Belajar piano (klasik)
ke sekolah musik ?
A : Yang jelas kalo privat lebih mahal daripada sekolah musik..
hehehe..ups.. kecuali kursusnya di sekolah musik ngetop yach, kayak
YMI, farabi,dll, dsb di sekolah musik kayaknya juga bisa privat juga
deh.. (satu guru untuk satu murid). Enaknya di sekolah musik, kita
nggak perlu punya alat musiknya..
sedang kalo privat, minimal musti punya alatnya dulu kaan..
-d-
A: Kalo menurutku sih lebih enak les privat., bisa lebih akrab sama
gurunya., jadi enak belajarnya. Dan kalo di rumah waktunya bisa
agak2 molor (nambah)., kalo di sekolah kan nggak bisa.
-n-
A: IMHO,
Setiap orang pasti punya kecintaan sama musik. Ini perlu dilatih dan
dikondisikan. Pengenalan musik bisa dimulai sejak masih dalam
kandungan.
Kesukaan akan jenis musik tertentu akan terbentuk karena kebiasaan
dan lingkungan. Kalau tiap hari dipasangin musik jazz, dia bisa suka
musik jazz seperti Andin, for example. Kalo tiap hari PRT/BS nya
pasang dangdut ya dia bisa jadi sukanya dangdut....hehe..
Kenapa musik klasik ? Engga juga lah, engga musti. Menurut aku sih,
semua jenis musik bagus aja, even dangdut... Yang bagus sih, anak2
sebaiknya dikenalin sebanyak mungkin warna musik. Menurut aku,
musiknya Disney itu bagus sekali, warna musiknya juga beragam, ada
klasik, jazz, ragtime, blues, rock&roll dll. Ada yang koleksi kaset
Disney Classic '60 years of musical magic' ? Kalo ngga salah, ada 6
vol. dan isinya lagu2 dari film2 disney dari jaman bambi, sampe lion
king, pocahontas, beauty and the beast...semua deh..
Apa harus belajar main musik ? Sebenernya engga juga. Musik bagian
dari art yang mengembangkan otak sebelah ( kanan/kiri ya? ). Sistem
pendidikan di sekolah sekarang ini menurut aku kurang banget mengasah
kreatifitas, dan jadinya perkembangan otaknya jadi nggak balance.
Jadi selain musik, bisa aja anak2 belajar nari, lukis etc. Cumaaa,
seneng kan kalo bisa main musik...:), really bisa ngilangin bete....
Kenapa piano klasik ? pertimbangannya, piano itu range nadanya
paling 'lebar' dibandingin intrument musik yang lain, selain itu
paling mungkin dipelajari oleh anak2. Dan kalau punya basic piano
klasik, ini bisa jadi fondasi yang bagus untuk mempelajari instrument
musik yang lain. Selain itu, menurut penelitian, musik klasik itu
bisa mencerdaskan anak toooh...
Lalu ngejawab pertanyaannya "private lesson atau sekolah musik ? "
aku bedain 'private' di sini adalah private di rumah aja ya,
bukan 'private' di sekolah musik. Karena di tempat aku ngajar, yang
namanya belajar piano klasik ya private, cuma sendirian.
Aku juga ngajar private di rumah. Kalau di rumah nggak ada kamar
khusus untuk piano, banyak gangguannya. Kadang2 anaknya lagi belajar,
temen2nya di luar manggilin ngajak maen otopet...weleh..buyar kan
konsentrasinya. Sepanjang gangguan spt tadi bisa diatasi, ya oke aja.
Tapi mungkin, ini depend on gurunya, kalo privat itu bisa nggak ada
ujian atau homeconcertnya kali ya, kadang2 ini perlu juga untuk
motivasi.
Nggak ada kata terlalu tua untuk belajar ? muridku sendiri sekarang
ini rangenya antara 6 - 38 taun...gimana masih masuk nggak ?
hihi..yang di atas 30-an itu ibu2 yang awalnya belum pernah sama
sekali belajar instrument musik. Dengan niat dan semangat, sesudah
setaun belajar bisa bagus juga lho mainnya.
-seorang guru piano-
A; Anak-anak saya mulai belajar musik di kelas musik untuk balita.
Kebetulan sekolah musik di Sunter Mall, punya kelas seperti ini.
Kelas balita ini untuk anak umur 3 - 5 tahun (anak saya mulai dari
umur 3 dan 2½ tahun). Program untuk musik balita lamanya ± 1½ tahun,
tetapi kalau dianggap cukup berbakat, bisa lompat kelas dan masuk ke
kelompok modern course. Modern course ini belajar piano dengan
menggunakan keyboard, karena dengan keyboard, anak-anak bisa belajar
sambil bermain, suaranya tidak monoton seperti piano. Setelah lulus
modern course, yang juga 1 tahun lamanya, baru masuk ke privat untuk
belajar piano klasik.
Kami memilih sekolah musik ini dibanding dengan KMA Yamaha dengan
pertimbangan:
1. Anak sudah mulai dikenalkan dengan musik mulai umur 3 tahun (KMA 4
tahun). Musik balita I programnya seperti kelompok bermain, anak-anak
belum memegang instrumen musik, tapi baru pengenalan. Anak-anak
diajarkan irama, chord sederhana, pengenalan not balok (C - G). Musik
balita II, anak-anak baru mulai belajar memegang instrumen perkusi,
misalnya glockenspiel, dan bermain musik di dalam kelompok (ensemble).
2. 1 kelompok modern course paling banyak 4 orang (KMA 8 - 12 orang).
Bayangkan kalau dalam 1 jam, muridnya ± 10 orang, perhatian gurunya
tentu berbeda dengan yang muridnya hanya 4 orang. Kelasnya anak
pertama dulu malah hanya tinggal 2 orang karena 2 temannya yang lain
mengundurkan diri, jadi seperti semi-privat.
Anak pertama saya mulai les umur 3 tahun 3 bulan, kebetulan dia
langsung dinaikkan ke modern course setelah lulus dari balita I. Jadi
dia mulai belajar modern course sejak umur 4 tahun. Untuk latihan di
rumah, kami menggunakan piano, supaya jari tangan lebih kuat.
Pertamanya memang dia agak bingung. Di rumah sudah lancar, tetapi di
tempat les tidak bisa, akhirnya kalau latihan di rumah, harus gantian
piano & keyboard. Dia sudah lulus modern course, sekarang dia les
privat piano klasik (tidak di sekolah musik lagi). Kalau memang dia
berbakat dan berminat terus main piano, rencananya nanti kalau naik
kelas I, baru mulai les di sekolah musik lagi. Anak kedua (4 tahun)
sekarang masih di modern course.
-seorang dokter, ibu 2 orang anak-
Setahu saya, umur 4 tahun itu belum efektif untuk diajar musik. Ini
menurut pengalaman istriku selama /- 11 tahun sebagai guru sekolah
musik Yamaha dan guru piano/clavinova/keyboard private.
Umur yang efektif adalah mulai 5 tahun. Kalau udah 7 tahun, sudah
agak telat (tapi better late than never).
Yang terpenting, masih menurut istri (sebab pengetahuan saya tentang
musik bisa dibilang minimalis) adalah bahwa si anak harus
dimotivasi untuk menyukai musik dengan pengenalan.
Metodenya tidak boleh kayak cara sekolah biasa yang cenderung
authoritarian, yang harus begini atau begitu (agak dipaksakan ke
anak), tapi harus dengan cara bermain, fun, dan mendorong
motivasi/minat anak terhadap musik.
Dan bisa lebih efektif kalau pake sistem reward & penalty (reward
berupa pujian, hadiah2 yang kelihatannya kecil tapi "besar" untuk
anak tsb: misalnya pemberian stiker khusus yang lucu/cute kalo
mainnya bagus, pemberian coklat, cookies, barang pernik-pernik kecil.
Si anak akan senang sekali dan termotivasi untuk main sebagus-
bagusnya.
Kalau penaltynya, tidak dikasih reward di atas, dan ditegur dengan
halus:
misalnya: miss Ika (nama istriku) sedih deh kalau Azriel (misalnya)
mainnya kurang bagus. Dibagusin yach, nanti miss bangga dan senang
dan Papa & Mama pasti senang juga. Nanti kalau mainnya bagus, ntar
dikasih stiker/pernik/dll)
Banyak anak yang dilatih musik dengan salah, sehingga menimbulkan
trauma atau keengganan anak untuk berlatih, karena merasa gak fun,
dan merasa dipaksakan. Kalau pun ortunya memaksakan, memang si anak
bisa juga, tapi prosesnya lama bisanya, dan keahlian musiknya &
jumlah lagu yang bisa dimainkan tentunya terbatas (tidak optimal).
Tentunya akan buang waktu, tenaga, dan Rp Rp Rp.
Dan kalau anaknya udah besar dan gak ngeles lagi, keahliannya akan
hilang (meskipun tidak total), karena mainnya akan banyak salah,
bahkan banyak lupa teknik-tekniknya. (karena pasti akan jarang
latihan; motivasinya kurang)
Dengan adanya minat pada anak, maka dengan sendirinya anak tsb akan
mau rajin latihan. Sehingga lebih efektif, hasil otimal, dan
cepet naik tingkat. Nah, seperti kata [deleted], latihan menuju
kesempurnaan (practice makes perfect).
Soal bakat memang nomor 2, yang penting minat & latihan. Tapi, kalo
memang bakat musik kurang, paling-paling hanya bisa kualitasnya
untuk hobby pribadi dan performancenya bagus (tapi tidak bisa
excellent, pentas/professional punya quality).
Oya, mengenai private seperti yang ditulis Bu D "biayanya itu lho
mahal sekaliiii...", sebenarnya relatif tergantung dari cara
memandangnya. Memang kalau sekolah musik, pasti lebih murah. Tapi
trade-off dengan efektifitas dan kualitas dari keahlian musik
anak tsb. Sebab proses belajarnya rame-rame ( 1 kelas bisa 4-6
murid), dengan waktu terbatas hanya 1 s/d 1,5 jam. Tentunya waktu
intensive per murid, harus dibagi rata. (paling banter 10 s/d 15
menit, full konsentrasi/fokus per anak)
Sedang untuk private, 100% waktu dan perhatian bisa dicurahkan ke
murid tsb.Hasil & kualitas pasti lebih di atas anak yang hanya
ikut sekolah musik (dengan sistem kelas yang beramai-ramai). Dan hal
yang penting yang biasa dilupakan dalam memilih Sekolah musik Vs
Private Lesson adalah hubungan antara guru dan murid harus baik, pada
umumnya les privat, hubungan guru dan murid sangat baik (memang
tergantung gurunya & personalitynya). Sebab hubungan yang baik, salah
satu penunjang/faktor utama si anak termotivasi dan rajin berlatih.
Nah kembali ke soal biaya, terang saja lebih mahal. Karena income si
guru khan hanya dari 1 orang, tapi waktu, tenaga, dan perhatian
yang diberikan lebih dari les biasa/bersama-sama. Kalau di sekolah
musik, guru khan dapat income dari jumlah muridnya tapi masih
harus dipotong dengan biaya sekolah musik (% pemotongan tergantung
sekolah musik dan tergantung nego dengan owner)
A: IMO, sebetulnya gak bisa main alat musik apapun juga gak
masalah...yg lebih penting mungkin..suka seni..apapun seni itu..
Musik itu paling gampang buat dikenalin ke anak..lewat lagu, bahkan
tidak perlu kaset, kita nyanyi juga jadi.
Ya..klu bisa alat musik emang lebih baik sih, tp ya gak perlu
dipaksa..siapa tau ternyata dia 'gak kesitu'...
Kenapa aku bilang gini. Karena aku waktu dulu, setengah mati pengen
bisa maen piano!!! Tp entah kenapa..kelupaan akhirnya...
Tp sekarang aku bersyukur w/p gak bisa main piano apresiasi seniku
lumayan lah, not bad gitu..... (mungkin krn aku pernah ikutan les
tari, gambar, vocal gr, pad.
suara..sandiwara-sandiwaraan (akting dikit).. kali ya) Tp semuanya
gak ada yg nyuruh..krn aku suka aja..inginnya ke sana...
Aku pernah punya temen, yg sama ortunya didaftarkan salah satu
kegiatan seni.. Ya..mungkin krn di keluarganya juga gak ada atmosfer
seni...ya sudah..setelah les berakhir, berakhir juga semuanya...
Dikeluargaku yg bisa alat musik hy adikku yg laki-laki.. yg perempuan
bbrp bisa nyanyi..selebihnya pencinta musik aja..
Ayahku sejak aku mulai inget, tiap bangun pagi itu kami disambut
musik..klasik, ataupun paduan suara jerman..(aku gak ngerti tp enak
deh gak kayak paduan suara Dharma wanita sini..jauh)...atau Andy
Williams..Bila kami membeli kaset, selalu dibimbing beliau...
Sampe sekarang aku tuh paling nikmat, klu lagi libur,..bangun
pagi..langsung stel musik...gak perlu stel TV..nikmaaattt..deh...
Tp sedihnya klu aku denger bbrp lagu lama 'kami' itu , aku suka inget
alm. ayahku..sedih sekali ibus, saya suka tiba-tiba ingin keluar air
mata..dimanapun saya berada..Klu denger lagu 'kami' krn gak tau
judulnya (suka lupa), spontan aku suka bilang "Eh, ini lagu papap".
(TUh kan jadi sedih ah..)..phewww...
Tp aku males ke pameran lukisan....bentrok sih sama hobby yg
lain..pengen beli ..:((..kan mahal.... Crosstitch aja deh di
rumah..... Udah lama aku pengen belajar ngelukis terutama cat air..tp
Nadeem masih kecil..bisa amburadul...
Perlu diingat juga ada lho musikus (jenius) yg keliatannya gak stabil
emosinya..(vokalis Nirvana yg overdosis?).
-p-
A: Pengalamanku pertama kali ikut les piano di sekolah musik Yamaha,
trus kemudian privat. Sebenernya ngga ada bedanya, tetep aja kita
kursusnya sendirian ngga ama murid yang lain, bagus nggak nya
tergantung gurunya...biasanya semakin bagus dan terkenal semakin
mahal. Dan bisa nggaknya kita juga tergantung kedisiplinan murid (aku
dulu paling sering mbalelo)serta bakat sih, soalnya menurut aku,
piano klasik itu harus disiplin.
Adikku guru Piano di YMI Bogor, dia itu disiplin banget ama muridnya,
dan menurut dia, guru itu bisa membaca bakat anak, jadi kalo dia liat
muridnya berbakat tapi males...wuih bisa agak ketat dia nerapin
disiplinnya tapi kalo keliatan emang muridnya udah mentok
bakatnya...ya ngga seketat yang pertama.
-R-
Memilih Sekolah Untuk Anak
Namun sekarang tidak sulit untuk mencari,karena sudah banyak sekolah yang mengembangkan kurikulum dan dan kwalitasnya, selain karena banyaknya persaingan juga disesuaikan dengan kebutuhan anak yang semakin banyak untuk menunjang pengetahuan dan wawasannya. Walaupun begitu orang tua tetap harus cermat dan teliti agar sekolah yang menjadi pilihan itu benar-benar baik untuk anak.
Beberapa faktor-faktor yang juga harus diperhatikan orang tua dalam memilih sekolah antara lain:
1. Kurikulum
Saat ini sudah banyak sekolah-sekolah yang menambah kurikulum selain yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan, kurikulum yang sudah ada itu biasanya ditambah dengan pelajaran bahasa asing dan komputer yang sekarang umum terdapat disekolah-sekolah dasar. Hal ini juga menjadi nilai tambah bagi sekolah karena dengan belajar bahasa asing sejak dini (Inggris atau mandarin yang umum dipelajari) maka orang tua berharap anaknya dapat mengerti arti dan percakapan dalam bahasa asing. Selain itu adanya pelajaran komputer juga menjadi pilihan agar anak dapat mengerti tekhnologi dan kemajuan.
2. Guru-guru / para pengajar
orang tua juga harus mengetahui bagaimana kwalitas para pendidik disekolah itu, apakah berpengalaman, tetapi saat ini sudah banyak guru yang lulusan sarjana pendidikan sehingga mereka juga mempunyai kemampuan untuk mengajar lebih baik. Selain itu guru berkepribadian baik, profesionalisme dan dapat berkomunikasi yang baik dengan anak juga menjadi pilihan karena nantinya para guru-guru itu yang mengajar dan mendidik anak disekolah.
3. Sarana dan prasarana yang ada disekolah
Dengan adanya sarana dan prasarana yang lengkap dan baik disekolah juga akan memperlancar kegiatan belajar anak sehingga dapat mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan anak.
4. Kegiatan ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler seperti: Les sempoa, komputer, melukis, berenang dan lainnya juga menjadi penunjang disamping pelajaran sekolah yang sudah ada, karena berguna untuk menambah kreatifitas anak.
5. Lingkungan sekolah
Sekolah yang berada disekitar lingkungan yang baik dan aman akan memberikan kenyamanan pada anak dalam kegiatan belajar, oleh sebab itu faktor lingkungan juga harus menjadi pertimbangan para orang tua dalam memilih sekolah.
6. Memiliki reputasi dan nama baik
Dengan reputasi dan nama baik sekolah yang terjaga maka makin banyak orang tua yang akan memilih sekolah itu karena mengetahui kwalitas guru dan para lulusannya yang berhasil mendapat nilai-nilai yang baik untuk dapat melanjutkan pendidikannya di sekolah pilihan.
Selamat memilih sekolah, semoga hal-hal yang tertulis diatas dapat menjadi tambahan pertimbangan para orang tua dalam memilih sekolah yang baik untuk anak.
AJARI ANAK MENATA LEMARINYA SENDIRI
Pernah lihat anak SD bahkan SLTP tak bisa menata pakaiannya? Lemarinya luar biasa amburadul. Kaos ditumpuk dengan celana dalam, seragam sekolah, bahkan baju tidur. Ibu pun jadi ngomel, "Sudah besar, nata lemari saja enggak bisa!" Padahal, seperti diutarakan psikolog Yunita P. Sakul, keterampilan menata lemari sudah bisa diajarkan pada anak usia 3-5 tahun. "Termasuk diarahkan menjaga kebersihan dan kerapiannya. Kalau tak diajari sejak dini, mungkin saja sampai besar pun ia tak bisa."
Karena itu, saran Yunita, sebaiknya anak prasekolah sudah diberi lemari sendiri kendati orang tua umumnya belum merasa perlu. "Paling cuma diacak-acak. Anak kecil mana bisa dikasih tanggung jawab?" Jelas, pendapat ini keliru. Dengan memberi si kecil lemari sendiri, kita bisa mengajarkan tanggung jawab dan kerapian. "Bahkan dengan melibatkannya seperti itu, ia akan hati-hati saat mengambil pakaian karena sadar akan konsekuensinya. Kalau main comot saja dan berantakan, kan, dia sendiri juga yang harus merapikan kembali."
Namun mengingat kemampuan kognitifnya yang masih terbatas, orang tua bisa membantunya membuatkan klasifikasi untuk aneka jenis barangnya. Misalnya, di rak paling bawah, tempel gambar kaus kaki yang berarti tempat menaruh kaus kaki. Lalu rak berikut diberi tempelan gambar baju dan celana dan seterusnya. "Dengan demikian, anak tak bingung mencari kaus kaki atau bajunya." Kendati sudah diajarkan mandiri, keterlibatan orang tua tetap diperlukan mengingat kemampuan anak yang belum optimal.
LAKUKAN BERTAHAP
Cara mengajarkannya juga dilakukan secara bertahap. Usai pakaian disetrika rapi, ajak anak memasukkannya ke dalam lemari. Lakukan sambil bermain agar menyenangkan. Misalnya, sambil memasukkan ke lemari pakaiannya, tanyakan, "Ini apa? Betul, kaus kaki. Apa warnanya? Nah, sekarang kita taruh di tempatnya. Mana yang gambarnya kaus kaki? Ya, betul di situ. Pandai sekali anak Ibu!" Besok-besok, minta ia melakukannya sambil tetap diawasi. Jika ia salah menempatkan, arahkan, "Lo, kok, topi ditaruh di tempat kaus kaki? Salah, dong." Jika sudah benar, jangan lupa beri pujian.
Ajarkan pula cara mengambil baju dengan benar. Misalnya, apa yang harus dilakukannya jika mau mengambil celana pendek yang terletak di tengah-tengah tumpukan.
Dengan cara bertahap dan sambil bermain, anak merasa senang dan tak terpaksa melakukannya. Lain, kan, reaksi anak jika kita langsung menyuruh dengan nada perintah atau memaksanya? Anak justru merasa terbebani dan menganggap aktivitas itu sebagai suatu hal yang membosankan.
Yang juga diperhatikan, bentuk lemari harus sesuai dengan kondisi tubuh dan tinggi anak. "Kalau kelewat tinggi dan anak harus naik kursi atau tangga, justru bahaya baginya." Jelaskan pula, fungsi lemari pakaian hanya untuk menaruh pakaian dan perlengkapan busana lain, bukan untuk menyimpan mainan atau barang lain. Jika ia, misalnya, menaruh permen, katakan, "Tempatnya bukan di sini, dong. Nanti kalau permennya lumer, baju dan topimu bisa kotor dan dirubung semut."
DAMPAK POSITIF
Ternyata banyak manfaat positif yang didapat anak dari kegiatan dan keterampilan ini. Antara lain,
* Klasifikasi
Anak belajar mengklasifikasikan barang-barangnya secara tertib dan teratur. "Kebiasaan ini kelak akan tertanam dalam diri anak hingga beranjak dewasa."
* Melatih Motorik
Motorik kasar, misalnya aktivitas membawa pakaian sambil berlari ke lemari dan meletakkan bajunya dengan benar. Sedangkan motorik halus dilatih dengan cara bagaimana ia menarik pintu lemari atau membuka kunci lemari.
* Disiplin & Mandiri
Anak juga diasah kedisiplinan dan kemandiriannya. Sehabis mandi, misalnya, orang tua bisa menyuruh anak untuk mengambil baju sendiri di lemarinya atau sehabis bajunya rapi disetrika, diminta meletakkannya di lemari. "Anak tahu itu tugasnya. Bukan tugas pengasuh, juga bukan tugas ibu."
* Menghargai kepemilikan
Ia menghargai miliknya, milik kakak, orang tua, dan sebagainya. Ia pun tak mau mengacak-acak isi lemari milik orah lain.
* Menjalin kedekatan
Mengajarnya sambil bermain, berarti sekaligus menjalin kedekatan hubungan ibu-anak.
Sediakan 3 Lemari
Sebaiknya mainan, pakaian, dan bacaan disimpan dalam lemari terpisah. Letaknya juga harus diatur sedemikian rupa, misal lemari pakaian di kamar, sedangkan lemari mainan dan bacaan diletakkan di ruang keluarga. Berikan anak tanggung jawab untuk mengatur barang-barangnya sesuai jenisnya masing-masing.
Walaupun demikian, semuanya tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan anak dan kemampuan orang tua, misal jika buku-buku atau mainannya tidak terlalu banyak, maka mainan dan buku bisa disatukan dalam sebuah lemari, hanya dalam rak yang berbeda.
Memilih & Mengatur Lemari Anak
1. Jangan membuat laci-laci yang sulit dibuka. Lemari berkunci juga tidak disarankan. Lebih baik pilih pintu lemari yang dapat sekali dibuka tapi anak bisa mengambil barang dari rak-rak tersebut. Bisa juga pintu lemarinya terbuat dari kain supaya mudah dibuka tutup, karena motorik halus di usia di usia prasekolah masih belum berkembang.
2. Carilah bentuk lemari yang sederhana, jangan yang terlalu mewah seperti lemari berukir, yang akan ditempeli banyak debu di lekuk-lekuk ukirannya.
3. Sesuaikan tinggi lemari dengan tinggi anak sehingga barang-barang di dalamnya mudah dijangkau.
4. Gunakan warna-warni yang cerah sehingga anak tertarik. Lebih bagus bila anak ditanya juga tentang warna pilihannya. Tentunya tetap dalam pengarahan orang tua agar warna lemari tetap terlihat indah.
5. Bisa digunakan hanger (gantungan) kecil yang sesuai dengan tangan anak.
6. Sebaiknya jangan lengkapi lemari dengan cermin, baik terpisah maupun terpasang di lemari, karena dikhawatirkan bisa pecah secara tidak sengaja oleh anak dan pecahannya akan melukai anak.
7. Jangan campurkan barang-barang yang mudah rusak, seperti CD atau VCD ke dalam lemari, karena khawatir patah atau tergores.
8. Biarkan anak menghiasi lemarinya dengan pernak-pernik yang mereka sukai, seperti gambar bunga atau stiker pahlawan kartun favorit mereka, asalkan jangan dicoret-coret.
tabloid-nakita
BEBASKAN ANAK MENGGAMBAR APA SAJA
Setiap anak prasekolah gemar menggambar dan mewarnai. Kegiatan ini, menurut pakar pendidikan, Drs Agus Moeliono, dari Yayasan Pendidikan Anangga Diipa, banyak manfaatnya. Tak terbatas untuk pengembangan seni, tapi juga sebagai penumbuh kreativitas, alat untuk mengungkapkan ide, perasaan, serta emosi anak. Lewat kegiatan ini pula, motorik halus anak dilatih dan akan sangat bermanfaat kala ia harus menulis di usia sekolah. "Otak kanan dan kiri serta nurani anak ikut terasah," tambah Agus.
Tapi semua manfaat itu tak bakal didapat secara maksimal jika anak menggambar dalam keadaan terpaksa dan tertekan. Orang tua yang kelewat mengarahkan harus menggambar ini-itu, misalnya, membuat kreativitas anak terkungkung. "Banyak, kan, anak yang cuma menggambar gunung dan sawah. Padahal, alam kita kaya sekali," ujar Agus memberi contoh. Ditambah lagi, "Guru juga kerap bikin anak tak percaya diri. Gunung warna kuning, disalahkan. "Padahal, di usia prasekolah, anak gemar berekspresi bebas. Ia mencoba mengungkapkan hal-hal baru. Sah-sah saja kalau ia menggambar orang dengan satu tangan yang lebih besar."
Yang kerap dilupakan orang tua atau guru, lanjut Agus, keterampilan menggambar juga bermanfaat pada bidang-bidang lainnya, seperti kedokteran dan arsitektur. "Dokter, kan, harus bisa menggambar bentuk tubuh manusia secara detail. Jelas, keahlian gambar amat diperlukan. Begitu juga arsitek." Alhasil, anak dimasukkan ke sanggar melukis agar bisa jadi pelukis handal, padahal tak mesti begitu. "Ada juga yang beranggapan, menggambar perlu bakat. Itu keliru besar. Walau tak ada bakat, usaha anak tidak akan sia-sia. Biar saja lukisannya enggak bagus atau tak pernah jadi juara lomba." Sebab, inti dari kegiatan ini adalah mengungkapkan, "Ini, lo, pikiran, ide, dan gagasanku!" Jadi, kata Agus, "Bukan untuk jadi juara gambar."
Ia juga berpendapat, lomba mewarnai yang banyak diselenggarakan di mal atau tempat lain, sangat tidak mendidik. "Secara tak langsung, kreativitas anak dibunuh karena mereka hanya mewarnai gambar yang sudah dibuat orang dewasa. Anak jadi enggan berkreasi sendiri."
TIGA JENIS GAMBAR
Kapan seorang anak bisa belajar melukis? Berikut patokannya, menurut Agus.
1. Usia 3 tahun ke atas biasanya anak sudah bisa diajarkan melukis.
2. Kala anak mampu membuat bentuk sederhana seperti lingkaran, garis, dan kotak.
3. Anak menunjukkan minat melukis, yang bisa dilihat dari kebiasaannya mencorat-coret buku atau dinding.
4. Anak mampu menilai apa yang dia suka dari perbedaan bentuk, ukuran, benda, dan suara.
5. Mampu mengikuti arah, dari kiri ke kanan, saat melihat gambar.
6. Mampu mengikuti instruksi, seperti besar, kecil, kiri, kanan, atas, atau bawah.
Sedangkan untuk cara menggambar, ada 3 gaya yang bisa diajarkan, yaitu:
a. Menggambar ekspresif
Yaitu jenis gambar yang mengungkapkan pikiran maupun perasaan anak terhadap sesuatu. Jenis gambar ini ditandai dengan pewarnaan yang sangat kaya. Objek-objeknya pun begitu nyata.
b. Menggambar detail
Menggambar objek dengan cara sedetail-detailnya, misalnya menggambar kerbau lengkap dengan hidung, tanduk, telinga, kaki, serta identitas lainnya.
c. Menggambar imajinatif
Anak belajar mengungkapkan imajinasinya dalam gambar. Adegannya hanya hasil rekaan anak saja semisal harimau yang bisa menyelam di dalam laut.
Seperti disebutkan di atas, pengarahan yang berlebihan hanya akan memasung kreativitas anak. Karena itu, agar anak tetap bisa bebas berkreasi, orang tua cukup mendorong si kecil agar bisa mengungkapkan perasaan, "Biarkan ide anak mengalir tanpa perlu digurui. Tak perlu pula menyuruhnya menyontoh gambar orang lain."
Dukungan lain yang penting adalah alat-alat gambar seperti krayon, papan tulis, kertas gambar, dan lainnya. Jangan lupa, pesan Agus, selesai menggambar, tanyakan pada anak tentang hasil karyanya. Minta ia menceritakan hasil karyanya. "Satu hal lain yang penting, beri pujian sehingga ia senantiasa bersemangat melakukannya."
Merangsang Otak Kiri, Kanan, dan Nurani
Untuk merangsang organ-organ tersebut, ada bebarapa cara yang bisa dilakukan orang tua.
1. Story telling atau bercerita
Bacakan topik tertentu pada anak lalu minta anak membayangkan suatu tempat atau benda. Bisa juga dengan mendongeng setelah itu anak disuruh menceritakan benda, makhluk, atau hal apa saja yang mereka lihat atau temukan di tempat itu. Kemudian, minta anak menggambarkan apa yang didapatnya dari cerita tersebut di atas kertas. "Misalnya, guru menceritakan keadaan luar angkasa. Tentang keadaan, suhu, pakaian, dan semua benda yang ada di sana. Setelah itu, anak ditugaskan menggambar sesuai dengan cerita yang baru saja disampaikan. Biarkan anak berimajinasi, seperti menggambar makhluk sesuai rekaannya."
2. Melihat langsung benda yang akan dilukis
Secara tak langsung, anak bisa mengamati secara detail objek yang akan digambarnya. Dengan demikian, ia mendapat gambaran benda secara nyata dan tidak akan salah saat menggambar objek tersebut. Kalau ia hendak menggambar pemandangan alam di pegunungan, contohnya, ajak ia jalan-jalan melihat pemandangan dan minta agar ia mengamati alam sekitarnya. Dari situ anak bisa melihat, bagaimana warna asli gunung, pohon-pohon, sungai, atau sawah.
3. Perlihatkan gambar/foto
Tentunya tak semua objek yang akan digambar bisa diperlihatkan wujud aslinya, entah karena objeknya benar-benar sudah tidak ada, seperti dinosaurus atau tempatnya terlalu jauh untuk ditempuh, seperti kasus tragedi Bali atau tragedi WTC. Nah, untuk mengatasi keterbatasan tersebut, tak ada salahnya jika objek tersebut dikenalkan lewat gambar/foto di buku atau surat kabar.
Untuk lebih mengasah nuraninya, tak ada salahnya gambar anak dilengkapi dengan keterangan yang ditulis sendiri olehnya jika memang ia sudah mampu melakukannya. "Tak usah berharap anak menulis indah seperti puisi. Yang penting, biarkan ia mengungkapkan perasaan hatinya. Misalnya, pada gambar tragedi Bali, anak menulis komentar, 'Ya Tuhan, tolonglah mereka supaya cepat sembuh.' Itu sudah lebih dari cukup," kata Agus.
tabloid-nakita
Komputer bikin asyik !
Umur Fira baru 4 tahun, masih bermain seminggu dua kali di sebuah preschool, tapi tangannya sudah piawai menggerakkan mouse. Sesekali tawanya terdengar riang kalau komputernya kemudian mengeluarkan suara lucu, "Good, you are right!" Fira ternyata sedang belajar mengenal huruf lewat komputer. Bila ia benar memasangkan huruf awal pada nama benda yang tampak di layar, komputer akan mengeluarkan suara mengatakan benar.
"Inilah kelebihan komputer, punya visualisasi yang bisa dibuat semenarik mungkin, sehingga anak jadi tertarik untuk belajar," komentar W. Edi Taslim, Pemimpin Redaksi majalah Computer Easy.
Tak heran bila makin banyak orang tua mendaftarkan buah hatinya ke kursus komputer khusus anak. Preschool dan taman kanak-kanak pun banyak yang membuka kelas komputer. Untuk di rumah, mereka tak keberatan membeli perangkat ini demi mengenalkan anak pada teknologi digital sedini mungkin.
SOFTWARE YANG MUDAH
Menurut Edi, orang tua juga bisa mengajarkan cara menggunakan komputer kepada anak. "Tidak usah diperkenalkan hardware-nya, menjelaskan keyboard itu apa, layar itu apa, CPU (computer processing unit-red) buat apa. Langsung saja ke aplikasinya." Maksudnya, langsung jalankan saja CD-ROM programnya, lalu anak diajar bagaimana belajar dan bermain lewat software tersebut.
Kebanyakan software yang ditawarkan untuk anak usia prasekolah ini adalah aplikasi edutainment (edukasi dan hiburan). "Program ini dirancang untuk tujuan pengajaran dan aplikasinya diramu dengan unsur hiburan yang interaktif. Ditonjolkan gambar-gambar animasi dengan warna dan bentuk menarik," papar Edi. Program ini menawarkan berbagai pengenalan dasar untuk anak usia prasekolah, seperti mengenal huruf, angka, warna, dan bentuk. "Orang tua bisa memilih sesuai kebutuhan dan perkembangan tingkat kecerdasan anak."
Berhubung anak prasekolah masih terbatas pengenalan hurufnya, instruksi dalam software untuk usia ini tidak dioperasikan melalui keyboard. "Dan orang tua memang seharusnya memilih software yang perintah-perintah aplikasinya cukup dijalankan dengan menggerakkan dan mengklik mouse, sehingga mudah bagi anak." Misalnya, untuk mencocokkan warna sesuai tempatnya, memasang huruf awal untuk nama benda yang terlihat di layar, dan memberi angka sesuai jumlah, anak cukup menggerakkan mouse saja.
Edi juga menganjurkan agar pada saat membeli software, orang tua tak segan-segan mencobanya dulu. Lihat apakah materinya sesuai dengan tingkat pemahaman anak. "Jangan sampai, karena merasa bentuknya digabung dengan hiburan, orang tua langsung memperkenalkan ini-itu sekaligus. Bisa-bisa, anak kelewat distimulasi dan menjadi jenuh. Prinsipnya, jadikan belajar lewat komputer itu suatu kegiatan yang fun, dengan memilih software yang juga ringan dan menyenangkan."
JANGAN SAMPAI KUPER
Dengan kemasan menghibur, tak salah kalau anak akan merasa enjoy bermain dengan komputer. Bukankah visualisasi yang bersifat interaktif akan membantu anak mencerna dan belajar dengan lebih cepat. Visualisasi ini pun akan sangat membantu dalam menerangkan konsep yang masih abstrak. Misalnya proses terjadinya petir. Kalau lewat bacaan di buku, anak mungkin masih susah membayangkan. Nah, komputer bisa menggambarkannya dengan jelas. Bahkan dengan aplikasi yang lain, anak bisa bermain membuat petir sendiri. Akan ke mana petir menyambar, apa warna petirnya, misalnya.
"Itulah yang disebut computer-assisted learning, menjadikan komputer sebagai sarana untuk belajar. Nanti, kalau sudah masuk usia SD, anak-anak bahkan bisa mencari sendiri jawaban-jawaban PR, misalnya matematika atau pengetahuan lewat software khusus atau dari internet," kata Edi. Anak bisa belajar mandiri, belajar riset kecil guna mendapatkan data yang akurat tentang informasi yang diinginkannya.
"Meski demikian, bimbingan orang tua tetap diperlukan. Anak tidak cukup hanya dikenalkan kepada software, lalu dilepas begitu saja," tambahnya. Meski ada instruksi yang jelas, bahkan dengan suara, pendampingan orang tua diperlukan agar kegiatan belajar dapat berjalan efektif. "Fungsi komputer hanya sebagai sarana. Fungsi pengajaran tetap berada di tangan orang tua atau guru. Selain itu, kehadiran orang tua di samping si anak tentu akan menambah semangat belajarnya."
Jangan lupa, untuk berkembang ia tak cukup hanya berkutat di depan komputer. Kognitifnya mungkin bisa berkembang pesat, tapi anak juga butuh bermain dengan sepantarannya di luar rumah. Jangan sampai dia enggak punya teman alias kuper. Apalagi di usia prasekolah, ia masih harus mengembangkan keterampilan motorik, sosial, selain kognitifnya.
Orang Tua Perlu Belajar Dulu
"Percuma saja," kata Edi, "kalau demi alasan trend, anak dipaksa belajar komputer, tapi orang tuanya sendiri buta dengan teknologi yang satu ini." Paling tidak, kuasai dulu program-progam dasar yang sering digunakan seperti windows atau pengoperasian software dari CD-ROM.
Orang tua juga perlu tahu sosok komputer sebagai hardware dan elemen-elemennya. Kalau anak bertanya, orang tua bisa menjelaskan. Setelah tahu pun, jangan terpaku. Teruslah menyimak perkembangan teknologi komputer ini yang bisa dicari lewat majalah-majalah tentang komputer. Tidak perlu secara detail, tapi paling tidak, mengimbangi kecepatan anak menerima pelajaran komputer di sekolah atau di kursus."
Bila orang tua terus aware, menurut Edi, kegiatan anak dengan komputer dapat tetap terpantau. Misalnya apakah software atau program yang sedang dijalankan cocok atau tidak dengan usianya. "Orang tua yang gaptek (gagap teknologi-Red.) bisa-bisa dibohongi anaknya yang sudah lebih canggih." Makanya, memang sudah selayaknya, orang tua mengetahui perkembangan terkini teknologi komputer. Apalagi kalau anak-anaknya ketahuan hobi berkomputer.
Santi
Beberapa Pilihan Software
Sekarang banyak produsen software yang membuat program-program khusus bagi anak usia prasekolah. Software dalam bentuk aplikasi edutainment (edukasi dan hiburan) ini bersifat interaktif multimedia, sehingga anak bisa belajar aktif. Untuk menjalankannya diperlukan komputer dengan spesifikasi Pentium 23 Mhz, minimal 486 ke atas, memori 16 Mb, hard disk 15 Mb, kartu suara dan CD ROM 2x. Inilah beberapa di antaranya:
* Anak Cerdas, produksi Akal Riklin Rekatama
Software ini cocok untuk balita. Menampilkan gambar interaktif yang lucu sehingga anak tertarik memperhatikan kemudian belajar. Ada pelajaran mengenal huruf, warna, bentuk, dan anggota tubuh manusia. Ragam games berupa puzzle, permainan huruf, mencocokkan, mewarnai, dan macam-macam lagi. Software ini menggunakan bahasa Indonesia.
* Bentuk dan Warna (Color and Shapes), produksi Elex Media Komputindo
Software khusus untuk mengenalkan bentuk dan warna. Untuk melihat beragam menu yang ada, si kecil akan dibantu suara pemandu. Ada beberapa pilihan permainan, seperti mengelompokkan warna atau memadukan bentuk yang terpotong. Selama bermain, anak-anak akan ditemani seorang tokoh lucu berkepala gundul bernama Cimot.
* Reader Rabbit Personalized Preschool, produksi www.learningco.com
Ini software buatan luar negeri yang juga cocok untuk anak usia prasekolah. Di dalamnya anak akan diajak terlibat dalam petualangan seekor tikus dan kelinci. Petualangan ini mengambil tempat di hutan, sambil memperkenalkan berbagai pelajaran, seperti huruf, bentuk, warna, dan juga permainan menguji daya ingat. Ada jenjang kemahiran, dari yang sangat mudah hingga sulit, disesuaikan dengan pemahaman anak di tingkat usia 3 sampai 5 tahun. Saat pertama kali program berjalan, ada tes kecil untuk melihat kemampuan anak. Orang tua pun harus mendampingi, karena instruksinya disampaikan dalam bahasa Inggris. Keuntungannya, anak sekaligus bisa belajar bahasa tersebut.
* Jump Ahead For Preschool, produksi Dorling Knowledge Adventure
Juga software berbahasa asing yang menampilkan sekumpulan hewan sebagai sarana pembelajaran. Ditemani tikus, kucing, gajah, dan beruang, anak-anak akan dikenalkan pada angka, huruf, warna, dan bentuk. Ada permainan menarik di mana anak-anak akan bepergian dengan kereta api dan memilih sendiri tujuannya. Mereka antara lain bisa pergi ke kebun binatang yang animasinya dibuat sangat indah.
Internet dan Software Game
Meski internet bisa diibaratkan cakrawala dunia, menurut Edi, pengenalan menjelajah internet sebaiknya ditunda dulu. Pasalnya, di sana berlalu-lalang pula informasi yang tidak cocok bagi anak. "Mungkin mereka tidak berniat mencari, tapi setelah klik sana klik sini, bisa saja yang muncul gambar-gambar sadis atau porno, kan? Nanti, bila mereka sudah lebih besar atau masuk usia SD, internet bisa diperkenalkan, sembari orang tua menanamkan nilai-nilai mana yang boleh dan tidak boleh dalam kaitannya dengan komputer.
Memang, sih, ada software khusus untuk menyaring gambar/informasi bagi orang dewasa. Namun tetap, orang tua juga harus memantau. Tujuannya supaya anak tidak kebablasan browsing. Mungkin ada baiknya pada saat bapak dan ibu tengah bekerja, sambungan ke internet dimatikan untuk sementara.
Soal games, saran Edi, juga jangan dikenalkan dulu. Apalagi sekarang banyak games anak yang menonjolkan unsur kekerasan dan agresivitas. Contohnya games yang menyajikan perkelahian antara tokoh jagoan dan lawan-lawannya. Software untuk anak usia prasekolah biasanya sudah termasuk games yang berkaitan dengan mengenal huruf, angka, bentuk, dan warna tadi. Yang ini tentu lebih baik.
Benar bakat atau cuma senang sesaat ?
Anak balita sudah bisa menunjukkan kesenangannya. Entah suka menari, menyanyi, melukis, atau memainkan alat-alat musik."Tapi belum bisa dikategorikan berbakat, masih sebatas minat. Kesukaannya juga bisa berubah-ubah, bahkan hilang tanpa bekas," kata Vitriani Sumarlis, Psi.
Untuk menandai minat atau tidak, sarannya, amati kadar konsentrasi anak di bidang-bidang tertentu. "Apakah memang lebih atau sama dengan anak lain. Untuk itu dibutuhkan kepekaan serta kejelian orang tua. Soalnya, bisa saja minat itu tidak terekspresikan secara jelas karena anak tidak menunjukkan kebisaan menari, melukis, atau memainkan alat musik seperti anak lainnya karena dia malu, misalnya," ujar psikolog dari Klinik Anakku Cinere, Jakarta Selatan ini. Rangsangan dan dorongan adalah kunci utama untuk menggali minat anak. Sayangnya, orang tua kerap tak tanggap pada minat anak. Akibatnya, potensi besar yang dimiliki anak dan bisa jadi modal di masa datang, akhirnya tetap terpendam.
Tentu saja tak cukup dengan mengamati. Orang tua harus juga mampu mengobservasi. Misalnya, lewat dialog untuk mengetahui sampai sejauh mana minat anak. "Dari sini akan kelihatan, si kecil serius atau sekadar ikut-ikutan temannya." Lakukan pula eksplorasi terhadap minatnya. Saat anak terlihat begitu antusias menari, contohnya, beri dukungan dengan ikut menari bersama atau memberikan arahan. "Tarian kamu bagus, deh. Diajari sama siapa, sih?" Kalau anak kian bersemangat, lakukan eksplorasi lebih dalam. Dari situ bisa terlihat, kegiatannya benar-benar didasari minat atau suka sesaat saja. Bila semangatnya tetap tinggi atau malah makin menggebu dan gerak tariannya kian bagus, besar kemungkinan minatnya mengarah ke bakat yang bisa diarahkan lebih mendalam.
Bila benar anak terlihat berbakat, beri arahan lebih intensif seperti memasukkan anak ke sanggar yang tepat. Pilih lembaga yang sifatnya tidak mengajari hal-hal baku yang mesti ditaati, melainkan hanya bertindak sebagai pengarah. "Tanpa segala bentuk pengekangan, bakat anak yang besar, bisa tumbuh optimal sedari kecil."
Yang tak boleh dilupakan, saat memilih kegiatan, libatkan anak. "Jangan cuma orang tuanya yang ngotot. Anak harus ditanyai juga, apakah ia mau masuk sanggar. Bagaimanapun orang tua tetap harus memberi kebebasan pada anaknya untuk tetap bisa bermain. Kalau ternyata di sanggar itu bakatnya tak tumbuh atau berkembang, "lakukan penilaian kembali. Indikasinya, anak terlihat bosan, ogah-ogahan, atau minta berhenti. Cermati penyebabnya, apakah karena memang tak berminat, tak suka cara mengajar pembimbingnya, atau kondisi sanggar itu tidak kondusif."
TAK MANUSIAWI
Anak, kata Vitriani, mungkin saja memiliki 2 atau 3 bakat sekaligus. Misalnya, jago gambar dan hitung-menghitung. Bila keduanya sama-sama terstimulasi dengan baik dan ia berminat menjadi seorang arsitek, umpamanya, tak sulit baginya merancang sebuah bangunan unik dan orisinal dengan hitungan berbagai ukuran dan bentuk bagian-bagiannya.
Namun, jika kondisi terbatas sehingga kedua bakat tadi tak bisa didukung semua, pilih yang jadi keunggulan anak. "Bukan berarti bakat atau minat anak dipasung, melainkan agar nantinya lebih terfokus pada salah satu. Ini jauh lebih baik ketimbang semua bakatnya tak berkembang maksimal."
Yang patut diingat, hindari pemaksaan dalam bentuk apa pun. "Gara-gara pengen anaknya jadi dokter, orang tua memaksakan kehendaknya sementara si anak justru berbakat di bidang seni. Bisa saja, usaha orang tua berhasil, namun dikhawatirkan tak optimal. Misalnya, anak jadi tak peka akan kebutuhan dan kondisi pasien, saat ia jadi dokter kelak."
Sungguh tidak manusiawi dan tidak menghargai individu bila orang tua memaksakan kehendaknya terhadap anak. "Kalau anak memang punya minat dan bakat di bidang nonformal semisal jadi pelukis, penyanyi, ahli tanaman, atau ahli boga, mengapa tidak? Biarkan anak tumbuh dengan sendirinya. Tentu saja orang tua tetap berkewajiban mengarahkan agar yang dilakukan anak bisa teraih secara maksimal."
JAMINAN SUKSES?
Seseorang yang memiliki bakat dalam profesinya, rata-rata lebih sukses dibanding rekan seprofesi yang sebenarnya tidak berbakat. Seorang musisi, contohnya, akan lebih sukses bereksplorasi jika dalam jiwanya ada bakat yang dikembangkan secara maksimal. Kendati begitu, Vitriani tidak mengingkari pendapat bahwa bakat cuma 10 persen memenuhi dukungan bagi kesuksesan seseorang. "Mayoritas sisanya merupakan usaha dan kerja keras selain faktor keberuntungan. Jadi, tanpa dibarengi usaha dan kerja keras, bakat pun akan percuma. Jangankan meraih kesuksesan, bakat itu sendiri belum tentu keluar karena mungkin saja malah terpendam."
Sebaliknya, bakat yang kecil jika dilatih dan diarahkan dengan baik, akan lebih berkembang dibandingkan bakat besar yang tidak terstimulasi dengan baik. "Tentu saja kapasitas maksimal orang tanpa bakat, tidak setinggi orang yang memiliki bakat bawaan sejak lahir," kata Vitriani. Oleh karena itu, kembangkan bakat anak sejak dini. Jangan tunggu sampai ia menjadi remaja, karena hasilnya tidak akan seoptimal bakat yang distimulasi sejak usia dini.
(tabloid-nakita)
Si 2 Tahun Berlatih Atasi Masalah
Rafi, si dua tahun, selalu ingin mencoba apa saja yang terlihat dan menarik perhatiannya. Hanya saja, seperti anak usia dua tahun lain, Rafi kerap frustrasi ketika gagal mengatasi suatu masalah. Misalnya, ketika ia melihat anak lain bisa mengikat sepatu dengan mudah, sementara dia tidak, Rafi pun dengan cepat menangis sambil melempar sepatunya.
Penting bagi kepercayaan dirinya
Perilaku Rafi sangat wajar bagi anak seusianya. Anak-anak usia ini butuh waktu untuk memahami bagaimana cara mengatasi tantangan di sekitarnya atau konflik sendiri tanpa bantuan orang lain.
Hanya saja anak usia ini, menurut skema perkembangan psikososial yang dibuat Erik Erikson , seorang psikoanalis, sedang memasuki tahapan autonomy vs doubt . Ini suatu tahapan ketika anak akan berusaha untuk mencapai kemandiriannya. Dengan begitu, ketika ia terus menerus merasa gagal melakukan sesuatu maka ia jadi peragu.
Agar anak tidak terus menerus merasakan kegagalan yang dapat mengancam rasa percaya diri serta kemandiriannya, Anda dapat membantunya dengan beberapa cara, antara lain:
* Memberi kesempatan
Terkadang orang tua tidak sabar ketika melihat, misalnya, anak mencoba memasukkan buah kancing ke dalam lubang dan lantas mengambil alih tugas tersebut. Cara ini dapat membuat anak tergantung pada orang dewasa di sekitarnya, tidak percaya pada kemampuannya sendiri, dan tidak memberinya kesempatan melatih kemampuannya.
Biarkan si dua tahun mencoba sendiri apa yang akan dilakukannya. Anda hanya perlu memperhatikan dari jauh. Jika si kecil mulai frustrasi, alihkan perhatiannya untuk mencoba hal yang lebih mudah dulu. Di kesempatan lain Anda dapat melatih ulang keterampilan tersebut setahap demi setahap agar anak dapat menguasai kesulitannya hingga ia terampil.
* Menunjukkan contoh baik
Si kecil memperhatikan bagaimana cara Anda menyelesaikan masalah yang Anda hadapi. Jangan heran jika menemui anak mudah marah ketika gagal mengatasi suatu masalah karena, siapa tahu, perilaku tersebut ditirunya dari Anda.
Cobalah mengatasi segala masalah dengan kepala dingin, terutama ketika si kecil di dekat Anda. Ketika Anda menemukan jalan keluarnya, cobalah mengatakannya dengan suara yang keras, agar anak juga belajar bagaimana cara Anda menyelesaikan suatu masalah.
* Hindari ‘kuliah’ panjang lebar
Orang tua cenderung memberi ‘kuliah’ pada si kecil yang gagal atau melakukan sesuatu dengan cara yang tidak sesuai keinginan Anda. Percuma saja! Anak belum mengerti apa arti ‘kuliah’ Anda. Cukup katakan dengan singkat, padat namun lugas mengapa ia harus atau tidak boleh melakukan sesuatu.
Misalnya, ketika si kecil mencoba membawa keranjang sampah Anda ke mana-mana, dan Anda melarangnya. Katakan saja dengan lugas jika ia menanyakan “Kenapa?”, “Karena tempat sampah letaknya di sini dan tidak untuk dibawa-bawa.”
* Beri pujian jangan kritikan
Beri pujian ketika anak berusaha bahkan berhasil melakukan sesuatu. Dan, hindari kritikan jika ia gagal. Kritikan membuatnya merasa tidak yakin dengan kemampuannya. Sebaiknya doronglah upayanya agar ia mau terus mencoba.
Esthi Nimita Lubis
Merangsang kreatifitas
Sesungguhnya, setiap anak terlahir sebagai sosok yang memiliki kreativitas. Akan tetapi jangan salah, potensi kreatif tidak terberikan begitu saja, melainkan perlu pengembangan, hingga membuahkan sesuatu. Nah, dalam hal ini, peran orang tua begitu dominan, bagaimana anak dapat mengembangkan potensi kreatifnya?
Menurut Prof. Dr. Sukarni Catur Utami Munandar, Dipl-Psych., anak berumur 3-5 tahun, memerlukan pengasuhan dan bimbingan yang baik agar muatan kreativitasnya dapat diberdayakan secara optimal. Pada skala umur ini, anak mudah menyerap segala informasi yang ada di sekitarnya.
Sistem belajar sambil bermain merupakan cara terbaik yang dapat diberikan kepada anak usia 3-5 tahun. Tentu saja harus disesuaikan dengan perkembangan dan kemampuan masing-masing anak. Inilah beberapa pokok yang bisa dijadikan pembelajaran bagi mereka:
* Belajar mengembangkan dan mengasah keterampilan fisik yang diperlukan untuk melakukan berbagai permainan.
* Belajar menyesuaikan diri dan bersosialisasi dengan lingkungannya.
* Belajar mengembangkan berbagai keterampilan dasar, termasuk "membaca", "menulis" dan "menghitung".
MENGAPA BELAJAR SAMBIL BERMAIN
Dengan bermain, anak akan belajar mengenal aturan, disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian serta belajar menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Terlebih, di usia ini anak-anak sudah bisa mengikuti kegiatan di kelompok bermain dan taman kanak-kanak. Dengan belajar sambil bermain, maka secara otomatis daya pikir, imajinasi, emosi, dan sosialnya akan terstimulasi. Di situ, terbuka kesempatan bagi anak untuk menciptakan karya-karya nyata dengan kemampuannya sendiri. Ia akan mengalami banyak hal sendiri, berkomunikasi aktif dengan teman-temannya, dan mengekspresikan pengalamannya baik secara lisan maupun gambar/tulisan.
MEMILIH ALAT BELAJAR DAN BERMAIN
Alat-alat peraga yang digunakan selama bermain mesti bisa menstimulasi pengembangan kreativitas anak. Gunakan alat bermain edukatif yang memiliki fungsi mendidik dan juga menghibur. Dengan begitu anak bisa terstimulasi untuk menyenangi proses belajar, hingga imajinasinya pun berkembang.
Alat permainan edukatif ini banyak macamnya, seperti puzzle dan lego yang dapat melatih kemampuan kreatif. Anak juga bisa membuat mainan sendiri, umpamanya kapal-kapalan dari kertas atau pelepah pisang. Selain itu, sediakan juga alat peraga lain seperti gambar, poster, papan permainan, alat-alat kesenian dan sebagainya.
Usahakan agar kegiatan yang dilakukan tidak monoton. Oleh karena itu orang tua dan guru didik perlu menghidupkan cara-cara yang dapat mengembangkan aktivitas anak. Tujuannya agar tercipta kegiatan belajar yang menyenangkan dan mengasyikkan.
BELAJAR DI ALAM
Kegiatan yang merangsang kreativitas dan kecerdasan emosional anak sebetulnya akan lebih efektif bila dilakukan di alam terbuka. Lakukanlah permainan atau aktivitas yang tidak biasa karena di TK, anak biasanya melakukan kegiatan yang relatif sama, hingga dikhawatirkan membuatnya bosan dan jenuh. Pilih kegiatan berupa permainan atau pembelajaran yang menyangkut kehidupan sehari-hari.
Di usia prasekolah ini anak hendaknya dibiasakan mengenal lingkungan sekitar. Kalau biasanya anak hanya melihat pantai di televisi atau buku saja, ajaklah ia berekreasi ke sana. Tunjukkan bagaimana bentuk pasir dan indahnya ombak yang bergulung-gulung. Ajak pula dirinya menikmati segarnya udara dan indahnya peman dangan di pegunungan.
BELAJAR SENDIRI
Di sekolah, anak pastilah belajar bermain secara berkelompok dengan teman-teman sebaya. Dia akan belajar berinteraksi, bekerja sama, dan mematuhi aturan-aturan kelompok. Namun, adakalanya anak juga ingin bermain sendirian. Kesendirian seperti itulah yang akan memunculkan berbagai imajinasinya. Sedangkan ide-ide kreatif takkan timbul jika selalu main bersama.
Untuk itu, orang tua harusnya mengupayakan agar anak bisa bermain berselang-seling antara sendirian dan bersama-sama. Jika memang memungkinkan, ayah-ibu perlu mengusahakan ruangan atau pojok di rumah untuk anak. Biarkan anak memiliki privasinya dan bebas melakukan apa yang disukainya. Di tempat tersebut biarkan anak menyimpan buku, mainan dan mengerjakan sesuatu yang disenangi untuk merangsang imajinasinya.
* Imajinasi
Imajinasi jangan ditafsirkan sebagai sesuatu yang bersifat lamunan atau khayalan semata. Berilah kesempatan pada anak-anak untuk mengembangkan daya imajinasinya. Dengan demikian dia akan mengeksplorasi potensi kreativitasnya. Orang tua perlu membimbing anak untuk mengungkapkan hasil imajinasinya itu melalui cerita, gambar atau tulisan.
* Kreasi
Biarkan anak berkreasi sekehendak hatinya. Orang tua jangan memberikan batasan atau mengekang daya kreatif anak. Biarlah anak-anak belajar melalui caranya sendiri. Bagaimanapun, setiap aktivitas yang dilakukan anak merupakan proses belajar, dan kemampuan kreativitas itu harus dilihat dari prosesnya, bukan hanya hasil.
SEIMBANGKAN OTAK KIRI DAN KANAN
Utami menyebutkan, belahan otak kiri dan otak kanan haruslah dirangsang secara seimbang. Sayangnya, sistem pembelajaran untuk anak-anak di sini masih lebih difokuskan pada pengembangan otak kiri, yang mengasah kemampuan logika, analisis, dan penalaran. Sementara belahan otak kanan yang merangsang kreativitas, imajinasi, intuisi, dan seni kurang dirangsang.
Di negara-negara Eropa, upaya mengembangkan otak kanan dilakukan dengan kegiatan menari, menyanyi, melukis dan sebagainya. Mereka yakin dengan merangsang seni, kreativitas dan imajinasi lebih dulu, maka kemampuan matematis anak justru bisa berkembang lebih baik. Pandangan ini agaknya berlaku terbalik di kebanyakan lembaga pendidikan di Indonesia. Anak didik lebih banyak dirangsang menggunakan belahan otak kiri, sedangkan otak kanan sangat jarang digunakan. Misalnya, mereka ditekankan untuk secepatnya menerima pelajaran menulis, membaca, menghitung dan menghapal semata yang justru menyebabkan anak jadi tidak kreatif. Artinya, kita cenderung melalaikan pengembangan kreativitas dan imajinasi anak, padahal mestinya rangsangan itu dilakukan secara seimbang, agar fungsi otak kanan dan otak kiri berjalan optimal.
Belahan otak kiri dan kanan, asal tahu saja, bekerja saling bergantung satu sama lain. Apabila tidak terbiasa menggunakannya secara seimbang, salah satu dari belahan otak yang jarang digunakan akan mengalami hambatan-hambatan dalam menjalankan fungsinya. Hal ini pula yang menimbulkan kemiskinan kreativitas pada anak-anak.
SELEKTIF PILIH PLAYGROUP/TK
Bukan kelengkapan sarana permainan dan peraga saja yang perlu diperhatikan orang tua saat memilih "sekolah", tapi juga kualitas guru-gurunya. Mereka harus paham perkembangan psikologi anak usia prasekolah. Mereka juga harus tahu bagaimana menstimulasinya dengan kegiatan yang menarik sekaligus memberikan pengajaran.
Ingat, dunia anak adalah dunia bermain. Melalui bermain, anak memperoleh pelajaran yang mengandung aspek perkembangan kognitif, sosial, emosi dan perkembangan fisik. Melalui kegiatan bermain, anak dirangsang untuk berkembang secara umum, baik perkembangan berpikir, emosi maupun sosial.
Pada rentang umur ini pula, orang tua sudah bisa melihat bakat atau minat anak. Cobalah beri kesempatan kepadanya untuk mencoba berbagai aktivitas, semisal melukis, menari, menyanyi, atau main piano.
Jika pada anak sudah terlihat minat yang dominan, pupuklah terus. Namun, minat itu tidak perlu langsung diarahkan/ditunjukkan pada satu bidang tertentu. Biarkan saja anak memiliki kebebasan. Utami menambahkan, jika orang tua kurang menstimulasi anak, dikhawatirkan perkembangan mentalnya akan berjalan sangat lambat.
(tabloid-nakita)
Anak harus tahu ragam budaya
"Si Roger, kok, beda sama Adek, ya, Ma?" celetuk seorang anak tentang salah seorang temannya yang berasal dari Amerika. "Kulitnya putih, rambutnya pirang kayak emas, matanya juga biru," sambungnya lagi.
Tak perlu heran jika si prasekolah bertanya seperti itu, karena seperti dikatakan Rosmayanti, Psi., bukan rahasia lagi jika di usia ini anak sedang sangat tertarik dengan perbedaan-perbedaan.
Bagi mereka, rambut pirang merupakan sesuatu yang aneh dan baru, sehingga menarik perhatian. Demikian pula saat dia melihat anak lainnya yang berkulit hitam legam. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun cukup terusik dan segera mengalihkan pandangan saat melihat sesuatu yang tidak biasa di hadapannya.
Psikolog dari Yayasan Cikal Jakarta ini justru berpendapat, orang tua atau guru mestinya bangga mendengar pertanyaan kritisnya. Soalnya, setelah tertarik, anak-anak biasanya akan bertanya lebih jauh, "Mengapa kulit mereka berbeda dengan temannya. Demikian pula dengan bahasa atau cara mereka berdandan. Dari mana mereka berasal? Lalu, apakah dalam hal lain mereka benar-benar berbeda dengannya?"
Menurutnya, inilah kesempatan emas bagi orang tua untuk mengenalkan ragam budaya dengan aneka corak dan ciri khasnya. Jika sejak dini anak dikenalkan dengan aneka ragam kebudayaan, maka wawasan pengetahuan anak akan semakin luas. Anak tidak hanya mengenal budaya di mana dia menetap saja, tapi juga daerah-daerah lainnya.
Jika kita berbicara tentang budaya, maka kita pasti akan mengupas banyak hal, dari penampilan fisik, karakter, bahasa, pakaian, hingga makanan. "Bagaimana pengetahuan anak tidak bertambah kaya jika orang tua mengenalkan semua itu dengan bahasa yang mudah."
Yanti menambahkan, "Namun, untuk anak-anak prasekolah, pengenalan ini sebaiknya hanya dilakukan untuk menambah pengetahuan saja. Bukan untuk mengubah atau menjadikan mereka cinta atau benci kepada suatu kaum atau golongan." Penting diingat, salah satu tujuan pengenalan ragam budaya ini adalah agar anak tidak alergi terhadap perbedaan. Biarpun warna kulit berbeda, mereka adalah manusia yang layak diperlakukan sama dan tidak dibeda-bedakan.
Penjelasan tentang pengetahuan ini juga berguna agar emosi anak tidak terusik saat kelak bertemu orang dari kultur yang berlainan. Bisa saja, kan, anak merasa takut, malu, cemas atau merasa tidak nyaman kala bergabung dengan orang-orang yang memiliki kultur berbeda. "Anak kita bisa saja ketakutan saat melihat orang berkulit hitam dan bertubuh besar, karena sebelumnya ia belum pernah mengenal atau dikenalkan dengan sosok seperti itu."
Kemungkinan lain, anak enggan bergaul jika berada di tengah-tengah anak lain yang kulturnya berbeda. Ia merasa terasing jika harus bergabung dengan mereka, terutama jika bahasa yang digunakan berbeda. Anak memiliki kecemasan tersendiri terhadap perbedaan yang dimilikinya sehingga ia membatasi diri untuk berinteraksi dengan orang lain. Bukan tidak mungkin pula, anak akan menarik diri dari lingkungan.
Saat anak terlihat ketakutan, buatlah ia tenang dan nyaman terlebih dahulu dengan menjauhkannya dari orang asing itu. Setelah emosinya mulai mereda, baru berikan penjelasan. "Kamu takut, ya? Orang itu, kan, seperti yang sering Mama ceritakan," misalnya. Pokoknya, jangan paksa anak untuk mau berinteraksi dengan orang asing yang membuatnya cemas. Kalau ini yang dilakukan, bukannya anak jadi berani berkomunikasi dan berkenalan dengannya, ia justru bisa menjadi sangat trauma atau ketakutannya semakin menjadi-jadi. "Bukan tidak mungkin, nantinya, anak akan ketakutan setiap kali melihat orang dengan ciri yang sama."
KENALKAN SEMUDAH MUNGKIN
Yanti mengingatkan, sebelum mengenalkan berbagai budaya di Indonesia dan di seluruh dunia kepada anak, orang tua sebaiknya terlebih dahulu menerangkan budaya asl si anak. Tujuannya, agar anak mengenali dirinya sendiri sebelum ia melihat yang lain. "Kulit kamu berwarna sawo matang atau kuning. Bahasa yang kamu pakai namanya Bahasa Indonesia, rambut kamu lurus dan hitam." Setelah itu, barulah jelaskan, ciri khas anak-anak dari negara lain. Terangkan perbedaannya dengan penampilan diri si anak.
Menjelaskan anak tentang perbedaan ini, bisa dilakukan di rumah oleh orang tua atau di sekolah oleh guru dengan berbagai cara, di antaranya:
1. Kenalkan secara langsung
Terangkan terlebih dahulu beragam budaya yang ada. Baik di tanah air maupun di luar negeri. Jelaskan apa saja ciri khas yang dimiliki oleh daerah atau negara tersebut. Misalnya negara Jerman, terangkan dulu lewat peta di mana kita berada, lalu di mana negara tersebut berada. "Jarak peta beda dengan aslinya. Jarak sebenarnya sangat jauh. Untuk sampai ke sana kita harus naik pesawat atau kapal laut." Jelaskan pula ciri-ciri fisik masyarakat negara tersebut, seperti berbadan tinggi, bermata biru, dan banyak yang berambut pirang seperti rambut jagung.
Alangkah baiknya kalau kita punya kenalan dari negara tersebut. Mintalah ia untuk berkenalan dengan si anak. Biarkan dia bertanya-jawab dengan orang itu. "Adek, ini Tante Yani, orang Indonesia, rambutnya lurus dan hitam, kan? Nah, yang ini Mr. Miller, dia orang Jerman. Kulitnya lebih putih daripada kita, badannya tinggi dan dia bicara dengan bahasa Jerman." Pengalaman langsung seperti ini tak akan dilupakan oleh si anak.
Waktu perkenalannya pun tak perlu disediakan secara khusus. Cukup dengan memanfaatkan kesempatan yang ada. Misalnya saat berjalan-jalan ke mal, lalu berpapasan dengan orang yang cukup asing buat anak, maka orang tua bisa menjelaskan siapa orang tersebut dan dari mana asalnya.
2. Lewat audio-visual
Sarana audio-visual seperti video atau tayangan TV bisa dijadikan alat untuk mengenalkan budaya suku dan bangsa lain kepada anak. Jelaskan segala sesuatu yang muncul dalam tontonan secara gamblang, atau jika narasinya menggunakan bahasa Indonesia, ajaklah anak untuk menyimaknya. Lewat media ini, anak secara langsung bisa mengamati gerak-gerik, bahasa, pakaian, dan kebiasaan masyarakat dari suku atau bangsa lain secara jelas.
Terangkan pula seandainya orang tersebut ada di hadapan si anak. "Di televisi, orang bule itu kelihatan normal saja, ya, Dek. Nah, kalau nanti dia ada di hadapan Adek, maka orang itu mungkin tingginya selemari di kamar Ibu."
3. Lewat bacaan
Kultur yang berbeda juga bisa dikenalkan lewat buku-buku atau majalah bergambar. Biarkan anak mengamati perbedaan yang ia temukan dari beragam jenis kultur tersebut.
4. Praktekkan dalam acara tertentu
Agar lebih berkesan, dalam acaraacara tertentu, tidak ada salahnya jika anak disuruh memakai pakaian dan pernak-pernik khas daerah atau negara tertentu. Ajarkan dia agar menghafal ciri-ciri khas dari baju daerah atau negara lain yang dipakainya. Misalnya, nama kain yang dipakainya. Cara ini mengajarkan kepada anak bahwa perbedaan tidak membuat mereka terpisah. Mereka bisa bergaul dan bersosialisasi bersama-sama.
JELASKAN DENGAN BUKTI KONKRET
Hal yang penting, pesan Yanti, dalam menjelaskan perbedaan kultur kepada anak, orang tua harus memperhatikan hal-hal berikut ini.
1. Jelaskan lewat bukti-bukti konkret
Anak mesti dijelaskan dengan bukti-bukti konkret yang ada, saat orang tua mengatakan, "Orang Amerika kebanyakan berambut pirang," misalnya. Jadi, anak tidak dibuat penasaran dengan bertanya-tanya, "Pirang itu seperti apa, sih?" Mempertemukan si kecil dengan bule berambut pirang atau memperlihatkan film dan fotonya merupakan bentuk dari contoh konkret itu.
2. Jangan jelaskan hal-hal rumit
Saat menerangkan, pilih topik yang sifatnya tidak abstrak dan mudah ditangkap anak, seperti perbedaan warna kulit, pakaian tradisional, bahasa, permainan, lagu-lagu, dan makanan. Hindarkan topik yang rumit, seperti agama atau kepercayaan yang dianut dalam suatu kultur. Hal abstrak seperti itu akan membuat anak bingung, bahkan frustrasi saat harus berkenalan dengan ragam budaya yang berbeda tersebut.
3. Jelaskan mereka sama
Orang tua mesti menjelaskan, biarpun berbeda, orang dari suku atau bangsa mana pun pada dasarnya sama dengan kita. Terangkan pula, mengapa sebuah daerah memiliki ciri khas yang berbeda dari daerah lain. Misalnya, mengapa orang di daerah tertentu tidak memakai baju. Mungkin karena mereka memang belum terbiasa memakai baju.
MANFAAT YANG BISA DIAMBIL
Yanti berpendapat, banyak sekali manfaat yang bisa diambil oleh anak jika sejak dini sudah dikenalkan dengan beragam kultur.
1. Lebih percaya diri
Secara emosional, anak-anak yang sudah dikenalkan dengan keragaman budaya akan lebih percaya diri. Ia tidak akan malu atau bahkan takut saat melihat orang asing. Ia bahkan bisa berkomunikasi dengan hangat dan bermain bersama orang asing tersebut.
2. Memperluas wawasan
Anak tidak hanya mengenal diri dan kulturnya sendiri, tapi juga kultur orang lain. Dengan begitu, wawasan anak akan semakin bertambah luas. Ia juga bisa mengenal dari mana orang-orang dengan ciri-ciri tertentu berasal. Apakah ciri itu berupa pakaian khas atau bahasa. Bahkan, lebih baik lagi jika anak tertarik mempelajari budaya dan bahasa mereka.
"Usia prasekolah merupakan usia yang sangat baik untuk mempelajari sesuatu, termasuk bahasa. Daya rekam mereka sangatlah kuat," ungkap Yanti, "Mereka juga biasanya memiliki keinginan untuk belajar lebih jauh demi menguasai bahasa tersebut."
3. Menghargai perbedaan
Dengan mengenal keragaman budaya, anak tidak akan alergi terhadap perbedaan. Ia tetap bisa bergaul dan bermain bersama anak lain yang berbeda darinya. Mereka beda, tapi tak perlu dibeda-bedakan. Sikap ini akan terus menetap hingga anak tumbuh dewasa kelak.
4. Lebih mudah bersosialisasi
Anak yang dikenalkan dengan ragam perbedaan akan lebih mudah berdaptasi dan bersosialisasi, di mana pun dia berada. Ia akan lebih mudah bergaul dengan teman-temannya, meski terdapat beberapa perbedaan di antara mereka.
CEGAH JIKA SI KECIL MELEDEK TEMANNYA
Orang tua mesti mencegah si kecil jika dia mulai meledek orang dengan kultur berbeda, seperti si Negro atau si Cina. Tentunya orang tua juga mesti introspeksi, apakah dia sudah mengenalkan ragam budaya itu kepada anak. Boleh jadi tindakan tersebut diakibatkan oleh ketidakpahamannya terhadap perbedaan.
Kemungkinan kedua, anak menganggap orang yang diledeknya memiliki keunikan tersendiri dan merupakan minoritas sehingga pantas jika diledek. Orang tua mesti tanggap dan segera memberi pengarahan bahwa tidak baik meledek orang yang berbeda dengan kita. Bukankah si kecil juga akan marah jika diledek oleh teman-temannya seperti itu.
Disamping itu, terangkan bahwa orang yang diledek akan minder dan tak percaya diri. Ia akan merasa berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Akibatnya, ia mungkin akan malu jika harus bergaul dengan anak-anak lainnya.
(tabloid-nakita)
Ajar si kecil minta maaf
Minta maaf sebetulnya merupakan bagian dari norma yang berkaitan dengan nilai benar dan salah. Bila ditarik lebih ke belakang, minta maaf erat kaitannya dengan moral.
Permintaan maaf sebenarnya bisa digantikan dengan tingkah laku seperti mengelus atau memeluk, tapi menurut Agustina Untari, Psi., permintaan maaf secara verbal tetap dibutuhkan. "Sayangnya, pada budaya kita, minta maaf biasanya lebih banyak dilakukan dengan perilaku saja. Mungkin karena gengsi," ujar Konsultan Pusat Edukasi Prasekolah Putik, Jakarta ini.
Padahal anak perlu tahu, minta maaf bukanlah sesuatu yang memalukan, tapi justru membanggakan karena menunjukkan seseorang bisa berlapang dada mengakui suatu kesalahan. Bukankah ini bagus daripada tahu kalau salah, tapi tidak mau mengaku? Si prasekolah pun perlu tahu, minta maaf harus dilakukan oleh siapapun yang berbuat salah, termasuk jika orang tua melakukan kesalahan pada anak.
Menurut Psikolog yang akrab disapa Ina ini, modeling merupakan cara efektif untuk mengajarkan minta maaf. Ketika orang tua melakukan kesalahan jelaskan hal itu kepada anak secara verbal. Umpamanya, "Maaf, Mama tadi membentak kamu. Soalnya kamu ganggu adik terus, sih. Adik jadi rewel, deh. Mama, kan, jadi enggak bisa kerja." Tunjukkan juga apa yang harus dilakukan untuk mengurangi dampak negatif seperti, "Mama janji enggak akan melakukan lagi, deh!"
Dengan begitu sebenarnya anak sudah belajar akan tahapan konsep maaf. Tahap awal, maaf harus dilakukan setiap kali berbuat kesalahan. Tahap berikutnya, anak perlu memahami bahwa minta maaf bukan hanya sekadar kata-kata di bibir. Bila ia sudah mengucapkan "maaf" berarti ia tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama.
BELUM BEREMPATI
Hanya saja, pada prakteknya si prasekolah sering sulit bila harus meminta maaf. Salah satu penyebabnya, menurut Ina, karena mereka belum mahir berempati. Alasannya, anak-anak usia prasekolah masih berada dalam tahapan egosentrisme, dimana setiap masalah akan dilihat berdasarkan sudut pandangnya sendiri.
Bagaimana anak memandang masalah sangat mempengaruhi perkembangan moralnya. Awalnya, anak hanya dapat melihat masalah dari sudut pandangnya sendiri, sehingga pertimbangan moral yang berlaku hanya yang sesuai dengan dirinya. Tahap berikut, barulah dia bisa melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Untuk melatihnya, ajaklah dia untuk melihat bahwa ada sisi atau sudut pandang lain dalam suatu masalah.
Alhasil, jangan terlalu berang jika si prasekolah sering tak sadar bila telah melakukan kesalahan. Contohnya, ketika ia memukul teman yang merebut mainannya. Menurut si anak, merebut mainan adalah salah, tapi ia belum paham kalau memukul pun sebenarnya merupakan kesalahan. "Ini yang perlu diajarkan, sehingga mereka sadar dan mau saling minta maaf," ujar salah seorang pendiri Kelompok Tunas yang kerap menggunakan tema-tema lingkungan hidup dalam program-program pengembangan anak yang diselenggarakannya.
Jelaskan alasan sederhana setiap kali ada kejadian yang mengharuskannya minta maaf. Di usia prasekolah, anak sudah mulai dapat melihat hubungan sebab akibat yang simpel. Contohnya, "Kan, sakit kalau dipukul. Coba kalau Kakak dipukul, sakit juga, kan? Jadi Kakak harus minta maaf!"
Jika pun ia berkeras tak mau melakukannya, maka tak perlu dipaksa. Hal ini malah akan membuatnya makin segan minta maaf. Saran Ina, tunggu sampai anak tenang. "Emosi anak tak berbeda seperti halnya orang dewasa. Kalau sedang memuncak akan sulit diajak bicara. Apalagi kalau ia merasa tak bersalah, tapi disuruh minta maaf. Bicarakan setelah emosinya mereda atau ketika anak sudah bermain kembali. Toh, lebih baik minta maaf belakangan daripada tidak sama sekali. "Hei, tadi kamu bentak-bentak Mama, kan? Kamu harus minta maaf, dong, karena kamu bikin Mama jadi sedih."
Intinya, cari situasi yang membuat anak mau mendengarkan. Jangan lupa, anak prasekolah mulai mengenal perasaan malu. Hargai perasaannya itu. Bila ia malu dan protes saat dimarahi atau dinasehati di depan umum, tanggapi kata-katanya dengan serius. Lalu, hindari menegur anak di depan orang lain. Carilah tempat yang memungkinkannya untuk minta maaf tanpa kehilangan muka.
BERI OTONOMI
Jika setelah diterangkan anak tak kunjung mengajukan permohonan maaf, maka anak yang "keras kepala" seperti ini harus lebih banyak diberi otonomi dalam memilih dan menyampaikan pikiran. Asal tahu saja, "Keras kepala pada balita sebenarnya hanya merupakan suatu fase. Jadi, belum tentu ia akan keras kepala sampai dewasa. Mereka jadi keras kepala, biasanya karena punya pikiran atau alasan sendiri, yang mungkin saja terasa tidak masuk akal dan tidak dapat diterima orang tua.
Masalahnya, cara anak memandang masalah berbeda dari cara orang dewasa. Hal ini berkaitan dengan taraf perkembangan penalarannya yang masih berada pada tahap awal. "Cobalah memahami dan menghargai sudut pandangnya. Sambil tentunya membantu si prasekolah melihat situasi melalui perspektif yang lebih luas. Misalnya, dengan menunjukkan adanya sudut pandang lain dan juga konsekuensi," anjur Ina.
Caranya, tanyakan alasan mengapa ia tidak mau minta maaf. Apapun yang dikemukakannya, hargailah. Umumnya si prasekolah belum memiliki pemahaman yang cukup mendalam, sehingga alasan yang ia kemukakan sering tidak sesuai dengan standar norma yang berlaku. Contohnya, ia tidak mau minta maaf setelah merebut mainan temannya, karena menurutnya ia tidak memperoleh apa yang diinginkan. "Tadi, kan aku sudah minta pinjam, tapi enggak dikasih. Jadi aku rebut saja."
Dalam situasi dilematik yang melibatkan konflik moral seperti itu, anak perlu dibantu memahami situasinya. Ajukan penalaran sehingga ia sadar bahwa dalam posisi seperti itu ia memang mesti minta maaf. Anak perlu diberitahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang mesti dilakukan.
Untuk mengarahkannya sesuai harapan orang tua, ajak ia berdiskusi dan ajukan konsekuensi dari beberapa pilihan. "Kalau Kakak enggak mau minta maaf, nanti dia enggak mau temenan lagi. Tapi kalau Kakak minta maaf, dia mungkin mau kasih pinjam mobil-mobilannya yang baru." Karena mulai bisa melihat hubungan sebab akibat yang sederhana, ia juga mulai dapat menentukan pilihan yang sederhana. Ia sudah sadar bahwa ada pilihan yang berakibat kurang mengenakkan.
Sekali lagi Ina menekankan agar orang tua memberi kelonggaran jika saat kejadian si prasekolah tidak mau minta maaf. Berilah waktu. Jangan sampai anak melihat maaf sebagai hal negatif atau menganggapnya sebagai hukuman maupun beban. "Kalau terlalu sering dipaksa minta maaf akhirnya anak punya persepsi bahwa minta maaf itu menyebalkan."
Pemaksaan yang terus menerus, terlebih dengan ancaman, mendorong anak untuk selalu minta maaf semata-mata berdasarkan tuntutan lingkungan alias tidak tulus. "Ini, kan, jelek karena yang dimaksud maaf sebenarnya maaf yang tulus, bukan hanya lip service. Kita juga mau mengajarkan bahwa minta maaf merupakan hal positif yang tidak memalukan dan tidak merusak harga diri. Dengan minta maaf kita bahkan menjadi seorang gentleman."
INGATKAN BERKALI-KALI
Ina pun mengingatkan agar orang tua tidak heran jika anak masih saja melakukan kesalahan yang sama walau sudah mengajukan maaf. Rupanya ini berkaitan dengan memori si prasekolah yang belum berkembang. Rentang memorinya belum sepanjang rentang memori orang dewasa. Kejadian yang buat orang dewasa masih lekat dalam ingatan, baginya mungkin terasa sudah lampau, sehingga sudah tidak masuk lagi dalam memorinya.
Selain itu, tahap perkembangan penalarannya pun masih belum cukup matang. Si prasekolah belum dapat memahami sepenuhnya apa yang baik dan buruk pada masing-masing situasi, sehingga masih belum dapat secara spontan diharapkan berperilaku baik. "Memang benar kalau ada yang bilang anak perlu diomongin hingga 1000 kali, karena ia memang harus selalu diingatkan terus menerus tentang apa yang salah dan benar. Itu sudah menjadi tugas orang tua," tandas Ina.
Oleh karena itulah, bila anak sudah minta maaf, hukuman tak diperlukan lagi karena tidak akan adil buatnya. Perkara ia sudah melakukankan kesalahan sama berkali-kali, tidak mengapa. "Hukuman sebaiknya diterapkan seminim mungkin. Hukuman yang terlalu sering malah tidak efektif."
Yang perlu disadari orang tua, hukuman berbeda dari konsekuensi. Contohnya, ketika anak menjatuhkan stoples berisi kue, selain minta maaf ia pun harus membereskan ceceran kue yang ada di lantai. Itulah konsekuensi, bukan hukuman. Dengan begitu ia tahu jika melakukan kesalahan maka akan muncul konsekuensi yang harus dihadapi. Itulah pertanggungjawaban dari apa yang sudah dilakukannya, baik sengaja maupun tidak.
MENGOBRAL MAAF
Bagaimana jika si prasekolah malah mengobral kata maaf? Menurut Ina, bisa jadi hal itu merupakan peniruan dari orang tua atau salah satu anggota keluarga. Anak, kan, sering mendengar kata maaf diucapkan dalam situasi yang beragam. Misalnya, tersenggol sedikit bilang maaf. Jalan di depan seseorang juga mengatakan maaf. Apalagi, ia belum bisa menangkap poin kapan saat tepat untuk minta maaf.
Oleh sebab itu, anak perlu diberitahu cara membedakan maaf yang artinya permisi dan maaf yang artinya menyesali kesalahan. "Orang tua pun perlu mengajarkan, minta maaf harus disertai alasan karena orang yang terlalu sering minta maaf pun akan membuat risih," simpul Ina.
Namun, penjelasan mengenai perlunya alasan minta maaf ini menurutnya baru bisa dilakukan pada tahap usia selanjutnya. Pada balita, cukup bantulah membuka penalarannya agar ia mengerti bahwa orang lain pun memiliki sudut pandang sendiri yang perlu diselaminya supaya ia bisa lebih mengerti situasi.
(tabloid-nakita)
Mengukur tingkat kreatifitas
Menurut Prof. Dr. Sukarni Catur Utami Munandar, Dipl. Psych., untuk menjadi individu kreatif, dibutuhkan kemampuan berpikir yang mengalir lancar, bebas, dan ide yang orisinal yang didapat dari alam pikirannya sendiri. Berpikir kreatif juga menuntut yang bersangkutan memiliki banyak gagasan, dan itu semua tidaklah gampang. Dengan kata lain, agar anak bisa berpikir kreatif, ia haruslah bisa bersikap terbuka dan fleksibel dalam mengemukakan gagasan. Makin banyak ide yang dicetuskannya menandakan makin kreatif si anak.
Untuk mengetahui sejauh mana tingkat kreativitas seorang anak, pakar pendidikan ini berupaya mengembangkan tes kreativitas verbal dan figural. Tes kreativitas verbal dilakukan pada anak berusia minimal 10 tahun karena dianggap sudah lancar menulis dan kemampuan berbahasanya pun sudah berkembang. Sedangkan tes kreativitas figural dilakukan terhadap anak mulai usia 5 tahun.
UNSUR PENILAIAN BERPIKIR KREATIF
* Fleksibilitas
Anak mampu memberikan jawaban yang berbeda-beda. Untuk gambar lingkaran, contohnya, anak mengasosiasikannya sebagai piring, bulan, bola, telur dadar dan sebagainya. Anak juga diminta untuk membuat sebanyak mungkin objek mati maupun hidup pada gambar lingkaran tadi. Namun, tes kreativitas ini bukan dimaksudkan sebagai tes menggambar, melainkan sebagai tes gagasan, sehingga unsur "keindahan" tidak diprioritaskan.
* Orisinalitas
Anak mampu memberikan jawaban yang jarang/langka dan berbeda dengan jawaban anak lain pada umumnya. Dari bentuk lingkaran yang sama, contohnya, anak mahir menggambarkannya sebagai wajah orang.
* Elaborasi
Anak mampu memberikan jawaban secara rinci sekaligus mampu memperkaya dan mengembangkan jawaban tersebut. Dia bisa melengkapi gambar wajah tersebut dengan mata, hidung, bibir, telinga, leher, rambut sampai aksesoris semisal kalung dan jepit rambut. Makin detail ornamen atau organ-organ yang digambarkannya, berarti mencirikan ia anak yang kreatif. "Jadi, anak yang kreatif tak sekadar mengemukakan ide, tapi juga dapat mengembangkan gagasan yang dilontarkannya," tandas Utami.
TOPIK TES FIGURAL
Untuk tes kreativitas figural, ada 6 topik pertanyaan yang diajukan sebagai berikut:
1. Tes Permulaan Kata
Misalnya kepada anak diberikan huruf "k" dan "a". Kemudian ia diminta untuk membentuk sebanyak mungkin kata yang bisa dibentuk dari kedua huruf tadi. Umpamanya anak menjawab "kami", "kapal", "karung" dan sebagainya.
2. Tes Membentuk Kata
Kepada anak diberikan kata tertentu, semisal "proklamasi". Nah, berdasarkan kata tersebut anak diminta membentuk kata-kata lain sebanyak mungkin. Umpamanya anak akan menjawab "kolam", "lama", "silam" dan lain-lain.
3. Tes Kalimat 3 Kata
Misalnya kepada anak diberi tiga huruf, yakni "a", "m", dan "p". Lalu mintalah ia menyusun sebanyak mungkin kalimat-kalimat yang diawali dari huruf-huruf yang diberikan tadi, dengan urutan yang boleh diubah-ubah. Umpamanya, jawabanya adalah "Ani makan pisang" atau "Mana payung Anton".
4. Tes Kesamaan Sifat
Misalnya anak mendapat soal mengenai sifat bulat dan keras. Anak dimita untuk memikirkan dan menyebutkan sebanyak mungkin benda-benda yang memiliki sifat/ciri-ciri tersebut. Jawabannya mungkin adalah bola tenis, kelereng, roda kursi, dan sebagainya.
5. Tes Penggunaan Tak Lazim
Contohnya, anak akan diberi benda yang ditemuinya sehari-hari. Akan tetapi, ia justru diminta untuk membuat sesuatu yang tak biasa dengan benda tersebut. Umpamanya, ketika anak diberi surat kabar, ia menggunakannya untuk membuat kapal-kapalan, topi, bola, dan sebagainya, bukan sebagai bahan bacaan.
6. Tes Sebab-Akibat
Anak mendapat pertanyaan mengenai situasi tertentu yang dalam keadaan nyata tak pernah terjadi. Nah, mintalah anak untuk menjawab apa kira-kira akibatnya bila situasi tersebut betul-betul terjadi. Dalam hal ini, anak dituntut untuk bebas berimajinasi. Contohnya adalah pertanyaan, "Apa jadinya bila semua orang di dunia ini pandai?" atau, "Apa akibatnya jika setiap orang bisa mengetahui pikiranmu?"
Menurut Utami, setiap tes tersebut terdiri dari 4 soal. Untuk tes pertama dan kedua, setiap soal harus dijawab dalam waktu 2 menit. Sedangkan untuk tes ketiga, diberikan waktu 3 menit untuk setiap soal, sementara untuk tes berikutnya per soal diberi durasi 4 menit.
SKOR NILAI
Hasil akhir tes kreativitas ini sama halnya dengan tes IQ, yakni berupa skor. Anak yang mencapai skor 90-110 berarti tingkat kreativitasnya rata-rata, skor di bawah 80 dikategorikan sangat lamban, sedangkan yang mampu mencapai skor 130 ke atas tergolong sangat unggul.
Namun dari pengalaman Utami selama ini, hanya sedikit anak yang bisa mencapai skor kreativitas yang tinggi. Kebanyakan berada pada kisaran skor 90-100. Sebaliknya, banyak sekali anak yang bisa mencapai skor tinggi untuk tes IQ. Menurutnya, "Hal ini disebabkan berpikir kreatif kurang dirangsang, sehingga anak tak terbiasa berpikir bermacam-macam arah."
Selain pengukuran kreativitas yang sudah disebutkan, ada juga pengukuran skala sikap kreatif yang lebih menyangkut pada segi afektif. Menurut Utami, dari berbagai penelitian ternyata kemampuan berpikir kreatif belumlah cukup jika tanpa disertai sikap kreatif. Tanpa sikap kreatif ini katanya produk kreatif pun takkan terwujud.
Jadi, berpikir kreatif itu sendiri harus disertai ciri-ciri sikap kreatif sebagai berikut:
* Terbuka terhadap pengalaman baru,
* Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi,
* Tidak takut melakukan kesalahan ketika mengemukakan ide,
* Imajinatif, dan
* Berani mengambil risiko terhadap langkah yang diambil.
Lebih lanjut Utami menambahkan bahwa mengukur tingkat kreativitas lebih sulit dibandingkan mengukut tingkat intelegensi (IQ). Pasalnya, tes kreativitas menghadapi berbagai jawaban, tapi tetap harus relevan dan mengandung makna. "Jadi, bisa saja penilaiannya subjektif kalau pihak penyelenggara tes tak betul-betul mahir melakukan proses skoringnya."
MENSTIMULASI KREATIVITAS
Menstimulasi kreativitas anak memang penting, tapi Utami mengingatkan agar sebelumnya orang tua memperhatikan faktor rasa aman dan nyaman. Caranya dengan:
* Menciptakan kondisi lingkungan rumah yang ramah dan aman agar anak merasa bebas dan tidak takut-takut mengemukakan pikiran dan perasaannya.
* Ciptakan pula suasana rumah yang nyaman agar anak tak merasa tegang, sehingga dapat bebas berekspresi.
Jika suasana aman dan nyaman sudah terpenuhi, barulah orang tua secara proaktif merangsang agar anak kreatif melalui berbagai cara berikut:
* Memberikan berbagai permainan yang merangsang kreativitas, semisal balok-balok yang bisa dibentuk menyerupai berbagai macam benda. Tak perlu memberinya gambar atau contoh hasil bentukan balok tersebut karena dengan begitu anak justru jadi tidak kreatif. Agar kreatif, biarkan anak berimajinasi sendiri menyusun balok-balok sesuai yang ia inginkan.
* Berikan juga permainan seperti lego atau puzzle dan mainan lainnya yang bisa merangsang rasa ingin tahu si prasekolah. Akan tetapi, upaya menstimulasi kreativitas ini sebaiknya tetap harus dilakukan dengan cara bermain agar pemikiran/gagasannya muncul secara spontan.
* Berikan sarana berupa kertas dan pensil warna agar anak belajar menggambarkan sesuatu secara detail. Ketika menggambar sebuah apel, contohnya, anak tak sekadar membentuk sebuah lingkaran, melainkan juga membuatkan daun dan tangkainya, bahkan melengkapinya dengan gambar seekor ulat yang berada di apel itu.
* Ajak anak untuk bermain dengan kata-kata atau teka-teki agar pola pemikirannya tak kaku dan dapat melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang.
* Jika anak sudah masuk playgroup, ada baiknya orang tua membicarakannya dengan pembimbing bagaimana cara menstimulasi anak agar kreatif dan tak sekadar bermain.
BILA TERLAMBAT DIRANGSANG
Setiap anak pada dasarnya memiliki potensi masing-masing. Bakat yang disandang anak berasal dari pembawaan dan pengalamannya. Kalaupun pembawaan seorang anak bisa mencapai tingkat kreativitas yang tinggi, belum tentu ia mampu mewujudkan potensinya itu. Terutama bila lingkungan keluarganya miskin stimulasi, seperti orang tua bersikap otoriter, kelewat membatasi atau kurang memberikan kebebasan pada anak, dan tak terbiasa mendengarkan pendapat serta ide anak.
Menurut Utami, stimulasi kreativitas anak sangat membutuhkan peran orang tua, khususnya pada tahun-tahun pertama kelahiran sampai anak berusia 5 tahun. Jika ia baru mendapat stimulasi ketika memasuki usia SD, tentu saja hasilnya jauh ketinggalan dibanding mereka yang sejak lahir/bayi sudah dirangsang. Meski demikian, orang tua tetap harus optimis. "Jangan pernah merasa terlambat. Lebih baik memulai sekarang daripada tidak sama sekali."
PATUH BUKAN CIRI ANAK KREATIF
Utami pernah melakukan sebuah penelitian untuk mengukur pengetahuan para orang tua dan guru mengenai ciri-ciri anak yang penting untuk dikembangkan agar ia kreatif. Kebanyakan responden ternyata menyebut ciri-ciri yang justru tak ada hubungannya dengan kreativitas. Di antaranya, sehat, patuh, sopan, rajin, tekun dan ulet. Sedikit sekali yang mengemukakan ciri-ciri kreatif, seperti rasa ingin tahu yang tinggi dan imajinatif. "Ini menunjukkan mereka kurang tahu soal kreativitas. Kalau mengenai kreativitas itu sendiri saja kurang tahu, bagaimana mungkin mereka tahu cara mengembangkannya," komentar Utami.
Masih menurutnya, anak-anak yang memiliki taraf kecerdasan maupun tingkat kreativitas tinggi ternyata menunjukkan prestasi belajar yang sama. Dalam arti, walaupun seorang anak memiliki IQ yang rendah, tapi kalau CQ-nya tinggi, ia bisa mencapai prestasi yang sama tinggi dengan anak yang IQ-nya tinggi. "Jadi, kreativitas juga penting untuk prestasi belajar. Namun sayangnya guru dan orang tua lebih menyukai anak yang cerdas daripada anak yang kreatif. Boleh jadi karena anak kreatif seringkali justru menyulitkan mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya."
(tabloid-nakita)
Active Learning, Benarkah yang terbaik?
Istilah active learning mestinya sudah tidak asing lagi. Menurut Dra. Gerda. K. Wanei, M.Psi., metode ini muncul akibat adanya keprihatinan terhadap metode pembelajaran yang menganggap murid sebagai bejana yang harus diisi. Akibatnya, guru hanya berfokus pada pemberian sekumpulan materi tanpa menganggap penting pengkondisian proses belajar para siswa.
Hasil yang diharapkan pun hanya berupa nilai bukan perubahan perilaku. Dalam metode "bejana kosong" itu pelajaran yang diberikan hanyalah berupa hafalan. Alhasil, para murid boleh jadi dapat menjawab sebagian besar pertanyaaan yang diujikan, tapi setelah itu lupa. "Tidak terpikir oleh mereka kalau pelajaran yang diterimanya dapat berguna dalam kehidupan di masa yang akan datang," ujar Kepala Jurusan Bimbingan Konseling FKIP, Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta ini.
Prof. Dr. Soegeng Santoso yang ditemui di tempat berbeda, mengistilahkan metode guru aktif-siswa pasif tersebut sebagai pendidikan "gaya bank". Guru dianggap serbatahu, serbahebat atau serbapaling pintar, sehingga semua inisiatif pembelajaran berasal dari guru sedangkan murid hanya menerima atau mendengarkan saja. Alhasil, pendidikan "gaya bank" membuat murid jadi kurang berani bicara, tidak berani berargumentasi dan tidak kreatif.
METODE SI PRASEKOLAH
Oleh sebab itulah, Gerda maupun Soegeng sepakat metode yang dikenal juga sebagai metode teacher centre ini bukan metode yang tepat bagi dunia pendidikan, apalagi pendidikan anak-anak prasekolah. Bagaimanapun, anak-anak TK memiliki ciri khas yang ditunjukkan dengan sifat aktif, selalu bergerak, selalu bermain, polos, tidak ada beban, punya rasa ingin tahu yang besar, dan haus bertanya. Pendidikan "gaya bank" tentu akan membekukan kreativitas anak.
Gerda melontarkan contoh kasus dalam pelajaran menggambar. "Masih banyak guru TK yang memberikan konsep pemandangan dalam dua buah segitiga yang di tengahnya diberi bulatan sebagai gambaran matahari. Padahal pada kenyataannya tak semua pemandangan akan seperti itu. Bukankah alam selalu berubah? Sudah begitu, guru akan menyalahkan jika gambar anak tak sesuai dengan konsep yang diberikannya. Inilah mengapa metode tersebut bisa mematikan kreativitas siswa."
Hal senada pun diungkapkan oleh Soegeng. "Gambar anak-anak tidak seperti gambar orang dewasa. Misalnya, gambar kucing yang sedang menerkam mungkin hanya berupa mata dan tangan. Kaki kucing tidak ada karena tidak masuk dalam perhitungan anak. Oleh karena itulah orang yang menilai gambar anak harus mengerti jiwa kanak-kanak. Jangan dikatakan 'Ah, gambar ini jelek. Masak, ukuran antara kepala dengan kaki tidak sebanding.' Enggak bisa begitu karena itu, kan, ukuran orang dewasa. Ukuran anak-anak lain lagi," papar Sekretaris Eksekutif Lembaga Akta Mengajar Univeristas Negeri Jakarta ini.
TAK HANYA HAFALAN
Alhasil, cara belajar yang bersifat lecturing atau guru menerangkan dan murid hanya menerima sekarang ini sudah tidak sesuai. Sebaliknya, berdasarkan metode psikologi modern, murid diarahkan untuk menjadi aktif, tak hanya dicekoki guru. Pendidikan pun bukan sekadar hafalan lagi, tapi bagaimana agar anak menjadi paham.
Salah satunya dengan menggunakan media. "Media terbaik adalah benda yang sebenarnya. Kalau tidak mungkin, bisa diganti dengan model atau tiruan. Bila masih tidak mungkin, ganti dengan gambar. Dengan begitu anak akan mengerti secara konkret dan bisa menghayati, bahkan bisa mencoba sendiri,
Cara pembelajaran semacam itu, menurut Gerda, akan lama tersimpan dalam daya ingat anak. Sesuai dengan filosofi Konfusius, I Hear - I Forget; I See - I Remember; dan I Do - I Understand.
MURID SEBAGAI SUBJEK
Itulah sebabnya, metode pendidikan yang terbaik bagi anak-anak, terutama di usia prasekolah adalah metode active learning atau pembelajaran secara aktif. Maksudnya, guru wajib menciptakan suasana belajar bersama-sama para siswa. Murid pun dianggap sebagai subjek dan bukan objek lagi. "Dalam active learning, tugas guru hanya memberikan fasilitas, membimbing, dan mengawasi.
Jadi, anak diberi kesempatan untuk bebas bereksplorasi, tapi pengertian bebas ini tentunya tidak terlepas dari norma-norma pedagogis.
QUANTUM LEARNING
Nah, salah satu jenis active learning yang tengah didengung-dengungkan saat ini adalah quantum learning. Menurut Gerda, metode pembelajaran ini mengupayakan pengelolaan kelas yang kondusif untuk menumbuhkan sikap positif dalam proses belajar.
Salah satu sarat utama untuk menciptakan kelas yang kondusif adalah guru harus memperhatikan keunikan yang dimiliki setiap siswa. Berangkat dari pengenalan ini, dalam metode quantum diterapkan rumus AMBAK yang merupakan singkatan dari:
A: Apa yang dipelajari
Dalam pelajaran menggambar misalnya, guru hanya menetap- kan pelajaran menggambar dan para siswa sendiri yang menentukan tema gambarnya sesuai dengan minat masing-masing. "Misalnya, mereka dibawa ke sebuah lapangan lalu dibiarkan menggambar hal-hal yang disukai."
M: Manfaat
Terkadang guru lupa menjelaskan manfaat yang diperoleh dari pelajaran yang diajarkan. Contohnya, pelajaran tentang fungsi serangga. Walaupun kecil, tanpa serangga maka banyak kehidupan di alam ini bisa terhenti.
"Intinya, guru harus memberi kemampuan memahami situasi yang sebenarnya (insight), sehingga murid tertantang untuk mempelajari semua hal dengan lebih mendalam."
BAK: Bagiku
Manfaat apa yang akan saya dapat di kemudian hari dengan mempelajari ini semua. Misalnya, pelajaran bahasa Mandarin bagi anak yang hidup di daerah pecinan akan sangat bermanfaat. Terlebih bila nantinya ia bercita-cita menjadi pelaku bisnis. Namun, tidak begitu dengan anak-anak di Bali yang lebih memerlukan pelajaran seni tari ketimbang bahasa Mandarin. "Jadi, quantum lebih menekankan pada pembelajaran yang sarat makna dan sistem nilai yang bisa dikontribusikan kelak saat anak dewasa nanti."
Teknik pembelajaran quantum ini disingkat menjadi TANDUR:
T: Tumbuhkan minat belajar
A: Aktifkan anak untuk menciptakan pengalaman baru
N: Namai semua konsep pembelajaran
D: Demonstrasikan, dengan begitu anak akan lebih memahami pelajaran.
U: Ulangi, karena semakin sering diulang maka semakin kuat pelajaran melekat dalam ingatan.
R: Rayakan, apa yang sudah dipelajari anak ditunjukkan, sehingga orang lain juga tahu.
Misalnya guru akan menjelaskan macam-macam profesi. Masing-masing murid akan masuk ke dalam kelompok-kelompok sesuai dengan cita-citanya. "Nah, tugas guru adalah merencanakan apa yang penting dari masing-masing profesi tersebut. Lalu, murid diminta mendemonstrasikannya di hadapan kelompok lain, dan tiap-tiap kelompok dapat bertanya tentang profesi-profesi tersebut."
Tentu saja, metode quantum yang merupakan penerapan dari metode active learning memerlukan sarana dan prasarana yang tidak sedikit. Di atas semua itu, metode ini membutuhkan sumber daya atau guru yang tidak hanya bisa berdiri di depan kelas tapi juga bisa berpikir inovatif. Bagaimana murid bisa kreatif bila gurunya tidak kreatif?
Faras Handayani. Foto: Ferdi/nakita
Mengenalkan Uang Kepada Anak
Awali dengan memberikan uang saku kepada anak sejak usia dini untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Maka mereka dapat belajar cepat arti bekerja untuk mencari uang.
Ajari anak untuk bertanggungjawab dengan uang mereka dan bedakan antara mana yang harus dibelanjakan dan ditabung. Sebaiknya anda juga mengajari bagaimana membelanjakan uang secara bijaksana.
Tunjukkan kepada anak bagaimana anda mendapatkan uang tambahan dengan cara menabung. Jelaskan cara kerja dan bunga bank atau bursa saham, agar mereka mengerti bahwa anda bisa membuat uang agar bertambah setiap harinya. Dengan begitu anak akan bersemangat menyisihkan uangnya untuk ditabung.
Ajari mereka menghargai uang tapi bukan memujanya. Jika anda terus melatihnya, mereka akan semakin percaya diri dan mampu menangani urusan keuangan sendiri. [perempuan]
KALAU KEMAMPUAN BICARA TERHAMBAT
Di usia prasekolah, kosakata yang dikuasai seorang anak harusnya sudah sangat banyak. Namun, adakalanya hambatan datang menghadang. Bagaimana mengatasinya?
Sebagian masyarakat kita percaya pada mitos yang mengatakan anak laki-laki lebih lambat menguasai kemampuan bicara dibanding anak perempuan. Padahal penelitian yang ada menunjukkan prosentase kemampuan bicara antara anak laki-laki dengan anak perempuan sama saja. Apalagi, kemampuan bicara manusia sebetulnya sudah terlihat sejak ia dilahirkan, ditandai dengan tangisan bayi begitu keluar dari rahim ibunya.
Mitos itu mungkin muncul karena keterlambatan bicara pada anak laki-laki lebih cepat terdeteksi ketimbang pada anak perempuan. Bukankah, perilaku anak laki-laki yang lebih aktif dan agresif mampu menarik perhatian orang di sekitarnya, sehingga kalau ada sesuatu yang terjadi pada mereka akan lekas ketahuan. Berbeda halnya dengan bayi perempuan yang kebanyakan lebih kalem walaupun tidak mesti begitu.
Terlepas dari persoalan yang diangkat mitos tersebut, menurut Roslina Verauli, M.Psi., anak usia prasekolah umumnya sudah dapat bicara dengan lancar. Kosakata yang dikuasainya sudah lebih dari 1.000 kata. Anak usia ini pun sudah mengenali sopan santun dalam bicara. "Ia sudah bisa membedakan bagaimana cara berbicara dengan teman atau bagaimana menjawab pertanyaan orang tua," tambah dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, yang akrab disapa Vera ini.
Kendati pada beberapa anak masih ada pelafalan kata yang belum jelas benar, umumnya baik pemilihan kata maupun penggunaan tata bahasa sudah mendekati kemampuan orang dewasa. Jadi, setelah tahapan ini anak tak banyak mengalami perkembangan kemampuan bicara sampai ia kelak dewasa.
HARUS WASPADA
Walaupun kemampuan bicara anak tidak dapat digeneralisir berdasarkan usia, orang tua hendaknya mulai waspada bila anaknya menunjukkan keterlambatan perkembangan kemampuan bicara. "Harusnya usia empat tahun ke atas, anak sudah cerewet dan banyak omong. Bila anak baru bisa mengucapkan sepatah dua patah kata dengan tata bahasa yang belum benar, orang tua harusnya waspada," ujar Vera mengingatkan.
Menurut Vera, pada dasarnya gangguan kemampuan bicara anak dibedakan menjadi dua, yakni si anak memang mengalami gangguan bicara atau sekadar keterlambatan biasa. Deteksi dini bisa dilakukan sendiri oleh orang tua di rumah dengan memperhatikan beberapa keadaan berikut:
* Organ pendengaran
Pancing anak dengan pertanyaan terbuka, misalnya, "Ini gambar apa, Sayang?" Pertanyaan terbuka memungkinkan orang tua mengeksplorasi dan menilai kemampuan bicara sekaligus organ pendengaran anak.
Bila anak tidak menunjukkan reaksi sama sekali, maka orang tua harus waspada dengan segera memeriksakannya ke dokter THT.
Anak dengan gangguan pendengaran tidak akan memberi respons terhadap bunyi-bunyian di sekitarnya, seperti suara gemerincing, suara musik dan sebagainya.
* Otot bicara
Bila lafal bicara anak tak kunjung sempurna, orang tua sebaiknya waspada dengan membawa anak ke dokter untuk diperiksa apakah otot bicaranya mengalami gangguan. Bisa jadi otaknya sudah memerintahkan untuk menjawab dengan benar, tapi yang keluar dari mulut tetap tidak jelas karena adanya gangguan neurologis atau persarafan.
* Kemampuan kognitif
Patut dicatat bahwa perkembangan kemampuan bicara anak erat hubungannya dengan perkembangan kognitif. Anak yang sudah bisa bicara berarti sudah mampu merepresentasikan objek yang dilihat dalam bentuk image. Bila ada gangguan kognitif, maka image tersebut tidak akan terbentuk. Bisa jadi anak memang mempunyai keterbatasan pada intelegensinya dan ini bisa dideteksi sendiri oleh orang tua dengan melihat kemampuan motorik anak. Misalnya, anak yang mengalami gangguan bicara biasanya juga kurang mampu melakukan aktivitas lain.
Jika ia kurang terampil memakai sepatu, contohnya, sudah hampir bisa dipastikan anak bermasalah dengan kemampuan kognitifnya. Pada gilirannya akan ada hubungan timbal balik antara kemampuan bicara dengan perkembangan kognitif anak.
MACAM GANGGUAN DAN CARA PENANGANAN
Disamping gangguan yang disebabkan kerusakan organ tubuh, ada juga gangguan yang disebabkan faktor psikologis. Beberapa gangguan bicara banyak dijumpai pada anak usia prasekolah, antara lain:
* Cadel
Cadel sendiri dibedakan menjadi 2, yaitu cadel karena faktor psikologis dan cadel karena faktor neurologis. Cadel yang disebabkan faktor neurologis berarti disebabkan adanya gangguan di pusat bicara. Untuk mengatasinya, anak dengan gangguan ini harus segera dibawa ke neurolog. Pada prinsipnya, gangguan ini masih bisa ditangani. Namun bila kerusakannya termasuk parah, bukan tidak mungkin akan terbawa sampai dewasa.
Cadel yang kedua adalah cadel yang disebabkan faktor psikologis. Karena kehadiran adik, contohnya, maka untuk menarik perhatian orang tua, anak akan menunjukkan kemunduran kemampuan bicara dengan menirukan gaya bicara adik bayinya. Untuk mengatasinya, orang tua harus menunjukkan bahwa perhatian padanya tidak akan berkurang karena kehadiran adik.
Selain itu, orang tua juga harus terus mengajak anak bicara dengan bahasa yang benar, jangan malah menirukan pelafalan yang tidak tepat. Pada kasus yang parah, sebaiknya segera bawa anak ke ahlinya agar bisa tergali apa masalah yang melatarbelakanginya.
* Gagap
Bila anak bicara dengan cara "aaa...aaakkuu", "eee..eebaju" atau mungkin, "mak...mak...makkann", anak bisa dikategorikan sebagai anak gagap. Gagap juga bisa disebabkan faktor neurologis. Untuk penanganannya anak harus segera dibawa ke dokter agar mendapat pengobatan lebih intensif.
Gagap yang disebabkan faktor psikologis biasanya dialami anak-anak yang mengalami tekanan. Entah orang tuanya terlalu otoriter, keras, bahkan kasar. Gagap psikologis ini akan bertambah parah bila anak mendapat hukuman dari lingkungan. Semisal ditertawakan temannya, dikagetin atau tiap kali gagap orang tua langsung melotot sambil membentak, "Ayo, bicara yang benar!" Anak akan makin tegang dan gagapnya makin menjadi-jadi.
Ketegangan emosional ini berhubungan langsung dengan ketegangan otot bicaranya. Makin tegang otot-otot bicaranya, anak akan makin kesulitan.
Cara menangani anak dengan gangguan ini adalah dengan mengajaknya tenang, ambil napas dan konsentrasi pada apa yang akan diucapkannya. Kalau perlu elus-elus punggungnya untuk memberi rasa tenang. Sedangkan pada kasus anak gagap yang parah, sebaiknya libatkan ahli.
* Gangguan pervasif
Adalah gangguan bicara dimana ucapan seorang anak berlangsung melompat-lompat dan tidak konsisten. Bisa jadi anak seperti ini sebetulnya mengalami gangguan ADD (attention defisit disorder). Anak yang mengalami keterbatasan atensi ini mengalami masalah di pusat sarafnya. Gangguan ini biasanya tidak berdiri tunggal, tapi dibarengi ciri-ciri lain, semisal pekerjaannya tidak pernah tuntas, sulit/tidak bisa konsentrasi dan sebagainya. Yang juga termasuk dalam gangguan ini adalah para penderita autis. Namun untuk memastikannya, tak ada cara lain kecuali mendatangi ahli.
* Tunawicara
Gangguan bicara yang paling berat adalah tunawicara. Usia ini merupakan saat yang paling tepat untuk mengetahui apakah anak mempunyai kelainan tersebut atau tidak karena pada usia ini kemampuan bicara anak umumnya sudah bagus. Jika ia hanya mengeluarkan bunyi-bunyi khas tanpa makna, semisal "uuh..uuh", "eeh...ehh", untuk menjawab/menunjuk semua benda, hal ini bisa dijadikan indikator kalau dia belum bisa bicara sama sekali.
Bila sudah ada gejala seperti itu, sebaiknya anak segera dibawa ke dokter. Untuk langkah pertama bisa dibawa ke dokter anak sebelum mendapatkan penanganan yang lebih intens.
MERANGSANG ANAK BICARA
Menurut Vera, bila kondisi anak dengan gangguan bicara dibiarkan saja, ia akan mengalami kesulitan bersosialisasi. Misalnya di kelompok bermain atau TK, anak dituntut untuk menyanyi, menjawab pertanyaan dan hal-hal lain yang membutuhkan kemampuan bicara.
Kesulitan akan semakin terasa bila anak sudah memasuki usia SD karena gangguan bicara juga akan menyulitkan anak untuk belajar menulis. "Bukankah saat menulis, seseorang membutuhkan inner speech, yakni kemampuan bicara yang ada di otak? Nah, kalau kemampuan itu tidak dikuasainya, tentu akan merembet ke hal-hal lain," papar Vera.
Untuk menstimulus kemampuan bicara anak, ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua, di antaranya:
* Bicara pada anak
Bicara pada anak tidak sama artinya dengan memberi perintah ataupun melarang ini-itu. Sayangnya, orang tua sering sudah merasa cukup bila bicara dalam bentuk perintah, padahal isi pembicaraannya hanya, "Jangan ke situ, nanti jatuh!" atau "Ayo, pakai sepatunya." Perintah-perintah satu arah seperti itu tentu saja tidak memberi kesempatan kepada anak untuk bicara.
Begitu juga orang tua yang merasa selalu mendampingi anaknya. Tak jarang mereka merasa sudah cukup mengajak anaknya bicara, padahal selama menemani si anak beraktivitas, bukan tidak mungkin si orang tua justru asyik melakukan aktivitasnya sendiri. Misalnya dengan membiarkan anaknya bermain hanya agar ia bisa tenggelam di balik majalah yang tengah dibacanya.
* Melontarkan pertanyaan terbuka
Usahakan untuk selalu memberikan pertanyaan terbuka alias pertanyaan yang tidak cukup dijawab hanya dengan "ya" atau "tidak". Misalnya, bukan "Kakak sudah makan belum?" tetapi "Kakak tadi makan apa?" Dengan mengajukan pertanyaan ini, mau tidak mau anak tertantang untuk memberi jawaban yang lebih panjang daripada sekadar "sudah" atau "belum" dan "ya" atau "tidak".
* Dongeng
Mendongeng juga bermanfaat menambah perbendaharaan kata anak. Melalui dongeng anak bisa diperkenalkan dengan kosakata baru, seperti raksasa, gunung, bidadari dan kata-kata lain yang tidak biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari. Vera menganjurkan agar upaya tersebut tidak berhenti sampai di situ. Ketika mendongeng, pancing anak untuk menceritakan kembali isi dongeng yang telah didengarnya. Misalnya dengan menanyakan, "Menurut Adek, kenapa ya kapalnya bisa tenggelam?" Pertanyaan kreatif seperti itu, selain bisa mengembangkan kemampuan bicara anak, juga mampu merangsang kemampuan kognitifnya.
* Betulkan ucapan anak
Seringkali bahasa "anak-anak" muncul kembali di sela-sela kalimatnya yang sudah mulai runut. Untuk mengatasinya, jangan menyalahkan anak dengan mengatakan. Semisal, "Adek apa-apaan, sih, ngomongnya kayak anak kecil!" melainkan beri contoh yang tepat dengan mengulangi kalimatnya. Dengan begitu anak mengerti mana yang salah dan bagaimana ucapan yang seharusnya.
Temperamen anak yang beragam bisa membawa dampak yang berbeda pula. Ada anak yang memang cerewet, sehingga orang dewasa di sekitarnya merasa senang karena anak terlihat lebih "pintar", dan ada juga anak yang memang pendiam. Menyikapinya, orang tua harus bisa tampil bijak. Selama si anak pendiam tidak menunjukkan kesulitan dalam bicara dan tidak ada gangguan yang menyertainya, tak perlu memaksa anak untuk terus bicara.
Ada cerita menarik tentang kemampuan bicara penemu teori relativitas Albert Einstein. Sampai usia hampir 4 tahun Einstein belum menunjukkan perkembangan kemampuan bicara yang berarti. Sampai-sampai gurunya putus asa dan mengatakan, "Anak bodoh ini tidak akan jadi apa-apa kelak."
Akan tetapi ternyata ramalan si guru keliru. Kelak di kemudian hari nama Einstein justru begitu dikenal sebagai si jenius peraih Nobel. Intinya, jangan dulu berputus asa bila anak mengalami keterlambatan bicara. Selama memang sudah dipastikan tidak ada gangguan/kelainan yang menyertainya, bisa jadi ini hanya masalah waktu. Pada kasus Einstein ternyata perkembangan kemampuan bicaranya memang lebih lambat dibanding perkembangan kognitifnya.
| PERKEMBANGAN KEMAMPUAN BICARA | |
| Usia | Perkembangan Kemampuan |
| lahir 3 bulan | Menangis |
| 3-6 bulan | Mengeluarkan bunyi tanpa arti sama sekali (cooing) |
| 6-8 bulan | Mengucapkan "mamamam", "papapap" dan sebagainya (bubbling) |
| 12 bulan | Anak mulai bisa mengucapkan kata pertamanya, seperti "mama" |
| 18 bulan | Sudah ada peningkatan kemampuan bicara. Anak sudah bisa mengucapkan satu kata meskipun tanpa disertai tata bahasa. Misalnya: "makan", "minum", dan sebagainya. |
| 2 tahun | Anak sudah bisa merangkai beberapa kata menjadi kalimat sederhana. Misalnya, "Aku makan." |
| 3-4 tahun | Anak sudah menguasai lebih dari 1.000 kosa kata. Kemampuan tata bahasanya pun sudah meningkat pesat. Misalnya, anak sudah bisa mengatakan, "Aku mau makan pisang manis." |
| 4-6 tahun | Anak mulai mengenali sopan santun dalam bicara. Misalnya, ketika menjawab pertanyaan guru atau orang dewasa, anak sudah bisa memilih kata yang lebih santun. |