Marcella, merupakan pola asuh ideal karena anak bisa belajar banyak dari kesalahan yang dilakukannya. Dengan pola asuh ini, anak akan langsung mengakui sekaligus meminta maaf dan tidak mengulangi kesalahan yang telah dilakukannya.

Lain halnya dengan orang tua yang menerapkan pola asuh permisif alias serba membolehkan. Anak akan mengalami berbagai benturan karena apa yang dibolehkan di rumah ternyata dilarang di lingkungan sekitarnya yang lebih luas, semisal di rumah tetangga ataupun di "sekolah". Ketidaktahuan anak terhadap aturan menyebabkan dia juga sulit membedakan, mana tindakan yang salah dan mana pula yang tidak. Akibatnya, saat melakukan kesalahan, anak sama sekali tidak menyadari bahwa itu salah.

Dalam psikologi, jelas Marcella lebih jauh, disebutkan bahwa perbedaan antara rasa bersalah dan malu terletak pada kesadaran diri publik maupun si individu/pribadi yang bersangkutan. Jadi, tidak ada yang dapat memastikan seseorang benar-benar merasa bersalah atau tidak terhadap suatu hal, kecuali dirinya sendiri. Sekalipun masyarakat mungkin sudah "memvonis"nya bersalah. Itu sebabnya kita tidak menentukan patokan umum kesalahan mana yang dianggap lebih besar oleh seseorang yang dapat memperbesar rasa bersalahnya. "Besar atau kecil, sepenuhnya tergantung persepsi pribadi."

Marcella lantas mencontohkan kasus anak yang merusak mainan teman saat si teman merebut mainan tersebut darinya. Kasus yang sama bisa dipersepsikan secara berbeda oleh dua anak yang sebaya. Bagi Ani, contohnya, yang terbiasa berbagi mainan dengan 3 orang saudaranya, saling berebut mainan bukanlah masalah besar, hingga bukan merupakan unsur yang mengganggu rasa bersalahnya. Namun saat memecahkan mainan, ia merasa bersalah karena takut dimarahi oleh temannya.
Tidak demikian halnya dengan Ana yang di rumahnya selalu diajarkan bagaimana menjaga dan menghormati barang milik orang lain. Ia akan dibebani rasa bersalah saat mengambil barang temannya tanpa izin. Terlebih jika ia sampai merusak mainan tersebut, rasa bersalahnya makin bertambah besar. Dengan kata lain, besar kecilnya kesalahan (apa yang kemudian dianggap orang sebagai rasa bersalah) sepenuhnya adalah persepsi pribadi. "Meski memang ada pengaruh persepsi besar kecilnya kesalahan dengan besar kecilnya rasa bersalah. Namun tidak otomatis semua hal bisa dikategorikan demikian," tukas Marcella.

JANGAN MENYUDUTKAN

RASA bersalah jika dikelola dengan baik akan membangun rasa tanggung jawab. "Makanya, rasa bersalah mesti ada dan harus terus dikembangkan dalam diri seseorang. Tanamkan bahwa rasa bersalah sampai batas tertentu dibutuhkan oleh setiap individu agar dapat belajar bertanggung jawab."

Namun ia pun mengingatkan ada faktor penting lainnya yang tidak boleh dilupakan, yakni bagaimana sikap orang tua membantu anak mengatasi rasa bersalahnya. "Sebab perilaku orang tua yang tidak tepat justru bisa menyebabkan anak terus-menerus dibayangi oleh rasa bersalahnya." Itulah mengapa, orang tua yang bersikap otoriter akan membuat anak menganggap kesalahannya sebagai sesuatu yang begitu besar dan sulit dimaafkan.

Dampak buruknya, anak jadi takut untuk mencoba sesuatu hanya karena takut salah. Terlebih jika si anak kerap mendapat hukuman yang tak sepadan akibat kesalahan yang dilakukannya. Pada akhirnya anak jadi tidak percaya diri, selain akan sulit berkata jujur terhadap kesalahannya.

Tidak hanya itu. Anak juga amat berpeluang tumbuh jadi pribadi pencemas. Padahal kecemasan yang berlebih akan membuatnya selalu berpikir negatif terhadap segala sesuatu. Kesalahan kecil akan dianggapnya sebagai sesuatu yang dahsyat. Ia cenderung gampang menyalahkan diri sendiri. Bahkan tak jarang mengakui kesalahan orang lain sebagai kesalahannya sendiri. Akibatnya, anak-anak seperti ini akan mudah mengalami depresi.
Itulah sebabnya amat penting bagi orang tua untuk mengajarkan anak bagaimana mengelola perasaan bersalahnya. Caranya, dengan menekankan kepada anak agar berani jujur untuk mengakui atau menyadari kesalahannya. Sebesar apa pun konsekuensinya, anak perlu belajar bahwa ia tetap harus mengakui kesalahan yang telah diperbuatnya.

BUTUH BIMBINGAN

ORANG tua juga mesti mengajarkan kepada anak untuk berupaya memperbaiki kesalahan yang dilakukannya. Atau paling tidak membantu menyelesaikan masalah yang diakibatkan oleh kesalahannya. Bentuk penyelesaian itu sendiri bisa untuk sementara waktu, dan bisa pula untuk seterusnya.

Dengan memperbaiki kesalahan maupun dilibatkan dalam penyelesaian masalah, perasaan bersalah dalam diri anak akan sedikit demi sedikit berkurang. Yang pasti, tegas Marcella, rasa bersalah tidak akan pernah bisa hilang. "Bagaimana mungkin bisa hilang karena itu berkaitan dengan kejadian yang tidak mungkin dihapus."
Konkretnya, sejak dini ajarkan anak untuk bertanggung jawab terhadap kesalahannya. Bahkan sedapat mungkin sebelum ia bisa bicara. Contohnya, saat Sharon yang masih berumur setahun tengah asyik bermain dengan Tasha, kakaknya, tiba-tiba ia memukul kakaknya dengan penggaris. Bila orang tua melihat kejadian semacam itu, apa yang harus dilakukannya?

Pertama, orang tua harus mengatakan pada si adik bahwa ia tidak boleh memukul kakak. Jelaskan konsekuensinya, "Dipukul kan sakit. Kakak bisa menangis atau marah. Bisa-bisa kamu dipukul lagi." Ada baiknya orang tua yang menjadi perpanjangan mulut si adik dengan mengatakan, "Ayo kita minta maaf pada kakak. Kita sayang kakak, yuk.", sambil menuntun tangan si adik untuk membelai atau mengelus tangan si kakak yang sakit karena dipukul. Lalu bimbing anak untuk berani mengatakan, "Maaf, ya, Kak. Sharon enggak akan pukul Kakak lagi."

TAMPIL SEBAGAI TELADAN

JANGAN sekali-kali orang tua memasukkan unsur emosi maupun agresi saat mengajarkan hal ini. "Berusahalah untuk konsentrasi hanya pada poin kesalahan anak." Jelaskan sekonkret mungkin apa kesalahan anak, apa konsekuensinya, dan ajari anak meminta maaf atau melakukan sesuatu untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Selain itu, bersikaplah konsisten mengenai aturan dalam pola asuh yang diterapkan pada anak. Jangan sampai, ketika ibu bilang tidak boleh akan satu hal, bapak bilang boleh, atau sebaliknya. Terlebih bila kemudian meluas pada kakek-nenek, om-tante maupun pengasuh dan pembantu. "Sedapat mungkin kompromikan dulu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh bersama orang dewasa yang akan mengasuh anak dalam tenggang waktu tertentu, semisal saat ditinggal orang tua ke kantor.

Bila tidak, anak jadi bingung aturan mana yang akan diikutinya. Kebingungan semacam inilah yang kemudian membuatnya terbiasa memilih yang paling enak buat dia. Ia sendiri akhirnya tidak tahu aturan yang berlaku di masyarakat umum, tidak tahu pula mana yang salah dan mana yang benar. Ujung-ujungnya, ia tidak akan merasa bersalah. Nah, bila ia tidak menyadari telah melakukan kesalahan, bagaimana ia bisa memperbaiki kesalahan itu?
Yang tak kalah penting, jadilah teladan bagi anak. Dengan demikian, saat orang tua melakukan kesalahan, jangan segan-segan untuk mengakui kesalahan tersebut. Mintalah maaf, termasuk pada anak, serta berusahalah untuk tidak mengulanginya. Bukankah orang tua merupakan sosok guru terbaik buat anak?
(tabloid-nakita)

Mendidik dengan mitos ,bolehkah?

Bila anak terus-menerus dijejali mitos maka daya pikirnya tidak akan berkembang dengan baik.

"Jangan duduk di atas bantal, nanti pantat kamu bisulan!" Percuma saja menanyakan alasannya, karena itulah mitos: anggapan yang sudah memasyarakat tetapi belum tentu kebenarannya.
Sadar atau tidak, mitos sudah sangat kental hidup di lingkungan kita. Bahkan, sejak kecil anak-anak sudah dijejali dengan beragam mitos. Ketika kita melarang mereka agar tidak duduk di atas bantal misalnya, mitos bisul itu yang jadi alasan. Atau ketika kita kesal melihat si kecil memain-mainkan beras, terlontar larangan seperti ini, "Jangan memainkan beras, nanti tanganmu keriting."

MENGAPA MITOS TIDAK EFEKTIF

Mengedepankan mitos sebagai alasan dari sebuah larangan, menurut Ade Irma Shalihah, Psi., adalah tindakan yang kurang tepat. Bagaimanapun, kata Staf pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Jakarta ini, mitos merupakan penjelasan yang bersifat tak logis. Kebenarannya masih perlu diuji. Apalagi, seringkali mitos dikaitkan dengan hal-hal gaib padahal anak belum bisa mencernanya.

Memang, kognisi anak usia prasekolah dalam memahami sesuatu sudah lebih berkembang dari sebelumnya. Dia sudah bisa diajak berinteraksi dan berkomunikasi. Namun, taraf berpikirnya masih tetap praoperasional, yakni butuh penjelasan konkret. Bila penjelasan yang diberikan sangat abstrak seperti halnya mitos itu, maka sulit bagi anak untuk memahami apa yang dijelaskan kepadanya.

Misalnya, ketika kita melarang anak memainkan beras karena nanti tangannya keriting, dia akan kesulitan mencerna alasan tersebut. Apa hubungannya antara memainkan beras dengan tangan keriting.

Karena penjelasan berupa mitos sulit dimengerti anak, akhirnya larangan atau perintah yang kita berikan menjadi tidak efektif. Anak yang suka duduk di atas bantal dan memainkan beras akan tetap melakukannya karena alasan larangan yang diberikan tidak bisa dicernanya dengan baik.

MENGAPA YANG LOGIS EFEKTIF

Agar larangan dan anjuran kita terhadap anak bisa dicerna secara efektif, pilihlah kata yang sederhana dan logis. Ketika ingin melarang anak duduk di depan pintu, misalnya katakan, "Kalau kamu duduk di depan pintu, nanti akan menghalangi orang lain yang akan lewat. Lihat, Mama tidak bisa lewat, kan?" bukan dengan mengatakan, "Nanti kamu susah jodoh, lo." Penjelasan "menghalangi jalan" jauh lebih efektif dibandingkan "susah jodoh" tadi. Atau, "Kalau kamu memainkan beras, berasnya jadi berhamburan ke mana-mana, kan? Sayang, dong. Beras itu untuk dimasak jadi nasi dan dimakan oleh kita."

Ketika anak diberi alasan logis, maka mudah baginya untuk patuh terhadap larangan. "Benar, kalau aku duduk di depan pintu, Mama tidak bisa lewat," misalnya. Sangat mungkin dia juga tidak akan mengulanginya di lain waktu. Atau, "Wah benar juga nih, berasnya jadi berhamburan ke mana-mana. Padahal, ini, kan, untuk makan kita semua."

Penjelasan secara logis juga mengajak anak untuk belajar merangkai hubungan sebab akibat yang merupakan dasar logika. Kenapa dia tidak boleh duduk di depan pintu karena orang lain tidak bisa lewat, jadi dia harus pindah.

Sebenarnya hal ini merupakan sesuatu yang sangat sederhana, tetapi bagi anak keberhasilannya merangkai kejadian sebab akibat sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan berpikirnya dan merangsang kecerdasannya.

Sebaliknya, kalau setiap hari anak dijejali mitos yang sulit dicerna, selain tidak efektif, ia pun tidak terlatih merangkai hubungan sebab akibat. Kemampuan berpikirnya juga tidak akan berkembang, karena sampai masa dewasanya ia akan selalu mengaitkan segala sesuatu dengan hal-hal yang tidak logis. Bisa saja, akan terbentuk pribadi yang selalu takut dan ragu menghadapi beragam persoalan yang sebenarnya sangat simpel. Kita sama-sama tahu bukan, penjelasan logis sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap persoalan.

Bila mitos ini terus-menerus diberikan kepada anak, tidak mustahil ia akan dibuat bingung. Mungkin saja, di kesempatan lain anak mendapat penjelasan yang berbeda, akibatnya ia bingung menentukan penjelasan mana yang harus dianggap benar. Pada akhirnya, kebingungan ini bisa mengganggu proses internalisasi baik ke dalam diri maupun lingkungannya.

Meskipun demikian, penjelasan logis yang diberikan tetap harus dalam batasan. Inilah alasannya:

* Harus disadari bahwa kemampuan berpikir anak usia prasekolah baru sampai di tahapan konkret. Jadi dalam memberikan penjelasan sertai dengan suasana dan benda konkret.
* Selain itu, kemampuan berbahasanya juga masih terbatas karena belum semua kata bisa dipahaminya dengan baik.

* Anak balita sangat berorientasi pada masa sekarang. Dia hanya mampu memperhatikan kejadian yang dialaminya saat ini.

KIAT MEMBERIKAN PENJELASAN

Karena taraf berpikirnya yang masih seperti inilah maka ketika memberikan penjelasan kita harus memperhatikan beragam hal. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dan kiat menyiasatinya seperti dituturkan Ade:

* Bahasa Anak

Sangat penting memperhatikan tingkat kognisi anak ketika ingin menjelaskan sesuatu, karena setiap anak berbeda kemampuannya dalam menyerap informasi yang masuk. Kalau diperkirakan anak sangat sulit mencerna penjelasan yang kita berikan, pilihlah kata-kata yang sederhana, konkret, singkat, langsung, dan spesifik. Soalnya proses perkembangan pola pikir dan bahasa anak yang masih terbatas. Jangan menggunakan kata-kata orang dewasa yang tidak dimengertinya. Ketika melarang duduk di atas bantal, gunakan gerakan selain kalimat, walau biasanya, kalimat sederhana saja sudah dapat dipahami dengan baik.

* Kalimat Jelas dan Lengkap

Sebaiknya ketika menjelaskan kepada anak gunakan kalimat langsung dan sederhana yang mudah dipahami. Misalnya, "Budi, jangan duduk di depan pintu karena kamu menghalangi orang yang mau lewat. Duduknya di kursi teras saja!" Kalimat seperti itu selain menjelaskan alasan larangan dengan sederhana, pun menganjurkan di mana sebaiknya ia duduk.

Hindari penggunaan kalimat yang menimbulkan pertanyaan balik, misalnya, "Budi, jangan duduk di depan pintu!" Tidak adanya alasan hanya akan menimbulkan pertanyaan balik, "Kenapa tidak boleh?" Berarti harus ada kalimat lain untuk menjelaskannya agar anak memahami kenapa dia dilarang.

Hindari juga kalimat yang mengandung pilihan, "Kok, kamu senang banget duduk di depan pintu, kenapa enggak di teras saja?" Kalimat seperti ini akan membuat anak memilih mana yang paling disukainya, di depan pintu atau di teras. Bila dia lebih suka di depan pintu, anak tidak akan pindah dan tidak memahami akibat negatif duduk di depan pintu.
* Jangan Menakut-nakuti

Seringkali, larangan dibarengi dengan ancaman yang sifatnya menakut-nakuti anak. "Awas, kalau duduk di atas bantal, di pantat kamu akan tumbuh bisul yang sangat besar!" misalnya. Larangan seperti ini suatu saat akan menjadi bumerang ketika pantat anak ternyata tidak bisulan. Ketika nantinya kita melarang kembali, anak bisa membantah. "Mama bohong, aku enggak bisulan, kok!"

* Jangan Menghujat

Ketika melarang sesuatu sebaiknya hindari kata-kata menghujat, memojokkan, mengancam, dan sebagainya. Orang tua harus ingat bahwa anak usia balita butuh waktu untuk memahami isi perintah. Jadi meskipun kesannya bandel atau tidak bisa dibilangi, tetapi sebenarnya anak hanya butuh waktu. Kalau kita menghujatnya, anak akan merasa disemena-menakan sehingga citra dirinya pun menjadi negatif. Bahayanya lagi, bila nantinya anak meniru kata-kata hujatan yang pernah kita ucapkan.

Jangan berpikir bahwa kitalah yang berkuasa dan boleh berkata semaunya. Hal ini akan membuat anak tidak nyaman berbicara kepada kita. Sebaiknya, berpikirlah bahwa anak harus diperlakukan secara lembut. Ketika kita ingin bicara dengannya, gunakan kata-kata yang halus, tidak bernada tinggi, marah, menghardik, dan sebagainya. Dengan bersikap seperti ini akan membuat anak merasa nyaman kala berbicara dengan kita.

* Jadikan Sahabat

Jadikan anak sebagai "teman atau sahabat" kita. Dengan cinta, usaha dan kemauan untuk terus belajar dari pengalaman akan membuat komunikasi orang tua dan anak menjadi lebih efektif. Tidak ada yang mudah, tapi tidak ada yang mustahil.

* Banyak Membaca

Terkadang, untuk menjelaskan sesuatu kita butuh informasi tambahan agar apa yang kita jelaskan kepada anak tidak salah. Informasi tambahan ini bisa didapat dari buku atau berbagi dengan orang tua lain. Bukankah, apa yang kita jelaskan ke anak harus benar bukan malah membingungkan.

* Sesuaikan Karakter

Kita tahu karakter anak berbeda-beda. Tidak semua anak senang dengan penjelasan yang menggurui, juga tidak semua anak senang dengan penjelasan yang sambil lalu. Bila anak senang dengan sosok menggurui, pilihlah cara ini. Demikian sebaliknya. Hal ini untuk efektivitas penyampaian penjelasan yang kita berikan.

* Beri Penghargaan

Bila anak berhasil melakukan perintah dengan baik, jangan lupa untuk segera memberikan penghargaan berupa perhatian. Banyak anak yang butuh pujian dan bukan hanya perintah atau larangan. Pujian bisa membuat anak bersemangat untuk mematuhi perintah dan larangan.

Perhatian yang kita berikan juga seringkali membuat anak bersemangat untuk bicara. Caranya, misalnya dengan menyejajarkan tubuh dengan anak, melakukan kontak mata, atau mengulang apa yang dikatakan anak untuk memperoleh kejelasan. Dengan begitu, anak merasa bahwa apa yang dibicarakannya itu mendapat perhatian dari orang tuanya dan anak tidak canggung lagi ketika nanti ingin berbicara kembali.

Banyak, kan, orang tua yang tidak tahu bagaimana cara berbicara yang baik dengan anak. Ketidaktahuan inilah yang sering membuat hubungan antara orang tua dengan anak tidak berjalan harmonis. Orang tua selalu berbicara dengan caranya yang padahal sama sekali tidak sesuai dengan keinginan anak.

JANGAN BIARKAN ANAK DIBELENGGU PANIK

Panik adalah reaksi alami, sehingga wajar bila anak mengalaminya. Dianggap tidak wajar bila kepanikan sudah memunculkan perilaku negatif.

Bagaimana kalau si prasekolah panik? Entah dia berteriak, lari menjauh, atau mempererat pegangan tangan ke tubuh orang tuanya. Rasa panik biasanya diawali dengan rasa takut. Nah, bila anak tidak bisa menguasai rasa takutnya maka akan timbul rasa panik. Takut dan panik sebetulnya merupakan sifat alami yang dimiliki setiap orang. Reaksi ini berguna untuk kelangsungan hidup. "Bila kita tidak punya rasa takut, apa pun akan kita hadapi meskipun mengancam jiwa kita atau tidak ada yang menahan," ungkap Mira D. Amir, Psi.

Jadi wajar bila suatu saat anak mengalami panik. Di usia ini, kan, anak sedang mempelajari lingkungan sekitarnya. Banyak hal yang belum dilihatnya sehingga dia perlu mereka-reka situasi dan kondisi yang ada. Ketika menemukan hal yang asing, sangat mungkin anak akan merasa panik. Apalagi, kemampuan kognitifnya masih terbatas sehingga terkadang sulit baginya untuk bisa langsung memahami situasi lingkungannya atau apa yang baru dilihatnya. Keterbatasannya inilah yang membuat rasa takut dan panik lebih kuat muncul ke permukaan.

Namun, tidak selamanya panik menjadi hal yang wajar dialami anak. Bila dalam kepanikannya ia menunjukkan sifat-sifat negatif, seperti perilaku tantrum, berarti ini sudah tak wajar. "Orang tua harus segera mengatasinya agar pertumbuhan emosi dan kepribadian anak tidak terganggu," ujar Mira. Panik yang berlebihan selain akan mengganggu kemampuan sosialisasinya juga mengganggu pertumbuhan emosi dan perkembangan kepribadiannya.

Ketika sedang bermain bersama teman misalnya, anak tidak mungkin bisa mengembangkan kemampuan sosialisasinya dengan baik jika perasaannya selalu dihantui rasa panik. Panik bila tiba-tiba ada teman yang merebut mainannya, panik karena ketakutan disuruh segera pulang, panik karena pernah dipukul oleh temannya, dan sebagainya. Bila demikian yang terjadi, kemampuan bersosialisasinya yang sudah harus berjalan lancar jadi sulit berkembang atau tidak bisa tumbuh sama sekali. Akhirnya, anak malah menghindari aktivitas bermain bersama teman-temannya.

Selain itu, panik yang terlalu menguasai diri anak akan membuatnya tidak bisa berpikir jernih terhadap apa yang sedang dialaminya. Imbasnya, perilaku tantrum menjadi sarana untuk mengungkapkan kepanikan. Padahal seharusnya, di usia ini anak sudah mulai belajar mengendalikan emosinya dan bukan malah memperburuk perilakunya. Jika tidak terkendali, pertumbuhan emosi dan kepribadiannya menjadi tidak optimal.

KIAT MENGATASI
Umumnya, dengan bertambahnya usia maka respons berpikir anak terhadap apa yang dialaminya akan semakin berkembang. Ketika sebelumnya ia mudah takut dan panik ketika bertemu badut, perlahan ketakutan dan kepanikannya akan menghilang. Hal ini dipengaruhi oleh pola pikir yang semakin terasah dengan lingkup sosialisasi yang semakin meluas. Bila dulu hanya sesekali bertemu badut, kini tidak hanya badut yang sering ditemuinya, mungkin saja ondel-ondel, patung beruang, atau lainnya. "Kenapa harus takut dengan badut, dia kan cuma boneka besar yang tidak akan menjahatiku," misalnya. Atau bila sebelumnya anak sering merasa takut dan panik saat bermain dengan temannya yang agresif, kini dia mulai menyesuaikan diri.

Namun, Mira menyarankan agar sekecil apapun kepanikan itu, sebaiknya kita membantu anak untuk meredakannya. Kepanikan kecil bila terus-menerus terjadi dan didiamkan bukan mustahil akan menumpuk. Bukan mustahil pula anak tumbuh menjadi pribadi yang mudah panik.

Penanganan sederhana bisa dilakukan orang tua di rumah. Misalnya dengan cara memberikan penjelasan mengenai sumber ketakutannya. "Itu, kan, cuma badut, dia itu baik dan lucu kamu tidak perlu takut!" misalnya demikian. Jangan malah meresposnnya secara keliru. Misalnya malah memojokkan, "Kok, sama badut saja takut, dasar penakut!" Kata-kata seperti ini tidak membuat anak keluar dari kepanikannya.

Berikut kiat dari Mira untuk mencegah maupun mengatasi anak yang sedang mengalami panik.

1. Pola Asuh

Pendidikan dalam keluarga adalah hal yang sangat penting untuk mendukung perkembangan kepribadian anak. Sebaiknya kita menghindari pola-pola asuh yang salah. Misalnya, ketika memintanya untuk tidak nakal kita menggunakan ancaman, "Awas, ya, kalau kamu nakal nanti didatangi badut, dia akan mencubitmu dengan keras!" misalnya." Pola pendidikan atau pola asuh seperti ini akan memicu munculnya ketakutan pada anak. Sebaiknya, gunakan pola yang membuat anak terpacu untuk tidak nakal, misalnya dengan memberikan alasan logis, "Kalau nakal nanti kamu tidak disukai temanmu, mereka akan menjauhi kamu. Mau kamu main sendirian?"

2. Ciptakan Situasi Nyaman

Rasa aman dan nyaman merupakan suasana yang kondusif untuk perkembangan kepribadian anak. Janganlah sesekali membuat anak merasa terancam dan ketakutan. Misalnya, ketika harus pergi tidur, anak selalu dibujuk dengan menakut-nakutinya. "Lihat, di luar sudah gelap, kalau kamu tidak tidur nanti ada hantu!" misalnya. Kata-kata seperti ini akan membuat anak merasa takut bahkan panik bila malam tiba. "Jangan-jangan hantu bakal muncul dari dalam gelap!" mungkin seperti ini kepanikannya.

3. Persiapkan Terhadap Hal Baru
Setiap hari, mungkin anak akan menghadapi hal baru. Entah yang menyenangkan atau malah menakutkan. Mempersiapkannya untuk menghadapi hal yang mungkin menakutkan dan membuat panik terkadang perlu dilakukan. "Nanti di Ancol ada badut, kamu tidak perlu takut karena badutnya baik dan lucu!" Misalnya. Atau ketika sedang menyaksikan televisi yang ada badutnya, "Lihat, itu namanya badut, lucu, ya!"

4. Temani Anak Menghadapi Situasi Baru

Jangan membiarkan anak menghadapi kepanikannya sendiri karena dia butuh sandaran untuk berlindung. Berusahalah untuk berada di sisinya dengan menyediakan tubuh kita untuk tempatnya berlindung. Elusan, belaian, dekapan, bisa membuat anak merasa tenang. Jangan malah membiarkannya menangis sendirian karena akan membuatnya bertambah panik.

5. Orang Tua Jangan Ikut Panik

Terkadang sifat tantrum anak karena panik sangat merepotkan orang tua. Menghadapi situasi seperti ini kita jangan malah panik. Kepanikan orang tua akan menambah kepanikan anak.

6. Pisahkan dari Sumber Kepanikan

Bila anak tidak bisa ditenangkan sebaiknya jauhkan dia dari hal yang membuatnya panik. Saat panik karena melihat badut misalnya, maka jauhkan anak dari badut tersebut agar kepanikannya segera hilang.

7. Biarkan Anak Mengeluarkan Emosinya

Karena panik biasanya ada perasaan yang ingin dilampiaskan anak. Entah ingin menangis, berteriak, atau mengepalkan tangannya. Biarkan perilaku anak terekspresikan agar dia bisa melepas luapan emosinya. Jangan malah membentak atau memarahi anak untuk diam. Apalagi ditambah dengan kata-kata yang memojokkannya.

PENYEBAB MUNCULNYA PANIK

Munculnya kepanikan pada anak, menurut Mira, sangat beragam. Bisa karena lingkungan, pola asuh, atau bahkan karena sikap dasar anak yang mudah panik. Inilah beberapa di antaranya:

* Meniru Kepanikan Orang Tua

Di usia balita, anak masih sangat mudah meniru apa yang dilihat dari lingkungannya, termasuk perilaku panik yang sering diperlihatkan orang tuanya. "Bila orang tua mudah panik maka kemungkinan anaknya akan mudah sekali panik," ungkap Mira. Disadari atau tidak, orang tua sering berperilaku panik di depan anaknya. Contohnya, ketika sang ayah pulang dari kantor kemudian dengan panik si ibu berkata, "Ayo cepat pakai bajumu Ayah sudah pulang, nanti kalau bertemu ayah kamu, kan, sudah rapi!" Bila kalimat ini sering didengar anak maka lambat laun akan membentuk pribadi anak yang mudah panik.

* Perilaku Tergesa Orang Tua

Kepanikan anak pun bisa timbul karena kebiasaan orang tua yang sering berlaku tergesa-gesa, berkata terlalu cepat, sehingga terkesan cerewet. Anak yang hidup di lingkungan seperti ini bisa saja membentuk kepribadian yang mudah panik karena sering menghadapi perilaku orang tuanya yang cerewet. Ketika sedang bermain misalnya, anak mungkin akan selalu dihantui oleh kecerewetan ibunya. "Wah, jangan-jangan ibu datang dan memintaku untuk segera tidur, nih!" misalnya. Kepanikan yang semula hanya terjadi saat menghadapi ibunya mungkin saja lalu meluas ke orang lain. Ketika sedang bermain di tetangga misalnya, anak sering merasa tidak nyaman, "Wah, jangan-jangan Tante Mirna seperti ibu, cerewet. Kalau aku dimarahi gimana, nih?" misalnya.

* Karakter Bawaan

Pada anak tertentu, sifat panik muncul karena memang sudah dari sananya. Sejak lahir kepribadian anak sangat sensitif terhadap kejadian di lingkungannya. Ada anak yang mudah panik ketika menghadapi sesuatu, bertemu badut misalnya. Biasanya, kepanikan yang menjadi sifat bawaan ini dipengaruhi oleh situasi saat ibu sedang mengandungnya. Mungkin karena pengalaman buruk yang dialami ibu dan membuat panik, sehingga berimbas pada anaknya.

* Terbiasa Ditakut-takuti

Kebiasaan menakut-nakuti pun akan menciptakan rasa panik pada anak. Misalnya, ketika malam hari anak tidak mau tidur kemudian kita sering menakut-nakutinya, "Awas, kalau kamu tidak mau tidur nanti datang makhluk buas dari ruangan yang gelap itu!" Kalimat demikian akan membuat anak menciptakan halusinasinya sendiri. Nantinya, ketika dia melihat ruangan gelap, suasana gelap, atau kegelapan lainnya akan muncul kepanikan.

* Trauma

Trauma bisa sangat mempengaruhi kepribadian anak selanjutnya karena bayangan trauma akan membekas kuat di dalam diri si anak. Misalnya, anak mengalami kejadian yang sangat tidak diduga sebelumnya. Ketika dia sedang bermain di halaman rumah misalnya, kemudian muncul orang gila tepat di depannya. Dengan wajah coreng-moreng, pakaian carut-marut, serta dengan racauan yang tidak karuan, mungkin akan membuat anak merasa sangat ketakutan. Nah, bila hal ini membuatnya trauma, mungkin di lain waktu jika melihat orang gila lain, kepanikannya akan mudah muncul. Biasanya, kepanikan akibat trauma sulit segera dihilangkan. "Mungkin saja di usia 7-8 tahun kepanikannya terhadap orang gila masih tetap membekas," jelas Mira.

* Sesuatu Yang Asing
Kepanikan bisa timbul karena sesuatu yang asing. Entah badut yang belum pernah dilihat sebelumnya, suara petir yang menggelegar, patung model, atau hal lain. Ketika mendengar suara petir yang menggelegar misalnya, sebenarnya anak berusaha untuk mencerna dan mencari tahu asal suara tersebut. Namun,karena terasa begitu asing dan mengagetkan, rasa paniklah yang muncul lebih kuat.
(tabloid-nakita)

KREATIF LEWAT MENGGUNTING & MENEMPEL

Koordinasi mata-tangan saat menggunting dan menempel dapat merangsang kerja otak si kecil.

Sering kan, kita melarang anak memegang gunting karena takut tangannya terluka. Si kecil pun jarang dianjurkan melakukan kegiatan tempel-menempel dengan alasan lem yang digunakan bisa membuat tangannya jadi kotor dan lengket. Padahal semua alasan itu tak perlu dikhawatirkan lagi karena saat ini sudah tersedia gunting yang dirancang sedemikian rupa sehingga relatif aman bila digunakan si kecil. Kegiatan menempel pun bisa disiasati tanpa lem. Sediakan saja lembaran stiker, lengkap dengan buku aktivitasnya untuk kegiatan tempel-menempel.

Lagi pula, seperti dikatakan Dra. Sandra Talogo, Psi. MSc., dari Spectrum Treatment and Education Centre, Bintaro, Banten ada banyak manfaat yang akan didapat si kecil dari kegiatan menggunting dan menempel. Inilah beberapa di antaranya:

1. Melatih motorik halus.

Menggerak-gerakkan gunting, mengikuti alur guntingan kertas merupakan kegiatan yang efektif untuk mengasah kemampuan motorik halus anak. Begitu juga dengan kegiatan menempel. Membuka perekat lalu menempelkan ditempat yang sudah ditentukan membuat jari jemari anak jadi lebih terlatih.

2. Melatih koordinasi tangan-mata, dan konsentrasi.

Semua ini bermanfaat untuk merangsang pertumbuhan otak yang lebih maksimal mengingat di usia ini merupakan masa pertumbuhan otak yang sangat pesat.

3. Meningkatkan kepercayaan diri.

Ketika anak berhasil menggunting dan menempel, dia akan melihat hasilnya. Hal ini merupakan suatu reward positif yang akan meningkatkan kepercaya dirinya untuk melakukan kegiatan itu kembali.

4. Lancar menulis.

Gerakan-gerakan halus yang dilakukan saat latihan menggunting dan menempel kelak akan membantu anak lebih mudah belajar menulis. Anak-anak SD yang sangat kaku memegang pensil dan yang tulisannya tidak beraturan, bisa jadi akibat kemampuan motorik halusnya tidak dilatih dengan baik sewaktu kecil.

5. Ungkapan ekspresi.

Menggunting dan menempel dapat menjadi sarana untuk mengungkapkan ekspresi dan kreativitas anak.

6. Mengasah kognitif.

Koordinasi mata dan tangan pada kegiatan menggunting dan menempel akan menstimulus kerja otak sehingga kemampuan kognitif anak pun akan makin terasah.

CARA MENSTIMULASI

Tentang kapan saat tepat menstimulasi anak untuk menggunting, menurut Sandra, bisa dimulai sejak usia 2-3 tahun. Walau tentunya ia masih akan mengalami kesulitan dalam memegangnya, tapi tak ada salahnya dicoba. Tak berbeda dengan menggunting, anak bisa dilatih menempel saat usia batita. Namun untuk latihan menggunting serta menempel yang lebih banyak bisa dilakukan saat ia berusia 4 tahun.

Sebelum menstimulasi, saran Sandra, kenali dulu kemampuan si kecil karena masing-masing anak akan memiliki "modal" kecakapan yang berbeda-beda. Mungkin saja, anak yang satu lebih mahir ketimbang anak lainnya. Keterampilan anak juga akan dipengaruhi usia. Kemampuan menggunting dan menempel anak 3 tahun akan berbeda dengan anak berusia 5 tahun, misalnya.

BERBAGAI BENTUK STIMULASI

BERIKUT cara menstimulasi anak dalam kegiatan menggunting dan menempel:

1. Berikan contoh memegang gunting yang aman dengan posisi benar. Jelaskan jari mana yang harus masuk ke lubang bagian bawah dan jari yang harus masuk ke lubang bagian atas. Lalu praktekkan cara menggunting dengan belajar menggerak-gerakkan jari tangan dari atas ke bawah. Dengan memiliki dasar yang benar setidaknya anak akan lebih mudah melakukannya.

2. Ulangi contoh dengan kata-kata halus jika anak memegang gunting dengan cara yang masih salah. Dengan begitu ia masih mau mencobanya kembali.

3. Perhatikan keamanan anak dan orang-orang di sekitarnya. Cegahlah jika anak akan melakukan hal-hal yang berbahaya, misal mengacung-acungkan gunting ke sana ke mari, membawa gunting sambil berlari, atau memasukkan gunting ke dalam mulut.

4. Mulailah dengan menggunting bebas. Setelah anak mampu melakukannya tingkatkan dengan mencoba hal-hal yang lebih sulit, seperti menggunting dengan mengikuti garis lurus, lingkaran, kotak, dan sebagainya. Setelah makin mahir, ajaklah si kecil menggunting gambar dengan mengikuti alurnya.

5. Untuk mengajarkan menempel, berikan contoh cara membuka stiker dan menempelkannya. Memberi contoh dengan dipraktekkan akan lebih dimengerti dibandingkan penjelasan dengan kata-kata.

6. Kelima jari si kecil harus digunakan saat berlatih menggunting dan menempel. Jangan hanya menggunakan jari telunjuk atau ibu jari saja, misalnya. Bila perlu, pakailah kedua tangan secara bergantian agar terjadi keseimbangan antara tangan kanan dan kiri sehingga kerja otak pun menjadi lebih baik.
7. Jika hasil guntingan dan tempelannya belum memuaskan tak perlu memberikan komentar negatif, namun arahkan ia kembali. Sebaliknya, bila si kecil sukses melakukan latihannya, berikan reward berupa pujian yang sewajarnya.

JIKA TERLAMBAT MENSTIMULASI

Jika selepas masa balita, keterampilan motorik halus anak masih terlihat kurang, jangan langsung beranggapan bahwa ia mengalami gangguan. "Jika anak tidak bisa menggunting dan menempel dengan baik, tidak bisa memegang alat tulis, menggaris, dan menulis dengan benar, telusuri dulu sebabnya. Jangan-jangan hanya karena kurang dilatih," ujar Sandra.

Keterlambatan stimulasi umumnya akan mempengaruhi banyak hal mengingat keterampilan motorik halus sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya, anak jadi tak mandiri alias selalu tergantung pada orang lain. Daya kreativitas dan kepercayaan dirinya pun tidak tumbuh dengan optimal.
Kembali lagi, bila masalahnya hanya kurang stimulasi, orang tua masih bisa mengejarnya dengan memberikan stimulasi susulan. Tak perlu terlalu cemas, karena menurut Sandra, keterampilan motorik halus anak masih bisa dilatih hingga usia 8 tahun.

TAHAP KECAKAPAN MENGGUNTING

* Usia 3-4 Tahun

Anak sudah bisa dilatih memegang gunting dan dapat menggunting dengan cara yang benar.

* Usia 4-5 Tahun

Sanggup menggunting dengan mengikuti garis lurus atau melengkung.

* Usia 5-6 Tahun

Bisa menggunting bentuk lingkaran, segi tiga, atau segi empat.

Tak lupa Sandra mengingatkan agar orang tua jangan mengharapkan hasil instan. Anak 5 tahun yang baru pertama kali dilatih menggunting, misalnya, tentu belum sanggup menggunting bentuk bulatan atau kotak. Bahkan sangat wajar jika ia malah kebingungan dan mengalami kesulitan saat memegang gunting. Nah, tugas orang tualah untuk memberikan arahan.

TAHAP KEMAHIRAN MENEMPEL

* Usia 3-4 Tahun

Anak sudah dapat menempel stiker di sembarang tempat.

* Usia 4-5 Tahun

Sudah bisa menempel stiker secara sembarangan di tempat yang diminta.

* Usia 5-6 Tahun
Sudah mampu menempel stiker di tempat yang dituju walau masih melewati garis.

PERMAINAN MOTORIK HALUS LAINNYA

Banyak cara melatih keterampilan motorik halus anak. Selain menggunting dan menempel, bisa juga dengan puzzle, meronce, dan papan alur. Puzzle dapat menstimulasi keterampilan motorik halus karena permainan tersebut mendorong jari jemari anak untuk mengangkat dan menyusun kepingan-kepingannya. Begitu juga dengan meronce. Jari-jari si kecil menjadi terampil saat harus memasukkan buah-buah ronce ke dalam tali. Sedangkan papan alur dapat membuat gerakan tangan anak menjadi luwes kala tangannya mengikuti alur yang berkelok-kelok.
Dengan permainan­permainan ini, anak juga akan dilatih untuk berkonsentrasi, kreatif, dan berlatih menyelesaikan masalah yang dihadapi. Ia juga dapat berlatih berhitung, mengenal warna, dan mengenal bentuk. "Sangat baik bila sejak kecil anak sudah difasilitasi mainan seperti ini," kata Sandra.
(tabloid-nakita)

BELAJAR MAKAN DENGAN ETIKET, PASTI BISA!!

Kesabaran dan ketegasan merupakan kunci dari penerapan etiket makan yang bisa dilakukan setelah anak berusia 4 tahun.

Banyak orang tua menyangsikan anaknya dapat duduk manis di depan meja makan sambil menyantap hidangan. "Jangankan makan di meja, disuapi saja ia masih sulit makan. Jadi bagaimana mau mengajarkan etiket?" Akibat pesimisme semacam ini, bukannya anak yang mengikuti tata cara makan orang tua, tetapi malah orang tua yang justru menuruti kemauan anak. Makan sambil bermain boleh, sambil berlari-larian pun tak masalah, asalkan makanan yang disuapi bisa habis.

Tentu saja, jika dibiarkan bukan tidak mungkin makan sambil melakukan aktivitas lain nantinya akan memunculkan masalah. Atas dasar itulah Roslina Verauli, M.Psi., mencoba meyakinkan kita bahwa sebetulnya anak dapat diajari makan dengan mengikuti etiket. Definisi etiket sendiri adalah tata cara, seperti adat dan sopan santun dalam masyarakat beradab yang bertujuan memelihara hubungan baik di antara sesama manusia. Nah, etiket makan berarti tata cara makan yang baik di meja makan atau di tempat lain secara santun tanpa diselingi dengan tindakan-tindakan yang kurang pantas.

Satu hal yang perlu disadari, etiket makan antara satu daerah dengan daerah lain, satu suku dengan suku lain, atau satu keluarga dengan keluarga lain belum tentu sama. Keluarga A bisa saja menganggap makan sambil berdiri boleh dilakukan tapi bagi keluarga B hal itu melanggar etiket. Di suatu negara ada yang menganggap sendawa sebagai suatu penghargaan tamu bagi tuan rumah, tetapi belum tentu negara lain menganggapnya lumrah.

Lalu mengapa mengajarkan etiket dilakukan sejak usia anak menginjak 4 tahun? "Karena di usia ini anak sudah lebih paham menerima instruksi," ujar Vera, sapaan akrabnya. "Adek, makan, kok, sambil jalan-jalan? Duduk yang manis di sini dong!" kata-kata ini akan mudah dicerna oleh anak 4 tahunan karena perkembangan kognitifnya sudah lebih maju ketimbang anak-anak yang lebih muda darinya.

MENANGGUNG KONSEKUENSI

Soal seberapa penting mengajarkan etiket makan kepada anak, tentunya kembali pada masing-masing keluarga. Nah, bila orang tua memilih tidak mengajarkan etiket makan, berarti harus siap dengan konsekuensi-konsekuensi tersebut.
Akibat dari kebiasaan-kebiasaan buruk kala makan memang tidak banyak berpengaruh pada kondisi psikologis anak. Yang jelas, jika etiket makan tidak diajarkan maka dapat memunculkan perilaku-perilaku yang kurang menyenangkan di meja makan, seperti bersendawa keras, mengangkat kaki, atau berbicara kala mulut penuh makanan. Bila perilaku itu terbawa-bawa menjadi kebiasaan, dikhawatirkan citra anak kita di mata orang lain menjadi negatif. "Bagaimana tidak negatif, kalau saat makan anak selalu bersendawa keras, orang lain, kan, bisa jijik mendengarnya," ujar psikolog di Empati Development Centre, Jakarta ini.

Pandangan negatif orang lain inilah yang nantinya bisa berpengaruh terhadap kondisi psikologis anak. Begitu ia merasa dicemooh atau dijauhi teman-temannya, anak jadi gampang rendah diri yang pada akhirnya merembet pada perkembangan sosial-emosional lainnya.

AJARKAN BERTAHAP

Saran Vera, alangkah baiknya bila anak diajarkan mengenai etiket makan. Memang tak mudah karena perlu usaha ekstra orang tua untuk melakukannya. Namun, bila didukung dengan contoh dan suasana yang menyenangkan, tak mustahil pembelajaran ini bisa dilakukan

Prinsip pengajaran etiket makan haruslah dimulai dengan hal-hal yang mudah dicerna anak dan menghindari hal-hal yang sulit dipahaminya. Saat anak makan sambil berlari-larian, umpamanya, ajak ia duduk dengan cara halus dengan bahasa yang sederhana. "Kok, makan sambil lari-lari? Nanti muntah, lo. Duduk sini!" Begitu juga saat anak menyembur-nyemburkan makanan, bersendawa atau saat ia memainkan makanan dengan sendoknya.

Pengajaran etiket makan perlu dilakukan dalam beberapa tahapan untuk memudahkan anak menangkap instruksi. Jangan lupa, sertakan contoh langsung agar ia bisa mengikutinya dengan baik. Tahapan pengajaran yang bisa dilakukan, misalnya:
* Duduk di Meja Makan

Mintalah dengan halus agar anak mau duduk di kursi meja makan. Terangkan kepadanya bahwa makan yang baik adalah jika dilakukan dengan duduk tenang. Berikan contoh apa yang dimaksud dengan duduk tenang tersebut.

* Berdoa

Biasakan berdoa sebelum makan. Dengan berdoa diharapkan anak mengetahui bahwa apa yang dimakannya bukan datang tiba-tiba melainkan usaha dari orang tuanya. Tekankan bahwa makanan tersebut merupakan rezeki yang diberikan Tuhan kepadanya.

* Pasang Serbet Makan

Demi kebersihan, pasangkan serbet makan di dada atau pangkuan anak. Apalagi cara makan anak masih "berantakan" sehingga makanan sering berceceran di baju, lantai, bahkan wajahnya. Dengan serbet makan diharapkan bisa meminimalisir "kekacauan" tersebut.

* Memegang Sendok dan Garpu
Ajarkan tangan kiri untuk memegang garpu dan sendok di tangan kanan. Tekankan kalau fungsi garpu adalah untuk membantu sendok dalam mengambil makanan. Sendok dan garpu tidak boleh beradu dengan piring sehingga menimbulkan bunyi nyaring.

* Tidak Ribut

Tanamkan untuk tidak terlalu banyak berbicara atau membuat kegaduhan saat makan karena akan mengganggu ketenangan acara bersantap. Apalagi kala mulut penuh makanan, jika isi mulut terlihat akan muncul pemandangan tak sedap dan orang lain akan menganggapnya tidak sopan.

* Duduk Tegak

Posisi duduk yang baik kala makan adalah badan tegak. Saat menyuap makanan, sendok yang mendekati mulut, bukan mulut yang mendekati sendok.

* Kunyah Perlahan

Kunyah makanan perlahan-lahan alias tidak tergesa-gesa. Hindari juga mengunyah dengan suara keras karena selain kedengarannya tidak enak, juga dianggap tidak sopan.

* Jangan Menyeruput dan Mengorek Gigi

Menyeruput kuah dari piring tidak diizinkan. Juga mengorek-ngorek gigi di depan orang lain selagi makan.Jika mendadak batuk atau bersin, mulut harus cepat-cepat ditutup dengan saputangan, agar makanan di mulut tidak menyembur ke mana-mana.

* Makan Harus Selesai
Tidak boleh meninggalkan meja makan sebelum selesai makan kecuali dalam keadaan mendesak, seperti ingin buang air kecil. Bila harus meninggalkan meja makan padahal belum selesai makan, posisi sendok-garpu tidak boleh "ditutup" karena posisi seperti itu menunjukkan makan sudah selesai.Di resto-resto posisi sendok garpu seperti itu merupakan kode bahwa piring sudah bisa diangkat. Nah, rugi kan kalau makanan yang ada sebenarnya belum selesai dimakan.

* Berikan Pujian

Pujian yang diberikan bisa membuat anak bangga. Jika ia membuat kesalahan jadikan kesalahan sebagai pengalaman agar tidak diulangi lagi pada kegiatan makan berikutnya.

* Makanan Berselera

Syarat penting agar si kecil mau makan dan duduk "manis" di meja makan adalah menciptakan suasana gembira. Umpamanya, hidangan haruslah yang membangkitkan selera dan lezat disantap. Bila anak suka dengan makanan tersebut maka tidak sulit mengajaknya ke meja makan.

TEMPERAMEN IKUT BERPENGARUH

Yang perlu diketahui, temperamen anak akan mempengaruhi proses pengajaran etiket di meja makan. Ada anak yang mudah menerima instruksi, ada pula yang sulit. Jadi meski sudah diajarkan berulang-ulang, ia tetap saja memakai cara makannya sendiri, seperti sambil bermain atau berlari-larian.
Namun, Vera mengingatkan orang tua agar tak menjadi frustrasi yang akhirnya malah membiarkan anak makan tanpa menghargai apa yang dimakannya. Tetaplah berusaha dengan memberi contoh­contoh yang baik. Umpamanya, setiap kali makan tunjukkan etiket yang berlaku dengan duduk di meja makan, menyuap nasi secara perlahan dengan tangan kanan, berbicara setelah makanan tertelan, dan lainnya. "Bila kebiasaan yang kita tunjukkan ke anak baik, tak mustahil ia akan mengikuti apa yang kita lakukan. Lebih baik lagi bila ditambah dengan memberikan penjelasan kenapa kita perlu melakukan hal seperti itu."
(tabloid-nakita)

ANAK SELALU MENGALAH, PUPUK DONG RASA PERCAYA DIRINYA

Mengalah sesungguhnya sikap terpuji, tetapi kalau si kecil selalu mengalah berarti ada yang perlu dibenahi.

"Duh, kenapa ya Riri selalu mengalah? Waktu antre main ayunan kemarin, dia selalu saja mendahulukan teman-temannya. Akibatnya ya dia enggak kebagian main. Heran, kok dia enggak berani minta gilirannya." Keluhan serupa diutarakan Ranti, "Sama Bu. Anak saya kalau mainannya diminta langsung diberikan. Bahkan kalau temannya memukul, dia diam saja. Tidak membalas."
Dari kacamata psikososial, menurut Rahmi Dahnan, Psi., sebenarnya anak usia prasekolah sedang belajar mengembangkan kemampuan beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Hal yang wajar jika anak merasa malu atau ragu-ragu menjalin pertemanan di lingkungan baru, katakanlah saat pertama masuk Taman Kanak-kanak (TK). Namun, kalau ternyata si kecil keterusan mengalah, tentu ada faktor lain yang menyebabkannya bersikap seperti itu. "Umumnya anak usia ini masih tergolong egois. Kalau ia selalu mengalah tentu ada sesuatu yang terjadi pada dirinya," papar psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati ini.

Padahal kebanyakan orang akan menilai si pengalah sebagai anak yang baik dan penurut. Memang ada sisi positif dari anak yang sering mengalah. Umpamanya, ia memang seorang yang suka menolong dan memperhatikan kebutuhan orang lain.

Sikap mengalah juga menandakan anak sudah belajar mengontrol emosinya. Anak yang bisa menahan diri untuk tidak berkonflik dengan temannya berarti memiliki kematangan emosi. Selanjutnya kemampuan berpikirnya akan matang pula. Sayangnya, anak dengan sikap yang selalu mengalah ini mudah sekali dimanfaatkan orang lain.

BERAGAM PENYEBAB

Sikap mengalah, lanjut Rahmi, dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, di antaranya:

* Kurang pengalaman bersosialisasi

Anak menjadi sosok pengalah karena kurang mendapat pengalaman bersosialisasi; kurang banyak bergaul di lingkungan luar rumah, tak memiliki teman sepermainan atau teman sebaya. Sehari-harinya hanya bergaul dengan orang-orang di rumah. Jadi, ketika dia dihadapkan harus bertemu dengan banyak orang, si prasekolah menjadi canggung karena tak terbiasa. Akhirnya ia memilih lebih banyak mengalah karena membutuhkan lebih banyak waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya.

* Takut dijauhi teman

Ada juga anak yang memilih bersikap mengalah karena takut dijauhi, dimusuhi, atau tak dijadikan teman lagi. Anggapannya, dengan mendahulukan kebutuhan teman maka pertemanannya akan terus terjalin. Ujung-ujungnya si prasekolah malah tak memiliki kesempatan bereksplorasi yang sama seperti yang dilakukan teman-temannya.

* Pola asuh otoriter

Sikap selalu mengalah juga bisa terjadi pada anak karena pola asuh orang tua yang kurang tepat. Umpamanya orang tua cenderung selalu keras atau otoriter; selalu melarang dan memarahi jika anak berbuat salah dan tak memberikan kesempatan yang luas pada anak untuk bereskplorasi. Alhasil, anak bisa tumbuh menjadi sosok yang penuh dengan ketakutan dan ragu-ragu untuk memulai sesuatu. Anak juga bisa lebih memilih mengalah ketika temannya berbuat jahat seperti memukul atau menendang. Dia tak mau melawan atau membalas perilaku buruk temannya tersebut.

BERDAMPAK BURUK

Jika keterusan, sikap mengalah ini akan mengakibatkan dampak buruk di kemudian hari, yaitu:

1. Mudah dimanfaatkan teman

Si pengalah akan mudah dimanfaatkan temannya untuk hal-hal yang tidak baik. Ditambah lagi sering dijadikan sasaran kejahilan, selalu diperintah atau disuruh-suruh teman.

2. Kurang kesempatan bereksplorasi

Karena lebih mendahulukan temannya, si prasekolah lebih banyak berdiam diri. Dia hanya menjadi penonton yang memperhatikan keceriaan teman-temannya bermain. Otomatis, kesempatan bereksplorasinya jadi lebih sedikit.

3. Tak mampu berinisiatif
Ketika dihadapkan pada permasalahan dia tak berani bersikap, tak bisa berinisiatif, dan tidak bisa mencari solusi permasalahannya. Dia hanya menurut apa yang diperintahkan orang tua atau temannya. Dia juga tak bisa mengeluarkan pendapat sendiri.

4. Kurang percaya diri

Karena tak banyak berperan dan selalu mendahulukan orang lain, maka anak menjadi kurang percaya diri. Dia tak berani menunjukkan dirinya. Lebih memilih menyendiri, menghindari pergaulan dan akhirnya menjadi sosok yang minder.

PERAN ORANG TUA

Sudah semestinya orang tua peka jika mendapati anak yang selalu bersikap mengalah. Orang tua perlu melakukan langkah-langkah seperti berikut:

* Introspeksi diri

Jika orang tua melihat buah hatinya selalu mengalah, maka harus segera berintrospeksi. Jangan-jangan pola asuh yang diterapkan selama ini kurang tepat; sering marah-marah, terlalu galak, selalu mendikte sehingga membuat anak tumbuh menjadi pencemas, penakut, selalu khawatir, dan ragu-ragu bertindak. Sikap orang tua yang demikian juga secara langsung menghambat kesempatan anak untuk berekspresi, bereksplorasi, dan berinisiatif.

Kalau memang demikian, mau tak mau orang tua mesti mengubah pola asuh dengan memberikan kesempatan luas kepada anak untuk bereksplorasi dan mengungkapkan isi hatinya, apakah itu sedih, kesal, atau gembira. Asal tahu saja, perkembangan emosi sangat berperan penting dalam perkembangan harga diri anak selanjutnya.

* Mengajarkan berkata "tidak"
Anak yang selalu mengalah tentu selalu berkata "ya" pada temannya. Dengan begitu, si prasekolah jadi mudah dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak baik. Untuk itu, ajari ia untuk bisa berkata "tidak" jika disuruh-suruh oleh teman. Tentu saja kalau tujuannya untuk menolong teman yang sedang kesulitan atau terdesak sikap mengalah tetap harus didahulukan. Nah kemampuan untuk mengenali situasi berarti perlu juga dikenalkan pada anak. Kalau situasinya sudah mengarah jadi "dikerjain" maka anak harus bisa secara tegas bilang "tidak".

PERAN GURU

Guru pun harus peka jika ada anak didiknya yang cenderung bersikap selalu mengalah pada teman-teman sebayanya. Dalam hal ini yang bisa dilakukan guru adalah:

* Mengajarkan konsep bergiliran dan berkelompok

Anak 4-5 tahun sebenarnya mampu memahami aturan main walau terkadang masih melanggar peraturan yang ditetapkan, termasuk dalam hal bergiliran. Di sinilah pentingnya peran guru untuk selalu menerapkan tata cara bermain pada semua anak didik. Saat para murid berebut ingin bermain ayunan, minta mereka antre lalu ajarkan untuk bergiliran sehingga semuanya bisa merasakan asyiknya permainan itu. Selain belajar konsep antre, anak juga belajar bersikap sabar saat menanti gilirannya. Pujilah saat mereka dengan sabar mau menunggu gilirannya. Secara perlahan-lahan sikap egois yang tertanam dalam diri anak akan luntur dan si pengalah juga jadi belajar mengenai hak gilirannya.

Permainan kelompok juga dapat menjadi ajang bersikap sportif dan kebersamaan karena saat bermain kelompok anak dapat merasakan makna kalah dan menang. Juga, akan ada teman lain yang bisa diajak berbagi rasa sehingga anak tak merasa sendirian.

* Meningkatkan kemampuan sosialisasi

Selain bertugas mengoptimalkan kelebihan dan meminimalkan kekurangan anak, peran guru juga meningkatkan potensi bersosialisasinya. Guru perlu mendorong setiap anak untuk terlibat dengan seluruh temannya. Intinya, sudah tugas guru untuk menumbuhkan minat bersosialisasi anak karena di usia 4-5 tahun sebenarnya ia sudah memiliki keinginan berkumpul dengan teman sebayanya. Konkretnya, jika ada anak yang terlihat menyendiri dan memilih berdiam diri menonton teman-temannya bermain, langsung ajak ia untuk berbaur. Libatkan anak dengan teman lainnya dan ajak untuk bermain bersama-sama.

Pada anak yang kelihatan selalu mengalah ajarkan untuk melapor pada guru jika ada teman yang berbuat agresif, seperti memukul atau menendangnya. Jadi, bukan hal bijak jika anak pengalah diajarkan untuk balik bersikap agresif. Balas memukul bisa memancing si pemukul untuk bertindak lebih agresif. Nah, tak akan menyelesaikan masalah, kan? Lebih jauh lagi, anak yang tadinya pengalah bisa berubah menjadi sosok yang agresif dan tak tahu aturan.

Namun, tanamkan bahwa diam saja juga bukan solusi bijaksana karena ia akan menjadi sosok yang selalu dikalahkan. Minta anak untuk mengungkapkan perasaannya, misalnya, "Kamu jangan pukul aku dong. Kan sakit!" Guru pun perlu menjadi fasilitator pendamai kedua anak yang bertikai. Beri tahu anak yang menyerang bahwa perbuatannya merupakan sikap yang tidak baik karena dengan begitu temannya jadi sakit dan menangis.

BUANG SIKAP OTORITER

Pola asuh yang tepat akan membuat anak berkembang menjadi sosok yang penuh percaya diri. Jika ternyata ayah dan ibu bersikap otoriter terhadap anak, mulai sekarang tinggalkan hal itu. Bersikaplah lebih baik, antara lain dengan melakukan hal-hal berikut:

* Menjalin komunikasi yang baik

Komunikasi yang terjalin baik akan merangsang anak berani mengungkapkan pendapat atau ide-idenya. Jauhi sikap keras, menghakimi, dan memojokkan karena akan membuat anak enggan berkomunikasi dengan kita. Jadilah teman atau sahabat anak dan bukannya menjadi pihak yang berseberangan dengannya.

* Tidak membedakan anak

Sebaiknya orang tua tidak membeda-bedakan atau membandingkan anak karena setiap anak memiliki potensi masing-masing yang unik. Jadi jangan pernah memaksa si adik harus sama kemampuannya dengan si kakak atau sebaliknya.

* Tidak memberi label negatif

Jangan sekali-kali mencap jelek anak dengan julukan atau panggilan yang buruk. Predikat negatif cepat atau lambat akan menghancurkan konsep diri anak. Salah satu akibatnya adalah anak menjadi pasif dan pengalah karena tidak percaya diri.

* Hargai keberhasilan anak

Hargai atau puji keberhasilan anak karena tanpa pujian, anak merasa apa yang dilakukannya tak berharga. Perasaan tidak dihargai sulit membuat anak percaya diri dan memiliki inisiatif yang tinggi.

* Berikan alternatif pilihan

Hindari mendikte anak tetapi beri ia alternatif pilihan. Misalnya, mau minum susu atau jus? Beri ia kesempatan berpikir. Alhasil, daya pikirnya menjadi terasah dan belajar membuat keputusan sendiri akan memperkuat sikap tegas anak, sehingga ia tidak menjadi orang yang selalu mengalah.
(tabloid-nakita)

SI KECIL TAK KUNJUNG SIAP "BERSEKOLAH"

Di taman kanak-kanak, anak akan menemukan suasana baru dan teman baru. Bagaimana kalau setelah beberapa bulan bersekolah di TK anak belum merasa betah juga?

Saat tahun ajaran baru tiba sebulan yang lalu, banyak orang tua sengaja mengambil cuti sehari-dua hari. Tujuannya menemani si kecil memasuki hari pertama "bersekolah". Hal ini wajar saja karena orang tua ingin tahu bagaimana reaksi anaknya saat melihat gedung sekolahnya, guru-guru, dan teman-teman barunya. Syukur-syukur, kalau ia dapat beradaptasi dengan cepat, tapi bagaimana kalau malah dari hari ke hari nyalinya makin menciut, dan ia memilih ngumpet di balik kaki ayah/ibunya, atau bahkan menangis meraung-raung? Nah itu yang repot.

Yang perlu diketahui, menurut Linawaty Mustopoh, Psi., pada umumnya anak usia 4-5 tahun sudah siap masuk TK. Namun, jangan lupakan juga kalau perkembangan setiap anak berbeda-beda, ada yang cepat dan ada yang lambat. Untuk itulah, psikolog yang akrab disapa Lina menegaskan, bagaimanapun tipe si kecil, sudah menjadi tugas orang tua untuk mempersiapkan mentalnya sebelum masuk "sekolah".

GAMPANG-GAMPANG SUSAH

Masalahnya mempersiapkan mental anak bukan hal yang mudah. Lina yang bergabung dengan biro konsultan Sentra ini pun menjabarkan beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua sebelum mendaftarkan si kecil ke suatu TK. Dengan begitu setidaknya diharapkan mental si kecil bisa lebih tangguh menghadapi apa yang akan terjadi di sekolah.

1. Usia sudah mencukupi

Walaupun lebih muda atau tua beberapa bulan saja, tahap perkembangan seorang anak tampak berbeda dari anak-anak lainnya. Terlebih lagi yang beda usianya mencapai satu tahun atau lebih. Dikhawatirkan si kecil yang lebih muda ini tak bisa mengikuti kegiatan di TK yang memang diformat sesuai bagi perkembangan anak usia 4-5 tahun.
Kalaupun si muda usia ini yang bersikukuh ingin sekolah, itu mungkin karena ia melihat kakaknya. Tak ada salahnya keinginan itu diakomodasi. Lihat perkembangannya apakah bisa mengikuti aktivitas di TK atau tidak. Kalau ia tidak menikmati, hentikan untuk sementara. Salah satu jalan keluarnya, si kecil bisa dimasukkan ke playgroup yang sesuai dengan usianya. "Yang penting anak masuk TK bukan karena paksaan orang tua karena terkadang orang tua ingin melewati fast track dengan memasukkan anaknya ke TK padahal usianya belum mencukupi."

2. Membiasakan berpisah sementara dengan orang tua
Berpisah beberapa jam dengan orang tua juga merupakan salah satu persiapan mental bagi si kecil. Bukan apa-apa, saat di sekolah tidak mungkin ia ditemani ayah atau ibunya setiap waktu. Sebagai langkah awal, biarkan si kecil di rumah dengan hanya ditemani pengasuh/nenek/tante, atau anggota keluarga lain. Pokoknya bukan ayah atau ibu. Pembiasaan seperti ini membuatnya belajar beraktivitas tanpa harus "dipantau" terus oleh orang tua.

Memang, di hari pertama biasanya pihak TK membolehkan para orang tua menunggui putra-putrinya di sekolah. Namun tidak demikian di hari-hari berikutnya, karena keterlibatan orang tua di kelas malah bisa mengganggu konsentrasi baik guru maupun anak-anak. Oleh karena itu, yakinkan si kecil bahwa tanpa ayah dan ibu ia tetap dapat nyaman di sekolah. Katakan, "Nanti Mama enggak menemani kamu lagi, ya. Tapi kamu pasti akan tetap senang bersama ibu guru dan teman-teman," misalnya.

3. Mengenalkan lingkungan sekolah

Untuk menghapus kekhawatiran si kecil tentang wujud bagaimana TK itu, orang tua perlu mengajaknya mengunjungi TK-TK yang kira-kira diminati sebelum masa "bersekolah" tiba. Akan lebih baik lagi, lanjut Lina, jika setelah itu anak diberi kesempatan memilih sekolah yang kira-kira berkenan dan membuatnya nyaman. Idealnya, keputusan ada di tangan anak bukan orang tua.

4. Membiasakan bangun pagi

Sebelum memasuki masa rutin "bersekolah", biasakan anak untuk selalu bangun pagi. Umumnya, kalau di hari pertama ia telat datang, anak akan malu dan akhirnya panik.

TAK KUNJUNG SIAP MENTAL

Nah, bila mental si kecil tidak disiapkan jauh hari sebelumnya, ada kemungkinan kondisinya akan seperti ini:

1. Selalu ingin ditemani ayah/ibu

Si prasekolah tak mau ditinggal atau berpisah dengan orang tuanya. Kalau ini dibiarkan terus kemandiriannya takkan terasah.

Cara mengatasi:

* Katakan bahwa ayah dan ibu harus bekerja atau mengurus keperluan lainnya di rumah sehingga tak bisa menunggu sampai sekolahnya selesai. Jelaskan juga bermain dengan teman-teman baru sungguh mengasyikkan. Dorong anak dan teman-temannya untuk menikmati fasilitas bermain yang disediakan sehingga tak merasa sendirian lagi dan bisa melupakan ayah/ibunya.
* Jika anak tetap tak mau pisah dari orang tua, konsultasikan hal ini pada gurunya. Tujuannya supaya guru lebih memperhatikan dan membantu mengatasi kesulitan anak pisah dari orang tuanya. "Pasti guru terbiasa menangani anak-anak seperti ini," kata Lina.

2. Sulit bergaul

Anak yang tak memiliki kesiapan mental biasanya menghadapi kendala ketika harus berbaur dengan suasana atau lingkungan baru. Apalagi bila si anak memang berkarakter pendiam dan pemalu. Ia akan kesulitan berkenalan dengan teman-temannya sehingga memilih menyendiri. Anak pun ragu-ragu untuk bermain. Jika tak segera diatasi, dikhawatirkan dia akan tumbuh menjadi sosok yang menutup diri, tak mau bergaul, dan tidak mandiri.

Cara mengatasi:

* Di hari-hari pertama tak ada salahnya bila orang tua terlibat dalam proses pembiasaan anak dengan lingkungan sekolahnya. Jika memang anak enggan berkenalan, orang tua mesti menjadi fasilitator yang memperkenalkan sang anak dengan teman-teman barunya.

* Dilihat dari karakternya, rata-rata anak perempuan lebih mudah bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungan baru ketimbang anak laki-laki. Jadi wajar saja jika anak laki-laki membutuhkan waktu lebih lama untuk akrab dengan teman lainnya. Orang tua sebaiknya bersabar mengikuti proses adaptasi dan sosialisasi yang dijalani anak.

3. Stres

Jika tak ada persiapan masuk TK, anak bisa saja mengalami kecemasan, menangis tiada henti bahkan sampai stres. Penyebabnya, anak tidak merasa cocok dengan lingkungan sekolah tersebut.

Puncak dari stres ini mungkin akan ditunjukkan dengan aksi mogok sekolah. Kalaupun si kecil mau berangkat ke sekolah, di kelas ia akan merengek ingin pulang. Beragam alasan akan dilontarkannya, entah sakit perut, pusing, haus, selalu ingin pipis agar bisa keluar kelas, dan sebagainya (baca rubrik Jendela, "Anakku Mengalami Stres 'Sekolah'").

Cara mengatasi:

* Cari penyebab kenapa anak menjadi stres atau mogok sekolah. Apakah karena faktor dalam diri anak, teman-temannya, atau karena faktor guru dan sekolah. Anak bisa stres karena belum siap secara mental atau sekolahnya dirasa tak bisa membuatnya aman, nyaman dan menyenangkan.

* Mintalah saran kepada pihak ketiga yang berkompeten untuk menangani stres pada anak. Barangkali pindah sekolah merupakan jalan keluar yang paling tepat untuk kemudian memasukkannya ke TK dengan metode yang lebih menyenangkan dan guru yang dapat memberikan porsi perhatian lebih besar. Yang jelas, bila anak mengalami stres, orang tua jangan ikut-ikutan stres atau merasa khawatir yang berlebihan.

BISA ALAMI REGRESI

Beradaptasi dengan lingkungan baru bukanlah sesuatu yang mudah bagi si prasekolah. Akibat timbulnya kecemasan dalam proses adaptasi ini, adakalanya anak-anak mengalami kemunduran atau regresi. Jika sebelumnya ia sudah bisa buang air kecil/besar di kamar mandi, umpamanya, jangan kaget kalau tiba-tiba ia mengompol lagi atau buang air besar di celana. Semua itu akibat ketidaknyamanan di tengah suasana baru.
Untuk mengantisipasi hal ini, saran Lina, anak-anak perlu tahu letak kamar kecil di hari pertama masuk sekolahnya. Katakan kalau toilet itulah yang akan dipakai bila ia ingin BAK atau BAB. Bila ternyata kamar mandi terkesan kotor, beri tahu pihak TK untuk segera membenahinya. Bawakan juga celana dan baju ekstra kalau-kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan begitu, setidaknya anak tetap bisa beraktivitas sekaligus tidak merasa malu karena celananya basah.

MANFAAT BELAJAR DI TK

Menurut Lina, banyak faedah yang bisa didapat dengan memasukkan anak ke TK. Terutama untuk mengembangkan, melatih, dan memperkaya pengalaman si prasekolah dalam segi sosial, emosional, fisik, intelektualitas, kreativitas, kemandirian, rasa percaya diri, dan harga diri.
Di TK, si prasekolah bisa melakukan aktivitas baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya, yaitu belajar bekerja sama dan berkelompok dengan teman lain, belajar menunggu giliran bermain, serta saling memberi dan menerima dengan teman sebayanya. Tentunya semua itu dilakukan dengan cara belajar sambil bermain. Dengan kata lain, belajar di TK dapat menjadi ajang persiapan si kecil memasuki sekolah dasar.
(tabloid-nakita)

Mengenali Autis sejak dini

Tak perlu menunggu hingga besar untuk mengetahui si kecil mengalami autis atau tidak. Sejak bayi pun bisa dideteksi. Sering terjadi, setelah si kecil beranjak besar baru diketahui ia mengalami gangguan perkembangan, entah lambat bicara, retardasi mental, hiperaktif, autis, dan lainnya. Itu pun bila si orang tua mencurigai anaknya bermasalah dan segera membawanya ke dokter. Kalau tidak, tentulah makin terlambat saja diketahuinya. Tak mudah untuk mengetahui apakah anak kita mengalami gangguan perkembangan atau tidak, terlebih untuk membedakan autis dengan gangguan penyimpangan lain. Misal, membedakan autis dengan retardasi mental. Pada anak retardasi mental, seluruh aspek perkembangannya lambat, baik kecerdasan, sosial, maupun motorik halusnya. Jika diukur IQ-nya pun dibawah 70, hingga sulit membedakannya dengan anak autis, karena respon pada anak autis juga lambat. Makanya, anak autis cenderung bersikap cuek.

Tanda-tanda anak hiperaktif pun hampir mirip dengan anak autis, yang biasanya terjadi di usia berjalan. Misal, anak tak bisa diam, tak bisa menatap lawan bicaranya, dan tak bisa konsentrasi. Perhatiannya juga mudah beralih, bila diajak ngomong seolah-olah tak mendengarkan. "Nah, tanda-tanda ini juga dijumpai pada anak autis. Biasanya, 50 persen anak autis juga tak bisa diam dan konsentrasinya buruk." Terlebih jika hiperaktifnya disertai lambat bicara, makin susahlah membedakannya, apakah autis atau lambat bicara.

Manifestasi gejala yang mirip ini, bisa ada di pelbagai gangguan. Hingga, biasanya tak dijadikan gejala khas pathognomonis atau karakteristik utama dari suatu gangguan. Misal, gejala panas. Bukankah bisa pertanda sakit gigi, radang tenggorok, radang telinga, tifus, malaria, atau demam berdarah? Hingga, kita tak bisa bilang, "Oh, si kecil panas, pasti demam berdarah.", misal. Sebab, untuk memastikan demam berdarah harus ada pathognomonis-nya. Misal, bila diperiksa darahnya, trombositnya turun atau bila lengan atas dipencet, di bagian bawahnya dijumpai bintik-bintik merah, berarti ada perdarahan karena pembuluh darahnya rapuh. "Jadi, tak semua gejala panas itu menandakan demam berdarah. Demikian pula dengan gangguan perkembangan, perlu ditandai apa yang menjadi pathognomonis-nya."

AUTIS INFANTIL

Nah, autis pada bayi, sebenarnya bisa diketahui sejak usia beberapa minggu setelah kelahirannya, dikenal dengan istilah autis infantil. Autis ini menempati spektrum paling berat, hingga disebut juga dengan nama penyakit Kanner. Ada juga yang menempati spektrum ringan, namanya ASD atau Autistic Spectrum Disorder.

Ibarat gambar yang diberi warna, autis infantil atau Kanner itu hitam pekat, sementara yang ASD abu-abu karena sebetulnya mendekati normal. "Biasanya ASD lebih sulit dibedakan dengan gangguan lain yang bukan autis, seperti anak lambat bicara atau hiperaktif." ASD biasa juga disebut autisma atypical (tidak khas), asperger atau semantic-pragmatic disorder karena ASD akan tampak di usia sekitar 2 tahun atau saat ia mulai bicara. "Di sini anak sebenarnya bisa bicara tapi tak bisa berkomunikasi atau tak bisa menyusun kata. Hubungan dengan orang pun tak hangat atau tak normal.

Bila autisnya infantil atau terjadi sejak bayi, tentunya tak lagi dalam taraf ringan. Pada bayi, autis bisa dideteksi dari perkembangan sosial dan emosionalnya. "Bayi yang mengalami penyakit autisma, sosial emosinya tak berkembang dan tak berjalan semestinya. Dengan kata lain, mengalami distorsi atau penyimpangan perkembangan yang sangat menyeluruh." Hal ini bisa dilihat, misal, ketika si ibu menyusui ASI. Bila pada bayi normal, kala disusui akan langsung menempelkan tubuhnya ke dada si ibu dan sambil disusui menatap sang ibu sebagai tanda adanya attach atau kelekatan emosional dengan ibunya. "Jadi, ada insting melekat pada ibu. Lagi pula otak anak merekam bagaimana kedekatan dia dengan ibunya sejak dalam rahim."

Nah, pada bayi yang autis, saat disusui oleh ibu, tubuhnya akan kaku. Meski ia mengisap, karena memang ada insting lapar pada bayi, tapi secara emosi tak ada kelekatan dengan ibu. "Yang bisa merasakan seperti ini adalah ibunya sendiri. Hingga seringkali si ibu akan merasa seperti memeluk benda, entah guling, sebatang kayu atau bungkusan. Jadi, tak ada hubungan sosial emosinya." Begitupun bila bayi ditelentangkan, misal. Normalnya, usia beberapa minggu bayi akan spontan tersenyum meski tak kita apa-apakan.

Setelah usia 2-3 bulan mungkin akan berespon tertawa, misal, bila diajak bercanda. Jadi, ada kontak mata. Jika menangis pun jelas, entah karena lapar atau buang air. Makin usia bertambah, pada bayi normal juga akan aktif bereksplorasi atau punya keingintahuan besar pada objek-objek di sekelilingnya. "Sedangkan bayi autis, tak demikian. Ia tak berespon apa pun, entah kala diajak bercanda atau bercakap-cakap." Bila menangis, tangisannya juga tak jelas disebabkan apa. Jikapun ada kontak mata, matanya mungkin terlihat kosong tak bermakna. Kala tiba masa ekplorasi, ia juga tak tertarik dengan yang ada di sekelilingnya. Kalau, toh, tertarik, hanya pada satu objek saja ia bisa lekat dan terus-menerus.

Jadi, adanya penyimpangan dari perkembangan psikososial seperti itu bisa dilihat jelas pada bayi autis." Tentunya gejala-gejala autis bukan cuma itu. Makin usianya bertambah, ia tak bisa berinteraksi. "Dari segi kuantitas dan kualitas, interaksinya menurun dengan orang sekitarnya, juga tak ada perhatiannya terhadap lingkungan."

PENDETEKSIAN

Untuk mendeteksi autis pada bayi, menurut Dwidjo, bisa dilakukan dengan prosedur pemeriksaan rutin yang dilakukan tiap dokter atau bidan yang menanganinya. "Jadi, selain pemeriksaan TB dan BB, juga harus pemeriksaan perkembangan psikososial dan psikomotoriknya. Seperti, bagaimana kala kepala diangkat, tengkurap, jalan, dan sebagainya. Meski pada bayi autis psikomotorik ini sebenarnya tak terlalu penting, kecuali pada perkembangan mental yang seluruhnya terlambat." Jadi, dengan prosedur pemeriksaan yang berjalan baik, sebetulnya masalah autis pada bayi bisa terdeteksi sejak awal. "Sayangnya, para dokter sering tak punya waktu banyak untuk melakukannya." Itu sebab, diharapkan ibu sendirilah yang bisa mencatat bagaimana tonggak-tonggak perkembangan sosial-emosi bayinya.

Misal, usia tersenyum, melihat, atau berespon sesuai tahapan usianya. "Jika ciri-ciri yang harusnya ada tapi selama 3 bulan berturut-turut tak juga muncul, perlu dicurigai." Selanjutnya, ada baiknya lakukan diagnosa autis pada dokter yang berkompeten untuk itu, entah dokter anak, psikolog atau psikiater anak. Dengan demikian, penanganannya tak salah dan bisa menyeluruh.

PENANGANAN

Bila sejak awal autis pada bayi terdeteksi, penanganan yang dilakukan bisa memadai. "Karena prinsipnya, bayi mengalami hambatan perkembangan. Yang menghambatnya adalah penyakit autis. Maka, prinsip penanganannya, anak harus dirangsang terus-menerus dan didorong agar mencapai perkembangan optimal. Seperti diketahui, ada empat dimensi perkembangan pada bayi, yaitu motorik halus, motorik kasar, bahasa dan komunikasi, serta sosialisasi. "Jadi, sejak bayi 4 hal inilah yang perlu dilatih satu per satu agar ia mampu mencapai tonggak-tonggak perkembangannya. Setiap dimensi dirangsang dengan teknik dan metode yang sesuai kebutuhannya."

Karena anak autis tak punya interaksi sosial dan emosional yang memadai, metode yang dilakukan adalah pendekatan perilaku atau stimulasi yang disebut dengan ABA (Applied Behaviour Analysis). "Biasanya ini dilakukan untuk anak usia 1 tahun ke atas. Sistemnya dengan latihan dan pemberian pujian atau reinforcement bila ia berhasil."

Sedangkan bayi, lebih banyak diberikan rangsangan untuk sosial dan emosionalnya. Misal, bayi sering diajak berinteraksi, ditatap, didekap, dipeluk, dicium, tersenyum, dan sebagainya. "Jadi, lebih pada rangsangan sensori-motoriknya. Karena rangsang-rangsang yang sampai pada otak bayi itu 90 persen ditentukan rangsang sensori-motoriknya." Intinya, orang tua harus terus-menerus memberikan rangsang yang sifatnya mengembangkan respon sosial dan emosinya. Jangan malah meninggalkan si bayi sendirian, ya, Bu. Kalau digendong juga sebaiknya digendong depan dengan selendang, hingga ada rangsangnya bagi bayi.

Namun demikian, yang namanya gangguan perkembangan, selalu penyebabnya tak tunggal, tapi kompleks dan banyak faktor. "Tak seperti sakit malaria, kalau penyebabnya diobati akan segera sembuh. Pada gangguan seperti autis sulit dikatakan sembuh dalam arti hilang sama sekali penyakitnya, karena penyebab autis itu sendiri tak diketahui pasti." Hanya saja, tambahnya, bila sudah distimulasi dini, tahap perkembangannya akan lebih baik. Kecacatan atau hambatan dan kekurangan dalam perkembangannya setidaknya bisa diminimalkan. Hingga, ketika masanya di usia anak, taruhlah usia prasekolah, orang tua tak perlu sampai mengeluarkan biaya, tenaga, dan waktu lebih banyak untuk memberikan terapi pada anaknya. Nah, tunggu apa lagi? Segera lakukan pemeriksaan pada si kecil bila kita mencurigainya hingga bisa terdeteksi lebih dini jika ada gejala autis.

MENGGAMBAR TERPOLA MEMASUNG KREATIVITAS ANAK

Biarkan ide-ide si prasekolah mengalir lewat karya gambar yang dibuatnya.

Tak ada seorang anak pun yang tidak gemar menggambar. Saat disodorkan secarik kertas, ia akan dengan sigap mencoret-coret apa yang ada dalam imajinasinya di atas kertas tersebut. Lantaran itu, menggambar dianggap dapat dijadikan sebagai ajang mengasah kreativitas anak. Tak sampai di situ saja, aktivitas ini juga didaulat dapat menstimulasi daya imajinasi, mengembangkan gagasan, menyalurkan emosi, menumbuhkan minat seni, sekaligus mengoptimalkan kemampuan motorik halus si prasekolah.

Sayangnya, kata Dra. Gerda K. Wanei, M.Psi, banyak guru di sanggar gambar dan lukis maupun guru di TK yang justru disadari atau tidak menghambat anak untuk mendapat segala manfaat menggambar yang tadi disebutkan. Mengapa? Karena mereka masih saja melatih anak dengan model menggambar yang sudah terpola. Menggambar gunung harus berupa dua "gundukan" yang di tengahnya menyembul matahari dan di depannya terhampar sawah. Dari tahun ke tahun, gambar pemandangan ya seperti itu.

Bahkan untuk soal mewarnai gambar pun terpola, warna awan selalu biru, sawah indentik hijau. Demikian pula dengan latihan gradasi warna, selalu bergradasi dari nuansa tebal sampai tipis. "Semua gambar anak jadi tampak seragam. Tak ada lagi seni yang menonjol. Tak ada lagi imajinasi yang betul-betul merupakan ekspresi jiwa anak. Semuanya sudah di-setting sedemikian rupa," keluh psikolog dari FKIP Program Studi Bimbingan Konseling Unika Atma Jaya, Jakarta ini.
Sayangnya, rata-rata orang dewasa langsung menganggap hebat gambar anak-anak yang disapu dengan warna yang "sesuai" secara merata, apalagi jika disertai gradasi khas ajaran sanggar. Tak heran, Gerda mengimbau agar guru di TK maupun di sanggar menggambar mengubah konsep atau metode yang terpola tersebut. Menurutnya, didaktik menggambar sebenarnya adalah memberikan kebebasan kepada anak untuk menciptakan sesuatu sesuai pandangannya sendiri. Jadi sudah selayaknya guru memberikan kesempatan kepada anak untuk berimprovisasi. Jangan sampai anak terus-menerus menggambar sesuatu yang sudah ada sebelumnya.

Dengan bebas berekspresi, anak bebas mengungkapkan apa yang ada di benaknya. Ia jadi tak canggung-canggung menggambar gunung dengan tiga gundukan dengan warna hitam, contohnya. "Jangan pernah menyalahkan gambar dan warna yang dibuat anak karena dia sendiri pasti memiliki alasan tertentu. Warna gunung hitam karena mungkin dia melihatnya saat malam hari sehingga gunung itu gelap."

DAMPAK TERPOLA

Jika konsep menggambar ter-pola ini terus dipelihara, menurut Gerda, dikhawatirkan kelak anak-anak mengalami hal-hal seperti berikut:

1. Tidak kreatif

Pola menggambar yang kaku membuat pemikiran anak jadi terstruktur, "Awan itu harus biru, kalau rumput ya hijau!" Lama-lama ia tak mampu mengembangkan dirinya dan jadi tidak kreatif. Aktivitasnya pun jadi monoton sehingga membuatnya mudah jenuh. "Duh, bosan banget nih, masa gambar pemandangan terus sih!" Sayangnya, ia tak tahu harus melakukan apa untuk mengusir kebosanan tersebut karena tak mampu menelurkan gagasan baru. Hal ini akan merembet dalam aktivitas lainnya sehari-hari. Akhirnya, anak tumbuh menjadi sosok yang tak percaya diri.

2. Tak mampu memecahkan masalah

Jika menghadapi masalah, anak tak mampu mencari solusi pemecahannya dan langkah-langkah alternatif. Solusi yang dijalankannya sama seperti yang biasa dilakukan orang lain ketika menghadapi masalah. Ujung-ujungnya kalau anak menemui masalah, dia akan panik dan tak mampu menyelesaikan masalah tersebut.

3. Tak bisa mandiri
Di kemudian hari, anak tak mampu mandiri, selalu bergantung pada orang lain, entah itu orang tua atau saudaranya. Akibat tak punya sikap yang jelas, maka anak mudah diintervensi atau dibujuk orang lain. Misalnya, diajak mencicipi narkoba atau ikut tawuran, ia mau saja. Sederhananya, sikap dan kepribadian anak sulit untuk menjadi kuat.

BAGAIMANA SEHARUSNYA?

Lalu, supaya belajar menggambar dapat memberikan manfaat secara optimal, bagaimana konsep yang mesti diterapkan? Berikut penjelasan Gerda:

1. Menggambar di ruang terbuka
Belajar menggambar bisa dilakukan di luar ruang. Malah konsep aktivitas luar ruang ini sudah banyak diterapkan banyak sekolah. Anak diajak ke sebuah taman, umpamanya, untuk selanjutnya dibolehkan menggambarkan apa saja yang dianggapnya menarik. Dari situ anak sekaligus belajar mengidentifikasi sesuatu, bahwa pohon pisang itu ternyata berbeda dari pohon mangga, misalnya.

2. Menggambar sesuai yang dipersepsikan

Jika di luar kelas tak memungkinkan, di dalam kelas pun pelajaran menggambar tetap dapat berlangsung. Yang penting, anak dibebaskan menggambar objek dari sudut pandang atau sisi yang dilihatnya. Jadi sah-sah saja kalau ia menggambar komputer tidak dari sisi depan melainkan dari samping kiri atau kanan. Dari situ masing-masing anak dapat mengembangkan daya kreativitasnya. Hasil gambarnya pun tidak akan seragam karena persepsi mereka juga berbeda-beda. Jadi beri saja sehelai kertas gambar. Lalu biarkan anak bebas mencipta atau menggambar sesuai imajinasinya.

3. Membentuk tim
Proses belajar menggambar saat ini kebanyakan masih bersifat individual. Untuk itu, latihlah anak untuk menggambar dalam bentuk tim. Konkretnya, satu kertas gambar dapat dikerjakan tiga orang dengan satu topik tertentu. Manfaatnya, anak dapat belajar berbagi tugas, bersosialisasi, berkolaborasi, belajar melawan sifat egois, dan mau menerima pendapat atau gagasan temannya.

Beri kebebasan pada masing-masing anak untuk memilih bagian kertas mana yang mau ia coret-coret sebagai gambaran idenya; bagian tengah, kiri atau kanan. Akan lebih baik, bila ia didorong untuk tak melulu memilih salah satu bagian kertas saja, misalnya bagian tengah terus, umpamanya. Sesekali minta ia mencoba menggambar di bagian pinggir. Faedahnya, anak jadi mengenal berbagai situasi dan kondisi. Namun terlepas dari itu, karya yang dihasilkan bersama bisa menjadi kebanggaan bersama pula. Apalagi kalau proyek tim ini berhasil menjuarai suatu lomba menggambar.

4. Jangan ada intervensi

Dalam perlombaan menggambar biasanya orang tua yang ikut-ikutan mengintervensi atau nimbrung mencampuri apa yang digambar anak. Dari yang sekadar tunjuk-tunjuk mengomandoi anak sampai ada yang membantu melengkapi gambar anaknya. Hal seperti itu sama saja dengan mendikte anak agar menggambar sesuai keinginan orang tua. Kalau hal ini jadi kebiasaan, dalam artian anak selalu didikte, dipandu, bahkan dibantu saat menggambar, jangan salahkan kalau kelak ia selalu menunggu instruksi orang tuanya dalam berbuat sesuatu. Anak takut melakukan sesuatu yang tak diminta orang tua karena takut salah. Dengan kata lain ia tetap kerdil sekalipun nanti sudah menginjak usia remaja atau dewasa karena selalu bergantung pada orang tuanya.

Untuk menghindarinya, mulai saat ini biarkan ia mencurahkan apa yang menjadi imajinasinya dalam bentuk gambar saat perlombaan berlangsung. Dari situlah anak belajar bertanggung jawab mengerjakan sebuah penugasan.

5. Beri pujian jangan celaan

Setelah anak menyelesaikan gambarnya, berilah pujian. "Gambarmu bagus sekali. Tapi mataharinya kok kurang bulat. Coba deh kamu buat lebih bulat." Hindari perkataan seperti, "Aduh, gambar kepala orangnya kok peyang sih!" Intinya, guru dan orang tua mesti menerapkan nuansa edukatif dalam rangka didaktik menggambar. Kalau hasil karya anak dipuji, dia akan merasa percaya diri dan merasa bisa melakukan sesuatu serta bangga dengan apa yang dilakukannya. "Jangan lihat hasil akhir bahwa gambar itu jelek tapi lihat prosesnya. Hargai setiap usaha anak dalam menggambar."

6. Biarkan anak memilih pensil warna sendiri

Ada kalanya guru menerapkan metode dengan cara hanya memberikan warna pensil yang terbatas kepada anak-anak. Padahal dengan begitu, justru anak tak bisa mengeksplorasi imajinasinya. Dia merasa dikekang dan tak bisa menciptakan sesuatu dengan optimal. "Sebaiknya berikan semua pensil warna dan biarkan anak memilih sendiri pensil warna yang disukai sesuai getaran jiwanya."

7. Ajak anak untuk menjelaskan karya gambarnya

Usai menggambar, mintalah si prasekolah untuk menjelaskan apa saja yang digambarnya. Upaya ini merupakan cara untuk melatih kemampuan berbicara dan keberanian mengungkapkan pikiran dan gagasannya dengan lisan.

PANDUAN TETAP PERLU

MESKI setiap anak harus diberi kebebasan untuk berimajinasi tapi kata Gerda, dalam didaktik menggambar, mereka tetap harus mendapatkan panduan belajar. "Anak juga jangan dibebaskan begitu saja. Kalau ia senang menggambar kapal terbang, ya jangan dibiarkan jika setiap hari dia selalu menggambar pesawat."
Jadi dalam kurikulum mesti ada topik atau tema-tema tertentu dalam menggambar. Suatu kali anak diminta menggambar situasi taman. Kali lainnya, menggambar tentang anggota keluarganya, dan sebagainya. "Jadi anak menjalani proses belajar menggambar sesuai dengan arahan yang benar."

MENDETEKSI KEPRIBADIAN DENGAN WARNA

MENURUT Gerda, dalam kajian psikologi, hasil gambar bisa digunakan untuk mendeteksi minat dan bakat seorang anak. Begitu pun mewarnai yang juga bisa menguak kondisi psikologis atau kepribadian anak. Anak yang memilih warna yang ceria seperti kuning, merah, atau warna ngejreng lainnya bisa dikatakan sebagai anak yang ekstrover (terbuka). Sebaliknya, anak yang selalu memilih warna bernuansa gelap, seperti hitam, cokelat, atau abu-abu dikategorikan sebagai anak introver (tertutup). Dengan kata lain, mewarnai dapat menunjukkan bagaimana nuansa hati atau batin si anak. Anak yang selalu mewarnai gambar dengan warna-warna gelap merasa dirinya "gelap".
Sedangkan anak yang hatinya ceria akan memilih warna yang betul-betul hidup.
Meski begitu, introver maupun ekstrover bukan "cap" seumur hidup karena dapat berubah sesuai pengaruh lingkungan. Jika si introver selalu dirangsang untuk bergaul, beradaptasi dengan orang lain, bisa jadi ia berubah menjadi ekstrover. Sebaliknya, anak yang tadinya ekstrover bisa juga berubah menjadi introver. Katakanlah anak yang dulunya ekstrover, akibat selalu dimarahi orang tuanya tak menutup kemungkinan menjadi anak pesimis dan tertutup.(tabloid-nakita)

Adakah waktu bagi anak untuk melanggar disiplin ?

Selama tidak berlebihan, wajar kok anak melanggar disiplin. Kendati begitu, orang tua tetap wajib mengarahkannya kembali.

Terus terang saja, bagi banyak orang tua, Lebaran menyimpan kekhawatiran tersendiri. Soalnya, bakal banyak pelanggaran disiplin yang dilakukan anak-anak di tengah perayaan hari raya tersebut. Di antaranya sikap yang cenderung menghambur-hamburkan uang, makan makanan yang dipantang, dan main tak kenal tempat dan waktu. Kekhawatiran ini bisa dimaklumi karena membenahi soal disiplin di kemudian hari bukan perkara mudah.

Fanny, Psi., dari Essa Consulting Group, menegaskan ada beberapa faktor yang memunculkan pelanggaran-pelanggaran tersebut. Salah satunya adalah karena suasana Lebaran memang spesial dibanding hari-hari lainnya. Belum lagi pertemuan dengan saudara-saudara dekat yang mungkin sudah cukup lama tak pernah jumpa. Pertemuan inilah yang memberi peluang pada anak untuk meniru sikap dan perilaku kurang baik dari kerabatnya.

Fanny mengingatkan adanya beberapa hal yang perlu diperhatikan kala anak melanggar disiplin. Salah satunya perbedaan nilai dan aturan yang dianut masing-masing keluarga. Contohnya, ada keluarga yang mengharuskan penggunaan sendok dan garpu saat makan, sedangkan keluarga lainnya menganggap penggunaan tangan lebih nyaman. Itulah mengapa orang tua harus memandang perbedaan aturan secara bijak.

Namun menurut Fanny, orang tua tak perlu kelewat khawatir bahwa pelanggaran semacam ini akan bersifat menetap. Apalagi di usia prasekolah, anak masih begitu mudah menyerap dan meniru semua sikap dan perilaku temannya. Hanya saja proses peniruan ini umumnya tidak bertahan lama asalkan orang tua tetap konsisten pada pola aturan yang diterapkan di rumah.

ANEKA BENTUK PELANGGARAN

* Mengonsumsi makanan yang dipantang

Lebaran identik dengan tersajinya aneka makanan lezat dan minuman penggugah selera. Belum lagi penataannya yang memang terkesan istimewa. Masalahnya, ada anak yang karena mengidap alergi atau suatu penyakit diharuskan berpantang terhadap makanan tertentu. Namun, kurang bijak rasanya bila orang tua menerapkan aturan secara kaku selagi semua orang bersenang-senang merayakan hari istimewa ini. Anak pun berhak menemukan kesenangan, termasuk menyantap makanan lezat. Nah, agar tak merusak suasana sementara kondisi anak juga tidak terganggu, orang tua perlu mengambil jalan tengah untuk menyiasatinya.

- Jangan biarkan anak mencicipi semua makanan sesukanya sampai kekenyangan.

- Batasi dengan mengambilkan porsi makanan sesuai "ukuran" perut anak.

- Untuk cake, cukup ambilkan seiris kecil saja. Begitu juga dengan minuman, terutama jenis yang bersoda. Berikan dalam gelas kecil saja.

- Khusus untuk anak yang menderita penyakit serius dan diwajibkan pantang makanan tertentu, sebaiknya orang tua membawakan makanan tersendiri dari rumah. Agar anak tak merasa aneh, usahakan tampilan makanannya mirip dengan makanan yang disajikan.

- Terhadap anak-anak khusus seperti ini, orang tua tetap mesti memberi penjelasan. "Kamu kan diabetes, makanya kamu enggak boleh makan kue-kue manis terlalu banyak," misalnya.

* Boros dan jajan sembarangan

Bagi anak, Lebaran jadi lebih terasa istimewa karena di hari ini mereka umumnya panen alias mendapat banyak salam tempel dari orang-orang yang dituakan. Mendapat uang secara instan dalam jumlah yang cukup besar biasanya membuat anak jadi cenderung boros. Apalagi anak tahu itu bukan uang saku dan ia merasa berhak penuh untuk berbelanja sesukanya.

- Rem perilaku borosnya. Sampaikan bahwa meski berhak menikmati uang jajan lebih dari biasanya, tidak berarti ia boleh menghabiskan uangnya saat itu juga.

- Ingatkan anak untuk tetap menggunakan skala prioritas kebutuhan untuk menentukan mana jajanan dan mainan yang memang layak dibeli dan mana pula yang tidak.

- Mintalah anak untuk menyisihkan sebagian uang amplopnya untuk ditabung. Mau tidak mau orang tua harus langsung turun tangan. Namun agar anak tidak merasa uangnya dirampas, orang tua pun mesti konsisten dengan janjinya untuk menyimpankan sebagian uang tersebut. Jadi, ya jangan dipakai untuk selain kebutuhan anak.

- Tetap arahkan anak untuk tidak jajan sembarangan dengan selalu mengutamakan jajanan yang benar-benar bersih dan menyehatkan.

* Mendadak nakal dan agresif

Hampir setiap keluarga punya kebiasaan untuk mengunjungi sosok yang dituakan. Tak heran kalau ajang silaturahmi tersebut berubah jadi pesta reuni keluarga besar, termasuk mereka yang tinggal di luar kota.

Berkumpulnya anak-anak sebaya dari berbagai latar belakang keluarga dan daerah tempat tinggal ini tak jarang menimbulkan masalah tersendiri. Yang pasti sangat mungkin terjadi peniruan sifat oleh anak yang satu terhadap anak lainnya. Termasuk beberapa kebiasaan baru yang boleh jadi tidak berkenan bagi keluarga inti si anak. Semisal kebiasaan ngomong jorok, bicara dengan nada keras, dan agresif.

- Apa pun penyebabnya, orang tua tetap harus mengarahkan anak bertutur santun dan sopan.

- Jangan pernah menunda untuk menegurnya. Lakukan saat itu juga, saat si prasekolah kedapatan berkata kasar atau jorok.

- Hal yang sama juga berlaku bila anak mendadak menunjukkan beberapa sikap dan perilaku negatif gara-gara meniru sepupunya.

- Jangan kaget bila usai Lebaran anak jadi lebih aktif daripada biasanya. Bukan tidak mungkin, anak jadi senang melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukannya, seperti berjingkrak-jingkrak di atas kursi, lompat dari atas pohon, berguling-guling di taman, atau saling melempar makanan dengan saudaranya.

- Selama perilaku ini dianggap tidak mengganggu dan membahayakan, biarkan saja. Namun kalau sudah kelewatan, kebiasaan ini mesti langsung diluruskan. Tentu dengan mengatakan alasan logis. Contohnya, "Kamu enggak boleh teriak-teriak karena nenek sedang tidur."

- Selain itu, sediakan tempat alternatif bermain agar anak tidak kecewa dan tetap bisa menyalurkan energinya lewat bermain.

* Terlalu lama nonton teve

Yang juga kerap terjadi, pembatasan jam nonton teve jadi terabaikan. Kalau di rumah di hari-hari biasa anak hanya dibolehkan nonton 1-2 jam sehari, kini di hari Lebaran bisa-bisa anak melotot di depan layar kaca selama berjam-jam, bahkan tak jarang sampai larut malam bersama para sepupunya. Belum lagi batasan mengenai objek yang boleh ditonton maupun tidak. Tentu saja aturan yang sudah baik harus kembali dipatuhi.

- Bersikaplah lebih longgar. Biarkan sesekali anak nonton lebih lama dari biasanya. Namun, tetap perhatikan jam tidur dan jam makannya agar jangan sampai terlewat yang bisa memicu anak jadi rewel atau malah jatuh sakit.

- Bersikap longgar di hari raya tidak berarti membebaskan anak nonton tayangan apa saja yang bukan diperuntukkan bagi anak seusianya. Artinya, orang tua tetap melakukan seleksi acara ataupun film yang akan ditonton anak.

- Supaya anak tidak terus-menerus memelototi teve, carikan alternatif kegiatan yang bisa mengasah kecakapan fisiknya, seperti bermain bola, lompat tali, petak umpet dan sebagainya.

* Tidur larut malam

Salah satu kebiasaan yang paling sering dilanggar adalah jam tidur yang mundur jadi semakin larut. Banyaknya anak sebaya pasti membuat betah bermain lama-lama.

- Agar jam tidur anak tidak terganggu, orang tua mesti pandai-pandai bernegosiasi kapan anak harus tidur.

- Meski sah-sah saja memberi kelonggaran kepada anak, tapi jangan biarkan ia tidur terlalu larut. Terlambat tidur bisa mengganggu aktivitas keesokan harinya. Kelonggaran cukup diberikan 1-2 jam dari jadwal biasanya.

- Perhatikan juga kondisi fisik si prasekolah. Jika terlihat lelah dan mengantuk, meski ada kelonggaran, tak ada salahnya orang tua meminta anak untuk segera tidur.

- Negosiasi ini juga mesti melibatkan dan dipatuhi semua anak seusianya. Jangan sampai kesepakatan tersebut jadi sia-sia. Soalnya, kecil kemungkinan si prasekolah bisa tidur jika anak-anak lainnya tetap asyik bermain.
(tabloid-anak)

RAIH HASIL DENGAN KEPRIBADIAN STABIL

Berbekal kepribadian yang baik, seseorang bisa menyesuaikan diri sesuai tuntutan lingkungannya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan agar si prasekolah memiliki kepribadian yang stabil? Rahmi Dahnan, S.Psi., punya jawabannya. Menurutnya, ada upaya-upaya khusus yang harus dilakukan orang tua agar anaknya memiliki kepribadian ideal.

Sebelum mengupas lebih jauh apa saja upaya tersebut, psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Jakarta ini mengingatkan arti kepribadian atau personality yang berasal dari kata persona, yaitu topeng. Artinya, sikap yang secara fisik ditunjukkan seseorang sering tidak sesuai dengan kondisi asli dari dirinya. Misalnya, anak yang kehausan belum tentu mau diberi minuman. Padahal si anak ingin sekali menikmati minuman tersebut. Penolakannya hanya karena ia malu.

Secara ilmiah, kepribadian sendiri merupakan perilaku maupun kebiasaan individu yang terkumpul dalam diri seseorang. Perilaku tersebut digunakan individu yang bersangkutan saat menunjukkan reaksi sebagai upayanya menyesuaikan diri dengan lingkungan. Yang pasti, kata Rahmi, kepribadian bersifat dinamis. Maksudnya, selama anak mau belajar, maka semakin terbuka peluangnya untuk memiliki kepribadian yang kian stabil. Di lain pihak, beban hidup yang berat sangat mungkin akan menggoyahkan kepribadian yang awalnya sudah stabil.

Salah satu poin penting yang menjadi ciri kepribadian stabil adalah mampu menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan dan pola kehidupan. Selain itu, perilakunya selalu positif, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan sosialnya. Tak heran jika ia mudah diterima di lingkungan mana pun. Saat dewasa dan sudah berkeluarga, kehidupan rumah tangga senantiasa rukun dan damai.

Tentu saja kepribadian ideal seperti itu belum tentu mudah dimiliki, termasuk oleh buah hati kita. Meski begitu, dengan usaha-usaha tertentu orang tua bisa mewujudkannya. Walau tidak sempurna, tapi bisa mendekati kriteria tersebut.

Pola asuh yang diterapkan orang tua, tandas Rahmi, sangat membantu pembentukan kepribadian yang stabil. Anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter, misalnya, akan sulit membentuk dirinya jadi sosok yang mandiri. Ia pun sulit mengambil keputusan karena selalu bergantung pada bantuan orang tua. Begitupun sebaliknya, dengan pola asuh permisif yang serba membolehkan, anak jadi binal. Ia merasa bebas melakukan apa saja, bahkan tanpa sedikit pun takut dilarang atau dimarahi orang tua.

Idealnya, orang tua menerapkan pola asuh yang demokratis. Anak mesti mematuhi aturan yang telah disepakati bersama orang tuanya. Namun anak juga punya kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri.

MENEMPA KEPRIBADIAN STABIL

Berikut beberapa upaya yang disarankan Rahmi bagi para orang tua agar si prasekolah memiliki kepribadian stabil:

1. Mengendalikan emosi

Salah satu tolok ukur kepribadian yang baik adalah kematangan emosi. Semakin matang emosi seseorang, akan kian stabil pula kepribadiannya. Di sini, pengendalian emosi merupakan kuncinya. Kapan dan dalam situasi apa dia bisa mengekspesikan emosinya, serta kapan mesti bersabar. Ketidakmampuan mengendalikan emosi, terutama emosi negatif seperti marah, bisa menghambat interaksi anak dengan lingkungannya.

Anak bertemperamen tinggi biasanya sulit bergaul baik dengan teman-temannya. Hal-hal sepele bisa berkembang menjadi persoalan besar. Gara-gara gurauan, contohnya, bukan tidak mungkin anak-anak jadi saling mengejek. Kalau akhirnya salah satu memukul temannya, yang lain tentu enggan bergaul dengannya.

Jika pola asuh keluarga mendukung perilaku ini, dapat dipastikan temperamen tinggi menetap sampai anak tumbuh dewasa. Padahal kalau sifat ini terus bercokol, sangat mungkin anak kesulitan beradaptasi dengan lingkungannya. Konflik yang terjadi, baik di antara rekan kerja maupun dengan atasan, sangat mungkin akan sering terjadi. Akibatnya, kariernya pun akan sulit berkembang. Rugi sendiri kan?

Sementara, anak yang tidak bisa mengungkapkan emosi juga sama buruknya. Anak tipe ini sejak masih kecil biasanya selalu menjadi pengekor alias ikut-ikutan apa saja yang dilakukan orang lain dan teman-temannya. Apakah dia sendiri suka atau tidak pada pilihan itu, agaknya tidak menjadi persoalan penting.

Karakter lain yang juga kental mewarnai sosok berkepribadian kurang stabil adalah kecenderungan untuk selalu mengalah. Jika suatu saat ada teman yang mengganggu, si anak tidak berani menegur, apalagi marah karena takut kehilangan teman. Ungkapan kesedihannya pun jarang diekspresikan pada orang lain. Mungkin dia malu atau takut dianggap sebagai anak cengeng.

Untuk anak usia prasekolah, kemampuan mengekspresikan diri bisa dimulai dengan mengajari anak mengungkapkan emosinya. Saat kesal karena ayah tidak memenuhi janji membelikan mainan, boleh-boleh saja ia melampiaskan rasa kesalnya. Entah dengan sikap cemberut atau bahkan menangis.

Hanya saja pelampiasan rasa kecewa tersebut jangan sampai kebablasan. Contohnya anak boleh marah, tapi jangan sampai mengamuk apalagi merusak barang-barang yang ada di rumah. Caranya, ajari pula si anak untuk mengungkapkan isi hatinya melalui kata-kata, "Aku enggak suka Ayah bohong." Namun hendaknya beri pengertian agar anak tidak mengancaman, apalagi berbahasa kasar.

Anak-anak yang kurang bisa mengekspresikan kemarahannya harus pula diajari bersikap asertif, yaitu sikap untuk menjaga hak-haknya tanpa harus merugikan orang lain. Saat mainannya direbut, kondisikan agar anak melakukan pembelaan. Entah dengan ucapan, semisal, "Itu mainan saya. Ayo kembalikan!", atau dengan mengambil kembali mainan tersebut tanpa membahayakan siapa pun.

Rahmi juga berpesan agar orang tua membebaskan anak mengekspresikan emosi. Jangan membuat pembatasan-pembatasan berdasarkan jender. Cukup sering kan kita mendengar olok-olok terhadap bocah laki-laki, "Ih malu dong! Masa anak laki menangis sih?" Pembatasan-pembatasan semacam itu tentu akan semakin menyulitkan anak laki-laki mengekspresikan emosinya. Padahal, mengekspresikan emosi secara proporsional akan berdampak positif, yaitu melepaskan ketegangan. Boleh jadi orang yang sering memendam emosinya akan cepat tegang dan mudah stres.

2. Memupuk kepercayaan diri

Kepercayaan diri menentukan kualitas hidup seseorang dan ini juga merupakan salah satu tolak ukur kepribadian. Dengan kepercayaan diri yang tinggi dapat dipastikan seseorang bisa mengarungi hidupnya dengan baik. Setidaknya ia bisa menerima tantangan dan mengemban tanggung jawabnya tanpa dikuasai stres dan kecemasan.

Dalam bergaul, ia tidak agresif tapi juga tidak pasif. Anak mampu memosisikan diri di antara kedua sifat tadi. Bukan pemalu, tapi juga tidak terlalu banyak menonjolkan diri sendiri. Individu dengan kepribadian seperti ini tentu relatif mudah diterima lingkungan karena sifatnya yang mudah bergaul. Perbedaan karakter yang dimilikinya bukanlah hambatan. Ia bisa menyelami setiap karakter yang berbeda, dan menemukan titik temu hingga bisa berkomunikasi.

Sedangkan di sekolah, anak mampu mengaktualisasikan dirinya. Prestasi akademisnya lumayan bagus, sementara prestasi nonakademisnya pun bisa dibanggakan. Bakat dan minat yang dimilikinya bisa berkembang. Ia percaya dirinya memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Menempa anak menjadi sosok yang mandiri tentu bukanlah tugas sederhana. Akan tetapi hal itu bisa disiasati dengan menempa kemandirian si prasekolah di rumah. Tidak usah dimulai dengan hal yang berat, cukup dengan meminta anak mengerjakan rutinitasnya sehari-hari sendiri. Mulai memakai sepatu, baju, dan makan. Jika aktivitas ini sudah bisa dilakukan anak secara mandiri, lanjutkan ke tahap berikutnya yang lebih berat, seperti membereskan tempat tidur, meja belajar, lalu kamarnya. Ingat, kemandirian bisa memupuk kepercayaan diri anak. Pasalnya, kemandirian sangat erat dengan kemampuan anak untuk melakukan sesuatu.

3. Sosialisasi dan adaptasi

Jangan pula mengabaikan kemampuan bersosialisasi, sebab seberapa jauh anak bisa meniti kesuksesannya amat ditentukan oleh banyaknya relasi yang sudah dijalin. Banyaknya teman juga membuat anak tidak gampang stres karena ia bisa lebih leluasa memutuskan kepada siapa akan curhat.

Agar kemampuan bersosialisasi anak bisa lebih terasah, sedini mungkin orang tua mesti membukakan jalan baginya. Mulailah ketika usia anak menginjak batita, saat anak sudah bisa dikenalkan pada sebayanya, apakah itu sepupu, tetangga, atau anak-anak di kelompok bermain. Silaturahmi antarkeluarga pun sangat efektif membina sosialisasi anak.

Ketika anak menginjak usia prasekolah, orang tua bisa bertanya siapa teman-teman baiknya di "sekolah". Sesekali ajaklah teman baiknya itu bertandang ke rumah. Kemampuan sosialisasi ini bisa mengasah kemampuan beradaptasi. Anak yang senang bersosialisasi bisa mengenal banyak orang berikut sifat, karakter, kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ia bisa cepat bergaul dengan berbagai tipe orang.

4. Mampu mengatasi masalah/konflik

Sulit dipungkiri, kehidupan memang penuh dengan berbagai konflik. Oleh karenanya, kemampuan memecahkan konflik merupakan modal yang harus dimiliki anak. Semakin baik kemampuannya dalam hal ini, maka kepribadiannya akan semakin stabil. Anak yang pandai mengatasi konflik umumnya akan mudah pula mengatasi masalah dalam hidupnya, entah di sekolah, di rumah, ataupun kelak di tempat bekerja.

Tentu saja, bagi anak usia prasekolah, bantuan orang tua masih sangat diperlukan dalam mengatasi konfliknya. Saat anak mencoba memukul teman, contohnya, orang tua jangan langsung melakukan intervensi. Lebih baik, cegahlah supaya baku pukul tidak terjadi, sambil mengarahkan anak untuk berbaikan kembali dengan temannya. Jika anak sudah mengetahui konsep ini, diharapkan ia akan mudah menyelesaikan konfliknya sendiri. Jangan lupa juga, konflik yang terjadi di usia ini bersifat spontan. Tidak ada rasa dendam dalam diri anak setelah konflik terjadi.

5. Bersikap fleksibel

Anak mesti diajari agar tidak bersifat kaku. Jika ada rencana yang gagal, ia harus mampu mengantisipasinya dengan rencana lainnya. Sikap kaku hanya akan meningkatkan kecemasan dalam diri anak. Contoh konkretnya adalah saat anak akan membeli baju favorit di sebuah mal. Biasakan ia memiliki pilihan lain kalau-kalau baju kesukaannya itu habis terjual. Dengan pembiasaan semacam ini, anak diajari berpikir alternatif.
(tabloid-nakita)